n tujuh puluhan, dia tidak lebih muda seharipun daripada
Alberto yang baru saja kulihat di layar tadi. Dia mempunyai nama
yang kedengaran asing ..."
"Knox?"
"Bisa jadi, Nyai girah . Bisa jadi namanya yaitu Knox."
"Atau Knag?"
"Aku sama sekali tidak ingat ... Knox atau Knag mana yang
sedang kamu bicarakan ini?"
"Yang satu yaitu Alberto, yang satunya lagi ayah count dracula ."
"Semua ini membuatku pusing."
"Apa ada makanan di rumah?"
"Kamu dapat menghangatkan bakso."
Tepat dua minggu berlalu tanpa sepatah kata pun dari Alberto. Dia
mendapat kartu ulang tahun lain untuk count dracula , tapi meskipun hari yang
sebenarnya sudah mendekat, dia sendiri tidak menerima selembar
kartu pun.
Suatu sore, dia pergi ke Kota Lama dan mengetuk pintu Alberto.
Dia sedang keluar, tapi ada sebuah pesan yang ditempelkan di
pintunya. Bunyinya:
Selamat ulang tahun, count dracula ! Kini titik balik yang luar biasa itu
sudah dekat. Sudah saatnya kebenaran dimunculkan, Gadis
Kecil. Setiap kali aku memikirkannya, aku tidak dapat berhenti
tertawa, Itu jelas ada hubungannya dengan Berkeley, maka
pegang erat topimu.
Nyai girah mencabut pesan itu dari pintu dan memasukkannya ke
dalam kotak surat Alberto seraya berjalan keluar.
Sial! Tentunya dia tidak kembali ke Athena? Bagaimana dia tega
meninggalkannya dengan begitu banyak pertanyaan belum terjawab?
saat pulang sekolah pada 14 Juni, Hermes sedang bermain-main
di taman. Nyai girah berlari ke arahnya dan anjing itu berjingkrak-
jingkrak dengan gembira menyambutnya. Nyai girah memeluk binatang
itu seakan-akan ialah satu-satunya yang dapat memecahkan seluruh
teka-teki itu.
Lagi-lagi dia meninggalkan pesan untuk ibunya, tapi kali ini dia
menuliskan alamat Alberto di sana.
saat mereka berjalan melintasi kota, Nyai girah memikirkan besok
pagi. Bukan mengenai hari ulang tahunnya sendiri—sebab itu tidak
akan dirayakan sebelum pertengahan musim panas. Tapi besok
yaitu hari ulang tahun count dracula juga. Nyai girah yakin sesuatu yang luar
biasa akan terjadi. Paling tidak, kartu ulang tahun dari Lebanon itu
tidak akan dikirimkan lagi.
saat mereka telah melintasi Main Square dan hendak menuju
Kota Lama, mereka melewati sebuah taman dengan arena bermain.
Hermes berhenti di dekat sebuah bangku seakan-akan dia ingin
Nyai girah duduk.
Nyai girah pun duduk, dan sementara dia menepuk-nepuk kepala
anjing itu dia menatap langsung ke matanya. Tiba-tiba anjing itu
mulai bergetar hebat. Dia mau menyalak sekarang, pikir Nyai girah .
Lalu rahangnya mulai bergerak, tapi Hermes tidak menggeram atau
menyalak. Dia membuka mulutnya dan berkata:
"Selamat ulang tahun, count dracula !"
Nyai girah terpana. Apakah anjing itu berbicara padanya?
Mustahil, dia pasti hanya membayangkannya saja sebab dia baru saja
memikirkan count dracula . Tapi jauh di dalam hatinya, dia tetap yakin bahwa
Hermes tadi berbicara, dan dengan suara bas yang bergema.
Detik selanjutnya segala sesuatu menjadi seperti semula lagi.
Hermes dua kali menyalak secara demonstratif—seakan-akan untuk
menutupi fakta bahwa dia baru saja berbicara dengan suara manusia
—dan melanjutkan berjalan menuju rumah Alberto. saat mereka
masuk Nyai girah menatap ke langit. Sepanjang hari ini cuaca bagus, tapi
kini awan gelap mulai bergumpal di kejauhan.
Alberto membuka pintu dan Nyai girah serta-merta berkata:
"Tidak perlu basa-basi, kumohon. Anda benar-benar idiot, dan
Anda tahu itu."
"Ada apa kali ini?"
"Mayor itu mengajari Hermes untuk berbicara!"
"Ah, jadi sudah sampai ke situ."
"Ya, bayangkan!"
"Dan apa yang dikatakannya?"
"Kuberi Anda kesempatan menebak tiga kali."
"Kubayangkan dia mengucapkan sesuatu yang ada kaitannya
dengan Selamat Ulang Tahun!"
"Tepat!"
Alberto membiarkan Nyai girah masuk. Dia mengenakan kostum lain
lagi. Yang ini tidak terlalu berbeda dari yang dipakainya terakhir
kali, tapi hari ini tidak terlalu banyak pita, simpul, atau renda.
"Tapi itu belum semua," Nyai girah berkata.
"Apa maksudmu?"
"Tidakkah Anda menemukan pesan di kotak surat?"
"Oh, itu. Aku membuangnya saat itu juga."
"Aku tidak peduli apakah dia tertawa setiap kali dia memikirkan
Berkeley. Tapi apa yang lucu mengenai filosof yang satu itu?"
"Kita harus menunggu dan melihat."
"Tapi hari ini Anda akan membicarakan dia, bukan?"
"Ya, memang sekarang saatnya."
Alberto mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa, lalu berkata:
"Terakhir kali kita duduk di sini kita membicarakan Descartes dan
Spinoza. Kita setuju bahwa mereka mempunyai satu kesamaan
penting, yaitu bahwa keduanya yaitu rasionalis."
"Dan rasionalis yaitu seseorang yang sangat memercayai
akalnya."
"Itu benar, seorang rasionalis percaya pada akal sebagai sumber
utama pengetahuan, dan dia mungkin juga percaya bahwa manusia
mempunyai gagasan-gagasan bawaan tertentu yang ada di dalam
pikiran yang mendahului seluruh pengalaman. Dan semakin jelas
gagasan-gagasan semacam itu, semakin pasti bahwa mereka berkaitan
dengan realitas. Kamu ingat bagaimana Descartes mengajukan
gagasan yang jelas dan khas mengenai `wujud sempurna', yang atas
dasar itu dia menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada."
"Aku tidak mudah lupa."
"Pemikiran rasionalis semacam ini merupakan ciri khas filsafat
abad ketujuh belas. Itu juga berakar kuat di Abad Pertengahan, dan
berasal dari Plato dan Socrates pula. Tapi pada abad kedelapan
belas, rasionalisme mendapat kritik yang semakin meningkat.
Sejumlah filosof berpendapat bahwa pikiran kita sama sekali tidak
memiliki ingatan akan apa-apa yang belum pernah kita alami melalui
indra. Pandangan semacam ini dinamakan empirisisme."
"Dan apakah Anda akan membicarakan mereka hari ini, para tokoh
empiris ini?"
"Aku bermaksud begitu, ya. Tokoh-tokoh empiris—atau filosof
berpengalaman—yang paling penting yaitu Locke, Berkeley, dan
Hume, dan ketiganya berasal dari Inggris. Tokoh-tokoh rasionalis
terkemuka dari abad ketujuh belas yaitu Descartes, orang Prancis;
Spinoza, orang Belanda; dan Leibniz, orang Jerman. Maka kita
biasanya membedakan antara empirisisme inggris dan rasionalisme
Eropa."
"Alangkah banyaknya kata-kata sulit itu! Maukah Anda mengulangi
arti empirisisme?"
"Seorang empirisis akan mendapatkan pengetahuan mengenai dunia
dari apa yang dikatakan indra. Rumusan klasik pendekatan empiris
berasal dari Aristoteles. Dia berkata: `Tidak ada sesuatu dalam
pikiran kecuali yang sebelumnya telah dicerap oleh indra'. Pandangan
ini menyiratkan kecaman tajam terhadap Plato, yang berpendapat
bahwa manusia membawa serta `ide-ide' bawaan dari dunia ide.
Locke mengulang kata-kata Aristoteles, dan saat Locke
menggunakan kata-kata ter sebut, itu ditujukan pada Descartes."
"Tidak ada sesuatu yang ada dalam pikiran ... kecuali yang
sebelumnya telah diterima oleh indra?"
"Kita tidak mempunyai gagasan atau konsepsi bawaan mengenai
dunia sebelum kita melihat-nya. Jika kita benar-benar mempunyai
konsepsi atau gagasan yang tidak dapat dikaitkan dengan fakta-fakta
yang telah dialami, itu merupakan suatu konsepsi yang salah. Jika
kita, misalnya, menggunakan kata-kata seperti `Tuhan', `keabadian',
atau `substansi', itu berarti akal telah disalahgunakan, sebab tidak ada
yang pernah mengalami Tuhan, keabadian, atau apa yang disebut
oleh para filosof sebagai substansi. Oleh karena itu, banyak
pernyataan yang dalam kenyataannya tidak mengandung konsepsi
yang benar-benar baru. Suatu sistem filsafat yang disusun secara
cerdik seperti ini mungkin tampak mengesankan, tapi itu hanyalah
fantasi semata. Para filosof abad ketujuh belas dan kedelapan belas
telah mewarisi sejumlah pernyataan semacam itu. Kini mereka harus
diselidiki dengan cermat. Mereka harus disucikan dari segala
pandangan yang hampa. Kita dapat membandingkannya dengan upaya
mendulang emas. Kebanyakan yang kita gali yaitu pasir dan
lempung, tapi di antaranya kita dapat melihat kilauan cahaya dari
partikel emas."
"Dan partikel emas itu yaitu pengalaman sejati?"
"Atau setidak-tidaknya pikiran-pikiran yang dapat dikaitkan
dengan pengalaman. Menjadi masalah yang sangat penting bagi para
tokoh empiris Inggris untuk meneliti dengan cermat seluruh konsepsi
manusia untuk mengetahui apakah konsepsi itu ada landasannya
dalam pengalaman aktual. Tapi mari kita kemukakan para filosof itu
satu demi satu."
"Oke, tembak!"
"Yang pertama yaitu John Locke, yang hidup dari 1632 hingga
1704. Karya utamanya yaitu Esai Mengenai Pemahaman Manusia
(Essay Concerning Human Undertanding), yang diterbitkan pada
1690. Di situ dia berusaha untuk menjelaskan dua masalah.Pertama,
dari mana kita mendapatkan gagasan-gagasan kita, dan kedua, apakah
kita dapat memercayai apa yang dikatakan oleh indra-indra kita."
John LOCKE
"Proyek hebat!"
"Kita akan mengupas masalah-masalah ini satu demi satu.
Locke menyatakan bahwa semua pikiran dan gagasan kita berasal
dari sesuatu yang telah kita dapatkan melalui indra. Sebelum kita
merasakan sesuatu, pikiran kita merupakan `tabula rasa' —atau kertas
kosong".
"Anda dapat mengesampingkan bahasa Latin itu."
"Jadi, sebelum kita merasakan sesuatu, pikiran itu sama polos dan
kosongnya dengan papan tulis sebelum guru masuk ke dalam kelas.
Locke juga membandingkan pikiran dengan ruangan yang belum
dilengkapi perabot. Tapi kemudian kita mulai merasakan sesuatu.
Kita melihat dunia di sekeliling kita, kita mencium, mengecap,
merasa, dan mendengar. Dan tidak ada yang melakukan semua ini
secara lebih bersemangat dibandingkan dengan bayi. Dengan cara ini
muncul apa yang disebut Locke gagasan-gagasan indra yang
sederhana. Tapi pikiran tidak hanya bersikap pasif menerima
informasi dari luar. Beberapa aktivitas berlangsung di dalam pikiran
pula. Gagasan-gagasan dari indra itu diolah dengan cara berpikir,
bernalar, memercayai, dan meragukan, dan dengan demikian
menimbulkan apa yang dinamakannya perenungan. Jadi dia
membedakan antara `pengindraan' dan `perenungan'. Pikiran bukanlah
penerima yang pasif semata. Ia menggolong-golongkan dan
memproses semua perasaan yang mengalir masuk. Dan di sinilah
orang harus waspada."
"Waspada?"
"Locke menekankan bahwa satu-satunya yang dapat kita tangkap
yaitu pengindraan sederhana. saat makan apel, misalnya, aku
tidak merasakan seluruh apel itu dalam satu pengindraan saja.
Sesungguhnya aku menerima serangkaian pengindraan sederhana—
seperti bahwa apel itu yaitu benda berwarna hijau, baunya segar,
dan rasanya berair dan tajam. Setelah aku makan apel berkali-kali,
barulah aku bisa berpikir: Kini aku sedang makan sebuah `apel'.
Seperti yang dikatakan Locke, kita telah membentuk suatu gagasan
yang rumit mengenai sebuah `apel'. saat kita masih bayi,
mencicipi apel untuk pertama kalinya, kita tidak mempunyai gagasan
serumit itu. Tapi kita melihat sesuatu berwarna hijau, mengecap
sesuatu yang terasa segar dan berair, sedaaap ... Rasanya agak asam
juga. Sedikit demi sedikit kita mengumpulkan banyak rasa serupa
bersama-sama dan menyusun konsep-konsep seperti `apel', `pir',
`jeruk'. Tapi dalam analisis akhir, semua bahan bagi pengetahuan kita
tentang dunia kita dapatkan melalui pengindraan. Oleh karena itu,
pengetahuan yang tidak dapat dilacak kembali pada pengindraan
sederhana yaitu pengetahuan yang keliru dan, akibatnya, harus kita
tolak."
"Setidak-tidaknya kita dapat merasa yakin bahwa apa yang kita
lihat, kita dengar, kita cium, dan kita kecap yaitu cara kita
merasakannya.
"Ya dan tidak. Dan itu membawa kita kepada pertanyaan kedua
yang hendak dijawab Locke. Pertama-tama dia menjawab pertanyaan
dari mana kita mendapatkan gagasan-gagasan kita. Kini dia
menanyakan apakah sesungguhnya dunia itu seperti kita
memandangnya. Ini tidak terlalu jelas, kamu tahu, Nyai girah . Kita tidak
boleh melompat pada kesimpulan semata. Itulah satu-satunya yang
tidak boleh sekali pun dilaku kan oleh seorang filosof sejati."
"Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun."
"Locke membedakan antara apa yang dinamakannya kualitas
`primer' dan kualitas `sekunder'. Dan dalam hal ini dia mengakui jasa
para filosof besar sebelumnya—termasuk Descartes.
"Yang dimaksudkannya dengan kualitas primer yaitu luas, berat,
gerakan dan jumlah, dan seterusnya. Jika sampai pada masalah
kualitas semacam ini, kita dapat merasa yakin bahwa indra-indra
menirunya secara objektif. Tapi kita juga merasakan kualitas-kualitas
lain dalam benda-benda. Kita mengatakan bahwa sesuatu itu manis
atau asam, hijau atau merah, panas atau dingin. Locke menyebut
semua ini kualitas sekunder. Pengindraan semacam ini—warna, bau,
rasa, suara—tidak meniru kualitas-kualitas sejati yang melekat pada
benda-benda itu sendiri. Mereka hanya menirukan pengaruh dari
realitas lahiriah terhadap indra-indra kita."
"Setiap orang mengikuti seleranya sendiri, dengan kata lain."
"Tepat. Setiap orang sepakat tentang kualitas-kualitas primer
seperti ukuran dan berat, sebab kualitas-kualitas itu ada di dalam
objek-objek itu sendiri. Tapi kualitas-kualitas sekunder seperti
warna dan rasa itu beragam dari satu orang ke orang lainnya dan dari
satu binatang ke binatang lainnya, bergantung pada pengindraan
individu."
"saat Joanna makan sebuah jeruk, raut mukanya tampak seperti
saat orang lain makan sebuah lemon. Dia tidak dapat mengambil
lebih dari satu segmen sekaligus. Katanya apel itu rasanya asam. Aku
menganggap jeruk yang sama itu enak dan manis."
"Dan tak seorang pun di antara kalian itu benar atau salah. Kamu
hanya menjelaskan bagaimana jeruk memengaruhi indra-indramu.
Sama halnya dengan pengindraan warna. Mungkin kamu tidak suka
warna merah. Tapi jika Joanna membeli sebuah baju dengan warna
itu, mungkin lebih bijaksana jika kamu menyimpan sendiri
pendapatmu. Kamu merasakan warna itu dengan cara yang berbeda,
tapi itu tidak dapat dikatakan bagus dan juga tidak jelek."
"Tapi setiap orang setuju bahwa jeruk itu bulat."
"Ya, jika kamu mempunyai jeruk yang bulat, kamu tidak mungkin
`berpikir' bahwa itu kotak. Kamu mungkin bisa `memikirkan' bahwa
itu manis atau asam, tapi kamu tidak mungkin `memikirkan' bahwa
jeruk itu beratnya delapan kilo padahal sesungguhnya beratnya hanya
dua ratus gram. Tentu saja kamu dapat `percaya' bahwa beratnya
beberapa kilo, tapi itu berarti kamu bertindak tidak benar. Jika
beberapa orang harus menebak berat suatu benda, selalu ada salah
seorang di antara mereka yang lebih benar dibandingkan dengan yang
lain. Hal yang sama berlaku untuk jumlah. Bisa jadi ada kacang
polong di dalam kaleng atau tidak ada sama sekali. Demikian juga
halnya dengan gerakan. Mobil itu mungkin bergerak, mungkin juga
diam."
"Aku mengerti."
"Jadi saat sampai pada masalah realitas `yang diperluas', Locke
setuju dengan Descartes bahwa realitas itu tidak mempunyai kualitas-
kualitas tertentu yang mungkin dipahami manusia dengan akalnya."
"Mestinya tidak sulit untuk menyetujui hal itu."
"Locke mengakui apa yang dinamakannya pengetahuan intuitif, atau
`demonstratif', dalam bidang-bidang lain pula. Misalnya, dia
berpendapat bahwa prinsip-prinsip etika tertentu berlaku untuk
semua orang. Dengan kata lain, dia percaya pada gagasan mengenai
hak alamiah, dan itu merupakan ciri rasionalis dari pemikirannya.
Ciri yang sama rasionalistiknya yaitu bahwa Locke percaya akal
manusia mampu mengetahui bahwa Tuhan itu ada."
"Mungkin dia benar."
"Mengenai apa?"
"Bahwa Tuhan itu ada."
"Itu mungkin, tentu saja. Tapi dia tidak membiarkannya meresap ke
dalam keyakinan. Dia percaya bahwa gagasan tentang Tuhan lahir
dari akal manusia. Itu yaitu ciri rasionalistik. Harus kutambahkan
bahwa dia berbicara atas dorongan kebebasan intelektual dan
toleransinya. Dia juga membicarakan kesetaraan jenis kelamin,
dengan menyatakan bahwa anggapan kaum wanita lebih lemah
dibandingkan dengan kaum pria itu `buatan manusia'. Oleh karenanya,
hal itu bisa diubah."
"Mau tidak mau aku setuju di situ."
"Locke yaitu salah seorang filosof pertama di masa lebih
belakangan ini yang tertarik pada peran pria dan wanita. Dia
memberi pengaruh besar pada John Stuart Mill, yang pada
gilirannya memegang peranan menentukan dalam perjuangan untuk
mencapai kesetaraan pria dan wanita. Dapat dikatakan, Locke yaitu
pelopor banyak gagasan liberal yang di kemudian hari, pada periode
Pencerahan Prancis di abad kedelapan belas, berkembang penuh.
Dialah yang pertama-tama mendukung prinsip pembagian kekuasaan
..."
"Bukankah itu saat kekuasaan negara dibagi di antara lembaga-
lembaga yang berbeda?"
"Kamu ingat lembaga-lembaga apa saja itu?"
"Ada kekuasaan legislatif, atau para wakil terpilih. Ada
kekuasaan yudikatif, atau bidang hukum, dan ada kekuasaan eksekutif,
yaitu pemerintah."
"Pembagian kekuasaan itu berasal dari filosof Pencerahan Prancis
Montesquieu. Locke pertama-tama dan terutama menekankan bahwa
kekuasaan legislatif dan eksekutif harus dipisahkan jika ingin
menghindar dari kezaliman. Dia hidup pada zaman Louis XIV, yang
telah mengumpulkan seluruh kekuasaan di tangannya sendiri. `Akulah
Negara', katanya. Kita katakan bahwa dia seorang penguasa `mutlak'.
Kini kita menyebut pemerintahan Louis XIV itu tak kenal hukum dan
sewenang-wenang. Menurut Locke, untuk menjamin berdirinya
negara hukum, para wakil rakyat harus menciptakan undang-undang
dan raja atau pemerintah harus menerapkannya."[]
Hume
***
... maka masukkanlah ke nyala api ...
AlBERTO DUDUK menatap meja. Dia akhirnya berpaling dan
melihat ke luar jendela.
"Langit mulai berawan," kata Nyai girah .
"Ya, rasanya panas dan lembap."
"Apakah Anda akan membicarakan Berkeley sekarang?"
"Dia yaitu tokoh kedua dari tiga empirisis Inggris. Dalam banyak
hal, dia mempunyai kategori tersendiri. Oleh karena itu, kita akan
terlebih dahulu memusatkan perhatian pada David Hume, yang hidup
dari 1711 hingga 1776. Dia menonjol sebagai empirisis paling
penting. Dia juga mempunyai peran menentukan sebagai orang yang
mengantarkan filosof besar Immanuel Kant menuju filsafatnya
sendiri."
"Tidakkah penting bagi Anda bahwa aku lebih tertarik pada
filsafat Berkeley?"
"Itu tidak penting. Hume beranjak dewasa di dekat Edinburgh di
Skotlandia. Keluarganya ingin dia mengambil pelajaran hukum tapi
dia merasakan `keengganan yang tak tertahankan terhadap apa pun
kecuali filsafat dan ilmu pengetahuan'. Dia hidup pada Zaman
Pencerahan pada masa yang sama dengan masa hidup para ahli pikir
besar Prancis seperti Voltaire dan Rousseau, dan dia banyak
melakukan perjalanan mengelilingi Eropa menjelang akhir hayatnya.
Karya utamanya, Sebuah Risalah tentang Watak Manusia (A
Treatise of Human Nature ), diterbitkan saat Hume berusia dua
puluh delapan tahun, tapi dia menyatakan bahwa dia mendapatkan
gagasan bagi buku itu saat dia baru berusia lima belas."
"Aku mengerti tidak ada waktu lagi yang boleh kubuang-buang."
"Kamu sudah mulai."
"Tapi jika aku mau merumuskan filsafatku sendiri, itu akan sangat
berbeda dari apa pun yang pernah kudengar hingga sekarang."
"Apakah ada sesuatu yang khusus telah terlewatkan?"
"Nah, sebagai permulaan, semua filosof yang telah Anda
bicarakan, semuanya pria. Dan kaum pria tampaknya hidup di dunia
mereka sendiri. Aku lebih tertarik pada dunia nyata, di mana ada
bunga-bunga dan binatang serta anak-anak yang dilahirkan dan
tumbuh dewasa. Para filosof Anda selalu berbicara tentang `man'
dan`human', dan kini ada risalah lain mengenai `human nature'.
Seakan-akan `human' ini seorang pria setengah baya. Maksudku,
hidup dimulai dengan kehamilan dan kelahiran, dan aku belum pernah
mendengar apa-apa tentang popok bayi atau bayi menangis sampai
sejauh ini. Dan hampir tidak pernah kudengar apa pun tentang cinta
kasih dan persahabatan."
"Kamu benar, tentu saja. Tapi Hume yaitu filosof yang berpikir
dengan cara berbeda. Lebih dari filosof mana pun, dia mengambil
dunia sehari-hari sebagai titik awalnya. Aku bahkan beranggapan
bahwa Hume mempunyai perasaan kuat terhadap cara anak-anak—
para warga dunia yang baru—menjalani kehidupan."
"Kalau begitu, lebih baik aku mendengarkan."
"Sebagai seorang empirisis, Hume membebani dirinya dengan
kewajiban untuk membersihkan seluruh konsep dan susunan
pemikiran yang tidak jelas yang telah dikemukakan oleh para filosof
pria ini. Ada bertumpuk-tumpuk rongsokan, baik yang tertulis maupun
terucap, dari Abad Pertengahan dan dari filsafat rasionalis abad
ketujuh belas. Hume mengusulkan untuk kembali kepada pengalaman
spontan kita menyangkut dunia. Tidak ada filosof `yang akan dapat
membawa kita ke balik pengalaman sehari-hari atau menawarkan
pada kita aturan-aturan perilaku yang berbeda dari yang kita dapatkan
melalui perenungan tentang kehidupan sehari-hari', katanya."
"Sejauh ini kedengarannya menarik. Dapatkah Anda memberikan
contoh?"
"Pada masa Hume tersebar luas suatu kepercayaan kepada para
malaikat. Yaitu, sosok manusia dengan sayap. Pernahkah kamu
melihat makhluk semacam itu, Nyai girah ?"
"Tidak."
"Tapi pernahkah kamu melihat sosok manusia?"
"Pertanyaan tolol."
"Kamu juga pernah melihat sayap?"
"Tentu saja, tapi tidak pada tubuh manusia."
"Jadi menurut Hume, `malaikat' yaitu sebuah gagasan yang
rumit. Terdiri dari dua pengalaman berbeda yang sesungguhnya tidak
berkaitan, tapi tetap dikaitkan dalam imajinasi manusia. Dengan kata
lain, itu yaitu gagasan keliru yang harus segera ditolak. Kita harus
merapikan seluruh pikiran dan gagasan kita, dan juga koleksi buku
kita, dengan cara yang sama. Sebab seperti dikemukakan oleh Hume:
Jika kita mengambil buku apa saja ... mari kita bertanya, `Apakah di
dalamnya terkandung penalaran abstrak mengenai kuantitas atau
angka?' Tidak. `Apakah di situ terkandung penalaran eksperimental
tentang kenyataan dan keberadaan?' Tidak. Maka buanglah buku itu
ke nyala api, sebab ia tidak berisi apa pun kecuali cara berpikir yang
menyesatkan dan ilusi."
"Drastis benar."
"Tapi dunia tetap ada. Lebih segar dan digambarkan secara lebih
jelas daripada sebelumnya. Hume ingin tahu bagaimana seorang anak
menjalani pengalamannya di dunia. Bukankah kamu mengatakan
bahwa kebanyakan filosof yang pernah kamu dengar hidup dalam
dunia mereka sendiri, dan bahwa kamu lebih tertarik pada dunia
nyata?"
"Begitulah."
"Hume mungkin telah mengatakan hal yang sama. Tapi mari kita
ikuti jalur pemikirannya secara lebih cermat."
"Aku menyertai Anda."
"Hume memulai dengan menetapkan bahwa manusia mempunyai
dua jenis persepsi, yaitu kesan dan gagasan. Dengan `kesan', yang
dimaksudkannya yaitu pengindraan langsung atas realitas lahiriah.
Dengan `gagasan', yang dimaksudkannya yaitu ingatan akan kesan-
kesan semacam itu."
"Dapatkah Anda memberi contoh?"
"Jika kamu terbakar di atas oven panas, kamu mendapatkan `kesan'
segera. Setelah itu kamu dapat mengingat bahwa kamu terbakar.
Kesan yang diingat itulah yang dinamakan Hume `gagasan'. Bedanya
yaitu bahwa kesan itu lebih kuat dan lebih hidup daripada ingatan
reflektif tentang kesan ini . Dapat kamu katakan bahwa perasaan
itu yaitu yang asli dan bahwa gagasan, atau refleksi, hanyalah tiruan
yang samar-samar. Kesan itulah yang merupakan penyebab langsung
dari gagasan yang tersimpan di dalam pikiran."
"Aku dapat mengikuti Anda—sejauh ini."
"Hume, menekankan lebih jauh bahwa kesan maupun gagasan bisa
sederhana dan juga bisa rumit. Kamu ingat kita membicarakan apel
dalam kaitan dengan Locke. Pengalaman langsung dengan apel itu
merupakan contoh dari kesan yang rumit.
"Maaf menyela, tapi apakah ini penting sekali?"
"Penting? Mengapa kamu ragu? Meskipun para filosof mungkin
sangat disibukkan oleh sejumlah masalah yang dibuat-buat, kamu
tidak boleh mengabaikan susunan dari suatu argumen. Hume mungkin
setuju dengan Descartes bahwa sangatlah penting menyusun suatu
proses pemikiran sejak dari dasar."
"Oke, oke."
"Maksud Hume yaitu bahwa kita kadang-kadang membentuk
gagasan-gagasan kompleks yang tidak berkaitan dengan objek yang
ada di dunia fisik. Kita telah membicarakan para malaikat.
Sebelumnya kita membahas buaya berkepala gajah. Contoh lain
yaitu Pegasus, seekor kuda bersayap. Dalam semua kasus ini, kita
harus mengakui bahwa pikiran telah melakukan tugas yang baik
dengan memotong-motong dan menyambung-nyambung kembali
semua potongan itu. Masing-masing unsur sebelumnya telah
ditangkap oleh indra, dan memasuki panggung pikiran dalam bentuk
sebuah `kesan' yang nyata. Tidak ada yang benar-benar diciptakan
oleh pikiran. Pikiran menyatukan segala sesuatunya dan menyusun
`gagasan-gagasan' yang salah."
"Ya, aku mengerti. Itu memang penting."
"Baiklah kalau begitu. Hume ingin menyelidiki setiap gagasan
untuk mengetahui apakah gagasan ini disusun dengan cara yang
tidak berkaitan dengan realitas. Dia bertanya. Dari kesan mana
asalnya gagasan ini? Pertama-tama dia harus menemukan `gagasan-
gagasan tunggal' mana yang dapat membentuk suatu gagasan
kompleks. Ini memberinya suatu metode kritis yang dapat digunakan
untuk menganalisis gagasan-gagasan kita, dan dengan demikian
memungkinkannya untuk merapikan pikiran-pikiran dan pendapat-
pendapat kita."
"Apakah Anda punya satu atau dua contoh?"
"Di masa hidup Hume, banyak orang yang mempunyai gagasan
sangat jelas mengenai `surga' atau `Jerusalem Baru'. Kamu ingat
bagaimana Descartes menyatakan bahwa gagasan-gagasan yang `jelas
dan terang' dengan sendirinya dapat menjadi jaminan bahwa gagasan
itu berkaitan dengan sesuatu yang benar-benar ada?"
"Aku sudah katakan bahwa aku tidak mudah lupa."
"Kita akan segera menyadari bahwa gagasan kita mengenai `surga'
tersusun dari banyak sekali unsur. Surga itu terbuat dari `gerbang-
gerbang mutiara', `jalan-jalan dari emas', `para malaikat' yang sangat
banyak dan seterusnya dan seterusnya. Dan kita tetap belum
memecahkan semuanya menjadi unsur-unsur tunggal, sebab gerbang-
gerbang mutiara, jalan-jalan dari emas, dan para malaikat itu sendiri
semuanya merupakan gagasan kompleks. Setelah kita mengetahui
bahwa gagasan kita mengenai surga itu terdiri dari unsur-unsur
tunggal seperti `mutiara', `gerbang', `jalan', `emas`, sosok berpakaian
putih', dan `sayap,' barulah kita bertanya pada diri sendiri apakah kita
benar-benar mempunyai `kesan-kesan sederhana' semacam itu."
"Kita punya. Tapi kita memotong-motong dan menyambung-
nyambung kembali semua `kesan sederhana' ini menjadi satu gagasan
baru."
"Itulah tepatnya yang kita lakukan. Sebab jika memang ada yang
kita lakukan saat kita membayangkan sesuatu, kita melakukannya
menggunakan gunting dan perekat. Tapi Hume menekankan bahwa
semua unsur yang kita satukan di dalam gagasan kita kadang-kadang
memasuki pikiran kita dalam bentuk `kesan-kesan sederhana'.
Seseorang yang belum pernah melihat emas tidak akan dapat
membayangkan jalan dari emas."
"Dia sangat pandai. Bagaimana dengan Descartes yang mempunyai
gagasan yang jelas dan terang mengenai Tuhan?"
"Hume mempunyai jawaban untuk itu juga. Katakanlah bahwa kita
membayangkan Tuhan sebagai `zat yang luar biasa cerdas, bijaksana,
dan baik'. Jadi kita mempunyai suatu `gagasan kompleks' yang terdiri
dari sesuatu yang luar biasa cerdas, sesuatu yang luar biasa
bijaksana, dan sesuatu yang luar biasa baik. Jika kita tidak pernah
mengenal kecerdasan, kebijaksanaan, dan kebaikan, kita tidak akan
mempunyai gagasan semacam itu tentang Tuhan. Gagasan kita
mengenai Tuhan mungkin juga bahwa dia seorang `Ayah yang keras
tapi adil',—yaitu, gabungan konsep yang terdiri dari `ayah',
`kekerasan', dan `keadilan', Banyak pengecam agama sejak zaman
Hume telah menyatakan bahwa gagasan semacam itu mengenai Tuhan
dapat dikaitkan dengan bagaimana kita menjalani pengalaman dengan
ayah kita saat kita masih kecil. Dikatakan bahwa gagasan tentang
seorang ayah mendorong timbulnya gagasan mengenai `ayah
surgawi'".
"Mungkin itu benar, tapi aku tidak pernah dapat menerima bahwa
Tuhan itu pasti pria. Kadang-kadang ibuku menyebut Tuhan `Godiva',
agar keadaan jadi seimbang."
"Bagaimanapun, Hume menentang semua pemikiran dan gagasan
yang tidak dapat dilacak kaitannya dengan persepsi indra. Dia
mengatakan bahwa dia ingin `menghapuskan seluruh omong-kosong
tak bermakna yang telah lama mendominasi pemikiran metafisika dan
membuatnya kehilangan nama baik."
"Tapi bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan
gagasan-gagasan kompleks tanpa berhenti untuk mempertanyakan
apakah semua itu sah. Misalnya, kita ambil masalah tentang `aku'—
atau ego. Ini merupakan dasar utama dari filsafat Descartes. Itulah
satu-satunya persepsi yang jelas dan terang yang menjadi landasan
seluruh filsafatnya."
"Kuharap Hume tidak berusaha untuk menyangkal bahwa aku
yaitu aku. Dia sinting kalau bicara begitu."
"Nyai girah , ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu melalui
pelajaran ini. Janganlah langsung mengambil kesimpulan."
"Maaf. Teruskan."
"Tidak, mengapa kamu tidak menggunakan metode Hume dan
menganalisis apa yang kamu rasakan sebagai `ego' mu."
"Pertama-tama aku harus mengetahui apakah ego itu merupakan
gagasan tunggal atau gagasan kompleks."
"Dan kesimpulan apa yang kamu ambil?"
"Aku harus mengakui bahwa aku merasa sangat kompleks. Aku
sangat mudah berubah pendirian, misalnya. Dan sulit membuat
keputusan tentang segala sesuatu. Dan aku dapat menyukai sekaligus
membenci orang yang sama."
"Dengan kata lain, `konsep ego' itu yaitu `gagasan kompleks'."
"Oke. Maka kini kukira aku harus mengetahui apakah aku
mempunyai `kesan kompleks' yang berkaitan dengan egoku. Dan
kukira aku mempunyainya. Sebenarnya, aku selalu memilikinya."
"Apakah itu mengganggu perasaanmu?"
"Aku sangat mudah berubah. Aku hari ini tidak sama dengan aku
saat berusia empat tahun. Temperamenku dan caraku memandang
diri sendiri berubah dari satu saat ke saat yang lain. Aku dapat
dengan tiba-tiba merasa seperti `seseorang yang baru'".
"Jadi perasaan mempunyai ego yang tak dapat diubah itu
merupakan konsepsi yang salah. Persepsi ego sesungguhnya
merupakan suatu rangkaian panjang kesan-kesan sederhana yang tidak
pernah kita alami secara serempak. Itu `tidak lain dari seikat atau
sekumpulan persepsi yang berbeda-beda, yang kejar-mengejar satu
sama lain dengan kecepatan tak terhitung, dan terus berubah dan
bergerak' sebagaimana Hume mengungkapkannya. Pikiran yaitu
`semacam panggung, di mana beberapa persepsi secara berurutan
menampilkan diri; lewat, lewat lagi, menyelinap, dan bercampur
dengan berbagai sikap dan keadaan'. Hume mengemukakan bahwa
kita tidak mempunyai `jati diri pribadi' yang menyokong kita di
bawah atau di balik persepsi-persepsi dan perasaan-perasaan yang
datang dan pergi ini. Seperti gambar di layar bioskop, berubah begitu
cepatnya sehingga kita tidak menyadari bahwa film itu terdiri dari
gambar-gambar tunggal. Dalam kenyataannya, gambar-gambar itu
tidak berkaitan. Film yaitu kumpulan gambaran sesaat."
David HUME
"Rasanya aku menyerah saja."
"Apakah itu berarti kamu melepaskan gagasan bahwa kamu
mempunyai ego yang tak berubah?"
"Kukira begitu."
"Sesaat yang lalu kamu memercayai sebaliknya. Harus
kutambahkan bahwa analisis Hume atas pikiran manusia dan
penolakannya terhadap ego yang tak berubah dikemukakan hampir
2.500 tahun sebelumnya di sisi dunia yang lain."
"Oleh siapa?"
" O l e h Buddha. Sungguh ajaib betapa miripnya keduanya
merumuskan gagasan mereka. Buddha memandang kehidupan sebagai
suatu rangkaian proses mental dan fisik tak terputus yang membuat
seseorang terus-menerus berubah. Bayi tidak sama dengan orang
dewasa; aku hari ini tidak sama dengan aku kemarin. Tidak ada
sesuatu yang dapat kunyatakan `ini milikku' kata Buddha, dan tidak
ada yang dapat kunyatakan `inilah aku'. Oleh karena itu, tidak ada
`Aku' atau ego yang tak berubah."
"Ya, itu khas Hume."
"Sebagai kelanjutan dari gagasan tentang ego yang tak berubah,
banyak rasionalis menganggap sudah sewajarnya manusia mempunyai
jiwa abadi."
"Apakah itu persepsi yang salah juga?"
BUDDHA
"Menurut Hume dan Buddha, ya. Tahukah kamu apa yang dikatakan
Buddha kepada para pengikutnya persis sebelum dia meninggal?"
"Tidak, bagaimana aku bisa tahu?"
"`Kehancuran itu melekat pada seluruh benda. Usahakan
keselamatanmu sendiri dengan penuh ketekunan.' Hume bisa jadi
pernah mengatakan hal yang sama. Atau Democritus, dalam hal itu.
Kita tahu benar bahwa Hume menolak setiap usaha untuk
membuktikan keabadian jiwa atau keberadaan Tuhan. Itu tidak berarti
bahwa dia menyingkirkan salah satunya, tapi membuktikan iman
keagamaan dengan akal manusia yaitu omong kosong rasionalistik,
pikirnya. Hume bukan seorang Kristen, dia juga bukan seorang ateis
yang gigih. Dia yaitu yang kita sebut seorang agnostik."
"Apa itu?"
"Seorang agnostik yaitu orang yang berpendapat bahwa
keberadaan Tuhan atau dewa tidak dapat dibuktikan kebenarannya
atau ketidakbenarannya. saat Hume menjelang ajal, seorang kawan
bertanya kepadanya apakah dia percaya pada kehidupan setelah
kematian. Dikatakan bahwa dia menjawab:
"Ada juga kemungkinan bahwa batu bara yang dimasukkan ke
dalam api tidak menyala."
"Aku mengerti."
"Jawabannya menampakkan ciri khas keterbukaan pikirannya yang
benar-benar mutlak. Dia hanya menerima apa yang dapat
ditangkapnya melalui indra-indranya. Dia menerima semua
kemungkinan lain. Dia tidak menolak keyakinan pada ajaran Kristen
dan juga tidak menolak kepercayaan pada ke ajaiban. Tapi keduanya
itu masalah iman dan bukan pengetahuan atau penalaran. Dapat kamu
katakan bahwa dalam filsafat Hume, kaitan terakhir antara iman dan
pengetahuan telah dipatahkan."
"Anda katakan bahwa dia tidak menyangkal keajaiban dapat
terjadi?"
"Itu tidak berarti bahwa dia memercayainya, apalagi
menyangkalnya. Dia mengemukakan kenyataan bahwa orang-orang
tampaknya merasakan kebutuhan akan apa yang sekarang kita sebut
kejadian-kejadian `adialami'. Masalahnya, semua keajaiban yang
pernah kamu dengar selalu terjadi di tempat yang sangat jauh atau di
masa yang telah lewat sangat lama. Sesungguhnya, Hume menyangkal
keajaiban hanya karena dia tidak pernah mengalaminya. Tapi dia juga
tidak mengalami bahwa hal itu tidak mungkin terjadi."
"Anda harus menjelaskan itu."
"Menurut Hume, keajaiban yaitu sesuatu yang bertentangan
dengan hukum alam. Tapi tidak benar jika kita katakan bahwa kita
telah merasakan hukum alam. Kita tahu bahwa sebuah batu jatuh ke
tanah jika kita melepaskannya, dan jika batu ini tidak jatuh—
nah, berarti kita mengalami itu."
"Aku akan mengatakan bahwa itu sebuah keajaiban—atau sesuatu
yang adialami."
"Jadi kamu percaya ada dua alam—yang `alamiah' dan yang
`adialamiah'. Tidakkah kamu kembali kepada omong kosong
rasionalistik?"
"Mungkin, tapi aku tetap beranggapan bahwa batu itu akan jatuh ke
tanah setiap kali aku melepaskannya."
"Mengapa?"
"Nah, sekarang Anda jadi menakutkan."
"Aku tidak menakutkan, Nyai girah . Tidak ada yang salah jika seorang
filosof mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kita mung kin akan
sampai pada inti filsafat Hume. Katakan padaku bagaimana kamu
bisa begitu yakin bahwa batu itu akan selalu jatuh ke tanah."
"Aku telah menyaksikannya terjadi berkali-kali sehingga aku
merasa mutlak percaya."
"Hume akan mengatakan bahwa kamu telah menyaksikan sebuah
batu jatuh ke tanah berkali-kali. Tapi kamu belum pernah mengalami
bahwa batu itu akan selalu jatuh. Sudah biasa dikatakan bahwa batu
jatuh ke tanah disebabkan oleh hukum gravitasi. Tapi kita belum
pernah menyaksikan hukum semacam itu. Kita hanya menyaksikan
bahwa benda-benda jatuh."
"Bukankah itu sama?"
"Tidak sepenuhnya. Kamu katakan bahwa kamu percaya batu akan
jatuh ke tanah sebab kamu telah melihatnya terjadi berkali-kali. Itulah
persisnya maksud Hume. Kamu telah terbiasa dengan satu hal yang
terjadi mengikuti hal lain sehingga kamu berharap hal yang sama akan
terjadi setiap kali kamu melepaskan sebuah batu. Dengan cara inilah
muncul konsep yang sering kita sebut `hukum alam yang tak
terpatahkan'."
"Apakah dia bersungguh-sungguh bahwa ada kemungkinan sebuah
batu tidak akan jatuh?"
"Barangkali dia sama yakinnya dengan kamu bahwa batu itu akan
jatuh setiap kali dia mencobanya. Tapi dia mengemukakan bahwa dia
belum pernah mengalami mengapa hal itu terjadi."
"Nah, kita menjauh dari bayi-bayi dan bunga-bunga lagi!"
"Tidak, sebaliknya. Kamu boleh mengambil dunia kanak-kanak
untuk membuktikan pandangan Hume. Menurutmu siapa yang akan
lebih terkejut jika melihat batu melayang-layang di atas tanah selama
satu atau dua jam—kamu atau seorang anak usia setahun?"
"Kukira, aku."
"Mengapa?"
"Sebab aku lebih tahu daripada anak itu betapa tidak alamiahnya
kejadian ini ."
"Dan mengapa si anak tidak mengira bahwa hal itu tidak alamiah?"
"Sebab dia belum mengetahui bagaimana perilaku alam."
"Atau barangkali karena alam belum menjadi kebiasaan baginya?"
"Aku tahu yang Anda tuju. Hume ingin orang-orang mempertajam
kesadaran mereka."
"Maka sekarang lakukan latihan berikut ini: misalkan kamu dan
seorang anak kecil pergi ke sebuah pertunjukan sulap, di mana
benda-benda dibuat melayang di udara. Yang mana di antara kalian
berdua yang paling senang?"
"Mungkin, akulah yang paling senang."
"Dan mengapa begitu?"
"Sebab aku akan tahu betapa mustahilnya semua itu."
"Jadi ... bagi si anak tidaklah terlalu menakjubkan melihat hukum
alam ditentang sebelum dia mengetahui hukum itu."
"Kukira itu benar."
"Dan kita masih berada di pusat filsafat pengalaman Hume. Dia
akan menambahkan bahwa anak itu belum menjadi budak harapan
akan kebiasaan; jadi pikirannya lebih terbuka daripada kamu. Aku
jadi bertanya-tanya apakah anak itu bukannya filosof yang lebih hebat
pula? Dia sama sekali tidak mempunyai pendapat yang telah
terbentuk sebelumnya. Dan itu, Nyai girah ku sayang, yaitu ciri utama
para filosof. Anak memandang dunia sebagaimana adanya, tanpa
menambahkan sesuatu pada segala sesuatu lebih dari yang
dialaminya."
"Setiap kali aku berprasangka aku merasa tidak enak."
"saat Hume membahas kekuatan kebiasaan, dia memusatkan
perhatian pada `hukum sebab-akibat'. Hukum ini menetapkan bahwa
segala sesuatu yang terjadi pasti ada sebabnya. Hume menggunakan
dua bola biliar untuk contoh. Jika kamu menggelindingkan sebuah
bola biliar hitam menabrak bola putih yang dalam keadaan diam, apa
yang akan terjadi dengan bola putih itu?"
"Jika bola hitam menghantam bola putih, bola putih akan mulai
bergerak."
"Begitu, dan mengapa itu terjadi?"
"Sebab bola putih terhantam oleh bola hitam."
"Jadi biasanya kita katakan bahwa pengaruh bola hitam merupakan
penyebab mulainya bola putih bergerak. Tapi sekarang ingat, kita
hanya dapat membicarakan apa yang telah sungguh-sungguh kita
alami."
"Aku telah sungguh-sungguh mengalaminya berkali-kali. Joanna
mempunyai meja biliar di lantai bawah rumahnya."
"Hume akan mengatakan bahwa satu-satunya yang pernah kamu
lihat yaitu bahwa bola putih mulai menggelinding melintasi meja.
Kamu belum pernah mengetahui penyebab aktual dari mulai
menggelindingnya bola ini . Kamu telah mengetahui bahwa satu
kejadian datang setelah yang lain, tapi kamu belum pernah
mengetahui bahwa kejadian yang lain itu terjadi disebabkan oleh
kejadian yang pertama."
"Bukankah itu soal kecil?"
"Tidak, ini sangat penting. Hume menekankan bahwa harapan agar
satu hal mengikuti hal yang lain tidak melekat pada hal-hal itu
sendiri, melainkan pada pikiran kita. Dan harapan, seperti kita tahu,
dikaitkan dengan kebiasaan. Kembali kepada si anak lagi, dia tidak
akan menatap takjub seandainya pada waktu satu bola biliar
menghantam bola lainnya, keduanya tetap tidak bergerak. Jika kita
berbicara tentang `hukum alam' atau `sebab-akibat'. sesungguhnya kita
sedang membicarakan apa yang kita harapkan, dan bukannya apa yang
`masuk akal'. Hukum alam itu bukan masalah masuk akal atau tidak
masuk akal. hukum alam ya hukum alam. Harapan bahwa bola biliar
putih akan bergerak jika dihantam bola biliar hitam karenanya bukan
merupakan sifat yang melekat. Kita tidak dilahirkan dengan
seperangkat harapan tentang seperti apa dunia itu atau bagaimana
tingkah laku benda-benda di dunia. Dunia itu ada sebagaimana
adanya, dan itulah yang kita ketahui."
"Aku mulai merasa bahwa kita akan keluar jalur lagi."
"Tidak jika harapan kita menyebabkan kita langsung menarik
kesimpulan. Hume tidak menyangkal keberadaan `hukum alam' yang
tak terpatahkan, tapi dia berpendapat bahwa karena kita tidak dalam
posisi untuk mengalami hukum alam itu sendiri, kita dapat dengan
mudah sampai pada kesimpulan yang salah."
"Seperti apa?"
"Yah, karena aku pernah melihat sekumpulan kuda hitam, tidak
berarti bahwa semua kuda itu berwarna hitam."
"Tidak, tentu saja tidak."
"Dan meskipun aku hanya pernah melihat burung gagak hitam
sepanjang hidupku, bukan berarti bahwa burung gagak putih itu tidak
ada. Bagi seorang filosof atau seorang ilmuwan yaitu penting untuk
tidak menyangkal kemungkinan untuk menemukan burung gagak putih.
Kamu boleh mengatakan bahwa memburu `burung gagak putih'
merupakan tugas utama ilmu pengetahuan."
"Ya, aku mengerti."
"Dalam masalah sebab dan akibat, mungkin banyak orang yang
membayangkan bahwa kilat itu penyebab datangnya guntur sebab
guntur datang setelah kilat. Contoh ini sesungguhnya tidak terlalu jauh
beda dengan bola-bola biliar. Tapi apakah kilat itu penyebab
datangnya guntur?"
"Tidak begitu, sebab sebenarnya keduanya terjadi pada saat yang
sama."
"Baik kilat maupun guntur disebabkan oleh muatan listrik. Maka
dalam kenyataannya, faktor ketigalah yang menyebabkannya."
"Benar."
"Seorang empirisis dari abad kita sekarang ini, Bertrand Russell,
pernah mengemukakan sebuah contoh yang lebih aneh lagi. Seekor
ayam yang setiap hari mengalami mendapatkan makanan saat istri
petani mendatangi kandang ayam akhirnya akan sampai pada
kesimpulan bahwa ada hubungan kausal antara mendekatnya si istri
petani dan ditaruhnya makanan ke dalam mangkuknya."
"Tapi suatu hari, ayam itu tidak mendapatkan makanannya?"
"Tidak, suatu hari istri petani itu datang dan memotong leher ayam
itu."
"Iiih, mengerikan!"
"Kenyataan bahwa satu hal mengikuti yang lain karenanya tidak
selalu berarti bahwa ada hubungan kausal. Salah satu perhatian utama
filsafat yaitu mengingatkan orang-orang agar tidak terburu-buru
mengambil kesimpulan. Sesungguhnya itu dapat mendorong timbulnya
berbagai bentuk takhayul."
"Bagaimana bisa?"
"Kamu melihat seekor kucing hitam melintasi jalan. Kemudian
kamu jatuh dan lenganmu patah. Tapi itu bukan berarti bahwa ada
hubungan kausal antara kedua kejadian ini . Dalam ilmu
pengetahuan, penting sekali untuk tidak terburu-buru menarik
kesimpulan. Misalnya, kenyataan bahwa banyak orang akan menjadi
sehat setelah menelan obat tertentu tidak selalu berarti bahwa obat
itulah yang menyembuhkan mereka. Itulah sebabnya harus dibentuk
kelompok kontrol pasien yang mengira bahwa mereka juga diberi
obat yang sama ini, padahal dalam kenyataannya mereka hanya diberi
tepung dan air. Jika pasien-pasien ini juga menjadi sembuh, pasti ada
faktor ketiga—misalnya kepercayaan bahwa obat itu telah bekerja,
dan telah menyembuhkan mereka."
"Kukira aku telah mulai mengerti apa empirisisme itu."
"Hume juga memberontak melawan pemikiran rasionalis dalam
bidang etika. Kaum rasionalis selalu beranggapan bahwa kemampuan
untuk membedakan antara benar dan salah itu sudah melekat pada
akal manusia. Kita telah menemukan gagasan tentang apa yang
disebut hak alamiah ini pada banyak filosof sejak Socrates hingga
Locke. Tapi menurut Hume, bukan akal yang menentukan apa yang
kita katakan dan kita lakukan."
"Kalau demikian, apakah itu?"
"Itu yaitu perasaan. Jika kamu memutuskan untuk menolong
seseorang yang sedang memerlukan pertolongan, kamu
melakukannya karena dorongan perasaanmu, bukan akalmu."
"Bagaimana jika aku tidak mau menolong?"
"Itu pun menyangkut masalah perasaan. Tidak dapat dikatakan
masuk akal atau tidak masuk akal jika kita tidak mau menolong
seseorang yang memerlukan , tapi itu kedengarannya kejam."
"Tapi pasti ada batasnya. Setiap orang tahu membunuh itu salah."
"Menurut Hume, setiap orang mempunyai perasaan menyangkut
kesejahteraan orang lain. Jadi kita semua mempunyai kemampuan
untuk merasa terharu. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan akal."
"Aku tidak tahu apakah aku setuju."
"Tidak selalu salah untuk menyingkirkan orang lain, Nyai girah . Jika
kamu ingin mencapai satu atau lain hal, sebenarnya itu merupakan
gagasan yang sangat baik."
"Hei, tunggu sebentar! Aku protes!"
"Mungkin kamu bisa mencoba untuk menjelaskan mengapa kita
harus membunuh seseorang yang selalu mengganggu."
"Orang itu ingin hidup juga. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak
membunuhnya."
"Apakah itu alasan yang logis?"
"Aku tidak tahu."
"Yang kamu lakukan yaitu menarik kesimpulan dari sebuah
kalimat deskriptif—`Orang itu ingin hidup juga'—hingga kalimat
normatif: `Oleh karena itu, kita hendaknya tidak membunuhnya.' Dari
sudut pandang akal, ini suatu omong kosong. Kamu juga bisa
mengatakan `Ada banyak orang yang menggelapkan pajak mereka,
karena itu aku harus menggelapkan pajakku juga'. Hume mengatakan
bahwa kita tidak pernah dapat menarik kesimpulan dari kalimat
berita menjadi kalimat perintah. Sekalipun demikian, ini sudah sangat
umum dilakukan, juga dalam artikel-artikel di surat kabar, program-
program partai politik, dan pidato-pidato. Maukah kamu mendengar
contoh lain?"
"Silakan."
"Semakin banyak orang ingin bepergian lewat udara. Oleh karena
itu, harus dibangun lebih banyak bandar udara.' Apakah kamu kira
kesimpulan itu tepat?"
"Tidak. Itu omong kosong. Kita harus memikirkan lingkungan.
Kukira kita harus membangun lebih banyak jalan kereta api."
"Atau dikatakan oleh mereka: Perkembangan ladang-ladang
minyak-baru akan meningkatkan standar hidup penduduk sebanyak
sepuluh persen. Oleh karena itu, kita harus mengembangkan ladang-
ladang minyak baru secepat mungkin."
"Jelas tidak. Lagi-lagi kita harus memikirkan lingkungan. Dan
bagaimanapun, standar hidup di Norwegia sudah cukup tinggi."
"Kadang-kadang dikatakan bahwa `undang-undang ini telah
diloloskan oleh Senat, karena itu seluruh warga negara harus
mematuhinya'. Tapi sering kali mematuhi undang-undang semacam itu
bertentangan dengan keyakinan rakyat yang paling dalam."
"Ya, aku mengerti itu."
"Maka kita pastikan bahwa kita tidak dapat menggunakan akal
sebagai ukuran bagi cara kita seharusnya bertindak, Bertindak secara
bertanggung jawab bukan berarti menguatkan akal kita, melainkan
memperdalam perasaan kita demi kesejahteraan orang lain. `Tidak
bertentangan dengan akal jika aku lebih suka menghancurkan seluruh
dunia daripada melukai jari tanganku,' kata Hume."
"Itu penegasan yang sangat mengerikan."
"Mungkin akan lebih mengerikan jika kamu mau melihat contoh-
contoh lain. Kamu tahu bahwa kaum Nazi membunuh jutaan orang
Yahudi. Akankah kamu katakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan
penalaran Nazi, atau akankah kamu katakan ada sesuatu yang salah
dengan kehidupan emosional mereka?"
"Jelas ada sesuatu yang salah dengan perasaan mereka."
"Banyak di antara mereka yang sangat jernih pikirannya. Bukan hal
yang luar biasa jika kita dapat menemukan perhitungan dingin di
balik keputusan-keputusan yang paling tidak berperasaan. Banyak di
antara kaum Nazi itu yang dihukum setelah perang, tapi mereka bukan
dihukum karena bertindak `tidak masuk akal'. Mereka dihukum karena
telah menjadi pembunuh yang sangat keji. Bisa jadi orang yang tidak
mempunyai pikiran waras dibebaskan dari kejahatan mereka. Kita
katakan bahwa mereka `tidak bertanggungjawab terhadap tindakan-
tindakan mereka'. Tidak ada orang yang pernah dibebaskan dari
kejahatannya karena tidak berperasaan."
"Kuharap tidak."
"Tapi kita tidak perlu terpaku pada contoh-contoh yang paling
fantastis. Jika bencana banjir mengakibatkan jutaan orang kehilangan
tempat berteduh, perasaan kitalah yang menentukan apakah kita akan
datang untuk membantu mereka. Jika kita tidak berperasaan, dan
menyerahkan seluruh keputusan pada `akal yang dingin', kita mungkin
akan beranggapan bahwa sudah sepatutnya jutaan orang mati di dunia
yang telah terancam kelebihan penduduk ini."
"Aku bisa marah jika Anda berpendapat begitu."
"Dan ketahuilah bahwa bukan akalmu yang marah."
"Oke, aku mengerti."[]
Berkeley
***
... seperti planet yang berputar mengelilingi matahari yang
membara ...
ALBERTO BERJALAN menuju jendela yang menghadap kota.
Nyai girah mengikutinya. saat mereka sedang menatap ke luar ke arah
rumah-rumah tua, sebuah pesawat terbang kecil melayang di atas
puncak-puncak atap. Pada ekornya terpasang sebuah panji-panji
panjang yang diduga Nyai girah iklan suatu produk atau pengumuman
peristiwa setempat, mungkin sebuah konser musik rock. Tapi saat
pesawat itu mendekat dan berbelok, dia melihat pesan yang sama
sekali lain: SELAMAT ULANG TAHUN, count dracula !
"Pendobrak pintu," itulah satu-satunya komentar Alberto.
Awan hitam tebal dari bukit-bukit di selatan kini mulai terkumpul
di atas kota. Pesawat terbang kecil itu lenyap ditelan gumpalan
kelabu itu.
"Aku khawatir akan terjadi badai," kata Alberto.
"Kalau begitu aku akan pulang naik bus."
"Aku hanya berharap mayor itu tidak berada di balik ini juga."
"Dia bukan Tuhan Yang Mahakuasa, bukan?"
Alberto tidak menyahut. Dia berjalan melintasi ruangan dan duduk
lagi di dekat meja kopi.
George BERKELEY
"Kita harus membicarakan Berkeley," dia berkata setelah sesaat
berlalu.
Nyai girah telah kembali ke tempatnya. Dia menggigit-gigit kukunya.
"George Berkeley yaitu seorang uskup Irlandia yang hidup pada
1685 hingga 1753," Alberto memulai. Ada keheningan panjang.
"Berkeley yaitu seorang uskup Irlandia ..." Nyai girah mendesak.
"Tapi dia juga seorang filosof ..."
"Ya?"
"Dia merasa bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan mutakhir
merupakan ancaman bagi cara hidup Kristen, bahwa materialisme
yang menyusup ke segala bidang, tanpa kecuali, mendatangkan
ancaman bagi iman Kristen kepada Tuhan sebagai pencipta dan
pemelihara seluruh alam."
"Dia berpikir begitu?"
"Tapi Berkeley juga tokoh empiris yang paling konsisten."
"Dia percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui tentang dunia
lebih banyak daripada yang dapat kita tangkap melalui indra?"
"Lebih dari itu. Berkeley menyatakan bahwa benda-benda duniawi
itu memang seperti yang kita lihat, tapi mereka itu bukan `benda-
benda'".
"Anda harus menjelaskan itu."
"Kamu ingat bahwa Locke mengatakan kita tidak dapat membuat
pernyataan mengenai `kualitas sekunder' dari benda-benda. Kita tidak
dapat mengatakan bahwa apel itu hijau dan asam. Kita hanya dapat
mengatakan bahwa kita melihatnya demikian. Tapi Locke juga
mengatakan bahwa `kualitas primer' seperti kepadatan, gaya tarik,
dan berat benar-benar dimiliki oleh realitas lahiriah di sekeliling
kita. Realitas lahiriah, sesungguhnya, memiliki substansi material."
"Aku ingat itu, dan kukira pembagian benda-benda oleh Locke itu
penting."
"Ya, Nyai girah , kalau saja itu sudah mencakup semuanya."
"Teruskan."
"Locke percaya—sebagaimana Descartes dan Spinoza—bahwa
dunia material yaitu realitas."
"Ya?"
"Itulah tepatnya yang dipertanyakan Berkeley, dan dia
melakukannya dengan logika empirisisme. Dia berkata bahwa yang
ada hanyalah yang dapat kita lihat. Tapi kita tidak dapat melihat
`material' atau `materi'. Kita tidak melihat benda-benda sebagai
objek-objek nyata. Beranggapan bahwa apa yang kita lihat
mempunyai `substansi' sendiri berarti terburu-buru menarik
kesimpulan. Kita sama sekali tidak mempunyai pengalaman yang
dapat menjadi dasar pernyataan semacam itu."
"Sungguh tolol. Lihat!" Nyai girah memukulkan tinjunya keras-keras
pada meja. "Aduh," katanya. "Tidakkah itu membuktikan bahwa meja
ini benar-benar sebuah meja, bersifat material dan berupa materi?"
"Bagaimana rasanya?"
"Aku merasakan sesuatu yang keras."
"Kamu mendapatkan perasaan akan sesuatu yang keras, tapi kamu
tidak merasakan materi aktual dalam meja itu. Dengan cara yang
sama, kamu dapat bermimpi bahwa kamu sedang memukul sesuatu
yang keras, tapi tidak ada sesuatu yang keras dalam mimpi, bukan?"
"Tidak, tidak dalam mimpi."
"Seseorang juga dapat dihipnotis untuk `merasakan' sesuatu
seperti hangat dan dingin, belaian atau pukulan."
"Tapi jika meja itu tidak benar-benar keras, mengapa aku
merasakannya?"
"Berkeley percaya pada `ruh'. Dia beranggapan bahwa semua
gagasan kita mempunyai penyebab di luar kesadaran kita, tapi
penyebab ini tidak bersifat material, melainkan spiritual."
Nyai girah telah mulai menggigit-gigit kukunya lagi.
Alberto melanjutkan: "Menurut Berkeley, jiwaku sendiri dapat
menjadi penyebab gagasan-gagasanku sendiri—seperti saat aku
bermimpi—tapi hanya kehendak atau ruh lainlah yang dapat menjadi
penyebab gagasan-gagasan yang membentuk dunia `jasmaniah'.
Segala sesuatu disebabkan oleh ruh itu yang merupakan penyebab
`segala sesuatu di dalam segala sesuatu' dan yang `membentuk segala
sesuatu', katanya."
"`Ruh' apa yang sedang dibicarakannya?"
"Berkeley tentu saja memikirkan Tuhan. Dia bilang `kita dapat
mengatakan bahwa keberadaan Tuhan dapat di lihat jauh lebih jelas
daripada keberadaan manusia',"
"Tidakkah pasti bahwa kita ada?"
"Ya dan tidak, segala sesuatu yang kita lihat dan kita rasakan
yaitu `akibat kekuasaan Tuhan', kata Berkeley. Sebab, Tuhan `hadir
dekat sekali di dalam kesadaran kita, yang menyebabkan
melimpahnya gagasan-gagasan dan persepsi-persepsi yang terus-
menerus kita ikuti'. Seluruh dunia di sekeliling kita dan seluruh
kehidupan kita ada dalam diri Tuhan. Dialah satu-satunya penyebab
dari segala sesuatu yang ada. Kita ada hanya di dalam pikiran
Tuhan."
"Aku bingung: itu ungkapan yang paling halus yang bisa
kuutarakan."
"Jadi `ada atau tiada' bukanlah satu-satunya pertanyaan. Pertanyaan
lainnya yaitu siapa kita ini. Apakah kita benar-benar manusia yang
terdiri dari daging dan darah? Apakah dunia kita terdiri dari benda-
benda nyata—atau apakah kita dikelilingi oleh pikiran?"
Nyai girah terus menggigiti kukunya. Alberto melanjutkan: "Realitas
material bukanlah satu-satunya yang dipertanyakan Berkeley. Dia
juga mempertanyakan apakah `waktu' dan `ruang' mempunyai
keberadaan mutlak atau mandiri. Persepsi kita sendiri mengenai
waktu dan ruang dapat juga berupa khayalan pikiran semata-mata.
Satu atau dua minggu bagi kita tidak harus sama dengan satu atau dua
minggu bagi Tuhan ..."
"Anda katakan bahwa bagi Berkeley, ruh ini, yang didalamnya
segala sesuatu berada, yaitu Tuhan."
"Ya, kukira begitu. Tapi bagi kita ..."
"Kita?"
"Bagi kita—bagimu dan bagiku—`kehendak atau ruh' yang
merupakan `penyebab dari segala sesuatu di dalam sesuatu' ini bisa
jadi yaitu ayah count dracula ."
Mata Nyai girah membelalak penuh ketidakpercayaan.Namun pada
saat yang sama, suatu kesadaran mulai timbul dalam dirinya.
"Begitukah menurut Anda?"
"Aku tidak dapat melihat kemungkinan lain. Inilah barang kali satu-
satunya penjelasan yang masuk akal bagi segala sesuatu yang telah
terjadi pada kita. Semua kartu pos dan tanda-tanda yang muncul di
sana-sini ... Hermes berbicara ... keselip lidah tanpa sengaja yang
terjadi pada diriku sendiri."
"Aku ..."
"Bayangkan aku memanggilmu Nyai girah , count dracula ! Padahal aku tahu
bahwa namamu bukanlah Nyai girah ."
"Apa yang Anda katakan? Kini Anda benar-benar kacau."
"Ya, pikiranku berputar-putar, anakku. Seperti planet yang
berputar mengelilingi matahari yang membara."
"Dan matahari itu yaitu ayah count dracula ?"
"Dapat kamu katakan begitu."
"Apakah Anda mengatakan bahwa dia telah menjadi seperti Tuhan
bagi kita?"
"Terus terang saja, ya. Dia mestinya malu pada dirinya sendiri!"
"Bagaimana dengan count dracula sendiri?"
"Dia seorang malaikat, Nyai girah ."
"Malaikat?"
"count dracula yaitu yang didatangi `ruh' ini."
"Apakah Anda mengatakan bahwa Albert Knag menceritakan
kepada count dracula tentang kita?"
"Atau menulis tentang kita. Sebab kita tidak dapat melihat materi
yang membentuk realitas kita, sejauh yang kita ketahui. Kita tidak
dapat mengetahui apakah realitas lahiriah kita terbuat dari gelombang
suara atau kertas dan tulisan. Menurut Berkeley, yang kita ketahui
hanyalah bahwa kita ini ruh."
"Dan count dracula yaitu malaikat ..."
"count dracula yaitu malaikat, ya. Biarlah itu menjadi kata terakhir.
Selamat ulang tahun, count dracula !"
Tiba-tiba, ruangan itu dipenuhi dengan cahaya kebiruan.
Beberapa saat kemudian, mereka mendengar gelegar guntur dan
seluruh rumah bergetar.
"Aku harus pergi," kata Nyai girah . Dia bangkit dan berlari menuju
pintu depan. saat dia keluar, Hermes terbangun dari tidur siangnya
di ruang masuk. Rasanya Nyai girah mendengar anjing itu berkata,
"Sampai bertemu lagi, count dracula ."
Nyai girah bergegas menuruni tangga dan berlari ke jalan. Jalan itu
kosong. Dan kini hujan turun lebat sekali. Satu atau dua mobil
membelah curahan air yang deras itu, tapi tidak terlihat bus sama
sekali. Nyai girah berlari melintasi Main Square dan menuju kota.
Sementara dia berlari, satu pikiran terus berputar-putar di kepalanya:
"Besok yaitu hari ulang tahunku. Bukankah sangat menyakitkan
menyadari bahwa hidup hanyalah mimpi sehari sebelum hari ulang
tahunmu yang kelima belas? Itu seperti mimpi memenangi uang satu
juta dan kemudian terbangun tepat sebelum kamu menerima uang itu."
Nyai girah berlari melintasi lapangan bermain. Beberapa menit
kemudian, dia melihat seseorang berlari mendatanginya. Itu yaitu
ibunya. Langit berkali-kali di hantam halilintar. saat mereka
bertemu, ibu Nyai girah memeluknya.
"Apa yang sedang menimpa kita, Gadis kecil?"
"Aku tidak tahu." Nyai girah tersedu. "Ini seperti mimpi buruk."[]
Bjerkely
***
... sebuah cermin sihir kuno yang dibeli Nenek-buyut dari
seorang wanita Gipsi ...
count dracula MOLLER Knag terbangun di kamar loteng rumah kapten
tua di luar Lillesand. Dia melihat selintas ke arah jam. Kini baru jam
enam, tapi langit sudah terang. Cahaya matahari pagi menerangi
kamar itu.
Dia turun dari tempat tidur dan pergi ke jendela. Di tengah jalan,
dia berhenti di dekat meja dan menyobek satu halaman kalendernya.
Kamis, 14 Juni 1990. Dia meremas halaman kertas itu dan
melemparnya ke keranjang sampah.
Jumat, 15 Juni 1990, bunyi kalender itu sekarang, berkilau ke
arahnya. Sejak Januari lalu, dia telah menuliskan "ulang tahun ke-15"
di halaman ini. Dia merasa benar-benar istimewa mencapai usia 15
tahun pada tanggal lima belas. Ini tidak akan pernah terjadi lagi.
Lima belas! Bukankah ini hari pertama dalam kehidupannya
sebagai orang dewasa? Dia tidak bisa kembali begitu saja ke tempat
tidur. Lagi pula, itu yaitu hari terakhir sekolah sebelum liburan
musim panas. Murid-murid harus datang ke gereja pada jam satu.
Dan lebih-Iebih lagi, seminggu lagi Ayah sudah akan tiba dari
Lebanon. Dia telah berjanji akan ada di rumah pada pertengahan
musim panas.
count dracula berdiri di dekat jendela dan memandang ke luar ke arah
taman, lalu turun ke dok di belakang rumah perahu merah yang kecil
itu. Perahu motor belum dikeluarkan selama musim panas, tapi
perahu dayung tua itu telah diikatkan ke dok. Dia harus ingat untuk
mengeluarkan air darinya setelah turun hujan lebat semalam.
saat dia sedang menatap ke luar ke arah teluk kecil, dia ingat
saat, sebagai seorang gadis kecil berusia enam tahun, dia menaiki
perahu dayung dan mendayung menuju teluk sendirian. Dia melompat
keluar dan hanya itulah yang dapat dilakukannya untuk dapat
mencapai tepian air. Basah kuyup, dia berusaha melangkah
menembus pagar belukar yang lebat. saat dia berdiri di taman
menatap rumah, ibunya berlari mendatanginya. Perahu dan kedua
dayung itu dibiarkan mengambang di teluk. Dia masih memimpikan
perahu itu kadang-kadang, hanyut sendiri, dibiarkan hilang. Itu
merupakan pengalaman yang memalukan.
Taman itu tidak terlalu subur dan juga tidak terlalu terurus. Taman
itu luas dan menjadi milik count dracula . Sebuah pohon apel yang sudah
dimakan cuaca dan beberapa semak buah-buahan yang praktis sudah
gundul tetap berdiri merana di hantam badai musim dingin yang
hebat. Seluncuran tua berdiri di lapangan rumput antara bebatuan
granit dan belukar. Kelihatannya sangat menyedihkan di bawah sinar
pagi yang terang. Dan semakin menyedihkan karena bantal-bantalnya
sudah dibawa masuk. Ibu mungkin telah bergegas larut malam
kemarin dan menyelamatkan bantal-bantal ini dari kucuran air
hujan.
Ada pohon birkin (bjorketreer) di mana-mana di sekeliling
taman yang luas itu, separuh melindunginya, paling tidak, dari hujan
badai paling buruk yang turun mendadak. Karena adanya pohon-
pohon itulah, rumah ini dinamakan Bjerkely lebih dari seratus
tahun yang lalu.
Kakek-buyut count dracula telah membangun rumah itu beberapa tahun
sebelum pergantian abad ini. Dia yaitu seorang kapten di salah satu
kapal layar bertiang tinggi. Ada ban
