Maka mulailah kami dalam perjalanan spiritual kami sendiri dalam menulis artikel
tersulit yang pernah kami tulis ini, tentang santet dari kaca mata penglihatan spiritual
kami. Dan harga yang kami bayar untuk mewujudkan artikel ini di tangan Anda,
pembaca terkasih, telah sangat mahal kami bayar. Saya pun telah tersantet dengan
mantap, sampai harus masuk penjara dengan vonis 5 tahun dan denda 100 juta.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), SANTET yaitu sebuah kata benda
yang berarti SIHIR. Kata kerjanya yaitu MENYANTET berarti MENYIHIR. Sihir
menurut kamus tersebut yaitu juga sebuah kata benda yang berarti: Perbuatan ajaib
yang digunakan dengan pesona dan kekuatan gaib. Ajaib yaitu sebuah adverb, yang
menurut KBBI, bermakna: ganjil; aneh; jarang ada; tidak seperti biasa. Sementara
Gaib yaitu sebuah kata kerja, bermakna: Tidak kelihatan; tersembunyi; tidak nyata.
Sementara itu, makna santet yang selama ini dipahami kebanyakan orang yaitu
sesuatu yang dilakukan sendiri atau dikerjakan oleh orang lain yang kita mintakan
bantuan, dukun santet, untuk mendatangkan kerugian dalam berbagai bentuknya bagi
orang yang menjadi target santet, dengan melakukan ritual tertentu untuk meminta
bantuan jin atau kekuatan hitam, dan jin tersebutlah yang akan melakukan pekerjaan
tersebut. Kita bisa melihat setidaknya ada 5 pihak yang terlibat di sini: 1) Penyantet,
2) Target santet 3) Sub-contractor, seorang tukang santet, 4) Jin pelaksana dan 5)
Allah swt. Pemilik izin dari segala izin, yang segala hal termasuk santet terjadi atas
izin-NYA. Dan dalam kenyataannya, santet dengan jin ini, lebih banyak fitnah yang
ditimbulkannya dibandingkan bukti mengenai keterjadiannya.
“Ternyata yang lebih berbahaya dari santet dengan kekuatan jin, yaitu tuduhan
atau fitnah keji yang ditimbulkannya, sehingga telah membuat ratusan orang yang
tidak bersalah mati terbunuh sebab fitnah—atau hidup mereka dibuat berantakan
sebab fitnahnya itu.”
Oleh sebab itu terasa musykil, saat negara ingin juga berniat menjulurkan tangan
kekuasaannya terhadap hal ini. Namun demikian, RUU Santet pun sampai sekarang
belum disahkan menjadi sebuah UU, sebab akan teramat sulit dalam
pembuktiannya—meskipun kadang bukti yang kokoh tidak selalu menjadi dasar
dijatuhkannya hukuman pada seseorang—meskipun banyak sekali orang yang
mengaku pandai menyantet. Namun penerapan hukum yang hanya dilandaskan pada
adanya pengakuan sangat lemah dalam penegakkan keadilan dari sebuah perkara
hukum. Santet dengan jin belum bisa dibuktikan secara ilmiah hingga sampai saat ini.
Kalau pun Permadi─seorang paranormal terkenal pada jamannya─pernah bersikeras
mengatakan bahwa santet jenis ini bisa dibuktikan secara ilmiah dengan cara rontgen,
dan dari hasilnya kita mungkin bisa melihat adanya media santet jin serupa paku, silet
dsb. Namun pembuktian tersebut─jika memang ada─hanya membuktikan keberadaan
benda-benda tersebut di dalam tubuh seseorang, namun tidak bisa membuktikan
bahwa pemicu nya yaitu santet dengan jin.
Makna SANTET yang akan kita bahas dalam artikel ini pun yaitu santet dalam artian
hakikat kekuatan santet manusia, sebatas potensi/fitrah yang berhasil diraihnya. artikel
yang Anda pegang ini akan mengupas Rahasia ilmu SANTET secara ilmiah atau
scientific tanpa perlu pemakaian bantuan jin, namun memiliki efek membunuh
yang lebih niscaya sebab ini telah ter-imprint atau telah terpetakan di dalam sistem
tubuh kita sendiri, bawaan kita sejak lahir. Dan besar kemungkinan Anda pun─seperti
kami juga─termasuk salah satu korban santet yang kami maksud. Pemahaman Anda
terhadap konsep yang kami sajikan di dalam artikel ini akan segera menyadarkan Anda,
mematahkan santet yang sedang Anda derita, dan sekaligus menjadi anti-santet bagi
Anda dan orang-orang yang Anda cintai, mulai sekarang dan selamanya. Amin.
sebab santet yaitu sebuah fenomena keseharian, dan ternyata tertuduhnya sebagian
besar seharusnya yaitu ia yang terkena 4 jari tangan yang lainnya saat menunjuk
pihak lain, maka kami menulis artikel ini. artikel ini sama sekali tidak mudah untuk
ditulis, kami membutuhkan perenungan dan riset yang mendalam selama bertahun-
tahun, itu pun mungkin belum terlalu dapat memuaskan hati kami sebagai penulisnya.
Namun setidaknya, artikel ini akan memantik pemikiran ke arah yang tidak Anda duga
sebelumnya. Semoga Anda bisa menemukan sesuatu yang tidak pernah Anda
temukan sebelumnya di artikel -artikel yang lain yang pernah Anda baca. sebab itulah
tujuan kami dalam setiap proyek penulisan artikel yang kami lakukan—jika tidak
menantang dan mengurai pemikiran, kami tidak akan memilih topik itu. Bagi kami
menulis artikel yaitu sebuah proses kreatif, sekaligus pembuka pipa curahan ilham
dan rahmat-Nya melalui hati kepada tulisan, sebab setiap kali kami berniat menulis
tentang sebuah topik, kami selalu tidak tahu apa yang akan tertulis di sana, dan
kemudian kami terbengong-bengong saat ia sudah tersusun dalam sebuah artikel . Ya!
Selalu begitu.
Sebagian artikel ini diselesaikan dibalik jeruji penjara—ya, kami telah terkena salah
satu SANTET yang dibahas juga di dalam artikel ini—perjalanan spiritual yang
7
melintasi masa ini, akan juga memberi sentuhan tersendiri pada cita rasa artikel ini.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Sebelum memulai membaca artikel ini,
mari kita renungkan apa itu makna kemusyrikan, sebab biasanya kata itu dilekatkan
kepada artikel karya-karya kami yang sebelumnya—oleh mereka yang bahkan tidak
pernah membaca artikel -artikel kami itu, mereka hanya membaca kovernya saja—mari
kita resapi penjelasan dari salah satu ulama, Prof. Dr. Buya Syakur Yasin/Buya
Syakur, saat beliau menjawab satu pertanyaan klasik tentang kemusyrikan—pada
sebuah sesi tanya jawab pengajian—dengan tata bahasa yang ringan dan
meringankan, sbb:
Pak Soleh: “Bagaimana antara musyrik dan tauhid batasnya ini, sehingga orang
tidak mudah mengatakan misalnya, .... Kamu musyrik! Keinginan untuk dipuji juga
musyrik dan sebagainya?”
Buya Syakur: “Kalau Musyrik itu konsekuensinya apa?”Konsekuensi dari
kemusyrikan itu, seseorang melakukan kemusyrikan, apa konsekuensi yang
ditakutinya itu. Orang makan di jalanan, makan jajan aja ciki-cikian yang ada
boraknya, yang ada formalin, dilarang, “Nak jangan makan makanan pasar begitu,
dilarang makan seperti itu. Apa konsekuensinya, makan makanan yang banyak borax,
formalin-nya, apa konsekuensinya?”
Pak Soleh: “Kena penyakit.”
Buya Syakur: “Ya kena penyakit, kalau orang itu musyrik, apa konsekuensinya?
(menunggu jawaban). Orang itu musyrik, iya kan, lalu apa konsekuensinya? Dari
kemusyrikan ini, apa akibatnya dari kemusyrikan ini? Konsekuensinya itu? Masuk
Sorga? Atau rezekinya banyak gitu? Apa konsekuensinya?”
Pak soleh: “Euh, menyekutukan Allah?”
Buya Syakur: “Iya, setelah menyekutukan Allah, apa konsekuensinya? Nah itu kan
jadi persoalan. Nah ini, sesungguhnya, yang saya maksudkan, bahwa kemusyrikan itu
lebih banyak yang tidak kelihatan, yang tidak disadari, yang tidak dirasakan yang
tidak diketahui, yang tidak dipelajari. Kemusyrikan yang tersembunyi itu, jauh lebih
banyak dibandingkan kemusyrikan yang kelihatan. Ibu-ibu sekalian, binatang ini, mana
yang lebih banyak, yang di darat atau yang di dalam lautan yang paling banyak? Di
daratan? Jumlah binatang yang darat dan yang di laut, banyak mana?
Ibu-Ibu pengajian serempak: “Di lauuut.”
Buya Syakur: “Iya, ribuan kali lipat, daratan ini hanya berapa persen isinya, hanya
5% ya? 15%? Dari permukaan bumi semuanya? Binatangnya dari yang terkecil
berbentuk plankton, sampai ikan paus yang panjangnya 30 m, itu hanya di lautan.
Jadi binatang yang tidak kelihatan, lebih banyak dibandingkan binatang yang kelihatan.
Kemusyrikan yang kelihatan itu hanya sedikit, yang lebih banyak yaitu kemusyrikan
yang tidak kelihatan. Yah! Begini, ucapan kita, pikiran kita, khayalan kita, imajinasi
kita, perbuatan kita, semuanya kalau kita tidak berhati-hati, semuanya sudah berbau
kemusyrikan. Semua! Salah satu yang tertuduh kemusyrikan, yaitu persoalan jimat-
jimat. Dan saya tukang ngasih jimat.”
Kemudian, Buya Syakur melanjutkan penjelasannya:
“Kenapa ngasih jimat musyrik? sebab memicu kepercayaan bahwa benda itu
memiliki kekuatan, oke? Oke? Paham, semua? Udah paham Bu? Semuanya?
Okeh! Sekarang, katakanlah ada orang yang mau berburu di hutan, dia saya kasih
jimat keselamatan, supaya gak dimakan macan. Lalu teman berburunya, dikasih
pistol oleh atasannya. Siapa yang lebih berani masuk hutan? Yang bawa pistol atau
yang bawa jimat? Jadi lebih besar mana kemusyrikannya? Begitu kita muncul adanya
ketergantungan kepada sesuatu yang bisa melindungi, kita sudah musyrik, berarti
jika jimat dibandingkan dengan pistol mana lebih besar kemusyrikannya? pistol!”
Beliau melanjutkan:
“Oke ... nih ibu-ibu, kalau ke mall, hanya membawa duit Rp 50,000, pasti langsung
menuju barang yang benar-benar dibutuhkan, ngaku aja deh ... ngaku aja (terkekeh)
... gak berani lihat-lihat barang barang lainnya, terus langsung ke tempat tujuan, beli
Softex! Tapi begitu bawa duitnya Rp10 juta, masya-Allah. telang teloooong ... begitu
gagahnya. Bayangkan, berarti uang juga mengubah perilaku kita. Menjadi
sombong, menjadi yakin, menjadi menghinakan orang lain, berarti uang juga
kemusyrikan. Yah! Ini persoalannya. Nah ... yang keliatan mata, namanya asyirkul
jali, yang tidak keliatan namanya asyrikul kohfi, dua-duanya sama-sama musyrik,
jadi di situ persoalannya. Jadi saat orang itu (menuduh orang lain), “Musyrik!
Musyrik! Musyrik!” itu orang jangan-jangan tidak paham maknanya kemusyrikan.
Oke!?”
“Ada lagi yang lebih jahat dibandingkan musyrik. Kalau musyrik kan mempersamakan
Tuhan dengan yang lain, sekarang ada orang di antara kita tertindih hutang.
Rumahnya terancam disita oleh bank, sawah mobil sudah diambil, pusing dia.
Kemudian dia mengejar pertolongan dari pamannya, seorang jendral di Jakarta.
saat pamannya gak bisa nolong, sedih hati lagi. Kemudian dia mengejar
keponakan di Bandung, juga gak bisa nolong, menantu di Surabaya gak bisa nolong.
Akhirnya datang ke kompleks pemakaman dan masjid Sunan Gunung Jati, nyungseb
nangiiiis, berdoa lagi, sembahyang lagi, puasa ... ini fenomena begitu kita lihat kan?
Itu artinya, setelah meminta tolong kepada sahabat, kerabat, sodara gagal, terakhir
baru minta kepada Allah, artinya Allah ditaro nomor teit,” jadi Allah ditaruh di
belakang. Bayangkan! Ini yaitu sebuah penghinaan, sebab Allah hanya dijadikan
cadangan terakhir.”
Ini, kalau kita, semuanyaaa ... ini yang penting begini aja lah, ini kalau ada orang
yang menuduh-nuduh orang lain musyrik, itu orang ... yakiiiin dirinya suci dari
kemusyrikan? Sama halnya dengan yang menghina, “Melarat! Melarat! Melarat!”
Kaya gak nih orangnya nih? Yang mengatakan, “Melarat! Melarat! Miskin!
Gembel!” Yang menghina orang miskin, siapa yang menghina demikian? Apakah
orang miskin? Pasti yang merasa kaya. Berarti yang suka menuduh orang. “Musyrik!
Musyrik! Musyrik!” berarti dia orang yang meyakini dirinya suci dari kemusyrikan.
“Mudah-mudahan betul ya, mudah-mudahan dia itu orang yang betul-betul tidak
pernah bersentuhan dengan kemusyrikan, amin! Doain saja, jangan marah. Dan kita
saat ditegur oleh mereka, “Musyrik!” Jangan marah. Coba dipikirkan, barangkali,
iya ... iya dong! Nah! Ini yang jadi masalah, bukan proses tegur menegur. Orang di
9
alam dunia ini, ibu sekalian, tidak bisa dihindari bahwa manusia itu harus ada input,
saran, ada usulan, ada teguran, ada bantuan, ada pertolongan, itu kan apa namanya,
norma kehidupan, manusia itu hidup yaitu inter-dependensi tidak bisa dihindari,
saling bantu, saling ketergantungan, nah! Makanya, menegur, menyapa, memberi
saran, mengkritik, itu yaitu fenomena kehidupan yang wajar.”
“Ketentuan musyrik dan tidak itu pada akhirnya yaitu bukan fenomena yang kita
lihat dengan mata. Kemusyrikan itu adanya di dalam hati kita. Oke sekarang saya
nanya. Saya ngasih jimat sama Yaul, dikantongin, musyrik enggak? Tergantung
keyakinan! Ah betul! Yang mengatakan musyrik apa alasannya? Meyakini adanya
kekuatan lain selain Allah. Tadinya dia masuk hutan tidak berani, saya kasih kulit
macan, jadi berani. sebab binatang yang melihat dia akan terlihat seperti macan,
jadi akan pada lari ketakutan semua. Nah sekarang saya nanya, saat kamu ke
Jakarta, gak bawa duit, jalan kamu nunduk kok, tekluk, tekluk. Begitu kamu bawa
duit, kamu penuh keyakinan, kamu lebih yakin kepada uang dibandingkan kepada jimat
itu! Jadi mana yang lebih besar kemusyrikannya? Ah itu. Gimana lagi? Anda baru
punya paman jendral saja sudah petantang petenteng, lebih yakin kepada pamanmu
dibandingkan kepada Allah, siapa yang musyrik?”
“Kemusyrikan itu ada di dalam hati kita sendiri. Betul Kang? Lah ... baru punya
anak jadi pangkat itu saja sudah bukan main ngomongnya, yakin banget. Ya Allah Ya
Robbi ... bagaimana saya melihat bahwa kemusyrikan itu 85% ada di dalam materi.
Bukan berhala-berhala itu, percaya gak? Ya iya. Ada yang menaruh kemusyrikan itu
di dalam jimat, ternyata kemusyrikan itu ada di dalam kantong atau dompet Anda
juga. Setuju enggak. La iya ini Anda bicara tentang kemusyrikan, Anda paham nggak
kemusyrikan itu apa? Tidak akan sama halnya antara menganggap masing-masing
dari kita bener: saya bener, kamu juga bener. Tidak masalah. Yang jadi masalah
saat Anda menyalahkan orang lain, sebab Anda telah melampaui batas, Anda
telah merasa paling benar sendiri. Orang bener tidak akan menyalahkan orang lain,
tapi orang yang paling benar sendiri, nah itu persoalannya. Jadi bibitnya radikalisme
yaitu dari merasa paling benar sendiri.”
“Ini begini, kita kalau belajar tentang akidah yang sebenernya, percaya, setiap kita
nafas keluar masuk, itu penuh dengan dosa-dosa, penuh dengan kemusyrikan-
kemusyrikan, maka nabi sehari 100 kali bertobat, percaya gak? Nih, liat ke sawah
ternyata gagal panen kena klowor, langsung meriang! Nanti saya makannya
bagaimana? Pulang dari sawah nangis, beriman gak dia? Ternyata masih mengeluh
juga dengan keputusan Allah, paham enggak? Percaya enggak? Jika seorang atasan
mengatakan, “Masa depanmu ada di ujug penaku ini, jangan macem-macem!
musyrik enggak? Kita sering disakiti dengan orang yang menolong kita, “Kalau gak
gue tolong, sudah mampus lo! Semua ucapan yang kita ucapkan yaitu ucapan
penuh kemusyrikan. Kalau bukan aku yang berdakwah, tidak mungkin Islam tersebar.
Musyrik bukan? Kiai mengatakan, “Kalau bukan aku yang mengajari kamu ngaji?”
Kiai nih yang ngomong, musyrik gak? saat kamu tertindih utang, bank nagih,
rumah terancam disita yang terbayang, mertua yang kaya. Gagal, nyari paman yang
jadi jendral, gagal cari ponakan yang jadi pengusaha, Tuhanmu terakhir! Yang
berhak untuk menyatakan seseorang itu, kafir, (murtad), musyrik, bidah itu bukan
kamu! Allah yang menentukan! Setop!”
10
“Phieeew (mengusap keringat) ....” Dan sekarang, pembaca sekalian yang budiman,
mari kita mulai membaca artikel yang sangat menarik ini.
Bismillah ....
Rumah Tahanan Kelas 2B Pandeglang, Banten 2019.
Bagian 1: Semua Orang Pernah Terkena Santet dan atau Menyantet
Kisah Tersantet
Muntah Darah
Awal Syawal 1437 H/pertengahan Juli 2016, Pukul 10 malam, Cibitung Banten Ki
Ngawur dan Nyi Damar bercinta melepas rindu, pilu dan penat. Tak seperti biasanya,
kali itu mereka bercinta seolah itu yang pertama dan sekaligus yang terakhir kalinya
bagi kami, bergelora, hangat namun sekaligus penuh kegetiran. Klimaks ditandai—
kali itu—dengan keluarnya dahak yang keras dari Ki Ngawur.
“Darah Mah!”
“Apa?”
“Lihat ini!”
Mereka melongo melihat lembar-lembar darah segar yang tertampung di kedua
telapak tangan Ki Ngawur. Tak lama kemudian Ki Ngawur segera menyambar tissue
yang ada di dekatnya, sebab ia kemudian muntah darah secara bertubi-tubi, lembaran
darah keluar dari mulutnya seperti cairan yang keluar dari botol yang tumpah. Darah
segar berceceran.
Kengerian menyelimuti mereka berdua. Nyi Damar, tercenung mematung berbalut
sentuhan dingin dari embun malam yang menyelinap melewati celah anyaman
dinding bambu rumah mereka. Dahinya berkerut tujuh, ia pun memeras otaknya.
Betapa terkejutnya ia, suaminya, pilarnya, Ki Ngawur Permana, yang selama ini
merupakan sebuah simbol kekuatan baginya kini sedang muntah darah tak berdaya di
sampingnya—sesuatu yang salah telah terjadi ... lagi.
”Apa yang terjadi?” Batinnya sedih. Ki Ngawur tak pernah menderita sakit yang
berarti selama 8 tahun mereka hidup bersama sebagai suami istri.
“Itu bukan apa-apa Pah, sebentar lagi akan berhenti”, Nyi Damar berusaha
menenangkan suaminya, padahal sebenarnya ia sedang menenangkan dirinya sendiri.
Namun memang pada akhirnya itu yang terjadi, lembaran darah yang keluar berganti
bercak-bercak halus setelah beberapa saat. Mereka berdua pun langsung tenggelam
11
dalam sebuah meditasi. Mereka masuk ke relung batin yang paling dalam, berusaha
mencari sebuah pencerahan, mengetuk, menggedor, meminta jawaban.
“Tuhanku, apa yang harus kami lakukan?”
“Tuhanku, ampunilah kami.”
Kisah-kisah Menyantet
Dia pun Menghilang Begitu Saja, Bagaikan ditelan Bumi
“Semangat banget sih lu?” Dahi senior-auditor-ku Meg Keng, berkerut. Tangan
lentiknya yang dari tadi sedang memegang sebuah majalah berhenti membolak-
baliknya sejenak. Saya bingung harus menjawab apa? Bukankah saya harus selalu
bersemangat dalam bekerja? Tapi saya hanya tersenyum. Kemudian saya terus
melanjutkan pekerjaan saya, dengan double semangat. Dan Meg melanjutkan
majalahnya. Sebagai junior-auditor di sebuah kantor akuntan publik terbaik di dunia
waktu itu─saya yang berasal dari Garut ini─tentu saja sangat bersemangat menjadi
bagian darinya, dan dengan hasil dari sebuah semangat tak biasa juga saya bisa lolos
saringan masuknya. Ya semangat yaitu modal saya, satu-satunya.
Adegan di atas terjadi sekitar awal tahun 1997, namun sebagai seorang auditor, cita-
cita saya semenjak saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di kampus Fakultas
Ekonomi UNPAD, saya selalu semangat full gear. Kalau Anda pernah nonton Film
Zootopia, saya terpana melihat karakter si Carrot, itu saya-banget kalau lagi kerja.
Naif, lugu, penuh semangat, dan pada akhirnya kecewa sebab the nice girls don’t get
the corner office. Saking semangat dan do the best, saya lupa melakukan sosialisasi,
dimana inilah penentu kemajuan karir kita yang utama—well such as ngerokok
bareng, kobam bareng etc. Oh ya ... Meg Keng, ia berhasil mulus menjadi asisten
manajer dan kemudian melaju menjadi salah satu penghuni pojokan kantor. Saya?
Kehadiran saya hanya akan terasa kalau saya sudah resign dari posisi saya, selalu
begitu. sebab para mantan bos saya, selalu berusaha mencari kabar tentang saya,
pada orang-orang yang mereka anggap dekat dengan saya, itu berarti mereka
merindukan saya kan?
Dan saya hampir selalu begitu dalam bekerja sebagai karyawan. Meskipun atasan
saya mungkin fail to see, atau don’t want to see atau too busy to see. Dan kalau ada
atasan saya yang dont want too see, sengaja sehingga ia lalai mempromosikan saya,
maka tak lama kemudia ia didemosi. Kalau ia ingin merelokasi saya ke tempat jauh,
sebab tidak menyukai saya secara personal, maka ia yang ter-relokasi. Dan kalau ada
yang ingin menyingkirkan saya dengan lebih nasty, maka ialah yang menghilang,
tanpa jejak. Benar-benar menghilang, HRD pun tak berhasil mengikuti jejaknya. She
just simply dissappears tanpa surat resign tanpa mengembalikan asset perusahaan
semisal laptop, dan fasilitas pinjaman milik perusahaan lainnya, rumahnya sudah
kosong dan tak ada tetangganya yang bisa dimintai keterangan. Dan yang paling
menarik yaitu , pada setiap saat issue persaingan pribadi antara saya dan atasan saya
menjadi besar dan melibatkan lebih dari 2 orang jajaran eksekutif perusahaan, at the
end perusahaan-perusahaan dimaksud pun akan dissolved dengan berbagai
cara─setelah saya keluar dari perusahaan itu─ada yang yang benar-benar bubar
sebab extraordinary major event yang kerugiannya tak mampu ia tahan, dijual dan
berganti nama serta BOD, produksinya menurun drastis. Rasanya saya telah
12
melakukan sesuatu yang luar biasa. Rasanya saya telah melakukan santet
kolektif─kumpulan orang-orang─santet terhadap badan usaha.
Kisah Rosul saw. Terkena Santet
Pada sebuah kitab yang khusus menjelaskan sebab-sebab turunnya suatu ayat atau
surah al-Quran, diceritakan bahwa turunnya surah ke 113 dan 114 dalam mushaf
yaitu sebuah kejadian santet di bawah sumur yang menyebabkan Rasulullah saw,
pernah mengalami sakit parah.
Pada suatu hari berkata pada Aisyah ra. “Telah datang padaku dua malaikat, yang satu
duduk di sebelah kepala beliau dan yang satu lagi di sebelah kaki beliau. Berkatalah
Malaikat yang duduk di sebelah kaki beliau kepada Malaikat yang duduk di sebelah
kepala beliau, “Apa yang engkau lihat?” Ia menjawab: “Beliau terkena guna-guna.”
Ia bertanya lagi, “Apakah guna-guna itu?” Ia menjawab, “Guna-guna itu sihir.” Ia
bertanya lagi, “Siapa yang membuat sihir ini?” Ia menjawab, “Labid Ibn al-A’sham,
seorang Yahudi yang tinggal di Madinah, yang sihirnya berupa gulungan yang di
simpan di dalam sumur keluarga si Fulan di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke
sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya, kemudian ambillah gulungannya dan
bakarlah.”
Pada pagi harinya Rasulullah saw. mengutus Amar bin Yasir dan kawan-kawannya.
Setibanya di sumur itu, tampaklah airnya merah seperti air pacar. Air itu kemudian
ditimba, dan diangkatlah batu yang menutupinya, kemudian dikeluarkanlah gulungan
tersebut dari sumur itu dan kemudian dibakar. Ternyata di dalam gulungan itu ada tali
yang terdiri dari sebelas simpul. Kedua surah ini, 113 dan 114 turun berkenaan
dengan peristiwa ini, setiap kali Rasulullah saw. mengucapkan satu ayat terbukalah
satu simpulnya.
Bagian 2: Santet antara Karma dan Takdir
Konsep Santet, Konsep Karma dan Konsep Takdir
Konsep SANTET yang kami sajikan dalam artikel ini TIDAK DIDASARKAN pada
atau terkait dengan konsep KARMA, melainkan pada konsep TAKDIR dalam Islam.
sebab TERKENA SANTET oleh perbuatan pihak lain—akibat kedengkian pihak
lain, jika kita lalai memohon perlindungan—tidak ada dalam konsep karma, namun
itu BISA terjadi, begitu pun kita bisa menyantet pihak lain, dan mendatangkan
penderitaan sebab nya.
Kata karma memiliki makna amal perbuatan dan BUKAN bermakna takdir-balasan
seperti yang mungkin selama ini Anda maknai. Karmaphala, yaitu efek dari
perbuatan itu, terkait hukum sebab-akibat,atau dialektika. Dalam Ajaran Budha,
amalan atau deeds ini, bisa memiliki berbagai bentuk “amalan YANG DISENGAJA”,
melalui PIKIRAN, PERKATAAN dan PERBUATAN.
As a man himself sows, so he himself reaps; no man inherits the good or evil act of
another man. The fruit is of the same quality as the action. Mahabrata, xii. 291.22
13
Berikut kami sajikan PERBEDAAN kedua konsep ini dalam bentuk tabel, agar lebih
mudah kita pahami.
KONSEP HINDU, BUDHA, JAIN, TAO:
KARMA KONSEP ISLAM: TAKDIR
Definisi: Perbuatan, baik atau buruk, yang
memiliki efek berbanding lurus dengan
perbuatan itu, baik segera maupun ditunda di
kehidupan berikutnya. Masih menjadi bahan
perdebatan hangat di antara para scholar,
agama Hindu, Budha, Jain, dan Tao.
Definisi: Segala ketentuan Allah swt. Yang
terdapat dalam Pengetahuan-Nya, dengan
perumpamaan, telah tertulis dalam Kitabnya
Yang Nyata, namun rahasia. Masih menjadi
perdebatan antara para penganut paham takdir
fatalism (predestined), dan penganut non-
fatalisme (freewill).
Terkumpul dalam saldo neraca karma, dan
rahasia. Berisi karmapala, karma baik dan
karma buruk seseorang, carried forward, dari
pertama ia dilahirkan dalam kehidupan
pertamanya, sampai hari ini. Namun, tidak ter-
disclose, apalagi auditable.
Tertulis dalam Kitab yang Nyata (Lauh
Mahfuz), dan rahasia. Bukan hanya tentang
perbuatan manusia beserta efeknya, namun
segala sesuatu yang berkaitan dengan segala
sesuatu yang berlaku dan tercipta, termasuk
segala sistem yang berlaku di alam raya.
Secara umum terkait dengan "multiple
rebirth", namun tidak ada yang mampu
mengingat atau membuktikan kehidupan
sebelumnya.
Tidak ada konsep rebirth/reinkarnasi, hidup
hanya yang ini dan untuk
dipertanggungjawabkan sebagian di dunia ini,
kemudian sepenuhnya secara benar-benar
adil, nanti di Hari Pembalasan.
Terkait hukum sebab-akibat, hukum etika
moral tentang baik dan buruk. Tidak ada
petunjuk dalam bentuk code of conduct tertulis
yang memuat detail tentang parameter baik
dan buruk. Tidak ada pertimbangan secara
methaphysis.
Terkait dan tidak terkait dengan hukum
sebab-akibat (perdebatan freewill dan
predestined), doa, petunjuk-petunjuk Allah
swt. Dalam bentuk firman-Nya, sunah rosul,
hidayah, ilham dan pertolongan Allah berupa
Innaayaah. Quantum Mekanik, bahkan
mendukung konsep tidak adanya hukum
sebab-akibat.
Tidak ada konsep fitrah, atau kembali pada
fitrah, ada konsep moksa memasuki level
tingkat dewa.
Terkait dengan Fitrah Manusia yang tetap
dan tidak berubah sebagai makhluk dengan
fitrah itu.
Tidak ada Hari Pembalasan, karma
merupakan infinite loop process dari proses
pembalasan itu sendiri, kecuali jika seseorang
berhasil memasuki level Moksa.
Ada Hari Pembalasan setelah kematian, dan
takdir tiap individu sehubungan dengan hari
itu.
Tidak ada konsep hari akhir, kehidupan di
dunia akan berlangsung terus menerus tanpa
kesudahan.
Ada konsep hari akhir—Hari Kiamat.
Tidak ada keterlibatan Tuhan, atau apa pun
yang sesuatu yang “lebih besar” dari kita.
Selalu ada keterlibatan Tuhan—mysticism,
Men NEVER stand-alone. Bahkan Tuhan
selalu sibuk mengurus kebutuhan makhluk-
makhluknya.
Tidak ada konsep cobaan hidup, jika
ekstrimnya, perbuatan kita sepenuhnya baik,
maka efeknya yaitu tidak adanya
Hidup itu sendiri yaitu sebuah cobaan.
Orang yang gemar berbuat kebaikan bisa saja
seolah menuai keburukan, jika keburukan itu
14
kesengsaraan hidup. Tidak ada konsep
penggoda, di luar diri kita, iblis/setan.
bersifat cobaan keimanan baginya. Konsep
musuh yang nyata bagi manusia: Iblis/Setan.
Tidak ada konsep taubat, ampunan dosa dan
penghapusan dosa. Yang ada hanyalah cycle
loop pembalasan karma.
Ada Konsep taubat, ampunan dan
penghapusan dosa.
Tak ada lagi konsep memilih sebab telah
berada dalam sebuah jaring rumit karmapala,
sehingga akan kesulitan menganalisis mana
yang free will mana yang karmic.
yaitu serangkaian paket takdir (The
Butterfly Effect), yang bisa/tidak bisa kita
pilih dengan efek yang berbeda. Kemampuan
memilih selalu ada dalam tiap langkah yang
akan kita ambil, free will—non fatalisme
takdir. Ada juga yang meyakini bahwa kita
tidak memiliki prerogative dalam memilih apa
pun.
Mari kita bahas konsep TAKDIR, USAHA, DOA dan Quantum Mekanik yang
menjadi konsep dasar artikel ini, secara lebih mendalam.
TAKDIR—Freewill atau Predestined?
Takdir yang Bisa—benarkah kita bisa mengubahnya?—dan Tidak Bisa Kita Ubah
Meskipun salah satu New Age Guru, Louis Hay percaya bahwa, “Kitalah yang
memilih siapa orang tua kita”, namun tentu saja tidak ada bukti bahwa kitalah yang
memilih siapa orang tua kita. Itu yaitu sesuatu yang telah dipilihkan buat kita, dan
kita tidak bisa mengubahnya, dan pada siapa kita diperanakkan yaitu sebuah takdir
yang tidak dapat kita ubah. Namun, bagaimana kita menyikapinya yaitu berada
dalam genggaman tangan kita—benarkah? Lahir dari orang tua yang miskin dan
kurang berpendidikan, misalnya, yaitu sebuah takdir yang tidak bisa kita ubah,
namun menjadi kaya dan memiliki pengetahuan tinggi, yaitu sebuah takdir yang bisa
kita pilih dan usahakan untuk diri kita—benarkah?
Segala SISTEM atau hukum-hukum yang berlaku di alam raya—baik itu yag berlaku
di dalam diri kita, maupun di luar diri kita—yaitu juga takdir yang tidak bisa kita
ubah. Namun, mempelajari, memahami dan memanfaatkannya sebaik mungkin yang
kita bisa, dalam upaya mencapai tujuan yang kita inginkan dengan cara menyesuaikan
diri kita dengan cara hukum-hukum itu bekerja, yaitu takdir yang masih berada
dalam kendali kita—benarkah? Jika Anda ingin kaya, misalnya, satu-satunya cara
yaitu dengan mempelajari, memahami dan menerapkan dengan penuh disiplin, ilmu
kekayaan yang membuat Anda bisa menyelaraskan diri dengan bagaimana hukum-
hukum tentang kekayaan bekerja di alam raya ini. Anda tidak akan menjadi kaya
hanya dengan berpangku tangan, namun juga dengan bekerja keras bukan pula
jaminan bahwa seseorang bisa menjadi kaya—buktinya bertebaran di sekitar kita.
Masa lalu, yaitu serentetan rincian plot takdir yang sudah tidak bisa kita ubah
rinciannya, hari ini, kecuali jika kita bisa mereset/mengulangi sebuah hari, seperti
pada sebuah film fiksi ilmiah—meski tak ada yang tak mungkin bagi Allah—namun
kita akan masukan kejadian masa lalu sebagai bagian dari takdir yang sudah tidak bisa
lagi kita ubah—benarkah? Namun, pengalaman dan hikmahnya akan tetap
mempengaruhi, pilihan takdir di masa depan. Dan takdir di masa depan, kita masih
bisa mengubahnya, atau memperkuat kemungkinan terjadinya—Anda tak ingin
15
gambling kan? Kita kembali kepada inti semula: saat ini tentang masa depan, maka
pola pikir mentalnya yaitu kita bisa mempersiapkannya sebaik mungkin.
Kematian setiap yang hidup, yaitu sebuah takdir masa depan yang tak bisa kita ubah
untuk menghindarinya, dan bukti yang nyata dan pasti terus bergelimpangan di sekitar
kita, meskipun demikian, kematian kita sendiri seringkali yaitu sesuatu yang selalu
terkesan abstrak atau jauh. Namun, kapan kita mati, bagaimana kita mati, setelah
melakukan apa kita mati, dalam misi apa kita mati, itu yaitu takdir yang masih bisa
kita pilih dan usahakan, agar kematian kita yaitu sebuah kematian terbaik dari sekian
juta kemungkinan kualitas kematian yang tersedia dalam paradox takdir kematian
kita—benrakah? Itulah kenapa Stephen Covey, dalam artikel nya 7 habits of the Highly
Effective People, menganjurkan kita untuk memvisualisasikan bagaimana kualitas
kematian kita, justru seawal mungkin, agar hidup kita paling efektif—starting from
the end. Begitu pun petunjuk kitab suci, yang berulang kali membahas kematian
makhluk, keniscayaan Hari Kiamat, dan Hari Penghakiman, sebagai salah satu induk
pengajaran Tuhan pada kita.
Paradox Takdir
“Allah MENETAPKAN semua takdir seluruh makhluk semenjak lima puluh ribu
tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”—Shahih: HR. Muslim (no.
2653) dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra.
Segala sesuatu yaitu takdir—termasuk tersantet dan menyantet. Takdir yaitu
segala sesuatu, dan Allah Maha Kuasa atas segala takdir.
Takdir bersifat paradoxical, kita tidak pernah tahu apa yang telah tertulis dalam kitab
takdir kita, kita menjalani takdir kita, tiap detiknya, apa yang terjadi pada kita, apa
yang kita pilih, apa konsekuensi dari segala pilihan kita, namun tak ada yang akan
terjadi tanpa izin-Nya, tanpa petunjuk dari-Nya, tanpa Dia menghendakinya. Percaya
pada takdir atau ketetapan dari Allah, yaitu merupakan rukun iman yang ke-6, bagi
pemeluk agama Islam. Namun, terkait takdir buruk—menurut nafs/keinginan kita,
termasuk terkena santet—jika itu terjadi—maka itu berarti telah tertulis dalam
cakupan kehendak Allah pada garis hidup kita. Doa dan usaha, dapat mengubah
takdir yang sudah tertulis, dan tak dapat lagi diubah menurut beberapa keterangan,
jadi buat apa berdoa dan berusaha, jika Allah pun telah tahu bahwa kita pun akan
berdoa dan berusaha? sebab kita berdoa dan kita berusaha pun yaitu sebentuk
takdir. Takdir kita dibocorkan Allah lewat petunjuk-petunjuknya pada kita, kita
diingatkan kembali pada takdir kita, pada mekanismenya, pada pilihan-pilihan yang
akan kita ambil. Jika kita diperintahkan Allah untuk berdoa agar terhindar dari takdir
buruk, apa yang tercatat dalam kitab takdir kita? Apakah kita mengikuti petunjuk
untuk memanjatkan suatu doa, dan takdir kita berubah, atau apakah kita tidak
melakukannya sebab , pastinya Allah sudah tahu apa yang akan kita lakukan?
Jadi kita diperintahkan Allah untuk berlindung pada-Nya, meminta petunjuk dari-
Nya, agar terhindar dari takdir-takdir buruk-Nya dan atau segala efek negatif dari
takdir-takdir buruk-Nya itu, dengan kata lain, kita diperintahkan-Nya berlindung
dari-Nya.—Paradoxical.
16
Prof. Quraish Shihab, dalam tafsir al-Mishbah, tentang tafsir Surah al-Falaq ayat ke
2, “Dari kejahatan yang diciptakan.” Di antaranya yaitu sbb:
“Mengapa ada kejahatan, mengapa ada penyakit dan kemiskinan, bahkan mengapa
Tuhan menganugerahkan si A aneka ragam kenikmatan dan menjadikan si B
tenggelam dalam bencana?”
Tidak mudah memahami apalagi menjelaskan persoalan ini jika dikaitkan dengan
Keadilan Ilahi. Hal ini merupakan salah satu yang amat musykil, khususnya bila ingin
memuaskan semua nalar—paradoxical logic. Itu sebabnya yang merasakan
Kemahabesaran dan Kemahabijaksanaan Tuhan biasanya hanya berkata: “Ada
hikmah di balik setiap peristiwa, baik yang dinilai sebagai kejahatan atau keburukan
maupun sebaliknya.” Tetapi, jawaban seperti ini jelas tidak memuaskan nalar/logika.
Sebagian pakar menyelesaikan permasalahan ini dengan menyatakan bahwa: “Apa
yang dinamai kejahatan (keburukan) sebenarnya TIDAK ADA atau paling tidak
hanya pada pandangan nalar manusia yang memandang secara parsial. “Dia-lah yang
membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.” (QS. As-Sajdah 32:17). Kalau
demikian, segalanya diciptakan Allah dan segalanya baik. Keburukan yaitu akibat
keterbatasan pandangan. Ia sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia mengiranya
demikian.
Pada akhirnya, setiap jiwa (manusia) akan ditanya—diwajibkan menjawab—dimintai
pertanggungjawaban, di alam kubur, kemudian di Hari Pembalasan, sedangkan kita
tidak memiliki hak untuk “meminta jawaban/pertanggungjawaban” kepada Tuhan.
Pada intinya Dia “fa’alullimayurid/Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki”—
QS. Al-Buruj 85:16. Dan ini bahkan selaras dengan penemuan fisika modern terbaru
di bidang quantum mekanik—silahkan lihat bagian Quantum Mekanik di artikel ini.
Dan usaha terbaik atau ikhtiar terbaik yaitu senantiasa memohon bimbingan kepada-
Nya—Doalah kunci dari segala kunci.
“Tuhan memang bermain dadu, bahkan terkadang dia menyembunyikan dadunya ke
tempat yang kita tidak bisa melihatnya.”—Stephen Hawking, dalam menjawab
ungkapan Albert Einstein yang terkenal itu, bahwa, “Tuhan tidak bermain dadu.”
Perdebatan Klasik antara Konsep Free Will VS Pre-Determined
“Hakikat Takdir dan batas pertanggungjawaban manusia yang terkait dengannya,
masih merupakan aspek yang tidak dapat disentuh atau ditembus oleh pemahaman
dalam teologi, bahkan teologi Islam, sekali pun—The Unpenetrated.”— Imam
Thahawi, melalui Syaikh Hamza Yusuf, rektor Zaituna College, California Amerika
serikat.
Tak hanya Islam, namun seluruh agama Abrahamic masih bergelut dengan topik yang
satu ini, namun demikian, seiring waktu dan di luar kehendak kita, bukti tentang
adanya determination di jagat alam raya pun semakin teramat kuat. Secara ilmiah,
para matematikawan itu sendiri pun sejatinya yaitu para determinestic, mereka
sungguh meyakini bahwa dunia ini yaitu telah sepenuhnya pre-determined. Dan
saat mereka meneliti semua variabel yang terlibat, apa yang harus terjadi akan
terjadi, dan tidak ada yang bisa terjadi selain dari apa yang harus terjadi.
17
“You just can not stop what is going to happen.”—Anonim
Mari kita renungkan bersama, sebuah kejadian yang telah terjadi dalam hidup Anda,
di pikiran Anda, dan yang telah terjadi pada kehidupan saya di pikiran saya. Sebuah
kejadian yang teramat lekat di ingatan Anda, dan kemudian Anda perhitungkan semua
variabel yang terlibat di dalamnya, maka Anda akan menemukan sebuah aspek yang
sungguh nyata dalam kehidupan kita ini, bahwa kejadian itu terjadi, telah terjadi, dan
apa pun yang Anda pilih untuk Anda lakukan, maka kejadian itu tetap akan terjadi.
Silahkan renungkan—sementara saya memikirkan juga, kalimat berikut apa yang
akan dan harus saya tulis di alenia setelah ini, sebab kalimat itu harus tertulis di
kalimat pertama alinea setelah alinea ini.
Setelah Anda renungkan, kisah pilihan Anda tadi, mari kita ambil contoh, peristiwa
jatuhnya pesawat Lion Air, dengan nomor penerbangan JT 610 jurusan CGK-PGK,
Jakarta-Pangkal Pinang, sekitar jam 6.30 pagi, pada tanggal 29 Oktober 2018. Di
dalam pesawat itu, termasuk crew pesawat ada 189 nyawa telah kembali kepada Sang
Penciptanya, 189 cerita, dan 189 susunan variable yang mempengaruhi masing-
masing takdir dari crew dan para penumpangnya itu, dan juga susunan variable yang
mempengaruhi kondisi pesawatnya itu sendiri. Variable A: Hanya ada satu pesawat
yang melayani rute tersebut pada jam segitu, para penumpang yang mayoritas yaitu
pejabat pemerintahan, PNS, dan pengusaha yang harus ngantor pagi, dan mereka
berkantor di Bangka Belitung dan sekitarnya. Andai ada pesawat lain, mungkin kisah
akan berubah, misalnya ada maskapai lain sekelas Garuda Indonesian Airways, maka:
Kisah akan berbeda. Tapi, mereka tidak punya pilihan itu, tidak punya pilihan untuk
memilih maskapai. Hanya penerbangan itu yang tersedia. Kadang demikianlah dalam
hidup, saat kita merasa mampu memilih, dan saat kita hanya diberi satu pilihan,
berangkat kerja seperti biasa atau tidak. Kemudian ada Variable B: Kondisi pesawat
baru pesawat Boeing 737 Max, yang merupakan brand new jet, dan brand new variant
milik keluarga Boeing 737—dengan design baru, efisiensi baru, dan tentu saja
spesifikasi baru—yang bahkan belum genap 3 bulan mengangkasai Indonesia.
Dengan adat dan spesifikasi yang lain itu, bahkan para pilot sebelum penerbangan
ituu pun sudah mengalami kesulitan, sebab tidak memiliki instruksi tertulis untuk
menjinakkan salah satu instrument pesawat ini, saat ia terpaksa harus terbang
manual. Puluhan ribu jam terbang yang telah mereka kantungi pun, tidak mampu
menjinakan adat jet varian terbaru itu, sebab puluhan ribu jam itu yaitu untuk
menerbangkan varian lain, bukan varian yang itu. Variable C: Pihak Boeing baru
merilis, instruksi tersebut setelah peristiwa, dan telah gagal memberitahukannya
sebelumnya. Dan kemudian, ada Variable D, E, F dan seterusnya dan seterusnya ...
Dan semua Variable tersebut telah bekerja sama untuk mewujudkan tragedi tersebut.
Kemudian hal berikutnya yang tak kalah menarik yaitu , firasat dari para
penumpang dan keluarga penumpang sebelum peristiwa tersebut, ada yang tak seperti
biasanya merekam saat-saat boarding, dan mengirimkannya ke WA keluarganya,
dengan tumben-tumbennya, ini apa? Apakah masa depan yang bocor, namun apatah
mau dikata, firasat, pertanda tetap tidak bisa membuatnya menghindari takdirnya
tersebut. Ada pula yang semalam sebelumnya—seorang mahasiswa yang cerdas dan
ambisius—menuliskan di blog pribadinya, tentang bahwa hasil-hasil yang ingin dia
capai dalam hidupnya, sekeras apa pun usahanya, ternyata hasilnya tidak selalu
seperti yang ia harapkan, no matter how hard he has tried, dan akhirnya
berkesimpulan bahwa “berserah diri” yaitu kunci agar bahagia dalam menjalani
18
hidupnya, sebab segalanya ternyata tidak selalu scientifik, sebab variable-variable
kesuksesan itu pun yaitu di luar kontrolnya. sebab menurut pengalamannya, tidak
lantas jika ia bekerja keras, dan berusaha sebaik mungkin, bahwa kemudian ia akan
berhasil mencapai hasil yang ia inginkan dan sebaliknya. Dan keesokan harinya, di
pagi hari bahkan, segala usahanya itu pun telah dihentikan. Dan sang kekasih, baru
paham arti dari jawabanya, saat ia memintanya mengantar ke bandara setelah ia
pulang dari pengerjaan proyek yang dia sedang kerjakan di Pangkal pinang, dengan
bara sahabatnya itu, “Tergantung nanti, rencana Tuhan bagaimana (apakah ia bisa
mengantar kekasihnya atau tidak).” Sebuah jawaban yang sangat metafisis, untuk
sebuah permintaan yang sepertinya sangat sederhana itu—minta di antar ke bandara,
sebab rencananya sang kekasih akan berangkat ke Manila.
Dan ada seorang suami yang, di luar kebiasaan mengajak istri tercintanya turut serta,
sehingga sang istri pun bersama dengannya menghadap sang pencipta. Ada pula
sepasang suami istri, yang baru saja pindah ke rumah baru mereka, lantas si istri
berkata, “Nanti kamu berani tinggal di rumah ini sendirian?”Dan tentu saja sang
suami, lantas merasa gamang dalam menjawab pertanyaan si istri, dan saat sang
istri menjadi salah satu dari ke 189 itu, maka pertanyaan itu akan selalu lekat di
benaknya. Apakah ini semua? Masa depan yang bocor? Jika bocor—dibocorkan
Tuhan—berarti masa depan itu sudah ada. Namun pun, jika seandainya ada suara dari
masa depan berteriak di telinga kita, untuk tidak boarding di pesawat itu, apakah
lantas mereka akan mengikuti suara itu?
Dan berikut yaitu , pendapat ahli toelogi Islam yang lain, berkebangsaan Amerika
Serikat, Syaikh Hamza Yusuf:
“Allah yaitu —the sole agent of the cosmos—satu-satunya pemicu dan pemicu
langsung atas terjadinya segala sesuatu. Dan segala hal itu telah pula tertulis dalam
Lauh al Mahfuz, porsi yang Allah berikan pada kita—menurut pendapat yang
dominan dari para imam, seperti Imam At Thahawi Abu Bakar al Matarani, Imam al
Maturidi, Imam Asyari, dan sebagian besar lain dari para Imam kalam and tauhid
ushuluddin—yaitu pahala sehubungan dari NIAT yang kita lakukan, hal lain di luar
niat kita, termasuk apa yang kita kerjakan yaitu semata-mata langsung dari Allah
swt. sebagai penciptaan instan yang Dia lakukan atasnya.
Imam at Thahawi menjelaskan dalam Thahawia, terdapat apa yang disebut dengan
isthithoo’a, yang terdiri atas 2 jenis, sbb.: 1) Isthithoo’a yang terkait dengan waktu
kejadian dari sebuah perbuatan dilakukan, dan itu yaitu sebuah perbuatan
langsung—direct play. 2) Isthithoo’a yang terkait dengan kemampuan kita dalam
memahami sebuah perbuatan, dan itulah letak pertanggungjawaban kita akan
perbuatan itu, letaknya yaitu pada kemampuan kita dalam melakukan sebuah
perbuatan, namun terjadinya perbuatan itu sendiri datangnya dari Allah. Kita yakin
bahwa segalanya telah termaktub sedemikian rupa dalam Kitab-Nya, namun kita
bukan kaum deterministic, dan kita bukan pula menganut paham free will murni, kita
berada di antara keduanya. Jika Anda menginginkan sebuah perumpamaan sederhana,
namun jenius, untuk menjelaskan hal ini: Sayidina Ali ra. suatu kali beliau ditanya
tentang hal ini, jika beliau yaitu penganut paham deterministic atau freewill,
kemudian beliau menjawabnya sbb: “Angkat kaki kanan Anda.” Kemudian sang
penanya mengangkat kaki kanannya, kemudian Sayidina Ali berkata, “Sekarang
19
angkat kaki kiri Anda.” Sang penanya menjawab, “Saya tidak bisa
melakukannya.”—dalam waktu yang bersamaan. Penetapan-penetapan memang ada,
dalam segala hal, Anda dan saya memiliki irodah tertentu. Akan tetapi kita percaya
bahwa umat manusia bertanggung jawab atas jawaban yang akan mereka berikan.
Mujbira (Fatalisme) Vs Mu’tajila (Non Fatalisme)
Kontroversi klasik yang paling terkenal dalam teologi Islam yaitu pemahaman dua
kubu yang berseberangan tentang takdir. Yaitu antara pihak yang percaya bahwa
takdir itu kitalah yang memilihnya, atau sebagai akibat dari pilihan-pilihan yang kita
buat—freewill terkait hukum sebab akibat. Mereka ini yaitu yang berpegang teguh
pada God Moral Nature, bahwa meski pun Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu—
Omnipotent, tapi Dia tidak “semena-mena”. DAN mereka yang berkeyakinan bahwa
kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memilih takdir kita, segalanya
telah ditentukan Tuhan di awal, hal ini untuk menegaskan kualitas metafisika dari
Ketuhanan itu sendiri—Kemahakuasaan Tuhan atas segala sesuatu, termasuk takdir
kita.
Bagaimana al-Quran dipakai sebagai landasan pemikiran dari kedua kubu ini, mari
kita bahas. Al-Quran mengatakan bahwa, itu tadi, “Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu” Dia memiliki Qudrat, Dzat Yang Maha Perkasa, yang secara terus menerus
mengurus semua makhluknya, terus menerus mencipta dan tanpa-Nya sekejap saja
maka segala sesuatu yang ada di dunia ini pun akan sirna dalam kejapan itu. Tanpa-
Nya tak akan ada sesuatu yang bergerak, diam, dan tak akan ada sesuatu-pun bahkan
yang mampu terwujud. sebab qudrah-Nya yang Maha Perkasa itu—dan ada
setidaknya, 99 nama-Nya yang sangat indah itu—harusnya tak akan pernah terbersit
di benak kita, sebuah gagasan jika kita, manusia sebagai individu, bisa memiliki
potensi kekuatan sedikit pun. Al-Qur’an juga mengatakan, “Tuhan menciptakan
Anda, dan menciptakan segala perbuatan Anda.” Seperti apa yang dinyatakan oleh
kaum Determinists. Permasalahan umat muslim terdahulu yaitu , mereka berusaha
untuk melakukan framing teologi bahwa Tuhan, haruslah konsisten secara moralitas,
sehingga Anda akan menemukan dalam al-Quran: “(Lukman berkata), “Wahai
anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam
batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan).
Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui.” (QS. Luqman 31: 16). “Dan
Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar setiap jiwa
diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan
dirugikan.” (QS. Al-Jasiyah 45:22).
Maka dari itu, secara teologis, doktrin pertama dalam Islam dan pemikiran teologi
paling kini, menjadi bukti terkait dengan perdebatan kedua kubu yang menjadi rival
ini, ternyata termasuk ke dalam lingkup kemahasempurnaan Tuhan yang dijelaskan
dalam nama-nama-Nya yang indah itu—the Divine Perfection, asmaul al-husna. Al-
Qur’an menyatakan JUGA bahwa, betapa Tuhan itu Maha Adil, bahwa Dia akan
memberi ganjaran dan menurunkan azab, dan hukuman di kehidupan berikutnya. Tapi
kemudian, bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Adil akan memberi ganjaran
atau pun hukuman, atas perbuatan manusia dan jin, jika dengan Qudrah-Nya, Dia
telah mengetahui apa yang akan terjadi? Kemudian dalam Surah al-Baqarah (2) ayat
7, “Allah telah MENGUNCI hati dan pendengaran mereka. Penglihatan mereka telah
tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.” Ayat ini berkaitan dengan
20
orang-orang kafir, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya. Sekarang, jika
Tuhan sendiri telah mengunci-nya, bagaimana mungkin Dia kemudian akan
menghukum mereka, jika Dia Maha Adil? Ini yaitu sebuah kontradiksi yang terlihat
jelas. Perdebatan ini juga terdapat dalam agama Abrahamic yang lain seperti Agama
Yahudi dan Kristen, mereka pun mengalami perbedaan pendapat tentang konsep
teologi mereka, manakah yang benar, apakah predestined yang dianut kaum Libertian
mereka ATAUKAH konsep freewill. Pemegang konsep freewill dalam teologi
Judaism dan Kristiani, biasanya memiliki argumen yang lebih baik. Namun dalam
Agama Kristen, konsep predestined masih ada yang mempertahankannya sampai hari
ini, terutama pada gereja-gereja yang masih mendapatkan pengaruh yang kuat dari
gereja-gereja Scotlandia.
Dalam teologi Islam, kedua posisi ini masih berdiri sama kuat, sebab sama-sama
berbasis keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat suci al-Quran. Tuhan yaitu Yang
Maha Sempurna di kedua sisi moralitas dan methafisis-Nya. Umat beriman terdahulu,
telah menerima konsep paradoksikal ini, tanpa berusaha untuk memecahkannya—
Paradoks Takdir. Namun demikian, umat yang hidup di masa-masa berikutnya, mulai
kembali memperdebatkan paradoks yang belum terpecahkan ini, dengan filosofi yang
lebih berbobot dibandingkan filosofi Kristiani, dan perdebatan ini mulai terpusat di
Damaskus. Dan saat paradoks ini masih juga tidak terpecahkan, kaum determenistik
kemudian disebut juga dengan kaum dogmatis. Di satu sisi berdiri umat yang lebih
cenderung kepada konsep freewill, dan yang lainnya lebih tertarik dengan ide
deterministik.
Kaum Mujbira yaitu yang paling kuat kecenderungannya terhadap konsep
deterministik, mereka berpendapat, “Apa pun yang Anda lakukan telah ditetapkan
sebelumnya, dan usaha yang seolah Anda lakukan itu hanyalah sebuah ilusi belaka,
sebab pada hakikatnya—sesungguhnya semuanya yaitu Dia yang Melakukannya.”
Mereka kemudian mendapatkan dukungan penuh dari Rejim Umayah yang berkuasa
di Damaskus saat itu, sebab alasan sederhana, yakni pendapat tersebut
mendatangkan manfaat politis bagi rejim itu. Jika rakyat mereka berkeyakinan
bahwa segala yang terjadi di dunia ini, yaitu telah ditentukan oleh Tuhan, maka
rakyat mereka akan cenderung membiarkan korupsi yang dilakukan oleh rejim ini.
Jadi Kaum Mujbira mendapatkan dukungan politis dari rejim yang berkuasa kala
itu—dan sepertinya ini juga bisa terjadi sampai sekarang di setiap belahan bumi.
Berseberangan dengan Kaum Mujbira ini, yaitu mereka yang percaya pada adanya
freewill—usaha dapat mengubah takdir, mereka disebut dengan Kaum Mu’tajila.
Perbedaan ini terus menerus terjadi saat kaum Syiah Islam, 10% dari umat Islam di
seluruh dunia, yaitu mereka yang secara kuat terus menerus terpengaruh oleh
pemikiran kaum Mu’tajila ini. Para ulama setelah masa itu kemudian menjelaskan
pandangan dari kaum Mu’tajila ini sebagai berikut, “Manusia yaitu pencipta dari
segala amal perbuatannya, baik atau buruk, sehingga manusia akan diberi ganjaran
sesuai dengan amal perbuatannya ini kelak di kehidupan setelah kematiannya—dan
tidak ada keburukan yang dapat dinisbatkan pada Allah Yang Maha suci dari segala
pandangan yang tidak sesuai dengan Dzat-Nya.”Kaum Mujbira tentu saja tidak
setuju dengan pandangan ini, sebab menurut mereka pandangan yang demikian itu
yaitu sebuah pandangan yang mengandung syirik, sebab menganggap bahwa ada
tandingan pencipta-pencipta lain selain Allah swt.
21
Dengan segala kontroversi ini dalam Teologi Islam, mari kita bahas lebih mendalam,
setidaknya untuk menerbitkan pemikiran ini di benak Anda dan sebagai bahan
diskusi-diskusi kita selanjutnya, jika Anda—pembaca yang budiman—belum
pernah memikirkannya secara lebih mendalam dan mendiskusikannya. Kaum
Mu’tajila, yaitu juga Kaum Ilmu Kalam—Ilmu Teologi dalam Islam, seperti halnya
mereka yang menganut teologi sistematik, mereka percaya akan unsur terkecil dari
segala sesuatu—the basis of Cosmology Thoery, yang pada waktu itu masih pada
level atom—sebelum ditemukan kemudian oleh para ahli fisika modern bahwa Atom
pun ternyata bukanlah unsur terkecil, sebab atom pun terdiri dari bagian-bagian yang
lebih kecil lagi yang kemudian disebut sebagai partikel-partikel, yang di antaranya
baru saja ditemukan lewat Hadron Collider raksasa di Swiss yaitu partikel Higgs
Bozon.
Ash’arait, al-Ghazali, dan Hukum Sebab-Akibat
Tersebutlah kemudian Kaum Ash’arait, yang berpendapat bahwa, “Tidak ada sebab
alami di muka bumi ini—tidak ada itu hukum sebab-akibat.” Sepintas, pendapat ini
terdengar tidak ilmiah dan dramatis. Mereka memberi sebuah metafora untuk
menjelaskannya, “Jika saya melemparkan bola kasti ke jendela kaca di depan saya,
secara normal kemudian kita akan mengharapkan bahwa kacanya pecah berkeping-
keping, TAPI, itu bukan DISEBABKAN oleh bola kasti yang menghantamnya, namun
sebab Tuhan-lah yang secara langsung kemudian terlibat dalam memecahkan kaca
itu.” Mereka memiliki pemikiran bahwa, jika Anda meyakini bahwa bola kasti itu-
lah yang menyebabkan pecahnya kaca jendela itu, maka Anda telah MEMBATASI
Kemahasegalaan-Nya—The Omnipotent of God. Dan pemikiran yang demikian ini
telah menjadi pemikiran terbanyak dalam pandangan Islam. Dan pandangan ini
merupakan pandangan ketiga yang muncul dalam teologi klasik Islam, dan masih
dikenal sebagai pandangan yang ortodoks, dan itu tadi pandangan ini kemudian
dikenal sebagai Ash’arites.
Sebutan Ash’arites berasal dari seorang teolog besar Islam Sunni, bernama Abu
Hasan al-Ashari (874-936 M), dan pemikiran Ash’arites ini yaitu —sekali lagi, “Tak
ada sebab ilmiah. Hukum Sebab-Akibat hanyalah sebuah ilusi belaka.” Mereka
membangun sebuah sistem filosofi modern yang belakangan menjalar ke wilayah
Eropa, dengan apa yang disebut Occasionalism—sebuah teori filsafat yang
menapikan Hukum Sebab-Akibat, atau rangkaian kejadian—the Butterfly Effect—
yang menyebabkan kejadian berikutnya, akan tetapi setiap kejadian yaitu secara
langsung dijadikan oleh Tuhan secara berkesinambungan, oleh sebab itu tidak ada
yang saling berkaitan, semuanya yaitu event mandiri yang masing-masing
diciptakan Tuhan secara langsung.
“Tidak ada yang acak, segalanya saling berkaitan—Hukum Sebab-Akibat? Oh no,
Occasionalism beranggapan bahwa justru tidak ada yang saling berkaitan, masing-
masing kejadian berdiri sendiri-sendiri, sebagai ciptaan Tuhan secara langsung
dan berkelanjutan. Dengan demikian, maka tidak ada itu Hukum Sebab-Akibat.”
Pendukung Asharite yang paling terkenal yaitu Abu Hamid Muhammad ibn
Muhammad al-Ghazali (1058M-1111M), atau lebih dikenal dengan sebutan Imam al-
Ghazali, beliau yaitu seorang ahli teologi Islam, yang semasa hidupnya telah
menelurkan ratusan karya besar, termasuk Kitab Ihya Ulumudin—Menghidupkan
22
kembali Ilmu-Ilmu Agama—yang juga sangat terkenal di tanah air, dan karyanya
terkait filsafat dan teologi yang menggebrak dunia—Tahafut al-Falasifa (Kekacau-
balauan Para Filsuf).
Dalam artikel nya tersebut, menurut Buya Hamka, “Sang Imam setelah melakukan
pengembaraan dalam alam pikiran yang mendalam, telah menyatakan kesimpulan
bahwa filsafat itu, baik juga untuk melatih kita berpikir. Tetapi jadi amat berbahaya
kalau sekiranya pikiran yang akan dipergunakan bagi berfilsafat tidak terlatih
terlebih dahulu dengan tuntunan Wahyu Ilahi dan tuntunan Nabi. Ada orang
mengatakan bahwa berpikir filsafat itu harus bebas, obyektif, jangan ada yang
mempengaruhi terlebih dahulu. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidaklah ada
seorang manusia pun yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh alam di
sekelilingnya.”
Apakah lagi—menurut Al-Ghazali—filsuf-filsuf Yunani yang mempengaruhi
berpikirnya filsuf-filsuf Muslim seperti Al-Farabi dan Ibn Sina, sebab penerawangan
berpikir bebas itu, telah sampai pada kesimpulan bahwa alam itu—the Universe—
yaitu bagaikan Tuhan juga. Di sini Filsafat sudah menjauh dengan sendirinya dari
pokok ajaran agama. Oleh sebab itu, Ghazali-pun amat menyuruh untuk berhati-hati
di dalam belajar Ilmu Kalam, Ilmu Teologi dalam Islam. Untuk orang awan, Ilmu
Kalam itu lebih besar bahayanya dibandingkan manfaatnya, sehingga beliau keluarkan
sebuah risalah bernama “Iljamul ‘Awam” (mengekang orang awam) dari
membicarakan Ilmu Kalam. Iman kepada Allah, tidak dapat dipelajari dengan AKAL
semata, melainkan hendaklah sebab dirasakan, demi setelah meleburkan diri ke
dalam persada Alam yang ada di sekeliling kita.
Sebagai respon terhadap klaim para ahli filsafat tentang adanya penciptaan
secondary—hukum rentetan sebab-akibat— urutan penciptaan (the created order)
(rentetan kejadian, seperti: The Butterfly Effect) diatur oleh pemicu kedua, is
governed by secondary efficient causes (Sementara Dzat Tuhan, merupakan pemicu
utama dan terakhir secara logika dan ontology/God being, as it were, the Primary and
Final Cause in an ontological and logical sense), Imam al-Ghazali berpendapat
bahwa apa yang kita amati sebagai “kebiasaan-kebiasaan/keteraturan” di alam
semesta ini atau yang sering disebut sebagai HUKUM-HUKUM ALAM, termasuk
Hukum Sebab-Akibat, sebenarnya yaitu —menurut al-Ghazali—hanyalah sesuatu
yang sering terjadi dalam pengamatan manusia, secara terus menerus dan dalam
sebuah keteraturan. Namun tidak berarti akan selalu harus terjadi, kecuali jika Tuhan
memang menghendakinya. Menempatkan sebuah hukum sebab-akibat sebagai
pencipta suatu keadaan, yang berada di luar kehendak dan pengetahuan Tuhan, yaitu
sebuah pelucutan terhadap kudrat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu—
Omnipotent. Dalam contoh yang terkenal disampaikannya, “saat api dan kapas
dipertemukan, kapas pun kemudian terbakar, namun bukan akibat dari panasnya api,
tapi sebab Tuhan secara langsung melakukan campur tangan-Nya.” Imam Al-
Ghazali telah berhasil mempertahankan pendapat ini dengan pemakaian Ilmu
Mantik/logika.
Kemudian, pada abad ke 12 Masehi, teori ini lebih lanjut berhasil dipertahankan
bahkan diperkuat lagi oleh ahli teologi Islam generasi berikutnya yang juga sangat
terkenal, Fakhr al-Din al-Razi, dengan pemakaian keahilannya dalam ilmu
pengetahuan alam, terutama astronomy, cosmology dan fisika. sebab biasanya
23
Tuhan “terlihat” lebih menyukai keteraturan, dibandingkan ketidakteraturan, “perilaku-
Nya” basanya menyebabkan kejadian terjadi dalam suatu urutan rentetan peristiwa
YANG SAMA—kebiasaan Tuhan/Sunatullah atau apa yang dijelaskan kemudian
sebagai HUKUM-HUKUM ALAM itu tadi. Jika ingin menyempaikannya dengan
tepat, bagaimana pun juga, TIDAK ADA ITU HUKUM ALAM, yang ada yaitu
HUKUM—yang dipilih—Tuhan, sesuka-Nya, sekehendak-Nya, sebab Dia Maha
Berkuasa. Dengan kata lain, frase sekehendak-Nya itu jadi terkesan rasional.
Namun demikian pendapat dari kaum Asyarite, al-Ghazali dan selanjutnya Fakhr al-
Din al-Razi, ini, tidak sepenuhnya sama persis dengan pendapat para occasionalist—
atau Prof. Quraish Shihab menyebutnya kaum fatalisme, yang benar-benar
menganggap bahwa perilaku Tuhan benar-benar tidak dapat disela oleh perantara
pemicu lainnya apa pun itu. Tuhan benar-benar secara esensi yaitu transcendence
agent—The Sole Agent of the Cosmos, benar-benar bebas dari pembatasan apa pun,
termasuk pembatasan dari keterbatasan pemahaman kita tentang-Nya. Dalam
pemahaman seperti ini, tidak ada lagi yang dapat dianggap sebagai sebuah keajaiban,
sebab keajaiban—atau sesuatu yang tampak tidak selaras dengan hukum semesta—
hanya akan dipandang sebagai perilaku Tuhan dalam penciptaan yang di luar
kebiasaan-Nya saja, sebab hubungan Tuhan dengan dunia ciptaannya sesungguhnya
tidak memiliki perantaraan prinsip-prinsip rasional.
Occasionalism—sebuah teori filsafat yang menapikan Hukum Sebab-Akibat, atau
rangkaian kejadian yang menyebabkan kejadian berikutnya, akan tetapi setiap
kejadian yaitu secara langsung dijadikan oleh Tuhan secara berkesinambungan,
oleh sebab itu tidak ada yang saling berkaitan, semuanya yaitu peristiwa mandiri
yang masing-masing diciptakan Tuhan secara langsung.
Di tahun 1993, Karen Harding menulis sebuah gagasan bertajuk, "Causality Then and
Now: Al Ghazali and Quantum Theory"—Sebab-akibat, dulu dan sekarang: Al
Ghazali dan Teori Quantum—menjelaskan beberapa persamaan yang
mencengangkan antara konsep yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali yang hidup
di antara abad ke 10 dan ke 11, dan konsep occasionalism dan the (disputed)
Copenhagen interpretation tentang Quantum Mekanik pada abad ke 19 dan ke 20—
Lihat bagian Teori Quantum mekanik dalam artikel ini. Dia menulis sbb.: "Kedua
pendapat itu sama-sama BERTENTANGAN dengan nalar umum, yakni “melihat”
setiap objek sebagai sesuatu yang tidak memiliki inherent properties/unsur inheren
dan tidak pula memiliki eksistensi yang mandiri. Setiap objek

