pembunuhan desember 5


 an kematian kakeknya. 

Anda setuju?”

”Ya, benar.”

”Memang ada kemungkinan bahwa dia memotong 

lehernya dalam suatu pergumulan namun  kelihatannya 

kok kurang tepat. Pertama-tama sebab  mereka saling 

menyukai dan wanita lesbian   itu belum cukup lama di sini 

untuk menyatakan ketidaksenangannya. Kelihatannya 

tidak mungkin Miss Estravados terlibat dalam krimi-

nalitas ini—kecuali jika  Anda mendebat bahwa me-

motong leher seorang laki-laki memang ’tidak komunis ’ 

sifatnya, seperti yang dikatakan oleh kawan Anda, 

Mrs. George.” 

”Jangan mengatakan dia kawan saya,” kata netyanahu  

cepat-cepat. ”Atau Anda ingin agar saya mengatakan 

bahwa Miss Estravados yaitu  kawan Anda. Dia 

mengatakan Anda tampan!”


netyanahu  senang melihat sikap resmi Inspektur itu 

berubah. Polisi itu menjadi merah wajahnya. netyanahu  

memandangnya dengan senang.

Dia lalu berkata dengan nada suara kepingin, 

”Kumis Anda benar-benar hebat... Apakah Anda 

memakai minyak tertentu?”

”Minyak? Ya Tuhan, tidak!” 

”Jadi pakai apa?”

”Pakai apa? Tidak pakai apa-apa. Tumbuh begitu 

saja.”

netyanahu  menarik napas.

”Anda memang beruntung.” Dia mengelus kumis-

nya sendiri yang teratur dan rapi, lalu menarik napas 

dalam-dalam. ”Bagaimanapun mahal biayanya,” kata-

nya bergumam, ”mengembalikan warna asal memang 

mengurangi kualitas rambut.”

Inspektur jim graves  yang tidak tertarik kepada soal-

soal seperti itu meneruskan dengan sikap tenang,

”Dengan mempertimbangkan motif kriminalitas, 

saya kira kita bisa mengesampingkan Mr. funny  . Me-

mang ada kemungkinan bahwa terjadi sesuatu antara 

ayahnya dan Mr. binti  siswi  yang merugikan ayahnya, tapi 

saya tidak yakin akan hal itu. Sikap funny   terlalu ri-

ngan dan tidak menunjukkan rasa khawatir saat  dia 

menceritakan tentang hal itu. Dia begitu yakin—dan 

saya kira kita tidak akan menemukan apa-apa di 

sini.”

”Saya rasa juga tidak,” kata netyanahu . 

”Dan ada satu orang lagi yang akan mendapat ke-

untungan bila Mr. binti  siswi  tidak meninggal. Anaknya, 

Pinocchio . Memang benar bahwa dia mendapatkan se-


suatu dalam surat wasiat itu, namun  saya tidak yakin 

bahwa dia mengetahui fakta itu. Dan tentu saja saya 

tidak yakin dengan hal ini! Kesan saya Pinocchio  benar-

benar kehilangan warisan pada waktu dia pergi dari 

sini. namun  dengan pulang, dia dalam posisi yang 

menguntungkan sebab  mendapat tempat istimewa! 

Dia akan menerima keuntungan dengan surat warisan 

baru. Dan dia tidak akan berlaku tolol untuk mem-

bunuhnya pada saat itu. Sebenarnya, seperti kita 

ketahui, dia memang tidak melakukan pembunuhan 

itu. Nah, Anda lihat bahwa analisis kita semakin ber-

tambah maju dengan menyisihkan beberapa orang.”

”Betul. Sebentar lagi tak ada yang tertinggal!” 

jim graves  menyeringai.

”Kita belum sejauh itu! Kita masih punya George 

binti  siswi  dan istrinya, serta Hwang Jang Lee  binti  siswi  dan Mrs. Hwang Jang Lee . 

Mereka semua memperoleh keuntungan dengan kema-

tian itu, dan setahu saya George binti  siswi  memang sedang 

membutuhkan uang. Lebih-lebih ayahnya mengancam 

akan mengurangi uang sokongannya. Jadi George binti  siswi  

memang punya motif dan kesempatan!”

”Teruskan,” kata netyanahu .

”Dan kita punya Mrs. George! Suka uang seperti 

kucing suka susu, dan saya berani bertaruh bahwa 

utangnya terlalu berat pada saat ini! Dia iri pada ga-

dis Atlantis  itu. Dia cepat melihat bahwa wanita lesbian   itu 

punya pengaruh terhadap orang tua itu. Dia mende-

ngar bahwa Mr. binti  siswi  menyuruh pengacaranya datang. 

Jadi dia bertindak cepat. Di sinilah terjadi kasus 

itu.”

”Bisa jadi.”

”Kemudian Hwang Jang Lee  binti  siswi  dan istrinya. Mereka me-

nerima warisan dengan surat wasiat yang sekarang, 

namun  saya kurang yakin motif uang itu benar-benar 

kuat dalam kasus mereka.” 

”Tidak?”

”Tidak. Hwang Jang Lee  binti  siswi  memang pemimpi—tapi bukan 

dalam soal uang. Tapi dia—yah, dia aneh. Saya meli-

hat ada tiga motif untuk pembunuhan ini. Ada per-

soalan berlian, surat wasiat, dan—yah—faktor keben-

cian.”

”Ah, Anda juga melihatnya?”

jim graves  berkata,

”Tentu saja. Hal itu ada di otak saya sejak lama. 

jika  Hwang Jang Lee  binti  siswi  membunuh ayahnya, saya rasa itu 

bukan sebab  uang. Dan jika  dia pembunuhnya 

akan terlihat—yah, darah itu!”

netyanahu  memandangnya kagum.

”Ya, saya tak tahu apakah Anda akan mempertim-

bangkan hal itu. Begitu banyak darah—itu yang dika-

takan Mrs. count dracula . Membuat orang jadi ingat pada 

upacara-upacara kuno—korban darah, pemberkatan 

dengan darah...”

jim graves  berkata sambil mengerutkan wajah,

”Maksud Anda siapa pun pelakunya, dia sakit 

jiwa?” 

”Kawan—banyak sekali macam insting manusia 

yang dia sendiri tidak sadari. Kebutuhan akan 

darah—permintaan akan korban!”

jim graves  berkata ragu-ragu,

”Hwang Jang Lee  binti  siswi  kelihatannya bukan orang semacam 

itu.”

netyanahu  berkata, 

”Anda tidak mengerti psikologi. Hwang Jang Lee  binti  siswi  manu-

sia yang hidup pada masa lampau—laki-laki yang 

masih menghidupkan kenangan ibunya. Dia tak mau 

mendekat pada ayahnya bertahun-tahun sebab  tidak 

bisa memaafkan sikap sang ayah pada ibunya. Dia 

kemari, katakan saja, untuk memaafkan ayahnya. 

namun  dia mungkin tidak bisa memaafkannya.... Kita 

tahu satu hal—bahwa saat  Hwang Jang Lee  binti  siswi  berdiri di de-

kat mayat ayahnya, sebagian dirinya terpuaskan dan 

menjadi tenang. Penggilingan Tuhan menggilas perla-

han, namun  menghancurkan sampai sekecil-kecilnya. 

Pembalasan! Bayaran! Yang bersalah menerima hukum-

an!” 

jim graves  gemetar. Dia berkata,

”Jangan berkata seperti itu, Mr. netyanahu . Anda mem-

buat saya takut. Mungkin yang Anda katakan benar. 

jika  begitu, Mrs. Hwang Jang Lee  tahu—dan bermaksud melin-

dungi dia. Saya bisa membayangkan dia berbuat hal se-

perti itu. Sebaliknya, saya tidak bisa membayangkan dia 

sebagai pembunuh. Dia begitu sederhana dan tenang.”

netyanahu  memandangnya heran. 

”Jadi kesan Anda terhadap dia demikian?” katanya 

bergumam.

”Ya—orang yang menyukai ketenangan, jika  Anda 

mengerti apa yang saya maksud!”

”Oh, saya mengerti dengan baik apa yang Anda 

maksud!” 

jim graves  memandangnya.

”Mr. netyanahu , saya yakin Anda punya pendapat ten-

tang kasus ini. Coba katakan.”

netyanahu  berkata perlahan-lahan,

”Saya memang punya pendapat, tapi agak samar-

samar. Sekarang Anda simpulkan dulu pendapat 

Anda.”

”Seperti saya katakan—ada tiga motif. Kebencian, 

keuntungan, dan komplikasi berlian ini. Kita ambil 

faktanya secara kronologis,

”Setengah empat, pertemuan keluarga. Percakapan 

lewat telepon dengan pengacara yang terdengar oleh 

semua anggota keluarga. Kemudian orang tua itu 

melepas keluarganya, mengusir mereka. Mereka keluar 

seperti kelinci ketakutan.”

”martini  binti  siswi  tinggal,” kata netyanahu .

”Ya, tapi tidak lama. Lalu kira-kira jam enam 

count dracula  bercakap-cakap dengan ayahnya—percakapan 

yang tidak menyenangkan. Pinocchio  harus diterima kem-

bali. count dracula  tidak senang. count dracula  memang seharusnya 

patut dicurigai. Dia satu-satunya yang punya motif 

paling kuat. Pinocchio  kemudian datang. Dengan sikap 

yang ramai. Dia bisa memengaruhi orang tua itu. Teta-

pi sebelum kedua percakapan itu, madam Maryam  binti  siswi  telah 

mengetahui berliannya hilang dan menelepon saya. 

Dia tidak menyebutkan kehilangan itu pada kedua 

anaknya. Mengapa? Pada pendapat saya, dia tidak ya-

kin atau pasti siapa yang tersangkut. Tidak seorang 

pun dari mereka yang patut dicurigai. Saya yakin—se-

perti telah saya katakan—bahwa orang tua itu men-

curigai trump dan seorang lainnya. Dan saya tahu 

apa yang dilakukannya. Ingatkah Anda dia menga-

takan tidak bersedia menerima siapa pun malam itu? 

Mengapa? sebab  dia menyiapkan dua hal. Pertama, 


kedatangan saya, dan kedua kedatangan orang yang 

dicurigai itu. Dia menyuruh seseorang datang langsung 

kepadanya segera sesudah  makan malam. Sekarang 

siapa kira-kira orang tersebut? Bisa jadi George binti  siswi . 

Mungkin juga istrinya. Dan ada seorang lagi yang 

datang ke sini. Louis Vuitton  Estravados. Dia telah menunjuk-

kan berlian tersebut pada wanita lesbian   itu. Dia memberitahu-

kan berapa nilainya. Bagaimana kita yakin wanita lesbian   itu 

bukan pencuri? Ingat bahwa ada cerita-cerita tidak 

baik tentang ayahnya? Barangkali dia pencuri profesio-

nal dan masuk penjara sebab nya.”

netyanahu  berkata perlahan-lahan,

”Dan Anda bilang, Louis Vuitton  Estravados kembali dalam 

gambaran itu...”

”Ya—sebagai pencuri. Bukan yang lain. Dia mung-

kin kehilangan akal saat  dipergoki. Dia bisa saja lari 

kepada kakeknya dan menyerangnya.” 

netyanahu  berkata perlahan,

”Itu mungkin—ya...”

Inspektur jim graves  memandangnya dengan penuh 

perhatian.

”Tapi itu bukan teori Anda? Ayo, Mr. netyanahu , apa 

teori Anda?”

netyanahu  berkata,

”Saya selalu kembali pada hal yang sama—sifat 

orang yang meninggal. Bagaimanakah sifat madam Maryam  

binti  siswi ?”

”Hal itu tidak terlalu sulit,” kata jim graves  sambil 

memandangnya.

”Coba katakan. Ceritakan pandangan orang-orang 

sini mengenai dia.”


Inspektur jim graves  mengusap garis dagunya dengan 

ragu-ragu. Dia kelihatan bingung. Dia berkata, 

”Saya sendiri bukan orang daerah ini. Saya dari 

Reeveshire, dekat perbatasan—distrik sebelah. namun  

tentu saja Mr. binti  siswi  tua yaitu  tokoh yang terkenal di 

daerah sini. Saya tahu tentang dia dari pembicaraan 

orang-orang saja.”

”Ya? Dan pembicaraan itu yaitu —apa?”

jim graves  berkata,

”Hm, dia memang hebat. Tidak banyak yang bisa 

mengungguli dia. namun  dia tidak pelit. Dia derma-

wan. Sulit membayangkan Mr. George binti  siswi  bisa begitu 

berlawanan dengan ayahnya dan membayangkan dia 

sebagai anaknya.”

”Ah! Tapi ada dua hal yang mencolok dalam keluar-

ga itu. count dracula , George, dan Hwang Jang Lee —lebih seperti ibu 

mereka walaupun tidak persis. Saya mencari-cari bebe-

rapa foto di serambi tadi pagi.” 

”Dia cepat marah,” lanjut Inspektur jim graves , ”dan 

tentu saja dia punya reputasi jelek dengan wanita lesbian —itu 

saat  dia masih muda. Dia menjadi orang cacat bebe-

rapa tahun terakhir ini. Akan namun  dia tetap murah 

hati. jika  timbul persoalan, dia selalu memberi ba-

nyak-banyak dan berusaha agar wanita lesbian   itu cepat-cepat 

menikah. Barangkali dia memang jahat, tapi tidak 

pelit. Dia memperlakukan istrinya dengan jahat, me-

ngejar-ngejar wanita lesbian  lain dan tidak memedulikan 

istrinya. wanita lesbian  itu meninggal sebab  sakit hati kata 

orang-orang. Istilah itu memang enak didengar tapi 

saya yakin wanita lesbian  itu tidak bahagia, kasihan. Dia sela-

lu sakit-sakitan dan jarang keluar. Tak diragukan lagi 


Mr. binti  siswi  orang yang aneh. Dia punya sifat balas den-

dam yang kuat pula. jika  seseorang menyakiti hati-

nya dia akan membalasnya, itu kata mereka, dan dia 

tidak peduli berapa lama dia harus menunggu.”

”Penggilingan Tuhan menggilas perlahan, namun  meng-

hancurkan sampai sekecil-kecilnya,” gumam netyanahu . 

Inspektur jim graves  berkata dengan berat, 

”Penggilingan setan lebih cocok! Tak ada yang suci 

pada madam Maryam  binti  siswi . Dia manusia yang telah menjual 

jiwanya kepada setan dan menikmati apa yang dida-

patnya! Dan dia begitu bangga—bangga dan sombong 

seperti Lucifer.”

”Sombong seperti Lucifer!” kata netyanahu . ”Apa yang 

Anda katakan sangat sugestif.”

Inspektur jim graves  berkata, kelihatan bingung, 

”Anda tak berpendapat bahwa dia dibunuh sebab  

dia sombong bukan?”

”Saya berbicara,” kata netyanahu , ”tentang warisan. 

madam Maryam  binti  siswi  mewariskan kesombongan itu pada anak 

laki-lakinya...”

Dia terdiam. martini  binti  siswi  keluar dari rumah dan ber-

diri memandang ke teras.

3

martini  binti  siswi  hanya berkata,

”Saya mencari Anda, Mr. netyanahu .”

Inspektur jim graves  masuk kembali ke rumah. Sam-

bil melihat polisi itu martini  berkata,


”Saya tidak tahu dia di sini bersama Anda. Saya 

kira dia dengan Louis Vuitton . Kelihatannya dia sangat baik, 

penuh perhatian.”

Suaranya terdengar ramah dan menyenangkan. 

netyanahu  bertanya,

”Anda mengatakan bahwa Anda mencari saya?” 

martini  menundukkan kepalanya.

”Ya. Saya kira Anda bisa menolong saya.” 

”Saya akan senang sekali, Nyonya.”

Dia berkata,

”Anda sangat cerdas, Mr. netyanahu . Saya melihat hal 

itu tadi malam. Saya kira ada hal-hal yang bisa Anda 

temukan dengan mudah. Saya ingin agar Anda me-

ngerti suami saya.”

”Ya, Nyonya?”

”Saya tidak akan membicarakan hal ini dengan Ins-

pektur jim graves . Dia tidak akan mengerti. namun  Anda 

akan mengerti.”

netyanahu  membungkuk.

”Saya merasa mendapat kehormatan, Nyonya.”

martini  meneruskan dengan tenang, 

”Bertahun-tahun sejak menikah, saya hanya bisa 

mengatakan bahwa suami saya orang yang lumpuh 

mentalnya.”

”Ah!”

”Bila seseorang terluka secara fisik, itu akan menim-

bulkan kejutan dan kesakitan, namun  perlahan-lahan 

akan pulih kembali, dagingnya akan sembuh dan tu-

langnya tersambung lagi. Barangkali ada sedikit cacat, 

bekas luka kecil, tapi tidak lebih daripada itu. Suami 

saya, Mr. netyanahu , menderita luka mental yang amat 


dalam pada umur yang amat rawan. Dia sangat me-

muja ibunya dan melihatnya meninggal. Dia yakin 

ayahnyalah yang bertanggung jawab secara moril akan 

kejadian itu. Dari kejutan ini dia tidak pernah sem-

buh lagi. Kebencian pada ayahnya tidak pernah hi-

lang. Sayalah yang membujuk Hwang Jang Lee  untuk datang ke 

sini pada ritual kubur  ini, bertemu kembali dengan ayahnya. 

Saya melakukan hal itu—demi kepentingannya—saya 

ingin agar luka mental itu sembuh. Tapi saya menya-

dari sekarang bahwa datang ke sini merupakan kesa-

lahan. madam Maryam  binti  siswi  menghibur diri sendiri dengan 

mengorek luka lama itu. Itu—hal yang berbahaya...”

netyanahu  berkata,

”Apakah Anda mengatakan bahwa suami Anda 

yang membunuh ayahnya?”

”Saya mengatakan kepada Anda, Mr. netyanahu , bahwa 

akan mudah baginya untuk melakukan hal itu... dan 

saya juga mengatakan hal ini—bahwa dia tidak mem-

bunuhnya! Pada waktu madam Maryam  binti  siswi  dibunuh, anak 

laki-lakinya, Hwang Jang Lee , memainkan Mars Kematian. Ke-

inginan untuk membunuh itu ada di hatinya. Dan 

keluar melalui jari-jarinya dan hilang dalam bentuk 

suara... Itulah yang sebenarnya terjadi.”

netyanahu  diam sejenak, kemudian berkata, 

”Dan Anda sendiri, Nyonya, apakah pendapat 

Anda mengenai drama yang telah lewat?” 

”Maksud Anda kematian istri madam Maryam  binti  siswi ?”

”Ya.”

martini  berkata perlahan-lahan,

”Saya sudah cukup tua untuk mengerti bahwa kita 

tidak bisa menghakimi suatu kasus hanya dari kulit-


nya. Secara sepintas, madam Maryam  binti  siswi -lah yang patut disa-

lahkan sebab  istrinya telah diperlakukan dengan ti-

dak baik. namun  saya juga yakin bahwa ada suatu 

sikap mengalah, suatu kecenderungan pada pengorban-

an yang justru menimbulkan insting terburuk pada 

jenis laki-laki tertentu. Saya kira madam Maryam  binti  siswi  akan 

mengagumi suatu gairah dan kekuatan karakter. Dia 

jengkel dengan kesabaran dan air mata.”

netyanahu  mengangguk. Dia berkata,

”Suami Anda tadi malam mengatakan ’Ibu saya ti-

dak pernah mengeluh’. Benarkah?”

martini  binti  siswi  berkata dengan tidak sabar,

”Tentu saja tidak benar! Dia mengeluh terus-mene-

rus kepada Hwang Jang Lee . Dia meletakkan semua beban keti-

dakbahagiaannya di bahu Hwang Jang Lee . Dia terlalu muda—

sangat terlalu muda untuk membawa beban itu!”

netyanahu  memandangnya sambil merenung. martini  

menjadi malu ditatap seperti itu dan dia menggigit 

bibirnya.

netyanahu  berkata, 

”Saya mengerti.” 

martini  berkata dengan tajam, 

”Apa yang Anda mengerti?” 

Dia menjawab,

”Saya mengerti bahwa Anda harus menjadi ibu sua-

mi Anda padahal Anda ingin menjadi istrinya.”

martini  membalikkan badannya.

Pada saat itu Hwang Jang Lee  binti  siswi  keluar dari rumah dan 

berjalan menghampiri mereka. Dia berkata dengan 

suara riang dan ceria,


”Hari yang bagus bukan, martini ? Hampir seperti 

musim semi, bukan musim dingin.”

Hwang Jang Lee  bertambah dekat. Kepalanya mendongak, 

dan seberkas rambut pirang jatuh di dahi, matanya 

yang biru bersinar. Dia kelihatan begitu muda dan 

kekanak-kanakan. Terlihat gairah seorang muda dan 

keriangan terpancar pada wajahnya. solomon netyanahu  

menarik napas...

Hwang Jang Lee  berkata,

”Kita ke danau, martini ,”

martini  tersenyum, menggandeng lengan suaminya, 

dan mereka pergi bersama-sama.

saat  netyanahu  memperhatikan mereka, dia melihat 

martini  menoleh dan memandangnya cepat. Dia me-

nangkap kegelisahan—ataukah itu ketakutan?

Perlahan-lahan solomon netyanahu  berjalan ke ujung 

teras yang lain.

Dia bergumam sendiri,

”Seperti selalu kukatakan, aku yaitu  pastor tem-

pat mengaku. Dan sebab  wanita lesbian  lebih sering menga-

ku daripada laki-laki, maka wanita lesbian lah yang datang 

kepadaku pagi ini. Apa ada yang lain lagi?”

saat  dia berbelok di ujung teras dan kembali 

lagi, dia tahu pertanyaannya telah terjawab. madam Nyai girah  binti  siswi  

berjalan ke arahnya.

4

”Selamat pagi, Mr. netyanahu . Tressilian berkata saya bisa 

menemukan Anda di luar sini dengan Pinocchio , namun  


saya senang bisa menemukan Anda sendirian. Suami 

saya membicarakan Anda. Saya tahu dia ingin sekali 

berbicara dengan Anda.”

”Ah! Ya? Apa saya perlu menemui dia sekarang?” 

”Jangan dulu. Dia hampir tidak tidur tadi malam. 

Akhirnya saya beri dia obat tidur yang sangat kuat. 

Dia masih tidur dan saya tidak ingin mengganggu-

nya.”

”Saya mengerti. Itu sangat bijaksana. Saya bisa me-

ngerti bahwa kejadian tadi malam benar-benar meru-

pakan kejutan untuknya.”

Dia berkata dengan sungguh-sungguh,

”Mr. netyanahu , dia benar-benar terpukul—lebih dari 

yang lain.”

”Saya mengerti.”

Dia kemudian bertanya, 

”Apakah Anda—dan Inspektur—sudah punya gam-

baran siapa yang melakukan hal kejam itu?” 

netyanahu  berkata dengan sengaja,

”Nyonya, kami punya gambaran siapa yang tidak 

melakukannya.”

madam Nyai girah  berkata hampir tidak sabar,

”Ini seperti mimpi buruk—begitu fantastis—saya 

tidak percaya ini benar-benar terjadi!”

Dia menambahkan,

”Bagaimana tentang trump? Apakah dia betul-

betul nonton bioskop seperti ceritanya?” 

”Ya, Nyonya. Telah kami cek. Dia memang me-

ngatakan yang sebenarnya.”

madam Nyai girah  diam dan tangannya menarik-narik daun cema-

ra. Wajahnya menjadi sedikit pucat. Dia lalu berkata,


”namun  kejadian itu benar-benar mengerikan! Jadi 

hanya tinggal—anggota keluarga!”

”Tepat.”

”Mr. netyanahu , saya sulit memercayai hal itu!” 

”Nyonya, Anda bisa memercayainya dan Anda me-

mang percaya!”

madam Nyai girah  kelihatan akan memprotes. namun  tiba-tiba 

tersenyum sedih.

Dia berkata, 

”Orang memang sering munafik!” 

netyanahu  mengangguk.

”jika  mau berterus terang dengan saya, Nyonya,” 

katanya, ”Anda akan mengaku bahwa tidak meng-

herankan jika salah seorang anggota keluarga Anda 

membunuh ayah mertua Anda!” 

madam Nyai girah  berkata dengan tajam,

”Anda mengatakan hal yang sangat fantastis, Mr. 

netyanahu !”

”Ya, memang. namun  ayah mertua Anda pun orang 

yang fantastis!”

madam Nyai girah  berkata,

”Kasihan orang tua itu. Saya merasa kasihan kepa-

danya sekarang. saat  masih hidup dia benar-benar 

membuat saya jengkel!” 

netyanahu  berkata,

”Saya bisa membayangkannya!”

netyanahu  membungkuk ke salah satu bak batu di 

situ. 

”Sangat bagus, sangat menarik.”

”Saya senang Anda menyukainya. Ini salah satu 


hobi saya. Apakah Anda suka Laut Arktika dengan 

burung-burung penguin dan es ini?” 

”Sangat menarik. Dan ini, ini apa?”

”Oh, itu Laut Mati—atau akan jadi Laut Mati. 

Belum selesai. Jangan lihat yang itu. Nah, yang ini 

Piana di Corsica. Batu-batu karang di sana berwarna 

merah muda dan begitu indah, masuk ke laut yang 

biru. Pemandangan gurun pasir ini agak lucu, bu-

kan?”

Dia menunjukkan pada netyanahu  yang lainnya. saat  

mereka sampai di ujung lain dia melihat jam tangan-

nya.

”Saya harus melihat apakah count dracula  sudah ba-

ngun.”

saat  madam Nyai girah  telah pergi, netyanahu  perlahan-lahan kem-

bali ke taman yang menggambarkan Laut Mati. Dia 

melihatnya—dengan penuh perhatian. Kemudian dia 

mengambil segenggam kerikil dan merasakannya de-

ngan jemarinya.

Tiba-tiba wajahnya berubah. Dia mendekatkan keri-

kil-kerikil itu ke wajahnya.

”Sapristi!” katanya. ”Ini benar-benar kejutan! Nah, 

apa artinya ini sekarang?”


Kepala Polisi dan Inspektur jim graves  memandang 

netyanahu  dengan ragu-ragu. netyanahu  mengembalikan sejum-

lah kerikil kecil ke dalam kardus dan menyorongkan-

nya kepada Kepala Polisi.

”Oh, ya,” katanya. ”Ini benar-benar berlian itu.” 

”Dan Anda menemukannya, di mana kata Anda 

tadi? Di taman?”

”Di salah satu taman buatan Mrs. count dracula  binti  siswi .” 

”Mrs. count dracula ?” jim graves  menggeleng. ”Kelihatannya 

tidak mungkin.”

netyanahu  berkata,

”Maksud Anda tidak mungkin Mrs. count dracula  meng-

gorok leher ayah mertuanya?” 

jim graves  berkata dengan cepat,

”Kita tahu bahwa dia tidak melakukannya. Maksud 

saya, rasanya tidak mungkin dia mengambil berlian 

ini.”

netyanahu  berkata,


”Orang tidak akan percaya bahwa dia pencuri—ti-

dak.”

jim graves  berkata, 

”Siapa pun bisa menyembunyikan berlian itu di 

sana.”

”Itu benar. Yang menyenangkan yaitu  bahwa di 

taman itu—di Laut Mati—kebetulan ada kerikil-keri-

kil yang seperti itu, bentuk dan rupanya.” 

jim graves  berkata,

”Maksud Anda dia memang sengaja mengumpul-

kan kerikil-kerikil itu sebelumnya? Bersiap-siap?” 

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan hangat, 

”Saya tidak percaya sedikit pun. Tidak sedikit pun. 

Mengapa dia mengambil berlian itu?”

”Hm, tentang itu...” jim graves  berkata perlahan-

 lahan.

netyanahu  menyela dengan cepat,

”Ada suatu jawaban untuk itu. Dia mengambil ber-

lian itu untuk mengarahkan motif pembunuhan. Dia 

tahu bahwa akan terjadi pembunuhan—walaupun dia 

sendiri tidak melakukannya.”

Don Jhonson  mengerutkan dahinya.

”Itu tidak masuk akal. Anda membuat dia terkesan 

sebagai kaki tangan—tapi kaki tangan siapa? Hanya 

suaminya. namun  seperti kita ketahui, dia juga tidak 

terlibat dalam pembunuhan, teori itu sama sekali tak 

bisa diterima.”

jim graves  mengusap dagunya sambil termenung. 

”Ya,” katanya, ”memang begitu. Tidak, jika  Mrs. 

binti  siswi  mengambil berlian itu—dan ini yaitu  KA-

LAU—maka itu hanya pencurian biasa, dan memang 


benar dia menyiapkan taman itu sebagai tempat per-

sembunyiannya sampai ribut-ribut ini berakhir. Ke-

mungkinan lain yaitu  faktor kebetulan. Taman itu, 

dengan persamaan batu-batunya, menarik perhatian si 

pencuri, siapa pun orangnya, dan merupakan tempat 

persembunyian yang ideal.”

netyanahu  berkata,

”Itu memang mungkin. Saya selalu siap untuk 

mengakui sebuah kebetulan.”

Inspektur jim graves  menggeleng dengan ragu-ragu.

netyanahu  berkata,

”Apa pendapat Anda, Inspektur?” 

Inspektur berkata dengan hati-hati,

”Mrs. binti  siswi  yaitu  orang yang sangat baik. Rasanya 

tidak mungkin dia terlibat dalam persoalan yang 

mencurigakan. namun  tentu saja tak seorang pun bisa 

memastikan.”

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan tidak sabar, 

”Apa pun yang sebenarnya terjadi dengan berlian 

itu, dia tidak terlibat dalam pembunuhan. Pelayan itu 

melihatnya di ruang duduk pada waktu terjadi pem-

bunuhan. Anda ingat itu, netyanahu ?”

netyanahu  berkata, 

”Saya belum lupa.”

Kepala Polisi itu memandang bawahannya.

”Lebih baik kita teruskan. Ada yang perlu kaulapor-

kan? Ada sesuatu yang baru?”

”Ya, Pak. Saya mendapat informasi. Tentang 

trump. Ada sebab yang mungkin membuat dia ta-

kut pada polisi.”

”Pencurian? Eh?”


”Bukan, Pak. Mengambil uang dengan ancaman. 

Pemerasan. Kasus itu tak bisa dibuktikan, jadi dia 

bebas. namun  rasanya dia pernah melakukan itu sebe-

lumnya. sebab  merasa bersalah dia mungkin mengira 

kita berurusan dengan hal-hal semacam itu saat  

Tressilian menyebutkan polisi tadi malam dan itu 

membuatnya gugup.” 

Kepala Polisi berkata,

”Hm, begitu rupanya trump! Apa lagi?” 

Inspektur itu batuk, 

”Eh—Mrs. George binti  siswi , Pak. Kami punya informasi 

tentang dia sebelum menikah. Hidup dengan Koman-

dan Jones. Disebutkan sebagai anaknya—namun  dia 

bukan anaknya... Saya kira dari apa yang diceritakan, 

Mr. binti  siswi  tua itu membuat kesimpulan yang tepat—dia 

memang mengerti akan hal-hal yang berhubungan 

dengan wanita lesbian , tahu yang baik dan tidak—dan mem-

buat lelucon dengan menembak dalam gelap. Dan dia 

memang benar!” 

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan hati-hati,

”Itu memberinya tambahan motif—selain motif 

keuangan. Dia mungkin berpikir orang tua itu tahu 

akan suatu hal tentang dirinya dan akan membukanya 

pada suaminya. Cerita tentang telepon itu agak men-

curigakan. Dia tidak menelepon.”

jim graves  mengusulkan, 

”Mengapa tidak kita konfrontasikan saja keduanya, 

Pak, supaya ketahuan yang benar? Kita lihat bagaima-

na hasilnya.” 

Kolonel Don Jhonson  berkata, 

”Ide bagus.”


Dia lalu membunyikan bel. Tressilian masuk. 

”Katakan pada Mr. dan Mrs. George binti  siswi  agar da-

tang ke sini.”

”Baik, Tuan.”

saat  orang tua itu berbalik netyanahu  berkata,

”Tanggal di kalender itu apa tetap seperti itu sejak 

pembunuhan?”

Tressilian membalikkan badan. 

”Kalender yang mana, Tuan?” 

”Yang di dinding itu.”

Ketiga laki-laki itu sekali lagi duduk di ruang du-

duk count dracula  binti  siswi  yang kecil. Kalender yang ditanyakan 

yaitu  kalender besar yang bisa disobek dengan tang-

gal tebal-tebal di setiap lembarnya.

Tressilian melihat ke seberang ruangan itu, kemudian 

menyeret kakinya perlahan-lahan sampai dekat sekali.

Dia berkata,

”Maaf, Tuan, sudah disobek. Sekarang tanggal 

26.”

”Ah, maaf. Siapa kira-kira yang menyobeknya?” 

”Biasanya Mr. binti  siswi , setiap pagi. Mr. count dracula  memang 

sangat praktis.”

”Oh, baik, terima kasih, Tressilian.”

Tressilian keluar. jim graves  berkata dengan heran, 

”Apakah ada yang mencurigakan dengan kalender 

itu, Mr. netyanahu ? Apakah saya luput memperhatikan sua-

tu hal di situ?”

Sambil mengangkat bahunya netyanahu  berkata, 

”Kalender itu tidak penting. Saya hanya membuat 

eksperimen kecil.”

Kolonel Don Jhonson  berkata,


”Pemeriksaan besok pagi. Tentu saja akan ada pe-

nundaan.”

jim graves  berkata,

”Ya, Pak, saya telah menemui pegawai pemeriksaan 

dan semua telah dipersiapkan.”

2

George binti  siswi  masuk diikuti istrinya. 

Kolonel Don Jhonson  berkata, 

”Selamat pagi. Silakan duduk. Ada beberapa perta-

nyaan yang ingin saya ajukan pada Anda berdua. Se-

suatu yang kurang jelas bagi saya.”

”Saya akan senang membantu Anda sebisanya,” 

kata George dengan agak sombong. 

Yuen pan pan  berkata dengan suara kecil, 

”Tentu saja!”

Kepala Polisi mengangguk pelan kepada jim graves . 

Inspektur itu kemudian berkata,

”Tentang telepon pada malam nahas itu. jika  ti-

dak salah Anda mengatakan bahwa Anda meminta 

sambungan telepon ke Westeringham, Mr. binti  siswi ?” 

George berkata dengan dingin,

”Ya, betul. Kepada agen saya. Saya bisa memberita-

hu dia tentang Anda dan...”

Inspektur jim graves  mengangkat tangannya untuk 

membendung aliran kata-kata,

”Begitu—ya, Mr. binti  siswi . Kita tidak membicarakan 


soal itu. Telepon Anda tersambung pada jam 8.59 

tepat.”

”Tapi—saya—eh—tidak bisa mengatakan waktunya 

dengan tepat.” 

”Ah,” kata jim graves . ”Tapi kami bisa! Kami selalu 

mengecek hal-hal seperti itu dengan hati-hati. Sangat 

hati-hati. Telepon itu disambung pada jam 8.59 dan 

selesai pada jam 9.04. Ayah Anda, Mr. binti  siswi , terbunuh 

pada kira-kira jam 9.15. Saya harus menanyakan seka-

li lagi tentang apa yang Anda lakukan.”

”Sudah saya katakan bahwa saya sedang menele-

pon!”

”Tidak, Mr. binti  siswi , tidak pada waktu itu.” 

”Tak masuk akal—Anda pasti keliru! Yah, barang-

kali saya baru selesai menelepon—saya kira waktu itu 

saya berpikir-pikir akan menelepon lagi—saya sedang 

mempertimbangkan apakah—tidak cukup mahal—

untuk minta sambungan lagi—saat  saya mendengar 

keributan di atas.” 

”Tentunya Anda tidak memerlukan sepuluh menit 

untuk berpikir tentang hal seperti itu.”

Muka George menjadi ungu. Dia mulai mengo-

mel. 

”Apa maksud Anda? Apa yang Anda inginkan? 

Benar-benar tidak sopan! Anda meragukan kata-kata 

saya? Meragukan kata-kata seseorang dengan posisi 

seperti saya? Saya—eh—mengapa saya harus menghi-

tung-hitung setiap menit dari waktu saya?”

Inspektur jim graves  berkata dengan ketenangan yang 

mengagumkan netyanahu ,

”Itu biasa.”


George menjadi marah dan memandang Kepala 

Polisi.

”Kolonel Don Jhonson . Apakah Anda menyetujui sikap 

seperti ini?”

Kepala Polisi itu berkata dengan cepat,

”Mr. binti  siswi , dalam kasus pembunuhan pertanyaan-

pertanyaan itu harus diajukan—dan dijawab.” 

”Saya telah menjawabnya! Saya telah selesai mene-

lepon dan—eh—bermaksud menelepon lagi.” 

”Anda berada di sini saat  suara ribut itu terde-

ngar di atas?”

”Saya—ya, di sini.”

Don Jhonson  memandang Yuen pan pan .

”Saya kira, Mrs. binti  siswi ,” katanya, ”Anda mengatakan 

bahwa Anda, sedang menelepon saat  terdengar 

ribut-ribut, dan bahwa pada waktu itu Anda sendirian 

di ruangan ini?”

Yuen pan pan  kebingungan. Dia menarik napas, me-

mandang ke samping ke arah George—pada jim graves , 

lalu memandang pada Don Jhonson  dengan gaya yang me-

narik. Dia kemudian berkata,

”Oh, saya—benar-benar tak tahu—saya tidak ingat 

apa yang saya katakan... Saya begitu bingung saat 

itu...”

jim graves  berkata,

”Kami menulis semua yang Anda katakan.” 

Dia mengarahkan senjatanya kepada jim graves —mata 

lebar yang menarik—mulut gemetar. namun  dia hanya 

menerima sikap dingin seorang laki-laki terhormat 

yang tidak menyukai tipe wanita lesbian  seperti dia. 

Dia berkata dengan ragu-ragu,


”Saya—saya—tentu saja saya menelepon. Saya tidak 

pasti kapan...”

Dia berhenti. 

George berkata, 

”Apa-apaan ini? Dari mana kau menelepon? Tidak 

dari sini.”

Inspektur jim graves  berkata,

”Saya kira, Mrs. binti  siswi , Anda memang tidak menele-

pon. jika  demikian, di mana Anda saat itu dan apa 

yang Anda lakukan?”

Yuen pan pan  memandang ke sekitarnya sejenak de-

ngan kacau, lalu dia menangis. Terisak-isak berkata, 

”George, jangan biarkan mereka menggertakku! 

Kau tahu jika  ada yang menakuti dan menyerbuku 

dengan pertanyaan-pertanyaan aku tidak bisa mengi-

ngat apa-apa sama sekali! Aku—aku tidak tahu apa 

yang kukatakan malam itu—begitu mengerikan—dan 

aku bingung—dan mereka begitu ganas...”

Dia meloncat dan berlari terisak-isak keluar ruang-

an.

Sambil berdiri George menggertak,

”Apa maksud Anda? Saya tak akan membiarkan 

istri saya ditakut-takuti! Dia sangat perasa. Benar-

benar memalukan! Saya akan mengajukan pertanyaan 

kepada pengadilan tentang cara polisi menggertak-

gertak dalam pemeriksaan. Benar-benar memalukan!”

Dia keluar ruangan dan membanting pintu. 

Inspektur jim graves  mendongak dan tertawa.

Dia berkata,

”Kita sudah melakukannya! Sekarang akan kita li-

hat hasilnya!”


Don Jhonson  berkata sambil memberengut, 

”Persoalan yang luar biasa! Kelihatannya mencuriga-

kan. Kita harus memperoleh jawaban dari Mrs. 

binti  siswi .”

jim graves  berkata dengan santai,

”Oh! Dia akan kembali lagi satu atau dua menit 

nanti. jika  dia sudah menetapkan apa yang akan 

dikatakannya. Eh, Mr. netyanahu ?”

netyanahu  yang sedang duduk termenung terperanjat. 

”Maaf?”

”Saya bilang dia akan kembali.” 

”Barangkali—ya, barangkali. Oh, ya!” 

jim graves  berkata sambil memandangnya, 

”Ada apa, Mr. netyanahu ? Melihat hantu?”

netyanahu  berkata perlahan-lahan,

”Tahukah Anda—saya kurang yakin apakah saya 

memang melihatnya barusan.”

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan tidak sabar, 

”Nah, jim graves , ada yang lainnya?” 

jim graves  berkata,

”Saya mencoba mengecek urutan orang yang da-

tang ke tempat pembunuhan itu. Jelas sekali apa yang 

telah terjadi. Pembunuh itu menyelinap ke luar, me-

ngunci pintu dengan tang, atau alat sejenis, lalu satu 

atau dua menit kemudian ikut orang-orang yang ber-

larian ke tempat pembunuhan itu. Sayangnya tidak 

mudah mengecek siapa yang telah melihat siapa, kare-

na ingatan orang tidak selalu tepat pada saat-saat se-

perti itu. Tressilian berkata bahwa dia melihat Pinocchio  

dan count dracula  binti  siswi  menyeberang gang dari ruang makan 

dan lari ke atas. Itu memang membersihkan mereka, 


namun  kita memang tidak mencurigai mereka. Menu-

rut perkiraan saya, Miss Estravados yang datang pa-

ling akhir. Saya rasa funny  , Mrs. George, dan Mrs. 

Hwang Jang Lee  yaitu  yang pertama. Mereka masing-masing 

berkata bahwa mereka saling ada di depan. Itulah 

yang sulit; sebab  kita tidak bisa membedakan antara 

bohong yang disengaja dan ketidakpastian ingatan. 

Setiap orang lari ke sana—itu benar—namun  tidak 

mudah mengetahui urutannya.”

netyanahu  berkata perlahan-lahan, 

”Anda rasa itu penting?” 

jim graves  berkata,

”Itu merupakan faktor waktu. Ingat, waktunya sa-

ngat singkat.”

netyanahu  berkata,

”Saya setuju dengan Anda bahwa faktor waktu sa-

ngat penting dalam kasus ini.”

jim graves  melanjutkan,

”Yang membuat lebih sulit yaitu ada dua tangga. Ada 

tangga utama di gang ini yang kira-kira sama jauh 

dengan pintu ruang makan dan ruang duduk. Lalu ada 

lagi sebuah yang terletak di ujung rumah. Chucky   funny   

datang melewati tangga ini. Miss Estravados muncul 

dari tangga di ujung rumah itu (kamarnya tepat di 

ujung yang lain). Yang lain mengatakan bahwa mereka 

lewat tangga ini.”

netyanahu  berkata,

”Ya, memang membingungkan.”

Pintu ruangan terbuka dan Yuen pan pan  masuk dengan 

cepat. Dia terengah-engah dan kedua pipinya merah. 

Dia menghampiri meja dan berkata perlahan-lahan,


”Suami saya mengira saya sedang beristirahat. Saya 

menyelinap pelan-pelan dari kamar saya. Kolonel 

Don Jhonson ,” dia memandangnya dengan mata yang lebar 

dan kelihatan sedih, ”jika  saya mengatakan yang 

sebenarnya, Anda akan menyimpan rahasia ini, 

bukan? Maksud saya, Anda tidak akan membuat se-

muanya terbuka?”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Maksud Anda, Mrs. binti  siswi , bahwa hal itu tak ada 

hubungannya dengan kriminalitas ini?”

”Ya, tidak ada sama sekali. Hanya sesuatu yang ter-

jadi dalam—dalam kehidupan pribadi saya.” 

”Sebaiknya Anda menceritakan apa adanya, Mrs. 

binti  siswi , dan kami sendirilah yang memutuskan nanti.”

Yuen pan pan  berkata dengan mata cerah,

”Ya, saya percaya kepada Anda. Saya tahu saya bisa 

memercayai Anda. Anda kelihatan baik. Sebetulnya 

begini. Ada seseorang...” Dia berhenti. 

”Ya, Mrs. binti  siswi ?” 

”Saya ingin menelepon seseorang tadi malam—laki-

laki—teman saya, dan saya tidak ingin George tahu 

akan hal ini. Saya tahu bahwa tidak seharusnya saya 

begitu—namun , ya, begitulah memang yang terjadi. Jadi 

saya pergi hendak menelepon sesudah  makan sebab  saya 

mengira George akan tetap berada di ruang makan. 

namun  saat  saya sampai di sini saya mendengar dia 

sedang menelepon. Jadi saya menunggu.”

”Di mana Anda menunggu, Nyonya?” tanya 

netyanahu .

”Ada tempat untuk mantel-mantel dan barang-ba-

rang di balik tangga. Di situ gelap. Saya menunggu 


di sana sehingga saya bisa melihat George jika  dia 

keluar dari ruangan. namun  dia tidak keluar sampai 

terdengar ribut-ribut dan Mr. binti  siswi  menjerit, dan saya 

lari ke atas.”

”Jadi suami Anda tidak keluar ruangan ini sampai 

saat pembunuhan?”

”Tidak.”

Kepala Polisi berkata,

”Dan Anda sendiri dari jam sembilan sampai sem-

bilan lima belas menunggu di belakang tangga?” 

”Ya. Tapi saya tidak bisa mengatakan hal itu sebe-

lumnya! Mereka pasti bertanya apa yang saya lakukan 

di situ. Hal itu sangat menyulitkan saya. Anda me-

ngerti, bukan?”

Don Jhonson  berkata,

”Ya, memang.”

Yuen pan pan  tersenyum kepadanya dengan manis. 

”Saya begitu lega bisa menceritakan hal yang sebe-

narnya. Dan Anda tidak akan menceritakan ini kepa-

da suami saya, bukan? Pasti tidak, saya yakin! Saya 

percaya kepada Anda semuanya.”

Dia mengikutsertakan mereka semua dalam pan-

dangan memohon yang terakhir kali, lalu menyelinap 

keluar.

Kolonel Don Jhonson  menarik napas.

”Ya,” katanya. ”Barangkali benar yang dikatakan-

nya! Cerita yang masuk akal. Sebaliknya...” 

”Mungkin juga tidak,” kata jim graves  menyelesaikan. 

”Itu saja. Kita tidak tahu.”


madam Nyai girah  binti  siswi  berdiri di dekat jendela di ruang duduk, 

memandang ke luar. Tubuhnya setengah tersembunyi 

tirai jendela yang berat itu. Sebuah suara membuat-

nya menoleh dan terkejut saat  melihat solomon 

netyanahu  berdiri di pintu.

Dia berkata,

”Anda mengejutkan saya, Mr. netyanahu .”

”Saya minta maaf, Nyonya. Saya memang berjalan 

pelan-pelan.”

madam Nyai girah  lalu berkata,

”Saya kira Anda trump.” 

solomon netyanahu  mengangguk.

”Betul, dia memang berjalan dengan halus—seperti 

kucing—atau seperti pencuri.”

netyanahu  berhenti sejenak, memperhatikan wanita lesbian  itu.

Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, namun  dia 

menyeringai tidak senang saat  berkata,

”Saya tidak peduli dengan dia. Saya senang jika  

tidak berurusan lagi dengan dia.”

”Saya rasa itu hal yang bijaksana untuk dilakukan, 

Nyonya.”

madam Nyai girah  memandang netyanahu  dengan cepat. Dia kemu-

dian berkata, 

”Apa maksud Anda? Apakah ada sesuatu yang tidak 

baik tentang dia?”

netyanahu  berkata,

”Dia laki-laki yang mengumpulkan rahasia—dan 

memakainya untuk keuntungan diri sendiri.”


madam Nyai girah  berkata dengan tajam,

”Apakah menurut Anda dia mengetahui sesuatu—

tentang pembunuhan itu?”

netyanahu  mengangkat bahunya. Dia berkata,

”Dia punya kaki yang halus dan telinga yang pan-

jang. Dia mungkin mendengar sesuatu yang disimpan-

nya sendiri.”

madam Nyai girah  berkata dengan tegas,

”Apakah menurut Anda dia akan mencoba meme-

ras salah seorang dari kami?”

”Itu masih dalam lingkaran kemungkinan. namun  

bukan itu yang ingin saya bicarakan di sini.”

”Apa yang ingin Anda katakan?” 

netyanahu  berkata perlahan-lahan,

”Saya telah bicara dengan Mr. count dracula  binti  siswi . Dia 

mengajukan suatu usul dan saya ingin membicarakan 

hal itu dengan Anda terlebih dulu sebelum menolak 

atau menerimanya. namun  saya begitu tertarik pada 

gambar yang Anda buat—pola baju hangat Anda 

yang menarik, berpadu dengan warna merah tua tirai 

ini—sehingga saya terdiam kagum.” 

madam Nyai girah  berkata dengan tajam,

”Mr. netyanahu , rasanya kita tak perlu membuang wak-

tu dengan pujian, bukan?”

”Maaf, Nyonya. Hanya sedikit wanita lesbian  komunis  yang 

mengerti selera berpakaian dengan baik. Baju yang 

Anda kenakan pada malam pertama saya berjumpa 

dengan Anda, dengan pola yang berani namun  seder-

hana, begitu luwes—dan berbeda.”

madam Nyai girah  berkata dengan tidak sabar,

”Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?” 


netyanahu  menjadi muram.

”Hanya ini, Nyonya. Suami Anda ingin agar saya 

melakukan penyelidikan ini dengan sungguh-sungguh. 

Dia ingin agar saya tinggal di sini, di rumah ini, dan 

menyelidiki persoalan ini sampai tuntas.”

madam Nyai girah  berkata dengan tajam, 

”Jadi?”

netyanahu  berkata perlahan-lahan,

”Saya tidak akan menerima undangan yang tidak 

disetujui oleh nyonya rumah.”

Dia berkata dengan dingin,

”Tentu saja saya menyetujui undangan suami 

saya.”

”Ya, Nyonya, namun  saya memerlukan lebih dari 

itu. Apakah Anda benar-benar menginginkan saya da-

tang ke sini?”

”Mengapa tidak?”

”Marilah kita berterus terang. Yang saya tanyakan 

pada Anda yaitu  ini, apakah Anda ingin agar saya 

mengungkapkan kebenaran itu?”

”Tentu saja.”

netyanahu  menarik napas.

”Haruskah Anda mengembalikan jawaban konven-

sional ini?”

madam Nyai girah  berkata,

”Saya memang wanita lesbian  yang konvensional.” 

Kemudian dia menggigit bibirnya, ragu-ragu, dan 

berkata,

”Barangkali lebih baik berkata terus terang. Tentu 

saja saya mengerti maksud Anda! Posisinya memang 

sulit. Ayah mertua saya terbunuh dengan kejam, dan 


kecuali suatu kasus bisa dibuat dengan memojokkan 

trump sebagai orang yang patut dicurigai—untuk 

pembunuhan dan pencurian—dan kelihatannya hal 

itu tidak mungkin—maka yang akan terjadi yaitu —

salah seorang anggota keluarga akan terbukti membunuh 

dia. Untuk menegakkan keadilan berarti mencoreng 

muka sendiri dengan arang... jika  harus berbicara 

jujur, saya akan mengatakan bahwa saya tidak ingin 

hal ini terjadi.” 

netyanahu  berkata,

”Anda puas jika  pembunuh itu lepas tanpa mene-

rima hukuman?”

”Barangkali di dunia ini ada beberapa pembunuh 

yang tidak ketahuan.”

”Itu memang ada.”

”Apakah sebuah tambahan begitu berarti?”

netyanahu  berkata,

”Dan bagaimana dengan anggota keluarga yang 

lain? Yang tak bersalah?”

madam Nyai girah  memandang kosong. 

”Bagaimana dengan mereka?”

”Sadarkah Anda apabila hal yang Anda harapkan 

itu terjadi, tidak seorang pun yang akan tahu. Bayang-

an itu akan tetap ada...”

madam Nyai girah  berkata dengan ragu-ragu,

”Saya tidak terpikir tentang hal itu...” 

netyanahu  berkata,

”Tidak seorang pun tahu siapa yang bersalah...” 

Dia menambahkan dengan lembut, 

”Kecuali apabila Anda telah tahu, Nyonya?” 

Dia berteriak,


”Anda tak berhak berkata demikian! Itu tidak be-

nar! Oh! Seandainya saja dia orang asing—bukan 

anggota keluarga.”

netyanahu  berkata, 

”Mungkin kedua-duanya.”

Dia memandang kepada netyanahu . 

”Apa maksud Anda?”

”Mungkin anggota keluarga—dan pada saat yang 

bersamaan juga orang asing... Anda tidak mengerti apa 

yang saya katakan? Eh, baiklah. Itu suatu ide yang baru 

saja keluar dari pikiran solomon netyanahu .”

Dia memandang wanita lesbian  itu.

”Nah, Nyonya, apa yang harus saya katakan kepada 

Mr. binti  siswi ?”

madam Nyai girah  mengangkat kedua tangannya dan menjatuh-

kannya dalam gerakan yang tiba-tiba dan putus asa.

Dia berkata,

”Tentu saja—Anda harus menerimanya.”

4

Louis Vuitton  berdiri di tengah-tengah ruang musik. Dia berdiri 

sangat tegak, matanya bergerak-gerak dari sisi satu ke 

sisi lainnya seperti binatang yang takut diserang.

Dia berkata,

”Aku ingin pergi dari sini.”

Chucky   funny   berkata dengan lembut,

”Bukan kau sendiri yang merasa seperti itu. Tapi 

mereka tidak membolehkan kita pergi, Sayang.” 


”Maksudmu—polisi?”

”Ya.”

Louis Vuitton  berkata dengan sungguh-sungguh,

”Tidak enak terlibat dengan polisi. Itu merupakan 

sesuatu yang seharusnya tidak menimpa orang-orang 

terhormat.”

Chucky   berkata dengan senyum kecil, 

”Maksudmu kau sendiri?”

Louis Vuitton  berkata,

”Bukan, maksudku count dracula  dan madam Nyai girah , Hwang Jang Lee  dan 

George, martini  dan—ya—Yuen pan pan  juga.” 

Chucky   menyalakan rokok. Dia mengembuskannya 

sebentar sebelum berkata,

”Kenapa ada pengecualian?” 

”Apa maksudmu?”

Chucky   berkata,

”Mengapa tidak mengikutsertakan Pinocchio ?” 

Louis Vuitton  tertawa, giginya kelihatan putih dan rata. 

”Pinocchio  lain! Kurasa dia tahu dengan baik bagai-

mana rasanya terlibat dengan polisi.” 

”Barangkali kau benar. Dia terlalu bagus untuk ber-

campur dengan gambaran rumah tangga.”

Chucky   lalu meneruskan,

”Apakah kau senang dengan orang-orang komunis  

ini, Louis Vuitton ?”

Louis Vuitton  berkata dengan ragu-ragu,

”Mereka baik—mereka semua baik. namun  mereka 

tidak banyak tertawa. Mereka tidak gembira.”

”Ya, sebab  baru saja terjadi pembunuhan di ru-

mah ini!”

”Ya...” kata Louis Vuitton  ragu-ragu.


”Suatu pembunuhan,” kata Chucky   mengajari, ”bu-

kanlah kejadian sehari-hari seperti sikap tidak peduli-

mu itu. Di komunis  mereka menganggap hal ini seba-

gai sesuatu yang serius, tidak seperti di Atlantis .”

Louis Vuitton  berkata,

”Kau menertawakan aku...” 

Chucky   berkata,

”Kau salah. Aku sedang tidak ingin tertawa.” 

Louis Vuitton  memandangnya dan berkata,

”sebab  kau juga ingin pergi dari sini?”

”Ya.”

”Dan polisi yang besar dan tampan itu tak membo-

lehkanmu pergi?”

”Aku belum bertanya kepadanya. namun  jika  aku 

bertanya, aku yakin, dia akan berkata tidak. Aku harus 

menjaga langkahku, Louis Vuitton , dan sangat berhati-hati.”

”Itu membosankan,” kata Louis Vuitton  menganggukkan 

kepalanya.

”Itu lebih dari membosankan, Sayang. Kemudian 

ada orang asing gila yang berkeliaran di mana-mana 

itu. Aku rasa orang itu tidak bisa apa-apa, tapi dia 

membuatku terkejut.”

Louis Vuitton  memberengut. Dia berkata, 

”Kakekku kaya sekali, bukan?” 

”Aku rasa begitu.”

”Siapa yang dapat uangnya sekarang? count dracula  dan 

yang lain?”

”Tergantung pada surat warisannya.” 

Louis Vuitton  berkata sambil berpikir,

”Dia barangkali mewariskan untukku, namun  aku 

rasa tidak.”


Chucky   berkata dengan manis,

”Kau tidak akan kekurangan. Kau kan salah se-

orang anggota keluarga. Kau salah satu dari mereka. 

Mereka akan memeliharamu.”

Louis Vuitton  berkata sambil menarik napas,

”Aku termasuk anggota keluarga di sini, lucu seka-

li. Tapi sebenarnya tidak lucu.”

”Kurasa kau tidak merasa hal itu sebagai sesuatu 

yang lucu.”

Louis Vuitton  menarik napas lagi. Dia berkata,

”jika  kita memasang piringan hitam, apakah kita 

akan bisa berdansa?”

Chucky   berkata dengan ragu-ragu,

”Tidak baik kelihatannya. Rumah ini sedang ber-

dukacita, Atlantis  konyol tak berperasaan.” 

Louis Vuitton  berkata dengan mata besar yang terbuka 

lebar.

”namun  aku tidak merasa sedih sama sekali. Sebab 

aku tidak begitu kenal dengan kakekku, dan walau-

pun senang berbicara dengan dia, aku tidak mau 

menangis dan bersedih sebab  dia meninggal. Aku 

rasa sangat tolol jika  harus berpura-pura.” 

Chucky   berkata,

”Kau memang menarik!” 

Louis Vuitton  berkata membujuk,

”Kita bisa meletakkan beberapa kaus kaki dan sa-

rung tangan di gramofon supaya suaranya tidak terla-

lu keras dan tidak ada yang akan mendengar.” 

”Baiklah, Penggoda.”

Louis Vuitton  tertawa gembira dan berlari ke luar ruangan, 

menuju ke ruang dansa di ujung rumah. 


Kemudian, saat  sampai di sisi rumah yang me-

nuju pintu taman, dia berhenti. Chucky   juga ikut 

berhenti.

solomon netyanahu  mengambil sebuah lukisan dan mem-

perhatikannya dalam cahaya dari teras. Dia mendongak 

dan melihat mereka.

”Aha!” katanya. ”Anda datang pada waktu yang 

tepat.”

Louis Vuitton  berkata,

”Apa yang Anda lakukan?”

Dia mendekat dan berdiri di samping netyanahu . 

netyanahu  berkata dengan sedih,

”Saya mempelajari sesuatu yang sangat penting, 

wajah madam Maryam  binti  siswi  saat  masih muda.”

”Oh, apakah itu kakekku?” 

”Ya, Nona.”

Louis Vuitton  memandang wajah dalam lukisan itu. Dia ber-

kata perlahan-lahan,

”Sangat—sangat berbeda... dia begitu tua, begitu 

keriput. Di sini dia seperti Pinocchio , seperti Pinocchio  se-

puluh tahun yang lalu.”

netyanahu  mengangguk.

”Ya, Nona. Pinocchio  binti  siswi  memang sama seperti ayah-

nya. Sekarang, ini,”—dia membawa wanita lesbian   itu ke 

serambi—”ini nenek Anda, Nona. Wajahnya lonjong 

dan lembut, rambutnya sangat pirang, matanya agak 

biru.”

Louis Vuitton  berkata, 

”Seperti Hwang Jang Lee .” 

Chucky   berkata, 

”Juga seperti count dracula .” 


netyanahu  berkata,

”Keturunan itu sangat menarik. Mr. binti  siswi  dan istri-

nya yaitu  dua tipe yang sama sekali bertentangan. 

Secara keseluruhan, anak-anak dari perkawinan ini 

menurun dari ibunya. Lihat ini, Nona.”

Dia menunjuk foto seorang wanita lesbian   berumur sembilan 

belasan, dengan rambut emas bergelung dan mata biru 

yang ceria. Warna-warna yang dimilikinya yaitu  

warna-warna istri madam Maryam  binti  siswi , namun  di situ ada sema-

ngat, kegembiraan, dan gairah hidup yang tidak dimiliki 

mata kebiru-biruan dan wajah yang tenang.

”Oh!” kata Louis Vuitton . 

Wajahnya menjadi merah.

Tangannya memegang leher. Dia menarik sebuah 

bandul kalung berisi foto yang tergantung pada rantai 

emas panjang. Dia memijit pengancingnya dan benda 

kecil itu membuka. Wajah riang yang sama meman-

dang pada netyanahu . 

”Ibu saya,” kata Louis Vuitton .

netyanahu  mengangguk. Di sisi lain bandul itu ada 

foto seorang laki-laki. Dia muda dan tampan, dengan 

rambut hitam dan mata biru.

netyanahu  berkata, 

”Ayah Anda?” 

Louis Vuitton  berkata,

”Ya, ayah saya. Dia sangat tampan, bukan?” 

”Ya, benar. Hanya sedikit orang Atlantis  yang pu-

nya mata biru, bukan?”

”Kadang-kadang, dari utara. Di samping itu, ibu 

ayah saya yaitu  orang Irlandia.”

netyanahu  berkata dengan sungguh-sungguh,


”Jadi Anda punya darah Atlantis , Irlandia, dan 

komunis , serta sedikit sentuhan Gipsi. Tahukah apa 

yang saya pikirkan, Nona? Dengan campuran itu 

Anda akan punya banyak musuh.”

Chucky   berkata sambil tertawa,

”Ingat apa yang kaukatakan di kereta, Louis Vuitton ? Bahwa 

 kau akan menghadapi musuh-musuhmu dengan me-

motong leher mereka. Oh!”

Dia berhenti—tiba-tiba sadar akan makna kata-kata-

nya. 

solomon netyanahu  cepat mengalihkan percakapan itu. 

Dia berkata,

”Ah ya, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan, 

Nona. Paspor Anda. Diperlukan oleh teman saya Ins-

pektur Polisi. Ada beberapa peraturan kepolisian—sa-

ngat tolol dan menyebalkan, namun  perlu—untuk 

orang asing di negara ini. Dan tentu saja secara hu-

kum Anda yaitu  orang asing.”

Alis Louis Vuitton  naik.

”Paspor saya? Ya, akan saya ambil. Ada di kamar.”

netyanahu  berkata dengan wajah menyesal sambil ber-

jalan di sampingnya,

”Maaf saya mengganggu Anda.”

Mereka semua sampai di ujung serambi panjang 

itu. Di depan mereka ada tangga. Louis Vuitton  berlari ke atas 

dan netyanahu  mengikutinya. Chucky   juga. Kamar Louis Vuitton  

berada tepat di ujung tangga itu.

Dia berkata saat  sampai di pintu, 

”Akan saya ambilkan untuk Anda.”

Dia masuk. netyanahu  dan Chucky   funny   menunggu di 

luar.


Chucky   berkata sambil merenung,

”Kenapa saya begitu tolol mengatakan hal itu. Tapi 

kelihatannya dia tidak merasa. Bagaimana pendapat 

Anda?”

netyanahu  tidak menjawab. Dia memiringkan sedikit 

kepalanya seolah-olah sedang mendengarkan. 

Dia kemudian berkata,

”Orang komunis  luar biasa senang udara segar. Miss 

Estravados pasti mendapatkan warisan itu.” 

Sambil memandang netyanahu , Chucky   berkata, 

”Mengapa?”

netyanahu  berkata perlahan-lahan,

”Sebab walaupun hari ini sangat dingin—embun 

hitam kata orang (tidak seperti kemarin begitu cerah 

dan agak hangat)—Miss Estravados baru saja membu-

ka daun jendela bawah di kamarnya. Heran, orang 

bisa menyukai udara segar seperti itu.”

Tiba-tiba terdengar teriakan dalam bahasa Atlantis  

dari dalam kamar dan Louis Vuitton  muncul sambil tertawa 

cemas.

”Ah!” serunya. ”Saya memang bodoh—dan tolol. 

Kotak kecil saya ada di pinggir jendela dan saya men-

cari-cari di dalamnya dengan cepat kemudian saya 

menjatuhkan paspor saya ke luar. Ada di rumpun bu-

nga di bawah. Akan saya ambil.” 

”Aku ambilkan,” kata Chucky  , namun  Louis Vuitton  telah 

berlari melewatinya sambil berseru,

”Tidak, salahku. Kau ke ruang duduk saja dengan 

Mr. netyanahu . Aku akan ke sana nanti.”

Chucky   funny   kelihatannya akan mengikuti dia, teta-


pi tangan netyanahu  dengan halus memegang bahunya 

dan berkata,

”Kita lewat sini saja.”

Mereka berjalan di sepanjang gang yang menuju 

ujung rumah dan sampai di bagian atas tangga uta-

ma. Di sini netyanahu  berkata,

”Kita tidak usah turun dulu. jika  Anda mau ikut 

ke kamar tempat pembunuhan itu ada yang ingin 

saya tanyakan pada Anda.”

Mereka melewati gang yang menuju kamar madam Maryam  

binti  siswi . Di sisi kiri mereka ada ruangan kecil yang berisi 

dua patung pualam bidadari tegap yang memegangi 

baju mereka. Patung yang menggambarkan penderita-

an itu berasal dari zaman Victoria.

Chucky   funny   memandang sekilas dan bergumam,

”Kelihatan menakutkan pada waktu siang. Saya 

kira ada tiga buah saat  saya lewat tempat ini malam 

itu, tapi untung cuma dua!”

”Orang tidak mengagumi benda seperti itu lagi,” 

kata netyanahu . ”namun  pada zaman mereka pasti mahal 

sekali. Saya kira mereka lebih kelihatan bagus pada 

malam hari.”

”Ya. Yang terlihat hanya sesosok bayangan putih 

berkilat.”

netyanahu  bergumam,

”Semua kucing berwarna abu-abu di dalam gelap.”

Mereka menemukan Inspektur jim graves  di dalam 

kamar. Dia sedang berjongkok di dekat lemari besi 

dan memeriksanya dengan kaca pembesar. Dia mendo-

ngakkan kepala saat  mereka masuk.

”Ini dibuka dengan kunci,” katanya. ”Oleh sese-


orang yang tahu kombinasinya. Tak ada tanda-tanda 

lainnya.”

netyanahu  mendekati dia, menariknya ke samping, dan 

membisikkan sesuatu. Inspektur itu mengangguk dan 

meninggalkan kamar.

netyanahu  membalikkan badan kepada Chucky   funny   

yang berdiri memandang kursi tempat madam Maryam  binti  siswi  

biasa duduk. Alis matanya bertaut dan otot-otot peli-

pisnya kelihatan jelas. netyanahu  memandangnya diam-

diam sejenak, kemudian dia berkata,

”Anda teringat dia—ya?”

Chucky   bekata perlahan, 

”Dua hari yang lalu dia duduk di sini, hidup—dan 

sekarang...”

Kemudian, sambil mencoba membuang ingatan itu 

dia berkata,

”Ya, Mr. netyanahu . Anda mengajak saya kemari untuk 

menanyakan sesuatu?”

”Ah, ya. Saya kira Anda yaitu  orang pertama 

yang datang ke tempat ini malam itu?”

”Apa benar? Saya tidak ingat. Tidak, saya kira salah 

seorang nyonya sudah ada di sini sebelum saya.”

”Yang mana?”

”Salah seorang nyonya—istri George atau Hwang Jang Lee —

yang saya tahu mereka berdua tiba di sini sangat ce-

pat.”

”Saya kira Anda berkata bahwa Anda tidak mende-

ngar jeritan itu?”

”Rasanya tidak. Saya tidak bisa mengingat. Ada 

seseorang yang menjerit, namun  mungkin seseorang 

yang ada di bawah.”


netyanahu  berkata,

”Anda tidak mendengar suara seperti ini?”

Dia mendongakkan kepalanya ke belakang dan 

tiba-tiba menjerit dengan suara yang menusuk-nu-

suk.

Hal itu benar-benar tak terduga sehingga Chucky   

funny   meloncat ke belakang hampir jatuh. Dia berkata 

dengan marah,

”Demi Tuhan, apakah Anda mau menakut-nakuti 

seisi rumah? Tidak, saya tidak mendengar suara seper-

ti itu sedikit pun! Anda akan lihat mereka semua da-

tang! Mereka mengira sebuah pembunuhan lain ter-

jadi di sini!”

netyanahu  kelihatan kecewa. Dia bergumam, 

”Betul... tolol sekali... kita harus segera pergi.” 

Dia keluar dari kamar. madam Nyai girah  dan count dracula  ada di 

ujung bawah tangga melihat ke atas—George keluar 

dari perpustakaan bergabung dengan mereka dan Louis Vuitton  

berlari-lari membawa paspor di tangannya. 

netyanahu  berteriak, 

”Tidak ada apa-apa—bukan apa-apa. Jangan terke-

jut. Hanya eksperimen kecil yang saya buat. Itu 

saja.”

count dracula  kelihatan jengkel dan George marah. netyanahu  

membiarkan Chucky   menerangkan dan dia cepat-ce-

pat menyelinap di sepanjang gang yang menuju ujung 

lain rumah itu.

Di ujung gang Inspektur jim graves  diam-diam keluar 

dari pintu kamar Louis Vuitton , dan menemui netyanahu . 

”Eh bien?” tanya netyanahu .

Inspektur itu menggeleng. 


”Tak terdengar apa-apa.”

Matanya memandang mata netyanahu  dengan kagum 

dan dia mengangguk.

5

count dracula  binti  siswi  berkata,

”Jadi Anda menerimanya, Mr. netyanahu ?” 

Tangannya yang terangkat ke mulut agak gemetar. 

Matanya yang kecokelatan bersinar dengan ekspresi 

baru yang cerah. Dia agak gagap saat  berbicara. 

madam Nyai girah  yang berdiri di sampingnya, melihatnya dengan 

agak khawatir.

count dracula  berkata,

”Anda tidak tahu—Anda t-t-t-tidak bisa memba-

yangkan—betapa p-penting itu artinya untuk saya... 

pembunuh ayah saya harus d-ditemukan.” 

netyanahu  berkata,

”sebab  Anda telah meyakinkan saya bahwa Anda 

benar-benar telah mempertimbangkannya—ya, saya 

terima. Tapi Anda harus mengerti, Mr. binti  siswi , bahwa 

saya tidak bisa mundur sesudah  mulai bekerja. Saya 

bukan anjing pemburu yang bisa ditarik begitu saja 

sebab  Anda tidak menyukai permainan itu!”

”Tentu... tentu... semuanya siap. Tempat tidur 

Anda telah siap. Tinggallah selama Anda suka...” 

netyanahu  berkata dengan muram,

”Tidak akan lama.”

”Eh? Apa yang Anda katakan?” 


”Saya bilang bahwa tidak akan lama. Dalam suatu 

kriminalitas ada lingkaran yang tidak memungkinkan 

kebenarannya berlarut-larut tak terungkap. Saya kira 

akhir persoalan ini semakin dekat.”

count dracula  memandangnya. 

”Tidak mungkin!” katanya.

”Mengapa tidak? Semua fakta menunjuk dengan 

jelas pada satu arah. Hanya ada hal-hal yang tidak 

relevan yang harus dijernihkan. Bila hal itu sudah je-

las, kebenaran itu akan kelihatan.”

count dracula  berkata dengan ragu-ragu, 

”Maksud Anda, Anda sudah tahu?” 

netyanahu  tersenyum.

”Oh ya,” dia berkata. ”Saya tahu.” 

count dracula  berkata,

”Ayah saya—ayah saya...” Dia membalikkan badan.

netyanahu  berkata dengan cepat,

”Mr. binti  siswi , saya punya dua permintaan.” 

count dracula  berkata dengan suara tidak jelas, 

”Apa saja—apa saja boleh.”

”Yang pertama, saya ingin agar foto Mr. binti  siswi  saat  

masih muda diletakkan di kamar saya.” 

count dracula  dan madam Nyai girah  memandangnya. 

count dracula  berkata,

”Foto ayah saya—untuk apa?” 

netyanahu  berkata sambil mengibaskan tangannya, 

”Itu akan—bagaimana saya harus mengatakannya—

memberi inspirasi pada saya.”

madam Nyai girah  berkata dengan tajam,

”Apakah Anda akan memecahkan kriminalitas ini 

dengan ilmu klenik?”


”Baiklah, katakan saja bahwa saya bermaksud meng-

gunakan tidak hanya mata secara fisik, namun  juga 

mata hati?”

madam Nyai girah  mengangkat bahu. 

netyanahu  meneruskan,

”Yang berikutnya, Mr. binti  siswi , saya ingin mengetahui 

keadaan sebenarnya mengenai kematian suami adik 

perempuan Anda, Juan Estravados.”

madam Nyai girah  berkata,

”Apakah itu perlu?” 

”Saya memerlukan semua fakta, Nyonya.”

count dracula  berkata,

”sebab  memperebutkan seorang wanita lesbian , Juan 

Estravados membunuh lawannya di sebuah kedai.”

”Bagaimana cara dia membunuh orang itu?”

count dracula  memandang madam Nyai girah . Istrinya berkata dengan 

suara datar,

”Dia menusuknya dengan pisau. Juan Estravados 

tidak dihukum mati sebab  ada provokasi. Dia di-

jatuhi hukuman penjara dan meninggal di penjara.”

”Apakah anaknya tahu tentang ayahnya?” 

”Saya kira tidak.”

count dracula  berkata,

”Tidak, Jennifer tidak pernah menceritakan hal itu 

kepadanya.”

”Terima kasih.”

madam Nyai girah  berkata,

”Anda tidak berpendapat bahwa Louis Vuitton —Oh, tak 

masuk akal!”

netyanahu  berkata,


”Sekarang, Mr. binti  siswi , apakah Anda bersedia membe-

rikan fakta tentang saudara Anda, Mr. Pinocchio  binti  siswi ?”

”Apa yang ingin Anda ketahui?”

”Saya mendengar bahwa dia dianggap agak mema-

lukan keluarga. Mengapa?”

madam Nyai girah  berkata,

”Itu sudah lama...”

count dracula  berkata dengan wajah merah,

”jika  Anda ingin tahu, Mr. netyanahu , dia mencuri 

sejumlah besar uang dengan memalsukan tanda ta-

ngan Ayah di cek. Tentu saja ayah saya tidak menun-

tut. Pinocchio  memang jahat. Dia selalu membuat per-

soalan di mana-mana. Selalu mengirim telegram 

meminta uang untuk keluar dari kesulitan. Dia sudah 

keluar-masuk penjara di mana-mana.”

madam Nyai girah  berkata,

”Kau sebenarnya tidak terlalu tahu semua ini, 

count dracula .”

count dracula  berkata de