• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Santet 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santet 1. Tampilkan semua postingan

Santet 1



Maka mulailah kami dalam perjalanan spiritual kami sendiri dalam menulis artikel  

tersulit yang pernah kami tulis ini, tentang santet dari kaca mata penglihatan spiritual 

kami. Dan harga yang kami bayar untuk mewujudkan artikel  ini di tangan Anda, 

pembaca terkasih, telah sangat mahal kami bayar. Saya pun telah tersantet dengan 

mantap, sampai harus masuk penjara dengan vonis 5 tahun dan denda 100 juta. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), SANTET yaitu  sebuah kata benda 

yang berarti SIHIR. Kata kerjanya yaitu MENYANTET berarti MENYIHIR.  Sihir 

menurut kamus tersebut yaitu  juga sebuah kata benda yang berarti: Perbuatan ajaib 

yang digunakan dengan pesona dan kekuatan gaib. Ajaib yaitu  sebuah adverb, yang 

menurut KBBI, bermakna: ganjil; aneh; jarang ada; tidak seperti biasa. Sementara 

Gaib yaitu  sebuah kata kerja, bermakna: Tidak kelihatan; tersembunyi; tidak nyata. 

Sementara itu, makna santet yang selama ini dipahami kebanyakan orang yaitu  

sesuatu yang dilakukan sendiri atau dikerjakan oleh orang lain yang kita mintakan 

bantuan, dukun santet, untuk mendatangkan kerugian dalam berbagai bentuknya bagi 

orang yang menjadi target santet, dengan melakukan ritual tertentu untuk meminta 

bantuan jin atau kekuatan hitam, dan jin tersebutlah yang akan melakukan pekerjaan 

tersebut. Kita bisa melihat setidaknya ada 5 pihak yang terlibat di sini: 1) Penyantet, 

2) Target santet 3) Sub-contractor, seorang tukang santet, 4) Jin pelaksana dan 5) 

Allah swt. Pemilik izin dari segala izin, yang segala hal termasuk santet terjadi atas 

izin-NYA. Dan dalam kenyataannya, santet dengan jin ini, lebih banyak fitnah yang 

ditimbulkannya dibandingkan  bukti mengenai keterjadiannya.  

“Ternyata yang lebih berbahaya dari santet dengan kekuatan jin, yaitu  tuduhan 

atau fitnah keji yang ditimbulkannya, sehingga telah membuat ratusan orang yang 

tidak bersalah mati terbunuh sebab  fitnah—atau hidup mereka dibuat berantakan 

sebab  fitnahnya itu.” 

 

Oleh sebab  itu terasa musykil, saat  negara ingin juga berniat menjulurkan tangan 

kekuasaannya terhadap hal ini. Namun demikian, RUU Santet pun sampai sekarang 

belum disahkan menjadi sebuah UU, sebab  akan teramat sulit dalam 

pembuktiannya—meskipun kadang bukti yang kokoh tidak selalu menjadi dasar 

dijatuhkannya hukuman pada seseorang—meskipun banyak sekali orang yang 

mengaku pandai menyantet. Namun penerapan hukum yang hanya dilandaskan pada 

adanya pengakuan sangat lemah dalam penegakkan keadilan dari sebuah perkara 

hukum. Santet dengan jin belum bisa dibuktikan secara ilmiah hingga sampai saat ini. 

Kalau pun Permadi─seorang paranormal terkenal pada jamannya─pernah bersikeras 

mengatakan bahwa santet jenis ini bisa dibuktikan secara ilmiah dengan cara rontgen, 

dan dari hasilnya kita mungkin bisa melihat adanya media santet jin serupa paku, silet 

dsb. Namun pembuktian tersebut─jika memang ada─hanya membuktikan keberadaan 

benda-benda tersebut di dalam tubuh seseorang, namun tidak bisa membuktikan 

bahwa pemicu nya yaitu  santet dengan jin.  

 

Makna SANTET yang akan kita bahas dalam artikel  ini pun yaitu  santet dalam artian 

hakikat kekuatan santet manusia, sebatas potensi/fitrah yang berhasil diraihnya. artikel  

yang Anda pegang ini akan mengupas Rahasia ilmu SANTET secara ilmiah atau 

scientific  tanpa perlu pemakaian  bantuan jin, namun memiliki efek membunuh 

yang lebih niscaya sebab  ini telah ter-imprint atau telah terpetakan di dalam sistem 

tubuh kita sendiri, bawaan kita sejak lahir. Dan besar kemungkinan Anda pun─seperti 

kami juga─termasuk salah satu korban santet yang kami maksud. Pemahaman Anda 

terhadap konsep yang kami sajikan di dalam artikel  ini akan segera menyadarkan Anda, 

mematahkan santet yang sedang Anda derita, dan sekaligus menjadi anti-santet bagi 

Anda dan orang-orang yang Anda cintai, mulai sekarang dan selamanya. Amin. 

 

sebab  santet yaitu  sebuah fenomena keseharian, dan ternyata tertuduhnya sebagian 

besar seharusnya yaitu  ia yang terkena 4 jari tangan yang lainnya saat  menunjuk 

pihak lain, maka kami menulis artikel  ini. artikel  ini sama sekali tidak mudah untuk 

ditulis, kami membutuhkan perenungan dan riset yang mendalam selama bertahun-

tahun, itu pun mungkin belum terlalu dapat memuaskan hati kami sebagai penulisnya. 

Namun setidaknya, artikel  ini akan memantik pemikiran ke arah yang tidak Anda duga 

sebelumnya. Semoga Anda bisa menemukan sesuatu yang tidak pernah Anda 

temukan sebelumnya di artikel -artikel  yang lain yang pernah Anda baca. sebab  itulah 

tujuan kami dalam setiap proyek penulisan artikel  yang kami lakukan—jika tidak 

menantang dan mengurai pemikiran, kami tidak akan memilih topik itu. Bagi kami 

menulis artikel  yaitu  sebuah proses kreatif, sekaligus pembuka pipa curahan ilham 

dan rahmat-Nya melalui hati kepada tulisan, sebab  setiap kali kami berniat menulis 

tentang sebuah topik, kami selalu tidak tahu apa yang akan tertulis di sana, dan 

kemudian kami terbengong-bengong saat  ia sudah tersusun dalam sebuah artikel . Ya! 

Selalu begitu. 

 

Sebagian artikel  ini diselesaikan dibalik jeruji penjara—ya, kami telah terkena salah 

satu SANTET yang dibahas juga di dalam artikel  ini—perjalanan spiritual yang 

 7 

melintasi masa ini, akan juga memberi  sentuhan tersendiri pada cita rasa artikel  ini. 

Semoga artikel  ini bermanfaat bagi kita semua. Sebelum memulai membaca artikel  ini, 

mari kita renungkan apa itu makna kemusyrikan, sebab  biasanya kata itu dilekatkan 

kepada artikel  karya-karya kami yang sebelumnya—oleh mereka yang bahkan tidak 

pernah membaca artikel -artikel  kami itu, mereka hanya membaca kovernya saja—mari 

kita resapi penjelasan dari salah satu ulama, Prof. Dr. Buya Syakur Yasin/Buya 

Syakur, saat  beliau menjawab satu pertanyaan klasik tentang kemusyrikan—pada 

sebuah sesi tanya jawab pengajian—dengan tata bahasa yang ringan dan 

meringankan, sbb: 

 

Pak Soleh: “Bagaimana antara musyrik dan tauhid batasnya ini, sehingga orang 

tidak mudah mengatakan misalnya, .... Kamu musyrik! Keinginan untuk dipuji juga 

musyrik dan sebagainya?” 

 

Buya Syakur: “Kalau Musyrik itu konsekuensinya apa?”Konsekuensi dari 

kemusyrikan itu, seseorang melakukan kemusyrikan, apa konsekuensi yang 

ditakutinya itu. Orang makan di jalanan, makan jajan aja ciki-cikian yang ada 

boraknya, yang ada formalin, dilarang, “Nak jangan makan makanan pasar begitu, 

dilarang makan seperti itu. Apa konsekuensinya, makan makanan yang banyak borax, 

formalin-nya, apa konsekuensinya?”  

 

Pak Soleh: “Kena penyakit.” 

 

Buya Syakur:  “Ya kena penyakit, kalau orang itu musyrik, apa konsekuensinya? 

(menunggu jawaban). Orang itu musyrik, iya kan, lalu apa konsekuensinya? Dari 

kemusyrikan ini, apa akibatnya dari kemusyrikan ini? Konsekuensinya itu? Masuk 

Sorga? Atau rezekinya banyak gitu? Apa konsekuensinya?”  

 

Pak soleh: “Euh, menyekutukan Allah?”  

 

Buya Syakur: “Iya, setelah menyekutukan Allah, apa konsekuensinya? Nah itu kan 

jadi persoalan. Nah ini, sesungguhnya, yang saya maksudkan, bahwa kemusyrikan itu 

lebih banyak yang tidak kelihatan, yang tidak disadari, yang tidak dirasakan yang 

tidak diketahui, yang tidak dipelajari. Kemusyrikan yang tersembunyi itu, jauh lebih 

banyak dibandingkan  kemusyrikan yang kelihatan. Ibu-ibu sekalian, binatang ini, mana 

yang lebih banyak, yang di darat atau yang di dalam lautan yang paling banyak? Di 

daratan? Jumlah binatang yang darat dan yang di laut, banyak mana?  

 

Ibu-Ibu pengajian serempak: “Di lauuut.”  

 

Buya Syakur: “Iya, ribuan kali lipat, daratan ini hanya berapa persen isinya, hanya 

5% ya? 15%? Dari permukaan bumi semuanya? Binatangnya dari yang terkecil 

berbentuk plankton, sampai ikan paus yang panjangnya 30 m, itu hanya di lautan. 

Jadi binatang yang tidak kelihatan, lebih banyak dibandingkan  binatang yang kelihatan. 

Kemusyrikan yang kelihatan itu hanya sedikit, yang lebih banyak yaitu  kemusyrikan 

yang tidak kelihatan. Yah! Begini, ucapan kita, pikiran kita, khayalan kita, imajinasi 

kita, perbuatan kita, semuanya kalau kita tidak berhati-hati, semuanya sudah berbau 

kemusyrikan. Semua! Salah satu yang tertuduh kemusyrikan, yaitu  persoalan jimat-

jimat. Dan saya tukang ngasih jimat.” 

  


Kemudian, Buya Syakur melanjutkan penjelasannya:  

 

“Kenapa ngasih jimat musyrik? sebab  memicu  kepercayaan bahwa benda itu 

memiliki  kekuatan, oke? Oke? Paham, semua? Udah paham Bu? Semuanya? 

Okeh! Sekarang, katakanlah ada orang yang mau berburu di hutan, dia saya kasih 

jimat keselamatan, supaya gak dimakan macan. Lalu teman berburunya, dikasih 

pistol oleh atasannya. Siapa yang lebih berani masuk hutan? Yang bawa pistol atau 

yang bawa jimat? Jadi lebih besar mana kemusyrikannya? Begitu kita muncul adanya 

ketergantungan kepada sesuatu yang bisa melindungi, kita sudah musyrik, berarti 

jika jimat dibandingkan dengan pistol mana lebih besar kemusyrikannya? pistol!” 

 

Beliau melanjutkan: 

 

“Oke ... nih ibu-ibu, kalau ke mall, hanya membawa duit Rp 50,000, pasti langsung 

menuju barang yang benar-benar dibutuhkan, ngaku aja deh ... ngaku aja (terkekeh) 

... gak berani lihat-lihat barang barang lainnya, terus langsung ke tempat tujuan, beli 

Softex! Tapi begitu bawa duitnya Rp10 juta, masya-Allah. telang teloooong ... begitu 

gagahnya. Bayangkan, berarti uang juga mengubah perilaku kita. Menjadi 

sombong, menjadi yakin, menjadi menghinakan orang lain, berarti uang juga 

kemusyrikan. Yah! Ini persoalannya. Nah ... yang keliatan mata, namanya asyirkul 

jali, yang tidak keliatan namanya asyrikul kohfi, dua-duanya sama-sama musyrik, 

jadi di situ persoalannya. Jadi saat  orang itu (menuduh orang lain), “Musyrik! 

Musyrik! Musyrik!” itu orang jangan-jangan tidak paham maknanya kemusyrikan. 

Oke!?”  

 

“Ada lagi yang lebih jahat dibandingkan  musyrik. Kalau musyrik kan mempersamakan 

Tuhan dengan yang lain, sekarang ada orang di antara kita tertindih hutang. 

Rumahnya terancam disita oleh bank, sawah mobil sudah diambil, pusing dia. 

Kemudian dia mengejar pertolongan dari pamannya, seorang jendral di Jakarta. 

saat  pamannya gak bisa nolong, sedih hati lagi. Kemudian dia mengejar 

keponakan di Bandung, juga gak bisa nolong, menantu di Surabaya gak bisa nolong. 

Akhirnya datang ke kompleks pemakaman dan masjid Sunan Gunung Jati, nyungseb 

nangiiiis, berdoa lagi, sembahyang lagi, puasa ... ini fenomena begitu kita lihat kan? 

Itu artinya, setelah meminta tolong kepada sahabat, kerabat, sodara gagal, terakhir 

baru minta kepada Allah, artinya Allah ditaro nomor teit,” jadi Allah ditaruh di 

belakang. Bayangkan! Ini yaitu  sebuah penghinaan, sebab  Allah hanya dijadikan 

cadangan terakhir.”  

 

Ini, kalau kita, semuanyaaa ... ini yang penting begini aja lah, ini kalau ada orang 

yang menuduh-nuduh orang lain musyrik, itu orang ... yakiiiin dirinya suci dari 

kemusyrikan? Sama halnya dengan yang menghina, “Melarat! Melarat! Melarat!” 

Kaya gak nih orangnya nih? Yang mengatakan, “Melarat! Melarat! Miskin! 

Gembel!” Yang menghina orang miskin, siapa yang menghina demikian? Apakah 

orang miskin? Pasti yang merasa kaya. Berarti yang suka menuduh orang. “Musyrik! 

Musyrik! Musyrik!” berarti dia orang yang meyakini dirinya suci dari kemusyrikan.  

 

“Mudah-mudahan betul ya, mudah-mudahan dia itu orang yang betul-betul tidak 

pernah bersentuhan dengan kemusyrikan, amin! Doain saja, jangan marah. Dan kita 

saat  ditegur oleh mereka, “Musyrik!” Jangan marah. Coba dipikirkan, barangkali, 

iya ... iya dong! Nah! Ini yang jadi masalah, bukan proses tegur menegur. Orang di 

 9 

alam dunia ini, ibu sekalian, tidak bisa dihindari bahwa manusia itu harus ada input, 

saran, ada usulan, ada teguran, ada bantuan, ada pertolongan, itu kan apa namanya, 

norma kehidupan, manusia itu hidup yaitu  inter-dependensi tidak bisa dihindari, 

saling bantu, saling ketergantungan, nah! Makanya, menegur, menyapa, memberi 

saran, mengkritik, itu yaitu  fenomena kehidupan yang wajar.” 

 

“Ketentuan musyrik dan tidak itu pada akhirnya yaitu  bukan fenomena yang kita 

lihat dengan mata. Kemusyrikan itu adanya di dalam hati kita. Oke sekarang saya 

nanya. Saya ngasih jimat sama Yaul, dikantongin, musyrik enggak? Tergantung 

keyakinan! Ah betul! Yang mengatakan musyrik apa alasannya? Meyakini adanya 

kekuatan lain selain Allah. Tadinya dia masuk hutan tidak berani, saya kasih kulit 

macan, jadi berani. sebab  binatang yang melihat dia akan terlihat seperti macan, 

jadi akan pada lari ketakutan semua. Nah sekarang saya nanya, saat  kamu ke 

Jakarta, gak bawa duit, jalan kamu nunduk kok, tekluk, tekluk. Begitu kamu bawa 

duit, kamu penuh keyakinan, kamu lebih yakin kepada uang dibandingkan  kepada jimat 

itu! Jadi mana yang lebih besar kemusyrikannya? Ah itu. Gimana lagi? Anda baru 

punya paman jendral saja sudah petantang petenteng, lebih yakin kepada pamanmu 

dibandingkan  kepada Allah, siapa yang musyrik?”  

 

“Kemusyrikan itu ada di dalam hati kita sendiri. Betul Kang? Lah ... baru punya 

anak jadi pangkat itu saja sudah bukan main ngomongnya, yakin banget. Ya Allah Ya 

Robbi ... bagaimana saya melihat bahwa kemusyrikan itu 85% ada di dalam materi. 

Bukan berhala-berhala itu, percaya gak? Ya iya. Ada yang menaruh kemusyrikan itu 

di dalam jimat, ternyata kemusyrikan itu ada di dalam kantong atau dompet Anda 

juga. Setuju enggak. La iya ini Anda bicara tentang kemusyrikan, Anda paham nggak 

kemusyrikan itu apa? Tidak akan sama halnya antara menganggap masing-masing 

dari kita bener: saya bener, kamu juga bener. Tidak masalah. Yang jadi masalah 

saat  Anda menyalahkan orang lain, sebab  Anda telah melampaui batas, Anda 

telah merasa paling benar sendiri. Orang bener tidak akan menyalahkan orang lain, 

tapi orang yang paling benar sendiri, nah itu persoalannya. Jadi bibitnya radikalisme 

yaitu  dari merasa paling benar sendiri.” 

 

“Ini begini, kita kalau belajar tentang akidah yang sebenernya, percaya, setiap kita 

nafas keluar masuk, itu penuh dengan dosa-dosa, penuh dengan kemusyrikan-

kemusyrikan, maka nabi sehari 100 kali bertobat, percaya gak? Nih, liat ke sawah 

ternyata gagal panen kena klowor, langsung meriang! Nanti saya makannya 

bagaimana? Pulang dari sawah nangis, beriman gak dia? Ternyata masih mengeluh 

juga dengan keputusan Allah, paham enggak? Percaya enggak? Jika seorang atasan 

mengatakan, “Masa depanmu ada di ujug penaku ini, jangan macem-macem! 

musyrik enggak? Kita sering disakiti dengan orang yang menolong kita, “Kalau gak 

gue tolong, sudah mampus lo! Semua ucapan yang kita ucapkan yaitu  ucapan 

penuh kemusyrikan. Kalau bukan aku yang berdakwah, tidak mungkin Islam tersebar. 

Musyrik bukan? Kiai mengatakan, “Kalau bukan aku yang mengajari kamu ngaji?” 

Kiai nih yang ngomong, musyrik gak? saat  kamu tertindih utang, bank nagih, 

rumah terancam disita yang terbayang, mertua yang kaya. Gagal, nyari paman yang 

jadi jendral, gagal cari ponakan yang jadi pengusaha, Tuhanmu terakhir! Yang 

berhak untuk menyatakan seseorang itu, kafir, (murtad), musyrik, bidah itu bukan 

kamu! Allah yang menentukan! Setop!” 

 

 10 

“Phieeew (mengusap keringat) ....” Dan sekarang, pembaca sekalian yang budiman, 

mari kita mulai membaca artikel  yang sangat menarik ini. 

 

Bismillah .... 

 

Rumah Tahanan Kelas 2B Pandeglang, Banten 2019. 

 

 

 

 

 

Bagian 1: Semua Orang Pernah Terkena Santet dan atau Menyantet 

 

Kisah Tersantet 

 

Muntah Darah 

 

Awal Syawal 1437 H/pertengahan Juli 2016, Pukul 10 malam, Cibitung Banten Ki 

Ngawur dan Nyi Damar bercinta melepas rindu, pilu dan penat. Tak seperti biasanya, 

kali itu mereka bercinta seolah itu yang pertama dan sekaligus yang terakhir kalinya 

bagi kami, bergelora, hangat namun sekaligus penuh kegetiran. Klimaks ditandai—

kali itu—dengan keluarnya dahak yang keras dari Ki Ngawur. 

 

“Darah Mah!” 

 

“Apa?” 

 

“Lihat ini!”  

 

Mereka melongo melihat lembar-lembar darah segar yang tertampung di kedua 

telapak tangan Ki Ngawur. Tak lama kemudian Ki Ngawur segera menyambar tissue 

yang ada di dekatnya, sebab  ia kemudian muntah darah secara bertubi-tubi, lembaran 

darah keluar dari mulutnya seperti cairan yang keluar dari botol yang tumpah. Darah 

segar berceceran. 

 

Kengerian menyelimuti mereka berdua. Nyi Damar, tercenung mematung berbalut 

sentuhan dingin dari embun malam yang menyelinap melewati celah anyaman 

dinding bambu rumah mereka. Dahinya berkerut tujuh, ia pun memeras otaknya. 

Betapa terkejutnya ia, suaminya, pilarnya, Ki Ngawur Permana, yang selama ini 

merupakan sebuah simbol kekuatan baginya kini sedang muntah darah tak berdaya di 

sampingnya—sesuatu yang salah telah terjadi ... lagi. 

 

”Apa yang terjadi?” Batinnya sedih. Ki Ngawur tak pernah menderita sakit yang 

berarti selama 8 tahun mereka hidup bersama sebagai suami istri. 

 

“Itu bukan apa-apa Pah, sebentar lagi akan berhenti”, Nyi Damar berusaha 

menenangkan suaminya, padahal sebenarnya ia sedang menenangkan dirinya sendiri. 

Namun memang pada akhirnya itu yang terjadi, lembaran darah yang keluar berganti 

bercak-bercak halus setelah beberapa saat. Mereka berdua pun langsung tenggelam 

 11 

dalam sebuah meditasi. Mereka masuk ke relung batin yang paling dalam, berusaha 

mencari sebuah pencerahan, mengetuk, menggedor, meminta jawaban.  

 

“Tuhanku, apa yang harus kami lakukan?” 

“Tuhanku, ampunilah kami.” 

 

Kisah-kisah Menyantet 

 

Dia pun Menghilang Begitu Saja, Bagaikan ditelan Bumi 

 

“Semangat banget sih lu?” Dahi senior-auditor-ku Meg Keng, berkerut. Tangan 

lentiknya yang dari tadi sedang memegang sebuah majalah berhenti membolak-

baliknya sejenak. Saya bingung harus menjawab apa? Bukankah saya harus selalu 

bersemangat dalam bekerja? Tapi saya hanya tersenyum. Kemudian saya terus 

melanjutkan pekerjaan saya, dengan double semangat. Dan Meg melanjutkan 

majalahnya. Sebagai junior-auditor di sebuah kantor akuntan publik terbaik di dunia 

waktu itu─saya yang berasal dari Garut ini─tentu saja sangat bersemangat menjadi 

bagian darinya, dan dengan hasil dari sebuah semangat tak biasa juga saya bisa lolos 

saringan masuknya. Ya semangat yaitu  modal saya, satu-satunya. 

 

Adegan di atas terjadi sekitar awal tahun 1997, namun sebagai seorang auditor, cita-

cita saya semenjak saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di kampus Fakultas 

Ekonomi UNPAD, saya selalu semangat full gear. Kalau Anda pernah nonton Film 

Zootopia, saya terpana melihat karakter si Carrot, itu saya-banget kalau lagi kerja. 

Naif, lugu, penuh semangat, dan pada akhirnya kecewa sebab  the nice girls don’t get 

the corner office. Saking semangat dan do the best, saya lupa melakukan sosialisasi, 

dimana inilah penentu kemajuan karir kita yang utama—well such as ngerokok 

bareng, kobam bareng etc. Oh ya ... Meg Keng, ia berhasil mulus menjadi asisten 

manajer dan kemudian melaju menjadi salah satu penghuni pojokan kantor. Saya? 

Kehadiran saya hanya akan terasa kalau saya sudah resign dari posisi saya, selalu 

begitu. sebab  para mantan bos saya, selalu berusaha mencari kabar tentang saya, 

pada orang-orang yang mereka anggap dekat dengan saya, itu berarti mereka 

merindukan saya kan? 

 

Dan saya hampir selalu begitu dalam bekerja sebagai karyawan. Meskipun atasan 

saya mungkin fail to see, atau don’t want to see atau too busy to see. Dan kalau ada 

atasan saya yang dont want too see, sengaja sehingga ia lalai mempromosikan saya, 

maka tak lama kemudia ia didemosi. Kalau ia ingin merelokasi saya ke tempat jauh, 

sebab  tidak menyukai saya secara personal, maka ia yang ter-relokasi. Dan kalau ada 

yang ingin menyingkirkan saya dengan lebih nasty, maka ialah yang menghilang, 

tanpa jejak. Benar-benar menghilang, HRD pun tak berhasil mengikuti jejaknya. She 

just simply dissappears tanpa surat resign tanpa mengembalikan asset perusahaan 

semisal laptop, dan fasilitas pinjaman milik perusahaan lainnya, rumahnya sudah 

kosong dan tak ada tetangganya yang bisa dimintai keterangan. Dan yang paling 

menarik yaitu , pada setiap saat issue persaingan pribadi antara saya dan atasan saya 

menjadi besar dan melibatkan lebih dari 2 orang jajaran eksekutif perusahaan, at the 

end perusahaan-perusahaan dimaksud pun akan dissolved dengan berbagai 

cara─setelah saya keluar dari perusahaan itu─ada yang yang benar-benar bubar 

sebab  extraordinary major event yang kerugiannya tak mampu ia tahan, dijual dan 

berganti nama serta BOD, produksinya menurun drastis. Rasanya saya telah 

 12 

melakukan sesuatu yang luar biasa. Rasanya saya telah melakukan santet 

kolektif─kumpulan orang-orang─santet terhadap badan usaha. 

 

Kisah Rosul saw. Terkena Santet 

 

Pada sebuah kitab yang khusus menjelaskan sebab-sebab turunnya suatu ayat atau 

surah al-Quran, diceritakan bahwa turunnya surah ke 113 dan 114 dalam mushaf 

yaitu  sebuah kejadian santet di bawah sumur yang menyebabkan Rasulullah saw, 

pernah mengalami sakit parah.  

 

Pada suatu hari berkata pada Aisyah ra. “Telah datang padaku dua malaikat, yang satu 

duduk di sebelah kepala beliau dan yang satu lagi di sebelah kaki beliau. Berkatalah 

Malaikat yang duduk di sebelah kaki beliau kepada Malaikat yang duduk di sebelah 

kepala beliau, “Apa yang engkau lihat?” Ia menjawab: “Beliau terkena guna-guna.” 

Ia bertanya lagi, “Apakah guna-guna itu?” Ia menjawab, “Guna-guna itu sihir.” Ia 

bertanya lagi, “Siapa yang membuat sihir ini?” Ia menjawab, “Labid Ibn al-A’sham, 

seorang Yahudi yang tinggal di Madinah, yang sihirnya berupa gulungan yang di 

simpan di dalam sumur keluarga si Fulan di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke 

sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya, kemudian ambillah gulungannya dan 

bakarlah.”  

 

Pada pagi harinya Rasulullah saw. mengutus Amar bin Yasir dan kawan-kawannya. 

Setibanya di sumur itu, tampaklah airnya merah seperti air pacar. Air itu kemudian 

ditimba, dan diangkatlah batu yang menutupinya, kemudian dikeluarkanlah gulungan 

tersebut dari sumur itu dan kemudian dibakar. Ternyata di dalam gulungan itu ada tali 

yang terdiri dari sebelas simpul. Kedua surah ini, 113 dan 114 turun berkenaan 

dengan peristiwa ini, setiap kali Rasulullah saw. mengucapkan satu ayat terbukalah 

satu simpulnya. 

 

Bagian 2: Santet antara Karma dan Takdir 

 

Konsep Santet, Konsep Karma dan Konsep Takdir 

 

Konsep SANTET yang kami sajikan dalam artikel  ini TIDAK DIDASARKAN pada 

atau terkait dengan konsep KARMA, melainkan pada konsep TAKDIR dalam Islam. 

sebab  TERKENA SANTET oleh perbuatan pihak lain—akibat kedengkian pihak 

lain, jika kita lalai memohon perlindungan—tidak ada dalam konsep karma, namun 

itu BISA terjadi, begitu pun kita bisa menyantet pihak lain, dan mendatangkan 

penderitaan sebab nya. 

 

Kata karma memiliki makna amal perbuatan dan BUKAN bermakna takdir-balasan 

seperti yang mungkin selama ini Anda maknai. Karmaphala, yaitu  efek dari 

perbuatan itu, terkait hukum sebab-akibat,atau dialektika. Dalam Ajaran Budha, 

amalan atau deeds ini, bisa memiliki berbagai bentuk “amalan YANG DISENGAJA”, 

melalui PIKIRAN, PERKATAAN dan PERBUATAN.  

 

As a man himself sows, so he himself reaps; no man inherits the good or evil act of 

another man. The fruit is of the same quality as the action. Mahabrata, xii. 291.22 

 

 13 

Berikut kami sajikan PERBEDAAN kedua konsep ini dalam bentuk tabel, agar lebih 

mudah kita pahami.  

 

 

KONSEP HINDU, BUDHA, JAIN, TAO: 

KARMA KONSEP ISLAM: TAKDIR 

Definisi: Perbuatan, baik atau buruk, yang 

memiliki efek berbanding lurus dengan 

perbuatan itu, baik segera maupun ditunda di 

kehidupan berikutnya. Masih menjadi bahan 

perdebatan hangat di antara para scholar, 

agama Hindu, Budha, Jain, dan Tao. 

Definisi: Segala ketentuan Allah swt. Yang 

terdapat dalam Pengetahuan-Nya, dengan 

perumpamaan, telah tertulis dalam Kitabnya 

Yang Nyata, namun rahasia. Masih menjadi 

perdebatan antara para penganut paham takdir 

fatalism (predestined), dan penganut non-

fatalisme (freewill).  

Terkumpul dalam saldo neraca karma, dan 

rahasia. Berisi karmapala, karma baik dan 

karma buruk seseorang, carried forward, dari 

pertama ia dilahirkan dalam kehidupan 

pertamanya, sampai hari ini. Namun, tidak ter-

disclose, apalagi auditable. 

Tertulis dalam Kitab yang Nyata (Lauh 

Mahfuz), dan rahasia. Bukan hanya tentang 

perbuatan manusia beserta efeknya, namun 

segala sesuatu yang berkaitan dengan segala 

sesuatu yang berlaku dan tercipta, termasuk 

segala sistem yang berlaku di alam raya.  

Secara umum terkait dengan "multiple 

rebirth", namun tidak ada yang mampu 

mengingat atau membuktikan kehidupan 

sebelumnya. 

Tidak ada konsep rebirth/reinkarnasi, hidup 

hanya yang ini dan untuk 

dipertanggungjawabkan sebagian di dunia ini, 

kemudian sepenuhnya secara benar-benar 

adil, nanti di Hari Pembalasan. 

Terkait hukum sebab-akibat, hukum etika 

moral tentang baik dan buruk. Tidak ada 

petunjuk dalam bentuk code of conduct tertulis 

yang memuat detail tentang parameter baik 

dan buruk. Tidak ada pertimbangan secara 

methaphysis. 

Terkait dan tidak terkait dengan hukum 

sebab-akibat (perdebatan freewill dan 

predestined), doa, petunjuk-petunjuk Allah 

swt. Dalam bentuk firman-Nya, sunah rosul, 

hidayah, ilham dan pertolongan Allah berupa 

Innaayaah. Quantum Mekanik, bahkan 

mendukung konsep tidak adanya hukum 

sebab-akibat.  

Tidak ada konsep fitrah, atau kembali pada 

fitrah, ada konsep moksa memasuki level 

tingkat dewa.  

Terkait dengan Fitrah Manusia yang tetap 

dan tidak berubah sebagai makhluk dengan 

fitrah itu. 

Tidak ada Hari Pembalasan, karma 

merupakan infinite loop process dari proses 

pembalasan itu sendiri, kecuali jika seseorang 

berhasil memasuki level Moksa. 

Ada Hari Pembalasan setelah kematian, dan 

takdir tiap individu sehubungan dengan hari 

itu. 

Tidak ada konsep hari akhir, kehidupan di 

dunia akan berlangsung terus menerus tanpa 

kesudahan. 

Ada konsep hari akhir—Hari Kiamat. 

Tidak ada keterlibatan Tuhan, atau apa pun 

yang sesuatu yang “lebih besar” dari kita. 

Selalu ada keterlibatan Tuhan—mysticism, 

Men NEVER stand-alone. Bahkan Tuhan 

selalu sibuk mengurus kebutuhan makhluk-

makhluknya.  

Tidak ada konsep cobaan hidup, jika 

ekstrimnya, perbuatan kita sepenuhnya baik, 

maka efeknya yaitu  tidak adanya 

Hidup itu sendiri yaitu  sebuah cobaan. 

Orang yang gemar berbuat kebaikan bisa saja 

seolah menuai keburukan, jika keburukan itu 

 14 

kesengsaraan hidup. Tidak ada konsep 

penggoda, di luar diri kita, iblis/setan. 

bersifat cobaan keimanan baginya. Konsep 

musuh yang nyata bagi manusia: Iblis/Setan.  

Tidak ada konsep taubat, ampunan dosa dan 

penghapusan dosa. Yang ada hanyalah cycle 

loop pembalasan karma. 

Ada Konsep taubat, ampunan dan 

penghapusan dosa.  

Tak ada lagi konsep memilih sebab  telah 

berada dalam sebuah jaring rumit karmapala, 

sehingga akan kesulitan menganalisis mana 

yang free will mana yang karmic. 

yaitu  serangkaian paket takdir (The 

Butterfly Effect), yang bisa/tidak bisa kita 

pilih dengan efek yang berbeda. Kemampuan 

memilih selalu ada dalam tiap langkah yang 

akan kita ambil, free will—non fatalisme 

takdir. Ada juga yang meyakini bahwa kita 

tidak memiliki prerogative dalam memilih apa 

pun.  

 

Mari kita bahas konsep TAKDIR, USAHA, DOA dan Quantum Mekanik yang 

menjadi konsep dasar artikel  ini, secara lebih mendalam. 

 

TAKDIR—Freewill atau Predestined? 

 

Takdir yang Bisa—benarkah kita bisa mengubahnya?—dan Tidak Bisa Kita Ubah  

 

Meskipun salah satu New Age Guru, Louis Hay percaya bahwa, “Kitalah yang 

memilih siapa orang tua kita”, namun tentu saja tidak ada bukti bahwa kitalah yang 

memilih siapa orang tua kita. Itu yaitu  sesuatu yang telah dipilihkan buat kita, dan 

kita tidak bisa mengubahnya, dan pada siapa kita diperanakkan yaitu  sebuah takdir 

yang tidak dapat kita ubah. Namun, bagaimana kita menyikapinya yaitu  berada 

dalam genggaman tangan kita—benarkah? Lahir dari orang tua yang miskin dan 

kurang berpendidikan, misalnya, yaitu  sebuah takdir yang tidak bisa kita ubah, 

namun menjadi kaya dan memiliki pengetahuan tinggi, yaitu  sebuah takdir yang bisa 

kita pilih dan usahakan untuk diri kita—benarkah? 

 

Segala SISTEM atau hukum-hukum yang berlaku di alam raya—baik itu yag berlaku 

di dalam diri kita, maupun di luar diri kita—yaitu  juga takdir yang tidak bisa kita 

ubah. Namun, mempelajari, memahami dan memanfaatkannya sebaik mungkin yang 

kita bisa, dalam upaya mencapai tujuan yang kita inginkan dengan cara menyesuaikan 

diri kita dengan cara hukum-hukum itu bekerja, yaitu  takdir yang masih berada 

dalam kendali kita—benarkah? Jika Anda ingin kaya, misalnya, satu-satunya cara 

yaitu  dengan mempelajari, memahami dan menerapkan dengan penuh disiplin, ilmu 

kekayaan yang membuat Anda bisa menyelaraskan diri dengan bagaimana hukum-

hukum tentang kekayaan bekerja di alam raya ini. Anda tidak akan menjadi kaya 

hanya dengan berpangku tangan, namun juga dengan bekerja keras bukan pula 

jaminan bahwa seseorang bisa menjadi kaya—buktinya bertebaran di sekitar kita. 

 

Masa lalu, yaitu  serentetan rincian plot takdir yang sudah tidak bisa kita ubah 

rinciannya, hari ini, kecuali jika kita bisa mereset/mengulangi sebuah hari, seperti 

pada sebuah film fiksi ilmiah—meski tak ada yang tak mungkin bagi Allah—namun 

kita akan masukan kejadian masa lalu sebagai bagian dari takdir yang sudah tidak bisa 

lagi kita ubah—benarkah? Namun, pengalaman dan hikmahnya akan tetap 

mempengaruhi, pilihan takdir di masa depan. Dan takdir di masa depan, kita masih 

bisa mengubahnya, atau memperkuat kemungkinan terjadinya—Anda tak ingin 

 15 

gambling kan? Kita kembali kepada inti semula: saat  ini tentang masa depan, maka 

pola pikir mentalnya yaitu  kita bisa mempersiapkannya sebaik mungkin. 

 

Kematian setiap yang hidup, yaitu  sebuah takdir masa depan yang tak bisa kita ubah 

untuk menghindarinya, dan bukti yang nyata dan pasti terus bergelimpangan di sekitar 

kita, meskipun demikian, kematian kita sendiri seringkali yaitu  sesuatu yang selalu 

terkesan abstrak atau jauh. Namun, kapan kita mati, bagaimana kita mati, setelah 

melakukan apa kita mati, dalam misi apa kita mati, itu yaitu  takdir yang masih bisa 

kita pilih dan usahakan, agar kematian kita yaitu  sebuah kematian terbaik dari sekian 

juta kemungkinan kualitas kematian yang tersedia dalam paradox takdir kematian 

kita—benrakah? Itulah kenapa Stephen Covey, dalam artikel nya 7 habits of the Highly 

Effective People, menganjurkan kita untuk memvisualisasikan bagaimana kualitas 

kematian kita, justru seawal mungkin, agar hidup kita paling efektif—starting from 

the end. Begitu pun petunjuk kitab suci, yang berulang kali membahas kematian 

makhluk, keniscayaan Hari Kiamat, dan Hari Penghakiman, sebagai salah satu induk 

pengajaran Tuhan pada kita. 

 

Paradox Takdir 

 

“Allah MENETAPKAN semua takdir seluruh makhluk semenjak lima puluh ribu 

tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”—Shahih: HR. Muslim (no. 

2653) dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra. 

 

Segala sesuatu yaitu  takdir—termasuk tersantet dan menyantet. Takdir yaitu  

segala sesuatu, dan Allah Maha Kuasa atas segala takdir. 

 

Takdir bersifat paradoxical, kita tidak pernah tahu apa yang telah tertulis dalam kitab 

takdir kita, kita menjalani takdir kita, tiap detiknya, apa yang terjadi pada kita, apa 

yang kita pilih, apa konsekuensi dari segala pilihan kita, namun tak ada yang akan 

terjadi tanpa izin-Nya, tanpa petunjuk dari-Nya, tanpa Dia menghendakinya. Percaya 

pada takdir atau ketetapan dari Allah, yaitu  merupakan rukun iman yang ke-6, bagi 

pemeluk agama Islam. Namun, terkait takdir buruk—menurut nafs/keinginan kita, 

termasuk terkena santet—jika itu terjadi—maka itu berarti telah tertulis dalam 

cakupan kehendak Allah pada garis hidup kita. Doa dan usaha, dapat mengubah 

takdir yang sudah tertulis, dan tak dapat lagi diubah menurut beberapa keterangan, 

jadi buat apa berdoa dan berusaha, jika Allah pun telah tahu bahwa kita pun akan 

berdoa dan berusaha? sebab  kita berdoa dan kita berusaha pun yaitu  sebentuk 

takdir. Takdir kita dibocorkan Allah lewat petunjuk-petunjuknya pada kita, kita 

diingatkan kembali pada takdir kita, pada mekanismenya, pada pilihan-pilihan yang 

akan kita ambil. Jika kita diperintahkan Allah untuk berdoa agar terhindar dari takdir 

buruk, apa yang tercatat dalam kitab takdir kita? Apakah kita mengikuti petunjuk 

untuk memanjatkan suatu doa, dan takdir kita berubah, atau apakah kita tidak 

melakukannya sebab , pastinya Allah sudah tahu apa yang akan kita lakukan?  

 

Jadi kita diperintahkan Allah untuk berlindung pada-Nya, meminta petunjuk dari-

Nya, agar terhindar dari takdir-takdir buruk-Nya dan atau segala efek negatif dari 

takdir-takdir buruk-Nya itu, dengan kata lain, kita diperintahkan-Nya berlindung 

dari-Nya.—Paradoxical. 

 

 16 

Prof. Quraish Shihab, dalam tafsir al-Mishbah, tentang tafsir Surah al-Falaq ayat ke 

2, “Dari kejahatan yang diciptakan.” Di antaranya yaitu  sbb: 

 

“Mengapa ada kejahatan, mengapa ada penyakit dan kemiskinan, bahkan mengapa 

Tuhan menganugerahkan si A aneka ragam kenikmatan dan menjadikan si B 

tenggelam dalam bencana?”  

 

Tidak mudah memahami apalagi menjelaskan persoalan ini jika dikaitkan dengan 

Keadilan Ilahi. Hal ini merupakan salah satu yang amat musykil, khususnya bila ingin 

memuaskan semua nalar—paradoxical logic. Itu sebabnya yang merasakan 

Kemahabesaran dan Kemahabijaksanaan Tuhan biasanya hanya berkata: “Ada 

hikmah di balik setiap peristiwa, baik yang dinilai sebagai kejahatan atau keburukan 

maupun sebaliknya.” Tetapi, jawaban seperti ini jelas tidak memuaskan nalar/logika. 

Sebagian pakar menyelesaikan permasalahan ini dengan menyatakan bahwa: “Apa 

yang dinamai kejahatan (keburukan) sebenarnya TIDAK ADA atau paling tidak 

hanya pada pandangan nalar manusia yang memandang secara parsial. “Dia-lah yang 

membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.” (QS. As-Sajdah 32:17). Kalau 

demikian, segalanya diciptakan Allah dan segalanya baik. Keburukan yaitu  akibat 

keterbatasan pandangan. Ia sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia mengiranya 

demikian. 

 

Pada akhirnya, setiap jiwa (manusia) akan ditanya—diwajibkan menjawab—dimintai 

pertanggungjawaban, di alam kubur, kemudian di Hari Pembalasan, sedangkan kita 

tidak memiliki hak untuk “meminta jawaban/pertanggungjawaban” kepada Tuhan. 

Pada intinya Dia “fa’alullimayurid/Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki”—

QS. Al-Buruj 85:16. Dan ini bahkan selaras dengan penemuan fisika modern terbaru 

di bidang quantum mekanik—silahkan lihat bagian Quantum Mekanik di artikel  ini. 

Dan usaha terbaik atau ikhtiar terbaik yaitu  senantiasa memohon bimbingan kepada-

Nya—Doalah kunci dari segala kunci. 

 

“Tuhan memang bermain dadu, bahkan terkadang dia menyembunyikan dadunya ke 

tempat yang kita tidak bisa melihatnya.”—Stephen Hawking, dalam menjawab 

ungkapan Albert Einstein yang terkenal itu, bahwa, “Tuhan tidak bermain dadu.” 

 

 Perdebatan Klasik antara Konsep Free Will VS Pre-Determined 

 

“Hakikat Takdir dan batas pertanggungjawaban manusia yang terkait dengannya, 

masih merupakan aspek yang tidak dapat disentuh atau ditembus oleh pemahaman 

dalam teologi, bahkan teologi Islam, sekali pun—The Unpenetrated.”— Imam 

Thahawi, melalui Syaikh Hamza Yusuf, rektor Zaituna College, California Amerika 

serikat.  

 

Tak hanya Islam, namun seluruh agama Abrahamic masih bergelut dengan topik yang 

satu ini, namun demikian, seiring waktu dan di luar kehendak kita, bukti tentang 

adanya determination di jagat alam raya pun semakin teramat kuat. Secara ilmiah, 

para matematikawan itu sendiri pun sejatinya yaitu  para determinestic, mereka 

sungguh meyakini bahwa dunia ini yaitu  telah sepenuhnya pre-determined. Dan 

saat  mereka meneliti semua variabel yang terlibat, apa yang harus terjadi akan 

terjadi, dan tidak ada yang bisa terjadi selain dari apa yang harus terjadi.  

 

 17 

“You just can not stop what is going to happen.”—Anonim 

 

Mari kita renungkan bersama, sebuah kejadian yang telah terjadi dalam hidup Anda, 

di pikiran Anda, dan yang telah terjadi pada kehidupan saya di pikiran saya. Sebuah 

kejadian yang teramat lekat di ingatan Anda, dan kemudian Anda perhitungkan semua 

variabel yang terlibat di dalamnya, maka Anda akan menemukan sebuah aspek yang 

sungguh nyata dalam kehidupan kita ini, bahwa kejadian itu terjadi, telah terjadi, dan 

apa pun yang Anda pilih untuk Anda lakukan, maka kejadian itu tetap akan terjadi. 

Silahkan renungkan—sementara saya memikirkan juga, kalimat berikut apa yang 

akan dan harus saya tulis di alenia setelah ini, sebab  kalimat itu harus tertulis di 

kalimat pertama alinea setelah alinea ini. 

 

Setelah Anda renungkan, kisah pilihan Anda tadi, mari kita ambil contoh, peristiwa 

jatuhnya pesawat Lion Air, dengan nomor penerbangan JT 610 jurusan CGK-PGK, 

Jakarta-Pangkal Pinang, sekitar jam 6.30 pagi, pada tanggal 29 Oktober 2018. Di 

dalam pesawat itu, termasuk crew pesawat ada 189 nyawa telah kembali kepada Sang 

Penciptanya, 189 cerita, dan 189 susunan variable yang mempengaruhi masing-

masing takdir dari crew dan para penumpangnya itu, dan juga susunan variable yang 

mempengaruhi kondisi pesawatnya itu sendiri. Variable A: Hanya ada satu pesawat 

yang melayani rute tersebut pada jam segitu, para penumpang yang mayoritas yaitu  

pejabat pemerintahan, PNS, dan pengusaha yang harus ngantor pagi, dan mereka 

berkantor di Bangka Belitung dan sekitarnya. Andai ada pesawat lain, mungkin kisah 

akan berubah, misalnya ada maskapai lain sekelas Garuda Indonesian Airways, maka: 

Kisah akan berbeda. Tapi, mereka tidak punya pilihan itu, tidak punya pilihan untuk 

memilih maskapai. Hanya penerbangan itu yang tersedia. Kadang demikianlah dalam 

hidup, saat  kita merasa mampu memilih, dan saat  kita hanya diberi satu pilihan, 

berangkat kerja seperti biasa atau tidak. Kemudian ada Variable B: Kondisi pesawat 

baru pesawat Boeing 737 Max, yang merupakan brand new jet, dan brand new variant 

milik keluarga Boeing 737—dengan design baru, efisiensi baru, dan tentu saja 

spesifikasi baru—yang bahkan belum genap 3 bulan mengangkasai Indonesia. 

Dengan adat dan spesifikasi yang lain itu, bahkan para pilot sebelum penerbangan 

ituu pun sudah mengalami kesulitan, sebab  tidak memiliki instruksi tertulis untuk 

menjinakkan salah satu instrument pesawat ini, saat  ia terpaksa harus terbang 

manual. Puluhan ribu jam terbang yang telah mereka kantungi pun, tidak mampu 

menjinakan adat  jet varian terbaru itu, sebab  puluhan ribu jam itu yaitu  untuk 

menerbangkan varian lain, bukan varian yang itu. Variable C: Pihak Boeing baru 

merilis, instruksi tersebut setelah peristiwa, dan telah gagal memberitahukannya 

sebelumnya.  Dan kemudian, ada Variable D, E, F dan seterusnya dan seterusnya ... 

Dan semua Variable tersebut telah bekerja sama untuk mewujudkan tragedi tersebut.  

 

Kemudian hal berikutnya yang tak kalah menarik yaitu , firasat dari para 

penumpang dan keluarga penumpang sebelum peristiwa tersebut, ada yang tak seperti 

biasanya merekam saat-saat boarding, dan mengirimkannya ke WA keluarganya, 

dengan tumben-tumbennya, ini apa? Apakah masa depan yang bocor, namun apatah 

mau dikata, firasat, pertanda tetap tidak bisa membuatnya menghindari takdirnya 

tersebut. Ada pula yang semalam sebelumnya—seorang mahasiswa yang cerdas dan 

ambisius—menuliskan di blog pribadinya, tentang bahwa hasil-hasil yang ingin dia 

capai dalam hidupnya, sekeras apa pun usahanya, ternyata hasilnya tidak selalu 

seperti yang ia harapkan, no matter how hard he has tried, dan akhirnya 

berkesimpulan bahwa “berserah diri” yaitu  kunci agar bahagia dalam menjalani 

 18 

hidupnya, sebab  segalanya ternyata tidak selalu scientifik, sebab  variable-variable 

kesuksesan itu pun yaitu  di luar kontrolnya. sebab  menurut pengalamannya, tidak 

lantas jika ia bekerja keras, dan berusaha sebaik mungkin, bahwa kemudian ia akan 

berhasil mencapai hasil yang ia inginkan dan sebaliknya. Dan keesokan harinya, di 

pagi hari bahkan, segala usahanya itu pun telah dihentikan. Dan sang kekasih, baru 

paham arti dari jawabanya, saat  ia memintanya mengantar ke bandara setelah ia 

pulang dari pengerjaan proyek yang dia sedang kerjakan di Pangkal pinang, dengan 

bara sahabatnya itu, “Tergantung nanti, rencana Tuhan bagaimana (apakah ia bisa 

mengantar kekasihnya atau tidak).” Sebuah jawaban yang sangat metafisis, untuk 

sebuah permintaan yang sepertinya sangat sederhana itu—minta di antar ke bandara, 

sebab  rencananya sang kekasih akan berangkat ke Manila.  

 

Dan ada seorang suami yang, di luar kebiasaan mengajak istri tercintanya turut serta, 

sehingga sang istri pun bersama dengannya menghadap sang pencipta. Ada pula 

sepasang suami istri, yang baru saja pindah ke rumah baru mereka, lantas si istri 

berkata, “Nanti kamu berani tinggal di rumah ini sendirian?”Dan tentu saja sang 

suami, lantas merasa gamang dalam menjawab pertanyaan si istri, dan saat  sang 

istri menjadi salah satu dari ke 189 itu, maka pertanyaan itu akan selalu lekat di 

benaknya. Apakah ini semua? Masa depan yang bocor? Jika bocor—dibocorkan 

Tuhan—berarti masa depan itu sudah ada. Namun pun, jika seandainya ada suara dari 

masa depan berteriak di telinga kita, untuk tidak boarding di pesawat itu, apakah 

lantas mereka akan mengikuti suara itu? 

 

 

Dan berikut yaitu , pendapat ahli toelogi Islam yang lain, berkebangsaan Amerika 

Serikat, Syaikh Hamza Yusuf: 

 

“Allah yaitu —the sole agent of the cosmos—satu-satunya pemicu  dan pemicu  

langsung atas terjadinya segala sesuatu. Dan segala hal itu telah pula tertulis dalam 

Lauh al Mahfuz, porsi yang Allah berikan pada kita—menurut pendapat yang 

dominan dari para imam, seperti Imam At Thahawi Abu Bakar al Matarani, Imam al 

Maturidi, Imam Asyari, dan sebagian besar lain dari para Imam kalam and tauhid 

ushuluddin—yaitu  pahala sehubungan dari NIAT yang kita lakukan, hal lain di luar 

niat kita, termasuk apa yang kita kerjakan yaitu  semata-mata langsung dari Allah 

swt. sebagai penciptaan instan yang Dia lakukan atasnya.  

 

Imam at Thahawi menjelaskan dalam Thahawia, terdapat apa yang disebut dengan 

isthithoo’a, yang terdiri atas 2 jenis, sbb.: 1) Isthithoo’a yang terkait dengan waktu 

kejadian dari sebuah perbuatan dilakukan, dan itu yaitu  sebuah perbuatan 

langsung—direct play. 2) Isthithoo’a yang terkait dengan kemampuan kita dalam 

memahami sebuah perbuatan, dan itulah letak pertanggungjawaban kita akan 

perbuatan itu, letaknya yaitu  pada kemampuan kita dalam melakukan sebuah 

perbuatan, namun terjadinya perbuatan itu sendiri datangnya dari Allah. Kita yakin 

bahwa segalanya telah termaktub sedemikian rupa dalam Kitab-Nya, namun kita 

bukan kaum deterministic, dan kita bukan pula menganut paham free will murni, kita 

berada di antara keduanya. Jika Anda menginginkan sebuah perumpamaan sederhana, 

namun jenius, untuk menjelaskan hal ini: Sayidina Ali ra. suatu kali beliau ditanya 

tentang hal ini, jika beliau yaitu  penganut paham deterministic  atau freewill, 

kemudian beliau menjawabnya sbb: “Angkat kaki kanan Anda.” Kemudian sang 

penanya mengangkat kaki kanannya, kemudian Sayidina Ali berkata, “Sekarang 

 19 

angkat kaki kiri Anda.” Sang penanya menjawab, “Saya tidak bisa 

melakukannya.”—dalam waktu yang bersamaan. Penetapan-penetapan memang ada, 

dalam segala hal, Anda dan saya memiliki irodah tertentu.  Akan tetapi kita percaya 

bahwa umat manusia bertanggung jawab atas jawaban yang akan mereka berikan.  

 

Mujbira (Fatalisme) Vs Mu’tajila (Non Fatalisme) 

 

Kontroversi klasik yang paling terkenal dalam teologi Islam yaitu  pemahaman dua 

kubu yang berseberangan tentang takdir. Yaitu antara pihak yang percaya bahwa 

takdir itu kitalah yang memilihnya, atau sebagai akibat dari pilihan-pilihan yang kita 

buat—freewill terkait hukum sebab akibat. Mereka ini yaitu  yang berpegang teguh 

pada God Moral Nature, bahwa meski pun Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu—

Omnipotent, tapi Dia tidak “semena-mena”. DAN mereka yang berkeyakinan bahwa 

kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memilih takdir kita, segalanya 

telah ditentukan Tuhan di awal, hal ini untuk menegaskan kualitas metafisika dari 

Ketuhanan itu sendiri—Kemahakuasaan Tuhan atas segala sesuatu, termasuk takdir 

kita. 

 

Bagaimana al-Quran dipakai sebagai landasan pemikiran dari kedua kubu ini, mari 

kita bahas. Al-Quran mengatakan bahwa, itu tadi, “Allah Maha Kuasa atas segala 

sesuatu” Dia memiliki Qudrat, Dzat Yang Maha Perkasa, yang secara terus menerus 

mengurus semua makhluknya, terus menerus mencipta dan tanpa-Nya sekejap saja 

maka segala sesuatu yang ada di dunia ini pun akan sirna dalam kejapan itu. Tanpa-

Nya tak akan ada sesuatu yang bergerak, diam, dan tak akan ada sesuatu-pun bahkan 

yang mampu terwujud. sebab  qudrah-Nya yang Maha Perkasa itu—dan ada 

setidaknya, 99 nama-Nya yang sangat indah itu—harusnya tak akan pernah terbersit 

di benak kita, sebuah gagasan jika kita, manusia sebagai individu, bisa memiliki 

potensi kekuatan sedikit pun. Al-Qur’an juga mengatakan, “Tuhan menciptakan 

Anda, dan menciptakan segala perbuatan Anda.” Seperti apa yang dinyatakan oleh 

kaum Determinists. Permasalahan umat muslim terdahulu yaitu , mereka berusaha 

untuk melakukan framing teologi bahwa Tuhan, haruslah konsisten secara moralitas, 

sehingga Anda akan menemukan dalam al-Quran: “(Lukman berkata), “Wahai 

anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam 

batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). 

Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui.” (QS. Luqman 31: 16). “Dan 

Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar setiap jiwa 

diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan 

dirugikan.” (QS. Al-Jasiyah 45:22). 

 

Maka dari itu, secara teologis, doktrin pertama dalam Islam dan pemikiran teologi 

paling kini, menjadi bukti terkait dengan perdebatan kedua kubu yang menjadi rival 

ini, ternyata termasuk ke dalam lingkup kemahasempurnaan Tuhan yang dijelaskan 

dalam nama-nama-Nya yang indah itu—the Divine Perfection, asmaul al-husna. Al-

Qur’an menyatakan JUGA bahwa, betapa Tuhan itu Maha Adil, bahwa Dia akan 

memberi ganjaran dan menurunkan azab, dan hukuman di kehidupan berikutnya. Tapi 

kemudian, bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Adil akan memberi  ganjaran 

atau pun hukuman, atas perbuatan manusia dan jin, jika  dengan Qudrah-Nya, Dia 

telah mengetahui apa yang akan terjadi? Kemudian dalam Surah al-Baqarah (2) ayat 

7, “Allah telah MENGUNCI hati dan pendengaran mereka. Penglihatan mereka telah 

tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.” Ayat ini berkaitan dengan 

 20 

orang-orang kafir, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya. Sekarang, jika  

Tuhan sendiri telah mengunci-nya, bagaimana mungkin Dia kemudian akan 

menghukum mereka, jika Dia Maha Adil? Ini yaitu  sebuah kontradiksi yang terlihat 

jelas. Perdebatan ini juga terdapat dalam agama Abrahamic yang lain seperti Agama 

Yahudi dan Kristen, mereka pun mengalami perbedaan pendapat tentang konsep 

teologi mereka, manakah yang benar, apakah predestined yang dianut kaum Libertian 

mereka ATAUKAH konsep freewill. Pemegang konsep freewill dalam teologi 

Judaism dan Kristiani, biasanya memiliki argumen yang lebih baik. Namun dalam 

Agama Kristen, konsep predestined masih ada yang mempertahankannya sampai hari 

ini, terutama pada gereja-gereja yang masih mendapatkan pengaruh yang kuat dari 

gereja-gereja Scotlandia.  

 

Dalam teologi Islam, kedua posisi ini masih berdiri sama kuat, sebab  sama-sama 

berbasis keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat suci al-Quran. Tuhan yaitu  Yang 

Maha Sempurna di kedua sisi moralitas dan methafisis-Nya. Umat beriman terdahulu, 

telah menerima konsep paradoksikal ini, tanpa berusaha untuk memecahkannya—

Paradoks Takdir. Namun demikian, umat yang hidup di masa-masa berikutnya, mulai 

kembali memperdebatkan paradoks yang belum terpecahkan ini, dengan filosofi yang 

lebih berbobot dibandingkan  filosofi Kristiani, dan perdebatan ini mulai terpusat di 

Damaskus. Dan saat  paradoks ini masih juga tidak terpecahkan, kaum determenistik 

kemudian disebut juga dengan kaum dogmatis. Di satu sisi berdiri umat yang lebih 

cenderung kepada konsep freewill, dan yang lainnya lebih tertarik dengan ide 

deterministik. 

  

Kaum Mujbira yaitu  yang paling kuat kecenderungannya terhadap konsep 

deterministik, mereka berpendapat, “Apa pun yang Anda lakukan telah ditetapkan 

sebelumnya, dan usaha yang seolah Anda lakukan itu hanyalah sebuah ilusi belaka, 

sebab  pada hakikatnya—sesungguhnya semuanya yaitu  Dia yang Melakukannya.” 

Mereka kemudian mendapatkan dukungan penuh dari Rejim Umayah yang berkuasa 

di Damaskus saat  itu, sebab  alasan sederhana, yakni pendapat tersebut 

mendatangkan manfaat politis bagi rejim itu.  Jika rakyat mereka berkeyakinan 

bahwa segala yang terjadi di dunia ini, yaitu  telah ditentukan oleh Tuhan, maka 

rakyat mereka akan cenderung membiarkan korupsi yang dilakukan oleh rejim ini. 

Jadi Kaum Mujbira mendapatkan dukungan politis dari rejim yang berkuasa kala 

itu—dan sepertinya ini juga bisa terjadi sampai sekarang di setiap belahan bumi.  

 

Berseberangan dengan Kaum Mujbira ini, yaitu  mereka yang percaya pada adanya 

freewill—usaha dapat mengubah takdir, mereka disebut dengan Kaum Mu’tajila. 

Perbedaan ini terus menerus terjadi saat  kaum Syiah Islam, 10% dari umat Islam di 

seluruh dunia, yaitu  mereka yang secara kuat terus menerus terpengaruh oleh 

pemikiran kaum Mu’tajila ini. Para ulama setelah masa itu kemudian menjelaskan 

pandangan dari kaum Mu’tajila ini sebagai berikut, “Manusia yaitu  pencipta dari 

segala amal perbuatannya, baik atau buruk, sehingga manusia akan diberi ganjaran 

sesuai dengan amal perbuatannya ini kelak di kehidupan setelah kematiannya—dan 

tidak ada keburukan yang dapat dinisbatkan pada Allah Yang Maha suci dari segala 

pandangan yang tidak sesuai dengan Dzat-Nya.”Kaum Mujbira tentu saja tidak 

setuju dengan pandangan ini, sebab  menurut mereka pandangan yang demikian itu 

yaitu  sebuah pandangan yang mengandung syirik, sebab  menganggap bahwa ada 

tandingan pencipta-pencipta lain selain Allah swt.  

 

 21 

Dengan segala kontroversi ini dalam Teologi Islam, mari kita bahas lebih mendalam, 

setidaknya untuk menerbitkan pemikiran ini di benak Anda dan sebagai bahan 

diskusi-diskusi kita selanjutnya, jika  Anda—pembaca yang budiman—belum 

pernah memikirkannya secara lebih mendalam dan mendiskusikannya. Kaum 

Mu’tajila, yaitu  juga Kaum Ilmu Kalam—Ilmu Teologi dalam Islam, seperti halnya 

mereka yang menganut teologi sistematik, mereka percaya akan unsur terkecil dari 

segala sesuatu—the basis of Cosmology Thoery, yang pada waktu itu masih pada 

level atom—sebelum ditemukan kemudian oleh para ahli fisika modern bahwa Atom 

pun ternyata bukanlah unsur terkecil, sebab  atom pun terdiri dari bagian-bagian yang 

lebih kecil lagi yang kemudian disebut sebagai partikel-partikel, yang di antaranya 

baru saja ditemukan lewat Hadron Collider raksasa di Swiss yaitu  partikel Higgs 

Bozon.  

 

Ash’arait, al-Ghazali, dan Hukum Sebab-Akibat  

 

Tersebutlah kemudian Kaum Ash’arait, yang berpendapat bahwa, “Tidak ada sebab 

alami di muka bumi ini—tidak ada itu hukum sebab-akibat.” Sepintas, pendapat ini 

terdengar tidak ilmiah dan dramatis. Mereka memberi  sebuah metafora untuk 

menjelaskannya, “Jika saya melemparkan bola kasti ke jendela kaca di depan saya, 

secara normal kemudian kita akan mengharapkan bahwa kacanya pecah berkeping-

keping, TAPI, itu bukan DISEBABKAN oleh bola kasti yang menghantamnya, namun 

sebab  Tuhan-lah yang secara langsung kemudian terlibat dalam memecahkan kaca 

itu.” Mereka memiliki pemikiran bahwa, jika  Anda meyakini bahwa bola kasti itu-

lah yang menyebabkan pecahnya kaca jendela itu, maka Anda telah MEMBATASI 

Kemahasegalaan-Nya—The Omnipotent of God. Dan pemikiran yang demikian ini 

telah menjadi pemikiran terbanyak dalam pandangan Islam. Dan pandangan ini 

merupakan pandangan ketiga yang muncul dalam teologi klasik Islam, dan masih 

dikenal sebagai pandangan yang ortodoks, dan itu tadi pandangan ini kemudian 

dikenal sebagai Ash’arites.  

 

Sebutan Ash’arites berasal dari seorang teolog besar Islam Sunni, bernama Abu 

Hasan al-Ashari (874-936 M), dan pemikiran Ash’arites ini yaitu —sekali lagi, “Tak 

ada sebab ilmiah. Hukum Sebab-Akibat hanyalah sebuah ilusi belaka.” Mereka 

membangun sebuah sistem filosofi modern yang belakangan menjalar ke wilayah 

Eropa, dengan apa yang disebut Occasionalism—sebuah teori filsafat yang 

menapikan Hukum Sebab-Akibat, atau rangkaian kejadian—the Butterfly Effect—

yang menyebabkan kejadian berikutnya, akan tetapi setiap kejadian yaitu  secara 

langsung dijadikan oleh Tuhan secara berkesinambungan, oleh sebab  itu tidak ada 

yang saling berkaitan, semuanya yaitu  event mandiri yang masing-masing 

diciptakan Tuhan secara langsung.  

 

“Tidak ada yang acak, segalanya saling berkaitan—Hukum Sebab-Akibat? Oh no, 

Occasionalism beranggapan bahwa justru tidak ada yang saling berkaitan, masing-

masing kejadian berdiri sendiri-sendiri, sebagai ciptaan Tuhan secara langsung 

dan berkelanjutan. Dengan demikian, maka tidak ada itu Hukum Sebab-Akibat.” 

 

Pendukung Asharite yang paling terkenal yaitu  Abu Hamid Muhammad ibn 

Muhammad al-Ghazali (1058M-1111M), atau lebih dikenal dengan sebutan Imam al-

Ghazali, beliau yaitu  seorang ahli teologi Islam, yang semasa hidupnya telah 

menelurkan ratusan karya besar, termasuk Kitab Ihya Ulumudin—Menghidupkan 

 22 

kembali Ilmu-Ilmu Agama—yang juga sangat terkenal di tanah air, dan karyanya 

terkait filsafat dan teologi yang menggebrak dunia—Tahafut al-Falasifa (Kekacau-

balauan Para Filsuf). 

 

Dalam artikel nya tersebut, menurut Buya Hamka, “Sang Imam setelah melakukan 

pengembaraan dalam alam pikiran yang mendalam, telah menyatakan kesimpulan 

bahwa filsafat itu, baik juga untuk melatih kita berpikir. Tetapi jadi amat berbahaya 

kalau sekiranya pikiran yang akan dipergunakan bagi berfilsafat tidak terlatih 

terlebih dahulu dengan tuntunan Wahyu Ilahi dan tuntunan Nabi. Ada orang 

mengatakan bahwa berpikir filsafat itu harus bebas, obyektif, jangan ada yang 

mempengaruhi terlebih dahulu. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidaklah ada 

seorang manusia pun yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh alam di 

sekelilingnya.”  

 

Apakah lagi—menurut Al-Ghazali—filsuf-filsuf Yunani yang mempengaruhi 

berpikirnya filsuf-filsuf Muslim seperti Al-Farabi dan Ibn Sina, sebab  penerawangan 

berpikir bebas itu, telah sampai pada kesimpulan bahwa alam itu—the Universe—

yaitu  bagaikan Tuhan juga. Di sini Filsafat sudah menjauh dengan sendirinya dari 

pokok ajaran agama. Oleh sebab  itu, Ghazali-pun amat menyuruh untuk berhati-hati 

di dalam belajar Ilmu Kalam, Ilmu Teologi dalam Islam. Untuk orang awan, Ilmu 

Kalam itu lebih besar bahayanya dibandingkan  manfaatnya, sehingga beliau keluarkan 

sebuah risalah bernama “Iljamul ‘Awam” (mengekang orang awam) dari 

membicarakan Ilmu Kalam. Iman kepada Allah, tidak dapat dipelajari dengan AKAL 

semata, melainkan hendaklah sebab  dirasakan, demi setelah meleburkan diri ke 

dalam persada Alam yang ada di sekeliling kita.  

 

Sebagai respon terhadap klaim para ahli filsafat tentang adanya penciptaan 

secondary—hukum rentetan sebab-akibat— urutan penciptaan (the created order) 

(rentetan kejadian, seperti: The Butterfly Effect) diatur oleh pemicu  kedua, is 

governed by secondary efficient causes (Sementara Dzat Tuhan, merupakan pemicu  

utama dan terakhir secara logika dan ontology/God being, as it were, the Primary and 

Final Cause in an ontological and logical sense), Imam al-Ghazali berpendapat 

bahwa apa yang kita amati sebagai “kebiasaan-kebiasaan/keteraturan” di alam 

semesta ini atau yang sering disebut sebagai HUKUM-HUKUM ALAM, termasuk 

Hukum Sebab-Akibat, sebenarnya yaitu —menurut al-Ghazali—hanyalah sesuatu 

yang sering terjadi dalam pengamatan manusia, secara terus menerus dan dalam 

sebuah keteraturan. Namun tidak berarti akan selalu harus terjadi, kecuali jika Tuhan 

memang menghendakinya. Menempatkan sebuah hukum sebab-akibat sebagai 

pencipta suatu keadaan, yang berada di luar kehendak dan pengetahuan Tuhan, yaitu  

sebuah pelucutan terhadap kudrat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu—

Omnipotent. Dalam contoh yang terkenal disampaikannya, “saat  api dan kapas 

dipertemukan, kapas pun kemudian terbakar, namun bukan akibat dari panasnya api, 

tapi sebab  Tuhan secara langsung melakukan campur tangan-Nya.” Imam Al-

Ghazali telah berhasil mempertahankan pendapat ini dengan pemakaian  Ilmu 

Mantik/logika.  

 

Kemudian, pada abad ke 12 Masehi, teori ini lebih lanjut berhasil dipertahankan 

bahkan diperkuat lagi oleh ahli teologi Islam generasi berikutnya yang juga sangat 

terkenal, Fakhr al-Din al-Razi, dengan pemakaian  keahilannya dalam ilmu 

pengetahuan alam, terutama astronomy, cosmology dan fisika. sebab  biasanya 

 23 

Tuhan “terlihat” lebih menyukai keteraturan, dibandingkan  ketidakteraturan, “perilaku-

Nya” basanya menyebabkan kejadian terjadi dalam suatu urutan rentetan peristiwa 

YANG SAMA—kebiasaan Tuhan/Sunatullah atau apa yang dijelaskan kemudian 

sebagai HUKUM-HUKUM ALAM itu tadi. Jika ingin menyempaikannya dengan 

tepat, bagaimana pun juga, TIDAK ADA ITU HUKUM ALAM, yang ada yaitu  

HUKUM—yang dipilih—Tuhan, sesuka-Nya, sekehendak-Nya, sebab  Dia Maha 

Berkuasa. Dengan kata lain, frase sekehendak-Nya itu jadi terkesan rasional.  

 

Namun demikian pendapat dari kaum Asyarite, al-Ghazali dan selanjutnya Fakhr al-

Din al-Razi, ini, tidak sepenuhnya sama persis dengan pendapat para occasionalist—

atau Prof. Quraish Shihab menyebutnya kaum fatalisme, yang benar-benar 

menganggap bahwa perilaku Tuhan benar-benar tidak dapat disela oleh perantara 

pemicu  lainnya apa pun itu. Tuhan benar-benar secara esensi yaitu  transcendence 

agent—The Sole Agent of the Cosmos, benar-benar bebas dari pembatasan apa pun, 

termasuk pembatasan dari keterbatasan pemahaman kita tentang-Nya. Dalam 

pemahaman seperti ini, tidak ada lagi yang dapat dianggap sebagai sebuah keajaiban, 

sebab  keajaiban—atau sesuatu yang tampak tidak selaras dengan hukum semesta—

hanya akan dipandang sebagai perilaku Tuhan dalam penciptaan yang di luar 

kebiasaan-Nya saja, sebab  hubungan Tuhan dengan dunia ciptaannya sesungguhnya 

tidak memiliki perantaraan prinsip-prinsip rasional. 

 

Occasionalism—sebuah teori filsafat yang menapikan Hukum Sebab-Akibat, atau 

rangkaian kejadian yang menyebabkan kejadian berikutnya, akan tetapi setiap 

kejadian yaitu  secara langsung dijadikan oleh Tuhan secara berkesinambungan, 

oleh sebab  itu tidak ada yang saling berkaitan, semuanya yaitu  peristiwa mandiri 

yang masing-masing diciptakan Tuhan secara langsung.  

 

Di tahun 1993, Karen Harding menulis sebuah gagasan bertajuk, "Causality Then and 

Now: Al Ghazali and Quantum Theory"—Sebab-akibat, dulu dan sekarang: Al 

Ghazali dan Teori Quantum—menjelaskan beberapa persamaan yang 

mencengangkan antara konsep yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali yang hidup 

di antara abad ke 10 dan ke 11, dan konsep occasionalism dan the (disputed) 

Copenhagen interpretation tentang Quantum Mekanik pada abad ke 19 dan ke 20—

Lihat bagian Teori Quantum mekanik dalam artikel  ini. Dia menulis sbb.: "Kedua 

pendapat itu sama-sama BERTENTANGAN dengan nalar umum, yakni “melihat” 

setiap objek sebagai sesuatu yang tidak memiliki inherent properties/unsur inheren 

dan tidak pula memiliki eksistensi yang mandiri. Setiap objek