• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label setan iblis 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setan iblis 6. Tampilkan semua postingan

setan iblis 6

 


itu tampak

khusyu’.

Pendorong ghibah pada diri pemimpin dan guru ialah karena

raenampakkan kasih sayang, seperti ucapan, “Kasihan benar Fulan, dia

mendapat cobaan begini, dia mendapat musibah begitu. Kami berlindung

kepada Allah dari kesia-siaan.” Lalu dia juga menampakkan rasa kasihan

kepada saudaranya, pura-pura berdoa bagi dirinya, seraya berkata, “Aku

menampakkan yang demikian ini agar kalian juga banyak mendoakannya.

Kami berlindung kepada Allah dai ghibah yang sembunyi-sembunyi

atau terang-terangan. Hindarilah ghibah, karena Al-Qur’an sudah menjelaskan

kebenciannya terhadap ghibah,

Ub^ ^ ^ ''' ^

“Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang

sudah rnati? Maka tentulahkarnurnerasajijikkepadanya” (ALHujurat: 12 '

Banyak hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi menjelaskari

ghibah ini.

Di antara fa/bis Iblis terhadap ulama ahli hadits adalah periwayatar.

hadits maudhu’, tanpa menjelaskan bahwa itu adalah hadits maudhu’. Yan^;

demikian ini merupakan dndak kejahatan terhadap syariat. Tujuan mereka

ialah untuk menawarkan haditsnya dan memperbanyak riwayatnya. Rasulullat

^bersabda,

1 6 6 Perangkap Setan

“Barangsiapa meriwayatkan sebuah hadiis dariku seraya memperlihatkan

bahuia hadics itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta. “

(HR. Muslim dan Ahmad).

Gambaran lainnya, mereka membuat tipuan dalam riwayat. Contohnya,

salah seorang di antara mereka berkata, “Fulan dan Fulan”, atau dia berkata,

“Fulan berkata dari Fulan”. Dia membayangkan bahwa Fulan yang pertama

mendengar dari Fulan yang kedua yang sebenarnya riwayatnya terputus dan

juga tidak pernah mendengar darinya. Tentu saja ini merupakan tindakan

yang buruk, karena dia menjadikan riwayat yang terputus seakan bersambung.

Di antara mereka ada yang meriwayatkan dari orang yang dha’if dan

dusta, laiu dia menafikan nama orang yang dha’if itu, atau menamakan dirinya

dengan nama lain atau membuat julukan baginya, atau menasabkannya kepada

kakeknya, agar jati dirinya tidak diketahui secara pasti. Tentu merupakan

tindakan kejahatan terhadap syariat, karena dia mengukuhkan suatu hukum

yang sebenarnya tidak layak dikukuhkan.

Adapun jika orang yang diambil riwayamya termasuk orang yang tsiqat

(dapat dipercaya), lalu yang meriwayatkan darinya menisbatkannya kepada

kakeknya atau cukup menyebut julukannya, agar tidak terlihat bahwa dia

meragukan riwayat darinya, atau karena agar orang yang diambil riwayatnya

tidak termasuk dalam martabat rawi, sehingga orang yang meriwayatkan

darinya merasa malu, maka yang demikian ini hukumnya makruh, tetapi

dengan syarat, orang yang diambil riwayatnya itu adalah tsiqat.

Talbis Iblis terhadap Fuqaha^

Para fuqaha’ pada zaman dahulu adalah ahli Al-Qur’an dan hadits. Lalu

lama-kelamaan status ini semakin menurun, hingga akhirnya muta’akhirin

berkata, “Kami cukup mengetahui ayat-ayat tentang hukum di dalam Al-

Qur’an dan kami cukup mengacu kepada kitab.-kitab yang terkenal dalam

masalah hadits, seperti Sunan Aim Dawud dan lainnya.”

Bahkan status ini semakin merosot, sehingga salah seorang di antara

mereka ada yang berhujjah dengan satu ayat saja, tanpa mengetahui maknanya,

atau cukup mengacu kepada satu hadits yang tidak dikenalnya secara pasti,

apakah hadits itu shahih ataukah tidak.

Atau boleh jadi dia mengacu kepada qiyas yang bertentangan dengan

sebuah hadits shahih, sementara dia tidak mengetahuinya, karena minatnya

1 6 7Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

sangat minim untuk mengetahui riwayat-riwayat hadits. Yang namanya fiqih

itu harus disimpulkan dari Al-Kitab dan As~Sunnah. Lalu bagaimana mungkin

seseorang bisa menyimpulkan dan sesuatu yang tidak diketahuinya?

Yang juga fatal ialah mengaitkan suatu hukum kepada hadits yang tidak

diketahuinya, apakah hadits itu shahih ataukah tidak. Memang untuk

mengetahui apakah suatu hadits itu shahih ataukah tidak, merupakan pe

kerjaan yang berat. Seseorang harus melakukan perjalanan yang jauh dan

harus bersusah payah untuk menelusurinya, hingga dia benar-benar

mengetahuinya secara pasti. Tetapi toh sekarang berbagai buku sudah disusun,

hadits-hadits sudah ditetapkan, sehingga yang shahih sudah bisa dipisahkan

dari yang cacat. Tetapi orang-orang muta’akhirin lebih banyak malasnya untuk

menelaah ilmu hadits. Sehingga kami sering meiihat sebagian fuqaha’ yang

sudah punya nama, hanya mengatakan di dalam buku karangannya tentang

iafazh-Iafazh di dalam hadits-hadits shahih. Tidak selayaknya Rasulullah

bersabda seperd ini.” Kami melihatnya berhujjah seperti itu dalam mengupas

suatu masalah. Dia berkata, “DaHl kami adalah riwayat sebagian orang di

antara mereka, bahwa Rasulullah 0bersabda begitu.” Celakanya, orang lain

yang berperkara dengannya juga memberikan jawaban tentang suatu hadits

shahih yang dijadikannya hujjah, dengan berkata, “Hadits ini tidak dikenal.”

Semua ini merupakan tindak kejahatan terhadap Islam.

Talbis Iblis lainnya terhadap fuqaha’, mereka lebih banyak

mengandalkan kepada hasd berdebat, yang menurut mereka sebagai upaya

unmk mencari dalil dari suatu hukum, menyimpulkan detail-detail syariat dan

alasan-alasan berbagai madzhab. Andaikata bualan mereka ini benar, tentunya

mereka akan sibuk dalam semua permasalahan. Padahal seharusnya cukup

menyibukkan diri dalam masalah-masalah yang besar, agar pembahasan

mereka dalam masalah-masalah yang besar ini benar-benar tuntas, sehingga

kalaupun ada yang menyanggahnya di antara manusia, bisa terjadi dialog yang

sehat berdasarkan pandangan yang benar. Tujuan salah seorang di antara

mereka yang menyusun rangka-rangka perdebatan dan mencari-cari

kelemahan orang lain ialah karena hendak mencari ketenaran dan kebanggaan.

Padahal boleh jadi dia tidak tahu hukum tentang masalah-masalah yang kecil

sekalipun. Akibamya, muncul cobaan di mana-mana.

Talbis Ibhs lainnya terhadap fuqaha’ tatkala berdebat ialah dengan

menyisipkan perkataan para filosof dan juga mempercayai topik-topik filsafat.

1 6 8 Perangkap Setan

Gambarannya, mereka lebih mementingkan qiyas (analog!) daripada hadits

yang seharusnya bisa dijadikan dalil dalam suatu masalah, agar wawasan

pandangannya dikatakan luas. Kalaupun ada di antara mereka yang berhujjah

dengan suatu hadits, maka dia langsung dilihat dengan sebelah mata. Padahal

adab yang harus diperhatikan adalah mendahulukan pembuktian dengan

h a d i t s .

Mereka lebih banyak menyibukkan diri dalam mencari sisi pandang

pemikiran dan tidak menyertainya dengan tindakan yang bisa melunakkan

had, seperti membaca Al-Qur’an, mendengarkan hadits dan sirah RasuluUah

^serta para sahabat beliau. Sebagaimana yang sudah dimaklumi, had itu

ddak akan bisa khus}^!’ hanya dengan sering membersihkan najis, sementara

air pun bisa berubah. Yang diperiukan had adalah nasihat dan dzikir, agar ia

bisa bangkit untuk mencari akhirat.

Masalah-masalah khilafiyah, sekalipun termasuk dalam ilmu syariat,

ddak mampu membangkitkan segala sesuatu yang dicari. Siapa yang ddak

menelaah rahasia-rahasia perikehidupan orang-orang salaf yang seharusnya

dijadikan madzhabnya, tentu ddak akan bisa mengikud jejak mereka.

Yang perlu diketahui, bahwa tabiat itu serupa dengan pencuri. Jika ia

hidup bersama orang-orang yang hidup pada zaman sekarang, maka ia akan

mencuri tabiat mereka, lalu menjadikannya serupa dengan mereka. Tetapi

jika ia menelaah perikehidupan orang-orang terdahulu, maka ia akan

mengikud akhlak mereka. Di antara orang salaf ada yang berkata, “Perkataan

yang dapat melunakkan hadku lebih aku sukai daripada seratus keputusan

yang ditetapkan Syuraih.

Dia berkata seperd itu, karena had yang lunak merupakan tujuannya,

yang tentunya ada sebab-sebab lain untuk itu.

Talbis Iblis yang lain, ada anggapan bahwa berdebat itu harus dilakukan

agar yang benar menjadi jelas. Padahal maksud orang-orang salaf adalah

memberi nasihat dengan cara menampakkan yang benar. Mereka berpindah

dari satu dalil ke dalil yang lain. Jika ada salah seorang di antara mereka yang

ddak mengetahui sebagian di antaranya, maka yang lain memberitahukannya.

Sebab maksud mereka adalah menampakkan yang benar. Jika ada seorang

fuqaha’ di antara mereka yang mengqiyaskan kepada suatu dasar hukum.

>»io

Syuraih adalah seorang hakim yang sangac tcrkenal, mcninggal pada tahun 78 Hijriyah.

1 6 9Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

dengan suatu alasan berdasarkan perkiraannya, maka akan ada yang bertanya

kepadanya, “Apa dalilnya bahwa suatu dasar hukum harus dilandaskan kepada

alasan itu?” Maka orang itu akan menjawab, “Inilah yang kurasa bena:r

menurutku. Tetapi jika kalian melihat ada yang lebih benar, maka katakanlah.

Sebab biasanya orang yang menyanggah tidak berani menyebutkan

sanggahannya di hadapanku.”

Ta/his Iblis yang lain, adakalanya salah seorang di antara mereka melihat

dirinyalah yang benar tatkala berdebat dengan lawannya dan dia tidak man

mundur sama sekali. Lalu hatinya merasa tertekan, sambil berpikir bagaimana

agar kebenaran itu dapat diterima lawannya. Boleh jadi dia akan berusaha

semampunya untuk menyanggah pendapat lawannya, apalagi dia mengetahui

bahwa dirinyalah yang benar. Yang demikian ini termasuk keburukan yang

paling buruk. Sebab seharusnya berdebat itu dimaksudkan untuk menjelaslcan

k e b e n a r a n .

Asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang, lalu

dia mengingkari hujjah, melainkan namanya jatuh dalam penglihatanku. Jika

dia menerimanya, maka aku enggan kepadanya. Jika Aku berdebat dengar.

seseorang, lalu aku merasa simpati terhadap hujjahnya, maka aku akan

mengikutinya.”

Ta/bis Iblis yang lain, karena mereka hendak mencari kedudukan dengar.

cara berdebat, mendorong mereka untuk membangkitkan apa yang

terpendam di dalam had. Jika salah seorang di antara mereka melihat

pendapatnya tidak kuat, maka dia berusaha menekan lawannya, lalu tampj

dengan cara menyombongkan diri, Jika dia melihat lawannya lebih banyak

berbicara, maka dia berlindung kepada kesombongan dirinya dar

menghadapinya dengan caci maid. Akhirnya perdebatan berubah raenjad:

ajang pelecehan.

Adakalanya Iblis membisikkan ta/bis kepada mereka bahwa fiqih itulak

yang menjadi ilmu syariat dan bukan yang lainnya. Jika disebutkan istilah ahk

hadits kepada mereka, maka mereka berkata, “Dia tidak bisa memahanr

sesuatu pun.” Mereka lupa bahwa hadits itu merupakan dasar. Jika disebutkan

kepada mereka perkataan yang dapat melumerkan had, maka mereka berkata,

“Ini adalah perkataan para penasihat.”

Gambaran ta/bis Iblis lainnya, mereka terlalu berani mengeluarkan

fatwa, padahal mereka belum layak mendapatkan martabat sebagai orang

1 7 0 Perangkap Setan

yang mengeluarkan fatwa. Boleh jadi mereka mengeluarkan fatwa berdasarkan

pola kehidupannya yang bertentangan dengan nash. Padahal andaikan mereka

menahan diri, tentu akan lebih balk bagi mereka.

Abdurrahman bin Abu Laila berkata, “Aku pernah bertemu seratus

dua puluh sahabat Rasulullah Jika salah seorang di antara mereka ditanya

mengenai suatu masalah, maka mereka melimpahkannya kepada sahabat

yang lain, lain akhirnya masalah yang ditanyakan itu berputar kembali lagi

ke orang yang pertama.”

Dalam suatu lafazh darinya, dia berkata, ‘Aku pernah bertemu di dalam

masjid ini seratus dua puluh sahabat Rasulullah dari kalangan Anshar.

Jika ada salah seorang di antara mereka menyampaikan suatu hadits, maka

dia ingin agar ada sahabat Iain yang juga membenarkan hadits itu. Jika dia

ditanya tentang suatu fatwa, maka dia ingin agar ada sahabat lain yang

membenarkan fa twa i tu . ”

Telah diriwayatkan kepada kami dari Ibrahim An-Nakha’i, bahwa ada

seorang laki-laki yang ditanya tentang suatu masalah. Lalu orang itu menjawab,

“Apakah engkau mendapatkan orang lain yang bisa engkau tanya?”

Dari Malik bin Anas dia berkata, “Aku tidak mengeluarkan fatwa

kecuali setelah bertanya kepada tujuh puluh syaikh, “Apakah kalian melihatku

layak mengeluarkan fatwa?’

Mereka pun menjawab, “Ya.”

Ada yang bertanya, “Bagaimana jika para syaikh itu melarangmu

mengeluarkan fatwa?”

“Aku tidak akan mengeluarkan fatwa jika mereka menolakku,” jawabnya.

Begitulah kebiasaan orang-orang salaf, karena mereka khawatir

dan takut kepada Allah Siapa yang menelaah sirah mereka tentu akan

mengikuti adab mereka.

Talhis Iblis yang lain terhadap fuqaha’ ialah kebiasaan mereka

berdekatan dengan para penguasa dan mencari muka di hadapan mereka

serta tidak berani mengingkari mereka sekalipun sebenarnya mampu

melakukannya. Adakalanya para fiiqaha’ itu membuat rukhshah (keringanan

hukum agama) bagi mereka tentang sesuatu yang seharusnya ddak boleh

ada rukhshah, agar para fuqaha’ itu menerima sejumlah imbalan. Yang

demikian ini akan mendatangkan kerusakan bagi tiga golongan:

1 7 1Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

Penguasa. Dia berkata, “Kalaupun aku tidak benar, fuqaha’ itu tentu

akan mengingkariku. Bagaimana mungkin aku tidak benar, sementara

fuqaha’ itu makan dari hartaku?”

Orang awam. Dia berkata, “Penguasa itu tidak salah, begitu pula harta

dan perbuatannya. tetapi fuqaha’ itulah yang tidak layak berada di

sisinya.”

Fuqaha’. Dengan tindakannya itu dia telah merusak agamanya.

Adakalanya Iblis memperdayai mereka yang biasa menemui penguasa,

sehingga dia berkata, “Aku menemui penguasa agar aku bisa memintakan

syafaat bagi orang Muslim.”

Talhh Iblis ini baru terungkap, ketika ada orang Muslim selain dia yang

juga meminta syafaat kepada penguasa, maka dia merasa tidak suka. Bahkan

boleh jadi dia menjelek-jelekkan orang lain tersebut di hadapan penguasa,

agar hanya dia saja yang mempunyai peluang untuk itu.

Talbis Iblis yang lain adalah kegemarannya mendapatkan uang dari

penguasa, yang berkata kepadanya, “Engkau berhak mendapatkan uang ini.”

Padahal sebagaimana diketahui, jika harta penguasa itu berasal dari yang

haram, maka diharamkan bagi fuqaha’ untuk menerimanya, walaupun sedikit.

Jika asal mula kekayaan penguasa itu meragukan, maka meninggalkannya

lebih utama. Jika berasal dari yang mubah, bolehlah dia mengambil sebagian

di antaranya, sesuai dengan kedudukannya dalam agama, bukan berdasarkan

kebutuhan orang-orang yang hidup foya-foya. Karena boleh jadi orang-orang

awam akan meniru perbuatannya yang tampak dan mereka memperbolehkan

apa yang diperbolehkannya.

Namun Iblis juga melancarkan talbis terhadap sekelompok ulama yang

tidak mau berhubungan sama sekali dengan penguasa, karena mereka hanya

ingin membatasi diri dalam urusan ibadah dan agama. Lalu' Iblis membuat

mereka menganggap bagus untuk mengghibah ulama lain yang suka menemui

penguasa. Dengan cara ini mereka meraup dua bencana: Mengghibah orang

lain dan memuji dirinya sendiri.

Secara umum berdekatan dengan para penguasa itu mendatangkan

bahaya yang besar. Sebab bisa saja niatnya bagus saat awal mula menemuinya,

tetapi lama-kelamaan niatnya berubah untuk menghormati dan membuat

para penguasa itu merasa puas, lalu disusul ketamakan untuk mendapatkan

1 .

2 .

3 .

1 7 2 Perangkap Setan

kekayaan dari mereka. Hal ini tidak lepas dan tindakan mencari muka, berpura-

pura dan tidak berani mengingkari penguasa.

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku tidak takut para penguasa itu akan

melecehkan diriku. Tetapi yang kutakutkan adalah tindakanku yang memuji-

muji mereka, lalu hatiku pun menjadi condong kepada mereka.”

Para ulama salaf biasa menjauhi para penguasa, karena mereka lebih

banyak yang berbuat sewenang-wenang. Sehingga para penguasalah yang

meminta kepada para ulama untuk memberikan fatwa yang diperlukan. Ada

beberapa orang yang sangat berambisi mendapatkan keduniaan. Lalu mereka

mendalami ilmu yang bisa menguntungkan para penguasa, sehingga iimu ini

bisa membawa mereka ke sisi penguasa. Dengan cara ini mereka bisa

mendapatkan dunia yang diharapkannya. Sebagai bukti bahwa banyak orang

yang mempelajari ilmu karena hendak mendekati penguasa, bahwa dulu tatkala

para penguasa suka mendengarkan hujjah-hujjah dalam masalah asal-muasal,

maka banyak orang yang menampakkan teologi. Ketika para penguasa suka

kepada perdebatan dalam masalah fiqih, maka orang-orang menampakkan

ilmu berdebat. Ketika para penguasa condong kepada nasihat, maka banyak

para pelajar yang juga condong mempelajari nasihat. Ketika orang-orang

awam suka kepada kisah-kisah, maka para pengisah pun bermunculan di

mana-mana, sementara fuqaha’nya hanya sedikit.

Talbis Iblis yang lain terhadap para fuqaha’, bahwa di antara mereka

ada yang memakan dari wakaf sekolah yang didirikan untuk orang-orang

yang berniat berkhidmat demi ilmu pengetahuan. Sekian lama dia hanya duduk

ongkang-ongkang tanpa mau menyibukkan diri merasa puas dengan ilmunya

yang ada dan tidak memberikan andil apa pun terhadap wakaf sekolah.

Padahal sekolah itu didirikan untuk orang-orang yang mau mendalami ilmu.

Kecuali kalau memang dia aktif sebagai pengawas atau guru, sehingga

akdvitasnya terus berkelanjutan di sekolah itu. Bahkan di antara mereka ada

yang melakukan hal-hal yang dilarang, seperti mengenakan kain dari sutera,

mengenakan perhiasan emas dan lain-lainnya. Ada beberapa sebab yang

mendorong mereka berbuat seperti itu. Di antara mereka ada yang memang

akidahnya rusak. Dia belajar fiqih sebagai kamuflase belaka, agar dia mendapat

kedudukan, atau agar bisa menjadi pimpinan. Di antara mereka ada yang

akidahnya benar. Tetapi dia dikuasai hawa nafsunya dan mencintai syahwat,

padahal dia tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Manusia bisa

1 7 3Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

menjadi lurus karena latihan dan suka membawa sirah orang-orang salaf.

Sementara mereka tidak mau melakukan hal ini. Mereka hanya memiliki

sesuatu yang membantu kesombongannya. Dengan begitu dia memberi

kebebasan kepada hawa nafsunya. Di antara mereka ada yang dibisiki Iblis,

“Engkau adalah seorang ulama dan mufti. Ilmu iru menjadi tameng bagi orang

yang memilikinya.” Nonsens. Justru ilmu itu merupakan hujjah atas dirinya

dan siksanya akan dilipatgandakan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya yang disebut seorang

fuqaha’ itu hanyalah orang yang takut kepada Allah.”

Ibnu Aqil berkata, “Aku pernah melihat seorang fuqaha dari Khurasan

yang mengenakan kain sutera dari cincin dan emas. Aku bertanya kepadanya,

“Apa yang engkau kenakan ini?”

Dia menjawab, “Pemberian dari sulthan dan rampasan dari musuh.”

“Tetapi itu merupakan kegembiraan musuh atas kekalahan dirimu,

kalau memang engkau orang Muslim. Sebab Iblis adalah musuhmu. Selagi

dia berhadapan denganmu, maka dia akan mengenakan pada dirimu apa yang

membuamya tidak suka kepada syariat. Dengan begitu engkau membuatnya

gembira. Apakah pemberian Sulthan bisa melawan larangan Allah? Sungguh

engkau perlu dikasihani. Sulthan memberikan hadiah kepadamu, lalu engkau

melepaskan iman karenanya. Padahal seharusnya Sulthan itu yang harus

melepaskan pakaian kefasikan lewat dirimu, lalu mengenakan pakaian takwa

kepadamu.”

Di antara talhis Iblis yang lain terhadap mereka, dia membuat mereka

beranggapan baik untuk melecehkan para pemberi nasihat dan melarang

mereka berkumpul bersama para fuqaha’, seraya berkata, “Siapakah kalian

ini? Apakah kalian para penutur kisah?”

Maksud Iblis, agar para fuqaha’ itu tidak bercampur dengan orang atau

di tempat yang bisa melunakkan had dan mefijadikannya khusyu’. Tidak ada

yang perlu dicela pada diri para penutur kisah, sebatas sebutan. penutur kisah.

Sebab Allah telah befirman,

“Kami menceritakan kepadamu kisah yangpaling haik. “(Yusuf: 3)

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu.” (Al-A’raf: 176)

Celaan terhadap para penutur kisah, karena mayoritas di antara mereka

hanya menuturkan kisah-kisah yang panjang lebar tanpa menyebutkan hikmah

1 7 4 Perangkap Setan

yang bermanfaat di balik kisah itu. Mayoritas di antara mereka juga

mencampur aduk kisah yang disampaikan, yang boleh jadi ada hal-hal yang

mustahil di dalam kisahnya. Jika kisah-kisah itu benar dan disisipi dengan

nasihat, maka itu adalah sesuatu yang terpuji. Ahmad bin Hambal berkata,

“Manusia sangat membutuhkan penutur kisah yang jujur.”

Talbis Iblis terhadap Para Penasihat dan Penutur Kisah

Para penasihat pada zaman dahulu juga berstatus ulama dan fuqaha.

Abdullah bin Umar ^pernah mendatangi majlis Ubiiid bin Umair. Tadinya

Umar bin Abdul-Aziz juga biasa mendatangi majlis seorang penutur kisah,

tetapi lama-kelamaan dia mulai jarang mendatanginya. Kemudian yang biasa

mendatanginya adalah orang-orang bodoh. Sementara orang-orang yang

tcrpandang tidak banyak yang datang. Akhirnya para penutur kisah ini menjadi

tumpuan perhatian orang-orang awam dan para wanita. Mereka lebih suka

mendengarkan kisah-kisah yang bisa menarik minat orang-orang bodoh.

Akhirnya dalam kisah-kisah yang disampaikan ini terselip berbagai macam

k i s a h .

Kami sudah membukukan bencana ini dalam jU-Qushash Wal-

Mudi^kkirin. Kami sebutkan sebagian di antaranya di sini.

Sebagian penutur kisah itu ada yang lebih banyak mengacu kepada

hadits-hadits dha’if tentang targhib dan tarhib (anjuran dan peringatan). Lalu

Iblis memperdayai mereka, hingga mereka berkata, “Kami bermaksud

menganjurkan manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari

keburukan.” Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap syariat. Sebab di

samping perbuatan ini masih jauh dari sempurna, mereka juga melalaikan

s a b d a R a s u l u l l a h

“Barangsiapa berdusta terhadap diriku secara sengaja, maka hendaklah

berada di atas tempat duduknya dari api neraka.”

Mereka juga menyampaikan kisah-kisah yang dapat menggetarkan hati

dan mengguncangkan jiwa, karena itu mereka harus membuat variasi kata-

kata. Engkau melihat bagaimana mereka melantunkan syair-syair dan pantun-

pantun cinta yang merdu merayu. Iblis membisiki mereka untuk berkata,

“Kami bermaksud memberi isyarat tentang cinta terhadap Allah.”

Sebagaimana yang diketahui, mayoritas orang-orang yang mendatangi

para penutur kisah adalah orang-orang awam, yang hati mereka termuati hawa

1 7 5Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

nafsu. Keadaan ini semakin memudahkan penutur kisah untuk menjadi sesai

dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang menampakkan kealiman daii

kekhusyukan, lebih banyak daripada porsi yang ada di dalam dirinya.

Banyaknya orang-orang yang mendengarkan kisahnya semakin menambab

aksinya yang dibuat-buat, sehingga dia juga semakin pintar berpura-pura

menangis dan menampakkan kekhusyukan.

Di antara mereka ada yang menyertai pembacaan kisah dengan gerak-

gerik. Sementara kisah yang mereka baca pada zaman sekarang lebih

menyerupai nyanyian, sehingga hukumnya lebih dekat dengan haram. Pemain

latar menabuh ala musik dan penutur kisah melantunkan syair-syair disertai

tepukan tangan dan ajoman kaki, sehingga menyerupai orang yang sedang

mabuk. Gerakan-gerakan yang demikian itu bisa membangkitkan birahi,

mengguncang jiwa dan mengundang teriakan laki-laki dan wanita. Karena

had orang-orang yang mendengarkannya sudah termuati hawa nafsu, maka

mereka pun keluar dari majlis itu, sambil berucap, “Majlis ini benar-benar

bagus.” Mereka berkomentar seperti itu untuk sesuatu yang tidak

diperkenankan.

Di antara mereka ada pula yang meiakukan hal-hal seperti itu, tetapi

yang dibaca adalah syair-syair tentang orang-orang yang sudah meninggal

dunia, menceritakan penderitaan yang mereka alami dan kematiannya di

tempat yang terasing, sehingga tempat itu seperti tempat duka karena

kematian. Terlebih lagi jika disertai tangis para wanita. Padahal yang

seharusnya dilakukan adalah menasihati untuk sabar karena kehilangan orang

yang dicintai, dengan cara yang tidak mengguncangkan hati.

Di antara mereka ada yang menyampaikan detail-detail zuhud dan cinta

kepada Allah. Lalu setan membisikinya, “Sesungguhnya engkau termasuk

orang-orang sufi. Sebenarnya engkau belum layak disebut orang zuhud, tetapi

rupanya engkau sudah bisa mengetahui apa yang engkau sampaikan, karena

itu engkau telah meniti jalan zuhud.” Talbis Iblis ini mengungkapkan bahwa

sifat itu merupakan ilmu dan perilaku bukan merupakan ilmu.

Di antara mereka ada yang menyampaikan hal-hal yang keluar dari

syariat, lalu mengukuhkannya dengan syair-syair cinta. Tujuannya, agar

majlisnya mendapat applaus, sekalipun applaus itu muncul karena perkataan

yang rusak. Berapa banyak di antara para penutur kisah yang menggunakan

ungkapan-ungkapan kata yang tidak ada artinya. Mayoritas kisah-kisah yang

1 7 6 Perangkap Setan

mereka tuturkan adalah tentang Musa dan gunung, Zulaikha dan Yusuf.

Praktis mereka tidak pernah menyampaikan perkara-perkara yang wajib dan

melarang hal-hal yang dilarang, semacam dusta. Lalu kapan orang-orang yang

suka berzina dan pemakan riba mau sadar? Kapan para wanita tahu hak-hak

suami dan menjaga shalatnya? Hal ini sama sekali tidak akan terjadi. Sepulang

dari menghadiri majlis para penutur kisah, para pendengarnya pulang tanpa

ada yang peduli terhadap syariat. Mereka lebih suka mengeluarkan harta.

Karena ternyata kebenaran itu berat dan kebatilan itu ringan.

Di antara mereka ada yang menganjurkan kepada zuhud dan shalat

malam, tanpa mau menjelaskan maksudnya kepada orang-orang awam.

Boleh jadi di antara orang-orang awam itu ada yang ingin bertaubat dari dosa-

dosanya, lalu dia mengisolir diri, pergi ke puncak gunung, meninggalkan

keluarganya terlantar tanpa memiliki apa-apa untuk memenuhi kebutuhannya

s e h a r i - h a r i .

Di antara'mereka ada yang berbicara tentang harapan dan tamak, tanpa

membedakan apa yang harus ditakuti dan apa yang harus diwaspadai, sehingga

justru dia mendorong manusia semakin berani melakukan kedurhakaan.

Keadaan ini semakin diperparah oleh ceritanya yang lebih condong kepada

keduniaan, tentang kendaraan yang nyaman dan pakaian yang wah. Dengan

begitu, had manusia menjadi rusak karena ulahnya.

Memang ada di antara para pemberi nasihat dan penceramah yang

berkata jujur dan bertujuan memberi nasihat. hanya saja dia haus kekuasaan

dan pamor. Dia suka dipuja. Tandanya, jika ada penasihat lain yang

menggandkan tugasnya atau membantunya dalam menghadapi massa, tampak

kebencian pada dirinya. Padahal orang lain itu tulus tujuannya dan memang

benar-benar ingin membantunya.

Di antara penutur kisah ada yang mencampur laki-laki dan wanita dalam

majlisnya. Dia juga menyaksikan sendiri bagaimana para wanita berteriak-

teriak karena pengaruh penuturan kisahnya, namun dia sama sekali ddak

mengingkari hal itu, karena dia ingin menyenangkan had mereka.

Pada zaman sekarang ini muncul para penutur kisah yang ddak masuk

ke dalam talbis Iblis, karena permasalahannya sudah jelas, bahwa apa yang

dilakukannya itu dimaksudkan untuk mencari penghidupan. Mereka

memenuhi undangan para penguasa dan orang-orang kaya, seperti saat

penguburan. Mereka menuturkan berbagai macam derita dari perpisahan

1 7 7Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

dengan orang-orang yang dicintai, sehingga membuat para wanita menangis.

Padahal seharusnya dia menganjurkan manusia untuk bersabar.

Adakalanya Iblis memperdayai pemberi nasihat yang lurus dan sadar

akan ucapannya, seraya berkata, “Orang seperti dirimu ini sebenarnya tidak

layak memberi nasihat. Yang pantas memberikan nasihat adalah orang yang

bisa berpura-pura.” Karena itu dia tidak lagi mau memberi nasihat. Jelas ini

merupakan talhis Iblis yang ingin mencegahnya melakukan kebaikan, sambil

berkata, “Justru engkau bisa tenang dan santai. jika  engkau memberi

nasihat, boleh jadi akan muncul riya’ dalam perkataanmu. Menyendiri justru

lebih selamat.” Tujuan Iblis ialah mencegahnya melakukan kebaikan.

Talbis Iblis terhadap Ahli Bahasa dan Sastra

Iblis memperdayai para ahli bahasa dan sastra, dengan membuat

!mereka sibuk menekuni masalah nahwu dan bahasa, melupakan tugas-tugas

pokok yang merupakan fardhu ain, seperti keharusan dirinya mengetahui

berbagai macam ibadah, adab, menata hati, atau mengetahui ilmu-ilmu lain

yang sebenarnya lebih utama, seperti ilmu tafsir, hadits dan fiqih. Mereka

menghabiskan umur untuk menekuni ilmu yang tidak dikembalikan kepada

ilmu itu sendiri, tetapi bagi ilmu yang lain. Jika seseorang sudah memahami

sebuah kata, maka dia harus meningkat kepada pengamalannya, karena

pengetahuan tentang kata-kata itu dimaksudkan untuk selainnya. Sehingga

engkau melihat para ahli bahasa dan sastra yang ddak memahami adab-adab

syariat, kecuali hanya sebagian kecil di antara mereka, terlebih lagi ilmu fiqih

dan tidak peduli untuk membersihkan jiwanya serta memperbaiki hatinya.

Di samping semua ini, di dalam diri mereka bercokol perasaan

sombong. Iblis membisikkan kepada mereka, “Kalian adalah para ulama

Islam. Karena ilmu nahwu dan bahasa termasuk ilmu-ilmu Islam, yang dengan

ilmu ini dapat diketahui makna Al-Qur’an yang muUa.

Memang hal ini tidak dipungkiri. Tetapi mendalami ilmu nahwu yang

mendasar untuk memperbaiki lisan dan yang dibutuhkan untuk tafsir Al-

Qur’an serta hadits, tidak harus bertele-tele. Selain itu termasuk masalah

tambahan yang tidak terlalu diperlukan. Menghabiskan waktu untuk sesuatu

yang sifatnya tambahan, yang berarti tidak terlalu penting, dengan

meninggalkan yang lebih penting, adalah suatu kesalahan besar.

Mementingkan ilmu nahwu dan sastra daripada yang lebih bermanfaat dan

1 7 8 Perangkap Setan

lebih tinggi derajatnya, adalah suatu kebodohan. Kalau pun ada kesempatan

untuk mengetahui semuanya, tentu saja baik. Tetapi bukankah umur manusia

amat pendek? Karena itu dia harus mendahulukan yang lebih penting dan

lebih utama.

Karena mereka lebih banyak menekuni syair-syair Jahiliyah dan tabiat -

mereka tidak dibenruk dengan cara menelaah berbagai hadits dan menyimak

sirah orang-orang salaf yang shalih, maka tabiat mereka mengalir ke arah

jurang nafsu dan patriotisme yang sia-sia. Sehingga jarang di antara mereka

yang peduli terhadap masalah takwa. Sebab masalah nahwu lebih sering

dituntut para penguasa, lalu mereka mempergunakan kesempatan ini untuk

mendapatkan harta penguasa yang haram, seperd yang dilakukan Abu Ali

Al-Farisi yang bisa menempatkan dirinya di sisi penguasa.

Di antara mereka ada yang mengira diperbolehkannya sesuatu,

padahal ia tidak diperbolehkan, seperti yang dikatakan Az-Zajjaj Abu Ishaq

Ibrahim bin As-Sari, “Dulu aku senantiasa mengajari Al-Qasim bin Abdullah.

Lalu kukatakan kepadanya, “Jika engkau sudah menggantikan kedudukan

ayahmu, yaitu sebagai menteri, apa yang akan engkau lakukan terhadap

d i r i k u ? ”

Al-Qasim menjawab, “Apa pun yang engkau sukai.”

“Kalau begitu gajilah aku dua puluh ribu dinar, karena inilah cita-citaku

yang paling tinggi,” kataku.

Tak seberapa lama kemudian Al-Qasim diangkat menjadi menteri dan

aku pun senantiasa mengiringinya. Sebenarnya ada pula rasa menyesal di

dalam had. Tetapi nafsuku selalu mengusik untuk mengingatkan janji Al-

Qasim. Pada hari kedga setelah dia diangkat sebagai menteri, dia berkata

kepadaku, “Wahai Abu Ishaq, kulihat engkau belum mengingatkan aku

tentang nadzar yang pernah kujanjikan kepadamu.” Perhadanku lebih banyak

tertuju kepada masalah kementerian yang dilimpahkan Allah ini. Toh nadzar

yang memang harus dipenuhi itu ddak perlu diingatkan lagi.”

Al-Qasim berkata, “Aku harus meminta bantuan untuk memenuhinya,

karena jika aku harus membayarnya sekaligus, tentu aku ddak akan sanggup.

Tetapi aku juga khawatir jika orang-orang mendengarnya. Maka

perkenankanlah aku untuk membayarnya dengan cara mencicil.”

Boleh,” jawabku.

1 7 9Bah VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

“Kalau begitu temuilah orang-orang yang mempunyai keperluan yang

amat penting, lalu buatlah selembar kertas untuk kutandatangani, sebaga

tanda penarikan bea dan dahulukan pelayanannya, hingga jumlah uang yang

pernah kunadzarkan kepadamu terpenuhi.”

Maka aku melakukan sarannya. Setiap hari aku menyodorkan kertas^

untuk ditandatangani Al-Qasim, lalu aku menarik bea kepada orang-orang

Semakin hari jumlah bea yang masuk semakin banyak, sesuai dengan batasan

yang telah dia tetapkan, hingga akhirnya mencapai jumlah yang pernah

dijanjikan Al-Qasim, yaitu dua puluh ribu dinar, dan bahkan lebih. Setelah

berlalu beberapa bulan, Al-Qasim bertanya kepadaku, ‘'Wahai Abu Ishaq,

apakah uang yang pernah kujanjikan sudah terpenuhi?”

“Belum,” jawabku berdusta.

Al-Qasim diam termangu. Setiap bulan dia bertanya seperti itu

kepadaku, dan selalu kujawab belum, karena aku takut pemasukan ini akan

berhenti. Setelah jumlahnya menjadi berlipat ganda, suatu hari dia

menanyakannya kepadaku. Aku merasa malu karena terus-menerus berdusta

kepadanya. Maka kujawab, “Telah tercapai berkat bantuan Tuan Menteri.”

“Demi Allah, engkau telah membebaskan diriku dari tanggungan ini.

Selama ini hatiku selalu risau, hingga engkau bisa mendapatkannya,” kata

Al-Qasim.

Kemudian Al-Qasim mengambil pulpen dan menuliskan gaji untukku

sebanyak tiga ribu dinar, lalu dia serahkan kepada bendaharanya. Maka aku

mendapatkan gaji sebanyak itu setiap bulan. Aku tidak menyampaikan

kepadanya apa yang pernah terjadi. Keesokan harinya aku menemui Al-Qasim

dan duduk di hadapannya sambil membawa daftar bea yang pernah kutarik

dari orang-orang sesuai dengan tanda tangan yang dibubuhkan Al-Qasim.

Dia memberi isyarat agar aku menunjukkan daftar yang ada di tanganku,

agar dia dapat mengontrol tanda tangan yang pernah dibubuhkannya dalam

daftar penarikan bea.

Aku berkata, “Aku tidak pernah menarik bea lagi dari mereka, karena

janji yang pernah Tuan nadzarkan sudah terpenuhi, sementara aku juga

bingung bagaimana cara meminta tanda tangan dan Tuan.”

Al-Qasim berkata, “Subhanallah. Aku tidak mungkin menghentikan

sesuatu yang sudah biasa engkau terima, lalu orang-orang akan mengetahui

1 8 0 Perangkap Setan

hal ini, padahal engkau mempunyai kedudukan dan nama yang terpandang

di hadapan mereka, lalu tiba-tdba apa yang biasa engkau terima ddak lagi bisa

engkau terima, sehingga muncul anggapan bahwa kedudukanmu menjadi

berkurang di sisiku atau gajimu yang dikurangi. Berikan saja daftarmu

kepadaku dan ambil bea menurut kehendakmu.”

Maka sedap hari Aku menyodorkan daftar untuk ditandatangani Al-

Qasim dan Aku bisa menarik bea dari orang-orang, sampai Al-Qasim

meninggal dunia.”

Perhadkanlah apa yang dilakukan orang yang ddak tabu tentang fiqih.

Orang besar dalam bidang nahwu dan bahasa ini ddak akan menceritakan

keadaan dirinya dengan nada menyombong andaikan dia mengetahui bahwa

apa yang dilakukannya itu tidak diperbolehkan menurut syariat.

Menyampaikan kezhaliman adalah wajib dan untuk dndakan ini seseorang

ddak perlu mengambil upah, apalagi memanfaatkan kedudukan seorang

menteri. Dengan begitu dapat diketahui derajat fiqih daripada ilmu yang lain.

Talbis Iblis terhadap Para Penyair

Iblis telah memperdayai mereka dan membisikkan kepada mereka

bahwa mereka adalah para sastrawan, yang memiliki kecerdikan tersendiri

yang tidak dimiliki orang lain, sehingga pasti ada ampunan andaikan mereka

melakukan kesalahan. Berkat bisikan Iblis ini engkau lihat di sedap tempat

mereka bergumul dengan kebohongan, tuduhan, caci maid, pelecehan

kehormatan diri dan kata-kata yang keji. Keadaan yang paling ringan dari

para penyair adalah memuji-muji seseorang, tidak berani menyerangnya dan

menghindari kejahatannya, atau dia memuji seseorang di hadapan orang

banyak dan membuatnya tersipu malu di hadapan mereka. Semua ini termasuk

jenis penjilatan.

Adakalanya engkau melihat sebagian penyair dan sastrawan yang ddak

risih mengenakan kain sutra, memuji-muji secara dusta hingga keluar batas.

Mereka berkumpul untuk melontarkan kata-kata yang keji, sambil minum

khamr dan lain-lainnya. Apa pun jenis adab tidak boleh dilakukan kecuali

beserta Allah dan memperhadkan takwa kepada-Nya. Tidak ada artinya

kepintaran dalam urusan keduniaan dan ddak ada ardnya ungkapan kata-

kata di sisi Allah selagi ddak menggambarkan takwa kepada-Nya. Banyak di

antara penyair yang keadaannya miskin, mengumpat sana mengumpat sini

1 8 1Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

dan cenderung kepada kekufuran. Mereka pun menyalahkan takdir, sepert]

yang dikatakan sebagian di antara mereka,

“Sekalipun hasratku membumbung ringgi

nasibku tetap saja menempel di permukaan bumi

seringkali ivaktu tidak memberi kesenangan padaku

berapa banyak masa yangjuga berbuatjahat padaku.”

Mereka lupa bahwa kedurhakaanlah yang membuat mereka melarat.

Ada anggapan bahwa merekaiah yang lebih layak mendapatkan kenikmatan

dan bebas dari musibah, sementara mereka tidak pernah terkemk untuk

melaksanakan perintah syariat. Karena itu mereka menjadi sesat.

Talbis Iblis terhadap Para Ulama yang Mapan

Di antara manusia ada yang memiliki hasrat dan semangat yang tinggi,

sehingga mereka bisa mendalami berbagai cabang ilmu syariat, berupa ilmu

Ai-Qur’an, hadits, fiqih dan sastra. Lalu Iblis mendatangi mereka dengan

talhis-nĵ  yang lembut, sambil membisikkan kesombongan kepada mereka,

karena mereka bisa mendalami berbagai macam ilmu dan bisa mengulurkan

manfaat kepada orang lain. Di antara mereka ada yang tidak pernah bosan

menggali ilmu dan merasakan kenikmatan dalam penggaJian ini, yang tentu

saja karena bisikan IbEs. Iblis bertanya kepadanya, “Sampai kapan engkau

merasa letih melakukan semua ini? Tenangkan badanmu dalam memikul

beban ini dan lapangkan hatimu dalam menikmati ilmu. Karena jika engkau

melakukan kesalahan, maka ilmu dapat membebaskan dirimu dari hukuman,”

Lalu Iblis membisikinya tentang kelebihan yang dirruliki para ulama. Jika

seseorang terkecoh dan menerima bisikan serta talbis Iblis in maka dia akan

celaka.

Jika setuju, maka dia dapat berkata, “Jawaban atas pernyataanmu dapat

ditinjau dari tiga sisi:

Memang para ulama mendapat keutamaan karena ilmu. Namun

andaikan tidak ada amal, maka ilmu itu tidak ada artinya apa-apa. Jika

aku tidak mengamalkannya, berarti aku sama dengan orang yang tidak

mengerti maksudnya, hingga keadaan diriku tak ubahnya orang yang

mengumpulkan makanan dan memberikan makanan itu kepada orang-

orang yang kelaparan, tetapi dia sendiri tidak makan dan tidak

mempergunakan makanan im untuk menghilangkan rasa laparnya.

1 .

1 8 2 Perangkap Setan

Dapat menyanggahnya dengan celaan yang ditujukan kepada orang

yang tidak mengamalkan ilmu, seperti kisah Rasulullah ^tentang

seseorang yang dilemparkan ke dalam neraka, laiu ususnya terburai,

seraya berkata, “Dulu aku menyuruh kepada yang ma’ruf namun aku

justru tidak melaksanakannya, dan aku mencegah dan yang mungkar,

namun justru aku melaksanakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Abud-Darda’ ̂ berkata, “Celaka bagi orang yang tidak berilmu (sekali),

dan kecelakaan bagi orang yang berilmu namun tidak beramal (tujuh

kali).”

Menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang berilmu, karena tidak

mau mengamalkan ilmunya, seperti Iblis dan lain-lainnya. Celaan

terhadap orang yang berilmu namun tidak beramal adalah dengan

firman Allah,

“Seperti keledaiyangmembawa kitah-kdtabyang tebal." (Al-Jumu’ah: 5).

Iblis memperdayai orang-orang yang mendalami ilmu dan juga beramal

dari sisi lain. Iblis membaguskan di hadapan mereka sikap sombong karena

ilmu, dengki terhadap saingan, riya’ dalam mencari kedudukan. Kadang-

kadang Iblis menunjukkan kepada mereka, bahwa yang demikian itu termasuk

hal yang wajib mereka lakukan. Jika tidak melakukannya, justru mereka

melakukan suatu kesalahan.

Jalan keluar bagi siapa yang enggan melihat dosa takabur, dengki dan

riya’, bahwa dmu ddak bisa menghalangi akibat dari hal-hal itu, bahkan

hukumannya berlipat karena kelipatan hujjah hukuman itu. Siapa yang melihat

sirah para ulama salaf yang juga aktif beramal, tentu akan memandang hina

dirinya sendiri dan tidak berani takabur. Siapa yang mengetahui Allah, tentu

tidak akan berbuat riya’, dan siapa yang memperhatikan takdir Allah yang

ditetapkan menurut kehendak-Nya, maka dia tidak akan berani mendengki.

Iblis menyusup ke dalam diri mereka sambil membawa syubhat dengan

cara yang pintar, seraya berkata, “Yang kalian cari adalah ketinggian

kedudukan dan bukan takabur, karena kalian adalah para pembawa syariat.

Yang kalian cari adalah kemuliaan agama dan memberantas ahli bid’ah. Jika

kalian membicarakan orang-orang yang dengki, akan menimbulkan

kemarahan terhadap syariat. Sebab para pendengki itu suka mencela siapa

pun yang menghadapi mereka. Jadi apa yang kalian kira sebagai riya’, sama

2 .

3 .

1 8 3Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama

sekali bukan riya’. Sebab siapa pun di antara kalian akan menjadi panutan,

sekalipun dia hanya berpura-pura khusyu’ dan pura-pura menangis,

sebagaimana dokter yang menjadi panutan orang yang sakit.”

Ta/bis Iblis ini baru terungkap, jika ada seseorang di antara mereka

yang bersikap sombong kepada yang lain atau menampakkan kedengkian

kepadanya, maka ulama itu ddak marah kepadanya seperti kemarahannya

jika kesombongan atau kedengkian itu tertuju kepada dirinya, sekalipun

mereka semua termasuk dalam jajaran ulama.

Iblis juga memperdayai orang-orang yang menekuni dmu, sehingga

mereka senantiasa berjaga pada malam hari dan tekun pada siang hari dalam

menyusun kitab. Iblis membisikkan kepada mereka bahwa maksud perbuatan

ini iaJah menyebarkan agama. Padahal maksud mereka yang sesungguhm'a

adalah agar namanya terkenal dan statusnya sebagai penulis menjadi tenar.

Ta/bis Iblis ini tersingkap, tatkala orang-orang memanfaatkan karangannya

dan membacanya, sementara karangan orang lain tidak dibaca, maka dia

merasa senang, sekalipun memang tujuannya untuk menyebarkan ilmu. Di

antara orang salaf ada yang berkata, “Apa pun ilmu yang kumiUki, lalu ada

yang memanfaatkannya, sekalipun tanpa menisbatkannya kepada diriku, maka

aku merasa senang.”

Di antaranya ada yang merasa senang karena banyak pengikutnya. Iblis

menciptakan fa/bis, bahwa kesenangan ini karena banyaknya orang yang

mencari ilmu. Padahal dia senang karena banyak yang menyebut nama dirinya.

Dia merasa ujub karena perkataan Lian ilmu mereka yang ditimba darinya.

Ta/bis Iblis ini tersingkap, ketika ada di antara mereka yang memisahkan diri

darinya lalu bergabung dengan ulama lain yang lebih tenar darinya, maka dia

merasa berat had. Yang demikian ini bukan merupakan sifat orang-orang

yang tulus dalam mengajarkan ilmu. Perumpamaan orang yang tulus dalam

mengajar ialah seperti para dokter yang mengobati beberapa pasien karena

AUah. Jika sebagian pasien itu ada yang sembuh, maka yang lain merasa

s e n a n g .

Ada para ulama yang selamat dari ta/bis Ibhs yang nyata. tetapi Iblis

tetap mendatangi mereka dengan ta/bis-nya. yang tersembunyi, seraya berkata

kepadanya, ‘Aku tidak pernah bertemu seseorang seperti dirimu.” Jika ulama

itu senang dengan ucapan semacam ini, maka dia telah melakukan kesalahan

karena Jika tidak, berarti dia telah selamat.

1 8 4 Perangkap Setan

As-Sari As-Saqathi berkata, “Andaikan seseorang memasuki sebuah

kebun yang di dalamnya ada semua pepohonan yang diciptakan Allah, ada

semua burung yang diciptakan Allah, lalu makhluk-makhluk itu berkata

kepadanya dengan bahasanya masing-masing, ‘"Wahai wall Allah’, lalu dia

merasa senang mendengarnya, maka dia menjadi tawanan di tangan makhluk-

m a k h l u k i t u . ” B

1 8 5Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulanm

1 f

1 I(

! -

w

t r t. t

Uue«mofri .j^R^iad i a a e J - a fl

iliit^cyA i^Ofloqq^.numae shif jr^nraito

jri «it ;ioI(ywrvitaifUftiti vljoi na;6;3qjDii) jin /̂ ̂ fuautittuip I

«iii picl /risUA ilfiw icrU’iK^* !^twcun-^fiiurii £,'î>̂:

! iifijjnsi Hj ojiiawi.1 il»(U3m nib Kiiiiiii ,£Yrii£j(n3f>c«*a;t

■'.tfli iUjIrbir

1 ^ ^ »

i i > -

i

■: i

i .

»

I

I

r ii

I i ■i ‘1 i

5

1 ^ >

7

» J } !

: t -

>

I

I

f

! f

f‘Ji

- r i

\ , l h

!

1

j

■ VJ

;

4i

' i

: T

5 i ' !

J :

i ;

1 ^ '■ i f

■ » i

J

I

I

H'

(

1

s

i

iv. ! ■ ■

i

I'1

.

i

®. .I - - I

t4

' I

I

I ' J

\ ■

J

pI * t r

' .« ;

J (■

ĵ f: r. J

I

i^r ■

■^1- ‘ ^ »»teanaT ^UitlwiluT :W 4id%!

j

\ i

i(«»

i

- A

r

j -■ f

0 7

Bab VII:

Talbis Iblis Terhadap Para Penguasa

BLIS memperdayai para penguasa dari berbagai sisi. Kami sebutkan

sebagian di antaranya yang penting-penung:

Iblis membisikkan kepada mereka bahwa AUah mencintai mereka.

Andaikan Allah tidak mencintai, tentunya Dia tidak akan mengangkat

mereka menjadi penguasa dan menjadikan mereka sebagai wakil-Nya

di tengah hamba-hamba-Nya. Kalau pun mereka itu benar-benar wakil

Allah, mestinya mereka menerapkan hukum-hukum-Nya dan mencari

keridhaan-Nya. Pada saat itulah mereka merupakan orang-orang yang

dicintai Allah karena taat kepada-Nya.

Tidak jarang kekuasaan dan kerajaan diberikan kepada orang yang

justru dibenci-Nya. Dia juga menghamparkan dunia kepada orang yang

sebenarnya tidak dilihat-Nya, lalu membuatnya berkuasa terhadap

orang-orang shalih. Karena berkuasa, para raja itu membunuhi orang-

orang yang shalih dan wali-wali Allah, sehingga apa yang dilimpahkan

Allah kepada mereka merupakan dosa bagi mereka dan bukan

merupakan anugerah bagi mereka. Yang demikian inilah yang termasuk

dalam firman Allah,

f

1.

^\VA Ji} j I j

"Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanjalah supaya

hertambah-tamhah dosa mereka. “(Ali Imran: 178)

1 8 7

2. Iblis berkata kepada mereka, “Kekuasaan itu memerlukan pamor.

Karena itu mereka pun bersikap takabur, tidak mau mencari ilmu,

duduk bersama para ulama, mengamalkan pendapat para ulama dan

a g a m a .

Sebagaimana yang sudah diketahui, tabiat itu mencuri dan orang-orang

yang berdekatan. Jika para penguasa yang lebih mementingkan

keduniaan ini bergaul dengan orang-orang yang tidak mengetahui

syariat, maka tabiat akan mencuri dari orang-orang yang bodoh itu

dengan segala sifat yang dimiliki, tidak mau melihat apa pun yang

menghalanginya, tidak mau mendengar apa pun yang menghardiknya,

dan ini semua merupakan penyebab kehancuran.

Iblis membuat para penguasa itu selalu merasa takut terhadap musuh,

memerintahkan agar mereka mengokohkan pertahanan, agar apa yang

ada di tangan tidak bisa terjarah.

Abu Maryam Al-Asadi meriwayatkan dan Nabi S, beliau bersabda,

3 .

i i L l L i

a^ ^

‘̂ arangsiapa yang diangkat Allah menjadi waliyul-amri dan sebagian

orang-orangMusHm, lalu dia tidak memenuhi kebutuhan heperluan dan kefakiran

mereka, maka Allah wa Jalla tidak akan memenuhi kebutuhan, keperluan

dan kefakirannya. ”(HR. Abu Daud, Al-Hakim dan Ath-Thabrani)

Mereka mengangkat orang-orang yang tidak mumpuni dan mereka

yang tidak mempunyai ilmu dan tidak kuat, lalu dengan mudah dia

menguasai mereka untuk menzhaUmi manusia, memberi mereka gaji

dari basil yang haram, bersikap keras kepada orang yang seharusnya

tidak diperlakukan seperti itu, dan mereka pun mengira akan terbebas

dari hukuman Allah, karena mereka hanya sebagai pembantu penguasa.

Sama sekali tidak. Jika seorang penanggung jawab zakat mengangkat

orang-orang fasik untuk membagi-bagikan zakat dan mereka

berkhianat maka penanggung jawab zakat itu juga akan dimintai

tanggung jawabnya.

u r u s a n

4.

1 8 8 Perangkap Setan

Iblis membujuk mereka untuk bertindak menurut pikirannya. Maka

mereka memberikan bagian kepada orang yang sebenarnya tidak boleh

diberi bagian, membunuh orang yang sebenarnya tidak boleh dibunuh,

lain mereka beranggapan bahwa semua ini untuk pertimbangan politik.

Lebih jauh lagi, mereka beranggapan bahwa syariat Islam masih ada

yang kurang, sehingga perlu dilengkapi. Karena itu kita bisa

melengkapinya dengan pendapat kita.

Ini merupakan tipu daya yang paling buruk. Sebab syariat merupakan

aturan Ilahi. Jelas tak mungkin ada celah dalam aturan Ilahi, yang

dimaksudkan untuk mengatur makhluk. Firman Allah,

‘'Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitah. ”(A1 An’am 38)

'T>an, Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nja), tidak ada yang

menolak ketetapan-Nja. “(Ar-Ra’d: 41)

Seorang politikus yang menganggap ada celah di dalam syariat, sama

dengan kufur. Ada riwayat yang sampai kepada kami, bahwa ada

seorang penguasa yang jatuh hati kepada seorang gadis. Hatinya benar-

benar galau memikirkan gadis tersebut. Lalu dia memerintahkan agar

menenggelamkan gadis itu, agar hatinya tidak lagi terganggu, lalu dia

pun terganggu dalam mengurus negara. Tentu saja ini merupakan

tindakan yang gila. Sebab membunuh orang Muslim tanpa ada

kejahatan yang dilakukannya adalah tidak boleh. Keyakinannya bahwa

tindakannya ini diperbolehkan adalah kufur. Jika dia melihat tindakan

ini tidak boleh, namun dia melihatnya dari segi kemaslahatan, maka

tidak ada istilah kemaslahatan untuk sesuatu yang bertentangan dengan

syariat.

Iblis membisikkan kepada mereka untuk menguasai harta, dengan

anggapan bahwa semua harta ada dalam kekuasaannya. Ini merupakan

talbis Iblis, yang bisa disingkap dengan kebiasaan manusia untuk

bersikap ekonomis dalam membelanjakan uangnya sendiri. Lalu

bagaimana dengan seorang upahan yang diperintahkan untuk menjaga

harta orang lain? Dia boleh mendapat bagian uang menurut kadar

pekerjaannya dan tidak mempunyai kekuasaan untuk mempergunakan

harta yang dipercayakan kepadanya.

Ibnu Aqil berkata, “Telah diriwayatkan dari Hammad, bahwa dia

pernah melantunkan beberapa bait syair di hadapan Al-Walid bin Yazid.

5.

6 .

1 8 9Bab VII: Talbis Iblis Terhadap Para Penguasa

Lalu Al-Walid memberinya lima puluh ribu dirham dan dua budak.

Dia berkata, “ini terjadi karena dia menyampaikan pujian terhadap Al-

Walid, yang sebenarnya merupakan celaan baginya, sebab dia telah

menghambur-hamburkan uang yang diambil dari Baitul-mal milik

orang-orang Muslim.”

Kebalikan dari menghambur-hamburkan uang adalah mencegah

pemberian harta kepada orang yang berhak menerimanya.

Iblis membisikkan kepada mereka unmk melakukan kedurhakaan dan

memperdayai mereka bahwa tindakan mereka yang mengamankan

keadaan negara bisa mencegah mereka dari hukuman macam apa pun.

Untuk menanggapi hal ini dapat dikatakan, “Kalian diangkat sebagai

waliyul-amri agar kalian menjaga stabilitas negara dan mengamankan

jalan-jalan. Itu merupakan kewajiban kalian, kedurhakaan yang kalian

lakukan tetap dilarang dan hal ini tidak ada keringanan bagi kalian.”

Iblis memperdayai mayoritas di antara mereka, bahwa mereka telah

melaksanakan apa yang diwajibkan. Hal ini bisa dilihat bahwa segala

permasalahannya sudah berjalan sebagaimana mestinya. Padahal kalau

disimak lebih lanjut, di sana masih banyak terdapat celah yang hams

d i b e n a h i .

Iblis menjadikan mereka memandang bagus tindakan mereka yang

merampas harta, memerintahkan manusia untuk mengeluarkan harta

lewat pajak yang mencekik leher, lalu mengangkat orang-orang yang

suka berkhianat. Padahal seharusnya seorang penguasa menindak

secara nyata siapa pun yang berkhianat.

Kami meriwayatkan dari Umar bin Abdul-Aziz, bahwa ada seorang

pemuda yang menulis surat kepadanya, “Sesungguhnya ada beberapa

orang yang berkhianat dalam mengurus harta Allah. Aku tidak sanggup

lagi meminta kembali apa yang ada di tangan mereka, kecuali dengan

c a r a k e k e r a s a n . ”

Lalu Umar bin Abdul-Aziz menulis surat balasan, yang isinya,

“Andaikata orang-orang itu bertemu Allah dalam keadaan berkhianat,

itu lebih kusukai daripada aku menemui mereka, sedang mereka dalam

keadaan ber lumuran darah.”

7.

8 .

9 .

Ini merupakan gambaran keadilan dan benih yang muncul karena takwa dan wara’.

1 9 0 Perangkap Setan

Iblis menjadikan mereka memandang bagus tindakan mereka yang

mengeluarkan uang setelah marah-marah. Menurut pandangan mereka,

hal ini dapat menghapus apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Iblis berkata, “Shadaqah senilai satu dirham dapat menghapus dosa

sepuluh kali marah.” Tentu saja ini sesuatu yang mustahil. Dosa karena

marah tetap ada, dan shadaqah satu dirham yang dikeluarkan karena

marah, tidak mendatangkan pahala. Shadaqah itu- harus dikeluarkan

dari sesuatu yang halal, dan juga tidak dapat mengenyahkan dosa marah.

Sebab memberi seorang fakir tidak bisa menghapus dosa yang

dilakukan terhadap orang lain.

Iblis menjadikan mereka memandang bagus kedurhakaan yang

dilakukan terus-menerus, dengan cara mengunjungi orang-orang shalih

dan meminta doa kepada mereka. Dalam pandangan mereka, hal ini

bisa meringankan dosa karena kedurhakaan yang dilakukan. Perlu

diketahui, kebaikan semacam ini tidak bisa menghapus kejahatan.

Di antara mereka ada yang bertindak demi atasannya, lalu

memerintahkannya untuk berbuat zhalim. Maka Iblis memperdayainya

dengan berkata, “Dosanya akan ditanggung atasanmu dan bukan ada

di pundakku.”

Tentu saja ini anggapan yang batil. Sebab dia termasuk orang yang

membantu kezhaliman atau kedurhakaan. Rasulullah ^melaknat

sepuluh orang yang berkaitan dengan khamr, juga melaknat pemakan

riba, wakilnya, penulisnya dan saksinya. Yang serupa dengan ini adalah

mengumpulkan harta bagi atasannya, padahal dia tahu atasannya akan

menghambur-hamburkan uang tersebut dan berkhianat. Yang demikian

ini juga disebut membantu kezhaliman.

Malik bin Dinar berkata, “Cukuplah seseorang disebut pengkhianat

selagi dia melindungi suatu pengkhianatan.”*

1 0 .

11 .

12.

1 9 1Bab VII: Talbis Iblis Terhadap Para Penguasa

!1‘ ’X t''JUi Tu

if ij r

! » t

3 l

i lolui'jfT' ai;;ji^hqp ,ei^ftd ^^ru/a irn nia-v&ea ^ i l ( ^ > ( ' i i

’^jieKrt nft.uni i>nxMj .fjb̂ UBoî cktam rUb]̂  ; n£u.ne;iî sib̂ ^

! i - ;1

1

i

IiDO- j - i r

>

■■ tivoi :)£96 ifVii b^iods ; K ) a ? h ^ s U c fl

T! ' ■ * ’ ‘ ‘ ^

tfts? 4itp<i.‘«/{e.a£b !ri/::!s4^

I

V

.

7 ' i f

I

:

;-#n AC<»b.i

\ti Wz«ft ftjkjb i^d r i ^ o u m

'i j j i i fi i J 4 a u & q c h j s f h ^ t

I o£B î̂ Hxub:ut ^U7;g£t:t goidjn&msoi

4ii» )̂tfto-̂ Qa:u î;[Cudn^U'n ios:/ rts^nsb

e£^i3co a^iaib^ci.Jfy^^ -gafetofi r;b«q2d nob taomim fufa

.d£3(u7t^)il} Pcj^Kdauib:»2l 9gut;>. fx&4n&i^^0tii t:*i6

[ £^td JWiu uifecniaw*?® , i n r l i j 9 ; J i t

A

12 4

1

I

O '

' i i

i . i

}i5:1r

&

)

I irn^b khu fidsiimi £is3q» fd ^

îinxpnm eitd} *.rniiiuix i&udiud Asmw ĉ ŝidjenhsiio^ *

r̂ f̂ d anr]iiB:i£T& ̂Kj|̂ â ib 08;j}̂  i.-((4£̂ QCr* «UiU&d

. ) .

#

r

> k i

J

i 1 .\ r r

Ii

^oi io i l i ic£fni:>!.fitb dftcla^ J^diui Rf«e,<rtf?c>rt

ibcrt (M qsiC^iiiU'iyt pjtjs ^u^ulsdsa^ unutd^fft '

;lai:>u> tt^ .i<n«r1;l d u k > q A «

Iq} tiB^psb nr^uv>i^tui( o^ii K^?git*n^^;alU|iw ^di?

f|HL- 74^^A?,aas^ia cirki fiih ,jr̂ anA2&]L q̂ d £iiBd fi£̂ (Un]fm î;parĵ

.xiBfrabffcJ i/jĵ dfn3friiuda8ifa-65(ui î  ;; J

lodsaib gojrKi3K3?^ste^fead. iJUTiG^ ‘

■' .mncnstfb^pdq ui&a$ igmtbmtam &i>> !

\

I .

! fd i n n

i I

{!J

i

r «

T

4

■ ‘ t - !

j j

Hl 1#U!

* I

{

f.

!1

i n i i 1 i ;I

I

I r - 1̂'i ■

1 i4

j

e

\4 fi \:

i

(I Ii

! J

I

T=1>

li\

\: r#® (J «itiH 4sil<n ?«UuT *.^ »!dSi

i 1

l i u . t ^

b - J i . . .A . i A

Bab VIII:

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah

dalam Berbagai Macam Ibadah

k ETAHUILAH bahwa pintu terbesar yang dimasuki Iblis terhadap

diri manusia adalah kebodohan. Iblis menyusup ke dalam diri orang-

orang yang bodoh dengan berbagai anggapan. Sedangkan orang yang berilmu

tidak bisa disusupi Iblis, kecuali dengan cara mencuri-curi jalan. Iblis telah

memperdayai para ahii ibadah karena minimnya ilmu mereka. Sebab mayoritas

di antara mereka hanya menyibukkan diri dalam urusan ibadah dan tidak

m a u m e n d a l a m i i l m u .

Talbis Iblis yang pertama terhadap mereka, ialah mereka lebih

mementingkan ibadah daripada ilmu, padahal ilmu lebih utama daripada

ibadah nafilah. Iblis menampakkan kepada mereka bahwa maksud ilmu adalah

amal. Sementara yang mereka pahami tentang amal ini hanya sekadar amal

anggota tubuh, dan apa yang harus mereka ketahui, bahwa amal itu adalah

amal hati, dan amal had lebih utama daripada amal anggota tubuh.

Mutharrif bin Abdullah berkata, “Keutamaan iknu lebih baik daripada

keutamaan ibadah.”

Yusuf bin Asbath berkata, “Satu bab ilmu yang engkau pelajari, lebih

baik daripada tujuh puluh orang yang berperang.”

Al-Mu’afi bin Imran berkata, “Menulis satu hadits lebih aku sukai

daripada shalat sepanjang malam.”

1 9 3

Ketika talhis Iblis ini mengena, lalu mereka lebih mementingkan ibadah

daripada ilmu, maka terbuka kesempatan bagi Iblis untuk mendptakan talbis

yang lain dalam berbagai macam ibadah Di antaranya:

Talbis Iblis dalam Masalah Hadats dan Sesuatu yang Dianggapnya

L e b i h B a i k

Iblis menyuruh mereka untuk berlama-lama berada di dalam WC.

Padahal yang demikian itu bisa mengganggu fungsi paru-paru. Seseorang

boleh berada di dalam WC menurut kadarnya. Di antara mereka ada yang

buang hajat sambil berdiri, berjalan atau sambil berdehem-dehem, atau

mengangkat salah satu kakinya, dengan anggapan untuk menuntaskan kotoran

yang masih ada di dalam. Padahal jika yang demikian ini terus-menerus

dilakukan bisa menyebabkan keluarnya air kendng. Penjelasannya, karena

air kendng mengalir ke kantong kemih dan dikumpulkan di sana. Jika

seseorang berkeinginan untuk kencing, maka air kencing yang sudah

terkumpul ini akan keluar. Jika dia berjalan atau berdehem-dehem, maka air

kencing yang lain akan tetap menetes terus. Dia cukup menghentikan yang

terasa merembes dengan menjepit penisnya dengan dua jari lalu

membersihkannya dengan air.

Di antara mereka ada yang menganggap baik penggunaan air yang

melimpah. Dia baru merasa puas jika dapat menghilangkan hadats sebanyak

tujuh kali sesuai dengan madzhab yang paling keras. Siapa yang tidak puas

terhadap ketetapan syariat, maka dia layak disebut ahli bid’ah, bukan orang

yang melakukan itha\

Talbis Ib l is dalam Masalah Wudhu^

Di antara mereka ada yang diperdaya setan dalam masalah niat, dengan

berucap, “Aku berniat menghilangkan hadats.” Lalu berkata, “Untuk sahnya

shalat.” Lalu berkata lagi, “Aku berniat rnenghilangkan hadats.”

Sebab talbis Iblis ini ialah kebodohan terhadap syariat. Sebab yang

namanya niat itu ada di dalam had, bukan dengan lafazh. Memaksakan niat

dengan lafazh merupakan sesuatu yang sama sekali tidak diperlukan, di

samping tidak ada maknanya.

Di antara mereka ada yang dikecoh Iblis tatkala memandang air yang

digunakan untuk wudhu’, dengan berkata, “Dari mana engkau tahu bahwa

1 9 4 Perangkap Setan

air itu suci?” Lalu dia membuat berbagai kemungkinan yang macam-macam.

Padahai fatwa syariat sudah cukup baginya bahwa dasar hukum air adaiah

suci. Yang dasar ini tidak boleh ditinggalkan hanya karena kemungkinan-

kemungkinan.

Di antara mereka ada yang dikecoh dengan masalah banyaknya air.

Padahai banyaknya air menghimpun empat macam kemakruhan:

Berlebih-lebihan dalam penggunaan air

Menghabiskan wakru yang sangat beharga dalam perkara yang bukan

wajib dan bukan pula sunat.

Melangkahi syariat, karena dia tidak merasa puas terhadap sesuatu yang

sudah dicukupkan syariat, kaitannya dengan penggunaan air yang

sedik i t .

Memasuki perkara yang ddarang, berupa sikap yang berlebih-lebihan

dalam tiga perkara di atas.

Adakalanya dia wudhu’ dalam jangka waktu yang lama, sehingga

tertinggal waktu shalat, atau tidak bisa shalat pada awal waktu atau ketinggalan

mengikuti shalat jama’ah. Andaikata dia memikirkan urusannya, tentu dia

akan tahu bahwa dia telah melakukan sesuatu yang kontradiksi dan juga

berlebih-lebihan. Kita sering melihat orang yang sangat memperhatikan

masalah was-was ini, sementara dia tidak mau memperhatikan masalah makan

dan minumnya, tidak menjaga lidah dan ghibah. Andaikan saja dia mau

membalik urusannya. Di dalam sebuah hadits disebutkan dari Abdullah bin

Amr bin Al-Ash, bahwa Nabi ̂ pernah melewati Sa’d yang sedang wudhu’,

lalu beliau bertanya, “Mengapa engkau berlebih-lebihan seperti ini wahai

Sa’d?”

1.

2 .

3.

4.

Sa’d ganti bertanya, “Apakah di dalam wudhu’ juga ada istilah berlebih-

l e b i h a n ? ”

Beliau menjawab, “Benar, sekalipun engkau berada di sungai yang

mengahr.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Dari Abu Na’amah, bahwa Abdullah bin Mughaffal mendengar

anaknya berkata (berdoa), ‘Y^a Allah, sesungguhnya aku memohon surga

12

’’ Sanadnya hasan, sekalipun ada yang dibicarakan dalam sanadnya {Huyai Al'Mu’afirt). Kamijuga

menyebuckan hadits ini dalam buku yang lain, bahwa riwayat Qutaibah dan Abu Luhai’ah ini bagus

dan shahih insya Allah.

1 9 5Bab VIIl: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...

Firdaus kepada-Mu, aku memohon istana bewarna putih di sebelah kanan

dari surga saat aku memasukinya.”

Lalu Abdullah berkata, “Mohonlah surga kepada Allah dan

berlindunglah dari neraka. Karena aku mendengar Nabi #bersabda,

“Akan muncul di tengah umac ini segolongan orang yang berlebih-lebihan

dalam berdoa dan bersud." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dari