uakkan kepalanya keluar dari topi runcing
biarawannya dan mengamati jemaatnya, yang terdiri dari seorang
gadis berusia empat belas tahun.
"Jika setiap jam berarti seratus tahun, ya. Kita dapat menganggap
Yesus dilahirkan pada tengah malam. Paulus memulai perjalanan
misionarisnya tepat sebelum lewat jam satu pagi dan meninggal di
Roma seperempat jam kemudian. Sekitar jam tiga pagi, gereja
Kristen masih dilarang, tapi menjelang 313 M sudah menjadi agama
yang diterima di kekaisaran Romawi. Itu terjadi pada masa
pemerintahan Kaisar Konstantin. Kaisar suci itu sendiri pertama kali
dibaptis di ranjang kematiannya bertahun-tahun kemudian. Sejak 380
M, agama Kristen menjadi agama resmi di seluruh kekaisaran
Romawi."
"Bukankah kekaisaran Romawi jatuh?"
"Memang sudah mulai hancur. Kita sedang berdiri di depan
salah satu perubahan besar dalam sejarah kebudayaan. Romawi,
pada abad keempat, mendapat ancaman dari bangsa barbar yang
mendesak dari utara dan juga terancam perpecahan dari dalam.
Pada 330 M, Konstantin Agung memindahkan ibu kota kekaisaran
dari Roma ke Konstantinopel, kota yang telah dibangunnya di dekat
Laut Hitam. Banyak orang menganggap kota baru itu "Roma Kedua".
Pada 395 M, kekaisaran Romawi terbagi dua—kekaisaran Barat
dengan Roma sebagai pusatnya, dan kekaisaran Timur dengan kota
baru Konstantinopel sebagai ibu kota. Roma direbut oleh bangsa
barbar pada 410, dan pada 476, seluruh kekaisaran Barat hancur.
Kekaisaran Timur tetap hidup sebagai suatu negara hingga 1453
saat bangsa Turki menaklukkan Konstantinopel."
"Dan namanya diubah menjadi Istanbul?"
"Benar! Istanbul yaitu namanya yang terakhir. Angka tahun lain
yang harus kita catat yaitu 529. Itulah tahun saat Gereja menutup
Akademi Plato di Athena. Pada tahun yang sama, ordo Benedictin,
yang pertama di antara ordo-ordo monastik besar, didirikan. Tahun
529 karenanya menjadi lambang bagaimana Gereja Kristen menolak
filsafat Yunani. Sejak itu, biara memegang monopoli pendidikan,
perenungan, dan meditasi. Jam berdetik menuju angka tujuh tiga puluh
..."
Nyai girah mengerti apa yang dimaksudkan Alberto dengan semua
angka waktu itu. Tengah malam yaitu tahun 0, jam satu yaitu 100
tahun setelah kelahiran Kristus, jam enam yaitu 600 tahun setelah
kelahiran Kristus, dan jam 14 yaitu 1.400 tahun setelah kelahiran
Kristus ...
Alberto melanjutkan: "Abad Pertengahan benar-benar berarti
periode antara dua zaman yang berbeda. Ungkapan itu timbul pada
masa Renaisans. Zaman Kegelapan, sebutan yang lain, dianggap
sebagai satu malam sepanjang seribu tahun yang tak berkesudahan,
yang telah mengungkung Eropa antara zaman Yunani kuno dan
Renaisans. Kata "medieval" digunakan dalam arti negatif sekarang
ini mengenai segala sesuatu yang bersifat sewenang-wenang dan
tidak luwes. Tapi banyak ahli sejarah kini menganggap Abad
Pertengahan sebagai periode seribu tahun pengecambahan dan
pertumbuhan. Sistem sekolah, misalnya, dikembangkan pada Abad
Pertengahan. Sekolah biara pertama dibuka sejak awal masa ini, dan
sekolah katedral mengikutinya pada abad kedua belas. Sekitar tahun
1200, universitas pertama didirikan, dan subjek-subjek yang
diajarkan dikelompokkan ke dalam berbagai "fakultas", seperti
sekarang."
"Seribu tahun itu benar-benar waktu yang lama."
"Ya, tapi agama Kristen memerlukan waktu untuk meraih massa.
Lagi pula, pada Abad Pertengahan itu berbagai negara-bangsa mulai
berdiri, begitu juga kota-kota dan warga negara, musik rakyat dan
cerita rakyat. Apa jadinya dongeng-dongeng dan lagu-lagu rakyat
tanpa Abad Pertengahan? Bahkan, apa jadinya Eropa? Sebuah
provinsi Romawi, barangkali. Namun gaung nama-nama seperti
Inggris, Prancis, atau Jerman berasal dari dalam perairan Abad
Pertengahan. Ada banyak ikan cemerlang yang berenang-renang di
seputar kedalaman itu, meskipun kita tidak selalu dapat melihat
mereka. Snorri hidup pada Abad Pertengahan. Begitu pula Saint Olaf
dan Charlemagne, belum lagi Romeo dan Juliet, Joan of Arc,
Ivanhoe, Peniup Suling dari Hamelin, dan banyak pangeran besar dan
raja yang agung, para kesatria yang gagah berani dan gadis-gadis
jelita, para pembuat kaca patri dan pembuat organ yang lihai. Dan
aku bahkan belum menyebut para biarawan, pasukan perang salib,
atau penyihir."
"Anda juga tidak menyebut tentang pendeta."
"Benar. Agama Kristen baru sampai di Norwegia pada abad
kesebelas. Akan berlebihan jika dikatakan bahwa negeri-negeri
Skandinavia memeluk agama Kristen secara serta-merta.
Kepercayaan kuno penyembah berhala masih bertahan di balik wajah
agama Kristen, dan banyak unsur Kristen ini menyatu dengan agama
Kristen. Dalam perayaan Natal Skandinavia, misalnya, adat-istiadat
Kristen dan Skandinavia lama tercampur aduk hingga hari ini. Dan di
sini peribahasa kuno pun berlaku, bahwa mereka yang kawin semakin
lama menjadi semakin mirip satu sama lain. Tak diragukan lagi
bahwa agama Kristen lambat laun menjadi filosofi kehidupan yang
paling berpengaruh. Karena itulah kita biasanya membicarakan Abad
Pertengahan sebagai kekuatan pemersatu kebudayaan Kristen."
"Jadi tidak sepenuhnya suram, ya?"
"Abad-abad pertama setelah tahun 400 benar-benar merupakan
kehancuran budaya. Periode Romawi mempunyai peradaban tinggi,
dengan kota-kota besar yang telah membangun saluran-saluran air,
tempat-tempat mandi umum, dan banyak perpustakaan, belum lagi
arsitekturnya yang mengagumkan. Pada awal Abad Pertengahan,
seluruh kebudayaan ini hancur. Begitu pula perdagangan dan
ekonominya. Pada Abad Pertengahan, orang-orang kembali pada
pembayaran dengan barang sejenis dan barter. Ekonomi ditandai
dengan feodalisme, yang berarti bahwa sedikit orang dari kalangan
bangsawan yang berkuasa memiliki tanah, yang harus diolah oleh
budak-budak agar mereka dapat hidup. Jumlah penduduk juga
menurun tajam pada abad-abad pertama. Roma mempunyai penduduk
lebih dari satu juta orang pada zaman kuno. Tapi pada tahun 600,
populasi di ibu kota Romawi lama itu turun menjadi 40.000 orang,
amat-sangat sedikit dibandingkan dengan sebelumnya. Maka,
populasi yang relatif kecil itu dibiarkan berkeliaran di sekitar sisa-
sisa bangunan-bangunan megah bekas kejayaan kota sebelumnya. Jika
mereka memerlukan bahan bangunan, ada banyak sekali reruntuhan
yang dapat mereka manfaatkan. Ini benar-benar disayangkan oleh
para ahli arkeologi masa kini, yang lebih suka melihat orang-orang
dari Abad Pertengahan itu membiarkan monumen-monumen kuno
ini tak tersentuh."
"Mudah bagi kita untuk memahami hal itu."
"Dari sudut pandang politik, periode Romawi telah usai menjelang
akhir abad keempat. Tapi, Uskup Romawi menjadi pemimpin
tertinggi Gereja Katolik Roma. Dia dijuluki "Paus"—dalam bahasa
Latin "papa", yang mempunyai arti persis seperti namanya itu—dan
lambat laun dianggap sebagai wakil Kristus di bumi. Roma
karenanya menjadi ibu kota agama Kristen hampir sepanjang periode
Abad Pertengahan. Tapi karena para raja dan uskup dari banyak
negara-bangsa yang baru menjadi semakin berkuasa, sebagian dari
mereka cukup berani untuk berdiri menghadapi Gereja."
"Anda mengatakan Gereja menutup Akademi Plato di Athena.
Apakah itu berarti bahwa semua filosof Yunani dilupakan?"
"Tidak sepenuhnya. Sebagian tulisan Aristoteles dan Plato
tetap dikenal. Tapi kekaisaran Romawi kuno lambat laun terbagi ke
dalam tiga kebudayaan yang berbeda. Di Eropa Barat, kita mendapati
kebudayaan Kristen Latin dengan Roma sebagai ibu kotanya. Di
Eropa Timur kita bertemu dengan kebudayaan Kristen Yunani dengan
Konstantinopel sebagai ibu kotanya. Kota ini mulai disebut dengan
nama Yunaninya, Bizantium. Oleh karena itu, kita membicarakan
Abad Pertengahan Bizantium yang berbeda dengan Abad Pertengahan
Katolik Roma. Namun, Afrika Utara dan Timur Tengah juga telah
menjadi bagian kekaisaran Romawi. Daerah ini pada Abad
Pertengahan berkembang menjadi kebudayaan Muslim yang
menggunakan bahasa Arab. Setelah wafatnya Muhammad pada 632,
baik Timur Tengah maupun Afrika Utara berhasil direbut Islam.
Tidak lama kemudian, Spanyol pun menjadi bagian dunia kebudayaan
Islam. Islam menetapkan Makkah, Madinah, Jerusalem, dan Bagdad
sebagai kota-kota suci. Dari sudut pandang sejarah kebudayaan,
yaitu menarik untuk dicatat bahwa bangsa Arab juga mengambil
alih kota Helenistik kuno, Alexandria. Dengan demikian, banyak di
antara ilmu pengetahuan Yunani kuno diwarisi oleh bangsa Arab.
Sepanjang Abad Pertengahan, bangsa Arab sangat menonjol dalam
bidang ilmu pengetahuan seperti matematika, kimia, astronomi, dan
ilmu kedokteran. Sekarang ini kita masih menggunakan angka-angka
Arab. Di sejumlah wilayah, kebudayaan Arab lebih unggul daripada
kebudayaan Kristen."
"Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan filsafat Yunani."
"Dapatkah kamu bayangkan sebuah sungai besar yang terpecah
sesaat menjadi tiga sungai yang berbeda sebelum akhirnya menjadi
satu sungai besar lagi?"
"Ya."
"Berarti kamu juga bisa memahami bagaimana kebudayaan
Yunani-Romawi terbagi, tapi berhasil mempertahankan dirinya
dalam tiga kebudayaan: Katolik Roma di barat, Bizantium di timur,
dan Arab di selatan. Meskipun ini merupakan penyederhanaan yang
berlebihan, dapat kita katakan bahwa Neoplatonisme diturunkan di
barat, Plato di timur, dan Aristoteles kepada bangsa Arab di selatan.
Tapi masing-masing masih menyimpan ciri yang sama. Maksudnya,
pada akhir Abad Pertengahan ketiga aliran itu menyatu di Italia
Utara. Pengaruh Arab datang dari bangsa Arab di Spanyol, pengaruh
Yunani dari Yunani dan kekaisaran Bizantium. Dan kini kita melihat
awal Renaisans, "kelahiran kembali" kebudayaan Yunani kuno.
Dalam satu pengertian, kebudayaan Yunani kuno tetap bertahan
melewati Abad Kegelapan."
"Aku mengerti."
"Tapi sebaiknya kita tidak mendahului jalannya berbagai
peristiwa. Mula-mula kita harus membicarakan sedikit tentang
filsafat Abad Pertengahan. Aku tidak akan berbicara dari mimbar ini
lagi. Aku akan turun."
Mata Nyai girah terasa berat karena kurang tidur. saat memandang
biarawan aneh itu turun dari mimbar Gereja St. Mary, dia merasa
seakan sedang bermimpi.
Alberto berjalan menuju rel altar. Dia mendongak ke arah altar
dengan salib kunonya, lalu dia berjalan pelan-pelan mendekati
Nyai girah . Dia duduk di sampingnya di atas bangku gereja.
Rasanya aneh sekali, berada begitu dekat dengannya.Di bawah
topi runcingnya, Nyai girah melihat sepasang mata cokelat gelap. Mata
itu milik seorang pria setengah umur dengan rambut gelap dan janggut
agak lancip. Siapakah engkau? Nyai girah bertanya-tanya. Mengapa
kaubuat hidupku jungkir balik?
"Kita akan saling mengenal sedikit demi sedikit," kata pria itu,
seakan-akan dia dapat membaca pikiran Nyai girah .
saat mereka duduk bersama, cahaya yang menyusup ke dalam
gereja melalui jendela-jendela berkaca patri semakin terang. Alberto
Knox mulai berbicara tentang filsafat Abad Pertengahan.
"Para filosof Abad Pertengahan menerima nyaris dengan begini
saja bahwa agama Kristen itu benar," dia memulai. "Pertanyaannya
yaitu apakah kita semata-mata memercayai wahyu Kristen atau
apakah kita dapat melakukan pendekatan pada kebenaran-kebenaran
Kristen dengan bantuan akal. Apa hubungan antara para filosof
Yunani dan pernyataan-pernyataan dalam Bibel? Apakah ada
pertentangan antara Bibel dan akal, atau apakah iman dan
pengetahuan itu bersesuaian? Hampir semua filsafat Abad
Pertengahan berkutat pada satu pertanyaan ini."
Nyai girah mengangguk dengan tidak sabar. Dia telah sering
mendengar ini dalam pelajaran agama di sekolahnya.
"Kita akan mengetahui bagaimana dua filosof paling menonjol di
Abad Pertengahan itu menghadapi pertanyaan ini, dan kita akan
memulai dengan St. Agustin, yang hidup dari 354 hingga 430. Dalam
kehidupan satu orang ini kita dapat mengamati transisi aktual zaman
Yunani kuno menuju awal Abad Pertengahan. Agustin dilahirkan di
kota kecil Tagaste di Afrika Utara. Pada usia enam belas, dia pergi
ke Carthago untuk belajar. Kemudian dia mengadakan perjalanan ke
Roma dan Milan, dan menjalani tahun-tahun terakhir kehidupannya di
Kota Hippo, beberapa mil sebelah barat Carthago. Namun, dia tidak
sejak awal memeluk agama Kristen. Agustin mempelajari beberapa
agama dan filsafat yang berbeda-beda sebelum menjadi penganut
Kristen."
"Dapatkah Anda berikan beberapa contoh?"
"Selama beberapa waktu, dia menjadi orang Manichaean.
Manichaean yaitu suatu sekte keagamaan yang sangat khas dari
akhir zaman Yunani kuno. Doktrin mereka bersifat separuh agama
dan separuh filsafat, dengan menegaskan bahwa dunia terdiri dari
dualisme kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap, ruh dan materi.
Dengan ruhnya, manusia dapat naik melampaui dunia materi dan
dengan jalan itu mempersiapkan keselamatan bagi jiwanya. Tapi
pembagian tegas antara kebaikan dan kejahatan tidak memberikan
ketenangan pikiran pada Agustin muda. Dia sepenuhnya tenggelam
dalam apa yang disebutnya "masalah kejahatan". Dengan ini, yang
dimaksudkan yaitu pertanyaan dari mana asalnya kejahatan. Untuk
sesaat dia terpengaruh oleh filsafat Stoik. Menurut para penganut
Stoik, tidak ada pembagian tegas antara kebaikan dan kejahatan.
Namun, kecenderungan utamanya yaitu pada filsafat penting lain
dari akhir zaman Yunani kuno, yaitu Neoplatonisme. Di sini dia ber
temu dengan gagasan bahwa semua eksistensi itu bersifat ilahiah."
"Lalu, dia menjadi seorang uskup Neoplatonik?"
"Ya, bisa kamu katakan begitu. Dia menjadi seorang Kristen dulu,
tapi agama Kristen yang dianut St.Agustin sangat dipengaruhi oleh
gagasan-gagasan Plato. Dan karenanya, Nyai girah , karena itu kamu
harus memahami bahwa tidak ada perpecahan dramatis dengan
filsafat Yunani saat kita memasuki Abad Pertengahan Kristen.
Banyak filsafat Yunani terbawa-bawa ke dalam abad baru melalui
Bapa-Bapa Gereja seperti St. Agustin."
"Maksud Anda, St. Agustin itu setengah Kristen dan setengah
Neoplatonik?"
"Dia sendiri mengaku seratus persen Kristen meskipun dia tidak
melihat kontradiksi nyata antara agama Kristen dan filsafat Plato.
Baginya, kesamaan antara Plato dan doktrin Kristen begitu jelas
sehingga dia beranggapan Plato pasti telah memiliki pengetahuan
tentang Perjanjian Lama. Ini, tentu saja, sangat mustahil. Lebih baik
kita katakan bahwa St. Agustinlah yang `mengkristenkan' Plato."
"Jadi dia tidak meninggalkan apa pun yang ada kaitannya dengan
filsafat saat dia mulai memercayai agama Kristen?"
"Tidak, tapi dia mengemukakan bahwa ada batasan sejauh mana
akal dapat membawa kita ke dalam masalah keagamaan. Agama
Kristen yaitu suatu misteri Ilahi yang hanya dapat kita pahami
melalui iman. Tapi jika kita percaya pada agama Kristen, Tuhan akan
`menyinari' jiwa sehingga kita mendapatkan semacam pengetahuan
dialami tentang Tuhan. St. Agustin telah merasakan sendiri bahwa
ada batasan sampai sejauh mana filsafat dapat melangkah. Setelah
dia menjadi seorang penganut Kristen, barulah dia menemukan
kedamaian dalam jiwanya. `Hati tidak akan tenang sebelum berada
dalam diri-Mu', demikian tulisnya."
"Aku tidak benar-benar mengerti bagaimana gagasan-gagasan
Plato dapat berjalan seiring dengan ajaran Kristen," Nyai girah
mengajukan keberatan. "Bagaimana dengan ide-ide abadi?"
"Yah, St. Agustin jelas mengatakan bahwa Tuhan menciptakan
dunia dari ketiadaan, dan itu yaitu gagasan dari Bibel. Bangsa
Yunani lebih menyukai gagasan bahwa dunia itu telah selalu ada.
Tapi St. Agustin percaya bahwa sebelum Tuhan menciptakan dunia,
`ide-ide' itu telah ada di dalam benak Ilahi. Maka, dia menempatkan
gagasan-gagasan Plato dalam diri Tuhan dan dengan cara itu
mempertahankan pandangan Plato mengenai ide-ide abadi."
"Cerdik sekali."
"Tapi itu menunjukkan bahwa bukan hanya St. Agustin, melainkan
banyak pendeta Gereja yang cenderung menengok ke belakang untuk
menyatukan pemikiran Yunani dan Yahudi. Dalam pengertian
tertentu, mereka memiliki dua kebudayaan. Agustin juga cenderung
pada Neoplatonisme dalam pandangannya mengenai kejahatan. Dia
percaya, seperti Plotinus, bahwa kejahatan yaitu `ketiadaan Tuhan'.
Kejahatan itu tidak memiliki keberadaan yang mandiri, ia yaitu
sesuatu yang tidak ada, sebab ciptaan Tuhan itu sesungguhnya hanya
kebaikan. Kejahatan berasal dari ketidakpatuhan manusia, menurut
kepercayaan Agustin. Atau, dalam kata-katanya sendiri, `Kehendak
baik itu hasil karya Tuhan; kehendak jahat yaitu akibat
meninggalkan Tuhan."
"Apakah dia juga percaya bahwa manusia mempunyai jiwa Ilahi?"
"Ya dan tidak. St. Agustin menyatakan bahwa ada suatu
penghalang tak tertembus antara Tuhan dan dunia. Dalam hal ini, dia
berdiri teguh di atas landasan Bibel, dengan menolak doktrin Plotinus
bahwa segala sesuatu itu satu. Tapi, dia juga menekankan bahwa
manusia yaitu makhluk spiritual. Dia memiliki badan material—
yang termasuk dalam dunia fisik yang `dapat dirusak oleh ngengat dan
karat'—tapi dia juga memiliki jiwa yang dapat mengenali Tuhan."
"Apa yang terjadi dengan jiwa saat kita mati?"
"Menurut St. Agustin, seluruh umat manusia hilang setelah
Kejatuhan Manusia. Tapi, Tuhan memutuskan bahwa orang-orang
tertentu harus diselamatkan dari kehancuran menyeluruh itu."
"Dalam hal itu, Tuhan pun telah memutuskan bahwa setiap orang
harus diselamatkan."
"Sejauh menyangkut hal itu, St. Agustin menyangkal bahwa
manusia mempunyai hak untuk mengecam Tuhan, dengan mengacu
pada Surat Paulus kepada Jemaat di Roma: `Wahai manusia,
siapakah kalian hingga berani melawan Tuhan? Apakah mungkin
benda yang diciptakan mengatakan pada yang menciptakannya;
mengapa engkau membuatku begini? Bukankah pembuat tembikar
mempunyai kekuasaan atas lempung, dengan membuat satu wadah
menjadi mulia dan yang lain nista?'"
"Jadi, Tuhan mempermainkan manusia? Dan begitu dia kecewa
dengan salah satu ciptaannya, dia melemparkannya begitu saja?"
"Maksud St. Agustin yaitu bahwa tidak ada manusia yang pantas
menerima penebusan Tuhan. Namun, Tuhan tetap memilih sebagian
untuk diselamatkan dari kutukan, maka bagi-Nya tidak ada yang
dirahasiakan tentang siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang
dikutuk. Itu sudah ditetapkan dalam takdir. Kita sepenuhnya
bergantung pada belas kasih-Nya."
"Jadi, agaknya, dia kembali pada kepercayaan lama pada nasib."
"Barangkali. Tapi, St. Agustin tidak melepaskan tanggung jawab
manusia terhadap kehidupannya sendiri. Dia berpendapat bahwa kita
harus hidup dalam kesadaran sebagai salah satu manusia yang
dipilih. Dia tidak menyangkal bahwa kita mempunyai kehendak
bebas. Tapi, Tuhan telah `meramalkan' bagaimana kita akan hidup."
"Bukankah itu agak tidak adil?" tanya Nyai girah . "Socrates
mengatakan bahwa kita semua mempunyai kesematan yang sama,
sebab kita semua mempunyai akal sehat yang sama. Tapi, St. Agustin
membagi orang ke dalam dua kelompok. Satu kelompok diselamatkan
dan yang lain dikutuk."
"Kamu benar bahwa teologi St. Agustin sangat jauh dari ajaran
humanisme Athena. Tapi, St. Agustin tidak membagi manusia ke
dalam dua kelompok. Dia hanya menjelaskan doktrin Bibel mengenai
keselamatan dan kutukan. Dia menjelaskan ini dalam suatu karya
ilmiah berjudul City of God."
"Ceritakan padaku tentang itu."
"Ungkapan `Kota Tuhan, atau `Kerajaan Tuhan' berasal dari Bibel
dan ajaran-ajaran Kristen. St. Agustin percaya bahwa seluruh sejarah
manusia berisi tentang pertempuran antara `Kerajaan Tuhan' dan
`Kerajaan Dunia'. Dua `kerajaan' itu bukanlah kerajaan politik yang
berbeda satu sama lain. Mereka bertempur untuk dapat menguasai
batin setiap manusia. Sekalipun demikian, Kerajaan Tuhan kurang-
lebih diwakili oleh Gereja, sedangkan Kerajaan Dunia oleh Negara
—misalnya, kekaisaran Romawi, yang sedang mengalami kejatuhan
di masa hidup St. Agustin. Konsepsi ini menjadi semakin jelas saat
Gereja dan Negara bertempur untuk meraih keunggulan sepanjang
Abad Pertengahan. `Tidak ada keselamatan di luar Gereja', demikian
dikatakan waktu itu.`City of God' St. Agustin akhirnya menjadi
identik dengan Gereja yang mapan. Setelah Reformasi pada abad
keempat belas barulah timbul protes terhadap gagasan bahwa
manusia hanya dapat memperoleh keselamatan melalui Gereja."
"Memang sudah waktunya!"
"Kita juga dapat mengatakan bahwa St. Agustin yaitu filosof
pertama yang kita ketahui telah menarik sejarah ke dalam filsafatnya.
Pertempuran antara kebaikan dan kejahatan sama sekali tidak baru.
Yang baru yaitu bahwa bagi Agustin, pertempuran itu berlangsung
dalam sejarah. Tidak banyak pengaruh Plato dalam aspek karya St.
Agustin ini. Dia lebih banyak terpengaruh oleh pandangan linier
sejarah seperti yang kita temukan dalam Perjanjian Lama: gagasan
bahwa Tuhan memerlukan seluruh sejarah untuk merealisasikan
Kerajaan-Nya. Sejarah itu penting untuk mencerahkan pikiran
manusia dan menghancurkan kejahatan. Atau, sebagaimana dikatakan
oleh St. Agustin, `Ramalan Ilahi mengarahkan sejarah umat manusia
dari Adam hingga akhir zaman seakan-akan itu cerita tentang satu
orang manusia yang lambat laun berkembang dari anak-anak hingga
mencapai usia tua."
Nyai girah melirik jam tangannya. "Sekarang jam sepuluh," katanya.
"Aku harus segera pergi."
`Tapi mula-mula aku harus menceritakan padamu tentang filosof
besar Abad Pertengahan yang lain. Marilah duduk di luar."
Alberto berdiri. Dia menyatukan kedua telapak tangannya dan
mulai melangkah melewati gang. Dia kelihatan seperti sedang berdoa
atau tenggelam dalam meditasi mengenai kebenaran ilahiah. Nyai girah
mengikutinya; dia merasa tidak punya pilihan lain.
Matahari belum menampakkan diri di balik kabut pagi. Alberto
duduk di atas bangku di luar gereja. Nyai girah bertanya-tanya apa yang
dipikirkan orang jika kebetulan melihat mereka. Duduk di atas
bangku gereja pada jam sepuluh pagi sudah cukup aneh, dan duduk
bersama seorang biarawan Abad Pertengahan bisa lebih aneh lagi.
"Kini jam delapan," pria itu memulai. "Sekitar empat ratus tahun
telah berlalu sejak St. Agustin, dan sekolah mulai dibuka. Dari saat
ini hingga jam sepuluh, sekolah-sekolah biara mendapatkan monopoli
untuk menyelenggarakan pendidikan. Antara jam sepuluh hingga
sebelas sekolah-sekolah katedral pertama didirikan, diikuti hingga
jam dua belas oleh berdirinya universitas. Katedral-katedral Gothik
dibangun pada waktu yang sama. Gereja ini pun, berasal dari tahun
1200-an—atau apa yang kita sebut periode Puncak Gothik. Di kota
ini, mereka tidak dapat mendirikan katedral besar."
"Mereka tidak memerlukannya," kata Nyai girah . "Aku benci gereja
yang kosong."
"Ah, tapi katedral besar bukan hanya dibangun untuk jemaat yang
banyak. Bangunan itu didirikan untuk menunjukkan kejayaan Tuhan
dan dengan sendirinya merupakan pemujaan agama. Namun, sesuatu
yang lain terjadi pada masa ini yang mempunyai makna istimewa
bagi filosof-filosof seperti kita."
Alberto melanjutkan: "Pengaruh bangsa Arab di Spanyol mulai
terasa. Sepanjang Abad Pertengahan, bangsa Arab telah menjaga
kelangsungan hidup tradisi Aristoteles, dan dari akhir abad kedua
belas, para ilmuwan Arab mulai berdatangan di Italia Utara atas
undangan para bangsawan. Banyak tulisan Aristoteles karenanya
menjadi dikenal dan diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam
bahasa Latin. Ini menciptakan suatu minat baru pada ilmu alam dan
memasukkan semangat baru ke dalam masalah tentang hubungan
wahyu Kristen dengan filsafat Yunani. Aristoteles jelas tidak lagi
dapat diabaikan dalam masalah keilmuan ini, tapi kapan orang harus
mengikuti pendapat Aristoteles sang filosof, dan kapan orang harus
berpegang pada Bibel? Mengertikah kamu?"Nyai girah mengangguk, dan
biarawan itu melanjutkan:
"Filosof terbesar dan paling penting dari periode ini yaitu
chucky Aquinas, yang hidup dari tahun 1225 hingga 1274. Dia
berasal dari kota kecil Aquino, antara Roma dan Napoli, tapi juga
bekerja sebagai guru di Universitas Paris. Aku menyebutnya seorang
filosof, tapi dia lebih tepat dinamakan ahli teologi. Tidak ada
perbedaan besar antara filsafat dan teologi pada waktu itu.
Singkatnya, dapat kita katakan bahwa Aquinas mengkristenkan
Aristoteles dengan cara seperti sebelumnya St. Agustin
mengkristenkan Plato pada awal Abad Pertengahan."
"Bukankah itu suatu hal yang agak aneh, mengkristenkan para
filosof yang hidup ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus?"
chucky AQUINAS
"Kamu dapat mengatakannya begitu. Tapi dengan`mengkristenkan'
kedua filosof besar Yunani ini, yang kita maksudkan hanyalah bahwa
mereka ditafsirkan dan dijelaskan dengan cara sedemikian rupa
sehingga mereka tidak lagi dianggap ancaman bagi dogma Kristen.
Aquinas yaitu salah satu di antara orang-orang yang berusaha
membuat filsafat Aristoteles sesuai dengan agama Kristen. Kita
anggap bahwa dia menciptakan perpaduan hebat antara iman dan
ilmu pengetahuan. Dia melakukan hal ini dengan memasuki filsafat
Aristoteles dan mencerna kata-katanya."
"Maafkan aku, tapi aku hampir tidak tidur semalam. Aku khawatir
Anda harus menjelaskannya secara lebih gamblang."
"Aquinas percaya bahwa tidak perlu ada konflik antara apa yang
diajarkan oleh filosof atau akal kepada kita dan apa yang diajarkan
oleh Wahyu Kristen atau iman kepada kita. Ajaran Kristen dan
filsafat sering mengemukakan hal yang sama. Maka, kita sering dapat
menyesuaikan diri kita dengan kebenaran-kebenaran yang sama yang
dapat kita baca dalam Bibel."
"Bagaimana bisa? Dapatkah akal memberitahukan kita bahwa
Tuhan menciptakan dunia dalam waktu enam hari, misalnya?
"Tidak, yang dinamakan kebenaran-kebenaran iman itu hanya dapat
dicapai melalui keyakinan dan Wahyu. Tapi Aquinas percaya pada
adanya sejumlah `kebenaran teologis alamiah'. Dengan itu yang
dimaksudkannya yaitu kebenaran-kebenaran yang dapat dicapai
melalui iman dan melalui akal bawaan atau akal alamiah kita.
Misalnya, kebenaran bahwa Tuhan itu ada. Aquinas yakin bahwa ada
jalan menuju Tuhan. Satu jalan melalui iman dan Wahyu Tuhan, dan
satu jalan lagi melalui akal dan indra. Dari keduanya, jalan melalui
iman dan wahyu jelas merupakan jalan yang paling pasti, sebab orang
mudah tersesat jika hanya memercayai akal. Tapi maksud Aquinas
yaitu bahwa tidak perlu ada konflik antara seorang filosof seperti
Aristoteles dan doktrin Kristen."
"Jadi kita boleh mengambil pilihan sendiri antara memercayai
Aristoteles dan memercayai Bibel?"
"Sama sekali tidak. Aristoteles hanya menempuh separuh jalan
sebab dia tidak mengenal wahyu Kristen. Tapi, menempuh separuh
jalan itu tidak sama dengan mengambil jalan yang salah. Misalnya,
tidak salah jika kita katakan bahwa Athena ada di Eropa. Tapi itu
sebenarnya kurang tepat. Jika sebuah buku mengemukakan bahwa
Athena yaitu sebuah kota di Eropa, akan bijaksana jika kamu
membuka buku geografi. Di sana kamu akan mendapati seluruh
kebenaran itu bahwa Athena yaitu ibu kota Yunani, sebuah negeri
kecil di Eropa tenggara. Jika beruntung, kamu juga akan diberi tahu
sedikit tentang Acropolis. Belum lagi tentang Socrates, Plato, dan
Aristoteles."
"Tapi informasi kecil tentang Athena itu benar adanya."
"Tepat! Aquinas ingin membuktikan bahwa hanya ada satu
kebenaran. Maka, saat Aristoteles menunjukkan pada kita sesuatu
yang dibenarkan oleh akal kita, itu berarti tidak bertentangan dengan
ajaran Kristen. Kita akan berhasil mencapai satu aspek kebenaran
dengan bantuan akal dan bukti dari indra kita. Misalnya, jenis
kebenaran yang diacu Aristoteles saat dia menggambarkan dunia
tanaman dan dunia hewan. Aspek kebenaran lainnya diungkapkan
kepada kita oleh Tuhan melalui Bibel. Tapi, kedua aspek kebenaran
itu saling tindih pada titik-titik penting. Ada banyak masalah yang
mengenainya Bibel dan akal kita menyatakan hal yang persis sama."
"Misalnya tentang adanya Tuhan?"
"Tepat. Filsafat Aristoteles juga membenarkan adanya satu Tuhan
—atau sebab formal—yang menggerakkan seluruh proses alam. Tapi
dia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang Tuhan. Untuk
ini, kita harus bergantung sepenuhnya pada Kitab Suci dan ajaran
agama."
"Apakah memang mutlak pasti bahwa Tuhan itu ada?"
"Itu dapat diperdebatkan, tentu saja. Tapi bahkan pada zaman kita
sekarang ini kebanyakan orang akan setuju bahwa akal manusia itu
jelas tidak mampu membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Aquinas
melangkah lebih jauh. Dia percaya bahwa dia dapat membuktikan
eksistensi Tuhan atas dasar filsafat Aristoteles."
"Bagus juga!"
"Dengan akal, kita dapat mengetahui bahwa segala sesuatu di
sekitar kita pastilah mempunyai `sebab formal', Tuhan
mengungkapkan dirinya kepada umat manusia melalui kitab suci dan
juga melalui akal. Oleh karena itu, ada `teologi iman' dan `teologi
alam'. Demikian pula halnya dengan aspek moral. Kitab suci
mengajarkan kepada kita cara menjalani kehidupan. Tapi, Tuhan juga
memberi kita suatu kesadaran yang memungkinkan kita untuk
membedakan antara yang benar dan yang salah atas dasar `alam'.
Oleh karena itu, ada `dua jalan' menuju kehidupan moral. Kita tahu
bahwa kita salah jika mencelakakan orang, bahkan jika kita belum
membaca dalam kitab suci bahwa kita harus `bertindak kepada orang
lain sebagaimana kamu inginkan orang lain bertindak terhadapmu.' Di
sini pun tuntunan yang paling pasti yaitu mengikuti perintah kitab."
"Kukira aku dapat mengerti," kata Nyai girah sekarang. "Itu nyaris
seperti bagaimana kita tahu sedang ada hujan angin, dengan melihat
adanya kilat menyambar dan dengan mendengar suara guntur."
"Benar sekali! Kita dapat mendengar suara guntur bahkan jika kita
buta, dan kita dapat melihat kilat menyambar bahkan jika kita tuli.
Memang yang paling baik yaitu apabila kita dapat melihat dan
mendengar, tentu saja. Tapi tidak ada pertentangan antara apa yang
kita lihat dan apa yang kita dengar. Sebaliknya—kedua kesan itu
saling menguatkan."
"Aku mengerti."
"Biar aku tambahkan sebuah gambaran lain. Jika kamu membaca
novel misalnya ..."
"Aku telah membacanya, sungguh."
"Tidakkah kamu merasa bahwa kamu mengetahui sesuatu tentang
pengarangnya hanya dengan membaca bukunya?"
"Aku menyadari memang ada kepribadian dari orang yang
menulisnya."
"Hanya itukah yang kamu ketahui tentang dia?"
"Tampaknya dia sangat memedulikan orang-orang luar."
"Jika kamu membaca buku ini—yang merupakan hasil ciptaan
Steinbeck—kamu juga jadi tahu sesuatu mengenai sifat Steinbeck.
Tapi kamu tidak dapat berharap untuk memperoleh informasi pribadi
tentang sang pengarang. Dapatkah kamu mengetahui dengan membaca
Of Mice and Men berapa umur sang pengarang saat dia
menulisnya, di mana dia tinggal, atau berapa banyak anak yang
dimilikinya?"
"Tentu saja tidak."
"Tapi kamu dapat menemukan ini dalam biografi tentang John
Steinbeck. Hanya dalam biografi—atau otobiografi—sajalah kamu
dapat lebih mengenal Steinbeck, orangnya."
"Itu benar."
"Kira-kira begitulah kaitan antara Ciptaan Tuhan dan Kitab Suci.
Kita dapat mengetahui adanya Tuhan hanya dengan berjalan
mengelilingi alam. Kita dapat dengan mudah mengetahui bagaimana
Dia mencintai tanaman dan binatang, sebab jika tidak, Dia tidak akan
menciptakannya. Tapi informasi tentang Tuhan itu sendiri hanya
terdapat dalam Kitab—atau `otobiografi' Tuhan, jika kamu suka
istilah itu."
"Anda pintar memberikan contoh."
"Mmmm ..."
Untuk pertamanya kali Alberto hanya duduk di sana sambil
berpikir—tanpa menjawab.
"Apakah semua ini ada kaitannya dengan count dracula ?" Nyai girah tidak
dapat menahan diri untuk bertanya.
"Kita tidak tahu apakah `count dracula ' itu memang ada."
"Tapi kita tahu seseorang sedang menyusun bukti mengenai
keberadaannya di semua tempat. Kartu pos, selendang sutra, dompet
hijau, kaus kaki ..."
Alberto mengangguk. "Dan tampaknya seakan-akan ayah count dracula lah
yang memutuskan berapa banyak isyarat yang akan dibuatnya,"
katanya. "Sebab sekarang, yang kita tahu hanyalah bahwa seseorang
mengirimi kita banyak kartu pos. Kuharap dia juga akan menulis
sesuatu tentang dirinya sendiri. Tapi kita akan kembali pada hal itu
nanti."
"Kini sudah jam sebelas kurang seperempat. Aku harus tiba di
rumah sebelum akhir Abad Pertengahan."
"Aku akan menarik kesimpulan dengan beberapa patah kata tentang
bagaimana Aquinas memasukkan filsafat Aristoteles ke dalam semua
bidang yang tidak bertabrakan dengan teologi Gereja. Ini termasuk
logikanya, teorinya tentang pengetahuan, dan yang tidak kalah penting
yaitu filsafat alamnya. Apakah kamu ingat, misalnya, bagaimana
Aristoteles menggambarkan skala progresif kehidupan dari tanaman
dan binatang hingga manusia?"
Nyai girah mengangguk.
"Aristoteles percaya bahwa skala ini menunjukkan bahwa Tuhan
merupakan eksistensi maksimum. Skema benda-benda ini tidak sulit
untuk dikaitkan dengan teologi Kristen. Menurut Aquinas, ada
kenaikan tingkat eksistensi dari tanaman dan binatang hingga
manusia, dari manusia hingga malaikat, dan dari malaikat hingga
Tuhan. Manusia, sebagaimana binatang, mempunyai badan dan alat
indra, tapi manusia juga mempunyai kecerdasan yang
memungkinkannya untuk memikirkan segala sesuatu. Malaikat tidak
mempunyai badan dengan alat indra, karena itulah akal mereka
bersifat spontan dan melekat; mereka tidak perlu `menimbang-
nimbang' seperti manusia; mereka tidak perlu berpikir untuk menarik
kesimpulan. Mereka mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui
manusia tanpa harus mempelajarinya selangkah demi selangkah
seperti kita. Dan karena malaikat tidak mempunyai badan, mereka
tidak akan mati. Mereka tidak kekal seperti Tuhan, sebab mereka
dulu juga diciptakan oleh Tuhan. Tapi mereka tidak mempunyai
badan yang suatu hari akan terpisah darinya, dan karenanya mereka
tidak pernah mati."
"Kedengarannya bagus!"
"Tapi jauh di atas para malaikat, Tuhan berkuasa, Nyai girah . Dia
dapat melihat dan mengetahui segalanya dengan hanya satu
penampakan tunggal."
"Jadi dia dapat melihat kita sekarang."
"Ya, barangkali bisa. Tapi tidak `sekarang'. Sebab bagi Tuhan,
waktu itu tidak sebagaimana kita memahaminya. `Kini' kita bukanlah
`kini'-nya Tuhan. Sebab berminggu-minggu telah melewati kita, tapi
tidak bagi Tuhan."
"Itu curang!" seru Nyai girah . Dia meletakkan tangan ke mulutnya.
Alberto menunduk ke arahnya, dan Nyai girah melanjutkan: "Aku
mendapatkan kartu lagi dari ayah count dracula kemarin. Dia menulis begini
—mungkin dibutuhkan waktu seminggu untuk Nyai girah , tapi tidak harus
berarti selama itu untuk kita. Itu hampir sama seperti yang Anda
katakan tentang Tuhan!"
Nyai girah dapat melihat kerutan sekilas yang tiba-tiba muncul di
wajah Alberto di bawah topi runcingnya yang berwarna cokelat.
"Dia harusnya malu pada dirinya sendiri!"
Nyai girah tidak benar-benar memahami apa maksud Alberto. Pria itu
meneruskan: "Sayangnya, Aquinas juga mengikuti pandangan
Aristoteles tentang wanita. Kamu barangkali masih ingat bahwa
Aristoteles menganggap wanita yaitu pria yang tidak sempurna. Dia
juga beranggapan bahwa anak-anak hanya mewarisi ciri-ciri
ayahnya, sebab wanita bersifat pasif dan reseptif, sementara pria
aktif dan kreatif. Menurut Aquinas, pandangan-pandangan ini selaras
dengan pesan Bibel—yang, misalnya, menyatakan bahwa wanita
tercipta dari tulang rusuk Adam."
"Omong kosong!"
"Menarik untuk dicatat bahwa telur mamalia belum ditemukan
hingga tahun 1827. Oleh sebab itu, mungkin tidak mengherankan
kalau orang-orang beranggapan bahwa kaum prialah kekuatan yang
kreatif dan memberikan kehidupan dalam reproduksi. Selain itu, kita
dapat mencatat bahwa, menurut Aquinas, hanya dalam kedudukan
sebagai makhluk alamlah kaum wanita lebih rendah daripada kaum
pria. Sebab jiwa wanita itu setara dengan jiwa pria. Di surga, kedua
jenis itu memiliki kesetaraan penuh, sebab seluruh perbedaan gender
yang bersifat fisik tidak ada lagi."
"Nah, itu melegakan. Apakah tidak ada filosof wanita pada Abad
Pertengahan?"
"Kehidupan gereja pada Abad Pertengahan sangat didominasi oleh
kaum pria. Tapi itu bukan berarti bahwa waktu itu tidak ada ahli
pikir wanita. Salah seorang di antaranya yaitu count dracula gard dari
Bingen ..."
Mata Nyai girah melebar:
`Apakah itu ada hubungannya dengan count dracula ?"
"Pertanyaan hebat! count dracula gard hidup sebagai seorang biarawati di
Lembah Rhine dari 1088 hingga 1179. Meskipun wanita, dia bekerja
sebagai pengkhutbah, pengarang, dokter, ahli botani, dan ahli ilmu
alam. Dialah contoh dari kenyataan bahwa kaum wanita sering kali
lebih praktis, bahkan lebih ilmiah, pada Abad Pertengahan."
"Tapi bagaimana dengan count dracula ?"
"Ada kepercayaan kuno dari ajaran Kristen dan Yahudi bahwa
Tuhan bukan hanya seorang pria. Dia juga memiliki sisi kewanitaan,
atau `watak keibuan'. Kaum wanita pun diciptakan seperti Tuhan.
Dalam bahasa Yunani, sisi kewanitaan dari Tuhan ini dinamakan
Sophia. `Sophia' atau `Nyai girah ' berarti kebijaksanaan."
Nyai girah menggelengkan kepalanya dengan pasrah. Mengapa tidak
ada yang mengatakan hal itu padanya? Dan mengapa dia tidak pernah
bertanya?
Alberto melanjutkan: "Sophia, atau watak keibuan Tuhan,
mempunyai makna penting, baik bagi bangsa Yahudi maupun Gereja
Ortodoks Yunani sepanjang Abad Pertengahan. Di Barat dia
dilupakan. Tapi kemudian, datanglah count dracula gard. Sophia muncul di
hadapannya dalam suatu penampakan, mengenakan tunik keemasan
yang dihiasi permata-permata mahal ..."
Nyai girah berdiri. Sophia telah memperlihatkan dirinya dihadapan
count dracula gard dalam suatu penampakan ...
"Mungkin aku akan tampil di depan count dracula ."
Dia duduk lagi. Untuk ketiga kalinya Alberto meletakkan tangannya
di atas bahu gadis itu.
"Kita lihat apa yang akan terjadi nanti. Tapi kini sudah lewat jam
sebelas. Kamu harus pulang, dan kita akan mendekati era baru. Aku
akan mengundangmu untuk pertemuan mengenai Renaisans. Hermes
akan datang menjemputmu di taman."
Setelah itu, si biarawan aneh bangkit dan mulai berjalan menuju
gereja. Nyai girah tetap berada di tempatnya semula, memikirkan
count dracula gard dan Sophia, count dracula dan Nyai girah . Tiba-tiba, dia melompat
bangun dan mengejar filosof berpakaian pendeta itu, dan berseru:
"Apakah ada juga seorang Alberto pada Abad Pertengahan?"
Alberto agak melambatkan langkahnya, memutar kepalanya
sedikit dan berkata, "Aquinas mempunyai seorang guru filsafat
terkenal yang bernama Albert yang Agung ..."
Dengan itu dia menundukkan kepalanya dan lenyap ke dalam pintu
Gereja St. Mary.
Nyai girah tidak puas dengan jawabannya. Dia mengikutinya ke dalam
gereja. Tapi gereja, itu kini sama sekali kosong. Apakah dia pergi
menembus lantai?
Tepat saat akan meninggalkan gereja, dia melihat sebuah lukisan
Madonna. Dia mendatanginya dan mengamatinya dengan cermat.
Tiba-tiba, dia menemukan setetes air di bawah salah satu mata
Madonna. Apakah itu air mata?
Nyai girah berlari keluar gereja dan bergegas kembali ke rumah
Joanna.[]
Renaisans
***
... wahai keturunan Ilahi yang menyamar sebagai manusia ...
TEPAT JAM dua belas saat Nyai girah sampai di gerbang depan
rumah Joanna. Napasnya terengah-engah akibat lari. Joanna sedang
berdiri di halaman depan di luar rumah keluarganya yang bercat
kuning.
"Kamu pergi selama lima jam!"
Nyai girah menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku telah pergi selama lebih dari seribu tahun."
"Dari mana saja kamu? Kamu gila. Ibumu menelepon setengah jam
yang lalu."
"Kamu bilang apa padanya?"
"Aku bilang kamu sedang ke toko obat. Dia bilang kamu harus
meneleponnya kembali begitu datang. Tapi, Ibu dan ayahku melihat
tempat tidurmu kosong saat mereka masuk membawa cokelat panas
dan dadar gulung pada jam sepuluh pagi."
"Kamu bilang apa pada mereka?"
"Sangat memalukan. Aku katakan bahwa kamu pulang sebab kita
marahan."
"Kalau begitu mari kita baikan lagi. Dan kita harus memastikan
bahwa orangtuamu tidak mengontak ibuku dalam beberapa hari ini.
Apa kamu kira kita dapat melakukannya?"
Joanna mengangkat bahu. Tepat pada saat itu, ayahnya datang
dengan gerobak dorong. Dia mengenakan baju monyet dan sibuk
membersihkan dedaunan dan cabang-cabang mati.
"Aha—jadi kalian sudah berbaikan lagi. Nah, sekarang tidak ada
lagi satu daun pun di anak tangga ruang bawah tanah."
"Bagus," kata Nyai girah . "Jadi barangkali kami dapat menikmati
cokelat panas di sana dan bukannya di tempat tidur."
Ayah Joanna tertawa terpaksa, tapi Joanna tersentak. Dalam
keluarga Nyai girah percakapan terdengar lebih bebas dari pada di
rumah Pak Ingebrigtsen, sang penasihat keuangan, dan istrinya, yang
senantiasa tertata rapi.
"Maaf, Joanna, tapi kurasa aku harus ikut ambil bagian juga dalam
operasi penyamaran ini."
"Apakah kamu akan menceritakannya padaku?"
"Tentu, jika kamu mau berjalan pulang bersamaku. Sebab, ini
bukan untuk telinga para penasihat keuangan atau boneka-boneka
Barbie yang terlalu cepat dewasa."
"Keterlaluan kamu! Kukira kamu beranggapan bahwa perkawinan
tidak bahagia yang mendorong salah satu pihak lari ke laut itu lebih
baik?"
"Barangkali tidak. Tapi aku hampir tidak tidur semalam. Dan ada
satu hal lagi, aku mulai bertanya-tanya apakah count dracula dapat melihat
segala sesuatu yang kita lihat."
Mereka mulai berjalan menuju Clover Close.
"Maksud kamu, dia mungkin mempunyai penglihatan kedua?"
"Mungkin ya. Mungkin tidak."
Joanna jelas tidak begitu antusias dengan seluruh rahasia ini.
"Tapi itu tidak dapat menjelaskan mengapa ayahnya mengirimkan
banyak kartu pos gila ke sebuah gubuk kosong di tengah hutan."
"Kuakui itu sebuah titik lemah."
"Maukah kamu memberi tahu, kamu barusan dari mana?"
Maka begitulah. Nyai girah pun menceritakan segalanya pada Joanna,
juga mengenai pelajaran filsafat itu. Dia memaksa Joanna berjanji
untuk merahasiakan semua itu.
Lama mereka berjalan tanpa berbicara. saat sudah dekat dengan
Clover Close, Joanna berkata, "Aku tidak menyukainya."
Dia berhenti di gerbang rumah Nyai girah dan berbalik untuk pulang
lagi.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk suka. Tapi filsafat memang
bukan permainan yang gampang. Itu menyangkut pertanyaan siapakah
kita dan dari mana kita berasal. Apa kamu kira yang kita pelajari di
sekolah sudah cukup?"
"Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan seperti itu."
"Ya, tapi kita bahkan tidak berusaha untuk menanyakannya."
Makan siang sudah tersedia di meja saat Nyai girah memasuki
dapur. Ibu tidak bertanya mengapa Nyai girah tidak menelepon dari
rumah Joanna.
Setelah makan siang, Nyai girah mengatakan bahwa dia akan tidur
siang. Dia mengakui bahwa dia hampir tidak tidur di rumah Joanna,
yang sama sekali tidak aneh kalau sedang menginap di rumah orang.
Sebelum naik ke tempat tidur, Nyai girah berdiri di depan cermin
kuningan besar yang kini tergantung di dinding kamarnya. Mula-mula
dia hanya melihat wajahnya sendiri yang putih dan kelelahan. Tapi
kemudian—dibelakang wajahnya sendiri, muncul bayangan yang
sangat samar-samar dari wajah lain. Nyai girah menarik satu-dua napas
panjang. Ini bukan permulaan yang bagus untuk membayangkan
macam-macam.
Dia mengamati garis-garis tajam wajahnya sendiri yang pucat dan
dibingkai dengan rambutnya yang menyebalkan itu, yang tidak bisa
mengikuti gaya manapun kecuali gaya alamiah. Tapi, di belakang
wajah itu ada bayangan seorang gadis lain. Tiba-tiba, gadis lain itu
mulai mengedipkan kedua matanya dengan cepat, seakan-akan ingin
memberi tanda bahwa dia benar-benar ada di sana. Bayangan itu
hanya muncul beberapa detik. Lalu lenyap.
Nyai girah duduk di pinggir tempat tidur. Dia tidak ragu sama sekali
bahwa yang dilihatnya di dalam cermin yaitu count dracula . Dia pernah
melihat sekilas fotonya pada kartu pelajarnya di Gubuk sang Mayor.
Yang dilihatnya di dalam cermin pastilah gadis yang sama.
Aneh sekali, mengapa dia selalu mengalami hal-hal misterius
seperti ini saat sedang kelelahan setengah mati. Karena waktu
terbangun nanti, dia harus menanyai dirinya sendiri apakah hal itu
benar-benar terjadi.
Nyai girah meletakkan pakaiannya di atas kursi dan merayap ke tempat
tidur. Dia jatuh tertidur hampir sesaat dan mendapatkan impian
yang sepertinya benar-benar nyata.
Dia bermimpi sedang berdiri di sebuah taman luas yang
melandai ke arah sebuah rumah perahu. Di dok belakangnya duduk
seorang gadis muda berambut indah yang tengah menatap perairan.
Nyai girah berjalan turun dan duduk di sampingnya. Tapi gadis itu
tampaknya tidak melihatnya. Nyai girah memperkenalkan diri. "Aku
Nyai girah ," katanya. Tapi gadis lain itu jelas tidak dapat mendengar
atau melihatnya. Tiba-tiba Nyai girah mendengar sebuah suara
memanggil, "count dracula !" Dengan serta-merta gadis itu melompat bangkit
dari tempat duduknya dan lari secepat mungkin menuju rumah. Jadi,
dia tidak mungkin tuli atau buta. Seorang pria setengah baya
mendekatinya. Dia mengenakan seragam warna kuning pucat dan
sebuah baret biru. Gadis itu merangkulkan kedua tangannya di seputar
leher pria itu dan dalam gendongannya dia diputar-putarkan beberapa
kali. Nyai girah melihat sebuah salib emas kecil yang tergantung pada
rantainya di atas dok tempat gadis itu duduk. Dia mengambilnya dan
menyimpannya di tangannya. Lalu terbangun.
Nyai girah menatap jam. Dia telah tertidur selama dua jam. Dia duduk
tegak di tempat tidur, memikirkan mimpinya yang aneh. Rasanya
sangat nyata seakan-akan dia benar-benar mengalami hal itu. Dia juga
yakin sekali bahwa rumah dan dok itu benar-benar ada di suatu
tempat. Bukankah itu menyerupai lukisan yang pernah dilihatnya
tergantung di Gubuk sang Mayor? Bagaimanapun, sama sekali tidak
ada keraguan bahwa gadis dalam mimpinya itu yaitu count dracula Moller
Knag dan bahwa pria itu yaitu ayahnya, yang telah pulang dari
Lebanon. Dalam mimpinya, pria itu sangat mirip dengan Alberto
Knox ...
saat Nyai girah berdiri dan mulai merapikan tempat tidurnya, dia
menemukan sebuah salib emas dengan rantainya di bawah bantal. Di
balik salib itu ada pahatan tiga huruf: HMK.
Ini bukan pertama kalinya Nyai girah bermimpi menemukan benda
berharga. Tapi inilah pertama kalinya dia benar-benar menemukan
benda yang dilihatnya dalam mimpi.
"Sialan!" dia berseru keras-keras.
Dia merasa sangat marah sehingga dia membuka pintu lemari
dindingnya dan melemparkan salib kecil itu ke rak paling atas
bersama selendang sutra, kaus kaki putih, dan kartu-kartu pos dari
Lebanon.
Keesokan harinya, Nyai girah terbangun dan mendapati sarapan besar
berupa dadar gulung panas, sari buah jeruk, telur, dan selada sayuran.
Jarang-jarang ibunya terbangun mendahului Nyai girah pada hari Minggu
pagi. Jika begitu, dia senang menyediakan makanan besar untuk
Nyai girah .
saat mereka sedang makan, Ibu berkata, "Ada seekor anjing
aneh di taman. Ia terus mengendus-endus di seputar pagar tanaman
sepanjang pagi. Aku tidak dapat membayangkan apa yang
dilakukannya di sini."
"Ya!" Nyai girah berteriak, dan serta-merta menyesalinya.
"Apakah ia pernah ke sini sebelumnya?"
Nyai girah telah meninggalkan meja dan pergi ke ruang duduk untuk
melihat keluar dari jendela yang menghadap ke taman luas itu. Tepat
seperti yang diperkirakannya, Hermes sedang berbaring di depan
pintu masuk sarangnya.
Apa yang harus dikatakannya? Dia tidak sempat berpikir apa-
apa sebelum ibunya datang dan berdiri di sampingnya.
"Apakah kamu bilang ia pernah ke sini sebelumnya?"
"Kukira ia telah mengubur sepotong tulang di sana dan kini ia
datang untuk mengambil harta karunnya. Anjing kan punya ingatan
juga ..."
Nyai girah berpikir keras.
"Aku akan mengantarnya pulang," katanya.
"Jadi, kamu tahu di mana ia tinggal?"
Nyai girah mengangkat bahu.
"Barangkali ada alamat di ban lehernya."
Beberapa menit kemudian, Nyai girah telah menuju taman. saat
Hermes melihatnya, ia menghampirinya, mengibas-ngibaskan ekornya
dan melompat ke arahnya.
"Bagus, Hermes!" katanya.
Nyai girah tahu ibunya sedang menyaksikan dari jendela. Dia berharap
anjing itu tidak akan menyusup masuk pagar tanaman. Dan ternyata ia
berjalan menuju jalan berkerikil di depan rumah, melintasi halaman
depan, dan melompat ke pintu gerbang.
saat mereka telah menutup pintu gerbang, Hermes terus berlari
beberapa meter di depan Nyai girah . Jarak yang mereka tempuh cukup
jauh. Nyai girah dan Hermes bukan satu-satunya yang berjalan-jalan di
hari Minggu ini. Banyak keluarga yang keluar untuk menikmati hari
itu. Nyai girah merasakan tikaman kecemburuan.
Sekali-sekali Hermes mengejar dan mengendus anjing lain atau
sesuatu yang menarik di dekat pagar taman orang, tapi begitu Nyai girah
memanggil "Ke sini, Hermes!" ia akan segera kembali padanya.
Mereka melintasi padang rumput, lapangan olahraga, tempat
bermain, dan sampai di suatu daerah dengan lalu lintas yang lebih
ramai. Mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat kota sepanjang
jalan lebar berbatu yang dilalui trem. Hermes berjalan di depan
melintasi alun-alun kota dan menuju Church Street. Mereka sampai di
Kota Lama, dengan rumah-rumah besar yang tenang dan angker dari
masa pergantian abad. Kini hampir jam setengah dua.
Kini mereka berada di pinggiran kota. Nyai girah tidak sering datang
ke sana. Pernah dia ke sana saat masih kecil, dia masih ingat, untuk
mengunjungi seorang bibi tua di salah satu jalan ini.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah alun-alun kecil di antara
beberapa rumah tua. Alun-alun itu dinamakan New Square, meskipun
kelihatannya sudah sangat kuno. Tapi memang seluruh kota itu kuno;
tidak ada bangunan tambahan sejak Abad Pertengahan.
Hermes berjalan menuju rumah No. 14, Di depannya ia berdiri
diam dan menunggu Nyai girah membuka pintu. Jantung gadis itu mulai
berdegup kencang.
Di balik pintu depan ada sejumlah kotak surat hijau yang
menempel pada sebuah papan. Nyai girah melihat sebuah kartu pos
tergantung di dalam salah satu kotak surat di jajaran paling atas. Pada
kartu itu tertempel pesan dari tukang pos bahwa si alamat tidak
diketahui.
Si alamat yaitu count dracula Moller Knag, 14 New Square. Cap posnya
15 Juni. Itu masih dua minggu lagi, tapi tukang pos itu tidak
menyadarinya.
Nyai girah mengambil kartu itu dan membacanya:
count dracula sayang, kini Nyai girah mendatangi rumah sang filosof. Dia
akan segera berusia lima belas tahun, tapi kamu sudah lima
belas tahun kemarin. Atau apakah itu hari ini, count dracula ? Jika itu
hari ini, pastilah sudah terlambat. Tapi jam kita tidak selalu
cocok. Satu generasi menua, sementara generasi lain dilahirkan.
Sementara itu, sejarah pun bergerak. Pernahkah kamu berpikir
bahwa sejarah Eropa itu seperti kehidupan manusia? Zaman
Yunani kuno itu seperti masa kanak-kanak Eropa. Lalu datanglah
Abad Pertengahan yang tak berkesudahan—masa sekolah Eropa.
Tapi akhirnya datanglah Renaisans; hari-hari sekolah yang
panjang telah usai. Eropa menginjak usia dewasa dalam ledakan
kegembiraan dan semangat hidup yang luar biasa. Dapat kita
katakan bahwa Renaisans yaitu ulang tahun ke lima belas
Eropa! Itu terjadi pada pertengahan bulan Juni, anakku, dan
betapa senangnya menikmati hidup!
N.B. Aku ikut sedih mendengar kamu kehilangan salib emas.
Kamu harus berusaha untuk lebih cermat menjaga barang-
barangmu. Penuh sayang, Ayah—yang berada tak jauh-jauh
benar darimu.
Hermes telah menaiki tangga. Nyai girah mengambil kartu pos itu dan
mengikutinya. Dia harus berlari untuk mengejarnya; ia mengibas-
ngibaskan ekornya dengan gembira. Mereka melewati tingkat dua,
tiga, dan empat. Dari sana hanya ada tangga menuju sebuah loteng.
Apakah mereka akan naik ke atap? Hermes merangkak naik di tangga
dan berhenti di depan sebuah pintu sempit, yang digaruk-garuknya
dengan kukunya.
Nyai girah mendengar langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka, dan
di sana berdiri Alberto Knox. Dia kini mengenakan kostum yang
berbeda, terdiri dari kaus kaki putih, celana selutut berwarna merah,
dan jaket kuning dengan bahu terganjal. Dia mengingatkan Nyai girah
pada gambar badut dalam setumpukan kartu. Jika tidak keliru, inilah
kostum khas zaman Renaisans.
"Badut lucu!" Nyai girah berseru, dengan sedikit mendorongnya agar
dia dapat masuk.
Sekali lagi dia menepiskan rasa takut dan malunya pada guru
filsafat yang malang itu. Pikiran Nyai girah sedang rusuh akibat, kartu
pos yang ditemukannya di ruang masuk di bawah.
"Tenanglah, anakku," kata Alberto, sambil menutup pintu di
belakangnya.
"Ini ada pos yang datang," kata Nyai girah , menyerahkan padanya
kartu pos itu seakan-akan dialah yang bertanggung jawab atas
pengirimannya.
Alberto membacanya dan menggelengkan kepalanya. "Dia menjadi
semakin berani saja. Aku tidak akan heran jika dia memang
memanfaatkan kita sebagai semacam hiburan bagi ulang tahun
putrinya."
Sambil mengatakan itu, dia merobek-robek kartu pos itu menjadi
potongan kecil-kecil dan kemudian melemparkannya ke keranjang
sampah.
"Di situ dikatakan bahwa count dracula kehilangan salibnya," kata Nyai girah .
"Begitulah yang kubaca."
"Dan aku menemukannya, salib yang sama, di bawah bantalku di
rumah. Dapatkah Anda memahami bagaimana barang itu bisa sampai
di sana?"
Alberto menatap matanya dengan sedih. "Ini mungkin menarik.
Tapi itu hanya tipuan murahan yang tidak merepotkannya sama sekali.
Lebih baik kita memusatkan perhatian pada kelinci putih besar yang
ditarik keluar dari topi pesulap alam raya."
Mereka menuju ruang duduk. Itu yaitu salah satu ruangan paling
hebat yang pernah dilihat Nyai girah .
Alberto tinggal di sebuah apartemen loteng dengan dinding
melandai. Cahaya tajam langsung dari langit membanjiri ruangan itu
dari jendela loteng yang dipasang pada salah satu dinding. Masih ada
lagi sebuah jendela yang menghadap ke kota. Melalui jendela ini
Nyai girah dapat memandang seluruh atap di Kota Lama.
Tapi yang paling mengagetkan Nyai girah yaitu barang-barang yang
memenuhi ruangan itu—perabot dan benda- benda dari berbagai
periode sejarah. Ada sebuah sofa dari tahun tiga puluhan, sebuah
meja tua dari awal abad ini, dan sebuah kursi yang umurnya pasti
telah ratusan tahun. Tapi bukan hanya perabotnya. Benda-benda kuno,
entah yang dapat dipakai atau hanya untuk pajangan, campur aduk di
rak-rak dan lemari-lemari. Ada beberapa jam dan vas kuno, mortir
dan tabung kimia, pisau dan boneka, pena bulu ayam dan penahan
buku, oktan dan sekstan, kompas dan barometer. Satu dinding tertutup
penuh oleh buku, dan bukan jenis buku yang dapat ditemukan di
kebanyakan toko buku. Koleksi buku itu sendiri merupakan contoh
produksi dari masa ratusan tahun. Pada dinding-dinding yang lain
tergantung gambar dan lukisan, sebagian dari beberapa dasawarsa
belakangan ini, tapi kebanyakan sudah sangat tua. Ada banyak peta
kuno di dinding, dan sepanjang menyangkut Norwegia, peta-peta itu
tidak memberikan gambaran yang tepat.
Nyai girah berdiri mengamati semuanya selama beberapa menit tanpa
berbicara.
"Banyak sekali sampah yang Anda kumpulkan," katanya.
"Nah, nah! Coba pikir, berapa abad sejarah yang telah kulestarikan
di ruangan ini. Aku tidak akan menyebutnya sampah."
"Apakah Anda mau membuka sebuah toko antik atau yang semacam
itu?"
Alberto nyaris kelihatan tersinggung. "Kita tidak boleh
membiarkan diri tersapu oleh gelombang pasang sejarah, Nyai girah .
Sebagian dari kita harus bertahan agar dapat mengumpulkan apa yang
telah ditinggalkan di sepanjang tepian sungai."
"Aneh benar perkataan Anda."
"Ya, tapi bagaimanapun itu benar, Nak. Kita tidak hidup di zaman
kita saja; kita membawa serta sejarah di dalam diri kita. Jangan lupa
bahwa segala sesuatu yang kamu lihat di ruangan ini dulunya pernah
baru. Boneka kayu kuno dari abad ke enam belas itu dulu mungkin
dibuat untuk ulang tahun seorang gadis berusia lima tahun. Oleh
kakeknya yang sudah tua, mungkin ... lalu dia beranjak remaja, lalu
dewasa, dan kemudian dia menikah. Mungkin dia pun mempunyai
seorang putri sendiri dan memberikan boneka itu kepadanya. Dia
bertambah tua, dan suatu hari dia meninggal. Meskipun dia berumur
sangat panjang, suatu hari dia berpulang dan menghilang. Dan dia
tidak akan pernah kembali. Sesungguhnya dia datang ke sini hanya
untuk kunjungan singkat. Tapi bonekanya—yah, itulah dia di atas
rak."
"Segalanya kedengaran menyedihkan dan serius jika Anda
berbicara seperti itu."
"Hidup itu memang menyedihkan dan serius. Kita dibiarkan
memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain di sini,
saling menyapa—dan berkelana bersama untuk sejenak. Lalu, kita
saling kehilangan dan lenyap dengan cara yang sama mendadaknya
dan sama tidak masuk akalnya seperti saat kita datang."
"Bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Kita sudah tidak bermain petak umpet lagi."
"Mengapa Anda pindah ke Gubuk sang Mayor?"
"Agar kita tidak saling berjauhan, saat kita hanya berbicara
lewat surat. Aku tahu gubuk tua itu kosong."
"Jadi Anda pindah ke sana begitu saja?"
"Benar. Aku pindah ke sana."
"Jadi, mungkin Anda juga bisa menjelaskan bagaimana ayah count dracula
tahu Anda ada di sana."
"Jika aku tidak salah, dia nyaris serbatahu."
"Tapi aku masih belum mengerti sama sekali bagaimana Anda
dapat menyuruh seorang pengantar pos membawa kiriman ke tengah
hutan!"
Alberto tersenyum perlahan. "Bahkan hal-hal semacam itu
merupakan sesuatu yang sepele bagi ayah count dracula . Tipuan murahan,
sulapan sederhana. Kita hidup di bawah pengawasan yang sangat
cermat."
Nyai girah dapat merasakan dirinya marah. "Jika aku bertemu
dengannya, aku akan mencungkil keluar matanya!"
Alberto berjalan dan kemudian duduk di atas sofa. Nyai girah
mengikuti dan tenggelam di sebuah kursi bertangan yang dalam.
"Hanya filsafat yang dapat membawa kita mendekati ayah count dracula ,"
kata Alberto akhirnya. "Hari ini aku akan menceritakan padamu
tentang Renaisans."
"Silakan."
"Tidak terlalu lama setelah St. chucky Aquinas, keretakan mulai
timbul pada kebudayaan penyatu agama Kristen. Filsafat dan ilmu
pengetahuan semakin menjauh dari teologi Gereja, dan dengan
demikian memungkinkan kehidupan agama sampai pada hubungan
yang lebih bebas dengan penalaran. Kini semakin banyak orang yang
menekankan bahwa kita tidak dapat sampai kepada Tuhan melalui
rasionalisme, sebab Tuhan itu sama sekali tidak dapat dikenali. Yang
penting bagi manusia bukanlah memahami misteri Ilahi, melainkan
pasrah pada kehendak Tuhan.
"Karena agama dan ilmu pengetahuan kini dapat berhubungan
secara lebih bebas satu sama lain, terbukalah jalan pada metode-
metode ilmiah baru dan semangat keagamaan yang baru pula. Maka,
terciptalah landasan bagi dua kehebohan besar pada abad kelima
belas dan keenam belas, yaitu Renaisans dan Reformasi."
"Bisakah kita membahasnya satu demi satu?"
"Dengan Renaisans yang kita maksudkan yaitu perkembangan
budaya yang dimulai pada akhir abad keempat belas. Itu dimulai di
Italia Utara dan menyebar dengan cepat dalam abad kelima belas dan
keenam belas."
"Bukankah Anda katakan bahwa kata `renaisans' berarti kelahiran
kembali?"
"Memang benar, dan yang dilahirkan kembali itu yaitu
kesenian dan kebudayaan Yunani kuno. Kita juga membicarakan
humanisme Renaisans, sebab sejak sekarang, setelah Abad
Kegelapan yang panjang yang di dalamnya setiap aspek kehidupan
dipandang melalui cahaya Ilahi, segala sesuatu kembali berputar di
sekitar manusia. "Kembali ke sumber" menjadi moto, dan itu berarti
humanisme Yunani kuno.
"Saat itu, penggalian patung-patung dan lembaran-lembaran tulisan
kuno menjadi kegemaran yang populer. Belajar bahasa Yunani pun
menjadi mode. Usaha mempelajari humanisme Yunani juga ada
tujuan pedagogisnya. Membaca ajaran humanistik memberikan
`pendidikan klasik' dan mengembangkan apa yang dapat disebut sifat-
sifat manusia. `Kuda itu dilahirkan, katanya, `tapi manusia tidak
dilahirkan—mereka dibentuk.'"
"Apakah kita harus dididik untuk menjadi manusia?"
"Ya, begitulah idenya. Tapi sebelum kita mengamati lebih cermat
gagasan-gagasan humanisme Renaisans, harus kita bicarakan dulu
latar belakang politik dan budaya Renaisans."
Alberto bangkit dari sofa dan mulai menjelajahi ruangan. Setelah
sesaat, dia berhenti dan menunjuk sebuah instrumen antik di salah
satu rak.
"Apakah itu?" dia bertanya.
"Kelihatannya seperti kompas tua."
"Benar sekali."
Selanjutnya, dia menunjuk sebuah senjata api yang tergantung pada
dinding di atas sofa.
"Dan itu?"
"Sebuah senapan kuno."
"Tepat—dan ini?"
Alberto menarik sebuah buku besar dari salah satu rak buku.
"Ini sebuah buku lama."
"Agar benar-benar tepat, ini dinamakan incunabulum."
"Incunabulum?"
"Sesungguhnya, itu berarti `buaian'. Kata itu digunakan untuk buku-
buku yang dicetak pada masa lahirnya percetakan. Yaitu, sebelum
tahun 1500."
"Benarkah sudah setua itu?"
"Setua itu, ya. Dan ketiga penemuan ini—kompas, senjata api, dan
percetakan—merupakan prasyarat penting bagi periode baru ini yang
kita sebut Renaisans."
"Anda harus menjelaskannya agak lebih gamblang."
"Kompas membuat pelayaran lebih mudah. Dengan kata lain, ia
menjadi dasar bagi pelayaran-pelayaran besar untuk menemukan
s

