• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Gendam 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gendam 2. Tampilkan semua postingan

Gendam 2

 


duniawi, sering kali justru menjadi sasaran 

penipuan . 

Seorang mantan pelaku gendam jalanan menuturkan,  

bahwa orang dari kalangan religius tradisional yaitu  sasaran 

paling empuk penipuan, disebabkan oleh pemahamannya yang 

45 

berlebihan tentang makna berbaik sangka (husnudzon) , selain 

itu mereka pada umumnya tidak memiliki budaya membaca 

sehingga tidak mengikuti perkembangan dunia luar, yang 

mengakibatkan analisisnya lemah. 

Waspadai Orang Baru Lihai Bicara 

Agar selamat dari bujuk rayu para penggendam, biasa­

kanlah untuk mewaspadai orang-orang yang baru Anda kenal . 

Jangan mudah terkecoh dengan penampilan seseorang, teruta­

ma cara bicaranya yang muluk-muluk. 

Para pelaku gendam jalanan pada umumnya memiliki 

kemampuan komunikasi yang bagus. Jika suatu saat Anda 

bertemu dengan tipe orang demikian , waspyaitu l Sikap hati­

hati terhadap bujukan yang disertai niat jahat yaitu  tetaplah 

bertahan untuk berpikir yang sehat (rasional).  Hindarilah sikap 

"terlalu" dalam segala hal. 

Selama diri Anda masih ditunggui sifat syukur dan qana'ah 

(nrima ing pandum) insyaallah Anda tetap selamat, sebab  

gendam lebih banyak memakan korban orang yang "terlalu" .  

Terlalu rakus, terlalu mudah kagum ,  terlalu senang dengan 

berita baru yang belum pasti benarnya, terlalu sedih, terlalu 

takut, dan sebagainya. 

Secara umum, gendam itu lebih mudah memperdaya dua 

golongan manusia. Yaitu orang miskin yang tidak sabar dengan 

kemiskinannya, dan orang kaya yang tidak pernah merasa puas 

dan bersyukur atas kekayaannya . 

berdasar  pengalaman saya sebagai penulis buku yang 

banyak didatangi orang dari berbagai profesi , (termasuk 

orang yang punya niat kurang baik) ,  bahwa orang yang punya 

46 

niat tidak lurus itu, pada umumnya takut dengan kamera. 

sebab  itu, j ika suatu saat Anda kedatangan tamu yang 

mencurigakan gerak-geriknya, pancinglah ia dengan ajakan 

untuk berfoto bersama sebab  orang yang ingin melakukan 

suatu tindak pidana, maka identitas dan wajahnya jangan 

sampai didokumentasikan calon korbannya. 

· 

Putus lndikasi 

Selain tip yang sudah saya tulis di atas, ada tip lain un­

tuk menghindar sekaligus memberi periawanan pada pelaku 

kejahatan bermodus gendam, yaitu dengan cara mengalihkan 

pernbicaraan pada hal-hal yang tidak dikuasainya. 

Anda tentu rnenyadari bahwa setiap pribadi memiliki 

keahlian atau kelebihan pada salah satu bidang keilrnuan 

yang tidak dirniliki orang lain .  Sebaliknya, orang lain pun 

tentu memiliki keahlian pada bidang tertentu yang tidak 

Anda miliki . Nah, para pelaku penipuan bermodus gendam itu 

pada umumnya rnemiliki keahlian dalarn hal-hal yang bersifat 

rnetafisis atau bidang lain yang biasa dijadikan modal untuk 

membual . 

sebab  teknik gendam sering dilakukan dengan memberikan 

sugesti atau saran secara cepat, rnaka untuk mernatahkan 

berondongan itu , Anda harus sigap. Jangan mau terbawa 

iramanya. Potong pembicaraan dan sedapat mungkin belokkan 

ke pembicaraan yang lebih Anda kuasai, tetapi bidang itu ti­

dak dikuasainya . 

Misalnya, Anda ahli di bidang komputer. Di saat Anda 

diberondong dengan saran untuk mengikuti ajakannya, segera 

belokkan pembicaraan itu dan ajaklah dia (pelaku gendam) 

47 

untuk membahas masalah komputer. Nah, di saat seseorang 

tidak paham dengan apa yang Anda bicarakan, maka dia akan 

menjadi pendengar. Setelah Anda mengambil alih kendali , 

gunakanlah langkah selanjutnya. 

Mengalihkan perhatian dari memerhatikan apa yang disa­

rankan pelaku gendam itu, ibarat Anda memindah saluran 

televisi yang menayangkan sinetron berseri . Dan ketika Anda 

membiarkan diri menikmati tayangan itu dari satu episode ke 

episode selanjutnya, samalah artinya Anda membiarkan diri 

hanyut dalam keasyikan yang makin menghanyutkan. 

Pada zaman sekarang ini, teknik memutuskan cecaran 

bujukan yang paling efektif yaitu  sesegera mungkin meng­

hubungi teman atau keluarga Anda melalui hand phone sam­

bil kaki Anda melangkah menjauh seolah Anda tidak ingin 

48 

pernbicaraan Anda itu sangat pribadi sehingga tidak boleh 

didengarkan orang lain .  

Narnun yang lebih beruntung yaitu  saat Anda sedang 

mengalarni bujukan itu, tiba-tiba ada panggilan masuk. Oto­

matis, cecaran itu akan berhenti dengan sendirinya, seperti 

iklan di televisi , saat pemuda sedang merayu gadis pujaan 

hatinya, ketika tiba-tiba telepon berdering dan gadis itu me­

ngangkat telepon, maka kalimat rayuan itu pun terputus dan 

pelakunya menjadi blank . 

. Waspada Tepuk Pundak 

Orang yang sedang kaget akibat berpikir keras sebab  se­

suatu yang memesonakan, posisinya seperti orang yang sedang 

shock. Maka pada bagian otak kecilnya rnenjadi renggang 

(spasi) ,  sehingga j ika saat itu langsung diberi (sugesti tanpa 

korna),  akibatnya otak itu jadi mudah dipengaruhi . 

49 

Kasus gendam di jalanan sering kali diawali dengan 

cara menciptakan kekagetan melalui tepukan pundak pada 

calon korbannya, dan ketika calon korban kaget lalu bengong, 

boleh jadi sebab  mencoba mengingat-ingat siapakah orang 

di depannya itu, maka penipu itu lalu berbicara cepat atau 

nyerocos agar calon korban tidak memiliki kesempatan untuk 

berpikir. Kondisi bengong dan berpikir keras itu menyebabkan 

seseorang mudah terkena pengaruh saran dari luar. 

Proses bengong yang menjadi pintu masuknya saran 

dari luar hingga membuat korbannya seperti kerbau bodoh 

itu, oleh warga  sering dihubung-hubungkan dengan 

kekuatan magis. Hal itu dapat dimaklumi, sebab  kemampuan 

analisisnya baru sampai di situ . 

Biasanya, korban penipuan dengan modus gendam itu 

setelah sadar mengaku bahwa saat kejadian, dirinya tidak 

sadar akibat pengaruh magis. Mengapa? Sebab jika dia tidak 

mengambinghitamkan kekuatan magis, maka dia akan keli­

hatan bodohnya. Tragisnya, peristiwa semacam itu oleh mass 

media lalu diberitakan sebagai kejadian di luar nalar, bahkan 

sering kali menggunakan istilah korban hipnotis. 

Di lapangan ditemukan banyak orang mengaku menjadi 

korban gendam atau hipnotis hanya untuk menutupi aib 

pribadinya. Sebagai contoh, seorang ibu muda sebab  jatah 

belanja dapurnya dihabiskan untuk j udi, atau saat lebaran 

tidak ada dana untuk membelikan baju baru untuk anak-anak­

nya, maka cara yang dianggap paling aman yaitu  menutupi 

malu itu dengan mengaku habis kena gendam. 

Alasan terkena hipnotis atau "hipnotis" itu sedikit lebih 

keren dan modern dibanding trend tahun 70-an . Saat itu, untuk 

50 

kasus pura-pura kehilangan uang, selalu mengambinghitamkan 

tuyul. 

Menghindar (llmu Lenga) 

Menu rut falsaf ah Jawa, untuk selamat dari segala bentuk 

kejahatan dan bahaya, termasuk yang bermodus gendam, 

gunakanlah ilmu lenga. Yaitu, j ika ada orang mentheleng 

(melotot) , tinggal lunga (pergi) saja.  

Rumus yang perlu Anda pegang yaitu : 

• Jika pelaku gendam mengacaukan konsentrasi Anda

dengan pandangan matanya yang tajam, jangan balas

tatapan matanya.

• Jika terpaksa Anda berada pada posisi saling berhadap­

hadapan dengan pelaku, pandanglah bagian anggota

badan selain matanya. Misalnya bagian leher atau

dadanya .

• Dan jika pelaku gendam itu melancarkan teknik gen­

damnya melalui kata-kata yang cepat atau disebut

dengan istilah "sugesti tanpa koma", maka jangan

hiraukan ucapannya.

Selain menggunakan jurus lenga, alihkan perhatian dengan 

memalingkan wajah,  kemudian melakukan aktivitas yang 

dapat menyebabkan perhatian Anda terputus darinya. Misalnya 

dengan bersiul a tau menyanyi . Atau segera melambaikan 

tangan pada seseorang yang tidak Anda kenal - ini hanya 

acting belaka -, lalu Anda berjalan mendekatinya. Soal 

nanti orang yang Anda dekati itu bertanya-tanya kenapa Anda 

melakukan hal itu, sampaikan apa adanya bahwa Anda akan 

5 1  

menjadi sasaran gendam.  Namun jika Anda malu, katakan 

sambil minta maaf, bahwa Anda salah lihat sebab  wajah dia 

mirip sahabat Anda. Gampang, kan? 

Para pelaku gendam di pinggir jalanan itu modalnya hanya 

pengalaman. Modus yang dipakai biasanya berganti -ganti 

sesuai kondisi kejiwaan calon korbannya. Saya pernah hampir 

menjadi korban gendam saat sedang berada di Surabaya. 

Namun dengan jurus i lmu lenga itu, saya berhasil selamat. 

Kejadiannya berawal ketika akan belanja buku di Jem­

batan Merah Plaza, di  lantai dasar ada bapak-bapak yang 

menawarkan suatu produk. Saya mengatakan belum berminat 

dengan produk ini , dan berbasa-basi lain waktu saja .  

Ternyata, ucapan " lain waktu" itu dijadikan bahan untuk 

terus mengejar. Pelaku itu mulai melakakan teknik-teknik 

gendamnya. 

Wajahnya mulai didekatkan hampir menempel wajah saya. 

Tentu saja ini menimbulkan perasaan risih .  Dalam kondisi kehi­

langan konsentrasi itu dia meminta saya untuk meminjamkan 

kartu ATM yang katanya ingin diketahui berapa saldo yang saya 

miliki . Saya menolak, tetapi dia memberikan argumentasi 

yang sangat prof esional. 

Saya tidak kehabisan akal.  Saya pura-pura menyetujui 

untuk bertransaksi , tetapi saya minta transaksi itu ditunda 30 

menit lagi sebab  saya sudah telanjur janji ketemu seseorang 

di lantai lima. Saya lalu ambil alih kendali . Mereka saya suruh 

menunggu di lantai satu dan saya segera ke lantai lima.  Dari 

lantai lima itu saya memerhatikan mereka pada clingukan 

gelisah, mungkin menanti kedatangan saya . 

Pelau kejahatan bermodus gendam biasanya orang terlatih 

52 

sehingga secara alami sorot matanya memancarkan kekuatan 

magnetis. Pengertian magnetis ini tidak selalu identik dengan 

kekuatan magis, melainkan sorot mata yang memancar secara 

alami dari pribadi yang memiliki rasa percaya diri kuat dan 

mampu menguasai keadaan di sekitarnya. Orang awam agar 

terhindar dari magnetis mata yang terlatih itu, yang paling 

sederhana yaitu  menghindari tatapan matanya. 

Di lingkungan jawa, teknik menguatkan pancaran mata 

dapat di lakukan dengan sering meneteskan air jeruk nipis 

ke rnata. Pada tahap awal, tetesan air jeruk nipis ini terasa 

sangat pedih,  namun jika sudah terbiasa, pedih itu menjadi 

berkurang. 

Selain latihan pedih dengan air jeruk nipis, ada juga teknik 

menguatkan mata yang lebih ekstrem. Untuk membentuk 

"mata elang" dapat di lakukan dengan mengasapi mata 

dengan asap jerami yang dibakar. Untuk rneningkatkan rasa 

pedih, pada tumpukan jerarni itu ditaburi belerang. Latihan 

ini biasanya di lakukan di ruangan tertutup agar asap tidak 

mudah hilang. 

5 3  


Menangkal dengan Sugesti Pribadi 

Mencegah segala bentuk kejahatan , termasuk gendam 

dan segala tipu daya yang dilakukan oleh manusia, 

baik dengan cara teknik, ftsik,  maupun metaftsis, dapat 

dilakukan dengan mengucapkan kalimat-kalimat pendek yang 

Anda pahami arti dan tujuannya. 

Kalimat yang dimaksud bisa dalam bentuk rangkaian ka­

limat yang Anda rangkum sendiri, atau yang Anda terima dari 

seorang guru yang membimbing rohani Anda, atau siapa pun 

yang diyakini memahami urusan ilmu batin .  Apakah orang itu 

disebut dukun, paranormal, atau sebutan yang lain,  si lakan 

saja l Yang pen ting konsep yang Anda amalkan itu bukan bentuk 

pemujaan terhadap makhluk yang tidak layak untuk dimintai 

bantuan. 

Doa. Bahasa Hati

Jangan berdoa seperti doanya orang awam. Yaitu berdoa 

hanya sebuah gerakan lisan tanpa penghayatan yang tidak 

Anda mengerti arti dari kalimat doa itu. Agar kalimat yang 

diamalkan itu dapat meresap ke dalam hati sanubari, dan 

menyatu pad a badan jasmani dan rohani , melekat pada 

bulu, kulit, otot, darah, daging, tulang dan sumsum, maka 

lakukanlah doa itu dengan penuh penghayatan, dan lakukanlah 

secara rutin. 

55 . 

Untuk hasil yang maksimal, jangan hanya berdoa ketika 

Anda sedang dalam kondisi bahaya saja, sebab  berdoa yang 

paling disukai Tuhan yaitu  doa yang dipanjatkan ketika 

Anda dalam keadaan lapang (aman).  Berdoa di saat terdesak 

bahaya, itu hal yang biasa. Tetapi jika Anda berdoa di saat 

lapang, nilainya lebih tinggi sebab  hal ini  sebagai 

bentuk cinta kepada Tuhan yang menciptakan Anda. 

Sebagian dari kalimat yang saya rekomendasikan , agar 

Anda terhindar dari segala bentuk pergendaman, baik itu 

gendam yang murni teknik komunikasi maupun yang bersifat 

magis, di antaranya yaitu  doa berikut ini:  

56 

• Melakukan sugesti pribadi melalui kalimat-kalimat

positif.

"Saya hanya dapat dipengaruhi oleh lain untuk hal-hal

yang positif saja.

"Setiap kali ada niat jahat dari mana pun, saya selalu

selamat. "

• Menciptakan sugesti pribadi yang dikombinasi dengan

konsep ngelmu.

"Ruhku, ruhmu ... ruhku lebih tinggi dari ruhmu. "

"Sluman, slumun, slamet. Terbebaslah aku dari segala

bahaya. "

• Mem baca doa-doa yang m u rn i  bersumber  dar i

agama:

"Robbi najjini minal qaumizh-zhaalimiim"

Ya Tuhanku , selamatkanlah aku dari orang-orang yang

dzalim .

• "A llahumma inna naj 'aluka fii nuhuurihim wa

a 'udzubika bin syuruurihim "

Ya Tuhan, sesungguhnya kami menjadikan Engkau 

sebagai pembunuh mereka, dan kami berlindung 

kepada Engkau dari kejahatan mereka. 

• "Bismillaahilladzii Laa yadLurru ma'asmihi syaiun fiL

ardi wa Laa fissama-i wahuwas samii'uL 'aliim".

Dengan menyebut namaAllah yang tidak membahayakan

sesuatu bersama nama-Nya di bumi dan di langit.

Allah yaitu  Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha

Mengetahui .

Doa singkat ini termasuk doa favorit di kalangan para 

pelaku spiritual sebab  amalan ini diijazahkan langsung oleh 

Nabi Muhammad saw bagi semua umatnya. Dalam riwayat 

hadits shahih At-Turmudzi dan Shohih Abu Dawud,  cara 

pengamalannya dibaca tiga kali di waktu pagi dan petang dan 

dibaca minimal sekali ketika ada keperluan (bepergian atau 

memulai pekerjaan yang dikhawatirkan akan adanya risiko 

bahaya) .  

• "A'udzu bikalimaatillaahittaammaati min syarri maa

khalaqa"

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Tuhan yang

sempurna, dari kajahatan makhluk ciptaan-Nya.

Doa ini bersumber dari hadits shahih Musli m .  Cara 

mengamalkannya sama dengan amalan sebelumnya. Amalan 

yang ringkas dengan manfaat yang multikompleks untuk 

keselamatan dan menghi langkan bahaya. 

57 

• "Allahu lathHfum bi 'ibaadih Allahu hafiizhun qadHmun

azaUwun hawun qawumul Laa yanaam. "

Ya Allah Dzat yang belas kasih terhadap hamba-Nya

menjaga, dahulu, azali , hidup dan menjaga alam

semesta yang tidak tidur.

Doa ini khusus bagi Anda yang ingi n  terhindar dari 

pencurian dan perampokan ,  atau bisa diartikan 

perampasan hak-hak pribadi secara halus dengan tipu 

daya, atau yang dilakukan melalui kekerasan fisik. 

• Visualisasi Huruf " Lam Alif"

Cara lain melindungi diri dari bahaya, dapat meng­

gu nakan " t u l i sa n "  secara vi sua l i s  atau isarah

membentuk huruf Arab " Lam-Al if" . Huruf ini 

jika diartikan yaitu  "Tidak" atau "Jangan" .  Caranya,

menjelang bepergian, berdoa sejenak lalu akhiri de­

ngan menggenggam tangan kanan lalu menulis huruf

ini . Dimulai dari dada kiri lalu bergerak menuju

samping kanan pusar, geser lurus ke arah samping kiri

lalu tarik ke atas ke arah dada kanan. Untuk melakukan

ini, gunakan pusar sebagai titik lobang pada huruf lam­

aUf ini . Saat membuat huruf secara imajiner itu,

sertai dengan menahan napas dan dalam hati berkata :

"Tidak terjadi bahaya" .

sebab  kita tidak mengetahui secara pasti bahaya itu 

bersumber dari aktivitas yang fisik berupa teknik  komunikasi 

atau yang dilakukan dengan kekuatan ilmu batin,  maka tidak 

58 

ada salahnya j ika selain menangkal dengan memperluas 

wawasan,  Anda juga melakukan sugesti pribadi yang bersifat 

spiritual. 

Selain doa-doa ini , seorang guru spiritual memberikan 

doa agar selamat dari penipuan itu dengan doa ketika seseorang 

bertemu dengan ular : Salamun 'alaa Nuhin fil 'aalamiin (Ke­

sejahteraan dilimpahkan atas Nuh seluruh alam) .  

Timbul pertanyaan, adakah kaitan antara tukang gendam 

dengan ular? Guru itu menjelaskan , dalam kisah agama,  

ular diidentikkan dengan setan. Para pelaku kejahatan yang 

bermodal "kelicikan" berbicara atau sebab  andalan yang 

bersifat ngelmu, diposisikan sebagai setan.  

Di  daerah saya, orang yang dikenal licik dalam bisnis 

diberi julukan ula yang berarti ular. Dan sebab  watak licik 

ular itulah, maka iblis memanfaatkannya saat menggoda Adam 

dan Hawa di sorga hingga keduanya terusir dari sorga. 

Penangkal Alamiah 

Selain dengan kekuatan doa, sebagian orang meyakini 

bahwa menangkal kejahatan bermodus gendam itu melalui 

cara: 

• Membalf k celana dalam

lnformasi menangkal gendam dengan memakai celana

dalam yang sengaja dibalik (bagian dalam pada posisi

luar) menurut banyak sumber, berasal dari kepercayaan

(mistik) dari wilayah Kalimantan . Selain diyakini mampu

menangkal gendam, cara ini diyakini mampu menangkal

jenis santet yang dapat "melepas alat vital" .

• Membalas menepuk pundak

59 

Ada juga teknik menangkal gendam dengan cara membalas 

menepuk pundak. Yaitu, jika suatu saat ada seseorang 

yang menepuk pundak Anda untuk tujuan melakukan 

gendam, Anda disarankan untuk membalas menepuknya. 

Cara ini dapat diterima dari sisi logika sebab  dengan 

melakukan hal ini  berarti Anda memiliki keberanian 

dan kesaciaran untuk melawan pelaku gendam. Ketika 

pikiran Anda berada dalam kondisi "sadar" untuk mela­

wan, berarti Anda siap melawan upaya jahat itu. 

• Membawa merang ketan hitam

Mistik barat meyakini bawang putih mampu mencegah

hantu dan berbagai energi negatif lainnya. Tetapi menurut

paham kejawen, benda yang dianggap lebih kuat daya

tangkalnya dibanding bawang putih yaitu  merang ketan

hitam . Caranya merang itu dapat disimpan di dalam

dompet, atau dimasukkan dalam aksesoris berbentuk

gelang.

• Kontrol napas

60 

Seorang dalang wayang kulit pengikut aliran kebatinan

(kejawen) memberikan tip selamat dari segala marabahaya

dengan cara sederhana. Yaitu, setiap kali hendak keluar

rumah untuk suatu u rusan penting, disarankan untuk

melakukan kontrol napas terlebih dahulu. Caranya dengan

menutup salah satu lubang hidung secara bergantian lalu

mengembuskan napas melalui satu lubang hidung itu .

Biasanya, pada saat bersamaan , antara lubang hidung

yang kiri dan kanan itu ada yang terasa lebih longgar.

Nah , jika pada saat itu yang longgar yaitu  lubang hidung

bagian kanan, maka saat keluar dari rumah (pintu utama)

Anda harus mulai melangkah dengan kaki yang kanan.  

Sebaliknya jika yang lebih longgar itu lubang hidung yang 

kiri , rnaka Anda juga melangkah dengan kaki kiri . 

• " Kayu berenergi"

Gendam, baik yang terturnpu pada kelihaian kornunikasi

maupun yang bersifat mistis, oleh sebagian kalangan

diyakini mampu ditanggulangi dengan kayu yang memiliki

karakter melindungi . Jenis kayu yang dimaksud yaitu 

kayu yang berusia tua dan tumbuh pada lahan yang keras

dan tandus seperti kayu setigi laut, setigi barik, galih

asam yang sudah berusia hitungan abad. Semakin tua usia

kayu/galih,  semakin kuat energinya untuk menanggulangi

energi yang negatif. pemakaian  sarana kayu itu dapat

dijadikan mata cincin, gelang, atau tongkat.

Hasil penelitian (Juli, 2009 ) terhadap kayu bertuah yang 

dilakukan dua kelompok peneliti terdiri atas praktisi reiki 

dan yoga di Jakarta dan kelompok lain melalui foto aura, 

menunjukkan hasil yang sama. Yaitu adanya aura, energi dan 

karakter pada kayu-kayu ini . Hasi l penelitian tahun 

1987- 1989 di Fakultas MIPA UGM (Universitas Gajah Mada) oleh 

drh. Oentoro dkk, dengan chronometer menunjukkan energi 

yang terdapat pada "kayu bertuah", besarnya dua kali lipat 

dibanding energi Tosan Aji atau Pusaka. Jika energi pusaka 

pada level 50, sedang  energi kayu "bertuah" mencapai 

level 1 00. (Sumber: infometafisika.com) 

6 1  


Dahsyatnya Komunikasi Ala 

Gen dam 

l lmu, apa pun itu , posisinya netral.  Manusialah yang

mewarnainya. Manusia dapat menggunakan suatu ilmu 

untuk segala keinginannya, apakah itu untuk merusak atau 

untuk membangun sisi -sisi positif kehidupan. 

Gendam, misalnya, hampir semua orang menuding sebagai 

ilmu untuk kejahatan. Tetapi bagi saya, ilmu atau teknik 

gendam itu "baik-baik saja". lbarat sebilah pisau, fungsinya 

ditentukan dari siapa yang memegangnya. 

Teknik gendam yaitu  teknik komunikasi tradisional yang 

secara alami dikuasai berdasar  bakat alam yang kemudian 

dipupuk oleh pengalaman lapangan. 

Gendam dilakukan dengan mempertimbangkan banyak 

hal, terutama kejelian dalam memilih calon korban . Walau 

secara umum sasaran gendam lebih tertuju pada orang yang 

berwawasan lebih rendah, bukan berarti dari kalangan yang 

berpendidikan tinggi pun tidak dapat "diperdaya" .  

Setiap pribadi memiliki celah atau kelemahan yang dapat 

diterobos mel.alui apa yang disukainya. Berawal dari senang 

atau terpesona itulah, pertahanan diri seseorang bisa menjadi 

lemah. Dan dalam dunia gendam, berlaku kaidah "Di atas 

langit masih ada langit lagi . "  

Artinya, orang pintar itu hanya pada bidang ilmu yang 

63 

digelutinya. Tidak ada manusia yang lengkap keilmuannya. 

Seorang profesor sekalipun, hanya ahli di bidang keilmuannya, 

tetapi ia menjadi orang awam jika berhadapan dengan orang 

yang memiliki keahlian yang tidak dibidanginya. Pak Habibie 

- mantan Presiden RI - boleh pandai ketika bicara tentang 

desain pesawat terbang, tetapi jangan harap lebih pandai 

j ika berbicara soal kendhi (tempat air dari tanah ) di hadapan 

orang yang setiap hari bergelut dengan urusan kendhi. 

Saya mencatat kejadian -kejadian yang pernah saya alami 

berkaitan dengan teknik komunikasi ala gendam yang saya 

kuasai secara alami (bukan hasil pelatihan ) sehingga saya 

menyimpulkan, tidak selamanya gendam itu negatif (untuk 

tindak kejahatan), sebab  kenyataannya saya sering menolong 

orang juga melalui teknik komunikasi ala gendam itu . 

Dan gendam pun tidak hanya berlaku bagi orang yang 

ber-SDM rendah saja, sebab  orang dengan tingkat intelektual 

tinggi pun dapat dimasuki melalui kelemahannya, yaitu se­

suatu yang membuatnya terpesona.  

Berikut ini  saya tulis beberapa kisah gendam yang saya 

alami sendiri . Si lakan Anda simak, dan tersenyumlah jika 

ada hal-hal yang Anda anggap lucu . Namun target yang saya 

inginkan dari tulisan ini  yaitu  Anda dapat memandang 

gendam dari sisi yang lain .  

Menagih Upah dengan Gendam 

Di mata saya, gendam yaitu  teknik komunikasi yang 

canggih yang dapat menyelesaikan masalah dengan mudah . 

Soal orang lain ada yang memanfaatkannya untuk sarana 

menipu, itu urusan masing-masing pribadi. 

64 

Dalam sejarah kehidupan saya, salah satu dari peristiwa 

yang layak dicatat dengan tinta emas yaitu  ketika saya 

berhasil memecahkan kebuntuan yang dialami teman yang 

sedang didzalimi majikannya di negeri orang. Upah kerjanya 

hampir setahun di luar negeri senilai Rp 37.000.000, - terancam 

tidak dibayar majikan . 

Ketika teman itu menghubungi saya melalui telepon, 

yang pertama kali saya tanyakan yaitu  apa yang disukai oleh 

majikannya itu . Olehnya dijawab bahwa sang majikan suka 

dengan benda-benda magis. 

Kata kunci "senang benda magis" itu makanan empuk bagi 

saya. Strategi gendam pun langsung berjalan . Atas saran saya, 

teman itu saya suruh menemui majikannya dan mengatakan 

bahwa di negara kita  ada orang sakti yang merniliki j imat 

kebal, dan kehebatan dari jimat itu dapat dibuktikan secara 

langsung, kapan saja dan di mana saja. 

Sesaat kemudian majikan itu menghubungi saya dan 

menanyakan i nformasi yang disampaikan karyawannya .. 

Selanjutnya kami sering berkomunikasi melalui hand phone 

hingga kemudian terjadi ikatan pertemanan menjadi lebih 

akrab. Dan ketika majikan itu mengutarakan keinginannya 

untuk memiliki jimat kebal itu, saya pun menjelaskan bahwa 

jimat saya hanya bersedia mengikuti orang yang hati dan pi­

kirannya bersih.  

Dia yakin dengan apa yang saya bicarakan sebab  saya 

sudah mengirimkan dokumentasi dari "uji coba jimat" kebal 

itu, di antaranya rambut kebal silet, dll .  Teknik ini sebenarnya 

trik sulap. Namun bagi orang yang belum mengetahui raha­

sianya, dianggapnya sebagai i lmu gaib. 

65 

K;tika pertemanan antara saya dengan majikan itu sudah 

makin akrab dan ia memosisikan saya sebagai "orang pintar" 

maka apa pun yang saya bicarakan, dipatuhinya. Termasuk 

ketika saya meminta agar gaji pekerjanya itu dilunasi untuk 

keperluan menengok keluarga di I ndonesia dan baliknya nanti 

akan membawa "jimat kebal" saya untuk dipinjam olehnya 

dalam waktu kurang dari 40 hari , maka saat itu juga upah yang 

sudah menunggak enam bulan pun dibayar kontan.  

Maji kan itu tergendam oleh teknik komunikasi yang 

saya mainkan. Mulai dari adegan kebal silet yang saya kirim 

melalui internet, informasi tentang j imat itu yang dapat 

dipinjam walau harus menyeberang lautan . Dan majikan itu 

makin percaya dengan keampuhan jimat ini  ketika saya 

sampaikan,  bahwa jimat itu akan pulang dengan sendirinya 

(secara mistis) pada hari yang keempat puluh.  

Semua trik gendam yang saya mainkan itu targetnya 

agar majikan membayar upah buruhnya, titikl ! Soal dia 

kemudian menyesal atau marah-marah sebab  buruhnya tidak 

segera kembali , itu urusan lain .  Yang penting target sudah 

tercapai . 

Satu trik sulap yang saya aj arkan ( kebal si let) dan 

berhasil mencairkan upah buruh itu, di lain hari , ternyata 

dapat menyelesaikan masalah yang hampir sama. Ketika te­

man dari buruh itu mengalami kasus yang sama, trik itu pun 

digunakannya. Bedanya, buruh yang upahnya macet enam 

bulan itu memilih menawarkan jimat kepada majikannya. 

Dia mengatakan bahwa upahnya yang tertahan di majikan 

itu sudah diikhlaskan asalkan jimat warisan leluhurnya itu 

dibeli untuk pulang ke negara kita . Dalam uji coba itu , majikan 

66 

dibuat kagum sebab  saat dia memegang jimat, rambut dan 

tali yang dipegangnya tidak mempan dipotong dengan silet. 

Bedanya untuk teknik yang kedua ini, setelah majikan 

sanggup membeli dengan sejumlah uang yang sedikit lebih 

besar dari upahnya itu , majikan diberi saran untuk menya­

tukan kekuatan jimat dengan pemilik barunya itu dan dia 

dimi nta membaca suatu amalan (doa) selama 40 hari . 

Ditandaskan pula, bahwa selama proses penyatuan 40 hari 

ini , jimat itu belum boleh digunakan. 

Begitu upah dibayar, pekerja itu segera kembali ke 

negara kita . Dan menjelang hari yang ke-40 mantan majikannya 

dihubungi lewat SMS bahwa jimat yang dibelinya itu palsu. 

Mendengar kabar itu, majikannya hanya terdiam. la sadar te­

lah menerima pembalasan atas perlakuan buruknya terhadap 

pekerjanya. 

Dan. Judi pun Sembuh

Untuk melakukan teknik gendam itu sebenarnya mudah 

dan tida harus menggunakan kekuatan mistis. Dengan sedikit 

kemahiran sulap plus kemampuan komunikasi yang lihai , 

rasanya sudah cukup. 

Sulap, di satu sisi dapat dijadikan media memengaruhi . 

Sebaliknya, dengan teknik sulap itu, seseorang dapat terhindar 

dari penipuan (sebab  unsur wawasan) ,  bahkan dengan sulap 

pula seseorang mampu meringkus penipu yang mengeskploitasi 

sulap sebagai mistik. l lmu itu mengikuti apa maunya "tuan"­

nya. 

Para pelaku gendam terkadang juga memiliki keterampilan 

sulap. Seseorang dapat saja memperdaya orang lain dengan 

67 

bermodalkan kemampuan mendemonstrasikan rambutnya ti ­

dak mempan disilet, atau membuat beberapa lembar kertas 

koran di tangannya berubah menjadi lembaran uang kertas. 

Orang awam yang menyaksikan hal seperti itu sudah pasti ter­

pesona. Padahal keterpesonaan itu merupakan pintu masuk 

bagi bujuk rayu . 

Dalam istilah hipnotis modern , seseorang dalam posisi 

percaya dan terpesona itu berarti membuka dirinya untuk 

dapat diperdalam (deepenjng) sugesti (saran atau perintah) 

menjadi lebih dalam lagi . Dan sesekali saya juga menggunakan 

teknik komunikasi ala gendam ini terhadap beberapa klien 

yang datang untuk mencari solusi atas problem hidupnya. 

Misalnya, suatu hari seseorang datang ke kediaman saya 

dan membawa kartu judi. la meminta saya memantrai kartu 

judinya itu agar setiap kali ia melakukan perjudian selalu 

menang. Padahal , dari pancaran wajahnya, klien itu menun­

jukkan sebagai seorang yang aktif menjalankan ibadah. 

sebab  tamu itu senang dengan hal-hal yang magis, saya 

pun bersikap layaknya dukun ampuh yang dapat melakukan 

keajaiban. Saya menebak tepat ·nama kakeknya yang sudah 

meninggal puluhan tahun si lam . 

Teknik ini disebut teknik "tebar pesona" dan efektif 

untuk melemahkan piki ran orang yang akan dipengaruhi . 

Setelah dia yakin dengan kemampuan saya, selanj utnya 

teknik gendam dapat ditingkatkan dengan meramalnya, 

bahwa klien itu tidak berbakat untuk permainan judi sebab  

sesungguhnya dia diciptakan Tuhan sebagai orang baik. sebab  

itu, jika ia melakukan maksiat, maka sentilan Tuhan langsung 

ditampakkan dalam bentuk kerugian atau kekalahan . 

68 

"Semakin Anda bersemangat untuk berjudi, semakin besar 

kesialan yang Anda alami ! "  kata saya. 

Berawal dari kekagumannya dengan kemampuan saya 

menebak nama kakeknya yang sudah meninggal, menyebabkan 

klien itu percaya bahwa saya dapat membaca isi hati orang 

lain, termasuk melihat apa yang akan terjadi pada masa yang 

akan datang. 

Maka jangan heran jika klien itu kemudian langsung mem­

bakar kartu judi dan j imat-jimat judi yang dibeli dari banyak 

dukun, dan setelah itu dia berjanji untuk bertobat atas masa 

lalunya. Dia kemudian kembali menekuni profesinya semula, 

sebagai pedagang keli ling. 

Menurut saya, untuk sekadar membuat orang lain menurut 

apa yang disarankan , tidak harus kita menguasai ilmu supra­

natural. Dengan teknik komunikasi dan memahami sisi keji ­

waan subjek atau "calon korban" ditambah dengan teknik 

menciptakan pesona, atau teknik intimidasi , maka orang lain 

dapat menurut seperti kerbau bodoh. Skill semacam itu tidak 

dapat dipelajari di kampus, sebab  teknik ini  sekolahnya 

di lapangan kehidupan dan dosennya yaitu  pengalaman . 

Walau gendam berkonotasi magis, tidak selamanya k.esim­

pulan itu benar. Saya mungkin termasuk dari sekian orang yang 

dianggap sebagai orang yang menguasai i lmu gendam. Namun, 

secara pribadi saya tidak meyakini apa yang saya lakukan itu 

sebab  faktor magis semata. Saya mengombinasi antara sisi 

batin dengan sisi yang ilmiah . 

Nikah pun Gagal 

Teknik komunikasi ala gendam yang pernah saya gunakan, 

69 

yang cukup mengesankan yaitu  ketika suatu saat ada seorang 

lbu menghubungi saya melalui hand phone dan mengutarakan 

keinginananya untuk menyadarkan anaknya yang akan menikah 

dengan pemuda yang agamanya berbeda. Dalam kasus nikah 

beda agama, saya termasuk orang yang tidak menyetujuinya, 

sebab  sering kali anak-anak yang nantinya menjadi korban . 

Ketika lbu itu kemudian datang bersama anaknya ke 

kediaman saya, mereka saya perintahkan untuk membeli 

madu di toko. Semula mereka ingin membeli madu satu 

botol, tetapi saya jelaskan bahwa yang saya butuhkan yaitu  

sedikit madu yang terdapat pada produk jamu komplit dari 

salah satu perusahaan jamu. Saya memerintahkan keduanya 

membeli madu di pasar berjarak sekitar 3 km agar tidak ada 

kesan rekayasa. 

Setelah keduanya datang dan membawa sebungkus jamu, 

saya pun segera beraksi . Saya mengambil piring kecil dan 

mempersilakan keduanya untuk memeriksa bahwa madu itu 

masih bersegel dari pabrik, dan bukan madu yang sudah saya 

persiapkan secara khusus. 

Selanjutnya anak gadis itu saya persi lakan membuka 

bungkus madu itu dengan gunting lalu menuangkannya ke 

dalam piring. Kemudian saya mengatakan, bahwa madu itu 

akan saya gunakan sebagai alat untuk mencari petunj uk 

(istikharah) apakah perjodohan yang akan mereka lakukan 

itu baik atau sebaliknya. 

Setelah madu dituang dalam piring kecil, saya pun menga­

takan : "Saya akan berdoa pada Tuhan, mohon petunjuk agar 

memberi tanda pada madu ini. Jika madu ini tetap normal 

. (dingin ) ,  maka itu pertanda pernikahan akan berlangsung 

70 

dengan baik (darnai ),  namun jika madu ini berubah rnenjadi 

panas, itu pertanda pernikahan nantinya penuh masalah. " 

Kedua tarnu itu pun rnenganggukkan kepala. Namun se­

belurn saya memulai berdoa, saya mempersilakan sang l bu 

dan putrinya untuk sama-sama mencicipi madu itu dengan 

rnenyentuhkan ujung jari telunjuk lalu mengoleskan pada 

bagian kulit. Tentu saja, apa yang dirasakan pada madu itu 

normal-normal saja. Kulit terasa dingin,  dan ketika disen­

tuhkan pada lidah pun terasa manis. 

Setelah itu saya berdoa dan meniup madu. Saya mengu­

capkan: "Madu ini sudah saya mantrai , sekarang kedua belah 

pihak harus sama-sama netral. Jika madu ini normal, lbu ja­

ngan memaksakan kehendaknya melarang pernikahan beda 

agama. Pernikahan si lakan dilanjut. Namun jika madu ini 

berubah rnenjadi panas, rnaka putri lbu juga silakan memilih 

apakah akan rnengarungi pernikahan yang panas dan penuh 

rnasalah . "  

Dengan meyakinkan , jari telunjuk saya rnenyentuh rnadu 

lalu mengoleskan pada j idat gadis itu . lbu memerhatikan 

semua prosesi itu dengan saksama. Dan apa yang kernudian 

terjadi? 

"Bagaimana? Apa yang Anda rasakan?" tanya saya pada 

anak gadis itu. 

"Biasa pak. " 

"Apakah madunya tetap dingin-dingin saja?" 

" lya pak ... " 

Saya rnelirik lbunya yang mulai tampak gelisah, mengira 

bahwa dingin yang dirasakan anaknya itu sebuah tanda bahwa 

ia harus rnengalah melepas anak gadisnya menikah dengan pria 

71  

berbeda agama. Namun, apa yang kemudian terjadi? 

Sekitar 1 5  detik kemudian, gadis itu mulai merasakan ada 

sesuatu yang aneh pada madu yang saya oleskan di j idat itu . 

la mulai merasa gatal, makin gatal bahkan madu itu berubah 

menjadi panas dan sangat panas. la berteriak, meronta-ronta 

tidak tahan dengan panasnya madu itu. 

Target dari deteksi itu pun tercapai. Saya sengaja me­

ninggalkan ruang tamu untuk memberi kesempatan keduanya 

menyikapi hasil deteksi itu .  Yang pasti, apa yang saya mainkan 

itu sebuah "trik sulap" semata. Tetapi detailnya trik ini tidak 

tepat jika ditulis dalam buku ini .  Biarlah misteri itu tetap ada 

(kenapa madu bisa berubah dari dingin lalu panas) ,  sebab 

j ika semuanya dibuka ( rahasianya) maka nilai seni dari trik 

ini tidak lagi dapat dinikmati . 

Sesaat kemudian, saya kembali ke ruang tamu. Dengan 

muka dingin saya bertanya pada gadis itu. 

"Apa yang kamu rasakan tadi?" 

"Awalnya dingin pak, tapi kemudian terasa gatal Latu 

panas dan panas sekali . "  

"Ya ... seperti sudah saya katakan sebelumnya, silakan 

maknai sendiri .  Saya tidak melarang Anda menikah dengan 

lelaki yang saat ini menjadi kekasihmu, namun dari madu 

yang Anda rasakan itu sebuah tanda bahwa yang akan terjadi 

yaitu  awalnya mesra, selanjutnya dalam dua hingga tiga bu­

lan mulai banyak masalah , hingga akhirnya terjadi suasana 

yang makin panas dan makin panas lagi . 

Tanpa banyak kata, di depan saya dan lbunya, gadis itu 

mengutarakan keinginannya untuk mengurungkan niatnya 

menikah . lbunya tampak sumringah dan tugas saya selanjutnya 

72 

yaitu  memperkuat "tanda panas" itu dengan provokasi 

bahwa yang disebut pernikahan itu ibarat dua pasang manusia 

yang naik sampan . Arah dayungnya harus sama, apalagi dalam 

sampan itu nanti ada penumpangnya, yaitu anak-anak. Jika 

sampan tenggelam, korban yang pertama yaitu  anak-anak 

itu . 

Ketika kesan orang bahwa gendam itu negatif, saya memilih 

berpendapat bahwa semua itu tergantung manusianya. Jika 

gendam hanya dilihat dari beberapa kasus penipuan di jalanan, 

maka yang tampak yaitu  negatif. Tetapi j ika ada fakta lain,  

seperti mematahkan keinginan gadis menikah dengan pria 

beda agama, menyadarkan orang yang kecanduan j udi, atau 

kasus meminta upah pekerja sebagaimana saya tulis pada 

bagian sebelum ini, apakah Anda juga tetap menilai bahwa 

gendam itu jelek semua? 

Preman pun Tunduk 

Oulu, sebelum namanya terkenal, Johan (bukan nama 

sebenarnya) pernah hidup malang melintang di jalanan .  

Menjadi pemain debus keli ling dan pernah berurusan dengan 

kepolisian sebab  teknik debusnya mencederai penonton. 

Salah satu teknik  yang menyebabkan Johan disegani 

kalangan preman di kotanya yaitu  teknik yang sama seperti 

yang saya mainkan , yaitu mengubah benda cair menjadi 

basah . Bedanya, jika saya lebih suka menggunakan sarana 

madu sebagai sarana "deteksi" masa yang akan datang, Johan 

justru menggunakan ludah . Kesannya agak jorok, tetapi hasil 

dari komunikasi ini sengguh luar biasa. 

Ketika Johan akan menundukkan salah satu preman, 

73 

teknik kom unikasi yang digunakan yaitu  mengaj aknya 

preman itu ngobrol .  Johan bertanya apakah lawan bicaranya 

itu pernah belajar ilmu kebal? Tentu saja,  anak jalanan yang 

hidup di dunia preman sedikit banyak pernah belajar ilmu 

untuk jaga diri ,  termasuk il'!'lu kebal atau sebatas i lmu untuk 

keselamatan. Maka, obrolan pun berlanjut. 

"Oke, saya ingin mencoba sejauh mana ilmu kebalmu.  

Caranya tidak perlu dengan golok, sebab nan t i  bis  a fat al  

j ika ternyata ilmumu sudah tidak berfungsi atau kalah tua 

dibanding ilmu saya , "  kata Johan. 

Yang namanya preman , dapat tantangan semacam ini 

tentu menyetujui. Selanjutnya Johan menjelaskan bahwa 

dalam uji coba ilmu kebal ini  ia cukup mengoleskan 

ludahnya ke kulit preman yang ada di hadapannya. Johan lalu 

menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke ujung lidahnya . 

Ketika dia melakukan pengambilan ludah dengan ujung 

jari itu, Johan sengaja menyuruh lawan . bicaranya untuk

memerhatikan gerakannya secara teliti . Setelah itu Johan 

menyentuhkan  uj ung j ari ke telinga bagian bawah sang 

preman. Maka dalam waktu sekitar 1 0  detik, preman yang 

di depannya itu akan mengaduh kesakitan sebab  telinganya 

benar-benar kepanasan. 

Target dari teknik gertakan dengan "ludah" itu, Johan 

ingin mengatakan bahwa preman yang ada di depannya itu 

ilmunya masih belum apa-apa dibanding dirinya. Korban dari 

teknik itu menyebabkan Johan mendapat satu teman dari 

kalangan anak jalanan yang kemudian menjadi anak buahnya 

yang setia dan mengikuti komandonya setiap saat. 

Johan termasuk orang yang pandai dalam menjaga rahasia 

74 

tekniknya. Tidak setiap saat teknik itu dimainkan. Semakin 

jarang suatu teknik dimainkan, justru dampaknya semakin 

baik. sebab  dari sekali saja Johan melakukannya pada salah 

satu preman , maka preman itu akan memperbincangkan 

"kesaktian" yang dimilikinya dengan teman seprofesinya. 

Kabar yang terjadi kemudian menjadi lebih dramatis. 

Bahwa kemampuan Johan itu dikaitkan dengan ilmu "Gembolo 

Geni" seperti cerita zaman nenek moyang kita dulu. Dengan 

teknik yang sangat sederhana (bagi yang sudah mengetahui ) ,  

menyebabkan semua preman d i  kota asalnya tunduk kepa­

danya. 

Analisis yang llmiah 

Yakinlah, bahwa apa yang saya lakukan terhadap para ta­

mu sebagaimana saya sebut di atas itu bukan perkara magis. 

Anda pun dapat melakukannya j ika mampu menciptakan 

kondisi yang menempatkan klien atau tamu dalam posisi 

"percaya" dengan skill Anda. 

Tiga contoh kasus tadi merupakan sebagian kecil dari 

kasus yang bisa saya ungkapkan . Kasus yang lain jauh lebih 

banyak dan unik, tetapi tidak etis untuk ditulis di sini sebab  

menyangkut privacy banyak orang. Tiga contoh kasus ini  

sudah bisa mewakili , bahwa yang dianggap gendam itu tidak 

selalu identik dengan magis. 

Walau saya mengakui mengamalkan berbagai ilmu yang 

masuk kategori gendam, namun dalam keseharian, ilmu saya 

yang logika itu lebih banyak berperan . Gendam yang murni 

magis hanya bereaksi di saat-saat yang khusus saja. 

Jika Anda mau menganalisis "keajaiban " yang saya 

75 

lakukan, misalnya menggagalkan pernikahan beda agama, 

atau menyadarkan orang yang gila j udi,  tentu akan ketemu 

rumus i lmiahnya, yaitu : 

• Rumah saya berada di pedesaan. Orang yang mendatangi

kediaman saya yaitu  orang yang bersungguh-sungguh

meyakini saya.

• Klien tersugesti nama seorang penulis buku- buku

metafisika, apalagi saya sering tampil di mass media

dan menjadi narasumber untuk tulisan yang tidak jauh

dari unia supranatural.

• Skill saya di bidang menciptakan kekaguman itu aslinya

teknik sulap, tetapi oleh klien diasumsikan sebagai

magis.

• Kesan positif dari klien sebab  saat memberikan konsul­

tasi , saya tidak menerapkan tarif resmi, sehingga apa

yang saya sampaikan, oleh klien dianggap sebuah ke­

tulusan.

• Hal-hal yang bersifat metafisis, saya lebih menguasai ,

setidaknya dibandingkan para tamu dari kalangan

orang awam.

Teknik komunikasi untuk memengaruhi orang lain ini tidak 

selamanya baik, namun j uga tidak selamanya buruk. Semua 

tergantung dari siapa yang melakukannya. Jika dalam kisah di 

atas saya memainkan teknik komunikasi ala gendam untuk hal 

yang positif, lain waktu bisa saja saya memanfaatkan untuk 

iseng atau hal-hal yang kurang terpuji ,  baik itu secara sadar 

atau sebab  sebuah keterdesakan . 

76 

Skill, teknik, gendam, ilmu atau ngelmu itu hanya sebuah 

alat semata. Posisinya seperti pistol yang menjadi baik ji­

ka dipegang oleh pihak yang berkompeten memegangnya 

(aparat untuk menjaga warga ), sebaliknya jika pistol 

itu dipegang orang jahat maka akan menimbulkan keresahan 

pada warga . 

Dalam penulisan gendam dan segala tekniknya, sebagian 

orang tentu ada yang berpendapat, bahwa hal ini  lebih 

banyak sisi negatifnya sebab  dapat memberikan inspirasi bagi 

orang yang bawaan dasarnya memang sudah jahat. 

Sebaliknya, tentu ada pihak yang berpendapat bahwa 

pengungkapan teknik-teknik gendam itu justru positif sebab  

penipuan yang dilakukan penjahat di jalan-jalan itu tidak da­

pat dihentikan dengan nasihat agama maupun undang-undang 

yang mengancam tindakan mereka. 

Solusi yang terbaik mencegah meningkatnya kejahatan itu 

yaitu  jika warga  dipandaikan, diperluas wawasannya, 

agar mereka tidak mudah menjadi korban kejahatan . sebab  

dalam pengamatan saya, orang yang menjadi korban kejahatan 

bermodus gendam atau hipnotis itu, lebih disebabkan oleh 

faktor kebodohan dan keserakahan . 

77 


Melihat Gendam Langsung, 

Bukan, Katanya . . .  

Tdak bermaksud mengolok-olok, tetapi suatu saat saya 

senyum-senyum penuh maklum ketika menyaksikan 

seorang narasumber yang berbicara soal gendam di layar 

kaca. Ternyata, dari sekian yang ahli , ada j uga orang yang 

tampil memaksakan diri .  Mereka belum memahami materi 

yang disampaikan, namun sebab  tuntutan profesi hingga 

memaksanya untuk tampil. Dan akhirnya, ya begitulah .... 

Seorang narasumber itu kelihatan sekali, bahwa literatur 

yang digunakan saat tampil di televisi itu bersumber dari 

membaca dan bukan dari pengalaman langsung bersentuhan 

dengan i lmu gendam , sehingga ketika ia mengucapkan 

kata cablek, pengucapannya salah dan itu menunjukkan 

keawamannya, seperti orang yang belum pernah masuk 

Jakarta sehingga tidak mampu mengeja tulisan secara benar 

nama daerah Semper dan Te bet. 

Saya mengenal gendam bukan berasal dari buku-buku 

bacaan. Referensi saya di bidang keilmuan ini lebih banyak 

berasal dari pengalaman lapangan, bergaul dengan para 

pakarnya, berguru, praktik dan mengajarkan juga kepada 

para yunior. Tentu saja, gendam versi saya jauh dari kesan 

memprovokasi pemula agar melakukan kejahatan. Gendam 

ala saya yaitu  teknik komunikasi yang positif. 

79 

sebab  bersentuhan langsung dengan i lmu gendam, maka 

saya berani meyakinkan bahwa tidak ada hal yang perlu 

ditakutkan dari ilmu yang disebut gendam ini. Kesimpulan 

ini boleh j adi sebab  latar belakang proses perkenalan saya 

dengan ilmu ini . Yaitu, saat pertama kali bertemu seseorang 

yang memiliki keah lian gendam untuk urusan menolong 

orang-orang yang sedang bermasalah dengan jiwanya (untuk 

penyadar) . 

Langsung Tidur dan Tenang 

Awal kali saya menyaksikan peristiwa unik terkait gendam 

yaitu  ketika keluarga saya di Pati , mendengar kabar bahwa 

kakak saya yang tinggal di Jakarta meninggal dalam sebuah 

kecelakaan lalu lintas di jalan tol Jagorawi , pada tahun 

1 990. 

Keluarga kami, khususnya lbu dan kakak-kakak perempuan 

saya shock dan histeris. Dan entah siapa yang mengupayakan, 

dalam suasana duka itu ada seseorang yang mendatangkan 

orang pintar asal tetangga desa yang biasa dipanggil Mbah 

Modin. 

Ketika Mbah Modin datang dan masuk kamar tempat 

ibu  dan kakak perempuan saya sedang menangis, saya 

memerhatikan gerak-gerik Mbah Modin .  Awalnya Mbah Modin 

meneteskan minyak wangi pada telapak tangannya, lalu meng­

gosok-gosokkan di kedua telapak tangannya, lantas menepuk­

nepuk tubuh lbu sembari mulutnya komat-kamit. 

Sesaat kemudian, tangisan lbu dan kakak-kakak perempuan 

saya terhenti . Selanjutnya mereka tertidur, dan ketika terba­

ngun seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Walau mereka sadar 

80 

bahwa kakak saya telah meninggal ,  namun kali ini lebih 

mampu menerima kenyataan itu. Kemudian kami sekeluarga 

mempersiapkan diri untuk berangkat menuju Jakarta. 

Saat kejadian itu, saya sedang getol-getolnya menulis 

untuk sebuah harian di Jawa Tengah. Dalam suasana duka, 

saya sempatkan mewawancarai Mbah Modin kemudian menulis 

naskah tentang kemampuan seorang perangkat desa yang 

ahli sirep (menidurkan) dan menyadarkan orang yang sedang 

histeris. 

Beberapa hari kemudian, berita tentang Mbah Modin 

sudah ditayangkan di harian itu. Setelah itu, ia yang tinggal 

di wilayah perbatasan Jepara-Pati itu banyak didatangi orang 

yang sedang bermasalah, terutama orang yang keluarganya 

sedang shock akibat kematian orang-orang yang dicintainya, 

dan a tau kasus kematian yang be rs if at mendadak. 

TKW Digendam 

Lima tahun kemudian, kemampuan Mbah Modin saya 

saksikan kembali ketika ada salah satu tetangga yang harus 

digendam. la yaitu  seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) 

yang barusan datang dari Arab Saudi. Kehadiran Mbah Modin 

ke keluarga itu, setelah ada kabar bahwa anaknya masih 

dalam perjalanan Semarang menuju Pati . Keluarga itu sedang 

menghadapi problem . Ayah dari TKW itu sudah meninggal dua 

bulan sebelum kedatangan anaknya, tetapi kematian sangaja 

dirahasiakan. 

Dan sebab  anaknya sudah dalam perjalanan dari bandara 

ke rumahnya , saya diminta mengatur siasat bagaimana 

mengatasi masalah itu . Spontan saya ingat kejadian yang 

8 1  

,·· 

pernah dialami keluarga saya. Saya lalu menyuruh tetangga 

menjemput Mbah Modin .  Sekaligus uji coba lagi, pikir saya. 

Satu jam sebelum kedatangan TKW, Mbah Modin sudah 

berada di dekat lokasi, dan ketika TKW itu belum datang, 

kami semua sepakat untuk memberi tahu bahwa ayah TKW 

itu sedang pergi ke sawah. 

Beberapa saat setelah TKW itu datang, tibalah saatnya 

menyampaikan bahwa ayahnya sudah meninggal. Maka, seper­

ti sudah diduga sebelumnya, TKW itu langsung menangis 

histeris. Mbah Modin  yang semula sudah menunggu di rumah 

sebelah, segera mendatanginya. 

Walau sudah berada di dekat TKW yang histeris itu, Mbah 

Modin tampak masih santai-santai saja.  Ketika saya meminta 

untuk segera beraksi " meniup" TKW, Mbah Modin malah men­

jawab:  "Tunggu dulu, biar tangisnya memuncak sampai ke 

ubun-ubun."  

Pada puncak histeris itu, Mbah Modin beraksi menyentuh 

(cablek) dengan sentuhan lembut nyaris tanpa tenaga pada 

bagian anggota badan TKW, sambil berkata seakan bercanda: 

"Katokno nduk ... " yang artinya "Sepuasmu, mbak ... " 

Apa yang kemudian terjadi? Saat itu juga orang yang semu­

la histeris, tiba-tiba menjadi tenang. la mulai mengantuk dan 

tidur sangat pulas, dan ketika sudah bangun dari tidurnya, ia 

bangun dalam keadaan yang normal sebagaimana dulu dialami 

ibu dan kaka-kakak perempuan saya tahun 1990. TKW itu 

tetap sadar, bahwa ayahnya sudah meninggal, tetapi ia ikhlas 

menerima kenyataan itu . 

82 

Kegaduhan Menjelang Resepsi 

Selain pertemuan dengan Mbah Modin, saya j uga pernah 

menyaksikan kejadian luar biasa saat hadir dalam resepsi 

pernikahan tetangga, yang saat itu acaranya kacau sebab  ada 

anak usia 1 2  tahun menangis histeris lantaran tidak terpilih 

sebagai pengapit pasangan pengantin di pelaminan, gara-gara 

baju yang tersedia untuk pengapit itu ukurannya hanya untuk 

anak usia lima hingga enam tahun.  

Anak itu menjerit-jerit, hingga resepsi pun kacau. Berbagai 

upaya menenangkan dilakukan keluarga tetapi selalu gagal, 

hingga akhirnya suami dari tukang rias pengantin itu mendekat 

dan memegang anak itu sambil mengusapkan ujung ibu jarinya 

ke bagian jidat, dan tak lama kemudian anak itu berhenti 

menangis. Selanjutnya ia pun mengantuk dan tertidur. 

Kebetulan saya kenal baik dengan bapak yang menenangkan 

anak histeris itu, sebab  kami masih bertetangga. Dan setelah 

kejadian itu , suami tukang rias tadi sering kedatangan ibu-ibu 

yang anaknya rewel.  

Bahkan ia pernah didatangkan ke luar kota ketika ada 

balita yang menangis berhari -hari , padahal berbagai cara 

adat sudah dilakukan. Mulai dari menyelimuti dengan sarung 

ayahnya yang saat itu sedang berdinas ke Timor Timur, namun 

tetap tidak mampu menghentikan tangisnya. 

Ketika ia datang, ternyata di ruang tamu sudah ada 

orang pintar dari desa setempat yang juga ingin membantu 

menenangkan anak ini  melalui ritual. Upaya itu mem­

buahkan hasil dan sempat menghentikan tangis untuk waktu 

sesaat. Tetapi - boleh jadi - sebab  orang pintar itu takabur. 

(sombong) dengan hasil ikhtiarnya dan mengucapkan : "Lha 

83 

soal begini saja kok menunggu kalau mbah sudah turun 

tangan . "  

Sesaat setelah ucapan itu , bayi kembali rewel .  Tetangga 

saya itu memilih keluar rumah sebab  sudah ada yang mena­

ngani . Sesama "orang pintar" tidak boleh saling mendahului , 

pikirnya . Dan ketika penyembuh pertama tetap tidak mampu 

menenangkan bayi ini , ia memilih cara yang jitu, yaitu 

doa yang biasa dibaca untuk menenangkan bayi rewel itu 

ditulis dengan huruf la tin (aslinya bahasa Arab) lalu diberikan 

kepada sopir yang menjemputnya. 

Agar tidak mempermalukan penyembuh yang masih 

berada di dalam rumah, sopir itu diminta membaca dari luar 

rumah tetapi diniatkan untuk menenangkan bayi yang rewel. 

Pada hitungan yang sangat singkat, mendadak bayi itu terdiam 

dari tangisannya lalu tertidur. 

llmu dari Mimpi 

Rumah saya termasuk rumah yang disukai anak-anak 

usia SD hingga SLTA sebab  di rumah itu banyak buku bacaan 

yang membuat mereka betah berlama-lama di rumah saya. 

Selain banyak buku, saya sering mengajari anak-anak melukis, 

silat, dan sulap. Suatu skill yang mungkin tergolong langka 

di pedesaan .  

Dari sekian anak-anak yang kerasan bermain d i  rumah, 

ada dua anak usia SLTA yang tertarik dengan ilmu batin .  Saya 

tidak tahu pasti bagaimana proses kedua anak itu, yang tiba­

tiba memiliki ilmu "gendam pambungkam". 

Menurut pengakuan mereka, i lmu itu didapatkan dari 

mimpi yang kemudian diijazahkan dengan imam sebuah surau 

di pinggiran desa. Surau itu biasa didatangi anak-anak muda 

84 

yang suka berguru. Boleh jadi , impian itu akibat sisa-sisa 

pikiran lantaran keduanya suka nguping pembaca buku saya 

yang berkonsultasi . 

Kedua anak itu, belum lama ini menceritakan apa yang 

pernah dialami belasan tahun silam. Yaitu, ketika suatu malam 

keduanya sedang membeli ayam jantan untuk suatu keperluan, 

saat dibawa dari rumah pedagang, dua ayam itu berontak dan 

bersuara keras, "keok, keook .... " 

Kedua anak ini merasa tidak enak sebab  di tepi jalan 

kecil yang di lewati itu ada penduduk yang sedang berkumpul 

untuk acara doa bersama. Keduanya lalu sepakat untuk 

membaca amalan untuk membungkam keokan kedua ayam 

itu. Begitu doa selesai dibaca, kedua ayam itu langsung diam, 

tidak lagi bersuara, dan juga tidak berontak. Salah satu dari 

anak ini , kini sudah dewasa dan dikenal sebagai praktisi 

hipnosis dan penulis buku. la yaitu  Saiful Anam. 

Menyimak apa yang dialami dua remaja ini , dapat 

disimpulkan bahwa selain teknik yang i lmiah, para leluhur kita 

juga memiliki teknik memengaruhi secara nonverbal. Bahkan 

hebatnya, selain dapat memengaruhi manusia, ternyata juga 

dapat untuk memengaruhi hewan. 

Apa yang diamalkan oleh Saiful Anam itu, ternyata sama 

dengan yang diamalkan remaja lain asal luar kota, 75 km 

dari kediaman saya, yang juga sering mengunjungi kediaman 

saya. Bedanya, remaja ini memprogram "bacaan"-nya untuk 

kepentingan keselamatan. 

Keajaiban yang sering dialami yaitu  sebelum ia memiliki 

SIM (Surat lzin Mengemudi) tidak pernah ia terkena tilang, 

justru setelah ia memiliki SIM, ilmunya malah tidak manjur. 

85 


Pengalaman Pribadi 

Tulisan ini  tidak bermaksud untuk pamer, apalagi 

takabur. l ni sekadar meyakinkan pada pembaca, 

bahwa buku ini ditulis oleh orang yang tidak awam terhadap 

gendam. Pembaca tentu lebih puas jika buku yang saat ini 

Anda baca, itu bukan saduran dari membaca buku-buku yang 

sudah ada, apalagi hasil dari copy paste di padepokan "Mbah 

Google". 

Di pedesaan, setidaknya di desa tempat saya tinggal, anak 

usia SLTP sudah menguasai ilmu gendam, itu bukan hal yang 

luar biasa. Sayangnya, warga  dengan latar belakang 

seperti itu jarang yang memiliki budaya menulis, sehingga 

penulis dari kalangan praktisi jumlahnya masih sangat terba­

tas. 

Dalam menulis buku, saya lebih mengandalkan apa yang 

pernah saya alami dan saya melihat sendiri. Bagi saya, menulis 

ibarat mendongeng. Referensinya yaitu  pengalaman hidup 

sehari-hari yang sudah tertampung di ingatan. lbarat air hujan 

yang tertampung di bendungan, untuk mengeluarkannya cukup 

dengan membuka pintunya. 

Menganalisis Gendam 

Ketika proses penulisan naskah ini masih dalam tahap 

persiapan , saya mengundang beberapa teman dari berbagai 

87 

disiplin ilmu untuk berdiskusi tentang gendam. Mereka itu dari 

kalangan hipnosis, pelaku mistis (gendam),  jurnalis, ustad, 

dan kalangan orang a warn.  

Dalam diskusi itu ,  ada enam kasus yang dalam pandangan 

dua pelaku gendam dianggap terjadi di luar batas kewajaran, 

sehingga untuk sementara diyakini sebagai keajaiban mistis, 

yaitu: 

88 

1 .  Pelaku gendam pertama, sebut saja Budi, saat naik be­

cak tiba-tiba dihadang seseorang yang mengancamnya. 

Orang yang mengancam itu, dengan sepeda motornya 

berhenti di depan becak yang dinaiki Budi. Budi spontan 

turun, musuhnya ditepuk pundaknya lalu diminta untuk 

mengantarkannya belanja ikan hias. Ketika turun dari 

becak, ongkos becak tidak diminta oleh abang becak. 

Yang terjadi justru musuh Budi mengantarnya belanja, 

bahkan orang yang semula marah itu, mau juga ketika 

diminta menunggu di depan toko ikan hias saat Budi 

belanja. Setelah belanja, Budi minta untuk diantar 

sampai terminal, dan kali ini pun musuhnya menurut 

saja perintahnya. Ketika sepeda motor sampai pintu 

terminal, ada bus jurusan rumah Budi . la lalu minta 

sepeda motor itu berhenti , dan selanjutnya meloncat 

naik bus. Dari atas bus, Budi melihat musuhnya itu 

memandangi arah bus dengan bengong.  

2 .  Budi  yang dikenal memi liki i lmu  gendam , suatu 

saat dilapori tetangganya tentang kebengisan salah 

satu penduduk yang berprofesi sebagai rentenir. 

Disebutkan, bahwa rentenir itu jika ada orang yang 

meminjam uang dan telat membayar sehari pada jatuh 

tempo yang disepakati , maka peminjam itu dikenakan 

bunga dua kali lipat. Jika telatnya lebih lama bisa kena 

bunga berbunga. Budi terprovokasi untuk mencoba 

ilmunya. Rentenir itu dihubungi melalui hand phone, 

dan ia mengatakan butuh uang Rp1 .000.000, - Sesaat 

kemudian uang diantar ke rumah Budi . Namun, hampir 

dua tahun lebih uang itu tidak pernah ditagih .  Bahkan 

ketika suatu saat Budi bertemu dengan rentenir itu 

di jalan, Budilah yang mengingatkan kenapa uangnya 

tidak diurus, dan dengan malu-malu, rentenir itu justru 

menjawab: "Biar di rumah Anda saja, saya percaya sa­

ma sampeyan. "  Yang tidak masuk akal, tiap kali Budi 

bertemu dengan rentenir itu , justru rentenirnya yang 

malah menyingkir. Meski begitur suatu saat Budi tetap

ingin mengembalikan uang ini . 

3. Panitia sebuah ormas dibuat bingung sebab  dana yang

diandalkan untuk sebuah acara, mendadak dibatalkan

oleh donatur yang sudah berjanji menjadi sponsor aca­

ra ini . Budi yang dikenal memiliki ilmu gendam,

dimintai bantuan panitia untuk mengusahakan dana.

Budi lalu mendatangi salah satu orang yang dikenal

berduit. Budi minta uang Rp 4.000.000, - dan langsung

diberi . Uang segera diserahkan ke panitia untuk mem­

biayai kegiatan itu. Lain hari, Budi menemui pihak yang

membantu dana itu. Apa yang dikatakan sang donatur?

"Kenapa kemarin saya memberi uang sejumlah itu .

Lebaran kan kurang tiga hari , siapa pun butuh pegang

duit ."

4. Sanjaya - pelaku gendam ke-2 - suatu hari memberi

89 

90 

laporan pada aparat sebab  setiap malam minggu 

banyak PNS berjudi di sebuah kantor. sebab  Sanjaya 

dikenal aparat, laporan itu masuk kategori A yang 

segera ditindaklanjuti . Setelah komandan operasi 

sudah mengerahkan anak buahnya untuk menggrebek 

perj udian, ternyata saat itu tidak ada perj udian . 

Komandan marah sebab  merasa dikerjai Sanjaya, dan 

saking marahnya, ia berkata kepada teman-temannya 

jika suatu saat ketemu Sanjaya, dirinya akan dimarahi . 

Ternyata? Saat ketemu Sanjaya, ia tidak j adi marah. 

Komandan justru senyum-senyum dan tidak berbicara 

sepatah kata pun. Dan sekali berbicara, komandan itu 

malah mengutarakan ingin minta i lmu yang dimi likinya 

sebab  ia merasakan ada sesuatu yang tidak wajar pada 

diri Sanjaya. 

5 .  Sanjaya mengambil kredit sepeda motor. Uang muka 

Rp 4.000.000, - dan angsuran bulanan disepakatinya . 

Dalam kesepakatan ,  per bulan tiap tanggal 8 kolektor 

menarik angsuran ke rumah Sanjaya. Tetapi baru ang­

suran yang ke- 1 0  dari 30, kolektor tidak lagi datang. 

Sanjaya pernah ditemui saat bertemu di jala dan 

ditanya kenapa angsuran tidak dibayar. la menjaw.ab 

sesuai kesepakatan, kolektor yang datang ke rumahnya. 

Dengan alasan rumah Sanjaya jauh, kolektor mengaku 

malas. Padahal yang berlaku pada orang lain,  telat 

lebih tiga bulan, motor sudah ditarik dealer. 

6. Dalam perjalanan ke luar kota, mobil Sanjaya diikuti

petugas yang kemudian menghentikannya . Ketika

petugas itu turun dari mobil dan mendekat, Sanjaya

membuka kaca pintu dan berta ya: "Ada apa ... ? ! ! " .  

Aparat itu menjawab terbata-bata, "Maaf pak, saya 

kira ini crew televisi, mau saya kawal..." Padahal, 

teman yang duduk di samping Sanjaya itu punya 

pengalaman pahit .  Di jalan arteri itu,  dia sering 

dipungli oknum petugas, kok Sanjaya malah mau 

dikawal? Ha ha ha .. . .  

Seki las dari enam kasus yang diduga gendam yang 

saya tulis di atas, memang ada bagian yang tampak di luar 

kewajaran . Namun, dari analisis teman-teman diskusi , tetap 

saja ada bagian yang ketemu i lmiahnya, yaitu : 

1 .  Ketika Budi turun dari becak lalu menepuk pundak 

lawannya itu, boleh jadi sebab  sebelumnya lawan 

mengira Budi akan takut atau marah. sebab  sikap 

Budi justru bersahabat, maka emosi lawan jadi luluh 

sehingga bersedia memboncengkannya ke toko ikan 

hias, menungguinya belanja lalu, mengantarnya hingga 

pintu terminal . sedang  tukang becak yang tidak 

minta uang, ia menganggap kedua orang itu akan 

berkelahi . Dan ket;ka ternyata apa yang diduga itu 

tidak terjadi, dalam hati dia bersyukur sehingga tidak 

perlu mempermasalahkan uangnya. 

2 .  Terkait rentenir yang tidak mengurus uangnya? lni yang 

agak sulit diterima akal. Tetapi secara akal, boleh jadi 

sebab  di desa itu Budi dikenal sebagai orang yang 

punya pengaruh,  punya banyak kenalan, sehingga 

dengan menanam jasa dalam bentuk pinjaman uang, 

suatu saat Budi bisa dimintai perlindungan jika suatu 

9 1  

92 

saat ada masalah dengan profesi i legalnya itu . 

3 .  Tentang menggendam Rp 4.000.000,- menjelang le­

baran, analisis yang agak masuk akal yaitu  Budi 

kenal baik dengan orang yang didatangi itu. Apalagi 

saat itu Budi mengatakan kalau acara itu bekerja sama 

dengan salah satu perusahaan yang suatu saat jasanya 

dibutuhkan oleh donator itu. 

4. Akan ha lnya Sanj aya yang t idak  j adi  d imarahi

Komandan? Boleh jadi sebab  ia  memiliki hubungan

pertemanan yang baik dengan Sanj aya , apalagi

Komandan itu meyakini Sanjaya memiliki ilmu gendam,

dan ia meminati ilmu itu. Logikanya, jika ia marah-ma­

rah dengan Sanjaya, tentu tidak akan diberi ilmu.

5. Untuk kasus kredit sepeda motor, ini yang sulit diterima

sebab  kerja perusahaan bersifat kolektif .  Administrasi

sebuah perusahaan besar tentu tertib .  Petugasnya

banyak, dan mereka yaitu  orang-orang lapangan

yang terlatih menangani hal seperti itu. Tim diskusi

menempatkan kasus ini perlu dibahas lebih lanjut. '

6 .  Tentang petugas yang terbata- bata saat ditanya 

Sanjaya dengan nada yang membentak? Untuk yang 

ini,  tim sepakat bahwa faktor utamanya lebih pada 

wajah Sanjaya yang meyakinkan . Pancaran mata dan 

kumisnya mengesankan dia orang yang percaya diri .  

Apa rat menduga plat