setan iblis 2


 bab sedap kali seseorang berniat

mengeluarkan shadaqah dan dia ddak segera mengeluarkannya, maka aku

menjadi rekannya satu-satunya, hingga aku menjadi penghalang antara dirinya

dan kehendak untuk bershadaqah.”

Setelah itu Iblis berbalik sambil berkata dga kali, “Benar-benar celaka!”

Karena dengan begitu Musa dan anak keturunan Adam tahu apa yang harus

diwaspadai.

5 4 Perangkap Setan

Dan Hasan bin Slialih, dia berkata, “Aku pernah mendengar setan

berkata kepada wanita, “Engkau adalah separoh pasukanku, engkau adalah

anak panah yang kuluncurkan dan aku tidak pernah salah sasaran. Engkau

adalah penyimpan rahasiaku dan engkau adalah utusanku jika aku

m e m b u r u h k a n . ”

Ibnu Mu’aqqal berkata, “Aku pernah mendengar Wahb bin Munabbih

berkata, “Seorang rahib bertanya kepada setan yang muncul di hadapannya,

“Sifat anak keturunan Adam macam apakah yang paling mudah

m e m b a n t u m u ? ”

Iblis menjawab, “Marah. Sebab jika seseorang marah, maka kami bisa

membolak-baliknya sebagaimana anak kecil yang membolak-balik bola.”

Dari Tsabit t, dia berkata, “Tatkala Nabi ediutus Allah sebagai rasul,

maka Iblis mengirim setan-setan untuk menemui para sahabat beliau. Setan-

setan itu datang sambil membawa lembaran catatan yang masih kosong. Lalu

Iblis bertanya kepada setan-setan itu, “Mengapa kalian ddak mengganggu

m e r e k a ? ”

Mereka menjawab, “Kami tidak pernah berhadapan dengan suatu kaum

seperti halnya mereka.” Tetapi mereka berkata lagi, “Tetapi sebentar. Siapa

tahu dunia dibukakan kepada mereka, sehingga kita bisa mengganggu

m e r e k a . ”

Dari Abu Musa, dia berkata, ^^lis menyebarkan para prajuritnya

ke bumi, maka dia berkata, ‘Siapa yang bisa menyesatkan orang Muslim, maka

di kepalanya akan disematkan mahkota.”

Di antara prajurimya itu ada yang melaporkan hasil usahanya, “Aku

bisa mengganggu Fulan sehingga dia menceraikan istrinya.”

Dijawab, “Toh dia bisa menikah lagi.”

Yang lain melapor, ‘Aku dapat mengganggu Fulan sehingga dia

d u r h a k a . '

Dijawab, “Toh dia bisa berbuat kebajikan lagi.”

Yang lain melapor, “Aku dapat mengganggu Fulan sehingga dia

berz ina.

Dijawab, “Bagus.”

Yang lain melapor, “Aku dapat mengganggu Fulan sehingga dia minum

k h a m r . '

5 5Bab III: Mewaspadai Talbis Iblis

Dijawab, “Bagus.

Yang lain melapor, “Aku dapat mengganggu Fulan sehingga dia

m e m b u n u h .

Dijawab, “Bagus, bagus.'

N a m a A n a k - a n a k I b l i s

Dari Zaid bin Mujahid, dia berkata, “Iblis iru mempunyai lima anak,

yang masing-masing anak diberi tugas tersendiri, lalu dia memberikan nama

kepada mereka, yaitu:

Tsabr. Dia adalah pembawa musibah yang diperintahkan untuk

merusak, menyobek saku saat manusia berduka, menempelengi pipi

dan pengakuan-pengakuan Jahiliyah lainnya.

A‘war. Dia adalah pembawa zina, yang menyuruh manusia kepada zina

dan menganggapnya bagus.

Miswath. Dia adalah pembawa dusta, yang mendengar sesuatu lalu dia

mendatangi seseorang dan mengabarinya apa yang didengarnya. Lalu

orang iru menemui orang-orang seraya berkata, “Aku telah melihat

seseorang yang masih kuingat wajahnya tetapi aku tidak tahu namanya,

dia berlrata kepadaku begini dan begitu.”

Dasim. Tugasnya menyusup ke dalam diri seseorang tatkala menemui

keluarganya, lalu dia menampakkan cela mereka di matanya sehingga

membuatnya marah-marah.

Zaknahur. Dia adalah penguasa pasar yang mengibarkan benderanya

di pasar.

Dari Mukhallad bin Al-Husain, dia berkata, “Tidaklah Allah

memerintahkan hamba kepada sesuatu, melainkan Iblis menghambatnya

dengan dua perkara, dan dia tidak peduli dengan yang mana dia akan berhasil

mempengaruhinya, entah dengan sikap yang berlebih-lebihan, entah dengan

sikap meremehkan.”

Dari Hayyat bin Syarahil, dia berkata, “Aku mendengar Abdullah bin

Umar berkata, “Sesungguhnya Iblis itu ditempatkan di bumi yang paling

bawah. Jika dia bergerak-gerak, maka setiap kejahatan di antara dua orang

atau lebih yang ada di muka bumi ikut bergerak karenanya.”


Memang godaan dan tipu muslihat Iblis iru ada banyak dan bervariasi.

Di bagian mendatang dari buku ini akan diuraikan berbagai macam tipu

muslihat Iblis itu, sesuai dengan tempatnya masing-masing, insya Allah.

Siapa pun yang mengikuti apa yang diperintahkan nafsunya, maka dia

seperti perahu yang miring kesana kemari dan tak pernah berhenti. Ketika

hawa nafsu menunggangi Harut dan Marut, maka keduan)^a tidak mampu

lagi menguasai diri. Jika melihat orang Mukinin yang meninggal dunia

dalam keadaan beriman, maka mereka merasa ta’ajub karena keselamatan

orang itu.

Dari Abdul-Aziz bin Rafi’, dia berkata, “Jika ruh orang Mukmin naik

ke langit, maka para malaikat berkata, “Mahasuci Allah, karena hamba ini

s e l a m a t d a r i s e t a n . ”

Setiap Manusia Disertai Satu Setan

Dari Urwah bin Az-Zubair, bahwa Aisyah, istri Nabi iil' memberi-

tahukan kepadanya, “Suatu malam Nabi 0keluar dari tempat tinggalku,

sehingga membuatku cemburu kepada beliau. Lalu beliau kembali dan tahu

apa yang kulakukan. Beliau bertanya, “Apa yang terjadi denganmu hai Aisyah?

Apakah engkau cemburu?”

Aku berkata, “Bagaimana aku tidak cemburu jika melihat engkau seperti

I t u . -

“Rupanya engkau telah didatangi setan,” sabda beliau.

Aku bertanya, ‘"Wahai Rasulullah, apakah ada setan yang besertaku?”

“Benar,” jawab beliau.

Apakah setan juga menyertai setiap orang?” tanyaku.

“Benar,” jawab beliau.

“Apakah ia besertamu pula?”

“Benar” jawab beliau. Lalu beliau bersabda, “Tetapi Kabb-\a\i

menolongku dalam menghadapinya, sehingga aku bisa selamat.”

Penggalan yang terakhir ini merupakan riwayat Muslim secara khusus.

Menurut Al-Khathabi, mayoritas rawi mengatakan bahwa perkataan,

“Sehingga aku selamat”, dibaca seperti Ji'il madhi. Sufyan bin Uyainah

5 7Bab III: Mewaspadai Talbis Iblis

menjelaskan, bahwa beliau bersabda, “Sehingga aku selamat dari

kejahatannya.” Lalu setan berkata, “Dia pun ddak selamat.”

Dari Ibnu Mas’ud, dia memarfu’kannya, “Tidaklah ada seorang pun

di antara kalian melainkan diwakilkan pendampingnya dari jin dan

pendampingnya dari malaikat.”

Orang-orang bertanya, “Begitu pula terhadap diri engkau wahai

R a s u l u U a h ? ”

Benar. tetapi Allah menolongku untuk

menghadapinya. Jadi dia tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan.”

Beliau menjawab,

Setan Berjalan Menurut Aliran Darah dan Cara Berlindung Darinya

Dari Shafiyah bind Huyai, istri Nabi S, dia berkata, “RasuluUah

sedang beri’tikaf pada malam hari. Lalu aku menemui beliau dan berbicara

dengan beliau. Kemudian aku bangkit untuk berbalik. Lalu beliau juga bangkî -

untuk mengantarku (tempat tinggal Shafiyah di perkampungan Usamah bin

Zaid). Di tengah perjalanan ada dua orang Anshar yang lewat. Ketika meliha:

RasuluUah keduanya cepat-cepat berlalu. Lalu beliau bersabda,

“Berhentilah kalian berdua. Ini adalah Shafiyah binti Huyai.”

Keduanya berkata, ‘'Subhanallah wahai RasuluUah.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya setan itu berjalan menurut aliran darab

anak Adam. Sesungguhnya aku khawatir setan menyusupkan kejahatan ke

dalam hati kalian berdua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Al-Khathabi berkata, “Di dalam hadits ini terkandung ilmu, berupa

anjuran agar manusia bersikap waspada terhadap segala hal yang tidak disukai.

yang berasal dan praduga-praduga yang melintas di dalam hati, dan hendaknya

manusia memohon keselamatan, dengan membebaskan diri dari keragu-

raguan.”

Berkaitan dengan peristiwa, ini juga ada riwayat dari Asy-Syafi’i, dia

berkata, ‘TSIabi #merasa khawatir ada sesuatu yang menyusup ke dalam hati

kedua sahabat itu, lalu keduanya menjadi kufur. Beliau bersabda seperti itu,

karena rasa kasihan terhadap keduanya, bukan dimaksudkan untuk membela

d i r i . ”

Allah telah memerintahkan agar kita berlindung dari setan yang

terkutuk saat hendak membaca Al-Qur’an. Firman-Nya,

5 8 Perangkap Setan


“jika  kamu membaca AUQur ‘an, hendaklah kamu meminta

perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)

Pada waktu sahur dianjurkan untuk membaca,


“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh, dan

kejahatan makhluk-Nya dan dari kejahatan malam jika  telah gelap

gulita, dan dari kejahacan luanita-uianita tukang sihir yang menghembus

pada buhubbuhul, dan dari kejahatan orang yangdengki jika  ia dengki.”

(Al-Falaq: 1-5)

Jika dalam dua perkara ini ada perintah untuk mewaspadai kejahatan

setan, lalu bagaimana dengan perkara-perkara yang lain?

Tipu Daya Setan

Dari Abut-Tayyah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Abdurrahman

bin Hunaisy, “Apakah engkau pernah mengetahui Nabi #?"

“Ya,” jawabnya.

Aku bertanya, “Apa yang dilakukan Rasulullah ̂ pada suatu malam

tatkala hendak diperdayai setan-setan?”

“Pada malam itu setan-setan mendatangi Rasulullah ̂ dari perkampungan

dan bukit, dan di antara mereka ada seorang setan yang membawa api yang

berkobar-kobar, yang digunakan untuk menyulut wajah beliau. Lalu Jibril

turun kepada beliau seraya berkata, “Hai Muhammad, ucapkanlah!” Beliau

bertanya, “Apa yang harus kuucapkan?”

Jibril berkata, “Ucapkanlah,

Bab III: MaoaspadaiTalbis Iblis 59

J^' cP j ^ c y j 5 - C J J l t y J > i

!jy^j Lc5j-W. ( J j U s ? J 5 " ^ ^ j

J

“Aku berlindungdengan kalimat-kalimat Allah yang sempuma dan kejahatan

yangDiaciptakan, yangDiaadakan dan yangditiadakan-Nya, dari kejahatan

yang turun dari lan t̂, dari kejahatan yang naik he langit, dari kejahatan

cobaan malam dan siang, dari kejahatan seciap yang datang, kecuali yang

datang dengan membaiva kebaikan, luahai Yang Maha Pengasih."

Abdurrahman bin Hunaisy berkata, “Lalu api di tangan setan itu pun

padam dan Allah mengalahkan setan-setan itu.”

Dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah bahwa Nabi

0bersabda,

i i j l J i d J ! ( J J ( j |

tiJJj ji-J j

* - ® ✓ .

y y .!! f O / y y

.AJS- >—'iifeJj 4 J

“Sesunggu/mya setan mendatangi salah seorang di antara kalian, seraya

bertanya, ‘SiapakahyangmenciptakanmuP Diamenjawab, ‘AllahTabaraka

wa Ta'ala. Setan bertanya lagi, ‘Lain siapa yang menciptakan Allah?’ Jika

salah seorang di antara kalian merasakan seperti itu, maka hendaklah dia

berucap, ‘Akuberimankepada Allah dan RasuPNya’. Karenayangdemikian

itu bisa menghilangkan perasaan itu.”

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata, memarfu’kannya, “Sesungguhny^

setan itu mempunyai langkah terhadap anak keturunan Adam, dan malaikat

itu juga mempunyai langkah. Langkah setan ialah mengembalikan kejahatan

dan mendustakan kebenaran, sedangkan langkah malaikat itu ialah

mengembalikan kebaikan dan membenarkan yang benar. Barangsiapa

mendapatkan yang demikian ini, maka hendaklah dia mengetahui bahwa itu

berasal dari Allah, lalu hendaklah dia memuji Allah. Barangsiapa mendapatkan

selain itu, maka hendaklah dia berlindung dari setan.” Kemudian Ibnu Mas’ud

membaca ayat, '‘Se/a» menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan

menyuruh kalian berhuat kejahatan (kikir). “(Al-Baqarah; 268)

6 0 Perangkap Setan

Menurut Syaikh, hadits ini diriwayatkan Jarir dan Atha’, lalu dia

memauqufkan pada Ibnu Mas’ud.

Dari Ibnu Abbas dia berkata, “RasuluUah pernah melindungi

Hasan dan Husain dengan bersabda, ‘Aku melindungi kalian berdua dengan

kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala setan, tuduhan jahat dan

mata yang senantiasa mencelaKemudian beliau bersabda, “Beginilah ayahku

Ibrahim 0melindungi Isma’il dan Ishaq.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Mutharrif berkata, ‘Aku melihat, bahwa ada anak Adam yang terbaring

antara Allah dan Iblis. jika Allah menghendaki untuk melindunginya, maka

dia terlindungi, dan jika dia menelantarkannya, maka dia akan pergi bersama

I b H s . ”

Dikisahkan dari sebagian orang salaf, dia bertanya kepada salah seorang

muridnya, “Apa yang dilakukan setan jika dia membujukmu dengan

k e s a l a h a n ? ”

Sang murid menjawab, ‘Aku akan melawannya.”

“Bagaimana jika dia kembali lagi?”

“Aku tetap akan melawannya,” jawab sang murid.

“Bagaimana jika dia kembali lagi?”

“Aku tetap akan melawannya,” jawab sang murid.

“Tentu saja cara ini akan bertele-tele. jika  engkau melewati

sekumpulan domba dan anjing penjaganya menyalak-nyalak ke arahmu atau

menghalangi jalanmu, apa yang akan engkau lakukan?”

Sang murid menjawab, “Aku akan berhenti dan menghalaunya sebisa

mungkin.”

“Itu terlalu lama bagimu. Yang benar, mintalah tolong kepada

penggembala domba itu agar dia menyibak jalan bagimu.”

Ketahuilah bahwa perumpamaan Iblis di hadapan orang yang bertakwa

dan orang yang tidak bertakwa, seperti seseorang yang duduk dan di

hadapannya ada makanan. Lalu ada seekor anjing yang lewat. Orang itu

berkata, “Menyingkirlah!” Maka anjing itu pun menyingkir. Anjing itu lewat

di hadapan orang lain yang di depannya ada makanan dan daging. Ketika

orang itu menghalaunya, maka anjing itu tidak mau beranjak pergi. Yang

6 1Bab III: Mewaspadai Talbis Iblis

pertama perumpamaan orang yang bertakwa setan lewat di hadapannya. Dia

cukup menghalau setan dengan dzikir. Sedangkan orang kedua adalah orang

yang tidak bertakwa. Setan tidak mau enyah dari sisinya. Kami berlindung

kepada Allah dari setan.*

6 2 Perangkap Setan

Bab IV:

Makna Talbis dan Ghurur

rlALBIS artinya menampakkan ebatilan dalam rupakebenaran. Adapunm kna ghurur itu semacam ebodohan y ng nimbulk n keyakinan

bahwa yang rusak itu lurus dan yang hina itu bagus.

Sebabnya ialah adanya kerancuan. Iblis menyusup ke dalam diri manusia

tergantung kepada kadar yang dimungkinkannya, bisa bertambah dan bisa

berkurang, tergantung kepada kadar kesadaran dan kelalaian manusia,

kemaliiran dan kebodohannya.'*

Ketahuilah bahwa hati itu bagaikan benteng. Di sekelilingnya ada pagar

dan pagar itu mempunyai beberapa pintu. Sekalipun begitu, di Sana masih

ada celah-celah yang bisa dimasuki. Yang menjaga celah-celah ini adalah akal

dan para malaikat. Ada beberapa satuan pasukan penyerang yang senantiasa

mendatangi benteng itu, pasukan hawa nafsu dari setan. Pasukan penyerang

ini senantiasa datang dari waktu ke waktu dan tak mungkin bisa dihentikan,

sehingga peperangan terus berkecamuk antara penghuni benteng dan pasukan

penyerang (musuh). Pasukan setan berputar-putar mengelilingi benteng

mencari kelengahan penjaga untuk bisa melewati celah. Berarti, penjaga harus

mengetahui seluruh pintu benteng dari celah-celah yang ada di bawah

tanggungjawabnya, tidak boleh lengah walaupun sekejap. Sebab musuh juga

ridak pernah lengah walaupun sekejap.

'Dengan definisi seperti ini, kami tidak mendapatkan kosa kata yang tcpat mengartikan kata talbis.

Begitu pula untuk kata g/iurur Karena itu kami tetap gunakan kata aslinya. Adapun untuk judul buku

kami pilih kata ‘‘Perangkap’, sekadar untuk mendekatkan pembaca yang melihat buku ini sepincas laiu,

hingga dapat menangkapnya secara langsung, pent.

6 3B a b I V : M a k n a Ta l b i s d a n G h u r u r

Seseorang pernah bertanya kepada Hasan Al-Bashri, “Apakah Iblis

juga tidur?’

Dia menjawab, “Andaikata Iblis tidur, tentu Idta bisa istirahat.”

Benteng ini menjadi terang karena iman dan dzikir. Di dalaninya ada

cermin yang mengkilap, membiaskan berbagai rupa yang terjadi di Sana. Yang

pertama kali dilakukan setan di tengah pasukan musuh ialah dengan

memperbanyak asap, agar tembok-tembok benteng tampak kusam dan

cerminnya menjadi buram. Hanya kesempurnaan pikiran dan kejernihan

dzikirlah yang dapat membuat cermin itu tampak bersih dan bening.

Sementara pasukan musuh sendiri senantiasa melancarkan serangan dan

adakalanya serangan itu berhasil menyusup ke dalam benteng. Tentu saja

penjaga akan menghadang serangannya. Terkadang setan dapat masuk dan

berada di dalam benteng karena kelalaian penjaganya. Terkadang angin ikuz

berperang menghembuskan asap ke arah benteng, membuat binding-

dindingnya menjadi kusam dan cerminnya menjadi buram, sehingga setan

dapat menembusnya tanpa diketahui. Terkadang penjaga benteng terluk?

karena lalai, atau justru dapat diperalat dan diperdayai.

Sebagian orang salaf ada yang berkata, “Aku bermimpi melihat setan

yang berkata kepadaku, ‘Terkadang aku bertemu manusia dan kuajarkan

sesuatu kepada mereka, dan terkadang aku bertemu manusia, dan aku yang

belajar dari mereka’.”

Adakalanya setan menyerang orang pandai lagi pintar, sambi]

menyodorkan mahkota hawa nafsu kepadanya, ialu dia hanya menyibukkan

diri dalam pandangannya sendiri. Karena itu dia pun menjadi seperti seorang

tawanan yang bodoh dan dia menjadi lemah karena lalai. Selagi baju besi

yang berupa iman tetap menempel pada diri orang Mukmin, maka anak panah

musuh tidak akan sampai ke kancah peperangan.

Abu Ghassan An-Nahdi berkata, ‘Aku pernah mendengar Al-Hasan

bin Shalih berkata, ‘Sesungguhnya setan itu benar-benar membukakan

sembilan puluh sembilan pintu kebaikan. tetapi dia mempergunakannya untuk

kejahatan’.”

Al-A’masi berkata, “Kami pernah diberitahu seseorang yang diajak

bicara oleh sekumpulan jin. Mereka berkata, ‘Tidak ada yang lebih benar

bagi kami kecuali orang yang mengikuti As-Sunnah. Sedangkan orang-orang

yang mengikuti nafsu, maka kami dapat mempermainkan mereka’.”*

6 4 Perangkap Setan

Bab V:

"albis Iblis dalam Masalah Aqidah

Talbis Iblis terhadap Golongan Sufsatha’iyah

ERJEKA tergabung dalam sebuah kelompok yang menisbatkan dirinya

kepada seorang tokoh yang disebut “Sufsatha”. Mereka berpendapat

bahwa segala sesuatu itu tidak mempunyai hakikat. Apa yang dianggap tidak

mungkin, bisa terjadi menurut apa yang kita saksikan dan bisa terjadi menurut

apa yang tidak kita saksikan.

Para ulama telah menyanggah pendapat mereka dengan balik bertanya,

“Pendapat kalian seperti ini mempunyai hakikat ataukah tidak? Jika kalian

katakan bahwa pendapat kalian ini tidak ada hakikatnya, yang berarti

menganggapnya sesuatu yang absurd, maka bagaimana mungkin kalian

menyatakan sesuatu yang tidak mempunyai hakikat? Jika kalian katakan

bahwa pendapat kalian ini mempunyai hakikat, berarti kalian bersebeirangan

dengan aliran kalian sendiri.”

Golongan ini telah disebutkan Abu Muhammad Al-Hasan An-

Naubakhti di dalam bukunya, Kitabul-Ara Wad-Diyanat. Dia berkata, “Tentunya

engkau sudah pernah melihat para teolog yang melakukan kesalahan fatal

dalam sesuatu masalah, sebab mereka lebih suka berdebat, berbantah-

bantahan dan adu argumentasi, tetapi tak pernah menetapkan suatu hakikat

dan menghadirkan bukti. Bagaimana mungkin engkau bisa berbicara dengan

orang yang berkata, “Aku tidak tahu, dia berbicara atau tidak?” Bagaimana

mungkin engkau berdebat dengan orang yang tidak tahu apakah dia ada

ataukah tidak ada? Bagaimana mungkin engkau berbicara dengan orang yang

W

6 5

benpendapat bahwa berbicara itu sama dengan diam, yang benar sama dengan

yang salah?”

Abu Muhammad juga berkata, “Mereka hanya mau berdebat dengan

orang yang menetapkan suatu urgensi atau mengakui suatu masalah, lalu

menjadikan apa yang ditetapkan itu sebagai sebab untuk membenarkan apa

yang diingkari.”

Syaikh juga berkata, “Abul-Wafa bin Aqil telah menyanggah pendapat

ini, dengan berkata, Ada segolongan orang yang berkata, ‘Bagaimana

kami harus berbicara dengan mereka?’ Tujuan yang memungkinkan dicapai

orang yang mendebat ialah untuk mendekatkan yang rasional kepada yang

diraba, lalu dikuatkan dengan suatu bukti, untuk membuktikan hal yang

ghaib. -Mereka tidak berkata berdasarkan sesuatu yang bisa diraba. Lalu

berdasarkan apa mereka berbicara? Tentu saja ini merupakan pendapat yang

sempit. Memang kita tidak perlu putus asa menghadapi mereka. Sebab apa

yang menimpa mereka tidak lebih dari sekadar rasa was-was dan wawasan

kita juga tidak boleh sempit dalam mengentaskan mereka. Mereka adalah

orang-orang yang dibuat keluar oleh faktor-faktor penyimpangan sikap.

Perumpamaan kita dan mereka seperti orang yang mempunyai anak juling.

Anak itu melihat satu rembulan seakan dua rembulan, sampai-sampai dia

merasa yakin bahwa di langit ada dua rembulan. Lalu orang itu berkata kepada

anaknya yang juling, “Rembulan itu hanya satu. Yang salah adalah matamu.

Maka pejamkanlah salah satu matamu dan lihatlah!” Setelah anak itu

melakukannya, dia berkata, “Sekarang aku melihat rembulan itu memang

hanya satu, setelah aku memejamkan sebelah mataku.”

Dari pendapat seperti ini muncul kerancuan kedua, seperti perkataan

orang itu kepada anaknya yang juling, “Kalau memang seperti itu

keadaanmu, maka pejamkanlah satu matamu dari kebenaran.” Anak yang

juling itu melakukannya. Ketika dia melihat dua rembulan karena dia

membuka kedua matanya, maka dia bisa mengetahui kebenaran ucapan

ayahnya.

Muhammad bin Isa An-Nizham berkata, “Anak Shalih bin Abdul

Quddus meninggal dunia. Lalu Abul-Hudzail menemuinya dan aku

menyertainya. Abul-Hudzail melihat Shalih sebagai orang yang telah

melakukan penyimpangan. Dia berkata. “Aku tidak melihat engkau berduka

6 6 Perangkap Setan

sedikit pun karena kematian anakmu, kalau memang engkau menganggap

orang lain seperti tanaman.

Shalih berkata, “Wahai Abul-Hudzail, aku tetap berduka, karena anakku

belum sempat membaca buku A^-Syukuk.”

“Buku apa itu?” tanya Abul-Hudzail.

“Sebuah buku yang kutulis. Siapa pun yang membacanya tentu akan

merasa ragu terhadap sesuatu yang ada, sehingga dia membayangkan tidak

pernah ada, atau dia merasa ragu terhadap sesuatu yang tidak ada, sehingga

dia membayangkan sesuatu itu ada.”

Saya (An-Nizham) berkata, “Kalau begitu engkau meragukan kematian

anakmu. Maka berbuatlah seakan-akan dia belum mati. Kalau pun

kenyataannya dia telah mati, maka dia tetap merasa ragu telah membaca buku

itu, sekalipun dia belum pernah membacanya.”

Abul-Qasim Al-Balkhi mengisahkan bahwa ada seorang laki-laki dari

golongan Sufsatha’iyah yang berdebat dengan seorang teolog. Ujung-ujungnya

pengikut Sufsatha’iyah itu menyuruh teolog untuk mengambil hewan

tunggangannya. Namun dia tidak mendapatkannya. Maka dia kembali

menemui pengikut Sufsatha’iyah, seraya berkata, “Rupanya engkau telah

mencurinya.”

Celaka engkau,” sergah pengikut Sufsatha’ iyah, ‘boleh jadi engkau

datang ke sini tanpa membawa hewan tunggangan.”

‘"Ya, boleh jadi begitu,” kata teolog ragu-ragu.

“Pikirkanlah!” kata pengikut Sufsatha’ iyah.

“Kini aku menjadi yakin,” kata teolog.

“Ingat-ingat!” kata pengikut Sufsatha’ iyah.

“Celaka kau, celaka kau. Ini bukan saamya untuk mengingat-ingat. Kini

aku tidak ragu bahwa aku tadi datang dengan menunggang hewan.”

“Lalu bagaimana bisa bahwa sesuatu itu tidak mempunyai hakikat,

bahwa keadaan orang yang terjaga itu seperti orang yang sedang tidur?” Kata

pengikut Sufsatha’ iyah. Lalu seketika itu pula dia menjadi insaf dan

menyatakan keluar dari golongan Sufsatha’iyah.

An-Naubakhti berkata, “Segolongan orang-orang yang bodoh

mengatakan bahwa segala sesuatu itu tidak mempunyai satu hakikat yang

6 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

satna, tetapi hakikat itu ada pada masing-masing kaum, sesuai dengan

keyakinannya sendiri-sendiri. Madu yang dicicipi wanita yang sedang sakit

kuning, terasa pahit dan tidak lagi manis. Begitu pula alam yang bisa disebut

sesuatu yang lama di mata orang yang menganggapnya lama, dan baru di

mata orang yang menganggapnya barn. Warna bisa dianggap fisik, dan

bisa disebut sifat di mata orang yang menganggapnya sifat. Mereka berkata,

“Andaikata kami rnenganggap tidak ada orang yang percaya, maka suatu

perintah tetap dianggap ada yang mempercayainya.” Mereka ini juga

termasuk golongan Sufsatha’iyah.”

Jika ditanyakan kepada mereka, “Benarkah pendapat kalian?” Mereka

menjawab, “Tentu saja benar menurut hemat kami dan salah menurut musuh

k a m i . ”

Dapat kami katakan, ‘Anggapan kalian seperti ini tidak bisa diterima

dan anggapan kalian bahwa musuh kaUan tidak sejalan dengan pendapat kalian

justru melemahkan pendapat kalian, jika ada pendapat orang-orang yang

menggugurkan di satu sisi, berarti sudah cukup menjelaskan kerusakan

pendapatnya.”

Bisa juga dipertanyakan kepada mereka, “Apakah kalian mengakui

kesaksian sebagai hakikat?”

Jika mereka menjawab, “Tidak”, berarti mereka sama dengan orang-

orang yang di atas. Jika mereka menjawab, “Hakikatnya tergantung kepada

keyakinan”, berarti mereka menafikan hakikat itu sendiri, sehingga akhirnya

mereka juga sama dengan orang-orang di atas.

An-Naubakhti berkata, “Di antara mereka ada yang berkata, bahwa

alam ini mencair dan mengalir. Menurut mereka, manusia tidak mungkin

memikirkan sesuatu dua kali, karena segala sesuatu terus-menerus mengalami

perubahan. Karena itu bisa dikatakan kepada mereka, “Bagaimana hal ini

bisa diketahui, padahal kalian mengingkari penetapan ilmu?” Boleh jadi

seseorang di antara kalian akan memberi jawaban tidak seperti biasanya.”

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Ateis

Iblis telah membisikkan kepada sekian banyak manusia bahwa di sana

tidak ada llah dan Pencipta. Segala benda yang ada terjadi tanpa pencipta.

Mereka tidak mengenal Pencipta dengan menggunakan indera dan tidak pula

akal. Karena itu mereka mengingkari Sang Pencipta. Adakah orang yang

6 8 Perangkap Setan

berakal masih merasa ragu tentang adanya Pencipta? Andaikata seseorang

berjalan di sebuah tanah lapang yang tidak ada bangunannya sama sekali,

lalu beberapa saat kemudian dia berbalik dan mendapatkan sebuah dinding

tidak jauh dari tempatnya, tentunya di sana ada seseorang yang

membangunnya. Apakah tanah yang terhampar luas, atap yang ditinggikan,

bangunan-bangunan dan tiang-tiang penyangga yang mengagumkan serta

penuh hikmah ini kurang menunjukkan tentang adanya Pencipta? Alangkah

tepat pernyataan orang-orang Arab, “Anak onta membuktikan adanya onta.”

Bukankah singgasana yang tinggi dan hamparan kehidupan ini menunjukkan

adanya Pencipta Yang Mahalembut dan Maha Mengetahui?

Kalau pun manusia memperhatikan keadaan dirinya sendiri, tentu

sudah cukup sebagai bukti bahwa di dalam jasad ini terkandung berbagai

macam hikmah, yang tidak cukup diuraikan dalam satu buku.

Siapa yang memperhatikan pembatasan gigi yang berfungsi untuk

mencabik-cabik makanan, gigi geraham untuk mengunyah agar menjadi

iembut, lidah untuk membolak-balik dan mengatur letak makanan, kemudian

makanan itu mengalir ke seluruh bagian tubuh menurut kebutuhan masing-

masing, di sana ada pula jari-jemari di tangan yang telah dipersiapkan

sedemikian rupa sehingga mudah membuka dan meregang, Sehingga bisa

digunakan untuk bekerja, tulang-tulangnya tidak berlubang, sehingga tidak

mudah retak, sebagian lebih panjang daripada yang lain, agar dapat seimbang

disejajarkan, di sana ada pula sesuatu yang paling tersembunja di dalam badan

dan sekaligus menjadi sandarannya, yaitu jiwa, jika jiwa terganggu, maka fungsi

akal pun terganggu pula dan tidak mampu menuntun kepada kemaslahatan,

maka semua ini berseru, “Masih adakah keragu-raguan tentang Allah?”

Orang yang mengingkari Sang Pencipta pasti mengalami kegagalan,

karena dia mencari-Nya lewat indera. Di antara manusia ada pula yang

mengingkari-Nya karena tatkala menetapkan keberadaan-Nya secara global,

dia tidak mengetahui rinciannya, sehingga dia justru mengingkari keberadaan-

Nya sama sekali. Andaikan dia mau mengaktifkan akalnya, tentu dia akan

mengetahui bahwa kita juga mempunyai beberapa hal yang tidak bisa diketahui

kecuaU secara global, seperti akal dan jiwa. Padahal tak seorang pun yang

mengingkari keberadaan jiwa dan akal. Apakah satu-satunya tujuan hanya

menetapkan makhluk secara global? Lalu apa yang bisa dikatakan tentang

dia dan apa dia, bagaimana dia dan bagaimana bentuknya?

6 9Bab P; Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Di antara bukti yang kongkrit tentang keberadaan Sang Pencipta, bahwa

alam ini adalah baru. Buktinya, alam ini selalu diisi dengan hal-hal yang baru.

Segala sesuatu yang tidak terlepas dari hal yang baru berard baru. Adanya

sesuatu yang baru ini harus ada penyebabnya, yaitu Allah.

Orang-orang ateis memberikan sanggahan yang panjang lebar terhadap

pendapat kami, bahwa suatu ciptaan itu harus ada penciptanya. Mereka

berkata, “KaJian hanya bergantung kepada sesuatu yang tampak. Karena itulah

kami menyanggah kalian.”

Dapat kami katakan, “Sebagaimana setiap ciptaan harus ada

penciptanya, maka gambaran yang nyata pun harus ada penciptanya yang

berupa materi, lalu match itu membentuk gambaran tertentu, seperti kayu

yang kemudian dibentuk menjadi pintu, besi yang kemudian dibentuk menjadi

kapak.”

Mereka berkata, “Dali! yang kalian gunakan untuk menetapkan pencipta

ini menimbulkan anggapan bahwa alam ini lama.”

Rupanya untuk menjawabnya tidak memerlukan materi. Kami katakan,

“Pencipta menciptakan sesuatu dengan suatu kreasi. Kita tahu bahwa rupa

dan bentuk yang baru di dalam suatu benda, seperti mesin, ada sesuatu yang

tidak disebut materi. tetapi toh mesin itu ada seseorang yang menciptakannya.

Kami meiihat berapa banyak rupa yang termasuk sesuatu bukan dari sesuatu,

dan kalian tidak mungkin meiihat suatu ciptaan yang tidak datang dari

penciptanya.”

Talbis Iblis terhadap Golongan Naturalis

Tatkala Iblis meiihat minimnya orang-orang yang memenuhi

bujukannya untuk mengingkari adanya Pencipta, karena akal memberi

kesaksian bahwa setiap sesuatu yang diciptakan harus ada penciptanya, maka

dia membisiki segolongan manusia bahwa makhluk ini merupakan hasil

perbuatan tabiat atau alam. Iblis mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang

diciptakan meiainkan karena pertemuan empat tabiat yang ada di dalamnya,

yang sekaligus menunjukkan bahwa empat tabiat inilah penciptanya.”

Pernyataan ini dapat dijawab sebagai berikut: Pertemuan beberapa

tabiat merupakan bukti keberadaannya, bukan merupakan bukti

perbuatannya. Di samping itu sudah ada ketetapan bahwa beberapa tabiat

tidak bisa berbuat apa-apa kecuali dengan saling bertemu dan saling

7 0 Perangkap Setan

bercampur. Yang demikian ini bertentangan dengan tabiatnya, yang

membuktikan bahwa tabiat itu ada sesuaru yang ditundukkan. Maka mau

tidak mau mereka harus mengakui bahwa tabiat itu bukan sesuatu yang hidup,

berilmu dan mempunyai kesanggupan. Sebagaimana yang diketahui bahwa

perbuatan yang teratur dan selaras itu tidak muncul kecuali dari orang yang

berilmu dan mempunyai hikmah. Lalu bagaimana mungkin orang yang tidak

herilmu dan tidak memiliki kesanggupan dapat berbuat?

Mereka berkata, “Andaikata orang yang berbuat benar-benar

mempunyai hikmah, tentunya dalam ciptaannya ddak ada celah dan engkau

tidak akan mendapatkan hewan-hewan yang menimbulkan bahaya. Dengan

begitu dapat diketahui bahwa semua itu berdasarkan tabiat”. Pernyataan ini

dapat kami jawab, “Anggapan kalian ini bisa menjadi bumerang bagi kalian,

karena yang demikian itu justru bisa menunjukkan hal-hal yang serasi dan

penuh hikmah, yang tidak akan terjadi jika hanya mengandalkan tabiat.”

Tentang celah yang mereka isyaratkan itu, boleh jadi hal itu merupakan

ujian, penghalang dan hukuman, atau di sana ada berbagai manfaat yang

tidak bisa kita ketahui secara pasti. Lalu apa yang bisa dilakukan tabiat terhadap

matahari yang terbit pada bulan April, buah-buahan’ menjadi ranum dan

gandum mulai mengering. Andaikata tabiat itu benar-benar bisa berbuat

sesuatu, tentu semuanya akan mengering atau semuanya menjadi ranum dan

basah. Maka tidak ada pilihan lain, melainkan di sana ada yang berbuat dan

menentukan, yang menghendaki satu jenis menjadi kering untuk disimpan,

dan satu jenis lainnya siap menghadapi masa masak untuk dipetik dan

langsung dikonsumsi. Yang lebih aneh lagi, jenis yang mengering bisa

diawetkan dan tidak mudah rusak, sedangkan yang basah mudah rusak.

Kemudian di sana ada buah Khasykhasi yang bewarna putih, buah Syaqa’iq

yang bewarna merah, buah delima yang agak masam dan buah anggur yang

banyak kandungan airnya, padahal semuanya berasal dan air yang sama. Allah

telah mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya,

“Disimm dengan air yang sama. Kami melebihkan seba^an tanam-tanaman

itu atas seba^an yang lain tentang rasanya.” (Ar-Ra’d: 4)

Talbis Iblis terhadap Golongan Dualistis

Mereka adalah orang-orang yang berkata bahwa pencipta alam ini ada

dua. Pelaku kebaikan adalah cahaya dan pelaku kejahatan adalah kegelapan.

7 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Dua sisi ini merupakan sesuatu yang abadi, senantiasa ada, kuat, mendengar

dan mengetahui. Keduanya saling berbeda di dalam jiwa dan gambarannya

saling bertentangan dalam perbuatan maupun pengaturan.

Inti cahaya adalah utama, baik, terang, jernih, bening, bagus, baunya

harum, sedap dipandang mata, jiwanya jiwa yang baik, mulia, penuh hikmah,

bermanfaat, nikmat, menyenangkan dan menguntungkan, di dalamnya tidak

ada bahaya dan kejahatan sedikit pun. Sedangkan inti kegelapan adalah

kebalikan dari gambaran di atas, yaitu keruh, kurang, busuk baunya, tidak

sedap dipandang mata, jiwanya adalah jiwa yang jahat, bakhil, bodoh,

berbahaya, jahat dan merusak.

Begitulah yang dikisahkan An-Naubakhti dan pendapat mereka. Dia

berkata, “Sebagian di antara mereka ada yang beranggapan bahwa cahaya itu

senantiasa ada di atas kegelapan.” Sebagian yang lain ada pula yang

beranggapan bahwa keduanya ada dalam garis sejajar. Mayoritas di antara

mereka berkata, “Cahaya itu senantiasa berada di atas di sebelah utara,

sedangkan kegelapan ada di bagian bawah di sebelah selatan. Yang satu selalu

bertentangan dengan satunya lagi.

An-Naubakhti juga berkata, “Mereka beranggapan bahwa masing-

masing mempunyai lima jenis. Empat jenis berupa fisik dan kelimanya berupa

ruh. Fisik cahaya ada empat: Api, angin, debu, air. Adapun ruhnya adalah

bayangan, yang senantiasa mengikuti empat jenis fisik ini. Sedangkan fisik

kegelapan adalah: Gelap, kebakaran, racun dan kabut. Adapun ruhnya adalah

asap. Mereka menyebut fisik cahaya sebagai malaikat dan menyebut fisik

kegelapan sebagai setan dan Ifrit.”

Sebagian yang lain berkata, “Kegelapan itu melahirkan setan dan cahaya

melahirkan malaikat. Cahaya tidak sanggup melawan kejahatan dan tidak

diperbolehkan. Kegelapan juga tidak sanggup melawan kebaikan dan tidak

diperb olehkan. ”

An-Naubakhti menyebutkan berbagai macam paham golongan ini yang

berkaitan dengan cahaya dan kegelapan, yang semuanya merupakan paham

yang tidak bisa diterima nalar. Di antara mereka ada yang mengharuskan

para pengikutnya agar tidak menyimpan makanan kecuali hanya untuk satu

hari saja. Sebagian yang lain ada yang berkata, bahwa manusia harus berpuasa

selama sepertujuh dari usianya, tidak boleh berdusta, tidak boleh kikir, tidak

7 2 Perangkap Setan

boleh menyembah berhala, tidak boleh berzina, tidak boleh mencuri, tidak

boleh menyakiti makhluk hidup, dan paham-paham lain yang muncul dari

sisi-sisi kehidupan mereka yang apatds.

Yahya bin Bisyr An-Nahawundi berkata, “Ada segolongan orang di

antara mereka yang disebut Ad-Dishaniyah, yang beranggapan bahwa tabiat

alam ini merupakan tanah yang kasar. Mereka mengisahkan fisik Sang

Pencipta yang berupa cahaya untuk sekian lama, lalu dia merasa tersiksa

dengan keadaannya itu. Ketika keadaan ini semakin berlarut-larut, maka

mulailah dicari jalan keluarnya, tetapi ternyata jalannya licin dan terjal. Maka

tersusunlah alam cahaya dan alam kegelapan. Apa pun yang berupa kebaikan,

berasal dari cahaya dan apa yang berupa kerusakan, berasal dari kegelapan.

Mereka menipu dan memperdaya manusia serta beranggapan bahwa manusia

bisa meminta pertolongan kepada cahaya untuk melepaskan diri dari

kegelapan. Tentu saja ini merupakan paham yang keblinger. Yang mendorong

mereka berpaham seperti ini, karena mereka melihat ada kejahatan dan

kontradiksi di alam ini, lalu mereka berkata, “Dua hal yang saling bertentangan

tidak mungkin lahir dari satu asal, sebagaimana kemustahilan rasa panas dan

rasa dingin yang keluar dari api.”

Para ulama telah menyanggah pendapat mereka, bahwa pencipta itu

ada dua, dengan berkata, “Jika memang pencipta itu ada dua, tentunya

keduanya sama-sama kuat atau sama-sama lemahnya, atau salah satu kuat

dan satunya lemah. Keduanya tidak boleh sama-sama lemah. Sebab sifat lemah

tidak pas dengan penetapan uluhiyah. Juga tidak boleh jika salah satunya

lemah. Maka hanya bisa dikatakan, bahwa keduanya harus sama-sama kuat

dan berkuasa. Sekarang silakan digambarkan bahwa salah satu di antara

keduanya ingin membakar fisik ini, dan pada saat yang sama yang lain ingin

mendinginkannya. Maka mustahil apa yang diinginkan keduanya bisa

terwujud. Kalau pun keinginan salah satu di antara keduanya terwujud, berarti

yang lain lemah.”

Para ulama juga menyanggah pendapat golongan ini yang mengatakan

bahwa cahaya itu berbuat kebaikan dan kegelapan itu berbuat kejahatan: Jika

orang yang dizhalimi lari dan bersembunyi di balik kezhaliman, maka itu

lebih baik baginya, karena dia keluar dari kejahatan. Tidak selayaknya siapa

pun berkata panjang lebar dengan mereka, karena paham mereka berbau

k h u r a f a t .

7 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Talbis Iblis terhadap Para Filosof dan Para Pengikutnya

Iblis dapat memperdayai para filosof, karena mereka merasa lain

daripada yang lain dalam pendapat dan pikirannya. Mereka berbicara menurut

tuntutan praduga, tanpa mau melihat kepada para nabi. Di antara mereka

ada yang berkata menurut paham materialisme, bahwa alam ini tidak ada

penciptanya. Beginilah yang dikisahkan An-Naubakhti dan lain-lainnya dari

m e r e k a .

An-Nahawundi berkata, Aristoteles dan rekan-rekannya beranggapan

bahwa bumi ini merupakan planet yang berada di dalam orbit. Di dalam

setiap planet ada beberapa alam, sebagaimana di bumi ini yang ada sungai

dan pepohonan. Mereka mengingkari adanya pencipta dan mayoritas

menggunakan alasan yang itu-itu saja, bahwa alam ini sudah ada sejak dulu

kala, bahwa alam ini senantiasa ada bersama adanya Allah, sama adanya dan

tidak lebih akhir dari keberadaan Allah, sama keberadaannya antara sebab

dan yang diberi sebab, cahaya dan matahari, sama dzat dan tingkatannya,

tidak hanya sekadar waktunya.’

Dapat dikatakan kepada mereka, “Mengapa kalian mengingkari bahwa

alam ini sesuatu yang baru berdasarkan kehendak yang lama dan menetapkan

keberadaannya pada waktu penciptaannya?” Jika mereka menjawab, “Hal ini

bisa saja ada rentang waktu antara adanya Pencipta dan makhluk”, maka

dapat dijawab, “Waktu adalah makhluk. Sementara sebelum waktu tidak ada

w a k t u l a i n . ”

Dapat juga dikatakan kepada mereka, “Yang Mahabenar,'Allah adalah

Yang Maha Berkuasa untuk menjadikan atap langit yang atas lebih banyak

lagi jumlahnya, yang jaraknya bisa hanya satu hasta atau bahkan lebih dekat

lagi.” Mereka akan menjawab, “Tidak mungkin, karena yang demikian itu

menggambarkan kelemahan. Apa yang tidak mungkin terjadi, lebih besar

atau lebih kecU, maka keberadaannya seperti apa yang tampak adalah wajib,

bukan lagi bersifat mungkin. Yang wajib dibutuhkan sebagai sebab.” Mereka

juga bersembunyi di balik paham mereka, dengan berkata, “Allah menciptakan

alam ini.” Menurut mereka, hal ini bisa saja terjadi tetapi bukan merupakan

hakikat. Sebab orang yang berbuat berkehendak terhadap apa yang

diperbuatnya. Menurut mereka, alam ini muncul sebagai suatu kebutuhan,

bukan karena perbuatan Allah. Di antara paham mereka, bahwa alam ini

abadi selama-lamanya, sebagaimana ia tidak mempunyai permulaan

7 4 Perangkap Setan

kejadiannya dan tidak mempunyai penghabisan. Menurut mereka, karena alam

ini diberi sebab dengan sebab yang lama. Apa yang diberi sebab tak lepas

dari sebabnya. Selagi alam ini mungkin ada, berarti ia bukan sesuatu yang

lama dan tidak mempunyai sebab.

Galenos pernah berkata, “Seumpama matahari ini bisa menerima

ketiadaan, tentu di sana akan muncul kelajnaan setelah berjalan sekian lama.”

Dapat dikatakan kepadanya, “Sesuatu bisa mati dengan sendirinya secara

tiba-tiba tanpa harus mengalami masa layu. Lalu dari mana dia berpendapat

bahwa matahari tidak bisa layu, yang besarnya sekitar seratus tujuh puluh

kali dibandingkan dengan besarnya bumi. Kalau pun matahari itu ada yang

menyusut atau berkurang sebesar sebuah gunung, toh tidak akan terlihat dan

tidak berpengaruh. Kita juga tahu bahwa sebenarnya Yaqut dan emas bisa

mengalami penyusutan. tetapi toh keduanya tetap seperti sedia kala meskipun

sudah berumur sekian tahun, dan penjTJsutannya itu tidak terasa. Ada dan

tiada itu berdasarkan kehendak Yang Mahakuasa. Yang Berkuasa tidak

berubah dan tidak membutuhkan sifat baru. Tetapi perbuatan bisa berubah

berdasarkan kehendak yang lama.

An-Naubakhti mengisahkan di dalam Kitahul-Ara’ Wad-Dijanat, bahwa

Socrates pernah beranggapan bahwa asal-muasal segala sesuatu itu ada tiga

macam: Sebab yang akrif, unsur dan rupa. Dia berkata, “Demi Allah yang

berbuat secara aktif, unsur merupakan topik pertama tentang kejadian dan

kerusakan, sedangkan rupa merupakan inti fisik.”

Filosof lain ada yang berkata, “Allah merupakan sebab yang berbuat

secara aktif dan unsur merupakan obyek.”

Filosof lain ada yang berkata, “Akal merupakan pengait dari berbagai

hal yang tersusun dalam rentetan ini.”

Yang lain lagi berkata, “Tabiatlah yang berperan.”

Yahya bin Bisyr bin Umair An-Nahawundi mengisahkan bahwa ada

segolongan filosof yang berkata, “Ketika kami menyaksikan alam yang

menyatu dan berpencar, bergerak dan diam, maka kami menjadi tahu bahwa

alam ini adalah sesuatu yang baru, yang berarti harus ada yang

menciptakannya. Kemudian kami melihat bahwa manusia tenggelam di dalam

air bagi yang tidak bisa berenang. Maka dia berteriak memohon pertolongan

kepada Sang Pencipta dan yang mengatur segala-galanya. Namun Sang

7 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidali

Pencipta tidak menolongnya. Maka kami menyimpulkan bahwa Pencipta itu

tidak ada.”

Tentang orang-orang yang mengatakan bahwa Pencipta ini tidak ada.

terbagi menjadi tiga golongan:

Golongan yang beranggapan bahwa tatkala Pencipta sudah

menyempurnakan alam dan membaguskannya, maka Dia

khawatif untuk menambahi atau menguranginya, sehingga justru

menjadi rusak dan sekaligus merusak diri-Nya. Maka alam dibiarkan

seperti apa adanya dan hukum-hukumnya berjalan di antara dunia

hewan dan apa pun yang diciptakan-Nya, sesuai dengan kesepakatan-

Nya semula.

Golongan yang beranggapan bahwa Sang Pencipta merasa

kebingungan, sehingga kekuatan dan cahaya-Nya senantiasa tarik-

menarik. Maka kekuatan dan cahaya yang ada dalam kebingungan itu

menjadi alam ini dan cahaya Sang Pencipta tampak buruk. Mereka

juga beranggapan bahwa cahaya itu akan ditarik dari alam ini lalu

kembah seperti sedia kala. Karena ketidakmampuan mengurus

makhluk, maka Sang Pencipta mengabaikan urusan mereka dan

muncuUah kejahatan.

Tatkala Sang Pencipta tekun menciptakan alam ini, bagian-bagian-Nya

berpencar di dalam alam, setiap kekuatan-Nya ada di setiap bagian

alam. Ini merupakan inti ajaran Lahutiyah.

Apa yang disebutkan An-Nahawundi ini pernah kami nukil dari sebuah

naskah berpantun, yang sudah ditulis sejak dua ratus dua puluh tahun yang

silam. Andaikata di sana tidak ada uraian tentang hal ini, begitu pula penjelasan

tentang talhis Iblis dalam memperdayai, tentu hal ini sangat layak untuk kami

uraikan lagi di sini, tetapi bagaimana pun juga kami sudah ikut menjelaskan

faidah tentang penyebutan masalah ini.

Mayoritas filosof menyebutkan bahwa Allah itu tidak mengetahui

sesuatu pun. Dia hanya mengetahui Diri-Nya sendiri. Sementara makhluk

mengetahui dirinya dan juga mengetahui Penciptanya, sehingga derajat

makhluk lebih tinggi daripada derajat Khaliq.

Pendapat seperti ini benar-benar sangat tidak patut untuk dinyatakan.

Lebih lanjut, perhatikanlah bujukan Iblis terhadap orang-orang bodoh yang

membual memiliki kesempurnaan akal.

1.

m e r a s a

2 .

3 .

7 6 Perangkap Setan

Pendapat para filosof ini dibantah Abu AJi Ibnu Sina, yang berkata,

“Pencipta mengetahui Diri-Nya, mengetahui segala sesuatu yang universal

dan parsial.”

Paham ini diambil alih golongan Mu’tazilah, dan bahkan merekalah

yang telah memperbanyak datanya. Segala puji bagi Allah yang telah

menjadikan kita termasuk orang-orang yang menafikan kebodohan dan

kekurangan dari Allah serta yang beriman kepada firman-Nya,

{^i ^ ' ^ 1

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian lahirkan

dan yang kalian rahasiakan)?" (Al-Mulk: 14)

\^ ^ J a . Laj IJ yp 1 J Lo JoJjUJ

“Dan, Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai

daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya." (Al-An’am; 59)

Mereka berpendapat bahwa ilmu Allah dan kekuasaan-Nya merupakan

Dzat-Nya, karena mereka hendak menghindari penetapan bahwa dua sifat

ini merupakan sesuatu yang abadi. Adapun tentang pern5’̂ ataan mereka ini

dapat dijawab sebagai berikut: AUah itu abadi, ada dan sam, memiliki sifat-

sifat kesempurnaan.

Para filosof mengingkari kebangkitan badan dan pengembalian roh

ke badan. Mereka juga mengingkari surga dan neraka sebagai dua macam

flsik. Mereka beranggapan bahwa semua itu hanya sekadar perumpamaan

yang diberikan kepada orang-orang awam, agar mereka mudah menangkap

masalah pahala dan siksa yang bersifat rohaniah.

Mereka beranggapan bahwa jiwa itu tetap abadi setelah kematian, entah

dalam kenikmatan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, atau dalam

penderitaan yang juga tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Yang pertama

adalah jiwa yang sempurna, sedangkan kedua adalah jiwa yang kotor.

Tingkat penderitaan roh berbeda-beda tergantung kepada manusianya.

Di antara roh ada yang dirundung derita lalu derita itu pun sirna. Dapat

dikatakan kepada mereka, “Adapun kami tidak mengingkari adanya jiwa

setelah kematian. Karena itu kembaUnya jiwa memang layak disebut kembali,

bukan karena jiwa itu bahagia atau menderita. Tetapi apa yang menghalangi

berkumpulnya jasad? Kami tidak mengingkari kebahagiaan dan penderitaan

7 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

di surga dan neraka, karena memang begitulah yang dijelaskan syariat. Kand

percaya adanya penyatuan antara dua macam kebahagiaan, antara dua macam

penderitaan, rohani dan jasmani. Tetapi dalam menegakkan berbagai macam

hakikat di tempat yang ideal, kalian melakukannya tanpa disertai dalil.

Jika mereka berkata, “Badan akan menjadi kurus, dimakan rayap dan

habis”, dapat kita tanggapi sebagai berikut: Tidak ada sesuatu pun yang bisa

diam di hadapan takdir. Manusia sebagaimana layaknya manusia, jika dia

diciptakan dari tanah bukan berupa tanah yang memang dia diciptakan, tentu

dia tidak akan menjadi seperti layaknya dia jadi, sebagaimana bagian-

bagiannya yang bisa berubah, dan kecil menjadi besar dan gemuk.

Jika mereka berkata, “Badan ini bukanlah badan sebagaimana layaknya

yang bisa tumbuh dari satu keadaan ke lain keadaan, hingga dia memiliki

daging dan urat syaraf”, dapat ditanggapi sebagai berikut: Kekuasaan Allah

tidak bisa dibatasi menurut pemahaman yang bisa disaksikan mata. Di

samping itu, Nabi kita Muhammad ̂ telah mengabarkan kepada kita bahwa

badan manusia bisa tumbuh di dalam kubur sebeium dibangkitkan.

Dari Abu Hurairah dia berkata, “RasuluUah 0bersabda, “Jarak

antara dua tiupan sangkakala ada empat puluh.”

Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh

har i?^

Abu Hurairah menjawab, ‘Lebih lama lagi.”

Mereka bertanya, “Empat puluh bulan?”

“Lebih lama lagi,” jawab Abu Hurairah.

Mereka bertanya, “Empat puluh tahun?”

“Lebih lama lagi,” jawab Abu Hurairah.

Beliau bersabda, “Kemudian Allah menurunkan air dari langit, hinggn

mereka bisa menumbuhkan tanaman semacam tumbuhnya kubis. Tidak ad:i

yang dilakukan terhadap manusia kecuali diuji, terhadap satu penggal tulang.

yaitu ketaajuban terhadap dosa, yang darinya dia diciptakan dan darinya pula

dia menunggang suatu makhluk pada Hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan

Muslim)

Iblis menghampiri segolongan orang dan pemeluk Islam, menyusup

ke dalam diri mereka lewat pintu kekuatan kecerdikan dan kepandaian mereka,

lalu memperlihatkan pengetahuan bahwa yang benar adalah mengikuti para

7 8 Perangkap Setan

filosof, karena mereka adalah orang-orang yang bijak, karena dari merekalah

muncul perbuatan dan perkataan yang menunjukkan puncak kepandaian dan

kecerdikan. Lihat berapa banyak ucapan-ucapan berbobot penuh hikmah

yang dmiukil dari Socrates, Hippocrate, Plato, Aristoteles, Galenos dan lain-

lainnya. Memang mereka adalah orang-orang yang menguasai ilmu arskektur,

logika dan fisika, sehingga dengan kecerdikannya mereka bisa mengungkap

hal-hal yang tersembunyi, tetapi tatkala mereka berbicara tentang ketuhanan,

maka mereka pun mencampur ini dan itu. Karena im mereka pun saling

berbeda pandangan dalam masalah ini, dan tidak ada perbedaan dalam masalah-

masalah yang bisa diraba atau dalam masalah-masalah yang aksiomatis.

Kami telah menyebutkan jenis perbuatan mereka yang

mencampuradukan keyakinan. Sebab pencampuradukan ini, karena kekuatan

manusia ddak bisa mendalami berbagai macam ilmu, kecuali sebagiannya

saja. Adapun solusinya ialah dengan kembali kepada syariat.

Beberapa golongan dari umat kita belakangan ini ada yang

mengisahkan, bahwa orang-orang yang katanya bijak itu pernah mengingkari

adanya Sang Pencipta, menolak syariat, menganggap syariat agama sebagai

peraturan dan undang-undang biasa. Sebagian dari umat kita ini percaya

kepada apa yang dikisahkan dari para filosof di atas, hingga membuat mereka

menolak syiar-syiar agama, mengabaikan shalat, meremehkan peringatan dan

hukum-hukum syariat serta melepaskan ikatan Islam. Karena itu orang-orang

Yahudi dan Nashrani masih bisa diterima daripada segolongan umat Islam

ini, karena mereka masih berpegang kepada syariat yang menunjukkan bahwa

syariat itu merupakan mukjizat. Pelaku bid’ah lebih bisa diterima daripada

segolongan umat ini, karena mereka masih mau memandang kepada daMl,

sementara segolongan umat ini tidak memiliki sandaran karena kekufurannya.

Mereka hanya bersandar kepada pengetahuan mereka, bahwa para filosof

adalah orang-orang yang bijak. Apakah kalian melihat mereka mau membuka

mata bahwa para nabi itu lebih dari sekadar orang yang bijak?

Apa yang dikisahkan dari para filosof itu, yang mengingkari Sang

Pencipta, ternyata dusta belaka. Mayoritas di antara mereka mengakui Sang

Pencipta dan tidak mengingkari kenabian. Hanya saja mereka mengabaikan

masalah itu. Memang ada sebagian kecil di antara mereka yang menyimpang,

lalu mengikuti ateisme, yang kemudian merusak pemahamannya. Kita melihat

sebagian orang di tengah umat kita yang condong kepada filosof, yang tidak

7 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

menekuni filsafat melainkan karena kebingungan semata. Mereka tidal,

bertindak berdasarkan tuntunan filsafat dan juga tidak berbuat berdasarkai.

tuntutan Islam. Di antara mereka ada yang puasa Ramadhan dan shalat,

namun mengingkari Sang Pencipta dan nubuwah serta berbicara dengan nadi

yang menolak kebangkitan kembali. Tidak ada yang bisa dilihat dari dir

mereka selain gambaran kemiskinan, yang justru membuatnya semakir

merana dan juga membahayakan orang banyak, karena mereka marah kepadii

takdir dan hendak berpaling dan takdir itu. Sampai-sampai ada sebagian di

antara mereka yang berkata kepada kami, “Aku tidak memusuhi kecuali yan^

ada di atas langit.” Lalu dia menukil bait-bait syair yang mencerminkan makn:.i

ini, di antaranya perkataan yang mensifati dunia,

“Adakah kau Tnelihatnya sehagai ciptaan dari Sang Pencipta

ataukah kau melihatnya sebagai karya tanpa ada yang hekarya?”

Karena para filosof hidup tak seberapa lama dari jaman munculnya

syariat klta, sementara kehidupan ala pendeta juga bisa mempengaruhi

sebagian pemeluk agama kita dan bergandengan tangan, maka tidak heran

jika kita melihat sebagian orang-orang bodoh, jika  memandang pintu

akidah, maka mereka berfilsafat, dan jika  mereka memandang pintu zuhud,

maka mereka pun ikut-ikutan hidup ala pendeta. Kami memohon keteguhan

hati kepada Allah untuk tetap berpegang kepada mi//ab kami dan memohon

keselamatan dari musuh kami, sesungguhnya Dia Maha Mengabulkan doa.

Talbis Iblis terhadap Golongan Penyembah Haikal

Mereka adalah orang-orang yang berkata, bahwa segala unsur rohani

mempunyai haikal. Maksud haikal adalah kerajaan langit yang hanya

dinisbatkan kepada unsur rohani secara murni, sehingga badan kita pun harus

senantiasa dinisbatkan kepada roh kita. Jadi, roh menjadi pengatur dan

penguasa di dalam badan. Di antara gambaran-gambaran haikal yang tinggi

ini ada yang berubah dan ada yang tetap. Menurut pendapat mereka, tidak

ada jalan untuk mencapai rohani secara langsung, tetapi harus mendekatkan

diri kepada haikal, lewat ibadah dan korban.

Ada pula di antara mereka yang berkata, “Setiap haikal langit

mempunyai sosok .pribadi orang terdahulu. Karena itu mereka harus

menghadirkan sosok itu, membuat berhala dan mendirikan bangunan bagi

b e r h a l a i t u . ”

8 0 Perangkap Setan

Yahya bin Bisyr An-Nahawundi telah mengisahkan suatu golongan

yang berkata, “Tujuh planet yang ada, yaitu Saturnus, Jupiter, Mans, Matahari,

Venus, Mercurius dan Bulan, merupakan pengatur alam ini, yang berbuat

atas perintah Penguasa langit”. Mereka membuat berhala menurut gambaran

masing-masing planet ini, dan mereka memotong hewan korban untuk

masing-masing planet. Mereka membuat berhala buta dengan badan yang

besar untuk planet Saturnus, lalu mereka menghadirkan sapi yang buta besar

tubuhnya. Sapi itu digiring masuk ke sebuah rumah yang di bawahnya ada

lubang. Di atas lubang itu ada jeruji-jeruji dari besi yang sekaligus sebagai

penutup lubang. Sapi dihela masuk rumah dan berada di atas jeruji besi.

Empat kakinya diikat di sana, lalu di bawahnya diriyalakan api hingga sapi

itu matang.

Para penyaji itu berkata, “Mahasuci engkau wahai tuhan yang buta dan

diciptakan berada di atas kejahatan, yang sama sekali tidak berbuat kebaikan.

Kami sajikan korban kepadamu yang menyerupaiku. Maka terimalah korban

kami dan tahanlah kejahatanmu dari kami dan kejahatan roh-rohmu yang

jahat.”

Sedangkan untuk Jupiter mereka memberikan korban berupa anak

kecil. Caranya mereka membeli seorang budak perempuan. Lalu para pemuka

kaum menggauli budak itu dengan niat untuk kepentingan berhala, hingga

dia hamil dan melahirkan bayinya. Budak perempuan dan bayinya tepat

berumur delapan hari dibawa ke hadapan berhala. Mereka menusuk lambung

bayi itu dengan jarum hingga menangis di tangan ibunya, lalu mereka berkata,

“Wahai tuhan kebaikan yang tidak mengenal kejahatan, kami telah menyajikan

korban kepadamu, berupa bayi yang belum mengenal kejahatan, yang mirip

denganmu dalam tabiatnya. Maka terimalah korban kami dan berikanlah

rezeki kepada kami dari kebaikanmu dan kebaikan roh-rohmu yang baik.”

Untuk Mars mereka menyajikan korban berupa seorang laki-laki yang

rambutnya pirang. Mereka membawa laki-laki itu masuk ke sebuah kolam

yang besar, lalu diikat di sebuah pasak tiang di tengah-tengah kolam itu.

Mereka mengisi kolam dengan minyak dan membiarkan laki-laki yang menjadi

korban tetap berdiri di tengah kolam dalam keadaan terikat. Mereka

mencampuri minyak dengan minyak obat yang menguatkan otot dan

membusukkan daging. Jika sudah tiba saatnya, mereka memegangi kepala

orang itu dan membetot ototnya di bawah kulit. Mereka membawa orang itu

81Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

ke dekat berhala yang diserupakan dengan Mars, seraya berkata, “Wahai tuhan

yang jahat dan yang mendatangkan cobaan, kami sajikan korban kami

kepadamu yang menyerupaiku. Maka terimalah korban kami, tahanlah

kejahatanmu dari kami dan kejahatan roh-rohmu yang jahat.”

Untuk Matahari mereka menyajikan korban seorang wanita yang

anaknya sudah dibunuh sebagai korban untuk Jupiter. Mereka berkeliling di

sekitar berhala yang diserupakan dengan Matahari sambil berkomat-kamit

mengucapkan bacaan, “Wahai tuhan cahaya, kami sajikan korban kami

kepadamu yang menyerupaiku. Maka terimalah korban kami, benlah kami

rezeki dari kebaikanmu dan lindungilah kami dari kejahatanmu.”

Untuk Venus mereka menyajikan korban berupa wanita tua yang

sudah beruban rambutnya. Untuk Mercurius mereka menyajikan korban

berupa pemuda yang baik budinya dan terpelajar. Untuk Bulan mereka

menyajikan korban berupa seorang laki-laki dewasa dan yang lebar wajahnya.

Yang pasti, terlebih dahulu membujuk dan membohongi setiap orang yang

akan dijadikan korban, lalu diberi jampi-jampi yang bisa menghilangkan

akalnya.

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Penyembah Berhala

Setiap cobaan yang disampaikan Iblis terhadap manusia, sebabnya

adalah kecenderungan kepada rasa, tanpa mau mengfungsikan akal. Ketika

rasa senang kepada sosok idola, maka Iblis mengajak sekian banyak manusia

untuk menyembah gambar dan berhala. Mereka pun menurut tanpa mau

mengaktifkan akalnya.

Di antara mereka ada yang memandang bahwa sosok gambar itu

merupakan satu-satunya tuhan yang harus disembah. Di antara mereka ada

pula yang merasa bahwa penyembahan secara total kurang layak diberikan

kepada sosok gambar itu. Karenanya Iblis membisikinya bahwa penyembahan

itu hanya sekadar untuk mendekatkan diri kepada KhaHq. Mereka berkata,

“Kami tidak menyembah berhala-berhala itu melainkan untuk mendekatkan

diri kami kepada Allah semata.”

Dari Hisyam bin Muhammad bin As-Sa’ib Al-Halabi, dia berkata,

“Ayahku memberitahuku, dia berkata, 'Berhala yang pertama kali disembah

ialah berhala Adam Ketika Adam meninggal dunia, baru Syaits bin Adam

meletakkan jasad Adam di sebuah gua di gunung, yang di tempat itulah

8 2 Perangkap Setan

pertama kali Adam dirurunkan ke bumi, tepatnya di India. Kemudian gunung

itu disebut Budha, sebuah gunung yang sangat subur’.”

Pdisyam berkata, ‘Ayahku memberitahuku, dari Abush-Shalih, dari Ibnu

Abbas dia berkata, “Bani Syaith bin Adam biasa menziarahi jasad Adam

di dalam gua, lalu mereka memujanya dan memohon pertolongan kepadanya.

Lalu ada seseorang dari Bani Qabil yang berkata, “Wahai Bani Qabil,

sesungguhnya bani Syaith biasa berkumpul di sekeliling jasad Adam dan

memuja-mujanya. Sementara kalian tidak mempunyai apa-apa.” Maka orang

itu membuatkan sebuah berhala bagi mereka, dan dia pula yang pertama kali

membuatnya.

Plisyam berkata, “Ayahku memberitahuku, bahwa Wud, Suwa’, Yaghuts,

Ya’uq dan Nasr adalah orang-orang yang shalih. Mereka meninggal dunia

hanya dalam jangka waktu satu bulan. Para kerabamya pun sangat berduka.

Ada seseorang dari Bani Qabil yang berkata, “Wahai kaumku, sudikah kalian

jika aku membuatkan lima berhala seperti rupa mereka? Hanya saja aku tidak

dapat menciptakan roh di dalam berhala-berhala itu.”

Setelah mereka setuju, orang itu membuat lima berhala seperti rupa

mereka dan memancangkannya di tengah kerabat masing-masing. Mulanya

salah seorang di antara mereka mendatangi saudaranya, pamannya, anak

pamannya, lalu mereka memuja-muja berhala itu dan terus berusaha

mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Begitulah yang terjadi hingga lewat

satu abad yang pertama.

Kemudian tiba masa Yazad bin Mahlabil bin Qainan bin Anwasy bin ,

Syaits bin Adam, menandai abad kedua. Mereka semakin menjadi-jadi dalam

memuja berhala-berhala itu, melebihi pemujaan yang dilakukan pada abad

per tama .

Kemudian datang abad ketiga. Orang-orang pada masa itu berkata,

“Orang-orang pada periode pertama tidak menyembah berhala-berhala ini

melainkan hanya untuk memohon syafaat di sisi Allah.” Lalu mereka

menyembah berhala-berhala itu, memujanya, dan kekufuran mereka pun

semakin bertambah parah. Lalu Allah mengutus Idris kepada mereka,

yang menyeru mereka. Namun mereka mendustakan beliau. Maka AUah

menempatkan beliau di tempat yang tinggi.

Sebagaimana yang dikatakan Ai-Kalbi, dari Abush-Shalih, dari Ibnu

Abbas, perbuatan mereka seperti itu terus bertahan dan bahkan semakin

8 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

menjadi-jadi, hingga datang Nuh yang diutus sebagai nabi. Saat itu beliai

berumur empat ratus delapan puluh tahun. Beliau mengajak mereka untuls

menyembah Allah ̂ selama seratus dua puluh tahun, tetapi selama itu puls

mereka tetap mendurhakai dan mendustakan beliau. Lalu Allah

memerintahkan agar beliau membuat perahu. Setelah perahu jadi, beliau naih

ke atas perahu, yang saat itu beliau berumur enam ratus tahun. Mereka pun

tenggelam karena banjir besar. Setelah itu beliau masih hidup selama tiga

ratus lima puluh tahun. Sementara jarak antara Adam dan Nuh seribu dua

ratus tahun. Banjir besar membawa berhala-berhala ini