• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label setan iblis 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setan iblis 12. Tampilkan semua postingan

setan iblis 12

 


ri dan lebih banyak diam. Jika engkau mengambil pelajaran dari diri

orang-orang salaf, tentu engkau akan tahu bagaimana perasaan takut yang

menguasai hati mereka dan bagaimana mereka yang menjauhi bualan,

sebagaimana yang dikatakan Umar bin Al-Khathab saat hendak meninggal

dunia, “Celakalah Umar jika dosa-dosanya tidak diampuni.”

Ibnu Mas‘ud juga berkata, “Andaikan saja aku tidak dibangkitkan lagi

setelah mati.'

3 3 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Aisyah ̂ juga berkata, “Andaikan saja aku ini orang yang tidak berard

dan dilupakan.”

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata kepada Hammad bin Salamah ketika

hendak meninggal dunia, “Apakah engkau berharap bahwa orang seperti ini

akan diampuni dosa-dosanya?”

Perkataan semacam ini keluar dari orang-orang yang terkemuka itu,

karena iimu mereka yang mendalam tentang Allah. Akhirnya ilmu yang

mendalam ini menghasilkan perasaan takut dan gentar. Allah befirman,

“Sesunggu/in îa yang takut kepada Allah itu hanyalah hamba-hamba'Nya

yang berilmu.” (Fathir: 28)

Nabi ^bersabda,

“Aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah di antara kalian dan aku

adalah orang yang paling takut kepada-Nya di antara kalian.” (HR. Ah

Bukhari dan Muslim)

Karena orang-orang sufi jauh dari ilmu, maka perhatian mereka tertuju

kepada amal, lalu mereka sepakat menunjukkan kelemahlembutan yang

menyerupai karamah, lalu mereka mengeluarkan berbagai macam bualan.

Dari Abu Yazid Al-Busthami, dia berkata, ‘Aku ingin andaikan saja

Hari Kiamat sudah tiba, sehingga aku bisa memancangkan kemah di neraka

Jahanam.”

“Mengapa begitu wahai Abu Yazid?” tanya seseorang.

Dia menjawab, “Sebab aku tahu bahwa jika Jahanam melihatku, maka

apinya akan padam, sehingga aku bisa menolong orang lain.”

Benar-benar perkataan yang sangat menjijikkan, karena dia telah

menghinakan apa yang diagungkan AUah, yaitu perintah-Nya kepada neraka.

Padahal Allah juga telah panjang lebar menjelaskan masalah neraka ini,

seperd firman-Nya,

“Maka peliharalah diri kalian dari api neraka, yang bahan bakamya manusia

dan batu." (AhBaqarah: 24)

“jika  itu melihat mereka dan tempat yang jauh, mereka mendenga^

kegeramannya dan suara nyalanya.” (Al-Furqan: 12)

3 3 8 Perangkap Setan

Dari Abu Hurairah 4i>, dia berkata, “RasuluUah ̂ bersabda,

“Sesungguhnya neraka kalian ini, yang dinyalakan dengan Bani Adam,

merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panas Jahanam.”

Para sahabat berkata, “Demi Allah, itu benar-benar sudah cukup wahai

R a s u l u U a h . '

Beliau bersabda, “Jahanam itu dilebihkan enam puluh tujuh bagian,

yang semuanya seperti itu panasnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi S, beliau bersabda,

^ ^ 0 i y ,

(r^ ! ' - f '

“Jahanam didatangkan pada hari itu yang memiliki tujuh puluh ribu

belenggu, yang setiap belenggu dijaga seribu malaikat yang menyeretnya."

(HR. Muslim)

Umar bin Al-Khathab berkata kepada Ka’b, “Wahai Ka’b, buatiah kami

takut! '

Ka’b berkata, ‘"Wahai Amirul-Mukminin, berbuatlah seperti amal satu

orang. Jika pada Hari Kiamat engkau sudah menyerupai amal tujuh puluh

nabi, maka engkau benar-benar bisa memandang ringan amalmu.”

Setelah Umar menundukkan kepala cukup lama, maka dia menengadah

lalu dia berkata lagi, “Tambahi lagi wahai Ka’b!”

Ka’b berkata, “Wahai Amirul-Mukminin, andaikata dari Jahanam itu

dibuka lubang seujung hidung sapi jantan di tempat terbitnya matahari, dan

ada seseorang di tempat tenggelamnya matahari, niscaya otaknya akan mencair

karena panasnya.”

Setelah cukup lama Umar menundukkan kepala, maka dia menengadah

lalu berkata, “Tambahi lagi wahai Ka’b!”

Ka’b berkata, “Wahai Amirul-Mukminin, sesungguhnya jahanam itu

bergemuruh nyalanya, sehingga tidak ada malaikat yang selalu mendekatkan

diri kepada Allah dan nabi pilihan, melainkan mereka berlutut sambil berkata,

“Wahai Rabhi, selamatkan diriku, selamatl^n diriku. Pada hari ini aku tidak

m e m o h o n s e l a i n u n t u k d i r i k u s e n d i r i . ”

3 3 9Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Suatu hari Abdullah bin Rawahah menangis. Lalu istrinya bertanya.

“Apa yang terjadi dengan dirimu sehingga engkau menangis?” Dia menjawab

“Aku seakan mendapat kabar bahwa aku akan dibawa ke neraka dan aki.

tidak akan keluar dari Sana.”

Jika seperti ini keadaan orang-orang yang piUhan dari umat Islam, lali

bagaimana dengan orang-orang yang suka membual dengan perkataannya?

Tidak jarang di antara mereka yang berani membuat keputusan tentang

keadaan dirinya, padahal dia tidak tahu dirinya akan selamat atau tidak.

Bukankah yang mendapat kabar keselamatan hanya sebagian kecil dan para

shahabat?

Ibnu Aqil berkata, “Telah dikisahkan dari Abu Yazid, dia berkata, Siapa

yang berkata bahwa dia bisa menghukumi orang lain, maka dia adalah orang

zindiq yang layak dibunuh. Meremehkan sesuatu menghasilkan pengingkaran.

Sebab orang yang percaya kepada jin, agar dibuat gemetar di dalam kegelapan,

dan siapa yang tidak percaya, maka dia tidak akan gemetar. Boleh jadi dia

berkata, ‘Wahai jin, pengaruhilah aku!’ Orang yang berkata seperti ini wajahnya

layak ddumuri him panas. Jika dia meradang, maka bisa dikatakan kepadanya,

‘ini adalah bara api neraka’.”

Dari Thaifur Ash-Shaghir, dia berkata, “Pamanku menjadi

pembanrunya Abu Yazid. Suatu kali dia bertutur, Aku mendengar Abu Yazi<l

berkata, ‘Maha suci aku, maha suci aku, dan betapa besar kedudukanku .

Kemudian dia berkata lagi, ‘Cukuplah aku dengan diriku’.”

Kalau memang itu yang dikatakan Abu Yazid, boleh jadi orang yang

meriwayatkan darinya tidak paham, karena boleh jadi dia sedang memuji Allal-;,

sehingga seakan-akan dia sedang raenggambarkan firman Allah yang seperti

itu, bukan menggambarkan keadaan dirinya. Jika tidak, maka lebih baik

ucapannya itu dilupakan saja. Dari Abdullah bin Ali As-Sarraj, dia berkau.,

“Aku mendengar Ahmad bin Salim Al-Bashri berkata dalam majlisnya ci

Bashrah, ‘Fir’aun tidak pernah berkata seperti yang dikatakan Abu Yazid itu.

Sebab Fir’aun berkata, Akulah Kabb kalian yang paling tinggi”. Rabb bisa

dikatakan untuk makhluk, seperti ucapan Rabbud-dar, yang artinya tuan rumah.

letapi Abu Yazid berkata, ‘Maha suci aku’. Padahal yang seperti ini hanya

berlaku bagi Allah semata.”

Abu Yazid juga pernah berkata, “Aku melakukan thawaf di sekeliling

Ka’bah. Ketika aku mendekatinya, kulihat Ka’bah itu yang thawaf di

sekelilingku.”

3 4 0 Perangkap Setan

Dari Thai6ar Ash-Shaghir, dia berkata, “Aku pernah mendengar Abu

Yazid berkata, Aku melakukan thawaf sekali, maka masih kulihat Ka’bah.

Kemudian aku thawaf lagi, maka bisa kulihat penjaga Ka’bah, namun aku

tidak melihat Ka’bah. Kemudian aku thawaf ketiga kali, maka tidak kulihat

Ka’bah dan penjaganya’.

Abu Yazid pernah ditanya tentang Lauh Mah/uf̂ h. Maka dia menjawab,

‘ A k u l a h M a h f u : ^ i t u . ”

Dari Abu Musa Ad-Du’ali, dia berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada

Abu Yazid, ‘Aku mendengar bahwa ada tiga macam had yang berada di atas

had Jibril. Bagaimana jelasnya?”

Dia menjawab, “Aku adalah salah satu dari yang dga itu.”

“Bagaimana itu terjadi?”

Dia menjawab, “Hadku satu, hasratku satu dan ruhku juga satu.”

Aku bertanya, ‘Aku juga mendengar bahwa ada satu had ada di atas

h a d I s r a fi h

Dia menjawab, ‘Akulah yang satu itu. Orang seperdku laksana lautan

yang luas membentang, ddak ada awal dan akhirnya.”

Ada seseorang berkata kepada Abu Yazid, “Sesungguhnya semua

m a k h l u k a d a d i b a w a h b e n d e r a M u h a m m a d ”

Lalu Abu Yazid menimpali, “Demi Allah, benderaku lebih besar

daripada bendera Muhammad. Di bawah benderaku ada jin, manusia dan

juga para nabi.”

Dari Al-Hasan bin Ali bin Salam, dia berkata, “Suatu kali Abu Yazid

memasuki Madinah yang dibuntuti banyak orang. Lalu dia menghadap ke

arah mereka seraya berkata, “Sesungguhnya aku adalah Allah yang dada

sesembahan selainku, maka sembahlah aku.”

Maka orang-orang berkata, “Rupanya Abu Yazid adalah orang gila.”

Lalu mereka pun meninggalkannya.

Dari Al-Junaid bin Muhammad, dia berkata, “Kemarin ada seseorang

yang ingin bertemu denganku, yang berasal dari Bistham. Dia bercerita tentang

Abu Yazid Al-Bisthami yang pernah berkata, “Ya Allah, seandainya sudah

ada dalam pengetahuan-Mu bahwa Engkau akan mengadzab seseorang dari

hamba-Mu dengan api neraka, maka agungkanlah penciptaanku, agar dengan

keberadaanku Engkau ddak mengadzab selainku.”

3 4 1Bab X: Tglbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Dari semua pernyataannya ini bisa dilihat secara jelas bagaimana

keburukan perangainya. Terutama bualannya yang terakhir, sangat nyata

kesalahannya, yang bisa dilihat dari tiga sudut:

Tentang perkataannya, “Seandainya sudah ada dalam pengetahuanMu”.

kita sudah tahu bahwa Allah pasti akan mengadzab makhluk dengan

api neraka, dan Allah telah menyebutkan sebagian nama-nama makhluk

itu, seperti Fir’aun dan Abu Lahab. Maka bagaimana mungkin dikatakan

“Seandainya”, jika sudah ada kepastian dan keputusan?

Tentang perkataannya, “Maka agungkanlah penciptaanku, agar dengan

keberadaanku Engkau tidaik mengadzab selainku”, berarti dia juga

berbelas kasihan terhadap orang-orang kafir. Masih mendingan jika

dia berkata, “Agar aku dapat membela orang-orang Mukmin”. Yang

pasti, bualannya itu merupakan kelancangan terhadap rahmat Allah.

Dia tidak tahu ketetapan Allah terhadap api neraka atau terlalu merasa

yakin terhadap kesabaran dirinya. Padahal kedua-duanya tidak ada

dalam dirinya.

Dari Al-Abbas bin Atha’, dia berkata, “Tadinya aku ddak percaya

kepada berbagai macam karamah, hingga suatu kali aku merasa yakin setelah

melihatnya dari Abul-Husain An-Nuri. Maka ketika aku bertanya kepadan)'a.

dia menjawabnya panjang lebar.

Abul-Abbas bin Atha’ menuturkan, “Kami sedang naik perahu di

sungai Tigris. Orang-orang berkata kepada Abul-Husain, ‘Suruhlah keluar

seekor ikan dan sungai Tigris yang bobotnya tiga ritl. ”

Maka Abul-Husain berkomat-kamit menggerakkan bibirnya. Tiba-tiba

muncul seekor ikan sebesar yang diminta orang-orang dan langsung melompat

ke dalam perahu. Ada seseorang yang bertanya, “Demi Allah, kami hendak

bertanya, apa yang engkau ucapkan dalam doamu tadi?”

Dia menjawab, “Aku berdoa, ‘Demi kemuliaan-Mu, andaikan Engkau

tidak mengeluarkan seekor ikan seberat tiga ritl, maka aku akan menceburkan

diri ke sungai Tigris’.”

Dari Al-Junaid, dia berkata, “Aku mendengar An-Nuri pernah berkata,

Aku pernah berada di Raqqah. Ada beberapa orang ahli ibadah yang hendak

memancing ikan. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Abul Husain, dengan

ibadah dan mujahadahmu itu berikanlah kepada kami seekor ikan yang

1.

2.

3.

3 4 2 Perangkap Setan

bobotnya tiga ritly tidak kurang dan tddak iebih’. Maka aku berkata kepada

Allah, ‘Seandainya Engkau tidak mengeluarkan seekor ikan pada saat ini pula

seperti yang mereka pinta, maka aku akan menceburkan diri ke sungai Eufrat’.

Maka keluarlah seekor ikan yang bobotnya persis tiga ritl, tidak kurang dan

t idak leb ih. ”

‘Wahai Abui-Husain, jika ikan itu tidak keluar, engkau benar-benar

akan menceburkan diri ke dalam sungai?” tanya Al-junaid.

“Benar,” jawabnya.

Ketika Al-Junaid mendengar kisah serupa dari Abul-Husain, maka dia

berkata, Seharusnya yang keluar dari sungai adalah seekor ular yang kemudian

mematuknya.”

Ibnu Aqil pernah menuturkan dari Asy-Syibli bahwa dia berkata,

“Sesungguhnya Allah telah befirman, T)an, kelak Kabbmu memberikan karunia-

I^a kepadamu, lain (hati) kamu menjadi puas’. (Adh-Dhuha: 5) Demi Allah,

Muhammad ^tidak ridha karena di dalam neraka ada seseorang dari

umamya.”

Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya Muhammad memintakan

syafaat bagi umatnya, lalu aku memintakan syafaat setelah beliau bagi orang-

orang yang ada di dalam neraka, sehingga di sana tidak menyisa seorang

pun.”

Ibnu Aqil berkata, “Anggapan Asy-Syibli yang pertama tentang

RasuluUah ̂ adalah dusta, karena beliau ridha terhadap adzab yang dijatuhkan

kepada orang-orang yang jahat. Dalam hubungannya dengan khamr saja

beliau sudah melaknat sepuluh orang. Maka bagaimana mungkin ada

anggapan bahwa beliau tidak ridha terhadap adzab yang dijatuhkan kepada

orang-orang zhalim? Tentu saja ini anggapan yang salah dan menunjukkan

kebodohan terhadap syariat.

Bualannya bahwa dia bisa memintakan syafaat bagi semua orang, yang

berarti melampaui RasuluUah jelas merupakan kekufuran. Sebab selagi

seseorang belum memastikan dirinya termasuk penghuni surga, maka dia

justru menjadi penghuni neraka. Lalu bagaimana mungkin dia membual dan

memberikan kesaksian atas dirinya, bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada

kedudukan nabi dan bahkan melebihi kapasitas seorang nabi yang

memintakan syafaat?

3 4 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Ibnu Aqil berkata, “Andaikata aku mempunyai hak untuk melibas para

ahli bid’ah dengan lidah dan hatiku, maka aku lebih suka memilih

mempergunakan pedang untuk membekukan jasadnya.”

Dari Abul-Abbas bin Atha’, dia berkata, ‘Aku membaca Al-Qur’an,

nainun tidak kutemukan keterangan di dalamnya bahwa Allah menyebutkan

seorang hamba, memujinya dan menimpakan cobaan kepadanya. Maka aku

memohon kepada Allah agar Dia menimpakan cobaan kepadaku. Tak

seberapa lama setelah itu, aku kehilangan dua puluh orang anggota keluarga,

semuanya meninggal dunia.”

Bahkan menurut kisahnya, hartanya juga ludes, tak seorang pun

keluarganya yang masih hidup dan dia menjadi gila. Ketika dia sudah sembuh,

yang pertama kali dia ucapkan adalah, “Benar apa yang kukatakan. Rupanya

Engkau (Allah) telah menimpakan cobaan kepadaku secara semena-mena.

Aku harus menanggung kehendak-Mu. Namun sangat mencengangkan,

karena aku masih bisa bersabar.”

Karena kebodohanlah yang mendorong Abul-Abbas memohon

cobaan atas dirinya. Berarti dia merasa hebat dan kuat. Yang seperti ini

merupakan tindakan yang amat buruk. Apa yang dia katakan terhadap Allah

sama sekali tidak layak.

Abul-Hasan All bin Ibrahim Al-Hushri berkata, “Sejak lama akii tidak

berlindung dari setan jika aku hendak membaca Al-Qur’an. Karena siapakah

setan yang berani mendekati firman Allah?”

Tentu saja perkataannya ini bertentangan dengan firman Allah yang

memerintahkan,

“jika  kamu membaca Al'-Qur‘an, hendakloh kamu memintaperlmdungan

kepada Allah dari setan yang terkutuk." (An-Nahl: 98)

Abul-Abbas Ahmad bin Muhammad Ad-Dinawari berkata, “Mereka

telah merombak sendi-sendi tasawuf, merusak jalannya, merubah makna-

maknanya dengan sebutan baru yang mereka ciptakan. Mereka menyebut

birahi sebagai tambahan, menyebut adab yang buruk sebagai keikhlasan,

menyebut tindakan yang keluar dan kebenaran sebagai tradisi, menyebut

kenikmatan yang melenakan sebagai hal yang baik, menyebut akhlak

yang buruk sebagai kekuasaan, menyebut kikir sebagai kegigihan, dan lain-

lainnya.”

3 4 4 Perangkap Setan

Begitu pula yang dikatakan Ibnu Aqil, bahwa orang-orang sufi itu

menggambarkan hal-hal yang haram dengan istilah dan nama-nama tersendiri,

tentu saja dengan suatu pengertian yang mereka inginkan. Mereka menyebut

kumpul-kumpul untuk bercanda dan bernyanyi sebagai efisiensi waktu.

Mereka menyebut anak laki-laki yang ganteng sebagai uban, menyebut hal-

hal yang mengasyikkan sebagai saudara, menyebut wanita yang jatuh cinta

sebagai orang yang sedang meniti jalan, dan lain-iainnya. Padahal nama dan

istilah-istilah sama sekali tidak layak.

Sejumlah Riwayat tentang Tindakan Orang-orang Sufi yang

Mungkar

Telah kami sebutkan beberapa gambaran sikap orang-orang sufl, yang

semuanya termasuk kemungkaran. Berikut ini akan kami sebutkan beberapa

tindakan dan hal-hal yang aneh dari mereka.

Dari Abu Ja’far Al-Kuraiti, dia berkata, “Suatu malam aku junub. Maka

aku perlu mandi, padahal malam itu hawanya sangat dingin. Aku berpikir

untuk menunda mandi dan hatiku berkata, ‘Engkau tidak perlu mandi kecuali

setelah pagi tiba dan air menjadi hangat, atau engkau bisa masuk kamar mandi

sekarang juga dan akibatnya siiakan tanggung sendiri’. Aku berkata, ‘ini benar-

benar sangat mengagumkan. Aku bisa bermu’amalah dengan Allah sepanjang

hidupku. Aku layak mendapat hak dari Allah untuk tidak segera mandi’. Maka

aku mengambil keputusan unmk mandi setelah hari agak siang lalu berjemur

di bawah sinar matahari.”

Dia menjelaskan tindakannya itu kepada orang-orang, karena hendak

menyatakan bahwa itu adalah baik. Ini merupakan kebodohan, karena dia

telah mendurhakai perintah Allah. Tidak ada yang taajub kepadanya kecuali

orang-orang awam yang bodoh, bukan orang-orang yang berilmu. Sebaliknya,

ada pula di antara orang-orang sufi memaksakan diri mandi di air yang dingin

dalam cuaca yang dingin pula, bahkan dengan mengenakan mantel, berendam

di dalam air. Semua ini merupakan tindakan yang salah, yang bisa

mendatangkan penyakit dan bahkan bisa membuamya mati kedinginan.

Dari Hamd bin Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani, dia berkata, “Istri

Ahmad bin Hadhrawaih mau dinikahi Ahmad, yang di antara syarat

maskawinnya, Ahmad harus membawanya menghadap Abu Yazid Al-

Bisthami. Maka dia pun membawa istrinya menemui Abu Yazid di rumahn)'a.

3 4 5Bab X: Talbis Iblis Terlwdap Orang-orang Sufi

Istri Ahmad duduk tepat di hadapan Abu Yazid, lalu membuka kerudung

kcpalanya. Ketika Ahmad menegur istrinya dengan berkata, “Aku heran

melihatmu membuka kerudung di hadapan Abu Yazid.”

Istrinya menjawab, “Ketika aku melihat Abu Yazid, seakan-akan tidal

merasakan kehadiranku. Namun jika aku memandangmu, maka aku bisa

m e r a s a k a n k e h a d i r a n d i r i k u . ”

Ketika Ahmad akan keluar dari tempat Abu Yazid, dia berkata, “Berilah

a k u n a s i h a t !

Abu Yazid berkata, “Belajarlah fatwa dari istrimu.”

Dari Yusuf bin Al-Husain, dia berkata, “Antara Ahmad bin Abul

Hawari dan Abu Sulaiman sudah ada perjanjian yang tidak akan dilanggar,

apa pun yang diperintahkan Abu Sulaiman kepada Abul-Hawari. Suatu kali

Abul-Hawari mendatangi Abu Sulaiman yang sedang berbicara di dalam

majlisnya. Abul-Hawari berkata, “Kami sudah menyalakan tungku api. Maka

apa yang harus kami lakukan?” Dia bertanya sekali, tidak dijawab. Dua kali,

tetap tidak dijawab. Pada ketiga kalinya Abu Sulaiman menjawab, “Engkau

harus duduk di atas tungku api itu.” Lalu dia berkata lagi kepada orang-orang

yang ada di situ, “Dudukkan dia di atas tungku api, karena antara diriku dan

dirinya sudah ada perjanjian, bahwa dia tidak akan melanggarnya, apa pun

yang kuperintahkan.”

Maka orang-orang membawa Abul-Hawari ke dekat tungku, lalu

mendudukkan di atasnya, tetapi sedikit pun tidak ada yang membekas pada

dirinya.

Kisah ini benar-benar sulit diterima nalar. Taruhlah bahwa itu

merupakan kisah yang sebenarnya, maka Abul-Hawari yang membakar dirinya

di atas tungku api itu merupakan kedurhakaan. Sebab di dalam Ash-Shabihain

telah disebutkan hadits dari Ali bin Abu Thalib dia berkata, “RasuluUah

#mengirim satuan pasukan perang dan mengangkat seseorang dari Anshar

sebagai komandannya. Ketika mereka sudah pergi, sang komandan melihat

ada yang tidak beres pada mereka. Maka dia berkata, “Bukankah RasuluUah

^telah memerintahkan kalian agar patuh kepadaku?”

“Begitulah,” jawab mereka.

“Kalau begitu kumpulkan kayu bakar,” kata sang komandan. Setelah

kayu bakar terkumpul banyak, dia menyalakan tumpukan kayu bakar itu.

3 4 6 Perangkap Setan

Kemudian dia berkata, “Aku ingin kalian menceburkan diri ke dalam kobaran

api itu.”

Hampir saja mereka masuk ke kobaran api, andaikan saja tidak ada

seorang pemuda yang berkata, “Kalian perlu menemui RasuluUah 0terlebih

dahulu sebelum menceburkan diri ke dalam api. Janganlah kalian terburu-

buru berdndak sebelum menemui beliau. Jika beliau memerintahkan kalian

masuk ke dalam api, maka masuklah.”

Maka mereka menemui Nabi ̂ dan menceritakan apa yang terjadi.

Maka beliau bersabda.

"Aruiaikan kalian masuk ke dalam api itu, maka kalian tidak akan keluar

dari sana selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang

ma'ruf. ”

Dari Abdullah bin Ibrahim Al-Jazari, dia berkata, ‘Abul-Khair Ad-

Du’aili berkata, “Aku duduk di dekat Khair, seorang penenun, Lalu ada

seorang wanita yang datang. Dia berkata, “Aku ingin sapu tangan yang dulu

pernah kujual kepadamu.”

B o l e h , kata Khair sambil menyerahkan sapu tangan yang

d i m a k s u d k a n .

“Berapa harganya?” tanya wanita.

“Dua dirham,” jawab Khair.

“Sekarang aku belum mempunyai apa-apa. Sebelum ini aku sudah

beberapa kali mendatangimu, tetapi engkau tidak kelihatan. Insya Allah

besok aku akan menemuimu lagi?” kata wanita.

Khair berkata, “Jika besok engkau hendak menyerahkan dua dirham

itu kepadaku, namun engkau tidak bertemu denganku, maka lemparkanlah

uang itu ke sungai Tigris. Jika kemudian aku datang, maka aku akan

mengambil sendiri.”

Bagaimana engkau mengambilnya dari sungai Tigris?”

“Tentu saja sulit mencarinya jika engkau yang melakukan. Yang jelas

lakukan saja apa yang kuperintahkan ini.”

3 4 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Wanita itu berkata, “Insya Allah.” Lalu dia pun berlalu dari tempat itu.

Besoknya aku datang dan ternyata Khair tidak ada di tempat, sementara

wanita itu juga sudah ada di sana sambil membawa buntalan kain berisi dua

dirham. Karena dia tidak mendapatkan Khair, maka buntalan berisi dua

dirham itu dia lemparkan ke sungai Tigris. Pada saat yang sama ada seekor

kepiting yang mengait buntalan dan membawanya masuk ke dalam air. Tak

seberapa lama kemudian Khair datang. Dia langsung membuka pintu kiosnya,

lalu duduk di tepi sungai untuk wudhu’. Pada saat itu pula muncul seekor

kepiting di permukaan air dan di atas punggungnya ada buntalan yang berisi

dirham. Ketika kepiting itu sudah minggir ke tepi, Khair mengambilnya. Aku

berkata kepadanya, “Aku sudah melihat semua yang terjadi.”

Dia berkata, “Janganlah engkau ceritakan kejadian ini selagi aku masih

hidup.” Aku pun menyanggupinya.

Kebenaran kisah ini sulit diterima. Taruhlah bahwa kisah itu benar,

tetapi tindakan Khair ini jelas bertentangan dengan syariat. Sebab syariat

memerintahkan unmk menjaga harta dan tidak boleh menyia-nyiakannya,

sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi S. Janganlah engkau

terpedaya oleh perkataan seseorang, bahwa kejadian semacam ini termasuk

karamah. Sebab Allah tidak memberikan karamah kepada seseorang yang

bertentangan dengan syariat.

Dari Ali bin Abdurrahim, dia berkata, “Suatu hari aku masuk ke tempat

tinggal An-Nuri. Kulihat kedua kakinya bengkak. Aku bertanya mengapa

bisa terjadi seperti itu? Maka dia menjawab, “Jiwaku menuntut agar aku makan

korma. Sebenarnya aku menolak. Tetapi jiwaku tetap menuntumya. Maka

aku pun pergi membeli korma. Setelah memakannya, aku berkata kepada

jiwaku, ‘Bangunlah dan shalatlah!’ Rupanya jiwaku menolak. Maka kukatakan,

‘Demi Allah, aku tidak akan duduk di atas tanah selama empat puluh hari

kecuali untuk tasyahhud’. Maka aku pun tidak pernah duduk selama itu.”

Siapa yang mendengar perkataan orang-orang bodoh seperti ini, lalu

dia berkata, “Alangkah baiknya mujahadah ini”, berarti dia tidak tahu bahwa

perbuatan itu .tidak diperbolehkan, karena itu merupakan pembebanan

terhadap diri dengan sesuatu yang tidak diperbolehkan dan menghalangi

haknya untuk beristirahat.

Abu Hamid Al-Ghazali mengisahkan di dalam kitabnya,̂ /-7>^<2’ bahwa

sebagian syaikh pada awal mulanya merasa malas mendirikan shalat. Maka

3 4 8 Perangkap Setan

dia mewajibkan kepada dirinya untuk berjaga sepanjang malam, agar dirinya

terbiasa dengannya. Dia juga berkata, “Sebagian di antara mereka ada yang

suka kepada harta. Maka sebagai hukumannya dia menjual seluruh harta yang

dimilikinya lalu melemparkannya ke lautan. Karena jika dia memberikannya

kepada orang lain, dia khawatir akan mengangkat kedudukan dirinya dan dia

menjadi riya’ karena telah bershadaqah.”

Dia juga berkata, “Sebagian yang lain ada yang memberikan upah

kepada orang yang justru suka mencacinya, agar dia terladh bersikap murah

had. Ada pula yang naik perahu pada musim hujan, saat ombak besar

berdeburan, untuk meladh diri agar menjadi seorang pemberani.”

Yang paling mengherankan dari semua ini dalam pandangan kami

adalah Abu Hamid Al-Gha:^ali sendiri. Bagaimana mungkin dia menuturkan

kembali kisah-kisah semacam ini dan ddak mengingkarinya? Jelas dia tidak

mengingkarinya, karena memang yang demikian itulah yang ingin dia ajarkan.

Sebelum menuturkan kisah-kisah itu dia berkata, “Seorang syaikh harus

melihat keadaan para murid ham. Jika dia melihat murid itu membawa harta

yang melebihi keperluan pokoknya, maka dia harus mengambilnya dan

menafkahkannya dalam kebaikan, mengosongkan hadnya dari harta, agar

pandangannya tidak tertuju kepada harta. Jika syaikh itu melihat murid

barunya mempunyai sifat takabur, maka dia harus men^oiruhnya pergi ke

pasar untuk bekerja, menjadi buruh di sana atau meminta-minta. Jika dia

melihat muridnya malas, maka dia harus menyuruhnya menguras air,

membersihkan kamar mandi, saluran air yang kotor, membantu di dapur

dan membersihkan tempat-tempat yang terkena asap. Jika dia melihat

muridnya makan banyak, maka dia harus menyuruhnya berpuasa. Jika dia

melihat muridnya yang bujang ddak mampu menguasai syahwatnya, padahal

dia sudah menyuruhnya berpuasa, maka murid itu harus berbuka hanya

dengan air dan tidak boleh makan apa pun meski pada malam hari. Baru

pada malam haiinya murid itu boleh makan rod, ddak boleh minum air dan

ddak boleh makan daging sama sekali.”

Kami benar-benar heran, bagaimana mungkin Abu Hamid Al-Ghazali

memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat? Bagaimana

mungkin dia melarang makan daging, padahal kekurangan gizi bisa membuat

orang jatuh sakit? Bagaimana mungkin dia memperbolehkan membuang harta

ke laut, padahal Rasulullah melarang membuang-buang harta? Bolehkah

3 4 9Bab X: Talbis Mis Terhadap Orang-orang Sufi

mencaci orang Muslim tanpa sebab? Bolehkah orang Muslim mengupah

orang lain karena hal ini? Bagaimana mungkin dia memperbolehkan naik

perahu pada saat ombak besar berdeburan, padahal kewajiban haji pun bisa

gugur karena keadaan seperti itu? Bagaimana mungldn dia menyuruh orang

lain meminta-minta, padahal dia sanggup bekerja? Alangkah murahnya harga

fiqih yang dijual Abu Hamid Al-Ghazali dengan tasawuf ?

Kontroversi Orang^orang Sufi dalam Masalah Pendidikan dan

Pengajaran

Dari Al-Hasan bin Ali Ad-Damaghani, dia berkata, “Ada seseorang

dari penduduk Bistham yang tak pernah absen menghadiri majlis Abu Yazid

Al-Bisthami. Pada suatu hari orang itu berkata kepada Abu Yazid, ‘Wahai

ustadz, sejak tiga tahun yang lalu aku tidak pernah lowong berpuasa dan

pada malam harinya shalat malam. Kutinggalkan dorongan syahwat dan

akhirnya syahwat itu tidak menyisa sedikit pun di dalam hatiku.”

Abu Yazid berkata, “Andaikan engkau berpuasa tiga ratus tahun dan

shalat malam selama itu pula, tetapi engkau masih melihat seperti apa yang

engkau lihat saat ini, maka secuil pun engkau tidak bisa mendapatkan ilmu

seperti ilmu ini.”

“Mengapa begitu wahai ustadz?” tanya orang itu.

“Karena ada tabir yang menumpi dirimu,” jawab Abu Yazid.

“Apakah ada rahasia untuk menyibak tabir itu?”

Abu Yazid menjawab,

menerimanya.”

Ada, tetapi engkau tidak akan bisa

“Baiklah, aku akan menerima dan mengerjakan apa yang engkau

katakan,” kata orang itu.

Abu Yazid berkata, “Kalau begitu pergilah ke tukang cukur. Cukurlah

rambut dan jenggotmu, lepaskan pakaian yang engkau kenakan itu, bawalah

buntalan, gantungkan keranjang di leher dan penuhi dengan buah pala.

Kemudian kumpulkan sekian banyak anak-anak kecil dan katakan kepada

mereka, "Wahai anak-anak, siapa yang mau menamparku, maka kuberi satu

buah pala’. Kemudian masuklah ke pasar yang di sana engkau disegani orang.”

‘"Wahai Abu Yazid, subhanallah! Apakah engkau benar-benar berkata

seperti itu kepadaku dan menganggap seperti itu layak untuk kukerjakan?”

3 5 0 Perangkap Setan

Abu Yazid berkata, “Perkataanmu, ‘Subhanallah’, sama dengan syirik.”

Orang itu bertanya, “Bagaimana mungkin?”

“Karena engkau telah menganggap dirimu hebat, sehingga engkau

perlu berkata seperti itxi,” jawab Abu Yazid.

‘'Wahai Abu Yazid, aku tidak akan sanggup melakukannya dan aku

tidak mau melakukannya. Tetapi ada baiknya jika engkau menunjukkan cara

lain, agar aku bisa melakukannya.”

“Lakukan itu terlebih dahulu. Engkau perlu meruntuhkan kehormatan

dan menghinakan diri sendiri. Setelah itu akan kutunjukkan apa yang terbaik

bagimu.”

“Aku tidak sanggup melaksanakannya,” kata orang itu.

Abu Yazid berkata, “Seperti yang kukatakan, memang engkau tidak

akan bisa menerimanya.”

Apa yang dikatakan Abu Yazid Al-Bisthami ini sama sekali tidak ada

dalam sj^ariat kita. Bahkan syariat mengharamkannya, sebagaimana yang

dikatakan Nabi “Tidak selayaknya bagi orang Mukmin untuk menghinakan

diri sendiri.” (HR.At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Suatu kali Hudzaifah ketinggalan datang ke Jum’at, karena dia melihat

orang-orang sudah pulang dari masjid. Maka dia segera bersembunyi agar

mereka tidak melihat kekurangannya dalam masalah shalat. Lalu apakah syariat

menuntut seseorang untuk mengabaikan pengaruh dirinya? Sebaliknya, syariat

Islam menghendaki untuk mempertahankan kehormatan diri asalkan bukan

dengan niat membanggakan diri. Jika orang bodoh itu menyuruh anak-anak

kecil menempelengi dirinya, tentu itu merupakan sikap yang amat buruk.

Kami berUndung kepada Allah dari penalaran yang kurang waras ini, yang

menuntut seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat.

Al-Ghazali juga menuturkan di dalam Al-lhya dari Yahya bin Mu’adz,

dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abu Yazid, Apakah engkau pernah

memohon ma’rifat kepada Allah?’ Dia menjawab, Allah terlalu mulia untuk

mengajarkan ma’rifat kepada yang lain’.”

Ini suatu pernyataan yang bodoh. Jika yang dia isyaratkan adalah

ma’rifat Allah secara keseluruhan, bahwa Allah itu ada dan disifati dengan

5 8

Sanadnya dha’if, dari jalan Hud:aifah. Tetapi ada jalan lain yang diriwayatkan AthThabrani dan Al-

Bazzar dari Ibnu Umar. Syaikh Al-Albani melihat sanad hadits ini shahih.

3 5 1Bah X: Talbis Iblis TerJiadap Orang-orang Sufi

beberapa sifat, maka tentunya setiap orang Muslim mengetahui hal ini. Jik.i

dia membayangkan bahwa ma’rifat yang dia maksudkan itu adalah hakikat

Dzat Allah dan ciri-ciri-Nya, berarti dia tidak tahu siapa Allah.

Abu Hamid AJ-Ghazali juga mengisahkan, bahwa Abu Turab An-

Nakhsyabi berkata kepada seorangmuridnya, “Andaikata engkau bisa melihat

Abu Yazid sekali saja, tentu akan lebih bermanfaat bagimu daripada engkau

melihat sebanyak empat puluh kali.”

Tidak ada perkataan yang lebih gila daripada perkataan Abu Turab im.

Yang lebih aneh, yang seperti ini justru disebutkan Al-Ghazali di dalam

kitabnya.

Mahasuci Allah yang telah mengeluarkan Abu Hamid Al-Ghazali daii

area fiqih, dengan menyusun kitab Andaikan saja dia tidak perna i

mengisahkan berbagai kejadian yang sama sekali tidak diperbolehkan. Yang

aneh, dengan senang had dia menuturkan kisah-kisah itu dan menganggapn\ a

sebagai perbuatan yang baik serta menyebut para pelakunya sebagai orang-

orang yang menguasai keadaan. Lalu apakah keadaan yang lebih buruk

daripada keadaan orang yang menyalahi syariat dan melihat kemaslahatan

ada pada tindakan yang melarang untuk mengikuti syariat? Bagaimana

mungkin untuk menata had harus dengan cara melakukan kedurhakaan?

Ataukah memang di dalam syariat itu tidak ada sesuatu yang mampu

memperbaiki had, sehingga harus menggunakan cara-cara yang tidak

diperbolehkan syariat? Ini sama saja dengan perbuatan orang-orang bodoa

dari kalangan para penguasa yang memotong apa yang ddak boleh dipotong,

membunuh apa yang ddak boleh dibunuh, lalu mereka menyebutkannva

sebagai perdmbangan polidk, dengan suatu jaminan bahwa syariat ddak

merambah masalah polidk?

Siapakah sebenarnya orang-orang yang dikatakan sebagai orang-orang

yang menguasai keadaan itu, sehingga mereka bisa berbuat semaunya? Demi

Allah, sama sekali ddak ada. Kita mempunyai syariat, yang andaikan orang

semacam Abu Bakar hendak berbuat berdasarkan jalan pikirannya, tentu ia

ddak akan diterima. Maka sungguh sangat mengherankan jika orang yang

sudah diberi kemahiran dalam fiqih ini tiba-dba menggeluti tasawuf. Kami

jauh lebih heran terhadap dirinya daripada keheranan kami terhadap orang

yang dia kisahkan.

3 5 2 Perangkap Setan

Kebiasaan Orang-orang Sufi yang Menghinakan Diri

Dari Muhammad bin Ahmad An-Najjar, dia berkata, ‘Ali bin Babawaih

adalah salah seorang sufi. Suatu hari dia membeli sepotong daging lalu hendak

membawanya pulang ke rumah, namun rupanya dia merasa malu terhadap

orang-orang yang ada di pasar. Maka dia menggantungkan potongan daging

itu di lehernya lalu membawanya pulang ke rumah.”

Kami benar-benar tak habis pikir terhadap orang-orang yang hendak

menghapus pengaruh dan tabiatnya, sesuam yang ddak mungkin dan juga

tidak diinginkan syariat. Manusia telah diberi tabiat, bahwa dia akan merasa

senang jika dirinya tampil dengan pakaian yang baik dan malu jika telanjang.

Sementara syariat pun tidak melarang seseorang tampil dengan pakaian yang

baik. Apa yang dilakukan Ali bin Babawaih yang menghinakan dirinya adalah

tindakan yang kurang terpuji, karena itu merupakan tindakan yang rendah

dan bukan merupakan mujahadah, seperti orang yang membawa sandalnya

di atas kepala. Sesungguhnya Allah telah memuliakan Bani Adam dan telah

menciptakan orang lain yang siap membantunya. Bukan termasuk ajaran

agama jika seseorang menghinakan dirinya di hadapan orang lain.

Orang-orang sufi menyebut tindakan semacam itu dengan istilah

mulamatiyah. Mereka melakukan suatu dosa, dengan berkata, “Kami

bermaksud menghinakan diri di mata manusia, agar kami bisa selamat dari

riya’ dan takabur.”

Mereka itu bisa diibaratkan orang yang menzinahi seorang wanita dan

membuatnya hamil. Ketika ada yang bertanya kepadanya, “Mengapa tidak

menggugurkan kandungan wanita itu?” Dia menjawab, “Aku mendengar

bahwa pengguguran kandungan itu haram.” Bisa dikatakan kepadanya, “Apa

komentarmu jika dikatakan bahwa zina itu haram?”

Orang-orang yang bodoh itu telah menghinakan dirinya di sisi Allah.

Mereka lupa bahwa orang-orang Muslim itu merupakan saksi AUah di muka

b u m i .

Dar i Abu Amr bin Ulwan, d ia berkata, “Abul-Husain An-Nur i

membawa dga rams dinar, hasil dari penjualan harta bendanya. Lalu dia duduk

di atas jembatan sambil melemparkan keping-keping uangnya sam demi sam.

Setiap kali melemparkan uangnya ke sungai, dia berkata, “Kamu datang

kepadaku unmk menipuku.”

3 5 3Btjb X: Talbis Jblis TeHiadap Orang-orang Sufi

Lalu orang-orang yang melihat tindakannya berkata, “Andaikan saja

dia menafkahkannya fi sabilillah, tentu akan lebih baik bagi dirinya.”

Kalaupun memang uang dinarnya itu menyibukkannya sehingga dia

lalai dalam beribadah kepada Allah, seharusnya dia melemparkan semuanya

sekaligus ke dalam sungai, agar dia cepat terlepas dari sesuatu yang dianggap

mengganggunya. Dengan begitu jelas bahwa mereka benar-benar ddak

mengetahui syariat dan tidak menggunakan akalnya. Seperti yang sudah kami

jelaskan di atas, syariat memerintahkan agar kita menjaga harta dan tidak

menyerahkannya kecuaH kepada orang yang berakal. Sebab harta itu telah

dijadikan sebagai penopang bagi kehidupan Bani Adam. Akal pun akan

menalar bahwa harta itu diciptakan untuk berbagai kemaslahatan. Jika harta

itu dibuang begitu saja, berarti dia telah merusak sebab kemaslahatannya

dan tidak mengetahui hikmah Dzat yang telah menciptakannya. Alasan yang

dipergunakan Abul-Husain juga lebih buruk dari tindakannya. Kalaupun dia

merasa takut terhadap dampak harta, toh dia bisa menyerahkannya kepada

fakir miskin yang sangat membutuhkannya.

Kontroversi Orang-orang Sufi dalam Bersikap

Di antara gambaran kebodohan mereka adalah kelancangan dalam

menafsiri Al-Qur’an berdasarkan pendapat mereka yang rusak

Abu Nashr As-Sarraj berkata di dalam kitabnya,̂ /-L«;55?i2’, ‘Abuja’far

Ad-Darraj berkata, ‘Suatu hari ustadzku keluar rumah untuk bersuci. Lalu

aku mengambil sebuah bejana miliknya. Setelah memeriksa isinya, aku

mendapatkan kepingan perak seharga empat dirham. Saat itu malam hari

dan kami belum makan apa-apa. Setelah dia kembali, aku berkata kepadanya,

“Di dalam bejanamu ada sekian dirham, sementara kami sudah kelaparan.”

“Engkau mengambiinya? Kembalikan lagi!” Katanya. Lalu dia berkata

lagi kepadaku, “Kalau begitu ambil saja uang itu dan belikan sesuatu!”

Aku bertanya, “Demi hak Dzat yang engkau sembah, mengapa engkau

menyimpan uang itu?”

Dia menjawab, “Allah sama sekali tidak melimpahkan keduniaan

kepadaku selain itu. Maka aku ingin berwasiat agar uang itu dikubur

bersamaku. Pada Hari Kiamat kelak uang itu akan kukembalikan kepada Allah,

seraya kukatakan, ‘Inilah keduniaan yang telah Engkau berikan kepadaku’.”

3 5 4 Perangkap Setan

Dari Abu Abdullah Al-Hushri, dia berkata, “Selama dua puluh tahun

Abu Ja’far Al-Haddad giat bekerja mengumpulkan dinar, yang kemudian dia

salurkan kepada orang fakir miskin. Dia juga selalu berpuasa. Biasanya selepas

maghrib dia keluar justxu meminta-minta makanan untuk buka puasanya.

Andaikata orang ini tahu bahwa meminta-minta itu tidak diperbolehkan

bagi orang yang sanggup bekerja dan berusaha, tentu dia tidak akan

melakukannya. Kalau pun itu diperbolehkan, lalu mengapa dia tidak menjaga

kehormatan d i r i?

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Rasulullah ^bersabda,

JlLljl Jlj: ̂

' " o '

s ' j j )

“Meminta-minta itu senantiasa dilakukan salah seorang di antara kalian

sehingga dia bersua Allah ife, dan pada mukanya tidak ada sekerat da^ng

pun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Az-Zubair bin Al-Awwam, dia berkata, “Rasulullah ^bersabda,

0 ✓ / ^ V *

, >9 >! e ^ f 9 ^ 0 f

(j^lj o'jj) J * * j h s - '

“Seseorang mengamhil seutas tali lalu mencari kayu bakar, kemudian dia

kembali dan meleta/dcan kayu bakar itu di pasar untuk dijual, l<emudian dia

mendapatkan harca dengannya lalu mermfkahkannya untuk dirinya, lebih

baik ba^nya daripada dia meminta-minta kepada manusia, entah mereka

memberinya atau tidak memberinya.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)

Dalam haclits Abdullah bin Amr, dari Nabi 0, beliau bersabda,

^ J

jllJ 01 >

> !

o y

25-l.ya \\

“Shadaqah itu tidak boleh diberikan kepada orang kaya dan kepada orang

yang bisa bekerja dan kuat badannya. ”(HR. At-Tirmidzi, Abu Daud, Ad-

Darimi, Al-Hakim dan Ath-Thayalisi)

3 5 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Asy-Syafi’i berkata, “Shadaqah tidak boleh diberikan kepada orang yang

badannya kuat dan sanggup bekerja.”

Dari Abul-Hasan bin Abu Bakar Asy-Syibli, dia berkata, “Suatu malam

ayahku berdiri dengan membiarkan salah satu kakinya terjulur keluar dan

satunya lagi di dalam rumah. Dia berkata, ‘Jika matamu terpejam, maka aku

akan mencongkelmu’. Dia berbuat seperti itu hingga pagi hari. Pada keesokan

hari dia berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, semalam aku tidak mendengar

ada seseorang yang berdzikir kepada Allah selain dari seekor ayam jantan

yang harganya seperenam dirham’.”

Orang ini telah menghimpun dua tindakan yang tidak diperbolehkan,

ya i tu :

Dia telah melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri. Bahkan

andaikata dia tertidur dan benar-benar melakukan ancamannya, berarti

dia telah melakukan kedurhakaan yang amat besar.

Dia tidak memberikan hak kepada mata untuk tidur. Padalah Nabi 0

telah menjelaskan bahwa mata itu mempunyai hak atas diri kita. Beliau

juga bersabda,

1 .

2 .

O y '

0ar'. , 0 y' ^ ^ y

( j * J — o ' j j )

“Jika salah seorang di antara kalian mengantuk, maka hendaklah dia tidur. ”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Nabi ̂ melihat ada tali yang diikatkan Zainab pada bang masjid,

dengan maksud, jika  dia merasa letih saat beribadah, maka dia bergayut

pada tali itu, lalu beliau memerintahkan untuk melepas tali itu seraya

bersabda,

^y y yy^y / ^

“Hendaklah salah seorang di antara kalian shalat menurut kesanggupannya.

Jika malas atau lemah, maka hendaklah dia duduk.” (HR. Al-Bukhari)

Asy-Syibli pernah berkata dalam majlisnya, “Allah mempunyai

hamba-hamba. Andaikan mereka meludah ke neraka Jahanam, tentu ia akan

padam.”

Perkataannya ini tak jauh berbeda dengan perkataan-perkataan Abu

Yazid, semuanya berasal dari satu sumber

3 5 6 Perangkap Setan

Dari Abu Ali Ad-Daqqaq, dia berkata, “Aku mendengar bahwa Asy-

Syibli pernah bercelak dengan menggunakan garam, agar dia lebih banyak

terjaga pada malam hari dan sama sekali tidak tddur.”

Ini merupakan perbuatan yang buruk dan tidak layak dilakukan orang

Muslim terhadap dirinya sendiri, karena garam itu bisa mengakibatkan

kebutaan. Terus-menerus berjaga pada malam hari pun tidak diperbolehkan,

karena tindabin ini tidak mencerminkan pemenuhan hak terhadap diri sendiri,

begitu pula jika makan hanya sedikit.

Abu Hamid Al-Ghazali menuturkan bahwa Asy-Syibli mempunyai lima

puluh dinar, lalu dia melemparkan semuanya ke sungai Tigris, seraya berkata,

“Siapa pun yang memujamu, maka Allah akan menghinakan dirinya.”

Kami jauh lebih heran kepada AJ-Ghazali daripada keheranan kepada

Asy-Syibli, karena dia menuturkannya disertai pujian dan bukan sebagai

pengingkaran. Lalu manakah pengaruh ilmu fiqih yang dimilikinya?

Kebodohan Orang-orang Sufi terhadap Hukum Fiqih

Dari Husain bin Abdullah Al-Qazwaini, dia berkata, “Aku diberi tahu

seseorang yang biasa hadir di majHs Banan. Dia berkata, ‘Suatu hari aku tidak

mempunyai makanan secuil pun yang bisa kumakan. Secara kebetulan aku

melihat sekerat emas yang tergeletak di jalan. Aku bermaksud mengambUnya

karena itu termasuk barang temuan. Tetapi aku mengurungkan niat ini. Lalu

aku teringat sebuah hadits, Andaikan dunia ini yang menyembur, maka

makanan orang Muslim yang berasal dari darah itu adalah halal’.̂ '-' Maka aku

pun mengambil potongan emas itu dan meletakkannya di mulut. Tak seberapa

jauh berjalan, aku berpapasan dengan anak-anak kecil yang sedang

berkerumun. Salah seorang di antara mereka bertanya kepadaku, ‘Kapankah

seorang hamba mendapatkan hakikat jujur?’ Aku menjawab, ‘Jika dia

membuang apa yang tersimpan di rongga mulutnya’. Maka aku segera

mengambil potongan emas itu dan membuangnya jauh-jauh.”

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha bahwa

membuang barang temuan adalah tidak diperbolehkan. Yang aneh, dia

membuang barang temuan itu hanya karena ucapan anak kecil yang tidak

begitu tahu apa yang diucapkannya.

Ini hiidits maudhii’, sebagaimana yang disebutkan dalam bukii A/iaditsul-Qis/ias/i. nomor 79.

Perhacikanlah bagaimana mereka biasa melakukan kemimgkaran dengan bcrdalil kepada hadits-hadits

mai idh i i ’ .

3 5 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Abu Hamid Al-Ghazali menuturkan bahwa Syaqiq Al-Balkhi menemui

Abul-Qasim, seorang ahli zuhud, sedang di ujung bajunya ada sesuatu yang

diikatkan. Syaqiq bertanya, “Apa yang engkau bawa itu?”

Abul-Qasim menjawab, “Buah yang diberikan saudaraku.”

Syaqiq berkata, ‘Aku suka jika engkau berbuka dengan buah itu.”

Abul-Qasim menjawab, “Wahai Syaqiq, silakan engkau bicara dengan

dirimu sendiri hingga malam had dan aku tidak mau lagi berbicara

denganmu.” Lalu dia menyuruh Syaqiq keluar rumah dan langsung menutup

pintu di depan hidungnya. Setelah itu dia masuk rumah.

Perhatikanlah sikap Abul-Qasim yang kasar, yang mengusir seorang

Muslim karena sebuah perkataan yang sebenarnya juga tidak dilarang. Apa

salah Syaqiq yang menganjurkannya berbuka dengan buah itu? RasuluUah ̂

pernah menyimpan bahan makanan untuk keperluan istri-istrinya selama satu

tahun. Kebodohan tentang suatu ilmu telah merusak jalan pikiran orang-

orang zuhud dan sufi.

Dari Ahmad bin Ishaq Al-Umani, dia berkata, “Di India aku melihat

seorang syaikh yang terkenal dengan panggilan Shabir (orang yang sabar).

Dia tidak pernah membuka sebelah matanya selama delapan puluh tahun.

Aku bertanya kepadanya, “Wahai Shabir, bagaimana ceritanya hingga engkau

bisa sesabar itu?”

Dia menjawab, “Dulu aku pernah berhasrat untuk memandang

perhiasan dunia, namun aku tidak memenuhi hasrat ini. Sebagai hukumannya,

aku pun memejamkan sebelah mata selama delapan puluh tahun dan tidak

pernah membukanya.”

Kami berlindung kepada Allah dari akal yang kurang waras seperti

orang ini. Apakah dengan sebelah matanya yang satu lagi dia tidak bisa melihat

perhiasan dunia?

Yusuf bin Ayyub Al-Hamdani mengisahkan tentang syaikhnya.

Abdullah Al-Jauni, bahwa dia pernah berkata, “Ketenaran ini tidak muncuJ

dari mihrab, tetapi dari WC.” Dia pun menuturkan kejadian yang dia alami

sehingga dia mendapatkan ketenaran itu, “Dulu aku mengabdikan diri untuk

membersihkan kamar mandi dan WC. Suatu hari tatkala aku sedang

membersihkan WC, had kecilku berkata, ‘Mengapa kau buang waktumu untuk

pekerjaan yang hina ini?’ Aku menjawab, Apakah engkau merasa hina karena

3 5 8 Perangkap Setan

berbuat untuk kepentingan hamba-hamba Allah?’ Karena itu aku

menceburkan diri ke dalam sumur dan melumuri mulutku dengan kotoran.

Orang-orang datang mengeluarkan diriku dan membersihkan kotoran yang

ber lumuran d i mu lu t ku . ”

Perhatikanlah orang yang perlu dikasihani ini, bagaimana dia percaya

bahwa ketenaran itu diperoleh dengan melumurkan kotoran ke mulutnya.

Dia menganggap perbuatan itu sebagai keutamaan, yang karenanya dia

mendapatkan banyak teman. Ini merupakan kedurhakaan yang layak

mendapat hukuman. Secara umum, apa yang dilakukan orang-orang sufi itu

karena tidak dilandasi ilmu, sehingga perbuatan mereka pun ddak terkontrol.

Sebagian orang-orang sufi itu melakukan perbuatan dosa, lalu beralasan,

“Maksud kami adalah untuk menghinakan diri di mata manusia, sehingga

kami selamat dari riya’ dan takabur.” Padahal pada hakikamya mereka telah

merendahkan diri di sisi Allah dengan menyalahi syariat. Perbuatan ini amat

buruk. Sementara Rasulullah ̂ pernah bersabda kepada Ma’iz, “Mengapa

engkau ddak menutup auratmu dengan kainmu?”

Sebagian sahabat pernah menghindari Rasulullah Syang sedang

berbicara dengan Shafiyah, istri beliau pada malam hari. Maka beliau

memberitahukan kepada mereka, “Ini adalah Shafiyah.”

Manusia harus memperhadkan sesuatu yang bisa menimbulkan buruk

sangka, karena orang-orang Mukmin itu merupakan saksi Allah di muka bumi.

Maka kedka Hudzaifah kednggalan pergi ke shalat Jum’at, maka dia pun

bersembun}̂ , agar orang-orang tidak berburuk sangka kepadanya. Ada

seseorang berkata kepada salah seorang sahabat, “Se.sungguhnya aku telah

melakukan dosa ini dan itu.” Maka sahabat itu menjawab, ‘Allah menutupi

aibmu selagi engkau sendiri menutupinya.” tetapi orang-orang sufi itu justru

melakukan sesuatu yang menyalahi syariat.

Sementara itu ada beberapa golongan anarkis yang ikut bergabung

bersama orang-orang sufi, lalu melakukan hal-hal yang serupa, yaitu:

Orang-orang kafir. Di antara mereka ada yang ddak mengakui eksistensi

Allah, sebagian lain ada yang mengakui eksistensi Allah namun ddak

mengakui nubuwah dan melihat apa yang dibawa para nabi dan rasul

adalah hal-hal yang mustahil. Kedka orang-orang kafir ini hendak

memuaskan diri dengan syahwat, maka mereka ddak mendapatkan

jaminan yang dapat melindungi nyawa mereka. Untuk memperoleh

1 .

3 5 9Bab X: Talbis Iblis Terlmdap Orang-orang Sufi

tujuan ini, mereka hanya melihat pada golongan orang-orang sufi.

Karena itu secara zhahir mereka masuk ke dalam golongan sufi, tetapi

di dalam batinnya tetap bersemayam kekufuran. Padahal mereka layak

mendapat hunjaman pedang dan laknat Allah.

Orang-orang yang menyatakan Islam dan hanya mengikuti perbuatan

para syaikh tanpa mempertanyakan dalilnya. Apa pun yang

diperintahkan kepada mereka past! dilaksanakan.

Orang-orang yang lebih suka melihat syubhat dan melaksanakannya.

Asai mula syubhat mereka ini tatkala mereka melihat berbagai madzhab

yang berkembang di kalangan manusia, maka Iblis segera memperdayai

mereka. Iblis memperlihatkan kepada mereka bahwa syubhat itu

bertentangan dengan hujjah, membedakan mana yang benar cukup

sulit dan tujuan terlalu agung untuk diperoleh dengan ilmu.

Keberuntungan itu laksana rezeki yang bisa datang sendiri kepada

seseorang, tanpa harus dicari. Lalu Iblis menutup pintu keselamatan

lewat pencarian ilmu, sehingga mereka sangat membenci istilah ilmu,

sebagaimana orang-orang Rafidhah yang sangat membenci nama Abu

Bakar dan Umar. Mereka berkata, “ilmu itu adalah tutupan, dan orang-

orang yang berilmu tidak dapat meraih tujuan dengan ilmunya.”

Jika ada orang berilmu yang mengingkari perbuatan mereka, maka

mereka berkata kepada para pengikutnya, “Sebenarnya dalam batin kami

mempunyai visi yang sama. Tetapi bagi orang awam, dia telah menampakkan

sesuatu yang berbeda dengan kami.”

Jika perdebatan semakin sengit antara orang berilmu dari mereka, maka

mereka berkata, “Rupanya dia orang bodoh yang mau dibelenggu syariat.”

Andaikan mereka sadar, bahwa apa yang mereka lakukan sekalipun

berdasarkan syubhat itu juga bisa disebut ilmu, tentu mereka tidak akan

mengingkari ilmu yang sebenarnya.

Inilah di antara syubhat mereka:

Syubhatpertama: Tentang masalah qadha’ dan qadar

Mereka berkata, “Karena segala urusan telah ditakdirkan sejak semula,

ada sebagian orang yang ditakdirkan menjadi orang-orang yang berbahagia

dan sebagian lain menderita, orang yang berbahagia tidak akan menderita

dan yang menderita tidak berbahagia, semua amal tidak bisa dikehendaki

2 .

3 .

3 6 0 Perangkap Setan

dengan sendirinya, kebahagiaan tidak bisa dicari dan penderitaan tidak dapat

ditolak, karena amal-amal itu sudah ada ketetapan sebelumnya, berarti tidak

ada gunanya kita membebani diri dengan pekerjaan dan kesenangan pun

tidak perlu ditolak. Karena apa yang sudah ditetapkan dalam takdir pasd

akan terjadi.”

Jawaban dari syubhat dapat dikatakan sebagai berikut: Semua Ini

bertentangan dengan semua ketetapan syariat, menyalahi semua hukum kitab

suci dan melecehkan apa yang dibawa para nabi. Sebab jika dikatakan di

dalam Al-Qur’an, “Dirikanlah shalat maka bisa saja ada yang berkata,

“Mengapa begitu? Kalau memang aku sudah ditetapkan sebagai orang yang

berbahagia, maka kesudahan hidupku pun adalah kebahagiaan. Kalau

memang aku ditetapkan sebagai orang yang menderita, maka kesudahan

hidupku pun adalah penderitaan. Lalu buat apa aku harus mendinkan shalat?”

Begitu pula jika dikatakan di dalam Al-Qur’an, ‘T>an janganlah kalian

dekati ̂ inal' Maka bisa saja ada yang berkata, “Mengapa aku meiarang diriku

dari kenikmatannya? Kalau memang sudah ada ketetapan kebahagiaan dan

penderitaan, mengapa harus ada perubahan karena zina?”

Fir’aun pun bisa beralasan seperti itu, ketika dikatakan kepadanya,

“Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)?”

Lama-kelamaan alasan ini bisa diajukan kepada Allah, seraya berkata,

“Apa manfaat Engkau mengutus para rasul, kalau memang Engkau sudah

menetapkan takdir?” Apa pun yang mengindikasikan kepada penyanggahan

isi Kitab dan penentangan para rasul adalah batii dan mustahil. Karena itu

RasuluUah menyanggah perkataan para sahabat, “Mengapa kita tidak

pasrah kepada Allah saja?” Beliau menjawab, “Berbuatlah kalian, karena segala

sesuatu akan dimudahkan dengan sesuatu yang telah diciptakan baginya.”

Ketahuilah bahwa Bani Adam itu mempunyai hak untuk berbuat

berdasarkan pdihannya, yang sekaligus menjadi dasar pahala ataukah siksanya.

Jika seseorang ingkar, maka kita baru tahu bahwa memang Allah

menakdirkannya sebagai orang yang ingkar. Tetapi Allah menghukumnya

berdasarkan keingkarannya dan bukan berdasarkan takdir-Nya. Karena itu

orang yang membunuh dijatuhi hukuman mati dan ddak ada alasan bahwa

itu merupakan takdir.

Rasul menyanggah pengalihan takdir kepada perbuatan, karena

perintah dan larangan merupakan sesuatu yang zhahir. Sementara apa yang

3 6 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

ditakdirkan merupakan masalah batin. Tidak selayaknya bagi kita

mengabaikan pembebanan yang sudah kita ketahui, lalu dialihkan kepada

sesuatu yang tidak kita ketahui.

Sabda beliau, “Segala sesuatu akan dimudahkan dengan sesuatu yang

telah diciptakan baginya”, merupakan isyarat tentang sebab di balik takdir,

Siapa yang ditakdirkan mempunyai ilmu, maka dimudahkan jalan baginya

untuk mencari ilmu, mencintai ilmu dan memahaminya. Adapun orang yang

ditakdirkan bodoh, kecintaan kepada ilmu disingkirkan dari hatinya. Begitu

pula orang yang ditakdirkan mempunyai anak, maka akan dimudahkan jalan

baginya untuk menikah, begitu pula sebaliknya.

Sjubhat kedua: Kebodohan mereka tentang Allah

Mereka berkata, “Allah tidak membutuhkan amal-amal kita dan tidak

terpengaruh oleh amal-amal kita, entah kedurhakaan atau pun ketaatan.

Karena itu kita tidak perlu membebani diri dengan sesuatu yang tidak

b e r m a n f a a t . ”

Jawaban dari syubhat ini dapat dikatakan sebagai berikut: Ini

merupakan sanggahan terhadap syariat yang diperintahkan. Seakan-akan kita

berkata kepada rasul dari apa yang dibawanya, “Apa yang engkau perintahkan

kepada kami tidak ada manfaatnya.”

Tentang syubhat itu sendiri dapat kami jawab sebagai berikut: Siapa

yang beranggapan bahwa Allah iSfe mengambil manfaat dari suatu ketaatan

atau mendapat mudharat karena suatu kedurhakaan, atau Dia mengambil

tujuan tertentu, berarti orang tersebut belum mengetahui Allah. Sebab Allah

Mahasuci dari pengingkaran, manfaat atau mudharat. Manfaat amal akan

kembali kepada diri kita, sebagaimana firman-Nya,

“Dan, barangsiapa yang herjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah

untuk dirinya sendiri." (Al-Ankabut: 6)

{1A;>u}

“Dan, barangsiapa yangmensueikan dirinya, sesungguhnya dia mensueikan

diri untuk kebedkan dirinya sendiri.” (Fathir: 18)

Seorang dokter menyuruh pasiennya menjaga diri demi kemaslahatan

pasien, bukan untuk kemaslahatan dokter. Sebagaimana badan yang

3 6 2 Perangkap Setan

terpengaruh oleh makanan yang bergizi dan makanan yang berbahaya, begitu

pula jiwa yang terpengaruh oleh ilmu dan kebodohan, keyakinan dan amal.

Pembuat syariat bisa diibaratkan dokter, yang lebih tahu kemaslahatan bagi

diri pasiennya.

Syubhat ketiga: Tentang keluasan rahmat Allah

Mereka berkata, “Sudah ada kepastian tentang keluasan rahmat Allah.

Rahmat itu past! merambah diri kita. Maka dari itu tidak ada gunanya

menghalangi diri kita untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.”

Jawaban dari sjoibhat ini sama dengan jawaban yang pertama, karena

pernyataan ini mengandung pengingkaran ancaman yang disampaikan para

rasul dan mengabaikan peringatan. Talbis ini dapat disingkap, karena di

samping Allah mensifati Diri-Nya yang Pengasih dan Penyayang, juga pedih

siksa-Nya. Kita tahu para nabi dan wali diuji dengan penyakit dan lapar.

Mereka tetap merasa takut andaikan tidak selamat. Ibrahim dan Musa

berkata pada Hari Kiamat, “Bagaimana diriku, bagaimana diriku?” Umar bin

Al-Khathab juga berkata tentang nasib dirinya, “Celakalah Umar jika dosanya

tidak diampuni.”

Orang yang mengharapkan rahmat tentu akan melakukan sebab-sebab

yang bisa mendatangkan rahmat itu, di antaranya adalah taubat dari kesalahan,

sebagaimana orang yang berharap memanen tentu akan menanam. Allah

befirman,

“Sesungguhnya orang'orang yang heriman, orang-orang yang berhijrah dan

herjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah

Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 218)

Dengan kata lain, mereka ini layak mengharapkan rahmat Allah. Tetapi

orang yang terus-menerus melakukan dosa, maka harapannya tidak akan

diterima. Ma’ruf Al-Karkhi berkata, “Engkau mengharapkan belas kasihan

kepada orang yang tidak engkau taati adalah tindakan yang bodoh.”

Syubhat keempat. Kebodohan terhadap maksud yariat

Sebagian orang sufi menganggap bahwa maksud dari syariat adalah

melatih jiwa, agar bersih dari noda-nodanya. Ketika mereka tidak sanggup

melakukannya dan jiwanya tidak bisa bersih, maka mereka berkata, “Kami

tidak sanggup membebankan kepada jiwa kami sesuatu yang di luar

kesanggupan kami.” Akhirnya mereka tidak mau beramal.

3 6 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Mereka mengira bahwa maksud dari syariat adalah membelenggu sifat-

sifat kemanusiaan yang ada di dalam batin, seperti membelenggu dorongan

syahwat, amarah dan lain-lainnya. Padahal bukan ini yang dimaksudkan syariat.

Sangat sulit digambarkan bagaimana mengenyahkan apa yang ada dalam tabiat

manusia dengan latihan. Teriebih lagi syahwat diciptakan untuk suatu manfaat.

Andaikata tidak ada nafsu makan, manusia tentu akan binasa. Andaikata tidak

ada nafsu birahi, keturunan tentu akan terputus. Andaikata tidak ada

amarah, manusia tentu tidak mau membela dirinya dari sesuatu yang

menyakitinya. Begitu pula kecintaan kepada harta yang juga ada di dalam

tabiat manusia. Yang dimaksudkan dengan ladhan di sini adalah menahan

jiwa dari sesuatu yang bisa merusak semua itu dan meletakkannya pada

proporsinya. Allah telah memuji orang-orang yang menahan jiwanya dan

nafsu. Nafsu itu pun akan berhenti sendiri jika sudah dipenuhi, tetapi jika

pencariannya hilang sama sekali dari tabiamya, maka buat apa ada larangan?

Maka Allah befirman agar menahan amarah dan tidak melarangnya

sekali .

r a s a

s a m a

Siapa yang menyatakan bahwa latihan jiwa adalah mengubah tabiat,

berarti dia telah menyatakan sesuatu yang mustahil. Yang dimaksudkan

dengan latihan adalah menghindari nafsu dan amarah yang meledak-ledak,

bukan memadamkannya sama sekali. Orang yang sedang melatih jiwanya

seperti dokter yang pandai saat menghadapi hidangan. Dia akan mengambil

makanan yang cocok untuk kondisinya dan menghindari makanan yang

berbahaya bagi dirinya. Sedangkan orang yang tidak mau melatih jiwanya

seperti anak kecil yang bodoh, maka apa pun yang tampak menarik di

hadapannya dan tidak mau peduli apa akibamya setelah itu.

Syuhhat kelima: Kesesatan mereka karena menganggap telah meraih tujuan

Di antara mereka ada yang berlebih-lebihan dalam melatih jiwa, lalu

mereka melihat sesuatu yang menyerupai karamah atau mimpi yang baik atau

ada perkataan halus yang dibisikkan kepadanya, sebagai hasil dari pemikiran

dan pertapaannya. Dia berkeyakinan telah sampai kepada maksud yang dituj

dengan berkata, “Kami telah sampai ke tujuan, sehingga ddak ada sesuatu

pun yang berbahaya bagi kami. Sama seperti orang yang riba di Ka’bah,

sehingga dia harus menghentikan perjalanannya.” Untuk itu mereka tidak

perlu lagi beramal. Mereka menghiasi penampilan mereka dengan pakaian

u ,

3 6 4 Perangkap Setan

yang ditambal, kain sajadah dan berbicara dengan kata-kata yang biasa

dilontarkan orang-orang sufi.

Ibnu Aqil berkata, ‘Banyak orang yang keluar dari agama Allah dan

menjauh dari syariat, lalu beralih kepada hal-hal yang mereka ciptakan sendiri.

Di antara mereka ada yang menyembah selain Allah dan mengagung-

agungkannya, serta menjadikannya sebagai sarana pendukung dari

pernyataan-pernyataannya. Di antara mereka ada pula yang mengesakan

Allah, tetapi tidak mau beribadah. Celakanya, justru hal-hal seperti ini

diajarkan kepada orang-orang awam yang memang tidak memiiiki

pengetahuan.”

Yang demikian ini termasuk sufi jenis syirik. Abu Ali Ar-Rudzbari

pernah ditanya tentang seseorang yang berkata, “Aku telah sampai ke suatu

derajat yang tidak akan terpengaruh oleh keadaan macam apa pun”, maka

dia menjawab, “Memang dia telah sampai, tetapi sampai ke neraka Saqar.”

Karena ilmu orang-orang sufi tentang syariat sangat minim, akhirnya

muncul berbagai perbuatan dan perkataan yang tidak diperbolehkan, ialu

muncul pula orang-orang yang meniru mereka, sehingga bermunculan kisah-

kisah seperti yang sudah kami tuturkan di atas. Sedikit sekali di antara mereka

yang lurus. Mayoritas mendapat cercaan dan celaan dari para ulama. Syaikh

mereka pun juga tidak lolos dari cercaan ini.

Dari Abdul-Malik bin Ziyad An-Nashibi, dia berkata, “Kami berada

di sisi Malik, lalu aku menceritakan keberadaan orang-orang sufi di daerahku.

Kukatakan, ‘Mereka mengenakan pakaian model Yaman yang bagus, biasa

berbuat begird dan begitu’. Dia berkata, ‘Celaka engkau! Apakah mereka itu

benar-benar orang-orang Muslim?

Abdul-Malik menjelaskan, “Setelah itu Malik tertawa terbahak-bahak

hing