setan iblis 1

 


^UJA dan puji bagi Allah yang telah menyerahkan timbangan keadilan ke

tangan orang-orang yang berpildr, yang mengutus para rasul sebagai

pemberi kabar gembira dan peringatan, pahala dan siksa, yang telah

menurunkan Idtab-kitab kepada mereka, menjelaskan yang salah dan yang

benar, menjadikan berbagai syariat yang sempurna, tiada kekurangan dan

tiada cela.

Saya memuji-Nya dengan pujian orang yang mengetahui bahwa Dialah

Pencipta sebab, saya bersaksi terhadap keesaan-Nya dengan kesaksian orang

yang tulus dalam baiatnya, tanpa disusupi keragu-raguan, dan saya bersaksi

bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, yang diutus untuk melibas

kekuRiran dengan iman, sehingga kegelapan menjadi sirna karena cahaya

petunjuk dan tabir pun menjadi tersingkap. Beliau menjelaskan kepada

manusia apa yang diturunkan kepada mereka, menjelaskan kandungan Al-

Kitab yang rumit, lalu meninggalkan mereka berada pada hujjah yang putih,

tanpa ada kepalsuan dan tanpa ada fatamorgana. Shalawat Allah semoga

dilimpahkan kepada beliau, seluruh kerabat, para sahabat dan tabi’in,

melimpahi mereka dengan kebaikan hingga Hari Kiamat, amma ba’d.

Sesungguhnya nikmat terbesar yang dilimpahkan kepada manusia

adalah akal. Sebab akallah yang menjadi alat untuk mengetahui Allah dan

merupakan sebab yang menghantarkan kepada pembenaran para rasul. Hanya

saja karena akal ini tidak bisa diangkat ke suatu derajat yang diinginkan dari

hamba, maka para rasul pun diutus dan kitab-kitab diturunkan. Syariat bisa

diibaratkan matahari, dan akal bisa diibaratkan mata. Jika mata itu dibuka

dan normal, tentu ia bisa melihat matahari. Ketika akal menerima kepastian

perkataan para nabi, yang dikuatkan dengan dalil-dalil mukjizat, maka akal

itu pun tunduk kepada mereka dan bersandar kepada mereka dalam perkara-

perkara yang tidak dapat dicerna akal.

Ketika Allah melimpahkan nikmat yang berupa akal kepada alam

manusia ini maka Dia memulainya dengan nubuwah bapak mereka, Adam

f̂ '. Beliau mengajarkan kepada mereka apa yang diwahyukan Allah, sehingg^

mereka berada pada kebenaran. Hanya saja dengan nafsunya sendiri Qabil

membunuh saudaranya. Setelah itu menyebar berbagai macam nafsu di

kalangan manusia, dan lama-kelamaan menyeret mereka kepada kesesatan.

hingga mereka menyembah patung dan berbeda-beda dalam keyakinan dan

perbuatannya, sampai-sampai mereka menyalahi para rasul dan akal, hanya

karena memenuhi tuntutan nafsu, cenderung kepada tradisi dan meniru-niru

pemimpin mereka. Iblis pun bertepuk tangan membanggakan dugaannya

sejak semula, karena mereka mengikutinya, kecuali hanya sedikit di antara

mereka yang beriman.

KetahuHah bahwa para nabi membawa keterangan yang mencukupi.

menghadapi berbagai penyakit dengan obat penawar yang mujarab dan meniti

satu jalan yang tidak saling bertentangan. Lalu setan datang mencampuri

keterangan dengan syubhat, mencampuri obat penawar dengan racun.

membelok-belokan  jalan yang lurus ke jalan yang menyesatkan. Setan terus-

menerus mempermainkan akal, sehingga memecah belah Jahiliyah menjadi

beberapa madzhab dan bid’ah yang buruk. Akibamya, mereka menyembah

berhala di dalam Baitul-Haram, mensucikan kepulan asap dupa dan anak

sapi, membunuh anak perempuan secara hidup-hidup, tidak menganggap

para wanita sebagai ahli waris dan berbagai macam kesesatan lain yang telah

dikemas Iblis. Maka AUah mengutus Muhammad 0, untuk menyingkirkan

berbagai macam keburukan dan mensyariatkan hal yang baik-baik. Para

sahabat berjalan bersama beliau dan setelah beliau di bawah pancaran sinar,

selamat dan tipu daya dan ulah setan.

Ketika perjalanan siang hari dan kehidupan para sahabat mulai surut

dan temaram, mulaHah bayang-bayang kegelapan, lalu bisikan-bisikan nafsu

mulai menciptakan berbagai macam bid’ah. Jalan yang tadinya lapang mulai

2 0 Perangkap Setan

menyempit, lalu mereka menggolong-golongkan agama dan mereka pun

menjadi tidak padu. Di sinilah Iblis bangkit menciptakan hal-hal yang serba

gemerlap dan mengecoh, mencabik-cabik dan memecah-belah. Sepicing pun

matanya tak pernah berhenti mengindp.

Maka dari iru saya merasa perlu untuk memperingatkan ulah setan

dan menunjukkan pancingan-pancingannya. Karena dengan mengenali

kejahatan, bisa membangkitkan diri untuk bersikap waspada agar ddak terseret

ke dalam kejahatan itu.

Di dalam Ash-Shahihain, dan hadits Hudzaifah, dia berkata, “Orang-

orang bertanya tentang kebaikan kepada Rasulullah Sedangkan saya

bertanya tentang kejahatan, karena saya takut akan mengerjakannya.”

Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Demi Allah, saya ddak memper-

kirakan di muka bumi pada saat sekarang ini ada seseorang yang lebih suka

agar setan binasa, daripada saya.”

Ada seseorang bertanya, “Bagaimana itu?” Dia menjawab, “Demi Allah,

karena dia benar-benar menciptakan bid’ah di Timur dan di Barat, lalu

seseorang membawanya kepadaku. Kedka dia sudah dba di hadapanku, maka

saya menumpasnya dengan As-Sunnah, lalu dia pun menjadi sadar kembali.”

Saya sengaja menulis buku ini sebagai peringatan dari cobaan setan,

takut terhadap ujiannya, menyingkap tabirnya, menjelaskan perangkapnya

yang ditutup-tutupi. Sesungguhnya Allah akan mengulurkan bantuan dengan

kemurahan-Nya, dan setiap orang yang benar tentu akan meraih tujuannya.

Saya membagi buku ini menjadi dga belas bab, yang kesemuanya

mengungkap tentang talbis Iblis, perangkap setan. Semoga Allah melimpahkan

taufik kepada saya tentang apa yang ingin saya raih ini dan mengilhamkan

kebenaran tentang apa yang saya kehendaki.


“Barangsiapa di antara kalian meng/iendoki taman surga, maka hendaklah

dia mengikuci Al-Jama'ah, karena setan itu beserta sacu crrang, adapun dari

dm orang dia lehih jauh lagi."

Dari Jabir bin Samurah, dia berkata, “Umar bin Al-Khaththab

berpidato di hadapan orang-orang, seraya berkata, “RasuluUah Spernah

berdiri di tempat sepezrti tempatku ini, lalu beUau bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian suka mendapatkan taman surga, maka

hendaklah dia mengikuti Akjama’ah, karena setan itu beserta satu orang,

adapun dari dm orang dia lebih jauh lagi.

Dari Umar bin Al-Khathab dia berkata, “RasuluUah #bersabda.

“Barangsiapa menghefidaki taman surga, maka hendaklah dia men̂ kuti Al-

Jama'ah, karena setan itu heserta satu orang, adapun dari dua orang dia

lebihjauhla^."

Dari Abdullah bin dinar, dari Umar, dia berkata, “RasuluJlah 0bersabda,

“Barangsiapa suka bertempat tinggal di taman surga, maka hendaklah

mengikuti Al-Jamadh, karena setan itu beserta satu orang, adapun dari

dua orang dia lebih jauh lagi. ”

Dari Arfajah, dia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah 0

bersabda.


“Tangan Allah itu di atas Al-Jama‘ah, dan setan beserta orang yang

menyalahi Ahjama ‘ah.”

Dari Usamah bin Syarik, dia berkata, “Saya pernah mendengar

Rasulullah 0bersabda,


"Tangan Allah itu di atas Al-J(̂ ma‘ah. Jika ada salah seorangdi antara mereka

menyendiri, maka setan-setan menyambamya, sebagaimana serigala yang

menyambar seekor domba yang keluar dari rombongannya.”

Dari Abdullah, dia berkata, “Rasulullah ^membuat sebuah garis

dengan tangan beliau, kemudian bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus.”

Kemudian beliau membuat garis lagi di sebelah kanan dan kirinya, lalu

bersabda, “Ini adalah jalan-jalan, yang tidak dilalui melainkan di sana ada

setan yang mengajak unruk ke sana.”

Kemudian beliau membaca ayat.


“Dan, bahiua (yang kami perintahkan) ini adcdahjalan-'Ku yang lurus, maka

ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain). “(Al-

An’am: 153)

Dari Umar bin Al-Khathab dia berkata, ‘Rasulullah 0bersabda.


2 4 Perangkap Setan

Sesungguhn̂ â setan itu serigala (yang memangsa) Tnaniisia seperti serigala

(yang memangsa) domba. Dia mengambil domba yang menjauh dan

memencil. Jauhilah jalan di antara dua bukit, hendaklah kalian men^kuti

Al-]ama‘ah, orang umum dan berada di masjid.

Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar 4®, dari Nabi S, beiiau bersabda,


Dua orang itu lebih baik daripada satu orang, dga orang itu lebih baik

daripada dua orang, dan empat orang itu lebih baik daripada tiga orang.

Hendaklah kalian mengikuti AUJama'ah, karena Allah Azza wajalla tidak

menghimpun umatku kecuali pada petunjuk.


Umat Terbagi-bagi Menjadi Tujuh Puluh Tiga Golongan

Dari Ibnu Umar, dia berkata, “RasuluUah 0bersabda,

Benar'benar akan terjadi pada umatku seperti yang terjadi pada Bani Israel

layaknya sepasang terompah, sampahsampai jika ada di antara mereka yang

menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, tentu di tengah umatku ada

pula yang berbuat demikian. Sesungguhnya Bani Israel terbagi-bagi menjadi

tujuh puluh dua golongan, sedangkan umatku terbagi-bagi menjadi tujuh

puiuh tiga gobngan. Semuanya ada di neraka kecuali satu gobngan. Merel<a

bertanya, “Golongan apa itu ivahai Rasulullah?" Beiiau menjawab, “Yang

berada pada jalanku dan para shahabatku.

Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-ny^i, dari hadits Mu’awiyah

bin Abu Sufyan, bahwa dia berdiri seraya berkata, “Ketahuilah bahwa

Rasulullah pernah berdiri di tempat kami, seraya bersabda,


Menurut At-TirmidzL, ini hadits hasan gharib, tidak dikenal kecuali dan sisi ini.2

2 5Bab I: Perintah Mengikuti As-Sunnah wal Jama'ah

“Ketahuilah, bahuia di antara (yrang'(/rang sebelum kalian dari Ahli Kitai:>

terbagi-bagi menjadi tujuh puluh dm gobngan, dan sesungguhnya agam..

ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dm d-

dalam neraka dari satu golongan di dalam surga, yaitu Al-Jama‘ah

Sesungguhnya dari umatku ini akan muncul segolongan orang yang berjalar

beriringan dengan berbagai nafsu, sebagaimana anjing yang berjalar.

beriringan dengan rekannya.”

Dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah, dia berkata, “Menahar:,

diri dalam As-Sunnah im lebih baik daripada berijtihad dalam bid’ah.”

Dari Ubay bin Ka’b, dia berkata, “Hendaklah kalian mengikuti jalan

dari As-Sunnah. Sesungguhnya tidak ada seorang hamba yang mengikuti jalan

dari As-Sunnah karena ingat kepada Allah dan kedua matanya menangis

karena takut kepada Allah, lalu disentuh api neraka. Sesungguhnya menahari

diri dari As-Sunnah itu lebih baik daripada berijtihad dalam masalah yang

diperselisihkan.”

Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Memandang orang dari Ahlus-

Sunnah itu mengajak kepada As-Sunnah, dan mencegah dari bid’ah itu

merupakan ibadah.”

Dari Abu Al-Aliyah, dia berkata, “Hendaklah kalian berpegang kepad; .

urusan agama pertama yang dipegangi orang-orang sebelum mereka terbagi-

bagi.” Lalu Ashim menceritakan hal ini kepada Al-Hasan. Maka Al-Hasan

berkata, “Dia telah menasihatimu demi Allah dan juga telah membenar

k a n m u . ”

Al-Auza’i berkata, “Sabarkanlah dirimu dalam berpegang kepada As

Sunnah, berhentilah jika orang-orang berhenti, katakanlah apa yang merekc.

katakan, tahanlah apa yang mereka tahan, ikutilah jalan orang-orang sala:'

yang shaleh, karena yang demikian itu membuat jalanmu lapang seperti jalan

mereka yang lapang.”

Dari Al-Auza’i, dia berkata, “Aku bermimpi melihat Tahbul-ln t̂i yang

berfirman kepadaku, “Wahai Abdurrahman, engkaukah yang menyuruh

kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mimgkar?

“Berkat karunia-Mu wahai Tabb-ka'' jawabku. Lalu aku berkata, ‘Ta

Rabbi, sesungguhnya umatku berada pada Islam.”

Allah befirman, “Juga berada pada As-Sunnah.”

2 6 Perangkap Setan

Dari Abu Hammam As-Sukuni, dia berkata, “Aku diberitahu ayahku.

Katanya, “Aku pernah mendengar Sufyan berkata, “Suatu perkataan tidak

akan diterima kecuali disertai perbuatan. Perkataan dan perbuatan tidak

menjadi lurus kecuali disertai niat. Perkataan, perbuatan dan niat tidak menjadi

lurus kecuali sesuai dengan As-Sunnah”

Yusuf bin Asbath berkata, “Sufyan berkata kepadaku, ‘Wahai Yusuf,

jika engkau mendengar seseorang di Masyriq, bahwa dia berpegang kepada

As-Sunnah, maka sampaikanlah salamku kepadanya, dan jika di Maroko

engkau mendengar seseorang yang berpegang kepada As-Sunnah, maka

sampaikanlah salamku kepadanya, karena sedikit sekali orang dari kalangan

Ahlus-Sunnah Wal-Jama’ah.”

Ayyub berkata, “Aku diberitahu kematian seseorang dari kalangan

Ahlus-Sunnah, yang membuat salah satu anggota tubuhnya seakan terlepas

dari tempatnya.” Yang seperti ini juga pernah dikatakan Ath-Thabarani.

Dia juga berkata, “Sesungguhnya di antara kenikmatan orang Arab

dan non-Arab ialah jika Allah mempertemukannya dengan ulama dan Ahlus-

S u n n a h . ”

Dari Ibnu Syaudab, dia berkata, “Sesungguhnya di antara nikmat Allah

yang dilimpahkan kepada seorang pemuda ialah jika dia meniti suatu jalan

yang mempertemukannya dengan seorang Ahlus-Sunnah, yang selanjutnya

Ahlus-Sunnah itu membawanya kepada As-Sunnah.”

Dari Ibnu Syaudzab, dia berkata, “Aku pernah mendengar Yusuf bin

Asbath berkata, “Ayahku adalah seorang pengikut aliran Qadariyah, sedangkan

paman-pamanku pengikut golongan Rafidhah, lalu Allah menyelamatkan aku

lewat Sufyan.”

Muhammad bin Muhammad Al-A’la berkata, “Aku pernah mendengar

Mu’tamar bin Sulaiman berkata, “Aku menemui ayahku dengan raut muka

yang muram. Ayah bertanya, “Ada apa dengan dirimu?”

Aku menjawab, “Seorang temanku meninggal dunia.”

“Apakah dia meninggal pada As-Sunnah?” tanya ayah.

“Benar,” jawabku.

Ayah berkata, “Lalu mengapa engkau masih merasa sedih dengan

kematiannya?”

2 7Bab I: Perintah Mengikuti As-Sunnah wal Jama'ah

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Mintalah nasihat yang baik dari Ahlus

Sunnah, karena mereka itu dianggap orang-orang asing.”

Ibnu Abdul-Wahid berkata, “Ibnu Abu Bakar bin lyash berkata kepada

kami, “As-Sunnah itu ada daiam Islam, lebih mulia daripada Islam yang ada

dalam berbagai agama.”

Asy-Syafi’i berkata, “Jika aku melihat seseorang dari ahli hadits, maka

seakan-akan aku melihat seseorang dari sahabat Nabi 0. ”

Al-Junaid bin Muhammad berkata, “Semua jalan tidak bisa dilewati

manusia kecuali orang yang mengikuti jejak Rasulullah 0, Sunnah dan jalan

beliau, maka semua jalan kebaikan terbuka di hadapannya.’

Dia juga berkata, “Semua jalan kepada Allah ^tidak bisa dilewati

makhluk Allah, kecuali bagi orang-orang yang mengikuti jejak dan Sunnah

Rasulullah 0, sebagaimana yang telah difirmankan Allah,

“Sesunggu/m)ia tekh ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik

bagi kalian.” (Al-Ahzab: 21)*

2 8 Perangkap Setan

Bab II:

Celaan Terhadap Bid'ah

dan Ahli Bid'ah

P Isebutkan di dalam Ash-Shahihain, dari Aisyah ,dia berkata,

RasuluUah #bersabda,( C

■A. ^ 0 f » ^

“Barangsiapa mengada^adakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama)

kami yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak."

Disebutkan di dalam Ash-Shahihain, dari Aisyah ,dia berkata,

RasuluUah #bersabda,

“Barangsiapa mengerjakan sesuatu yang tidak termasuk agama kami, maka

ia tertolak."

Dar i AbduUah bin Umar dar i Nabi bel iau bersabda.

C C

-- c T

“Barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, maka dia bukan termasuk

golongan kami.” (HR. Al-Bukhari).

Abdurrahman bin Amr As-Sulami dari Hajar bin Hajar berkata, “Kami

mendatangi Al-Arbadh bin Sariyah, seseorang yang termasuk mereka yang

diturunkan ayat,

“Dan, tiada (pula dosa) atas orang-orang yang jika  mereka datang

kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu

2 9


para shahabatku’. Dikatakan, ‘Kamu tidak tahu hal-hal baru yang mereka

ciptakan sesudahmu’. “(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Abdullah bin Mahraz berkata, “Agama akan sirna satu sunnah demi

satu sunnah, seperti seutas tali yang semakin usang kekuatannya, sedikit demi

s e d i k i t . ”

Thawus pernah duduk-duduk dan di sampingnya ada anaknya. Lalu

ada seorang pengikut Mu’tazilah yang datang berkata ini dan itu. Thawus

langsung menyumbat kedua lubang telinganya dengan ujung jari seraya

berkata, ‘Wahai anakku, sumbadah lubang telingamu dengan ujung jari, agar

engkau tidak mendengar apa pun dari orang ini, karena hati kita ini sangat

lemah.” Dari waktu ke waktu dia terus menyuruh anaknya untuk tetap

menyumbat telinganya, hingga akhirnya orang itu beranjak pergi.

Isa bin AM Adh-Dhabbi berkata, “Ada seseorang bersama kami yang

berbeda pendapat dengan Ibrahim. Tak lama kemudian Ibrahim mendengar

bahwa orang itu telah masuk golongan Murji’ah. Maka Ibrahim berkata

kepadanya, “Jika engkau meninggalkan kami, maka janganlah kembali lagi

k e s i n i . ”

Shalih .t\l-Murri berkata, “Ada seorang laki-laki menemui Ibnu Sirin di

rumahnya, dan saat ini aku juga ada di sana. Kemudian orang itu mulai

membicarakan satu masalah tentang qadar. Aku dan orang itu berdebat sengit

masalah qadar ini. Lalu Ibnu Sirin berkata kepada kami, “Engkau yang pergi

atau dia yang pergi.

Salam bin Abu Muthi’ berkata, “Ada seseorang dan orang-orang yang

biasa mengikuti hawa nafsu bertanya kepada Ayyub, “Maukah engkau

mendengarkan sepatah dua patah kata dariku?”

Ay)Tjb menjawab, “Tidak mau, sekaMpun hanya setengah kata.”

Ay}nib As-Sakhtiyani berkata, “Tidaklah ahli bid’ah itu semakin

bertambah ijtihadnya, melainkan membuamya semakin jauh dengan Allah.”

Yahya bin Al-Yaman berkata, “Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri

berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada kedurhakaan. Kedurhakaan

masih ada pahalanya, sedangkan bid’ah tidak ada pahalanya.”

Mu’ammal bin Isma’il berkata, “Abdul-Aziz bin Abu Dawud meninggal

dunia, dan Aku juga ikut mengurus jenazahnya. Ketika dia hendak dishalati

dan orang-orang sudah membentuk shaff, Ats-Tsauri datang. Orang-orang

3 1Bab II: Celaan Terhadap Bid'ah dan Ahli Bid'ah

berbisik-bisik, ‘Ats-Tsauri datang’. Dia menyibak barisan dan orang-orang

melihat apa yang hendak dikerjakannya. Dia mendekati jenazah dan berjalan

terus melewatinya, tanpa mau menshalatinya, karena dia menganggap Abdul ■

Aziz, orang yang meninggal dunia itu pengikut golongan Murji’ah.”

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Barangsiapa pernah mendengar

dari ahli bid’ah, maka Allah tidak memberikan manfaat dari apa yang telah

didengarnya itu, dan siapa yang sering berjabat tangan dengannya, maka

Islaninya akan berkurang sedikit demi sedikit.”

Sa’id Al-Kariri berkata, Sulaiman At-Tamimi menangis tersedu-sedu

saat dia sakit. Lalu ada yang bertanya, “Mengapa engkau menangis? Apakah

karena engkau takut mati?”

Dia menjawab, “Tidak. Tetapi aku pernah melewati seorang pengikut

golongan Qadariyah, lalu aku takut Rabb akan menghisab diriku karena hal

i m

Muhammad bin Abu Bakar berkata, “Aku pernah mendengar Fudhail

bin lyadh berkata, ‘Siapa yang duduk-duduk bersama pelaku bid’ah, maka

waspadailah dirinya’.”

Fudhail bin lyadh juga pernah berkata, “Siapa yang mencintai pelaku

bid’ah, maka Allah menggugurkan amalnya dan mengeluarkan cahaya Islam

dari hatinya.”

Dia juga pernah berkata, “Jika engkau berpapasan dengan ahli bid’ah

di suatu jalan, maka laluilah jalan lain. Tidak ada satu amalan pun yang

dilakukan ahli bid’ah yang sampai kepada Allah, dan siapa yang membantu

ahli bid’ah, maka dia telah membantu untuk merusak Islam.”

Dia juga pernah berkata, “Siapa yang menikahkan keluarganya yang

wanita dengan laki-laki ahli bid’ah, maka dia telah memutuskan hubungan

kekeluargaannya. Siapa yang duduk-duduk dengan ahli bid’ah, dia tidak akau

mendapat hikmah. Jika AUah iSfe mengetahui seseorang membenci ahli bid’ah,

maka aku berharap agar Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya.”

Muhammad bin An-Nadhr Al-Haritsi berkata, “Siapa yang

mendengarkan perkataan ahli bid’ah, maka perlindungan terhadap dirinya

dilepaskan dan dia diserahkan kepada ahli bid’ah itu.”

Al-Laits bin Sa’d berkata, “Andaikan aku melihat ahli bid’ah dapat

berjalan di atas permukaan air, aku tetap tidak akan bisa mempercayainya.”

3 2 Perangkap Setan

Asy-Syafi’i berkata, “Andaikan aku melihat ahli bid’ah dapat terbang

dan melayang-layang di udara, maka aku tetap tidak akan mempercayai

dirinya.”

Bisyr bin Al-Harits berkata, “Aku mendengar kabar tentang kematian

seseorang yang disebut Al-Muraisy, sementara saat itu aku sedang berada di

pasar. Andaikan saja aku berada di tempat yang layak untuk sujud, tentu aku

akan sujud syukur dan memuji Allah, karena Dia telah mencabut nyawanya.”

Muhammad bin Sahl Al-Bukhari berkata, “Kami berada di dekat Al-

Qurbani, lalu ada seorang ahli bid’ah yang namanya disebut-sebut dalam majlis

kami itu. Lalu ada seseorang berkata, “Andaikata engkau mau bercerita lebih

banyak tentang mereka, tentu akan membuat kami semakin tertarik.” Seketika

itu pula AI-Qurbani marah besar seraya berkata, “Aku lebih suka beribadah

selama enam puluh tahun daripada sekali saja membicarakan ahli bid’ah.”

Jalan AhluS'Sunnah

Jika ada seseorang berkata, “Celaan dilontarkan kepada bid’ah dan

pujian diberikan kepada As-Sunnah. Lalu apa sebenarnya bid’ah dan As-

Sunnah itu? Karena menurut hemat kami, setiap ahli bid’ah yang mengaku

sebagai bagian dan Ahlus-Sunnah.”

Jawabannya: Menurut pengertian bahasa, As-Sunnah itu adalah jalan.

Tidak dapat diragukan bahwa ahlun-naqli wal-atsari, yaitu orang-orang yang

mengikuti jejak RasuluUah dan para sahabat adalah Ahlus-Sunnah, sebab

mereka berada di atas jalan itu, yang di Sana tidak ada hal baru yang diada-

adakan. Sebab hal-hal baru dan bid’ah itu baru muncul sepeninggal RasuluUah

^dan para shahabat.

Bid’ah merupakan ungkapan tentang suatu perbuatan yang belum ada,

karena itu perlu diada-adakan. Yang lebih sering terjadi, bid’ah ini

berseberangan dengan syariat dan bertentangan dengannya, entah dengan

cara menambahi atau mengurangi. Kalau pun toh bid’ah itu tidak

bertentangan dengan syariat, orang-orang salaf tetap membencinya, dan

mereka pasti menghindar dari setiap ahli bid’ah. Jika perbuatan itu dalam

perkara yang memang diperbolehkan dan menjaga gambaran yang asU, maka

itulah yang disebut itba’.

Karena itu Zaid bin Tsabit menolak perkara yang baru, yaitu

menghimpun mushhaf-mushhaf Al-Qur’an seperti yang diperintahkan Abu

3 3Bah II: Celaan Terlwdap Bid'ah dan Ahli Bid'ah

Bakar dan Umar. Dia berkata, “Bagaimana mungkin kalian berdua melakukan

sesuatu yang tidak pernah diiakukan RasuluUah

Saat Sa’d bin Malik mendengar seseorang berkata, “Aku memenuhi

panggilan-Mu wahai Kabb yang menguasai lapisan-lapisan langit”, maka dia

berkata, “Kami tidak mendengar ucapan semacam itu pada zaman RasuluUah

Abdullah bin Mas’ud diberitahu seseorang sahabat bahwa ada

sekumpulan orang yang duduk-duduk di dalam masjid seusai maghrib. Di

tengah-tengah mereka ada satu orang yang berkata, “Bertakbirlah kepada

Allah begin! dan begin!, bertasbihlah kepada Allah begin! dan begin!,

bertahmidlah kepada Allah begin! dan begird!”

AbduUah bin Mas’ud berkata, “Jika engkau meUhat mereka berbuat

seperti itu lagi, segera beritahu aku dan beritahukan pula tempat mereka!”

Maka orang itu mendatangi sekumpulan orang yang dimaksud dar;

ikut duduk bersama mereka. Ketika mereka berbuat seperti itu, dia segera

bangkit dan menemui AbduUah bin Mas’ud. Setelah diberitahu, AbduUah

bin Mas’ud (orang yang temperamental) menemui mereka dan berkata.

“Namaku AbduUah bin Mas’ud. Demi Allah yang tiada llah selain-Nya, kaliar

telah mendatangkan bid’ah secara zhalim dan kalian merasa lebih hebat dar

Umu para sahabat Muhammad Hendaklah kalian mengikuti jalan (As-

Sunnah). Jika kalian mengambU jalan kiri atau kanannya, tentu kaUan akar

tersesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

Ibnu Auf berkata, “Ketika kami berada di dekat Ibrahim An-Nakha’i.

tiba-tiba muncul seseorang yang berkata kepadanya, Wahai Abu Imran,

berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhkan penyakitku!’ Kulihat rasa

tidak suka terhadap perkataan orang itu, sehingga kami bisa melihat

ketidaksukaannya itu lewat raut mukanya.”

Muhammad bin Rayyan berkata, “Suatu kali Dzun-Nun didatangi

beberapa orang yang bertanya tentang bisikan-bisikan had. Maka dia

menjawab, “Aku ddak mau berbicara tentang hal ini, karena ini termasuk hal

baru. Lebih baik bertanyalah kepadaku tentang shalat atau pun hadits.”

Muhammad bin Rayyan juga menuturkan, “Dia pernah meUhatku

mengenakan selop bewarna merah. Maka dia berkata, “Copotlah selop itu,

karena itu bisa mengundang perhadan, dan RasuluUah ddak pernah

memakai yang seperd im. BeUau mengenakan selop bewarna hitam.”

3 4 Perangkap Setan

Tidak Ada Bid’ah dalam Sesuatu yang Sudah Ditetapkan Syariat

Seperti yang sudah kami jelaskan di atas, bahwa orang-orang salaf

sangat berhati-hati dalam segala hal, apalagi dalam perkara yang

mengindikasikan kepada bid’ah, agar mereka tidak terjerumus ke dalam bid’ah

iti;. Memang ada hal-hal baru yang tidak bertentangan dengan syariat, dengan

begitu mereka pun tidak melihatnya sebagai dosa, sebagaimana yang banyak

diriwayatkan bahwa tadinya orang-orang shalat sendiri-sendiri pada bulan

Ramadhan, atau ada kumpulan-kumpulan tersendiri yang mengerjakan shalat

secara berjama’ah. Lalu Umar bin Al-I<hathab menghimpun jama’ah-jama’ah

mereka itu dan yang mengimami adalah Ubay bin Ka’b. Tatkala Umar melihat

jama’ah ini, dia berkata, “Ini adalah bid’ah yang paling nikmat.” Dikatakan

begitu, karena shalat jama’ah (termasuk pula shalat sunat) sudah ditetapkan

syariat.

Al-Hasan berkata di dalam Al-Qishash, “Itulah adalah bid’ah yang paling

nikmat. Berapa banyak saudara yang bermanfaat bagi orang lain dan berapa

banyak doa yang dimakbulkan. Selagi sesuatu yang baru disandarkan kepada

dasar yang sudah ditetapkan syariat, maka hal itu tidak tercela.”

Adapun jika bid’ah itu berasal dari seseorang yang menempatkan

dirinya seperti yang memberi nikmat, berarti dia telah meyakini adanya

kekurangan dalam syariat. Jika bid’ah itu bertentangan dengan syariat, maka

dosanya lebih besar lagi. Seperti yang sudah kami jelaskan di atas, bahwa

Ahlus-Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti As-Sunnah, sedangkan

ahli bid’ah adalah orang-orang yang menampakkan sesuatu yang sebelumnya

tidak pernah ada dan tidak memiliki sandaran, sehingga mereka perlu

bersembunyi di balik tabir bid’ah mereka. Ahlus-Sunnah tidak pernah

menyembunyikan madzhab mereka. Perkataan mereka jelas, madzhab mereka

pun terkenal dan kesudahan yang baik tentu akan kembali kepada mereka.

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah dia berkata, “RasuluUah 0bersabda,

“Senantiasa ada sekumpulan orang dari umacku yang mendapat kemenangan

hingga ketetapan Allah datang I<epada mereka dan mereka tetap mendapat

kemenangan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Tsauban, dia berkata, “RasuluUah ^bersabda,

3 5Bab II: Celaan Terhadap Bid'ah dan Ahli Bid'ah


“Senantiasa ada segolongan orang dan umatku yang mendapat kemenangan

memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak hisa dihuat celaka oleh orang-

orang yang menelantarkan mereka, hingga datang ketetapan Allah dan

mereka cetap dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim).

Golongan-golongan Ahli Bid’ah

Sebagaimana yang sudah dipaparkan di atas dan sebagaimana yang

sudah diberitahukan Rasulullah bahwa orang-orang Yahudi terbagi menjadi

tujuh puluh dua golongan, begitu pula orang-orang Nasrani. Adapun umat

Islam akan terbagi-bagi menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang semuanya

berada di neraka, kecuali satu golongan saja. Ketika para sahabat bertanya,

“Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ‘Yang berada pada

jalanku dan jalan para sahabatku.” Dalam riwayat lain beliau menjawab, bahwa

yang satu golongan itu adalah Al-Jama’ah.

Jika ada orang yang bertanya, “Apakah golongan-golongan itu dapat

d ike tahu i?

Jawabannya: Kami hanya tahu golongan-golongan yang menonjol.

Apalagi setiap golongan bisa dibagi-bagi lagi menjadi beberapa kelompok.

Kalaupun kami tidak bisa menyebutkan semua nama-nama itu, toh kita bisa

mengetahui golongan-golongan yang menonjol, seperti Haruriyah,

Qadariyah, Jahmiyah, Murji’ah, Rafidhah dan Jabariyah.

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa memang enam golongan

inilah akar berbagai golongan yang sesat. Masing-masing dari enam golongan

ini terbagi menjadi dua belas golongan, sehingga jumlahnya menjadi tujuh

puluh dua golongan. Inilah pembagian masing-masing golongan:

Pertama: Golongan Haruriyah, yang terbagi menjadi dua belas golongan.

ya i tu :

1. Azraqiyah. Mereka berpendapat bahwa siapa pun tidak diakui sebagai

orang Mukmin dan mereka mengafirkan semua orang Muslim yang

mendirikan shalat ke arah kiblat, kecuali jika mereka sejalan dengan

pendapat mereka.

3 6 Perangkap Setan

Abdhiyah. Mereka berkata, “Siapa pun yang sejalan dengan kami, maka

dialah orang Mukmin dan siapa yang tidak sejalan dengan kami, maka

dia adalah orang munafik.”

Tsa’labiyah. Mereka berkata, “Allah ddak menetapkan qadha’ dan

qadar.”

Hazimiyah. Mereka berkata, “Kami tidak tahu persis apa iman itu.

Semua makhluk akan mendapat ampunan.”

Khalfiyah. Mereka berkata, “Siapa yang tidak berjihad, laki-laki maupun

wanita adalah orang kafir.”

Makramiyah. Mereka berkata, “Seseorang tidak boleh bersentuhan

dengan orang lain, karena tidak diketahui siapa yang suci dan siapa

yang najis.”

Kanziyah. Mereka berkata, “Seseorang tidak boleh memberikan

hartanya kepada orang lain, karena boleh jadi dia tidak berhak atas

harta itu. Oleh sebab itu dia harus tetap menyimpannya, hingga muncul

orang-orang yang benar.”

Syamrahiyah. Mereka berkata, “Boleh menyentuh wanita lain mahram,

karena mereka sama dengan perhiasan.”

Akhnasiyah. Mereka berkata, “Setelah meninggal dunia, orang tidak

akan mendapatkan baiasan yang baik maupun buruk.”

Mahkamiyah. Mereka berkata, “Siapa yang menetapkan suatu hukum

terhadap orang lain, maka dia adalah orang kafir.”

Mu’ tazilah (dan golongan Haruriyah). Mereka berkata, “Bagi kami

sama saja kedudukan Ali dan Mu’awiyah. Karena itu kami menyatakan

untuk berlepas diri dari golongan mereka berdua.”

Maimuniyah. Mereka berkata, “Imam tidak dianggap sah kecuali atas

ridha orang-orang yang kami cintai.”

Kedua: Golongan Qadariyah, yang terbagi menjadi dua belas golongan.


yai tu:

Ahmariyah. Mereka berpendapat bahwa syarat adil yang berasal dari

Allah ialah jika Dia menguasai seluruh urusan hamba-hamba-Nya dan

menabiri antara diri mereka dan kedurhakaan mereka.

Tsanwiyah. Mereka beranggapan bahwa kebaikan itu datangnya dari

Allah dan kejahatan itu datangnya dari Iblis.


Mu’tazilah (dan golongan Qadariyah). Mereka berpendapat tentang

Al-Qur’an sebagai makhluk dan mereka mengingkari mimpi.

Kaisaniyah. Mereka berkata, “Kami tidak tabu apakah perbuatan ini

datangnya dari Allah ataukah dari manusia? Kami juga tidak tahu

apakah manusia akan mendapat pahala ataukah akan disiksa setelah

m a t i ?

Syaithaniyah. Mereka berkata, “Allah tidak menciptakan setan.

Syarikiyah. Mereka berkata, “Semua keburukan ditakdirkan kepada

k e k u f u r a n .

Wahmiyah. Mereka berkata, “Perbuatan dan perkataan makhluk itu

tidak mempunyai dzat, kebaikan dan keburukan juga tidak mempunyai

dzat .

Rawandiyah. Mereka berkata, “Setiap kandungan kitab yang diturunkan

Allah harus diamalkan, baik yang nasikh maupun yang mansukh.

Bitriyah. Mereka beranggapan bahwa siapa pun yang melakukan

kedurhakaan lalu bertaubat, maka taubamya tidak akan diterima.

Nakitsiyah. Mereka berpendapat bahwa siapa yang melanggar baiat

terhadap RasuluUah maka dia tidak berdosa.

Qasithiyah. Mereka lebih mengutamakan pencarian keduniaan daripada

menghindarinya.

Nizhamiyah. Mereka mengikuti Ibrahim An-Nizham, yang berkata,

Siapa yang beranggapan bahwa Allah adalah sesuatu, maka dia telah

k a fi r .

Ketiga: Golongan Jahmiyah, yang juga terbagi menjadi dua belas

golongan, yaitu:

Mu’athalah. Mereka berpendapat bahwa apa pun yang terjadi karena

dugaan manusia, maka ia disebut makhluk, dan siapa yang beranggapan

bahwa Allah dapat melihat adalah kafir.

Muraisiyah. Mereka berkata, “Mayoritas sifat Allah adalah termasuk

m a k h l u k .

Multa^iqiyah. Mereka menjadikan Allah ̂ berada di segala tempat.

Waridiyah. Mereka berkata, “Tidak masuk neraka orang yang

mengetahui Rabb-nya dan siapa yang masuk neraka tidak akan keluar

selama-lamanya.”


3 8 Perangkap Setan

Zindiqah. Mereka berkata, “Seseorang tidak dapat menetapkan Kabb

bagi dirinya. Sebab penetapan tidak bisa diputuskan kecuali dengan

dukungan pancaindera. Bahkan apa yang diketahui belum tentu bisa

disebut sesembahan dan apa yang tidak diketahui tidak bisa ditetapkan.”

Haraqiyah. Mereka beranggapan bahwa orang kafir hanya disentuh

api neraka sekali saja, dan selanjutnya dia dibakar api tetapi tidak

merasakan panas.

Makhluqiyah. Mereka berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

Faniyah. Mereka berpendapat bahwa surga dan neraka adalah fana

atau berakhir. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa keduanya

tidak pernah diciptakan.

Mughiriyah. Mereka mengingkari keberadaan para rasul dan

menganggap para rasul sama dengan penguasa.

Waqifiyah. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an

itu makhluk dan juga bukan makhluk.”

Qabriyah. Mereka mengingkari adzab kubur dan syafaat.

Lafzhiyah. Mereka berkata, “Kami melafazhkan Al-Qur’an sebagai

m a k h l u k . ”

Keempat: golongan Murji’ah juga dibagi menjadi sebelas golongan, yaitu;

Tarikiyah. Mereka berkata, “Allah tidak memiliki kewajiban yang

dibebankan kepada makhluk-Nya kecuali iman. Siapa yang beriman

kepada-Nya dan mengenal-Nya, maka dia boleh berbuat semaunya

send i r i . ”

Sa’ibiyah. Mereka berkata, “Allah memberikan kebebasan kepada

makhluk agar mereka bisa mengetahui apa pun yang mereka inginkan.”

Rajiyah. Mereka berkata, “Kami tidak menyebut orang yang taat sebagai

orang yang taat dan orang yang durhaka sebagai orang yang durhaka.

Sebab kami tidak tahu apa yang dia peroleh di sisi Allah.’

Syakiyah. Mereka berkata, “Ketaatan itu tidak termasuk bagian dari

i m a n . ”

Baihasiyah. Mereka berkata, “Iman itu adalah ilmu. Siapa yang tidak

tahu yang haq dan yang batil, yang halal dan yang haram, maka dia

adalah orang kafir.”



6. Manqushiyah. Mereka berkata, “Iman tidak bisa berkurang dan

b e r t a m b a h . ”

Mustatsniyah. Mereka menafikan pengecualian dalam masalah iman.

8. Musyabbihah. Mereka berkata, “Allah mempunyai penglihatan sepert

penglihatanku dan Allah juga mempunyai tangan seperti tanganku.”

Hasyawiyah. Mereka menjadikan semua hadits dalam satu hukum yanp

sama. Menurut mereka, orang yang meninggalkan nafilah (ibadah

sunat) sama seperti orang yang meninggalkan yang fardhu (ibadah

wajib).

10. Zhahiriyah. Mereka menafikan qiyas.

Bida’iyah. Mereka adalah yang pertama kali menciptakan bid’ah di

tengah umat ini.

Kelima: Golongan Rafidhah yang juga dibagi menjadi dua belas

golongan, yaitu:

Alawiyah. Mereka berkata, “Seharusnya kerasulan jatuh ke tangan All

bin Abu Thalib dan bukannya kepada Muhammad Berarti Jibril

telah melakukan suatu kesalahan.”

Amiriyah. Mereka berkata, “Ali adalah sekutu Muhammad Sdalam

urusan agamanya.”

Syi’ah. Mereka berkata, “Ali mendapat wasiat dari RasuluUah 0

agar menjadi pemimpin sesudah beliau. Karena itu umat Islam telah

kufur karena berbaiat kepada selain Ali.”

Ishaqiyah. Mereka berkata, “Kenabian terus berkelanjutan hingga Hari

Kiamat, dan setiap orang yang memiliki ilmu tentang Ahli Baiat, maka

dia sama dengan nabi.”

Nawusiyah. Mereka berkata, “All adalah orang yang paling mulia di

dalam umat ini. Siapa yang menganggap orang lain lebih mulia darinya,

maka dia telah kufur.”

Imamiyah. Mereka berkata, “Dunia ini tidak akan menjadi tegak kecuali

dengan keberadaan imam yang berasal dari anak-anak Husain. Seorang

imam diketahui Jibril, dan jika dia meninggal dunia digantikan dengan

imam lain berikutnya.”


Yazidiyah. Mereka berkata, “Semua anak Husain harus menjadi imam

dalam shalat. Selagi salah seorang di antara mereka ada di suatu tempat,

maka ddak boleh shalat di belakang selainnya, siapa pun dia.”

Abbasiyah. Mereka berpendapat bahwa Al-Abbaslah yang lebih berhak

menjadi khalifah setelah RasuluUah S.

Mutanasikhah. Mereka berkata, “Ruh itu bisa menitis. Jika orang yang

meninggal dunia adalah orang baik, maka ruhnya akan keluar lalu

masuk (menitis) ke dalam diri orang lain, sehingga hidupnya menjadi

bahagia. jika dia orang yang buruk, maka ruhnya juga bisa masuk ke

dalam diri orang Iain, lalu hidupnya menjadi sengsara.”

Raj’iyah. Mereka berpendapat bahwa Ali dan rekan-rekannya kembali

ke dunia dan akan melancarkan balasan terhadap para musuhnya.

La’iniyah. Mereka adalah yang melaknat Utsman, Thalhah, Az-Zubair,

Mu’awiyah, Abu Musa, Aisyah dan lain-lainnya dari kalangan para

s a h a b a t .

Mutarabbishah. Mereka biasa mengenakan pakaian wanita, mengangkat

seseorang sebagai pemimpin untuk setiap zaman, dan dia dianggap

Ai-Mahdi umat ini. Jika dia meninggal dunia, mereka mengangkat orang

lain sebagai penggantinya.

iC(?e«f7w;Jabariyah juga dibagi menjadi dua belas golongan, yaitu:

Mudhtharibah. Mereka berkata, “Anak keturunan Adam tidak berhak

menentukan perbuatannya, tetapi AUahlah yang menentukan segala

perbuatan mereka.”

Af’aliyah. Mereka berkata, “PCita bisa berbuat, tetapi kita tidak kuasa

untuk mengaturnya. Kita tak ubahnya hewan ternak yang dituntun ke

arah gunung.”

Mafrughiyah. Mereka berkata, “Segala sesuatu telah diciptakan, dan

sekarang tidak ada hal baru yang diciptakan.”

Najjariyah. Mereka berpendapat bahwa Allah menyiksa manusia karena

perbuatan-Nya sendiri dan bukan karena perbuatan mereka.

Mataniyah. Mereka berkata, “Berbuatlah sesuai dengan apa yang

melintas di dalam hatimu, sesuai dengan bisikan kebaikan di dalamnya.”


6 . Kasbiyah. Mereka berkata, “Manusia tidak perlu mencari sesuam yang

mendatangkan pahala atau siksa.”

Sabiqiyah. Mereka berkata, “Siapa pun yang berkehendak dapat

berbuat dan siapa pun yang tidak berkehendak bisa tidak berbuat.

Sesung guhnya orang yang dasarnya berbahagia itu tidak bisa dibuat

celaka karena dosa-dosanya, dan orang yang dasarnya menderita itu

tidak akan dapat diubah karena kebaikannya.

Hubbiyah. Mereka berkata, “Siapa yang mereguk gelas cinta AJiah

tidak ada kewajiban baginya untuk mengerjakan rukun-rukun Islam.”

Khaufiyah. Mereka berkata, “Orang yang mencintai Allah tidak akan

takut terhadap siksa-Nya, karena setiap kekasih tidak akan takut

terhadap orang yang dicintainya.”

10. Fikriyah. Mereka berkata, “Siapa yang ilmunya banyak, maka

kewajibannya menjadi gugur, tergantung kepada kadar ilmu yang

dimilikinya.”

Khasiyah. Mereka berkata, “Tidak ada perbedaan tentang dunia ini di

antara manusia, dan tidak ada kelebihan di antara mereka tentang apa

yang mereka warisi dari Adam.”

Ma’iyah. Mereka berkata, “Perbuatan berasal dari kita dan kesanggupan

menjadi milik kita.”B


k ETAHUILAH bahwa tatkala anak keturunan Adam didptakan, di

dalam dirinya juga dimasukkan hawa nafsu dan kehendak, agar dia bisa

mendatangkan apa yang bermanfaat bagi dirinya. Di dalam dirinya juga

didptakan rasa amarah, agar dia menolak apa yang bisa mencelakakannya.

Dia diberi akal layaknya pendidik yang men5’uruhn)^a untuk berbuat adil

tentang apa yang harus dia lakukan dan apa yang harus dia tinggalkan. Allah

juga mendptakan setan yang menyuruhnya untuk berlebih-lebihan tentang

apa yang harus dia lakukan dan apa yang harus dia tinggalkan. Yang harus

dilakukan orang yang berakal ialah mewaspadai musuh yang satu ini, ĵ ang

telah menetapkan permusuhannya semenjak masa Adam, yang telah

bersumpah menghabiskan umurnya untuk merusak keadaan anak keturunan

Adam. Allah telah memerintahkan untuk mewaspadai Iblis dan setan,

sebagaimana firman-Nya,


"Dan, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah secan, karena

sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyam bagi kalian. Sesungguhnya

setan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan

terhadap Allah apa yang tidak J<alian ketahui.” (Al-Baqarah: 168'169)

l

“Setan menjanjikan (menakut'nakuti) kalian dengan kemiskinan dan

menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir)." (Al-Baqarah: 268)

“Dan, setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang

sejauh'jauhnya.” (An-Nisa’: 60)

“Sesunggwhn̂ ja setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan

kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan

menghalangi kalian dari men^ngat Allah dan shalat, maka berhentilah kalian

(dari mengerjakan pekerjaan-pelierjaan itu).” (Al-Maidah: 91)

“Sesunggu/m '̂a setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh

(kalian), karena sesungguhnya setamsetan itu hanya mengajakgolongannya

supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. ”(Fathir: 6)

Ayat-ayat lain yang senada cukup banyak dalam Al-Qur’an. Yang pasti

engkau hams tahu bahwa Iblislah yang pertama kali membuat ulah, dengan

menolak perintah untuk bersujud kepada manusia, karena dia merasa lebih

unggul dalam masalah bahan penciptaannya. Dia berkata,

{1Y ^ ^ j b ^ ^

“Engkau ciptakan saya dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (Al-

Arab 12)

Kemudian IbHs menyusuli pengingkarannya ini dengan kelancangan

terhadap Allah Yang Maha Bijaksana, dengan berkata,

“Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas

diriku?” (Ahlsra’: 62)

Dengan kata lain, “Beritahukan kepadaku mengapa Engkau

memuliakannya atas diriku? Apa yang Engkau lakukan ini sama sekali tidak

berdasarkan hikmah.” Kemudian Iblis menyusuli sikap ini dengan

kesombongan, “Aku lebih baik darinya.” Dia menolak sujud kepada Adam,

yang justru melecehkan dirinya yang sebenarnya diagungkan, dan dia

mendapat kumkan serta siksaan.

4 4 Perangkap Setan

Seiagi Ibiis menggoda manusia dengan sesuatu, maka dia harus

memasang kewaspadaan yang tinggi, dan hendaklah dia mengatakan kepada

Ibiis, tatkala Ibiis itu menyuruhnya kepada keburukan, “Apa yang kamu

nasihatkan kepadaku itu hanyalah anjuran agar aku mengikuti hawa nafsu.

bagaimana mungkin seseorang memberikan nasihat kepada orang lain,

padahal dia ddak bisa menasihati diri sendiri? bagaimana mungkin nasihat

musuh bisa diterima?” Setelah itu berpalinglah dari Ibiis dan berpijaklah

kepada kekuatan dirimu sendiri. Sebab Ibiis senantiasa memerintahkan kepada

nafsu. Hendaklah akal difungsikan, dengan memikirkan akibat dan dosa. Jika

ada bantuan bala tentara, maka pasukan nafsu pasti dapat dikalahkan.

Dari lyadh bin Himar, dia berkata, “RasuluUah #bersabda,

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah Sg memerintahkan agar saya

mengajarkan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui dan hal-hal yang

Dia ajarkan kepadaku pada hari. (Firman-Nya), ‘Sesungguhnya harta yang

Kuberikan kepada hamba-Ku, malia ia halal baginya, dan sesungguhnya

Aku menciptakan hamba^hambaKu dalam keadaan lurus semuanya. Lalu

setan̂ setan mendatangi mereka dan mengalihkan mereka dari agama mereka.

Padahal Aku menyuruh mereka agar tidak menyekutukan (sesuatu) dengam

Ku, seiagi aku tidak menurunkan keputusan padanya’. Dan, sesungguhnya

Allah Mmemandang penghuni bumi, lalu membenci mereka, yang Arab

maupun non-Arab, kecuali seba^n liecil dari Ahli Kitab.”

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata, “RasuluUah ^bersabda,


“Sesungguhnya Ibiis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian

mengutus satuan-satuan pasukannya. Yang paling rendah derajamya adalah

yang paling besar cobaannya. Salah seorang di antara mereka datang seraya

melapor, ‘Aku telah berbuat begini dan begitu’. Ibiis berkata, ‘Engkau tidak

4 5Bab HI: Mewaspadai Talbis Ibiis

berbmt apâ apa'. Beliau bersabda, ‘Kemudian sakh seorang di antara mereko

datang sambil melapor, ‘Aku tidak meninggalkannya sehingga dapat

memisahkan dirinya dengan istrinya’. Beliau bersabda, ‘Lain Iblis

menyuruhnya mendekat’, atau beliau bersabda, ‘Lalu ia men^kutinya dan

berkata, ‘Bagus, itukh kamu'

Dari Jabir bin Abdullah dia memarfu’kan, dengan berkata,

“Sesungguhnya Iblis merasa putus asa karena ia tidak disembah orang-orang

yang sedang shalat. Tetapi dia tidak berputus asa mengadu domba di antara

m e r e k a . ”

Al-Mushannif berkata, “Hadits ini hanya ada dalam riwayat Al-Bukhari,

sedangkan sebeiumnya ada dalam riwayat Muslim. Dalam suatu riwayat

disebutkan, “Iblis merasa putus asa karena tidak disembah orang-orang yang

shalat di Ja2trah Arab.”

Dari Anas bin Malik 4*, dia memarfu’kannya, “Sesungguhnya setan

meletakkan paruhnya di dalam had anak Adam. Jika anak Adam itu mengingat

Allah, maka setan bersembunyi, dan jika anak Adam itu lalai maka setan

mematuk hatinya.”

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata, “Sesungguhnya setan mengelilingi

orang-orang yang ada dalam majUs dzikir untuk mengganggu mereka, namun

dia ddak sanggup memecah belah di antara mereka. Lalu dia mendatangi

orang-orang yang berkerumun membicarakan dunia, lalu menggoda mereka,

hingga mereka saling menyerang. Lalu orang-orang yang berdzikir bangkit

dari duduknya, dan mereka pun saling berpisah!

Dari Qatadah dia berkata, “Sesungguhnya Iblis itu mempunyai

seorang setan yang disebut Qabqab, yang dilatihnya selama empat puluh

tahun. Jika ada seorang anak lewat di jalan ini, maka Iblis berkata kepada

Qabqab, ‘Bertindaklah, karena aku sudah melatihmu seperti ini. Datangi anak

itu dan ganggulah dia”

Dari Tsabit Al-Bannani dia berkata, “Iblis pernah muncul di

hadapan Yahya bin Zakaria Beliau melihat banyak barang-barang yang

menggantung pada diri Iblis. Yahya bertanya, “Wahai Iblis, apakah barang-

barang yang menggantung pada dirimu itu?”

Iblis menjawab, “Ini adalah nafsu-nafsu yang kupergunakan untuk

mengail anak Adam.”

4 6 Perangkap Setan

Yahya bertanya, “Apakah ada pula yang cUtujukan untukku?”

Iblis menjawab, “Boleh jadi perutmu kenyang, lalu aku membuatmu

merasa berat melaksanakan shalat dan berdzikir.”

‘Adakah selain itu?” tanya Yahya.

Iblis menjawab, “Tidak ada, demi Allah.”

Yahya berkata, “Demi Allah, seiamanya aku tidak akan membuat

perutku kenyang karena makanan.”

Iblis berkata, “Demi AUah, aku sama sekali tidak akan memberikan

nasihat kepada orang Muslim.”

Dari Al-Harits bin Qais dia berkata, “Jika engkau didatangi setan

tatkala engkau sedang shalat, lalu dia berkata, ‘Engkau dapat melihatku’, maka

buadah shalat i tu bertambah lama.”

Tipu Muslihat Setan

Ubaid bin Rifa’ah mendengar Nabi bersabda, “Ada seorang rahib

di kalangan Bani Israel. Setan mengambil seorang gadis dan membuamya

seperti orang tercekik. Setan juga membisiki keluarga gadis itu bahwa obat

bagi kesembuhannya ada di tangan rahib. Maka gadis itu dibawa ke hadapan

rahib, namun rahib menolak kehadiran gadis itu. Karena keluarganya terus

mendesak, akhirnya rahib mau menerimanya, sehingga gadis itu pun menetap

bersama rahib. Setan datang dan membujuk rahib untuk menyetubuhinya,

hingga membuat gadis itu hamil. Setan mendatangi rahib lagi dan

membisikinya, “Sekarang keluarga gadis ini akan mendatangimu. Lebih

baik bunuh saja gadis ini, dan jika keluarganya mendatangimu, katakan saja

bahwa dia telah mati.”

Maka rahib membunuh gadis itu dan menguburnya. Selanjutnya setan

mendatangi keluarga sang gadis dan membisikkan ke dalam had mereka

bahwa anak gadis mereka telah hamil karena perbuatan rahib, lalu dia

membunuhnya dan menguburnya. Maka keluarganya mendatangi rahib

dan menanyakan keadaan anak gadis mereka. Rahib menjawab, “Dia telah

m a d . ”

Lalu mereka menahan rahib. Setan mendatangi rahib dan berkata,

“Akulah yang telah memukul gadis itu dan membuatnya seperti orang tercekik.

Aku pula yang membisiki had keluarganya dan mendorongmu untuk berbuat

4 7Bab III: Mewaspadai Talbis Iblis


Setan cukup sabar menghadapi ahli ibadah itu dan senantiavSa

membuatnya senang melakukan kebaikan, sambil membesar-besarkan

masalah jika gadis itu keluar pada siang hari dan menakut-nakudnya andaikan

ada orang lain yang melihat keberadaan gadis itu di biaranya. Maka setan

menambahi tipu muslihatnya dengan berkata, “Andaikan engkau mau berjalan

ketika membawa makanannya, lalu engkau meletakkannya di depan biliknya,

tentu pahalamu semakin bertambah besar.”

Setan terus-menerus membujuknya, hingga dia mau berjalan mendekati

bilik gadis dan meletakkan makanannya di depan pintunya, tanpa berbicara

sedikit pun. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.

Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan menganjurkannya kepada

suatu kebaikan, seraya berkata, “Andaikata engkau mau berjalan membawa

makanannya dan meletakkannya di dalam biliknya, tentu pahalamu semakin

besar.” Iblis senandasa membujuk ahli ibadah, hingga dia mau berjalan

membawa makanannya dan meletakkannya di dalam bilik sang gadis. Hal ini

terjadi hingga beberapa lama.

Iblis menjoiruh ahli ibadah kepada kebaikan dan menganjurkannya,

seraya berkata, “Andaikata engkau mau berbicara dan mengobrol dengannya,

tentu engkau akan bisa menjaganya, karena dia bisa dimangsa binatang” Iblis

senandasa membujuknya, hingga ahli ibadah itu mau berbincang-bincang

dengan sang gadis dari lantai atas biaranya hingga beberapa lama.

Setelah itu Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata membujuknya,

“Andaikata engkau mau turun ke biliknya, duduk di depan pintu biaramu

dan mengajaknya berbincang-bincang, sementara dia juga bisa berbincang-

bincang denganmu, tentu hal itu lebih dia sukai. Iblis senantiasa

membujuknya, hingga ahli ibadah mau duduk di depan pintu biaranya, dan

keduanya berbincang-bincang. Sang gadis keluar dari biliknya dan duduk di

depan pintu bilik. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.

Iblis mendatangi ahli ibadah lagi dan memberinya anjuran tentang

pahala yang akan diperolehnya di sisi Allah jika dia mau mengerjakannya.

Iblis berkata, “Andaikan saja engkau mau keluar dari biaramu dan duduk

lebih dekat lagi ke pintu bilik gadis itu serta berbincang-bincang dengannya,

tanpa perlu keluar dari sana.” Ahli ibadah melakukan anjuran Iblis ini, dan

hal ini berjalan hingga beberapa lama.

4 9Bab III: Metoaspadai Talbis Iblis

Kemudian Iblis mendatangi ahJi ibadah dan berkata, “Andaikata engkau

mau masuk ke dalam bilik gadis itu, berbincang-bincang dengannya dan tanpa

diketahui seorang pun, maka hal ini tentu lebih baik bagimu.” Maka sehari

penuh ahli ibadah menemani sang gadis di dalam biliknya. Ketdka hari sudah

senja, dia keiuar dan naik ke lantai atas dari biaranya.

Iblis mendatangi ahli ibadah dan terus-menerus membujuknya, hingga

dia berani memegang paha sang gadis dan memeluknya. Iblis terus

memperdayai ahli ibadah, dengan membisikkan bahwa hal itu merupakan

kebaikan, hingga akhirnya dia menyetubuhinya dan gadis itu pun hamil. Ketika

tiba saamya, gadis itu melahirkan seorang bayi. Iblis mendatangi ahli ibadah

seraya berkata, “Apa pendapatmu jika saudara-saudaranya datang, sementara

saudari mereka telah melahirkan seorang bayi akibat ulahmu? Apa yang

hendak engkau lakukan? Tentu saja aku tidak berani menjamin dirimu, bahwa

nama baiknya akan tercemar, atau mereka yang akan mencemarkan nama

baikmu. Karena itu hampirilah bayi itu, bunuh dia, lalu kuburkan mayatnya.

Gadis itu pun akan merahasiakannya karena takut andaikan saudara-

saudaranya tahu apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya.”

Maka ahli ibadah itu melakukan apa yang dianjurkan Iblis. Lalu Iblis

berkata lagi, ‘Apakah menurut pendapatmu wanita itu akan menyembunyikan

kepada saudara-saudaranya apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya

dan anaknya? AmbUlah wanita itu, bunuh dia dan kubur bersama anaknya!”

Ahli ibadah benar-benar melakukan anjuran Iblis, membunuh dan

mengubur gadis itu bersama anaknya. Dia juga membuat sebuah lubang dan

meletakkan sebuah batu besar di atasnya setelah meratakan tanahnya. Setelah

itu dia naik ke lantai atas biaranya untuk beribadah di sana. Tidak seberapa

lama berselang seperti yang dikehendaki Allah, saudara-saudara sang gadis

datang dari peperangan, lalu mereka mendatangi biara dan menanyakan

saudari mereka. Ahli ibadah menangis dan menunjukkan belas kasihannya

terhadap saudari mereka, seraya berkata, “Dia adalah seorang wanita yang

paling baik. Itu adalah kuburannya. Lihatlah!”

Mereka mendatangi kuburan saudari mereka dan menangis di Sana

sebagai luapan kasih sayang mereka. Beberapa hari mereka berada di kuburan

itu, lalu mereka pulang ke rumah.

Pada malam harinya dan setelah mereka tidur, iblis mendatangi mereka

lewat inimpi. Iblis muncul dalam rupa seorang laki-laki musaflr. Pertama kali

5 0 Perangkap Setan

dia datang dalam mimpi salah seorang di antara mereka yang paling tua. Setan

bertanya tentang nasib saudarinya. Orang itu menjawab seperti apa yang

dikatakan ahli ibadah, bagaimana kematiannya dan bagaimana kasih sayang

yang ditunjukkannya terhadap saudarinya. Bahkan ahli ibadah itu juga

menunjukkan kuburannya. Namun setan menyangkal semua itu, seraya

berkata, “Ahli ibadah itu ddak berkata jujur tentang saudari kalian. Saudari

kalian itu telah hamil dan melahirkan bayi karena perbuatan ahli ibadah, lalu

dia membunuh saudari kalian dan bayinya, karena merasa takut terhadap

kalian, lalu dia menguburnya di balik pintu sebelah kanan di bilik yang

ditempati saudari kalian. Pergilah ke sana dan buktikan sendiri, tentu kalian

akan mendapatkan apa yang kukatakan ini.”

Lalu Iblis mendatangi dua saudaranya yang lain dan mengatakan hal

serupa. Ketika sudah bangun, mereka merasa heran terhadap mimpi yang

dialami masing-masing, dan mereka semakin heran ketika mereka

menceritakan mimpi itu kepada yang Iain.

“Ini hanya sekadar mimpi, kalian tak perlu mempedulikannya,” kata

yang paling tua.

Yang paling muda berkata, “Demi Allah, aku tidak akan surut sebelum

mendatangi tempat itu dan memeriksanya.”

Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk mendatangi bilik yang dulu

ditempati saudarinya. Mereka membuka pintu dan mencari-cari tempat seperti

yang diberitahukan kepada mereka lewat mimpi. Ternyata benar, saudari

mereka dan anaknya terkubur di tempat itu. Mereka menemui ahli ibadah

tentang nasib saudarinya dan tak ada pilihan lain bagi ahli ibadah selain

mengakuinya karena godaan iblis. Mereka menurunkan ahli ibadah dari

biaranya, siap untuk disalib. Tatkala ahli ibadah itu sedang diikat di papan,

iblis menemuinya seraya berkata, “Tentunya engkau sudah tahu bahwa

sebenarnya akulah yang telah menggodamu dengan kehadiran wanita itu,

lalu engkau membuarnya hamil, lalu engkau membunuhnya dan anaknya.

Jika pada saat ini engkau tunduk kepadaku dan kufur kepada Allah yang

telah menciptakanmu dan membentuk dirimu, tentu engkau akan selamat

dari keadaan yang akan menimpamu ini.”

Maka ahli ibadah itu menyatakan kufur kepada Allah. Namun kemudian

setan meninggalkannya begitu saja dan membiarkan orang-orang

Bab HI: Mewaspadai Talbis Iblis 51

menyalibnya. Karena peristiwa inilah Allah menurunkan ayat 16 dari surat

Ai-Hasyr.

Dari Wahb bin Munabbih dia berkata, “Ada seorang rahib yang

selalu beribadah di dalam biaranya pada zaman Isa Al-Masih Lalu Iblis

datang hendak menggodanya, namun tidak sanggup. Dengan cara apa pun

dia tetap gagal. Lalu Iblis mendatangi rahib itu dalam rupa Al-Masih, seraya

memanggilnya, “Kemarilah wahai rahib! Mendekadah kepadaku karena aku

akan berbicara denganmu ”

“Pergilah dengan urusanmu sendiri, karena aku tidak bisa

mengembalikan umurku yang telah lewat,” kata raWb.

“Kemarilah, karena aku ini adalah Al-Masih,” kata Iblis.

“Kalau pun engkau benar-benar Al-Masih, maka aku tidak

memburuhkan dirimu. Bukankah engkau telah memerintahkan agar kami

senantiasa beribadah dan memperingatkan kami tentang Hari Kiamat?

Enyahlah, karena aku tidak membutuhkan dirimu.” Maka Iblis yang terkutuk

itu pun pergi.

Dari Salim bin Abdullah dan ayahnya, dia berkata, “Tatkala Nuh

sedang naik perahu, beliau melihat laki-laki tua (penjelmaan Iblis) yang

sebelumnya tidak pernah dilihatnya. Nuh bertanya, “Apa yang

mendorongmu masuk ke perahu ini?”

Orang rua itu menjawab, “Aku masuk ke sini untuk mengambil hati

rekan-rekanmu besertaku dan membiarkan badan mereka besertamu.”

'Keluarlah wahai musuh AJIah!” kata Nuh.

Iblis berkata, “Aku akan merusak manusia dengan lima perkara. Aku

akan memberitahukan tiga darinya dan tidak akan memberitahukan dua

lainnya.”

Lalu Allah mewahyukan kepada Nuh “Kamu tidak memerlukar.

yang tiga perkara itu. Maka suruhlah Iblis memberitahukan yang dua

perkara.”

Maka Iblis berkata, “Dengan dua perkara itu aku akan merusak manusia

dan keduanya tidak akan berdusta, yaitu dengki dan tamak. Karena dengk

aku dilaknat dan aku dijadikan setan yang terkutuk. Karena tamak aku

memberi kesempatan kepada Adam untuk berada di surga, lalu aku dapat

menggodanya, sehingga dia pun dikeluarkan dari surga.”

5 2 Perangkap Setan

Dan riwayat yang sama, bahwa dia berkata, “Iblis bertemu Musa

seraya berkata, “Wahai Musa, engkaulah orang yang telah dipilih Allah untuk

membawa risalah-Nya dan berbicara denganmu dengan suaru pembicaraan.

Sedangkan aku adalah yang diciptakan Allah. Aku berdosa dan aku ingin

bertaubat. Karena itu mintakanlah syafaat kepada Kabb-k\x agar Dia

mengampuniku.”

Maka Musa berdoa kepada Allah. Kemudian dikatakan kepada beliau,

‘"Wahai Musa, kamu telah memenuhi kebutuhanmu.”

Seianjutnya Musa bertemu Iblis dan berkata kepadanya, “Engkau telah

diperintahkan untuk bersujud ke kuburan Adam. Setelah itu dosamu akan

diampuni.”

Namun Iblis merasa sombong dan marah, lalu berkata, “Aku tidak

sudi sujud kepadanya selagi masih hidup. Lalu apakah aku harus sujud

kepadanya selagi sudah mati?” Lalu dia berkata lagi, “Hai Musa, engkau

mempunyai hak atas diriku karena engkau telah memintakan syafaat bagiku

kepada Kabb-mu. Maka ingatlah aku pada saat tiga hal, niscaya aku tidak akan

membuat kerusakan karenanya; Ingadah aku tatkala engkau marah. Aku

adalah bara di dalam hatimu dan mataku ada di dalam matamu, serta aku

berjalan menurut aliran darah. Ingatlah aku tatkala engkau menghadapi

pasukan musuh, karena aku mendatangi anak Adam tatkala berhadapan

dengan pasukan musuh, lalu mengingatkannya kepada anaknya, istrinya dan

keluarganya, sehingga dia mengundurkan diri dari medan peperangan. Dan,

janganlah sekali-kali engkau duduk berdua bersama seorang wanita lain

mahram, karena aku merupakan utusannya kepada dirimu dan merupakan

utusanmu kepada dirinya.

Larangan Berkhalwat dengan Wanita Lain Mahram

Dari Sa’id bin Al-Musayyab dia berkata, “Tidaklah ADah mengutus

seorang nabi, melainkan dia tidak merasa aman dari gangguan Iblis, yang

merusaknya melalui perantara seorang wanita.”

Dari Fudhail bin lyadh, dia berkata, “Sebagian syaikh kami

memberitahukan bahwa Iblis yang dilaknat Allah mendatangi Musa saat

beliau sedang bermunajat kepada AUah. Seorang malaikat berkata kepada

Iblis, “Celaka kamu, apa yang kamu harapkan dari Musa selagi dia sedang

bermunajat kepada IL/Z’/'-nya?”

5 3Bab III: Meioaspadai Talbis Iblis

Iblis menjawab, “Aku mengharapkan darinya seperti yang kuharapkan

dan bapaknya, Adam, saat dia berada di surga.”

Dari Abdurrahman bin Ziyad t, dia berkata, “Tatkala Musa tsedang

duduk di majlisnya, tiba-tiba muncul Iblis sambil mengenakan mahkota yang

dicat warna-warni. Ketika sudah dekat, Iblis melepas mahkotanya dan

meletakkannya. Dia mendekat ke arah Musa dan berkata, ''Assalamu 'alaika

waha i Musa . ”

“Siapa engkau ini?” tanya Musa.

“Aku Iblis,” jawab Iblis.

“Kalau begitu Allah tidak mau menerima kedatanganmu. Apa maksud

kedatanganmu?”

‘Aku datang untuk menyerah kepadamu, mengingat kedudukanmu di

sisi Allah dan kehormatanmu di mata-Nya,” jawab Iblis.

“Apa yang engkau lihat pada dirimu?” tanya Musa.

“Aku akan menyambar had anak keturunan Adam,” jawab Iblis.

“Apa yang dilakukan manusia ketika engkau mengalahkannya?” tanya

M u s a .

“Saat dia merasa takjub terhadap dirinya sendiri, menganggap amalnya

banyak dan lupa dosa-dosanya. Kuperingatkan kepadamu tentang dga

perkara; Pertama, janganlah sekali-kali engkau berkhalwat dengan wanita yang

ddak halal bagimu, karena selagi seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita

yang ddak halal baginya, maka aku menjadi rekannya satu-satunya, hingga

aku membujuknya untuk berhubungan dengan wanita itu. Kedua, janganlah

engkau berjanji kepada Allah melainkan engkau harus memenuhi janji itu.

Sebab sedap kali seseorang berjanji kepada Allah, maka aku menjadi rekannya

satu-satunya, hingga aku menjadi penghalang antara dirinya dan janjinya.

Ketiga, sekali-kaH janganlah berniat mengeluarkan shadaqah melainkan

engkau harus langsung mengeluarkannya. Se