sistem dajjal 6

 


-sebab  sudah menjadi adat media kafir untuk menyamakan kekerasan 

semacam itu dengan terorisme, dan menyamakan terorisme semacam itu dengan 

Islam -harus ditegaskan bahwa Nabi Muhammad saw melarang membunuh wanita, 

anak-anak dan orang tua dalam perang, begitu pula beliau melarang penghancuran 

harta benda secara semena-mena. Membunuh orang yang tak bersenjata dan 

menghancurkan harta benda secara semena-mena, bisa jadi merupakan tanda-tanda 

puncak frustasi, atau tanda membatunya hati, semua ini tidak ada sangkut-pautnya 

dengan ajaran-ajaran Islam.  

Jika Muslimin diserang dan terpaksa membela diri, maka mereka wajib 

bertempur secara terhormat dan dalam batasan perilaku sesuai contoh Nabi 

Muhammad saw dan para sahabatnya ra.  

                                                          

115

 Fasiqun: orang-orang fasiq; biasa juga disebut fasik. Fasiqun yaitu  mereka yang memecah-belah, 

baik dalam dirinya sendiri maupun pada luar dirinya. 

116

 Autisme yaitu  suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang 

membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. (wikipedia – 

localholic) 

Diberitakan bahwa sayyidina117 Ali ra, kadang kala tercegah dari membunuh 

lawannya di medan pertempuran, sebab  dengan penglihatan hatinya ia dapat 

melihat, bahwa keturunan musuhnya itu akan menjadi muslim. Pada peristiwa lain, 

sebab  Ali ra akan melakukan tebasan pemungkas, musuhnya meludahi wajahnya dan 

membuatnya marah, sehingga beliau kemudian melepaskan musuhnya itu, sebab  

musuhnya bertanya kenapa ia melakukan hal itu, beliau menjawab bahwa jika ia 

membunuhnya dengan amarah, maka hal itu akan menyeretnya ke Api. Musuhnya 

begitu terkesan pada sikap itu, sehingga ia kemudian menerima Islam dan menjadi 

seorang Muslim.  

Pengaruh dan pengendalian menyeluruh sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, dalam 

berbagai sisi kehidupan masyarakat masa kini begitu meluas dan licin 

keberadaannya, dan mengakibatkan sebagian besar masyarakat tidak menyadari apa 

yang mereka hadapi. Sistem Dajjal sudah menjadi bagian hidup mereka, bak udara 

yang meliputi mereka, yang terus dihirup, tanpa disadari mereka bergantung 

padanya. Pengendalian ala freemason yang menimpa diri mereka betul-betul telah 

menjadi bagian hidup keseharian mereka, sebegitu dekatnya, sehingga mereka tidak 

dapat melihatnya -sebagaimana ketidaksadaran mereka bahwa keberadaan mereka 

yaitu  karunia Allah, dan bahwa setiap denyut jantung mereka bergantung 

sepenuhnya kepada Allah. Dalam pandangan mereka, kebenaran berbagai perkara 

menjadi samar. Mereka dilahirkan di dalam sistem Dajjal, dan mereka telah 

dibesarkan untuk menerima bahwa demikianlah jalan kehidupan yang sepatutnya. 

Mereka telah dididik dalam berbagai cara sistem Dajjal dan walaupun pendidikan 

formal mereka telah berakhir, mereka terus-menerus disesatkan oleh media yang 

berusaha meneguhkan cara pandang itu.  

Walau seseorang menyadari bahwa dalam keadaan kafir, segala sesuatu 

menjadi serba salah, namun ia seringkali tidak mampu mengungkapkan kenapa atau 

apanya yang salah. Seseorang bisa saja pernah melihat secercah aksi manipulasi 

media secara gamblang, atau menyaksikan suatu contoh ketidakadilan kerja sistem 

hukum kafir, atau mengakui di lubuk sanubarinya bahwa ia tidak pernah mempelajari 

sesuatu yang betul-betul bermakna pada kurikulum resmi di sekolah atau di 

perguruan tingginya -walaupun demikian ia tetap tidak mampu mendapatkan 

gambaran yang jelas mengenai sistem itu secara menyeluruh, atau membebaskan 

dari pengaruh proses produsen-konsumen yang menjebaknya.  

Setiap orang berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan hidup yang mendasar. 

Kebutuhan-kebutuhan yang sederhana itu, seperti pangan, papan dan sandang, 

harus didapatkan dan tagihannya harus dibayarkan -bagi sebagian besar masyarakat 

ini berarti bekerja dan bermain dari hari ke hari -dan sebab  seorang pria dan seorang 

wanita bertemu dan memulai suatu keluarga, maka kehidupan sehari-harinya dengan 

begitu saja berubah menjadi begitu padat dan sibuk, sehingga tak tersisa lagi waktu 

untuk menyadari apa arti semua itu.  

Pada hakikatnya setiap atom berada pada tempatnya dan segala sesuatu yang 

nampaknya terjadi dalam kehidupan yaitu  bagian dari suatu kejadian. Dalam 

Kenyataan kejadian yang terpadu itu tidak ada. Yang ada hanya Allah. Allah yaitu  

Yang Tersembunyi di Dalam dan Mewujud di Luar. Allah yaitu  Yang Awal sebelum 

waktu berjalan dan Yang Terakhir setelah waktu sirna. Ke mana pun anda 

                                                          

117

 Sayyidina sering dipakai sebagai penghormatan (§ ibarat tuanku, tengku, pimpinanku §). 

memandang di sanalah wajah Allah. Segala sesuatu musnah kecuali wajah Allah. 

Pastilah kita berasal dari Allah dan kepada Allah kita kembali.  

Perbedaan antara jalan hidup kafir dan jalan hidup muslim yaitu , jalan hidup 

kafir menghalangi anda untuk memahami hal ini, sedangkan jalan hidup muslim selain 

membuka pemahaman anda, juga mampu membuat anda hidup dalam kedamaian 

dan ketentraman. Kafir mengira bahwa ia ada sehingga bermasalah, sedangkan 

mu'min mengetahui bahwa Allah ada sehingga tentram.  

Pada masyarakat kafir, aneka rupa kebutuhan dan tuntutan hidup sehari-hari, 

baik itu yang sesungguhnya maupun hasil rekaan media semata -yang sebab  sifat 

kerumitan sistem, aneka kebutuhan itu menjadi semakin rumit dan berlebih-lebihan 

-membuat kebanyakan orang sulit untuk sempat berhenti dan merenung, apalagi 

untuk mengambil keputusan meninggalkan cara hidup kafir itu, untuk menata ulang 

dan mengkondisikan ulang, dan untuk menemukan jati diri mereka dan mengetahui 

apa hakikat kehidupan.  

Pengaruh sistem kafir yaitu sistem Dajjal, kerap begitu menyeluruh dan 

memikat, sehingga siapa pun yang telah diperbudaknya biasanya yakin bahwa cara 

hidup kafir yaitu  cara hidup yang paling layak dan menyangka bahwa cara pandang 

kafir atas kehidupan terang dan jelas -tak sadar bahwa ia telah diprogram dan 

dikondisikan. Dengan kata lain, bak ikan emas yang lahir dalam akuarium, sebagian 

orang bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah masuk perangkap.  

Terlepas dari itu semua, walaupun titik keberangkatan telah dicapai, dan 

keputusan untuk sungguh-sungguh menemukan makna hidup sudah diambil, 

biasanya tetap saja sukar untuk mengejawantahkan niat ini secara lahiriah, sebab  

harus berhadapan dengan ketetapan-ketetapan sistem hukum kafir yang mencegah 

dan menghalangi -aneka ketetapan ini telah dirancang untuk mencegah agar orang 

tidak menyimpang terlalu jauh dari batasan-batasan yang telah dipatok sebagai 

"normal" dan "legal" oleh sistem kafir yaitu sistem Dajjal. Apalagi, biasanya akan 

berdatangan tekanan-tekanan sosial yang kuat dari para saudara dan teman yang 

mungkin sudah merasa puas dengan sistem yang berlaku, dan biasanya mereka 

ketakutan dengan keputusan anda untuk meninggalkan sistem itu, sehingga untuk 

mencegah anda melaksanakan keputusan anda, biasanya mereka bersedia 

melakukan apa pun: dengan iming-iming finansial, pemerasan emosi, atau bahkan 

dengan kekuatan fisik.  

Siapa pun yang memilih seorang guru, atau mengikuti seorang pemimpin, dan 

bergabung dalam sebuah kelompok atau masyarakat yang sepaham, sudah pasti 

akan dianggap telah mengalami cuci otak, hingga mau bergabung dengan suatu 

kelompok pemujaan (jika mereka Kristen) atau suatu sekte (jika mereka Muslim). 

Sayangnya memang demikianlah keadaannya, sebab  -sebagaimana yang telah 

dikabarkan oleh Nabi 'Isa as dan Nabi Muhammad saw -memang saat ini banyak guru 

dan pemimpin yang palsu, termasuk dalam masyarakat Muslim, dan semua ini sangat 

membingungkan bagi siapa pun yang bersung-uh-sungguh ingin menuntut ilmu. Pada 

akhirnya, setiap orang pasti akan mendapatkan guru yang layak bagi jati dirinya 

sendiri.  

Lebih sialnya lagi, para guru dan pemimpin sejati yang ada di masyarakat 

Muslim -yang sungguh-sungguh terbimbing dan memperoleh idhn dari Allah dan 

NabiNya -seringkali dicoreng dengan guratan yang sama oleh kafirun dan munafiqun 

-dan bagi seorang mu'min ini malah bisa menjadi bukti bahwa guru yang terbimbing itu 

berada pada sirat al-mustaqim118 -sebab  sebagaimana Nabi Muhammad saw dan 

para sahabatnya ra, maka setiap guru atau pemimpin yang demikian pasti ditentang 

dan dihujat oleh kafirun dan munafiqun.  

Sebenarnya, ini tidak bisa dihindarkan oleh para mu'minin 119  yang ikhlas 

(bahkan oleh seluruh Muslimin), mereka akan selalu dibenci dan dihujat oleh kafirun 

dan munafiqun. Semakin banyak pengikut yang tertarik kepada seorang guru atau 

pemimpin Muslim -baik yang terbimbing maupun yang tidak -maka mereka akan 

semakin dijadikan sasaran kampanye kejam media, di mana mereka akan dicap 

sebagai "paranoid", "fanatik", "fundamentalis", dan walau tak tersurat, pasti secara 

tersirat mereka pun akan dicap sebagai "teroris", dan, andaikan mereka sekali saja 

mencela tindakan barbar yang sepanjang abad keduapuluh telah menimpa orang 

Arab Palestlna, maka mereka tidak akan dicap sebagai "anti Zionis", melainkan 

secara otomatis dicap sebagai "anti Semit120", dan ini secara tersirat berarti sama saja 

dengan Hitter dan para Nazi, padahal sesungguhnya Arab Palestinalah yang 

sebenarnya bangsa "Semit", dan sebagian besar orang Zionis Amerika atau Eropa 

sebenarnya malah bukan keturunan bangsa Israel, melainkan keturunan suku bangsa 

Khazar dan Kaukasus121, dan dengan demikian mereka sebenarnya yaitu  bangsa 

"Turki".  

Jika sesudah segala kampanye media kafir, para guru atau pemimpin itu tetap 

digandrungi oleh para pengikutnya, dan jika oleh para arsitek tata dunia baru, tingkat 

pengaruh para guru itu tetap dianggap sebagai ancaman, maka akan ditimpakan 

tekanan yang lebih dahsyat. Gerakannya akan dihambat. Guru atau pemimpin itu, 

bisa saja dicekal dari meninggalkan negerinya, ia bisa saja dikenakan tahanan rumah 

dan dilarang menerima tamu. Ia bisa saja didakwa melakukan kejahatan -biasanya 

dalam bentuk persekongkolan -dan diajukan ke pengadilan. Ia bisa saja dijebloskan 

ke penjara. Bahkan, ia bisa saja dibunuh.  

Dalam kondisi demikian, tidak mengherankan bahwa guru yang sejati cenderung 

akan tetap tertutup dan tak memiliki banyak pengikut, sedangkan mereka yang 

bersungguh-sungguh mencari ilmu yang sejati akan merasa sulit untuk menemukan 

seseorang yang menurut mereka dapat dipercayai sepenuhnya. Dengan Rahmat 

Allah, bagaimana pun caranya, hati akan bertemu hati.  

Ciri seorang guru sejati yaitu , ia mengajak orang untuk menyembah Allah dan 

menuju ke jalan Muhammad saw. Ciri guru yang palsu yaitu , ia mengajak orang 

kepada dirinya sendiri. Janganlah bergaul dengan seseorang yang keadaannya tidak 

merubah dirimu, dan yang perkataannya tidak membimbing anda kepada Allah. Siapa 

pun yang mencari seorang guru akan menemukannya sesuai dengan ketulusan dan 

keteguhan niatnya.  

Bagi mereka yang walaupun telah menghadapi berbagai kekuatan penghalang 

-yang sebenarnya semua itu yaitu  ujian atas ketulusan dan kesungguhan niat 

seorang pencari ilmu -tetap merasa terdorong untuk mencari ilmu sejati dan jalan 

                                                          

118

 Jalan yang Lurus, yaitu jalan Islam. 

119

 Kata jamak dari mu'min, artinya: para mu'min, orang-orang yang beriman. 

120

 Anti-Semit: anti bangsa Israel. 

121

 Kaukasus yaitu  sebuah daerah di Eropa Timur dan Asia Barat di antara Laut Hitam dan Laut 

Kaspia yang termasuk Pegunungan Kaukasus dan daerah-daerah rendah lainnya. Kaukasus kadang 

dianggap sebagai bagian dari Asia Tengah. (wikipedia – localholic). 

hidup yang berimbang, yang mau tak mau harus ditempuh demi pencarian itu, 

kebanyakan akhirnya mereka menyadari bahwa mereka hanya siap berusaha sampai 

sejauh itu, bisa saja sebab  mereka tidak menginginkan apa yang dapat diinginkan, 

atau sebab  pengkondisian sosial yang telah mereka tempuh tertanam terlalu kuat 

untuk bisa diatasi, atau tercegah oleh rasa takut yang tak masuk akal tentang 

hukuman, pembungkaman, atau pembasmian oleh sistem, dan akhirnya mendorong 

calon pencari ilmu untuk kembali bermain dalam permainan produsen-konsumen. 

Hanya orang yang takut kepada Allah saja yang terbebas dari ketakutan kepada 

selain Allah, dan tentunya terbebas pula dari ketakutan kepada sistem kafir, yaitu 

sistem Dajjal -beserta berbagai perangkat pemaksaan aturannya.  

Mereka yang mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad saw, yaitu  orang yang 

takut hanya kepada Allah. Jelaslah bahwa mereka yang belum menemukan jalan 

Islam -walaupun mereka memiliki pengertian yang rancu tentang apa itu Islam, 

sebagai akibat dari progam pendidikan dan media, dan mereka yang pada saat ini 

terseret dalam proses produsen-konsumen -akan merasa takut terhadap kekuatan 

yang seakan-akan dimiliki oleh sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, sekalipun di dalam 

dirinya mereka telah menolak sistem ini.  

 Lebih jauh lagi, rasa panik atas kehidupan dan rasa cemas terhadap 

kemungkinan tidak memperoleh nafkah dan naungan yang layak -yang sudah pasti 

muncul di hati siapa pun yang tidak mengerti bagaimana cara kerja kehidupan 

-memperhebat rasa takut terhadap sistem itu, dan perasaan-perasaan ini berlaku 

sebagai perangsang tambahan untuk tetap berperilaku sesuai dengan 

ketentuan-ketentuan proses produsen-konsumen -yang berjanji akan meringankan 

rasa panik dan rasa cemas dengan menjanjikan aneka barang dambaan. Aturan 

mainnya yaitu  jika anda ikut serta dalam permainan produsen-konsumen, maka 

anda akan memperoleh uang untuk membeli barang-barang yang telah dikondisikan 

agar anda membutuhkannya. Sebenarnya hal ini yaitu  sebuah dusta, sebab  telah 

kita ketahui bahwa, salah satu cara untuk menjaga agar khalayak tetap mau bekerja 

pada proses produsen-konsumen, yaitu  dengan mengupah mereka sejumlah kecil 

uang yang tak dapat mencukupi semua kebutuhannya, sehingga pertama, mereka 

harus terus bekerja untuk bisa hidup, kedua, mereka harus terus bekerja untuk 

membayar hutang-hutang yang terus membengkak sebab  bunga -yang oleh 

berbagai sistem keuangan kafir mereka telah digalakkan untuk meminjamnya. 

Begitulah ciri sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, sehingga hanya elit penguasa yang bisa 

menikmati sepenuhnya hasil jerih payah semua orang lain. Memang demikian 

seharusnya, sebab  sebenarnya dalam sebuah masyarakat kafir tak tersedia cukup 

banyak barang-barang mewah untuk dapat dinikmati oleh semua orang.  

Bahkan, walaupun bagi mereka yang sudah bisa memiliki aneka barang yang 

melimpah-ruah buatan sistem produsen-konsumen masa kini, tetap saja semua itu 

tidak bisa memadamkan rasa panik dan rasa cemasnya terhadap kehidupan, dan 

dengan demikian mereka akhirnya tenggelam dalam pencarian tanpa akhir demi 

mendapatkan model terbaru atau barang yang terhebat, yang semuanya sebenarnya 

tidak nyata. Hal ini seperti meminum air laut -semakin banyak meminumnya, semakin 

hauslah mereka. Hanya mereka yang sudah ditakdirkan untuk menemui hakikat 

kehidupanlah yang dapat berhenti, lalu bercermin.  

Dua alasan utama mengapa konsumsi semata tidak bisa mengobati rasa cemas 

terhadap nafkah, Pertama, sebab  rasa cemas itu yaitu  hasil dari kejahilan atas cara 

kerja kehidupan, dan rasa cemas ini hanya akan mulai sirna sebab  kejahilan 

digantikan oleh ilmu. Kedua, rasa gelisah yang bercokol di lubuk hati setiap pria dan 

wanita, tidak lain yaitu  wujud kerinduan akan pengenalan kepada Allah, maka tentu 

saja kerinduan dan rasa gelisah itu hanya bisa dipuaskan dengan pengenalan kepada 

Allah. Pengenalan sejati kepada Allah hanya datang dengan mengingati Allah, dan 

tentu saja hanya dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang. Satu-satunya 

cara untuk mengingat Allah, hanyalah dengan mengikuti jalan para Nabi saw, yang 

telah diutus Allah ke berbagai zaman kehidupan umat manusia. Untuk zaman ini, nabi 

yang diutus Allah yaitu  Nabi Muhammad saw, artinya hanya dengan mengikuti jalan 

hidup beliau lah, maka rasa takut atas kehidupan, rasa panik dan rasa cemas atas 

nafkah dan naungan akan sirna, Putuskan pilihan anda sekarang juga.  

Walaupun pilihannya sudah jelas, namun ini bukan perkara yang mudah bagi 

siapa pun yang telah dikondisikan oleh sistem Dajjal -sekalipun orang itu sedang 

dalam proses menolak pengkondisian itu. Pengkondisian yang telah dilangsungkan 

oleh sistem Dajjal begitu kuat dan berbisa. Pengkondisian itu mampu menciptakan 

kecanduan. Pengkondisian itu menciptakan gambaran dalam benak seseorang, 

bahwa satu-satunya jalan untuk menghapuskan rasa takut dan rasa cemas, yaitu  

dengan memakai teknik-teknik penyembuhan yang ditawarkan oleh sistem itu, yaitu: 

dengan bekerja dan bermain sebab  anda sehat, dan menaati petuah dokter sebab  

anda sakit, dan yang terpenting jangan pernah coba-coba mengubah status quo 

-lahiriahnya maupun batiniahnya.  

Akibatnya, siapa pun yang dikondisikan sistem Dajjal, tidak pernah diijinkan 

tumbuh menjadi dewasa, walaupun ia.sudah bisa beranak, bertanggung jawab atas 

pekerjaan kantor dan mengendarai mobil. Siapa pun yang telah dikondisikan oleh 

sistem Dajjal, akan dibuat terkagum-kagum pada sistem itu, bak anak kecil yang tidak 

saja mengagumi orang tuanya, tetapi juga berpikir bahwa merekalah orang tua terbaik 

di seluruh dunia dan merekalah yang paling tahu segala sesuatu. Siapa pun yang 

tidak terlibat dalam pencarian pengenalan kepada Allah yaitu  seorang anak kecil 

-sebab  hanya sebab  anda mencapai usia tertentu barulah anda mulai ingin tahu apa 

hakikat kehidupan. Sebagian orang, baik secara emosional maupun intelektual, tak 

pernah mencapai usia ini . Bahkan ada sebagian orang yang sama sekali tak 

memiliki intelek, yang disebut Qur'an aql 122, atau mereka tidak memiliki apa yang 

disebut Qur'an lubb 123, itulah sarana untuk menyibak rahasia terdalam keberadaan 

mereka.  

Tak ada kesalahan dalam hal ini. Setiap diri hanya bisa menjadi dirinya sendiri. 

Allah telah menetapkan sebagian kafir dan sebagian mu'min. Allah telah menetapkan 

sebagian jahil dan sebagian berilmu. Allah telah menetapkan sebagian buta dan 

sebagian melihat, Keduanya tidak sama, tetapi tak ada salahnya. Kasih sayang Allah 

meliputi seluruh ciptaanNya dan menembus ke segala sisinya. Si kafir tidak bisa 

melihat ini sedangkan mu'min melihatnya.  

                                                          

122

 Aql dalam bahasa Arab sering juga disebut sebagai akal dalam bahasa Indonesia, artinya: 

intelektualitas; kemampuan menalar; kata benda yang diambil dari kata kerja yang artinya 

"menambatkan seekor unta" (agar tak lepas ke mana-mana). 

123

 Lubb: inti. Istilah ini digunakan dalam al-Qu‟an untuk menggambarkan mereka yang memiliki 

kebijaksanaan yang sangat mendalam dalam jati dirinya, yaitu dalam hati. Mereka yang memiliki lubb 

dapat memuja Allah dengan pengetahuan dalam dan dapat mencapai ma'rifah yang tinggi.  

 

Jelaslah bahwa ada mereka yang benar-benar buta, dan ada mereka yang 

benar-benar melihat, dan ada pula mereka yang berada di antaranya. Haruslah 

dibedakan antara orang yang sudah merasa puas dengan sistem Dajjal seperti apa 

adanya, dan orang yang tak mampu menanggungnya dan hanya tertarik untuk 

mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad saw dalam segala kesederhanaannya yang 

kaya, dan orang yang tidak terlalu menyukai sistem Dajjal tetapi belum menjumpai 

jalan hidup Nabi Muhammad saw.  

Allah berfirman dalam Qur'an bahwa, jika orang-orang tidak mengikuti jalan 

hidup para Nabi, maka pasti mengikuti jalan hidup moyangnya. Jelaslah bahwa kini 

banyak manusia di dunia yang tidak punya sarana kepada transaksi hidup Nabi 

Muhammad saw yang hidup dan menyala -sebagaimana dijalankan olehnya dan oleh 

masyarakat Muslim awal di Madinah al-Munawarra -dan akhirnya mereka mengikuti 

moyangnya, betapapun jahil atau beradabnya jalan hidup itu, hanya sebab  mereka 

tidak tahu jalan hidup yang lebih baik atau jalan hidup lainnya. Orang-orang semacam 

ini tak bisa dianggap kafir -walaupun kebanyakan dari mereka berasal dari 

tempat-tempat yang biasa dianggap "negeri-negeri Muslim", tetapi tidak dibesarkan 

sebagai Muslim -sebab  seorang kafir yaitu  seseorang yang telah diberikan paparan 

jelas mengenai apa Islam dan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, kemudian ia 

secara terus terang menolak apa yang telah diketahuinya itu, dan selanjutnya 

berusaha untuk menghalangi segala penyebutan atau pengejawantahan jalan hidup 

Islam.  

Terkadang juga terjadi, sebab  jati dirinya teracuni oleh kejahilan, ada orang 

yang pada awalnya menolak jalan Islam -sebab  bagi seorang yang sakit apa yang 

manis kerap terasa pahit dan apa yang pahit kerap terasa manis -dan kemudian pada 

suatu saat yang tepat ia menerima jalan Islam. Allah berfinnan dalam Qur'an, bahwa 

Allah-lah yang meluaskan hati seseorang untuk menerima Islam, dan Allah 

melakukan apa saja yang DikehendakiNya.  

Dengan demikian, walaupun banyak sekali orang yang hidup di negara-negara 

kafir di dunia yang pada saat ini terjebak sistem dan terseret ke dalam pusaran 

keseharian proses produsen-konsumen, jika Allah menghendakiNya, dan jika suatu 

saat mereka bertemu dengan Muslim sejati dan mengalami apa Islam dan apa makna 

Islam yang hakiki, maka mereka akan menjadi Muslim.  

Tentu saja ada pula orang yang benar-benar menolak jalan hidup Islam. 

Mengenai orang semacam ini, Allah berfirman dalam Qur'an bahwa telinga, mata, dan 

hati mereka telah tertutup, sehingga mereka tidak dapat mendengar apa yang 

disampaikan oleh seorang Muslim dan tidak dapat melihat apa yang dilakukan oleh 

seorang Muslim dengan pemahaman yang benar. Tak ada bedanya anda berbicara 

kepada mereka atau tidak. sebab  mereka buta, tuli dan bodoh, walaupun 

nampaknya mereka melihat, mendengar dan berbicara.  

Allah membimbing dan menyesatkan siapa yang dikehendakiNya. Allah 

memasukkan sebagian manusia ke dalam Taman dan Allah tak peduli. Allah 

memasukkan sebagian manusia ke dalam Api dan Allah tak peduli. Allah berkuasa 

atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah.  

Kebangkitan Islam pada masa ini yaitu  pertanda jelas dari Allah bahwa 

polarisasi berskala global antara khalayak iman dan khalayak kufr sedang 

berlangsung. Ini yaitu  tahap pendahuluan yang harus terjadi sebelum 

masing-masing pimpinannya dapat muncul -yaitu Mahdi bagi mu'minun, dan si Dajjal 

bagi kafirun -dan sebelum dua kutub ini berhadapan sebagaimana telah ditetapkan. 

Setiap kafir pasti akan menyerang setiap muslim, dan begitu Muslim diserang, maka 

Allah telah perintahkan agar melawan demi membela diri dan membunuh para 

penyerang, yaitu setiap orang yang menyerang mereka dan kemudian menolak 

mengucapkan syahadat -yaitu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan 

Muhammad saw yaitu  Rasul Allah -atau menolak untuk tunduk pada pemerintahan 

Muslim dan membayar pajak jizya.   

Salah satu cara untuk mengukur tingkat kejahilan dalam sebuah masyarakat 

kafir, dan bagaimana hubungan antara kejahilan dengan timbulnya rasa takut akan 

kehidupan dan rasa cemas akan nafkah dan naungan -yang semua ini merupakan ciri 

khas dari sistem kafir, yaitu sistem Dajjal -yaitu  dengan mengamati sejauh mana 

khalayak mengasuransikan dirinya dan barang-barangnya terhadap kemungkinan 

terjadinya bencana atau musibah, walaupun undang-undang kafir tidak 

mewajibkannya.  

Sistem asuransi kafir mutlak tidak diperlukan oleh orang yang menyadari 

bagaimana cara kerja kehidupan, dan mengikuti pola hidup Kenabian -sebab  pola 

hidup Kenabianlah asuransinya.  

sebab  setiap orang akan bertemu dengan akibat-akibat dari 

tindakan-tindakannya, baik di kehidupan ini maupun di kehidupan nanti, jelaslah 

bahwa siapa pun yang tidak menyadari mana tindakan bermanfaat dan mana 

tindakan  

yang tidak bermanfaat, seringkali mendatangkan musibah bagi dirinya sendiri, 

semata-mata akibat dari perilaku mereka sendiri. sebab  orang kafir tidak mengetahui 

ini, maka mereka berusaha menghindari dampak musibah itu, dengan ikut asuransi 

sebelum terjadinya musibah -bukannya dengan meninggalkan perilaku asli penyebab 

musibah itu.  

Jalan hidup Muhammad saw yaitu  ilmu tindakan yang bermanfaat. Dalam 

Qur'an tindakan yang bermanfaat disebut halal, sedang tindakan yang tidak 

bermanfaat disebut haram. Walaupun kata-kata ini  terkadang diterjemahkan 

sebagai "yang dibolehkan" dan "yang dilarang", makna sebenarnya dapat ditemukan 

dalam akibat-akibat dari tindakan yang dijelaskan itu. Jika cara pandang ini hilang, 

maka berkembanglah kerangka berpikir yang oleh kafir dinamakan "moralitas". 

Perilaku bermoral ini, yang dianggap sebagai tanda beradabnya seseorang itu, 

sesungguhnya cenderung membuat orang lupa pada tujuannya. Cara kerjanya 

yaitu  sebagai berikut;  

Pada awalnya ada pengetahuan bahwa halal yaitu  yang bermanfaat di dunia 

dan akan menghantarkan ke Taman, sedangkan haram yaitu  yang tidak bermanfaat 

di dunia dan akan menyeret ke Api. Bahkan hal ini juga berlaku kepada makanan yang 

anda santap, sebab  jika anda menyantap makanan yang halal maka tingkah laku 

anda cenderung halal, dan jika anda menyantap makanan yang haram maka tingkah 

laku anda cenderung haram. Sebagai contoh, minum wine (anggur beralkohol) atau 

menyantap babi, sepertinya bukan kesalahan yang besar, tetapi tindakan-tindakan 

yang bisa muncul darinya, seperti misalnya kekerasan atau perzinahan, yaitu  

kesalahan besar. Makanan semacam itu tidak saja membuat ketimpangan dalam 

tubuh, tetapi juga menimbulkan ketimpangan dalam tindak-tanduk, ketimpangan 

inilah yang mengakibatkan penderitaan di dunia ini dan akan dialami sebagai Api di 

kehidupan berikutnya. Sebaliknya, melakukan yang halal akan membimbing kepada 

perilaku yang berimbang dan menciptakan keselarasan di dunia ini dan akan dialami 

sebagai Taman di kehidupan berikutnya.  

Cara pandang ini mulai kehilangan maknanya jika dikatakan bahwa halal berarti 

"dibolehkan" dan haram berarti "dilarang", sebab  sering terjadi bahwa sebagian 

orang mulai lupa pada alasan asli mengapa suatu tindakan dibolehkan ataupun 

dilarang. Cara pandang yang asli itu, kemudian semakin kabur jika pertimbangan nilai 

ditempelkan pada yang dibolehkan dan pada yang dilarang, yaitu, jika yang 

dinyatakan halal disebut "baik", dan yang dinyatakan haram disebut "buruk", sekali 

lagi, sebab  sangat mudah lupa pada alasan yang sebenarnya mengapa sesuatu itu 

"baik" atau "buruk".  

Dan selanjutnya jika cara pandang utuh mengenai kehidupan setelah mati 

menghilang, maka orang akan lupa mengapa sebenarnya itu baik atau buruk. 

Sebagai gantinya, mereka mulai menggagas dan mematok apa yang baik dan buruk. 

Kemudian, jika mereka lupa bahwa Allah tidak sekedar menyaksikan tindakannya 

semata tetapi juga niat di balik tindakan itu, mereka mulai semakin mengabaikan 

tindakannya sendiri, sebab mereka tak lagi takut Api dan tak lagi mengharapkan 

Taman, sebagai gantinya, mereka akan semakin acuh pada perilaku orang. Mulailah 

mereka menilai perilaku lahiriah orang lain -walau tak tahu niat di baliknya -sesuai 

dengan gagas baik dan buruk buatannya sendiri.  

Begitu orang lupa pada Api dan Taman, bahkan tidak menyadari adanya hidup 

setelah mati, maka mulailah mereka menyebut apa yang sepertinya manfaat sebagai 

"baik", dan apa yang sepertinya tidak manfaat sebagai "buruk".   

Akhirnya, gagasan mereka tentang baik dan buruk tak lagi terkait dengan 

kenyataan hidup yang sebenarnya, tetapi lebih terkait dengan apa yang mereka 

anggap kenyataan.  

Begitu tahap ini tercapai, maka anda memiliki apa yang kafir katakan "moralitas", 

yaitu suatu jaringan rumit tentang apa yang boleh dan apa yang dilarang, yang diberi 

keabsahan palsu oleh pertimbangan nilai emosional, yang biasanya tidak berkaitan 

dengan hakikat kehidupan, yang seperti undang-undang kafir selalu bisa diubah dan 

ditilik ulang, dan yang akhirnya cenderung mengakibatkan siapa pun yang memiliki 

sikap "moral" ini lupa ke mana tujuannya -yaitu ke Allah, via Api maupun via Taman.  

Biasanya siapa pun yang menyadari kemunafikan yang mau tak mau muncul 

dari "moralitas" kafir itu, akhirnya akan menolaknya. Begitu mereka menolaknya, 

mereka tidak memiliki kerangka acuan yang bisa digunakan sebab  menghadapi 

keadaan yang perlu keputusan, selain mengacu pada kesukaan dan prasangka 

pribadinya sendiri, ditambah dengan pelajaran apa pun yang didapat dari pengalaman 

pribadinya -berarti mereka memiliki pengetahuan yang terbatas tentang yang halal 

dan yang haram, yang akhirnya mereka capai dengan coba-coba, namun arti 

menyeluruhnya tidak mereka pahami, sebab  mereka tidak bisa mengkaitkan 

pengetahuan yang terbatas tentang yang halal dan yang haram itu kepada apa yang 

akan terjadi di kehidupan berikutnya.  

Maka kini mereka mempunyai pilihan, yaitu melakukan apa pun sesuai 

hasratnya -mencari kenikmatan dan menghindari kesakitan -atau mulai meniti sebuah 

perjalanan demi menemukan ilmu terpadu mengenai yang halal dan yang haram 

-yaitu dengan mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad saw. Jika mereka memilih yang 

pertama, maka mereka bergantung pada nafsu mereka sendiri dan pada 

tujuan-tujuan maya yang dijanjikan oleh sistem kafir, yaitu sistem Dajjal. Jika mereka 

memilih yang kedua, mereka akan mencapai pengetahuan yang halal dan yang 

haram, dan mereka akan mengerti mengapa sesuatu itu halal atau haram. Jika 

mereka mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad saw, menghindari yang haram dan 

melaksanakan yang halal, maka mereka akan mencapai ketenangan batiniah dan 

kesetimbangan lahiriah -dan semua ini membuat gagasan asuransi kafir jadi 

betul-betul konyol. Sebaliknya, seseorang yang tidak mengikuti jalan hidup Nabi 

Muhammad saw, dan pasrah pada proses produsen-konsumen, pasti berpikir bahwa 

asuransi yaitu  gagasan yang "baik" -dan membuang-buang uang sebisanya untuk 

asuransi.  

Oleh perusahaan asuransi kafir, khalayak digalakkan berasuransi terhadap 

segala kemungkinan musibah, semata-mata sebab  semakin banyak orang yang 

berasuransi maka semakin besar keuntungan yang diraup perusahaan. Sebuah 

perusahaan asuransi kafir tidak bisa digambarkan sebagai suatu organisasi yang baik 

hati. Perusahaan asuransi berdiri demi menghasilkan uang dari ketakutan dan 

kecemasan orang lain. Tentu saja berasuransi nampaknya menguntungkan, apalagi 

jika suatu keadaan yang diasuransikan benar-benar terjadi lalu orang yang 

berasuransi mendapatkan uang ganti-rugi, namun sebagaimana yang telah kita 

ketahui, sebenarnya ada cara yang lebih manusiawi untuk menghadapi musibah dan 

bencana, yang dalam masyarakat muslim sejati bentuknya berupa kerelaan berbagi 

-dan ini anda bisa dapatkan tanpa harus membayar premi agar anda bisa mendapat 

ganti-rugi -baik dari pribadi-pribadi yang telah diberi kelebihan oleh Allah maupun dari 

baitul mal, yaitu pusat dana masyarakat yang kepadanya dibayarkan semua pajak 

minimal yang diwajibkan al-Qur'an dan Sunnah dan daripadanya disalurkan kembali 

ke semua yang memerlukan.  

Sebuah telaah singkat pada sejarah masyarakat-masyarakat Muslim terdahulu, 

menunjukkan dengan jelas bahwa selama warganya berpegang teguh kepada Qur'an 

dan Sunnah, dan hanya membayar pajak sesuai kewajiban yang telah ditetapkan 

Allah bagi mereka, dan segera menyalurkan kembali pajak-pajak yang telah 

dikumpulkan sesuai petunjuk Qur'an dan Sunnah, maka masyarakat ini  akan 

makmur. Namun bila warganya mulai mencampakkan isi Qur'an dan Sunnah, maka 

mereka akan diberi pemimpin-pemimpin yang berkuasa atas mereka yang sama tak 

pedulinya kepada isi Qur'an dan Sunnah. Nabi Muhammad saw bersabda bahwa 

setiap orang berhak mendapat pemimpin yang sesuai. Maka begitu para pemimpin ini 

mulai memungut pajak-pajak tambahan dan menimbun hasil pungutan itu untuk 

kepentingan mereka sendiri atau sebab  kecemasan, dan tidak disalurkan kembali 

sesuai petunjuk Qur'an dan Sunnah, maka masyarakat akan berpecah-belah, 

berhenti berkembang, dan akhirnya hancur -sesuai janji Allah dalam Qur'an bahwa 

setiap masyarakat yang menolak petunjuk Kenabian akan hancur.  

sebab  'Umar ra menjadi khalifah, saking takutnya kepada Allah dan Hari Kiamat, 

ia meminta agar ia segera diingatkan begitu dirinya menyimpang dari isi Qur'an dan 

Sunnah. la begitu paham bahwa transaksi hidup Islam yaitu  asuransinya. 

Seseorang pernah datang kepadanya dan memintanya untuk melaksanakan shalat 

minta hujan sebab  saat itu terjadi kekeringan. Sayyidina 'Umar ra menjawab bahwa 

penyebab terjadinya kekeringan yaitu  sebab  terlalu banyak warga masyarakat 

yang telah meringankan petunjuk Qur'an dan Sunnah. Sebenarnya, kekeringan 

lahiriah yaitu  cerminan dari kekeringan batiniah, yaitu berkurangnya keyakinan 

kepada Allah. Maka kerika keyakinan itu diperbaiki, maka turunlah hujan -yaitu rahmat 

Allah. Nabi Muhammad saw bersabda bahwa andaikan sesudah beliau ada orang 

yang diangkat sebagai Nabi, maka pastilah sayyidina 'Umar ra orangnya.  

Banyak pemerintahan yang katanya muslim tetapi sebenarnya kafir -yang pada 

saat penulisan artikel  ini, sedang mengendalikan persada-persada Muslim sebab  

mereka didukung oleh para penjajah yang membantu penobatan mereka -yang 

memungut pajak-pajak tambahan lebih dari apa yang telah ditentukan Allah dalam 

Qur'an dan Sunnah, dan mereka menolak untuk menyalurkannya kembali. Ini bukan 

saja salah satu alasan ketidakmakmuran negeri-negeri ini, tetapi juga merupakan 

sebuah pertanda jelas dari jangkauan pengaruh sistem kafir global, yaitu sistem 

Dajjal.  

Sesungguhnya sudah menjadi rahasia umum bahwa hasil pendapatan minyak 

dari negeri-negeri Muslim, digunakan oleh para penguasanya bukan untuk 

kepentingan Muslimin, tetapi malah digunakan untuk mendukung sistem 

produsen-konsumen, baik di barat maupun di timur, baik di High Tec North maupun di 

Poor South. Pendapatan ini, atau sebagian besar darinya, jika bukan ditanam dalam 

perusahaan-perusahaan besar kafir, maka akan didepositokan pada 

lembaga-lembaga keuangan besar kafir yang akan menuai bunga majemuk darinya, 

untuk kemudian memasok berbagai pinjaman berbunga majemuk (juga) kepada 

negeri-negeri Muslim yang lebih miskin, dan dengan demikian semakin 

membengkakkan hutang-hutang nasional negeri-negeri itu. sebab  

perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan ini dikendalikan elit 

freemason dari sistem kafir yaitu sistem Dajjal, maka akhirnya mereka memakai  

kekayaan Muslim untuk menghancurkan Muslim, toh salah satu tujuan utama mereka 

yaitu  menghancurkan Muslimin, demi mencapai pengendalian global melalui sistem 

bisnis dan keuangan mereka, yaitu dengan menegakkan sistem kafir yaitu sistem 

Dajjal secara global -tata dunia baru.  

Nabi Muhammad saw bersabda bahwa setiap orang mempunyai fitnahnya 

masing-masing, dan fitnah bagi Muslimin yaitu  harta kekayaan. Beliau juga 

bersabda bahwa penyebab kehancuran bangsa Arab yaitu  "emas hitam" -sebuah 

istilah yang di masa kini digunakan untuk menyatakan minyak. Hal ini tampak jelas 

dari apa yang telah terjadi, tidak saja pada para penguasa Arab Saudi yang sibuk atas 

nama Islam berusaha mendirikan police state yang didasarkan pada contoh-contoh 

kafir barat, tetapi juga pada seluruh negara Arab di Tiraur Tengah lainnya yang 

digoyahkan stabilitasnya dan dibuat hampir bangkrut gara-gara Perang Teluk (yang 

disulut terutama untuk menyelamatkan tambang-tambang minyak demi keselesaan 

negara-negara High Tec North).  

Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa pemimpin masyarakat Muslim 

seharusnya tidak dipilih menjadi pemimpin sekedar sebab  ayahnya yaitu  pemimpin 

sebelumnya. Mengakui keluarga "kerajaan" (dinasti) berlawanan dengan Sunnah. 

Jika itu Sunnah, maka pastilah keluarga kerajaan Muslimin yaitu  keluarga Nabi 

Muhammad saw, dan tentunya seluruh penguasa muslim selama seribu empat ratus 

tahun pastilah keturunan Nabi Muhammad, semoga Allah melimpahkan rahmat dan 

kesejahteraan kepadanya, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan 

kepada sesiapa yang mengikuti beliau dan para sahabat secara ikhlas dan 

semaksimalnya hingga Hari Akhir.  

Sebuah telaah singkat pada sejarah masyarakat-masyarakat muslim di masa 

lalu menunjukkan bahwa, begitu masyarakat memilih pemerintahan dinasti, maka 

korupsi dan kehancuran tak bisa dihindarkan. Sudah sangat jelas bahwa seorang 

pemimpin masyarakat Muslim harus diangkat atas dasar tingkat ketakwaan dan 

pengenalannya kepada Allah, dan tingkat pemahamannya pada isi Qur'an dan 

Sunnah yaitu  yang terbaik di antara warganya -dan ini berarti dialah yang paling 

mengejawantahkan isi Qur'an dan Sunnah.  

Korupsi yang terjadi di persada-persada Muslim masa kini sebenarnya tidak 

aneh. Keadaan ini yaitu  bagian yang tak terhindarkan dari proses kehidupan. Jika 

kita hanya menyalahkan sistem kafir, yaitu sistem Dajjal atas korupsi itu berarti kita 

tidak melihat masalah secara utuh. Jelaslah jika beberapa pemimpin Muslim 

terdahulu tidak rnudah tergiur korupsi, maka penjajah kafir tidak akan pernah mampu 

menanam benih-benih sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, di negeri-negeri Muslim, dan 

benih-benih itu tidak akan bisa tumbuh dan berkembang.  

Pada hakikatnya segala sesuatu dalam kehidupan ini yaitu  sasaran kelahiran 

dan kematian, tumbuh dan luluh. Masyarakat Muslim pertama di Madina 

al-Munawarra pun mengalami daur ini. Nabi Muhammad saw mengabarkan bahwa 

Islam yang dinamis dan hidup ini, yang dijalani oleh masyarakat pertama itu hanya 

akan berlangsung di Madina selama 30 atau 70 tahun setelah beliau wafat. Beliau 

mengabarkan tentang terjadinya perang saudara di antara Muslimin, yaitu Muslim 

melawan Muslim. Beliau juga mengabarkan bahwa apa yang dimulai sebagai 

kenabian dan rahmat, akan menjadi kekhalifahan dan rahmat, dan akhirnya berubah 

menjadi tirani yang penuh ketidakadilan. Beliau juga mengabarkan bahwa, menjelang 

akhir jaman khalifah yang adil dan penyayang akan ditegakkan sekali lagi oleh 

Muslimin. Dan beliau tidak pernah menyebutkan apa pun mengenai "tata dunia baru" 

yang akan pernah suatu saat ditegakkan oleh kafirun, walaupun sejenak!   

Islam sangat mudah untuk digunakan sebagai perangkat tirani, cukup dengan 

mensistemasikannya, memoralisasikannya, dan memaksakan sistem dan moralitas 

itu -yang tidak berhubungan sedikitpun dengan transaksi hidup yang dibawa Nabi 

Muhammad saw -atas orang lain yang tidak ingin diatur oleh sistem dan moralitas itu. 

Banyak orang yang hidup di jaman sekarang telah menyaksikan dan mengalami 

kejadian ini.  

Nabi Muhammad saw juga mengabarkan bahwa tidak semua umatnya akan 

menyimpang. Beliau bersabda bahwa menjelang akhir jaman Muslimin akan terbagi 

menjadi tujuhpuluh tiga golongan yang berlainan, dan hanya satu golongan saja yang 

akan memiliki transaksi hidup Islam yang asli seperti yang beliau bawa. Tak ragu lagi 

bahwa golongan ini, yang memiliki sarana kepada transaksi hidup Islam yang penuh 

kesederhanaan, yaitu  terdiri dari awliya Allah -yaitu mereka yang dicintai Allah dan 

mencintai Allah -bersama orang-orang yang mengenal dan mengikuti mereka.  

Awliya Allah yaitu  mereka yang di setiap waktu dan jaman telah melestarikan 

transaksi kehidupan Islam atas rahmat dan bimbingan Allah. Mereka dikenali dengan 

bukti bahwa khalayak tertarik kepada kebijaksanaan dan ketenangan mereka, 

sehingga masyarakat muslim sejati terbentuk di sekeliling mereka -sebagaimana 

khalayak tertarik kepada Nabi Muhammad saw, sehingga masyarakat muslim 

pertama terbentuk di sekeliling Nabi Muhammad saw.  

Masyarakat muslim sejati semata-mata merupakan penjelmaan lahiriah dari apa 

yang terdapat dalam hati para wali itu, sebagaimana tirani negara kafir merupakan 

penjelmaan lahiriah dari kegelapan batin para tiran penguasanya. Hati para wali 

bercahaya dan damai, dan ini menjelma secara lahiriah dalam bentuk transaksi yang 

selaras dan manusiawi, yang selalu merupakan ciri khas dari masyarakat muslim 

sejati.  

Awliya Allah tidak berada di satu tempat. Sebagaimana ruh, yaitu nyawa yang 

meliputi seluruh tubuh, maka para awliya ini pun tersebar di seluruh dunia. Awliya 

yaitu  ruhnya dunia. Sebagaimana tubuh akan membusuk setelah ruh 

meninggalkannya, maka dunia akan tiba pada akhirnya sebab  tiada lagi awliya yang 

hidup di permukaannya.  

Masyarakat muslim sejati yang terbentuk di sekeliling awliya Allah, bagai 

masyarakat Muslim pertama di Madina al-Munawarra, juga mengalami daur tumbuh 

dan luluh. Biasanya bermula dari satu orang, sang wali. Lalu terbentuklah masyarakat 

di sekelilingnya. Kafirun berusaha menghancurkan mereka tetapi gagal sebab  Allah 

selalu memenangkan mereka yang yakin padaNya, Kemudian sang wali akhirnya 

wafat. Lalu berlangsunglah masa berimbang di mana masyarakat masih berpegang 

pada isi Qur'an dan Sunnah dan dipimpin oleh mereka yang terbimbing dengan benar, 

yaitu para sahabat karib sang wali yang menerima pengenalan Allah dari Allah melalui 

sang wali. Kemudian para sahabat ini pun wafat, lalu masyarakat dipimpin oleh 

sahabatnya para sahabat sang wali. Kemudian mereka pun wafat, dan 

perlahan-lahan hampir tak disadari oleh setiap orang, akhirnya masyarakat itu mulai 

kehilangan semangat dan dinamika kehidupan yang dimiliki oleh para anggota 

pertamanya.  

Dengan berlalunya waktu akhirnya tibalah tahap di mana tidak lagi terdapat 

masyarakat Muslim yang utuh. Anggota-anggotanya mungkin masih mengikuti 

sebagian besar isi Qur'an dan Sunnah, semata-mata sebab  begitulah mereka 

dilahirkan, tetapi kebanyakan dari mereka melakukannya sebab  begitulah yang 

dilakukan oleh nenek moyangnya, dan bukan sebab  mereka mengenal Islam yang 

sesungguhnya. Mereka tidak lagi memiliki apa yang dimiliki oleh masyarakat asli yang 

terbentuk di sekeliling sang wali. Semua ciptaan memiliki titik puncaknya, dan 

kemudian berjatuhan, Pada dasarnya sebuah masyarakat Muslim asli yang hidup 

dengan semangat hidup dan kesadaran tentang hakikat kehidupan sebagaimana 

masyarakat Muslim pertama di Madina al-Munawarra, hanya dapat bertahan selama 

tiga generasi. Kemudian semuanya berakhir. Secepatnya masyarakat Muslim itu mati 

maka dilahirkan masyarakat Muslim baru di tempat lain. Pengetahuan yang dimiliki 

awliya, yang tidak bisa diperoleh melalui artikel -artikel , tersebar dari orang ke orang. 

Sekali seorang wali telah menyampaikan pengetahuannya kepada wali yang lain, 

maka wali ini  akan membawanya kemana pun ia pergi. Dengan cara inilah 

pengetahuan ini  senantiasa lestari, sejak jaman Nabi Muhammad saw hingga 

kini.  

Tidak semua wali ada masyarakat Muslim yang membentuk di sekelilingnya. 

Allah seringkali menyembunyikan awliya guna melindungi mereka. Pada masa-masa 

di mana daur berubah-ubah antara iman dan kufr, maka jika kufr sedang meningkat, 

awliya tersembunyi. Tugas mereka hanya melestarikan pengetahuan dan kearifannya 

demi memastikan mata-rantai penyebaran tidak terputus. sebab  tiba saat iman 

meningkat, seperti sekarang, maka awliya akan nampak, dan masyarakat muslim 

sejati akan terbentuk di sekelilingnya, dan tak ada yang bisa dilakukan oleh kafirun 

dan munafiqun untuk menghentikan mereka, sebab  Allah memenangkan sesiapa 

yang yakin kepadaNya, dan mereka tentu yakin kepada Allah. Allah memberikan 

pengenalan Allah kepada mereka, maka mereka tak dapat melakukan hal lain kecuali 

yakin kepada Allah. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman melalui sabda Nabi 

Muhammad saw bahwa barang siapa memerangi wali Allah, maka Allah akan 

memeranginya.  

Biasanya ada juga orang-orang jahil yang mengaku sebagai wali. Mereka 

berkecimpung dalam informasi mistik dan kearifan hampa, bukan dalam pengenalan 

Allah yang sejati. Mereka bisa dikenali dari kepeduliannya pada ketenaran pribadinya 

-artinya mereka lebih peduli pada apa pikiran orang lain terhadap mereka daripada 

pada apa yang Allah tahu tentang mereka; dan biasanya mereka menuntut upah 

dalam menyampaikan ilmunya; dan sebab  lahiriah mereka tidak mengikuti pola hidup 

Nabi Muhammad saw, termasuk dalam hal-hal yang mendasar seperti menyantap 

makanan halal, melaksanakan shalat, dan berpuasa pada bulan Ramadhan; dan 

sebab  batiniah mereka tidak diberi nur dan kearifan yang hanya akan diberikan Allah 

kepada awliya Allah; dan terutama sebab , mereka tidak memiliki idhn mengajar dari 

Allah. Seorang wali besar di masa lalu, Syekh Ahmad bin Ata'i'llah124 berkata bahwa, 

siapa yang berkata dengan idhn, maka kata-katanya akan didengar oleh mahluk, 

sedangkan siapa yang berkata tanpa idhn, maka ia bak anjing menggonggong. Idhn 

hanya berasal dari Allah dan NabiNya saw.  

Awliya sejati dapat dikenali dari beberapa pertanda. Secara lahir mereka 

mewujudkan jalan hidup Nabi Muhammad saw dalam segala seginya. Secara batin 

mereka memiliki cahaya yang dapat mencuci dan membersihkan hati mereka yang 

duduk bersamanya. Mereka memiliki perilaku yang terbaik, manusiawi dan 

penyayang. Mereka berkearifan dan berpengetahuan tinggi yang ditularkan tanpa 

memungut biaya. Mereka hanya takut kepada Allah. Mereka mencintai Allah. Mereka 

memiliki pengetahuan ghaib tentang Allah, yang mana itu berbeda dengan memiliki 

keterangan tentang Allah. Jati diri mereka telah disucikan, Allah mencintai mereka, 

dan sebab  Allah mencintai mereka, seperti  firman Allah melalui sabda Nabi 

Muhammad saw, dalam sebuah hadits qudsi bahwa, Allah menjadi lidah yang 

dengannya mereka berbicara, menjadi tangan yang dengannya mereka memegang, 

Allah menjadi kaki yang dengannya mereka melangkah. sebab  anda melihat mereka, 

anda seakan melihat perangkat yang bergerak atas perintah Allah. Inilah sebab 

mengapa dan bagaimana mereka membuat segala sesuatu terjadi dan 

menghidupkan pengetahuan.  

Awliya sangat bertolak belakang dengan para freemason. Para freemason 

yaitu  elit kafirun. Awliya yaitu  elit mu'minun. Para freemason hanya hendak 

kekuasaan. Awliya hanya hendak Allah. Para freemason memeras dan menindas 

orang-orang yang mereka kendalikan dan mereka manipulasi. Awliya menerangi dan 

membebaskan orang-orang yang mereka layani, Baik para freemason maupun awliya 

keduanya dibutuhkan dalam proses kehidupan, yang berlangsung dan saling 

pengaruh-mempengaruhi kutub-kutub yang bertolak belakang. Anda harus 

memeriksa di kutub mana anda berada. Jika anda seorang kafir pergi dan 

bergabunglah dengan para freemason, sebab  mereka menerima yang terbaik dari 

dunia mereka dan menerima yang terburuk dari dunia kelak. Jika anda seorang 

mu'min pergi dan bergabunglah dengan awliya sebab  mereka menerima yang terbaik 

di dunia ini dan menerima yang terbaik di dunia kelak. Putuskan pilihan anda 

sekarang juga.  

Transaksi hidup Islam yaitu  asuransi terbaik di dunia. Bagi siapa saja yang 

menjalankannya secara ikhlas, Islam menjamin nafkah di dunia ini, dan Taman di 

dunia kelak. Perkara minimal yang anda harus jalankan untuk memastikan sandang, 

pangan dan papan, yaitu  shalat lima waktu. Perkara minimal yang anda harus 

                                                          

124

 Seorang tokoh sufi / Filsuf yang lahir di Alexandria (iskandariyah) Mesir pada pada 648H / 1250M 

dan Wafat pada pada 1309M di Kairo, Mesir. (wikipedia – localholic) 

lakukan untuk mendapat jaminan Taman yaitu  bersaksi setiap saat bahwa tiada 

tuhan selain Allah dan Muhammad yaitu  utusan Allah; setahun sekali berpuasa di 

bulan Ramadhan; dan setahun sekali membayar zakat; dan melaksanakan haji jika 

anda mampu, yaitu berkunjung ke Mekkah, setidaknya sekali seumur hidup.  

Kelima tindakan dasar yang disebut lima tiang Islam itu, bukan saja syarat 

minimal yang dibutuhkan untuk mencapai Taman, namun kelimanya juga merupakan 

dasar untuk hidup berimbang di bumi yang mau tak mau akan mengantar seseorang 

kepada pengenalan Allah. Kelimanya saja sudah mampu mengubah hati siapa pun 

yang mengamalkannya, sekaligus menjadikan hatinya damai. Semakin anda 

mengejawantahkan jalan hidup Nabi Muhammad saw, maka semakin banyak yang 

akan diperoleh darinya, sebab  ada kearifan yang tinggi dalam segala hal yang 

dilakukan oleh Nabi, dan kearifan ini hanya disediakan bagi orang yang 

mengejawantahkannya.  

Puncaknya yaitu , bahwa Allah sesuai dengan sangkaan hambaNya. Anda 

akan menerima dari Allah apa yang anda sangka dariNya. Setiap orang akan 

mendapatkan keinginannya. Dikisahkan bahwa pada hari Kiamat ada seseorang yang 

diberitahu bahwa ia harus masuk ke Api. Ia menjawab, "Manakah yang lebih besar, 

kesalahan-kesalahanku atau ampunan Allah?" Maka sebab  orang itu memiliki 

sangkaan yang sedemikian kepada Allah, ia dimasukkan ke Taman.  

Hakikatnya, andaikan tidak ada yang berbuat salah maka Allah tidak dapat 

menunjukkan sifat kasih sayang dan pengampunNya. Bagi seseorang yang mencari 

pengenalan Allah, tindakan yang benar dan tindakan yang salah sama saja, sebab  ia 

belajar dari keduanya. Jika seseorang arif yakin kepada Allah, maka ia tidak akan 

masuk ke lubang yang sama. Bagi seseorang yang berhasrat untuk melihat wajah 

Allah -dan penglihatan ini bisa saja terjadi di dunia ini dan di Taman dalam Taman 

kelak -Allah yaitu  satu-satunya kepeduliannya. Bagi orang seperti ini, tujuan hidup 

bukanlah sekedar menghindari Api dan mencapai Taman, melainkan demi melihat 

wajah Allah. Satu-satunya jalan untuk mencapai tahap saat mana Allah akan 

mengaruniakan penglihatan ini, jika Dikehendaki-Nya, yaitu  dengan mengikuti 

jalannya Nabi Muhammad saw.  

Bahayanya. bagi seseorang yang tidak, berhasrat mengenal Allah, tak 

merindukan Taman, dan tak takut Api, ia akan menyembah Islam dan bukan 

menyembah Allah -artinya ia keliru menganggap cara sebagai tujuannya.  

Siapa pun yang melakukan kekeliruan ini maka ia telah membunuh transaksi 

kehidupan Islam, dan menjadikannya sebagai agama, yaitu suatu jalinan 

tindakan-tindakan yang "boleh" dan "tidak", yang tidak berhubungan dengan jalan 

hidup Nabi Muhammad saw. Inilah yang telah dilakukan oleh para Yahudi dan Nasrani 

terhadap ajaran-ajaran Nabi Musa as dan nabi 'Isa as, dan sayangnya sebagian 

Muslimin juga telah membuat suatu agama dari ajaran Nabi Muhammad saw, sebagai 

suatu bukti dari sabda beliau bahwa sebagian Muslim akan mengikuti contoh para 

pendahulunya, yaitu para Yahudi dan Nasrani, seperti seekor kadal kabur ke liangnya.  

Jika anda ingin mengikuti jalan hidup Nabi Mu'hammad saw, maka belajarlah 

kepada mereka yang telah menempuh dan mengejawantahkannya, dan jangan 

belajar dari mereka yang telah menjadikan Islam sebagai agama. Mereka yang paling 

memahami jalan hidup Nabi Muhammad saw yaitu  para awliya, sebab  merekalah 

yang paling baik mengejawantahkannya. Seseorang yang berhasrat pada ilmu 

seharusnya berusaha memperolehnya hanya dari seseorang yang tindakannya 

sesuai ucapannya.  

Jadi, pada kenyataannya ada dua pilihan. Yang pertama, anda bisa memilih 

iman atau kufr. Jika anda memilih iman, maka yang kedua, anda bisa memilih 

transaksi kehidupan Islam yang hidup -yang tumbuh subur disekeliling para awliya 

dan akhirnya menghantarkan anda pada pengenalan kepada Allah dan ke Taman 

-atau memilih agama Islam yang mati, yang dianut oleh orang-orang berilmu artikel  dan 

berasas pada "moralitas" terpatok -agama yang seperti penjara. Putuskan pilihan 

anda sekarang juga.  

Jelaslah, asuransi seorang mu'min yaitu  transaksi kehidupan Islam yang hidup 

dan keyakinan kepada Allah, disertai dengan kesadaran pada yang Ghaib dan pada 

peristiwa setelah mati. Asuransi seorang kafir yaitu  kebalikannya. Bagi si kafir, 

kematian bukanlah pintu masuk yang menghantar dari satu dunia ke dunia lainnya, 

jadi sebenarnya tidak perlu ditakuti. Bagi si kafir kematian yaitu  malapetaka 

terbesar, maka perlu diasuransikan. Ini terjadi sebab  si kafir tidak tahu apa kematian 

itu, atau apakah yang ada dibalik kematian -dan jika ia diberitahu pun, yang 

mengabarkannya pasti tidak akan dipercayainya.  

Bagi si kafir, asuransi jiwa nampak perlu sebab  kecemasannya terhadap 

masalah nafkah dan naungannya di usia lanjut. Dilihat dari berbagai sudut kecemasan 

semacam ini ada benarnya juga, khususnya bagi sebuah masyarakat yang 

terpecah-belah di mana yang muda cenderung menelantarkan yang tua, agar 

mengurus dirinya sendiri. Ini persis bertolak-belakang dengan masyarakat muslim 

sejati, di mana polis-polis asuransi jiwa sama sekali tidak laku, sebab  setiap orang 

saling memelihara satu sama lainnya dari lahir hingga mati.   

Akibat lain yang tak bisa dihindari masyarakat kafir yang terpilah-pilah, 

khususnya bagi masyarakat yang membuat khalayaknya berhasrat pada berbagai 

kebendaan sebab  telah dikondisikan demikian demi kelestarian proses 

produsen-konsumen, yaitu  begitu maraknya apa yang oleh kafir disebut tindak 

kejahatan. Hampir tak bisa dihindari bahwa orang yang tidak takut kepada Allah dan 

Hari Kiamat, dan tidak bisa memiliki apa-apa yang oleh proses produsen-konsumen 

telah dikondisikan untuk diinginkan dengan cara-cara yang sesuai hukum, pasti akan 

melakukan tindak kejahatan. Seperti yang telah kita ketahui, tindak kejahatan ini 

sengaja tidak dicegah atau tepatnya akar-akar penyebabnya sengaja tidak dibasmi, 

sebab  tindak kejahatan bisa menjadi sumber pekerjaan dan pendapatan tetap bagi 

banyak orarig yang bekerja dalam sistem hukum.  

Tindak kejahatan juga menjadi perangsang tambahan agar khalayak mau 

mengasuransikan miliknya. Seperti telah kita ketahui, perusahaan asuransi tak akan 

rugi sebab  mereka telah mengatur sistem asuransinya sehingga mereka menerima 

jumlah uang premi yang lebih besar daripada jumlah klaim yang harus mereka bayar 

sebagai ganti rugi, lalu laba ini bisa semakin besar dengan menanamnya dan 

membungakannya. Walhasil, sistem asuransi kafir nampaknya diperlukan sebab  

memberi jasa pelayanan mahal bagi masyarakat yang terpilah-pilah, di mana orang 

tidak lagi saling mempercayai. Umumnya, Orang kafir mau tak mau harus yakin pada 

perusahaan asuransi -yang sebenarnya tak sepenuhnya bisa dipercaya sebab  

betapapun efisiennya perusahaan itu, tentu para direkturnya lebih peduli pada laporan 

keuntungan tahunan perusahaannya daripada kesejahteraan para nasabahnya, 

Siapa pun yang pernah membaca istilah-istilah polis asuransi dan mempelajari 

undang-undang yang mengatur penafsiran istilah-istilah ini , akan melihat bahwa 

polis-polis itu pada prakteknya dirancang untuk menanggung musibah sekecil 

mungkin, seraya dalam teorinya sesumbar melaksanakan kebalikannya.  

Sistem asuransi kafir yaitu  salah satu sub-sistem penting dalam sistem kafir, 

yaitu sistem Dajjal. Dibanding sistem hukum dan sistem medis kafir yang menangguk 

uangnya dari malapetaka yang menimpa khalayak -dan musibah itu biasanya terjadi 

akibat cara kerja sistem itu sendiri -maka, sistem asuransi kafir selangkah lebih maju 

sebab  dapat menangguk uang dari rasa takut khalayak kepada malapetaka yang 

sebenarnya baru mungkin terjadi.  

Kebutuhan semu untuk berasuransi -yang lahir dari kecemasan tak berdasar 

dan dari ketetapan hukum untuk berasuransi -yang muncul sebagai dampak-dampak 

yang tak bisa dihindari dari suatu masyarakat yang sedang berpecah-belah, yaitu  

keturunan dari kejahilan atas cara kerja kehidupan dan dari kurangnya keyakinan 

kepada Allah maupun kepada orang lain -yang sebenarnya kedua macam keyakinan 

itu sama. Keadaan-keadaan ini sangat bertolak belakang dengan keberadaan para 

mu'min, di mana satu-satunya asuransi yaitu  yakin kepada Allah -yaitu suatu 

keyakinan yang diwujudkan dengan ketaatannya mengikuti petunjuk yang telah 

diberikan Allah, yang terkandung dalam Qur'an dan jalan hidup Nabi Muhammad saw.  

Nabi Muhammad saw bersabda bahwa jika anda benar-benar yakin kepada 

Allah, maka anda akan hidup bak seekor burung yang di pagi hari pergi dari 

sarangnya tak punya apa-apa dan di sore hari kembali sarangnya tak punya apa-apa, 

tapi sudah dalam keadaan kenyang, Beliau juga bersabda bahwa barang siapa 

melaksanakan sholat lima waktu sehari semalam, dijamin oleh Allah akan 

memperoleh pangan, sandang dan papan. Nabi sendiri tidak dapat tidur di malam 

hari, jika masih terdapat uang dalam biliknya yang sederhana. Maka tentu di setiap 

penghujung harinya, oleh kafirun, Nabi disebut sebagai orang yang bangkrut -walau 

tidak ada dan kapan pun tidak pernah ada orang yang lebih kaya daripada beliau.  

Hakikat dari nafkah yaitu  Allah lah Maha Pemberi Nafkah, dan seperti yang 

dijanjikan di dalam Qur'an, Allah mengingat siapa yang mengingatiNya. Hakikat dari 

nafkah yaitu  bahwa pada bulan kelima kehamilan, ruh atau nyawa, ditiupkan 

kepada janin, dan pada saat itu dituliskan bagaimana rezekinya di dunia, apakah ia 

akan gembira atau sedih, kapan ia akan wafat, dan apakah ia akan masuk ke Api atau 

ke Taman. Segala telah ditetapkan, sebelum anda dilahirkan. Sesudah anda lahir 

maka segala sesuatu yang akan menimpa anda akan tiba pada saat yang telah 

ditetapkan, dan apa-apa yang tidak akan menimpa anda tidak akan pernah tiba. 

Demikianlah mengapa Allah berfirman dalam Qur'an bahwa apa-apa yang telah 

tertulis bagi anda tidak akan bisa dihindari, dan apa-apa yang tidak tertulis bagi anda 

tidak akan bisa dicapai. Demikianlah mengapa Allah berfirman dalam Qur'an, 

janganlah terlalu bergembira atas apa-apa yang telah diberikan dan janganlah terlalu 

bersedih atas apa-apa yang tidak diberikan padamu.  

Salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw bertanya kepada beliau, 'Apakah 

kita berada dalam urusan yang telah selesai atau berada dalam urusan yang belum 

selesai?". Nabi saw menjawab, "Kita berada dalam urusan yang telah selesai. Pena 

telah berhenti menulis, dan tintanya telah mengering."  

Si kafir berusaha untuk menihilkan hal ini dengan memberikan gambaran 

tentang seorang bodoh yang sedang duduk dan tidak melakukan apa-apa dan 

menunggu nafkahnya jatuh dari langit, atau seorang bodoh lainnya yang 

menyeberang jalan dengan membuta tanpa lebih dahulu melihat apakah ada mobil 

yang melintas. Konsep rendahan kafir ini -yang biasanya disebut "fatalisme" atau 

"percaya kepada takdir", tak ada kaitannya dengan hakikat kehidupan. Anda pergi 

keluar dan membeli barang-barang, dan anda berhati-hati untuk mencegah 

kecelakaan, setiap tarikan nafas anda, setiap detak jantung anda, seluruhnya yaitu  

bagian dari apa yang telah tertulis bagi anda.  

Anda tidak bisa melakukan selain dari apa yang ada di hati anda, dan setiap 

gerakmu sudah diputuskan, tetapi kapan pun anda berhadapan dengan pilihan maka 

anda harus memutuskan. Putuskan pilihan anda sekarang juga, tetapi, begitu 

keputusan itu dibuat, dan anda mencoba melihatnya kembali, barangkali anda akan 

melihat bahwa anda tidak bisa memutuskan selain dari itu. Allahlah yang membuat 

anda dan perbuatan anda, dan di Hari Akhir anda harus bertanggungjawab atas 

segala perbuatan anda, dan apakah di kehidupan berikutnya anda untuk Api atau 

untuk Taman, bergantung pada perbuatan-perbuatan pilihan anda di kehidupan ini.  

 Diriwayatkan bahwa 'Umar bin al-Khattab ra ditanya mengenai ayat:  

Dan (ingatlah), sebab  Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak 

Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa 

mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka 

menjawab: "Betul (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi". (Kami 

lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak 

mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) yaitu  orang-orang 

yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Qur'an: surat al-'Araf 172)  

'Umar bin al-Khattab berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw ditanya 

tentang ayat ini. Rasulullah saw bersabda, "Allah Maha Suci, Maha Tinggi, 

menciptakan Adam. Kemudian menyapu punggung (sulbi) Adam dengan 

tangan kananNya, dan dari situ keluarlah keturunan Adam. Allah berfirman: 

Aku telah menciptakan mereka untuk Taman dan mereka akan berperilaku 

sebagai penghuni Taman. Kemudian Allah menyapu sekali lagi sulbi Adam, 

dan dari situ keluarlah keturunannya. Allah berfirman, Aku telah 

menciptakan mereka untuk Api dan mereka akan berperilaku sebagai 

penghuni Api.'" Seorang bertanya, "Ya Rasulullah! Kalau begitu apa 

manfaat amal-amal kita?" Rasulullah saw menjawab, "Apabila Allah 

menciptakan hambanya untuk Taman, maka Allah memampukan dia untuk 

mengerjakan amalan penghuni Taman, sehingga dia mati beserta amalan 

penghuni Taman dan dengan itu Allah akan memasukkan dia ke dalam 

Taman. Apabila Allah menciptakan hambanya untuk Api, Allah 

memampukan dia mengerjakan a