ri dan lebih banyak diam. Jika engkau mengambil pelajaran dari diri
orang-orang salaf, tentu engkau akan tahu bagaimana perasaan takut yang
menguasai hati mereka dan bagaimana mereka yang menjauhi bualan,
sebagaimana yang dikatakan Umar bin Al-Khathab saat hendak meninggal
dunia, “Celakalah Umar jika dosa-dosanya tidak diampuni.”
Ibnu Mas‘ud juga berkata, “Andaikan saja aku tidak dibangkitkan lagi
setelah mati.'
3 3 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Aisyah ̂ juga berkata, “Andaikan saja aku ini orang yang tidak berard
dan dilupakan.”
Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata kepada Hammad bin Salamah ketika
hendak meninggal dunia, “Apakah engkau berharap bahwa orang seperti ini
akan diampuni dosa-dosanya?”
Perkataan semacam ini keluar dari orang-orang yang terkemuka itu,
karena iimu mereka yang mendalam tentang Allah. Akhirnya ilmu yang
mendalam ini menghasilkan perasaan takut dan gentar. Allah befirman,
“Sesunggu/in îa yang takut kepada Allah itu hanyalah hamba-hamba'Nya
yang berilmu.” (Fathir: 28)
Nabi ^bersabda,
“Aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah di antara kalian dan aku
adalah orang yang paling takut kepada-Nya di antara kalian.” (HR. Ah
Bukhari dan Muslim)
Karena orang-orang sufi jauh dari ilmu, maka perhatian mereka tertuju
kepada amal, lalu mereka sepakat menunjukkan kelemahlembutan yang
menyerupai karamah, lalu mereka mengeluarkan berbagai macam bualan.
Dari Abu Yazid Al-Busthami, dia berkata, ‘Aku ingin andaikan saja
Hari Kiamat sudah tiba, sehingga aku bisa memancangkan kemah di neraka
Jahanam.”
“Mengapa begitu wahai Abu Yazid?” tanya seseorang.
Dia menjawab, “Sebab aku tahu bahwa jika Jahanam melihatku, maka
apinya akan padam, sehingga aku bisa menolong orang lain.”
Benar-benar perkataan yang sangat menjijikkan, karena dia telah
menghinakan apa yang diagungkan AUah, yaitu perintah-Nya kepada neraka.
Padahal Allah juga telah panjang lebar menjelaskan masalah neraka ini,
seperd firman-Nya,
“Maka peliharalah diri kalian dari api neraka, yang bahan bakamya manusia
dan batu." (AhBaqarah: 24)
“jika itu melihat mereka dan tempat yang jauh, mereka mendenga^
kegeramannya dan suara nyalanya.” (Al-Furqan: 12)
3 3 8 Perangkap Setan
Dari Abu Hurairah 4i>, dia berkata, “RasuluUah ̂ bersabda,
“Sesungguhnya neraka kalian ini, yang dinyalakan dengan Bani Adam,
merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panas Jahanam.”
Para sahabat berkata, “Demi Allah, itu benar-benar sudah cukup wahai
R a s u l u U a h . '
Beliau bersabda, “Jahanam itu dilebihkan enam puluh tujuh bagian,
yang semuanya seperti itu panasnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi S, beliau bersabda,
^ ^ 0 i y ,
(r^ ! ' - f '
“Jahanam didatangkan pada hari itu yang memiliki tujuh puluh ribu
belenggu, yang setiap belenggu dijaga seribu malaikat yang menyeretnya."
(HR. Muslim)
Umar bin Al-Khathab berkata kepada Ka’b, “Wahai Ka’b, buatiah kami
takut! '
Ka’b berkata, ‘"Wahai Amirul-Mukminin, berbuatlah seperti amal satu
orang. Jika pada Hari Kiamat engkau sudah menyerupai amal tujuh puluh
nabi, maka engkau benar-benar bisa memandang ringan amalmu.”
Setelah Umar menundukkan kepala cukup lama, maka dia menengadah
lalu dia berkata lagi, “Tambahi lagi wahai Ka’b!”
Ka’b berkata, “Wahai Amirul-Mukminin, andaikata dari Jahanam itu
dibuka lubang seujung hidung sapi jantan di tempat terbitnya matahari, dan
ada seseorang di tempat tenggelamnya matahari, niscaya otaknya akan mencair
karena panasnya.”
Setelah cukup lama Umar menundukkan kepala, maka dia menengadah
lalu berkata, “Tambahi lagi wahai Ka’b!”
Ka’b berkata, “Wahai Amirul-Mukminin, sesungguhnya jahanam itu
bergemuruh nyalanya, sehingga tidak ada malaikat yang selalu mendekatkan
diri kepada Allah dan nabi pilihan, melainkan mereka berlutut sambil berkata,
“Wahai Rabhi, selamatkan diriku, selamatl^n diriku. Pada hari ini aku tidak
m e m o h o n s e l a i n u n t u k d i r i k u s e n d i r i . ”
3 3 9Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Suatu hari Abdullah bin Rawahah menangis. Lalu istrinya bertanya.
“Apa yang terjadi dengan dirimu sehingga engkau menangis?” Dia menjawab
“Aku seakan mendapat kabar bahwa aku akan dibawa ke neraka dan aki.
tidak akan keluar dari Sana.”
Jika seperti ini keadaan orang-orang yang piUhan dari umat Islam, lali
bagaimana dengan orang-orang yang suka membual dengan perkataannya?
Tidak jarang di antara mereka yang berani membuat keputusan tentang
keadaan dirinya, padahal dia tidak tahu dirinya akan selamat atau tidak.
Bukankah yang mendapat kabar keselamatan hanya sebagian kecil dan para
shahabat?
Ibnu Aqil berkata, “Telah dikisahkan dari Abu Yazid, dia berkata, Siapa
yang berkata bahwa dia bisa menghukumi orang lain, maka dia adalah orang
zindiq yang layak dibunuh. Meremehkan sesuatu menghasilkan pengingkaran.
Sebab orang yang percaya kepada jin, agar dibuat gemetar di dalam kegelapan,
dan siapa yang tidak percaya, maka dia tidak akan gemetar. Boleh jadi dia
berkata, ‘Wahai jin, pengaruhilah aku!’ Orang yang berkata seperti ini wajahnya
layak ddumuri him panas. Jika dia meradang, maka bisa dikatakan kepadanya,
‘ini adalah bara api neraka’.”
Dari Thaifur Ash-Shaghir, dia berkata, “Pamanku menjadi
pembanrunya Abu Yazid. Suatu kali dia bertutur, Aku mendengar Abu Yazi<l
berkata, ‘Maha suci aku, maha suci aku, dan betapa besar kedudukanku .
Kemudian dia berkata lagi, ‘Cukuplah aku dengan diriku’.”
Kalau memang itu yang dikatakan Abu Yazid, boleh jadi orang yang
meriwayatkan darinya tidak paham, karena boleh jadi dia sedang memuji Allal-;,
sehingga seakan-akan dia sedang raenggambarkan firman Allah yang seperti
itu, bukan menggambarkan keadaan dirinya. Jika tidak, maka lebih baik
ucapannya itu dilupakan saja. Dari Abdullah bin Ali As-Sarraj, dia berkau.,
“Aku mendengar Ahmad bin Salim Al-Bashri berkata dalam majlisnya ci
Bashrah, ‘Fir’aun tidak pernah berkata seperti yang dikatakan Abu Yazid itu.
Sebab Fir’aun berkata, Akulah Kabb kalian yang paling tinggi”. Rabb bisa
dikatakan untuk makhluk, seperti ucapan Rabbud-dar, yang artinya tuan rumah.
letapi Abu Yazid berkata, ‘Maha suci aku’. Padahal yang seperti ini hanya
berlaku bagi Allah semata.”
Abu Yazid juga pernah berkata, “Aku melakukan thawaf di sekeliling
Ka’bah. Ketika aku mendekatinya, kulihat Ka’bah itu yang thawaf di
sekelilingku.”
3 4 0 Perangkap Setan
Dari Thai6ar Ash-Shaghir, dia berkata, “Aku pernah mendengar Abu
Yazid berkata, Aku melakukan thawaf sekali, maka masih kulihat Ka’bah.
Kemudian aku thawaf lagi, maka bisa kulihat penjaga Ka’bah, namun aku
tidak melihat Ka’bah. Kemudian aku thawaf ketiga kali, maka tidak kulihat
Ka’bah dan penjaganya’.
Abu Yazid pernah ditanya tentang Lauh Mah/uf̂ h. Maka dia menjawab,
‘ A k u l a h M a h f u : ^ i t u . ”
Dari Abu Musa Ad-Du’ali, dia berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada
Abu Yazid, ‘Aku mendengar bahwa ada tiga macam had yang berada di atas
had Jibril. Bagaimana jelasnya?”
Dia menjawab, “Aku adalah salah satu dari yang dga itu.”
“Bagaimana itu terjadi?”
Dia menjawab, “Hadku satu, hasratku satu dan ruhku juga satu.”
Aku bertanya, ‘Aku juga mendengar bahwa ada satu had ada di atas
h a d I s r a fi h
Dia menjawab, ‘Akulah yang satu itu. Orang seperdku laksana lautan
yang luas membentang, ddak ada awal dan akhirnya.”
Ada seseorang berkata kepada Abu Yazid, “Sesungguhnya semua
m a k h l u k a d a d i b a w a h b e n d e r a M u h a m m a d ”
Lalu Abu Yazid menimpali, “Demi Allah, benderaku lebih besar
daripada bendera Muhammad. Di bawah benderaku ada jin, manusia dan
juga para nabi.”
Dari Al-Hasan bin Ali bin Salam, dia berkata, “Suatu kali Abu Yazid
memasuki Madinah yang dibuntuti banyak orang. Lalu dia menghadap ke
arah mereka seraya berkata, “Sesungguhnya aku adalah Allah yang dada
sesembahan selainku, maka sembahlah aku.”
Maka orang-orang berkata, “Rupanya Abu Yazid adalah orang gila.”
Lalu mereka pun meninggalkannya.
Dari Al-Junaid bin Muhammad, dia berkata, “Kemarin ada seseorang
yang ingin bertemu denganku, yang berasal dari Bistham. Dia bercerita tentang
Abu Yazid Al-Bisthami yang pernah berkata, “Ya Allah, seandainya sudah
ada dalam pengetahuan-Mu bahwa Engkau akan mengadzab seseorang dari
hamba-Mu dengan api neraka, maka agungkanlah penciptaanku, agar dengan
keberadaanku Engkau ddak mengadzab selainku.”
3 4 1Bab X: Tglbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Dari semua pernyataannya ini bisa dilihat secara jelas bagaimana
keburukan perangainya. Terutama bualannya yang terakhir, sangat nyata
kesalahannya, yang bisa dilihat dari tiga sudut:
Tentang perkataannya, “Seandainya sudah ada dalam pengetahuanMu”.
kita sudah tahu bahwa Allah pasti akan mengadzab makhluk dengan
api neraka, dan Allah telah menyebutkan sebagian nama-nama makhluk
itu, seperti Fir’aun dan Abu Lahab. Maka bagaimana mungkin dikatakan
“Seandainya”, jika sudah ada kepastian dan keputusan?
Tentang perkataannya, “Maka agungkanlah penciptaanku, agar dengan
keberadaanku Engkau tidaik mengadzab selainku”, berarti dia juga
berbelas kasihan terhadap orang-orang kafir. Masih mendingan jika
dia berkata, “Agar aku dapat membela orang-orang Mukmin”. Yang
pasti, bualannya itu merupakan kelancangan terhadap rahmat Allah.
Dia tidak tahu ketetapan Allah terhadap api neraka atau terlalu merasa
yakin terhadap kesabaran dirinya. Padahal kedua-duanya tidak ada
dalam dirinya.
Dari Al-Abbas bin Atha’, dia berkata, “Tadinya aku ddak percaya
kepada berbagai macam karamah, hingga suatu kali aku merasa yakin setelah
melihatnya dari Abul-Husain An-Nuri. Maka ketika aku bertanya kepadan)'a.
dia menjawabnya panjang lebar.
Abul-Abbas bin Atha’ menuturkan, “Kami sedang naik perahu di
sungai Tigris. Orang-orang berkata kepada Abul-Husain, ‘Suruhlah keluar
seekor ikan dan sungai Tigris yang bobotnya tiga ritl. ”
Maka Abul-Husain berkomat-kamit menggerakkan bibirnya. Tiba-tiba
muncul seekor ikan sebesar yang diminta orang-orang dan langsung melompat
ke dalam perahu. Ada seseorang yang bertanya, “Demi Allah, kami hendak
bertanya, apa yang engkau ucapkan dalam doamu tadi?”
Dia menjawab, “Aku berdoa, ‘Demi kemuliaan-Mu, andaikan Engkau
tidak mengeluarkan seekor ikan seberat tiga ritl, maka aku akan menceburkan
diri ke sungai Tigris’.”
Dari Al-Junaid, dia berkata, “Aku mendengar An-Nuri pernah berkata,
Aku pernah berada di Raqqah. Ada beberapa orang ahli ibadah yang hendak
memancing ikan. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Abul Husain, dengan
ibadah dan mujahadahmu itu berikanlah kepada kami seekor ikan yang
1.
2.
3.
3 4 2 Perangkap Setan
bobotnya tiga ritly tidak kurang dan tddak iebih’. Maka aku berkata kepada
Allah, ‘Seandainya Engkau tidak mengeluarkan seekor ikan pada saat ini pula
seperti yang mereka pinta, maka aku akan menceburkan diri ke sungai Eufrat’.
Maka keluarlah seekor ikan yang bobotnya persis tiga ritl, tidak kurang dan
t idak leb ih. ”
‘Wahai Abui-Husain, jika ikan itu tidak keluar, engkau benar-benar
akan menceburkan diri ke dalam sungai?” tanya Al-junaid.
“Benar,” jawabnya.
Ketika Al-Junaid mendengar kisah serupa dari Abul-Husain, maka dia
berkata, Seharusnya yang keluar dari sungai adalah seekor ular yang kemudian
mematuknya.”
Ibnu Aqil pernah menuturkan dari Asy-Syibli bahwa dia berkata,
“Sesungguhnya Allah telah befirman, T)an, kelak Kabbmu memberikan karunia-
I^a kepadamu, lain (hati) kamu menjadi puas’. (Adh-Dhuha: 5) Demi Allah,
Muhammad ^tidak ridha karena di dalam neraka ada seseorang dari
umamya.”
Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya Muhammad memintakan
syafaat bagi umatnya, lalu aku memintakan syafaat setelah beliau bagi orang-
orang yang ada di dalam neraka, sehingga di sana tidak menyisa seorang
pun.”
Ibnu Aqil berkata, “Anggapan Asy-Syibli yang pertama tentang
RasuluUah ̂ adalah dusta, karena beliau ridha terhadap adzab yang dijatuhkan
kepada orang-orang yang jahat. Dalam hubungannya dengan khamr saja
beliau sudah melaknat sepuluh orang. Maka bagaimana mungkin ada
anggapan bahwa beliau tidak ridha terhadap adzab yang dijatuhkan kepada
orang-orang zhalim? Tentu saja ini anggapan yang salah dan menunjukkan
kebodohan terhadap syariat.
Bualannya bahwa dia bisa memintakan syafaat bagi semua orang, yang
berarti melampaui RasuluUah jelas merupakan kekufuran. Sebab selagi
seseorang belum memastikan dirinya termasuk penghuni surga, maka dia
justru menjadi penghuni neraka. Lalu bagaimana mungkin dia membual dan
memberikan kesaksian atas dirinya, bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada
kedudukan nabi dan bahkan melebihi kapasitas seorang nabi yang
memintakan syafaat?
3 4 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Ibnu Aqil berkata, “Andaikata aku mempunyai hak untuk melibas para
ahli bid’ah dengan lidah dan hatiku, maka aku lebih suka memilih
mempergunakan pedang untuk membekukan jasadnya.”
Dari Abul-Abbas bin Atha’, dia berkata, ‘Aku membaca Al-Qur’an,
nainun tidak kutemukan keterangan di dalamnya bahwa Allah menyebutkan
seorang hamba, memujinya dan menimpakan cobaan kepadanya. Maka aku
memohon kepada Allah agar Dia menimpakan cobaan kepadaku. Tak
seberapa lama setelah itu, aku kehilangan dua puluh orang anggota keluarga,
semuanya meninggal dunia.”
Bahkan menurut kisahnya, hartanya juga ludes, tak seorang pun
keluarganya yang masih hidup dan dia menjadi gila. Ketika dia sudah sembuh,
yang pertama kali dia ucapkan adalah, “Benar apa yang kukatakan. Rupanya
Engkau (Allah) telah menimpakan cobaan kepadaku secara semena-mena.
Aku harus menanggung kehendak-Mu. Namun sangat mencengangkan,
karena aku masih bisa bersabar.”
Karena kebodohanlah yang mendorong Abul-Abbas memohon
cobaan atas dirinya. Berarti dia merasa hebat dan kuat. Yang seperti ini
merupakan tindakan yang amat buruk. Apa yang dia katakan terhadap Allah
sama sekali tidak layak.
Abul-Hasan All bin Ibrahim Al-Hushri berkata, “Sejak lama akii tidak
berlindung dari setan jika aku hendak membaca Al-Qur’an. Karena siapakah
setan yang berani mendekati firman Allah?”
Tentu saja perkataannya ini bertentangan dengan firman Allah yang
memerintahkan,
“jika kamu membaca Al'-Qur‘an, hendakloh kamu memintaperlmdungan
kepada Allah dari setan yang terkutuk." (An-Nahl: 98)
Abul-Abbas Ahmad bin Muhammad Ad-Dinawari berkata, “Mereka
telah merombak sendi-sendi tasawuf, merusak jalannya, merubah makna-
maknanya dengan sebutan baru yang mereka ciptakan. Mereka menyebut
birahi sebagai tambahan, menyebut adab yang buruk sebagai keikhlasan,
menyebut tindakan yang keluar dan kebenaran sebagai tradisi, menyebut
kenikmatan yang melenakan sebagai hal yang baik, menyebut akhlak
yang buruk sebagai kekuasaan, menyebut kikir sebagai kegigihan, dan lain-
lainnya.”
3 4 4 Perangkap Setan
Begitu pula yang dikatakan Ibnu Aqil, bahwa orang-orang sufi itu
menggambarkan hal-hal yang haram dengan istilah dan nama-nama tersendiri,
tentu saja dengan suatu pengertian yang mereka inginkan. Mereka menyebut
kumpul-kumpul untuk bercanda dan bernyanyi sebagai efisiensi waktu.
Mereka menyebut anak laki-laki yang ganteng sebagai uban, menyebut hal-
hal yang mengasyikkan sebagai saudara, menyebut wanita yang jatuh cinta
sebagai orang yang sedang meniti jalan, dan lain-iainnya. Padahal nama dan
istilah-istilah sama sekali tidak layak.
Sejumlah Riwayat tentang Tindakan Orang-orang Sufi yang
Mungkar
Telah kami sebutkan beberapa gambaran sikap orang-orang sufl, yang
semuanya termasuk kemungkaran. Berikut ini akan kami sebutkan beberapa
tindakan dan hal-hal yang aneh dari mereka.
Dari Abu Ja’far Al-Kuraiti, dia berkata, “Suatu malam aku junub. Maka
aku perlu mandi, padahal malam itu hawanya sangat dingin. Aku berpikir
untuk menunda mandi dan hatiku berkata, ‘Engkau tidak perlu mandi kecuali
setelah pagi tiba dan air menjadi hangat, atau engkau bisa masuk kamar mandi
sekarang juga dan akibatnya siiakan tanggung sendiri’. Aku berkata, ‘ini benar-
benar sangat mengagumkan. Aku bisa bermu’amalah dengan Allah sepanjang
hidupku. Aku layak mendapat hak dari Allah untuk tidak segera mandi’. Maka
aku mengambil keputusan unmk mandi setelah hari agak siang lalu berjemur
di bawah sinar matahari.”
Dia menjelaskan tindakannya itu kepada orang-orang, karena hendak
menyatakan bahwa itu adalah baik. Ini merupakan kebodohan, karena dia
telah mendurhakai perintah Allah. Tidak ada yang taajub kepadanya kecuali
orang-orang awam yang bodoh, bukan orang-orang yang berilmu. Sebaliknya,
ada pula di antara orang-orang sufi memaksakan diri mandi di air yang dingin
dalam cuaca yang dingin pula, bahkan dengan mengenakan mantel, berendam
di dalam air. Semua ini merupakan tindakan yang salah, yang bisa
mendatangkan penyakit dan bahkan bisa membuamya mati kedinginan.
Dari Hamd bin Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani, dia berkata, “Istri
Ahmad bin Hadhrawaih mau dinikahi Ahmad, yang di antara syarat
maskawinnya, Ahmad harus membawanya menghadap Abu Yazid Al-
Bisthami. Maka dia pun membawa istrinya menemui Abu Yazid di rumahn)'a.
3 4 5Bab X: Talbis Iblis Terlwdap Orang-orang Sufi
Istri Ahmad duduk tepat di hadapan Abu Yazid, lalu membuka kerudung
kcpalanya. Ketika Ahmad menegur istrinya dengan berkata, “Aku heran
melihatmu membuka kerudung di hadapan Abu Yazid.”
Istrinya menjawab, “Ketika aku melihat Abu Yazid, seakan-akan tidal
merasakan kehadiranku. Namun jika aku memandangmu, maka aku bisa
m e r a s a k a n k e h a d i r a n d i r i k u . ”
Ketika Ahmad akan keluar dari tempat Abu Yazid, dia berkata, “Berilah
a k u n a s i h a t !
Abu Yazid berkata, “Belajarlah fatwa dari istrimu.”
Dari Yusuf bin Al-Husain, dia berkata, “Antara Ahmad bin Abul
Hawari dan Abu Sulaiman sudah ada perjanjian yang tidak akan dilanggar,
apa pun yang diperintahkan Abu Sulaiman kepada Abul-Hawari. Suatu kali
Abul-Hawari mendatangi Abu Sulaiman yang sedang berbicara di dalam
majlisnya. Abul-Hawari berkata, “Kami sudah menyalakan tungku api. Maka
apa yang harus kami lakukan?” Dia bertanya sekali, tidak dijawab. Dua kali,
tetap tidak dijawab. Pada ketiga kalinya Abu Sulaiman menjawab, “Engkau
harus duduk di atas tungku api itu.” Lalu dia berkata lagi kepada orang-orang
yang ada di situ, “Dudukkan dia di atas tungku api, karena antara diriku dan
dirinya sudah ada perjanjian, bahwa dia tidak akan melanggarnya, apa pun
yang kuperintahkan.”
Maka orang-orang membawa Abul-Hawari ke dekat tungku, lalu
mendudukkan di atasnya, tetapi sedikit pun tidak ada yang membekas pada
dirinya.
Kisah ini benar-benar sulit diterima nalar. Taruhlah bahwa itu
merupakan kisah yang sebenarnya, maka Abul-Hawari yang membakar dirinya
di atas tungku api itu merupakan kedurhakaan. Sebab di dalam Ash-Shabihain
telah disebutkan hadits dari Ali bin Abu Thalib dia berkata, “RasuluUah
#mengirim satuan pasukan perang dan mengangkat seseorang dari Anshar
sebagai komandannya. Ketika mereka sudah pergi, sang komandan melihat
ada yang tidak beres pada mereka. Maka dia berkata, “Bukankah RasuluUah
^telah memerintahkan kalian agar patuh kepadaku?”
“Begitulah,” jawab mereka.
“Kalau begitu kumpulkan kayu bakar,” kata sang komandan. Setelah
kayu bakar terkumpul banyak, dia menyalakan tumpukan kayu bakar itu.
3 4 6 Perangkap Setan
Kemudian dia berkata, “Aku ingin kalian menceburkan diri ke dalam kobaran
api itu.”
Hampir saja mereka masuk ke kobaran api, andaikan saja tidak ada
seorang pemuda yang berkata, “Kalian perlu menemui RasuluUah 0terlebih
dahulu sebelum menceburkan diri ke dalam api. Janganlah kalian terburu-
buru berdndak sebelum menemui beliau. Jika beliau memerintahkan kalian
masuk ke dalam api, maka masuklah.”
Maka mereka menemui Nabi ̂ dan menceritakan apa yang terjadi.
Maka beliau bersabda.
"Aruiaikan kalian masuk ke dalam api itu, maka kalian tidak akan keluar
dari sana selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang
ma'ruf. ”
Dari Abdullah bin Ibrahim Al-Jazari, dia berkata, ‘Abul-Khair Ad-
Du’aili berkata, “Aku duduk di dekat Khair, seorang penenun, Lalu ada
seorang wanita yang datang. Dia berkata, “Aku ingin sapu tangan yang dulu
pernah kujual kepadamu.”
B o l e h , kata Khair sambil menyerahkan sapu tangan yang
d i m a k s u d k a n .
“Berapa harganya?” tanya wanita.
“Dua dirham,” jawab Khair.
“Sekarang aku belum mempunyai apa-apa. Sebelum ini aku sudah
beberapa kali mendatangimu, tetapi engkau tidak kelihatan. Insya Allah
besok aku akan menemuimu lagi?” kata wanita.
Khair berkata, “Jika besok engkau hendak menyerahkan dua dirham
itu kepadaku, namun engkau tidak bertemu denganku, maka lemparkanlah
uang itu ke sungai Tigris. Jika kemudian aku datang, maka aku akan
mengambil sendiri.”
Bagaimana engkau mengambilnya dari sungai Tigris?”
“Tentu saja sulit mencarinya jika engkau yang melakukan. Yang jelas
lakukan saja apa yang kuperintahkan ini.”
3 4 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Wanita itu berkata, “Insya Allah.” Lalu dia pun berlalu dari tempat itu.
Besoknya aku datang dan ternyata Khair tidak ada di tempat, sementara
wanita itu juga sudah ada di sana sambil membawa buntalan kain berisi dua
dirham. Karena dia tidak mendapatkan Khair, maka buntalan berisi dua
dirham itu dia lemparkan ke sungai Tigris. Pada saat yang sama ada seekor
kepiting yang mengait buntalan dan membawanya masuk ke dalam air. Tak
seberapa lama kemudian Khair datang. Dia langsung membuka pintu kiosnya,
lalu duduk di tepi sungai untuk wudhu’. Pada saat itu pula muncul seekor
kepiting di permukaan air dan di atas punggungnya ada buntalan yang berisi
dirham. Ketika kepiting itu sudah minggir ke tepi, Khair mengambilnya. Aku
berkata kepadanya, “Aku sudah melihat semua yang terjadi.”
Dia berkata, “Janganlah engkau ceritakan kejadian ini selagi aku masih
hidup.” Aku pun menyanggupinya.
Kebenaran kisah ini sulit diterima. Taruhlah bahwa kisah itu benar,
tetapi tindakan Khair ini jelas bertentangan dengan syariat. Sebab syariat
memerintahkan unmk menjaga harta dan tidak boleh menyia-nyiakannya,
sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi S. Janganlah engkau
terpedaya oleh perkataan seseorang, bahwa kejadian semacam ini termasuk
karamah. Sebab Allah tidak memberikan karamah kepada seseorang yang
bertentangan dengan syariat.
Dari Ali bin Abdurrahim, dia berkata, “Suatu hari aku masuk ke tempat
tinggal An-Nuri. Kulihat kedua kakinya bengkak. Aku bertanya mengapa
bisa terjadi seperti itu? Maka dia menjawab, “Jiwaku menuntut agar aku makan
korma. Sebenarnya aku menolak. Tetapi jiwaku tetap menuntumya. Maka
aku pun pergi membeli korma. Setelah memakannya, aku berkata kepada
jiwaku, ‘Bangunlah dan shalatlah!’ Rupanya jiwaku menolak. Maka kukatakan,
‘Demi Allah, aku tidak akan duduk di atas tanah selama empat puluh hari
kecuali untuk tasyahhud’. Maka aku pun tidak pernah duduk selama itu.”
Siapa yang mendengar perkataan orang-orang bodoh seperti ini, lalu
dia berkata, “Alangkah baiknya mujahadah ini”, berarti dia tidak tahu bahwa
perbuatan itu .tidak diperbolehkan, karena itu merupakan pembebanan
terhadap diri dengan sesuatu yang tidak diperbolehkan dan menghalangi
haknya untuk beristirahat.
Abu Hamid Al-Ghazali mengisahkan di dalam kitabnya,̂ /-7>^<2’ bahwa
sebagian syaikh pada awal mulanya merasa malas mendirikan shalat. Maka
3 4 8 Perangkap Setan
dia mewajibkan kepada dirinya untuk berjaga sepanjang malam, agar dirinya
terbiasa dengannya. Dia juga berkata, “Sebagian di antara mereka ada yang
suka kepada harta. Maka sebagai hukumannya dia menjual seluruh harta yang
dimilikinya lalu melemparkannya ke lautan. Karena jika dia memberikannya
kepada orang lain, dia khawatir akan mengangkat kedudukan dirinya dan dia
menjadi riya’ karena telah bershadaqah.”
Dia juga berkata, “Sebagian yang lain ada yang memberikan upah
kepada orang yang justru suka mencacinya, agar dia terladh bersikap murah
had. Ada pula yang naik perahu pada musim hujan, saat ombak besar
berdeburan, untuk meladh diri agar menjadi seorang pemberani.”
Yang paling mengherankan dari semua ini dalam pandangan kami
adalah Abu Hamid Al-Gha:^ali sendiri. Bagaimana mungkin dia menuturkan
kembali kisah-kisah semacam ini dan ddak mengingkarinya? Jelas dia tidak
mengingkarinya, karena memang yang demikian itulah yang ingin dia ajarkan.
Sebelum menuturkan kisah-kisah itu dia berkata, “Seorang syaikh harus
melihat keadaan para murid ham. Jika dia melihat murid itu membawa harta
yang melebihi keperluan pokoknya, maka dia harus mengambilnya dan
menafkahkannya dalam kebaikan, mengosongkan hadnya dari harta, agar
pandangannya tidak tertuju kepada harta. Jika syaikh itu melihat murid
barunya mempunyai sifat takabur, maka dia harus men^oiruhnya pergi ke
pasar untuk bekerja, menjadi buruh di sana atau meminta-minta. Jika dia
melihat muridnya malas, maka dia harus menyuruhnya menguras air,
membersihkan kamar mandi, saluran air yang kotor, membantu di dapur
dan membersihkan tempat-tempat yang terkena asap. Jika dia melihat
muridnya makan banyak, maka dia harus menyuruhnya berpuasa. Jika dia
melihat muridnya yang bujang ddak mampu menguasai syahwatnya, padahal
dia sudah menyuruhnya berpuasa, maka murid itu harus berbuka hanya
dengan air dan tidak boleh makan apa pun meski pada malam hari. Baru
pada malam haiinya murid itu boleh makan rod, ddak boleh minum air dan
ddak boleh makan daging sama sekali.”
Kami benar-benar heran, bagaimana mungkin Abu Hamid Al-Ghazali
memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat? Bagaimana
mungkin dia melarang makan daging, padahal kekurangan gizi bisa membuat
orang jatuh sakit? Bagaimana mungkin dia memperbolehkan membuang harta
ke laut, padahal Rasulullah melarang membuang-buang harta? Bolehkah
3 4 9Bab X: Talbis Mis Terhadap Orang-orang Sufi
mencaci orang Muslim tanpa sebab? Bolehkah orang Muslim mengupah
orang lain karena hal ini? Bagaimana mungkin dia memperbolehkan naik
perahu pada saat ombak besar berdeburan, padahal kewajiban haji pun bisa
gugur karena keadaan seperti itu? Bagaimana mungldn dia menyuruh orang
lain meminta-minta, padahal dia sanggup bekerja? Alangkah murahnya harga
fiqih yang dijual Abu Hamid Al-Ghazali dengan tasawuf ?
Kontroversi Orang^orang Sufi dalam Masalah Pendidikan dan
Pengajaran
Dari Al-Hasan bin Ali Ad-Damaghani, dia berkata, “Ada seseorang
dari penduduk Bistham yang tak pernah absen menghadiri majlis Abu Yazid
Al-Bisthami. Pada suatu hari orang itu berkata kepada Abu Yazid, ‘Wahai
ustadz, sejak tiga tahun yang lalu aku tidak pernah lowong berpuasa dan
pada malam harinya shalat malam. Kutinggalkan dorongan syahwat dan
akhirnya syahwat itu tidak menyisa sedikit pun di dalam hatiku.”
Abu Yazid berkata, “Andaikan engkau berpuasa tiga ratus tahun dan
shalat malam selama itu pula, tetapi engkau masih melihat seperti apa yang
engkau lihat saat ini, maka secuil pun engkau tidak bisa mendapatkan ilmu
seperti ilmu ini.”
“Mengapa begitu wahai ustadz?” tanya orang itu.
“Karena ada tabir yang menumpi dirimu,” jawab Abu Yazid.
“Apakah ada rahasia untuk menyibak tabir itu?”
Abu Yazid menjawab,
menerimanya.”
Ada, tetapi engkau tidak akan bisa
“Baiklah, aku akan menerima dan mengerjakan apa yang engkau
katakan,” kata orang itu.
Abu Yazid berkata, “Kalau begitu pergilah ke tukang cukur. Cukurlah
rambut dan jenggotmu, lepaskan pakaian yang engkau kenakan itu, bawalah
buntalan, gantungkan keranjang di leher dan penuhi dengan buah pala.
Kemudian kumpulkan sekian banyak anak-anak kecil dan katakan kepada
mereka, "Wahai anak-anak, siapa yang mau menamparku, maka kuberi satu
buah pala’. Kemudian masuklah ke pasar yang di sana engkau disegani orang.”
‘"Wahai Abu Yazid, subhanallah! Apakah engkau benar-benar berkata
seperti itu kepadaku dan menganggap seperti itu layak untuk kukerjakan?”
3 5 0 Perangkap Setan
Abu Yazid berkata, “Perkataanmu, ‘Subhanallah’, sama dengan syirik.”
Orang itu bertanya, “Bagaimana mungkin?”
“Karena engkau telah menganggap dirimu hebat, sehingga engkau
perlu berkata seperti itxi,” jawab Abu Yazid.
‘'Wahai Abu Yazid, aku tidak akan sanggup melakukannya dan aku
tidak mau melakukannya. Tetapi ada baiknya jika engkau menunjukkan cara
lain, agar aku bisa melakukannya.”
“Lakukan itu terlebih dahulu. Engkau perlu meruntuhkan kehormatan
dan menghinakan diri sendiri. Setelah itu akan kutunjukkan apa yang terbaik
bagimu.”
“Aku tidak sanggup melaksanakannya,” kata orang itu.
Abu Yazid berkata, “Seperti yang kukatakan, memang engkau tidak
akan bisa menerimanya.”
Apa yang dikatakan Abu Yazid Al-Bisthami ini sama sekali tidak ada
dalam sj^ariat kita. Bahkan syariat mengharamkannya, sebagaimana yang
dikatakan Nabi “Tidak selayaknya bagi orang Mukmin untuk menghinakan
diri sendiri.” (HR.At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Suatu kali Hudzaifah ketinggalan datang ke Jum’at, karena dia melihat
orang-orang sudah pulang dari masjid. Maka dia segera bersembunyi agar
mereka tidak melihat kekurangannya dalam masalah shalat. Lalu apakah syariat
menuntut seseorang untuk mengabaikan pengaruh dirinya? Sebaliknya, syariat
Islam menghendaki untuk mempertahankan kehormatan diri asalkan bukan
dengan niat membanggakan diri. Jika orang bodoh itu menyuruh anak-anak
kecil menempelengi dirinya, tentu itu merupakan sikap yang amat buruk.
Kami berUndung kepada Allah dari penalaran yang kurang waras ini, yang
menuntut seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat.
Al-Ghazali juga menuturkan di dalam Al-lhya dari Yahya bin Mu’adz,
dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abu Yazid, Apakah engkau pernah
memohon ma’rifat kepada Allah?’ Dia menjawab, Allah terlalu mulia untuk
mengajarkan ma’rifat kepada yang lain’.”
Ini suatu pernyataan yang bodoh. Jika yang dia isyaratkan adalah
ma’rifat Allah secara keseluruhan, bahwa Allah itu ada dan disifati dengan
5 8
Sanadnya dha’if, dari jalan Hud:aifah. Tetapi ada jalan lain yang diriwayatkan AthThabrani dan Al-
Bazzar dari Ibnu Umar. Syaikh Al-Albani melihat sanad hadits ini shahih.
3 5 1Bah X: Talbis Iblis TerJiadap Orang-orang Sufi
beberapa sifat, maka tentunya setiap orang Muslim mengetahui hal ini. Jik.i
dia membayangkan bahwa ma’rifat yang dia maksudkan itu adalah hakikat
Dzat Allah dan ciri-ciri-Nya, berarti dia tidak tahu siapa Allah.
Abu Hamid AJ-Ghazali juga mengisahkan, bahwa Abu Turab An-
Nakhsyabi berkata kepada seorangmuridnya, “Andaikata engkau bisa melihat
Abu Yazid sekali saja, tentu akan lebih bermanfaat bagimu daripada engkau
melihat sebanyak empat puluh kali.”
Tidak ada perkataan yang lebih gila daripada perkataan Abu Turab im.
Yang lebih aneh, yang seperti ini justru disebutkan Al-Ghazali di dalam
kitabnya.
Mahasuci Allah yang telah mengeluarkan Abu Hamid Al-Ghazali daii
area fiqih, dengan menyusun kitab Andaikan saja dia tidak perna i
mengisahkan berbagai kejadian yang sama sekali tidak diperbolehkan. Yang
aneh, dengan senang had dia menuturkan kisah-kisah itu dan menganggapn\ a
sebagai perbuatan yang baik serta menyebut para pelakunya sebagai orang-
orang yang menguasai keadaan. Lalu apakah keadaan yang lebih buruk
daripada keadaan orang yang menyalahi syariat dan melihat kemaslahatan
ada pada tindakan yang melarang untuk mengikuti syariat? Bagaimana
mungkin untuk menata had harus dengan cara melakukan kedurhakaan?
Ataukah memang di dalam syariat itu tidak ada sesuatu yang mampu
memperbaiki had, sehingga harus menggunakan cara-cara yang tidak
diperbolehkan syariat? Ini sama saja dengan perbuatan orang-orang bodoa
dari kalangan para penguasa yang memotong apa yang ddak boleh dipotong,
membunuh apa yang ddak boleh dibunuh, lalu mereka menyebutkannva
sebagai perdmbangan polidk, dengan suatu jaminan bahwa syariat ddak
merambah masalah polidk?
Siapakah sebenarnya orang-orang yang dikatakan sebagai orang-orang
yang menguasai keadaan itu, sehingga mereka bisa berbuat semaunya? Demi
Allah, sama sekali ddak ada. Kita mempunyai syariat, yang andaikan orang
semacam Abu Bakar hendak berbuat berdasarkan jalan pikirannya, tentu ia
ddak akan diterima. Maka sungguh sangat mengherankan jika orang yang
sudah diberi kemahiran dalam fiqih ini tiba-dba menggeluti tasawuf. Kami
jauh lebih heran terhadap dirinya daripada keheranan kami terhadap orang
yang dia kisahkan.
3 5 2 Perangkap Setan
Kebiasaan Orang-orang Sufi yang Menghinakan Diri
Dari Muhammad bin Ahmad An-Najjar, dia berkata, ‘Ali bin Babawaih
adalah salah seorang sufi. Suatu hari dia membeli sepotong daging lalu hendak
membawanya pulang ke rumah, namun rupanya dia merasa malu terhadap
orang-orang yang ada di pasar. Maka dia menggantungkan potongan daging
itu di lehernya lalu membawanya pulang ke rumah.”
Kami benar-benar tak habis pikir terhadap orang-orang yang hendak
menghapus pengaruh dan tabiatnya, sesuam yang ddak mungkin dan juga
tidak diinginkan syariat. Manusia telah diberi tabiat, bahwa dia akan merasa
senang jika dirinya tampil dengan pakaian yang baik dan malu jika telanjang.
Sementara syariat pun tidak melarang seseorang tampil dengan pakaian yang
baik. Apa yang dilakukan Ali bin Babawaih yang menghinakan dirinya adalah
tindakan yang kurang terpuji, karena itu merupakan tindakan yang rendah
dan bukan merupakan mujahadah, seperti orang yang membawa sandalnya
di atas kepala. Sesungguhnya Allah telah memuliakan Bani Adam dan telah
menciptakan orang lain yang siap membantunya. Bukan termasuk ajaran
agama jika seseorang menghinakan dirinya di hadapan orang lain.
Orang-orang sufi menyebut tindakan semacam itu dengan istilah
mulamatiyah. Mereka melakukan suatu dosa, dengan berkata, “Kami
bermaksud menghinakan diri di mata manusia, agar kami bisa selamat dari
riya’ dan takabur.”
Mereka itu bisa diibaratkan orang yang menzinahi seorang wanita dan
membuatnya hamil. Ketika ada yang bertanya kepadanya, “Mengapa tidak
menggugurkan kandungan wanita itu?” Dia menjawab, “Aku mendengar
bahwa pengguguran kandungan itu haram.” Bisa dikatakan kepadanya, “Apa
komentarmu jika dikatakan bahwa zina itu haram?”
Orang-orang yang bodoh itu telah menghinakan dirinya di sisi Allah.
Mereka lupa bahwa orang-orang Muslim itu merupakan saksi AUah di muka
b u m i .
Dar i Abu Amr bin Ulwan, d ia berkata, “Abul-Husain An-Nur i
membawa dga rams dinar, hasil dari penjualan harta bendanya. Lalu dia duduk
di atas jembatan sambil melemparkan keping-keping uangnya sam demi sam.
Setiap kali melemparkan uangnya ke sungai, dia berkata, “Kamu datang
kepadaku unmk menipuku.”
3 5 3Btjb X: Talbis Jblis TeHiadap Orang-orang Sufi
Lalu orang-orang yang melihat tindakannya berkata, “Andaikan saja
dia menafkahkannya fi sabilillah, tentu akan lebih baik bagi dirinya.”
Kalaupun memang uang dinarnya itu menyibukkannya sehingga dia
lalai dalam beribadah kepada Allah, seharusnya dia melemparkan semuanya
sekaligus ke dalam sungai, agar dia cepat terlepas dari sesuatu yang dianggap
mengganggunya. Dengan begitu jelas bahwa mereka benar-benar ddak
mengetahui syariat dan tidak menggunakan akalnya. Seperti yang sudah kami
jelaskan di atas, syariat memerintahkan agar kita menjaga harta dan tidak
menyerahkannya kecuaH kepada orang yang berakal. Sebab harta itu telah
dijadikan sebagai penopang bagi kehidupan Bani Adam. Akal pun akan
menalar bahwa harta itu diciptakan untuk berbagai kemaslahatan. Jika harta
itu dibuang begitu saja, berarti dia telah merusak sebab kemaslahatannya
dan tidak mengetahui hikmah Dzat yang telah menciptakannya. Alasan yang
dipergunakan Abul-Husain juga lebih buruk dari tindakannya. Kalaupun dia
merasa takut terhadap dampak harta, toh dia bisa menyerahkannya kepada
fakir miskin yang sangat membutuhkannya.
Kontroversi Orang-orang Sufi dalam Bersikap
Di antara gambaran kebodohan mereka adalah kelancangan dalam
menafsiri Al-Qur’an berdasarkan pendapat mereka yang rusak
Abu Nashr As-Sarraj berkata di dalam kitabnya,̂ /-L«;55?i2’, ‘Abuja’far
Ad-Darraj berkata, ‘Suatu hari ustadzku keluar rumah untuk bersuci. Lalu
aku mengambil sebuah bejana miliknya. Setelah memeriksa isinya, aku
mendapatkan kepingan perak seharga empat dirham. Saat itu malam hari
dan kami belum makan apa-apa. Setelah dia kembali, aku berkata kepadanya,
“Di dalam bejanamu ada sekian dirham, sementara kami sudah kelaparan.”
“Engkau mengambiinya? Kembalikan lagi!” Katanya. Lalu dia berkata
lagi kepadaku, “Kalau begitu ambil saja uang itu dan belikan sesuatu!”
Aku bertanya, “Demi hak Dzat yang engkau sembah, mengapa engkau
menyimpan uang itu?”
Dia menjawab, “Allah sama sekali tidak melimpahkan keduniaan
kepadaku selain itu. Maka aku ingin berwasiat agar uang itu dikubur
bersamaku. Pada Hari Kiamat kelak uang itu akan kukembalikan kepada Allah,
seraya kukatakan, ‘Inilah keduniaan yang telah Engkau berikan kepadaku’.”
3 5 4 Perangkap Setan
Dari Abu Abdullah Al-Hushri, dia berkata, “Selama dua puluh tahun
Abu Ja’far Al-Haddad giat bekerja mengumpulkan dinar, yang kemudian dia
salurkan kepada orang fakir miskin. Dia juga selalu berpuasa. Biasanya selepas
maghrib dia keluar justxu meminta-minta makanan untuk buka puasanya.
Andaikata orang ini tahu bahwa meminta-minta itu tidak diperbolehkan
bagi orang yang sanggup bekerja dan berusaha, tentu dia tidak akan
melakukannya. Kalau pun itu diperbolehkan, lalu mengapa dia tidak menjaga
kehormatan d i r i?
Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Rasulullah ^bersabda,
JlLljl Jlj: ̂
' " o '
s ' j j )
s«
“Meminta-minta itu senantiasa dilakukan salah seorang di antara kalian
sehingga dia bersua Allah ife, dan pada mukanya tidak ada sekerat da^ng
pun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Az-Zubair bin Al-Awwam, dia berkata, “Rasulullah ^bersabda,
0 ✓ / ^ V *
, >9 >! e ^ f 9 ^ 0 f
(j^lj o'jj) J * * j h s - '
“Seseorang mengamhil seutas tali lalu mencari kayu bakar, kemudian dia
kembali dan meleta/dcan kayu bakar itu di pasar untuk dijual, l<emudian dia
mendapatkan harca dengannya lalu mermfkahkannya untuk dirinya, lebih
baik ba^nya daripada dia meminta-minta kepada manusia, entah mereka
memberinya atau tidak memberinya.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)
Dalam haclits Abdullah bin Amr, dari Nabi 0, beliau bersabda,
^ J
jllJ 01 >
> !
o y
25-l.ya \\
“Shadaqah itu tidak boleh diberikan kepada orang kaya dan kepada orang
yang bisa bekerja dan kuat badannya. ”(HR. At-Tirmidzi, Abu Daud, Ad-
Darimi, Al-Hakim dan Ath-Thayalisi)
3 5 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Asy-Syafi’i berkata, “Shadaqah tidak boleh diberikan kepada orang yang
badannya kuat dan sanggup bekerja.”
Dari Abul-Hasan bin Abu Bakar Asy-Syibli, dia berkata, “Suatu malam
ayahku berdiri dengan membiarkan salah satu kakinya terjulur keluar dan
satunya lagi di dalam rumah. Dia berkata, ‘Jika matamu terpejam, maka aku
akan mencongkelmu’. Dia berbuat seperti itu hingga pagi hari. Pada keesokan
hari dia berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, semalam aku tidak mendengar
ada seseorang yang berdzikir kepada Allah selain dari seekor ayam jantan
yang harganya seperenam dirham’.”
Orang ini telah menghimpun dua tindakan yang tidak diperbolehkan,
ya i tu :
Dia telah melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri. Bahkan
andaikata dia tertidur dan benar-benar melakukan ancamannya, berarti
dia telah melakukan kedurhakaan yang amat besar.
Dia tidak memberikan hak kepada mata untuk tidur. Padalah Nabi 0
telah menjelaskan bahwa mata itu mempunyai hak atas diri kita. Beliau
juga bersabda,
1 .
2 .
O y '
0ar'. , 0 y' ^ ^ y
( j * J — o ' j j )
“Jika salah seorang di antara kalian mengantuk, maka hendaklah dia tidur. ”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Nabi ̂ melihat ada tali yang diikatkan Zainab pada bang masjid,
dengan maksud, jika dia merasa letih saat beribadah, maka dia bergayut
pada tali itu, lalu beliau memerintahkan untuk melepas tali itu seraya
bersabda,
^y y yy^y / ^
“Hendaklah salah seorang di antara kalian shalat menurut kesanggupannya.
Jika malas atau lemah, maka hendaklah dia duduk.” (HR. Al-Bukhari)
Asy-Syibli pernah berkata dalam majlisnya, “Allah mempunyai
hamba-hamba. Andaikan mereka meludah ke neraka Jahanam, tentu ia akan
padam.”
Perkataannya ini tak jauh berbeda dengan perkataan-perkataan Abu
Yazid, semuanya berasal dari satu sumber
3 5 6 Perangkap Setan
Dari Abu Ali Ad-Daqqaq, dia berkata, “Aku mendengar bahwa Asy-
Syibli pernah bercelak dengan menggunakan garam, agar dia lebih banyak
terjaga pada malam hari dan sama sekali tidak tddur.”
Ini merupakan perbuatan yang buruk dan tidak layak dilakukan orang
Muslim terhadap dirinya sendiri, karena garam itu bisa mengakibatkan
kebutaan. Terus-menerus berjaga pada malam hari pun tidak diperbolehkan,
karena tindabin ini tidak mencerminkan pemenuhan hak terhadap diri sendiri,
begitu pula jika makan hanya sedikit.
Abu Hamid Al-Ghazali menuturkan bahwa Asy-Syibli mempunyai lima
puluh dinar, lalu dia melemparkan semuanya ke sungai Tigris, seraya berkata,
“Siapa pun yang memujamu, maka Allah akan menghinakan dirinya.”
Kami jauh lebih heran kepada AJ-Ghazali daripada keheranan kepada
Asy-Syibli, karena dia menuturkannya disertai pujian dan bukan sebagai
pengingkaran. Lalu manakah pengaruh ilmu fiqih yang dimilikinya?
Kebodohan Orang-orang Sufi terhadap Hukum Fiqih
Dari Husain bin Abdullah Al-Qazwaini, dia berkata, “Aku diberi tahu
seseorang yang biasa hadir di majHs Banan. Dia berkata, ‘Suatu hari aku tidak
mempunyai makanan secuil pun yang bisa kumakan. Secara kebetulan aku
melihat sekerat emas yang tergeletak di jalan. Aku bermaksud mengambUnya
karena itu termasuk barang temuan. Tetapi aku mengurungkan niat ini. Lalu
aku teringat sebuah hadits, Andaikan dunia ini yang menyembur, maka
makanan orang Muslim yang berasal dari darah itu adalah halal’.̂ '-' Maka aku
pun mengambil potongan emas itu dan meletakkannya di mulut. Tak seberapa
jauh berjalan, aku berpapasan dengan anak-anak kecil yang sedang
berkerumun. Salah seorang di antara mereka bertanya kepadaku, ‘Kapankah
seorang hamba mendapatkan hakikat jujur?’ Aku menjawab, ‘Jika dia
membuang apa yang tersimpan di rongga mulutnya’. Maka aku segera
mengambil potongan emas itu dan membuangnya jauh-jauh.”
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha bahwa
membuang barang temuan adalah tidak diperbolehkan. Yang aneh, dia
membuang barang temuan itu hanya karena ucapan anak kecil yang tidak
begitu tahu apa yang diucapkannya.
Ini hiidits maudhii’, sebagaimana yang disebutkan dalam bukii A/iaditsul-Qis/ias/i. nomor 79.
Perhacikanlah bagaimana mereka biasa melakukan kemimgkaran dengan bcrdalil kepada hadits-hadits
mai idh i i ’ .
3 5 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Abu Hamid Al-Ghazali menuturkan bahwa Syaqiq Al-Balkhi menemui
Abul-Qasim, seorang ahli zuhud, sedang di ujung bajunya ada sesuatu yang
diikatkan. Syaqiq bertanya, “Apa yang engkau bawa itu?”
Abul-Qasim menjawab, “Buah yang diberikan saudaraku.”
Syaqiq berkata, ‘Aku suka jika engkau berbuka dengan buah itu.”
Abul-Qasim menjawab, “Wahai Syaqiq, silakan engkau bicara dengan
dirimu sendiri hingga malam had dan aku tidak mau lagi berbicara
denganmu.” Lalu dia menyuruh Syaqiq keluar rumah dan langsung menutup
pintu di depan hidungnya. Setelah itu dia masuk rumah.
Perhatikanlah sikap Abul-Qasim yang kasar, yang mengusir seorang
Muslim karena sebuah perkataan yang sebenarnya juga tidak dilarang. Apa
salah Syaqiq yang menganjurkannya berbuka dengan buah itu? RasuluUah ̂
pernah menyimpan bahan makanan untuk keperluan istri-istrinya selama satu
tahun. Kebodohan tentang suatu ilmu telah merusak jalan pikiran orang-
orang zuhud dan sufi.
Dari Ahmad bin Ishaq Al-Umani, dia berkata, “Di India aku melihat
seorang syaikh yang terkenal dengan panggilan Shabir (orang yang sabar).
Dia tidak pernah membuka sebelah matanya selama delapan puluh tahun.
Aku bertanya kepadanya, “Wahai Shabir, bagaimana ceritanya hingga engkau
bisa sesabar itu?”
Dia menjawab, “Dulu aku pernah berhasrat untuk memandang
perhiasan dunia, namun aku tidak memenuhi hasrat ini. Sebagai hukumannya,
aku pun memejamkan sebelah mata selama delapan puluh tahun dan tidak
pernah membukanya.”
Kami berlindung kepada Allah dari akal yang kurang waras seperti
orang ini. Apakah dengan sebelah matanya yang satu lagi dia tidak bisa melihat
perhiasan dunia?
Yusuf bin Ayyub Al-Hamdani mengisahkan tentang syaikhnya.
Abdullah Al-Jauni, bahwa dia pernah berkata, “Ketenaran ini tidak muncuJ
dari mihrab, tetapi dari WC.” Dia pun menuturkan kejadian yang dia alami
sehingga dia mendapatkan ketenaran itu, “Dulu aku mengabdikan diri untuk
membersihkan kamar mandi dan WC. Suatu hari tatkala aku sedang
membersihkan WC, had kecilku berkata, ‘Mengapa kau buang waktumu untuk
pekerjaan yang hina ini?’ Aku menjawab, Apakah engkau merasa hina karena
3 5 8 Perangkap Setan
berbuat untuk kepentingan hamba-hamba Allah?’ Karena itu aku
menceburkan diri ke dalam sumur dan melumuri mulutku dengan kotoran.
Orang-orang datang mengeluarkan diriku dan membersihkan kotoran yang
ber lumuran d i mu lu t ku . ”
Perhatikanlah orang yang perlu dikasihani ini, bagaimana dia percaya
bahwa ketenaran itu diperoleh dengan melumurkan kotoran ke mulutnya.
Dia menganggap perbuatan itu sebagai keutamaan, yang karenanya dia
mendapatkan banyak teman. Ini merupakan kedurhakaan yang layak
mendapat hukuman. Secara umum, apa yang dilakukan orang-orang sufi itu
karena tidak dilandasi ilmu, sehingga perbuatan mereka pun ddak terkontrol.
Sebagian orang-orang sufi itu melakukan perbuatan dosa, lalu beralasan,
“Maksud kami adalah untuk menghinakan diri di mata manusia, sehingga
kami selamat dari riya’ dan takabur.” Padahal pada hakikamya mereka telah
merendahkan diri di sisi Allah dengan menyalahi syariat. Perbuatan ini amat
buruk. Sementara Rasulullah ̂ pernah bersabda kepada Ma’iz, “Mengapa
engkau ddak menutup auratmu dengan kainmu?”
Sebagian sahabat pernah menghindari Rasulullah Syang sedang
berbicara dengan Shafiyah, istri beliau pada malam hari. Maka beliau
memberitahukan kepada mereka, “Ini adalah Shafiyah.”
Manusia harus memperhadkan sesuatu yang bisa menimbulkan buruk
sangka, karena orang-orang Mukmin itu merupakan saksi Allah di muka bumi.
Maka kedka Hudzaifah kednggalan pergi ke shalat Jum’at, maka dia pun
bersembun}̂ , agar orang-orang tidak berburuk sangka kepadanya. Ada
seseorang berkata kepada salah seorang sahabat, “Se.sungguhnya aku telah
melakukan dosa ini dan itu.” Maka sahabat itu menjawab, ‘Allah menutupi
aibmu selagi engkau sendiri menutupinya.” tetapi orang-orang sufi itu justru
melakukan sesuatu yang menyalahi syariat.
Sementara itu ada beberapa golongan anarkis yang ikut bergabung
bersama orang-orang sufi, lalu melakukan hal-hal yang serupa, yaitu:
Orang-orang kafir. Di antara mereka ada yang ddak mengakui eksistensi
Allah, sebagian lain ada yang mengakui eksistensi Allah namun ddak
mengakui nubuwah dan melihat apa yang dibawa para nabi dan rasul
adalah hal-hal yang mustahil. Kedka orang-orang kafir ini hendak
memuaskan diri dengan syahwat, maka mereka ddak mendapatkan
jaminan yang dapat melindungi nyawa mereka. Untuk memperoleh
1 .
3 5 9Bab X: Talbis Iblis Terlmdap Orang-orang Sufi
tujuan ini, mereka hanya melihat pada golongan orang-orang sufi.
Karena itu secara zhahir mereka masuk ke dalam golongan sufi, tetapi
di dalam batinnya tetap bersemayam kekufuran. Padahal mereka layak
mendapat hunjaman pedang dan laknat Allah.
Orang-orang yang menyatakan Islam dan hanya mengikuti perbuatan
para syaikh tanpa mempertanyakan dalilnya. Apa pun yang
diperintahkan kepada mereka past! dilaksanakan.
Orang-orang yang lebih suka melihat syubhat dan melaksanakannya.
Asai mula syubhat mereka ini tatkala mereka melihat berbagai madzhab
yang berkembang di kalangan manusia, maka Iblis segera memperdayai
mereka. Iblis memperlihatkan kepada mereka bahwa syubhat itu
bertentangan dengan hujjah, membedakan mana yang benar cukup
sulit dan tujuan terlalu agung untuk diperoleh dengan ilmu.
Keberuntungan itu laksana rezeki yang bisa datang sendiri kepada
seseorang, tanpa harus dicari. Lalu Iblis menutup pintu keselamatan
lewat pencarian ilmu, sehingga mereka sangat membenci istilah ilmu,
sebagaimana orang-orang Rafidhah yang sangat membenci nama Abu
Bakar dan Umar. Mereka berkata, “ilmu itu adalah tutupan, dan orang-
orang yang berilmu tidak dapat meraih tujuan dengan ilmunya.”
Jika ada orang berilmu yang mengingkari perbuatan mereka, maka
mereka berkata kepada para pengikutnya, “Sebenarnya dalam batin kami
mempunyai visi yang sama. Tetapi bagi orang awam, dia telah menampakkan
sesuatu yang berbeda dengan kami.”
Jika perdebatan semakin sengit antara orang berilmu dari mereka, maka
mereka berkata, “Rupanya dia orang bodoh yang mau dibelenggu syariat.”
Andaikan mereka sadar, bahwa apa yang mereka lakukan sekalipun
berdasarkan syubhat itu juga bisa disebut ilmu, tentu mereka tidak akan
mengingkari ilmu yang sebenarnya.
Inilah di antara syubhat mereka:
Syubhatpertama: Tentang masalah qadha’ dan qadar
Mereka berkata, “Karena segala urusan telah ditakdirkan sejak semula,
ada sebagian orang yang ditakdirkan menjadi orang-orang yang berbahagia
dan sebagian lain menderita, orang yang berbahagia tidak akan menderita
dan yang menderita tidak berbahagia, semua amal tidak bisa dikehendaki
2 .
3 .
3 6 0 Perangkap Setan
dengan sendirinya, kebahagiaan tidak bisa dicari dan penderitaan tidak dapat
ditolak, karena amal-amal itu sudah ada ketetapan sebelumnya, berarti tidak
ada gunanya kita membebani diri dengan pekerjaan dan kesenangan pun
tidak perlu ditolak. Karena apa yang sudah ditetapkan dalam takdir pasd
akan terjadi.”
Jawaban dari syubhat dapat dikatakan sebagai berikut: Semua Ini
bertentangan dengan semua ketetapan syariat, menyalahi semua hukum kitab
suci dan melecehkan apa yang dibawa para nabi. Sebab jika dikatakan di
dalam Al-Qur’an, “Dirikanlah shalat maka bisa saja ada yang berkata,
“Mengapa begitu? Kalau memang aku sudah ditetapkan sebagai orang yang
berbahagia, maka kesudahan hidupku pun adalah kebahagiaan. Kalau
memang aku ditetapkan sebagai orang yang menderita, maka kesudahan
hidupku pun adalah penderitaan. Lalu buat apa aku harus mendinkan shalat?”
Begitu pula jika dikatakan di dalam Al-Qur’an, ‘T>an janganlah kalian
dekati ̂ inal' Maka bisa saja ada yang berkata, “Mengapa aku meiarang diriku
dari kenikmatannya? Kalau memang sudah ada ketetapan kebahagiaan dan
penderitaan, mengapa harus ada perubahan karena zina?”
Fir’aun pun bisa beralasan seperti itu, ketika dikatakan kepadanya,
“Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)?”
Lama-kelamaan alasan ini bisa diajukan kepada Allah, seraya berkata,
“Apa manfaat Engkau mengutus para rasul, kalau memang Engkau sudah
menetapkan takdir?” Apa pun yang mengindikasikan kepada penyanggahan
isi Kitab dan penentangan para rasul adalah batii dan mustahil. Karena itu
RasuluUah menyanggah perkataan para sahabat, “Mengapa kita tidak
pasrah kepada Allah saja?” Beliau menjawab, “Berbuatlah kalian, karena segala
sesuatu akan dimudahkan dengan sesuatu yang telah diciptakan baginya.”
Ketahuilah bahwa Bani Adam itu mempunyai hak untuk berbuat
berdasarkan pdihannya, yang sekaligus menjadi dasar pahala ataukah siksanya.
Jika seseorang ingkar, maka kita baru tahu bahwa memang Allah
menakdirkannya sebagai orang yang ingkar. Tetapi Allah menghukumnya
berdasarkan keingkarannya dan bukan berdasarkan takdir-Nya. Karena itu
orang yang membunuh dijatuhi hukuman mati dan ddak ada alasan bahwa
itu merupakan takdir.
Rasul menyanggah pengalihan takdir kepada perbuatan, karena
perintah dan larangan merupakan sesuatu yang zhahir. Sementara apa yang
3 6 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
ditakdirkan merupakan masalah batin. Tidak selayaknya bagi kita
mengabaikan pembebanan yang sudah kita ketahui, lalu dialihkan kepada
sesuatu yang tidak kita ketahui.
Sabda beliau, “Segala sesuatu akan dimudahkan dengan sesuatu yang
telah diciptakan baginya”, merupakan isyarat tentang sebab di balik takdir,
Siapa yang ditakdirkan mempunyai ilmu, maka dimudahkan jalan baginya
untuk mencari ilmu, mencintai ilmu dan memahaminya. Adapun orang yang
ditakdirkan bodoh, kecintaan kepada ilmu disingkirkan dari hatinya. Begitu
pula orang yang ditakdirkan mempunyai anak, maka akan dimudahkan jalan
baginya untuk menikah, begitu pula sebaliknya.
Sjubhat kedua: Kebodohan mereka tentang Allah
Mereka berkata, “Allah tidak membutuhkan amal-amal kita dan tidak
terpengaruh oleh amal-amal kita, entah kedurhakaan atau pun ketaatan.
Karena itu kita tidak perlu membebani diri dengan sesuatu yang tidak
b e r m a n f a a t . ”
Jawaban dari syubhat ini dapat dikatakan sebagai berikut: Ini
merupakan sanggahan terhadap syariat yang diperintahkan. Seakan-akan kita
berkata kepada rasul dari apa yang dibawanya, “Apa yang engkau perintahkan
kepada kami tidak ada manfaatnya.”
Tentang syubhat itu sendiri dapat kami jawab sebagai berikut: Siapa
yang beranggapan bahwa Allah iSfe mengambil manfaat dari suatu ketaatan
atau mendapat mudharat karena suatu kedurhakaan, atau Dia mengambil
tujuan tertentu, berarti orang tersebut belum mengetahui Allah. Sebab Allah
Mahasuci dari pengingkaran, manfaat atau mudharat. Manfaat amal akan
kembali kepada diri kita, sebagaimana firman-Nya,
“Dan, barangsiapa yang herjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah
untuk dirinya sendiri." (Al-Ankabut: 6)
{1A;>u}
“Dan, barangsiapa yangmensueikan dirinya, sesungguhnya dia mensueikan
diri untuk kebedkan dirinya sendiri.” (Fathir: 18)
Seorang dokter menyuruh pasiennya menjaga diri demi kemaslahatan
pasien, bukan untuk kemaslahatan dokter. Sebagaimana badan yang
3 6 2 Perangkap Setan
terpengaruh oleh makanan yang bergizi dan makanan yang berbahaya, begitu
pula jiwa yang terpengaruh oleh ilmu dan kebodohan, keyakinan dan amal.
Pembuat syariat bisa diibaratkan dokter, yang lebih tahu kemaslahatan bagi
diri pasiennya.
Syubhat ketiga: Tentang keluasan rahmat Allah
Mereka berkata, “Sudah ada kepastian tentang keluasan rahmat Allah.
Rahmat itu past! merambah diri kita. Maka dari itu tidak ada gunanya
menghalangi diri kita untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.”
Jawaban dari sjoibhat ini sama dengan jawaban yang pertama, karena
pernyataan ini mengandung pengingkaran ancaman yang disampaikan para
rasul dan mengabaikan peringatan. Talbis ini dapat disingkap, karena di
samping Allah mensifati Diri-Nya yang Pengasih dan Penyayang, juga pedih
siksa-Nya. Kita tahu para nabi dan wali diuji dengan penyakit dan lapar.
Mereka tetap merasa takut andaikan tidak selamat. Ibrahim dan Musa
berkata pada Hari Kiamat, “Bagaimana diriku, bagaimana diriku?” Umar bin
Al-Khathab juga berkata tentang nasib dirinya, “Celakalah Umar jika dosanya
tidak diampuni.”
Orang yang mengharapkan rahmat tentu akan melakukan sebab-sebab
yang bisa mendatangkan rahmat itu, di antaranya adalah taubat dari kesalahan,
sebagaimana orang yang berharap memanen tentu akan menanam. Allah
befirman,
“Sesungguhnya orang'orang yang heriman, orang-orang yang berhijrah dan
herjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 218)
Dengan kata lain, mereka ini layak mengharapkan rahmat Allah. Tetapi
orang yang terus-menerus melakukan dosa, maka harapannya tidak akan
diterima. Ma’ruf Al-Karkhi berkata, “Engkau mengharapkan belas kasihan
kepada orang yang tidak engkau taati adalah tindakan yang bodoh.”
Syubhat keempat. Kebodohan terhadap maksud yariat
Sebagian orang sufi menganggap bahwa maksud dari syariat adalah
melatih jiwa, agar bersih dari noda-nodanya. Ketika mereka tidak sanggup
melakukannya dan jiwanya tidak bisa bersih, maka mereka berkata, “Kami
tidak sanggup membebankan kepada jiwa kami sesuatu yang di luar
kesanggupan kami.” Akhirnya mereka tidak mau beramal.
3 6 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Mereka mengira bahwa maksud dari syariat adalah membelenggu sifat-
sifat kemanusiaan yang ada di dalam batin, seperti membelenggu dorongan
syahwat, amarah dan lain-lainnya. Padahal bukan ini yang dimaksudkan syariat.
Sangat sulit digambarkan bagaimana mengenyahkan apa yang ada dalam tabiat
manusia dengan latihan. Teriebih lagi syahwat diciptakan untuk suatu manfaat.
Andaikata tidak ada nafsu makan, manusia tentu akan binasa. Andaikata tidak
ada nafsu birahi, keturunan tentu akan terputus. Andaikata tidak ada
amarah, manusia tentu tidak mau membela dirinya dari sesuatu yang
menyakitinya. Begitu pula kecintaan kepada harta yang juga ada di dalam
tabiat manusia. Yang dimaksudkan dengan ladhan di sini adalah menahan
jiwa dari sesuatu yang bisa merusak semua itu dan meletakkannya pada
proporsinya. Allah telah memuji orang-orang yang menahan jiwanya dan
nafsu. Nafsu itu pun akan berhenti sendiri jika sudah dipenuhi, tetapi jika
pencariannya hilang sama sekali dari tabiamya, maka buat apa ada larangan?
Maka Allah befirman agar menahan amarah dan tidak melarangnya
sekali .
r a s a
s a m a
Siapa yang menyatakan bahwa latihan jiwa adalah mengubah tabiat,
berarti dia telah menyatakan sesuatu yang mustahil. Yang dimaksudkan
dengan latihan adalah menghindari nafsu dan amarah yang meledak-ledak,
bukan memadamkannya sama sekali. Orang yang sedang melatih jiwanya
seperti dokter yang pandai saat menghadapi hidangan. Dia akan mengambil
makanan yang cocok untuk kondisinya dan menghindari makanan yang
berbahaya bagi dirinya. Sedangkan orang yang tidak mau melatih jiwanya
seperti anak kecil yang bodoh, maka apa pun yang tampak menarik di
hadapannya dan tidak mau peduli apa akibamya setelah itu.
Syuhhat kelima: Kesesatan mereka karena menganggap telah meraih tujuan
Di antara mereka ada yang berlebih-lebihan dalam melatih jiwa, lalu
mereka melihat sesuatu yang menyerupai karamah atau mimpi yang baik atau
ada perkataan halus yang dibisikkan kepadanya, sebagai hasil dari pemikiran
dan pertapaannya. Dia berkeyakinan telah sampai kepada maksud yang dituj
dengan berkata, “Kami telah sampai ke tujuan, sehingga ddak ada sesuatu
pun yang berbahaya bagi kami. Sama seperti orang yang riba di Ka’bah,
sehingga dia harus menghentikan perjalanannya.” Untuk itu mereka tidak
perlu lagi beramal. Mereka menghiasi penampilan mereka dengan pakaian
u ,
3 6 4 Perangkap Setan
yang ditambal, kain sajadah dan berbicara dengan kata-kata yang biasa
dilontarkan orang-orang sufi.
Ibnu Aqil berkata, ‘Banyak orang yang keluar dari agama Allah dan
menjauh dari syariat, lalu beralih kepada hal-hal yang mereka ciptakan sendiri.
Di antara mereka ada yang menyembah selain Allah dan mengagung-
agungkannya, serta menjadikannya sebagai sarana pendukung dari
pernyataan-pernyataannya. Di antara mereka ada pula yang mengesakan
Allah, tetapi tidak mau beribadah. Celakanya, justru hal-hal seperti ini
diajarkan kepada orang-orang awam yang memang tidak memiiiki
pengetahuan.”
Yang demikian ini termasuk sufi jenis syirik. Abu Ali Ar-Rudzbari
pernah ditanya tentang seseorang yang berkata, “Aku telah sampai ke suatu
derajat yang tidak akan terpengaruh oleh keadaan macam apa pun”, maka
dia menjawab, “Memang dia telah sampai, tetapi sampai ke neraka Saqar.”
Karena ilmu orang-orang sufi tentang syariat sangat minim, akhirnya
muncul berbagai perbuatan dan perkataan yang tidak diperbolehkan, ialu
muncul pula orang-orang yang meniru mereka, sehingga bermunculan kisah-
kisah seperti yang sudah kami tuturkan di atas. Sedikit sekali di antara mereka
yang lurus. Mayoritas mendapat cercaan dan celaan dari para ulama. Syaikh
mereka pun juga tidak lolos dari cercaan ini.
Dari Abdul-Malik bin Ziyad An-Nashibi, dia berkata, “Kami berada
di sisi Malik, lalu aku menceritakan keberadaan orang-orang sufi di daerahku.
Kukatakan, ‘Mereka mengenakan pakaian model Yaman yang bagus, biasa
berbuat begird dan begitu’. Dia berkata, ‘Celaka engkau! Apakah mereka itu
benar-benar orang-orang Muslim?
Abdul-Malik menjelaskan, “Setelah itu Malik tertawa terbahak-bahak
hing

