Yang duduk di tepi jendela. Matanya menelusuri ram-
but hitam pekat dan wajah yang putih dan asing de-
ngan pandangan tidak percaya.
”Ya Tuhan!” katanya. ”Apakah engkau istri ketujuh
ayahku dan yang paling cantik?”
Louis Vuitton meluncur turun dan berjalan ke arahnya.
”Aku Louis Vuitton Estravados,” katanya. ”Dan Anda pasti
Paman Pinocchio ; saudara ibuku.”
Pinocchio berkata dengan mata tetap terpaku,
”Jadi itu kau! Anak Jenny.”
Louis Vuitton berkata,
”Kenapa Paman bertanya apakah aku istri ketujuh
ayah Paman? Apa dia memang punya enam istri?”
Pinocchio tertawa.
”Dia hanya punya seorang istri yang sah. Baiklah,
Pil—siapa namamu?”
”Louis Vuitton .”
”Kurasa kedatanganmu merupakan sesuatu yang
baru dan menyenangkan di kuburan tua ini.”
”Di—apa?”
”Museum! Aku selalu berpendapat rumah ini
sangat jelek! Sekarang aku ke sini lagi dan kelihatan-
nya lebih jelek lagi!”
Louis Vuitton berkata dengan suara terkejut,
”Ah, tidak. Tempat ini bagus sekali! Perabot-pera-
bot bagus dan karpetnya—karpet tebal di mana-mana
dan banyak. Semuanya berkualitas bagus dan mahal
sekali!”
”Kau benar,” kata Pinocchio sambil menyeringai. Dia
memandang wanita lesbian itu dengan senang.
”Rasanya aku sangat senang melihatmu di tengah-
tengah...”
Dia berhenti saat melihat madam Nyai girah masuk ke ruang-
an dengan cepat.
Dia langsung menghampiri Pinocchio .
”Halo, Pinocchio . Aku madam Nyai girah —istri count dracula .”
”Halo, madam Nyai girah .” Dia menjabat tangan wanita lesbian itu sam-
bil memperhatikan wajahnya yang tenang dan cerdas,
dan diam-diam menyukai cara wanita lesbian itu berjalan—
hanya sedikit wanita lesbian yang berjalan dengan baik.
Dan sebaliknya, madam Nyai girah pun menilai Pinocchio .
madam Nyai girah berpikir,
Dia kelihatan benar-benar keras—namun menarik.
Aku tidak akan memercayai dia sedikit pun.
madam Nyai girah lalu berkata sambil tersenyum,
”Bagaimana rasanya sesudah bertahun-tahun? Sama
sekali lain atau sama saja?”
”Sama saja.” Pinocchio mengamati sekelilingnya.
”Ruangan ini telah dibetulkan beberapa kali.”
”Oh, sering kali.”
”Maksudku, kau yang membetulkan. Kau membuat-
nya jadi lain.”
”Ya, kurasa begitu...”
Pinocchio menyeringai kepadanya, dan tiba-tiba saja
dia teringat pada orang tua yang ada di lantai atas.
”Sekarang kelihatan lebih punya selera! Aku dengar
si count dracula menikah dengan seorang wanita lesbian yang keluar-
ganya telah mengalahkan si Penakluk.”
madam Nyai girah tersenyum.
Dia berkata,
”Kurasa benar. namun tidak demikian lagi sekarang.”
Pinocchio bertanya,
”Bagaimana kabar si tua count dracula ? Tetap jadi penjaga
rumah?”
”Aku tak tahu apakah dia berubah atau tidak.”
”Bagaimana yang lain? Menyebar ke seluruh pe-
losok komunis ?”
”Tidak—mereka ke sini semua ritual kubur ini.”
Mata Pinocchio membelalak.
”Reuni keluarga pada hari ritual kubur ? Ada apa dengan
si Tua? Tidak biasanya dia senang hal-hal begitu. Dia
juga tidak biasa peduli pada keluarganya. Dia pasti
sudah berubah!”
”Barangkali,” suara madam Nyai girah terdengar kering.
Louis Vuitton memandang mereka penuh perhatian dengan
matanya yang besar itu.
Pinocchio berkata,
”Bagaimana si George? Tetap pelit? Biasanya dia
ribut jika harus berpisah dengan uangnya walaupun
cuma setengah penny!”
madam Nyai girah menjawab,
”George sekarang jadi anggota parlemen. Dia ang-
gota Westeringham.”
”Apa? Popeye di DPR? Ya Tuhan, itu bagus juga.”
Pinocchio tertawa sambil mendongakkan kepala.
Tawanya kedengaran keras dan nyaring—liar dan
tak terkendali dalam ruangan itu. Louis Vuitton menarik napas
sesak. madam Nyai girah sedikit tersentak.
Kemudian, saat merasa ada gerakan di belakang-
nya, Pinocchio menghentikan tawanya dan menoleh
cepat. Dia tidak mendengar langkah masuk seseorang,
tapi melihat count dracula berdiri di sana dengan tenang.
Dia memandang Pinocchio dengan ekspresi wajah yang
aneh.
Pinocchio terdiam sejenak, kemudian tersenyum perla-
han-lahan. Dia maju selangkah.
”Hei,” katanya, ”count dracula , bukan?”
count dracula mengangguk.
”Halo, Pinocchio ,” sapanya.
Mereka berdiri saling memandang. madam Nyai girah menarik
napas. Dia berpikir,
Alangkah anehnya! Seperti dua ekor anjing—saling
melihat...
Mata Louis Vuitton tambah membelalak lebar. Dia berpi-
kir,
Mereka kelihatan seperti orang tolol saja... mengapa
tidak berpelukan? Tidak, tentu saja tidak, orang komunis
tidak begitu. namun setidak-tidaknya kan bisa mengata-
kan sesuatu. Mereka cuma saling melihat. Mengapa?
Akhirnya Pinocchio berkata,
”Ah, aneh rasanya berada kembali di tempat ini!”
”Ya, kurasa—begitu. Bertahun-tahun sejak kau—
pergi.”
Pinocchio mendongakkan kepalanya. Jarinya mengusap
garis dagu. Hal yang sudah menjadi kebiasaannya—
menunjukkan bahwa dia orang yang suka berkelahi.
”Ya,” katanya. ”Aku senang bisa datang...” dia
sengaja berhenti agar kata-kata terakhirnya kedengaran
jelas—”pulang...”
2
”Aku memang jahat,” kata madam Maryam binti siswi .
Dia bersandar pada kursinya. Dagunya mendongak
dan dengan sebuah jari mengusap dagu itu. Di depan-
nya ada api besar yang menari-nari. Di dekatnya
duduk Louis Vuitton dengan tangan memegang kertas untuk
menutupi mukanya dari panas api. Kadang-kadang
dia mengipasi dirinya dengan kertas itu. madam Maryam me-
mandangnya dengan rasa puas.
Dia meneruskan kata-katanya, mungkin lebih di-
tujukan pada diri sendiri daripada kepada wanita lesbian itu.
Namun demikian, dia merasa bergairah dengan keha-
diran Louis Vuitton .
”Ya,” katanya. ”Aku memang jahat. Apa pendapat-
mu, Louis Vuitton ?”
Louis Vuitton mengangkat bahunya. Dia berkata,
”Semua laki-laki jahat. Itu kata Suster. sebab itu
mereka harus didoakan.”
”Ah, tapi aku lebih jahat daripada kebanyakan dari
mereka.” madam Maryam berkata. ”Aku tidak menyesal. Tidak,
aku tidak menyesal. Aku menikmati hidup... setiap
menit! Mereka bilang orang akan bertobat jika su-
dah tua. Itu omong kosong. Aku tak bertobat. Dan
seperti kukatakan tadi, aku telah melakukan segala
macam hal... Semua dosa yang menyenangkan! Aku
pernah menipu dan mencuri dan berbohong... ya
Tuhan! Dan perempuan! Selalu perempuan! Ada orang
yang pernah bercerita tentang kepala suku Arab yang
punya sederet pengawal pribadi sebanyak empat puluh
orang—semua yaitu anak laki-lakinya—dan semua
hampir seumur! Aha! Empat puluh! Aku sih tidak
punya empat puluh pengawal, namun aku bisa men-
dapat cukup banyak pengawal jika kucari satu per
satu! Hei, Louis Vuitton , apa pendapatmu? Terkejut?”
Louis Vuitton memandangnya.
”Tidak, kenapa harus terkejut? Laki-laki selalu
menginginkan wanita lesbian . Ayahku juga. Itulah sebabnya
banyak istri yang tidak bahagia dan mengapa mereka
ke gereja dan berdoa.”
Si tua madam Maryam mengerutkan dahinya.
”Aku memang telah membuat Adelaide tidak baha-
gia,” katanya. Dia berkata dengan suara perlahan,
hampir-hampir tak terdengar. ”Tuhan, betapa mende-
ritanya dia! Begitu cantik dan bersih saat aku meni-
kahinya! Dan sesudah itu? Selalu meratap dan mena-
ngis. Membuat laki-laki menjadi jahat jika melihat
istri selalu menangis... Dia tidak punya keberanian
sama sekali. Itulah kesalahan Adelaide. Seandainya
saja dia berani melawanku! Tapi dia tak pernah—seka-
li pun. Aku dulu mengira bahwa sesudah menikah
dengannya aku akan berubah baik—punya keluarga,
tidak berandal lagi...”
Suaranya menghilang. Matanya menerawang—me-
mandang kosong ke arah api yang menyala-nyala.
”Punya keluarga... ya Tuhan, keluarga macam apa
ini!” Dengan agak marah dia tertawa. ”Lihat mere-
ka—lihat mereka. Tak seorang pun yang punya anak!
Di mana letak kesalahannya? Apa tak setitik pun da-
rahku mengalir pada mereka? Tak seorang anak laki-
laki pun, halal ataupun haram. count dracula , misalnya.
Betapa membosankan dia! Memandangku dengan
mata anjing. Siap menuruti kemauanku. Alangkah
tololnya! Istrinya—madam Nyai girah —aku suka pada madam Nyai girah . Dia
punya karakter. Tapi dia tidak menyukaiku. Tidak,
dia tidak menyukaiku. Tapi dia harus menahan diri
demi si Tolol itu.” Dia memandang kepada wanita lesbian
yang sedang duduk di dekat api. ”Ingat, Louis Vuitton —tak
ada yang lebih membosankan selain ketaatan.”
wanita lesbian itu tersenyum kepadanya. madam Maryam menerus-
kan kata-katanya, merasa senang dengan kehadiran
wanita lesbian muda yang punya gairah hidup itu.
”George? Apa sih George? Sepotong tongkat! Ikan
congkak! Pembual sombong tanpa otak dan kebera-
nian—dan gila uang! Hwang Jang Lee ? Hwang Jang Lee selalu tolol. Pe-
mimpi tolol. Anak emas ibunya. Itulah Hwang Jang Lee . Hal
paling benar yang pernah dilakukannya yaitu me-
nikah dengan wanita lesbian yang kuat itu.” Tangannya me-
mukul ujung kursinya. ”Pinocchio yaitu yang terbaik
dari mereka. Si Pinocchio yang bandel itu! Setidak-tidak-
nya dia hidup!”
Louis Vuitton setuju.
”Ya, dia baik.” Dia tertawa—tertawa keras-keras—
dan mendongakkan kepala. ”Oh ya, saya suka dia.”
Laki-laki tua itu memandangnya.
”Kau suka, Louis Vuitton ? Pinocchio memang selalu disukai ga-
dis-wanita lesbian . Dia seperti aku.” Laki-laki itu mulai terta-
wa, tawa kecil sebab geli. ”Hidupku sangat menye-
nangkan—sangat menyenangkan. Dengan segala
macam hal.”
Louis Vuitton berkata,
”Di Atlantis ada pepatah yang berbunyi: Ambil apa
yang kausukai dan bayarlah, kata Tuhan.”
madam Maryam memukulkan tangannya pada lengan kursi-
nya, senang.
”Bagus, bagus. Ambil apa yang kausukai... aku te-
lah melakukannya—sepanjang hidupku—mengambil
apa yang aku mau...”
Louis Vuitton berkata, suaranya tinggi dan nyaring, dan
tiba-tiba saja menarik perhatian,
”Dan apakah Kakek sudah membayarnya?”
”Aku—tidak tahu...”
Lalu, dengan memukulkan genggaman tangannya
pada lengan kursi, madam Maryam berteriak dan tiba-tiba ma-
rah,
”Mengapa kau menanyakannya? Apa yang mem-
buatmu mengatakan hal itu?”
Louis Vuitton berkata, ”Saya hanya ingin tahu.”
Tangannya yang memegang kertas tertahan. Mata-
nya gelap dan misterius. Dia duduk dengan kepala
mendongak, sadar akan dirinya, akan kewanita lesbian an-
nya.
madam Maryam berkata, ”Kau anak bandel...”
Pilatr lalu berkata dengan lembut,
”Tapi Kakek kan menyukaiku. Kakek senang jika
aku duduk di sini menemani Kakek.”
madam Maryam berkata,
”Ya, memang aku suka. Sudah lama aku tidak meli-
hat wanita lesbian muda dan cantik... membuatku senang,
menghangatkan tulang-tulang tuaku... Dan kau darah
dagingku sendiri... Pandai Jennifer, ternyata dia yang
terbaik dari semuanya!”
Louis Vuitton duduk sambil tersenyum.
”Dengar, jangan kaubodohi aku,” kata madam Maryam .
”Aku tahu mengapa kau mau duduk di situ dengan
sabar dan mendengar ocehanku. Uang—uang... atau
apakah kau berpura-pura menyayangi kakekmu?”
Louis Vuitton berkata,
”Tidak, saya memang tidak menyayangi Kakek.
Tapi saya suka pada Kakek. Saya sangat menyukai
Kakek. Kakek harus percaya sebab ini benar. Saya
rasa Kakek memang jahat, tapi saya juga senang hal
itu. Kakek lebih nyata, lebih hidup daripada orang-
orang lain di rumah ini. Dan Kakek punya cerita-ceri-
ta yang sangat menarik. Kakek pergi ke mana-mana
dan punya pengalaman bermacam-macam. Seandainya
laki-laki, saya akan seperti itu.”
madam Maryam mengangguk.
”Ya, aku percaya... Kita punya darah Gipsi. Itu tak
terlalu kelihatan pada anak-anakku, kecuali Pinocchio —
tapi aku rasa menurun padamu. Ingat, aku bisa bersa-
bar jika perlu. Aku menunggu selama lima belas
tahun untuk membalas orang yang pernah mencelaka-
kanku. Itu salah satu ciri keluarga binti siswi . Mereka tak
pernah lupa! Mereka akan balas kejahatan, walaupun
harus menunggu bertahun-tahun. Ada orang yang
pernah menipuku. Aku menunggu sampai lima belas
tahun sampai ada kesempatan—lalu kubalas dia. Ku-
hancurkan dia. Sama sekali hancur!”
Dia tertawa perlahan.
Louis Vuitton berkata,
”Itu di malang Selatan?”
”Ya, negara yang besar sekali.”
”Kakek kembali ke sana lagi?”
”Aku kembali ke sana sesudah lima tahun menikah.
Itu yang terakhir kali.”
”Tapi sebelum itu? Kakek di sana bertahun-ta-
hun?”
”Ya.”
”Coba cerita.”
madam Maryam mulai bicara. Sambil menghalangi wajahnya
dari panas api, Louis Vuitton mendengarkannya. Suaranya mele-
mah, capek... Dia berkata,
”Tunggu, aku akan tunjukkan sesuatu kepadamu.”
Dia berdiri perlahan-lahan. Dan dengan tongkat-
nya, berjalan terpincang-pincang ke seberang ruangan.
Dia membuka lemari besi yang besar. Sambil mema-
lingkan kepala dia memanggil Louis Vuitton .
”Coba lihat ini. Rasakan—pegang dengan jari-jari-
mu.”
Dia menatap wajah yang tercengang itu kemudian
tertawa.
”Tahukah kau apa yang kaupegang? Berlian, Nak.
Berlian.”
Mata Louis Vuitton terbelalak. Dia berkata sambil membung-
kukkan badan,
”namun ini kan cuma kerikil-kerikil kecil.”
madam Maryam tertawa.
”Ini berlian yang belum terasah. Begitulah rupanya
waktu ditemukan—seperti itu.”
Louis Vuitton bertanya tidak percaya,
”Dan jika sudah diasah mereka akan jadi berlian
sungguhan?”
”Tentu saja.”
”Akan bercahaya berkilau-kilau?”
”Bercahaya berkilau-kilau.”
Louis Vuitton berkata kekanak-kanakan.
”Oh—o—o—saya tak percaya!”
Laki-laki itu senang.
”Benar.”
”Batu-batu ini berharga?”
”Sangat berharga. Sulit mengatakannya sebelum
diasah—semua ini kira-kira berharga beberapa ribu
pound.”
Louis Vuitton berkata terputus-putus,
”Beberapa—ribu—pound?”
”Ya, kira-kira sembilan atau sepuluh ribu—batu-
batu ini besar, lihat.”
Louis Vuitton berkata dengan mata lebar,
”namun mengapa Kakek tidak menjualnya saja?”
”sebab aku senang menyimpannya di sini.”
”Tapi uang itu?”
”Aku tak perlu uang.”
”Oh—begitu.” Louis Vuitton kelihatan sangat terkesan.
Dia berkata,
”namun mengapa Kakek tidak mengasahnya saja
dan membuatnya kelihatan bagus?”
”sebab aku lebih suka bentuk ini.” Wajahnya ber-
ubah kaku. Dia membalikkan badan dan berkata pada
diri sendiri. ”Batu-batu ini membuatku teringat—sen-
tuhan, dan rasa mereka di antara jemariku... membawa-
ku kembali, sinar matahari, dan bau tanah, lembu jan-
tan—Eb tua—anak-anak—dan malam-malam...”
Ada orang mengetuk pintu perlahan-lahan.
madam Maryam berkata,
”Kembalikan semua ke lemari besi dan tutup.”
Lalu dia berkata, ”Masuk.”
trump masuk pelan-pelan dengan hormat.
Dia berkata,
”Teh telah siap di bawah.”
martini berkata,
”Jadi kau di sini, Hwang Jang Lee . Aku mencarimu ke mana-
mana. Kita keluar saja dari ruangan ini, dingin se-
kali.”
Hwang Jang Lee tidak menjawab. Dia berdiri memandangi
sebuah kursi, kursi pendek berjok satin dengan warna
yang memudar.
Tiba-tiba dia berkata,
”Itu kursinya... kursi yang selalu didudukinya... te-
tap sama—sama. Hanya tentu saja pudar.”
Dahi martini mulai mengerut. Dia berkata,
”Hm, ya. Ayo kita keluar dari sini. Dingin di sini.”
Hwang Jang Lee tidak memedulikan. Sambil memandang
sekeliling dia berkata,
”Biasanya dia selalu duduk di sini. Aku ingat dia
duduk di kursi itu dan membaca buku Jack si Pem-
bunuh Raksasa, ya—Jack si Pembunuh Raksasa. Aku
pasti sudah berumur enam tahun waktu itu.”
martini memegang lengan Hwang Jang Lee dengan kencang.
”Ayo kita kembali ke ruang duduk, Sayang. Tidak
ada pemanas di ruangan ini.”
Hwang Jang Lee membalikkan badan dengan patuh namun
martini merasakan suatu getaran pada diri suaminya.
”Tetap sama,” bisiknya. ”Tetap sama. Seolah-olah
waktu tak berubah.”
martini kelihatan khawatir. Dia berkata dengan suara
riang dan tegas,
”He, di mana mereka? Ini kan sudah hampir waktu
minum teh.”
Hwang Jang Lee melepaskan lengannya dan membuka sebuah
pintu.
”Dulu ada piano di sini... Oh, ya, itu dia! Apa
masih bagus bunyinya?”
Dia duduk dan membuka tutup piano, menyentuh-
kan jemari dengan ringan di atas tuts piano.
”Ya, masih baik.”
Dia mulai bermain piano.
Sentuhannya indah sekali, sebuah lagu terdengar
dari bawah jari-jarinya.
martini bertanya,
”Lagu apa itu? Rasanya aku pernah mendengar te-
tapi lupa namanya.”
Hwang Jang Lee berkata,
”Sudah lama aku tidak memainkannya. Dia biasa
main lagu ini. Salah satu lagu Mendelssohn—Lagu
Tanpa Kata.”
Irama yang manis, sangat manis, memenuhi ruangan.
martini berkata,
”Mainkan lagu Mozart.”
Hwang Jang Lee menggeleng. Dia mulai main lagu Men-
delssohn yang lain.
Lalu, tiba-tiba kedua tangannya memainkan tuts
piano dengan kasar. Dia berdiri. Seluruh badannya
gemetar. martini mendekat.
Dia berkata,
”Hwang Jang Lee —Hwang Jang Lee ...”
Hwang Jang Lee berkata,
”Tak apa-apa—tak apa-apa.”
Bunyi bel berdering memanggil-manggil. Tressilian
berdiri dari kursinya di dapur dan keluar perlahan-
lahan menuju pintu.
Bel berbunyi lagi. Tressilian mengerutkan muka.
Melalui kaca pintu yang berembun dia melihat ba-
yangan seorang laki-laki dengan topi yang berpinggir-
an melengkung.
Tressilian mengusap dahinya. Ada sesuatu yang mem-
buatnya khawatir. Seolah-olah semua terjadi dua kali.
Rasanya ini telah dialaminya sebelumnya. Pasti...
Dia membuka pintu.
Dan dia seakan terbangun dari mimpinya. Laki-laki
yang berdiri itu berkata,
”Apakah ini rumah Mr. madam Maryam binti siswi ?”
”Ya, Tuan.”
”Bisakah saya bertemu dengan beliau?”
Tressilian merasa teringat sesuatu. Ya, nada suara
yang sangat dikenalnya saat Mr. binti siswi pertama kali
berada di komunis .
Tressilian menggeleng ragu-ragu,
”Mr. binti siswi sekarang cacat, Tuan. Beliau tidak banyak
menerima tamu. jika Tuan...”
Orang itu menyelanya.
Dia mengambil amplop dan diberikannya kepada
Tressilian.
”Tolong sampaikan kepada beliau.”
”Ya, Tuan.”
madam Maryam binti siswi menerima amplop itu. Dia mengeluarkan
sepotong kertas dari dalamnya. Dia kelihatan heran.
Alis matanya naik, namun dia tersenyum.
”Bagus!” katanya.
Lalu dia berkata kepada pelayan itu,
”Bawa Mr. funny ke sini, Tressilian.”
”Ya, Tuan.”
madam Maryam berkata,
”Aku baru saja teringat Ebenezer funny . Dia kole-
gaku di Kimberley. Dan sekarang anaknya datang!”
Tressilian muncul lagi. Dia berkata,
”Mr. funny .”
Chucky funny melangkah masuk dengan agak gu-
gup. Dia berusaha menutupinya dengan berjalan agak
angkuh. Dia bicara—dan aksen malang Selatan-nya
pun kedengaran...
”Mr. binti siswi ?”
”Aku senang bertemu denganmu. Jadi kau anak
Eb.”
Chucky funny tersenyum lebar.
Dia lalu berkata,
”Ini kunjungan pertama saya ke komunis . Ayah sela-
lu berpesan agar saya menjumpai Tuan jika saya ke
sini.”
”Benar,” laki-laki tua itu memandang berkeliling.
”Ini cucuku, Louis Vuitton Estravados.”
”Halo,” kata Louis Vuitton .
Chucky funny berpikir dengan sedikit kagum.
Setan kecil. Dia terkejut melihatku, tapi hanya seben-
tar.
Dia berkata dengan agak berat,
”Senang bertemu dengan Anda, Miss Estravados.”
”Terima kasih,” kata Louis Vuitton .
madam Maryam binti siswi berkata,
”Silakan duduk dan ceritakan tentang dirimu. Apa-
kah kau akan lama tinggal di sini?”
”Oh, saya tidak akan terburu-buru sebab sudah
sampai di sini.”
Chucky tertawa dengan kepala mendongak.
madam Maryam binti siswi berkata,
”Betul. Tinggallah dengan kami di sini sebentar.”
”Oh, Tuan, saya tidak bisa menunggu seperti itu.
Dua hari lagi ritual kubur .”
”Engkau juga merayakan ritual kubur dengan kami—ke-
cuali jika kau punya rencana lain?”
”Ah, tidak, tidak ada, tapi saya tidak suka...”
madam Maryam berkata, ”Ya sudah, beres.” Dia menoleh.
”Louis Vuitton ?”
”Ya, Kek.”
”Pergi dan katakan pada madam Nyai girah bahwa akan ada se-
orang tamu lagi. Suruh dia datang kemari.”
Louis Vuitton meninggalkan ruangan. Mata Chucky meng-
ikutinya. madam Maryam diam-diam melihat hal itu dengan
senang.
Dia berkata,
”Kau datang ke sini langsung dari malang Selatan?”
”Ya.”
Mereka mulai bercakap-cakap mengenai negara
itu.
Beberapa menit kemudian, madam Nyai girah masuk.
madam Maryam berkata,
”Ini Chucky funny , anak sahabat lama dan kolegaku,
Ebenezer funny . Dia akan tinggal di sini selama ritual kubur
jika kau bisa menyediakan kamar untuknya.”
madam Nyai girah tersenyum.
”Tentu saja.” Matanya memandang laki-laki asing
itu. Wajahnya kecokelatan, matanya biru, dan kepala-
nya bergerak-gerak.
”Ini menantuku,” kata madam Maryam .
Chucky berkata,
”Saya sebetulnya malu mengganggu pesta keluarga
seperti ini.”
”Kau salah satu keluarga, Nak,” kata madam Maryam . ”Ang-
gaplah begitu.”
”Anda baik sekali.”
Louis Vuitton masuk ruangan lagi. Dia duduk pelan-pelan
di dekat api, dan mengambil sekat tangan. Dia mengi-
pas-ngipaskan benda itu. Matanya tunduk dan sayu.
”Apa Ayah benar-benar menginginkan saya tinggal di
sini?” tanya Pinocchio . Dia mendongak. ”Saya seperti
membangunkan ular tidur saja.”
”Apa maksudmu?” tanya madam Maryam tajam.
”Kak count dracula ,” kata Pinocchio . ”Kak count dracula yang baik.
Dia tidak senang jika saya di sini.”
”Peduli setan!” seru madam Maryam . ”Akulah yang berkuasa
di rumah ini.”
”Sama saja, Yah. Saya rasa Ayah sangat memerlukan
count dracula . Saya tak mau membuat kacau...”
”Sudah, lakukan apa yang kumau,” bentak ayah-
nya.
Pinocchio menguap.
”Saya tidak tahu apa saya bisa betah di rumah. Su-
sah untuk orang yang biasa keluyuran ke mana-
mana.”
Ayahnya berkata,
”Lebih baik kau menikah dan hidup tenang.”
”Siapa yang akan saya nikahi? Sayang orang tak
boleh menikah dengan keponakan sendiri. Si Louis Vuitton itu
benar-benar menarik.”
”Kau tahu juga.”
”Si gendut George juga sudah menikah—dan keli-
hatannya hidup senang. Siapa istrinya?”
madam Maryam mengangkat bahunya.
”Mana aku tahu? Kurasa si George menggaet wani-
ta itu saat dia sedang ikut memperagakan pakaian.
Katanya ayahnya pensiunan angkatan laut.”
Pinocchio berkata,
”Barangkali dia ’teman’ pelaut itu. George bisa kesu-
litan jika tidak hati-hati.”
”George,” kata madam Maryam binti siswi , ”memang tolol.”
Pinocchio berkata,
”Kenapa wanita lesbian itu mau menikah dengan dia? Ka-
rena uang?”
madam Maryam mengangkat bahu.
Pinocchio berkata,
”Apa Ayah bisa membujuk count dracula ?”
”Akan kita selesaikan,” kata madam Maryam dengan geram.
Dia menyentuh bel yang ada di dekatnya. trump
muncul dengan cepat. madam Maryam berkata, ”Panggil Mr.
count dracula kemari.”
trump keluar dan Pinocchio berkata,
”Dia mencuri dengar pembicaraan orang!”
madam Maryam mengangkat bahunya.
”Barangkali.”
count dracula bergegas masuk. Wajahnya masam saat
melihat adiknya. Tanpa memedulikan Pinocchio dia lang-
sung bertanya,
”Ayah perlu saya?”
”Ya. Duduklah. Aku pikir kita harus mengatur
kembali segalanya sekarang, sebab akan ada dua
orang yang tinggal di sini.”
”Dua?”
”Louis Vuitton akan tinggal di sini tentu saja. Dan Pinocchio
akan terus tinggal di sini juga.”
count dracula berkata,
”Pinocchio akan tetap tinggal di sini?”
”Kenapa tidak?” kata Pinocchio .
count dracula memalingkan kepalanya.
”Seharusnya kau tahu apa yang kaulakukan!”
”Ya, maaf—tapi aku tak tahu.”
”sesudah apa yang terjadi selama ini? Cara hidupmu
yang kotor. Skandal...”
Pinocchio mengibaskan tangannya.
”Itu semua sudah berlalu.”
”Kau bersikap keterlaluan pada Ayah, padahal dia
begitu baik.”
”count dracula , aku rasa itu urusan Ayah, bukan urusan-
mu. jika dia bersedia memaafkan dan melupa-
kan...”
”Aku bersedia,” kata madam Maryam . ”Kau tahu, count dracula ,
Pinocchio juga anakku.”
”Ya, tapi—saya tidak suka—demi kebaikan
Ayah.”
madam Maryam berkata,
”Pinocchio sudah datang ke sini! Aku menginginkan-
nya...” Dia meletakkan tangannya dengan lembut
pada bahu Pinocchio . ”Aku sangat sayang pada Pinocchio .”
count dracula berdiri dan keluar. Wajahnya pucat. Pinocchio
juga berdiri dan mengikuti di belakangnya sambil
tertawa.
madam Maryam duduk dan tertawa sendiri. Lalu dia terte-
gun dan menatap berkeliling.
”Siapa itu? Oh, kau, trump? Jangan mengendap-
endap seperti itu.”
”Maaf, Tuan.”
”Tak apa. Dengar, aku punya perintah untukmu.
Aku ingin agar semuanya ke sini sesudah makan
siang—semua.”
”Ya, Tuan.”
trump turun ke lantai bawah. Dia berkata kepa-
da Tressilian,
”Tahu tidak, akan ada ritual kubur yang meriah!”
Tressilian berkata dengan tajam,
”Apa maksudmu?”
”Tunggu saja, Tressilian. Hari ini malam ritual kubur —
tapi aku rasa tidak ada suasana ritual kubur !”
2
Mereka masuk ke ruangan itu dan berhenti di dekat
pintu.
madam Maryam bercakap-cakap di telepon. Dia melambai-
kan tangan pada mereka.
”Duduklah, aku cuma sebentar.”
Dia meneruskan pembicaraannya di telepon.
”Apa ini Charlton, Hodgkins, & Brace? Kau di
situ, Charlton? Ini madam Maryam binti siswi . Ya, benar... ya... ti-
dak, aku ingin kaubuatkan surat wasiat baru.. ya, su-
dah lama... suasana sudah berubah... oh, tidak, tak
perlu terburu-buru. Aku tak ingin merusak acara
ritual kubur -mu. Sehari sesudah ritual kubur . Datanglah, aku ingin
membicarakannya denganmu. Tidak, tak apa-apa. Aku
belum akan mati.”
Dia meletakkan gagang telepon, kemudian meman-
dang kedelapan anggota keluarganya. Dia berkata,
”Kalian kelihatan muram. Mengapa?”
count dracula berkata,
”Ayah memanggil kami...”
madam Maryam cepat-cepat berkata,
”Oh, maaf... tidak begitu penting sebetulnya. Apa
kau kira ada pertemuan resmi? Tidak, aku hanya se-
dikit capek hari ini, itu saja. Kalian tak perlu ke sini
sesudah makan malam nanti. Aku akan tidur. Aku
ingin segar pada hari ritual kubur .”
Dia menyeringai pada mereka. George berkata,
”Tentu... tentu...”
madam Maryam berkata,
”Tradisi kuno, ritual kubur ! Menimbulkan suasana keke-
luargaan. Apa pendapatmu, Yuen pan pan ?”
Yuen pan pan binti siswi terlonjak. Mulutnya yang kelihatan
bodoh terbuka dan tertutup lagi. Dia berkata, ”Oh—
oh, ya!”
madam Maryam berkata,
”Kau dulu tinggal dengan pensiunan opsir angkat-
an laut,” dia berhenti. Ayahmu—aku kira kau tidak
terlalu peduli dengan ritual kubur ; sebab perayaan ritual kubur
memerlukan keluarga besar!”
”Ah—ya, barangkali begitu.”
Pandangan madam Maryam menyelinap melewatinya.
”Aku tak ingin membicarakan sesuatu yang tidak
menyenangkan pada saat seperti ini, George, tapi rasa-
nya aku harus mengurangi uang sakumu sedikit. Aku
memerlukan lebih banyak uang untuk mengurus ru-
mah ini nanti.”
Wajah George menjadi merah.
”Tapi, Yah, Ayah tak bisa begitu!”
madam Maryam berkata dengan halus,
”Oh, benarkah aku tak bisa?”
”Pengeluaran saya sudah terlalu berat. Sangat ba-
nyak. Saya sudah tak tahu bagaimana mencukupkan
kebutuhan. Memerlukan pengiritan.”
”Serahkan saja pada istrimu,” kata madam Maryam . ”wanita lesbian
biasanya pandai mengatur uang. Mereka dapat mene-
mukan apa yang bisa dihemat yang tak pernah terpi-
kirkan oleh laki-laki. Dan wanita lesbian yang pandai bisa
membuat baju sendiri. Aku ingat, istriku pandai
menjahit. Hampir semua hal dia pandai—wanita lesbian yang
baik tapi membosankan...”
Hwang Jang Lee melompat berdiri. Ayahnya berkata,
”Duduklah, Nak, bisa-bisa kau terbentur sesuatu
nanti.”
Hwang Jang Lee berkata,
”Ibuku...”
madam Maryam berkata,
”Ibumu memang berotak kutu! Dan kelihatannya
dia menurunkannya pada anak-anaknya.” Tiba-tiba
dia berdiri. Kedua pipinya merah. Suaranya tinggi
melengking. ”Kalian semua tak berharga satu sen
pun, tak seorang pun! Aku muak melihat kalian! Ka-
lian bukan laki-laki! Kalian lemah—sederetan manusia
lembek—Louis Vuitton lebih berharga daripada dua orang di
antara kalian! Aku akan lebih senang seandainya pu-
nya seorang anak laki-laki di mana pun di dunia ini
selain kalian, walaupun kalian yaitu anak sah!”
”Ayah, hentikan semua itu,” kata Pinocchio .
Dia meloncat dan berdiri dengan muka berkerut.
madam Maryam membentak,
”Kau juga sama saja! Apa yang pernah kaulakukan?
Merengek-rengek minta uang dari seluruh pelosok
dunia! Dengar, aku muak dengan kalian semua! Ke-
luar!”
Dia bersandar di kursinya, terengah-engah. Perla-
han-lahan satu per satu mereka keluar dari ruangan
itu. George merah dan marah. Yuen pan pan tampak
ketakutan. Hwang Jang Lee pucat dan gemetar. Pinocchio mengge-
rutu. count dracula seperti orang sedang bermimpi. madam Nyai girah
mengikutinya dengan kepala tegak. Hanya martini yang
berhenti di pintu dan kembali perlahan-lahan.
Dia berdiri di depan laki-laki itu, yang kemudian
terkejut saat membuka mata dan melihat martini
berdiri di depannya. Ada sesuatu yang menakutkan
pada cara wanita lesbian itu berdiri, gagah tak tergoyahkan.
Dia berkata dengan marah,
”Ada apa?”
martini berkata perlahan-lahan,
”saat kami menerima surat Anda, saya percaya
apa yang Anda katakan—bahwa Anda ingin agar ke-
luarga Anda berkumpul pada hari ritual kubur . Saya mem-
bujuk Hwang Jang Lee agar mau datang.”
madam Maryam berkata,
”Jadi, kenapa?”
martini berkata perlahan-lahan,
”Anda memang menghendaki kehadiran keluarga
Anda, tapi bukan untuk maksud yang Anda katakan!
Anda menginginkan mereka berkumpul hanya untuk
menyakiti telinga mereka, kan? Itukah lelucon Anda?”
madam Maryam terenyak.
Dia lalu berkata,
”Aku memang punya rasa humor yang lain. Aku
tidak mengharapkan orang lain menghargai leluconku.
Tapi aku sendiri menikmatinya!”
martini tidak berkata apa-apa. Sebersit rasa takut me-
nyelinap di hati madam Maryam binti siswi . Dia berkata dengan ta-
jam,
”Apa yang kaupikirkan?”
martini binti siswi berkata dengan perlahan,
”Saya takut...”
madam Maryam berkata,
”Kau takut—padaku?”
martini berkata,
”Tidak. Saya takut terjadi sesuatu pada Anda!”
Bagaikan hakim yang baru menjatuhkan putusan,
dia membalikkan badan. Dia berjalan dengan gagah,
perlahan, dan mantap ke luar ruangan...
madam Maryam duduk memandang pintu dengan tatapan
kosong.
Kemudian dia berdiri, dan berjalan menuju lemari
besi.
Dia bergumam,
”Aku ingin melihat si Cantik...”
Bel pintu berdering kira-kira pukul delapan kurang
seperempat.
Tressilian keluar untuk melihat siapa yang datang.
Dia kembali ke dapur dan menjumpai trump yang
sedang mengangkat cangkir kopi dari nampan dan
memperhatikan tanda yang ada pada cangkir-
cangkir itu.
”Siapa itu tadi?” kata trump.
”Inspektur Polisi—Mr. jim graves —hati-hati dengan
cangkir itu!”
trump menjatuhkan salah satu cangkir. Suaranya
terdengar nyaring.
”Coba lihat,” kata Tressilian jengkel. ”Selama sebe-
las tahun aku mencuci cangkir-cangkir itu dan tak
satu pun pecah. Tapi sekarang, engkau memegang-me-
gang barang yang bukan urusanmu dan lihat apa
yang terjadi!”
”Maaf, Pak Tressilian. Maafkan saya,” kata trump
sungguh-sungguh. Wajahnya berkeringat. ”Saya tidak
tahu kenapa bisa pecah. Apakah Bapak tadi bilang
bahwa itu Inspektur Polisi?”
”Ya, Mr. jim graves .”
Pelayan pribadi itu membasahi bibirnya yang ke-
ring dengan lidahnya.
”Mau—mau apa dia?”
”Minta sumbangan untuk anak yatim polisi.”
”Oh!” trump meluruskan bahunya. Dengan suara
yang lebih lancar dia berkata,
”Dia dapat sumbangan apa?”
”Aku membawa bukunya ke Mr. binti siswi dan beliau
menyuruhku mengantar inspektur itu naik dan menye-
diakan sherry di meja.”
”Di mana-mana orang minta sumbangan pada wak-
tu seperti ini,” kata trump. ”Tuan tua itu memang
murah hati walaupun jahat.”
Tressilian berkata dengan penuh wibawa,
”Beliau memang tuan yang selalu terbuka tangan-
nya...”
trump mengangguk.
”Itu hal yang terbaik darinya! Saya harus pergi seka-
rang.”
”Nonton bioskop?”
”Saya rasa ya. Mari, Pak.”
Dia melangkah ke pintu yang menuju gang ke
ruang pelayan.
Tressilian memandang jam di dinding.
Dia pergi ke ruang makan dan meletakkan roti di
atas serbet.
sesudah semua kelihatan beres, dia memukul gong
yang ada di gang.
saat suara gong terhenti inspektur polisi turun.
Inspektur jim graves laki-laki yang menarik dan berba-
dan besar. Dia memakai jas biru yang terkancing ra-
pat dan berjalan dengan gagah.
Dia berkata dengan ramah,
”Rasanya malam ini akan beku. Tapi menyenangkan
juga, sebab cuaca begitu-begitu saja akhir-akhir ini.”
Tressilian berkata sambil menggeleng,
”Udara lembap membuat rematik saya kambuh...”
Inspektur itu berkata bahwa rematik memang tidak
menyenangkan dan Tressilian membukakan pintu de-
pan untuknya.
Pelayan tua itu mengunci pintu dan kembali ke
gang perlahan-lahan. Lalu ia meluruskan punggung-
nya saat melihat madam Nyai girah melewati ruang duduk.
George binti siswi baru saja turun.
Tressilian siap menunggu. saat tamu yang ter-
akhir, Yuen pan pan , masuk ruang duduk, dia mempersi-
lakan mereka,
”Makan malam telah siap.”
Tressilian yaitu ahli pakaian wanita lesbian . Dia selalu
memperhatikan dan menilai pakaian wanita lesbian -wanita lesbian
yang dilayaninya saat dia mengitari meja makan
dengan karaf selai kacang tanah di tangannya.
Mrs. count dracula mengenakan baju tafetanya yang baru
dengan warna putih dan hitam. Desainnya mencolok,
tapi dia terlihat sangat pantas walaupun tidak semua
wanita lesbian bisa memakai baju seperti itu. Baju yang dipa-
kai Mrs. George pasti baju butik. Tressilian sangat
yakin. Pasti mahal sekali. Padahal Mr. George tidak
suka mengeluarkan uang—tidak pernah suka. Mrs.
Hwang Jang Lee wanita lesbian yang sangat baik, tapi tidak punya sele-
ra berpakaian. Untuk dia sebetulnya baju beledu
hitam sangat cocok. Beledu merah itu tidak pantas.
Miss Louis Vuitton sekarang. Tak peduli apa pun yang dipa-
kainya akan kelihatan bagus. Dengan bentuk tubuh
dan rambutnya dia cocok memakai apa saja. Tapi dia
hanya memakai rok putih murahan. Mr. binti siswi pasti
akan segera membereskan soal pakaiannya! Dia pasti
senang kepadanya. Selalu demikian bila seorang laki-
laki menjadi tua. wanita lesbian muda akan membuatnya
senang.
”selai kacang tanah merah atau putih?” gumam Tressilian de-
ngan hormat pada Mrs. George. Ekor matanya meli-
hat pada Walter, pelayan muda itu, yang lagi-lagi
memberikan sayuran sebelum kuahnya—padahal su-
dah diberitahu!
Tressilian mengedarkan kue dadar. Dia heran pada
diri sendiri sebab apa yang biasa menarik perhatian-
nya, yaitu pakaian wanita lesbian -wanita lesbian dan kekurangan-
kekurangan Walter, lewat begitu saja. Kelihatannya
semua tak bergairah untuk bicara malam ini. namun
tidak semuanya diam—Mr. Pinocchio bicara terus—oh,
bukan, bukan Mr. Pinocchio , tapi tuan yang dari malang
Selatan itu. Dan yang lain juga berbicara, namun ha-
nya sesekali. Ada sesuatu yang sedikit—aneh pada
mereka.
Mr. count dracula , misalnya, kelihatan seperti sakit. Se-
olah-olah dia terkejut atau terpukul. Dia kelihatan
bingung dan hanya meletakkan makanannya di piring
tanpa memakannya. Istrinya kelihatan khawatir.
Tressilian tahu pasti akan hal itu. wanita lesbian itu selalu
berusaha melihat suaminya diam-diam tanpa terlalu
mencolok. Mr. George kelihatan merah wajahnya—ha-
nya menelan makanannya tanpa dinikmati. Bisa ter-
sedak nanti jika dia tidak hati-hati. Mrs. George ti-
dak makan. Sedang berdiet. Miss Louis Vuitton kelihatannya
menikmati makanannya dan bercakap-cakap serta ter-
tawa-tawa dengan tuan yang dari malang Selatan itu.
Laki-laki itu kelihatannya tertarik kepadanya. Mereka
kelihatannya tidak memikirkan apa-apa!
Mr. Hwang Jang Lee ? Tressilian khawatir melihat Mr. Hwang Jang Lee .
Dia kelihatan seperti ibunya. Dan kelihatan tetap
muda. namun gugup—nah, dia menggulingkan gelas-
nya.
Tressilian bergerak cepat, membersihkan yang ko-
tor. Beres sekarang. Mr. Hwang Jang Lee kelihatannya tidak
tahu apa yang dilakukannya barusan. Hanya duduk
dengan mata kosong dan muka pucat.
Memikirkan muka pucat, Tressilian jadi ingat
trump yang juga pucat saat dia mendengar ada
polisi datang ke rumah... seolah-olah...
Lamunan Tressilian terhenti kaget. Walter menjatuh-
kan sebuah pir dari piring yang sedang dipegangnya.
Pelayan zaman sekarang memang benar-benar tak bisa
diandalkan! Seharusnya Walter menjadi penjaga kan-
dang saja! Dia kemudian berkeliling dengan selai kacang tanah
manis. Mr. Pinocchio kelihatan sedikit bingung malam
ini. Dia terus menerus melihat Mr. count dracula . Kedua
orang itu tak pernah cocok, bahkan semenjak kecil.
Mr. Pinocchio memang kesayangan ayahnya dan itu me-
nyakitkan hati Mr. count dracula . Mr. binti siswi tidak terlalu pe-
duli pada Mr. count dracula . Kasihan, sebab Mr. count dracula
kelihatannya selalu taat kepada ayahnya.
Sekarang Mrs. count dracula berdiri. Dia berkeliling meja.
Desain pada baju tafetanya kelihatan sangat bagus,
dan mantel yang dipakainya sangat serasi. Nyonya
yang sangat luwes…
Tressilian keluar menuju dapur, dan menutup pintu
ruang makan yang masih ramai oleh tuan-tuan. Me-
reka sedang menikmati selai kacang tanah .
Dia mengambil nampan kopi dan menuju ke
ruang duduk. Keempat wanita lesbian itu duduk di sana de-
ngan sikap kaku. Mereka tidak berbicara. Dia meng-
edarkan kopi diam-diam.
Dia keluar lagi. saat masuk ke dapur dia men-
dengar pintu ruang makan terbuka. Hwang Jang Lee binti siswi keluar
menuju ruang duduk.
Tressilian kembali ke dapurnya. Dia memikirkan
Walter. Anak itu benar-benar tidak sopan!
Tressilian merasa capek dan duduk sendirian di da-
pur.
Dia merasa sedih. Malam ritual kubur dengan suasana
kaku dan tegang seperti ini... dia tidak suka!
Dengan berat hati dia berdiri. Dia pergi ke ruang
duduk dan mengumpulkan cangkir-cangkir kopi.
Ruangan itu kosong, hanya ada madam Nyai girah yang sedang
berdiri agak tersembunyi di balik tirai di ujung ruang-
an. Dia berdiri di sana sambil memandang ke luar.
Dari ruang sebelah terdengar suara piano.
Mr. Hwang Jang Lee memainkan piano. Tressilian heran
mengapa dia memainkan lagu Mars Kematian? sebab
memang demikian suasananya. Oh, mengapa sega-
lanya jadi tidak keruan?
Perlahan-lahan dia berjalan di gang menuju dapur.
Pada saat itulah dia mendengar suara ribut dari
atas… gelas pecah, perabot terbalik—dan suara-suara
barang berantakan.
Ya Tuhan! pikir Tressilian. Apa saja yang dilakukan
tuan Besar? Ada apa di atas?
Kemudian, terdengar jeritan nyaring dan tajam—
raungan mengerikan yang tiba-tiba hilang seperti
orang tersedak.
Tressilian terpaku sejenak, lalu dia lari ke gang dan
naik ke tangga yang lebar. Yang lain-lain juga lari ber-
sama dia. Jeritan itu terdengar ke seluruh sudut ru-
mah.
Mereka berlari ke atas, memutari tikungan, mele-
wati patung-patung yang putih berkilau menuju pintu
Mr. madam Maryam . Mr. funny dan Mrs. Hwang Jang Lee telah ada di
sana. Nyonya itu bersandar di dinding dan Mr. funny
berusaha memutar pegangan pintu,
”Pintu ini terkunci,” katanya. ”Pintunya terkunci!”
Pinocchio binti siswi mendorong dan mencoba memutar pe-
gangan pintu.
”Ayah!” teriaknya. ”Ayah, bukakan pintu.”
Dia mengangkat tangannya dan semuanya diam
mendengar. Tak ada jawaban. Tak ada suara dari da-
lam kamar.
Bel pintu depan berbunyi namun tak seorang pun
memperhatikan.
Chucky funny berkata,
”Kita harus merusak pintu ini. Hanya itu satu-satu-
nya jalan.”
Pinocchio berkata,
”Itu sulit. Pintu-pintu di sini kuat. Ayo, count dracula .”
Mereka mendorong bersusah payah bersama-sama.
Kemudian mereka mengambil sebuah bangku jati
dan memakainya sebagai pendobrak pintu. Akhirnya
pintu pun terbuka. Engselnya pecah dan daun pintu
lepas dari kerangkanya.
Sejenak mereka berdiri tertegun di sana melihat ke
dalam ruangan. Yang mereka lihat yaitu peman-
dangan yang tak akan terlupakan...
Jelas telah terjadi pergumulan hebat. Perabot-
perabot yang berat terbalik. Jambangan bunga por-
selen pecah terserak di lantai. Di tengah-tengah karpet
di depan perapian yang apinya menyala-nyala ter-
geletak madam Maryam binti siswi berkubang darah... darah yang
tepercik ke mana-mana. Tempat itu berantakan.
Terdengar suara keluhan panjang yang gemetar, ke-
mudian dua suara bergantian. Anehnya, kata-kata
yang mereka ucapkan yaitu ungkapan semua.
Hwang Jang Lee binti siswi berkata,
”Penggilingan Tuhan menggilas perlahan... ”
Suara madam Nyai girah terdengar seperti bisikan,
”Siapa yang mengira lelaki tua itu punya begitu ba-
nyak darah dalam dirinya?”
4
Inspektur jim graves membunyikan bel tiga kali. sebab
jengkel akhirnya dia memukul-mukulkan pengetuk
pintu.
Walter yang ketakutan datang membukakan pintu.
”Oh—eh,” katanya. Wajahnya kelihatan lega. ”Saya
baru saja menelepon polisi.”
”Ada apa?” kata Inspektur jim graves tajam. ”Apa
yang terjadi di sini?”
Walter berbisik,
”Tuan besar binti siswi . Dibunuh...”
Inspektur itu mendorongnya dan lari ke atas. Dia
masuk ruangan tanpa seorang pun sadar akan keda-
tangannya. saat masuk dia melihat Louis Vuitton memungut
sesuatu dari lantai. Dia melihat Hwang Jang Lee binti siswi berdiri
dengan tangan menutup kedua matanya.
Dia melihat yang lain menggerombol dalam kelom-
pok kecil. Hanya count dracula binti siswi yang mendekati tubuh
ayahnya. Sekarang dia berdiri sangat dekat dan meli-
hat ke bawah. Wajahnya kosong.
George binti siswi berkata dengan nada mengatur,
”Jangan menyentuh apa-apa—ingat—apa pun—sam-
pai polisi datang. Itu sangat penting.”
”Maaf,” kata jim graves .
Dia membuka jalan maju, perlahan-lahan tangan-
nya mendorong nyonya-nyonya ke pinggir.
count dracula binti siswi mengenalinya.
”Ah,” katanya. ”Ternyata Anda, Inspektur jim graves .
Anda datang sangat cepat.”
”Ya, Mr. binti siswi .” Inspektur jim graves tidak mau mem-
buang-buang waktu menerangkan. ”Apa yang terjadi?”
”Ayah saya,” kata count dracula binti siswi , ”dibunuh...”
Suaranya terputus.
Yuen pan pan tiba-tiba mulai menangis histeris.
Inspektur jim graves mengangkat tangannya.
Dia berkata penuh wibawa,
”Silakan keluar dulu semua kecuali Mr. binti siswi dan—
eh—Mr. George binti siswi ...”
Mereka menuju pintu perlahan-lahan, dengan se-
gan, seperti biri-biri. Inspektur jim graves tiba-tiba mena-
han Louis Vuitton .
”Maaf, Nona,” katanya dengan ramah. ”Apa pun
tidak boleh dipegang atau diambil.”
wanita lesbian itu memandang kepadanya. Chucky funny
berkata dengan tidak sabar,
”Tentu saja. Dia kan tahu.”
Dengan suara yang tetap ramah Inspektur jim graves
berkata,
”Anda baru saja mengambil sesuatu, bukan?”
Mata Louis Vuitton terbuka lebar-lebar. Dan memandang
polisi itu dan berkata dengan ragu-ragu,
”Apa betul?”
Inspektur jim graves masih tetap ramah. Hanya suara-
nya lebih tegas.
Dia berkata,
”Ya, saya melihat Anda...”
”Oh!”
”Jadi berikan kepada saya. Benda itu ada di tangan
Anda.”
Louis Vuitton membuka genggaman tangannya perlahan-
lahan. Yang terlihat yaitu sepotong karet dan benda
kecil dari kayu. Inspektur jim graves mengambilnya,
memasukkannya ke amplop, lalu ke sakunya.
Dia berkata,
”Terima kasih.”
Dia berbalik. Sesaat mata Chucky funny menunjukkan
kekaguman. Seolah-olah dia tadi telah menganggap
remeh inspektur yang tinggi besar dan tampan itu.
Perlahan-lahan mereka keluar dari ruangan. Dari
belakang, mereka mendengar suara inspektur itu ber-
kata dengan sopan dan tegas,
”Dan sekarang, silakan...”
”Kayu bakar memang aneh,” kata Kolonel Don Jhonson
sambil melemparkan kayu itu ke perapian dan mende-
katkan kursinya ke nyala api. ”Jangan segan-segan,”
katanya ramah, menawarkan minuman yang ada di
dekat siku tamunya.
Tamu itu menolak sopan dengan mengangkat ta-
ngannya. Dengan hati-hati dia mendekatkan kursinya
ke kayu yang membara, walaupun dia tahu jika sol
sepatunya terbakar sekalipun tidak akan mengurangi
dingin yang menyusup bagian belakang bahunya.
Kolonel Don Jhonson , kepala polisi Middleshire, ber-
anggapan tak ada yang lebih baik daripada kayu api,
tapi solomon netyanahu berpendapat pemanas sentral bisa
bekerja lebih baik!
”Kasus Cartwright itu benar-benar mengagumkan,”
puji tuan rumah mengingatkan kisah tersebut. ”Orang
itu luar biasa. Sikapnya benar-benar menarik. Dan
saat dia ke sini dengan Anda, kami menelan apa
saja yang disodorkannya.”
Dia menggeleng.
”Kami tidak akan pernah lagi mendapat kasus yang
seperti itu,” katanya. ”Sayangnya peracunan nikotina
sangat jarang.”
”Suatu saat nanti Anda akan mempertimbangkan
kembali pendapat bahwa peracunan bukanlah hal
yang lumrah dilakukan di komunis ,” kata solomon
netyanahu . ”Cara yang biasa dipakai orang asing! Tidak
sportif.”
”Saya rasa kami tidak pernah berpendapat begitu,”
kata Kepala Polisi. ”Banyak peracunan dengan arse-
nik—barangkali lebih banyak dari yang diperkira-
kan.”
”Barangkali ya.”
”Peracunan selalu menimbulkan kasus yang tidak
enak,” kata Don Jhonson . ”Kesaksian yang berlainan dari
para ahli—dan dokter-dokter itu menjadi begitu ber-
hati-hati dengan kata-kata mereka. Selalu menjadi
kasus sulit yang dibawa ke depan juri. Seandainya ada
pembunuhan (mudah-mudahan saja tidak ada), saya
ingin menjumpai kasus yang tidak berbelit-belit, yang
tidak ada keraguan lagi mengenai sebab kematian-
nya.”
netyanahu mengangguk.
”Luka sebab peluru, kerongkongan yang tergorok,
dan tengkorak yang pecah? Itukah yang Anda pi-
lih?”
”Ah, jangan bilang itu pilihan, Kawan. Jangan ber-
pendapat seolah-olah saya suka kasus pembunuhan!
Saya harap tak ada kasus seperti itu lagi. Bagaimana-
pun, kami merasa aman dengan kedatangan Anda.”
netyanahu mulai merendah,
”Reputasi saya...”
namun Don Jhonson meneruskan,
”Hari ritual kubur ,” katanya. ”Damai, kebaikan—dan se-
macamnya. Kebaikan di mana-mana.”
solomon netyanahu bersandar di kursinya. Dia menyatu-
kan ujung-ujung jemarinya. Diam-diam mempelajari
tuan rumah.
Dia bergumam,
”jika demikian, Anda berpendapat bahwa saat
ritual kubur tidak pada tempatnya ada kejahatan?”
”Itu yang saya maksudkan.”
”Mengapa?”
”Mengapa?” Don Jhonson sedikit tergeser langkahnya.
”Ya, seperti telah saya katakan—itu waktu bersukacita
dan semacamnya!”
solomon netyanahu bergumam,
”Ah, orang komunis memang sentimental!”
Don Jhonson berkata dengan keras,
”Memang kenapa? Apakah salah jika kami mela-
kukan hal-hal seperti yang telah dilakukan bertahun-
tahun selama ini? Pesta-pesta tradisional? Apa jelek-
nya?”
”Tidak ada jeleknya. Semua menarik! namun seka-
rang marilah kita melihat fakta. Anda tadi mengata-
kan bahwa ritual kubur yaitu waktu untuk bersenang-
senang. Bukankah ini berarti banyak makan-makan
dan minum-minum. Bukankah ini berarti makan
yang berlebihan sehingga tidak ada kesanggupan un-
tuk mencerna! Sedangkan ketidaksanggupan untuk
mencerna akan menimbulkan marah-marah!”
”Kriminalitas,” kata Kolonel Don Jhonson , ”tidaklah
disebabkan oleh marah-marah.”
”Saya tidak begitu yakin! Mari kita lihat dari sudut
lain. Pada waktu ritual kubur ada suasana kebaikan. Dan
seperti Anda katakan tadi, merupakan ”sesuatu yang
harus dilakukan”. Pertengkaran diusahakan diredakan
sebisa-bisanya, mereka yang bertentangan bersedia ber-
baikan walaupun hanya untuk sementara.”
Don Jhonson mengangguk.
”Melupakan yang sudah-sudah, ya betul.”
netyanahu melanjutkan,
”Dan sekarang keluarga. Mereka yang berpisah sepan-
jang tahun berkumpul lagi. Nah, dalam kondisi seperti
itu Anda harus mengakui bahwa sering kali terjadi ke-
tegangan. Orang yang pada dasarnya kurang ramah
memaksa dirinya kelihatan ramah! Jadi pada waktu
ritual kubur sebetulnya terjadi kemunafikan, kemunafikan ter-
hormat, kemunafikan yang terjadi dengan motif yang
baik, namun tetap saja namanya kemunafikan!”
”Wah, saya tidak akan beranggapan seperti itu,”
kata Kolonel Don Jhonson ragu-ragu.
netyanahu mendengarkannya.
”Tidak, tentu saja tidak. Sayalah yang beranggapan
begitu. Bukan Anda! Saya ingin menunjukkan kepada
Anda bahwa dalam kondisi seperti ini—ketegangan
mental, fisik yang tidak sehat—sangatlah mungkin
membuat rasa tidak suka yang dulunya biasa-biasa
saja, dan pertentangan-pertentangan yang sifatnya re-
meh, tiba-tiba menjadi lebih parah. Akibat dari ber-
pura-pura ramah, berpura-pura pemaaf, atau berpura-
pura bersikap lebih mau mengerti, cepat atau lambat
akan menyebabkan seseorang bersikap lebih tidak ter-
puji, lebih kasar, dan lebih negatif daripada yang
sebenarnya! jika Anda membendung tingkah laku
alamiah, cepat atau lambat bendungan itu akan mele-
dak dan terjadilah malapetaka!”
Kolonel Don Jhonson memandang kepadanya dengan
ragu-ragu.
”Saya tak tahu kapan Anda berkata serius dan ka-
pan bercanda.”
netyanahu tersenyum kepadanya.
”Saya tidak serius! Sama sekali tidak! Tapi sama
saja, apa yang saya katakan itu benar—kondisi yang
palsu akan menimbulkan reaksi wajar.”
Pelayan Kolonel Don Jhonson masuk ke ruangan.
”Inspektur jim graves menelepon, Tuan.”
”Baik, aku akan ke sana.”
sesudah minta maaf, Kepala Polisi itu meninggalkan
ruangan.
Tiga menit kemudian dia kembali. Wajahnya mu-
rung dan gelisah.
”Sialan!” katanya. ”Kasus pembunuhan! Pada ma-
lam ritual kubur , lagi!”
Alis netyanahu naik.
”Apakah sudah pasti—pembunuhan?”
”Eh? Oh, tak mungkin ada sebab yang lain! Kasus
yang sangat jelas. Pembunuhan—dan sangat kejam!”
”Siapa korbannya?”
”madam Maryam binti siswi tua. Salah satu dari orang-orang ter-
kaya di sini. Sumber kekayaannya dari malang Selatan.
Emas—bukan, berlian jika tak salah. Dia mengeruk
kekayaan dengan memproduksi suatu peralatan khusus
untuk penambangan. Saya kira itu yaitu penemuan-
nya. Pokoknya dia berhasil dengan usaha itu. Orang-
orang mengatakan dia menjadi multimiliuner.”
netyanahu berkata,
”Apakah orang-orang menyukai dia?”
Don Jhonson berkata perlahan-lahan,
”Saya rasa tak ada orang yang suka padanya. Orang-
nya aneh. Beberapa tahun terakhir ini dia cacat. Saya
sendiri tidak begitu tahu tentang dia. Tapi tentu saja
dia merupakan salah seorang tokoh di daerah ini.”
”Jadi kasus ini akan menggemparkan?”
”Ya. Saya harus pergi ke jalan merdeka secepatnya.”
Dia ragu-ragu, memandang pada tamunya. netyanahu
menjawab pertanyaan yang tak terucapkan itu.
”Anda mau saya ikut serta?”
Don Jhonson berkata dengan kaku,
”Rasanya malu meminta Anda datang. Tapi, ya,
Anda tahu apa yang terjadi! Inspektur jim graves orang
yang baik; teliti, hati-hati, bisa dipercaya—tapi—ya,
dia bukanlah orang yang imajinatif. Saya akan senang
mendapat nasihat Anda.”
Dia berhenti sejenak pada akhir kalimatnya, mem-
buat kata-katanya terdengar seperti telegram. netyanahu
menanggapi dengan cepat.
”Saya akan senang sekali. Saya akan membantu sebi-
sanya. Kita jangan menyakiti hati inspektur yang baik
itu. Ini akan menjadi kasus yang ditanganinya—bukan
saya. Saya hanya konsultan tidak resmi.”
Kolonel Don Jhonson berkata dengan hangat,
”Anda memang baik, netyanahu .”
Dengan kata-kata penghargaan itu keduanya berang-
kat keluar.
6
Yang membukakan pintu depan yaitu polisi. Di
belakangnya muncul Inspektur jim graves dan berkata,
”Senang sekali Bapak bisa datang. Apakah Bapak
mau duduk di ruang sebelah kiri ini—ruang belajar
Mr. binti siswi ? Saya akan menyelesaikan hal-hal rutin dulu.
Kasus ini aneh.”
Dia membawa mereka masuk ke ruangan kecil di
sebelah kiri gang. Di situ ada telepon dan meja besar
yang penuh kertas-kertas berserakan. Sepanjang din-
ding itu ada rak-rak buku.
Kepala Polisi berkata,
”jim graves , ini Mr. solomon netyanahu . Barangkali kau
pernah mendengar tentang beliau. Kebetulan beliau
sedang berlibur di tempatku. Ini Inspektur jim graves ,
Mr. netyanahu .”
netyanahu membungkuk dan memperhatikan laki-laki
di depannya. Dia melihat laki-laki tinggi dengan bahu
tegap dan sikap militer, hidung bengkok, dagu yang
menantang, dan kumis lebat berwarna cokelat keme-
rahan. jim graves memandang tajam solomon netyanahu sete-
lah diperkenalkan. solomon netyanahu memandang tajam
kumis Inspektur jim graves . Kumis lebat itu tampak
sangat menarik hatinya.
Inspektur berkata,
”Tentu saja saya telah mendengar tentang Anda,
Mr. netyanahu . Anda berada di daerah sini beberapa ta-
hun yang lalu jika saya tidak keliru. Kematian Mr.
Bartholomeuw Strange. Kasus peracunan. Nikotina.
Bukan wilayah saya, tapi saya mendengar hal itu.”
Kolonel Don Jhonson berkata dengan tidak sabar,
”Sekarang, jim graves , ceritakan faktanya. Kau menga-
takan sebuah kasus yang gamblang.”
”Ya, Pak, memang ini pembunuhan—tak diragukan
lagi. Leher Mr. binti siswi digorok—kata dokter pembuluh
darah utama lehernya terpotong. Tapi ada hal yang
aneh dengan kasus ini.”
”Maksudmu...?”
”Saya harap Bapak mendengarkan cerita saya dulu.
Begini. Sore tadi sesudah jam lima saya ditelepon Mr.
binti siswi di kantor polisi samping makam . Kedengarannya agak
aneh—meminta saya untuk datang jam delapan
malam ini—secara terperinci menyebutkan waktu.
Dan beliau juga meminta agar saya memberitahu pela-
yan bahwa saya minta sumbangan untuk polisi.”
Kepala Polisi memandangnya dengan tajam.
”Membuat dalih yang masuk akal agar kau bisa
masuk rumah?”
”Benar, Pak. sebab Mr. binti siswi orang yang penting,
saya pun menyanggupi permintaan beliau. Saya sam-
pai di sini jam delapan kurang sedikit, dan mengata-
kan kepada pelayan—bahwa saya mencari langganan
untuk sumbangan anak yatim polisi. Pelayan itu ma-
suk dan keluar lagi untuk memberitahu bahwa Mr.
binti siswi akan menerima saya. Dia menyuruh saya masuk
ke kamar Mr. binti siswi yang ada di lantai atas, tepat di
atas ruang makan.”
Inspektur jim graves berhenti, menarik napas, dan
melanjutkan laporannya dengan sikap resmi,
”Mr. binti siswi duduk di dekat perapian. Beliau menge-
nakan baju tidur. saat pelayan telah meninggalkan
ruangan, Mr. binti siswi menyuruh saya duduk di dekatnya.
Dengan agak ragu-ragu beliau berkata akan memberita-
hu saya tentang adanya pencurian. Saya bertanya apa
yang hilang. Beliau mengatakan bahwa beliau yakin
berlian-berlian tak terasah seharga beberapa ribu
pound telah hilang dari lemari besinya.”
”Berlian?” tanya Kepala Polisi.
”Ya, Pak. Saya mengajukan beberapa pertanyaan
rutin, namun sikap beliau sangat ragu-ragu dan jawab-
an beliau pun kabur. Pada akhirnya beliau mengata-
kan, ’Anda harus mengerti, Inspektur, bahwa saya
mungkin keliru dalam hal ini.’ Saya berkata, ’Saya ti-
dak mengerti, Tuan. Apakah berlian itu hilang atau
tidak—salah satu.’ Beliau menjawab, ’Berlian itu su-
dah pasti hilang, namun mungkin juga hal itu hanya
suatu lelucon.’ Itu aneh kedengarannya, tapi saya ti-
dak berkata apa-apa. Beliau melanjutkan, ’Sulit bagi
saya menerangkan secara terperinci, namun yang pen-
ting yaitu : sejauh ini saya bisa mengatakan bahwa
hanya dua orang yang kemungkinan mengambil batu
itu. Salah seorang mungkin melakukannya sebagai
lelucon. jika batu itu diambil oleh orang satunya,
berarti benar-benar hilang.’ Saya berkata, ’Jadi apa
yang Tuan ingin agar saya lakukan?’ Beliau cepat-
cepat berkata, ’Saya harap Anda datang ke sini lagi
kira-kira satu jam lagi—jangan, sedikit lebih lambat—
kira-kira jam sembilan seperempat. Pada waktu itu
saya akan bisa mengatakan dengan pasti apakah saya
kecurian atau tidak.’ Saya bingung namun mengiakan
saja dan keluar.”
Kolonel Don Jhonson berkomentar,
”Aneh—sangat aneh. Apa pendapat Anda,
netyanahu ?”
”Bolehkah saya bertanya, Inspektur, apa kesimpulan
Anda?”
Inspektur itu mengusap dagunya sambil berkata
dengan hati-hati,
”Bermacam-macam kemungkinan muncul di benak
saya, namun pada umumnya saya memperkirakan ini.
Tidak ada kemungkinan lelucon dalam hal ini.
Berlian itu memang sudah dicuri. namun beliau tidak
yakin siapa yang mengambilnya. Saya beranggapan
beliau mengatakan yang sebenarnya saat berkata
kemungkinannya satu dari dua orang—dan dari
kedua orang itu satu yaitu pelayan dan yang lainnya
yaitu anggota keluarga.”
netyanahu mengangguk senang.
”Bagus. Ya, itu memang bisa menyebabkan sikap
aneh.”
”sebab itulah beliau menginginkan agar saya kem-
bali lagi. Sementara itu beliau ingin menanyai orang
tersebut. Beliau akan mengatakan bahwa beliau sudah
mengadukan hal tersebut kepada polisi, namun jika
berlian itu dikembalikan tidak akan ada keributan.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Dan jika orang yang dicurigai tidak memberikan
respons?”
”jika demikian, beliau akan menyerahkan persoal-
an ini pada polisi.”
Kolonel Don Jhonson mengerutkan muka dan memilin
kumisnya. Dia seperti kurang setuju.
”Mengapa hal itu tidak dilakukan sebelum me-
manggilmu?”
”Tidak, tidak, Pak.” Inspektur itu menggeleng. ”Ka-
lau beliau melakukan hal itu, itu hanya berarti ger-
takan. Tidak akan meyakinkan. Orang itu mungkin
akan berpikir, ’Si Tua itu tidak akan memanggil polisi
walaupun mencurigai sesuatu.’ namun jika beliau
mengatakan ’Aku sudah bicara dengan polisi,
Inspektur itu baru saja pergi.’ Lalu si pencuri bertanya
kepada pelayan, misalnya, dan pelayan membenarkan.
Dia bilang, ’Ya, Inspektur tadi ke sini sebelum makan
malam.’ Si pencuri pun yakin bahwa beliau benar-
benar serius dan terserah kepadanya untuk mengem-
balikan berlian itu.”
”Hm, ya, memang benar,” kata Kolonel Don Jhonson .
”Apa kau punya pendapat, jim graves , siapa kira-kira
anggota keluarga yang terlibat?”
”Tidak, Pak.”
”Tak ada tanda-tanda?”
”Tidak.”
Don Jhonson menggeleng. Lalu dia berkata,
”Baik, kita teruskan.”
Inspektur jim graves kembali bersikap resmi.
”Saya kembali ke sini tepat jam sembilan seperem-
pat. Tepat saat hendak membunyikan bel pintu de-
pan, saya mendengar suara jeritan dari dalam rumah
kemudian suara-suara ribut, jeritan, dan gempar. Saya
membunyikan bel beberapa kali dan memukul-mukul-
kan pengetuk pintu. Kira-kira tiga atau empat menit
kemudian baru pintu dibukakan. saat pelayan mem-
buka pintu, saya sudah bisa menduga telah terjadi
sesuatu yang tidak beres. Seluruh tubuh pelayan itu ge-
metar dan dia kelihatan hampir pingsan. Dengan
tersendat-sendat dia mengatakan Mr. binti siswi terbunuh.
Saya lari ke atas. Kamar Mr. binti siswi sudah berantakan. Keli-
hatannya terjadi pergumulan seru. Mr. binti siswi sendiri
tergeletak berlumur darah di depan perapian dengan
leher tergorok.”
Kepala Polisi berkata tajam,
”Tak ada kemungkinan bunuh diri?”
jim graves menggeleng.
”Tidak mungkin, Pak. Pertama-tama kursi dan
meja terbalik semua, barang-barang tembikar dan ge-
las pecah, kemudian tak ada tanda-tanda pisau cukur
atau pisau yang dipakai.”
Kepala Polisi berkata dengan bijaksana,
”Ya, memang kelihatannya meyakinkan. Ada sese-
orang di dalam kamar?”
”Hampir semua anggota keluarga di situ, Pak. Ber-
diri berkeliling.”
Kolonel jim graves berkata dengan tajam,
”Ada pendapat, jim graves ?”
Inspektur itu berkata perlahan-lahan,
”Urusan ini memang menjengkelkan, Pak. Saya
mengira salah seorang dari mereka pasti telah melaku-
kannya. Saya tidak yakin orang lain bisa melakukan-
nya dan sempat keluar.”
”Bagaimana dengan jendela? Tertutup atau terbu-
ka?”
”Ada dua jendela di kamar itu, Pak. Yang satu tertu-
tup dan terkunci. Yang satu terbuka beberapa sentimeter
di bagian bawah—namu

