Santet 4

 


 si Malin Kundang-nya sendiri, 

dan kita bisa menelaah cerita itu dari sisinya, apakah ia memang ternyata as guilty as 

charged? Jika permasalahan yang sesungguhnya hanyalah telah terjadinya sebuah 

kesalahpahaman, apakah kutukan itu masih efektif menimpa Malin Kundang? 

 

Atau kisah Arthur Fleck dalam film Joker, besutan sutradara Todd Phillips, saat  

Arthur menderita kelainan mental sebab  cara didikkan dan perawatan orang tuanya 

yang salah padanya, namun sayangnya Arthur tidak memasukan faktor Tuhan dalam 

perhitungannya—jadilah ia Tuhan atas hidupnya sendiri, sehingga dia melakukan 

sesuatu yang ekstrim untuk melampiaskan rasa kekecewaannya. Jadilah dia 

mendurhakai orangtuanya dengan membunuh ibunya atau ibu angkatnya itu, setelah 

ibunya mendurhakainya terlebih dahulu. Namun itu yaitu  sisi ekstrim sebelah 

 62 

kirinya, sebelah kanannya? Perhatikan orang-orang sukses yang Anda kagumi, 

biasanya mereka yaitu  orang yang bermasalah dengan orang tuanya, namun mereka 

menyikapinya dengan lebih tepat. sebab  sebagaimana anak-anak menjadi cobaan 

bagi kedua orang tuanya, demikian pula para orang tua juga yaitu  merupakan bentuk 

cobaan bagi anak-anaknya.  

 

Ada pula sebuah riwayat pada jaman Nabi Muhammad saw. mengenai seorang ibu 

yang merasa sungguh sakit hati terhadap anaknya—tidak dijelaskan kenapa sang ibu 

sungguh merasa sakit hati, mungkin ini tidak penting kita ketahui—namun di situ 

dijelaskan betapa sang ibu sangat sakit hati sampai tidak mau memaafkan anaknya 

yang sedang sakratul maut berkepanjangan. saat  permasalahan itu tiba di hadapan 

Rosulullah saw. maka, sang nabi agung itu pun bersabda, sang anak harus dibakar 

untuk menghentikan penderitaannya, di titik itulah kemudian hati sang ibu luluh, 

sehingga pada akhirnya ia bersedia memaafkan anaknya, dan anaknya pun kemudian 

meninggal dunia dengan damai. Power yang dimiliki orang tua terhadap anak-anak 

mereka, yaitu  sebuah karunia dari Tuhan yang juga harus disikapi dengan benar oleh 

para orang tua. Satu yang pasti yaitu , bahwa Tuhan Maha Adil, dan kepada-Nya lah 

selalu kita memohon petunjuk, pertolongan dan kekuatan. Orang tua bagaimana pun 

yaitu  manusia juga, dan mereka pun bisa salah faham, dan bisa berbuat salah. 

 

Santet Ring-Satu 

 

Santet ring-satu yaitu  kalimat sugesti buruk yang disampaikan dari orang yang 

paling dekat kepada kita atau lingkaran satu pertemanan kita atau ring-satu kita. Jika 

Anda juru santetnya maka, mekanisme yang mungkin terjadi dalam santet jenis ini, 

yaitu  sbb: Dalam santet ring satu ini Anda tidak harus tertuju pada orang yang ingin 

Anda sakiti namun Anda dapat menyampaikan suatu kabar berita yang dikemas 

seakan-akan itu yaitu  gossip yang beredar di kalangan orang banyak yang 

menyangkut orang yang Anda tuju lewat teman dekatnya, keluarga terdekatnya, 

ataupun melalui pasangannya.  Cara paling efektif yaitu  melalui pasangannya 

dengan menyampaikan berita yang mempengaruhi mental pasangannya, sehingga 

pasangannya tersebut yang akan merongrong orang yang Anda ingin jadikan target 

untuk terpancing melakukan sebuah tindakan yang gegabah dan masuk ke dalam 

perangkap yang Anda buat. 

 

Anda harus tahu siapa orang terdekat si target yang mudah Anda dekati untuk Anda 

masukkan pengaruh yang ingin Anda tanamkan, lalu ke masalah pengaruh atau 

sugesti yang ingin Anda masukkan tersebut dengan kesan bahwa itu yaitu  berita 

yang berasal dari gossip yang sedang ramai dibicarakan orang atau menjadi sebuah 

kalimat cerita yang mewakili pendapat Anda tentang diri Anda sendiri, misalkan 

dengan kalimat: 

 

"Kalau suami sering susah dihubungi pasti sedang selingkuh suami semuanya pasti 

begitu" atau "Dengan usia sudah setua ini, saya sudah pasti malas berhubungan 

badan lagi dengan suami saya" atau "Semua yang namanya laki-laki pasti pernah 

selingkuh, kitanya saja yang tidak pernah tahu selama ini." 

 

Kalimat di atas menggambarkan sebuah kalimat tidak langsung yang dapat 

mempengaruhi pikiran bawah sadar pasangannya dan ide atau kalimat tersebut akan 

dikeluarkan oleh perkataan pasangannya saat ada konflik dengan suaminya, sehingga 

 63 

lambat laun pasangan tersebut tidak akan harmonis lagi dan dapat memicu  

perpecahan di dalam rumah tangganya. 

 

Ide yang ingin Anda sampaikan haruslah terkesan bahwa itu yaitu  pengalaman yang 

pernah Anda alami dan juga dialami oleh banyak orang, sehingga pikiran bawah sadar 

dia menyetujui dan menyimpan ide tersebut ke dalam laci pikiran bawah sadar yang 

ada di dalam kepalanya. 

 

Pelajaran paling penting dari Santet Ring-Satu yaitu : siapa pun yang selalu 

bersemangat mengabarkan berita-berita buruk atau gossip-gossip tak sedap tentang 

Anda, yaitu  bukan teman Anda, segera coret dia dari daftar pertemanan Anda.  

 

Santet Perseorangan 

 

Santet Perseorangan bisa dikatakan sebagai santet yang berupa sugesti langsung yang 

ditancapkan ke dalam pikiran bawah sadar orang yang ingin kita tuju.  Kalimat yang 

disampaikan bisa dengan kalimat lembut maupun kalimat kasar, berupa makian atau 

kutukan. Kalimat yang disampaikan haruslah dalam situasi dan kondisi yang tepat, 

misalkan pada saat dia sendiri sedang ada masalah dengan yang lain. Yang terpenting 

lagi, kalimat harus benar-benar memancing emosi si pendengar atau orang yang 

dijadikan target.  Emosi yang dimaksud di sini bukanlah selalu membuat seseorang 

menjadi marah, namun benar-benar dimasukkan ke dalam hatinya yang membuat ia 

menerima sugesti yang Anda masukkan tersebut, baik secara perkataan langsung 

maupun melalui SMS yang ada di dalam HP-nya si target. 

 

Contoh kalimat santet perseorangan yang mudah diterima dan dijadikan kenyataan 

olehnya yaitu  sebagai berikut: 

 

Kalimat Lembut 

 

- "Ingat! Di dunia ini tidak ada yang namanya gratis. Suatu saat kamu akan 

membayarnya." 

- "Suatu saat kamu yang akan bersujud meminta maaf kepada saya." 

- "Kamu akan bernasib sama nanti dengan ayahmu." 

- "Kamu pasti akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini." 

- "Semua perkataanmu akan kembali pada dirimu, Catat itu!" 

 

Kalimat Kasar atau Kutukan 

 

- "Kamu tidak akan punya anak lagi, camkan itu!" 

- "Jangan bangga dulu tidak lama lagi Tuhan akan membalasmu." 

- "Pikir kamu ganteng kamu semakin lama akan semakin jelek." 

- "Kamu pikir kamu akan sembuh dari penyakitmu itu? Tentu tidak!" 

- "Kamu bukan siapa-siapa bagi saya, kamu akan hancur dengan sendirinya dan saya 

akan melihat kehancuranmu nanti." 

- "Penderitaanmu itu belum seberapa, kamu akan jauh lebih menderita nanti." 

 

Kalimat yang disampaikan di atas haruslah dipilih, mana kalimat yang PALING 

MENGENA yang bisa mengguncang pada sisi kejiwaan orang yang kita tuju atau 

akan dijadikan target. 

 64 

 

Santet Diri Sendiri—Menzalimi Diri Sendiri 

 

Dari semua jenis santet yang terjadi di muka bumi ini, mungkin inilah yang paling 

sering terjadi, dan inilah alasan kami berani menerima tantangan dalam menulis artikel  

tentang santet. sebab , “Hei!” tidak ada orang di muka bumi ini yang tidak pernah 

menyantet dirinya sendiri. Mungkin ada pengecualian, namun Nabi Adam as. yaitu  

termasuk di dalamnya.  

 

“Tidak ada ilah selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-

orang yang zhalim.”—(QS. Al-Anbiya (21):87) 

 

Kebanyakan dari kita yaitu  penzalim diri sendiri, baik itu secara sengaja maupun 

tidak.Tanpa sengaja kita sering menzalimi diri kita sendiri dengan melampaui batas 

aturan-aturan yang telah dibuat oleh Allah dan telah terpatri di diri kita sendiri. 

Seringnya hampir setiap orang tidak menyadari hal itu, mereka hanya mendapati 

kerugian-kerugian saat melampaui fitrahnya, berupa penyakit yang tidak disadari 

timbul akibat melampaui fitrah kita sebagai manusia—lihat bagian 10 artikel  ini.  

 

Kebanyakan orang hanya berpikir dan menghindari perbuatan yang merugikan orang 

lain, namun sedikit sekali orang yang berbuat adil untuk dirinya sendiri, sehingga itu 

pun bisa dikategorikan ke dalam perbuatan menzalimi diri sendiri atau menyakiti diri 

sendiri. Itulah mengapa Agama Islam lebih mengusung keadilan, yang bila dimaknai 

lebih jauh bisa dikatakan sebagai adil terhadap sesama dan adil pada diri sendiri. 

Membagi rata bukanlah sikap adil, namun memberi pada yang berhak, itulah 

perbuatan yang adil. Kebanyakan orang salah kaprah dalam mengartikan adil yang 

sebenarnya dan mengabaikan sikap adil pada diri sendiri.  

 

Tanpa kita sadari, hampir setiap saat kita menganiaya diri sendiri atau melakukan 

perbuatan yang menzalimi diri sendiri, yang merugikan diri sendiri. Para Nabi selalu 

memanjatkan doa agar memperoleh ampunan di saat tidak menyadari bahwa dirinya 

telah menzalimi diri sendiri. 

 

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni 

kami dan membeti rahmat kepada Kami, niscaya kami termasuk orang-orang uang 

rugi.” (QS. al-Araf: 23) 

 

“Dia (Nuh) berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk 

memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak menyetahui (hakikatnya). Kalau Engkau 

tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku 

termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Hud: 47) 

 

'Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-

orang yang zalim.” (QS. al-Anbiya:87) 

 

Menyadari bahwa diri kita yaitu  penzalim diri sendiri bukanlah hal yang mudah. 

Kita akan lebih mudah untuk tidak menyakiti atau menzalimi orang lain, namun diam-

diam kita pun telah menzalimi diri sendiri lantaran kita lebih “tidak enakkan” pada 

orang lain dan akhirnya mengabaikan hak diri kita sebagai pribadi. Tanpa disadari, 

perbuatan tersebut dapat memicu  penyakit pada diri kita sendiri, lantaran kita 

 65 

tidak bisa berlaku adil pada diri sendiri. Tubuh kita akan melakukan protes dan 

menderita. Begitu pun dengan orang yang hatinya tanpa disadari memiliki penyakit 

dengki pada orang lain, maka itu pun akan memicu  penyakit pada dirinya 

sendiri, seperti yang telah dijelaskan pada ayat berikut, 

 

“Atau apakah orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, mengira bahwa Allah 

tidak akan menampakkan kedengkian mereka?” (QS. Muhammad: 29) 

 

Bisa jadi, dalam ayat tersebut memang Allah akan menampakkan kedengkian orang-

orang dengki dengan timbulnya penyakit pada diri mereka. Ini sangat erat kaitannya 

dengan tubuh yang protes sebab  tidak sesuai dengan fitrahnya, sehingga timbulah 

penyakit sesuai dengan apa yang telah dia kerjakan. Apa-apa yang dilakukan oleh 

anggota tubuh dan tidak sesuai dengan peruntukkannya atau tidak sesuai dengan 

fitrahnya, maka akan berdampak tidak baik untuk diri sendiri, ini dijelaskan di dalam 

al-Quran, yang berbunyi: 

 

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka itu yaitu  untuk dirinya sendiri, dan 

barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri; 

kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.” (QS. al-Jasiyah: 15) 

 

Bunyi ayat di atas itu menandakan suatu hukum yang sudah pasti akan begitu 

kejadiannya, seperti sebuah akibat yang sudah otomatis, dimana siapa pun yang 

mengerjakan kebaikan maka akan bermanfaat untuk dirinya sendiri dan siapa pun 

yang mengerjakan kejahatan-pun maka akan menimpa dirinya sendiri. Hal ini dapat 

terjadi sebab  di dalam diri manusia ada yang namanya fitrah tersebut. Fitrah yang 

selalu memihak pada kebenaran yang telah diatur oleh Allah demi kebaikan manusia 

itu sendiri, meskipun berbuat kesalahan yaitu  merupakan fitrah manusia juga—

Humanly corrupted nature.  

 

Tubuh kita tunduk pada fitrah kita sebagai manusia. Tubuh kita juga merupakan 

makhluk tersendiri yang kita tumpangi selama di dunia, dengan segala sistem yang 

otomatis bekerja sendiri di dalamnya tanpa kita sadari. Tubuh kita yaitu  makhluk 

hidup sekaligus habitat alam bagi makhluk lainnys seperti sel, bakteri, bahkan cacing, 

serta jamur yang menempel atau hidup di dalam tubuh kita. Banyak orang 

menyebutnya dengan jagad kecil atau microcosmos, sementara alam semesta raya, 

termasuk bumi dan segala isinya disebut dengan macrocosmos, ilmu yang 

mempelajari tentang ini dinamakan Cosmology. Alam semesta baik itu jagad besar 

maupun jagad kecil, semua tunduk pada pengaturan Allah swt.—the sole agent of the 

cosmoses.  

 

“Dan Dia menundukkan apa yang di langit dan apa yang di bumi untukmu semuanya 

(sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar 

terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah), bagi yang berpikir.” (QS. al-Jasiyah: 13) 

 

Tubuh kita juga tunduk pada penciptanya, pada Tuhan semesta alam. Tubuh kita 

tunduk pada aturan-aturan yang telah dirancang oleh Allah demi kebaikan kita 

sendiri. Tubuh kita akan bereaksi pada apa-apa yang telah kita perbuat selama kita 

hidup di dunia, baik itu hal baik yang telah kita lakukan pada diri kita, maupun pada 

orang lain tanpa kita sadari. 

 

 66 

Bukti bahwa tubuh kita telah terikat pada fitrah kita sebagai manusia dan bukti bahwa 

tubu kita pun tunduk pada pengaturan Allah yaitu  di antaranya sebagai berikut: 

 

1. Hampir setiap orang yang mati tenggelam pada saat jasadnya kembali timbul 

ke permukaan air, ditemukan dalam keadaan posisi terlentang bila wanita, dan 

telungkup bila itu pria. 

2. Hampir semua pria mengalami ereksi pada saat-saat menjelang pagi hari, 

meskipun tidak mendapatkan rangsangan dari luar. 

3. Wanita sangat sulit menahan amarah pada saat menstruasi, sama halnya 

dengan ayam betina yang sedang mengerami telurnya atau saat  telurnya 

baru saja menetas. 

4. Wanita mudah tersangsang saat disentuh bagian lehernya. 

5. Pria pada masa puber mendapatkan mimpi basah, dimana turunnya hidayah—

atau apakah setan yang mengajarkannya, sebab  Nabi saw. tidak pernah 

mengalaminya—memberi  pelajaran pada pria untuk reproduksi sehingga 

manusia tidak punah. 

6. Tumbuhnya payudara pada wanita, sementara pria tidak. Namun pria tetap 

memiliki puting pada dadanya meski fungsinya masih dipertanyakan. 

7. Sel darah putih bekerja keras sedemikian untuk melumpuhkan virus, bakteri 

yang masuk ke dalam sistem tubuh. 

Tubuh kita yaitu  kendaraan—avatar—kita selama hidup di dunia, tubuh diciptakan 

untuk kebaikan dan kelangsungan hidup di alam dunia. Tuhan menjadikan manusia 

sebagai khalifah di atas muka bumi, agar bumi beserta isinya menjadi lestari dan 

diberdayakan, namun penempatan manusia di muka bumi tela diprotes dan diketahui 

oleh malaikat, sebab  manusia hanya akan berbuat kerusakan dan menumpahkan 

darah di muka bumi, namun Allah tentunya yaitu  Yang Mahatahu.Tuhan 

mengetahui apa yang Dia lakukan, Tuhan memiliki alasan yang sangat kuat untuk 

menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di muka bumi. Tuhan tahu bawa 

hamba-nya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya tidak akan melakukan kerusakan 

di bumi dan juga tidak akan merusak dirinya sendiri. 

 

Santet Kolektif—Mastermind, Tersantet Kolektif—Azab 

 

Santet Kolektif yaitu  santet yang dilakukan secara bersama-sama  untuk 

menyingkirkan atau menyakiti seseorang atau lebih.  Peristiwa ini Pernah kami lihat 

secara langsung, dimana seseorang yang ingin menyingkirkan lawannya membayar 

banyak orang untuk melakukan puasa selama 40 hari dan atau (santet) Yasinan, demi 

menyingkirkan lawannya.  Puasa—dan atau Yasinan—dengan niat tidak baik itu 

berasal dari syarat seseorang yang dianggapnya memiliki karomah, sehingga saran 

tersebut sangat dipercaya menjadi manjur berita banyak orang yang sedang 

melakukan puasa dengan niat tidak baik tersebut sehingga memicu  perasaan 

negatif bagi orang yang mendengarnya sehingga perasaan negatif yang muncul 

tersebut mengakibatkan perilaku yang negatif pula, dan atau mendorong mereka 

mengambil sebuah keputusan yang salah. saat  kami dalam proses mengedit artikel  

ini, dan saya mengerjakannya di balik jeruji besi penjara, sementara istri saya Nyi 

Damar mengerjakannya di sebuah tempat yang jauh dari sisi saya—dan sampai di 

bagian ini, kami tersadar bahwa kami pun telah menjadi korban jenis yang Santet 

 67 

yang satu ini, seperti yang telah kami sedikit ceritakan di bagian Pendahuluan artikel  

istimewa ini. 

 

Makna dari Mastermind sendiri yaitu :  

 

“Dimana dua orang atau lebih bergabung dan yang memiliki tujuan yang sama 

maka tujuan tersebut akan lebih mudah dicapai capai, semakin banyak yang 

tergabung di dalamnya, semakin dahsyat kekuatannya.”   

 

Dalam hal ini yang ingin dicapai yaitu  efek positif berupa semangat bersama untuk 

mencapai tujuan bersama tersebut, semangat akan memicu  rasa antusias dan 

fokus pada keberhasilan yang ingin dicapainya secara bersama, meskipun belum 

diraihnya.  Mastermind juga dapat digunakan untuk mengkaji suatu masalah secara 

bersama-sama, bertukar pendapat demi mencapai tujuan. Satu hal yang 

membahayakan dari sebuah mastermind yaitu , saat  kita merasa berada di pihak 

yang banyak, bahwa kita lantas merasa pasti berada di pihak yang benar, padahal 

biasanya justru yaitu  kebalikannya, namun menjadi benar dan mencapai sebuah 

tujuan yang diinginkan tidaklah selalu berjalan beriringan.  

 

“Dimana terdapat kefanatikan berbau agama dalam setiap perkumpulan, maka 

ulama Su’ biasanya tercipta”—Imam al-Ghazali. 

 

Santet-Kolektif lebih sering dilancarkan tanpa disadari oleh suatu kelompok, 

golongan, komunitas maupun satu keluarga dengan tujuan yang sama yaitu 

membayangkan, memvisualkan hal yang sama.  Contoh: sebuah keluarga yang 

kompak akan dengan sangat mudah menggapai kepentingan bersama seperti 

membelikan mobil, merenovasi rumah orang tua, dan bahkan ini sangat jelas terlihat 

bila suatu rumah orang tua yang memiliki banyak anak namun rumah orangtua 

tersebut hampir roboh, pastilah di dalam keluarga tersebut kurang kompak. Mereka 

tidak begitu peduli dengan nasib kedua orangtuanya yang menua.  

 

Keluarga sangat penting sebagai pertahanan bersama demi tercapainya tujuan 

bersama serta menghalau serangan kejahatan Santet-kolektif yang berasal dari 

keluarga lain atau kelompok lain.  Sering berkumpulnya anggota keluarga sangat 

penting untuk menyusun sebuah kebersamaan pikiran. Figur seorang ayah memegang 

peranan penting dalam mendidik dan mengarahkan anggota keluarga untuk mencapai 

tujuan-tujuan tertentu yang dapat dibangun secara bersama-sama. 

 

Santet-Kolektif dapat dipatahkan dengan cara menghancurkan kebersamaan anggota 

dari dalam bila salah satu anggota atau anggota keluarga ada yang tidak kompak atau 

tidak sejalan dengan pikiran yang lain maka itu setidaknya akan cukup menghambat 

proses Santet-Kolektif yang sedang dibangun. 

         

Santet-Kolektif bisa terjadi bila ada persetujuan bersama seperti bila Anda tinggal di 

tengah suatu perkampungan di pedalaman dimana masih banyak orang yang iri dan 

dengki bila melihat Anda turun dari mobil pribadi Anda. Atau bahkan saat  Anda 

keluar dari mobil sambil membawa belanjaan yang sangat banyak sekali jumlahnya 

maka itu dapat memicu  rasa dengki dan iri terhadap orang-orang yang melihat 

atau yang ada di sekitar Anda. Dari perbuatan dengki dan iri tersebut akan membuat 

orang yang dilihatnya akan menjadi terkena sebuah energi Santet-Kolektif yang dapat 

 68 

membuat orang tersebut menjadi sama miskinnya dengan warga tersebut.  Mereka 

sangat mempengaruhi satu sama lain. Oleh sebab  itu bila di suatu wilayah yang 

masyarakatnya masih banyak yang miskin dan bodoh, maka rata-rata akan sangat sulit 

untuk diajak menjadi jauh lebih maju, sama halnya dengan peribahasa yang 

mengatakan, "Kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan".  

 

Jadi bisa dipastikan bila suatu wilayah yang masih banyak orang miskinnya, pastilah 

banyak orang-orang bodoh di tempat tersebut. Berada ditengah orang-orang bodoh 

yang jumlahnya sangat banyak yaitu  mereka akan saling mempengaruhi dan mudah 

dihasut oleh orang lain untuk membuat kita sama miskinnya seperti mereka sebab  

mereka sangat senang sekali melihat orang yang dibencinya menjadi menderita, 

sebab  dengannya mereka dapat merasa lebih baik dan itu sama saja dengan sebuah 

indikasi kejiwaan yang sakit.  Saran kami sebaiknya ada survei terlebih dahulu situasi 

kondisi lingkungan kejiwaan masyarakat di sekitar tempat yang Anda berencana ingin 

pindah ke tempat tersebut, apalagi bila Anda beserta pasangan Anda memutuskan 

pindah ke suatu pedalaman dengan lingkungan sosial dan pola pikir masyarakatnya 

yang bisa menyantet Anda sekeluarga—dan sekali lagi, inilah santet terberat yang 

pernah menimpa kami. 

  

Hal ini sama dengan pengaruh yang didapat dari orang-orang banyak yang ada di 

sekitar kita hanya saja bedanya ada unsur penyakit iri dan dengki dari orang-orang 

tersebut kumpulan tersebut pemakaian  kekuatan pikiran secara bersama-sama 

untuk melancarkan kampanye negatif, untuk menjatuhkan, menyakiti dan bahkan 

menghancurkan Anda sekeluarga.  

 

Mereka saling mendukung dan saling mengingatkan di antara sesamanya untuk terus 

fokus pada orang yang dianggapnya sebagai pesaing atau lawan bersama tersebut. 

Sementara mereka fokus menjatuhkan Anda secara bersama-sama dan kemudian 

Anda lah yang lengah maka Anda akan segera celaka dalam hitungan hanya dalam 

kurun 2-3 tahun saja Anda tinggal di tempat tersebut, sepositif apa pun energi yang 

Anda pancarkan. Dan sepintar apa pun Anda mengabaikan serangan negatif mereka, 

mereka hampir dapat dipastikan akan segera berhasil menyengsarakan Anda. 

 

“Hurry, hurry! Get out off there! Santet-Kolektif ini sangat berbahaya bagi Anda, 

pendatang baru di suatu lingkungan yang tidak mendukung Anda.” 

 

Santet-Kolektif ini berlaku pula di dunia maya di setiap komunitas yang Anda masuki 

termasuk di tempat Anda bekerja. Terkait dengan platform medsos yang Anda 

gunakan, segeralah Anda cek kualitas pertemanan di media sosial yang Anda 

gandrungi sekarang, jika lebih banyak yang tidak Anda kenal, atau bahkan lebih 

banyak yang tidak menyukai Anda dibandingkan  teman medsos yang menyukai Anda, 

maka sebaiknya Anda segera out dari situ selamanya—Lihat juga Santet Ain. Dan bila 

Anda tidak betah di sebuah lingkungan kerja tertentu, segeralah cari tempat lain, 

carilah perusahaan lain, sebab  Anda tidak akan berhasil di tempat tersebut. 

 

Doa Berlindung dari Mereka yang Zhalim 

 

“Ya Rabbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.”—(QS. Al-

Qashash (28): 21). 

 

 69 

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang 

zhalim itu.”—(QS. Al-Araf (7): 47). 

 

“Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan yang berbuat 

kerusakan itu.”—(QS. Al-Ankabut (29): 30). 

 

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang 

zalim.”—QS. Yunus (10): 85) 

 

Santet ‘Ain (Pengaruh Mata Jahat) Para Pengiri, bahkan Para Pengagum 

 

“Berlindunglah kalian kepada Allah Ta’ala dari ‘ain sebab  sesungguhnya ‘ain itu 

haq (benar).”—Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3508) dan al-Hakim (IV/215) dari 

Aiyah ra.  

 

“’Ain itu benar adanya, jika seandainya ada sesuatu yang mendahului qadar, maka 

akan didahului oleh ‘Ain. jika  kamu diminta untuk mandi maka mandilah.”—

Shahih: HR. Muslim (no. 2188) dari Ibnu Abbas ra. 

 

“Kebanyakan yang wafat dari umatku setelah (adanya) qadha dan qadar yaitu  

dengan sebab ‘ain.”—Hasan: HR. Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 1868), al-Bazzar 

(no. 3052), Ibnu Abi Ashim dalam as-Summah (no. 311) dan ath-Thahawi dalam 

Syarh Musykilil Atsar (VII/338, no. 2900). 

 

Penyakit ‘ain yaitu  penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh 

pandangan—pengaruh jahat—mata baik dari orang yang dengki maupun kagum, 

sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa memicu  bahaya bagi orang yang 

terkena. 

 

“Dikatakan bahwa Fulan terkena ‘Ain, yaitu jika  musuh atau orang-orang dengki 

memandangnya lalu pandangan mata itu MEMPENGARUHINYA sehingga 

menyebabkannya jatuh sakit.”—Ibnul Atsir 

 

“Jiwa orang yang menjadi pemicu  ‘Ain bisa saja memicu  penyakit ‘Ain tanpa 

harus dengan MELIHAT. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan 

tentang sesuatu kepadanya, jiwanya bisa memicu  penyakit ‘Ain, meskipun dia 

tidak melihatnya. Ada banyak pemicu  ‘Ain yang bisa menyebabkan penyakit, 

termasuk hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung—kekuatan visualisasi.”—

Zadul Ma’ad 4/149 

 

“Oleh sebab  itu, jelaslah bahwa pemicu  ‘Ain bisa terjadi saat  melihat gambar 

seseorang atau melalui TV, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian 

orang itu terkena ‘Ain. Kita mohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.”—

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid 

 

Pengobatan akibat terkena ‘ain terdiri dari beberapa bagian: 

 

Upaya sebelum Terkena ‘Ain 

 

 70 

Kami langsung saja, hati-hati bermedia sosial, memberitakan pada dunia setiap seluk 

beluk kehidupan kita. Tambah banyak yang Anda buka pada dunia, tambah rentan 

Anda terhadap jenis kejahatan ini. “Get off Social Media!” Demikian kata Syeikh 

Hamza Yusuf Hanson. “Be carefull with social media,” kata mufty Menk Ismail. Ini 

sangat serius, saat  kita berlomba-lomba menunjukkan pada dunia, segala 

“keberhasilan” kita, maka mata dunia akan tertuju pada kita, dan pengaruh jahatnya 

bisa mempengaruhi kita. Kurangi update sosmed, dan perbanyak doa dan dzikir dan 

ta’awwudz yang disyariatkan, untuk membentengi diri dari bahaya ‘Ain. Dan Santet 

jenis ini juga telah menimpa kami.  

 

Dilihat dari akibat yang Ingin Ditimbulkannya.  

 

Relationship (percintaan, persaudaraan, posisi di tengah masyarakat) 

 

Jenis Santet dengan tujuan untuk memisahkan hubungan suami istri yaitu  santet atau 

sihir tertua di muka bumi ini. Pelakunya bisa jenis santet oleh sesama manusia, 

sebagaimana yang telah kita bahas di atas, atau melewati sebuah ritual yang diajarkan 

setan dan melalui tangan-tangan setan—the devil’s owns hands. Demikian pula untuk 

tujuan memisahka hubungan persaudaraan, seperti dijelaskan dalam QS. Yusuf, di 

mana Nabi Yusuf as. mengatakan bahwa setan telah berada di antara beliau dan 

saudara-saudaranya. Atau dilakukan melalui ritual mastermind sebagai upaya Santet-

Kolektif, dalam upaya untuk menyingkirkan seseorang.  

 

 

Kesehatan, Fungsi Sistem Utama dalam Tubuh. 

 

Santet yang ditujukan untuk membunuh atau membuat sakit seseorang, santet yang 

dilakukan terhadap Nabi Muhammad saw. masuk ke dalam jenis peruntukkan yang 

ini. Namun kabar paling mengerikannya yaitu , juru santetnya kemungkinan besar 

yaitu  diri kita sendiri, dibanding orang atau pihak lain—silahkan lihat pada bagian 

10 artikel  ini. Baiknya sebelum berburuk sangka pada jin, setan demit, kaum pendengki 

lainnya lebih baik Anda mengeceknya terlebih dahulu di bagian 10, siapa tahu Anda 

juga yaitu  seorang Penzalim Diri Sendiri, tanpa Anda sadari tentunya.  

 

Harta, Rezeki atau Keuangan—The Tools 

 

Santet bisa mempengaruhi apa yang ada di dalam kehidupan kita, termasuk harta 

benda yang kita miliki, rezeki yang kita peroleh dan keuangan kita untuk menjalani 

kehidupan kita sehari-hari.  Tanpa kita sadari, bahkan mungkin ini pernah terjadi pada 

diri Anda juga dan efeknya lebih sering menghancurkan harta benda kita mau pun 

orang lain. Semua ini masih berkaitan erat dengan hukum-hukum alam atau 

sunatullah—kebiasaan-kebiasaan Allah—yang berlaku di dunia ini, tempat kita hidup 

saat ini—Planet Bumi pada dimensi ruang dan waktu kita. 

 

Ternyata santet tidak lain timbul dari keinginan-keinginan orang lain yang tidak 

terpenuhi, sehingga timbul keinginan untuk merebut dan mengambil alih dengan 

segala bentuk cara, terpicu dari rasa iri dan dengki dan beranggapan bahwa Allah 

memiliki keterbatasan sehingga ia merasa tidak kebagian rezeki dari Tuhannya Yang 

Mahakaya dan Mahaluas Rahmat-Nya. Padahal kekayaan pun ada ilmunya yang dapat 

membuat orang tersebut menjadi kaya dan sejahtera dengan cara yang halal. 

 71 

Keengganan mempelajari ilmu-ilmu kekayaan inilah yang membuat orang itu menjadi 

miskin dan menyalahkan orang lain, bahkan Tuhannya atas kemiskinannya itu. 

Padahal kemiskinan yang ia alami tersebut disebabkan oleh kemalasan untuk belajar 

dan menggali potensi yang ada di dalam dirinya tersebut—atau kemiskinan itu 

memang telah tersurat pada kisah hidup Anda sebagai sebuah cobaan, terlepas dari 

apa pun yang telah Anda usahakan untuk menghindarinya, jika ini pun yang terjadi 

pada seseorang, maka kabar baiknya yaitu : Tuhannya telah mencintainya. 

 

Dunia yaitu  hanya sebagai tempat bersenda gurau belaka, demikian kata sang 

Penciptanya. Sebuah arena dimana segala ujian Tuhan menghantam. Tuhan ingin 

melihat segala usaha kita—setidaknya di pada tingkatkan segala niat kita—dalam 

mencapai tingkat keimanan terbaik kepada-Nya, melalui segala ujian dan cobaan itu. 

Tentu saja ujian tersebut salah satunya yaitu  dengan ujian kekurangan atas rezeki 

dan harta benda. Ditambah lagi dengan adanya setan dan bala tentaranya untuk 

senantiasa, menanamkan rasa takut akan kekurangan dan kemiskinan agar manusia 

menjadi keji, dan menghalalkan segala cara, sebab  mungkin itu telah menyentuh rasa 

frustasi. Orang-orang yang tanpa sadar memiliki iman yang lemah, akan mudah sekali 

terhasut oleh mereka—setan dari kalangan jin dan manusia. Mereka yang lemah iman 

akan mudah sekali termakan gossip, mempercayai segala fitnah yang disebarkan oleh 

mereka yang bermaksud tersembunyi, terpancing untuk ikut menzalimi sesama 

muslim, hanya sebab  hasutan. 

 

Permasalahan di dunia ini, dari dulu hingga sekarang, yaitu  banyaknya orang yang 

malas untuk berusaha, baik itu usaha dalam mengembangkan potensi yang ada dalam 

dirinya, maupun usaha dalam pengertian bergerak menjemput rezeki yang sudah 

disiapkan Allah untuknya. Kemalasan yang timbul membuat orang tersebut memiliki 

banyak kekurangan dan ketertinggalan. Mereka tidak percaya pada adanya sebuah 

proses yang berasal dari ketekunan. Mereka terlalu sibuk dengan, “Apa yang bisa 

saya dapat SAAT INI?”—immediate gratification. Sehingga mereka tidak 

meluangkan waktu untuk berinvestasi sebagai upaya mengamankan penghasilan 

dalam jangka panjang. Orang-orang miskin terlalu fokus pada menghasilkan uang 

dalam jumlah besar, mereka tidak pernah terpikir untuk menginvestasikan uang, 

tenaga, pikiran dan waktu mereka demi mengubah nasibnya menjadi lebih baik, dan 

mau bersusah payah terlebih dahulu untuk hasil terbaik. 

 

Ketidaktahuan dan kemalasan mereka membuat mereka miskin. Kemiskinan yang 

mereka derita menyebabkan timbulnya benih perasaan iri dan dengki terhadap apa 

yang mereka lihat sebagai keberhasilan orang lain. Mereka telah tergoda oleh bisikan 

setan, tidak akan pernah terpikir untuk mau bertanya kepada mereka yang memiliki 

posisi lebih baik dalam urusan memelihara harta dengan cara yang halal. Mereka 

cenderung menuduh orang-orang kaya dengan berbagai tuduhan. Seperti, hasil 

kekayaan mereka itu didapat dari tumbal yang dipersembahkan kepada setan, hasil 

korupsi, jual narkoba, bahkan tuduhan paling tidak beralasan, seperti orang yang 

mereka anggap lebih berhasil itu, disebab kan ia yaitu  Agen Yahudi.  

 

Hal ini pernah kami alami selama berdua tinggal di pedalaman Banten Selatan, 

dimana kami pindah ke sebuah perkampungan yang mayoritas masyarakatnya masih 

hidup di bawah garis kemiskinan. Awalnya kami berpikir positif dan berniat 

membantu dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar rumah kami—

 72 

terutama di bidang pendidikan dengan mendirikan sebuah yayasan pendidikan di 

sana.  

 

Namun ada pihak-pihak berkuasa yang tidak menginginkan kami berada di sana, ikut 

membangun warga masyarakat. Akhirnya serangkaian fitnah bertebaran tentang kami, 

agar kami dibenci warga. Meskipun kami berperan aktif membantu kesejahteraan 

warga, namun pihak-pihak elit yang berkuasa di kampung itu, di desa itu, di 

kecamatan itu, dan akhirnya di kabupaten itu, semakin menjadi-jadi dalam 

memojokkan kami, dan menyusun serangkaian usaha untuk menyingkirkan kami dari 

tempat tinggal kami. Apalagi setelah kami berhasil beberapa kali memberi  

pengertian dan berhasil membatalkan demo warga ke rumah kami, warga yang 

terkena hasutan. Kami awalnya dikenal sebagai orang pinter yang pada akhirnya 

terpaksa harus vokal setelah beberapa kali melihat penyimpangan, seperti 

menjelaskan tentang efek dari lirik solawatan yang harusnya berisi puji-pujian 

terhadap Nabi saw. namun isinya malah berisi propaganda mereka yang mengaku 

“alim ulama” dan memegang kekuasaan di sekitar situ, yang bermaksud untuk 

mempengaruhi warga agar menuruti keinginan mereka tanpa lagi harus pemakaian  

akal sehat.  

 

Kami sangat menyadari, bahwa risiko tinggal ditengah-tengah perkampungan yang 

masyarakatnya masih miskin, dimiskinkan akan cepat atau lambat, membuat kami 

pun terkena santet mastermind, sampai harta benda kami habis mereka hancurkan, 

mereka rusak, mereka ambil, dan saya pun divonis pengadilan yang tidak adil itu, dan 

saat  artikel  ini diterbitkan pun saya masih terkriminalisasi berada di dalam penjara, 

hanya sebab  alasan-alasan politis.  

 

Kerusakan atau kehilangan alat-alat atau penunjang kehidupan yang terjadi pada diri 

kita juga merupakan efek dari apa yang kita lakukan atau efek dari menzalimi diri 

sendiri dan orang lain—hakikatnya menzalimi orang lain juga menzalimi diri sendiri 

(ini yaitu  benang merah dalam artikel  ini). Alat-alat penunjang ini kami bagi dalam 

beberapa kategori, sebagai berikut—silahkan Anda cek sendiri, apa yang terjadi pada 

Anda sekeluarga terkait dengan hal-hal di bawah ini: 

 

Pakaian 

 

1. Baju/celana sobek: merasa kurang bisa bergerak dengan leluasa di dalam 

lingkungan hidupnya, ada teman yang selalu membuat dia gelisah. 

 

2. Baju/celana hilang: kurang peduli pada kebutuhan penampilan untuk tampil di 

depan pasangan, kurangnya komunikasi dengan pasangan. 

 

3. Warna pakaian luntur: tidak dapat mengendalikan perasaan atau emosi 

pasangan dengan baik, kurangnya perasaan cinta pada pasangan. 

 

4. Pakaian menciut menjadi kecil: merasa dikucilkan atau dipandang rendah.  

5. Tidak muat dipakai: susah untuk melangkah ke masa depan, masih teringat 

pada masa lalu. 

 

6. Sepatu jebol: Ingin bebas melangkah kemana saja. 

 

 73 

7. Sendal hilang: Perasaan mati langkah, kehilangan kebebasan. 

 

8. Sendal putus: Kurang yakin dalam menjalani kehidupan. 

 

 

Aksesoris 

 

1. Jam tangan selalu telat: merasa selalu kekurangan waktu, waktu yang 

dihabiskan untuk hal yang kurang bermanfaat. “Demi masa, sesungguhnya 

manusia berada dalam kerugian.” 

2. Jam tangan selalu lebih cepat: malas menjalani kehidupan sehari-hari, merasa 

bosan dalam kehidupan yang sekarang—atau Anda telah tersedot masuk ke 

dalam dimensi ruang dan waktu yang lain, bukan di tempat Anda berada 

seharusnya—lihat di bagian 2 artikel  ini, tentang al-Quran dan Rembulan. 

3. Jam tangan selalu mati: tidak punya progres dalam kehidupan, bersikap 

bermalas-malasan. 

4. Kacamata pecah: Tidak ingin melihat sebuah kenyataan pahit, ingin lari dari 

kenyataan. 

5. Anting-anting hilang: Tidak mau mendengar nasihat yang baik. 

6. Kalung putus: Perasaan terhimpit dan sesak oleh keadaan. 

7. Peralatan make-up hilang: Merasa tidak butuh penampilan yang menarik. 

8. Kalung hilang: Kebutuhan untuk dikekang oleh seseorang, atau pihak lain. 

9. Gelang putus: Keinginan lepas dari belenggu yang selaman ini mengikat 

kebebasannya.  

 

Alat Komunikasi 

 

1. HP rusak: kurangnya komunikasi yang baik dengan pasangan atau dengan 

anggota keluarga inti. 

2. HP hilang: merasa kurang waktu dalam berkomunikasi dengan pasangan. 

3. Layar HP buram: hidup yang suram dan tak ingin melihat penderitaan yang 

dirasakan oleh pasangan atau keluarga. 

4. Sinyal yang kurang: merasa jauh dari keluarga dan merasa diasingkan. 

5. Baterai HP yang cepat lemah: merasa kurang berdaya dalam membiayai orang 

yang dicintai mau pun dirinya sendiri. 

6. HP jadul: merasa kurang siap dengan banyaknya perubahan baru dalam 

hidupnya. 

7. Tombol huruf yang lepas pada HP: kurangnya pendidikan dan lebih 

mengandalkan HP nya untuk menelepon dibandingkan  mengetik sms. 

8. Suara yang kurang jelas: bosan mendengar suara lawan bicara, kurang diberi 

kesempatan untuk berbicara. 

 

Kendaraan Bermotor 

 

1. Ban kempes: malas menuju ke suatu tempat, tujuan yang tidak pasti, 

kurangnya bekal uang untuk memenuhi kebutuhan saat sampai di tempat yang 

dituju. 

2. Lampu kendaraan bermasalah: merasa tidak mendapat petunjuk saat di tengah 

jalan. 

 74 

3. AC bermasalah: tidak ada yang memahami masalahnya, tidak ada yang 

mampu meredam rasa kesalnya. 

4. Wiper kaca bermasalah: kurang bisa memahami masalah yang sebenarnya, 

kurang jernh dalam melihat maksud dan tujuan seseorang. 

5. Kaca spion bermasalah: kurang peduli pada lingkungan sekitar, tidak ingin 

mengikuti aturan, kurang belajar dari masa lalu. 

6. Rem bermasalah: tidak dapat mengendalikan perasaan atau emosi, suka 

melanggar peraturan dan norma agama, tidak tahu kapan waktunya harus 

berhenti untuk merenung dan merencanakan masa depan. 

7. Perseneling/gigi bermasalah: merasa kesulitan bergerak dalam hidup, sulit 

untuk pindah dari masalah yang ada dalam hidup. 

8. Bensin boros: kurang pandai mengatur keuangan. 

9. Tempat duduk yang tidak nyaman: menandakan posisi yang kurang enak di 

dalam pekerjaannya dan kurang nyaman dalam lingkungan bertetangga. 

10. Body kendaraan berkarat: kurang bisa melindungi yang dicintainya, merasa 

dirinya semakin tua, merasa tertinggal jauh oleh para pesaing dalam hidupnya. 

11. Body kendaraan lecet: hati yang tersinggung, merasa berat dalam 

kehidupannya sehari-hari, merasa ada lawan yang harus segera disingkirkan, 

atau ada lawan yang sedang berusaha menyingkirkannya. 

 

Tempat Tinggal/Rumah 

 

1. Genteng bocor: merasa kurang mendapat perlindungan dari orang kuat. 

2. Gagang pintu rusak: merasa tidak mampu memperbaiki bagian rumah yang 

rusak atau rumah yang dalam pemeliharaan orang lain/dipegang orang lain. 

3. Kaca jendela pecah/retak: kurang mau melihat lingkungan sekitar, malas 

bersosialisasi. 

4. Selokan mampet: kurang lancarnya pemasukan keuangan dalam rumah 

tangga. 

5. Ruang pengap/kurang aliran udara: merasa terkurung oleh suatu keadaan, 

tidak bebas di dalam rumah itu sendiri. 

6. Tempat tidur kurang nyaman: kurang mengedepankan hubungan seksual 

dengan pasangan. 

7. Rumah kemalingan: tidak peduli pada apa yang terjadi dengan rumah tangga. 

8. Sofa tamu rusak: tidak ingin dikunjungi orang lain, tidak ingin tamu datang ke 

rumah. 

9. TV rusak: bosan dengan hiburan yang ada di rumah, ingin berlibur ke luar. 

10. Cat rumah terkelupas atau kusam: kurang ceria dalam menjalani kehidupan. 

 

 

Bagian 7: Faktor-Faktor Pendukung Terjadinya Santet 

 

Santet apa pun itu jenis dan peruntukannya, hakikatnya yaitu  merupakan sebentuk 

cobaan dari Yang Mahakuasa, cobaan dalam menyikapinya saat  itu terjadi pada kita 

dan cobaan apakah kita bersedia mempelajarinya agar kita bisa terhindar darinya, 

salah satu upaya untuk menghindari efek negatif dari segala sesuatu yaitu  dengan 

mempelajari dan mendalami sesuatu itu. Kami juga berencana untuk menulis artikel  

bertajuk, “Kitab Setan” dan “Kitab”, untuk mendalami apa itu Setan dan Dajjal, 

siapa saja golongan mereka, apa motif mereka, kekuatan dan kelemahan mereka. Oh 

tentu saja, bukannya Setan yaitu  musuh yang nyata? Dan bukannya Dajjal yaitu  

 75 

fitnah terdahsyat? Bagaimana kita bisa lalai mempelajari kedua musuh—besar—dan 

terbesar kita selama ini? Sebagaimana digambarkan oleh Rosul Muhammad saw. 

tercinta bahwa fitnah/kejahatan Dajjal bahkan lebih dahsyat dibandingkan  Setan, 

bagaimana kita selama ini telah lalai untuk benar-benar mendalami siapa dia dan 

mekanisme dia bekerja?  

 

Dia menawarkan dua hal pada kita, api-nya dan air-nya, dan jika kita sudah dikaruniai 

kemampuan melihat hakikatnya, maka mau tak mau terpaksa kami telah memilih ... 

api-nya, dengan mengkritik dan berusaha memperbaiki sistem pendidikan yang 

dajallic itu, apa pun risikonya, seperti kami pun kemudian ditangkap, didakwa dan 

dihukum dengan tidak adil. Doakan ya Pembaca yang mulia, kami diberikan, umur, 

waktu dan ilham untuk menulis dan menyajikannya—Kitab Dajjal—bagi Anda.  

 

 

Izin Allah—The Theory of Everything—Takdir yang Telah Tertulis bagi kita.  

 

Sebagaimana yang telah kita bahas panjang lebar di Bagian 2 artikel  ini, terkait Karma 

dan Takdir, maka faktor utama terjadinya santet pada kita yaitu  sebab  itu 

merupakan bagian dari takdir yang kita harus jalani, dan telah tertulis di artikel  takdir 

kita, dan kita tidak dapat menghindarinya, apa pun yang kita lakukan untuk berusaha 

menghindarinya, jika itu memang telah tertulis akan terjadi. Sebuah takdir yang 

menurut nafs kita buruk, namun itu pasti yang terbaik untuk terjadi pada kita, jika kita 

mengimani pada adanya takdir baik dan takdir buruk.  

 

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; 

dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk 

kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”—QS. At-Taghabun: 

11. 

 

Izin Allah terhadap Iblis 

 

Jin yang jahat, termasuk iblis, diberi IZIN dan POTENSI oleh Allah untuk 

menghasut, menyesatkan, memimpin dan mencelakakan manusia yang lemah iman 

dan yang tidak beriman—dan menginginkan 3 hal: power, wealth, freedom 

(kebebasan dari ketaatan pada Tuhan/berbagai jenis kedurhakaan) via Iblis.  

Iblis berkata: “Demi kekuasaan-Mu aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali 

hamba-hamba-Mu yang saleh.”–QS. Shad 82-83.  

 

“Hai, putra-putri Adam, janganlah sekali-kali kamu ditipu oleh setan sebagaimana ia 

telah mengeluarkan kedua ibu bapak kamu dari surga, ia mencabut dari keduanya 

pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya sau’at mereka berdua. 

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang 

kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan 

itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”— QS. Al-A’raf 27 

 

“Bukanlah Aku telah wasiatkan kepadamu wahai putra-putri Adam bahwa janganlah 

menyembah setan? Sesungguhnya setan yaitu  musuh yang nyata bagi kamu dan 

bahwa sembahlah Aku. Inilah jalan lebar yang lurus.”—QS. Yasin (36):60-61 

 

 76 

Sejak jaman dulu—yang paling terkenal Kerajaan kuno Babilonia, sekarang secara 

geografis terletak di wilayah antara Syria dan Irak, bahkan di reruntuhannya di kota 

kuno Palmyra terdapat gerbang multidimensi Ba’al, salah satu sebutan bagi iblis yang 

dipertuhankan—setan dipercaya oleh banyak orang sebagai sesuatu yang wujud 

dengan kekuatan yang sangat besar menyamai atau menandingi Tuhan, bahkan 

sampai sekarang masih ada/banyak yang memujanya—upacara ritual pemujaan 

biasanya dilakukan dengan adanya simbol-simbol tertentu, model busana tertentu, 

dilakukan di atas sebuah altar pemujaan, berbagai bentuk 

persembahan/pewadalan/korban/darah, api, pembakaran berbagai jenis 

substance/zat/bahkan makhluk hidup, bahkan anak-anak, nyanyian mantra pemujaan, 

dan tarian—Setan yang dipertuhankan memiliki banyak sekali sebutan, termasuk di 

antaranya Ba’al, Baphomet, Lucifer the morning star/the falling angel dengan icon 

halilintar sebagai simbolnya. Dan nama-nama lainnya tergantung kebudayaan di 

setiap tempat di seluruh dunia, namun apa pun nama dan simbol perwujudannya, 

semuanya memiliki sebuah kesamaan mata rantai yang menyimbolkan iblis dan bala 

tentaranya.  

 

Walaupun para pemuja setan bermacam-macam—mereka ini termasuk juga di 

antaranya para pemimpin/politisi, pengusaha, para entertainer/aktor/pembuat 

film/penyanyi/pemusik/penulis dan para scientist/ilmuwan/technocrat kelas nasional 

di negaranya masing-masing dan dunia, jika Anda mulai membuka mata batin, Anda 

pasti bisa melihat siapa saja mereka, sebab  mereka selalu memberitahu pada kita 

dengan cara mereka, in a plain sight—pada dasarnya mereka dapat disatukan dalam 

kepercayaan tentang adanya kekuatan/power yang aktif selain dari kekuatan dan 

kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Sebagian mereka berkeyakinan bahwa ada 

pertarungan antara apa yang mereka namakan kekuatan langit/Tuhan dan kekuatan 

bumi/setan. Pertempuran antara keduanya berlangsung seru, sekali ini yang menang 

dan sekali itu yang menang.  

 

Dalam pandangan agama Islam, antara lain melalui ayat-ayat di atas, setan tidak 

memiliki  kekuasaan yang bersumber dari dirinya sendiri sedikit pun. Ia hanya 

dianugerahi kemampuan oleh Allah untuk merayu dan menggoda, itu pun terhadap 

mereka yang oleh salah satu ayat di atas diistilahkan dengan mereka yang tidak 

beriman. Secara tegas, al-Quran menyatakan, “Sesungguhnya ia (setan) tidak 

memiliki kekuasaan atas otang-orang yang beriman dan bertawakal kepada 

Tuhannya.”(QS. An-Nahl (16):99).  

 

“Dan HASUTLAH siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, 

dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan 

kaki dan BERSERIKATLAH dengan mereka pada harta dan anak-anak serta BERI 

JANJILAH mereka. Tidak ada yang dijanjikan setan kepada mereka melainkan tipuan 

belaka.”—QS. Al-Isra 64 

 

Dalam kaitannya dengan santet bantuan gaib/jin/setan, yaitu  santet yang dilakukan 

oleh para pemuja/pengikut setan, dengan melakukan berbagai jenis ritual sihir, demi 

memperoleh kekuatan melalui mereka untuk mencelakai/mengenyahkan pihak-pihak 

yang dianggap musuh. Ritual-ritual tersebut menandakan segala jenis  

abomination/kedurhakaan terhadap larangan-larangan Tuhan, sekaligus sebagai 

pernyataan kebebasan/freedom dari aturan Tuhan yang mengikat umat manusia. 

Sementara itu, kebebasan bagi orang-orang yang beriman, yaitu  keberserahan diri 

 77 

secara total/bertawakal terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun segala jenis 

hasutan/bisikan yang menyirami bibit kedengkian dalam hati manusia, sehingga ia 

tergerak untuk menyakiti sesama manusia tanpa dasar yang dibolehkan/qishash 

yaitu  pada hakikatnya berasal dari setan.  

 

Hakikat Iblis 

 

Pada suatu masa, saat  manusia belum diciptakan, Iblis memiliki derajat kedekatan 

dengan Rabb-nya sekelas dengan derahat kedekatan para malaikat. Ia pun turut 

dihadirkan saat  Tuhan Yang Maha Menciptakan mengumpulkan para malaikat 

untuk mengumumkan bahwa manusia akan diciptakan untuk dijadikan khalifah di 

muka bumi. Sementara malaikat pun dengan penuh keheranan kemudian 

memberanikan diri untuk bertanya, kenapa makhluk seperti jin—menurut sementara 

ulama, sebelum manusia telah diciptakan bangsa jin yang dipercaya menjadi semacam 

khalifah di muka bumi dan mereka ternyata malah membuat kekacauan dan 

pertumpahan darah di muka bumi—diberikan sebuah posisi yang sangat istimewa itu. 

Namun, Iblis diam saja, dia tidak mengatakan apa-apa dalam pertemuan itu, sebuah 

pertemuan penting tentang awal mula kisah umat manusia.  

 

Dia diam, tapi ternyata bukan sebab  dia tidak memiliki semacam keberatan, dia diam 

sebab  karakteristiknya yang menyimpan kekecewaan dan kemarahan di dalam hati, 

bagaikan api dalam sekam yang akan memicu  perasaan dendam yang 

membakar, ternyata itulah yang kemudian terjadi, dia diam saja, namun dia ternyata 

teramat sangat cemburu. Kenapa Adam? Kenapa manusia? Kenapa menciptakan 

sesuatu yang baru? Kenapa bukan dia? Kenapa? Sekedar perumpamaan, bayangkan 

saat  Anda sedang menanti sebuah promosi di kantor tempat Anda bekerja selama 

bertahun-tahun, dan saat  saatnya hampir tiba, seorang karyawan baru di angkat 

perusahaan untuk menduduki sebuah jabatan yang Anda impikan selama ini.  

 

Jika Anda bersikap diam namun kemudian timbul kebencian, Anda dan saya kini tahu 

darimana sikap ini berasal—disalip ditikungan, kita lebih baik bersikap seperti 

malaikat, bertanya kemudian berargumen, kemudian menerimanya dengan lapang. 

Permasalahannya bahkan perumpamaan di atas tidak terlalu tepat sebenarnya, sebab  

waktu itu Iblis telah memiliki sebuah kedudukan yang tinggi, dan dia tidak akan 

kehilangan posisi itu meskipun manusia/Adam diberi kedudukan tinggi yang lainnya 

juga. Jika kita, tidak ingin melihat orang lain sukses, sesukses kita, kita kini juga tahu 

darimana sikap ini berasal. Dalam keinginan meluluhlantakkan orang lain, 

menghancurkan mereka, tanpa motivasi selain tidak ingin melihat orang lain sukses—

tentunya berbeda dengan konsep qishas—seperti dengan melakukan aktivitas-

aktivitas bersifat menyantet, kini kita juga tahu darimana sikap ini pun berasal. 

Menyantet biasanya dengan cara diam-diam menghancurkan, menghunjam dari 

belakang, tanpa kata, tanpa argumen, tanpa penjelasan, “Saya benci saja melihat dia 

berhasil”, kini Anda tahu hakikat perilaku ini yaitu  perilaku Iblis.  

 

Logika iblis, sungguh materialistis:  

 

“Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau 

menciptakannya dari tanah.”—QS. Al-A’raf 12 

 

 78 

“(Ingatlah) saat  Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada 

Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia yaitu  dari golongan jin maka ia 

mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil DIA dan TURUNAN-

TURUNANNYA pemimpin selain dari-Ku, sedang MEREKA yaitu  MUSUHMU? 

Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.”—

QS. al-Kahfi 50 

 

Telah dikisahkan dalam banyak ayat dalam kitab suci al-Quran, tentang penolakan 

Iblis terhadap perintah Allah swt. untuk bersujud kepada Adam. Menurut ayat di atas 

dan QS. Al-Kahf 50,  ia yaitu  sejenis jin, “Iblis (enggan sujud). Dia yaitu  dari 

golongan jin. sebab  karakteristik malaikat tidak mungkin tidak patuh pada perintah 

Allah. 

 

 

Karakteristik Jin 

 

Mari kita bahas beberapa karakteristik jin dari berbagai sumber yang bisa kita 

temukan, sekedar untuk refreshing ....  

 

1. Makhluk ini memiliki  ciri-ciri yang berbeda dengan ciri manusia dan 

manusia tidak dapat melihatnya, namun mereka bisa melihat kita: 

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat 

yang kamu tidak bisa melihat mereka.”—QS. Al-A’raf 27. 

 

2. Makhluk ini DAPAT hidup di planet Bumi, namun al-Qur’an tidak 

menjelaskannya di bagian yang mana. Ini tercermin dari perintah Allah 

kepadanya saat  Dia mengusirnya bersama Adam dari surga: “Turunlah 

kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada 

tempat kediaman di Bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang 

ditentukan.”–QS. Al-Baqarah 36. 

 

3. Mereka memiliki  KEMAMPUAN melaksanakan pekerjaan-pekerjaan 

berat, seperti apa yang mereka lakukan untuk Nabi Sulaiman as.: “Dan 

sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaan 

Sulaiman) dengan izin Tuhannya.”–QS. Saba 12. 

 

4. Mereka juga memiliki  kemampuan menjelajah ke luar Planet Bumi 

berdasarkan ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui 

(rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang 

kuat dan panah-panah api. Sesungguhnya, kami dahulu dapat duduk di 

beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). 

Tetapi, sekarang siapa yang (mencoba) mendengarkan (seperti itu) tentu akan 

menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”—QS. Al-Jin 8-

9. 

 

5. Tidak semua mereka itu jahat atau membangkang perintah Allah: 

“Sesungguhnya, di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. yaitu  

kami menempuh jalan yang berbeda-beda.”—QS. Al-Jinn 13. 

 

6. Mereka memiliki  kemampuan memahami bahasa manusia, terbukti dari 

kemampuan mereka mendengar dan memahami al-Qur’an. Mereka berkata: 

“Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan, 

(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman 

kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun 

dengan Tuhan kami.”—QS. Al-Jinn 1-2. 

 

7. Sabda Nabi saw: “Jin ada tiga macam. Ada yang memiliki sayap terbang di 

udara, ada yang berupa ular dan anjing, serta ada juga yang bermukim dan 

berpindah-pindah.” Hadis yang dinilai sementara ulama ini SAHIH, 

diriwayatkan oleh Imam as-Sayuthi (1445-1505), al-Hakim (w. 405 H). 

 

Sebentuk Fitnah/Cobaan—Melibatkan Jin dalam Menyantet 

 

Dan tentu saja, saat  hakikat dari kegiatan santet menyantet sebab  bersikap seperti 

iblis, dan iblis yaitu  golongan jin, maka santet dengan pemakaian  jin—santet 

sihir—yaitu  sebuah praktik populer yang yaitu  sebuah kenyataan dari keberadaan 

jenis santet ini. Anda bisa meriset penamaan atas jenis santet ini dari berbagai kultur 

yang ada di dunia, namun hakikatnya yaitu  sama, dengan melakukan ritual-ritual 

tertentu yang telah disetujui di antara kalangan manusia dan jin penyantet, bahkan ada 

artikel -artikel  yang ditulis khusus tentang sihir, kitab-kitab sihir jinny.  

 

Apakah manusia dapat memanfaatkan atau memperalat jin, dalam melakukan sebuah 

pekerjaan atau untuk mencapai tujuan tertentu, seperti MENYANTET orang? 

Demikianlah pertanyaan yang kemudian muncul juga di sini. Kalau yang 

memanfaatkan dan memperalatnya yaitu  Nabi Sulaiman as., dengan merujuk pada 

teks ayat-ayat al-Qur’an, antara lain berupa sebagian jin yang ditundukkan untuk 

bekerja kepada beliau. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa jin yang membangkang 

perintah Allah untuk tunduk kepada Nabi Sulaiman, akan disiksa-Nya (QS. Shaad 

12). Kalau kita berpendapat bahwa para Nabi dapat menguasai dan memperalat jin, 

apakah manusia bisa melakukannya juga?  

 

Dalam uraian al-Qur’an—selain Nabi Sulaiman as—tidak ditemukan satu ayat pun 

yang berbicara tentang penundukan manusia terhadap jin, atau kemampuan 

manusia biasa memperalat mereka. Ayat-ayat yang berbicara tentang hubungan Nabi 

Sulaiman dengan jin pun hanya menyatakan: “Dan DIHIMPUNKAN untuk Sulaiman 

tentaranya dari jin, manusia, dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam 

barusan).”—QS. An-Naml 17, atau: “Sebagian jin ada yang bekerja di hadapannya 

(di bawah kekuasaannya) dengan IZIN Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di 

antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang 

apinya menyala-nyala.”—QS. Saba’ 12. Tidak terdapat dalam ayat-ayat itu isyarat 

tentang penundukan dan pemanfaatan potensi jin—namun ini hanya interpretasi dan 

kesan.   

 

Interpretasi yang menyatakan KEBALIKANNYA—bahwa manusia biasa juga bisa 

memerintah jin—justru lebih banyak, antara lain yaitu  BEBERAPA pendapat ulama 

pakar tafsir, sbb: 

 

“Yang HAQ yaitu  penundukan jin yang pasti untuk Nabi Sulaiman as. bukan 

melalui bacaan atau olah jiwa, tetapi penundukan Ilahi TANPA PERANTARA—

laduni— sesuatu, serta dalam bentuk yang sangat sempurna, disamping hal itu 

merupakan sebagian dari kerajaan yang dimohonkannya. Kelihatannya, kita tidak 

bisa mengafirkan—mendustakan—siapa yang MENGAKU pemakaian  jin, 

bahkan kami berkali-kali, telah melihat mereka yang mengaku pemakaian  jin dan 

kami pun melihat bukti-bukti kebenaran ucapannya dalam bentuk yang tidak dapat 

diingkari, kecuali oleh mereka yang bersilat lidah dan kepala batu.”—Syihabuddin 

Mahmud al-Alusi, pakar tafsir dari Bagdad (1802-1854). 

 

Ibn Timiyah membagi manusia yang mampu memerintah jin pada tiga tingkat: 

 

1. Memerintah jin sesuai dengan yang diperintahkan Allah, yakni beribadah 

hanya kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya. Siapa yang melakukan ini, ia 

termasuk wali Allah yang paling utama. 

 

2. Memanfaatkan jin untuk tujuan-tujuan mubah—bukan yang dilarang, bukan 

pula yang dianjurkan agama—sambil memerintahnya melaksanakan 

kewajiban dan menghindari larangan Allah. Orang seperti ini bagaikan raja. 

Kalau pun ia termasuk wali Allah, peringkatnya di bawah peringkat pertama. 

 

3. pemakaian  jin untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, 

seperti syirik dan membunuh—SANTET sihir, atau kedurhakaan lain. 

Sebenarnya, yang melakukan hal itulah MALAH yang tertipu oleh setan—

menjadi pengikut iblis/walinya iblis. 

 

Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, seorang ulama al-Azhar kontemporer 

yang sangat populer (w.1998), berpendapat bahwa Allah swt. dengan kodrat-Nya 

mampu menjadikan jenis makhluk yang rendah memperalat dan mengatasi jenis 

makhluk yang tinggi. Di sini, menurutnya, bukan lagi persoalan unsur makhluk, tetapi 

ia yaitu  KEHENDAK PEMBERI UNSUR, yakni Allah swt. Yang Maha 

Berkehendak.  

 

Izin Allah pada Kita untuk Melakukan Pembalasan 

 

Kita membahas ini tentunya, dalam kaitannya dengan konteks hukum syariat Islam, 

yang dijelaskan dalam kitab Suci al-Quran: 

 

• Jika Anda benar-benar secara sahih telah terzalimi, meskipun hikmah yang 

Anda dapat dari kejadian penzaliman ini, luar biasa luas dan telah 

meningkatkan derajat Anda di mata Tuhan. 

• Dan Anda sangat menginginkan pembalasan demi ketenangan batin Anda 

• Dan Allah membolehkan ini, agar kesewenang-wenangan bisa dihindari, dasar 

hukum: QS. Al-Baqarah 2: 178-179.  

 

“Hai orang-orang yang beriman, DIWAJIBKAN atas kamu QISHASH, berkenaan 

dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba 

dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu 

pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara 

baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf 

dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu yaitu  suatu keringanan dari Rabb-

mu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang MELAMPAUI BATAS sesudah itu, maka 

 81 

baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam QISASH itu ada (JAMINAN 

kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu 

bertakwa.”—QS Al-Baqarah 178-179. 

 

Hukum Qisash, menjamin kelangsungan hidup bagi jiwa manusia, sebab  bila 

seseorang tahu akan dibunuh secara qishash jika  ia membunuh orang lain, 

tentulah bila ia berakal, maka ia tidak akan membunuh dan akan menahan diri 

dari meremehkan pembunuhan.  

 

Qishash berasal dari Bahasa Arab yang berarti mencari jejak, seperti al-

Qashaash. Sedangkan dalam istilah hukum Islam, berarti pelaku kejahatan 

dibalas seperti perbuatannya, jika  membunuh maka dibalas dengan 

dibunuh dan jika  memotong anggota tubuh maka dibalas dengan hal 

serupa. Dapat disimpulkan Qishash yaitu  melakukan pembalasan yang sama 

atau serupa, seperti, “Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang harta dibayar 

harta, hutang nama baik dibayar nama baik.” 

 

• Dan Anda melakukan upaya dan doa dalam rangka pembalasan, dan upaya ini 

yaitu  dengan lewat perantaraan tangan kalian. 

• Dan juga, Anda menghadapkan wajah dan jiwa Anda memohon hanya pada-

Nya, lewat doa dan munajat yang terus menerus, tanpa henti—sebab  berdoa 

yaitu  ibadah. 

• Dan Allah bisa mengabulkan ini—bisa juga ditangguhkan di akhirat—namun 

satu yang pasti, setelah Anda melakukan segenap usahanya, maka jiwa Anda 

akan lebih tenang, dibandingkan  sebelum melakukan usaha pembalasan, dan yakin 

bahwa keadilan akan ditegakkan secara sempurna di Hari Pembalasan. 

  

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah 

diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan 

dimasukan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh KEMENANGAN. Kehidupan 

dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”— QS. Ali Imran 185 

 

Hukum-Hukum Alam 

 

Adanya serangkaian hukum-hukum alam yang telah ditemukan umat manusia, yang 

telah mengarahkan kita kepada sebuah jalan yang kita tak mampu berbelok darinya, 

termasuk jika pada beberapa titik di sepanjang jalan itu, ternyata Anda pun akan 

mengalami kejadian-kejadian tersantet. Berikut kita akan bahas beberapa yang 

menurut pendapat kami terkait dengan pembahasan utama dalam artikel  ini—yaitu 

santet. Mungkin sebagian hukum terkait santet, telah pula dibahas pada bagian lain 

artikel  ini, namun bagi yang belum kita bahas, kita akan bahas di sini, sbb: 

 

Hukum Keberhakan/Kesahihan 

 

Pengertian Deservability 

 

Kehidupan ini hanya memberi  kepada yang berhak, orang yang tidak berhak tidak 

akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Anda tentu pernah meminjamkan barang 

kepada seseorang yang sebenarnya Anda tahu bahwa ia tidak berhak atau belum 

berhak pemakaian  barang milik Anda itu, dan Anda tentu saja akhirnya ke