nyi girah 13


 ngan apa

yang biasanya kita anggap sebagai sisi gelap kehidupan, atau yang

kelam berkabut, gaib, dan mistis."

"Bagiku masa itu kedengarannya sungguh menarik. Siapakah para

tokoh Romantik ini?"

"Romantisisme terutama merupakan fenomena kota. Pada paruh

pertama abad terakhir, sesungguhnya, berkembang suatu kebudayaan

metropolitan di banyak bagian benua Eropa, utamanya di Jerman.

Tokoh-tokoh Romantik yang khas yaitu  para pemuda, biasanya

mahasiswa universitas, meskipun mereka tidak selalu menekuni

pelajaran mereka dengan serius. Jelas mereka memilih pendekatan

anti-kelas menengah terhadap kehidupan dan menganggap polisi atau

induk semang mereka sebagai orang-orang materialistis dan tak

berbudaya, misalnya, atau nyata-nyata sebagai musuh."

BACH

"Aku tidak akan pernah berani menyewakan kamar kepada seorang

Romantik!"

"Generasi pertama kaum Romantik yaitu  mereka yang masih

muda pada sekitar tahun 1800, dan sesungguhnya kita dapat menyebut

Gerakan Romantik sebagai pemberontakan pelajar pertama Eropa.

Kaum Romantik mirip dengan kaum hippies seratus lima puluh tahun

kemudian."

      "Maksud Anda generasi bunga yang suka berambut panjang,

yang selalu memetik gitar dan menggelandang di mana-mana?"

"Ya. Pernah dikatakan bahwa `bermalas-malasan yaitu  cita-cita

seorang genius, dan kelambanan yaitu  kebajikan seorang Romantik'.

Menjadi kewajiban seorang Romantik untuk merasakan pengalaman

hidup—atau memimpikan dia lepas darinya. Urusan sehari-hari dapat

ditangani oleh orang-orang yang materialistis dan tak berbudaya itu."

"Byron yaitu  seorang penyair Romantik, bukan?"

"Ya, Byron maupun Shelley yaitu  penyair-penyair Romantik dari

apa yang disebut mazhab Setan. Byron, lebih-lebih, memberikan pada

Zaman Romantik tokoh idamannya, yaitu pahlawan gaya Byron—

tokoh yang aneh, pemurung, dan pemberontak—dalam kehidupan

maupun dalam kesenian. Byron sendiri penuh hasrat dan nafsu, dan

karena dia juga tampan, dia selalu dikelilingi oleh wanita-wanita

yang gaya. Gosip yang beredar menyatakan petualangan-petualangan

romantis yang dituIisnya dalam puisi-puisinya merupakan gambaran

kehidupannya sendiri, tapi meskipun dia menjalin banyak hubungan,

cinta sejati tetap tidak terjangkau dan selalu lepas dari harapannya

seperti bunga birunya Novalis. Novalis akhirnya bertunangan dengan

seorang gadis berusia empat belas tahun. Dia meninggal empat hari

setelah hari ulang tahunnya yang ke lima belas, tapi Novalis tetap

setia kepadanya sepanjang hidupnya yang singkat."

"Apakah Anda mengatakan gadis itu meninggal empat hari setelah

hari ulang tahunnya yang kelima belas?"

"Ya ..."

"Umurku lima belas tahun dan empat hari hari ini."

"Memang."

"Siapa namanya?"

"Namanya Nyai girah ."

"Apa?" 

"Ya, itu benar ..." 

"Anda membuatku takut. Mungkinkah ini suatu kebetulan?"

"Aku tidak tahu, Nyai girah . Tapi namanya memang Nyai girah ."

"Teruskan!"

"Novalis sendiri meninggal saat  umurnya baru dua puluh

sembilan tahun. Dia yaitu  salah seorang yang `mati muda'. Banyak

tokoh Romantik mati muda, biasanya karena penyakit TBC. Sebagian

lagi melakukan bunuh diri ..."

"Hiih!"

"Mereka yang hidup sampai tua biasanya sudah tidak romantis lagi

pada usia kira-kira tiga puluh tahun. Sebagian di antara mereka

menjadi orang kelas menengah dan konservatif."

"Mereka menyeberang ke pihak musuh, kalau begitu."

"Mungkin. Tapi kita membicarakan cinta romantis. Tema cinta

yang tak berbalas diperkenalkan sejak 1774 oleh Goethe dalam

novelnya The Sorrows of Young Werther. Buku itu diakhiri dengan si

pemuda Werther menembak dirinya sendiri saat  dia tidak dapat

memiliki wanita yang dicintainya ..."

"Apakah memang perlu melangkah sejauh itu?"

"Angka bunuh diri meningkat setelah diterbitkannya novel itu, dan

untuk sementara buku ini  dilarang di Denmark dan Norwegia.

Jadi, menjadi romantis itu bukannya tidak berbahaya. Di situ terlibat

emosi yang sangat kuat."

      "saat  Anda mengatakan `Romantis', yang saya pikirkan

yaitu  lukisan-lukisan pemandangan yang besar, dengan hutan yang

gelap dan alam yang liar dan keras ... terutama dengan kabut yang

berputar-putar."

"Ya, salah satu ciri Romantisisme yaitu  kerinduan akan alam dan

misteri alam. Dan seperti yang telah kukatakan tadi, itu bukan jenis

yang ada di daerah pedesaan. Kamu mungkin ingat Rousseau, yang

mulai memperkenalkan slogan `kembali ke alam'. Kaum Romantik

memopulerkan kembali slogan itu. Romantisisme terutama

menggambarkan reaksi terhadap alam raya mekanistik dalam

pandangan Pencerahan. Dikatakan bahwa Romantisisme menyiratkan

kebangkitan kembali dari kesadaran kosmik lama."

"Tolong jelaskan itu."

"Itu berarti memandang alam sebagai suatu keseluruhan; kaum

Romantis mencari jejak akar mereka bukan hanya pada Spinoza,

melainkan juga pada Plotinus dan para filosof Renaisans seperti

Jakob Bohme dan Giordano Bruno. Yang sama-sama dimiliki oleh

semua ahli pikir ini yaitu  bahwa mereka mengalami suatu `ego'

Ilahi di alam."

"Kalau begitu mereka yaitu  Panteis ..."

"Baik Descartes maupun Hume telah menarik garis tegas antara

ego dan realitas `yang diperluas'. Kant juga telah mengajarkan adanya

perbedaan jelas antara `aku' kognitif dan alam `dalam dirinya

sendiri'. Dikatakan oleh mereka bahwa alam tidak lebih dari satu

`aku' yang besar. Kaum Romantik juga menggunakan ungkapan `jiwa

dunia' atau `ruh dunia'."

"Aku mengerti."

"Filosof Romantik yang terkemuka yaitu  Schelling, yang hidup

dari 1775 hingga 1854. Dia ingin menyatukan pikiran dengan materi.

Seluruh alam—baik jiwa manusia maupun realitas fisik—merupakan

ungkapan dari satu yang Mutlak, atau ruh dunia, menurut

kepercayaannya."

"Ya, seperti juga Spinoza."

"Alam yaitu  ruh yang dapat dilihat, ruh yaitu  alam yang tidak

dapat dilihat, kata Schelling, sebab seseorang merasakan suatu `ruh

pembangun' di mana-mana di alam ini. Dia juga mengatakan bahwa

materi yaitu  kecerdasan yang tidur."

"Anda harus menjelaskan itu agak lebih jelas lagi."

"Schelling melihat `ruh dunia' di alam, tapi dia melihat `ruh dunia'

yang sama dalam pikiran manusia. Yang alamiah dan yang ruhaniah

sesungguhnya merupakan ungkapan dari hal yang sama."

"Ya, mengapa tidak?"

"Ruh dunia karenanya dapat dicari, baik di alam maupun dalam

pikiran manusia sendiri. Novalis karenanya dapat mengatakan `jalan

misteri itu mengarah ke dalam batin'. Dia menyatakan bahwa manusia

menyimpan seluruh alam raya itu dalam dirinya sendiri dan dapat

paling dekat menyentuh misteri itu dengan melangkah masuk ke dalam

dirinya sendiri."

"Itu yaitu  pemikiran yang sangat bagus."

"Bagi banyak orang Romantik, filsafat, telaah alam, dan puisi

membentuk suatu perpaduan. Duduk di lotengmu sambil menuliskan

sajak-sajak yang menggugah hati dan menyelidiki kehidupan tanam-

tanaman atau komposisi batuan hanyalah dua sisi dari mata uang yang

sama sebab alam itu bukan suatu mekanisme mati; ia yaitu  satu ruh

dunia yang hidup."

"Sepatah kata lagi dan kukira aku akan menjadi seorang

Romantik."

       "Naturalis kelahiran Norwegia Henrik Steffens—yang disebut

oleh Wergeland `daun salam Norwegia yang telah wafat' sebab dia

menetap di Jerman—pergi ke Copenhagen pada 1801 untuk memberi

kuliah tentang Romantisisme Jerman. Dia menunjukkan ciri Gerakan

Romantik dengan mengatakan, `Karena telah kelelahan dalam

perjuangan abadi untuk menemukan jalan menembus materi kasar,

kami memilih jalan lain dan berusaha untuk merengkuh yang tak

terbatas. Kami masuk ke dalam diri sendiri dan menciptakan suatu

dunia baru ..."'

"Bagaimana Anda bisa mengingat semua itu?"

"Sepele saja, Nak."

"Kalau begitu, teruskan."

"Schelling juga menyaksikan perkembangan alam dari tanah dan

batuan hingga pikiran manusia. Dia menarik perhatian pada transisi

lambat laun dari alam yang mati menjadi bentuk-bentuk kehidupan

yang lebih rumit. Sudah merupakan ciri khas dari pandangan

Romantik pada umumnya bahwa alam dianggap sebagai suatu

organisme, atau dengan kata lain, suatu kesatuan yang selalu

mengembangkan potensi-potensi bawaannya. Alam itu seperti bunga

yang membuka daun-daun dan kelopak-kelopak bunganya. Atau

seperti seorang penyair yang menuliskan puisinya."

"Tidakkah itu mengingatkan Anda pada Aristoteles?"

"Ya memang. Filsafat alam Romantik menggemakan nada

Aristoteles dan juga Neoplatonis. Aristoteles mempunyai pandangan

yang lebih organis menyangkut proses-proses alam di bandingkan

dengan kaum materialis mekanis ..."

"Ya, begitu pula menurutku ..."

"Kita menemukan gagasan-gagasan yang sama dalam bidang

sejarah. Seseorang yang nantinya mempunyai pengaruh penting

terhadap kaum Romantik yaitu  filosof sejarah Johann Gottfried

von Herder,  yang hidup dari 1744 hingga 1803. Dia percaya bahwa

sejarah itu ditandai oleh kesinambungan, evolusi, dan rancangan.

Kita katakan dia mempunyai pandangan yang `dinamis' mengenai

sejarah sebab dia menganggapnya sebagai suatu proses. Para filosof

Pencerahan seringkali mempunyai pandangan yang `statis' mengenai

sejarah. Bagi mereka, hanya ada satu alasan universal pada berbagai

periode. Herder menunjukkan bahwa setiap masa sejarah mempunyai

nilai hakikinya sendiri dan setiap bangsa mempunyai karakter atau

`jiwa'-nya sendiri. Pertanyaannya yaitu  apakah kita dapat

menempatkan diri dalam kebudayaan-kebudayaan lain."

"Jadi, sebagaimana kita harus menempatkan diri dalam situasi

orang lain agar dapat memahami mereka dengan lebih baik, kita pun

harus menempatkan diri dalam kebudayaan-kebudayaan lain agar

dapat memahami mereka pula."

"Itu dianggap sudah selayaknya sekarang ini. Tapi pada periode

Romantik, itu yaitu  suatu gagasan baru. Romantisisme membantu

menguatkan perasaan akan jati diri kebangsaan. Bukan kebetulan

bahwa perjuangan Norwegia untuk mencapai kemerdekaan

nasionalnya berkembang pada masa itu—yaitu tahun 1814."

"Aku mengerti."

"Karena Romantisisme telah melibatkan orientasi-orientasi baru di

dalam begitu banyak bidang, menjadi biasa bagi kita untuk

membedakan antara dua bentuk Romantisisme. Ada yang kita sebut

Romantisisme Universal; yang mengacu pada kaum Romantik yang

asyik menggeluti alam, jiwa dunia, dan genius kesenian.

Romantisisme yang pertama berkembang, terutama sekitar tahun

1800, di Jerman, di Kota Jena."

"Dan yang lain?"

     "Yang lainnya yaitu  yang disebut Romantisisme Nasional,

yang menjadi populer tidak lama kemudian, terutama di Kota

Heidelberg. Kaum Romantik Nasional terutama tertarik pada sejarah

`rakyat', bahasa `rakyat', dan kebudayaan `rakyat' pada umumnya. Dan

`rakyat' dipandang sebagai suatu organisme yang menunjukkan

potensi bawaan mereka—persis seperti alam dan sejarah."

"Katakan di mana kamu tinggal, dan aku akan mengatakan padamu

siapa kamu."

"Yang menyatukan kedua aspek Romantisisme itu pertama-tama

dan terutama yaitu  kata kunci `organisme'. Kaum Romantik

menganggap sebatang tanaman maupun sebuah bangsa sebagai suatu

organisme yang hidup. Sebuah karya puisi yaitu  juga organisme

yang hidup. Bahasa yaitu  organisme. Bahkan seluruh dunia fisik

dianggap sebagai satu organisme. Karena itu tidak ada pembagian

garis yang jelas antara Romantisisme Nasional dan Romantisisme

Universal. Ruh dunia sama-sama ada pada diri rakyat dan

kebudayaan rakyat sebagaimana pada alam dan seni."

"Aku mengerti."

"Herder menjadi perintis, dengan mengoleksi lagu-lagu rakyat dari

berbagai negeri dengan judul yang indah, Voices of People. Dia

bahkan menganggap cerita-cerita rakyat sebagai `bahasa ibu dari

r a kya t ' . Grimm Bersaudara dan yang lain-lainnya mulai

mengumpulkan lagu-lagu rakyat dan dongeng-dongeng di Heidelberg.

Kamu pasti mengenal Grimm's Fairy Tales."

"Oh tentu, Putih Salju dan Tujuh Orang Kerdil, Rumpelstiltskin,

Pangeran Katak, Hansel dan Gretel ..."

"Dan banyak lagi yang lain. Di Norwegia kita memiliki

Asbjornsen dan Moe, yang berkelana ke seluruh negeri

mengumpulkan `cerita-cerita rakyat sendiri'. Itu seperti memanen

buah lezat yang tiba-tiba diketahui sebagai buah yang baik dan

bergizi. Lagu-lagu rakyat dikumpulkan: bahasa Norwegia mulai

ditelaah secara ilmiah. Mitos-mitos dan hikayat-hikayat kuno dari

masa jahiliah ditemukan kembali, dan para komposer dari seluruh

Eropa mulai menggabungkan melodi-melodi rakyat ke dalam

komposisi-komposisi mereka dalam usaha untuk menjembatani

kesenjangan antara musik rakyat dan musik seni."

"Apakah musik seni itu?"

"Musik seni yaitu  musik yang disusun oleh seseorang tertentu,

seperti Beethoven. Musik rakyat tidak ditulis oleh seseorang tertentu,

ia berasal dari rakyat. Itulah sebabnya kita tidak tahu persis kapan

berbagai melodi rakyat digubah. Kita membedakan dengan cara yang

sama antara cerita rakyat dan cerita seni."

"Jadi cerita seni yaitu  ...?"

"Cerita yang ditulis oleh seorang pengarang, seperti Hans

Christian Andersen. Genre dongeng itu digali dengan penuh

semangat oleh kaum Romantik. Salah seorang tokoh Jerman dari

genre itu yaitu  E.T.A. Hoffmann."

"Aku pernah mendengar tentang Tales of Hoffmann."

"Dongeng yaitu  sastra ideal khas kaum Romantik—sebagaimana

bentuk seni khas dari periode Barok yaitu  teater. Itu memberi sang

penyair kesempatan penuh untuk menggali kreativitasnya sendiri."

"Dia dapat berperan sebagai Tuhan bagi suatu alam rekaan."

"Tepat. Dan inilah saat yang baik untuk menarik kesimpulan."

"Teruskan."

     "Para filosof Romantik memandang `jiwa dunia' sebagai `ego',

yang dalam keadaan yang kurang lebih seperti mimpi, menciptakan

segala sesuatu di dunia. Filosof  Fichte mengatakan bahwa alam

berasal dari suatu imajinasi bawah sadar yang lebih tinggi. Schelling

mengatakan dengan jelas bahwa dunia ada `dalam diri Tuhan'. Tuhan

mengetahui sebagian dari itu, dia percaya, tapi ada aspek-aspek alam

yang lain yang mewakili Tuhan yang tak dikenal. Sebab Tuhan juga

mempunyai sisi gelap."

"Pikiran itu menarik tapi juga menakutkan. Itu mengingatkanku

pada Berkeley."

"Hubungan antara seniman dan karyanya dipandang persis dengan

cara yang sama. Dongeng memberi penulisnya kebebasan untuk

memanfaatkan sepenuhnya `imajinasi pencipta alam raya'. Dan

bahkan tindakan kreatif itu sendiri tidak selalu merupakan kesadaran

sepenuhnya. Penulis dapat merasakan bahwa ceritanya sedang ditulis

oleh semacam kekuatan bawaan. Dia praktis berada dalam keadaan

tak sadarkan diri akibat hipnotis, sementara dia menulis."

"Bisakah dia melakukannya?"

"Ya, tapi kemudian dia akan menghancurkan ilusi itu dengan tiba-

tiba. Dia akan ikut campur di dalam cerita dan mengemukakan

komentar-komentar ironis kepada pembaca, sehingga pembaca,

setidak-tidaknya untuk sejenak, seperti diingatkan bahwa,

bagaimanapun, itu hanyalah sebuah cerita."

"Aku mengerti."

"Pada saat yang sama, penulis dapat mengingatkan pembacanya

bahwa dialah yang memanfaatkan alam raya rekaan. Bentuk ini

dinamakan `ironi romantik'. Henrik Ibsen, misalnya, membiarkan

salah satu tokoh dalam Peer Gynt mengatakan: `Orang tidak mungkin

mati di tengah-tengah Babak Lima'."

"Itu bagian yang sangat lucu, sungguh. Yang sebenarnya

dikatakannya yaitu  bahwa dia hanyalah seorang tokoh rekaan."

"Pernyataan itu juga demikian paradoks sehingga kita jelas dapat

menekankannya dengan satu bab baru."

"Apa yang Anda maksud dengan itu?"

"Oh, bukan apa-apa, Nyai girah . Tapi kita memang mengatakan bahwa

tunangan Novalis bernama Nyai girah , persis seperti kamu, dan bahwa

dia meninggal saat  berumur lima belas tahun empat hari ..."

"Anda membuat aku takut, tahu!"

Alberto duduk menatap Nyai girah  dengan wajah membatu. Lalu dia

berkata: "Tapi kamu tidak perlu khawatir bahwa kamu akan menemui

nasib yang sama seperti tunangan Novalis."

"Mengapa tidak?"

"Sebab masih ada beberapa bab lagi."

"Apa?"

"Aku katakan bahwa siapa pun yang membaca cerita tentang

Nyai girah  dan Alberto akan tahu secara intuitif bahwa masih ada

berhalaman-halaman cerita yang akan datang. Kita baru sampai

Romantisisme."

"Anda membuatku pusing."

"Sesungguhnya sang mayorlah yang berusaha membuat count dracula 

pusing. Dia tidak terlalu menyenangkan, bukan? Bab baru!"

Alberto belum Iagi selesai berbicara saat  seorang anak lelaki

datang berlari dari dalam hutan. Dia mengenakan serban di

kepalanya, dan membawa sebuah lampu minyak.

Nyai girah  menangkap lengan Alberto.

"Siapa itu?"

      Anak lelaki itu menjawab sendiri: "Namaku Aladdin dan aku

datang dari Lebanon."

Alberto melihat kepadanya dengan galak:

"Dan apa yang ada di lampumu?"

Anak lelaki itu meraba lampu, dan darinya keluar awan tebal yang

membentuk diri menjadi sosok seorang manusia. Dia mempunyai

janggut hitam seperti janggut Alberto dan mengenakan baret biru.

Sambil melayang-layang di atas lampu, dia berkata: "Dapatkah kamu

mendengarku, count dracula ? Kukira sudah terlambat untuk memberi ucapan

selamat ulang tahun lagi. Aku hanya ingin mengatakan bahwa

Bjerkely dan daerah pedesaan bagian selatan tampak seperti negeri

dongeng bagiku di sini di Lebanon. Aku akan menemuimu di sana

dalam beberapa hari ini."

Setelah mengatakan itu, sosok ini  kembali menjadi awan dan

tersedot masuk ke dalam lampu. Anak lelaki berserban itu mengepit

lampunya, lari ke dalam hutan, dan lenyap.

"Aku tidak percaya ini," kata Nyai girah .

"Sepele saja, anakku."

"Ruh dari lampu itu berbicara persis seperti ayah count dracula ."

"Itu karena ia memang ayah count dracula —dalam bentuk ruhnya."

"Tapi ..."

"Kamu maupun aku dan segala sesuatu di sekitar kita ini hidup jauh

di dalam pikiran sang mayor. Kini sudah larut malam hari Sabtu,  28

April, dan semua serdadu PBB sedang tidur di sekitar sang mayor,

yang, meskipun masih terjaga, sudah hampir tidur juga. Tapi dia

harus menyelesaikan buku yang akan diberikannya kepada count dracula 

sebagai hadiah ulang tahun kelima belas. Itulah sebabnya dia harus

bekerja, Nyai girah , itulah sebabnya orang malang itu hampir tidak

pernah dapat beristirahat."

"Aku menyerah."

"Bab baru!"

Nyai girah  dan Alberto duduk menatap ke seberang danau kecil itu.

Alberto tampaknya seperti dalam keadaan tidak sadar. Setelah

sesaat, Nyai girah  berusaha mengguncang bahunya.

"Apakah Anda sedang bermimpi?"

"Ya, dia ikut campur tangan secara langsung di sana.Paragraf

terakhir itu didiktekan olehnya hingga huruf yang terakhir. Dia

mestinya malu pada dirinya sendiri. Tapi kini dia telah

mengungkapkan dirinya dan datang secara terang-terangan. Kini kita

tahu bahwa kita menjalani kehidupan kita di dalam sebuah buku yang

akan dikirimkan oleh ayah count dracula  ke rumahnya sebagai hadiah ulang

tahun bagi count dracula . Kamu dengar apa yang kukatakan? Yah, itu

bukanlah `aku' yang mengatakannya."

"Jika apa yang Anda katakan itu benar, aku akan lari dari buku itu

dan mengambil jalanku sendiri."

"Itulah tepatnya yang sedang kurencanakan. Tapi sebelum hal itu

dapat terjadi, kita harus berusaha untuk berbicara dengan count dracula . Dia

membaca setiap kata yang kita ucapkan. Begitu kita berhasil keluar

dari sini akan jauh lebih sulit untuk menghubunginya. Itu berarti

bahwa kita harus merebut kesempatan itu sekarang."

"Apa yang akan kita katakan?"

"Kukira sang mayor sudah akan jatuh tertidur di atas mesin

ketiknya—meskipun jari-jarinya masih menari-menari dengan giat di

atas tombol-tombol hurufnya ..."

"Itu pikiran yang sangat mengerikan!"

       "Inilah saatnya saat  dia akan menuliskan sesuatu yang akan

disesalinya nanti. Dan dia tidak mempunyai cairan penghapus. Itu

bagian yang penting dari rencanaku. Semoga tidak ada orang yang

memberi cairan penghapus kepada sang mayor!"

"Dia tidak akan bisa memata-matai aku terus!"

"Aku ingin memanggil gadis malang itu di sini sekarang agar

memberontak melawan ayahnya sendiri. Dia mestinya malu

membiarkan dirinya disenangkan oleh keinginan ayahnya untuk

bermain dengan bayang-bayang. Kalau saja ayahnya ada di sini, kita

akan membiarkannya merasakan kemarahan kita!"

"Tapi dia tidak di sini."

"Dia di sini dalam ruh dan jiwanya, tapi dia juga tersembunyi

dengan aman di Lebanon sana. Segala sesuatu di sekitar kita ini

yaitu  ego sang mayor."

"Tapi dia itu lebih daripada yang dapat kita lihat di sini."

"Kita tidak lain dari bayang-bayang dalam jiwa sang mayor. Dan

tidak mudah bagi bayang-bayang untuk menyerang penggeraknya,

Nyai girah . Untuk itu dibutuhkan kecerdikan dan strategi. Tapi kita punya

kesempatan untuk memengaruhi count dracula . Hanya malaikat yang dapat

memberontak melawan Tuhan."

"Anda dapat meminta count dracula  untuk memberikan kepada ayahnya

sedikit pemikirannya pada saat dia datang. Dia dapat mengatakan

kepada ayahnya dia kejam. Dia dapat merusak perahunya—atau

setidak-tidaknya, mematikan lenteranya."

Alberto mengangguk. Lalu dia berkata: "Dia juga dapat lari

darinya. Itu jauh lebih mudah baginya daripada bagi kita. Dia dapat

meninggalkan rumah sang mayor dan tidak pernah kembali. Bukankah

itu akan cocok bagi seorang mayor yang bermain-main dengan

`imajinasi pencipta alam raya'-nya dengan mengorbankan kita?"

"Aku dapat membayangkannya. Sang mayor bepergian ke seluruh

dunia mencari-cari count dracula . Tapi count dracula  telah lenyap ditelan udara,

sebab dia tidak tahan hidup bersama seorang ayah yang

mempermainkan si tolol dengan mengorbankan Alberto dan Nyai girah ."

"Ya, itulah! Mempermainkan si tolol! Itulah yang aku maksudkan

dengan memanfaatkan kita sebagai hiburan ulang tahun. Tapi

sebaiknya dia berhati-hati terhadap kita, Nyai girah . Begitu juga count dracula !"

"Apa maksud Anda?"

"Apakah kamu merasa takut?"

"Tidak, selama tidak ada lagi jin yang keluar dari lampu."

"Cobalah bayangkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita

berlangsung dalam pikiran seseorang yang lain. "Kitalah pikiran itu.

Yang berarti bahwa kita tidak mempunyai jiwa, kita yaitu  jiwa

orang lain. Sejauh ini kita berada pada ranah filosofis yang telah kita

kenal. Berkeley maupun Schelling akan berdiri telinganya!"

"Dan?"

"Kini ada kemungkinan bahwa jiwa ini yaitu  ayah count dracula  Moller

Knag. Dia berada jauh di Lebanon sedang menulis sebuah buku

mengenai filsafat untuk ulang tahun putrinya yang kelima belas.

saat  count dracula  terbangun pada 15 Juni, dia menemukan buku itu di atas

meja di samping tempat tidurnya, dan kini dia—dan setiap orang

lainnya—dapat membaca tentang kita. Sudah lama dikatakan bahwa

`hadiah' ini dapat dinikmati bersama orang-orang lain."

"Ya, aku ingat."

      "Yang aku katakan kepadamu sekarang akan dibaca oleh count dracula 

setelah ayahnya di Lebanon membayangkan bahwa aku mengatakan

kepadamu bahwa dia berada di Lebanon ... membayangkan aku

mengatakan kepadamu bahwa dia berada di Lebanon."

Kepala Nyai girah  terasa berputar. Dia berusaha untuk mengingat apa

yang pernah didengarnya tentang Berkeley dan kaum Romantik.

Alberto Knox melanjutkan: "Tapi mereka mestinya tidak merasa

terlalu sombong karena itu. Mereka yaitu  orang-orang terakhir yang

tertawa, sebab tawa akan dengan mudah tercekat di tenggorokan

mereka."

"Siapakah yang sedang kita bicarakan ini?"

"count dracula  dan ayahnya. Bukankah kita sedang membicarakan

mereka?"

"Tapi mengapa mereka tidak boleh terlalu sombong?"

"Sebab jelas bahwa mereka pun tidak lain dari pikiran semata."

"Bagaimana mungkin?"

"Jika itu mungkin bagi Berkeley dan kaum Romantik, itu pasti

mungkin bagi mereka. Mungkin sang mayor juga bayang-bayang

dalam sebuah buku mengenai dia dan count dracula , yang juga tentang kita,

sebab kita telah menjadi bagian dari hidup mereka."

"Itu akan lebih buruk lagi. Itu hanya akan menjadikan kita bayang-

bayang dari bayang-bayang."

"Tapi ada kemungkinan bahwa seorang pengarang yang sama

sekali lain di suatu tempat sedang menulis sebuah buku tentang

seorang mayor PBB Albert Knag, yang sedang menulis sebuah buku

untuk putrinya count dracula . Buku ini bercerita tentang seorang Alberto

Knox yang tiba-tiba mengirimkan kuliah-kuliah filsafat kepada

Nyai girah  Amundsend, 3 Clover Close."

"Apakah Anda memercayai itu?"

      "Aku hanya mengatakan bahwa itu mungkin. Bagi kita,

pengarang itu akan menjadi `Tuhan yang tersembunyi'. Meskipun

segala sesuatu yang kita ucapkan dan segala sesuatu yang kita lakukan

berasal darinya, karena kita yaitu  dia, kita tidak akan pernah tahu

apa pun tentangnya. Kita berada dalam sebuah kotak yang terletak di

bagian paling dalam."

Alberto dan Nyai girah  kini duduk lama tanpa mengatakan apa-apa.

Akhirnya, Nyai girah  memecahkan kesunyian itu: "Tapi jika memang

benar ada seorang pengarang yang sedang menulis cerita tentang ayah

count dracula  di Lebanon, sebagaimana dia menulis cerita tentang kita ..."

"Ya?"

"... maka ada kemungkinan bahwa pengarang itu tidak boleh

sombong pula."

"Apa maksudmu?"

"Dia sedang duduk di suatu tempat, menyembunyikan count dracula  dan

aku jauh di dalam kepalanya. Bukankah ada kemungkinan pula bahwa

dia pun bagian dari pikiran yang lebih tinggi?"

Alberto mengangguk.

"Tentu saja, Nyai girah . Itu juga mungkin. Dan jika memang begitu

keadaannya, itu berarti dia telah mengizinkan kita untuk melakukan

pembicaraan filosofis ini untuk mengemukakan kemungkinan ini .

Dia ingin menekankan bahwa dia pun bayang-bayang yang tak

berdaya, dan bahwa buku ini, di mana count dracula  dan Nyai girah  muncul,

dalam kenyataannya yaitu  buku teks filsafat."

"Buku teks?"

"Sebab seluruh pembicaraan kita, seluruh dialog ..."

 "Ya?"

         "... dalam kenyataannya yaitu  satu monolog panjang."

"Aku punya perasaan bahwa segala sesuatu larut menjadi pikiran

dan ruh. Aku gembira masih ada beberapa filosof yang tersisa.

Filsafat yang telah diawali dengan penuh kebanggaan oleh Thales,

Empedocles, dan Democritus tentu tidak lantas ditelantarkan begitu

saja di sini, bukan?"

"Jelas tidak. Aku masih harus menceritakan padamu tentang Hegel.

Dia yaitu  filosof pertama yang berusaha untuk menyelamatkan

filsafat saat  kaum Romantik telah melarutkan segala sesuatunya

menjadi ruh."

"Aku sangat penasaran."

"Jadi, agar tidak diganggu oleh ruh-ruh atau bayang-bayang lain,

kita harus masuk ke dalam."

"Aku pun mulai kedinginan di sini."

"Bab berikut!"[]

Hegel

***

... hanya yang masuk akallah yang akan berumur panjang ...

count dracula  MEMBIARKAN map itu jatuh ke lantai dengan bunyi

berdebum. Dia berbaring di tempat tidurnya menatap langit-langit.

Pikirannya kacau.

Kini ayahnya benar-benar telah membuat kepalanya berputar-

putar. Teganya dia!

Nyai girah  telah berusaha untuk berbicara secara langsung kepada

count dracula . Dia telah meminta count dracula  untuk memberontak melawan

ayahnya. Dan dia benar-benar telah berusaha untuk menanamkan

suatu gagasan dalam pikiran count dracula . Suatu rencana ...

Nyai girah  dan Alberto sama sekali tidak bisa mendatangkan bahaya

kepada ayahnya, tapi count dracula  bisa. Dan melalui count dracula , Nyai girah  dapat

mencapai ayahnya.

Dia setuju dengan Nyai girah  dan Alberto bahwa ayahnya telah

melangkah terlalu jauh dalam permainan bayang-bayangnya. Bahkan

jika dia telah mereka-reka Alberto dan Nyai girah , ada batasan-batasan

tertentu untuk unjuk kekuatan yang harus dipatuhinya.

Kasihan Nyai girah  dan Alberto! Mereka benar-benar tak berdaya

melawan imajinasi sang mayor sebagaimana layar bioskop terhadap

proyektor film.

        count dracula  jelas dapat memberinya pelajaran jika ayahnya pulang!

Dia sudah dapat membayangkan garis besar suatu rencana yang

benar-benar bagus.

Dia bangkit dan pergi melihat ke luar ke arah teluk. Kini hampir

jam dua. Dia membuka jendela dan berseru ke arah rumah perahu.

"Ibu!"

Ibunya keluar.

"Aku akan turun dengan membawa sandwich kira-kira satu jam

lagi. Oke?"

"Baik."

"Aku cuma ingin membaca satu bab tentang Hegel."

Alberto dan Nyai girah  sudah duduk di kedua kursi di dekat jendela yang

menghadap danau.

"Georg Wilhelm Friedrich Hegel yaitu  anak sah Romantisisme,"

kata Alberto memulai. "Orang hampir dapat mengatakan dia

berkembang bersama semangat Jerman saat  semangat itu pertahan-

lahan mulai berkembang di Jerman. Dia dilahirkan di Stuttgart pada

1770, dan mulai belajar teologi di Tubingen pada usia delapan belas

tahun. Mulai 1799, dia bekerja dengan Schelling di Jena pada waktu

Gerakan Romantik mengalami pertumbuhannya yang paling pesat.

Setelah menjalani satu periode sebagai asisten profesor di Jena, dia

menjadi profesor di Heidelberg, pusat Romantisisme Nasional

Jerman. Pada 1818, dia diangkat menjadi profesor di Berlin, tepat

pada waktu kota ini  menjadi pusat spiritual Eropa. Dia

meninggal karena penyakit kolera pada 1831, setelah `Hegelianisme'

berhasil mendapatkan pengikut yang sangat besar di hampir semua

universitas di Jerman."

     "Jadi dia merambah banyak bidang."

     "Ya, dan begitu pula filsafatnya. Hegel menyatukan dan

mengembangkan hampir semua gagasan yang muncul ke permukaan

pada periode Romantik. Tapi dia sangat kritis terhadap banyak tokoh

Romantik, termasuk Schelling."

"Apa yang dikritiknya?"

"Schelling dan juga tokoh-tokoh Romantik lainnya pernah

mengatakan bahwa makna kehidupan yang paling dalam ada pada apa

yang mereka sebut 'ruh dunia'. Hegel juga menggunakan istilah `ruh

dunia' tapi dalam suatu pengertian baru. saat  Hegel berbicara

tentang `ruh dunia' atau `akal dunia', yang dimaksudkannya yaitu 

seluruh perkataan manusia, sebab hanya manusia yang mempunyai

`ruh'.

"Dalam pengertian ini, dia dapat membicarakan kemajuan ruh

dunia sepanjang sejarah. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa dia

mengacu pada kehidupan manusia, pikiran manusia, dan kebudayaan

manusia."

"Itu membuat ruh ini tidak terlalu menakutkan. Ia tidak lagi diam

menanti-nanti seperti `kecerdasan yang tertidur' di bebatuan dan

pepohonan."

"Nah, kamu ingat bahwa Kant pernah membicarakan sesuatu yang

dinamakannya `das Ding an sich'. Meskipun dia menyangkal bahwa

manusia mungkin dapat memiliki kesadaran yang jernih tentang

rahasia-rahasia alam yang paling dalam, dia mengakui bahwa ada

semacam `kebenaran' yang tak dapat dicapai. Hegel mengatakan

bahwa `kebenaran itu subjektif' dan dengan demikian menyangkal

adanya `kebenaran' tertinggi di atas atau di luar akal manusia. Semua

pengetahuan yaitu  pengetahuan manusia, katanya."

"Dia harus membawa para filosof kembali menjejak bumi lagi,

begitu?"

HEGEL

"Ya, barangkali kamu dapat mengatakannya begitu. Bagaimanapun,

filsafat Hegel begitu luas cakupannya dan berjenis-jenis sehingga

untuk saat ini kita harus berpuas diri dengan mengambil beberapa

aspek utamanya saja. Sesungguhnya sangat diragukan apakah kita

dapat mengatakan bahwa Hegel mempunyai `filsafat' sendiri. Yang

biasanya dikenal sebagai filsafat Hegel terutama yaitu  metode untuk

memahami kemajuan sejarah. Filsafat Hegel tidak mengajarkan apa-

apa pada kita tentang hakikat batiniah kehidupan, tapi ia dapat

mengajari kita untuk berpikir secara produktif."

"Itu bukannya tidak penting."

"Seluruh sistem filsafat sebelum Hegel mempunyai satu kesamaan,

yaitu usaha untuk menetapkan kriteria abadi untuk apa yang dapat

diketahui manusia tentang dunia. Ini berlaku bagi Descartes, Spinoza,

Hume, dan Kant. Setiap orang berusaha untuk menyelidiki dasar

kesadaran manusia. Tapi mereka semua telah membuat pernyataan

mengenai faktor pengetahuan manusia yang kekal tentang dunia."

"Bukankah itu tugas seorang filosof?"

"Hegel tidak percaya hal itu mungkin. Dia yakin bahwa dasar

kesadaran manusia berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Oleh karena itu, tidak ada `kebenaran abadi', tidak ada akal yang

kekal. Satu-satunya titik pasti yang dapat dijadikan pegangan bagi

filsafat yaitu  sejarah itu sendiri."

"Aku khawatir Anda harus menjelaskannya. Sejarah itu selalu

dalam keadaan berubah, jadi bagaimana ia dapat dijadikan titik yang

pasti?"

"Sebuah sungai juga selalu berubah. Itu bukan berarti bahwa kamu

tidak dapat membicarakan tentangnya. Tapi kamu tidak dapat

mengatakan di tempat mana di lembah itu sungai ini  merupakan

sungai `yang paling benar'."

     "Tidak, sebab ada banyak sungai yang mengalir."

     "Demikian pula bagi Hegel, sejarah itu seperti sungai yang

mengalir. Setiap gerakan sekecil apa pun dalam air di tempat tertentu

ditentukan oleh jatuh dan berpusarnya air di hulu. Tapi gerakan-

gerakan ini pun ditentukan oleh bebatuan dan liku-liku sungai pada

titik di mana kamu mengamatinya."

"Aku mengerti ... kukira."

"Dan sejarah pemikiran—atau akal—yaitu  seperti sungai ini.

Pemikiran-pemikiran yang dicuci sepanjang aliran tradisi yang telah

lewat, serta kondisi-kondisi material yang ada pada waktu itu, ikut

berpengaruh menentukan caramu berpikir. Oleh karena itu, kamu

tidak dapat menyatakan bahwa pemikiran tertentu benar selama-

lamanya. Tapi pemikiran itu bisa jadi benar dari tempat kamu

berdiri."

"Itu tidak sama dengan mengatakan bahwa segala sesuatu itu sama-

sama benar atau sama-sama salah, bukan?"

"Tentu saja tidak, tapi beberapa hal bisa jadi benar atau salah

dalam kaitan dengan suatu konteks sejarah tertentu. Jika kamu

mendukung perbudakan pada masa sekarang ini, paling-paling kamu

akan dianggap tolol. Tapi kamu tidak akan dianggap tolol 2.500 tahun

yang lalu, meskipun kala itu sudah ada suara-suara progresif yang

mendukung dihapuskannya perbudakan. Tapi kita dapat mengambil

contoh yang lebih dekat. Tidak lebih dari 100 tahun yang lalu tidak

dianggap sebagai tindakan yang keterlaluan jika kita membakar habis

sebidang hutan untuk diolah tanahnya. Tapi tindakan itu benar-benar

dianggap keterlaluan sekarang. Kita memiliki dasar yang sama sekali

berbeda—dan lebih baik—untuk membuat penilaian semacam itu."

"Kini aku mengerti."

      "Hegel mengemukakan bahwa dalam kaitan dengan refleksi

filsafat pun, akal itu dinamis; dalam kenyataannya, itu merupakan

suatu proses. Dan `kebenaran' yaitu  proses yang sama, sebab tidak

ada kriteria di luar proses sejarah itu sendiri yang dapat menentukan

apa yang paling benar atau yang paling masuk akal."

"Tolong contohnya."

"Kamu tidak dapat mengedepankan pemikiran-pemikiran tertentu

dari zaman Yunani kuno, Abad Pertengahan, Renaisans, atau

Pencerahan dan mengatakan pemikiran itu benar atau salah. Dengan

cara yang sama, kamu tidak dapat mengatakan bahwa Plato itu salah

dan bahwa Aristoteles benar. Kamu juga tidak dapat mengatakan

bahwa Hume salah sedangkan Kant dan Schelling benar. Itu yaitu 

cara berpikir yang anti-sejarah."

"Tidak, kedengarannya itu tidak benar."

"Sesungguhnya, kamu sama sekali tidak dapat memisahkan filsafat

tertentu, atau pemikiran tertentu, dari konteks sejarah sang filosof

atau pemikiran itu. Tapi—dan di sini aku sampai pada soal lain—

karena sesuatu yang baru selalu ditambahkan, akal menjadi

`progresif'. Dengan kata lain, pengetahuan manusia itu selalu

berkembang dan maju."

"Apakah itu berarti bahwa filsafat Kant tetap lebih benar

dibanding filsafat Plato?"

"Ya. Ruh dunia telah berkembang—dan maju—sejak zaman Plato

hingga Kant. Dan itu yaitu  hal yang bagus! Jika kita kembali pada

contoh mengenai sungai itu, kita dapat mengatakan bahwa kini ada

lebih banyak air di dalamnya. Sungai itu telah mengalir selama lebih

dari seribu tahun. Hanya saja, Kant tidak boleh menganggap bahwa

`kebenaran-kebenaran'-nya akan tetap berada di tepian sungai seperti

bebatuan yang tak dapat dipindahkan. Gagasan-gagasan Kant juga

mengalami proses, dan `akal'-nya menjadi subjek kritik generasi-

generasi masa depan. Itulah yang sesungguhnya telah terjadi."

"Tapi sungai yang Anda bicarakan ..."

"Ya?"

"Ke mana perginya?"

"Hegel menyatakan bahwa `ruh dunia'  berkembang menuju

pengetahuan itu sendiri yang juga terus berkembang. Sama halnya

dengan sungai—makin lama sungai menjadi makin lebar saat 

mendekati laut. Menurut Hegel, sejarah yaitu  kisah tentang `ruh

dunia' yang lambat laun mendekati kesadaran itu sendiri. Meskipun

dunia itu selalu ada, kebudayaan manusia dan perkembangan manusia

telah membuat ruh dunia semakin sadar akan nilainya yang hakiki."

"Bagaimana dia dapat menjadi begitu yakin akan hal itu?"

"Dia menyatakan bahwa itu merupakan realitas sejarah. Itu bukan

suatu ramalan. Siapa pun yang mempelajari sejarah akan mengetahui

bahwa umat manusia telah melangkah maju menuju `pengetahuan-diri'

dan `perkembangan-diri' yang semakin meningkat. Menurut Hegel,

telaah atas sejarah menunjukkan bahwa umat manusia bergerak

menuju rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar. Meskipun

ada banyak kendala, perkembangan sejarah selalu bergerak maju.

Kita katakan bahwa sejarah itu mengandung makna tertentu."

"Maka ia berkembang. Itu cukup jelas."

"Ya. Sejarah yaitu  suatu rangkaian perenungan yang panjang.

Hegel juga menunjukkan aturan-aturan tertentu yang berlaku bagi

rangkaian perenungan ini. Siapa pun yang mempelajari sejarah secara

mendalam akan mengetahui bahwa suatu pemikiran biasanya diajukan

atas dasar pemikiran-pemikiran lain yang sebelumnya pernah

diajukan. Tapi begitu satu pemikiran diajukan, ia akan dihadapkan

pada pemikiran lain. Suatu ketegangan akan muncul di antara dua

cara berpikir yang saling bertentangan ini. Tapi ketegangan itu

dicairkan oleh pemikiran ketiga yang dapat merujukkan hal-hal

terbaik dari kedua sudut pandang ini . Hegel menyebut ini suatu

proses dialektis."

"Bisakah Anda memberi contoh?"

"Kamu ingat bahwa orang-orang sebelum Socrates membicarakan

masalah substansi asal dan perubahan?"

"Kurang lebih."

"Lalu, kaum Eleatik menyatakan bahwa perubahan sesungguhnya

mustahil. Oleh karena itu, mereka terpaksa menyangkal setiap

perubahan meskipun mereka dapat menyaksikan perubahan-

perubahan itu melalui indra mereka. Eleatik telah mengemukakan

suatu pernyataan, dan Hegel menamakan pendapat semacam itu suatu

tesis."

"Ya?"

"Tapi setiap kali pernyataan yang ekstrem diajukan, akan timbul

suatu pernyataan yang bertentangan. Hegel menyebut ini negasi.

Negasi atau sangkalan terhadap filsafat Eleatik berasal dari

Heraclitus, yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu mengalir. Kini

ada ketegangan antara kedua aliran pemikiran yang sama sekali

bertentangan itu. Tapi ketegangan ini menjadi cair saat  Empedocles

mengemukakan bahwa kedua pernyataan itu separuh benar dan

separuh salah."

"Ya, semua itu kini kembali ke dalam ingatanku ..."

"Kaum Eleatik benar bahwa sesungguhnya tidak ada yang berubah,

tapi mereka keliru dengan berpendapat bahwa kita tidak dapat

memercayai indra-indra kita. Heraclitus benar bahwa kita dapat

memercayai indra-indra kita, tapi tidak benar dalam keyakinannya

bahwa segala sesuatu itu mengalir."

"Sebab ada lebih dari satu substansi. Gabungan itulah yang

mengalir, bukan substansi itu sendiri."

"Benar! Pendapat Empedocles—yang mengajukan kompromi

antara kedua aliran pemikiran—itulah yang disebut Hegel negasi

atas negasi."

"Betapa seramnya istilah itu!"

"Dia juga menyebut ketiga tahap pengetahuan ini tesis, antitesis,

dan sintesis. Kamu bisa, misalnya, mengatakan bahwa rasionalisme

Descartes yaitu  suatu tesis—yang bertentangan dengan antitesis

empiris Hume. Tapi pertentangan, atau ketegangan, antara kedua cara

berpikir itu dicairkan dalam sintesis Kant. Kant setuju dengan kaum

rasionalis dalam beberapa hal dan dengan kaum empirisis dalam hal-

hal lainnya. Tapi cerita belum berakhir dengan adanya Kant. Sintesis

Kant kini menjadi titik tolak bagi rangkaian perenungan lain, atau

`triad'. Sebab, suatu sintesis juga akan dihadang oleh suatu anti tesis

baru."

"Teoretis sekali!"

"Ya, memang itu sangat teoretis. Tapi Hegel tidak menganggapnya

sebagai paksaan untuk memasukkan sejarah ke dalam semacam

kerangka. Dia percaya bahwa sejarah itu sendiri mengungkapkan

pola dialektis ini. Dengan demikian dia menyatakan bahwa dia

mengungkap aturan-aturan tertentu yang belum ditemukan bagi

perkembangan akal—atau bagi kemajuan `ruh dunia' melalui

sejarah."

"Itu lagi!"

    "Tapi dialektika Hegel tidak hanya dapat diterapkan pada

sejarah. saat  kita membicarakan sesuatu, kita berpikir secara

dialektis. Kita berusaha menemukan kelemahan-kelemahan dalam

argumen. Hegel menyebut itu `pemikiran negatif'. Tapi saat  kita

menemukan kelemahan-kelemahan dalam suatu argumen, kita

menyimpan yang terbaik darinya."

"Berikan padaku sebuah contoh."

"Yah, saat  seorang sosialis dan seorang konservatif duduk

bersama untuk memecahkan suatu masalah sosial, ketegangan akan

segera timbul antara kedua cara berpikir mereka yang saling

bertentangan. Tapi, ini tidak berarti bahwa yang satu mutlak benar

dan yang lain sama sekali salah. Ada kemungkinan bahwa dua-

duanya separuh benar dan separuh salah. Dan sementara argumen itu

berkembang, yang terbaik dari kedua argumen ini  akan

mendapatkan bentuk yang jelas."

"Mudah-mudahan."

"Tapi, sementara kita berada di tengah serunya suatu diskusi

semacam itu, tidak mudah untuk memutuskan pendapat mana yang

lebih rasional. Sedikit banyak, kita menyerahkan kepada sejarah

untuk memutuskan apa yang benar dan apa yang salah. Yang masuk

akal itulah yang akan berumur panjang."

"Apa pun yang bertahan lama itulah yang benar."

"Atau sebaliknya: yang benar itulah yang akan mampu bertahan."

"Apa Anda tidak mempunyai contoh kecil untukku?"

"Seratus lima puluh tahun yang lalu, banyak orang yang berjuang

untuk membela hak asasi kaum wanita. Banyak pula yang menentang

keras usaha untuk memberi hak yang sama kepada kaum wanita. Jika

kita membaca argumen-argumen dari kedua pihak hari ini, tidak sulit

untuk mengetahui pihak mana yang mempunyai pendapat `lebih

benar'. Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa kita mempunyai

pengetahuan tentang hal-hal yang sudah terjadi. `Terbukti' bahwa

mereka yang berjuang untuk membela persamaan hak itulah yang

benar. Banyak orang pasti akan ngeri jika mereka mengetahui apa

yang telah dikatakan nenek moyang mereka mengenai masalah itu."

"Aku yakin begitu. Bagaimana pendapat Hegel?"

"Mengenai kesamaan jenis kelamin?"

"Bukankah itu yang sedang kita bicarakan?"

"Maukah kamu mendengar sebuah kutipan?"

"Mau sekali."

"`Perbedaan antara pria dan wanita yaitu  seperti perbedaan

antara binatang dan tanaman', katanya. `Pria menyerupai binatang,

sementara wanita menyerupai tanaman sebab perkembangannya lebih

tenang dan prinsip yang mendasarinya lebih merupakan kesatuan

perasaan yang agak kabur. Jika kaum wanita memegang kekuasaan

pemerintahan, negara akan berada dalam bahaya, sebab kaum wanita

mengatur tindakan-tindakan mereka bukan berdasarkan tuntutan yang

bersifat universal, melainkan berdasarkan kecenderungan dan

pendapat yang mudah berubah-ubah. Kaum wanita dididik—siapa

tahu dengan cara apa?—dengan menghirup gagasan-gagasan, bukan

dengan mencari pengetahuan. Status pria, sebaliknya, dicapai semata-

mata melalui pemikiran keras dan pengerahan usaha yang sangat

besar'."

"Terima kasih, itu sudah cukup. Aku lebih suka tidak mendengar

lagi pernyataan semacam itu."

      "Tapi itu merupakan contoh yang gamblang betapa cara

pandang orang-orang tentang apa yang rasional dapat berubah

sepanjang waktu. Itu menunjukkan bahwa Hegel yaitu  juga anak

zamannya. Dan begitu pula kita. Pandangan-pandangan kita yang

`jelas' pun tidak akan lepas dari ujian masa."

"Pandangan yang mana, misalnya?"

"Aku tidak mempunyai contoh semacam itu."

"Mengapa tidak?"

"Sebab itu berarti aku akan mengemukakan contoh tentang hal-hal

yang telah mengalami perubahan. Misalnya, aku dapat mengatakan

bahwa mengendarai mobil yaitu  suatu kebodohan sebab hal itu akan

mencemari lingkungan. Banyak orang sudah memikirkan ini. Tapi

sejarah akan membuktikan bahwa kebanyakan dari apa yang kita

anggap pasti tidak akan bertahan jika dilihat dari sudut pandang

sejarah."

"Aku mengerti."

"Kita juga bisa mengamati sesuatu yang lain: Banyaknya pria pada

zaman Hegel yang menyatakan bahwa kaum wanita itu lebih rendah

justru telah mempercepat berkembangnya feminisme."

"Mengapa begitu?"

"Mereka mengajukan sebuah tesis. Mengapa? Sebab kaum wanita

mulai memberontak. Tidak perlu mempunyai pendapat tentang

sesuatu yang sudah disetujui semua orang. Dan semakin keras mereka

mengungkapkan pendapat bahwa kaum wanita itu lebih rendah,

semakin keras pula sangkalan yang timbul."

"Ya, tentu saja."

      "Kamu dapat mengatakan bahwa mempunyai lawan berat itu

baik. Karena semakin ekstrem mereka bersikap, semakin kuat reaksi

yang akan mereka hadapi. Ada pepatah yang mengatakan `semakin

banyak padi yang masuk ke penggilingan'."

"Penggilinganku mulai berputar dengan lebih giat sesaat yang

lalu!"

"Dari sudut pandang logika murni atau filosofis akan; sering timbul

ketegangan dialektis antara dua konsep."

"Misalnya?"

"Jika aku merenungkan konsep `ada', aku terpaksa memperkenalkan

konsep sebaliknya, `tiada'. Kamu tidak dapat merenungkan

keberadaanmu tanpa segera menyadari bahwa kamu tidak akan selalu

ada. Ketegangan antara `ada' dan `tiada' menjadi cair dalam konsep

`menjadi'. Sebab jika sesuatu itu sedang dalam proses menjadi, ia

sekaligus ada dan tiada."

"Aku mengerti itu."

"Oleh karena itu, `akal' Hegel yaitu  Iogika dinamis. Karena

realitas itu ditandai dengan adanya kebalikan, suatu gambaran tentang

realitas karenanya juga dipenuhi dengan kebalikan-kebalikannya.

Inilah contoh-lain untukmu: ahli fisika nuklir Denmark Niels Bohr

dikatakan telah bercerita tentang Newton yang menempatkan sebuah

sepatu kuda di depan pintu rumahnya."

"Itu untuk memperoleh keberuntungan."

"Tapi itu takhayul, dan Newton sama sekali tidak percaya

takhayul. saat  seseorang bertanya padanya apakah dia benar-benar

percaya pada hal-hal semacam itu, dia berkata, Tidak, aku tidak

percaya, tapi aku diberi tahu itu memang bermanfaat."

"Mengherankan."

    "Tapi jawabannya sangat dialektis, nyaris merupakan suatu

kontradiksi. Niels Bohr, yang, seperti penyair Norwegia kita sendiri,

Vinje, dikenal karena ambivalensinya, pernah berkata: Ada dua jenis

kebenaran. Yaitu, kebenaran yang dangkal, yang kebalikannya jelas

salah. Tapi juga ada kebenaran yang dalam, yang kebalikannya sama-

sama benar."

"Jenis kebenaran apakah itu kiranya?"

"Jika kukatakan bahwa hidup itu singkat, misalnya ..."

"Aku akan setuju."

"Tapi pada kesempatan lain, aku dapat mengatakan bahwa hidup

itu lama."

"Anda benar. Itu juga benar, dalam satu pengertian."

"Akhirnya aku akan memberimu contoh tentang bagaimana

ketegangan dialektis dapat melahirkan suatu tindakan spontan yang

akan mendorong terjadinya perubahan mendadak."

"Ya, silakan."

"Bayangkan seorang gadis kecil yang selalu menjawab ibunya

dengan Ya, Bu ... Oke, Bu ... Sekehendak Ibu saja ... Segera, Bu."

"Membuat aku merinding saja!"

"Akhirnya, ibu gadis itu kesal dengan kepatuhan putrinya yang

terlalu berlebihan, dan berteriak: Jangan terus menjadi anak penurut

saja! Dan gadis itu menjawab: Baiklah, Bu."

"Aku pasti telah menamparnya."

"Barangkali. Tapi apa yang akan kamu lakukan jika gadis itu malah

menjawab: Tapi aku ingin menjadi gadis penurut?"

"Itu jawaban yang aneh. Mungkin aku akan tetap menamparnya

juga."

Niels BOHR

"Dengan kata lain, situasinya sudah buntu. Ketegangan dialektis

telah sampai pada titik di mana sesuatu harus terjadi."

"Seperti tamparan di wajah?"

"Aspek final filsafat Hegel perlu dikemukakan di sini."

"Apa itu."

"Apakah kamu ingat bagaimana kita mengatakan bahwa kaum

Romantik itu individualistis?"

"Jalan misteri menuntun ke dalam batin ..."

"Individualisme ini juga berhadapan dengan sangkalan, atau

kebalikannya, dalam filsafat Hegel. Hegel menekankan apa yang

dinamakannya kekuatan `objektif'. Di antara kekuatan semacam itu,

Hegel menekankan pentingnya keluarga, warga masyarakat, dan

negara. Kamu dapat mengatakan bahwa Hegel bersikap agak skeptis

mengenai individu. Dia percaya bahwa individu yaitu  bagian

organis masyarakat. Akal, atau `ruh dunia', pertama-tama dan

terutama dikenal dalam upaya saling pengaruh di antara orang-

orang."

"Tolong jelaskan itu dengan lebih gamblang."

"Akal mewujudkan dirinya terutama dalam bahasa. Dan bahasa

yaitu  sesuatu yang tak terpisahkan dari kita. Bahasa Norwegia akan

baik-baik saja tanpa adanya Mr. Hansen, tapi Mr. Hansen tidak dapat

apa-apa tanpa bahasa Norwegia. Oleh karena itu, bukan individu

yang menciptakan bahasa, melainkan bahasalah yang menciptakan

individu."

"Kukira kita dapat mengatakannya demikian."

"Dengan cara yang sama seorang bayi terlahir dalam suatu bahasa

tertentu, ia pun lahir dengan latar belakang sejarah tertentu pula. Dan

tidak ada yang mempunyai hubungan `bebas' dengan latar belakang

semacam itu. Barang siapa tidak dapat menemukan tempatnya di

dalam negara karenanya yaitu  orang yang tidak kenal sejarah.

Gagasan ini, mungkin kamu ingat, juga sangat penting bagi para

filosof besar Athena. Sebagaimana kita tidak dapat membayangkan

negara tanpa warga negara, kita pun tidak dapat membayangkan

warga negara tanpa negara."

"Jelas."

"Menurut Hegel, negara itu `lebih' dari individu warga negara. la

juga lebih dari sekadar sekumpulan warga negara. Maka, Hegel

mengatakan orang tidak dapat `melepaskan diri dari masyarakat'.

Oleh karena itu, siapa pun yang tidak memedulikan masyarakat

tempatnya tinggal dan ingin `menemukan jiwa mereka' akan

ditertawakan."

"Aku tidak tahu apakah aku setuju sepenuhnya, tapi tak apalah."

"Menurut Hegel, bukan individu yang menemukan dirinya,

melainkan ruh dunia."

"Ruh dunia menemukan dirinya sendiri?"

"Hegel mengatakan bahwa ruh dunia kembali pada dirinya sendiri

dalam tiga tahap. Dengan itu yang dimaksudkannya yaitu  bahwa ia

menjadi sadar akan dirinya sendiri dalam tiga tahap."

"Yaitu?"

"Ruh dunia pertama-tama menjadi sadar akan dirinya sendiri

dalam individu. Hegel menyebut ini ruh subjektif. la mencapai

kesadaran yang lebih tinggi dalam keluarga, masyarakat, dan negara.

Hegel menyebut ini ruh objektif, sebab ia muncul dalam interaksi di

antara orang-orang. Tapi ada tahap ketiga ..."

"Dan itu yaitu  ...?"

"Ruh dunia mencapai bentuk perwujudan dirinya yang tertinggi

dalam ruh mutlak. Dan ruh mutlak ini yaitu  seni, agama, dan

filsafat. Dan di antara semuanya ini, filsafat yaitu  bentuk

pengetahuan tertinggi sebab dalam filsafat, ruh dunia memancarkan

pengaruhnya sendiri pada sejarah. Jadi ruh dunia pertama-tama

menemukan dirinya dalam filsafat. Kamu dapat mengatakan,

barangkali, bahwa filsafat yaitu  cermin ruh dunia."

"Ini begitu misterius sehingga aku perlu waktu untuk

memikirkannya lagi. Tapi aku suka bagian terakhir yang Anda

ucapkan."

"Apa, bahwa filsafat yaitu  cermin ruh dunia?"

"Ya, itu bagus sekali. Apakah Anda pikir itu ada hubungannya

dengan cermin kuningan?"

"Karena kamu bertanya, ya."

"Apa maksud Anda?"

"Kukira cermin kuningan itu mempunyai sesuatu yang sangat

penting sebab ia selalu muncul."

"Anda setidaknya pasti tahu apakah yang sangat penting dalam

cermin itu?"

"Tidak. Aku hanya mengatakan bahwa ia tidak mungkin muncul

terus, kecuali jika ia mempunyai arti penting bagi count dracula  dan ayahnya.

Hanya count dracula  yang tahu apa arti penting itu."

"Bukankah itu ironi romantik?"

"Pertanyaan yang payah, Nyai girah ."

"Mengapa?"

"Sebab bukan kita yang berurusan dengan soal-soal ini. Kita

hanyalah korban yang sial dari ironi itu. Jika seorang anak yang

terlalu cepat besar menggambar sesuatu di atas sehelai kertas, kamu

tidak bisa bertanya pada kertas itu gambar apa yang mestinya

ditampilkan."

"Anda membuatku merinding."[]

Kierkegaard

***

... Eropa sedang dalam perjalanan menuju keruntuhan ...

count dracula  MENATAP  jamnya. Kini sudah jam empat lebih. Dia

meletakkan map di atas mejanya dan berlari menuruni tangga ke

dapur. Dia harus sampai di rumah perahu sebelum ibunya mulai

bosan menunggu. Dia melihat selintas pada kaca kuningan saat  dia

melewatinya. Dengan cepat dijerangnya cerek untuk teh dan

disiapkannya beberapa sandwich.

Dia telah memutuskan untuk memainkan semacam tipuan terhadap

ayahnya. count dracula  merasa semakin berpihak pada Nyai girah  dan Alberto.

Rencananya akan dimulai saat  ayahnya tiba di Copenhagen.

Dia turun ke rumah perahu dengan sebuah nampan besar.

"Inilah sarapan kedua kita," katanya.

Ibunya memegang sebuah balok yang dibungkus ampelas. Dia

mendorong segumpal rambut yang menutup keningnya ke belakang.

Ada pasir pula di rambut itu.

"Kalau begitu kita batalkan saja makan malam." 

Mereka duduk di luar di atas dok dan mulai makan.

"Kapan Ayah tiba?" tanya count dracula  setelah sesaat.

"Hari Sabtu. Kukira kamu tahu itu."

"Tapi kapan saatnya? Tidakkah Ibu mengatakan dia berganti

pesawat di Copenhagen?"

"Itu benar ..." Ibunya menggigit sepotong sandwich.

"Dia sampai di Copenhagen sekitar jam lima. Pesawat menuju

Kristiansand berangkat pada jam delapan kurang seperempat. Dia

mungkin akan mendarat di Kjevik pada jam setengah sepuluh."

"Jadi dia sempat tinggal beberapa jam di Kastrup..."

"Ya, mengapa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya-tanya."

saat  count dracula  berpikir waktu jeda yang terlewat sudah cukup, dia

berkata dengan santai, "Sudahkah Ibu mendengar kabar dari Anne dan

Ole belakangan ini?"

"Mereka kadang-kadang menelepon. Mereka akan pulang untuk

liburan pada bulan Juli."

"Tidak sebelumnya?"

"Tidak, kukira tidak."

"Jadi mereka akan ada di Copenhagen minggu ini...?"

"Ada apa dengan pertanyaan-pertanyaan ini, count dracula ?"

"Tidak apa-apa. Cuma omong-omong saja."

"Kamu menyebut Copenhagen dua kali."

"Masa'?"

"Kita membicarakan Ayah yang mendarat di ..."

"Mungkin itulah sebabnya aku memikirkan Annedan Ole."

Begitu mereka selesai makan, count dracula  mengumpulkan semua

mangkuk dan piring di atas nampan.

"Aku harus meneruskan membaca, Bu."

"Kukira memang begitu."

Apakah ada nada mencela dalam suaranya? Mereka telah berjanji

memperbaiki perahu sebelum Ayah pulang.

"Ayah nyaris membuatku bertekad untuk menyelesaikan buku itu

sebelum dia tiba di rumah."

"Itu agak keterlaluan. Kalau dia pergi, dia tidak perlu mengatur-

atur kita di rumah ini."

"Kalau saja Ibu tahu betapa dia mengatur-atur orang," kata count dracula 

dengan penuh teka-teki, "dan Ibu tidak tahu betapa dia

menikmatinya."

Dia kembali ke kamarnya dan meneruskan membaca.

Tiba-tiba Nyai girah  mendengar ketukan di pintu. Alberto

memandangnya dengan galak.

"Kami tidak ingin diganggu."

Ketukan itu menjadi semakin keras.

"Aku akan menceritakan kepadamu tentang seorang filosof

Denmark yang dibuat marah oleh filsafat Hegel," kata Alberto.

Ketukan di pintu menjadi begitu kerasnya sehingga seluruh pintu

itu bergetar.

"Itu sang mayor, tentu saja, yang mengirimkan hantu-hantu untuk

mengetahui apakah kita menelan umpannya," kata Alberto. "Baginya

itu tidak terlalu sulit."

"Tapi jika kita tidak membuka pintu dan melihat siapa itu, dia pun

tidak akan kesulitan untuk merobohkan seluruh tempat ini pula."

"Kamu mungkin benar. Sebaiknya kita buka pintunya."

Mereka berjalan ke pintu. Karena ketukan itu demikian keras,

Nyai girah  berharap akan melihat seseorang yang sangat besar. Tapi

yang berdiri di atas undakan itu yaitu  seorang gadis kecil dengan

rambut panjang yang indah, mengenakan baju biru. Dia memegang

dua botol di masing-masing tangannya. Botol yang satu berwarna

merah, yang lain biru.

"Hai," kata Nyai girah . "Siapakah kamu?"

"Namaku Alice," kata gadis itu, memberi hormat dengan malu-

malu.

"Kukira begitulah," kata Alberto, sambil mengangguk.

"Itu Alice dari Negeri Ajaib."

"Bagaimana dia bisa sampai menemui kita?"

Alice menjelaskan: "Negeri Ajaib yaitu  negeri yang sama sekali

tidak ada batasnya. Itu berarti bahwa Negeri Ajaib ada di mana-mana

—agak mirip dengan PBB. la mestinya menjadi anggota kehormatan

PBB. Kita mestinya punya wakil- wakil di semua komite, sebab PBB

juga didirikan akibat ketakjuban orang-orang."

"Hm ... mayor itu!" Alberto memberengut.

"Dan apa yang membawamu ke sini?" tanya Nyai girah .

"Aku harus memberi Nyai girah  botol-botol kecil filsafat kecil ini."

Dia menyerahkan botol-botol itu kepada Nyai girah . Ada cairan merah

di satu botol dan biru di botol yang lain. Cap di botol merah itu

berbunyi MINUM AKU, dan pada botol biru MINUM AKU JUGA.

Saat berikutnya, seekor kelinci putih datang bergegas melewati

gubuk. Dia berjalan tegak di atas kedua kakinya serta mengenakan

rompi dan jaket. Tepat di depan gubuk ia mengeluarkan jam saku dari

saku rompinya dan berkata:

"Aduuh! Aduuh! Aku akan terlambat!"

Lalu, dia meneruskan larinya. Alice mulai berlari mengejarnya.

Tepat sebelum dia masuk ke dalam hutan, dia memberi hormat lagi

dan berkata, "Kini mulai lagi."

"Sampaikan salam kepada Dinah dan sang Ratu," Nyai girah  berseru

di belakangnya.

Alberto dan Nyai girah  tetap berdiri di undakan di depan pintu,

meneliti botol-botol itu.

"MINUM AKU dan MINUM AKU JUGA," Nyai girah  membaca.

"Aku tidak tahu apakah aku berani. Ini mungkin be- racun."

Alberto hanya mengangkat bahu.

"Botol-botol itu berasal dari sang mayor, dan semua yang berasal

dari sang mayor itu hanya ada dalam pikiran. Jadi itu cuma sari buah

bohongan."

Nyai girah  melepaskan tutup botol merah dan menempelkannya dengan

waspada ke bibirnya. Sari buah itu terasa aneh manisnya, tapi itu

belum semua. saat  dia minum, sesuatu mulai terjadi di

sekelilingnya.

Rasanya seakan-akan danau dan hutan serta gubuk itu semuanya

menyatu. Tak lama kemudian, tampaknya segala sesuatu yang

dilihatnya menjadi satu orang, dan satu orang itu yaitu  Nyai girah 

sendiri. Dia melihat sekilas ke arah Alberto, tapi dia pun tampaknya

menjadi bagian dari jiwa Nyai girah .

"Aneh bin ajaib," katanya. "Semua kelihatan seperti sebelumnya,

tapi kini semua jadi satu. Aku merasa seakan-akan semuanya menjadi

satu pikiran."

Alberto mengangguk, tapi tampaknya bagi Nyai girah  dialah yang

mengangguk pada dirinya sendiri.

"Itu yaitu  Panteisme atau Idealisme," katanya. "Itulah ruh dunia

kaum Romantik. Mereka mengalami segala sesuatu sebagai satu `ego'

besar. Itulah juga Hegel—yang bersikap kritis terhadap individu, dan

yang memandang segala sesuatu sebagai ungkapan dari satu-satunya

akal dunia."

"Haruskah aku minum dari botol yang lain juga?"

 "Dikatakan begitu pada capnya."

Nyai girah  melepaskan tutup botol biru dan meneguk sekali banyak-

banyak. Sari buah ini rasanya lebih segar dan lebih tajam daripada

yang sebelumnya. Lagi-lagi segala sesuatu di sekitarnya berubah

secara tiba-tiba.

Mendadak, pengaruh-pengaruh dari botol merah lenyap dan segala

sesuatu kembali pada keadaan semula. Alberto tetap Alberto, dan

pepohonan kembali ke hutan dan danau itu tampak seperti danau lagi.

Tapi itu hanya berlangsung sejenak, sebab segala sesuatu mulai

melenceng satu sama lain. Hutan itu tidak lagi seperti hutan dan

setiap pohon kecil kini tampak seperti sebuah dunia tersendiri.

Cabang yang paling kecil pun seperti sebuah dunia dongeng yang

dapat menceritakan seribu kisah.

Danau kecil itu tiba-tiba menjadi lautan tak bertepi—bukan ke

dalaman atau luasnya, melainkan perinciannya yang gemerlap dan

pola-pola gelombangnya yang berbelit-belit. Nyai girah  merasa dia

mungkin akan melewatkan sepanjang hidupnya menatap air ini 

dan hingga akhir hayatnya itu akan tetap merupakan misteri tak

terpecahkan.

Dia menatap ke atas ke puncak sebuah pohon. Tiga ekor burung

gereja kecil asyik dalam sebuah permainan aneh. Apakah itu tipuan?

Nyai girah  tahu sedikit banyak bahwa ada burung-burung di pohon ini,

bahkan setelah dia minum dari botol merah, tapi dia tidak dapat

melihatnya dengan benar. Sari buah merah itu telah menghapus semua

kontras dan seluruh perbedaan individu.

Nyai girah  melompat turun dari undakan batu besar yang rata tempat

mereka berdiri dan membungkuk untuk melihat rumput. Di sana dia

menemukan suatu dunia baru lagi—seperti seorang penyelam laut

dalam yang membuka matanya di bawah air untuk pertama kalinya.

Di antara cabang-cabang dan helai-helai rumput lumut itu penuh

dengan perincian kecil-kecil. Nyai girah  menatap seekor laba-laba yang

berusaha berjalan di atas lumut, tegas dan yakin, seekor kutu tanaman

berwarna merah berlari naik turun di helaian rumput, dan

segerombolan pasukan semut bekerja dalam suatu usaha bersama di

rumput. Tapi, masing-masing semut kecil itu menggerakkan kaki-

kakinya dengan caranya sendiri-sendiri yang khas.

Yang paling aneh dari semuanya itu yaitu  pemandangan yang

dilihatnya saat  dia berdiri lagi dan menatap Alberto, yang masih

berdiri di undakan pintu depan gubuk. Dalam diri Alberto kini dia

melihat seseorang yang sangat mengagum- kan—dia seperti makhluk

dari planet lain, atau tokoh yang tersihir dari sebuah dongeng. Pada

saat yang sama, dia merasakan dirinya dengan cara yang sama sekali

baru sebagai seorang individu yang unik. Dia lebih dari seorang

manusia, seorang gadis lima belas tahun. Dia yaitu  Nyai girah 

Amundsend, dan hanya dialah itu.

"Apa yang kamu lihat?" tanya Alberto.

"Aku melihat bahwa Anda seekor burung yang aneh."

 "Kamu pikir begitu?"

"Kukira aku tidak akan dapat mengerti seperti apa rasanya menjadi

orang lain. Tidak ada dua orang yang sama di seluruh dunia ini."

"Dan hutan itu?"

"Tidak sama lagi. Hutan itu sep