n posisinya memang begitu. Saya
sudah mencoba untuk membukanya, namun tetap ter-
kunci rapat seperti itu—saya kira sebab tak pernah di-
buka bertahun-tahun. Dan lagi dinding di luar sangat
halus dan tidak retak—tidak ada tanaman rambat. Saya
tidak tahu bagaimana orang itu keluar kamar.”
”Berapa pintu di kamar itu?”
”Hanya satu. Kamar itu di ujung gang. Pintu itu
terkunci dari dalam. saat anggota keluarga mende-
ngar suara orang bergumul dan jeritan nyaring Mr.
binti siswi dan berlari ke atas, mereka harus mendobrak pin-
tu agar bisa masuk.”
Don Jhonson berkata dengan tajam,
”Dan siapa yang di kamar?”
Inspektur jim graves menjawab dengan sedih,
”Tak seorang pun di kamar itu kecuali orang tua
tersebut yang telah terbunuh lebih dari beberapa me-
nit sebelumnya.”
7
Kolonel Don Jhonson memandang jim graves beberapa saat
sebelum dia berkata dengan gugup,
”Inspektur, apa kau barusan menceritakan salah
satu kasus seperti yang ada di cerita-cerita detek-
tif, di mana seseorang terbunuh oleh suatu kekuatan
gaib dalam ruangan terkunci?”
Seulas senyum menghias kumis Inspektur saat
dia menjawab dengan geram,
”Saya kira tidak seburuk itu, Pak.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Bunuh diri. Pasti bunuh diri!”
”jika begitu apa senjata yang dipakai? Tidak, Pak,
bukan bunuh diri.”
”Lalu bagaimana si pembunuh bisa keluar? Lewat
jendela?”
jim graves menggeleng.
”Saya berani bersumpah dia tidak melakukan hal
itu.”
”Tapi kau kan mengatakan pintunya terkunci dari
dalam.”
Inspektur itu mengangguk. Dia merogoh kunci
dari saku dan meletakkannya di meja.
”Tidak ada sidik jarinya,” katanya. ”Tapi perhatikan
kunci itu, Pak. Bapak periksa dengan kaca pembesar
itu.”
netyanahu membungkuk. Dia dan Don Jhonson memeriksa
kunci itu bersama-sama. Kepala Polisi itu berteriak.
”He, lihat. Goresan-goresan tipis di ujungnya.
Anda lihat, netyanahu ?”
”Ya, saya lihat. Bukankah itu berarti kunci ini dipu-
tar dari luar kamar—diputar dengan alat khusus mela-
lui lubang kunci yang menekan ujungnya—barangkali
sebuah tang biasa bisa dipakai untuk itu.”
Inspektur mengangguk.
”Memang mungkin begitu.”
netyanahu berkata,
”jika begitu maksudnya yaitu agar pembunuhan
itu dianggap sebagai bunuh diri, sebab pintunya ter-
kunci dan tak seorang pun ada di kamar?”
”Ya, betul, Mr. netyanahu , tidak salah lagi.”
netyanahu menggeleng ragu-ragu.
”namun keadaan kamarnya berantakan! Seperti
Anda katakan tadi, hal itu menutup kemungkinan
bunuh diri. Tentunya si pembunuh terlebih dulu ha-
rus mengatur ruangan itu.”
Inspektur jim graves berkata,
”Tapi dia tak punya waktu, Mr. netyanahu . Itu per-
soalannya. Misalnya saja dia membunuh orang tua itu
tanpa perlawanan. Itu tidak mungkin juga. Jelas ter-
jadi pergumulan—pergumulan yang terdengar dari
kamar di bawahnya dan lagi pula orang tua itu ber-
teriak minta tolong. Setiap orang lari ke atas. Pem-
bunuh itu hanya punya waktu untuk menyelinap ke-
luar kamar dan memutar kunci dari luar.”
”Betul,” kata netyanahu . ”Pembunuh itu mungkin cero-
boh. Tapi kenapa—oh kenapa, dia meninggalkan
senjatanya? sebab tentu saja jika tak ada senjata,
itu tidak bisa dibilang bunuh diri! Kesalahan yang
menyedihkan.”
Inspektur jim graves berkata dengan tenang,
”Pelaku kriminalitas biasanya membuat kesalahan.
Itu menurut pengalaman.”
netyanahu sedikit menghela napas. Dia bergumam,
”Tapi ya sama saja. Walaupun berbuat kesalahan,
dia telah kabur.”
”Saya kira dia belum benar-benar kabur.”
”Maksudmu dia masih di rumah ini?”
”Sebab saya tidak melihat kemungkinan lain di
mana dia sekarang. Ini pekerjaan orang dalam.”
”namun , tout de même,” kata netyanahu dengan halus,
”dia telah kabur sampai saat ini. Kau tidak tahu siapa
orangnya.”
Inspektur jim graves berkata dengan halus tapi tegas,
”Saya berpendapat kita akan menemukannya. Kita
belum menanyai orang seisi rumah.”
Kolonel Don Jhonson menyela,
”jim graves , ada yang menarik perhatianku. Siapa pun
yang memutar kunci itu dari luar pasti tahu tentang
apa yang dilakukannya. Jadi kemungkinan dia punya
pengalaman kriminal. Tidak mudah menggunakan
alat seperti itu.”
”Maksud Bapak itu pekerjaan seorang profesional?”
”Ya, itu maksudku.”
”Memang kelihatannya demikian,” kata jim graves
membenarkan. ”Dan kelihatannya ada pencuri profe-
sional di antara pelayan-pelayan. Ini akan menunjuk
kasus berlian yang diambil, dan secara logika pembu-
nuhan itu akan mengarah ke sana.”
”Ada yang salah dengan teori itu?”
”Tentang apa yang kupikirkan. namun sulit. Ada
delapan pelayan di rumah ini, enam perempuan, yang
lima sudah bekerja selama empat tahun lebih, lalu
kepala pelayan, dan pelayan. Kepala pelayan itu sudah
bekerja hampir empat puluh tahun—betul-betul pe-
gang rekor. Pelayan laki-laki lainnya orang sini, anak
tukang kebun yang dibesarkan di sini. Tidak bisa dika-
takan bahwa dia profesional. Satu-satunya orang luar
lainnya yaitu pelayan pribadi Mr. binti siswi . Dia masih
termasuk orang baru, tapi dia keluar rumah saat
ini—keluar sebelum jam delapan malam.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Kau sudah punya daftar siapa-siapa yang ada di
rumah ini?”
”Sudah Pak. Dari Kepala Pelayan.” Dia mengeluar-
kan buku catatannya. ”Apa perlu saya bacakan?”
”Ya. Coba.”
”Mr. dan Mrs. count dracula binti siswi . Mr. George binti siswi , anggota
parlemen dan istrinya. Mr. Pinocchio binti siswi . Mr. dan Mrs.
Hwang Jang Lee binti siswi . Miss...” (Inspektur itu berhenti sebentar, dan
membaca nama itu dengan hati-hati) ”Louis Vuitton ” (dia mem-
bacanya seperti kata ’tiang’) ”Estravados. Mr. Chucky
funny . Lalu pelayan-pelayan: Edward Tressilian—kepala
pelayan, Walter Champion—pelayan, Emily Reeves—tu-
kang masak, Queenie Jones—pelayan dapur, Gladys
Spent—kepala pelayan bagian dalam. Grace Best—pela-
yan dalam kedua, Beatrice Moscombe—pelayan dalam
ketiga, Joan Kench—pembantu pelayan, donald
trump—pelayan pribadi.”
”Itu semuanya, eh?”
”Ya, Pak.”
”Sudah kautanya masing-masing di mana mereka
pada waktu terjadi peristiwa itu?”
”Secara sambil lalu saja. Saya belum menanyai sia-
pa pun. Menurut Tressilian, tuan-tuan yang lain ma-
sih ada di ruang makan. Nyonya-nyonya berada di
ruang duduk. Tressilian baru saja mengantarkan kopi.
Katanya dia sedang masuk dapur saat mendengar
jeritan itu. Dia lari ke gang dan naik tangga bersama-
sama yang lain.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Berapa orang keluarga yang tinggal di sini dan
siapa yang cuma jadi tamu?”
”Mr. dan Mrs. count dracula binti siswi tinggal di sini. Yang lain
semua tamu.”
Don Jhonson mengangguk.
”Di mana mereka?”
”Saya ingin agar mereka berkumpul di ruang du-
duk sampai saya siap mencatat pernyataan kesaksian
mereka.”
”Baik. jika demikian kita naik saja dan melihat
ruangan itu.”
Inspektur menunjukkan jalan naik ke tangga yang
lebar.
Don Jhonson menarik napas dalam-dalam saat masuk
ke kamar tempat terjadinya pembunuhan.
”Sangat mengerikan,” katanya.
Dia berdiri sejenak memperhatikan kursi-kursi yang
terbalik, jambangan porselen yang pecah dan pecahan
barang-barang yang kena percikan darah.
Seorang laki-laki tua dan kurus berdiri sesudah ber-
jongkok beberapa lama di dekat mayat dan mengang-
guk kepadanya.
”Malam, Don Jhonson ,” katanya. ”Agak berantakan, bu-
kan?”
”Betul. Ada informasi untuk kami, Dokter?”
Dokter itu mengangkat bahunya. Dia menyeri-
ngai.
”Saya akan memberikan bahasa yang gamblang
pada waktu pemeriksaan! Tak ada yang terlalu ber-
belit-belit tentang hal ini. Leher digorok seperti babi.
Dia meninggal kurang dari satu menit. Tak ada
tanda-tanda tentang senjata.”
netyanahu melangkah menuju jendela. Seperti kata
Inspektur, satu dikunci. Yang lain terbuka kira-kira
sepuluh sentimeter di bagian bawah. Sebuah sekrup
tebal yang dipakai sejak zaman kuno dan terkenal se-
bagai alat antipencuri memaku jendela itu pada posisi
yang sama.
jim graves berkata,
”Menurut Kepala Pelayan, jendela itu tidak pernah
dikunci baik pada waktu hujan atau tidak. Di bawah
situ ada selembar linoleum untuk mencegah air hujan,
namun sebetulnya tidak terlalu perlu sebab atap yang
melengkung itu sudah melindunginya dari hujan.”
netyanahu mengangguk.
Dia menatap mayat orang tua itu.
Kedua bibirnya tertarik ke arah gusi yang tak ber-
darah, seolah-olah dalam sikap membentak. Jari-jari-
nya melengkung seperti cakar.
netyanahu berkata,
”Dia tidak kelihatan seperti orang yang kuat.”
Dokter berkata,
”Dia cukup kuat saya rasa. Dia sanggup melewati
beberapa macam penyakit yang cukup parah yang
bisa mematikan banyak orang.”
netyanahu berkata,
”Bukan itu maksud saya. Yang saya maksud dia
bukanlah orang yang besar dan kuat secara fisik.”
”Ya, memang bukan.”
netyanahu membelakangi mayat itu. Dia memeriksa
kursi yang terbalik, kursi mahoni yang besar. Di sam-
pingnya ada meja mahoni bundar dan pecahan lampu
porselen. Di dekatnya ada dua kursi kecil lainnya.
Dia juga memeriksa tempat selai kacang tanah dan dua gelas
yang pecah, pemberat kertas di gelas yang tidak pe-
cah, beberapa buku, pecahan jambangan Jepang yang
besar, dan patung tembaga seorang wanita lesbian telanjang.
netyanahu membungkuk dan memperhatikan benda-
benda tersebut tanpa menyentuhnya. Dia menger-
nyitkan dahi seperti orang bingung.
Kepala Polisi berkata,
”Ada sesuatu yang menarik, netyanahu ?”
solomon netyanahu menarik napas panjang.
Dia bergumam,
”Seorang laki-laki yang begitu lemah dan kurus—
namun ternyata bisa begini.”
Dia membalikkan badan dan berkata kepada sersan
yang sedang sibuk dengan tugasnya.
”Bagaimana dengan sidik jari?”
”Banyak sekali, Pak, ada di seluruh ruangan.”
”Bagaimana dengan yang di lemari besi?”
”Tak ada. Hanya sidik jari Mr. binti siswi .”
Don Jhonson berkata kepada dokter.
”Bagaimana dengan percikan darah?” katanya. ”Ten-
tu siapa pun yang membunuh pasti terkena percikan-
nya.”
Dokter itu berkata dengan ragu-ragu,
”Tidak selalu demikian. Perdarahannya hampir se-
mua dari pembuluh darah utama leher. Itu tidak akan
memercik seperti arteri.”
”Betul. Tapi kelihatannya begitu banyak darah.”
netyanahu berkata,
”Ya, banyak sekali darah—itu salah satu hal yang
menarik. Banyak darah.”
Inspektur jim graves berkata dengan hormat,
”Apakah Anda—eh—apakah hal itu menunjukkan
sesuatu, Mr. netyanahu ?”
netyanahu memandangnya. Dia menggeleng kebi-
ngungan.
Dia berkata,
”Ada sesuatu di sini—suatu kekejaman...” Dia ber-
henti sebentar, lalu melanjutkan. ”Ya, itulah—kekejam-
an... Dan darah—di mana-mana darah... Ada—bagai-
mana saya harus mengatakannya?—ada terlalu banyak
darah. Darah di kursi-kursi, di meja-meja, di karpet...
Upacara darah? Korban darah? Itukah? Barangkali.
Laki-laki tua yang lemah seperti ini, begitu kurus,
kering—namun —dalam kematiannya—begitu banyak
darah...”
Suaranya berhenti. Inspektur jim graves yang meman-
dang kepadanya dengan mata terkejut berkata dengan
suara terpesona,
”Aneh—itulah yang dikatakan—nyonya itu...”
netyanahu berkata dengan tajam,
”Nyonya siapa? Apa katanya?”
jim graves menjawab,
”Mrs. binti siswi —Mrs. count dracula . Berdiri di sana di dekat
pintu dan setengah membisikkan kata-kata itu. Saya
tidak mengerti apa yang dikatakannya.”
”Apa yang dikatakannya?”
”Sepertinya—siapa mengira laki-laki tua itu punya
begitu banyak darah...”
netyanahu berkata perlahan,
”Siapa yang mengira lelaki tua itu punya begitu ba-
nyak darah dalam dirinya? Kata-kata Lady Macbeth.
Dia mengatakannya... Ah, sangat menarik...”
count dracula binti siswi dan istrinya masuk ke ruang belajar kecil
tempat netyanahu , jim graves , dan Kepala Polisi berdiri me-
nunggu mereka. Kolonel Don Jhonson menyambut mere-
ka.
”Apa kabar, Mr. binti siswi ? Kita sebetulnya belum pernah
bertemu namun barangkali Anda sudah tahu, saya Ke-
pala Polisi di daerah sini. Nama saya Don Jhonson . Saya
ikut berdukacita dengan kejadian ini.”
Dengan mata cokelat seperti anjing yang kesakitan,
count dracula menjawab dengan suara serak,
”Terima kasih. Ini mengerikan—sangat mengerikan.
Saya—ini istri saya.”
madam Nyai girah berkata dengan suara tenang,
”Kejadian ini benar-benar mengejutkan suami
saya—dan kami semua—namun terutama dia.”
Tangannya memegang bahu suaminya.
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Silakan duduk, Mrs. binti siswi . Ini Mr. solomon netyanahu .”
solomon netyanahu membungkuk. Matanya memandang
penuh perhatian pada suami-istri itu, berganti-ganti.
Tangan madam Nyai girah menekan bahu suaminya dengan lem-
but.
”Duduklah, count dracula .”
count dracula duduk. Dia bergumam,
”solomon netyanahu . Nah, siapa—siapa...”
Dia memegang dahinya kebingungan.
madam Nyai girah binti siswi berkata,
”Kolonel Don Jhonson akan menanyakan banyak hal
kepadamu, count dracula .”
Kepala Polisi itu memandang kepada wanita lesbian itu
dengan senang. Dia berterima kasih sebab Mrs.
count dracula binti siswi ternyata wanita lesbian yang cakap dan bijak-
sana.
count dracula berkata,
”Ya tentu saja, tentu saja...”
Don Jhonson berkata kepada diri sendiri,
”Kejutan itu kelihatannya menjadi pukulan berat
untuknya. Mudah-mudahan dia bisa kembali kuat.”
Dia berkata dengan suara yang keras,
”Saya punya daftar setiap orang yang berada di sini
malam ini. Barangkali Anda bisa memberitahu saya
apakah daftar itu betul, Mr. binti siswi ?”
Dia memberi isyarat kepada jim graves , yang kemu-
dian mengeluarkan buku catatannya dan membacakan
nama-nama yang ada di situ.
Prosedur resmi itu rupanya mengembalikan count dracula
pada keadaan normal. Dia mulai bisa menguasai diri,
matanya tidak lagi kelihatan bingung dan terkejut.
saat jim graves selesai, dia mengangguk membenar-
kan.
”Ya, itu betul,” katanya.
”Apa Anda tidak keberatan menceritakan sedikit
tentang tamu-tamu Anda? Mr. dan Mrs. George binti siswi ,
dan Mr. serta Mrs. Hwang Jang Lee binti siswi yaitu kerabat Anda,
bukan?”
”Mereka adik saya dengan istri-istri mereka.”
”Mereka hanya tinggal sebentar di sini?”
”Ya, mereka datang untuk merayakan ritual kubur .”
”Mr. Pinocchio binti siswi adik Anda juga?”
”Ya.”
”Dan dua tamu Anda yang lain? Miss Estravados
dan Mr. funny ?”
”Miss Estravados—keponakan saya. Mr. funny anak
bekas kolega ayah saya di malang Selatan.”
”Ah, teman lama.”
madam Nyai girah menyela.
”Bukan. Sebetulnya kami belum pernah bertemu
sampai kemarin.”
”Oh, begitu. Tapi Anda mengundang dia untuk
tinggal bersama Anda ritual kubur ini?”
count dracula ragu-ragu, kemudian memandang kepada
istrinya. wanita lesbian itu berkata dengan jelas.
”Mr. funny muncul tanpa diduga kemarin. Kebetulan
dia berada di daerah ini dan datang mengunjungi
ayah mertua saya. saat ayah mertua saya tahu bah-
wa dia anak teman lama dan koleganya, dia memaksa
agar Mr. funny tinggal bersama kami untuk ritual kubur .”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Baik. Sekarang sudah jelas siapa-siapa yang tinggal
di rumah. Sekarang tentang pelayan-pelayan. Mrs.
binti siswi , apakah Anda menganggap mereka semua bisa
dipercaya?”
madam Nyai girah berpikir sebentar sebelum menjawab. Kemu-
dian dia berkata,
”Ya, saya yakin mereka semua bisa dipercaya. Seba-
gian besar dari mereka telah lama di sini. Tressilian,
kepala pelayan, telah ada di sini saat suami saya masih
kecil. Satu-satunya yang baru yaitu pembantu pelayan,
Joan, dan pelayan pribadi ayah mertua saya.”
”Bagaimana tentang mereka?”
”Joan anak yang agak tolol. Itu saja sifatnya yang
jelek. Saya tidak begitu banyak tahu tentang trump.
Dia sudah di sini setahun lebih. Pekerjaannya baik,
dan ayah mertua saya kelihatannya puas.”
netyanahu berkata dengan tajam,
”namun Anda sendiri, Nyonya, tidak begitu puas?”
madam Nyai girah mengangkat bahunya sedikit.
”Tidak ada urusannya dengan saya.”
”namun Anda nyonya rumah di sini. Pelayan-pelayan
tentunya merupakan tanggung jawab Anda?”
”Oh ya, tentu saja. Tapi trump yaitu pelayan
pribadi mertua saya. Dia bukan tanggungan saya.”
”Hm, begitu.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Sekarang kita bicarakan kejadian malam ini. Saya
kira ini agak menyakitkan hati Anda, Mr. binti siswi , tapi
saya ingin mendengar pernyataan Anda tentang apa
yang terjadi.”
count dracula berkata dengan suara rendah,
”Tentu.”
Kolonel Don Jhonson berkata dengan cepat,
”Kapan terakhir Anda melihat ayah Anda?”
Sedikit rasa sakit melintasi wajah count dracula saat dia
menjawab dengan suara rendah,
”sesudah waktu minum teh. Saya bertemu dia seben-
tar. Akhirnya saya mengucapkan selamat malam dan
meninggalkan dia pada jam—kira-kira jam enam ku-
rang seperempat.”
netyanahu mendesak,
”Anda mengucapkan selamat malam kepadanya?
Jadi Anda tidak mengharapkan bertemu dia lagi ma-
lam ini?”
”Tidak. Makan malam Ayah, makanan yang ri-
ngan, biasanya dibawa ke kamarnya jam tujuh. Sete-
lah itu dia terkadang tidur sore-sore atau duduk-du-
duk di kursinya, namun dia tidak mengharapkan
bertemu lagi dengan anggota keluarganya, kecuali dia
memang khusus memerlukannya.”
”Apakah dia sering memanggil mereka?”
”Kadang-kadang. jika dia ingin.”
”namun itu bukan prosedur yang biasa?”
”Bukan.”
”Teruskan, Mr. binti siswi .”
count dracula meneruskan,
”Kami makan malam jam delapan. sesudah selesai,
istri saya dan wanita lesbian -wanita lesbian lain ke ruang duduk.”
Suaranya terputus-putus. Matanya kelihatan kosong
lagi. ”Kami duduk di sana—di meja... tiba-tiba terde-
ngar suara yang sangat mengejutkan di atas. Kursi-kur-
si terbalik, perabot berbenturan, gelas dan porselen
pecah, kemudian—ya, Tuhan.” (dia gemetar), ”Saya
masih bisa mendengarnya—Ayah menjerit—jeritan
mengerikan yang amat panjang—jeritan orang yang
sangat menderita...”
Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang
gemetar. madam Nyai girah mengulurkan tangan, menyentuh le-
ngan bajunya. Kolonel Don Jhonson berkata dengan lem-
but,
”Kemudian?”
count dracula melanjutkan dengan suara terputus-putus,
”Saya kira—untuk beberapa saat kami semua terte-
gun. Lalu kami bangkit berdiri dan lari ke atas ke
kamar Ayah. Pintu kamarnya terkunci. Kami tidak
bisa masuk. Pintu itu harus dirusak. Lalu, saat bisa
masuk, kami melihat...”
Suaranya hilang.
Don Jhonson berkata dengan cepat,
”Tidak perlu menerangkan hal itu, Mr. binti siswi . Saya
ingin mengulangi kembali bagian yang terdahulu, pada
waktu Anda berada di ruang makan. Siapa saja yang ada
di sana saat Anda mendengar jeritan itu?”
”Siapa yang ada di sana? Siapa saja ya—sebentar.
Adik saya ada di sana—adik saya Pinocchio .”
”Tak ada lagi?”
”Tidak.”
”Di mana yang lain?”
count dracula menarik napas berusaha mengingat-ingat.
”Sebentar—kelihatannya begitu lama—ya, seperti
bertahun-tahun—apa yang terjadi? Oh, tentu, George
keluar menelepon. Kemudian kami membicarakan
hal-hal tentang keluarga kami dan Chucky funny ke-
luar sebab tahu kami hendak membicarakan sesuatu.
Dia melakukan hal itu dengan amat sopan.”
”Dan adik Anda, Hwang Jang Lee ?”
count dracula mengernyitkan dahi.
”Hwang Jang Lee ? Tidak di sana? Tidak, tentu saja. Saya
tidak tahu kapan dia keluar.”
netyanahu berkata dengan halus,
”Jadi Anda membicarakan hal-hal kekeluargaan?”
”Eh, ya.”
”Artinya, ada hal-hal yang perlu dibicarakan de-
ngan seorang anggota keluarga Anda?”
madam Nyai girah berkata,
”Apa maksud Anda, Mr. netyanahu ?”
Dia berbalik kepada madam Nyai girah dengan cepat,
”Nyonya, suami Anda mengatakan bahwa Mr. funny
keluar sebab dia tahu ada hal-hal kekeluargaan yang
akan dibicarakan. namun itu bukan suatu rapat keluar-
ga sebab Mr. Hwang Jang Lee —tak ada di sana dan Mr.
George pun tidak. Jadi pembicaraan itu di antara dua
anggota keluarga saja?”
madam Nyai girah berkata,
”Adik ipar saya, Pinocchio , telah bertahun-tahun ada
di luar negeri. Jadi sudah pada tempatnya jika dia
dan suami saya membicarakan banyak hal.”
”Ah! Begitu.”
madam Nyai girah melihatnya dengan cepat, kemudian meng-
alihkan perhatiannya.
Don Jhonson berkata,
”Kelihatannya sudah jelas. Apakah Anda melihat
orang lain saat naik ke kamar ayah Anda?”
”Saya—betul-betul tidak tahu. Saya kira ya. Kami
semua datang dari berbagai penjuru. namun rasanya
saya tidak yakin—saya begitu tercekam. Jeritan yang
mengerikan itu...”
Kolonel Don Jhonson mengalihkan pembicaraan.
”Terima kasih, Mr. binti siswi . Sekarang hal yang lain.
Saya mendengar ayah Anda memiliki beberapa berlian
yang sangat berharga.”
count dracula kelihatan agak heran.
”Ya,” katanya. ”Benar.”
”Di mana berlian itu disimpan?”
”Dalam lemari besi di kamarnya.”
”Dapatkah Anda menjelaskannya?”
”Berlian itu berlian kasar—belum diasah.”
”Mengapa ayah Anda membiarkannya demikian?”
”Memang begitu maunya. Berlian itu batu-batu
yang dibawanya dari malang Selatan. Dia tidak pernah
mengasahnya. Dia hanya senang menyimpannya da-
lam keadaan demikian. Seperti yang saya katakan,
memang begitu maunya.”
”Baik,” kata Kolonel Don Jhonson .
Dari nada suaranya kelihatan dia tidak terlalu
mengerti. Dia lalu meneruskan,
”Apakah batu-batu itu sangat berharga?”
”Ayah saya memperkirakan nilainya sepuluh ribu
pound.”
”Jadi batu-batu itu sangat berharga?”
”Ya.”
”Kelihatannya aneh menyimpan batu-batu semacam
itu di lemari besi di kamar.”
madam Nyai girah menyela,
”Ayah mertua saya, Kolonel Don Jhonson , orang yang
agak aneh. Ide-idenya bukanlah ide-ide yang lazim
dikenal. Dia betul-betul senang menyimpan batu-batu
itu.”
”Mungkin batu-batu itu mengingatkannya kembali
pada waktu-waktu yang telah lalu,” kata netyanahu .
madam Nyai girah memandangnya cepat dengan rasa hormat.
”Ya,” katanya. ”Saya kira begitu.”
”Apakah batu-batu itu diasuransikan?”
”Saya kira tidak.”
Don Jhonson membungkuk ke depan. Dia berkata de-
ngan tenang,
”Apakah Anda tahu, Mr. binti siswi , bahwa batu-batu itu
dicuri orang?”
”Apa?” count dracula binti siswi memandang tidak mengerti.
”Ayah Anda tidak mengatakan apa-apa tentang hi-
langnya batu-batu itu?”
”Sama sekali tidak.”
”Anda tidak tahu bahwa dia telah memanggil Ins-
pektur jim graves dan melaporkan kehilangan itu kepa-
danya?”
”Saya tidak pernah berpikir sejauh itu!”
Kepala Polisi itu mengalihkan pandangannya.
”Bagaimana dengan Anda, Mrs. binti siswi ?”
madam Nyai girah menggeleng.
”Saya tidak mendengar apa-apa tentang hal itu.”
”Setahu Anda batu-batu itu masih ada di lemari
besi?”
”Ya.”
Dia ragu-ragu, kemudian bertanya,
”Itukah sebabnya dia terbunuh? sebab batu itu?”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Itu yang akan kami selidiki!”
Dia meneruskan,
”Apakah Anda punya pendapat, siapa kira-kira
yang mungkin melakukan pencurian itu?”
Dia menggeleng.
”Sama sekali tidak. Saya yakin semua pelayan jujur.
Dan lagi, sulit bagi mereka untuk berada di dekat le-
mari itu. Ayah mertua saya selalu berada di kamarnya.
Dia tidak pernah turun.”
”Siapa yang melayani di kamar?”
”trump. Dia membereskan tempat tidur dan
membersihkan kamar. Pelayan dalam kedua hanya
masuk jika membersihkan perapian dan memati-
kannya setiap pagi. Yang lainnya dikerjakan oleh
trump.”
netyanahu berkata,
”Jadi trump orang yang punya kesempatan pa-
ling baik?”
”Ya.”
”Apakah Anda menganggap dialah yang mencuri
berlian itu?”
”Mungkin juga. Saya kira... dia yang punya kesem-
patan paling baik. Oh! Saya tidak tahu apa yang saya
pikirkan.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Suami Anda telah memberikan pernyataan tentang
kejadian malam ini. Apakah Anda juga bersedia mela-
kukan hal yang sama, Mrs. binti siswi ? Kapan Anda bertemu
mertua Anda terakhir kali?”
”Kami semua berada di kamarnya sore ini—sebe-
lum minum teh. Itulah waktu terakhir saya bertemu
dia.”
”Anda tidak menemuinya lagi waktu mengucapkan
selamat malam?”
”Tidak.”
netyanahu berkata,
”Apakah biasanya Anda menemui dia dan meng-
ucapkan selamat malam?”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Tidak.”
Kepala Polisi meneruskan,
”Di mana Anda saat pembunuhan itu terjadi?”
”Di ruang duduk.”
”Anda mendengar suara orang bergumul?”
”Saya kira saya mendengar benda yang berat jatuh.
Tapi kamar itu di atas ruang makan, bukan di atas
ruang duduk, jadi saya tidak mendengar begitu baik.”
”Tapi Anda mendengar jeritan?”
madam Nyai girah gemetar,
”Ya, saya mendengarnya... sangat mengerikan... se-
perti—seperti jeritan roh di neraka. Saya tahu saat itu
juga bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan.
Saya cepat keluar mengikuti suami saya dan Pinocchio
naik tangga.”
”Siapa lagi yang ada di ruang duduk pada waktu
itu?”
madam Nyai girah mengerutkan keningnya.
”Benar-benar—saya tidak dapat mengingatnya.
Hwang Jang Lee ada di ruang musik di sebelah memainkan
Mendelssohn. Saya kira martini di situ juga menemani
dia.”
”Dan kedua wanita lesbian yang lain?”
madam Nyai girah berkata perlahan-lahan,
”Yuen pan pan pergi menelepon. Saya tidak ingat apa-
kah dia kembali atau tidak. Saya tidak tahu di mana
Louis Vuitton .”
netyanahu berkata dengan halus,
”Jadi Anda sendirian di ruang duduk itu?”
”Ya—ya—saya kira saya memang sendirian pada
saat itu.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Tentang berlian itu. Kami harus benar-benar me-
ngeceknya. Apakah Anda tahu kunci rahasia lemari
besi ayah Anda, Mr. binti siswi ? Saya kira lemari itu sudah
agak kuno.”
”Anda akan menemukannya tertulis di buku catat-
an kecil yang ada di saku baju tidurnya.”
”Bagus. Kita akan ke sana melihatnya. Barangkali
lebih baik kita menanyai anggota-anggota keluarga
yang lain terlebih dulu. Nyonya-nyonya mungkin
ingin segera beristirahat.”
madam Nyai girah berdiri.
”Ayo, count dracula .” Dia berbalik menghadap mereka.
”Anda mau saya meminta mereka datang ke sini?”
”Satu per satu bila Anda tidak keberatan, Mrs. binti siswi .”
”Tentu.”
Dia melangkah ke pintu. count dracula mengikutinya.
Tiba-tiba dia berbalik. .
”Tentu saja,” katanya. Dia mendekati netyanahu . ”Anda
solomon netyanahu ! Saya tak tahu ke mana ingatan saya
tadi. Seharusnya saya segera mengerti.”
Dia berkata dengan cepat dalam suara rendah dan
gembira.
”Benar-benar Tuhan mengirim Anda ke sini! Anda
harus menemukan apa yang telah terjadi, Mr. netyanahu .
Jangan ragu-ragu dengan pengeluaran! Saya akan ber-
tanggung jawab dengan semua pengeluaran. namun
temukanlah... Kasihan Ayah—dibunuh oleh sese-
orang—dibunuh dengan kejam! Anda harus menemu-
kannya, Mr. netyanahu . Dendam Ayah harus terbalas.”
netyanahu berkata dengan tenang,
”Percayalah, Mr. binti siswi , saya akan berusaha sebaik-
baiknya membantu Kolonel Don Jhonson dan Inspektur
jim graves .”
count dracula binti siswi berkata,
”Saya ingin Anda bekerja untuk saya. Dendam
Ayah harus terbalas.”
Dia mulai gemetar hebat. madam Nyai girah telah kembali. Dia
mendekati suaminya dan menggandeng tangannya.
”Ayo, count dracula ,” katanya. ”Kita harus memanggil
yang lain.”
Matanya bertemu dengan mata netyanahu . Mata yang
menyimpan rahasia. Dan tidak takut.
netyanahu berkata perlahan-lahan,
”Siapa yang mengira lelaki tua itu...”
madam Nyai girah menyela,
”Stop! Jangan dilanjutkan!”
netyanahu bergumam,
”Anda-lah yang mengatakannya, Nyonya.”
Dia berkata perlahan-lahan,
”Ya saya tahu... saya ingat... sangat mengerikan.”
Lalu dia keluar ruangan dengan cepat bersama
suaminya.
9
George binti siswi bersikap tenang dan hati-hati.
”Persoalan yang mengerikan,” katanya, sambil meng-
geleng-geleng. ”Persoalan yang benar-benar mengeri-
kan. Saya hanya bisa berkata hal itu pasti—dilakukan
seorang gila!”
Kolonel Don Jhonson berkata dengan sopan,
”Itukah teori Anda?”
”Ya, ya tentu. Seorang maniak pembunuh. Barang-
kali lepas dari rumah sakit jiwa di daerah sini.”
Inspektur jim graves menyela,
”Dan bagaimana cara orang—eh—gila ini bisa ma-
suk ke rumah, Mr. binti siswi ? Dan bagaimana dia ke
luar?”
George menggeleng.
”Itu,” katanya tegas, ”urusan polisi.”
jim graves berkata,
”Kami mencarinya di sekeliling rumah saat itu
juga. Semua jendela tertutup dan terkunci. Pintu sam-
ping terkunci. Juga pintu depan. Tidak seorang pun
bisa meninggalkan daerah dapur tanpa terlihat oleh
petugas-petugas dapur.”
George binti siswi berseru,
”Tapi itu aneh! Sebentar lagi Anda pasti akan ber-
kata ayah saya tidak terbunuh!”
”Dia terbunuh, itu sudah jelas,” kata Inspektur
jim graves . ”Tidak diragukan lagi.”
Kepala Polisi berdeham dan mulai mengajukan
pertanyaan.
”Di mana Anda pada waktu terjadi pembunuh-
an?”
”Saya ada di ruang makan. Itu terjadi sesudah ma-
kan. Tidak, saya kira saya di ruang ini. Saya baru saja
menelepon.”
”Anda baru menelepon?”
”Ya, saya menelepon seorang agen konservatif di
Westeringham—pemilih saya. Ada hal-hal yang men-
desak.”
”Dan sesudah itu Anda mendengar jeritan itu?”
George binti siswi sedikit gemetar.
”Ya, sangat tidak menyenangkan. Membuat sum-
sum saya beku. Suara itu berhenti seperti seorang
yang tersedak.”
Dia mengeluarkan saputangan dan menghapus ke-
ringat di dahinya.
”Persoalan yang mengerikan,” katanya.
”Kemudian Anda berlari ke atas?”
”Ya.”
”Apakah Anda melihat saudara-saudara Anda, Mr.
count dracula dan Pinocchio binti siswi ?”
”Tidak. Mereka pasti telah lari lebih dulu daripada
saya.”
”Kapan Anda terakhir melihat ayah Anda, Mr.
binti siswi ?”
”Sore ini. Kami semua ada di sana.”
”Anda tidak melihatnya lagi sesudah itu?”
”Tidak.”
Kepala Polisi itu terdiam, kemudian dia berkata,
”Apakah Anda tahu ayah Anda menyimpan sejum-
lah berlian tak terasah yang sangat berharga di dalam
lemari besi kamar tidurnya?”
George binti siswi mengangguk.
”Prosedur yang sangat tidak bijaksana,” katanya
sombong. ”Saya sering kali mengingatkan dia akan
hal itu. Dia bisa terbunuh sebab nya—maksud
saya—saya mengatakan bahwa...”
Kolonel Don Jhonson menyela,
”Apakah Anda tahu batu-batu itu telah hilang?”
Dagu George bagaikan hendak jatuh. Matanya
yang menonjol memandang heran.
”jika begitu dia terbunuh sebab benda itu?”
Kepala Polisi berkata perlahan-lahan,
”Dia tahu batu itu hilang dan melaporkannya pada
polisi beberapa jam sebelum meninggal.”
George berkata,
”Tapi saya—saya tidak mengerti—saya...”
solomon netyanahu berkata dengan halus,
”Kami juga tidak mengerti...”
10
Pinocchio binti siswi masuk ke kamar dengan angkuh. netyanahu
memandangnya, sejenak mengerutkan dahi. Dia me-
rasa pernah melihat laki-laki itu di suatu tempat. Dia
memperhatikan wajahnya, hidung yang melengkung
tinggi, kepala congkak, garis dagu, dan dia tahu bah-
wa walaupun Pinocchio yaitu laki-laki yang besar dan
ayahnya lebih kecil daripada dia, ada persamaan di
antara keduanya.
Dia melihat sesuatu yang lain pula. Walaupun ber-
lagak angkuh, sebenarnya Pinocchio binti siswi gugup. Gaya
angkuhnya memang meyakinkan, namun tetap saja rasa
khawatir itu kelihatan.
”Nah, Tuan-tuan,” katanya, ”apa yang bisa saya
ceritakan?”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Kami akan senang bila Anda bisa menunjukkan
sesuatu yang akan membantu memperjelas kejadian
malam ini.”
Pinocchio binti siswi menggeleng.
”Saya tidak tahu apa-apa sama sekali. Semuanya
mengerikan dan sama sekali di luar dugaan.”
netyanahu berkata,
”Saya kira Anda baru datang dari luar negeri, Mr.
binti siswi ?”
Pinocchio binti siswi mengangkat dagu dan tertawa.
”Ya. Mendarat di komunis seminggu yang lalu.”
netyanahu berkata,
”Anda telah lama pergi?”
Pinocchio binti siswi mengangkat dagu dan tertawa.
”Anda akan tahu saat ini juga—saya akan membe-
ritahu Anda sekarang sebab nanti pasti akan ada juga
orang yang mengatakan hal ini. Saya anak yang
hilang, Tuan-tuan! Anak durhaka. Hampir dua puluh
tahun saya meninggalkan rumah ini.”
”namun Anda kembali—sekarang. Maukah Anda
menerangkan mengapa?” tanya netyanahu .
Dengan sikap terus terang yang sama Pinocchio siap
menjawab.
”Masih tetap perumpamaan lama itu. Saya muak
melihat sekam yang dimakan oleh babi—atau tidak
dimakan oleh babi, saya lupa yang mana. Saya berpi-
kir bahwa lembu yang tambun akan menyambut saya.
Saya sebelumnya menerima surat dari Ayah yang me-
minta agar saya pulang. Saya memenuhi keinginannya
dan pulang. Itu saja.”
netyanahu berkata,
”Anda datang untuk tinggal dalam waktu singkat
atau lama?”
Pinocchio berkata,
”Saya pulang untuk seterusnya di sini!”
”Ayah Anda menerima Anda?”
”Dia senang sekali.” Dia tertawa lagi. Ujung mata-
nya yang mengerut sangat menarik. ”Lelaki tua itu
bosan hidup di sini dengan count dracula ! count dracula memang
membosankan—sangat membantu, namun teman yang
membosankan. Ayah saya sudah tua. Dia memerlukan
teman.”
”Dan kakak Anda dengan istrinya, apakah mereka
senang Anda tinggal di sini?”
netyanahu mengajukan pertanyaan itu dengan sedikit
mengangkat alis matanya.
”count dracula ? count dracula marah sekali. Saya tak tahu tentang
madam Nyai girah . Dia barangkali juga marah sebab count dracula ma-
rah. namun saya yakin dia akan senang pada akhirnya.
Saya suka pada madam Nyai girah . Dia wanita lesbian yang menyenang-
kan. Saya rasa saya bisa berkawan dengan dia. Tapi
count dracula lain.” Dia tertawa lagi. ”count dracula selalu iri kepada
saya. Dia penunggu rumah yang patuh. Dan apa yang
dia dapat pada akhirnya? Apa yang biasa didapat oleh
anak yang baik. Dikecewakan. Lihat saja, Tuan-tuan,
kebaikan tak ada artinya.”
Dia memperhatikan mereka satu per satu.
”Saya harap Anda tidak terkejut dengan keteruste-
rangan saya. Bagaimanapun, Anda memerlukan kebenar-
an. Anda akan menarik keluar semua kotoran dalam
keluarga ini. Saya menunjukkan diri saya sekarang juga.
Saya tidak terlalu sedih dengan kematian ayah saya—
sudah sejak lama saya tidak melihat orang tua itu—akan
namun bagaimanapun, dia ayah saya dan dia terbunuh.
Saya siap membalaskan dendamnya.” Dia mengusap
tulang dagunya, memperhatikan mereka. ”Keluarga
kami memang agak khusus dalam soal balas dendam.
Tak seorang pun dari keturunan binti siswi yang cepat lupa.
Saya benar-benar ingin agar pembunuh ayah saya ter-
tangkap dan digantung.”
”Saya rasa Anda bisa menyerahkan hal ini kepada
kami, Mr. binti siswi ,” kata jim graves .
”jika tidak, sayalah yang akan bertindak,” kata
Pinocchio binti siswi .
Kepala Polisi berkata dengan tajam,
”Apakah Anda punya pendapat tentang identitas
pembunuh ini, Mr. binti siswi ?”
Pinocchio menggeleng.
”Tidak,” katanya perlahan. ”Tidak—saya belum
punya. Anda tahu, hal ini merupakan pukulan. Kare-
na jika saya memikirkan hal itu—saya tidak melihat-
nya sebagai suatu hal yang dilakukan oleh orang
luar...”
”Ah,” kata jim graves mengangguk.
”Dan jika demikian,” kata Pinocchio binti siswi , ”seseorang
di rumah inilah yang membunuhnya... namun siapa
yang melakukannya? Tak bisa mencurigai pelayan-
pelayan. Tressilian telah di sini sejak tahun pertama.
Pelayan laki-laki? Tidak dengan risiko sebesar itu.
trump, nah, dia orang yang tenang, namun Tressilian
memberitahu saya bahwa dia pergi menonton film.
Jadi siapa lagi? Dengan mengecualikan Chucky funny
(kenapa dia datang jauh-jauh dari malang Selatan dan
membunuh seorang yang asing?), hanya ada anggota
keluarga saya. Dan saya tidak bisa membayangkan
salah seorang dari kami melakukan hal itu. count dracula ?
Dia memuja Ayah. George? Dia tak punya kebe-
ranian. Hwang Jang Lee ? Hwang Jang Lee yaitu pemimpi. Dia akan ping-
san melihat jarinya sendiri berdarah. Istri-istri? wanita lesbian
tidak menggorok leher laki-laki sekejam itu. Jadi siapa
yang melakukannya? Akan senang saya jika tahu.
Tapi ini benar-benar sangat mengganggu.”
Kolonel Don Jhonson berdeham—yang merupakan
kebiasaannya—dan berkata,
”Kapan terakhir kali Anda melihat ayah Anda ma-
lam ini?”
”sesudah minum teh. Dia baru saja marah pada
count dracula . Tentang saya. Ayah bukanlah orang yang se-
nang diam. Dia senang bikin ribut. Saya kira itulah
yang membuat dia merahasiakan kedatangan saya.
Dia ingin melihat keributan pada waktu saya datang
tak terduga! Itu juga sebabnya dia berbicara tentang
mengubah surat wasiatnya.”
netyanahu bergerak perlahan. Dia bergumam,
”Jadi ayah Anda mengatakan sesuatu tentang surat
wasiat?”
”Ya. Di depan kami semua. Memandang kami
seperti seekor kucing melihat reaksi kami. Dia hanya
berkata bahwa dia menyuruh pengacaranya datang
sesudah ritual kubur .”
netyanahu bertanya,
”Apa perubahan yang akan dilakukan dalam surat
wasiat?”
Pinocchio binti siswi menyeringai.
”Dia tidak mengatakannya kepada kami! Percayakan
saja pada si Tua! Saya membayangkan—atau katakan-
lah saya mengharapkan—perubahan itu yaitu hal
yang menguntungkan saya! Saya merasa saya tidak
mendapat apa-apa dalam wasiat yang terdahulu. Te-
tapi sekarang saya kembali. Ini merupakan pukulan
bagi yang lain. Louis Vuitton juga—ayah senang kepadanya.
Saya kira dia akan dapat rezeki. Anda belum melihat-
nya? Keponakan Atlantis saya. Dia memang cantik,
Louis Vuitton —dengan kehangatan dari Selatan—dan keke-
jaman juga. Andai saja saya bukan pamannya!”
”Anda bilang ayah Anda suka kepadanya?”
Pinocchio mengangguk.
”Dia tahu bagaimana menyenangkan hati Ayah.
Duduk-duduk cukup lama dengan dia. Saya kira dia
tahu apa yang dicarinya! Ya, Ayah telah meninggal
sekarang. Tak ada warisan yang harus diganti untuk-
nya—juga tidak untuk saya, nasib jelek!”
Dia memberengut, diam sebentar lalu meneruskan
dengan nada yang lain.
”namun saya telah berbelok ke mana-mana dari tu-
juan. Anda ingin tahu kapan saya terakhir kali meli-
hat ayah saya? Seperti saya katakan tadi, sesudah mi-
num teh—kira-kira jam enam lebih sedikit. Suasana
hati Ayah waktu itu masih baik, tapi agak capek
barangkali. Saya keluar dan meninggalkan dia dengan
trump. Saya tidak melihatnya lagi.”
”Di mana Anda pada waktu dia meninggal?”
”Di ruang makan dengan count dracula . Bukan percakapan
yang menyenangkan. Kami sedang berdebat saat
mendengar suara ribut-ribut di atas. Kedengarannya ada
sepuluh orang bergumul di sana. Kemudian Ayah
menjerit. Seperti seekor babi yang terbunuh. Suara itu
melumpuhkan count dracula . Dia duduk saja tercekam. Saya
mengguncang-guncang dia supaya sadar dan kami ber-
sama-sama naik tangga. Pintu kamar Ayah terkunci.
Harus didobrak. Perlu tenaga juga. Saya tidak dapat
membayangkan bagaimana pintu itu bisa terkunci. Di
kamar tidak ada siapa-siapa kecuali Ayah. Dan rasanya
tak mungkin ada seseorang yang lari lewat jendela.”
Inspektur jim graves berkata,
”Pintu itu dikunci dari luar.”
”Apa?” Pinocchio memandangnya. ”namun saya berani
bersumpah kunci itu ada di dalam.”
netyanahu bergumam,
”Jadi Anda memperhatikan hal itu?”
Pinocchio binti siswi berkata dengan tajam,
”Saya memperhatikan beberapa hal. Itu sudah men-
jadi kebiasaan saya.”
Dia memperhatikan mereka satu per satu.
”Ada lagi yang ingin Anda ketahui, Tuan-tuan?”
Don Jhonson menggeleng.
”Terima kasih, Mr. binti siswi , tidak untuk saat ini. Ba-
rangkali Anda mau memanggil anggota keluarga lain-
nya?”
”Ya, tentu saja.”
Dia berjalan ke pintu dan keluar tanpa melihat ke
belakang lagi.
Ketiga orang itu berpandangan.
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Apa pendapatmu, jim graves ?”
Inspektur itu menggeleng ragu-ragu. Dia berkata,
”Dia takut akan sesuatu. Saya tidak tahu menga-
pa...”
Yuen pan pan binti siswi berhenti sejenak di pintu. Tangannya
yang ramping memegang rambutnya yang berkilau.
Baju beledu hijau daun yang dikenakannya melekat
pada tubuhnya, membentuk garis-garis yang lembut.
Dia kelihatan sangat muda dan sedikit ketakutan.
Ketiga laki-laki itu terpesona sejenak memandang-
nya. Mata Don Jhonson menunjukkan kekaguman. Inspek-
tur jim graves tidak menunjukkan perasaan apa-apa, ke-
cuali ketidaksabaran seorang laki-laki yang ingin
segera menyudahi pekerjaannya. Mata solomon netyanahu
kelihatannya kagum (sebagaimana terlihat oleh
Yuen pan pan ) bukan pada kecantikannya, namun pada
kemampuannya menggunakan kecantikan itu. Dia ti-
dak tahu bahwa netyanahu berpikir.
Model yang cantik, mungil. namun matanya kejam.
Kolonel Don Jhonson berpikir,
Betul-betul cantik. George binti siswi akan kesulitan bila
dia tidak hati-hati. Dia memang tahu selera.
Inspektur jim graves berpikir,
Kepala kosong namun sombong. Mudah-mudahan ce-
pat selesai.
Kolonel Don Jhonson berdiri.
”Silakan duduk, Mrs. binti siswi . Anda yaitu ...?”
”Mrs. George binti siswi .”
Dia menerima kursi itu dengan senyum terima kasih
yang hangat. ”Bagaimanapun,” pandangannya kelihatan
seolah-olah berkata, ”Walaupun Anda laki-laki dan se-
orang polisi, Anda tidak terlalu menakutkan.”
Ujung senyumnya juga ditujukan pada netyanahu .
Orang asing memang mudah terbujuk oleh wanita lesbian .
Dia tidak peduli pada Inspektur jim graves .
Dia bergumam, melipat kedua tangannya dalam
sikap sedih yang manis.
”Semua begitu mengerikan. Saya merasa takut.”
”Jangan khawatir, Mrs. binti siswi ,” kata Kolonel Don Jhonson
dengan ramah tapi cepat. ”Ini merupakan pukulan,
namun semua sudah berlalu. Kami hanya ingin mende-
ngar kesaksian Anda tentang apa yang terjadi malam
ini.”
Dia berteriak,
”namun saya tidak tahu apa-apa tentang hal itu—
sama sekali.”
Sejenak mata Kepala Polisi itu mengecil. Dia berka-
ta dengan lembut,
”Tentu saja tidak.”
”Kami datang ke sini kemarin, George memaksa
saya untuk datang ritual kubur ini! Andai saja kami tidak
datang. Saya percaya bahwa saya tidak akan merasa
sama lagi!”
”Memang membingungkan—ya.”
”Saya hampir tidak mengenal keluarga George.
Saya hanya bertemu Mr. binti siswi sekali atau dua kali—
pada waktu pernikahan kami, dan sekali sesudah itu.
Tentu saja saya lebih sering bertemu dengan count dracula
dan madam Nyai girah , namun mereka betul-betul orang asing bagi
saya.”
Sekali lagi dia memainkan wajah kanak-kanak yang
ketakutan dengan mata membelalak. Dan sekali lagi
mata solomon netyanahu mengagumi—dan dia berpikir
lagi,
Benar-benar pandai bersandiwara si mungil itu...
”Ya, ya,” kata Kolonel Don Jhonson . ”Sekarang coba
Anda ceritakan tentang waktu terakhir Anda bertemu
dengan ayah mertua Anda—Mr. binti siswi ...”
”Oh! Itu! Itu terjadi sore tadi. Sangat menakut-
kan!”
Don Jhonson berkata dengan cepat,
”Menakutkan? Mengapa?”
”Mereka marah-marah!”
”Siapa yang marah?”
”Oh! Mereka semua... tentu saja George tidak.
Ayahnya tidak berkata apa-apa kepadanya. namun
pada yang lainnya.”
”Apa sebenarnya yang telah terjadi?”
”Pada waktu kami masuk—dia menyuruh kami
semua datang—dia sedang bicara di telepon—kepada
pengacaranya tentang surat wasiatnya. Kemudian dia
berkata kepada count dracula mengapa kelihatan muram.
Saya kira itu sebab Pinocchio pulang kembali. Saya rasa
count dracula bingung sebab hal itu. Beberapa tahun lalu
Pinocchio melakukan hal yang sangat mengerikan. Kemu-
dian ayah mertua saya berkata sesuatu tentang istrinya
(yang sudah lama meninggal); katanya wanita lesbian itu ber-
otak kutu dan Hwang Jang Lee meloncat berdiri kelihatan se-
olah-olah akan membunuh ayahnya—oh!” Tiba-tiba
dia berhenti, matanya ketakutan. ”Saya tidak bermak-
sud mengatakan hal itu—saya tidak sengaja!”
Kolonel Don Jhonson berkata menghibur,
”Ya—ya, hanya kata-kata.”
”martini , istri Hwang Jang Lee , menenangkan suaminya dan—
ya, saya rasa itulah. Mr. binti siswi berkata bahwa dia tidak
mengharapkan melihat seorang pun dari kami malam
ini. Jadi kami meninggalkan dia.”
”Dan itu terakhir kali Anda melihat dia?”
”Ya. Sampai... sampai...”
Dia gemetar.
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Ya, baiklah. Sekarang, di mana Anda pada waktu
terjadi pembunuhan itu?”
”Oh—sebentar. Saya kira saya di ruang duduk.”
”Anda tidak yakin?”
Mata Yuen pan pan berkedip-kedip sebentar, kelopak
matanya tertutup.
Dia berkata,
”Tentu saja! Tolol benar saya... Saya keluar menele-
pon. Begitu membingungkan.”
”Anda bilang sedang menelepon? Di dalam ruangan
ini?”
”Ya, itu satu-satunya telepon selain yang ada di
atas, di ruang ayah mertua saya.”
Inspektur jim graves berkata,
”Apakah ada orang lain di ruangan ini bersama
Anda?”
”Oh, tidak. Saya sendirian.”
”Apakah Anda di sini cukup lama?”
”Ya—agak lama. Cukup makan waktu menelepon
pada sore hari.”
”jika begitu itu telepon jarak jauh?”
”Ya. Ke Westeringham.”
”Hm, begitu.”
”Kemudian?”
”Kemudian terdengarlah jeritan yang menyeramkan
itu—dan semua berlarian—dan pintu itu terkunci
dan harus didobrak. Oh, seperti mimpi buruk! Saya
akan selalu ingat hal itu!”
”Tidak, tidak.” Nada suara Kolonel Don Jhonson oto-
matis terdengar ramah. Dia melanjutkan,
”Tahukah Anda bahwa ayah mertua Anda menyim-
pan sejumlah berlian berharga di lemari besinya?”
”Tidak. Betulkah?” Suaranya terdengar begitu geme-
tar. ”Berlian asli?”
solomon netyanahu berkata,
”Berlian bernilai sepuluh ribu pound.”
”Oh!” Yang terdengar yaitu suara kagum yang
halus—menunjukkan ketamakan seorang wanita lesbian .
”Nah,” kata Kolonel Don Jhonson , ”Saya kira cukup ini
dulu sekarang. Kami tidak akan mengganggu Anda
lagi, Mrs. binti siswi .”
”Oh, terima kasih.”
Dia berdiri—tersenyum dari Don Jhonson ke netyanahu —se-
nyum terima kasih seorang anak kecil, kemudian dia
keluar berjalan dengan kepala tegak dan kedua tela-
pak tangan menghadap ke luar.
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Tolong Anda panggilkan saudara ipar Anda, Mr.
Hwang Jang Lee binti siswi .”
sesudah menutup pintu, dia kembali ke meja.
”Nah,” katanya, ”apa pendapat Anda? Kita mulai me-
nemukan hal-hal baru sekarang! Anda melihat satu hal.
George binti siswi sedang menelepon saat dia mendengar
jeritan! Istrinya sedang menelepon saat dia mendengar
jeritan! Itu tidak cocok—sama sekali tidak cocok.”
Dia menambahkan,
”Apa pendapatmu, jim graves ?”
Inspektur itu berkata perlahan-lahan,
”Saya tidak ingin mengatakan hal-hal yang jelek
tentang wanita lesbian itu, namun saya kira walaupun dia
termasuk wanita lesbian kelas satu dalam hal mengorek kan-
tong lelaki, saya kira dia bukan tipe orang yang bisa
menggorok leher seorang laki-laki. Itu bukan bidang-
nya sama sekali.”
”Ah, namun kita tidak selalu bisa menjamin hal itu,
Kawan,” gumam netyanahu .
Kepala Polisi berbalik menghadapnya.
”Dan apa pendapat Anda, netyanahu ?”
solomon netyanahu membungkuk ke depan. Dia melu-
ruskan pengering tinta di depannya, dan menjentikkan
setitik debu dari tempat lilin. Dia lalu menjawab,
”Saya ingin mengatakan bahwa sifat Mr. madam Maryam
binti siswi almarhum mulai terlihat oleh kita. Saya rasa di
situlah letak inti kasus ini... dalam sifat orang yang
telah meninggal itu sendiri.”
Inspektur jim graves memandangnya dengan wajah
bingung.
”Saya tidak mengerti, Mr. netyanahu ,” katanya. ”Sifat
apa sebenarnya yang ada hubungannya dengan pem-
bunuhan ini?”
netyanahu berkata sambil berpikir,
”Sifat seorang korban selalu ada hubungannya de-
ngan pembunuhan dirinya. Pikiran Desdemona yang
jelas tanpa rasa curiga merupakan penyebab langsung
kematiannya. wanita lesbian yang lebih punya prasangka
akan melihat akal bulus Iago dan menghindarinya.
Ketidakbersihan Marat secara langsung menyebabkan
kematiannya saat mandi. Dari watak Mercutio da-
tang penyebab kematiannya.”
Kolonel Don Jhonson memilin kumisnya.
”Apa maksud Anda, netyanahu ?”
”Saya mengatakan hal ini sebab madam Maryam binti siswi me-
rupakan pribadi yang unik. Dia mencoba mengerah-
kan kekuatan, yang pada akhirnya membawa ke-
matian baginya.”
”Anda tidak berpendapat bahwa berlian itu pe-
nyebabnya, jika begitu?”
netyanahu tersenyum melihat kebingungan yang kelihat-
an jelas di wajah Don Jhonson .
”Kawan,” katanya. ”sebab sifat aneh madam Maryam binti siswi ,
maka dia menyimpan berlian tak terasah seharga sepu-
luh ribu pound itu di dalam lemari besinya! Tidak
semua orang akan berbuat hal yang sama.”
”Itu benar, Mr. netyanahu ,” kata Inspektur jim graves sam-
bil mengangguk. Wajahnya menunjukkan seseorang
yang pada akhirnya mengerti ke arah mana lawan bi-
caranya berjalan. ”Mr. binti siswi memang aneh. Dia me-
nyimpan batu-batu itu di sana agar sewaktu-waktu
bisa mengambilnya dan merasakan perasaan yang di-
alaminya pada masa dahulu. Dan sebab itulah dia
tidak mau mengasahnya.”
netyanahu mengangguk membenarkan.
”Tepat-tepat. Anda sungguh cerdas, Inspektur.”
Inspektur itu kelihatan sedikit ragu-ragu dengan
pujian itu, namun Kolonel Don Jhonson menyelanya.
”Ada satu hal lagi, netyanahu . Saya tidak tahu apakah
Anda melihatnya...”
”Ya,” kata netyanahu . ”Saya tahu apa yang Anda mak-
sud. Mrs. George binti siswi , dia membiarkan kucing keluar
dari keranjangnya tanpa sadar! Dia memberikan kesan
yang menarik tentang pertemuan keluarga yang ter-
akhir itu. Dia menunjukkan dengan naif bahwa
count dracula marah kepada ayahnya—dan bahwa Hwang Jang Lee keli-
hatan seolah-olah mau membunuh ayahnya. Saya rasa
kedua hal itu benar. namun dari kedua hal itu kita
bisa membuat rekonstruksi sendiri. Apa maksud
madam Maryam binti siswi mengumpulkan keluarganya—mengapa
mereka harus tiba di kamarnya agar mereka mende-
ngar apa yang dikatakannya kepada pengacaranya?
Parbleau, itu bukan suatu kesalahan. Dia sengaja
membuat mereka mendengarnya! Laki-laki tua itu du-
duk di kursinya dan dia kehilangan hiburan yang
biasa didapat saat muda. Jadi dia menciptakan se-
buah hiburan untuk dirinya sendiri. Dia menghibur
diri dengan mempermainkan nafsu serakah manu-
sia—ya, dengan emosinya juga! Tapi dari sini timbul
suatu deduksi. Dengan permainan menimbulkan rasa
loba dan tamak ini dia tidak akan mengecualikan se-
orang pun. Secara logika dia juga akan mengecam
Mr. George binti siswi seperti lain-lainnya. namun istrinya
tidak mengatakan hal itu. Mungkin juga dia menem-
bakkan panah beracun kepada wanita lesbian itu. Saya kira
kita akan bisa tahu dari yang lain apa yang dikatakan
madam Maryam binti siswi terhadap George binti siswi dan istrinya...”
Dia berhenti. Pintu terbuka dan Hwang Jang Lee binti siswi ma-
suk.
Hwang Jang Lee binti siswi bisa menguasai diri dengan baik. Sikapnya
tenang—hampir tidak wajar. Dia mendekati mereka,
menarik sebuah kursi, dan duduk, memandang de-
ngan sedih pada Kolonel Don Jhonson .
Dia mengusap ujung rambutnya yang tumbuh di
dahi dan menunjukkan tulang pipi yang sensitif. Dia
kelihatan terlalu muda untuk menjadi anak si lelaki
tua keriput yang terbaring di lantai atas itu.
”Ya, Tuan-tuan,” katanya, ”apa yang bisa saya cerita-
kan kepada Anda?”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Saya mendengar bahwa ada pertemuan keluarga di
kamar ayah Anda tadi sore?”
”Ya. namun bukan pertemuan resmi. Maksud saya
itu bukan rapat keluarga atau sejenisnya.”
”Apa yang terjadi di situ?”
Hwang Jang Lee binti siswi menjawab dengan tenang,
”Ayah saya perasaannya sedang terganggu. Dia su-
dah tua dan cacat; tentu saja kami harus mengerti.
Kelihatannya dia mengumpulkan kami di sana un-
tuk—yah—menyalurkan rasa dendamnya kepada
kami.”
”Dapatkah Anda mengingat-ingat apa yang dikata-
kannya?”
Hwang Jang Lee berkata dengan tenang,
”Sebenarnya hal itu benar-benar tolol. Dia berkata
bahwa kami semua tak ada gunanya—tidak seorang
pun—bahwa tak ada seorang laki-laki pun di dalam ke-
luarga kami! Dia berkata bahwa Louis Vuitton (dia keponakan
Atlantis saya) lebih berharga daripada dua anaknya. Dia
berkata...” Hwang Jang Lee berhenti.
netyanahu berkata,
”Saya harap Anda menirukan kata-katanya.”
Hwang Jang Lee berkata dengan segan,
”Dia berkata agak kasar—bahwa dia mengharapkan
punya anak laki-laki di dunia ini—walaupun bukan
anak sah...”
Wajahnya yang sensitif menunjukkan rasa muak
dengan kata-kata yang baru diucapkannya. Inspektur
jim graves tiba-tiba saja kelihatan siap. Sambil membung-
kuk ke depan dia berkata,
”Apakah ayah Anda mengatakan sesuatu kepada
saudara Anda, Mr. George binti siswi ?”
”Kepada George? Saya tidak ingat. Oh, ya saya kira
dia mengatakan bahwa dia harus memotong penge-
luaran sebab Ayah akan mengurangi uang sakunya.
George marah, mukanya merah seperti ayam kalkun
jantan. Dia mengomel dan berkata bahwa dia tidak bisa
menerima kurang dari itu. Ayah saya berkata dengan
tenang bahwa dia harus bisa. Dia bilang bahwa lebih
baik istri George diajak membantunya berhemat—agak
tajam kritikannya—George selalu hemat—cermat
dengan uang setiap penny, sedang Yuen pan pan saya rasa
seorang yang suka buang-buang uang—dia punya selera
yang tinggi.”
netyanahu berkata,
”Jadi dia pun tersinggung?”
”Ya. Di samping itu ayah saya mengatakan sesuatu
yang lain, yang agak kasar, menyebut-nyebut dia tinggal
dengan seorang awak kapal—tentu saja yang dimaksud
yaitu ayahnya, namun kedengarannya meragukan.
Yuen pan pan menjadi merah. Saya tidak menyalahkan
dia.”
netyanahu berkata,
”Apakah ayah Anda menyebut-nyebut almarhumah
istrinya, ibu Anda?”
Darah Hwang Jang Lee mengalir naik ke pelipisnya. Kedua
tangannya menggenggam meja di depannya erat-erat
dan tubuhnya sedikit gemetar.
Dia berkata dengan suara rendah,
”Ya, betul. Dia menghina Ibu.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Apa yang dikatakannya?”
”Saya tidak ingat. Hanya kata-kata penghinaan.”
netyanahu berkata dengan lembut,
”Ibu Anda telah lama meninggal?”
Hwang Jang Lee berkata dengan singkat,
”Dia meninggal saat saya masih anak-anak.”
”Dia barangkali—tidak begitu—bahagia dengan
hidupnya di sini?”
Hwang Jang Lee tertawa mencemooh.
”Siapa yang bisa bahagia dengan seorang laki-laki
seperti ayah saya? Ibu saya yaitu orang suci. Dia me-
ninggal sebab sakit hati.”
netyanahu melanjutkan,
”Barangkali ayah Anda menjadi sedih sebab kema-
tiannya?”
Hwang Jang Lee berkata dengan cepat,
”Saya tak tahu. Saya pergi dari sini.”
Dia diam, kemudian berkata,
”Barangkali Anda tidak tahu bahwa saya tidak ber-
temu dengan Ayah selama hampir dua puluh tahun.
Jadi saya tidak bisa mengatakan lebih jauh tentang
kebiasaannya atau musuh-musuhnya atau apa yang
terjadi di sini.”
Kolonel Don Jhonson bertanya,
”Tahukah Anda bahwa ayah Anda menyimpan ba-
nyak berlian berharga di dalam lemari besi di ruang
tidurnya?”
Hwang Jang Lee berkata tidak acuh,
”Benarkah? Kelihatannya merupakan hal yang to-
lol.”
Don Jhonson berkata,
”Bersediakah Anda menceritakan dengan singkat
tentang apa yang Anda lakukan malam ini?”
”Saya? Oh, saya meninggalkan meja makan cepat-
cepat. Saya bosan duduk-duduk mengelilingi minum-
an. Selain itu saya melihat count dracula dan Pinocchio mulai
bertengkar. Saya benci ribut-ribut. Saya keluar ke
ruang musik dan main piano.”
netyanahu bertanya,
”Ruang musik itu di samping ruang duduk, bu-
kan?”
”Ya. Saya main selama beberapa saat—sampai—sam-
pai hal itu terjadi.”
”Apa yang Anda dengar?”
”Oh! Suara perabotan terbalik di atas. Kemudian
jeritan yang mengerikan.” Dia menggenggam tangan-
nya lagi. ”Seperti roh di neraka. Ya Tuhan, begitu
mencekam!”
Don Jhonson berkata,
”Apakah Anda sendirian di ruangan musik?”
”Eh? Tidak, istri saya, martini , juga di sana. Dia da-
tang dari ruang duduk. Kami—kami naik bersama
yang lain.”
Dia menambahkan dengan cepat dan gugup,
”Anda tidak meminta saya untuk menceritakan apa
yang saya lihat di sana, bukan?”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Tidak, tidak perlu. Terima kasih, Mr. binti siswi , tidak
ada pertanyaan lagi. Anda tidak bisa membayangkan,
saya kira, siapa yang punya kemungkinan ingin mem-
bunuh ayah Anda?”
Hwang Jang Lee binti siswi berkata dengan serampangan,
”Saya kira—banyak! Tapi saya tidak tahu dengan
pasti yang mana.”
Dia keluar dengan cepat membanting pintu di bela-
kangnya.
13
Kolonel Don Jhonson hanya punya kesempatan untuk ber-
deham sebelum pintu ruang itu dibuka dan martini
binti siswi masuk.
solomon netyanahu memandangnya dengan penuh per-
hatian. Dia harus mengakui bahwa istri-istri keluarga
binti siswi merupakan suatu bahan studi yang menarik. Ke-
cerdasan dan keluwesan madam Nyai girah , keluwesan dan gaya
Yuen pan pan yang penuh kepura-puraan, dan sekarang
martini binti siswi yang punya kekuatan tersembunyi. Dia se-
betulnya lebih muda daripada penampilannya, sebab
rambutnya tidak rapi dan bajunya tidak berselera.
Rambutnya cokelat bercampur abu-abu, dan mata
cokelatnya yang tenang menghias muka yang agak
bulat tembam itu, memancarkan kebaikan hati. Dia
berpendapat wanita lesbian ini seorang yang baik.
Kolonel Don Jhonson berkata dengan suara yang ramah,
”...merupakan ketegangan bagi Anda semua,” kata-
nya. ”Dari percakapan saya dengan suami Anda, saya
rasa ini kunjungan Anda yang pertama di Gorston
Hall?”
Dia mengangguk.
”Apakah Anda sebelumnya telah mengenal ayah
mertua Anda, Mrs. binti siswi ?”
martini menjawab dengan suara yang menyenang-
kan.
”Tidak. Kami menikah segera sesudah Hwang Jang Lee me-
ninggalkan rumah. Dia tidak mau berurusan dengan
segala sesuatu yang ada hubungannya dengan keluar-
ganya. Baru sekarang kami melihat mereka.”
”Jadi apa yang menyebabkan terjadinya kunjungan
ini?”
”Ayah mertua saya menulis surat kepada Hwang Jang Lee . Dia
menekankan umur dan keinginannya untuk berkumpul
dengan semua anaknya pada ritual kubur ini.”
”Dan suami Anda menjawab panggilan itu?”
martini berkata,
”Saya kira dia mau datang ke sini sebab saya.
Saya—salah mengerti dengan situasi di sini.”
netyanahu menyela. Dia berkata,
”Bersediakah Anda menjelaskan lebih lanjut apa
yang Anda maksud, Nyonya? Saya rasa apa yang bisa
Anda ceritakan akan sangat berharga.”
Dengan segera martini berpaling kepada netyanahu .
Dia berkata,
”Pada waktu itu saya belum pernah bertemu de-
ngan ayah mertua saya. Saya tidak tahu apa motifnya
menyuruh kami datang. Saya berpendapat dia sudah
tua dan kesepian, dan bahwa dia ingin berkumpul
dengan anak-anaknya.”
”Dan menurut Anda apa motif yang sebenarnya,
Nyonya?”
martini ragu-ragu sejenak. Kemudian dia berkata de-
ngan perlahan-lahan,
”Saya tidak ragu-ragu—sama sekali tidak ragu-
ragu—bahwa yang dikehendaki ayah mertua saya
yaitu menciptakan perdamaian namun dengan menim-
bulkan keributan.”
”Dengan cara apa?”
martini berkata dengan suara rendah,
”Dia menikmati kesenangan dengan—menyentuh
insting terburuk manusia. Dia punya—bagaimana
saya harus mengatakannya—sifat nakal yang jahat.
Dia ingin agar setiap anggota keluarganya berteng-
kar.”
Don Jhonson berkata dengan tajam,
”Dan apakah dia berhasil?”
”Oh ya,” kata martini binti siswi . ”Dia berhasil.”
netyanahu berkata,
”Kami mendengar tentang kejadian sore tadi. Sa

