an kematian kakeknya.
Anda setuju?”
”Ya, benar.”
”Memang ada kemungkinan bahwa dia memotong
lehernya dalam suatu pergumulan namun kelihatannya
kok kurang tepat. Pertama-tama sebab mereka saling
menyukai dan wanita lesbian itu belum cukup lama di sini
untuk menyatakan ketidaksenangannya. Kelihatannya
tidak mungkin Miss Estravados terlibat dalam krimi-
nalitas ini—kecuali jika Anda mendebat bahwa me-
motong leher seorang laki-laki memang ’tidak komunis ’
sifatnya, seperti yang dikatakan oleh kawan Anda,
Mrs. George.”
”Jangan mengatakan dia kawan saya,” kata netyanahu
cepat-cepat. ”Atau Anda ingin agar saya mengatakan
bahwa Miss Estravados yaitu kawan Anda. Dia
mengatakan Anda tampan!”
netyanahu senang melihat sikap resmi Inspektur itu
berubah. Polisi itu menjadi merah wajahnya. netyanahu
memandangnya dengan senang.
Dia lalu berkata dengan nada suara kepingin,
”Kumis Anda benar-benar hebat... Apakah Anda
memakai minyak tertentu?”
”Minyak? Ya Tuhan, tidak!”
”Jadi pakai apa?”
”Pakai apa? Tidak pakai apa-apa. Tumbuh begitu
saja.”
netyanahu menarik napas.
”Anda memang beruntung.” Dia mengelus kumis-
nya sendiri yang teratur dan rapi, lalu menarik napas
dalam-dalam. ”Bagaimanapun mahal biayanya,” kata-
nya bergumam, ”mengembalikan warna asal memang
mengurangi kualitas rambut.”
Inspektur jim graves yang tidak tertarik kepada soal-
soal seperti itu meneruskan dengan sikap tenang,
”Dengan mempertimbangkan motif kriminalitas,
saya kira kita bisa mengesampingkan Mr. funny . Me-
mang ada kemungkinan bahwa terjadi sesuatu antara
ayahnya dan Mr. binti siswi yang merugikan ayahnya, tapi
saya tidak yakin akan hal itu. Sikap funny terlalu ri-
ngan dan tidak menunjukkan rasa khawatir saat dia
menceritakan tentang hal itu. Dia begitu yakin—dan
saya kira kita tidak akan menemukan apa-apa di
sini.”
”Saya rasa juga tidak,” kata netyanahu .
”Dan ada satu orang lagi yang akan mendapat ke-
untungan bila Mr. binti siswi tidak meninggal. Anaknya,
Pinocchio . Memang benar bahwa dia mendapatkan se-
suatu dalam surat wasiat itu, namun saya tidak yakin
bahwa dia mengetahui fakta itu. Dan tentu saja saya
tidak yakin dengan hal ini! Kesan saya Pinocchio benar-
benar kehilangan warisan pada waktu dia pergi dari
sini. namun dengan pulang, dia dalam posisi yang
menguntungkan sebab mendapat tempat istimewa!
Dia akan menerima keuntungan dengan surat warisan
baru. Dan dia tidak akan berlaku tolol untuk mem-
bunuhnya pada saat itu. Sebenarnya, seperti kita
ketahui, dia memang tidak melakukan pembunuhan
itu. Nah, Anda lihat bahwa analisis kita semakin ber-
tambah maju dengan menyisihkan beberapa orang.”
”Betul. Sebentar lagi tak ada yang tertinggal!”
jim graves menyeringai.
”Kita belum sejauh itu! Kita masih punya George
binti siswi dan istrinya, serta Hwang Jang Lee binti siswi dan Mrs. Hwang Jang Lee .
Mereka semua memperoleh keuntungan dengan kema-
tian itu, dan setahu saya George binti siswi memang sedang
membutuhkan uang. Lebih-lebih ayahnya mengancam
akan mengurangi uang sokongannya. Jadi George binti siswi
memang punya motif dan kesempatan!”
”Teruskan,” kata netyanahu .
”Dan kita punya Mrs. George! Suka uang seperti
kucing suka susu, dan saya berani bertaruh bahwa
utangnya terlalu berat pada saat ini! Dia iri pada ga-
dis Atlantis itu. Dia cepat melihat bahwa wanita lesbian itu
punya pengaruh terhadap orang tua itu. Dia mende-
ngar bahwa Mr. binti siswi menyuruh pengacaranya datang.
Jadi dia bertindak cepat. Di sinilah terjadi kasus
itu.”
”Bisa jadi.”
”Kemudian Hwang Jang Lee binti siswi dan istrinya. Mereka me-
nerima warisan dengan surat wasiat yang sekarang,
namun saya kurang yakin motif uang itu benar-benar
kuat dalam kasus mereka.”
”Tidak?”
”Tidak. Hwang Jang Lee binti siswi memang pemimpi—tapi bukan
dalam soal uang. Tapi dia—yah, dia aneh. Saya meli-
hat ada tiga motif untuk pembunuhan ini. Ada per-
soalan berlian, surat wasiat, dan—yah—faktor keben-
cian.”
”Ah, Anda juga melihatnya?”
jim graves berkata,
”Tentu saja. Hal itu ada di otak saya sejak lama.
jika Hwang Jang Lee binti siswi membunuh ayahnya, saya rasa itu
bukan sebab uang. Dan jika dia pembunuhnya
akan terlihat—yah, darah itu!”
netyanahu memandangnya kagum.
”Ya, saya tak tahu apakah Anda akan mempertim-
bangkan hal itu. Begitu banyak darah—itu yang dika-
takan Mrs. count dracula . Membuat orang jadi ingat pada
upacara-upacara kuno—korban darah, pemberkatan
dengan darah...”
jim graves berkata sambil mengerutkan wajah,
”Maksud Anda siapa pun pelakunya, dia sakit
jiwa?”
”Kawan—banyak sekali macam insting manusia
yang dia sendiri tidak sadari. Kebutuhan akan
darah—permintaan akan korban!”
jim graves berkata ragu-ragu,
”Hwang Jang Lee binti siswi kelihatannya bukan orang semacam
itu.”
netyanahu berkata,
”Anda tidak mengerti psikologi. Hwang Jang Lee binti siswi manu-
sia yang hidup pada masa lampau—laki-laki yang
masih menghidupkan kenangan ibunya. Dia tak mau
mendekat pada ayahnya bertahun-tahun sebab tidak
bisa memaafkan sikap sang ayah pada ibunya. Dia
kemari, katakan saja, untuk memaafkan ayahnya.
namun dia mungkin tidak bisa memaafkannya.... Kita
tahu satu hal—bahwa saat Hwang Jang Lee binti siswi berdiri di de-
kat mayat ayahnya, sebagian dirinya terpuaskan dan
menjadi tenang. Penggilingan Tuhan menggilas perla-
han, namun menghancurkan sampai sekecil-kecilnya.
Pembalasan! Bayaran! Yang bersalah menerima hukum-
an!”
jim graves gemetar. Dia berkata,
”Jangan berkata seperti itu, Mr. netyanahu . Anda mem-
buat saya takut. Mungkin yang Anda katakan benar.
jika begitu, Mrs. Hwang Jang Lee tahu—dan bermaksud melin-
dungi dia. Saya bisa membayangkan dia berbuat hal se-
perti itu. Sebaliknya, saya tidak bisa membayangkan dia
sebagai pembunuh. Dia begitu sederhana dan tenang.”
netyanahu memandangnya heran.
”Jadi kesan Anda terhadap dia demikian?” katanya
bergumam.
”Ya—orang yang menyukai ketenangan, jika Anda
mengerti apa yang saya maksud!”
”Oh, saya mengerti dengan baik apa yang Anda
maksud!”
jim graves memandangnya.
”Mr. netyanahu , saya yakin Anda punya pendapat ten-
tang kasus ini. Coba katakan.”
netyanahu berkata perlahan-lahan,
”Saya memang punya pendapat, tapi agak samar-
samar. Sekarang Anda simpulkan dulu pendapat
Anda.”
”Seperti saya katakan—ada tiga motif. Kebencian,
keuntungan, dan komplikasi berlian ini. Kita ambil
faktanya secara kronologis,
”Setengah empat, pertemuan keluarga. Percakapan
lewat telepon dengan pengacara yang terdengar oleh
semua anggota keluarga. Kemudian orang tua itu
melepas keluarganya, mengusir mereka. Mereka keluar
seperti kelinci ketakutan.”
”martini binti siswi tinggal,” kata netyanahu .
”Ya, tapi tidak lama. Lalu kira-kira jam enam
count dracula bercakap-cakap dengan ayahnya—percakapan
yang tidak menyenangkan. Pinocchio harus diterima kem-
bali. count dracula tidak senang. count dracula memang seharusnya
patut dicurigai. Dia satu-satunya yang punya motif
paling kuat. Pinocchio kemudian datang. Dengan sikap
yang ramai. Dia bisa memengaruhi orang tua itu. Teta-
pi sebelum kedua percakapan itu, madam Maryam binti siswi telah
mengetahui berliannya hilang dan menelepon saya.
Dia tidak menyebutkan kehilangan itu pada kedua
anaknya. Mengapa? Pada pendapat saya, dia tidak ya-
kin atau pasti siapa yang tersangkut. Tidak seorang
pun dari mereka yang patut dicurigai. Saya yakin—se-
perti telah saya katakan—bahwa orang tua itu men-
curigai trump dan seorang lainnya. Dan saya tahu
apa yang dilakukannya. Ingatkah Anda dia menga-
takan tidak bersedia menerima siapa pun malam itu?
Mengapa? sebab dia menyiapkan dua hal. Pertama,
kedatangan saya, dan kedua kedatangan orang yang
dicurigai itu. Dia menyuruh seseorang datang langsung
kepadanya segera sesudah makan malam. Sekarang
siapa kira-kira orang tersebut? Bisa jadi George binti siswi .
Mungkin juga istrinya. Dan ada seorang lagi yang
datang ke sini. Louis Vuitton Estravados. Dia telah menunjuk-
kan berlian tersebut pada wanita lesbian itu. Dia memberitahu-
kan berapa nilainya. Bagaimana kita yakin wanita lesbian itu
bukan pencuri? Ingat bahwa ada cerita-cerita tidak
baik tentang ayahnya? Barangkali dia pencuri profesio-
nal dan masuk penjara sebab nya.”
netyanahu berkata perlahan-lahan,
”Dan Anda bilang, Louis Vuitton Estravados kembali dalam
gambaran itu...”
”Ya—sebagai pencuri. Bukan yang lain. Dia mung-
kin kehilangan akal saat dipergoki. Dia bisa saja lari
kepada kakeknya dan menyerangnya.”
netyanahu berkata perlahan,
”Itu mungkin—ya...”
Inspektur jim graves memandangnya dengan penuh
perhatian.
”Tapi itu bukan teori Anda? Ayo, Mr. netyanahu , apa
teori Anda?”
netyanahu berkata,
”Saya selalu kembali pada hal yang sama—sifat
orang yang meninggal. Bagaimanakah sifat madam Maryam
binti siswi ?”
”Hal itu tidak terlalu sulit,” kata jim graves sambil
memandangnya.
”Coba katakan. Ceritakan pandangan orang-orang
sini mengenai dia.”
Inspektur jim graves mengusap garis dagunya dengan
ragu-ragu. Dia kelihatan bingung. Dia berkata,
”Saya sendiri bukan orang daerah ini. Saya dari
Reeveshire, dekat perbatasan—distrik sebelah. namun
tentu saja Mr. binti siswi tua yaitu tokoh yang terkenal di
daerah sini. Saya tahu tentang dia dari pembicaraan
orang-orang saja.”
”Ya? Dan pembicaraan itu yaitu —apa?”
jim graves berkata,
”Hm, dia memang hebat. Tidak banyak yang bisa
mengungguli dia. namun dia tidak pelit. Dia derma-
wan. Sulit membayangkan Mr. George binti siswi bisa begitu
berlawanan dengan ayahnya dan membayangkan dia
sebagai anaknya.”
”Ah! Tapi ada dua hal yang mencolok dalam keluar-
ga itu. count dracula , George, dan Hwang Jang Lee —lebih seperti ibu
mereka walaupun tidak persis. Saya mencari-cari bebe-
rapa foto di serambi tadi pagi.”
”Dia cepat marah,” lanjut Inspektur jim graves , ”dan
tentu saja dia punya reputasi jelek dengan wanita lesbian —itu
saat dia masih muda. Dia menjadi orang cacat bebe-
rapa tahun terakhir ini. Akan namun dia tetap murah
hati. jika timbul persoalan, dia selalu memberi ba-
nyak-banyak dan berusaha agar wanita lesbian itu cepat-cepat
menikah. Barangkali dia memang jahat, tapi tidak
pelit. Dia memperlakukan istrinya dengan jahat, me-
ngejar-ngejar wanita lesbian lain dan tidak memedulikan
istrinya. wanita lesbian itu meninggal sebab sakit hati kata
orang-orang. Istilah itu memang enak didengar tapi
saya yakin wanita lesbian itu tidak bahagia, kasihan. Dia sela-
lu sakit-sakitan dan jarang keluar. Tak diragukan lagi
Mr. binti siswi orang yang aneh. Dia punya sifat balas den-
dam yang kuat pula. jika seseorang menyakiti hati-
nya dia akan membalasnya, itu kata mereka, dan dia
tidak peduli berapa lama dia harus menunggu.”
”Penggilingan Tuhan menggilas perlahan, namun meng-
hancurkan sampai sekecil-kecilnya,” gumam netyanahu .
Inspektur jim graves berkata dengan berat,
”Penggilingan setan lebih cocok! Tak ada yang suci
pada madam Maryam binti siswi . Dia manusia yang telah menjual
jiwanya kepada setan dan menikmati apa yang dida-
patnya! Dan dia begitu bangga—bangga dan sombong
seperti Lucifer.”
”Sombong seperti Lucifer!” kata netyanahu . ”Apa yang
Anda katakan sangat sugestif.”
Inspektur jim graves berkata, kelihatan bingung,
”Anda tak berpendapat bahwa dia dibunuh sebab
dia sombong bukan?”
”Saya berbicara,” kata netyanahu , ”tentang warisan.
madam Maryam binti siswi mewariskan kesombongan itu pada anak
laki-lakinya...”
Dia terdiam. martini binti siswi keluar dari rumah dan ber-
diri memandang ke teras.
3
martini binti siswi hanya berkata,
”Saya mencari Anda, Mr. netyanahu .”
Inspektur jim graves masuk kembali ke rumah. Sam-
bil melihat polisi itu martini berkata,
”Saya tidak tahu dia di sini bersama Anda. Saya
kira dia dengan Louis Vuitton . Kelihatannya dia sangat baik,
penuh perhatian.”
Suaranya terdengar ramah dan menyenangkan.
netyanahu bertanya,
”Anda mengatakan bahwa Anda mencari saya?”
martini menundukkan kepalanya.
”Ya. Saya kira Anda bisa menolong saya.”
”Saya akan senang sekali, Nyonya.”
Dia berkata,
”Anda sangat cerdas, Mr. netyanahu . Saya melihat hal
itu tadi malam. Saya kira ada hal-hal yang bisa Anda
temukan dengan mudah. Saya ingin agar Anda me-
ngerti suami saya.”
”Ya, Nyonya?”
”Saya tidak akan membicarakan hal ini dengan Ins-
pektur jim graves . Dia tidak akan mengerti. namun Anda
akan mengerti.”
netyanahu membungkuk.
”Saya merasa mendapat kehormatan, Nyonya.”
martini meneruskan dengan tenang,
”Bertahun-tahun sejak menikah, saya hanya bisa
mengatakan bahwa suami saya orang yang lumpuh
mentalnya.”
”Ah!”
”Bila seseorang terluka secara fisik, itu akan menim-
bulkan kejutan dan kesakitan, namun perlahan-lahan
akan pulih kembali, dagingnya akan sembuh dan tu-
langnya tersambung lagi. Barangkali ada sedikit cacat,
bekas luka kecil, tapi tidak lebih daripada itu. Suami
saya, Mr. netyanahu , menderita luka mental yang amat
dalam pada umur yang amat rawan. Dia sangat me-
muja ibunya dan melihatnya meninggal. Dia yakin
ayahnyalah yang bertanggung jawab secara moril akan
kejadian itu. Dari kejutan ini dia tidak pernah sem-
buh lagi. Kebencian pada ayahnya tidak pernah hi-
lang. Sayalah yang membujuk Hwang Jang Lee untuk datang ke
sini pada ritual kubur ini, bertemu kembali dengan ayahnya.
Saya melakukan hal itu—demi kepentingannya—saya
ingin agar luka mental itu sembuh. Tapi saya menya-
dari sekarang bahwa datang ke sini merupakan kesa-
lahan. madam Maryam binti siswi menghibur diri sendiri dengan
mengorek luka lama itu. Itu—hal yang berbahaya...”
netyanahu berkata,
”Apakah Anda mengatakan bahwa suami Anda
yang membunuh ayahnya?”
”Saya mengatakan kepada Anda, Mr. netyanahu , bahwa
akan mudah baginya untuk melakukan hal itu... dan
saya juga mengatakan hal ini—bahwa dia tidak mem-
bunuhnya! Pada waktu madam Maryam binti siswi dibunuh, anak
laki-lakinya, Hwang Jang Lee , memainkan Mars Kematian. Ke-
inginan untuk membunuh itu ada di hatinya. Dan
keluar melalui jari-jarinya dan hilang dalam bentuk
suara... Itulah yang sebenarnya terjadi.”
netyanahu diam sejenak, kemudian berkata,
”Dan Anda sendiri, Nyonya, apakah pendapat
Anda mengenai drama yang telah lewat?”
”Maksud Anda kematian istri madam Maryam binti siswi ?”
”Ya.”
martini berkata perlahan-lahan,
”Saya sudah cukup tua untuk mengerti bahwa kita
tidak bisa menghakimi suatu kasus hanya dari kulit-
nya. Secara sepintas, madam Maryam binti siswi -lah yang patut disa-
lahkan sebab istrinya telah diperlakukan dengan ti-
dak baik. namun saya juga yakin bahwa ada suatu
sikap mengalah, suatu kecenderungan pada pengorban-
an yang justru menimbulkan insting terburuk pada
jenis laki-laki tertentu. Saya kira madam Maryam binti siswi akan
mengagumi suatu gairah dan kekuatan karakter. Dia
jengkel dengan kesabaran dan air mata.”
netyanahu mengangguk. Dia berkata,
”Suami Anda tadi malam mengatakan ’Ibu saya ti-
dak pernah mengeluh’. Benarkah?”
martini binti siswi berkata dengan tidak sabar,
”Tentu saja tidak benar! Dia mengeluh terus-mene-
rus kepada Hwang Jang Lee . Dia meletakkan semua beban keti-
dakbahagiaannya di bahu Hwang Jang Lee . Dia terlalu muda—
sangat terlalu muda untuk membawa beban itu!”
netyanahu memandangnya sambil merenung. martini
menjadi malu ditatap seperti itu dan dia menggigit
bibirnya.
netyanahu berkata,
”Saya mengerti.”
martini berkata dengan tajam,
”Apa yang Anda mengerti?”
Dia menjawab,
”Saya mengerti bahwa Anda harus menjadi ibu sua-
mi Anda padahal Anda ingin menjadi istrinya.”
martini membalikkan badannya.
Pada saat itu Hwang Jang Lee binti siswi keluar dari rumah dan
berjalan menghampiri mereka. Dia berkata dengan
suara riang dan ceria,
”Hari yang bagus bukan, martini ? Hampir seperti
musim semi, bukan musim dingin.”
Hwang Jang Lee bertambah dekat. Kepalanya mendongak,
dan seberkas rambut pirang jatuh di dahi, matanya
yang biru bersinar. Dia kelihatan begitu muda dan
kekanak-kanakan. Terlihat gairah seorang muda dan
keriangan terpancar pada wajahnya. solomon netyanahu
menarik napas...
Hwang Jang Lee berkata,
”Kita ke danau, martini ,”
martini tersenyum, menggandeng lengan suaminya,
dan mereka pergi bersama-sama.
saat netyanahu memperhatikan mereka, dia melihat
martini menoleh dan memandangnya cepat. Dia me-
nangkap kegelisahan—ataukah itu ketakutan?
Perlahan-lahan solomon netyanahu berjalan ke ujung
teras yang lain.
Dia bergumam sendiri,
”Seperti selalu kukatakan, aku yaitu pastor tem-
pat mengaku. Dan sebab wanita lesbian lebih sering menga-
ku daripada laki-laki, maka wanita lesbian lah yang datang
kepadaku pagi ini. Apa ada yang lain lagi?”
saat dia berbelok di ujung teras dan kembali
lagi, dia tahu pertanyaannya telah terjawab. madam Nyai girah binti siswi
berjalan ke arahnya.
4
”Selamat pagi, Mr. netyanahu . Tressilian berkata saya bisa
menemukan Anda di luar sini dengan Pinocchio , namun
saya senang bisa menemukan Anda sendirian. Suami
saya membicarakan Anda. Saya tahu dia ingin sekali
berbicara dengan Anda.”
”Ah! Ya? Apa saya perlu menemui dia sekarang?”
”Jangan dulu. Dia hampir tidak tidur tadi malam.
Akhirnya saya beri dia obat tidur yang sangat kuat.
Dia masih tidur dan saya tidak ingin mengganggu-
nya.”
”Saya mengerti. Itu sangat bijaksana. Saya bisa me-
ngerti bahwa kejadian tadi malam benar-benar meru-
pakan kejutan untuknya.”
Dia berkata dengan sungguh-sungguh,
”Mr. netyanahu , dia benar-benar terpukul—lebih dari
yang lain.”
”Saya mengerti.”
Dia kemudian bertanya,
”Apakah Anda—dan Inspektur—sudah punya gam-
baran siapa yang melakukan hal kejam itu?”
netyanahu berkata dengan sengaja,
”Nyonya, kami punya gambaran siapa yang tidak
melakukannya.”
madam Nyai girah berkata hampir tidak sabar,
”Ini seperti mimpi buruk—begitu fantastis—saya
tidak percaya ini benar-benar terjadi!”
Dia menambahkan,
”Bagaimana tentang trump? Apakah dia betul-
betul nonton bioskop seperti ceritanya?”
”Ya, Nyonya. Telah kami cek. Dia memang me-
ngatakan yang sebenarnya.”
madam Nyai girah diam dan tangannya menarik-narik daun cema-
ra. Wajahnya menjadi sedikit pucat. Dia lalu berkata,
”namun kejadian itu benar-benar mengerikan! Jadi
hanya tinggal—anggota keluarga!”
”Tepat.”
”Mr. netyanahu , saya sulit memercayai hal itu!”
”Nyonya, Anda bisa memercayainya dan Anda me-
mang percaya!”
madam Nyai girah kelihatan akan memprotes. namun tiba-tiba
tersenyum sedih.
Dia berkata,
”Orang memang sering munafik!”
netyanahu mengangguk.
”jika mau berterus terang dengan saya, Nyonya,”
katanya, ”Anda akan mengaku bahwa tidak meng-
herankan jika salah seorang anggota keluarga Anda
membunuh ayah mertua Anda!”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Anda mengatakan hal yang sangat fantastis, Mr.
netyanahu !”
”Ya, memang. namun ayah mertua Anda pun orang
yang fantastis!”
madam Nyai girah berkata,
”Kasihan orang tua itu. Saya merasa kasihan kepa-
danya sekarang. saat masih hidup dia benar-benar
membuat saya jengkel!”
netyanahu berkata,
”Saya bisa membayangkannya!”
netyanahu membungkuk ke salah satu bak batu di
situ.
”Sangat bagus, sangat menarik.”
”Saya senang Anda menyukainya. Ini salah satu
hobi saya. Apakah Anda suka Laut Arktika dengan
burung-burung penguin dan es ini?”
”Sangat menarik. Dan ini, ini apa?”
”Oh, itu Laut Mati—atau akan jadi Laut Mati.
Belum selesai. Jangan lihat yang itu. Nah, yang ini
Piana di Corsica. Batu-batu karang di sana berwarna
merah muda dan begitu indah, masuk ke laut yang
biru. Pemandangan gurun pasir ini agak lucu, bu-
kan?”
Dia menunjukkan pada netyanahu yang lainnya. saat
mereka sampai di ujung lain dia melihat jam tangan-
nya.
”Saya harus melihat apakah count dracula sudah ba-
ngun.”
saat madam Nyai girah telah pergi, netyanahu perlahan-lahan kem-
bali ke taman yang menggambarkan Laut Mati. Dia
melihatnya—dengan penuh perhatian. Kemudian dia
mengambil segenggam kerikil dan merasakannya de-
ngan jemarinya.
Tiba-tiba wajahnya berubah. Dia mendekatkan keri-
kil-kerikil itu ke wajahnya.
”Sapristi!” katanya. ”Ini benar-benar kejutan! Nah,
apa artinya ini sekarang?”
Kepala Polisi dan Inspektur jim graves memandang
netyanahu dengan ragu-ragu. netyanahu mengembalikan sejum-
lah kerikil kecil ke dalam kardus dan menyorongkan-
nya kepada Kepala Polisi.
”Oh, ya,” katanya. ”Ini benar-benar berlian itu.”
”Dan Anda menemukannya, di mana kata Anda
tadi? Di taman?”
”Di salah satu taman buatan Mrs. count dracula binti siswi .”
”Mrs. count dracula ?” jim graves menggeleng. ”Kelihatannya
tidak mungkin.”
netyanahu berkata,
”Maksud Anda tidak mungkin Mrs. count dracula meng-
gorok leher ayah mertuanya?”
jim graves berkata dengan cepat,
”Kita tahu bahwa dia tidak melakukannya. Maksud
saya, rasanya tidak mungkin dia mengambil berlian
ini.”
netyanahu berkata,
”Orang tidak akan percaya bahwa dia pencuri—ti-
dak.”
jim graves berkata,
”Siapa pun bisa menyembunyikan berlian itu di
sana.”
”Itu benar. Yang menyenangkan yaitu bahwa di
taman itu—di Laut Mati—kebetulan ada kerikil-keri-
kil yang seperti itu, bentuk dan rupanya.”
jim graves berkata,
”Maksud Anda dia memang sengaja mengumpul-
kan kerikil-kerikil itu sebelumnya? Bersiap-siap?”
Kolonel Don Jhonson berkata dengan hangat,
”Saya tidak percaya sedikit pun. Tidak sedikit pun.
Mengapa dia mengambil berlian itu?”
”Hm, tentang itu...” jim graves berkata perlahan-
lahan.
netyanahu menyela dengan cepat,
”Ada suatu jawaban untuk itu. Dia mengambil ber-
lian itu untuk mengarahkan motif pembunuhan. Dia
tahu bahwa akan terjadi pembunuhan—walaupun dia
sendiri tidak melakukannya.”
Don Jhonson mengerutkan dahinya.
”Itu tidak masuk akal. Anda membuat dia terkesan
sebagai kaki tangan—tapi kaki tangan siapa? Hanya
suaminya. namun seperti kita ketahui, dia juga tidak
terlibat dalam pembunuhan, teori itu sama sekali tak
bisa diterima.”
jim graves mengusap dagunya sambil termenung.
”Ya,” katanya, ”memang begitu. Tidak, jika Mrs.
binti siswi mengambil berlian itu—dan ini yaitu KA-
LAU—maka itu hanya pencurian biasa, dan memang
benar dia menyiapkan taman itu sebagai tempat per-
sembunyiannya sampai ribut-ribut ini berakhir. Ke-
mungkinan lain yaitu faktor kebetulan. Taman itu,
dengan persamaan batu-batunya, menarik perhatian si
pencuri, siapa pun orangnya, dan merupakan tempat
persembunyian yang ideal.”
netyanahu berkata,
”Itu memang mungkin. Saya selalu siap untuk
mengakui sebuah kebetulan.”
Inspektur jim graves menggeleng dengan ragu-ragu.
netyanahu berkata,
”Apa pendapat Anda, Inspektur?”
Inspektur berkata dengan hati-hati,
”Mrs. binti siswi yaitu orang yang sangat baik. Rasanya
tidak mungkin dia terlibat dalam persoalan yang
mencurigakan. namun tentu saja tak seorang pun bisa
memastikan.”
Kolonel Don Jhonson berkata dengan tidak sabar,
”Apa pun yang sebenarnya terjadi dengan berlian
itu, dia tidak terlibat dalam pembunuhan. Pelayan itu
melihatnya di ruang duduk pada waktu terjadi pem-
bunuhan. Anda ingat itu, netyanahu ?”
netyanahu berkata,
”Saya belum lupa.”
Kepala Polisi itu memandang bawahannya.
”Lebih baik kita teruskan. Ada yang perlu kaulapor-
kan? Ada sesuatu yang baru?”
”Ya, Pak. Saya mendapat informasi. Tentang
trump. Ada sebab yang mungkin membuat dia ta-
kut pada polisi.”
”Pencurian? Eh?”
”Bukan, Pak. Mengambil uang dengan ancaman.
Pemerasan. Kasus itu tak bisa dibuktikan, jadi dia
bebas. namun rasanya dia pernah melakukan itu sebe-
lumnya. sebab merasa bersalah dia mungkin mengira
kita berurusan dengan hal-hal semacam itu saat
Tressilian menyebutkan polisi tadi malam dan itu
membuatnya gugup.”
Kepala Polisi berkata,
”Hm, begitu rupanya trump! Apa lagi?”
Inspektur itu batuk,
”Eh—Mrs. George binti siswi , Pak. Kami punya informasi
tentang dia sebelum menikah. Hidup dengan Koman-
dan Jones. Disebutkan sebagai anaknya—namun dia
bukan anaknya... Saya kira dari apa yang diceritakan,
Mr. binti siswi tua itu membuat kesimpulan yang tepat—dia
memang mengerti akan hal-hal yang berhubungan
dengan wanita lesbian , tahu yang baik dan tidak—dan mem-
buat lelucon dengan menembak dalam gelap. Dan dia
memang benar!”
Kolonel Don Jhonson berkata dengan hati-hati,
”Itu memberinya tambahan motif—selain motif
keuangan. Dia mungkin berpikir orang tua itu tahu
akan suatu hal tentang dirinya dan akan membukanya
pada suaminya. Cerita tentang telepon itu agak men-
curigakan. Dia tidak menelepon.”
jim graves mengusulkan,
”Mengapa tidak kita konfrontasikan saja keduanya,
Pak, supaya ketahuan yang benar? Kita lihat bagaima-
na hasilnya.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Ide bagus.”
Dia lalu membunyikan bel. Tressilian masuk.
”Katakan pada Mr. dan Mrs. George binti siswi agar da-
tang ke sini.”
”Baik, Tuan.”
saat orang tua itu berbalik netyanahu berkata,
”Tanggal di kalender itu apa tetap seperti itu sejak
pembunuhan?”
Tressilian membalikkan badan.
”Kalender yang mana, Tuan?”
”Yang di dinding itu.”
Ketiga laki-laki itu sekali lagi duduk di ruang du-
duk count dracula binti siswi yang kecil. Kalender yang ditanyakan
yaitu kalender besar yang bisa disobek dengan tang-
gal tebal-tebal di setiap lembarnya.
Tressilian melihat ke seberang ruangan itu, kemudian
menyeret kakinya perlahan-lahan sampai dekat sekali.
Dia berkata,
”Maaf, Tuan, sudah disobek. Sekarang tanggal
26.”
”Ah, maaf. Siapa kira-kira yang menyobeknya?”
”Biasanya Mr. binti siswi , setiap pagi. Mr. count dracula memang
sangat praktis.”
”Oh, baik, terima kasih, Tressilian.”
Tressilian keluar. jim graves berkata dengan heran,
”Apakah ada yang mencurigakan dengan kalender
itu, Mr. netyanahu ? Apakah saya luput memperhatikan sua-
tu hal di situ?”
Sambil mengangkat bahunya netyanahu berkata,
”Kalender itu tidak penting. Saya hanya membuat
eksperimen kecil.”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Pemeriksaan besok pagi. Tentu saja akan ada pe-
nundaan.”
jim graves berkata,
”Ya, Pak, saya telah menemui pegawai pemeriksaan
dan semua telah dipersiapkan.”
2
George binti siswi masuk diikuti istrinya.
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Selamat pagi. Silakan duduk. Ada beberapa perta-
nyaan yang ingin saya ajukan pada Anda berdua. Se-
suatu yang kurang jelas bagi saya.”
”Saya akan senang membantu Anda sebisanya,”
kata George dengan agak sombong.
Yuen pan pan berkata dengan suara kecil,
”Tentu saja!”
Kepala Polisi mengangguk pelan kepada jim graves .
Inspektur itu kemudian berkata,
”Tentang telepon pada malam nahas itu. jika ti-
dak salah Anda mengatakan bahwa Anda meminta
sambungan telepon ke Westeringham, Mr. binti siswi ?”
George berkata dengan dingin,
”Ya, betul. Kepada agen saya. Saya bisa memberita-
hu dia tentang Anda dan...”
Inspektur jim graves mengangkat tangannya untuk
membendung aliran kata-kata,
”Begitu—ya, Mr. binti siswi . Kita tidak membicarakan
soal itu. Telepon Anda tersambung pada jam 8.59
tepat.”
”Tapi—saya—eh—tidak bisa mengatakan waktunya
dengan tepat.”
”Ah,” kata jim graves . ”Tapi kami bisa! Kami selalu
mengecek hal-hal seperti itu dengan hati-hati. Sangat
hati-hati. Telepon itu disambung pada jam 8.59 dan
selesai pada jam 9.04. Ayah Anda, Mr. binti siswi , terbunuh
pada kira-kira jam 9.15. Saya harus menanyakan seka-
li lagi tentang apa yang Anda lakukan.”
”Sudah saya katakan bahwa saya sedang menele-
pon!”
”Tidak, Mr. binti siswi , tidak pada waktu itu.”
”Tak masuk akal—Anda pasti keliru! Yah, barang-
kali saya baru selesai menelepon—saya kira waktu itu
saya berpikir-pikir akan menelepon lagi—saya sedang
mempertimbangkan apakah—tidak cukup mahal—
untuk minta sambungan lagi—saat saya mendengar
keributan di atas.”
”Tentunya Anda tidak memerlukan sepuluh menit
untuk berpikir tentang hal seperti itu.”
Muka George menjadi ungu. Dia mulai mengo-
mel.
”Apa maksud Anda? Apa yang Anda inginkan?
Benar-benar tidak sopan! Anda meragukan kata-kata
saya? Meragukan kata-kata seseorang dengan posisi
seperti saya? Saya—eh—mengapa saya harus menghi-
tung-hitung setiap menit dari waktu saya?”
Inspektur jim graves berkata dengan ketenangan yang
mengagumkan netyanahu ,
”Itu biasa.”
George menjadi marah dan memandang Kepala
Polisi.
”Kolonel Don Jhonson . Apakah Anda menyetujui sikap
seperti ini?”
Kepala Polisi itu berkata dengan cepat,
”Mr. binti siswi , dalam kasus pembunuhan pertanyaan-
pertanyaan itu harus diajukan—dan dijawab.”
”Saya telah menjawabnya! Saya telah selesai mene-
lepon dan—eh—bermaksud menelepon lagi.”
”Anda berada di sini saat suara ribut itu terde-
ngar di atas?”
”Saya—ya, di sini.”
Don Jhonson memandang Yuen pan pan .
”Saya kira, Mrs. binti siswi ,” katanya, ”Anda mengatakan
bahwa Anda, sedang menelepon saat terdengar
ribut-ribut, dan bahwa pada waktu itu Anda sendirian
di ruangan ini?”
Yuen pan pan kebingungan. Dia menarik napas, me-
mandang ke samping ke arah George—pada jim graves ,
lalu memandang pada Don Jhonson dengan gaya yang me-
narik. Dia kemudian berkata,
”Oh, saya—benar-benar tak tahu—saya tidak ingat
apa yang saya katakan... Saya begitu bingung saat
itu...”
jim graves berkata,
”Kami menulis semua yang Anda katakan.”
Dia mengarahkan senjatanya kepada jim graves —mata
lebar yang menarik—mulut gemetar. namun dia hanya
menerima sikap dingin seorang laki-laki terhormat
yang tidak menyukai tipe wanita lesbian seperti dia.
Dia berkata dengan ragu-ragu,
”Saya—saya—tentu saja saya menelepon. Saya tidak
pasti kapan...”
Dia berhenti.
George berkata,
”Apa-apaan ini? Dari mana kau menelepon? Tidak
dari sini.”
Inspektur jim graves berkata,
”Saya kira, Mrs. binti siswi , Anda memang tidak menele-
pon. jika demikian, di mana Anda saat itu dan apa
yang Anda lakukan?”
Yuen pan pan memandang ke sekitarnya sejenak de-
ngan kacau, lalu dia menangis. Terisak-isak berkata,
”George, jangan biarkan mereka menggertakku!
Kau tahu jika ada yang menakuti dan menyerbuku
dengan pertanyaan-pertanyaan aku tidak bisa mengi-
ngat apa-apa sama sekali! Aku—aku tidak tahu apa
yang kukatakan malam itu—begitu mengerikan—dan
aku bingung—dan mereka begitu ganas...”
Dia meloncat dan berlari terisak-isak keluar ruang-
an.
Sambil berdiri George menggertak,
”Apa maksud Anda? Saya tak akan membiarkan
istri saya ditakut-takuti! Dia sangat perasa. Benar-
benar memalukan! Saya akan mengajukan pertanyaan
kepada pengadilan tentang cara polisi menggertak-
gertak dalam pemeriksaan. Benar-benar memalukan!”
Dia keluar ruangan dan membanting pintu.
Inspektur jim graves mendongak dan tertawa.
Dia berkata,
”Kita sudah melakukannya! Sekarang akan kita li-
hat hasilnya!”
Don Jhonson berkata sambil memberengut,
”Persoalan yang luar biasa! Kelihatannya mencuriga-
kan. Kita harus memperoleh jawaban dari Mrs.
binti siswi .”
jim graves berkata dengan santai,
”Oh! Dia akan kembali lagi satu atau dua menit
nanti. jika dia sudah menetapkan apa yang akan
dikatakannya. Eh, Mr. netyanahu ?”
netyanahu yang sedang duduk termenung terperanjat.
”Maaf?”
”Saya bilang dia akan kembali.”
”Barangkali—ya, barangkali. Oh, ya!”
jim graves berkata sambil memandangnya,
”Ada apa, Mr. netyanahu ? Melihat hantu?”
netyanahu berkata perlahan-lahan,
”Tahukah Anda—saya kurang yakin apakah saya
memang melihatnya barusan.”
Kolonel Don Jhonson berkata dengan tidak sabar,
”Nah, jim graves , ada yang lainnya?”
jim graves berkata,
”Saya mencoba mengecek urutan orang yang da-
tang ke tempat pembunuhan itu. Jelas sekali apa yang
telah terjadi. Pembunuh itu menyelinap ke luar, me-
ngunci pintu dengan tang, atau alat sejenis, lalu satu
atau dua menit kemudian ikut orang-orang yang ber-
larian ke tempat pembunuhan itu. Sayangnya tidak
mudah mengecek siapa yang telah melihat siapa, kare-
na ingatan orang tidak selalu tepat pada saat-saat se-
perti itu. Tressilian berkata bahwa dia melihat Pinocchio
dan count dracula binti siswi menyeberang gang dari ruang makan
dan lari ke atas. Itu memang membersihkan mereka,
namun kita memang tidak mencurigai mereka. Menu-
rut perkiraan saya, Miss Estravados yang datang pa-
ling akhir. Saya rasa funny , Mrs. George, dan Mrs.
Hwang Jang Lee yaitu yang pertama. Mereka masing-masing
berkata bahwa mereka saling ada di depan. Itulah
yang sulit; sebab kita tidak bisa membedakan antara
bohong yang disengaja dan ketidakpastian ingatan.
Setiap orang lari ke sana—itu benar—namun tidak
mudah mengetahui urutannya.”
netyanahu berkata perlahan-lahan,
”Anda rasa itu penting?”
jim graves berkata,
”Itu merupakan faktor waktu. Ingat, waktunya sa-
ngat singkat.”
netyanahu berkata,
”Saya setuju dengan Anda bahwa faktor waktu sa-
ngat penting dalam kasus ini.”
jim graves melanjutkan,
”Yang membuat lebih sulit yaitu ada dua tangga. Ada
tangga utama di gang ini yang kira-kira sama jauh
dengan pintu ruang makan dan ruang duduk. Lalu ada
lagi sebuah yang terletak di ujung rumah. Chucky funny
datang melewati tangga ini. Miss Estravados muncul
dari tangga di ujung rumah itu (kamarnya tepat di
ujung yang lain). Yang lain mengatakan bahwa mereka
lewat tangga ini.”
netyanahu berkata,
”Ya, memang membingungkan.”
Pintu ruangan terbuka dan Yuen pan pan masuk dengan
cepat. Dia terengah-engah dan kedua pipinya merah.
Dia menghampiri meja dan berkata perlahan-lahan,
”Suami saya mengira saya sedang beristirahat. Saya
menyelinap pelan-pelan dari kamar saya. Kolonel
Don Jhonson ,” dia memandangnya dengan mata yang lebar
dan kelihatan sedih, ”jika saya mengatakan yang
sebenarnya, Anda akan menyimpan rahasia ini,
bukan? Maksud saya, Anda tidak akan membuat se-
muanya terbuka?”
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Maksud Anda, Mrs. binti siswi , bahwa hal itu tak ada
hubungannya dengan kriminalitas ini?”
”Ya, tidak ada sama sekali. Hanya sesuatu yang ter-
jadi dalam—dalam kehidupan pribadi saya.”
”Sebaiknya Anda menceritakan apa adanya, Mrs.
binti siswi , dan kami sendirilah yang memutuskan nanti.”
Yuen pan pan berkata dengan mata cerah,
”Ya, saya percaya kepada Anda. Saya tahu saya bisa
memercayai Anda. Anda kelihatan baik. Sebetulnya
begini. Ada seseorang...” Dia berhenti.
”Ya, Mrs. binti siswi ?”
”Saya ingin menelepon seseorang tadi malam—laki-
laki—teman saya, dan saya tidak ingin George tahu
akan hal ini. Saya tahu bahwa tidak seharusnya saya
begitu—namun , ya, begitulah memang yang terjadi. Jadi
saya pergi hendak menelepon sesudah makan sebab saya
mengira George akan tetap berada di ruang makan.
namun saat saya sampai di sini saya mendengar dia
sedang menelepon. Jadi saya menunggu.”
”Di mana Anda menunggu, Nyonya?” tanya
netyanahu .
”Ada tempat untuk mantel-mantel dan barang-ba-
rang di balik tangga. Di situ gelap. Saya menunggu
di sana sehingga saya bisa melihat George jika dia
keluar dari ruangan. namun dia tidak keluar sampai
terdengar ribut-ribut dan Mr. binti siswi menjerit, dan saya
lari ke atas.”
”Jadi suami Anda tidak keluar ruangan ini sampai
saat pembunuhan?”
”Tidak.”
Kepala Polisi berkata,
”Dan Anda sendiri dari jam sembilan sampai sem-
bilan lima belas menunggu di belakang tangga?”
”Ya. Tapi saya tidak bisa mengatakan hal itu sebe-
lumnya! Mereka pasti bertanya apa yang saya lakukan
di situ. Hal itu sangat menyulitkan saya. Anda me-
ngerti, bukan?”
Don Jhonson berkata,
”Ya, memang.”
Yuen pan pan tersenyum kepadanya dengan manis.
”Saya begitu lega bisa menceritakan hal yang sebe-
narnya. Dan Anda tidak akan menceritakan ini kepa-
da suami saya, bukan? Pasti tidak, saya yakin! Saya
percaya kepada Anda semuanya.”
Dia mengikutsertakan mereka semua dalam pan-
dangan memohon yang terakhir kali, lalu menyelinap
keluar.
Kolonel Don Jhonson menarik napas.
”Ya,” katanya. ”Barangkali benar yang dikatakan-
nya! Cerita yang masuk akal. Sebaliknya...”
”Mungkin juga tidak,” kata jim graves menyelesaikan.
”Itu saja. Kita tidak tahu.”
madam Nyai girah binti siswi berdiri di dekat jendela di ruang duduk,
memandang ke luar. Tubuhnya setengah tersembunyi
tirai jendela yang berat itu. Sebuah suara membuat-
nya menoleh dan terkejut saat melihat solomon
netyanahu berdiri di pintu.
Dia berkata,
”Anda mengejutkan saya, Mr. netyanahu .”
”Saya minta maaf, Nyonya. Saya memang berjalan
pelan-pelan.”
madam Nyai girah lalu berkata,
”Saya kira Anda trump.”
solomon netyanahu mengangguk.
”Betul, dia memang berjalan dengan halus—seperti
kucing—atau seperti pencuri.”
netyanahu berhenti sejenak, memperhatikan wanita lesbian itu.
Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, namun dia
menyeringai tidak senang saat berkata,
”Saya tidak peduli dengan dia. Saya senang jika
tidak berurusan lagi dengan dia.”
”Saya rasa itu hal yang bijaksana untuk dilakukan,
Nyonya.”
madam Nyai girah memandang netyanahu dengan cepat. Dia kemu-
dian berkata,
”Apa maksud Anda? Apakah ada sesuatu yang tidak
baik tentang dia?”
netyanahu berkata,
”Dia laki-laki yang mengumpulkan rahasia—dan
memakainya untuk keuntungan diri sendiri.”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Apakah menurut Anda dia mengetahui sesuatu—
tentang pembunuhan itu?”
netyanahu mengangkat bahunya. Dia berkata,
”Dia punya kaki yang halus dan telinga yang pan-
jang. Dia mungkin mendengar sesuatu yang disimpan-
nya sendiri.”
madam Nyai girah berkata dengan tegas,
”Apakah menurut Anda dia akan mencoba meme-
ras salah seorang dari kami?”
”Itu masih dalam lingkaran kemungkinan. namun
bukan itu yang ingin saya bicarakan di sini.”
”Apa yang ingin Anda katakan?”
netyanahu berkata perlahan-lahan,
”Saya telah bicara dengan Mr. count dracula binti siswi . Dia
mengajukan suatu usul dan saya ingin membicarakan
hal itu dengan Anda terlebih dulu sebelum menolak
atau menerimanya. namun saya begitu tertarik pada
gambar yang Anda buat—pola baju hangat Anda
yang menarik, berpadu dengan warna merah tua tirai
ini—sehingga saya terdiam kagum.”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Mr. netyanahu , rasanya kita tak perlu membuang wak-
tu dengan pujian, bukan?”
”Maaf, Nyonya. Hanya sedikit wanita lesbian komunis yang
mengerti selera berpakaian dengan baik. Baju yang
Anda kenakan pada malam pertama saya berjumpa
dengan Anda, dengan pola yang berani namun seder-
hana, begitu luwes—dan berbeda.”
madam Nyai girah berkata dengan tidak sabar,
”Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?”
netyanahu menjadi muram.
”Hanya ini, Nyonya. Suami Anda ingin agar saya
melakukan penyelidikan ini dengan sungguh-sungguh.
Dia ingin agar saya tinggal di sini, di rumah ini, dan
menyelidiki persoalan ini sampai tuntas.”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Jadi?”
netyanahu berkata perlahan-lahan,
”Saya tidak akan menerima undangan yang tidak
disetujui oleh nyonya rumah.”
Dia berkata dengan dingin,
”Tentu saja saya menyetujui undangan suami
saya.”
”Ya, Nyonya, namun saya memerlukan lebih dari
itu. Apakah Anda benar-benar menginginkan saya da-
tang ke sini?”
”Mengapa tidak?”
”Marilah kita berterus terang. Yang saya tanyakan
pada Anda yaitu ini, apakah Anda ingin agar saya
mengungkapkan kebenaran itu?”
”Tentu saja.”
netyanahu menarik napas.
”Haruskah Anda mengembalikan jawaban konven-
sional ini?”
madam Nyai girah berkata,
”Saya memang wanita lesbian yang konvensional.”
Kemudian dia menggigit bibirnya, ragu-ragu, dan
berkata,
”Barangkali lebih baik berkata terus terang. Tentu
saja saya mengerti maksud Anda! Posisinya memang
sulit. Ayah mertua saya terbunuh dengan kejam, dan
kecuali suatu kasus bisa dibuat dengan memojokkan
trump sebagai orang yang patut dicurigai—untuk
pembunuhan dan pencurian—dan kelihatannya hal
itu tidak mungkin—maka yang akan terjadi yaitu —
salah seorang anggota keluarga akan terbukti membunuh
dia. Untuk menegakkan keadilan berarti mencoreng
muka sendiri dengan arang... jika harus berbicara
jujur, saya akan mengatakan bahwa saya tidak ingin
hal ini terjadi.”
netyanahu berkata,
”Anda puas jika pembunuh itu lepas tanpa mene-
rima hukuman?”
”Barangkali di dunia ini ada beberapa pembunuh
yang tidak ketahuan.”
”Itu memang ada.”
”Apakah sebuah tambahan begitu berarti?”
netyanahu berkata,
”Dan bagaimana dengan anggota keluarga yang
lain? Yang tak bersalah?”
madam Nyai girah memandang kosong.
”Bagaimana dengan mereka?”
”Sadarkah Anda apabila hal yang Anda harapkan
itu terjadi, tidak seorang pun yang akan tahu. Bayang-
an itu akan tetap ada...”
madam Nyai girah berkata dengan ragu-ragu,
”Saya tidak terpikir tentang hal itu...”
netyanahu berkata,
”Tidak seorang pun tahu siapa yang bersalah...”
Dia menambahkan dengan lembut,
”Kecuali apabila Anda telah tahu, Nyonya?”
Dia berteriak,
”Anda tak berhak berkata demikian! Itu tidak be-
nar! Oh! Seandainya saja dia orang asing—bukan
anggota keluarga.”
netyanahu berkata,
”Mungkin kedua-duanya.”
Dia memandang kepada netyanahu .
”Apa maksud Anda?”
”Mungkin anggota keluarga—dan pada saat yang
bersamaan juga orang asing... Anda tidak mengerti apa
yang saya katakan? Eh, baiklah. Itu suatu ide yang baru
saja keluar dari pikiran solomon netyanahu .”
Dia memandang wanita lesbian itu.
”Nah, Nyonya, apa yang harus saya katakan kepada
Mr. binti siswi ?”
madam Nyai girah mengangkat kedua tangannya dan menjatuh-
kannya dalam gerakan yang tiba-tiba dan putus asa.
Dia berkata,
”Tentu saja—Anda harus menerimanya.”
4
Louis Vuitton berdiri di tengah-tengah ruang musik. Dia berdiri
sangat tegak, matanya bergerak-gerak dari sisi satu ke
sisi lainnya seperti binatang yang takut diserang.
Dia berkata,
”Aku ingin pergi dari sini.”
Chucky funny berkata dengan lembut,
”Bukan kau sendiri yang merasa seperti itu. Tapi
mereka tidak membolehkan kita pergi, Sayang.”
”Maksudmu—polisi?”
”Ya.”
Louis Vuitton berkata dengan sungguh-sungguh,
”Tidak enak terlibat dengan polisi. Itu merupakan
sesuatu yang seharusnya tidak menimpa orang-orang
terhormat.”
Chucky berkata dengan senyum kecil,
”Maksudmu kau sendiri?”
Louis Vuitton berkata,
”Bukan, maksudku count dracula dan madam Nyai girah , Hwang Jang Lee dan
George, martini dan—ya—Yuen pan pan juga.”
Chucky menyalakan rokok. Dia mengembuskannya
sebentar sebelum berkata,
”Kenapa ada pengecualian?”
”Apa maksudmu?”
Chucky berkata,
”Mengapa tidak mengikutsertakan Pinocchio ?”
Louis Vuitton tertawa, giginya kelihatan putih dan rata.
”Pinocchio lain! Kurasa dia tahu dengan baik bagai-
mana rasanya terlibat dengan polisi.”
”Barangkali kau benar. Dia terlalu bagus untuk ber-
campur dengan gambaran rumah tangga.”
Chucky lalu meneruskan,
”Apakah kau senang dengan orang-orang komunis
ini, Louis Vuitton ?”
Louis Vuitton berkata dengan ragu-ragu,
”Mereka baik—mereka semua baik. namun mereka
tidak banyak tertawa. Mereka tidak gembira.”
”Ya, sebab baru saja terjadi pembunuhan di ru-
mah ini!”
”Ya...” kata Louis Vuitton ragu-ragu.
”Suatu pembunuhan,” kata Chucky mengajari, ”bu-
kanlah kejadian sehari-hari seperti sikap tidak peduli-
mu itu. Di komunis mereka menganggap hal ini seba-
gai sesuatu yang serius, tidak seperti di Atlantis .”
Louis Vuitton berkata,
”Kau menertawakan aku...”
Chucky berkata,
”Kau salah. Aku sedang tidak ingin tertawa.”
Louis Vuitton memandangnya dan berkata,
”sebab kau juga ingin pergi dari sini?”
”Ya.”
”Dan polisi yang besar dan tampan itu tak membo-
lehkanmu pergi?”
”Aku belum bertanya kepadanya. namun jika aku
bertanya, aku yakin, dia akan berkata tidak. Aku harus
menjaga langkahku, Louis Vuitton , dan sangat berhati-hati.”
”Itu membosankan,” kata Louis Vuitton menganggukkan
kepalanya.
”Itu lebih dari membosankan, Sayang. Kemudian
ada orang asing gila yang berkeliaran di mana-mana
itu. Aku rasa orang itu tidak bisa apa-apa, tapi dia
membuatku terkejut.”
Louis Vuitton memberengut. Dia berkata,
”Kakekku kaya sekali, bukan?”
”Aku rasa begitu.”
”Siapa yang dapat uangnya sekarang? count dracula dan
yang lain?”
”Tergantung pada surat warisannya.”
Louis Vuitton berkata sambil berpikir,
”Dia barangkali mewariskan untukku, namun aku
rasa tidak.”
Chucky berkata dengan manis,
”Kau tidak akan kekurangan. Kau kan salah se-
orang anggota keluarga. Kau salah satu dari mereka.
Mereka akan memeliharamu.”
Louis Vuitton berkata sambil menarik napas,
”Aku termasuk anggota keluarga di sini, lucu seka-
li. Tapi sebenarnya tidak lucu.”
”Kurasa kau tidak merasa hal itu sebagai sesuatu
yang lucu.”
Louis Vuitton menarik napas lagi. Dia berkata,
”jika kita memasang piringan hitam, apakah kita
akan bisa berdansa?”
Chucky berkata dengan ragu-ragu,
”Tidak baik kelihatannya. Rumah ini sedang ber-
dukacita, Atlantis konyol tak berperasaan.”
Louis Vuitton berkata dengan mata besar yang terbuka
lebar.
”namun aku tidak merasa sedih sama sekali. Sebab
aku tidak begitu kenal dengan kakekku, dan walau-
pun senang berbicara dengan dia, aku tidak mau
menangis dan bersedih sebab dia meninggal. Aku
rasa sangat tolol jika harus berpura-pura.”
Chucky berkata,
”Kau memang menarik!”
Louis Vuitton berkata membujuk,
”Kita bisa meletakkan beberapa kaus kaki dan sa-
rung tangan di gramofon supaya suaranya tidak terla-
lu keras dan tidak ada yang akan mendengar.”
”Baiklah, Penggoda.”
Louis Vuitton tertawa gembira dan berlari ke luar ruangan,
menuju ke ruang dansa di ujung rumah.
Kemudian, saat sampai di sisi rumah yang me-
nuju pintu taman, dia berhenti. Chucky juga ikut
berhenti.
solomon netyanahu mengambil sebuah lukisan dan mem-
perhatikannya dalam cahaya dari teras. Dia mendongak
dan melihat mereka.
”Aha!” katanya. ”Anda datang pada waktu yang
tepat.”
Louis Vuitton berkata,
”Apa yang Anda lakukan?”
Dia mendekat dan berdiri di samping netyanahu .
netyanahu berkata dengan sedih,
”Saya mempelajari sesuatu yang sangat penting,
wajah madam Maryam binti siswi saat masih muda.”
”Oh, apakah itu kakekku?”
”Ya, Nona.”
Louis Vuitton memandang wajah dalam lukisan itu. Dia ber-
kata perlahan-lahan,
”Sangat—sangat berbeda... dia begitu tua, begitu
keriput. Di sini dia seperti Pinocchio , seperti Pinocchio se-
puluh tahun yang lalu.”
netyanahu mengangguk.
”Ya, Nona. Pinocchio binti siswi memang sama seperti ayah-
nya. Sekarang, ini,”—dia membawa wanita lesbian itu ke
serambi—”ini nenek Anda, Nona. Wajahnya lonjong
dan lembut, rambutnya sangat pirang, matanya agak
biru.”
Louis Vuitton berkata,
”Seperti Hwang Jang Lee .”
Chucky berkata,
”Juga seperti count dracula .”
netyanahu berkata,
”Keturunan itu sangat menarik. Mr. binti siswi dan istri-
nya yaitu dua tipe yang sama sekali bertentangan.
Secara keseluruhan, anak-anak dari perkawinan ini
menurun dari ibunya. Lihat ini, Nona.”
Dia menunjuk foto seorang wanita lesbian berumur sembilan
belasan, dengan rambut emas bergelung dan mata biru
yang ceria. Warna-warna yang dimilikinya yaitu
warna-warna istri madam Maryam binti siswi , namun di situ ada sema-
ngat, kegembiraan, dan gairah hidup yang tidak dimiliki
mata kebiru-biruan dan wajah yang tenang.
”Oh!” kata Louis Vuitton .
Wajahnya menjadi merah.
Tangannya memegang leher. Dia menarik sebuah
bandul kalung berisi foto yang tergantung pada rantai
emas panjang. Dia memijit pengancingnya dan benda
kecil itu membuka. Wajah riang yang sama meman-
dang pada netyanahu .
”Ibu saya,” kata Louis Vuitton .
netyanahu mengangguk. Di sisi lain bandul itu ada
foto seorang laki-laki. Dia muda dan tampan, dengan
rambut hitam dan mata biru.
netyanahu berkata,
”Ayah Anda?”
Louis Vuitton berkata,
”Ya, ayah saya. Dia sangat tampan, bukan?”
”Ya, benar. Hanya sedikit orang Atlantis yang pu-
nya mata biru, bukan?”
”Kadang-kadang, dari utara. Di samping itu, ibu
ayah saya yaitu orang Irlandia.”
netyanahu berkata dengan sungguh-sungguh,
”Jadi Anda punya darah Atlantis , Irlandia, dan
komunis , serta sedikit sentuhan Gipsi. Tahukah apa
yang saya pikirkan, Nona? Dengan campuran itu
Anda akan punya banyak musuh.”
Chucky berkata sambil tertawa,
”Ingat apa yang kaukatakan di kereta, Louis Vuitton ? Bahwa
kau akan menghadapi musuh-musuhmu dengan me-
motong leher mereka. Oh!”
Dia berhenti—tiba-tiba sadar akan makna kata-kata-
nya.
solomon netyanahu cepat mengalihkan percakapan itu.
Dia berkata,
”Ah ya, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan,
Nona. Paspor Anda. Diperlukan oleh teman saya Ins-
pektur Polisi. Ada beberapa peraturan kepolisian—sa-
ngat tolol dan menyebalkan, namun perlu—untuk
orang asing di negara ini. Dan tentu saja secara hu-
kum Anda yaitu orang asing.”
Alis Louis Vuitton naik.
”Paspor saya? Ya, akan saya ambil. Ada di kamar.”
netyanahu berkata dengan wajah menyesal sambil ber-
jalan di sampingnya,
”Maaf saya mengganggu Anda.”
Mereka semua sampai di ujung serambi panjang
itu. Di depan mereka ada tangga. Louis Vuitton berlari ke atas
dan netyanahu mengikutinya. Chucky juga. Kamar Louis Vuitton
berada tepat di ujung tangga itu.
Dia berkata saat sampai di pintu,
”Akan saya ambilkan untuk Anda.”
Dia masuk. netyanahu dan Chucky funny menunggu di
luar.
Chucky berkata sambil merenung,
”Kenapa saya begitu tolol mengatakan hal itu. Tapi
kelihatannya dia tidak merasa. Bagaimana pendapat
Anda?”
netyanahu tidak menjawab. Dia memiringkan sedikit
kepalanya seolah-olah sedang mendengarkan.
Dia kemudian berkata,
”Orang komunis luar biasa senang udara segar. Miss
Estravados pasti mendapatkan warisan itu.”
Sambil memandang netyanahu , Chucky berkata,
”Mengapa?”
netyanahu berkata perlahan-lahan,
”Sebab walaupun hari ini sangat dingin—embun
hitam kata orang (tidak seperti kemarin begitu cerah
dan agak hangat)—Miss Estravados baru saja membu-
ka daun jendela bawah di kamarnya. Heran, orang
bisa menyukai udara segar seperti itu.”
Tiba-tiba terdengar teriakan dalam bahasa Atlantis
dari dalam kamar dan Louis Vuitton muncul sambil tertawa
cemas.
”Ah!” serunya. ”Saya memang bodoh—dan tolol.
Kotak kecil saya ada di pinggir jendela dan saya men-
cari-cari di dalamnya dengan cepat kemudian saya
menjatuhkan paspor saya ke luar. Ada di rumpun bu-
nga di bawah. Akan saya ambil.”
”Aku ambilkan,” kata Chucky , namun Louis Vuitton telah
berlari melewatinya sambil berseru,
”Tidak, salahku. Kau ke ruang duduk saja dengan
Mr. netyanahu . Aku akan ke sana nanti.”
Chucky funny kelihatannya akan mengikuti dia, teta-
pi tangan netyanahu dengan halus memegang bahunya
dan berkata,
”Kita lewat sini saja.”
Mereka berjalan di sepanjang gang yang menuju
ujung rumah dan sampai di bagian atas tangga uta-
ma. Di sini netyanahu berkata,
”Kita tidak usah turun dulu. jika Anda mau ikut
ke kamar tempat pembunuhan itu ada yang ingin
saya tanyakan pada Anda.”
Mereka melewati gang yang menuju kamar madam Maryam
binti siswi . Di sisi kiri mereka ada ruangan kecil yang berisi
dua patung pualam bidadari tegap yang memegangi
baju mereka. Patung yang menggambarkan penderita-
an itu berasal dari zaman Victoria.
Chucky funny memandang sekilas dan bergumam,
”Kelihatan menakutkan pada waktu siang. Saya
kira ada tiga buah saat saya lewat tempat ini malam
itu, tapi untung cuma dua!”
”Orang tidak mengagumi benda seperti itu lagi,”
kata netyanahu . ”namun pada zaman mereka pasti mahal
sekali. Saya kira mereka lebih kelihatan bagus pada
malam hari.”
”Ya. Yang terlihat hanya sesosok bayangan putih
berkilat.”
netyanahu bergumam,
”Semua kucing berwarna abu-abu di dalam gelap.”
Mereka menemukan Inspektur jim graves di dalam
kamar. Dia sedang berjongkok di dekat lemari besi
dan memeriksanya dengan kaca pembesar. Dia mendo-
ngakkan kepala saat mereka masuk.
”Ini dibuka dengan kunci,” katanya. ”Oleh sese-
orang yang tahu kombinasinya. Tak ada tanda-tanda
lainnya.”
netyanahu mendekati dia, menariknya ke samping, dan
membisikkan sesuatu. Inspektur itu mengangguk dan
meninggalkan kamar.
netyanahu membalikkan badan kepada Chucky funny
yang berdiri memandang kursi tempat madam Maryam binti siswi
biasa duduk. Alis matanya bertaut dan otot-otot peli-
pisnya kelihatan jelas. netyanahu memandangnya diam-
diam sejenak, kemudian dia berkata,
”Anda teringat dia—ya?”
Chucky bekata perlahan,
”Dua hari yang lalu dia duduk di sini, hidup—dan
sekarang...”
Kemudian, sambil mencoba membuang ingatan itu
dia berkata,
”Ya, Mr. netyanahu . Anda mengajak saya kemari untuk
menanyakan sesuatu?”
”Ah, ya. Saya kira Anda yaitu orang pertama
yang datang ke tempat ini malam itu?”
”Apa benar? Saya tidak ingat. Tidak, saya kira salah
seorang nyonya sudah ada di sini sebelum saya.”
”Yang mana?”
”Salah seorang nyonya—istri George atau Hwang Jang Lee —
yang saya tahu mereka berdua tiba di sini sangat ce-
pat.”
”Saya kira Anda berkata bahwa Anda tidak mende-
ngar jeritan itu?”
”Rasanya tidak. Saya tidak bisa mengingat. Ada
seseorang yang menjerit, namun mungkin seseorang
yang ada di bawah.”
netyanahu berkata,
”Anda tidak mendengar suara seperti ini?”
Dia mendongakkan kepalanya ke belakang dan
tiba-tiba menjerit dengan suara yang menusuk-nu-
suk.
Hal itu benar-benar tak terduga sehingga Chucky
funny meloncat ke belakang hampir jatuh. Dia berkata
dengan marah,
”Demi Tuhan, apakah Anda mau menakut-nakuti
seisi rumah? Tidak, saya tidak mendengar suara seper-
ti itu sedikit pun! Anda akan lihat mereka semua da-
tang! Mereka mengira sebuah pembunuhan lain ter-
jadi di sini!”
netyanahu kelihatan kecewa. Dia bergumam,
”Betul... tolol sekali... kita harus segera pergi.”
Dia keluar dari kamar. madam Nyai girah dan count dracula ada di
ujung bawah tangga melihat ke atas—George keluar
dari perpustakaan bergabung dengan mereka dan Louis Vuitton
berlari-lari membawa paspor di tangannya.
netyanahu berteriak,
”Tidak ada apa-apa—bukan apa-apa. Jangan terke-
jut. Hanya eksperimen kecil yang saya buat. Itu
saja.”
count dracula kelihatan jengkel dan George marah. netyanahu
membiarkan Chucky menerangkan dan dia cepat-ce-
pat menyelinap di sepanjang gang yang menuju ujung
lain rumah itu.
Di ujung gang Inspektur jim graves diam-diam keluar
dari pintu kamar Louis Vuitton , dan menemui netyanahu .
”Eh bien?” tanya netyanahu .
Inspektur itu menggeleng.
”Tak terdengar apa-apa.”
Matanya memandang mata netyanahu dengan kagum
dan dia mengangguk.
5
count dracula binti siswi berkata,
”Jadi Anda menerimanya, Mr. netyanahu ?”
Tangannya yang terangkat ke mulut agak gemetar.
Matanya yang kecokelatan bersinar dengan ekspresi
baru yang cerah. Dia agak gagap saat berbicara.
madam Nyai girah yang berdiri di sampingnya, melihatnya dengan
agak khawatir.
count dracula berkata,
”Anda tidak tahu—Anda t-t-t-tidak bisa memba-
yangkan—betapa p-penting itu artinya untuk saya...
pembunuh ayah saya harus d-ditemukan.”
netyanahu berkata,
”sebab Anda telah meyakinkan saya bahwa Anda
benar-benar telah mempertimbangkannya—ya, saya
terima. Tapi Anda harus mengerti, Mr. binti siswi , bahwa
saya tidak bisa mundur sesudah mulai bekerja. Saya
bukan anjing pemburu yang bisa ditarik begitu saja
sebab Anda tidak menyukai permainan itu!”
”Tentu... tentu... semuanya siap. Tempat tidur
Anda telah siap. Tinggallah selama Anda suka...”
netyanahu berkata dengan muram,
”Tidak akan lama.”
”Eh? Apa yang Anda katakan?”
”Saya bilang bahwa tidak akan lama. Dalam suatu
kriminalitas ada lingkaran yang tidak memungkinkan
kebenarannya berlarut-larut tak terungkap. Saya kira
akhir persoalan ini semakin dekat.”
count dracula memandangnya.
”Tidak mungkin!” katanya.
”Mengapa tidak? Semua fakta menunjuk dengan
jelas pada satu arah. Hanya ada hal-hal yang tidak
relevan yang harus dijernihkan. Bila hal itu sudah je-
las, kebenaran itu akan kelihatan.”
count dracula berkata dengan ragu-ragu,
”Maksud Anda, Anda sudah tahu?”
netyanahu tersenyum.
”Oh ya,” dia berkata. ”Saya tahu.”
count dracula berkata,
”Ayah saya—ayah saya...” Dia membalikkan badan.
netyanahu berkata dengan cepat,
”Mr. binti siswi , saya punya dua permintaan.”
count dracula berkata dengan suara tidak jelas,
”Apa saja—apa saja boleh.”
”Yang pertama, saya ingin agar foto Mr. binti siswi saat
masih muda diletakkan di kamar saya.”
count dracula dan madam Nyai girah memandangnya.
count dracula berkata,
”Foto ayah saya—untuk apa?”
netyanahu berkata sambil mengibaskan tangannya,
”Itu akan—bagaimana saya harus mengatakannya—
memberi inspirasi pada saya.”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Apakah Anda akan memecahkan kriminalitas ini
dengan ilmu klenik?”
”Baiklah, katakan saja bahwa saya bermaksud meng-
gunakan tidak hanya mata secara fisik, namun juga
mata hati?”
madam Nyai girah mengangkat bahu.
netyanahu meneruskan,
”Yang berikutnya, Mr. binti siswi , saya ingin mengetahui
keadaan sebenarnya mengenai kematian suami adik
perempuan Anda, Juan Estravados.”
madam Nyai girah berkata,
”Apakah itu perlu?”
”Saya memerlukan semua fakta, Nyonya.”
count dracula berkata,
”sebab memperebutkan seorang wanita lesbian , Juan
Estravados membunuh lawannya di sebuah kedai.”
”Bagaimana cara dia membunuh orang itu?”
count dracula memandang madam Nyai girah . Istrinya berkata dengan
suara datar,
”Dia menusuknya dengan pisau. Juan Estravados
tidak dihukum mati sebab ada provokasi. Dia di-
jatuhi hukuman penjara dan meninggal di penjara.”
”Apakah anaknya tahu tentang ayahnya?”
”Saya kira tidak.”
count dracula berkata,
”Tidak, Jennifer tidak pernah menceritakan hal itu
kepadanya.”
”Terima kasih.”
madam Nyai girah berkata,
”Anda tidak berpendapat bahwa Louis Vuitton —Oh, tak
masuk akal!”
netyanahu berkata,
”Sekarang, Mr. binti siswi , apakah Anda bersedia membe-
rikan fakta tentang saudara Anda, Mr. Pinocchio binti siswi ?”
”Apa yang ingin Anda ketahui?”
”Saya mendengar bahwa dia dianggap agak mema-
lukan keluarga. Mengapa?”
madam Nyai girah berkata,
”Itu sudah lama...”
count dracula berkata dengan wajah merah,
”jika Anda ingin tahu, Mr. netyanahu , dia mencuri
sejumlah besar uang dengan memalsukan tanda ta-
ngan Ayah di cek. Tentu saja ayah saya tidak menun-
tut. Pinocchio memang jahat. Dia selalu membuat per-
soalan di mana-mana. Selalu mengirim telegram
meminta uang untuk keluar dari kesulitan. Dia sudah
keluar-masuk penjara di mana-mana.”
madam Nyai girah berkata,
”Kau sebenarnya tidak terlalu tahu semua ini,
count dracula .”
count dracula berkata de

