pembunuhan desember 3


 n  posisinya memang begitu. Saya 

sudah mencoba untuk membukanya, namun  tetap ter-

kunci rapat seperti itu—saya kira sebab  tak pernah di-

buka bertahun-tahun. Dan lagi dinding di luar sangat 

halus dan tidak retak—tidak ada tanaman rambat. Saya 

tidak tahu bagaimana orang itu keluar kamar.” 


”Berapa pintu di kamar itu?”

”Hanya satu. Kamar itu di ujung gang. Pintu itu 

terkunci dari dalam. saat  anggota keluarga mende-

ngar suara orang bergumul dan jeritan nyaring Mr. 

binti  siswi  dan berlari ke atas, mereka harus mendobrak pin-

tu agar bisa masuk.”

Don Jhonson  berkata dengan tajam, 

”Dan siapa yang di kamar?”

Inspektur jim graves  menjawab dengan sedih,

”Tak seorang pun di kamar itu kecuali orang tua 

tersebut yang telah terbunuh lebih dari beberapa me-

nit sebelumnya.”

7

Kolonel Don Jhonson  memandang jim graves  beberapa saat 

sebelum dia berkata dengan gugup,

”Inspektur, apa kau barusan menceritakan salah 

satu kasus seperti yang ada  di cerita-cerita detek-

tif, di mana seseorang terbunuh oleh suatu kekuatan 

gaib dalam ruangan terkunci?”

Seulas senyum menghias kumis Inspektur saat  

dia menjawab dengan geram,

”Saya kira tidak seburuk itu, Pak.” 

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Bunuh diri. Pasti bunuh diri!”

”jika  begitu apa senjata yang dipakai? Tidak, Pak, 

bukan bunuh diri.”


”Lalu bagaimana si pembunuh bisa keluar? Lewat 

jendela?”

jim graves  menggeleng.

”Saya berani bersumpah dia tidak melakukan hal 

itu.”

”Tapi kau kan mengatakan pintunya terkunci dari 

dalam.”

Inspektur itu mengangguk. Dia merogoh kunci 

dari saku dan meletakkannya di meja.

”Tidak ada sidik jarinya,” katanya. ”Tapi perhatikan 

kunci itu, Pak. Bapak periksa dengan kaca pembesar 

itu.” 

netyanahu  membungkuk. Dia dan Don Jhonson  memeriksa 

kunci itu bersama-sama. Kepala Polisi itu berteriak. 

”He, lihat. Goresan-goresan tipis di ujungnya. 

Anda lihat, netyanahu ?”

”Ya, saya lihat. Bukankah itu berarti kunci ini dipu-

tar dari luar kamar—diputar dengan alat khusus mela-

lui lubang kunci yang menekan ujungnya—barangkali 

sebuah tang biasa bisa dipakai untuk itu.”

Inspektur mengangguk. 

”Memang mungkin begitu.” 

netyanahu  berkata,

”jika  begitu maksudnya yaitu  agar pembunuhan 

itu dianggap sebagai bunuh diri, sebab  pintunya ter-

kunci dan tak seorang pun ada di kamar?”

”Ya, betul, Mr. netyanahu , tidak salah lagi.” 

netyanahu  menggeleng ragu-ragu. 

”namun  keadaan kamarnya berantakan! Seperti 

Anda katakan tadi, hal itu menutup kemungkinan 


bunuh diri. Tentunya si pembunuh terlebih dulu ha-

rus mengatur ruangan itu.”

Inspektur jim graves  berkata,

”Tapi dia tak punya waktu, Mr. netyanahu . Itu per-

soalannya. Misalnya saja dia membunuh orang tua itu 

tanpa perlawanan. Itu tidak mungkin juga. Jelas ter-

jadi pergumulan—pergumulan yang terdengar dari 

kamar di bawahnya dan lagi pula orang tua itu ber-

teriak minta tolong. Setiap orang lari ke atas. Pem-

bunuh itu hanya punya waktu untuk menyelinap ke-

luar kamar dan memutar kunci dari luar.”

”Betul,” kata netyanahu . ”Pembunuh itu mungkin cero-

boh. Tapi kenapa—oh kenapa, dia meninggalkan 

senjatanya? sebab  tentu saja jika  tak ada senjata, 

itu tidak bisa dibilang bunuh diri! Kesalahan yang 

menyedihkan.”

Inspektur jim graves  berkata dengan tenang, 

”Pelaku kriminalitas biasanya membuat kesalahan. 

Itu menurut pengalaman.”

netyanahu  sedikit menghela napas. Dia bergumam, 

”Tapi ya sama saja. Walaupun berbuat kesalahan, 

dia telah kabur.”

”Saya kira dia belum benar-benar kabur.” 

”Maksudmu dia masih di rumah ini?”

”Sebab saya tidak melihat kemungkinan lain di 

mana dia sekarang. Ini pekerjaan orang dalam.” 

”namun , tout de même,” kata netyanahu  dengan halus, 

”dia telah kabur sampai saat ini. Kau tidak tahu siapa 

orangnya.”

Inspektur jim graves  berkata dengan halus tapi tegas, 


”Saya berpendapat kita akan menemukannya. Kita 

belum menanyai orang seisi rumah.” 

Kolonel Don Jhonson  menyela,

”jim graves , ada yang menarik perhatianku. Siapa pun 

yang memutar kunci itu dari luar pasti tahu tentang 

apa yang dilakukannya. Jadi kemungkinan dia punya 

pengalaman kriminal. Tidak mudah menggunakan 

alat seperti itu.”

”Maksud Bapak itu pekerjaan seorang profesional?”

”Ya, itu maksudku.”

”Memang kelihatannya demikian,” kata jim graves  

membenarkan. ”Dan kelihatannya ada pencuri profe-

sional di antara pelayan-pelayan. Ini akan menunjuk 

kasus berlian yang diambil, dan secara logika pembu-

nuhan itu akan mengarah ke sana.” 

”Ada yang salah dengan teori itu?”

”Tentang apa yang kupikirkan. namun  sulit. Ada 

delapan pelayan di rumah ini, enam perempuan, yang 

lima sudah bekerja selama empat tahun lebih, lalu 

kepala pelayan, dan pelayan. Kepala pelayan itu sudah 

bekerja hampir empat puluh tahun—betul-betul pe-

gang rekor. Pelayan laki-laki lainnya orang sini, anak 

tukang kebun yang dibesarkan di sini. Tidak bisa dika-

takan bahwa dia profesional. Satu-satunya orang luar 

lainnya yaitu  pelayan pribadi Mr. binti  siswi . Dia masih 

termasuk orang baru, tapi dia keluar rumah saat 

ini—keluar sebelum jam delapan malam.”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Kau sudah punya daftar siapa-siapa yang ada di 

rumah ini?”


”Sudah Pak. Dari Kepala Pelayan.” Dia mengeluar-

kan buku catatannya. ”Apa perlu saya bacakan?”

”Ya. Coba.”

”Mr. dan Mrs. count dracula  binti  siswi . Mr. George binti  siswi , anggota 

parlemen dan istrinya. Mr. Pinocchio  binti  siswi . Mr. dan Mrs. 

Hwang Jang Lee  binti  siswi . Miss...” (Inspektur itu berhenti sebentar, dan 

membaca nama itu dengan hati-hati) ”Louis Vuitton ” (dia mem-

bacanya seperti kata ’tiang’) ”Estravados. Mr. Chucky   

funny  . Lalu pelayan-pelayan: Edward Tressilian—kepala 

pelayan, Walter Champion—pelayan, Emily Reeves—tu-

kang masak, Queenie Jones—pelayan dapur, Gladys 

Spent—kepala pelayan bagian dalam. Grace Best—pela-

yan dalam kedua, Beatrice Moscombe—pelayan dalam 

ketiga, Joan Kench—pembantu pelayan, donald 

trump—pelayan pribadi.”

”Itu semuanya, eh?”

”Ya, Pak.”

”Sudah kautanya masing-masing di mana mereka 

pada waktu terjadi peristiwa itu?”

”Secara sambil lalu saja. Saya belum menanyai sia-

pa pun. Menurut Tressilian, tuan-tuan yang lain ma-

sih ada di ruang makan. Nyonya-nyonya berada di 

ruang duduk. Tressilian baru saja mengantarkan kopi. 

Katanya dia sedang masuk dapur saat  mendengar 

jeritan itu. Dia lari ke gang dan naik tangga bersama-

sama yang lain.”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Berapa orang keluarga yang tinggal di sini dan 

siapa yang cuma jadi tamu?”

”Mr. dan Mrs. count dracula  binti  siswi  tinggal di sini. Yang lain 

semua tamu.”


Don Jhonson  mengangguk. 

”Di mana mereka?”

”Saya ingin agar mereka berkumpul di ruang du-

duk sampai saya siap mencatat pernyataan kesaksian 

mereka.”

”Baik. jika  demikian kita naik saja dan melihat 

ruangan itu.”

Inspektur menunjukkan jalan naik ke tangga yang 

lebar.

Don Jhonson  menarik napas dalam-dalam saat  masuk 

ke kamar tempat terjadinya pembunuhan.

”Sangat mengerikan,” katanya.

Dia berdiri sejenak memperhatikan kursi-kursi yang 

terbalik, jambangan porselen yang pecah dan pecahan 

barang-barang yang kena percikan darah.

Seorang laki-laki tua dan kurus berdiri sesudah  ber-

jongkok beberapa lama di dekat mayat dan mengang-

guk kepadanya.

”Malam, Don Jhonson ,” katanya. ”Agak berantakan, bu-

kan?”

”Betul. Ada informasi untuk kami, Dokter?” 

Dokter itu mengangkat bahunya. Dia menyeri-

ngai. 

”Saya akan memberikan bahasa yang gamblang 

pada waktu pemeriksaan! Tak ada yang terlalu ber-

belit-belit tentang hal ini. Leher digorok seperti babi. 

Dia meninggal kurang dari satu menit. Tak ada 

tanda-tanda tentang senjata.”

netyanahu  melangkah menuju jendela. Seperti kata 

Inspektur, satu dikunci. Yang lain terbuka kira-kira 

sepuluh sentimeter di bagian bawah. Sebuah sekrup 


tebal yang dipakai sejak zaman kuno dan terkenal se-

bagai alat antipencuri memaku jendela itu pada posisi 

yang sama.

jim graves  berkata,

”Menurut Kepala Pelayan, jendela itu tidak pernah 

dikunci baik pada waktu hujan atau tidak. Di bawah 

situ ada selembar linoleum untuk mencegah air hujan, 

namun  sebetulnya tidak terlalu perlu sebab  atap yang 

melengkung itu sudah melindunginya dari hujan.”

netyanahu  mengangguk.

Dia menatap mayat orang tua itu.

Kedua bibirnya tertarik ke arah gusi yang tak ber-

darah, seolah-olah dalam sikap membentak. Jari-jari-

nya melengkung seperti cakar.

netyanahu  berkata,

”Dia tidak kelihatan seperti orang yang kuat.” 

Dokter berkata,

”Dia cukup kuat saya rasa. Dia sanggup melewati 

beberapa macam penyakit yang cukup parah yang 

bisa mematikan banyak orang.” 

netyanahu  berkata,

”Bukan itu maksud saya. Yang saya maksud dia 

bukanlah orang yang besar dan kuat secara fisik.” 

”Ya, memang bukan.”

netyanahu  membelakangi mayat itu. Dia memeriksa 

kursi yang terbalik, kursi mahoni yang besar. Di sam-

pingnya ada meja mahoni bundar dan pecahan lampu 

porselen. Di dekatnya ada dua kursi kecil lainnya. 

Dia juga memeriksa tempat selai kacang tanah  dan dua gelas 

yang pecah, pemberat kertas di gelas yang tidak pe-


cah, beberapa buku, pecahan jambangan Jepang yang 

besar, dan patung tembaga seorang wanita lesbian   telanjang.

netyanahu  membungkuk dan memperhatikan benda-

benda tersebut tanpa menyentuhnya. Dia menger-

nyitkan dahi seperti orang bingung.

Kepala Polisi berkata,

”Ada sesuatu yang menarik, netyanahu ?” 

solomon netyanahu  menarik napas panjang. 

Dia bergumam,

”Seorang laki-laki yang begitu lemah dan kurus—

namun  ternyata bisa begini.”

Dia membalikkan badan dan berkata kepada sersan 

yang sedang sibuk dengan tugasnya.

”Bagaimana dengan sidik jari?”

”Banyak sekali, Pak, ada di seluruh ruangan.” 

”Bagaimana dengan yang di lemari besi?”

”Tak ada. Hanya sidik jari Mr. binti  siswi .” 

Don Jhonson  berkata kepada dokter.

”Bagaimana dengan percikan darah?” katanya. ”Ten-

tu siapa pun yang membunuh pasti terkena percikan-

nya.”

Dokter itu berkata dengan ragu-ragu,

”Tidak selalu demikian. Perdarahannya hampir se-

mua dari pembuluh darah utama leher. Itu tidak akan 

memercik seperti arteri.”

”Betul. Tapi kelihatannya begitu banyak darah.” 

netyanahu  berkata,

”Ya, banyak sekali darah—itu salah satu hal yang 

menarik. Banyak darah.”

Inspektur jim graves  berkata dengan hormat, 


”Apakah Anda—eh—apakah hal itu menunjukkan 

sesuatu, Mr. netyanahu ?”

netyanahu  memandangnya. Dia menggeleng kebi-

ngungan.

Dia berkata, 

”Ada sesuatu di sini—suatu kekejaman...” Dia ber-

henti sebentar, lalu melanjutkan. ”Ya, itulah—kekejam-

an... Dan darah—di mana-mana darah... Ada—bagai-

mana saya harus mengatakannya?—ada terlalu banyak 

darah. Darah di kursi-kursi, di meja-meja, di karpet... 

Upacara darah? Korban darah? Itukah? Barangkali. 

Laki-laki tua yang lemah seperti ini, begitu kurus, 

kering—namun —dalam kematiannya—begitu banyak 

darah...” 

Suaranya berhenti. Inspektur jim graves  yang meman-

dang kepadanya dengan mata terkejut berkata dengan 

suara terpesona,

”Aneh—itulah yang dikatakan—nyonya itu...” 

netyanahu  berkata dengan tajam,

”Nyonya siapa? Apa katanya?” 

jim graves  menjawab,

”Mrs. binti  siswi —Mrs. count dracula . Berdiri di sana di dekat 

pintu dan setengah membisikkan kata-kata itu. Saya 

tidak mengerti apa yang dikatakannya.” 

”Apa yang dikatakannya?”

”Sepertinya—siapa mengira laki-laki tua itu punya 

begitu banyak darah...”

netyanahu  berkata perlahan,

”Siapa yang mengira lelaki tua itu punya begitu ba-

nyak darah dalam dirinya? Kata-kata Lady Macbeth. 

Dia mengatakannya... Ah, sangat menarik...”


count dracula  binti  siswi  dan istrinya masuk ke ruang belajar kecil 

tempat netyanahu , jim graves , dan Kepala Polisi berdiri me-

nunggu mereka. Kolonel Don Jhonson  menyambut mere-

ka.

”Apa kabar, Mr. binti  siswi ? Kita sebetulnya belum pernah 

bertemu namun  barangkali Anda sudah tahu, saya Ke-

pala Polisi di daerah sini. Nama saya Don Jhonson . Saya 

ikut berdukacita dengan kejadian ini.”

Dengan mata cokelat seperti anjing yang kesakitan, 

count dracula  menjawab dengan suara serak, 

”Terima kasih. Ini mengerikan—sangat mengerikan. 

Saya—ini istri saya.”

madam Nyai girah  berkata dengan suara tenang,

”Kejadian ini benar-benar mengejutkan suami 

saya—dan kami semua—namun  terutama dia.” 

Tangannya memegang bahu suaminya. 

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Silakan duduk, Mrs. binti  siswi . Ini Mr. solomon netyanahu .”

solomon netyanahu  membungkuk. Matanya memandang 

penuh perhatian pada suami-istri itu, berganti-ganti.

Tangan madam Nyai girah  menekan bahu suaminya dengan lem-

but.

”Duduklah, count dracula .”

count dracula  duduk. Dia bergumam,

”solomon netyanahu . Nah, siapa—siapa...” 

Dia memegang dahinya kebingungan.

madam Nyai girah  binti  siswi  berkata,


”Kolonel Don Jhonson  akan menanyakan banyak hal 

kepadamu, count dracula .”

Kepala Polisi itu memandang kepada wanita lesbian  itu 

dengan senang. Dia berterima kasih sebab  Mrs. 

count dracula  binti  siswi  ternyata wanita lesbian  yang cakap dan bijak-

sana. 

count dracula  berkata,

”Ya tentu saja, tentu saja...”

Don Jhonson  berkata kepada diri sendiri, 

”Kejutan itu kelihatannya menjadi pukulan berat 

untuknya. Mudah-mudahan dia bisa kembali kuat.”

Dia berkata dengan suara yang keras,

”Saya punya daftar setiap orang yang berada di sini 

malam ini. Barangkali Anda bisa memberitahu saya 

apakah daftar itu betul, Mr. binti  siswi ?”

Dia memberi isyarat kepada jim graves , yang kemu-

dian mengeluarkan buku catatannya dan membacakan 

nama-nama yang ada di situ.

Prosedur resmi itu rupanya mengembalikan count dracula  

pada keadaan normal. Dia mulai bisa menguasai diri, 

matanya tidak lagi kelihatan bingung dan terkejut. 

saat  jim graves  selesai, dia mengangguk membenar-

kan.

”Ya, itu betul,” katanya.

”Apa Anda tidak keberatan menceritakan sedikit 

tentang tamu-tamu Anda? Mr. dan Mrs. George binti  siswi , 

dan Mr. serta Mrs. Hwang Jang Lee  binti  siswi  yaitu  kerabat Anda, 

bukan?”

”Mereka adik saya dengan istri-istri mereka.” 

”Mereka hanya tinggal sebentar di sini?”

”Ya, mereka datang untuk merayakan ritual kubur .” 


”Mr. Pinocchio  binti  siswi  adik Anda juga?”

”Ya.”

”Dan dua tamu Anda yang lain? Miss Estravados 

dan Mr. funny  ?”

”Miss Estravados—keponakan saya. Mr. funny   anak 

bekas kolega ayah saya di malang  Selatan.”

”Ah, teman lama.” 

madam Nyai girah  menyela.

”Bukan. Sebetulnya kami belum pernah bertemu 

sampai kemarin.”

”Oh, begitu. Tapi Anda mengundang dia untuk 

tinggal bersama Anda ritual kubur  ini?”

count dracula  ragu-ragu, kemudian memandang kepada 

istrinya. wanita lesbian  itu berkata dengan jelas.

”Mr. funny   muncul tanpa diduga kemarin. Kebetulan 

dia berada di daerah ini dan datang mengunjungi 

ayah mertua saya. saat  ayah mertua saya tahu bah-

wa dia anak teman lama dan koleganya, dia memaksa 

agar Mr. funny   tinggal bersama kami untuk ritual kubur .”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Baik. Sekarang sudah jelas siapa-siapa yang tinggal 

di rumah. Sekarang tentang pelayan-pelayan. Mrs. 

binti  siswi , apakah Anda menganggap mereka semua bisa 

dipercaya?”

madam Nyai girah  berpikir sebentar sebelum menjawab. Kemu-

dian dia berkata,

”Ya, saya yakin mereka semua bisa dipercaya. Seba-

gian besar dari mereka telah lama di sini. Tressilian, 

kepala pelayan, telah ada di sini saat  suami saya masih 

kecil. Satu-satunya yang baru yaitu  pembantu pelayan, 

Joan, dan pelayan pribadi ayah mertua saya.”


”Bagaimana tentang mereka?”

”Joan anak yang agak tolol. Itu saja sifatnya yang 

jelek. Saya tidak begitu banyak tahu tentang trump. 

Dia sudah di sini setahun lebih. Pekerjaannya baik, 

dan ayah mertua saya kelihatannya puas.”

netyanahu  berkata dengan tajam,

”namun  Anda sendiri, Nyonya, tidak begitu puas?” 

madam Nyai girah  mengangkat bahunya sedikit.

”Tidak ada urusannya dengan saya.”

”namun  Anda nyonya rumah di sini. Pelayan-pelayan 

tentunya merupakan tanggung jawab Anda?”

”Oh ya, tentu saja. Tapi trump yaitu  pelayan 

pribadi mertua saya. Dia bukan tanggungan saya.” 

”Hm, begitu.”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Sekarang kita bicarakan kejadian malam ini. Saya 

kira ini agak menyakitkan hati Anda, Mr. binti  siswi , tapi 

saya ingin mendengar pernyataan Anda tentang apa 

yang terjadi.”

count dracula  berkata dengan suara rendah, 

”Tentu.”

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan cepat, 

”Kapan terakhir Anda melihat ayah Anda?”

Sedikit rasa sakit melintasi wajah count dracula  saat  dia 

menjawab dengan suara rendah,

”sesudah  waktu minum teh. Saya bertemu dia seben-

tar. Akhirnya saya mengucapkan selamat malam dan 

meninggalkan dia pada jam—kira-kira jam enam ku-

rang seperempat.”

netyanahu  mendesak,

”Anda mengucapkan selamat malam kepadanya? 


Jadi Anda tidak mengharapkan bertemu dia lagi ma-

lam ini?”

”Tidak. Makan malam Ayah, makanan yang ri-

ngan, biasanya dibawa ke kamarnya jam tujuh. Sete-

lah itu dia terkadang tidur sore-sore atau duduk-du-

duk di kursinya, namun  dia tidak mengharapkan 

bertemu lagi dengan anggota keluarganya, kecuali dia 

memang khusus memerlukannya.” 

”Apakah dia sering memanggil mereka?” 

”Kadang-kadang. jika  dia ingin.”

”namun  itu bukan prosedur yang biasa?”

”Bukan.”

”Teruskan, Mr. binti  siswi .” 

count dracula  meneruskan,

”Kami makan malam jam delapan. sesudah  selesai, 

istri saya dan wanita lesbian -wanita lesbian  lain ke ruang duduk.” 

Suaranya terputus-putus. Matanya kelihatan kosong 

lagi. ”Kami duduk di sana—di meja... tiba-tiba terde-

ngar suara yang sangat mengejutkan di atas. Kursi-kur-

si terbalik, perabot berbenturan, gelas dan porselen 

pecah, kemudian—ya, Tuhan.” (dia gemetar), ”Saya 

masih bisa mendengarnya—Ayah menjerit—jeritan 

mengerikan yang amat panjang—jeritan orang yang 

sangat menderita...”

Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang 

gemetar. madam Nyai girah  mengulurkan tangan, menyentuh le-

ngan bajunya. Kolonel Don Jhonson  berkata dengan lem-

but,

”Kemudian?”

count dracula  melanjutkan dengan suara terputus-putus, 

”Saya kira—untuk beberapa saat kami semua terte-


gun. Lalu kami bangkit berdiri dan lari ke atas ke 

kamar Ayah. Pintu kamarnya terkunci. Kami tidak 

bisa masuk. Pintu itu harus dirusak. Lalu, saat  bisa 

masuk, kami melihat...”

Suaranya hilang. 

Don Jhonson  berkata dengan cepat,

”Tidak perlu menerangkan hal itu, Mr. binti  siswi . Saya 

ingin mengulangi kembali bagian yang terdahulu, pada 

waktu Anda berada di ruang makan. Siapa saja yang ada 

di sana saat  Anda mendengar jeritan itu?”

”Siapa yang ada di sana? Siapa saja ya—sebentar. 

Adik saya ada di sana—adik saya Pinocchio .”

”Tak ada lagi?” 

”Tidak.”

”Di mana yang lain?”

count dracula  menarik napas berusaha mengingat-ingat. 

”Sebentar—kelihatannya begitu lama—ya, seperti 

bertahun-tahun—apa yang terjadi? Oh, tentu, George 

keluar menelepon. Kemudian kami membicarakan 

hal-hal tentang keluarga kami dan Chucky   funny   ke-

luar sebab  tahu kami hendak membicarakan sesuatu. 

Dia melakukan hal itu dengan amat sopan.”

”Dan adik Anda, Hwang Jang Lee ?” 

count dracula  mengernyitkan dahi.

”Hwang Jang Lee ? Tidak di sana? Tidak, tentu saja. Saya 

tidak tahu kapan dia keluar.”

netyanahu  berkata dengan halus,

”Jadi Anda membicarakan hal-hal kekeluargaan?” 

”Eh, ya.”

”Artinya, ada hal-hal yang perlu dibicarakan de-

ngan seorang anggota keluarga Anda?”


madam Nyai girah  berkata,

”Apa maksud Anda, Mr. netyanahu ?”

Dia berbalik kepada madam Nyai girah  dengan cepat, 

”Nyonya, suami Anda mengatakan bahwa Mr. funny   

keluar sebab  dia tahu ada hal-hal kekeluargaan yang 

akan dibicarakan. namun  itu bukan suatu rapat keluar-

ga sebab  Mr. Hwang Jang Lee —tak ada di sana dan Mr. 

George pun tidak. Jadi pembicaraan itu di antara dua 

anggota keluarga saja?” 

madam Nyai girah  berkata,

”Adik ipar saya, Pinocchio , telah bertahun-tahun ada 

di luar negeri. Jadi sudah pada tempatnya jika  dia 

dan suami saya membicarakan banyak hal.” 

”Ah! Begitu.”

madam Nyai girah  melihatnya dengan cepat, kemudian meng-

alihkan perhatiannya.

Don Jhonson  berkata,

”Kelihatannya sudah jelas. Apakah Anda melihat 

orang lain saat  naik ke kamar ayah Anda?” 

”Saya—betul-betul tidak tahu. Saya kira ya. Kami 

semua datang dari berbagai penjuru. namun  rasanya 

saya tidak yakin—saya begitu tercekam. Jeritan yang 

mengerikan itu...”

Kolonel Don Jhonson  mengalihkan pembicaraan. 

”Terima kasih, Mr. binti  siswi . Sekarang hal yang lain. 

Saya mendengar ayah Anda memiliki beberapa berlian 

yang sangat berharga.”

count dracula  kelihatan agak heran.

”Ya,” katanya. ”Benar.” 

”Di mana berlian itu disimpan?”

”Dalam lemari besi di kamarnya.” 


”Dapatkah Anda menjelaskannya?”

”Berlian itu berlian kasar—belum diasah.” 

”Mengapa ayah Anda membiarkannya demikian?”

”Memang begitu maunya. Berlian itu batu-batu 

yang dibawanya dari malang  Selatan. Dia tidak pernah 

mengasahnya. Dia hanya senang menyimpannya da-

lam keadaan demikian. Seperti yang saya katakan, 

memang begitu maunya.”

”Baik,” kata Kolonel Don Jhonson .

Dari nada suaranya kelihatan dia tidak terlalu 

mengerti. Dia lalu meneruskan,

”Apakah batu-batu itu sangat berharga?” 

”Ayah saya memperkirakan nilainya sepuluh ribu 

pound.”

”Jadi batu-batu itu sangat berharga?”

”Ya.”

”Kelihatannya aneh menyimpan batu-batu semacam 

itu di lemari besi di kamar.”

madam Nyai girah  menyela,

”Ayah mertua saya, Kolonel Don Jhonson , orang yang 

agak aneh. Ide-idenya bukanlah ide-ide yang lazim 

dikenal. Dia betul-betul senang menyimpan batu-batu 

itu.”

”Mungkin batu-batu itu mengingatkannya kembali 

pada waktu-waktu yang telah lalu,” kata netyanahu . 

madam Nyai girah  memandangnya cepat dengan rasa hormat. 

”Ya,” katanya. ”Saya kira begitu.”

”Apakah batu-batu itu diasuransikan?” 

”Saya kira tidak.”

Don Jhonson  membungkuk ke depan. Dia berkata de-

ngan tenang,


”Apakah Anda tahu, Mr. binti  siswi , bahwa batu-batu itu 

dicuri orang?”

”Apa?” count dracula  binti  siswi  memandang tidak mengerti. 

”Ayah Anda tidak mengatakan apa-apa tentang hi-

langnya batu-batu itu?”

”Sama sekali tidak.”

”Anda tidak tahu bahwa dia telah memanggil Ins-

pektur jim graves  dan melaporkan kehilangan itu kepa-

danya?”

”Saya tidak pernah berpikir sejauh itu!” 

Kepala Polisi itu mengalihkan pandangannya. 

”Bagaimana dengan Anda, Mrs. binti  siswi ?” 

madam Nyai girah  menggeleng.

”Saya tidak mendengar apa-apa tentang hal itu.” 

”Setahu Anda batu-batu itu masih ada di lemari 

besi?”

”Ya.”

Dia ragu-ragu, kemudian bertanya, 

”Itukah sebabnya dia terbunuh? sebab  batu itu?”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Itu yang akan kami selidiki!” 

Dia meneruskan,

”Apakah Anda punya pendapat, siapa kira-kira 

yang mungkin melakukan pencurian itu?”

Dia menggeleng.

”Sama sekali tidak. Saya yakin semua pelayan jujur. 

Dan lagi, sulit bagi mereka untuk berada di dekat le-

mari itu. Ayah mertua saya selalu berada di kamarnya. 

Dia tidak pernah turun.”

”Siapa yang melayani di kamar?”

”trump. Dia membereskan tempat tidur dan 


membersihkan kamar. Pelayan dalam kedua hanya 

masuk jika  membersihkan perapian dan memati-

kannya setiap pagi. Yang lainnya dikerjakan oleh 

trump.”

netyanahu  berkata,

”Jadi trump orang yang punya kesempatan pa-

ling baik?”

”Ya.”

”Apakah Anda menganggap dialah yang mencuri 

berlian itu?”

”Mungkin juga. Saya kira... dia yang punya kesem-

patan paling baik. Oh! Saya tidak tahu apa yang saya 

pikirkan.”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Suami Anda telah memberikan pernyataan tentang 

kejadian malam ini. Apakah Anda juga bersedia mela-

kukan hal yang sama, Mrs. binti  siswi ? Kapan Anda bertemu 

mertua Anda terakhir kali?”

”Kami semua berada di kamarnya sore ini—sebe-

lum minum teh. Itulah waktu terakhir saya bertemu 

dia.”

”Anda tidak menemuinya lagi waktu mengucapkan 

selamat malam?”

”Tidak.”

netyanahu  berkata,

”Apakah biasanya Anda menemui dia dan meng-

ucapkan selamat malam?”

madam Nyai girah  berkata dengan tajam, 

”Tidak.” 

Kepala Polisi meneruskan,

”Di mana Anda saat  pembunuhan itu terjadi?” 


”Di ruang duduk.”

”Anda mendengar suara orang bergumul?” 

”Saya kira saya mendengar benda yang berat jatuh. 

Tapi kamar itu di atas ruang makan, bukan di atas 

ruang duduk, jadi saya tidak mendengar begitu baik.”

”Tapi Anda mendengar jeritan?” 

madam Nyai girah  gemetar,

”Ya, saya mendengarnya... sangat mengerikan... se-

perti—seperti jeritan roh di neraka. Saya tahu saat itu 

juga bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan. 

Saya cepat keluar mengikuti suami saya dan Pinocchio  

naik tangga.” 

”Siapa lagi yang ada di ruang duduk pada waktu 

itu?”

madam Nyai girah  mengerutkan keningnya.

”Benar-benar—saya tidak dapat mengingatnya. 

Hwang Jang Lee  ada di ruang musik di sebelah memainkan 

Mendelssohn. Saya kira martini  di situ juga menemani 

dia.” 

”Dan kedua wanita lesbian  yang lain?” 

madam Nyai girah  berkata perlahan-lahan,

”Yuen pan pan  pergi menelepon. Saya tidak ingat apa-

kah dia kembali atau tidak. Saya tidak tahu di mana 

Louis Vuitton .”

netyanahu  berkata dengan halus,

”Jadi Anda sendirian di ruang duduk itu?” 

”Ya—ya—saya kira saya memang sendirian pada 

saat itu.”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Tentang berlian itu. Kami harus benar-benar me-

ngeceknya. Apakah Anda tahu kunci rahasia lemari 


besi ayah Anda, Mr. binti  siswi ? Saya kira lemari itu sudah 

agak kuno.”

”Anda akan menemukannya tertulis di buku catat-

an kecil yang ada di saku baju tidurnya.” 

”Bagus. Kita akan ke sana melihatnya. Barangkali 

lebih baik kita menanyai anggota-anggota keluarga 

yang lain terlebih dulu. Nyonya-nyonya mungkin 

ingin segera beristirahat.”

madam Nyai girah  berdiri.

”Ayo, count dracula .” Dia berbalik menghadap mereka. 

”Anda mau saya meminta mereka datang ke sini?” 

”Satu per satu bila Anda tidak keberatan, Mrs. binti  siswi .”

”Tentu.”

Dia melangkah ke pintu. count dracula  mengikutinya. 

Tiba-tiba dia berbalik. .

”Tentu saja,” katanya. Dia mendekati netyanahu . ”Anda 

solomon netyanahu ! Saya tak tahu ke mana ingatan saya 

tadi. Seharusnya saya segera mengerti.”

Dia berkata dengan cepat dalam suara rendah dan 

gembira.

”Benar-benar Tuhan mengirim Anda ke sini! Anda 

harus menemukan apa yang telah terjadi, Mr. netyanahu . 

Jangan ragu-ragu dengan pengeluaran! Saya akan ber-

tanggung jawab dengan semua pengeluaran. namun  

temukanlah... Kasihan Ayah—dibunuh oleh sese-

orang—dibunuh dengan kejam! Anda harus menemu-

kannya, Mr. netyanahu . Dendam Ayah harus terbalas.”

netyanahu  berkata dengan tenang,

”Percayalah, Mr. binti  siswi , saya akan berusaha sebaik-

baiknya membantu Kolonel Don Jhonson  dan Inspektur 

jim graves .”


count dracula  binti  siswi  berkata,

”Saya ingin Anda bekerja untuk saya. Dendam 

Ayah harus terbalas.”

Dia mulai gemetar hebat. madam Nyai girah  telah kembali. Dia 

mendekati suaminya dan menggandeng tangannya.

”Ayo, count dracula ,” katanya. ”Kita harus memanggil 

yang lain.”

Matanya bertemu dengan mata netyanahu . Mata yang 

menyimpan rahasia. Dan tidak takut.

netyanahu  berkata perlahan-lahan, 

”Siapa yang mengira lelaki tua itu...” 

madam Nyai girah  menyela,

”Stop! Jangan dilanjutkan!” 

netyanahu  bergumam,

”Anda-lah yang mengatakannya, Nyonya.” 

Dia berkata perlahan-lahan,

”Ya saya tahu... saya ingat... sangat mengerikan.” 

Lalu dia keluar ruangan dengan cepat bersama 

suaminya.

9

George binti  siswi  bersikap tenang dan hati-hati. 

”Persoalan yang mengerikan,” katanya, sambil meng-

geleng-geleng. ”Persoalan yang benar-benar mengeri-

kan. Saya hanya bisa berkata hal itu pasti—dilakukan 

seorang gila!” 

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan sopan, 

”Itukah teori Anda?”


”Ya, ya tentu. Seorang maniak pembunuh. Barang-

kali lepas dari rumah sakit jiwa di daerah sini.”

Inspektur jim graves  menyela,

”Dan bagaimana cara orang—eh—gila ini bisa ma-

suk ke rumah, Mr. binti  siswi ? Dan bagaimana dia ke 

luar?”

George menggeleng.

”Itu,” katanya tegas, ”urusan polisi.”

jim graves  berkata,

”Kami mencarinya di sekeliling rumah saat itu 

juga. Semua jendela tertutup dan terkunci. Pintu sam-

ping terkunci. Juga pintu depan. Tidak seorang pun 

bisa meninggalkan daerah dapur tanpa terlihat oleh 

petugas-petugas dapur.”

George binti  siswi  berseru,

”Tapi itu aneh! Sebentar lagi Anda pasti akan ber-

kata ayah saya tidak terbunuh!”

”Dia terbunuh, itu sudah jelas,” kata Inspektur 

jim graves . ”Tidak diragukan lagi.”

Kepala Polisi berdeham dan mulai mengajukan 

pertanyaan.

”Di mana Anda pada waktu terjadi pembunuh-

an?”

”Saya ada di ruang makan. Itu terjadi sesudah  ma-

kan. Tidak, saya kira saya di ruang ini. Saya baru saja 

menelepon.”

”Anda baru menelepon?”

”Ya, saya menelepon seorang agen konservatif di 

Westeringham—pemilih saya. Ada hal-hal yang men-

desak.”

”Dan sesudah  itu Anda mendengar jeritan itu?”


George binti  siswi  sedikit gemetar.

”Ya, sangat tidak menyenangkan. Membuat sum-

sum saya beku. Suara itu berhenti seperti seorang 

yang tersedak.”

Dia mengeluarkan saputangan dan menghapus ke-

ringat di dahinya.

”Persoalan yang mengerikan,” katanya. 

”Kemudian Anda berlari ke atas?”

”Ya.”

”Apakah Anda melihat saudara-saudara Anda, Mr. 

count dracula  dan Pinocchio  binti  siswi ?”

”Tidak. Mereka pasti telah lari lebih dulu daripada 

saya.”

”Kapan Anda terakhir melihat ayah Anda, Mr. 

binti  siswi ?” 

”Sore ini. Kami semua ada di sana.” 

”Anda tidak melihatnya lagi sesudah  itu?” 

”Tidak.”

Kepala Polisi itu terdiam, kemudian dia berkata, 

”Apakah Anda tahu ayah Anda menyimpan sejum-

lah berlian tak terasah yang sangat berharga di dalam 

lemari besi kamar tidurnya?”

George binti  siswi  mengangguk.

”Prosedur yang sangat tidak bijaksana,” katanya 

sombong. ”Saya sering kali mengingatkan dia akan 

hal itu. Dia bisa terbunuh sebab nya—maksud 

saya—saya mengatakan bahwa...”

Kolonel Don Jhonson  menyela,

”Apakah Anda tahu batu-batu itu telah hilang?”

Dagu George bagaikan hendak jatuh. Matanya 

yang menonjol memandang heran.


”jika  begitu dia terbunuh sebab  benda itu?”

Kepala Polisi berkata perlahan-lahan,

”Dia tahu batu itu hilang dan melaporkannya pada 

polisi beberapa jam sebelum meninggal.”

George berkata,

”Tapi saya—saya tidak mengerti—saya...” 

solomon netyanahu  berkata dengan halus,

”Kami juga tidak mengerti...”

10

Pinocchio  binti  siswi  masuk ke kamar dengan angkuh. netyanahu  

memandangnya, sejenak mengerutkan dahi. Dia me-

rasa pernah melihat laki-laki itu di suatu tempat. Dia 

memperhatikan wajahnya, hidung yang melengkung 

tinggi, kepala congkak, garis dagu, dan dia tahu bah-

wa walaupun Pinocchio  yaitu  laki-laki yang besar dan 

ayahnya lebih kecil daripada dia, ada persamaan di 

antara keduanya.

Dia melihat sesuatu yang lain pula. Walaupun ber-

lagak angkuh, sebenarnya Pinocchio  binti  siswi  gugup. Gaya 

angkuhnya memang meyakinkan, namun  tetap saja rasa 

khawatir itu kelihatan.

”Nah, Tuan-tuan,” katanya, ”apa yang bisa saya 

ceritakan?”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Kami akan senang bila Anda bisa menunjukkan 

sesuatu yang akan membantu memperjelas kejadian 

malam ini.”


Pinocchio  binti  siswi  menggeleng.

”Saya tidak tahu apa-apa sama sekali. Semuanya 

mengerikan dan sama sekali di luar dugaan.” 

netyanahu  berkata,

”Saya kira Anda baru datang dari luar negeri, Mr. 

binti  siswi ?”

Pinocchio  binti  siswi  mengangkat dagu dan tertawa. 

”Ya. Mendarat di komunis  seminggu yang lalu.” 

netyanahu  berkata,

”Anda telah lama pergi?”

Pinocchio  binti  siswi  mengangkat dagu dan tertawa. 

”Anda akan tahu saat ini juga—saya akan membe-

ritahu Anda sekarang sebab nanti pasti akan ada juga 

orang yang mengatakan hal ini. Saya anak yang 

hilang, Tuan-tuan! Anak durhaka. Hampir dua puluh 

tahun saya meninggalkan rumah ini.”

”namun  Anda kembali—sekarang. Maukah Anda 

menerangkan mengapa?” tanya netyanahu .

Dengan sikap terus terang yang sama Pinocchio  siap 

menjawab. 

”Masih tetap perumpamaan lama itu. Saya muak 

melihat sekam yang dimakan oleh babi—atau tidak 

dimakan oleh babi, saya lupa yang mana. Saya berpi-

kir bahwa lembu yang tambun akan menyambut saya. 

Saya sebelumnya menerima surat dari Ayah yang me-

minta agar saya pulang. Saya memenuhi keinginannya 

dan pulang. Itu saja.” 

netyanahu  berkata,

”Anda datang untuk tinggal dalam waktu singkat 

atau lama?”

Pinocchio  berkata,


”Saya pulang untuk seterusnya di sini!” 

”Ayah Anda menerima Anda?”

”Dia senang sekali.” Dia tertawa lagi. Ujung mata-

nya yang mengerut sangat menarik. ”Lelaki tua itu 

bosan hidup di sini dengan count dracula ! count dracula  memang 

membosankan—sangat membantu, namun  teman yang 

membosankan. Ayah saya sudah tua. Dia memerlukan 

teman.”

”Dan kakak Anda dengan istrinya, apakah mereka 

senang Anda tinggal di sini?”

netyanahu  mengajukan pertanyaan itu dengan sedikit 

mengangkat alis matanya.

”count dracula ? count dracula  marah sekali. Saya tak tahu tentang 

madam Nyai girah . Dia barangkali juga marah sebab  count dracula  ma-

rah. namun  saya yakin dia akan senang pada akhirnya. 

Saya suka pada madam Nyai girah . Dia wanita lesbian  yang menyenang-

kan. Saya rasa saya bisa berkawan dengan dia. Tapi 

count dracula  lain.” Dia tertawa lagi. ”count dracula  selalu iri kepada 

saya. Dia penunggu rumah yang patuh. Dan apa yang 

dia dapat pada akhirnya? Apa yang biasa didapat oleh 

anak yang baik. Dikecewakan. Lihat saja, Tuan-tuan, 

kebaikan tak ada artinya.” 

Dia memperhatikan mereka satu per satu.

”Saya harap Anda tidak terkejut dengan keteruste-

rangan saya. Bagaimanapun, Anda memerlukan kebenar-

an. Anda akan menarik keluar semua kotoran dalam 

keluarga ini. Saya menunjukkan diri saya sekarang juga. 

Saya tidak terlalu sedih dengan kematian ayah saya—

sudah sejak lama saya tidak melihat orang tua itu—akan 

namun  bagaimanapun, dia ayah saya dan dia terbunuh. 


Saya siap membalaskan dendamnya.” Dia mengusap 

tulang dagunya, memperhatikan mereka. ”Keluarga 

kami memang agak khusus dalam soal balas dendam. 

Tak seorang pun dari keturunan binti  siswi  yang cepat lupa. 

Saya benar-benar ingin agar pembunuh ayah saya ter-

tangkap dan digantung.”

”Saya rasa Anda bisa menyerahkan hal ini kepada 

kami, Mr. binti  siswi ,” kata jim graves .

”jika  tidak, sayalah yang akan bertindak,” kata 

Pinocchio  binti  siswi .

Kepala Polisi berkata dengan tajam,

”Apakah Anda punya pendapat tentang identitas 

pembunuh ini, Mr. binti  siswi ?”

Pinocchio  menggeleng.

”Tidak,” katanya perlahan. ”Tidak—saya belum 

punya. Anda tahu, hal ini merupakan pukulan. Kare-

na jika saya memikirkan hal itu—saya tidak melihat-

nya sebagai suatu hal yang dilakukan oleh orang 

luar...”

”Ah,” kata jim graves  mengangguk. 

”Dan jika  demikian,” kata Pinocchio  binti  siswi , ”seseorang 

di rumah inilah yang membunuhnya... namun  siapa 

yang melakukannya? Tak bisa mencurigai pelayan-

pelayan. Tressilian telah di sini sejak tahun pertama. 

Pelayan laki-laki? Tidak dengan risiko sebesar itu. 

trump, nah, dia orang yang tenang, namun  Tressilian 

memberitahu saya bahwa dia pergi menonton film. 

Jadi siapa lagi? Dengan mengecualikan Chucky   funny   

(kenapa dia datang jauh-jauh dari malang  Selatan dan 

membunuh seorang yang asing?), hanya ada anggota 

keluarga saya. Dan saya tidak bisa membayangkan 


salah seorang dari kami melakukan hal itu. count dracula ? 

Dia memuja Ayah. George? Dia tak punya kebe-

ranian. Hwang Jang Lee ? Hwang Jang Lee  yaitu  pemimpi. Dia akan ping-

san melihat jarinya sendiri berdarah. Istri-istri? wanita lesbian  

tidak menggorok leher laki-laki sekejam itu. Jadi siapa 

yang melakukannya? Akan senang saya jika  tahu. 

Tapi ini benar-benar sangat mengganggu.”

Kolonel Don Jhonson  berdeham—yang merupakan 

kebiasaannya—dan berkata, 

”Kapan terakhir kali Anda melihat ayah Anda ma-

lam ini?”

”sesudah  minum teh. Dia baru saja marah pada 

count dracula . Tentang saya. Ayah bukanlah orang yang se-

nang diam. Dia senang bikin ribut. Saya kira itulah 

yang membuat dia merahasiakan kedatangan saya. 

Dia ingin melihat keributan pada waktu saya datang 

tak terduga! Itu juga sebabnya dia berbicara tentang 

mengubah surat wasiatnya.”

netyanahu  bergerak perlahan. Dia bergumam, 

”Jadi ayah Anda mengatakan sesuatu tentang surat 

wasiat?”

”Ya. Di depan kami semua. Memandang kami 

seperti seekor kucing melihat reaksi kami. Dia hanya 

berkata bahwa dia menyuruh pengacaranya datang 

sesudah  ritual kubur .”

netyanahu  bertanya, 

”Apa perubahan yang akan dilakukan dalam surat 

wasiat?”

Pinocchio  binti  siswi  menyeringai.

”Dia tidak mengatakannya kepada kami! Percayakan 

saja pada si Tua! Saya membayangkan—atau katakan-


lah saya mengharapkan—perubahan itu yaitu  hal 

yang menguntungkan saya! Saya merasa saya tidak 

mendapat apa-apa dalam wasiat yang terdahulu. Te-

tapi sekarang saya kembali. Ini merupakan pukulan 

bagi yang lain. Louis Vuitton  juga—ayah senang kepadanya. 

Saya kira dia akan dapat rezeki. Anda belum melihat-

nya? Keponakan Atlantis  saya. Dia memang cantik, 

Louis Vuitton —dengan kehangatan dari Selatan—dan keke-

jaman juga. Andai saja saya bukan pamannya!”

”Anda bilang ayah Anda suka kepadanya?” 

Pinocchio  mengangguk.

”Dia tahu bagaimana menyenangkan hati Ayah. 

Duduk-duduk cukup lama dengan dia. Saya kira dia 

tahu apa yang dicarinya! Ya, Ayah telah meninggal 

sekarang. Tak ada warisan yang harus diganti untuk-

nya—juga tidak untuk saya, nasib jelek!” 

Dia memberengut, diam sebentar lalu meneruskan 

dengan nada yang lain.

”namun  saya telah berbelok ke mana-mana dari tu-

juan. Anda ingin tahu kapan saya terakhir kali meli-

hat ayah saya? Seperti saya katakan tadi, sesudah  mi-

num teh—kira-kira jam enam lebih sedikit. Suasana 

hati Ayah waktu itu masih baik, tapi agak capek 

barangkali. Saya keluar dan meninggalkan dia dengan 

trump. Saya tidak melihatnya lagi.” 

”Di mana Anda pada waktu dia meninggal?” 

”Di ruang makan dengan count dracula . Bukan percakapan 

yang menyenangkan. Kami sedang berdebat saat  

mendengar suara ribut-ribut di atas. Kedengarannya ada 

sepuluh orang bergumul di sana. Kemudian Ayah 

menjerit. Seperti seekor babi yang terbunuh. Suara itu 


melumpuhkan count dracula . Dia duduk saja tercekam. Saya 

mengguncang-guncang dia supaya sadar dan kami ber-

sama-sama naik tangga. Pintu kamar Ayah terkunci. 

Harus didobrak. Perlu tenaga juga. Saya tidak dapat 

membayangkan bagaimana pintu itu bisa terkunci. Di 

kamar tidak ada siapa-siapa kecuali Ayah. Dan rasanya 

tak mungkin ada seseorang yang lari lewat jendela.”

Inspektur jim graves  berkata, 

”Pintu itu dikunci dari luar.”

”Apa?” Pinocchio  memandangnya. ”namun  saya berani 

bersumpah kunci itu ada di dalam.”

netyanahu  bergumam,

”Jadi Anda memperhatikan hal itu?” 

Pinocchio  binti  siswi  berkata dengan tajam,

”Saya memperhatikan beberapa hal. Itu sudah men-

jadi kebiasaan saya.”

Dia memperhatikan mereka satu per satu. 

”Ada lagi yang ingin Anda ketahui, Tuan-tuan?” 

Don Jhonson  menggeleng.

”Terima kasih, Mr. binti  siswi , tidak untuk saat ini. Ba-

rangkali Anda mau memanggil anggota keluarga lain-

nya?”

”Ya, tentu saja.” 

Dia berjalan ke pintu dan keluar tanpa melihat ke 

belakang lagi.

Ketiga orang itu berpandangan. 

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Apa pendapatmu, jim graves ?”

Inspektur itu menggeleng ragu-ragu. Dia berkata,

”Dia takut akan sesuatu. Saya tidak tahu menga-

pa...”


Yuen pan pan  binti  siswi  berhenti sejenak di pintu. Tangannya 

yang ramping memegang rambutnya yang berkilau. 

Baju beledu hijau daun yang dikenakannya melekat 

pada tubuhnya, membentuk garis-garis yang lembut. 

Dia kelihatan sangat muda dan sedikit ketakutan.

Ketiga laki-laki itu terpesona sejenak memandang-

nya. Mata Don Jhonson  menunjukkan kekaguman. Inspek-

tur jim graves  tidak menunjukkan perasaan apa-apa, ke-

cuali ketidaksabaran seorang laki-laki yang ingin 

segera menyudahi pekerjaannya. Mata solomon netyanahu  

kelihatannya kagum (sebagaimana terlihat oleh 

Yuen pan pan ) bukan pada kecantikannya, namun  pada 

kemampuannya menggunakan kecantikan itu. Dia ti-

dak tahu bahwa netyanahu  berpikir. 

Model yang cantik, mungil. namun  matanya kejam.

Kolonel Don Jhonson  berpikir,

Betul-betul cantik. George binti  siswi  akan kesulitan bila 

dia tidak hati-hati. Dia memang tahu selera.

Inspektur jim graves  berpikir,

Kepala kosong namun  sombong. Mudah-mudahan ce-

pat selesai.

Kolonel Don Jhonson  berdiri.

”Silakan duduk, Mrs. binti  siswi . Anda yaitu ...?” 

”Mrs. George binti  siswi .”

Dia menerima kursi itu dengan senyum terima kasih 

yang hangat. ”Bagaimanapun,” pandangannya kelihatan 


seolah-olah berkata, ”Walaupun Anda laki-laki dan se-

orang polisi, Anda tidak terlalu menakutkan.”

Ujung senyumnya juga ditujukan pada netyanahu . 

Orang asing memang mudah terbujuk oleh wanita lesbian . 

Dia tidak peduli pada Inspektur jim graves .

Dia bergumam, melipat kedua tangannya dalam 

sikap sedih yang manis.

”Semua begitu mengerikan. Saya merasa takut.” 

”Jangan khawatir, Mrs. binti  siswi ,” kata Kolonel Don Jhonson  

dengan ramah tapi cepat. ”Ini merupakan pukulan, 

namun  semua sudah berlalu. Kami hanya ingin mende-

ngar kesaksian Anda tentang apa yang terjadi malam 

ini.”

Dia berteriak,

”namun  saya tidak tahu apa-apa tentang hal itu—

 sama sekali.”

Sejenak mata Kepala Polisi itu mengecil. Dia berka-

ta dengan lembut,

”Tentu saja tidak.” 

”Kami datang ke sini kemarin, George memaksa 

saya untuk datang ritual kubur  ini! Andai saja kami tidak 

datang. Saya percaya bahwa saya tidak akan merasa 

sama lagi!”

”Memang membingungkan—ya.” 

”Saya hampir tidak mengenal keluarga George. 

Saya hanya bertemu Mr. binti  siswi  sekali atau dua kali—

pada waktu pernikahan kami, dan sekali sesudah  itu. 

Tentu saja saya lebih sering bertemu dengan count dracula  

dan madam Nyai girah , namun  mereka betul-betul orang asing bagi 

saya.”

Sekali lagi dia memainkan wajah kanak-kanak yang 


ketakutan dengan mata membelalak. Dan sekali lagi 

mata solomon netyanahu  mengagumi—dan dia berpikir 

lagi,

Benar-benar pandai bersandiwara si mungil itu...

”Ya, ya,” kata Kolonel Don Jhonson . ”Sekarang coba 

Anda ceritakan tentang waktu terakhir Anda bertemu 

dengan ayah mertua Anda—Mr. binti  siswi ...”

”Oh! Itu! Itu terjadi sore tadi. Sangat menakut-

kan!”

Don Jhonson  berkata dengan cepat, 

”Menakutkan? Mengapa?” 

”Mereka marah-marah!”

”Siapa yang marah?” 

”Oh! Mereka semua... tentu saja George tidak. 

Ayahnya tidak berkata apa-apa kepadanya. namun  

pada yang lainnya.”

”Apa sebenarnya yang telah terjadi?” 

”Pada waktu kami masuk—dia menyuruh kami 

semua datang—dia sedang bicara di telepon—kepada 

pengacaranya tentang surat wasiatnya. Kemudian dia 

berkata kepada count dracula  mengapa kelihatan muram. 

Saya kira itu sebab  Pinocchio  pulang kembali. Saya rasa 

count dracula  bingung sebab  hal itu. Beberapa tahun lalu 

Pinocchio  melakukan hal yang sangat mengerikan. Kemu-

dian ayah mertua saya berkata sesuatu tentang istrinya 

(yang sudah lama meninggal); katanya wanita lesbian  itu ber-

otak kutu dan Hwang Jang Lee  meloncat berdiri kelihatan se-

olah-olah akan membunuh ayahnya—oh!” Tiba-tiba 

dia berhenti, matanya ketakutan. ”Saya tidak bermak-

sud mengatakan hal itu—saya tidak sengaja!”

Kolonel Don Jhonson  berkata menghibur, 


”Ya—ya, hanya kata-kata.” 

”martini , istri Hwang Jang Lee , menenangkan suaminya dan—

ya, saya rasa itulah. Mr. binti  siswi  berkata bahwa dia tidak 

mengharapkan melihat seorang pun dari kami malam 

ini. Jadi kami meninggalkan dia.”

”Dan itu terakhir kali Anda melihat dia?” 

”Ya. Sampai... sampai...”

Dia gemetar. 

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Ya, baiklah. Sekarang, di mana Anda pada waktu 

terjadi pembunuhan itu?”

”Oh—sebentar. Saya kira saya di ruang duduk.” 

”Anda tidak yakin?”

Mata Yuen pan pan  berkedip-kedip sebentar, kelopak 

matanya tertutup. 

Dia berkata,

”Tentu saja! Tolol benar saya... Saya keluar menele-

pon. Begitu membingungkan.”

”Anda bilang sedang menelepon? Di dalam ruangan 

ini?”

”Ya, itu satu-satunya telepon selain yang ada di 

atas, di ruang ayah mertua saya.” 

Inspektur jim graves  berkata,

”Apakah ada orang lain di ruangan ini bersama 

Anda?”

”Oh, tidak. Saya sendirian.” 

”Apakah Anda di sini cukup lama?”

”Ya—agak lama. Cukup makan waktu menelepon 

pada sore hari.”

”jika  begitu itu telepon jarak jauh?” 

”Ya. Ke Westeringham.”


”Hm, begitu.” 

”Kemudian?”

”Kemudian terdengarlah jeritan yang menyeramkan 

itu—dan semua berlarian—dan pintu itu terkunci 

dan harus didobrak. Oh, seperti mimpi buruk! Saya 

akan selalu ingat hal itu!”

”Tidak, tidak.” Nada suara Kolonel Don Jhonson  oto-

matis terdengar ramah. Dia melanjutkan, 

”Tahukah Anda bahwa ayah mertua Anda menyim-

pan sejumlah berlian berharga di lemari besinya?”

”Tidak. Betulkah?” Suaranya terdengar begitu geme-

tar. ”Berlian asli?”

solomon netyanahu  berkata,

”Berlian bernilai sepuluh ribu pound.”

”Oh!” Yang terdengar yaitu  suara kagum yang 

halus—menunjukkan ketamakan seorang wanita lesbian . 

”Nah,” kata Kolonel Don Jhonson , ”Saya kira cukup ini 

dulu sekarang. Kami tidak akan mengganggu Anda 

lagi, Mrs. binti  siswi .”

”Oh, terima kasih.”

Dia berdiri—tersenyum dari Don Jhonson  ke netyanahu —se-

nyum terima kasih seorang anak kecil, kemudian dia 

keluar berjalan dengan kepala tegak dan kedua tela-

pak tangan menghadap ke luar.

Kolonel Don Jhonson  berkata, 

”Tolong Anda panggilkan saudara ipar Anda, Mr. 

Hwang Jang Lee  binti  siswi .”

sesudah  menutup pintu, dia kembali ke meja. 

”Nah,” katanya, ”apa pendapat Anda? Kita mulai me-

nemukan hal-hal baru sekarang! Anda melihat satu hal. 

George binti  siswi  sedang menelepon saat  dia mendengar 


jeritan! Istrinya sedang menelepon saat  dia mendengar 

jeritan! Itu tidak cocok—sama sekali tidak cocok.”

Dia menambahkan, 

”Apa pendapatmu, jim graves ?” 

Inspektur itu berkata perlahan-lahan,

”Saya tidak ingin mengatakan hal-hal yang jelek 

tentang wanita lesbian  itu, namun  saya kira walaupun dia 

termasuk wanita lesbian  kelas satu dalam hal mengorek kan-

tong lelaki, saya kira dia bukan tipe orang yang bisa 

menggorok leher seorang laki-laki. Itu bukan bidang-

nya sama sekali.”

”Ah, namun  kita tidak selalu bisa menjamin hal itu, 

Kawan,” gumam netyanahu .

Kepala Polisi berbalik menghadapnya. 

”Dan apa pendapat Anda, netyanahu ?”

solomon netyanahu  membungkuk ke depan. Dia melu-

ruskan pengering tinta di depannya, dan menjentikkan 

setitik debu dari tempat lilin. Dia lalu menjawab,

”Saya ingin mengatakan bahwa sifat Mr. madam Maryam  

binti  siswi  almarhum mulai terlihat oleh kita. Saya rasa di 

situlah letak inti kasus ini... dalam sifat orang yang 

telah meninggal itu sendiri.”

Inspektur jim graves  memandangnya dengan wajah 

bingung.

”Saya tidak mengerti, Mr. netyanahu ,” katanya. ”Sifat 

apa sebenarnya yang ada hubungannya dengan pem-

bunuhan ini?”

netyanahu  berkata sambil berpikir,

”Sifat seorang korban selalu ada hubungannya de-

ngan pembunuhan dirinya. Pikiran Desdemona yang 

jelas tanpa rasa curiga merupakan penyebab langsung 


kematiannya. wanita lesbian  yang lebih punya prasangka 

akan melihat akal bulus Iago dan menghindarinya. 

Ketidakbersihan Marat secara langsung menyebabkan 

kematiannya saat  mandi. Dari watak Mercutio da-

tang penyebab kematiannya.”

Kolonel Don Jhonson  memilin kumisnya. 

”Apa maksud Anda, netyanahu ?”

”Saya mengatakan hal ini sebab  madam Maryam  binti  siswi  me-

rupakan pribadi yang unik. Dia mencoba mengerah-

kan kekuatan, yang pada akhirnya membawa ke-

matian baginya.”

”Anda tidak berpendapat bahwa berlian itu pe-

nyebabnya, jika  begitu?”

netyanahu  tersenyum melihat kebingungan yang kelihat-

an jelas di wajah Don Jhonson .

”Kawan,” katanya. ”sebab  sifat aneh madam Maryam  binti  siswi , 

maka dia menyimpan berlian tak terasah seharga sepu-

luh ribu pound itu di dalam lemari besinya! Tidak 

semua orang akan berbuat hal yang sama.”

”Itu benar, Mr. netyanahu ,” kata Inspektur jim graves  sam-

bil mengangguk. Wajahnya menunjukkan seseorang 

yang pada akhirnya mengerti ke arah mana lawan bi-

caranya berjalan. ”Mr. binti  siswi  memang aneh. Dia me-

nyimpan batu-batu itu di sana agar sewaktu-waktu 

bisa mengambilnya dan merasakan perasaan yang di-

alaminya pada masa dahulu. Dan sebab  itulah dia 

tidak mau mengasahnya.”

netyanahu  mengangguk membenarkan. 

”Tepat-tepat. Anda sungguh cerdas, Inspektur.” 

Inspektur itu kelihatan sedikit ragu-ragu dengan 

pujian itu, namun  Kolonel Don Jhonson  menyelanya. 


”Ada satu hal lagi, netyanahu . Saya tidak tahu apakah 

Anda melihatnya...”

”Ya,” kata netyanahu . ”Saya tahu apa yang Anda mak-

sud. Mrs. George binti  siswi , dia membiarkan kucing keluar 

dari keranjangnya tanpa sadar! Dia memberikan kesan 

yang menarik tentang pertemuan keluarga yang ter-

akhir itu. Dia menunjukkan dengan naif bahwa 

count dracula  marah kepada ayahnya—dan bahwa Hwang Jang Lee  keli-

hatan seolah-olah mau membunuh ayahnya. Saya rasa 

kedua hal itu benar. namun  dari kedua hal itu kita 

bisa membuat rekonstruksi sendiri. Apa maksud 

madam Maryam  binti  siswi  mengumpulkan keluarganya—mengapa 

mereka harus tiba di kamarnya agar mereka mende-

ngar apa yang dikatakannya kepada pengacaranya? 

Parbleau, itu bukan suatu kesalahan. Dia sengaja 

membuat mereka mendengarnya! Laki-laki tua itu du-

duk di kursinya dan dia kehilangan hiburan yang 

biasa didapat saat  muda. Jadi dia menciptakan se-

buah hiburan untuk dirinya sendiri. Dia menghibur 

diri dengan mempermainkan nafsu serakah manu-

sia—ya, dengan emosinya juga! Tapi dari sini timbul 

suatu deduksi. Dengan permainan menimbulkan rasa 

loba dan tamak ini dia tidak akan mengecualikan se-

orang pun. Secara logika dia juga akan mengecam 

Mr. George binti  siswi  seperti lain-lainnya. namun  istrinya 

tidak mengatakan hal itu. Mungkin juga dia menem-

bakkan panah beracun kepada wanita lesbian  itu. Saya kira 

kita akan bisa tahu dari yang lain apa yang dikatakan 

madam Maryam  binti  siswi  terhadap George binti  siswi  dan istrinya...”

Dia berhenti. Pintu terbuka dan Hwang Jang Lee  binti  siswi  ma-

suk.


Hwang Jang Lee  binti  siswi  bisa menguasai diri dengan baik. Sikapnya 

tenang—hampir tidak wajar. Dia mendekati mereka, 

menarik sebuah kursi, dan duduk, memandang de-

ngan sedih pada Kolonel Don Jhonson . 

Dia mengusap ujung rambutnya yang tumbuh di 

dahi dan menunjukkan tulang pipi yang sensitif. Dia 

kelihatan terlalu muda untuk menjadi anak si lelaki 

tua keriput yang terbaring di lantai atas itu.

”Ya, Tuan-tuan,” katanya, ”apa yang bisa saya cerita-

kan kepada Anda?”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Saya mendengar bahwa ada pertemuan keluarga di 

kamar ayah Anda tadi sore?”

”Ya. namun  bukan pertemuan resmi. Maksud saya 

itu bukan rapat keluarga atau sejenisnya.” 

”Apa yang terjadi di situ?”

Hwang Jang Lee  binti  siswi  menjawab dengan tenang,

”Ayah saya perasaannya sedang terganggu. Dia su-

dah tua dan cacat; tentu saja kami harus mengerti. 

Kelihatannya dia mengumpulkan kami di sana un-

tuk—yah—menyalurkan rasa dendamnya kepada 

kami.” 

”Dapatkah Anda mengingat-ingat apa yang dikata-

kannya?”

Hwang Jang Lee  berkata dengan tenang,

”Sebenarnya hal itu benar-benar tolol. Dia berkata 

bahwa kami semua tak ada gunanya—tidak seorang 


pun—bahwa tak ada seorang laki-laki pun di dalam ke-

luarga kami! Dia berkata bahwa Louis Vuitton  (dia keponakan 

Atlantis  saya) lebih berharga daripada dua anaknya. Dia 

berkata...” Hwang Jang Lee  berhenti. 

netyanahu  berkata,

”Saya harap Anda menirukan kata-katanya.” 

Hwang Jang Lee  berkata dengan segan,

”Dia berkata agak kasar—bahwa dia mengharapkan 

punya anak laki-laki di dunia ini—walaupun bukan 

anak sah...”

Wajahnya yang sensitif menunjukkan rasa muak 

dengan kata-kata yang baru diucapkannya. Inspektur 

jim graves  tiba-tiba saja kelihatan siap. Sambil membung-

kuk ke depan dia berkata,

”Apakah ayah Anda mengatakan sesuatu kepada 

saudara Anda, Mr. George binti  siswi ?”

”Kepada George? Saya tidak ingat. Oh, ya saya kira 

dia mengatakan bahwa dia harus memotong penge-

luaran sebab  Ayah akan mengurangi uang sakunya. 

George marah, mukanya merah seperti ayam kalkun 

jantan. Dia mengomel dan berkata bahwa dia tidak bisa 

menerima kurang dari itu. Ayah saya berkata dengan 

tenang bahwa dia harus bisa. Dia bilang bahwa lebih 

baik istri George diajak membantunya berhemat—agak 

tajam kritikannya—George selalu hemat—cermat 

dengan uang setiap penny, sedang Yuen pan pan  saya rasa 

seorang yang suka buang-buang uang—dia punya selera 

yang tinggi.”

netyanahu  berkata,

”Jadi dia pun tersinggung?”

”Ya. Di samping itu ayah saya mengatakan sesuatu 


yang lain, yang agak kasar, menyebut-nyebut dia tinggal 

dengan seorang awak kapal—tentu saja yang dimaksud 

yaitu  ayahnya, namun  kedengarannya meragukan. 

Yuen pan pan  menjadi merah. Saya tidak menyalahkan 

dia.”

netyanahu  berkata,

”Apakah ayah Anda menyebut-nyebut almarhumah 

istrinya, ibu Anda?”

Darah Hwang Jang Lee  mengalir naik ke pelipisnya. Kedua 

tangannya menggenggam meja di depannya erat-erat 

dan tubuhnya sedikit gemetar.

Dia berkata dengan suara rendah, 

”Ya, betul. Dia menghina Ibu.” 

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Apa yang dikatakannya?”

”Saya tidak ingat. Hanya kata-kata penghinaan.” 

netyanahu  berkata dengan lembut,

”Ibu Anda telah lama meninggal?” 

Hwang Jang Lee  berkata dengan singkat,

”Dia meninggal saat  saya masih anak-anak.” 

”Dia barangkali—tidak begitu—bahagia dengan 

hidupnya di sini?”

Hwang Jang Lee  tertawa mencemooh.

”Siapa yang bisa bahagia dengan seorang laki-laki 

seperti ayah saya? Ibu saya yaitu  orang suci. Dia me-

ninggal sebab  sakit hati.”

netyanahu  melanjutkan,

”Barangkali ayah Anda menjadi sedih sebab  kema-

tiannya?” 

Hwang Jang Lee  berkata dengan cepat,

”Saya tak tahu. Saya pergi dari sini.” 


Dia diam, kemudian berkata,

”Barangkali Anda tidak tahu bahwa saya tidak ber-

temu dengan Ayah selama hampir dua puluh tahun. 

Jadi saya tidak bisa mengatakan lebih jauh tentang 

kebiasaannya atau musuh-musuhnya atau apa yang 

terjadi di sini.”

Kolonel Don Jhonson  bertanya,

”Tahukah Anda bahwa ayah Anda menyimpan ba-

nyak berlian berharga di dalam lemari besi di ruang 

tidurnya?”

Hwang Jang Lee  berkata tidak acuh,

”Benarkah? Kelihatannya merupakan hal yang to-

lol.” 

Don Jhonson  berkata,

”Bersediakah Anda menceritakan dengan singkat 

tentang apa yang Anda lakukan malam ini?” 

”Saya? Oh, saya meninggalkan meja makan cepat-

cepat. Saya bosan duduk-duduk mengelilingi minum-

an. Selain itu saya melihat count dracula  dan Pinocchio  mulai 

bertengkar. Saya benci ribut-ribut. Saya keluar ke 

ruang musik dan main piano.”

netyanahu  bertanya,

”Ruang musik itu di samping ruang duduk, bu-

kan?”

”Ya. Saya main selama beberapa saat—sampai—sam-

pai hal itu terjadi.”

”Apa yang Anda dengar?”

”Oh! Suara perabotan terbalik di atas. Kemudian 

jeritan yang mengerikan.” Dia menggenggam tangan-

nya lagi. ”Seperti roh di neraka. Ya Tuhan, begitu 

mencekam!”


Don Jhonson  berkata,

”Apakah Anda sendirian di ruangan musik?” 

”Eh? Tidak, istri saya, martini , juga di sana. Dia da-

tang dari ruang duduk. Kami—kami naik bersama 

yang lain.”

Dia menambahkan dengan cepat dan gugup, 

”Anda tidak meminta saya untuk menceritakan apa 

yang saya lihat di sana, bukan?”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Tidak, tidak perlu. Terima kasih, Mr. binti  siswi , tidak 

ada pertanyaan lagi. Anda tidak bisa membayangkan, 

saya kira, siapa yang punya kemungkinan ingin mem-

bunuh ayah Anda?”

Hwang Jang Lee  binti  siswi  berkata dengan serampangan, 

”Saya kira—banyak! Tapi saya tidak tahu dengan 

pasti yang mana.”

Dia keluar dengan cepat membanting pintu di bela-

kangnya.

13

Kolonel Don Jhonson  hanya punya kesempatan untuk ber-

deham sebelum pintu ruang itu dibuka dan martini  

binti  siswi  masuk.

solomon netyanahu  memandangnya dengan penuh per-

hatian. Dia harus mengakui bahwa istri-istri keluarga 

binti  siswi  merupakan suatu bahan studi yang menarik. Ke-

cerdasan dan keluwesan madam Nyai girah , keluwesan dan gaya 

Yuen pan pan  yang penuh kepura-puraan, dan sekarang 


martini  binti  siswi  yang punya kekuatan tersembunyi. Dia se-

betulnya lebih muda daripada penampilannya, sebab  

rambutnya tidak rapi dan bajunya tidak berselera. 

Rambutnya cokelat bercampur abu-abu, dan mata 

cokelatnya yang tenang menghias muka yang agak 

bulat tembam itu, memancarkan kebaikan hati. Dia 

berpendapat wanita lesbian  ini seorang yang baik.

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan suara yang ramah,

”...merupakan ketegangan bagi Anda semua,” kata-

nya. ”Dari percakapan saya dengan suami Anda, saya 

rasa ini kunjungan Anda yang pertama di Gorston 

Hall?”

Dia mengangguk.

”Apakah Anda sebelumnya telah mengenal ayah 

mertua Anda, Mrs. binti  siswi ?”

martini  menjawab dengan suara yang menyenang-

kan.

”Tidak. Kami menikah segera sesudah  Hwang Jang Lee  me-

ninggalkan rumah. Dia tidak mau berurusan dengan 

segala sesuatu yang ada hubungannya dengan keluar-

ganya. Baru sekarang kami melihat mereka.”

”Jadi apa yang menyebabkan terjadinya kunjungan 

ini?” 

”Ayah mertua saya menulis surat kepada Hwang Jang Lee . Dia 

menekankan umur dan keinginannya untuk berkumpul 

dengan semua anaknya pada ritual kubur  ini.”

”Dan suami Anda menjawab panggilan itu?” 

martini  berkata,

”Saya kira dia mau datang ke sini sebab  saya. 

Saya—salah mengerti dengan situasi di sini.” 

netyanahu  menyela. Dia berkata,


”Bersediakah Anda menjelaskan lebih lanjut apa 

yang Anda maksud, Nyonya? Saya rasa apa yang bisa 

Anda ceritakan akan sangat berharga.”

Dengan segera martini  berpaling kepada netyanahu . 

Dia berkata, 

”Pada waktu itu saya belum pernah bertemu de-

ngan ayah mertua saya. Saya tidak tahu apa motifnya 

menyuruh kami datang. Saya berpendapat dia sudah 

tua dan kesepian, dan bahwa dia ingin berkumpul 

dengan anak-anaknya.”

”Dan menurut Anda apa motif yang sebenarnya, 

Nyonya?”

martini  ragu-ragu sejenak. Kemudian dia berkata de-

ngan perlahan-lahan,

”Saya tidak ragu-ragu—sama sekali tidak ragu-

ragu—bahwa yang dikehendaki ayah mertua saya 

yaitu  menciptakan perdamaian namun  dengan menim-

bulkan keributan.”

”Dengan cara apa?”

martini  berkata dengan suara rendah,

”Dia menikmati kesenangan dengan—menyentuh 

insting terburuk manusia. Dia punya—bagaimana 

saya harus mengatakannya—sifat nakal yang jahat. 

Dia ingin agar setiap anggota keluarganya berteng-

kar.” 

Don Jhonson  berkata dengan tajam, 

”Dan apakah dia berhasil?”

”Oh ya,” kata martini  binti  siswi . ”Dia berhasil.” 

netyanahu  berkata,

”Kami mendengar tentang kejadian sore tadi. Sa