badi,
Kebaikan Abadi
Dalam kata pengantar untuk pelajaran ini, aku katakan bahwa
mempertanyakan proyek utama seorang filosof merupakan suatu
gagasan yang bagus. Maka kini aku bertanya: apakah masalah yang
dipikirkan Plato?
Secara ringkas, kita dapat memastikan bahwa Plato memikirkan
hubungan antara yang kekal dan abadi, di satu pihak, dan yang
"berubah", di pihak lain. (Persis seperti pada masa sebelum
Socrates, sebenarnya.) Kita telah mengetahui bagaimana kaum Sophis
dan Socrates mengalihkan perhatian mereka dari filsafat alam kepada
masalah-masalah yang berkaitan dengan manusia dan masyarakat.
Dan, toh dalam satu pengertian, bahkan Socrates dan kaum Sophis
disibukkan dengan hubungan antara yang kekal dan abadi, dan yang
"mengalir". Mereka tertarik pada masalah ini karena hal itu
berkaitan dengan moral manusia dan cita-cita atau sifat baik
masyarakat. Secara sangat ringkas, para Sophis beranggapan bahwa
persepsi mengenai apa yang benar atau salah beragam dari satu
negara-kota ke negara-kota lain, dan dari satu generasi ke generasi
selanjutnya. Jadi benar dan salah yaitu sesuatu yang "mengalir".
Ini sama sekali tidak dapat diterima oleh Socrates. Dia percaya
akan adanya aturan-aturan yang abadi dan mutlak tentang apa yang
benar atau salah. Dengan menggunakan akal sehat, kita semua dapat
sampai pada norma-norma abadi ini, karena akal manusia
sesungguhnya kekal dan abadi.
Dapatkah kamu mengikutinya, Nyai girah ? Kemudian datanglah Plato.
Dia memikirkan apa yang kekal dan abadi di alam dan apa yang
kekal dan abadi dalam kaitannya dengan moral dan masyarakat. Bagi
Plato, kedua masalah ini sama. Dia berusaha untuk menangkap suatu
"realitas" yang kekal dan abadi.
PLATO
Dan terus terang saja, untuk itulah sesungguhnya kita memerlukan
para filosof. Kita tidak memerlukan mereka untuk memilih seorang
ratu kecantikan atau mengetahui harga tomat sehari-hari. Inilah
sebabnya mereka sering tidak populer!) Para filosof akan berusaha
untuk mengabaikan masalah-masalah yang sedang menjadi buah bibir
dan justru mencoba untuk menarik perhatian orang-orang pada apa
yang selalu "benar", selalu "indah", dan selalu "baik".
Dengan demikian, kita setidak-tidaknya dapat mulai melihat
proyek filsafat Plato. Tapi mari kita bahas satu demi satu. Kita tengah
berusaha untuk memahami seorang tokoh yang luar biasa, seorang
tokoh yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap seluruh
filsafat Eropa sesudahnya.
Dunia Ide
Baik Empedocles maupun Democritus telah menarik perhatian pada
fakta bahwa meskipun di alam ini segala sesuatu "mengalir",
bagaimanapun pasti ada "sesuatu" yang tidak pernah berubah ("empat
akar" atau "atom"). Plato setuju dengan dalil semacam itu—tetapi
dengan cara yang sangat berbeda.
Plato percaya bahwa segala sesuatu yang nyata di alam ini
"mengalir". Maka tidak ada "zat" yang tidak hancur. Jelas bahwa
segala sesuatu yang termasuk dalam "dunia material" itu terbuat dari
materi yang dapat terkikis oleh waktu, namun segala sesuatu dibuat
sesuai dengan "cetakan" atau "bentuk" yang tak kenal waktu, yang
kekal dan abadi.
Kamu mengerti? Tidak, kamu tidak mengerti.
Mengapa kuda-kuda itu sama, Nyai girah ? Barangkali kamu
beranggapan bahwa mereka tidak sama. Namun, ada sesuatu yang
sama-sama dimiliki oleh semua kuda, sesuatu yang memungkinkan
kita untuk mengenali mereka sebagai kuda. Seekor kuda tertentu
"berubah", dengan sendirinya. la mungkin tua dan lumpuh, dan pada
waktunya ia akan mati. Namun, "bentuk" kuda itu kekal dan abadi.
Oleh karena itu, sesuatu yang kekal dan abadi, menurut Plato,
bukanlah "bahan dasar" benda-benda fisik, sebagaimana diyakini
Empedocles dan Democritus. Konsepsi Plato berkaitan dengan pola-
pola yang kekal dan abadi, yang bersifat spiritual dan abstrak, yang
darinya segala sesuatu diciptakan.
Dengan kata lain, orang-orang pada zaman sebelum Socrates telah
memberikan penjelasan yang sangat bagus mengenai perubahan alam
tanpa harus mensyaratkan bahwa segala sesuatu itu sungguh-sungguh
"berubah". Di tengah siklus alam ada beberapa unsur paling kecil
yang kekal dan abadi serta tidak musnah, menurut mereka.
Lumayan bagus, Nyai girah ! Tapi mereka tidak mempunyai penjelasan
yang masuk akal tentang bagaimana "unsur-unsur yang paling kecil"
ini, yang dulu pernah membangun balok-balok dalam sebuah rumah,
dapat dengan tiba-tiba berputar bersama empat atau lima ratus tahun
kemudian dan membentuk diri mereka menjadi seekor kuda yang
sama sekali baru. Atau, seekor gajah atau seekor buaya. Maksud
Plato yaitu bahwa atom-atom Democritus tidak pernah membentuk
diri mereka menjadi seekor "gajah-buaya" atau "buaya-gajah". Inilah
yang membuat refleksi-refleksi filosofisnya berkembang.
Jika kamu sudah mengerti apa maksudku, kamu boleh
melewatkan paragraf berikut ini. Tapi untuk jaga-jaga saja, aku akan
menjelaskan: Kamu mempunyai sekotak Lego dan kamu membuat
seekor kuda Lego. Kemudian, kamu memisah-misahkannya lagi dan
meletakkan balok-balok itu kembali ke kotaknya. Kamu tidak dapat
membuat seekor kuda baru dengan hanya menggoyang-goyangkan
kotak itu. Bagaimana mungkin balok-balok Lego dengan kemauan
sendiri berkumpul dan menjadi seekor kuda lagi? Tidak, kamu harus
menyusun kembali kuda itu, Nyai girah . Dan, kamu dapat membuatnya
sebab kamu telah mempunyai gambaran dalam benakmu seperti apa
kuda itu. Kuda Lego dibuat dari model yang tetap tak berubah dari
satu kuda ke kuda lainnya.
Bagaimana kamu membuat lima puluh kue yang sama? Mari kita
asumsikan bahwa kamu telah jatuh dari luar angkasa dan belum
pernah melihat seorang tukang roti sebelumnya. Kamu menemukan
sebuah toko roti yang mengundang selera—dan di situ kamu melihat
lima puluh kue jahe berbentuk orang yang sama di atas rak. Aku
bayangkan kamu akan bertanya-tanya bagaimana mereka dapat
tampak persis sama. Pada hal mungkin salah satu dari mereka
lengannya patah, yang lain kehilangan sebagian kepalanya, dan yang
ketiga mempunyai benjolan lucu di perutnya. Tapi setelah
memikirkannya dengan sungguh-sungguh, kamu tetap berkesimpulan
bahwa semua roti jahe berbentuk orang itu mempunyai sesuatu yang
sama. Meski tak satu pun dari mereka yang sempurna, kamu pasti
beranggapan bahwa mereka mempunyai asal usul yang sama. Kamu
akan menyadari bahwa semua kue itu dibentuk dalam cetakan yang
sama. Dan yang lebih penting, Nyai girah , kamu kini terseret oleh
keinginan yang sangat kuat untuk melihat cetakan ini. Sebab sudah
jelas, cetakan itu sendiri pasti benar-benar sempurna—dan dalam
satu pengertian, lebih indah—jika dibandingkan dengan tiruan-tiruan
kasar ini.
Jika bisa memecahkan masalah ini sendiri, kamu sampai pada
pemecahan filosofis dengan cara persis sama seperti Plato dulu.
Seperti kebanyakan filosof, dia "jatuh dari angkasa luar". (Dia
berdiri tepat di ujung salah satu bulu kelinci.) Dia heran melihat
bagaimana seluruh fenomena alam dapat begitu serupa, dan dia
menyimpulkan bahwa itu pasti karena ada sejumlah terbatas bentuk-
bentuk "di balik" segala sesuatu yang kita lihat di sekeliling kita.
Plato menyebut bentuk-bentuk ini ide. Di balik setiap kuda, babi, atau
manusia, ada "kuda ideal", "babi ideal", dan "manusia ideal".
(Dengan cara yang sama, toko roti yang kita bicarakan dapat
mempunyai kue jahe orang, kue jahe kuda, dan kue jahe babi. Sebab
setiap toko roti terkenal mempunyai lebih dari satu cetakan. Tapi,
satu cetakan sudah cukup untuk setiap jenis kue jahe.)
Plato sampai pada kesimpulan bahwa pasti ada realitas di balik
"dunia materi". Dia menyebut realitas ini dunia ide; di situ tersimpan
"pola-pola" yang kekal dan abadi di balik berbagai fenomena yang
kita temui di alam. Pandangan yang luar biasa ini dikenal sebagai
teori ide Plato.
Pengetahuan Sejati
Aku yakin kamu masih menyimak, Nyai girah sayang. Tapi kamu
mungkin bertanya-tanya apakah Plato serius. Apakah dia benar-benar
yakin bahwa bentuk-bentuk seperti ini benar-benar ada dalam suatu
realitas yang sama sekali berbeda?
Barangkali dia tidak memercayainya secara harfiah dengan cara
yang sama sepanjang hidupnya, tapi dalam beberapa dialognya,
begitulah yang dimaksudnya. Mari kita coba ikuti jalan pikirannya.
Seorang filosof, sebagaimana telah kita ketahui, berusaha untuk
memahami sesuatu yang kekal dan abadi. Tidak akan ada gunanya,
misalnya, menulis sebuah risalah fisafat mengenai eksistensi busa
sabun tertentu. Sebagian karena orang tidak mungkin punya cukup
waktu untuk menelaahnya secara mendalam sebelum busa itu pecah,
dan sebagian karena barangkali agak sulit untuk menemukan pasar
bagi risalah filsafat mengenai sesuatu yang tidak pernah dilihat orang,
dan yang hanya ada selama lima detik.
Plato percaya bahwa segala sesuatu yang kita lihat di sekeliling
kita di alam ini, segala sesuatu yang nyata, dapat disamakan dengan
busa sabun, sebab tidak ada sesuatu pun yang abadi di dunia indrawi.
Kita tahu, tentu saja, bahwa cepat atau lambat setiap manusia dan
setiap binatang akan mati dan membusuk. Bahkan balok marmer akan
berubah dan lambat laun hancur. (Acropolis hancur menjadi
reruntuhan, Nyai girah ! Memang patut disayangkan, tapi itulah yang
terjadi.) Maksud Plato yaitu bahwa kita tidak pernah dapat
memiliki pengetahuan sejati tentang sesuatu yang selalu berubah. Kita
hanya dapat mempunyai pendapat tentang benda-benda yang ada di
dunia indriawi, benda-benda nyata. Kita hanya dapat mempunyai
pengetahuan sejati tentang segala sesuatu yang dapat dipahami akal
kita.
Baiklah, Nyai girah , aku akan menjelaskannya dengan cara yang lebih
gamblang: sebuah kue jahe orang-orangan bentuknya dapat begitu
berat sebelah setelah dipanggang sehingga sulit sekali untuk
mengenalinya. Tapi setelah melihat berlusin-lusin kue jahe orang-
orangan yang berhasil dibentuk dengan baik, aku dapat merasa yakin
benar seperti apa cetakan kue itu. Aku dapat menduga, meskipun aku
belum pernah melihatnya. Bahkan mungkin tidak ada gunanya melihat
cetakan yang sebenarnya dengan mataku sendiri, sebab kita tidak
selalu dapat memercayai bukti dari indra-indra kita. Indra
penglihatan itu bervariasi dari satu orang ke orang lainnya.
Sebaliknya, kita dapat bergantung pada apa yang dikatakan akal kita,
sebab itu sama bagi setiap orang.
Kalau kamu duduk di sebuah kelas bersama tiga puluh murid lain,
dan guru menanyakan kepada murid-murid warna pelangi apakah
yang paling indah, barangkali dia akan mendapatkan banyak jawaban
yang berlainan. Tapi jika dia bertanya berapa 8 kali 3, seluruh murid
—kita harap akan memberikan jawaban yang sama. Sebab kini, akal
yang berbicara dan akal, agaknya, merupakan lawan dari "perkiraan"
atau "perasaan". Kita dapat mengatakan bahwa akal itu kekal dan
universal justru karena ia hanya mengungkapkan keadaan-keadaan
yang kekal dan universal.
Plato menganggap matematika sangat mengasyikkan sebab keadaan
matematika tidak pernah berubah. Oleh karena itu, ada keadaan-
keadaan yang dapat kita peroleh pengetahuan sejatinya. Tapi di sini
kita memerlukan sebuah contoh.
Bayangkan kamu menemukan sebuah kerucut pohon cemara di
hutan. Barangkali kamu mengatakan, kamu "mengira" bentuknya
bundar sekali, sedangkan Joanna berkeras bentuknya sedikit datar di
satu sisi. (Lalu, kalian mulai berdebat tentang itu!) Tapi kamu tidak
mungkin memiliki pengetahuan sejati tentang apa saja yang kamu lihat
dengan matamu. Sebaliknya kamu dapat mengatakan dengan kepastian
mutlak bahwa jumlah sudut dalam suatu lingkaran yaitu 360 derajat.
Di sini kamu berbicara tentang lingkaran ideal yang mungkin tidak
ada di dunia fisik, tetapi dapat kamu gambarkan dengan jelas. (Kamu
berhadapan dengan cetakan kue jahe berbentuk orang yang
tersembunyi dan bukan dengan kue tertentu di atas meja dapur.)
Pendeknya, kita hanya dapat memiliki konsepsi-konsepsi yang
tidak tepat mengenai benda-benda yang kita lihat dengan indra kita.
Tapi kita dapat memiliki pengetahuan sejati tentang benda-benda
yang kita pahami dengan akal kita. Jumlah sudut dalam sebuah
segitiga tetap 180 derajat sampai kiamat nanti. Dan, begitu pula kuda
"ideal" itu akan berjalan di atas empat kaki meskipun jika semua
kuda di dunia indra patah sebelah kakinya.
Jiwa yang Abadi
Seperti yang pernah kujelaskan, Plato percaya bahwa realitas itu
terbagi menjadi dua wilayah.
Satu wilayah yaitu dunia indra, yang mengenainya kita
hanya dapat mempunyai pengetahuan yang tidak tepat atau tidak
sempurna dengan menggunakan lima indra kita. Di dunia indra
ini, "segala sesuatu berubah" dan tidak ada yang permanen.
Dalam dunia indra ini tidak ada sesuatu yang selalu ada, yang
ada hanyalah segala sesuatu yang datang dan pergi.
Wilayah yang lain yaitu dunia ide, yang mengenainya kita
dapat memiliki pengetahuan sejati dengan menggunakan akal
kita. Dunia ide ini tidak dapat ditangkap dengan indra, tetapi ide
(atau bentuk-bentuk) itu kekal dan abadi.
Menurut Plato, manusia yaitu makhluk ganda. Kita memiliki
tubuh yang "berubah" yang tidak terpisahkan dengan dunia indra, dan
tunduk pada takdir yang sama seperti segala sesuatu yang lain di
dunia ini—busa sabun, misalnya. Semua yang kita indrai didasarkan
pada tubuh kita dan karenanya tidak dapat dipercaya. Namun, kita
juga memiliki jiwa yang abadi—dan jiwa inilah dunianya akal. Dan,
karena tidak bersifat fisik, jiwa dapat menyelidiki dunia ide.
Tapi itu belum semua, Nyai girah . BELUM SEMUA!
Plato juga percaya bahwa jiwa telah ada sebelum ia mendiami
tubuh. (Ia berada di atas rak bersama seluruh cetakan kue.) Tapi
begitu jiwa bangkit dalam tubuh manusia, ia telah melupakan semua
ide yang sempurna. Lalu, sesuatu mulai terjadi. Sesungguhnya, suatu
proses yang luar biasa dimulai. saat manusia menemukan berbagai
bentuk di dunia alamiah ini, suatu ingatan yang samar-samar
menggerakkan jiwanya. Dia melihat seekor kuda—tapi kuda yang
tidak sempurna. (Seekor kuda dari kue jahe!) Penglihatan atas kuda
itu sudah cukup untuk membangkitkan dalam jiwanya ingatan yang
samar-samar tentang "kuda" yang sempurna, yang pernah diIihat jiwa
di dunia ide, dan ini menggerakkan jiwa dengan suatu kerinduan
untuk kembali ke tempatnya yang sejati. Plato menyebut kerinduan ini
eros—yang berarti cinta. Maka, jiwa mengalami "kerinduan untuk
kembali pada asal-usulnya yang sejati". Sejak itu, tubuh dan seluruh
dunia indra dianggap tidak sempurna dan tidak penting. Jiwa rindu
untuk terbang pulang dengan sayap-sayap cinta ke dunia ide. la ingin
dibebaskan dari belenggu tubuh.
Aku harus buru-buru menekankan bahwa Plato sedang
menggambarkan suatu jalan hidup yang ideal, sebab tidak semua
manusia membiarkan jiwanya bebas untuk memulai perjalanan ke
dunia ide, Kebanyakan orang bergantung pada "bayangan" ide di
dunia indra. Mereka melihat seekor kuda—dan kuda yang lain.
Namun, mereka tidak pernah mengerti bahwa setiap kuda itu hanyalah
tiruan yang buram. (Mereka bergegas ke dapur dan mengenyangkan
diri dengan kue-kue jahe tanpa memikirkan sama sekali darimana
kue-kue itu berasal.) Yang dikemukakan Plato yaitu jalan sang
filosof. Filsafatnya dapat dipahami sebagai suatu gambaran dari
praktik filosofis.
Jika kamu melihat sebuah bayang-bayang, Nyai girah , kamu akan
mengira bahwa pasti ada sesuatu yang menimbulkan bayang-bayang
itu. Kamu melihat bayang-bayang seekor binatang. Kamu kira itu
mungkin seekor kuda, tapi kamu tidak begitu yakin. Kamu berbalik
dan melihat kuda itu sendiri—yang tentu saja benar-benar lebih indah
dan lebih tegas bentuknya daripada "bayang-bayang kuda" yang
kabur. Plato juga percaya bahwa semua fenomena alam itu
hanyalah bayang-bayang dari bentuk atau ide yang kekal. Tapi
kebanyakan orang sudah puas dengan kehidupan di tengah bayang-
bayang. Mereka tidak memikirkan apa yang membentuk bayang-
bayang itu. Mereka mengira hanya bayang-bayang itulah yang ada,
tanpa pernah menyadari bahwa bayang-bayang ini ,
sesungguhnya, hanyalah bayang-bayang. Dan dengan begitu, mereka
tidak mengindahkan keabadian jiwa mereka sendiri.
Keluar dari Gua yang Gelap
Plato mengemukakan suatu mitos yang menggambarkan hal ini.
Kita menamakannya Mitos Gua. Aku akan menceritakannya kembali
dengan kata-kataku sendiri.
Bayangkan beberapa orang yang tinggal di dalam sebuah gua
bawah tanah. Mereka duduk membelakangi mulut gua dengan tangan
dan kaki terkekang sedemikian rupa, sehingga mereka hanya dapat
memandang dinding belakang gua. Di belakang mereka ada dinding
tinggi, dan di belakang dinding itu lewat makhluk-makhluk yang
menyerupai manusia, memegang berbagai benda di atas puncak
dinding. Karena ada api di belakang benda-benda ini, timbul
bayangan yang berkejap-kejap di dinding belakang gua. Maka, satu-
satunya yang dapat dilihat para penghuni gua yaitu permainan
bayang-bayang ini. Mereka telah berada dalam posisi ini sejak
dilahirkan. Maka, mereka mengira hanya bayang-bayang itulah yang
ada.
Bayangkan sekarang bahwa salah seorang penghuni gua berusaha
untuk membebaskan diri dari ikatan-ikatannya. Hal pertama yang
ingin diketahuinya yaitu dari mana asal semua bayang-bayang ini.
Menurutmu apa yang terjadi saat dia berbalik dan melihat benda-
benda yang dipegang di atas dinding? Mula-mula, dia silau karena
cahaya yang terang. Dia juga terpesona saat melihat benda-benda
itu dengan jelas sebab sebelumnya dia hanya melihat bayang-bayang
mereka. Jika dia berusaha untuk memanjat dinding dan melihat dunia
luar, dia akan lebih takjub lagi. Tapi setelah mengusap matanya, dia
akan terpesona oleh keindahan dari segala sesuatu. Untuk pertama
kalinya, dia akan melihat warna-warna dan bentuk-bentuk yang jelas.
Dia akan melihat binatang dan bunga yang sebenarnya, yang bayang-
bayangnya di dalam gua hanyalah refleksi yang suram. Bahkan
sekarang, dia akan bertanya kepada dirinya sendiri dari mana asal
semua binatang dan bunga itu. Lalu, dia akan melihat matahari di
langit, dan menyadari bahwa inilah yang memberikan kehidupan pada
binatang-binatang dan bunga-bunga ini , sebagaimana api
mengakibatkan terlihatnya bayang-bayang.
Penghuni gua yang kegirangan itu kini dapat pergi keluar,
bahagia dengan kebebasan yang baru saja diperolehnya. Namun
sebaliknya, dia memikirkan semua orang lainnya yang masih
tertinggal di dalam gua. Dia kembali. Begitu tiba di sana, dia
berusaha untuk meyakinkan para penghuni gua bahwa bayang-bayang
pada dinding gua itu hanyalah refleksi dari benda-benda "yang
sebenarnya". Tapi mereka tidak percaya padanya. Mereka menunjuk
ke dinding gua dan mengatakan bahwa yang mereka lihat itulah yang
sesungguhnya. Akhirnya, mereka membunuhnya.
Yang diceritakan Plato dalam Mitos Gua yaitu jalan ditempuh
filosof untuk keluar dari bayang-bayang menuju gagasan sejati di
balik semua fenomena alam. Dia mungkin juga terkenang akan
Socrates, yang dibunuh oleh "para penghuni gua", sebab dia
menggoyahkan gagasan konvensional mereka dan berusaha untuk
menerangi jalan menuju wawasan sejati. Mitos Gua menggambarkan
keberanian Socrates dan rasa tanggung jawabnya untuk mendidik
sesama.
Yang dimaksudkan Plato yaitu bahwa hubungan antara kegelapan
gua dan dunia di luar berkaitan dengan hubungan antara bentuk-
bentuk di dunia alamiah dan dunia ide. Bukan berarti bahwa dunia
alamiah itu memang gelap dan suram, tapi dunia itu gelap dan suram
jika dibandingkan dengan dunia ide yang terang. Lukisan
pemandangan yang indah juga tidak gelap dan suram. Namun, itu
hanyalah lukisan.
Negara Filosofis
Mitos Gua terdapat dalam dialog Plato, Republic. Dalam dialog
ini, Plato juga memberikan gambaran tentang "negara ideal", yaitu
suatu negara bayangan dan ideal, atau yang kita namakan negara
Utopis. Pendeknya, dapat kita katakan bahwa Plato percaya, negara
hendaknya diperintah oleh para filosof. Dia mendasarkan
penjelasannya ini pada susunan tubuh manusia.
Menurut Plato, tubuh manusia terdiri dari tiga bagian: kepala,
dada, dan perut. Untuk setiap bagian ini ada bagian jiwa yang terkait.
Akal terletak di kepala, kehendak terletak di dada, dan nafsu terletak
di perut. Masing-masing dari bagian jiwa ini juga memiliki cita-cita,
atau "kebajikan". Akal mencita-citakan kebijaksanaan, Kehendak
mencita-citakan keberanian, dan Nafsu harus dikekang sehingga
kesopanan dapat ditegakkan. Hanya jika ketiga bagian itu berfungsi
bersama sebagai suatu kesatuan sajalah, kita dapat menjadi seorang
individu yang selaras atau "berbudi luhur". Di sekolah, seorang anak
pertama-tama harus belajar untuk mengendalikan nafsu mereka, lalu
ia harus mengembangkan keberanian, dan akhirnya akal akan
menuntunnya menuju kebijaksanaan.
Plato membayangkan sebuah negara yang dibangun dengan cara
persis seperti tubuh manusia yang terdiri dari tiga bagian itu. Jika
tubuh mempunyai kepala, dada, dan perut, negara mempunyai
pemimpin, pembantu, dan pekerja (para petani, misalnya). Di sini
Plato secara jelas menggunakan ilmu pengobatan Yunani sebagai
model. Sebagaimana manusia yang sehat dan selaras
mempertahankan keseimbangan dan kesederhanaan, begitu pula
negara yang "baik" ditandai dengan adanya kesadaran setiap orang
akan tempat mereka dalam keseluruhan gambar itu.
Seperti setiap aspek dari filsafat Plato, filsafat politiknya ditandai
dengan rasionalisme. Terciptanya negara yang baik bergantung pada
apakah negara itu diperintah oleh akal. Sebagaimana kepala
mengatur tubuh, maka para filosoflah yang harus mengatur
masyarakat.
Mari kita coba membuat ilustrasi mengenai hubungan antara
ketiga bagian tubuh manusia dan negara:
TUBUH JIWA SIFAT NEGARA
kepala akal kebijaksanaan pemimpin
dada kehendak keberanian pelengkap
perut nafsu kesopanan pekerja
Negara ideal Plato bukannya tidak sama dengan sistem kasta
Hindu, yang di dalamnya masing-masing orang mempunyai fungsi
sendiri-sendiri demi kebaikan seluruh negara. Bahkan sebelum masa
hidup Plato, sistem kasta Hindu mempunyai tiga pembagian antara
kasta pembantu (atau kasta pendeta), kasta kesatria, dan kasta
pekerja. Kini mungkin kita akan menyebut negara Plato itu totaliter.
Tapi perlu dicatat bahwa dia percaya kaum wanita bisa memerintah
sama efektifnya dengan kaum pria karena alasan sederhana, yaitu
bahwa para pemimpin mengatur negara berdasarkan akal mereka.
Kaum wanita, dia menegaskan, mempunyai kemampuan penalaran
yang persis sama dengan kaum pria, asalkan mereka mendapatkan
peIatihan yang sama dan dibebaskan dari kewajiban membesarkan
anak dan mengurusi rumah tangga. Dalam negara ideal Plato, para
pemimpin dan kesatria tidak diperbolehkan menjalani kehidupan
keluarga atau memiliki kekayaan pribadi. Pendidikan anak dianggap
terlalu penting untuk diserahkan pada individu, sehingga tanggung
jawab itu harus diserahkan pada negara. (Plato yaitu filosof
pertama yang mendukung sekolah anak-anak yang diorganisasi oleh
negara dan pendidikan full-time.)
Setelah terjadi sejumlah kemunduran politik penting, Plato
menulis kitab Hukum, di dalamnya dia menggambarkan "negara
konstitusional" sebagai negara terbaik kedua. Dia kembali
membicarakan kekayaan pribadi dan ikatan keluarga. Kebebasan
kaum wanita menjadi lebih dibatasi. Namun, dia mengatakan bahwa
sebuah negara yang tidak mendidik dan melatih kaum wanita itu
seperti orang yang hanya melatih tangan kanannya.
Akhirnya, dapat kita katakan bahwa Plato mempunyai pandangan
positif tentang kaum wanita—mengingat zaman dia hidup. Dalam
dialog Symposium, dia memberikan kepada seorang wanita, pendeta
wanita yang legendaris, Diotima, kehormatan karena telah
memberikan wawasan filsafat kepada Socrates.
Jadi, itulah Plato, Nyai girah . Teori-teorinya yang menakjubkan telah
dibahas—dan dikecam—selama lebih dari dua ribu tahun. Orang
pertama yang melakukan itu yaitu salah satu murid dari akademinya
sendiri. Namanya Aristoteles, dan dialah filosof besar ketiga dari
Athena.
Sampai di sini dulu ya!
Sementara Nyai girah membaca tentang Plato, matahari telah naik di
atas hutan sebelah timur. Sinar itu mengintip di atas kaki langit tepat
saat dia sedang membaca bagaimana seorang manusia berhasil
memanjat keluar dari gua dan mengedip-ngedipkan matanya karena
silau oleh cahaya di luar.
Keadaannya, seolah-olah dia sendiri yang baru muncul dari gua
bawah tanah. Nyai girah merasa dirinya memandang alam dengan cara
yang sama sekali berbeda setelah dia membaca tentang Plato.
Rasanya seperti baru bebas dari buta warna. Dia telah melihat
bayang-bayang, tetapi belum melihat ide-ide yang jelas.
Dia tidak yakin Plato benar dalam segala sesuatu yang telah
dikatakannya mengenai pola-pola abadi, tetapi sungguh indah
memikirkan bahwa semua benda hidup merupakan tiruan tak
sempurna dari bentuk abadi di dunia ide. Sebab, bukankah benar
bahwa semua bunga, pohon, manusia, dan binatang itu "tidak
sempurna"?
Semua yang dia lihat di sekelilingnya begitu indah dan begitu
hidup, sehingga Nyai girah harus mengusap matanya untuk benar-benar
memercayainya. Namun, tak satu pun yang sedang dilihatnya sekarang
ini akan abadi. Sekalipun begitu—dalam waktu seratus tahun, bunga-
bunga dan binatang-binatang yang sama akan muncul lagi. Bahkan
jika setiap kuntum bunga dan setiap ekor binatang akan lenyap dan
terlupakan, akan tetap ada sesuatu yang "mengingatkan" bagaimana
rupa bunga atau binatang ini .
Nyai girah menatap dunia di hadapannya. Tiba-tiba, seekor tupai
berlari menaiki sebatang pohon cemara. la mengelilingi batang itu
beberapa kali dan lenyap ditelan cabang-cabangnya.
"Aku telah melihatmu sebelumnya!" pikir Nyai girah . Dia menyadari,
mungkin itu bukan tupai yang sama yang pernah dia lihat sebelumnya,
tapi dia telah melihat "bentuk" yang sama. Menurut hematnya, Plato
benar. Mungkin dia benar-benar telah melihat "tupai" abadi
sebelumnya—di dunia ide, sebelum jiwanya bersemayam dalam
tubuh manusia,
Tapi, benarkah dia pernah hidup sebelumnya? Apakah jiwanya
pernah ada sebelum ia mendapatkan tubuh untuk di tinggali? Dan
benarkah dia membawa sebongkah emas kecil dalam dirinya—
permata yang tidak dapat dirusak oleh waktu, jiwa yang akan terus
hidup saat tubuhnya sendiri menjadi tua dan mati?[]
Gubuk sang Mayor
***
... gadis dalam cermin itu mengedipkan kedua matanya ...
SEKARANG BARU pukul tujuh seperempat. Tidak perlu terburu-
buru pulang. Ibu Nyai girah selalu santai pada hari Minggu, maka dia
mungkin masih akan tidur selama dua jam lagi.
Haruskah dia masuk lebih jauh ke dalam hutan dan berusaha
menemukan Alberto Knox? Dan, mengapa anjing itu menggeram
kepadanya dengan begitu galak?
Nyai girah bangkit dan mulai melangkah di jalan yang dilewati
Hermes. Dia membawa amplop cokelat dengan halaman-halaman
dipenuhi penjelasan tentang Plato di tangannya. Setiap kali jalan
bercabang, dia mengambil jalan yang lebih lebar.
Burung berkicau di mana-mana—di pepohonan dan di udara, di
semak-semak dan belukar. Mereka sibuk dengan tugas pagi. Mereka
tidak mengenal perbedaan antara hari Minggu dan hari kerja. Siapa
yang pernah mengajari mereka untuk melakukan semua itu? Apakah
ada sebuah komputer kecil di dalam tubuh mereka masing-masing,
yang memprogram mereka untuk melakukan hal-hal tertentu?
Jalan itu menanjak ke arah bukit kecil, lalu menurun tajam di
antara pohon-pohon cemara yang tinggi. Hutan begitu lebat sehingga
dia hanya dapat melihat sejarak beberapa meter di sela pepohonan.
Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang berkilau di antara batang-
batang pohon cemara. Itu pasti sebuah danau kecil. Jalan itu memutar
ke arah danau, tapi Nyai girah menerobos di antara pepohonan. Tanpa
benar-benar mengetahui apa sebabnya, dia membiarkan kakinya
menuntunnya.
Danau itu tidak lebih besar daripada lapangan sepakbola. Di
seberang, dia dapat melihat sebuah gubuk bercat merah di atas tanah
terbuka yang dikelilingi oleh pohon-pohon birkin perak. Gumpalan
asap tipis naik dari cerobong asap.
Nyai girah turun ke tepi air. Air itu sangat berlumpur di banyak
tempat, tapi kemudian dia melihat sebuah perahu dayung. Perahu itu
sudah agak ke tengah air. Ada sepasang dayung di dalamnya.
Nyai girah melihat sekeliling. Dengan usaha apa pun, mustahil dia
bisa menyeberangi danau menuju gubuk merah itu tanpa membuat
sepatunya basah. Dengan yakin, dia mendekati perahu itu dan
mendorongnya ke dalam air. Lalu dia naik, memasang dayung pada
kunci dayung, lalu mulai mendayung menyeberangi danau. Perahu
dengan cepat sampai di tepi seberang. Nyai girah turun dan berusaha
untuk menarik perahu di belakangnya. Tepian di sini jauh lebih curam
dibandingkan dengan seberangnya. Dia menengok ke belakang hanya
sekali sebelum berjalan menuju gubuk.
Dia sungguh heran dengan keberaniannya sendiri. Bagaimana dia
dapat seberani ini? Dia tidak tahu. Seakan-akan "sesuatu"
mendorongnya.
Nyai girah menuju pintu dan mengetuk. Dia menunggu sebentar tapi
tidak ada yang menyahut. Dia mencoba memutar pegangan pintu
dengan waspada, dan pintu pun terbuka.
"Halo!" dia berseru. "Ada orang?"
Dia masuk dan mendapati dirinya berada di ruang duduk. Dia tidak
berani menutup pintu di belakangnya.
Jelas ada seseorang yang tinggal di sini. Nyai girah dapat mendengar
kayu mendedas di tungku tua. Seseorang berada di sini belum lama
ini.
Di atas sebuah meja makan besar terletak mesin ketik, beberapa
buku, sepasang pensil, dan setumpuk kertas. Sebuah meja yang lebih
kecil dan dua kursi berdiri di dekat jendela yang membuka ke arah
danau. Selain itu, hanya ada sedikit sekali perabot, meskipun satu
dinding penuh ditutup dengan rak-rak yang sarat buku. Di atas peti
berlaci tergantung sebuah cermin bulat dengan pigura kuningan yang
berat. Benda itu tampak sangat kuno.
Pada salah satu dinding tergantung dua lukisan. Yang satu yaitu
lukisan cat minyak sebuah rumah putih yang terletak selemparan batu
dari teluk kecil dengan sebuah rumah perahu merah. Antara rumah
dan rumah perahu itu yaitu taman landai dengan sebatang pohon
apel, semak-semak yang lebat, dan bebatuan. Pohon-pohon birkin
yang berjajar rapat memagari taman bagaikan kalungan bunga. Judul
lukisan itu yaitu "Bjerkely".
Di samping lukisan itu tergantung potret tua seorang pria yang
sedang duduk di kursi dekat jendela. Sebuah buku terletak di
pangkuannya. Dalam gambar ini juga tampak sebuah teluk kecil
dengan pepohonan dan bebatuan di latar belakang. Tampaknya
lukisan itu telah dibuat beberapa ratus tahun yang lalu. Judul lukisan
itu yaitu "Berkeley". Pelukisnya, Smibert.
Berkeley dan Bjerkely. Betapa anehnya!
Nyai girah meneruskan penyelidikannya. Sebuah pintu menghubungkan
ruang duduk dengan dapur kecil. Seseorang baru saja bekerja di situ.
Piring-piring dan gelas-gelas ditumpuk di atas serbet, sebagian masih
tertempel air sabun. Ada sebuah mangkuk kaleng dengan sisa-sisa
makanan di dalamnya. Siapa pun yang tinggal di sini pasti
mempunyai binatang piaraan, seekor anjing atau kucing.
Nyai girah kembali ke ruang duduk. Sebuah pintu lain mengarah ke
kamar tidur kecil. Di atas lantai di samping tempat tidur ada
sepasang selimut dalam gulungan tebal. Nyai girah menemukan beberapa
helai rambut emas pada selimut. Inilah buktinya! Kini, Nyai girah tahu
bahwa penghuni gubuk ini yaitu Alberto Knox dan Hermes.
Kembali ke ruang duduk, Nyai girah berdiri di depan cermin. Kaca itu
suram dan tergores-gores, dan gambarnya di situ pun menjadi kabur.
Nyai girah mulai mengamati bayangan cermin dirinya sendiri seperti
yang dilakukannya di rumah di dalam kamar mandi. Gambar di
mukanya melakukan hal yang sama, yang tentu saja wajar.
Tapi tiba-tiba, sesuatu yang menakutkan terjadi. Hanya sekali—
dalam waktu sekejap—Nyai girah melihat dengan jelas sekali bahwa
gadis dalam cermin itu mengedipkan kedua matanya. Nyai girah mulai
ketakutan. Jika dia sendiri yang berkedip—bagaimana dia dapat
melihat gadis yang lain itu berkedip? Dan tidak hanya itu, tampaknya
seakan-akan gadis lain itu berkedip pada Nyai girah untuk mengatakan:
Aku dapat melihatmu, Nyai girah . Aku di sini, di sebelah sini.
Nyai girah merasa jantungnya berdegup kencang, dan pada saat
yang sama, dia mendengar seekor anjing menyalak di kejauhan.
Hermes! Dia harus segera keluar dari sini. Lalu, dia melihat sebuah
dompet hijau di atas peti laci di bawah cermin. Di situ tersimpan
selembar uang seratus crown, selembar lima puluhan, dan sebuah
kartu pengenal sekolah. Pada kartu itu tertempel sebuah foto seorang
gadis dengan rambut indah. Di bawah foto tertulis nama gadis itu:
count dracula Moller Knag... Nyai girah gemetar. Lagi-lagi dia mendengar
anjing menyalak. Dia harus keluar, secepatnya!
saat bergegas melewati meja, dia melihat sebuah amplop putih
di antara buku-buku dan tumpukan kertas. Di situ tertulis sebuah kata:
Nyai girah .
Sebelum sempat menyadari apa yang sedang dilakukannya, dia
mengambil amplop itu dan menyimpannya ke dalam amplop cokelat
yang berisi pelajaran tentang Plato. Lalu, dia lari keluar pintu dan
membantingnya dibelakangnya.
Salakan anjing itu semakin dekat. Tapi, oh! Perahu itu tidak ada
lagi, setelah satu-dua detik dia melihatnya. Perahu itu terseret ke
tengah danau. Salah satu dayungnya mengambang di sampingnya.
Semua itu karena dia tadi tidak mendorongnya benar-benar ke
daratan. Dia mendengar anjing itu menyalak di dekatnya sekarang dan
melihat gerakan-gerakan di antara pepohonan di seberang danau.
Nyai girah tidak ragu-ragu lagi. Dengan amplop besar di tangannya,
dia melompat ke dalam semak-semak di belakang gubuk. Tak lama
kemudian, dia mengarungi tanah rawa, beberapa kali dia terperosok
hingga di atas mata kakinya. Tapi dia harus terus berjalan. Dia harus
sampai di rumah.
Kini, dia tiba di sebuah jalan. Apakah ini jalan yang diambilnya
tadi? Dia berhenti untuk memeras gaunnya. Dan kemudian dia mulai
menangis.
Bagaimana dia bisa begitu bodoh? Yang paling dia sesali yaitu
perahu itu. Dia tidak dapat melupakan pemandangan perahu dayung
itu dengan sebuah dayungnya terseret tanpa daya ke tengah danau.
Semua itu sungguh memalukan, sungguh ...
Guru filsafat itu mungkin telah sampai di danau sekarang. Dia akan
memerlukan perahu untuk tiba di rumah. Nyai girah nyaris merasa
dirinya bagaikan seorang penjahat. Tapi dia tidak melakukan hal itu
dengan sengaja.
Amplop! Itu barangkali lebih buruk lagi. Mengapa dia
mengambilnya? Sebab namanya tertera di situ, tentu saja, maka bisa
dikatakan bahwa itu miliknya. Tapi meskipun begitu, dia merasa
dirinya seperti seorang pencuri. Lagi pula, dia justru memberikan
bukti bahwa dialah yang tadi datang ke sana.
Nyai girah menarik keluar sebuah catatan dari amplop.
Bunyinya:
Mana yang ada lebih dulu—ayam atau ayam "ide"?
Apakah kita dilahirkan dengan "ide-ide" bawaan?
Apakah perbedaan antara tanaman, binatang, dan
manusia?
Mengapa hujan turun?
Apa yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang
baik?
Nyai girah tidak mungkin dapat memikirkan pertanyaan-pertanyaan
ini sekarang. Namun, dia mengira-ngira bahwa semua itu ada
kaitannya dengan filosof berikutnya. Kalau tak salah namanya
Aristoteles?
saat akhirnya melihat pagar tanaman setelah lama berlari
melintasi hutan, dia merasa seperti sedang berenang ke pantai setelah
kapalnya tenggelam. Pagar tanaman itu tampak lucu dari sebelah sini.
Dia tidak melihat arloji sampai dia tiba merangkak ke dalam
sarang. Kini jam setengah sebelas. Dia meletakkan amplop ke dalam
kaleng biskuit bersama kertas-kertas lain dan mengepit catatan
dengan pertanyaan-pertanyaan baru itu di pahanya.
Ibunya sedang menelepon saat dia masuk. saat melihat Nyai girah ,
dia segera meletakkan telepon.
"Dari mana saja kamu?"
"Aku ... berjalan-jalan ... di hutan," jawabnya tergagap.
"Kelihatannya begitu."
Nyai girah berdiri diam, mengamati air menetes-netes dari gaunnya.
"Aku menelepon Joanna ..."
"Joanna?"
Ibunya membawakannya beberapa pakaian kering.
Nyai girah hanya berusaha untuk menyembunyikan catatan dari sang
filosof. Lalu, mereka duduk bersama di dapur, dan ibunya membuat
cokelat panas.
"Apakah kamu bersama pria itu?"
"Pria itu?"
Nyai girah hanya dapat memikirkan guru filsafatnya.
"Dengan dia, ya. Dia ... kelincimu!"
Nyai girah menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kalian kerjakan saat kalian bersama-sama, Nyai girah ?
Mengapa kamu basah kuyup begitu?"
Nyai girah duduk menatap meja dengan muram. Namun jauh di dalam
hati dia tertawa. Kasihan Ibu, kini dia harus memusingkan hal itu.
Dia menggelengkan kepalanya lagi. Lalu lebih banyak lagi
pertanyaan yang menghujaninya.
"Sekarang aku ingin tahu yang sebenarnya. Apakah kamu keluar
semalaman? Mengapa kamu pergi tidur dengan pakaian lengkap?
Apakah kamu menyelinap keluar begitu aku tidur? Kamu baru empat
belas tahun, Nyai girah . Aku harus tahu siapa yang kamu temui!"
Nyai girah mulai menangis. Lalu dia berbicara. Dia masih ketakutan,
dan jika seseorang ketakutan dia biasanya berbicara.
Dia menjelaskan bahwa dia bangun pagi-pagi dan berjalan-jalan
ke hutan. Dia menceritakan kepada ibunya tentang gubuk dan perahu
itu, dan tentang cermin yang misterius. Namun, dia tidak menyebut-
nyebut perihal pelajaran melalui surat-surat rahasia. Dia juga tidak
menceritakan dompet hijau. Dia tidak benar-benar mengerti mengapa,
tapi dia harus menyimpan sendiri cerita tentang count dracula .
Ibu melingkarkan tangannya memeluk Nyai girah , dan Nyai girah tahu
bahwa ibunya memercayainya sekarang.
"Aku tidak mempunyai pacar," Nyai girah terisak. "Aku hanya
mengucapkannya sebab Ibu begitu meributkan masalah kelinci putih."
"Dan kamu benar-benar pergi sampai ke gubuk sang mayor ..." kata
ibunya dengan penuh pikiran.
"Gubuk sang mayor?" Nyai girah menatap ibunya.
"Gubuk kayu kecil itu dinamakan gubuk sang mayor sebab
beberapa tahun yang lalu, seorang mayor angkatan bersenjata tinggal
di sana beberapa lama. Dia agak eksentrik, sedikit sinting, kukira.
Tapi sudahlah. Sejak itu, gubuk itu tidak ditinggali lagi."
"Tapi bukan begitu! Ada seorang filosof tinggal di sana sekarang."
"Oh, berhentilah, jangan berfantasi lagi."
Nyai girah masuk ke kamarnya, memikirkan apa yang telah terjadi.
Kepalanya terasa seperti sirkus yang riuh rendah dengan gajah-gajah
yang berjalan lamban, badut-badut tolol, para pemain trapeze yang
pemberani, dan monyet-monyet terlatih. Tapi satu ingatan terus-
menerus merasukinya—sebuah perahu dayung kecil dengan satu
dayungnya di danau jauh di tengah hutan—dan seseorang yang
memerlukan perahu itu untuk pulang ke rumahnya.
Dia merasa yakin bahwa guru filsafat itu tidak bermaksud
mencelakainya, dan pasti akan memaafkannya seandainya dia tahu
Nyai girah telah datang ke gubuknya. Tapi Nyai girah telah melanggar
persetujuan. Hanya itulah ucapan terima kasih yang diterimanya
setelah memberi pendidikan filsafat. Bagaimana Nyai girah bisa
memperbaiki keadaan ini?
Nyai girah mengeluarkan kertas merah jambu dan mulai menulis:
Filosof yang baik, akulah yang datang ke gubuk Anda hari Minggu
pagi. Aku begitu ingin bertemu dengan Anda dan membicarakan
beberapa masalah filsafat. Saat ini, aku menjadi penggemar Plato,
tapi aku tidak yakin dia benar mengenai ide-ide atau gambar-gambar
pola yang ada dalam realitas yang lain itu. Tentu saja mereka ada
dalam jiwa kita, tapi kukira—setidak-tidaknya untuk saat ini—ini
yaitu hal yang berbeda. Aku pun harus mengakui bahwa aku tidak
sungguh-sungguh yakin tentang keabadian jiwa. Secara pribadi, aku
tidak menyimpan ingatan dari kehidupanku sebelumnya. Jika Anda
dapat meyakinkanku bahwa jiwa nenekku yang sudah meninggal kini
bahagia di dunia ide, aku akan sangat berterima kasih.
Sebenarnya, bukan karena alasan filosofis aku menulis surat
ini (yang akan kumasukkan ke dalam sebuah amplop merah
jambu dengan segumpal gula). Aku hanya ingin mengatakan
penyesalan karena tidak patuh. Aku berusaha untuk menarik
perahu itu agar benar-benar sampai ke daratan tapi ternyata aku
tidak cukup kuat. Atau, barangkali, gelombang besar telah
menyeret perahu itu lagi.
Aku harap Anda dapat tiba di rumah tanpa harus berbasah-
basah. Jika tidak, barangkali Anda akan terhibur kalau
mengetahui bahwa aku pun basah kuyup dan mungkin akan
masuk angin. Tapi itu memang salahku sendiri.
Aku tidak menyentuh apa pun di dalam gubuk, tapi dengan
menyesal kukatakan bahwa aku tidak dapat menahan godaan
untuk mengambil amplop yang terletak di atas meja. Bukan
karena aku ingin mencuri, tapi karena namaku tertulis di sana,
aku mengira bahwa surat itu milikku. Aku benar-benar dan
sungguh-sungguh menyesal, dan aku berjanji tidak akan pernah
mengecewakan Anda lagi.
N.B. Aku akan memikirkan semua pertanyaan baru dengan
hati-hati sekali, mulai sekarang.
N.B. lagi. Apakah cermin dengan pigura kuningan di atas peti
laci putih itu sebuah cermin biasa atau cermin sihir? Aku
menanyakan ini hanya karena aku tidak terbiasa melihat
bayanganku sendiri berkedip dengan kedua matanya.
Salam dari muridmu yang sangat berminat, Nyai girah
Nyai girah membaca seluruh surat itu dua kali sebelum
memasukkannya ke dalam amplop. Dia menganggap surat itu tidak
terlalu resmi seperti surat yang dia tulis sebelumnya. Sebelum turun
ke dapur untuk mengambil segumpal gula, dia memandang catatan
dengan pertanyaan-pertanyaan untuk hari itu:
"Mana yang ada lebih dulu—ayam atau ayam "ide?"
Pertanyaan ini sama sulitnya dengan teka-teki lama tentang ayam
dan telur. Tidak akan ada ayam tanpa telur, dan tidak ada telur tanpa
ayam. Apakah memang sama rumitnya untuk mengetahui apakah ayam
atau ayam "ide" yang ada lebih dulu? Nyai girah paham apa yang
dimaksudkan Plato. Maksudnya yaitu bahwa ayam "ide" telah ada
di dunia ide jauh sebelum ayam ada di dunia indra. Menurut Plato,
jiwa telah "melihat" ayam "ide" sebelum ia tinggal di dalam tubuh.
Tapi, bukankah justru di sini Nyai girah menganggap Plato pasti keliru?
Bagaimana seseorang yang tidak pernah melihat seekor ayam hidup
atau sebuah gambar ayam dapat mempunyai "ide" tentang seekor
ayam? Ini membawanya pada pertanyaan berikutnya:
Apakah kita dilahirkan dengan "ide-ide" bawaan? Sangat mustahil,
pikir Nyai girah . Dia tidak dapat membayangkan seorang bayi yang baru
lahir telah dilengkapi dengan ide. Jelas kita tidak bisa
memastikannya, sebab kenyataan bahwa bayi tidak mempunyai
bahasa tidak lantas berarti bahwa ia pun tidak mempunyai ide di
kepalanya. Tapi tentunya, kita harus melihat benda-benda di dunia
sebelum kita mengetahui sesuatu tentang mereka.
"Apakah perbedaan antara tanaman, binatang, dan manusia?"
Nyai girah dapat dengan cepat mengetahui perbedaannya yang sangat
jelas.
Misalnya, dia beranggapan bahwa tanaman tidak mempunyai
kehidupan emosional yang rumit. Siapa yang pernah mendengar
tentang bunga lonceng-biru yang patah hati? Tanaman tumbuh,
mengambil makanan, dan menghasilkan benih sehingga ia dapat
membiakkan diri. Hanya itulah yang dapat dikatakan orang tentang
tanaman. Nyai girah menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang berlaku
untuk tanaman juga berlaku untuk binatang dan manusia. Tapi
binatang mempunyai sifat-sifat lain juga. Mereka dapat bergerak,
misalnya. (Mana ada bunga mawar ikut lari maraton?) Agak lebih
sulit untuk mengemukakan perbedaan antara binatang dan manusia.
Manusia dapat berpikir, tapi bukankah binatang juga bisa? Nyai girah
yakin bahwa kucingnya, Sherekan, dapat berpikir. Setidak-tidaknya,
ia bisa sangat perhitungan. Tapi dapatkah dia merenungkan masalah-
masalah filosofis? Dapatkah seekor kucing memikirkan perbedaan
antara tanaman, binatang, dan manusia? Mustahil! Seekor kucing
mungkin dapat me rasa se nang atau sedih, tapi pernahkah ia bertanya
pada dirinya sendiri apakah Tuhan itu ada atau apakah ia mempunyai
jiwa yang kekal? Nyai girah beranggapan bahwa hal itu benar-benar
meragukan. Tapi masalah yang sama timbul di sini dalam kaitan
dengan bayi dan ide-ide bawaan. Akan sama sulitnya untuk berbicara
kepada seekor kucing mengenai masalah-masalah ini
sebagaimana membicarakannya dengan seorang bayi.
"Mengapa hujan turun?" Nyai girah mengangkat bahunya. Hujan
mungkin turun karena air laut menguap dan awan mengembunkannya
menjadi titik air hujan. Bukankah dia telah mempelajarinya di kelas
tiga? Tentu saja, orang dapat selalu mengatakan bahwa hujan turun
agar tanaman dan binatang dapat tumbuh dan berkembang. Tapi
apakah itu benar? Apakah hujan mempunyai tujuan nyata?
Pertanyaan terakhir jelas berkaitan dengan tujuan: "Apa yang
dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang baik?"
Filosof itu telah menuliskan sesuatu mengenai hal ini di awal
pelajaran. Setiap orang memerlukan makanan, kehangatan, cinta,
dan perhatian. Kebutuhan dasar itu merupakan syarat utama bagi
kehidupan yang baik, bagaimanapun. Lalu, dia pun mengemukakan
bahwa orang perlu menemukan jawaban bagi pertanyaan filosofis
tertentu. Barangkali juga sangat penting untuk mempunyai pekerjaan
yang disukai. Jika Anda membenci lalu lintas, misalnya, Anda tidak
akan senang menjadi sopir taksi. Dan, jika Anda benci mengerjakan
pekerjaan rumah, sebaiknya jangan menjadi guru. Nyai girah sangat
menyukai binatang dan ingin menjadi dokter hewan. Tapi, dia tidak
merasa perlu memenangi uang satu juta dari lotere untuk dapat
menjalani kehidupan yang baik.
Justru sebaliknya, mungkin. Ada pepatah mengatakan: setan akan
mendatangi mereka yang menganggur.
Nyai girah tinggal di dalam kamarnya hingga Ibu memanggilnya
turun untuk menikmati makan besar siang hari. Dia telah menyiapkan
steak daging sapi dan kentang panggang. Juga tersedia puding
stroberi dan krim untuk pencuci mulut.
Mereka berbicara tentang berbagai hal. Ibu Nyai girah bertanya
dengan cara bagaimana dia ingin merayakan ulang tahunnya yang
kelima belas. Hari ulang tahun itu tinggal beberapa minggu lagi.
Nyai girah mengangkat bahu. "Tidakkah kamu akan mengundang
seseorang? Maksudku, tidakkah kamu ingin mengadakan pesta?"
"Mungkin."
"Kita dapat mengundang Martha dan Anne Marie ...dan Helen. Dan
Joanna, tentu saja. Dan Jeremy, mungkin. Tapi kamu sajalah yang
memutuskan. Aku ingat betul ulang tahunku sendiri yang kelima belas,
kamu tahu. Rasanya itu belum begitu lama. Aku merasa aku telah
benar-benar dewasa waktu itu. Aneh kan, Nyai girah ! Rasanya aku belum
berubah sama sekali sejak itu."
"Memang belum. Tidak ada yang berubah. Ibu cuma berkembang,
bertambah tua ..."
"Mm ... kedengaran dewasa betul kata-katamu. Aku hanya merasa
semuanya terjadi sangat cepat."[]
Aristoteles
***
... seorang organisator yang teliti dan ingin menjernihkan
konsep-konsep kita ...
saat IBU sedang menikmati tidur siang, Nyai girah pergi ke
sarang. Dia telah memasukkan segumpal gula ke dalam amplop merah
jambu dan menulis "Kepada Alberto" di luarnya.
Tidak ada surat baru. Tapi setelah beberapa saat, Nyai girah
mendengar anjing itu mendekat.
"Hermes!" dia berseru, dan saat berikutnya anjing itu telah
menembus jalan ke dalam sarang dengan sebuah amplop cokelat
besar di mulutnya.
"Bagus!" Nyai girah melingkarkan tangannya ke tubuh anjing itu, yang
mendengus-dengus dan mengendus-endus seperti seekor walrus.
Nyai girah mengambil amplop merah jambu dengan gumpalan gula itu
dan meletakkannya di mulut si anjing. Anjing itu merayap melewati
pagar tanaman dan kembali berlari menuju hutan.
Nyai girah membuka amplop besar itu dengan gelisah, sambil
bertanya-tanya dalam hati apakah dalam surat itu akan dikatakan
sesuatu tentang gubuk dan perahu.
Amplop itu berisi halaman-halaman saat n biasa yang disatukan
dengan sebuah penjepit kertas. Tapi masih ada selembar kertas lepas
di dalamnya. Di situ tertulis:
Nona Detektif, atau, yang lebih tepat, Nona Pencuri, yang
terhormat. Kasus itu telah diserahkan pada polisi.
Tidak, cuma bercanda. Aku tidak marah. Jika kamu sama
penasarannya untuk menemukan jawaban bagi teka-teki filsafat,
akan kukatakan bahwa petualanganmu sungguh menjanjikan.
Hanya agak menjengkelkan bagiku karena aku harus pindah
sekarang. Tapi, tidak ada yang patut disalahkan kecuali diriku
sendiri, kukira. Mungkin kamu memang orang yang akan selalu
ingin menyelami segala hal sampai tuntas.
Salam, Alberto
Nyai girah merasa lega. Jadi, Alberto tidak marah. Tapi, mengapa dia
harus pindah?
Nyai girah mengambil kertas-kertas itu dan berlari menuju kamarnya.
Akan bijaksana kalau dia berada di rumah saat ibunya bangun.
Dengan berbaring nyaman di atas tempat tidurnya, dia mulai
membaca tentang Aristoteles.
FILOSOF DAN ILMUWAN
Nyai girah yang baik: kamu barangkali terkejut dengan teori Plato
mengenai gagasan. Tapi bukan kamu saja! Aku tidak tahu apakah
kamu menelan semuanya—setiap kata, setiap kalimat—atau apakah
kamu mempunyai komentar kritis. Tapi jika memang kamu punya,
kamu boleh yakin bahwa kritik yang sama dikemukakan oleh
Aristoteles (384-322 SM), yang menjadi murid di Akademi Plato
selama hampir dua puluh tahun.
Aristoteles bukan penduduk asli Athena. Dia dilahirkan di
Macedonia dan datang ke Akademi Plato saat usia Plato 61 tahun.
Ayah Aristoteles yaitu seorang dokter yang di hormati—dan
karenanya juga seorang ilmuwan. Latar belakang ini telah
memberikan gambaran kepada kita tentang proyek filsafat
Aristoteles. Yang paling menarik baginya yaitu telaah alam. Dia
bukan hanya filosof Yunani besar yang terakhir, melainkan juga ahli
biologi besar Eropa yang pertama.
Dengan berlebihan, dapat kita katakan bahwa Plato begitu
keasyikan dengan bentuk-bentuk kekal, atau "ide-ide", sehingga dia
tidak memerhatikan perubahan-perubahan alam. Aristoteles,
sebaliknya, sangat sibuk memerhatikan perubahan-perubahan ini—
atau apa yang kini kita namakan proses alam.
Untuk semakin melebih-lebihkannya, dapat kita katakan bahwa
Plato telah meninggalkan dunia indra dan menutup mata terhadap
segala sesuatu yang kita lihat di sekeliling kita. (Dia ingin melarikan
diri dari gua dan memandang jauh ke dunia gagasan yang kekal!)
Aristoteles sebaliknya: dia terjun dalam-dalam dan menelaah katak
dan ikan, aneka bunga dan pohon. Sementara Plato menggunakan
akalnya, Aristoteles menggunakan perasaannya pula.
Kita menemukan perbedaan jelas antara keduanya, juga dalam
tulisan mereka. Plato yaitu seorang penyair dan ahli mitologi;
tulisan-tulisan Aristoteles sangat kering dan kaku seperti ensiklopedi.
Selain itu, kebanyakan dari apa yang ditulisnya didasarkan pada
telaah-telaah lapangan yang sangat cermat.
Catatan dari zaman kuno mengacu pada 170 judul yang
diperkirakan sebagai tulisan Aristoteles. Di antara semuanya ini, 47
judul berhasil dilestarikan. Buku-buku ini tidak sempurna;
mereka terutama berisi catatan-catatan kuliah. Pada masanya,
filsafatnya masih merupakan aktivitas lisan.
Arti penting Aristoteles dalam kebudayaan Eropa juga dikarenakan
dia telah menciptakan terminologi yang masih di gunakan oleh para
ilmuwan masa kini. Dia yaitu seorang organisator ulung yang
mendirikan dan mengklasifikasikan berbagai ilmu.
Karena Aristoteles menulis semua bidang ilmu, aku akan
membatasi diri dengan beberapa bidang yang paling penting saja.
Kini, setelah aku bercerita padamu banyak hal tentang Plato, kamu
harus mulai dengan mendengarkan bagaimana Aristoteles
membuktikan kesalahan teori ide Plato. Selanjutnya, kamu akan
memerhatikan cara dia merumuskan filsafat alamnya sendiri, sebab
memang Aristoteleslah yang menyimpulkan apa yang pernah
dikemukakan oleh para filosof alam sebelum dirinya. Kita akan
melihat bagaimana dia mengategorikan dan mendirikan disiplin
Logika sebagai ilmu. Dan akhirnya aku akan memberitahukan
kepadamu sedikit pandangan Aristoteles tentang manusia dan
masyarakat.
Tidak Ada Ide Bawaan
Seperti para filosof sebelumnya, Plato ingin menemukan yang
kekal dan abadi di tengah semua perubahan. Maka, dia menemukan
ide sempurna yang lebih unggul daripada dunia indra. Lebih jauh
Plato berpendapat bahwa ide itu lebih nyata dibandingkan dengan
semua fenomena alam. Mula-mula muncul "kuda" ide, lalu muncul
semua kuda dari dunia indra yang berderap bagaikan bayang-bayang
di atas tembok gua. "Ayam" ide ada sebelum ayam maupun telurnya.
Aristoteles menganggap Plato telah menjungkirbalikkan segalanya.
Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda-kuda "berubah" dan bahwa
tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk
nyata dari kuda itu kekal dan abadi. Tapi kuda "ide" itu yaitu
konsep yang dibentuk oleh manusia setelah melihat sejumlah kuda
tertentu. Kuda "ide" karenanya tidak mempunyai eksistensinya
sendiri. Bagi Aristoteles, kuda "ide" atau "bentuk" tercipta dari ciri-
ciri kuda—yang mendefinisikan apa yang kini kita sebut spesies
kuda.
ARISTOTELES
Agar lebih jelas: dengan kuda "ide", yang dimaksudkan
Aristoteles yaitu sesuatu yang dimiliki oleh semua kuda. Dan di
sini, kiasan tentang cetakan kue jahe tidak cocok, sebab cetakan itu
berada terpisah dari kue-kue jahe tertentu. Aristoteles tidak percaya
pada adanya cetakan atau bentuk semacam itu yang tersimpan di atas
rak mereka sendiri di luar dunia alam. Sebaliknya, bagi Aristoteles,
"ide-ide" itu ada dalam benda-benda, sebab mereka merupakan ciri
khas benda-benda ini .
Maka, Aristoteles tidak setuju dengan Plato bahwa ayam "ide" ada
sebelum ayam. Yang oleh Aristoteles dinamakan ayam "ide" itu ada
dalam setiap ayam sebagai ciri khas ayam—misalnya, ia bertelur.
Ayam nyata dan ayam "ide" karenanya tidak dapat dipisahkan
sebagaimana tubuh dan jiwa.
Dan itulah sesungguhnya inti kritik Aristoteles atas teori Plato
mengenai ide. Tapi, kamu tidak boleh mengabaikan fakta bahwa ini
merupakan peralihan pikiran yang dramatis. Tingkat realitas paling
tinggi, dalam teori Plato, yaitu sesuatu yang kita pikirkan dengan
akal kita. Sedangkan menurut Aristoteles, tingkat realitas tertinggi
yaitu sesuatu yang kita lihat dengan indra kita. Plato berpendapat
bahwa semua benda yang kita lihat di dunia alam ini semata-mata
cerminan dari benda-benda yang ada dalam realitas yang lebih tinggi
daripada dunia ide—dan itu yaitu dalam jiwa manusia. Aristoteles
berpendapat sebaliknya: benda-benda yang ada di dalam jiwa
manusia itu semata-mata cerminan objek-objek alam. Maka, alam
yaitu dunia yang nyata. Menurut Aristoteles, Plato terperangkap
dalam gambaran mitologis dunia yang di dalamnya imajinasi manusia
disamakan dengan dunia nyata.
Aristoteles mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun di dalam
kesadaran yang belum pernah dialami oleh indra. Plato sebelumnya
mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia alam ini yang
sebelumnya tidak lebih dahulu ada di dunia ide. Aristoteles
berpendapat bahwa dengan begitu Plato "menggandakan jumlah
benda-benda". Dia menjelaskan seekor kuda dengan mengacu pada
kuda "ide". Tapi, penjelasan macam apa itu, Nyai girah ? Pertanyaanku
yaitu , dari mana datangnya kuda "ide" itu? Mungkinkah nantinya
akan ada kuda ketiga, karena kuda "ide" itu hanyalah tiruan darinya?
Aristoteles berpendapat bahwa seluruh pemikiran dan gagasan kita
masuk ke dalam kesadaran kita melalui apa yang pernah kita dengar
dan lihat. Namun, kita juga mempunyai kekuatan akal bawaan. Kita
tidak mempunyai ide bawaan, seperti yang diyakini Plato, tapi kita
mempunyai kemampuan bawaan untuk mengorganisasikan seluruh
kesan indrawi ke dalam kategori-kategori dan kelompok-kelompok.
Dengan cara inilah konsep seperti "batu", "tanaman", "binatang", dan
"manusia" timbul. Dan timbul pula konsep seperti "kuda", "lobster",
dan "kenari".
Aristoteles tidak menyangkal bahwa manusia mempunyai akal
bawaan. Sebaliknya, justru akal itulah, menurut Aristoteles, yang
merupakan ciri khas yang membedakan manusia dengan makhluk-
makhluk lainnya. Tapi akal kita sama sekali kosong sampai kita
mengalami sesuatu. Jadi, manusia tidak mempunyai "ide-ide"
bawaan.
Bentuk Suatu Benda yaitu Ciri Khasnya
Setelah mencapai kesepakatan dengan teori Plato mengenai ide,
Aristoteles memutuskan bahwa realitas terdiri dari berbagai benda
terpisah yang menciptakan suatu kesatuan antara bentuk dan
substansi. "Substansi" yaitu bahan untuk membuat benda-benda,
sedangkan "bentuk" yaitu ciri khas masing-masing benda.
Seekor ayam ribut berlalu-lalang di depanmu, Nyai girah . "Bentuk"
ayam itu memang sesuatu yang ribut—dan yang berkotek serta
bertelur. Maka, dengan "bentuk" seekor ayam, yang kita maksudkan
yaitu ciri khas spesies itu—atau, dengan kata lain, hakikatnya. Jika
ayam mati—dan tidak berkotek lagi—"bentuk"-nya tidak lagi ada.
Satu-satunya yang tinggal hanyalah "substansi" ayam itu (sungguh
menyedihkan, Sohie), namun begitu ia bukan lagi seekor ayam.
Seperti kukatakan sebelumnya, Aristoteles sangat memerhatikan
perubahan-perubahan alam. "Substansi" selalu menyimpan potensi
untuk mewujudkan suatu "bentuk" tertentu. Dapat kita katakan bahwa
"substansi" selalu berusaha untuk mewujudkan potensi bawaan.
Setiap perubahan alam, menurut Aristoteles, merupakan perubahan
substansi dari yang "potensial" menjadi "aktual".
Ya, akan kujelaskan apa maksudku, Nyai girah . Perhatikan kalau-kalau
cerita lucu ini dapat membantumu. Seorang pematung sedang
mengerjakan sebuah balok granit besar. Dia menetak-netak balok tak
berbentuk itu setiap hari. Suatu hari, seorang pemuda kecil datang
dan berkata, "Apa yang kamu cari?" "Tunggu dan lihat saja," jawab
pematung itu. Setelah beberapa hari, si pemuda kecil kembali, dan
kini pematung itu telah memahat seekor kuda yang sangat indah dari
granit ter sebut. Si pemuda kecil menatapnya dengan heran, lalu dia
berpaling pada pematung itu dan berkata, "Bagaimana kamu tahu
kuda itu ada di sana?"
Bagaimana, coba! Sedikit banyak, pematung itu telah melihat
bentuk kuda dalam balok granit, sebab balok granit itu mempunyai
potensi untuk dibentuk menjadi bentuk seekor kuda. Demikian pula,
Aristoteles percaya bahwa segala sesuatu di alam ini mempunyai
potensi untuk menjadikan nyata, atau mencapai, suatu "bentuk"
tertentu.
Mari kita kembali pada ayam dan telur. Sebutir telur mempunyai
potensi untuk menjadi seekor ayam. Ini tidak berarti bahwa semua
telur ayam dapat menjadi ayam—banyak di antara mereka berakhir di
atas meja sarapan sebagai telur goreng, telur dadar, atau telur orak-
arik, tanpa pernah menjadikan nyata potensi mereka. Tapi juga jelas
sekali bahwa sebutir telur ayam tidak dapat menjadi seekor angsa.
Potensi itu tidak ada dalam telur ayam. "Bentuk" dari sesuatu,
karenanya, menunjukkan batasan dan juga potensinya.
saat Aristoteles membicarakan "substansi" dan "bentuk" benda-
benda, dia tidak hanya mengacu pada organisme hidup. Sebagaimana
sudah menjadi "bentuk" ayam untuk berkotek, mengepak-ngepakkan
sayapnya, dan bertelur, maka "bentuk" batu yaitu jatuh ke tanah.
Sebagaimana ayam tidak bisa tidak berkotek, batu pun tidak bisa
tidak jatuh ke tanah. Kamu, tentu saja, dapat mengangkat sebuah batu
dan melemparkannya ke udara, tapi karena sudah menjadi sifat batu
untuk jatuh ke tanah, kamu tidak dapat melemparkannya ke bulan.
(Hati-hati kalau kamu mau melakukan percobaan ini, sebab batu itu
mungkin akan membalas dendam dan menemukan jalan paling dekat
untuk kembali ke tanah!)
Sebab Terakhir
Sebelum kita beranjak dari subjek tentang semua benda hidup dan
mati yang mempunyai "bentuk" yang menunjukkan sesuatu tentang
potensi "aksi" mereka, harus kutambahkan bahwa Aristoteles
mempunyai pandangan yang luar biasa mengenai hubungan sebab-
akibat di alam.
Kini, jika kita membicarakan "sebab" dari apa pun, yang kita
maksudkan yaitu bagaimana hal itu dapat terjadi. Kaca jendela
pecah sebab Peter melemparkan batu dan mengenainya; sepatu dibuat
karena pembuat sepatu menjahit potongan-potongan kulit menjadi
satu. Tapi, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada sebab-sebab yang
berbeda di alam. Sekaligus dia menyebut empat sebab yang berbeda.
Penting untuk memahami apa yang dia maksud dengan yang
disebutnya "sebab terakhir".
Dalam kejadian jendela pecah, sangat masuk akal untuk
menanyakan kepada Peter mengapa dia melempar batu. Jadi, kita
menanyakan apa tujuannya. Tidak ada keraguan lagi bahwa tujuan
memainkan suatu peranan, juga, dalam hal dibuatnya sepatu. Tapi,
Aristoteles juga mempertimbangkan "tujuan" yang sama saat
memikirkan proses-proses alam. Inilah contohnya:
Mengapa hujan turun, Nyai girah ? Kamu mungkin telah belajar di
sekolah bahwa hujan turun karena uap di awan mendingin dan
memadat menjadi titik-titik air hujan yang berjatuhan ke bumi karena
adanya daya tarik bumi. Aristoteles pasti akan mengangguk setuju.
Tapi dia juga akan menambahkan bahwa sampai di sini kamu baru
mengemukakan tiga sebab. "Sebab material" yaitu bahwa uap
(awan) ada di sana pada saat yang tepat saat udara mendingin.
"Sebab efisien" yaitu bahwa uap mendingin, dan "sebab formal"
yaitu bahwa "bentuk", atau sifat air, yaitu jatuh ke bumi. Tapi jika
kamu berhenti di sana, Aristoteles akan menambahkan bahwa hujan
turun karena tanaman dan binatang memerlukan air agar dapat

