lakukan saat mendengar inception seperti diatas yaitu Jjangan
diam saja. Contohnya Anda bisa membalikkan kalimat negatif tersebut dengan
kalimat, “Oh ya? Apakah mobil dan rumahnya sudah lunas kreditnya? Bila belum
lunas, maka belum sepenuhnya merupakan asset miliknya, itulah kenapa saya belum
memiliki mobil dan rumah, sebab saya belum mampu membelinya dengan cara
cash-keras, cara kredit berbunga termasuk riba, dan riba yaitu sesuatu yang
haram.” Intinya, jangan biarkan diri Anda menerima inception tersebut, Anda harus
mengembalikannya pada si pelontar inception bila Anda tidak ingin terkena efek
santet-nya—Anda harus terpaksa mematahkannya dan jangan merasa tidak enak
dalam melakukannya, sebab itu yaitu sebuah hak jawab.
Berbahagialah Setiap Saat Anda menjadi korban gossip!
Perkara Gossip-menggossip itu ibarat kebakaran hutan, saat Anda coba memadamkan
api di bagian utara hutan, maka api di sebelah selatan hutan semakin membesar dan
Anda pun akan ikut terbakar. Anda akan begitu sibuk memadamkan api-gossip bila
Anda masih peduli apa yang dibicarakan orang lain tentang diri Anda. Saat Anda kini
sibuk memperbaiki nama Anda lantaran gossip yang terus-menerus disebarkan oleh
orang yang menzalimi diri Anda, maka saran kami pada Anda saat ini yaitu berhenti
memadamkan gossip tentang diri Anda tersebut, biarkan saja, lepaskan, abaikan.
sebab peraturan tentang ini hanya ada dua, 1) Tidak ada orang yang tidak pernah
dimakan gossip, dan 2) Jika Anda menggosip tentang seseorang, maka orang itu akan
tahu bahwa Anda membicarakannya juga di belakang.
120
Yang perlu Anda lakukan dalam menghadapi gossip yaitu dengan memiliki
pengetahuan dan kesadaran tentang beberapa hal sbb.:
- Orang yang sedang membicarakan, mencela atau menggossipkan diri Anda,
SEBENARNYA ia sedang membicarakan tentang dirinya sendiri. Gossip
yang juga sekaligus cenderung mengandung fitnah—meskipun berdasarkan
fakta, namun tahu darimana bahwa faktanya memang demikian?—sebab itu
semua berasal dari persepsi pikirannya sendiri tentang siapa lagi kalau bukan
tentang orang yang paling dia kenal, yakni dirinya sendiri. Sehingga tanpa
disadari ia sedang mewujudkan apa yang ia gossipkan ke dalam kehidupannya
sendiri, itulah kenapa Gibah atau gossip ini pada dasarnya lebih berbahaya
terhadap si penggossipnya itu sendiri dibandingkan terhadap korban gossipnya.
- Orang yang sedang mencela atau menggossipkan diri Anda dengan narasi
celaannya atau gossipnya tidak menyadari bahwa itupun bisa terjadi pada
dirinya kapan saja dan dimana saja, hanya saja sebab itu belum terjadi pada
dirinya, maka ia menganggapnya itu tidak mungkin terjadi. Seseorang yang
selalu menggossipkan kawannya yang sedang menjalin hubungan dengan
seorang janda dengan stigma sosialnya misalnya, maka kemungkinan besartak
lama kemudian ia pun akan jatuh cinta kepada dan menikahi seorang janda.
Atau seorang penggossip yang menyebarkan gossip kawannya yang sedang
bercerai, maka akhirnya si penggossip-pun mengalami hal yang sama yaitu
bercerai dengan pasangannya. Apakah ini sebuah kebetulan? Tentu tidak.
- Abaikan dan jangan ditanggapi, fokuskan diri Anda pada hal-hal yang
membangun diri Anda. Buatlah lebih banyak karya lagi, misalnya Anda
seorang penulis artikel , mulailah merancang daftar isi artikel berikutnya. Jika
gossip itu pada akhirnya pun mendatangkan sebuah kerugian pada Anda,
biasanya sebuah pembelaan entah itu datangnya darimana akan segera tiba.
- Berikan hak-jawab Anda pada si pengantar gossip yang menyampaikan pada
diri Anda bahwa si anu sedang menggossipkan tentang diri Anda—ngomong-
ngomong, siapa pun dia, sang pengantar gossip kepada Anda, dia bukan teman
sejati Anda, segera jauhi dia. Misalkan Anda digossipkan bahwa tidak ada
orang yang ingin berkawan pada Anda, maka katakan pada si pengantar
gossip dengan mengatakan kalimat ini contohnya: “Saya memang tidak
berkawan dengan para penggossip, tapi belum lama ini saya baru saja
menghadiri kawan-kawan saya di suatu acara yang dihadiri para pejabat
penting.” Katakan saja hal ini sebagai strategi dalam menyiasati derasnya
gossip, meski pun sebenarnya Anda hanya menghadiri acara komunitas biasa
atau tidak menghadiri acara apapun. Jangan menceritakan hal-hal buruk yang
sedang atau telah Anda lalui pada si pengantar gossip. Ceritakan saja
kemenangan-kemenangan kecil dan besar yang telah Anda peroleh, maka itu
akan membuat si penggossip menjadi kesal dan kekesalan hatinya akan
berubah menjadi penyakit.
- Gossip yang sedang gencar disebarkan oleh si penyebar gossip secara terus-
menerus sama artinya ia sedang memberi afirmasi negatif pada dirinya
sendiri secara terus-menerus agar menjadi kenyataan di dalam hidupnya.
121
Untuk menyantetnya, Anda cukup mengatakan,“Kembalilah pada lidahmu
yang asal itu!”
Sumpah Serapah dengan Rasa (energi)
Sumpah serapah yang bisa menjadi kenyataan itu disebab kan rasa yang diikuti oleh
energi yang dikeluarkan oleh orang yang memberi sumpah serapah itu. Sumpah
serapah harus memakai emosi yang kuat dan orang yang di sumpahi—bagusnya—
juga terikat dengan Hukum Kemelekatan Jasa, artinya orang yang disumpahi harus
dibuat emosi bawah sadarnya sebab telah sadar bahwa yang dijahatinya yaitu orang
yang pernah berbuat baik atau pernah berjasa dalam hidupnya. Orang yang disumpahi
akan bereaksi bawah sadarnya, kemungkinan besar ia akan marah sekali mendengar
sumpah serapah atau kutukan tersebut disebab kan bawah sadarnya atau nuraninya
membenarkan segala kebaikan yang pernah ia berikan, namun pikiran bawah
sadarnya mengikuti ego dan nafsunya sendiri, catatan: Jika ia masih memiliki nurani
yang hidup.
Nurani orang yang diberikan sumpah serapah dan mendengar sumpah serapah akan
bereaksi nuraninya membela orang yang yang menyumpahi dia bila ada kebenaran
pada orang yang menyumpahinya. Nurani menyampaikan kebenaran pada seluruh
anggota tubuh yang telah diperintahkan oleh Allah agar sesuai fitrahnya untuk
kebaikan pada dirinya dan juga pada orang lain. Bagian anggota tubuh yang
diperintahkan oleh pikiran sadar orang yang disumpahi untuk menzalimi orang yang
menyumpahi dia akan melawan dan bereaksi negatif berupa timbulnya penyakit,
itupun timbul akibat persetujuan bawah sadar dari orang yang disumpahinya.
Kisah keanehan yang timbul dari sepasang suami-istri, mereka berdua yaitu murid
kami. Bermula saat sang istri sedang hamil dan hasil USG menunjukkan bahwa anak
yang sedang dikandungnya yaitu berjenis kelamin wanita. Beberapa kali di USG
tetap menunjukkan bahwa anak yang dikandungnya yaitu berjenis kelamin wanita.
Sepulangnya dari USG, sang suami mengeluarkan uneg-unegnya dengan mengatakan
bahwa anaknya harus laki-laki, bila tidak maka ia akan menceraikan sang istri.
Pertikaian hebat malam itu dimana sang suami tidak bisa menerima bila yang lahir
yaitu anak wanita, sementara sang istri meyakinkan sang suami agar lebih bisa
menerima apapun pemberian dari Allah. Dengan hati sedih, sang istri yang semakin
besar hamilnya selalu memikirkan kalimat-kalimat kasar yang dilontarkan oleh sang
suami yang begitu menginginkan anak laki-laki. Dan pada saat melahirkan,
keanehanpun terjadi, janin yang telah beberapa kali di USG berjenis kelamin wanita,
kini lahir menjadi berjenis kelamin pria. Sang suami pun sangat bahagia menyambut
kelahiran bayi laki-lakinya. Namun saat bayi menjadi besar, mulai tampak ada yang
aneh dengan anak yang mereka asuh dan dokter menyatakan bahwa anaknya
menderita autis dan auto-immune.
Dari contoh kasus di atas, begitu tergambarkan dengan jelas bahwa sumpah serapah
akan begitu menjadi kenyataan bila orang yang disumpahinya yaitu orang yang
derajat atau hirarkinya berada dibawahnya. Namun perbuatan tidak mensyukuri
pemberian Allah Swt. seperti yang dilakukan oleh sang suami akan mengakibatkan
penderitaan yang lebih berkepanjangan.
Kesimpulan:
122
Sumpah serapah akan menjadi kenyataan bila:
- Orang yang disumpahinya telah menzalimi dirinya.
- Orang yang menyumpahi pernah berjasa pada orang yang disumpahi.
- Orang yang disumpahi menjadi emosi atau kesal atas kalimat sumpahnya
sebab banyak nilai-nilai kebenaran didalamnya sehingga dirinya akan
menghukum dirinya sendiri.
- Bawah sadar orang yang disumpahi menyetujui kalimat sumpahnya itu.
- Secara derajat dan hirarki, orang yang disumpahi berada di bawahnya.
Energi Santet
Pengertian energi dalam konteks ini, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu :
Energi psikologi: Terapi yang dilakukan untuk mengatasi masalah psikologi dan
spiritual, seperti fobia, trauma dengan cara menyeimbangkan medan energi
seseorang yang melibatkan aura, cakra dan meridian.”
Dalam konteks energi yang memiliki efek-santet yaitu , energi psikologi dan spiritual
yang mengganggu keseimbangan medan energi seseorang yang melibatkan aura,
cakra dan meridian. Aura, cakra dan meridian merupakan pemetaan fitrah
keselamatan dan ketahanan tubuh dan jiwa dari manusia.
Santet Massal Melalui Sublimasi Massal—ceramah, iklan, corong masjid, Media
sosial, Media Massa, program TV, program radio, dll.
Kami berdua tinggal di suatu pedalaman di Banten, dimana penduduknya selalu
mengingatkan kami agar tidak melakukan tindakan yang tidak disukai pihak yang
berlabel alim-ulama yang menguasai perkampungannya, sedikit-sedikit selalu saja
orang yang kami jumpai selalu mengingatkan agar tidak melakukan hal-hal yang tidak
disukai golongan alim-ulama di kampung itu. Kami bingung dan tak habis pikir,
sebab sepertinya alim-ulama di kampungnya seperti berada bahkan di atas hukum
negara sekalipun—dan sepertinya pada akhirnya ini terbukti, setidaknya berdasarkan
apa yang telah menimpa kami berdua. Mereka memiliki aturan dan mengatur dengan
aturannya sendiri dan terkesan yang akan mengambil tindakan bila ada warga yang
menurutnya melakukan kesalahan dan tidak sejalan dengan alim-ulama setempatl dan
tindakan ini bahkan bisa sampai menghilangkan nyawa, dengan selogan, “halal
darahnya.”
Suara nyanyian rohani—yang mereka sebut dengan salawatan, padahal isinya bukan
itu, tapi semacam pengagungan pada pihak tertentu—yang disuarakan dari masjid
sebelum adzan maghrib berkumandang yaitu jawabannya. Jawaban yang membuat
kami selama ini penasaran dengan warga kampung yang selalu takut akan alim-
ulama-nya. Di sini Anda dapat mendengar lirik lagu rohani yang sudah sejak lama
dikumandangkan, liriknya yaitu : “Rukun Islam ada lima, syahadat yang pertama,
harus menurut pada ulama agar mati diterima, yang kedua harus salat 5 waktu
jangan terlewat, dst ...”, perhatikan kalimat penyisipan yang seakan-akan setelah
Anda bersyahadat, maka harus langsung nurut ke ulama setempat seolah sebagai
rukun islam yang ke dua. Nyanyian rohani diatas yaitu sebuah sublimasi yang
dilakukan melalui lagu rohani dan corong masjid dan turun-temurun di nyanyikan
123
oleh anak-anak kecil di pedalaman Banten ini agar alim ulama dapat senantiasa
mengontrol mereka dan agar dapat dipengaruhi untuk kepentingan mereka, padahal
selagi kita berada di wilayah hukum Indonesia, sudah seharusnyalah memakai hukum
yang berlaku demi keadilan.
Ceramah juga menjadi salah satu media sublimasi yang sangat efektif untuk
mempengaruhi masa atau warga agar menuruti kepentingannya. Bahkan tanpa ragu
penceramah mengeluarkan pernyataan-pernyataan tanpa dasar demi
menyingkirkan lawan atau pesaingnya yang menurutnya dapat mengurangi
pengaruhnya di mata masyarakat. Padahal seharusnya alim-ulama yang berceramah—
jika mereka ulama sejati— dapat menempuh melalui pendekatan persuasif atau dialog
pada orang yang dianggapnya berseberangan olehnya. Mereka lebih memilih cara
sublimasi melalui ceramah-ceramah untuk menyingkirkan orang yang dianggap
lawannya dalam mempengaruhi masyarakat. Dengan dalih agama, Anda dapat
mengontrol orang-orang bodoh—sebab lalai—dengan mudah, bahkan bisa dengan
mudah menggerakan massa yang sebenarnya telah di pengaruhi melalui sublimasi
mereka.
Alat Santet massal paling dahyat yaitu pesawat TV Anda di rumah, segera tendang
keluar dari kamar tidur Anda, dari ruang keluarga Anda bahkan dari dapur Anda,
sekarang juga!”
Visualisasi Kreatif Media Santet—Boneka Santet, Rambut dan Air Liur Target
Visualisasi Kreatif yaitu menggambarkan atau membayangkan ke dalam pikiran
Anda untuk tujuan menyantet seseorang. Yang biasa digunakan untuk menyantet
seseorang yaitu dengan pemakaian boneka santet atau boneka voodoo, dimana
pada saat Anda ingin menyakiti seseorang dengan boneka santet tersebut, maka Anda
harus membayangkan bahwa boneka santet tersebut yaitu seseorang yang pernah
menyakiti Anda. Untuk mencapai hasil yang lebih baik, maka Anda terlebih dahulu
harus fokus atau memusatkan segenap energi pikiran Anda untuk membayangkan
bahwa boneka tersebut yaitu seseorang yang ingin balas rasa sakit Anda. Tidak
hanya sampai di situ saja, Anda juga harus membangkitkan emosi yang ada pada diri
Anda, seakan-akan kini dia ada di dalam kekuasaan Anda dan Anda bisa dengan
mudah menyakitinya. Boneka berukuran kecil simbol dari bahwa orang yang ingin
Anda santet yaitu orang yang sangat kecil ukurannya dan Anda berukuran sangat
besar, sehingga secara mental Anda dapat memiliki perasaan menang dengan mudah.
Di lain sisi, ada sebagian orang yang membakar kemenyan saat ingin menyantet
dengan boneka santet. Aroma kemenyan akan membantu diri Anda memasuki nuansa
mistik, meyakinkan diri Anda bahwa ada energi lain yang akan membantu Anda.
Padahal aroma kemenyan tersebut hanyalah untuk menciptakan suasana sakral,
suasana yang tidak seperti biasanya, suasana yang mengundang energi terbesar yang
bangkit dari dalam diri Anda sendiri untuk keluar dan mewujudkan keinginan Anda.
Simbol-simbol lain yang turut membantu dalam menggambarkan wajah seseorang
yang ingin disantet biasanya mengambil bagian dari potongan tubuh orang yang akan
disantet, seperti rambut, kuku bahkan liur orang yang ingin disantet. Bahkan ada yang
pemakaian media barang pribadi milik orang yang ingin disantet, seperti celana
dalam yang diambil dari jemurannya dan lain sebagainya.
124
Barang-barang milik orang yang akan disantet biasanya akan digunakan dalam ritual
santet, digunakan untuk menambah yakin diri si penyantet bahwa dengan media
tersebut akan berhasil dalam tujuan yang ingin disampaikannya. Barang-barang
tersebut yaitu rangkaian dari simbol yang mewakili pikiran bawah sadar kita semua,
contohnya:
- Rambut
Rambut yaitu bagian dari tubuh kita yang mewakili gambaran dalam
mempercantik/keanggunan penampilan. Ritual santet dengan pemakaian
rambut orang yang akan disantet biasanya untuk memperkuat visualisasi
kreatif akan rontoknya rambut orang yang akan disantet sehingga orang yang
memandangnya akan melihat dia tampak jelek penampilannya.
- Kuku
Kuku yaitu simbol dari perlindungan atau proteksi. Ritual santet dengan
pemakaian potongan kuku orang yang akan disantet biasanya digunakan
untuk membuat orang tersebut menjadi takut tanpa alasan yang jelas, mudah
stres dan selalu gelisah.
- Air liur atau ludah
Air liur atau ludah yaitu simbol dari mulut dan alat pencernaan makanan.
Ritual santet dengan pemakaian air liur atau ludah orang yang akan
disantet, biasanya digunakan agar orang yang disantet bibirnya menjadi
sariawan yang parah, sakit batuk hingga terganggunya sistem pencernaan yang
ada pada perutnya, sehingga kemungkinan besar perutnya serasa kembung
sebab masuk angin, hingga sulit buang air besar.
- Pembalut Wanita
Barang pribadi milik orang yang akan disantet biasanya diambil dari tong
sampah rumah orang yang akan disantetnya, salah satunya yaitu pembalut
wanita yang sudah digunakan. Ritual dengan pemakaian pembalut wanita
ini untuk memperkuat visualisasi kreatif agar wanita yang ingin disantet
memiliki masalah dengan organ intim kewanitaannya.
- Celana Dalam
Barang pribadi milik orang yang akan disantet biasanya berupa celana dalam
yang diambil dari jemurannya. Media ini biasanya digunakan untuk membuat
si pemilik celana dalam tersebut menjadi selalu teringat-ingat dengan
seseorang yang cintanya pernah ia tolak, hatinya hanya akan tertuju pada
orang yang pernah ia tolak cintanya dan kini berbalik menjadi dia yang begitu
tergila-gila ingin berhubungan intim dengan orang yang yang pernah ia tolak
cintanya.
- Perlengkapan Make-Up
Perlengkapan make up yang dicuri untuk sementara waktu dan dikembalikan
lagi setelah diritualkan, biasanya ditujukan untuk membuat si pemilik make up
memiliki wajah yang buruk saat orang melihatnya. Biasanya hal ini terjadi
dilingkungan pelacur untuk menyingkirkan pesaingnya.
Santet Paradox Takdir (membelok-belokan takdir seseorang)
Silahkan lihat juga ke tajuk TERKAIT: Santet dan Butterfly Effect juga ke tajuk
Hukum Inception yang juga dibahas di awal artikel ini.
Pada dasarnya semua orang memiliki tujuan yang terbentuk dari kumpulan filosofi—
benar atau salah—dalam bentuk file-file yang tersimpan di kepala dan hatinya.
Sayangnya kebanyakan orang memiliki tujuan hidup yang sangat mudah dibaca, dan
dapat dikatakan tujuan hidupnya bukanlah terdiri dari impian-impian besar. Bahkan
ada yang tidak tahu buat apa ia hidup dan oleh sebab itu tidak memiliki tujuan hidup,
namun memiliki banyak keinginan yang tidak sejalan dengan proses yang harus di
lakoninya. Sementara orang-orang yang memiliki impian besar yaitu orang yang
selalu mengotak-atik proses perencanaannya untuk menggapai impian terbesarnya
tersebut. Mereka yakin sekali bahwa dengan mengotak-atik proses perencanaannya
saja terkadang dapat membuahkan hasil dalam waktu yang relatif singkat, mereka
yakin bahwa mereka hanya bisa berencana, namun cepat atau lambatnya impian
terwujud yaitu sebab Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik dari dirinya.
Kebanyakan orang memiliki tujuan hidup yang sangat mudah ditebak, sehinga dalam
menjalani proses dalam upaya untuk mewujudkan tujuan itu, akan dengan mudah
dibelokkan, sehingga pada akhirnya dia akan mengalami kehancuran dan kegagalan.
Maka seringkali kita melihat kebanyakan orang bercita-cita membahagiakan orang
tuanya—secara hitam putih—meskipun mereka sendiri tak tahu harus bagaimana
untuk mewujudkannya. Orang kebanyakan yaitu orang-orang yang selalu berpikir,
“Bagaimana nanti saja”, tidak punya perencanaan untuk masa depan. Hidupnya
terlalu kacau dan terlalu fokus pada masalah-masalah kecil yang mereka hadapi
sehari-hari, sehingga memiliki kecenderungan untuk mengambil jalan pintas yang
berujung pada kena tipu daya orang jahat disekelilingnya. Proses terjadinya terkena
tipu daya orang lain ini pun sudah termasuk kategori sebuah pembelokkan dari tujuan
terbesar dalam hidupnya yaitu dari membahagiakan orang tuanya, menjadi suatu
musibah terkena tipu daya orang lain.
Suatu tujuan yang kita sendiri memang tidak menginginkannya atau setengah hati
dalam mencapai tujuan tersebut, pastilah akan berakhir sia-sia, habis tenaga, uang dan
waktu yang teramat penting. Orang-orang kebanyakan bahkan menghabiskan waktu
dan uangnya sebab terperosok ke dalam bujuk rayu berjenis-jenis MLM yang
berskema piramida yang berujung jatuhnya banyak kerugian yang mereka alami.
Tujuan hidup terbesar mereka untuk membahagiakan orangtuanya dibelokkan oleh
iming-iming yang disodorkan oleh MLM dan tak jarang yang akhirnya menjadi
kekecewaan pada MLM skema piramida itu.
Orang-orang kebanyakan yang kadang terlalu mengagung-agungkan orang tua secara
berlebihan dapat terlihat saat kami membawa pikiran bawah sadar mereka ke dalam
kenangan mereka pada orang tuanya, hampir semuanya menangis tersedu-sedu
teringat jasa orang tuanya pada mereka, menangis di atas panggung seminar-seminar
MLM sebab merasa belum bisa membahagiakan orantuanya, merasa selama ini
hanya menjadi beban bagi orangtuanya saja. Tidak sedikit pula yang merasa dirinya
kualat sama orangtuanya, melawan apa kata-kata orangtuanya sehingga selama ini
merasa bersalah. Kualat timbul sebab perasaan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri
yang begitu kuat akan perasaan bersalah pada seseorang atau pada orang tuanya yang
akhirnya pikiran bawah sadarnya menghukum dirinya sendiri. Pikiran bawah
sadarnya akan serta-merta menyeret dirinya pada kehancuran yang ia temui di
penghujung jalan.
memberi Kebaikan
Bagi kebanyakan orang yang pernah disakiti oleh seseorang akan sulit untuk bisa
kembali berbaik hati pada orang yang menyakitinya itu. Betapa tidak, jika rasa sakit
hati pada orang yang pernah menzaliminya itu sulit untuk dilupakan, apalagi jika ia
harus berbuat baik pada orang yang pernah menyakiti hatinya tersebut?
Bahkan kita tidak ingin dikatakan membeli kebaikan hatinya orang yang telah
menzalimi diri kita, pasti kita enggan melakukan hal tersebut sebab niatnya sudah
beda, yaitu niat membeli kebaikan hati orang yang pernah atau sering menzalimi diri
kita agar dia tidak lagi menzalimi diri kita dan tidak lagi semena-mena pada diri kita.
Apalagi suatu saat akan sampailah jua kepada kita komentarnya, semisal, “Lagi
ngebaikin gua dia.”
Namun bila kita ingin agar orang tersebut tidak lagi menzalimi diri kita lagi, maka
Anda harus tetap bisa terus memberi kebaikan pada orang yang menzalimi Anda itu,
hanya saja bedanya di niat. Saat Anda memberi kebaikan pada orang yang pernah
menzalimi Anda, maka janganlah berniat sebab takut dia akan terus-menerus
menzalimi diri Anda, namun niatkan hati Anda bahwa dengan memberi kebaikan
padanya, maka nurani yang ada pada dirinya bangkit, nilai-nilai kebenaran yang ada
pada dirinya akan menghukum dirinya sendiri bila terus saja masih menyakiti hati
Anda meskipun Anda sudah memberi kebaikan pada dirinya. Namun tentunya niat
terbaik selalu yaitu , hanya sebab Allah saja.
Seperti yang telah kami jelaskan, bahwa di dalam diri setiap orang ada nilai-nilai
kebaikan, ada nurani di dalam hati setiap orang. Untuk bisa membuat nurani orang
tersebut menghukum dirinya sendiri, maka niatkanlah bahwa memang Anda ikhlas
memberi kebaikan pada dirinya, maka nurani yang ada pada diri dia akan
merasakan energi keikhlasan yang Anda kirimkan pada dirinya—energi keikhlasan
yaitu energi paling murni di antara segala jenis energi.
Kirimkanlah kebaikan pada orang yang pernah menyakiti diri Anda, Anda bisa
memberi kebaikan pada anggota keluarganya, tidak harus langsung pada orang
yang pernah menzalimi Anda, namun energi keikhlasan Anda akan tetap sampai pada
orang yang pernah menzalimi diri Anda. Anda bisa mengirimkan sembako, uang atau
rokok satu slop atau apapun bentuknya semampu Anda dan seikhlas Anda untuk
memancing hati nurani dia menghukum dirinya sendiri.
Anda tentu ingat peribahasa yang mengingatkan kita agar jangan membalas kebaikan
dengan kejahatan, kalimat itu berbunyi, “Air susu dibalas air tuba” maka kita tinggal
membaliknya menjadi, “Air tuba dibalas air susu” maka efek santet akan bekerja
pada dirinya.
Umur Panjang vs Umur Pendek
“Orang yang baik yaitu ia yang keberadaannya tidak pernah mengakibatkan
kerugian kepada orang-orang dan lingkungan di sekitarnya, bahkan sebaliknya, ia
selalu mendatangkan kebaikan terhadap apa pun yang ia sentuh dan tersentuh
olehnya.”
Seringkali tanpa kita sadari kita mengeluh dengan mengatakan, “Jadi orang baik itu
melelahkan sebab selalu dianggap sebagai tanda kelemahan, rasanya pingin jadi
orang jahat saja, agar lebih ditakuti dan dihargai sehingga hidup ini akan terasa
lebih mudah.” Betapa tidak, memang menjadi orang baik bukanlah hal mudah—
bahkan ini yaitu sebuah mahkota berat yang tak boleh lepas dari kepala kita dalam
menjalankan permainan kehidupan ini. Namun berita baiknya yaitu bahwa orang-
orang yang baik yaitu orang-orang yang tahu/sadar, tahu bahwa dirinya sedang
diawasi tuhannya, tahu dan sadar bahwa ada perangkat hukum di negara kita ini
yang siap menindak siapapun yang berlaku jahat—meskipun perangkap hukum ini
terdiri dari manusia juga dengan fitrahnya yang bisa dikorupsi/corrupted dalam
menjalankan tugas mereka menegakkan hukum, “Well ...” Semoga Anda tidak seperti
kami, yang mengalami praktik ketidakadilan hukum di negara tercinta ini. Sementara
itu juga, kita semua tahu, bahwa orang-orang yang berlaku jahat yaitu orang-orang
bodoh dan tidak menyadari apa-apa yang ia lakukan terutama terhadap dirinya dan
orang lain, bahkan orang-orang jahat tidak peduli sama sekali dan tidak takut sama
sekali kepada Tuhannya—atau bahkan ada orang yang bahkan sama sekali tidak
mempercayai keberadaan Tuhan—kalau saja ia tidak takut sama tuhannya, apalagi
takut sama hukum yang ada di negeri ini—atau bahkan mereka lebih takut kepada
hukum manusia dibandingkan hukum-hukum Tuhan, the Omnipotent? Orang-orang yang
suka berbuat jahat ini disebut dengan orang yang iseng (mengurusi urusan orang lain).
Kata iseng disebut dengan orang yang jahil dan jahil artinya yaitu bodoh.
Saat orang-orang baik menghadapi orang jahat yang menzalimi dirinya, orang baik
akan selalu hampir saja kehabisan akal menghadapi orang-orang jahat yang
menzalimi dirinya dengan berbagai jalan. Disinilah orang-orang baik hanya bisa
mengadu pada tuhannya, merasa bahwa permasalahan yang dihadapinya yaitu
permasalahan besar yang tak ada jalan keluarnya, merasa tak mampu melawan sebab
tetap mempertahankan statusnya sebagai orang baik. Padahal kita tidak harus berdiam
diri saat seseorang menzalimi diri kita, yang bisa kita lakukan yaitu melawan atau
hijrah/berpindah tempat. Kegalauan terus menjalar dipikirannya disebab kan
sebenarnya ada jalan lain yang bisa ia ambil (melawan atau hijrah), namun ia tidak
mau mengambil jalan lain itu—ini pun yang lalai segera kami lakukan pada suatu
masa, dan tentu saja mendatangkan malapetaka.
Orang-orang baik sangat takut sekali dengan dosa, terlalu banyak khawatir akan dosa
yang ia peroleh nantinya bila ia melawan orang-orang yang menjahatinya, sehingga
ujung-ujungnya orang baik lebih banyak menjadi korban perasaan, padahal dengan ia
tidak melawan orang-orang yang menzalimi dirinya pun sudah termasuk
menzaliminya dirinya sendiri atau menyantet dirinya sendiri, sehingga timbulah
berbagai penyakit akibat menjadikan dirinya sebagai korban perasaan, mulai dari
penyakit sesak nafas hingga kepala pusing lantaran terus-menerus fokus pada masalah
yang dihadapinya—lihat bagian Kamus Penyakit dalam artikel ini.
Masalah yang dipikirkan terus-menerus inilah yang membuat kebanyakan orang-
orang baik merana hidupnya, bawah sadarnya mengatakan bahwa hidup ini tidak adil,
hidup ini tidak menyenangkan sehingga bawah sadarnya ingin cepat-cepat kembali
pada sang pencipta. Sementara itu para pembenci atau orang-orang jahat yang suka
menzalimi orang lain begitu semangat dalam menjalani hidup untuk membenci dan
berbuat zalim, dengan tidak memakai perasaan berusaha sedemikian keras agar orang
yang dianggap lawannya (orang-orang baik) lenyap dari muka bumi, hati nuraninya
sudah tidak lagi didengarkannya. Tuhan memberi kesempatan waktu baginya
untuk bertobat dan orang-orang jahat akan bersemangat hidup dalam menzalimi
seseorang yang dianggapnya patut untuk dilenyapkan, itulah yang membuat orang-
orang yang suka berbuat zalim pada orang lain rata-rata berumur panjang.
“Dan Rabbmulah Yang Maha Pengampun, Pemilik rahmat. Jika seandainya Dia
menyiksa mereka sebab perbuatan mereka, tentu Dia menyegerakan siksa bagi
mereka. Tetapi bagi mereka waktu tertentu yang mereka sekali-kali tidak akan
menemukan tempat berlindung dibandingkan nya. Dan negeri itu telah Kami binasakan
saat mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan
mereka.”—Surah Al Kafhi, ayat 58-59
Lantas bagaimanakah cara kita agar kita tidak mudah menyerah dalam menghadapi
orang-orang yang suka berbuat jahat pada diri kita? Seperti yang telah kami sebutkan,
bahwa Anda bisa melakukan dua hal, yaitu melawan mereka atau menghindarinya.
Bagi kebanyakan orang memilih cara yang kedua yaitu menghindar, disebab kan
kebanyakan orang tidak suka konflik atau masalah menjadi lebih besar bila meladeni
orang-orang yang menzalimi diri kita. Tidak ada yang salah dengan kedua cara
tersebut, bahkan setelah kita berusaha sambil bertahan dan akhirnya kita memilih cara
menghindar-pun juga cara terbaik yang dapat Anda lakukan.
Menghindar atau berhijrah dari suatu tempat untuk meninggalkan seseorang atau
sekumpulan orang, bukan berarti menyerah pada mereka yang menzalimi diri kita,
namun sebenarnya kita telah mencabut semangat hidup dia. Ingat! Orang-orang yang
menzalimi diri Anda mendapatkan semangat hidupnya dari menzalimi diri Anda dan
juga penangguhan waktu dari Tuhan untuk bertobat. Saat Anda pergi
meninggalkannya, maka hidupnya sudah tidak lagi berarti. Di satu sisi ada mekanisme
atau cara lain yang bekerja, yaitu Anda sebagai orang yang baik sudah tidak ada di
tempat tersebut (tidak lagi berbaur dengan orang-orang yang suka berbuat zalim),
tempat yang akan diturunkannya siksa bagi orang-orang yang zalim.
Saat dulu kami tinggal di Jakarta, kami memiliki tetangga—sepertinya ada setan yang
memang bertugas khusus untuk membisikkan permusuhan di antara tetangga,
terutama tetangga dekat—yang dulunya sempat ingin membeli rumah kami dengan
harga yang murah dan dicicil pembayarannya. Tentu saja kami tidak setuju dengan
penawaran mereka dan akhirnya rumah tersebut kami renovasi dan kami tinggal di
dalamnya. Semanjak itulah tetangga tersebut selalu saja mencari gara-gara agar kami
tidak nyaman tinggal di rumah tersebut. Selama hampir dari tahun 2010 hingga tahun
2015 kami mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari tetangga depan
rumah kami di Jakarta. Ia dan keluarganya memusuhi kami agar kami tidak betah
tinggal disitu dengan berbagai cara, mulai dari menutup lubang saluran pembuangan
air kami yang dipampet pakai semen sehingga saat hujan turun, rumah kami dalamnya
digenangi oleh air hujan yang tidak bisa keluar ke selokan, bahkan hingga jalanan
yang dipersempit sehingga sulit keluar-masuk, dan masih banyak lagi usaha mereka
dalam menzalimi kami dengan keji. Kami sempat mengadukan masalah ini dengan
ketua RT, namun tak lama kemudian pak RT masuk ke dalam rumahnya dan saya
dibiarkan begitu saja. Ternyata pak RT masih saudara dekat dari tetangga depan
rumah yang suka menzalimi kami. Kami hanya bisa pasrah dan bertahan dengan apa
yang kami bisa. Dua bulan kemudian berita duka cita di umumkan dari masjid, pak
RT meninggal dunia dan digantikan oleh wakilnya yang jauh lebih baik, seorang guru
agama yang setelah sempat ngobrol sama saya, ternyata sama-sama nge-fans dengan
Prof. Dr Nazaruddin Umar.
Saat malam takbiran Idul Fitri tahun 2015 kami pindah rumah, memilih membangun
rumah sekaligus padepokan di peternakan yang telah kami mulai sejak tahun 2013 di
perkampungan pedalaman Banten. Delapan bulan setelah kami pindah rumah, kami
kembali ke Jakarta untuk mengurus surat pindah dan harus menemui Pak RT yang ada
di Jakarta. Dari tetangga di Jakarta itulah kami mendapat kabar bahwa tetangga depan
rumah kami yang dulu sedang sakit keras, lumpuh setengah sebab sakit stroke yang
di deritanya, sementara ibunya yang pernah ikut memusuhi kami belum lama
meninggal dunia akibat diabetes.
Kisah di atas yaitu kisah untuk menyemangati diri Anda, agar jangan menyerah
untuk menjadi orang baik. sebab keutamaan menjadi orang baik yaitu untuk diri
Anda sendiri, begitupun sebaliknya, menjadi orang jahat pun yaitu untuk kejahatan
dirinya sendiri. Islam yaitu agama yang adil, menempatkan segala sesuatu sesuai
tempatnya atau fitrahnya. Berilah kebaikan pada orang yang berhak Anda beri
kebaikan, jangan memberi kebaikan pada orang yang tidak berhak. Bila kata
“hak” yaitu sama dengan “haq” maka hak yaitu kebenaran. memberi kebaikan
pada orang yang tidak berhak sama halnya Anda sedang menzalimi diri Anda
sendiri—now, it sounds like, detachment is always be a more wise approach.
Dengan mempelajari Ilmu Santet yang ini, Anda akan merasa lebih tenang
menghadapi orang-orang yang suka berbuat zalim terhadap diri Anda, sebab ada
Allah yang memelihara makhluknya dengan sunatullah yang telah ada di muka bumi
ini—untuk konsep yang lebih dalam, silahkan lihat pembahasan tentang Quantum
Mekanik di artikel ini. Agar Anda berumur panjang, maka berikanlah kontribusi
yang besar pada banyak orang, tebarkan kebaikan dan sambung tali
persaudaraan/silahturahim dengan banyak orang. Sementara orang-orang jahat
mencari semangat hidupnya dengan menzalimi orang lain, orang-orang zalim
berusaha keras meyakinkan dirinya jauh lebih baik hidupnya dari orang-orang yang di
jahatinya, dari orang-orang yang berhasil dia aniaya, dia bully, dimana pun dan kapan
pun—anyway, jika Anda orang yang beriman pada kehidupan setelah kematian, maka
negeri akhirat yaitu harapan terbaik Anda.
Orang-orang yang Baik Mati Lebih Cepat, Orang-Orang Jahat Hidup Lebih
Lama
Seperti telah kita bahas di atas, seringkali kita mendengar orang mengatakan, "Jadi
orang baik itu capek dan melelahkan." Namun, apakah kita memiliki pilihan lain
yang bagus? Tentunya kita tidak akan memilih untuk menjadi orang jahat—meskipun
ada pepatah barat yang mengatakan, “All you need is just one little push, voala,
he/she is turning into a psyichopath”, seharusnya kita harus mencari tahu akar
pemicu yang membuat orang letih menjadi orang baik dan rata-rata pemicu nya
yaitu :
- Orang-orang yang memiliki hati yang baik yaitu orang-orang yang selalu merasa
nggak enakan sama orang lain—terus dia jadi enek sendiri deh—sehingga tidak enak
untuk berkata, “tidak!” atau sulit menolak permintaan atau tawaran orang lain,
sehingga ia menderita sendiri.
- Orang-orang baik itu selalu makan hati, kesal namun hanya memendam rasa
amarahnya pada seseorang, sehingga kekesalan tersebut berbuntut memicu
berbagai penyakit yang ada di dalam dirinya sendiri—lihat kamus daftar penyakit di
bagian akhir dalam artikel ini.
- Orang-orang baik itu enggan melakukan balasan pada tiap-tiap orang yang
mencela dirinya—“Guess what, karma is not always there Baby”—ia enggan
melakukan balasan kata-kata yang kasar pada tiap orang jahat yang mencelanya.
Padahal ia tak harus membalasnya dengan kalimat yang kasar pula, cukup dengan
melancarkan jurus abaikan saja orang jahat tersebut. Bukankah balasan yang lebih
menyakitkan seseorang itu yaitu dengan mengabaikannya, dengan tidak mengakui
keberadaannya dalam ruang makro dan mikro kosmos kita? Menganggap dirinya
sebagai orang yang tidak penting atau tidak ada dia dalam kehidupan kita. Maka ia
akan pergi dan menghilang dengan sendirinya dari kehidupan kita.
- Orang-orang baik itu cenderung tidak mencintai dirinya sendiri, sehingga ia
mudah dipengaruhi oleh orang lain yang berniat jahat pada dirinya dan berusaha
menipu dirinya—jadinya beda tipis antara tidak paham dengan menjadi baik.
- Menjadi orang baik saja tidak cukup, Anda juga harus menjadi cerdas agar terhindar
dari tekanan batin, sehingga Anda akan menemui banyak solusi dari masalah hidup
yang menghampiri diri Anda.
- Orang-orang baik itu selalu memposisikan dirinya sebagai pihak yang di zalimi oleh
orang-orang jahat yang hanya mau memanfaatkan dirinya. Selalu menempatkan
dirinya berada dibawah orang lain yang dianggapnya memiliki kekuasaan akan
hidupnya.
- Orang-orang baik itu cenderung diam saat melihat kezaliman merajalela, mereka
memilih mencari jalan aman dan tidak berani melawan atau menentang orang-orang
jahat, mereka banyak namun yaitu silent majority, sementara orang jahat itu
sebenarnya sedikit namun mereka punya banyak orbit dan mereka selalu bergerak
untuk mengitarinya.
- Orang-orang baik itu berpikir bahwa Tuhanlah yang akan selalu membalas
perbuatan orang-orang jahat yang menganiaya diri mereka. Padahal tuhan juga telah
menciptakan mekanisme atau hukum-hukum di atas muka bumi yang telah diciptakan
sebagai peraturan permainan dalam menjalankan kehidupan di dunia ini.
- Orang-orang baik itu malas melawan sebab pada dasarnya orang baik itu tidak suka
bila masalahnya menjadi besar, namun justru masalahnya makin membesar saat ia
masih memikirkan masalah tersebut.
131
Semantara itu orang-orang jahat lagi bodoh akan selalu merasa dirinya berhak dan
membela mati-matian apa pun yang ia pikir ia berhak mendapatkannya. Maka tanpa
rasa malu dan ragu pun mereka akan tetap mempertahankan keinginannya meskipun
ia sebenarnya tidak berhak atas hal tersebut. Inilah yang membuat mereka orang-
orang jahat dan bodoh hidup lebih lama. Mereka tidak memikirkan perasaan orang
lain, mereka hanya memikirkan perasaannya saja.
Anda tidak perlu menjadi jahat bila Anda letih menjalani hidup sebagai orang baik,
yang Anda perlukan dalam menemukan kedamaian dalam hidup yaitu dengan
menjadi pribadi yang adil. Islam yaitu agama yang mengusung keadilan, Islam
yaitu agama yang adil. Islam menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya.
Anda harus bersikap proporsional setiap kali menemui segala permasalahan, jangan
berlebih-lebihan, sebab perbuatan melampaui batas dalam segala hal akan
mendatangkan malapetaka bagi diri pelakunya.
Saat Anda merasa dizalimi oleh orang lain, maka bukan berarti lantas Anda menjadi
berdiam diri saja, Anda harus melawannya, mempertahankan hak-hak Anda saat
kewajiban telah Anda penuhi. Tentu saja Anda harus bangkit melawan kezaliman
yang mendera hidup Anda saat ini, tidak cukup hanya berdoa sambil berharap Tuhan
yang membalasnya, seperti yang tertulis pada al-Quran:
"Dan Allah akan membalas perbuatan mereka melalui perantaraan tangan kalian."
Dalam ayat tersebut sangat jelas sekali bahwa Anda berhak melakukan perlawanan
dan pembalasan pada orang-orang yang menzalimi diri Anda. Namun Anda tidak bisa
langsung gegabah dalam melakukannya tanpa ilmu dan tanpa perhitungan.
Ayat di atas menegaskan bahwa ada Allah swt. yang selalu membantu Anda yang
telah dizalimi oleh orang lain, namun bagaimana pun ada aturan atau mekanisme yang
tetap harus Anda jalankan agar upaya keadilan dapat berdiri tegak. Perang antara
kebaikan dan kejahatan terus berjalan di atas muka bumi sampai hari kiamat, dan
dimulai bahkan sejak Anda belum lahir sekali pun, bahkan sebelum manusia pertama
diciptakan.
Bagian 9: Perlindungan dan Penyembuhan Diri dari Santet
Perlindungan Diri dari Santet Para Pendengki
“Ya Allah jangan pernah izinkan mereka, aku tak akan lalai memohon perlindungan
pada-Mu, dari-Mu.”
“Sesungguhnya tipu daya syaithan itu lemah.”—QS. An-Nisa:76
“Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan
IZIN Allah ....”—QS. Al-Baqarah:102.
Arti kata Sihir—seperti yang pernah kami jelaskan dalam artikel kami, berjudul Kitab
Sihir Rahasia Kuno—menurut bahasa berarti sesuatu yang halus dan tersembunyi.
132
“Sihir yaitu jimat-jimat, jampi-jampi, serta mantra-mantra, dan tiupan buhul-buhul
yang dapat berpengaruh terhadap HATI dan BADAN. Maka sihir bisa menyakiti,
membunuh, dan memisahkan suami dari istrinya, serta mengambil seseorang dari
pasangannya.”—Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad al-Maqdisi Ibnu Qudamah
(wafat 620 H).
Untuk melindungi diri dan keluarga dari sihir santet, kita harus selalu melakukan
dzikir di dua periode waktu pagi dan petang hari, di mana dunia menjadi samar dan
remang-remang—seperti definisi dari sihir itu sendiri. Pagi hari di mana cahaya
membelah kegelapan, dan sore hari di mana cahaya siang kembali ke peraduannya.
Memohon perlindungan dari yang Maha Mengizinkan terjadinya sihir itu sendiri,
pada kita, Dia-lah Allah swt.
Keutamaan Surah al-Falaq dan An-Nas dalam Menangkal Santet
Dalam tafsir al-Mishbah, vol 15 hlm. 727-728, Prof. Quraish Shihab menjelaskan
tentang sabab Nuzul ini, sbb:
Mayoritas ulama berpendapat bahwa surah ini Makkiyyah, yakni turun sebelum Nabi
saw. berhijrah ke Madinah. Pendapat ini berdasarkan sabab nuzul yang menyatakan
bahwa kaum musyrikin Mekah berusaha mencederai Nabi dengan apa yang dinamai
‘ain (mata), yakni pandangan mata yang merusak. Ada kepercayaan di kalangan
masyarakat tertentu bahwa mata melalui pandangannya dapat membinasakan, dan ada
orang-orang tertentu yang matanya demikian. Surah al-Falaq dan Surah an-Nas—
menurut riwayat itu—turun mengajari Nabi saw. menangkalnya. Yang berpendapat
bahwa surah ini Madaniyyah mengemukakan riwayat Sabab Nuzul—yang lain—
yakni bahwa surah ini merupakan pengajaran kepada Nabi saw. untuk menangkal
sihir yang dilakukan Labid Ibn al-A’sham, seorang Yahudi yang tinggal di Madinah.
Riwayat tersebut, walaupun banyak sekali dikemukakan oleh para pengarang kitab
tafsir, sebagian ulama menolak kesahihannya. Tidak semua yang menerimanya pun
menjadikannya sebagai alasan untuk menetapkan bahwa surah ini turun di Madinah.
Surah al-Falaq dan an-Nas, dinamai juga surah al-Mu’awwidzatain. Nama itu
terambil dari kata kedua surah tersebut yang pemakaian kata A’udzu yang berarti
Aku berlindung sehingga al-Mu’awwidzatain berarti dua surah yang menuntun
pembacanya kepada tempat perlindungan atau memasukkannya ke dalam arena yang
dilndungi.
Tema utama kedua surah ini yaitu pengajaran untuk menyadarkan diri dan memohon
perlindungan hanya kepada Allah dalam menghadapi aneka kejahatan. Sayyidatina
Aisyah ra. Istri Rasulullah saw. berkata:
“Rasul meniupkan untuk dirinya al-Mu’awwidzatain saat menderita sakit menjelang
wafatnya, dan saat keadaan beliau sudah amat parah aku membaca untuknya dan
mengusapkan dengan tangan beliau kitanya memperoleh berkat surah ini.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Surah al-Falaq yaitu permohonan perlindungan menyangkut segala macam
kejahatan di segala tempat dan waktu, dan secara khusus disebut malam pada masa
kelamnya, penyihir/juru santet dan yang iri hati. Kesemuanya bersumber dari PIHAK
133
LAIN. Dalam surah al-Falaq yang disebut terakhir yaitu yang IRI HATI, dan inilah
yang merupakan SUMBER upaya Iblis menjerumuskan manusia serta sumber
permusuhan dengannya—permusuhan Iblis terhadap Adam. Sehingga surah
berikutnya yaitu An-Nas, memulai dengan memohon perlindungan dari kejahatan
khusus yaitu godaan jin atau Iblis. Di sisi lain, surah al-Falaq merupakan
permohonan perlindungan dari kejahatan yang bersumber dari luar, sedang surah an-
Nas merupakan permohonan perlindungan dari kejahatan yang datang dari dalam,
bahkan boleh jadi dari diri sendiri—dan bahkan menurut Syeikh Imran Hosein, dari
bisikan Dajjal ke dalam dada manusia, sebab dia juga manusia.
QS. Al-Falaq
“Katakanlah: ‘Aku BERLINDUNG kepada Rabb yang menguasai shubuh (fajar),
dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam jika telah
gelap gulita, dan dari kejahatan (wanita -wanita ) penyihir yang meniup pada
buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang DENGKI, jika ia
dengki.”—(QS. Al-Falaq: 1-5).
QS. An-Nas
“Katakanlah: ‘Aku BERLINDUNG kepada Rabb-nya manusia, Raja manusia,
sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) JIN dan
MANUSIA.”—(QS. AN-Nas: 1-6)
Pengobatan/Penyembuhan terhadap Santet Para Pendengki dengan Bantuan
Orang Lain/Peruqyah
Seseorang yang melakukan perlawanan tidak akan mendapatkan kemenangan dari
musuh kecuali, dengan dukungan dua hal berikut:
1. Keadaan senjata yang digunakan untuk meruqyah haruslah BENAR dan
BAGUS (yakni DOA, dzikir dan wirid yang benar).
2. Tangan yang pemakaian nya haruslah KUAT pula (yakni orang yang
meruqyah harus orang yang BERTAUHID dan BERTAKWA kepada Allah).
Para ulama telah sepakat membolehkan ruqyah, dengan tiga syarat, yaitu:
1. pemakaian firman Allah, atau asma’ dan sifat-Nya, atau dengan sabda
Rasulullah saw.
2. Hendaknya diucapkan dalam bahasa Arab, dengan pembacaan yang benar,
atau bahasa lain yang dipahami maknanya oleh kedua belah pihak.
3. Kesadaran bahwa itu hanyalah sebuah USAHA dan DOA, sebuah sebab,
bukan yang menyembuhkan, yang menyembuhkan hanya Allah.
134
Penyembuhan Diri—Lihat Juga Bagian 12: Daftar Santet Penyakit dan
Penurunan Fungsi Tubuh/Kamus Penyakit, dalam artikel ini
Membebaskan Diri dari Santet dengan Doa
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan
bagimu.” —QS. Ghafir: 60
Doa bisa dilakukan secara langsung—tak butuh perantara—dan harus dijaga
kemurniannya.
“jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia
memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah) Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam
kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).
Mari kita simak menafsiran ayat di atas, menurut tafsir al-Mishbah, karya Prof.
Quraish Shihab:
Kata jawablah tidak terdapat dalam teks ayat di atas. Itu dicantumkan dalam
terjemahan hanya untuk memudahkan pengertian makna ayat. Ulama al-Qur’an
menguraikan bahwa kata jawablah DITIADAKAN di sini untuk mengisyaratkan
bahwa SETIAP ORANG —walau yang bergelimang dalam dosa—dapat langsung
berdoa kepada-Nya TANPA PERANTARA. Ia juga mengisyaratkan bahwa Allah
begitu dekat dengan manusia, dan manusia pun dekat kepada-Nya, sebab
pengetahuan tentang wujud Allah melekat pada FITRAH MANUSIA.
“Kepada-Ku”
Anak kalimat,“orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku,” menunjukkan
bahwa bisa jadi ada seseorang yang bermohon tapi ia BELUM LAGI DINILAI
BERDOA oleh-Nya. Yang dinilai-Nya BERDOA antara lain yaitu yang TULUS
MENGHADAPKAN HARAPAN HANYA KEPADA-NYA, bukan kepada selain-
Nya, bukan juga yang menghadapkan diri kepada-Nya BERSAMA dengan selain-
Nya. Ini dipahami dari penggunaan kata kepada-Ku (bentuk tunggal).
Firman-Nya: Hendaklah mereka memenuhi (segala perintah) Ku mengisyaratkan
bahwa yang pertama dan utama dituntut dari setiap YANG BERDOA yaitu
MEMENUHI segala PERINTAH-Nya. Ini diperingatkan juga oleh Nabi saw. yang
menguraikan keadaan seseorang yang menengadah ke langit sambil berseru:
“Tuhanku-Tuhanku! (Perkenankan doaku),“ tetapi makanan yang dimakannya
haram, pakaian yang dikenakannya haram, “maka bagaimana mungkin dikabulkan
doanya?”
Selanjutnya ayat di atas memerintahkan agar PERCAYA kepada-Nya. Ini bukan saja
dalam arti mengakui keesaan-Nya, tetapi juga bahwa Dia akan memilih yang terbaik
untuk si pemohon. Dia tidak akan menyia-nyiakan DOA itu, tetapi bisa jadi Allah
memperlakukan si pemohon seperti seorang ayah kepada anaknya, Sekali memberi
135
sesuai permintaannya, di kali lain diberi-Nya yang tidak dia mohonkan tetapi LEBIH
BAIK untuknya, dan tidak jarang pula Allah MENOLAK PERMINTAANYA namun
memberi sesuatu yang LEBIH BAIK di masa mendatang. Kalau tidak di dunia, maka
di akhirat kelak.
“Berdoalah kepada Allah disertai dengan KEYAKINAN PENUH bahwa Allah akan
memperkenankannya.”—Sabda Nabi Muhammad saw. Itu semua agar kamu selalu
berada dalam kebenaran, yakni dapat mengetahui jalan YANG TERBAIK serta
bertindak TEPAT, baik menyangkut soal dunia maupun akhirat.
Kehidupan manusia, disukai atau tidak, mengandung penderitaan, kesedihan, dan
kegagalan, di samping kegembiraan, prestasi dan keberhasilan. Banyak kepedihan
yang dapat dicegah dengan melalui usaha yang sungguh-sungguh serta ketabahan
dalam menanggulangginya. Tetapi, ada juga seperti misalnya KEMATIAN, yang
tidak dapat DICEGAH oleh upaya apa pun. Nah, di sinilah semakin terasa
manfaatnya DOA. Harus diingat pula bahwa kalau pun apa yang dimohonkan TIDAK
SEPENUHNYA TERCAPAI, dengan DOA tersebut seseorang telah hidup dalam
suasana OPTIMISME, HARAPAN, dan hal ini tentu saja membawa dampak yang
sangat baik dalam kehidupan.
Seseorang yang beriman MENYADARI bahwa segala sesuatu BERADA DALAM
kekuasaan Allah. Jika ia bersikap dengan TEPAT, pasti Allah akan MEMBUKA
baginya JALAN-JALAN lain, meskipun jalan tersebut pada mulanya terlihat
mustahil. Jalan yang kelihatan mustahil inilah yang diperoleh melalui ketabahan dan
shalat (DOA).
Hakikat Doa
“Atau siapa Yang memperkenankan orang yang dalam keadaan terpaksa jika ia
berdoa kepada-Nya dan Yang menghilangkan kesusahan.”—QS. An-Naml: 62
Thabathaba’i memahami ayat di atas dalam arti JANJI Allah untuk
MEMPERKENANKAN doa siapa yang berdoa. Menurutnya, kata yang terpaksa
sengaja digarisbawahi agar yang berdoa mewujudkan secara benar HAKIKAT DOA.
Permohonan, bila tidak disertai dengan kebutuhan yang mendesak, atau yang berdoa
merasa tidak terlalu perlu dengan apa yang dimintanya, itu mengandung arti IA
TIDAK MEMINTA. Sedang kalimat jika ia berdoa kepada-Nya mengandung
isyarat bahwa doa harus benar-benar terarah secara murni hanya kepada Allah swt.
Dan ini baru dapat diwujudkan jika yang bersangkutan MEMUTUSKAN
HUBUNGAN dengan SEBAB-SEBAB LAHIRIAH dan hatinya hanya bergantung
kepada Allah SEMATA-MATA. Adapun yang hatinya masih berkaitan dengan
sebab-sebab lahiriah, atau menggabung antara itu dan Tuhannya, pada hakikatnya
dia TIDAK BERDOA (hanya) kepada Tuhannya, tetapi (juga) kepada selain-Nya.
Bisa jadi pada saat kita berdoa meminta tambahan rezeki, sementara rezeki itu
biasanya datangnya dari arah yang tidak disangka-sangka, kalau kita mulai
mengira-ngira arahnya, berarti kita masih mengaitkan doa kita dengan sebab-sebab
lahiriah, misalnya dalam bentuk bonus berlipat dari perusahaan tempat Anda bekerja,
atau melakukan penggabungan antara perusahaan tempat Anda bekerja dengan
136
Tuhan, berarti pada hakikatnya kita tidak berdoa kepada Tuhan, tetapi kepada selain-
Nya, dan syarat terkabulnya doa pun tidak bisa terpenuhi.
Syarat dan Adab Berdoa
“Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan berendah diri dan dengan
MERAHASIAKAN. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas.”—QS. Al-A’raf: 55
Berdoalah kepada Tuhan yang selalu membimbing dan berbuat baik kepada kamu
serta beribadahlah secara TULUS sambil mengakui keesaan-Nya dengan berendah
diri menampakkan KEBUTUHAN YANG SANGAT MENDESAK, serta dengan
merahasiakan, yakni memperlembut suara kamu seperti halnya orang yang
merahasiakan sesuatu. Siapa yang enggan berdoa atau mengabaikan tuntunan ini, dia
telah melampaui batas dan sesungguhnya Allah tidak menyukai, yakni tidak
melimpahkan rahmat kepada orang-orang yang melampaui batas.
Syarat Diterimanya Doa
Khusyuk dan ikhlas bermohon kepada Yang Maha Esa dengan suara yang TIDAK
KERAS sehingga memekakkan telinga serta tidak pula bertele-tele sehingga terasa
dibuat-buat. sebab bisa jadi kedua hal ini yaitu bentuk dari pelampauan batas.
Agar permintaan kita dikabulkan maka kita harus membuat Sang Pengabul menyukai
doa kita, untuk itu kita perlu menerapkan syarat dan adab doa dalam berdoa, agar doa
kita diperkenankan-Nya.
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah perbaikannya dan
BERDOALAH kepada-Nya dalam keadaan TAKUT dan HARAPAN. Sesungguhnya
rahmat Allah dekat dengan al-muhsinin.”—QS. Al-A’raf : 56
Ada DUA SYARAT LAIN yang perlu diperhatikan oleh orang yang berdoa, seolah
ayat ini berpesan: Himpunlah dalam diri kamu rasa takut kepada Allah dan harapan
akan anugerah-Nya serta jangan sekali-kali menduga bahwa doa yang kalian
panjatkan —walau bersungguh-sungguh—sudah cukup.
Seorang muhsin lebih tinggi kedudukannya dibandingkan seorang yang adil sebab yang
adil menuntut semua haknya dan tidak menahan hak orang lain, ia memberinya sesuai
kadar yang sebenarnya, sedang yang muhsin memberi lebih banyak dibandingkan yang
seharusnya dia beri dan rela menerima apa yang kurang dari haknya.
“Always do more than you get paid for, to make an investment.”—Jim Rohn
Investment atau investasi yang dimaksud pada quote di atas bisa berarti untuk dipetik
hasilnya di kehidupan ini dan atau di kehidupan yang akan datang. Dalam artikel nya
The Seasons of Life yang mengharukan, ia menulis bahwa, ia yakin bahwa kehidupan
ini merupakan sebuah test atau ujian untuk memisahkan siapa yang lulus dan siapa
yang tidak, untuk peningkatan level pengembangan kepribadian secara eternal atau
abadi pada setiap fasenya dan alamnya.
137
Doa Seorang Muhsinin
Muhsinin yaitu orang-orang yang mantap dalam kebaikannya, senang membantu,
menasihati dan membimbing. Memang seseorang yang dinilai baik diakui pula
memiliki hati yang bersih dan pikiran yang jernih sehingga dapat memahami apa yang
tidak dipahami oleh orang kebanyakan, bahkan dipercaya bahwa dia mampu
mengungkap—melalui kesucian jiwanya—apa yang tidak mampu ditangkap oleh
selainnya—memiliki karomah.
Menjadi Pecinta Allah
Sebagai usaha kita manusia, jika kita menginginkan sesuatu dari seseorang, atau
menginginkan bantuannya, maka kita seharusnya tidak akan bisa berani memintanya
jika kita menyadari kadar emosi hubungan kita—investasi emosi—dengan yang
bersangkutan kurang memadai. Besar kemungkinan kalau hubungan kita dengan yang
bersangkutan kurang baik, maka ia akan menolak permintaan kita. Kecuali jika ia
seorang muhsinin, maka ia akan tetap memberi bantuan pada kita, sebab ia akan
memberi pada kita melebihi apa yang kita berhak menerimanya. Namun, populasi
kaum muhsinin ini—menurut keterangan, yaitu sangat terbatas—belum lagi yang
bisa menyentuh kehidupan kita. Dalam kaitannya dengan dikabulkannya suatu
permintaan atau doa pada Allah swt. Agar kita bisa mengantarkan doa-doa kita
dengan YAKIN akan dikabulkan oleh Allah swt. tentu saja kita harus menjadi seorang
Pecinta Allah. Tentu kita sering berkata, “Saya ingin dicintai Allah swt.” Namun itu
yaitu sebagai efek sebab kita yang mencintai Allah swt. Sebaik yang kita bisa.
Definisi Pecinta Allah menurut sufi besar al-Junaid, yaitu sebagai berikut:
“Ia yaitu yang tidak menoleh kepada dirinya lagi, selalu dalam hubungan intim
dengan Tuhan melalui zikir, senantiasa menunaikan hak-hak-Nya. Dia memandang
kepada-Nya dengan mata hati, terbakar hatinya oleh sinar hakikat Ilahi, meneguk
minum dari gelas cinta-Nya, tabir pun terbuka baginya sehingga sang Maha Kuasa
muncul dari tirai-tirai gaib-Nya. Maka, tatkala berucap, dengan Allah ia; tatkala
berbicara, demi Allah ia; tatkala bergerak, atas perintah Allah ia; tatkala diam,
bersama Allah ia. Sungguh, dengan, demi dan bersama Allah, selalu ia.”
Qisash, Doa dan Santet
Membela diri yaitu hak setiap insan. Dari mulai sebuah hak-jawab sampai dengan
yang menyangkut nyawa. Meski pun tidak selalu difasilitasi oleh perangkat hukum
yang terdapat di sebuah Negara—Qisash dalam konteks syariat Islam, dibahas lebih
detail di bagian lain artikel ini.
Al-Quran yaitu Obat
Seringkali kita mendengar sejak dulu bahwa al-Quran yaitu obat segala penyakit dan
obat penawar hati. Semua orang pada tingkatan ilmunya mencoba memecahkan
misteri dan pelajaran yang ada dalam al-Quran. Seperti yang kita ketahui, bahwa di
dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang mudah dipahami (muhkamat) dan sulit
dipahami, atau Allah saja yang memahami (mutasyabihat)—seperti yang dijelaskan
dalam QS. Ali Imran: 7—“Hanya orang-orang yang memiliki akal sehat saja yang
dapat mengambil pelajaran dan ilmu yang ada di dalamnya.”
138
Di dalam artikel yang Anda pegang ini, telah berkali-kali kami menjelaskan konsep
santet, yang sebenarnya itu—kebanyakannya—yaitu akibat dari perbuatan diri
sendiri, seperti yang dijelaskan dalam ayat berikut:
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka itu yaitu untuk dirinya sendiri, dan
barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri;
kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.”—QS. al-Jasiyah: 15
Pertanyaan selanjutnya yaitu , lantas kapankah datangnya balasan bagi orang-orang
yang berbuat jahat di dunia ini? Proses terjadinya balasan/siksaan/azab pada
seseorang atau orang banyak yang suka menzalimi orang lain yaitu telah dijelaskan
proses terjadinya azab di dalam al-Quran surah al-Araf: 33-35, sama halnya pada QS.
al-An’am: 42-44. Ada beberapa syarat agar azab/balasan/siksaan untuknya di
antaranya yaitu:
1. Ada seseorang yang berbuat jahat dan menzalimi Anda.
Orang-orang yang berbuat zalim pada prinsipnya yaitu orang-orang yang berbuat
jahat dan melampaui batas. Tanpa mereka sadari, bahwa mereka telah, tidak
pemakaian tubuhnya, sesuai dengan fitrahnya, yang seharusnya anggota tubuhnya
digunakan untuk menebar perbaikan dan kebenaran.
2. Anda berpegang teguh pada kebenaran.
Anda berada pada posisi yang tidak bersalah, Anda menyampaikan kebenaran, lalu
anda dizalimi oleh orang-orang yang memang ingin menyingkirkan Anda; sebab
Anda yaitu orang yang memegang teguh kebenaran dan keadilan. Anda membawa
perbaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik dengan iman dan takwa Anda.
3. Anda tidak mempersekutukan Allah.
Anda tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Banyak orang yang, tanpa sadar,
dirinya telah mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lainnya. Illah atau tuhan
bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu/keinginan pribadi), maupun
sosok/benda-benda nyata (seperti Firaun/penguasa yang dipatuhinya/dipuja,
atasan/bos, bahkan kedua orang tua).
4. Tidak mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.
Anda tidak boleh mendustakan ayat-ayat-Nya, Anda harus menerima secara
keseluruhan dari Islam pada diri Anda, tidak boleh setengah-setengah. Tidak boleh
meyakini satu ayat, namun memungkiri ayat yang lainnya. Tidak boleh mengada-
adakan kebohongan dengan mengatakan bahwa itu yaitu ayat dari Allah, padahal
bukan.
5. Memohon dengan kerendahan hati.
Kita diharuskan bermohon kepada Allah dengan penuh keredahan hati, memohon
perlindungan pada-Nya. Memohon ampunan dan bersabar terhadap cobaan yang
diberikan dan tidak boleh bersedih hati terhadap perlakuan orang-orang yang telah
menzalimi kita. Mereka, orang-orang yang telah menzalimi kita, tentu saja berharap
139
kita bersedih atas apa-apa yang telah menimpa diri kita, agar mereka bisa merasa
lebih baik dari kita. Penting sekali bagi kita untuk terus merasa bahwa pertolongan
Allah itu sangat dekat, dan memang demikianlah adanya. Derajat kita akan diangkat
lebih tinggi setelah melewati ujian-ujian yang diberikan kepada kita. Yakinlah bahwa,
Allah bersama orang-orang yang bersabar. Sementara, balasan untuk mereka yang
telah menzalimi kita sedang menunggu terjadinya, dan telah ada batas waktu bagi
mereka yang telah menzalimi kita—mereka dan Anda saat ini tengah sama-sama
menunggunya.
Al-Quran yaitu berita gembira untuk Anda yang merasa selama ini telah dizalimi
oleh orang lain, atau banyak orang. Al-Quran membuat hati kita menjadi jauh lebih
tenang, saat membaca dan mendengar janji-janji Allah untuk memberi balasan pada
orang-orang zalim itu. Memang benar-benar obat penawar hati sekaligus obat yang
diperuntukan bagi tubuh yang sedang menderita sakit. Al-Qur’an yaitu obat segala
penyakit, dengan memperhatikan dan mempelajari makna—mentadaburi—ayat-ayat
al-Qur’an, dengan terlebih dahulu mempelajari kaitan antara tubuh dengan fitrahnya
atau digunakan sesuai fungsi sebenarnya seperti yang terdapat dalam Surah al-Araf
179:
“Mereka memiliki hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah),
dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah)….”
Pada ayat di atas sangat jelas bahwa (con

