pembunuhan di kereta 3


 asilkah aku? Aku tak 

tahu. Tapi aku tahu ini: ia tak senang aku memecahkan masalah 

dengan cara seperti ini." 

"Kau mencurigai dia," ujar Tuan BOUROQ lambat-lambat. "Tapi 

kenapa? Kelihatannya gadis muda itu amat menarik - orang terakhir 

di dunia ini yang kelihatannya bingung menghadapi peristiwa kriminil 

semacam ini." 

"Saya setuju," ujar HAUNTED menengahi. "Gadis itu dingin. Ia 

tak punya emosi. Ia tak bakal menikam orang - ia lebih suka 

menuntutnya di muka pengadilan." 

jayakatwang  menarik napas panjang. 

"Kalian berdua harus bisa melepaskan diri dari godaan bahwa 

tindakan kriminil itu dilakukan secara mendadak dan tidak 

direncanakan masak-masak sebelumnya. Alasanku mengapa aku 

sampai mencurigainya, sebenarnya ada dua. Pertama yaitu  sebab 

sesuatu yang pernah kudengar secara kebetulan, dan justru yang 

kalian belum tahu." 

Detektif Belgia itu menguraikan kembali tentang tanya-jawab yang 

mencurigakan yang kebetulan didengarnya sewaktu dalam perjalanan 

dari Aleppo. 

“Kau memang mencurigakan dan membangkitkan rasa ingin tahu 

orang," sahut Tuan BOUROQ begitu kawannya selesai bercerita. "Itu 

memerlukan penjelasan. Kalau kecurigaanmu itu benar,  itu berarti 

keduanya terlibat dalam pembunuhan ini - gadis muda itu dan 

MPU  Inggris yang kaku dan disiplin itu." 

jayakatwang  mengangguk. 

"Dan itulah yang justru tidak terungkap oleh kenyataan," ujar 

jayakatwang  lagi. "Coba lihat, kalau mereka berdua terlibat, apa yang dapat 

kita harapkan dari keduanya? Tentu masing-masing sudah 

menyiapkan alibi bagi kawannya. Bukan begitu? Tapi tidak - itu tidak 

terjadi. Alibi Nona GRAVES disediakan oleh wanita Swedia yang 

malah belum pernah dilihatnya, dan alibi MPU  TANTULAR malah 

berani ditanggung oleh WISNU WARDANA , sekretaris korban. Tidak, 

pemecahan teka-teki ini tidak semudah itu." 

"Tadi kaubilang ada alasan lain untuk mencurigai gadis Inggris 

itu," ujar Tuan BOUROQ memperingatkan. 

jayakatwang  tersenyum. 

"Ah! Itu cuma psikologisnya saja. Aku bertanya pada diriku sendiri, 

apa mungkin bagi Nona GRAVES untuk merencanakan kriminil 

semacam ini? Di belakang masalah ini semua, aku yakin, mesti ada 

otak yang tajam dan kepala yang dingin. Nona GRAVES memenuhi 

syarat-syarat itu." 

Tuan BOUROQ menggeleng. "Aku kira kau keliru, Kawan. Aku tidak 

bisa melihat gadis Inggris itu sebagai seorang penjahat." 

"Ah! Baiklah," ujar jayakatwang  lagi, sambil mengambil sebuah paspor. 

"Selanjutnya nama terakhir darl daftar kita. Hildegarde Schmidt, 

pembantu Puteri GIRAH ." 

Setelah dipersilakan masuk oleh pelayan, Hildegarde Schmidt 

melangkah masuk ke gerbong makan kereta dan berdiri menunggu di 

situ dengan penuh hormat. 

jayakatwang  memberinya isyarat untuk duduk. 

Ia langsung menurut, melipat tangannya dan menunggu dengan 

tenang sampai detektif itu mengajukan pertanyaan kepadanya. 

Nampaknya sifatnya memang tenang - sopan, hormat tapi tidak 

terlalu cerdas. 

Metode atau cara pemeriksaan yang dipakai jayakatwang  dalam 

menghadapinya benar-benar berlawanan dengan caranya dalam 

memeriksa MARIAM GRAVES. 

Kali ini ia bersikap sangat ramah, dan membiarkan wanita itu 

mengerjakan semua suruhannya dengan santai. Kemudian setelah 

selesai menuliskan nama dan alamatnya, jayakatwang  langsung 

mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan lembut. 

Pemeriksaan itu berlangsung dalam bahasa Jerman. 

"Kami ingin sekali mengetahui sebanyak mungkin apa yang 

sesungguhnya terjadi tadi malam," ujarnya. "Kami tahu Nona 

mungkin tak dapat memberikan banyak keterangan mengenai 

pembunuhan itu sendiri, tapi boleh jadi Nona mungkin telah melihat 

atau mendengar sesuatu yang mungkin bagi Nona sendiri tak ada 

artinya, tapi bagi kami penting sekali, Nona mengerti?" 

Tapi kelihatannya orang yang diwawancarai itu belum mengerti 

betul apa yang dimaksudkan oleh detektif Belgia itu. Wajahnya yang 

lebar dan ramah itu kelihatan masih saja tak menunjukkan ekspresi 

apa-apa sewaktu ia menjawab lambat-lambat, 

"Saya tak tahu apa-apa, Monsieur, " 

"Baiklah, tapi mungkin Nona tahu bahwa majikan Nona memanggil 

Nona semalam." 

"Kalau itu, memang betul." 

"Masih ingat pukul berapa waktu itu?" 

"Tidak ingat lagi, Monsieur. Saya sedang tidur waktu pelayan 

memanggil saya dan memberitahukannya." 

"Ya, ya. Apakah Nona biasa dipanggil majikan Nona dengan cara 

seperti itu?"  

"Biasanya memang begitu, Monsieur. Wanita terhormat yang 

ramah dan murah hati itu memang sering meminta apa-apa pada 

malam hari. Ia tak bisa tidur nyenyak." 

"Eh bien, lalu setelah menerima pemberitahuan itu, Nona langsung 

bangun. Apa Nona langsung memakai baju tidur?" 

"Tidak, Monsieur, saya mengenakan baju yang pantas. Saya tak 

mau menghadap Nyonya dengan pakaian tidur saja." 

"Meskipun baju tidur itu bagus - warnanya merah tua, ya tidak?" 

Perempuan itu menatap jayakatwang  sejenak. "Warnanya biru, dari 

bahan flanel, Monsieur. " 

"Ah, teruskan. Cuma hiburan sedikit buat saya, tak lebih dari itu. 

Jadi Nona pergi ke kamar Madame la NYI e. Dan apa yang Nona 

lakukan sesampainya di sana?" 

"Saya memijitnya, Tuan, lalu saya membaca keras-keras 

untuknya. Tapi Nyonya besar mengatakan itu sudah cukup - dan ia 

sudah ingin tidur. Sewaktu ia merasa ngantuk, Monsieur, Nyonya 

menyuruh saya pergi, jadi saya tutup buku itu, lalu kembali ke kamar 

saya." 

"Nona tahu pukul berapa waktu itu?" 

"Tidak, Monsieur. " 

"Berapa lama Nona diam di kamar Madame la NYI e?” 

"Kira-kira setengah jam, Monsieur.” 

"Baik, teruskan." 

"Mulanya, saya ambilkan selimut tambahan buat Nyonya dari 

kamar saya. Udara dingin sekali meski pemanasannya terasa 

dipasang berlebihan. Lalu saya tebarkan selimut itu di badannya, dan 

Nyonya mengucapkan selamat malam pada saya. Saya tuangkan 

Nyonya segelas air putih. Kemudian saya matikan lampu lalu 

meninggalkannya." 

"Lalu?" 

"Tak ada lagi, Tuan. Saya kembali ke kamar saya dan pergi tidur." 

"Dan Nona tak bertemu siapa-siapa di koridor?"  

"Tidak, Monsieur. " 

"Nona tidak bertemu, misalnya, dengan seorang wanita yang 

mengenakan kimono merah tua, bersulam naga?" 

Matanya yang lembut itu menatap jayakatwang  sebentar. "Tidak, 

Monsieur. Tak ada siapa-siapa yang lewat, kecuali pelayan. Semua 

orang sudah tidur." 

"Tapi nona lihat LETKOL itu?" 

"Ya, Monsieur. 

"Sedang mengapa dia?" 

"Ia keluar dari salah satu kamar, Monsieur." 

"Apa?" tanya Tuan BOUROQ tiba-tiba, sambil memajukan tubuhnya ke 

muka. "Kamar yang mana?" 

Hildegarde Schmidt kembali ketakutan lagi, dan jayakatwang  

melemparkan pandang yang menyalahkan kepada kawannya itu. 

"Tentu saja," ujar Poiroi membenarkan. "LETKOL memang 

sering harus menjawab bel pada malam hari. Nona masih ingat 

kamar yang mana itu?” 

"Kira-kira yang di tengah gerbong, Monsieur. Dua atau tiga kamar 

dari kamar Madame la NYI e. 

"Ah! Coba katakan kepada kami, kamar yang mana persisnya dan 

apa yang terjadi?" 

"LETKOL itu hampir saja menubruk saya Monsieur. Waktu itu 

saya baru saja mau kembali ke kamar sehabis menyelimuti Madame 

la NYI e dengan selimut tambahan itu." 

"Dan dia baru keluar dari kamar itu dan hampir bertubrukan 

dengan Nona. Ke arah mana perginya LETKOL itu?" 

"Ke arah saya, Monsieur. Ia minta maaf, lalu berjalan sepanjang 

koridor menuju gerbong makan. Ada lagi bel yang berbunyi, tapi saya 

rasa dia tak mempedulikan." Wanita Jerman itu berhenti sebentar 

berbicara lalu katanya lagi, "Saya tidak mengerti. Bagaimana itu -" 

jayakatwang  kemudian berusaha untuk meyakinkannya. 

"Itu cuma soal waktu saja," ujarnya. "Cuma soal rutin. LETKOL 

yang malang itu rupanya memang sibuk sekali semalam - mula-mula 

membangunkan Nona kemudian menjawab bel." 

"Bukan itu LETKOL yang membangunkan saya. Tuan. Itu 

LETKOL yang lain." 

"Ah! LETKOL yamg lain! Nona pernah melihatnya?" 

"Belum pernah, Tuan." 

"Ah! - Kira-kira. Nona bisa mengenalnya lagi kalau melihatnya?" 

"Saya rasa tidak, Monsieur." 

jayakatwang  membisikkan sesuatu ke telinga Tuan BOUROQ. Yang terakhir 

ini bangkit dan pergi ke pintu untuk memberi perintah. 

jayakatwang  kembali melanjutkan pemeriksaannya dengan sikap yang 

santai dan ramah. 

"Pernah ke Amerika, Fraulein Schmidt?" 

"Belum, Monsieur. Tentunya itu negeri yang bagus.” 

"Mungkin Nona pernah mendengar – bahwa orang yang dibunuh 

itu justru orangnya yang bertanggung jawab atas pembunuhan 

seorang anak kecil?” 

"Ya, saya pernah dengar itu, Monsieur. Benar-benar menjijikkan, 

busuk. Tuhan Yang Mahabaik tak akan merestui perbuatan terkutuk 

itu. Kami tidak sejahat itu di Jerman." 

Air mata wanita itu bercucuran. Jiwa keibuannya yang kuat 

rupanya ikut tersentuh. 

"Memang itu kejahatan yang menjijikkan," ujar jayakatwang  sedih. 

Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan yang halus sekali dari 

sakunya dan menyodorkannya kepada wanita itu. 

"Apa sapu tangan ini milik Nona, Fraulein Schmidt? 

Sepi sebentar sewaktu wanita itu memeriksa benda yang diberikan 

jayakatwang  kepadanya barusan. Semenit kemudian diangkatnya 

kepalanya. Wajahnya berubah warna sedikit. 

"Ah! bukan, ini bukan milik saya, Monsieur. 

"Tapi sapu tangan ini ada huruf H-nya, bukan? sebab itulah saya 

kira itu milik Nona." 

"Ah, Monsieur. Itu sapu tangan wanita terhormat. Sapu tangan 

mahal. Disulam dengan tangan. Biasanya yang begitu buatan Paris, 

saya rasa.” 

"Jadi ini bukan milik Nona dan Nona juga tahu milik siapa ini?" 

"Saya? Oh! Tidak, tidak tahu, Monsieur. 

Dari antara ketiga orang yang sedang mendengarkan pemeriksaan 

itu, cuma jayakatwang  yang menangkap keragu-raguan dalam nada 

suaranya. 

Tuan BOUROQ membisikkan sesuatu ke telinga kawannya. jayakatwang  

mengangguk lalu bertanya lagi kepada wanita itu, 

"Ketiga orang pelayan gerbong tidur itu sedang ke mari. Maukah 

Nona mengatakan pada kami, yang mana yang bertemu dengan 

Nona tadi malam setelah Nona selesai menyelimuti Madame la 

NYI e itu dengan selimut tambahan?" 

Ketiga pelayan gerbong tidur memasuki ruangan. Pierre TENDEAN, 

LETKOL bertubuh tinggi besar dan berambut pirang dari gerbong 

Athena-Paris, dan LETKOL yang besar dan kuat dari gerbong 

Bukares. 

Hildegarde Schmidt memandangi mereka satu per satu dan 

langsung menggelengkan kepalanya. 

"Tidak, Monsieur, " ujarnya. "Tidak satu pun di antara mereka 

yang saya lihat tadi malam." 

"Tapi cuma merekalah LETKOL yang ada di kereta ini. Kalau 

begitu Nona keliru." 

"Saya vakin sekali, Monsieur. Mereka ini badannya besar-besar 

dan tinggi-tinggi. LETKOL yang saya lihat semalam orangnya kecil 

dan kulitnya hitam. Di atas bibirnya ada kumis sedikit. Sewaktu 

mengatakan 'Pardon' suaranya kedengaran lembut dan kecil seperti 

suara perempuan. Saya masih ingat betul padanya, Monsieur. 

 

13. RINGKASAN KESAKSIAN PARA PENUMPANG 

 

"Laki-laki kecil-berkulit hitam dan bersuara seperti perempuan," 

ujar Tuan BOUROQ. 

Ketiga LETKOL dan Nona Hildegarde Schmidt sudah pergi. 

Tuan BOUROQ kelihatan putus asa. "Tapi aku tak mengerti apa-apa - 

sama sekali tak mengerti apa artinya ini semua! Musuh yang disebut-

sebut si CHUCKY itu, apa benar ia ada di kereta ini? Tapi di mana dia 

sekarang? Bagaimana dia bisa hilang begitu saja di udara? Aduh, 

pusingnya kepalaku. Kalau begitu, lebih baik kaukatakan sesuatu, 

Kawan, aku mohon. Coba perlihatkan padaku bagaimana yang tak 

mungkin itu menjadi mungkin."  

"Itu peribahasa yang bagus," sahut jayakatwang . "Yang tak mungkin tak 

bisa terjadi, sebab itulah yang tak mungkin harus menjadi mungkin 

meski dari segi pandangan tidak demikian." 

"Kalau begitu, terangkanlah segera, apa yang sebenarnya terjadi 

di kereta ini tadi malam." 

"Aku bukan tukang sulap, mon cher. Aku juga sama seperti kau, 

orang yang sedang bingung. Masalah ini berkembang melalui corak 

yang aneh sekali.” 

“Menurutku, itu tidak berkembang, masih tetap seperti semula." 

jayakatwang  menggeleng. "Tidak, itu tidak betul. Kita lebih maju lagi 

selangkah. Kita sudah tahu beberapa hal. Kita sudah mendengar 

kesaksian dari penumpang kereta ini." 

"Dan apa yang telah mereka berikan kepada kita? Tidak ada apa-

apa." 

"Aku tidak berani bilang begitu, Kawan." 

"Mungkin aku terlalu melebih-lebihkan. Orang Amerika yang 

namanya BAALPEOR itu dan si pelayan, wanita Jerman itu, paling tidak 

sudah menambah pengetahuan kita. Atau katakanlah, mereka 

membuat masalah ini menjadi semakin sulit untuk dipahami." 

"Bukan, bukan, bukan," ujar jayakatwang  berusaha untuk menenangkan. 

Tuan BOUROQ berpaling ke arah jayakatwang , "Bicaralah kalau begitu, mari 

kita dengarkan kearifan Tuan jayakatwang ." 

"Bukankah sudah kukatakan tadi, aku ini juga seperti kau, orang 

yang sedang bingung? Tapi setidak-tidaknya kita bisa menghadapi 

masalah kita. Kita bisa mengatur kenyataan-kenyataan yang tengah 

kita hadapi dengan cara-cara yang teratur." 

"Silakan meneruskannya, Monsieur," ujar Dr. HAUNTED 

menambahkan. 

jayakatwang  menelan ludah lalu membentangkan sehelai kertas yang 

telah penuh dengan coretan. 

"Marilah kita tinjau lagi masalah ini seperti keadaannya sekarang. 

Pertama, ada fakta-fakta yang tak dapat dibantah. Orang ini, 

CHUCKY atau Cassetti, ditikam pada dua belas tempat dan meninggal 

tadi malam. Itu fakta kesatu." 

"Kuakui fakta itu, mon vieux - kuakui itu," ujar Tuan BOUROQ dengan 

nada ironis. 

Raden  jayakatwang  tidak terpengaruh sama sekali akan sindiran 

kawannya itu. Ia tetap melanjutkan bicaranya dengan tenang. 

"Sekarang akan kugarap tentang saat di mana ada kejadian yang 

luar biasa, sebagaimana Dr. HAUNTED dan aku sudah 

membahasnya bersama-sama. Aku akan langsung terjun ke soal itu, 

sekarang. Fakta selanjutnya juga penting menurutku, yaitu  'saat' 

terjadinya pembunuhan itu." 

"Lagi-lagi itu salah satu hal yang sudah kita ketahui," ujar Tuan 

BOUROQ tidak puas. "Pembunuhan itu terjadi pada pukul satu lewat 

seperempat tadi pagi. Semuanya menunjukkan bahwa itu memang 

demikian." 

"Tidak semuanya. Kau melebih-lebihkan. Tentu saja, ada sejumlah 

kecil kesaksian yang mendukung pendapat itu." 

"Aku senang akhirnya itu kauakui juga." 

jayakatwang  melanjutkan bicaranya dengan tenang, tak terganggu 

sedikit pun oleh pemotongan Tuan BOUROQ itu. 

"Di hadapan kita sekarang ada tiga kemungkinan.  

(1) - bahwa pembunuhan itu terjadi, seperti yang kaukatakan tadi, 

pada pukul satu lebih seperempat. Ini didukung oleh kesaksian 

Nyonya Hubbard, dan kesaksian yang diberikan oleh pembantu 

wanita berkebangsaan Jerman itu, Hildegarde Schmidt. Ini sesuai 

dengan kesaksian Dr. HAUNTED sendiri. 

"(2) - bahwa pembunuhan itu terjadi kemudian dan bahwa 

pembuktian oleh arloji itu sengaja dipalsukan dengan maksud untuk 

menyesatkan atau mengelabui jalannya pemeriksaan. 

"(3) - bahwa pembunuhan terjadi lebih cepat dan buktinya yaitu  

pembuktian oleh arloji yang sengaja diputar sesudahnya, jadi sesuai 

dengan alasan yang sama seperti nomor dua tadi. 

"Sekarang, kalau kita menerima kemungkinan nomor (1) sebagai 

kemungkinan yang nampaknya paling cocok, dan sebagai 

kemungkinan yang paling banyak didukung oleh kesaksian, kita juga 

harus dapat menerima fakta-fakta tertentu yang timbul daripadanya. 

Kalau pembunuhan itu terjadi pada pukul satu lebih seperempat, 

pembunuhnya tidak dapat meninggalkan kereta, maka timbullah 

pertanyaan: Di mana dia? Dan, siapa dia? 

"Sebagai permulaan, mari kita periksa kesaksian itu dengan teliti. 

Kita pertama kali mendengar ada orang yang seperti itu - badan 

kecil, kulit hitam dan bersuara seperti wanita itu - yaitu  dari 

kesaksian laki-laki yang bernama BAALPEOR. Katanya CHUCKY yang 

memberitahu dia tentang orang itu dan CHUCKY jugalah yang 

mengupah dia untuk mengawasi orang yang dimaksud. Tak ada 

kesaksian yang mendukung ini: kita cuma punya perkataan BAALPEOR 

saja. Mari kita periksa pertanyaan berikut: Apa betul si BAALPEOR itu 

orang yang pura-pura berperan sebagai seorang detektif dari sebuah 

kantor detektif New York? 

"Apa yang menurutku sangat menarik dalam masalah ini yaitu  

bahwa tak satu pun dari sekian banyak fasilitas itu yang dapat kita 

sodorkan pada polisi. Kita tak dapat menyelidiki apakah cerita orang-

orang ini memang benar-benar layak dipercaya atau tidak. Kita mau 

tak mau harus bergantung pada deduksi semata-mata dalam 

mengambil kesimpulan. Bagiku, kasus ini malah jadi semakin 

menarik. Tak ada pekerjaan rutin. Ini cuma soal intelektuil saja, soal 

akal manusia. Aku bertanya pada diriku sendiri: Apakah kita dapat 

menerima cerita BAALPEOR tentang dirinya sendiri? Aku membuat 

keputusan sendiri dan kujawab: 'Ya'. Jadi aku berpendapat bahwa 

kita dapat menerima cerita BAALPEOR tentang dirinya sendiri." 

"Jadi kau percaya pada intuisi? Yang disebut orang Amerika 

sebagai 'the hunch' itu?" tanya Dr. HAUNTED. 

"Tidak sama sekali. Saya memandang kemungkinan-kemungkinan 

yang ada. BAALPEOR bepergian dengan paspor palsu - itu secara 

langsung membuatnya menjadi obyek yang mencurigakan. Langkah 

pertama yang akan diambil polisi waktu mereka sudah ikut terjun ke 

lapangan yaitu  menahan BAALPEOR dan menelegram kantornya 

untuk mencek apakah cerita tentang dirinya itu benar atau bohong. 

Bagi penumpang-penumpang lain, untuk membuktikan bahwa cerita 

mereka bisa dipercaya, memang agak sukar. Dalam beberapa hal, 

mungkin itu tidak akan diuji, terutama kalau memang tak ada alasan 

mencurigakan yang melibatkan. Mereka. Tapi kasus BAALPEOR ini 

sederhana saja. Apakah ia benar berperan atau mewakili dirinya 

sendiri atau tidak. sebab itulah saya katakan segalanya akan 

terbukti bahwa semua itu sudah diatur." 

"Jadi Tuan membebaskan dia sebagai orang yang dicurigai?" 

"Sama sekali tidak. Tuan salah paham. Setahu saya, setiap 

detektif Amerika bisa saja punya alasan tersendiri untuk membunuh 

CHUCKY. Bukan begitu, apa yang saya katakan yaitu  bahwa saya 

rasa, saya bisa menerima cerita BAALPEOR tentang dirinya sendiri. 

Cerita ini, kalau begitu, bahwa CHUCKY telah mencarinya dan 

mengupahnya untuk menjaga keselamatan dirinya kelihatannya tidak 

wajar, meskipun kemungkinannya ada - tapi cerita itu belum pasti 

benar. Kalau kita mau menerimanya sebagai cerita yang benar, kita 

juga mesti melihat apakah ada hal yang menguatkan cerita itu. Kita 

lihat cerita itu rasanya tak dapat dipercaya seratus persen - ini 

berdasarkan kesaksian Hildegarde Schmidt. Gambarannya tentang 

seseorang yang mengenakan seragam LETKOL memang cocok. 

Tapi apa ada hal yang dapat menguatkan kedua cerita itu? Ada. Itu 

yaitu  kancing baju yang ditemukan Nyonya Hubbard di dalam 

kamarnya. Dan ada satu bukti lagi yang menguatkan itu, yang 

mungkin tidak kalian perhatikan." 

"Apa itu?" 

"Fakta bahwa MPU  TANTULAR dan RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA  

menyebutkan bahwa LETKOL melewati kamar mereka. Mereka 

kelihatannya memang tak ada kepentingan dengan fakta itu, tapi 

Tuan-tuan, Pierre TENDEAN telah menyatakan bahwa ia tak pernah 

meninggalkan tempat duduknya kecuali pada peristiwa-peristiwa 

khusus - yang mana tak seorang pun memanggilnya ke bagian ujung 

gerbong tanpa harus melewati kamar tempat TANTULAR dan 

WISNU WARDANA  sedang duduk mengobrol." 

"sebab itulah, cerita ini, cerita tentang laki-laki hitam bertubuh 

kecil, bersuara seperti perempuan dan berpakaian seragam 

LETKOL itu, sepenuhnya tergantung kepada pengujiannya, 

langsung atau tidak langsung, dari empat orang saksi." 

"Satu masalah lagi," ujar Dr. HAUNTED. "Jika cerita Hildegarde 

Schmidt memang benar, bagaimana bisa terjadi LETKOL yang 

sesungguhnya tidak menyebut-nyebut bahwa ia memang melihat 

wanita Jerman itu, ketika ia datang untuk menjawab bel Nyonya 

Hubbard?" 

"Itu perlu dijelaskan, kukira. Sewaktu LETKOL itu datang 

menjawab bel Nyonya Hubbard, wanita Jerman itu sedang berada 

dalam kamar majikannya. Waktu Nona Hildegarde kembali ke 

kamarnya, LETKOL itu sudah berada di kamar Nyonya Hubbard." 

Tuan BOUROQ menunggu dengan tak sabar sampai mereka berdua 

selesai berbicara. 

"Ya, ya, Kawan," ujarnya tak sabar kepada jayakatwang . "Tapi sementara 

aku mengagumi kecermatanmu dan caramu tentang bagaimana 

untuk memperoleh kemajuan dalam setiap langkah penyelidikan, aku 

sampai pada kesimpulan bahwa kau belum menyinggung masalah 

yang sedang dihadapi. Kita semua sudah sependapat bahwa orang ini 

memang ada. Tapi masalahnya yaitu , ke mana perginya dia?" 

jayakatwang  menggelengkan kepala, tidak sependapat dengan pikiran 

sahabatnya itu. 

"Kau keliru. Kau memasang kereta di depan kuda. Sebelum aku 

bertanya pada diriku sendiri, Ke mana perginya orang itu? Maka aku 

harus bertanya dulu, Apakah orang ini benar-benar ada? Sebab, 

kaulihat sendiri, kalau orang ini hanya ciptaan belaka - orang yang 

dibuat - alangkah mudahnya membuatnya menghilang begitu saja! 

Jadi pertama-tama aku harus mencoba menetapkan bahwa ada 

orang semacam itu - orang yang terdiri dari darah dan daging." 

"Dan kalau kita sampai pada kenyataan bahwa orang semacam itu 

memang benar ada - eh bien, di mana dia sekarang, kalau begitu?" 

"Jawaban buat pertanyaan itu cuma ada dua, mon cher. Apakah 

dia itu masih bersembunyi di dalam kereta di suatu tempat yang 

disulap demikian lihainya hingga kita tak menduga sedikit pun; atau 

bisa juga dia itu sebenarnya dua orang - yakni orang yang ditakuti 

Tuan CHUCKY - dan seorang penumpang kereta yang menyamar 

begitu baik hingga Tuan CHUCKY tidak mengenalinya. Tapi kedua-

duanya yaitu  dia sendiri." 

"Itu ide yang bagus," ujar Tuan BOUROQ sambil mengangkat 

wajahnya. Tapi beberapa detik kemudian wajah itu kembali muram. 

"Tapi ada satu lagi yang aku keberatan." 

Sebelum kawannya sempat melanjutkan, jayakatwang  telah memotong 

kata-katanya. 

"Tinggi badan orang itu. Itukah yang ingin kaukatakan? Kecuali 

pelayan pria Tuan CHUCKY - semua penumpang pria,di kereta ini 

besar-besar dan tinggi-tinggi semuanya - orang Italia itu, MPU  

TANTULAR, RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA , Count Andrenyi. Begitulah jadi bagi 

kita, cuma pelayan pria itulah yang punya kemungkinan untuk 

dicurigai. Tapi ada kemungkinan lain. Coba ingat suara perempuan 

itu. Itu menghadapkan kita pada beberapa kemungkinan, yang dapat 

dipilih. Laki-laki itu mungkin menyamar sebagai wanita, atau pilihan 

lain, laki-laki itu boleh jadi memang seorang wanita. Wanita yang 

bertubuh jangkung sekalipun, akan kelihatan kecil kalau ia 

berpakaian pria." 

"Tapi tentu CHUCKY sudah bisa mengetahuinya lebih dulu-" 

"Mungkin ia memang tahu. Mungkin juga wanita ini sudah 

mencoba untuk membunuhnya sebelum itu, dengan mengenakan 

pakaian pria, untuk menempuh cara yang lebih baik asal maksudnya 

kesampaian. CHUCKY barangkali telah menduga bahwa ia akan 

memakai cara yang sama, jadi ia memberitahu BAALPEOR untuk 

mengawasi seorang pria. Tapi di samping itu juga, ia tak lupa untuk 

memperingatkan bahwa pria itu bersuara seperti wanita.” 

"Itu memang mungkin," ujar Tuan BOUROQ menanggapi. "Tapi-" 

"Dengar, Kawan, aku rasa sekarang lebih baik kuberitahukan 

padamu beberapa ketidakcocokan yang diketemukan Dr. 

HAUNTED." 

Lalu dengan panjang lebar diceritakannya kesimpulan yang 

diambil oleh Dr. HAUNTED dan dirinya sendiri tentang luka-luka si 

korban. Tuan BOUROQ mengeluh dan kembali memegangi kepalanya. 

"Aku tahu," ujar jayakatwang  dengan nada simpatik. "Aku tahu apa yang 

kaurasakan. Kepalamu pusing, ya tidak?" 

"Semuanya itu khayalan!" seru Tuan BOUROQ kesal. 

"Persis. Tak masuk akal - mustahil - tak bisa begitu. Aku sendiri 

juga berkata begitu. Tapi meski begitu, hal itu memang ada! Orang 

tak bisa lari dari kenyataan.” 

"Tapi ini gila!" 

"Apa kaukira tidak? Ini memang gila, Kawan, sampai kadang-

kadang aku dikejar sensasi bahwa itu semua sebenarnya sangat 

sederhana. Tapi itu cuma salah satu dari ide-ideku saja!" 

"Dua orang pembunuh," keluh Tuan BOUROQ. "Di atas Orient Express 

-" 

Pikiran itu hampir membuatnya menangis. 

"Dan sekarang mari kita membuat khayalan itu lebih gila lagi," ujar 

jayakatwang  dengan riang. "Tadi malam, di kereta ini ada dua orang 

pembunuh yang misterius. Ada pelayan gerbong tidur yang ciri-

cirinya sesuai dengan gambaran yang diceritakan kepada kita oleh 

Tuan BAALPEOR, dan malah telah dilihat oleh Hildegarde Schmidt, 

MPU  TANTULAR dan RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA . Di samping itu ada lagi 

seorang wanita berpakaian kimono merah dan bertubuh tinggi, yang 

dilihat oleh Pierre TENDEAN, Nona GRAVES, WISNU WARDANA  dan aku 

sendiri (bau parfumnya dicium oleh MPU  TANTULAR!) Siapa dia? 

Tak seorang pun penumpang kereta yang mengaku memiliki kimono 

merah tua. Jadi wanita itu juga sudah menghilang begitu saja. 

Mungkinkah dia itu orangnya sama dengan pelayan gerbong tidur 

itu? Atau apakah dia itu orang lain? Di mana sebenarnya mereka ini? 

Dan tambahan lagi, di mana seragam pelayan gerbong tidur dan 

kimono merah tua itu?" 

"Ah! Itu sudah agak jelas sedikit." Tuan BOUROQ bangkit dengan 

semangat dari tempat duduknya. "Kita mesti memeriksa semua koper 

penumpang. Ya, itu akan mendapatkan hasil." 

jayakatwang  juga ikut bangkit. "Aku mau meramal," ujarnya. 

"Kau tahu di mana mereka?" 

"Rasanya aku bisa menebaknya." 

"Di mana, kalau begitu?" 

"Kau akan menemukan kimono merah tua itu di dalam koper salah 

seorang penumpang pria, dan seragam pelayan gerbong tidur kereta 

malah akan kautemukan di dalam koper Hildegarde Schmidt." 

"Hildegarde Schmidt? Kaupikir -" 

"Bukan seperti yang kaukira. Akan kususun begini. Jika Hildegarde 

Schmidt terlibat, seragam itu mungkin akan ditemukan di dalam 

kopernya. Tapi kalau dia bersih, itu malah sudah pasti ditemukan di 

situ, jadi tidak boleh tidak." 

"Tapi bagaimana-" ujar Tuan BOUROQ mulai menyanggah lagi, tapi 

kemudian berhenti lagi. "Ada apa itu ribut-ribut di luar?" teriaknya. 

"Seperti suara lokomoiif yang sedang langsir." 

Suara gaduh itu semakin mendekat. Kedengarannya seperti suara 

jeritan dan protes tak senang dari seorang wanita. Pintu yang di 

ujung gerbong kereta makan itu tiba-tiba terbuka. Nyonya Hubbard 

menyerbu masuk. 

"Mengerikan! " teriaknya. "Mengerikan sekali! Di dalam tas bunga 

karang saya. Tas bunga karang saya! Ada pisau besar - penuh 

darah!" 

Tiba-tiba ia terhuyung-huyung ke depan dan langsung jatuh 

pingsan menimpa bahu Tuan BOUROQ. 

 

14. KESAKSIAN PISAU PEMBUNUH 

 

Dengan sikap gagah perwira melebihi seorang ksatria sejati, Tuan 

BOUROQ meletakkan kepala wanita pingsan itu di atas meja. Dr. 

HAUNTED cepat-cepat berteriak memanggil salah seorang pelayan 

gerbong restorasi, yang datang berlari-lari. 

"Biarkan kepalanya seperti itu," ujar Dr. HAUNTED. "Kalau sudah 

siuman, beri dia cognac sedikit. Kau mengerti?" 

Lalu ia bergegas-gegas keluar melewati kedua orang yang sedang 

berdiri di hadapannya. Minatnya sudah terlanjur terpusat pada 

pembunuhan itu - Nyonya setengah baya yang sedang pingsan itu 

tak diperhatikannya sama sekali. 

Mungkin dengan cara itu Nyonya Hubbard jadi siuman jauh lebih 

cepat daripada dengan cara lain. Beberapa menit kemudian, ia sudah 

bisa duduk dan meneguk sedikit cognac yang disodorkan seorang 

pelayan kepadanya, dan ocehannya pun kembali terdengar. "Saya tak 

bisa mengatakan betapa mengerikannya semua itu! Rasanya tak ada 

seorang pun di kereta ini yang bisa menyelami perasaan saya. Saya 

memang perasa sekali sejak kecil. Apalagi waktu melihat darah yang 

sebegitu banyak - ugh! Terlalu, sampai sekarang rasanya saya masih 

bisa pingsan lagi kalau mengingatnya!" 

Si pelayan kembali menyodorkan gelas ke mukanya. "Encore en 

peu, Madame? " 

"Apakah kelihatannya saya sudah lebih baik? Seumur hidup saya 

belum pernah minum minuman keras. Saya tak pernah menyentuh 

botol alkohol atau anggur. Semua keluarga saya juga anti minuman 

keras. Mungkin kalau itu buat maksud-maksud pengobatan, kami 

masih bisa menerima." 

Nyonya Hubbard meneguk cognac-nya sekali lagi. 

Dalam pada itu jayakatwang  dan Tuan BOUROQ, diikuti oleh Dr. HAUNTED 

dari jarak dekat, bergegas-gegas melangkah ke luar gerbong 

restorasi menuju kamar Nyonya Hubbard, dengan melewati koridor 

gerbong Istambul. 

Nampaknya saat itu semua penumpang keieta berkumpul di muka 

pintu. LETKOLnya, dengan wajah jengkel, mencoba untuk 

menahan mereka supaya tetap tenang. 

"Mais il n’y a rien a voir, " ujarnya kemudian, lalu mengulangi lagi 

perkataannya dalam berbagai bahasa. 

"Beri saya jalan," ujar Tuan BOUROQ meminta permisi. 

Dengan mendesak-desakkan badannya yang bulat itu pada badan 

para penumpang yang berkumpul di pintu kamar masing-masing, 

akhirnya Tuan BOUROQ berhasil memasuki kamar Nyonya Hubbard, 

jayakatwang  mengikutinya dari belakang. 

"Saya gembira Tuan datang," ujar LETKOL kereta dengan lega. 

"Setiap orang mencoba masuk. Nyonya Amerika itu - teriakannya 

bukan main - ma foi, sampai saya kira dia sendiri juga dibunuh! Saya 

lari terbirit-birit menghampiri, dan benar saja dia sedang menjerit-

jerit ketakutan seperti orang gila; dan dia berteriak bahwa dia mesti 

memberitahukan Tuan apa yang terjadi, lalu dia keluar kamar dan 

berjalan melalui koridor sambil berteriak-teriak histeris pada semua 

penumpang yang kamarnya kebetulan dia lewati." 

Lalu LETKOL itu menambahkan, dengan gerakan tangan, "Di 

dalam sana, Monsieur. Saya belum menyentuhnya." 

Pada pegangan pintu yang menembus ke kamar sebelah, 

tergantung sebuah tas bunga karang yang besar yang sengaja 

diletakkan sebagai penghalang. Di bawahnya, di lantai, kelihatan 

sebilah pisau runcing dan lurus sekali, buatannya murah, seperti 

pisau loak dari Timur, pegangannya berukir daunnya lonjong dan 

lancip. Pisau itu memiliki bercak hitam pada sisi daunnya bagai pisau 

yang telah berkarat. 

jayakatwang  memungutnya dengan hati-hati. 

"Ya," gumamnya. "Tak salah lagi. Ini dia senjata kita yang hilang 

itu - eh, Dokter?" 

Dr. HAUNTED mengamat-amati benda itu dengan penuh minat. 

"Tuan tak perlu seteliti itu," ujar jayakatwang . "Jangan sampai ada 

tambahan sidik jari lagi, kecuali sidik jari Nyonya Hubbard itu." 

Pemeriksaan Dr. HAUNTED tak berlangsung lama. 

"Umpamanya itu memang benar senjatanya," ujarnya lagi, "itu 

pasti cocok dengan dalam luka yang ditanamkannya." 

"Saya mohon, Kawan, jangan berkata begitu!" 

Dr. HAUNTED kelihatan heran. 

"Selama ini kita sudah dibebankan dengan aneka ragam 

kebetulan. Dua orang memutuskan untuk menikam Tuan CHUCKY 

kemarin malam. Rasanya tak bisa dipercaya kalau keduanya memilih 

senjata yang sama untuk melakukan itu." 

"Jadi, faktor kebetulan itu mungkin tidak begitu besar seperti 

kelihatannya," ujar Dr. HAUNTED. "Beribu-ribu pisau Timur ini 

dibuat orang, lalu dikirimkan ke bazar-bazar Konstantinopel." 

"Tuan menghibur saya sedikit, tapi cuma sedikit," sahut jayakatwang . 

Detektif itu melempar pandangan ke pintu sambil berpikir-pikir, 

lalu setelah mengangkat tas batu karang itu sedikit, ia mengutik-

ngutik pegangan pintu. Tapi pintu itu sendiri tak bergerak sedikit pun. 

Kira-kira satu kaki di atas pegangan pintu, ada penghalang. jayakatwang  

mencoba usahanya sekali lagi, tapi pintu kamar itu masih saja 

terkunci rapat, tak bergerak sejengkal pun. 

"Tadi kita sudah menguncinya dari sisi yang sebelah sana, Tuan 

masih ingat," ujar Dr. HAUNTED. 

"Betul," ujar jayakatwang  seperti orang lupa. Kelihatannya ia sedang 

memikirkan sesuatu. Kedua alisnya berpadu seakan ia sedang dalam 

keadaan bingung. 

"Cocok, bukan?" tanya Tuan BOUROQ memecah kesunyian. "Orang itu 

lewat sepanjang koridor. Sewaktu ia menutup pintu penghubung 

yang ada di belakangnya, ia merasakan adanya tas bunga karang itu. 

Timbul pikiran jahatnya dan cepat-cepat diselipkannya pisau yang 

berlumuran darah itu ke dalamnya. Lalu tanpa menyadari bahwa ia 

sudah membangunkan Nyonya Hubbard, ia menyelinap ke luar 

melalui pintu lain kembali ke koridor." 

"Seperti yang kaubilang," gumam jayakatwang . "Memang mesti seperti 

itu terjadinya." Namun raut mukanya masih tetap kelihatan seperti 

orang bingung. 

"Tapi apa itu?" tanya Tuan BOUROQ. "Ada sesuatu, ya tidak, yang 

membuatmu tak puas?" ' 

jayakatwang  menoieh sekilas ke arahnya. 

"Faktor yang sama tak berhasil membangkitkan minatmu? Tidak, 

kenyataannya tidak. Baiklah, itu soal kecil." 

LETKOL itu kembali melihat ke arah koridor. "Wanita Amerika 

itu sedang ke mari." 

Dr. HAUNTED kelihatan menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa 

dirinya telah memperlakukan Nyonya Hubbard secara tidak adil, tidak 

ksatria. Tapi wanita itu sendiri tak menyalahkan sikap Dr. HAUNTED 

yang demikian. Tenaganya terpusat pada hal yang lain. 

"Lebih baik saya katakan saja hal itu terus terang," ujarnya 

terengah-engah begitu sampai di mulut pintu kamarnya. “Saya tak 

mau tidur di kamar ini lagi! Terlalu, saya tak bakal masuk ke sini lagi 

meski Tuan bayar saya jutaan dollar." 

"Tapi Madame -" 

"Saya tahu apa yang akan Tuan katakan, dan sekarang juga saya 

putuskan saya tak mau berbuat semacam itu lagi! Terlalu, lebih baik 

saya duduk saja di koridor sepanjang malam, daripada harus tidur di 

kamar keparat itu lagi." Dia mulai menangis. "Oh, kalau saja anak 

perempuan saya tahu - kalau dia bisa melihat keadaan saya 

sekarang, terlalu -" 

jayakatwang  menengahi dengan suara mantap. 

"Nyonya salah paham. Permintaan Nyonya beralasan, bisa 

diterima. Koper-koper Nyonya bisa segera dipindahkan ke kamar 

lain." 

Nyonya Hubbard menurunkan sapu tangannya, yang tadi masih 

menempel di muka. "Apa benar begitu? Oh! Saya lebih senang 

sekarang. Tapi tentunya kamar-kamar itu semua sudah penuh, 

kecuali kalau salah seorang dari penumpang pria -" 

Tuan BOUROQ ganti berbicara. 

"Koper-koper Nyonya akan segera dipindahkan dari gerbong ini. 

Nyonya boleh menempati kamar di gerbong lain, yang baru saja 

disambung di Belgrado." 

"Syukurlah, itu bagus sekali. Sebenarnya saya bukanlah wanita 

yang terlalu penakut, tapi buat tidur di kamar yang bersebelahan 

dengan orang mati itu, terima kasih banyak!" Ia menggigil. "Itu bisa 

membuat saya gila." 

"TENDEAN!" teriak Tuan BOUROQ. "Pindahkan koper ini ke kamar kosong 

di gerbong Athena-Paris." 

"Ya, Monsieur. Kamar, yang sama? Nomor 3 juga?” 

"Jangan," ujar jayakatwang  tiba-tiba, sebelum teman bicaranya sempat 

menjawab. "Aku kira bagi Madame lebih baik menempati kamar yang 

nomornya sama sekali berbeda. Kamar no.12, umpamanya." 

"Bien, Monsieur. " 

LETKOL itu memegang koper yang akan diangkat.  

Nyonya Hubbard berpaling ke jayakatwang  dengan pandangan penuh 

terima kasih. 

"Tuan baik sekali. Saya sangat menghargai itu, percayalah." 

"Tak apa-apa, Madame. Kami akan menemani Nyonya dan melihat 

apakah Nyonya sudah benar-benar puas di tempat yang baru." 

Nyonya Hubbard diantar oleh ketiga pria itu menuju rumahnya 

yang baru. Ia menoleh ke sekitar dengan perasaan senang. "Di sini 

enak." 

"Cocok dengan selera Nyonya? Jadi Nyonya lihat, persis seperti 

kamar yang Nyonya tinggalkan itu, bukan?" 

"Memang benar - cuma bedanya ini menghadap ke arah lain. Tapi 

itu tak apa-apa, sebab kereta ini berjalan menghadap ke satu arah, 

kemudian ke arah lain. Saya sering mengatakan pada anak 

perempuan saya, 'Aku ingin gerbong yang menghadap ke lokomotif,' 

dan ia menjawab, 'Mengapa, Mama, itu tak baik buat Mama, sebab 

kalau Mama tidur ke satu arah, begitu Mama bangun, kereta sudah 

berada di arah lain!' Dan memang yang dikatakannya itu benar. 

Begitulah, tadi malam kita semua ke Belgrado dengan satu arah, tapi 

kemudian melanjutkan lagi perjalanan dengan arah yang lain." 

"Biar bagaimanapun kelihatannya Nyonya sudah senang dan puas, 

sekarang ini, bukan begitu?" 

"Tidak, saya tak berani berkata begitu. Di sini kita tertahan salju 

dan tak seorang pun mau berusaha untuk mengatasinya, padahal 

kapalku mesti berangkat besok." 

"Nyonya," ujar Tuan BOUROQ membela diri, "kita semua senasib - 

setiap orang di antara kita." 

"Baiklah, memang benar itu," sahut Nyonya Hubbard mengakui., 

"Tapi pasti tak seorang penumpang pun yang ingin kamarnya 

dimasuki pembunuh pada malam hari." 

"Apa yang masih membingungkan saya, Madame, " ujar jayakatwang  

lagi, "ialah bagaimana caranya orang bisa masuk ke dalam kamar 

Nyonya kalau kamar penghubungnya dipalang seperti yang Nyonya 

katakan. Nyonya yakin pintu penghubung itu dipalang?" 

"Kenapa tidak, gadis Swedia itu mencobanya di depan mata saya." 

"Mari kita rekonstruksikan kejadian itu. Nyonya sedang terbaring 

ditempat tidur - begini – dan Nyonya sendiri tak melihatnya, kata 

Nyonya?"  

"Tidak, sebab terhalang oleh tas bunga karang itu! Oh! Celaka! 

Saya harus membeli tas yang baru. Saya jadi mual kalau melihat tas 

itu lagi." 

jayakatwang  memungut tas bunga karang itu dan menggantungkannya 

pada pegangan pintu penghubung yang menembus ke gerbong 

sebelah. 

"Precissment, saya mengerti sekarang," ujarnya lagi. "Penghalang 

itu tepat di bawah pegangan pintu ini - jadi tas bunga karang itu 

menutupinya. Jadi Nyonya tak bisa melihat apakah penghalang itu 

digerakkan atau tidak." 

"Itulah justru yang sudah saya katakan pada Tuan barusan! " 

"Dan gadis Swedia itu, Nona MENEER, berdiri seperti ini, di antara 

Nyonya dan pintu itu. Ia mencoba membukanya dan lalu mengatakan 

pada Nyonya bahwa itu terkunci." 

"Begitulah." 

"Sama saja, Madame, gadis itu juga bisa salah. Nyonya mengerti 

apa yang saya maksudkan?" jayakatwang  kelihatannya sudah tak sabar 

untuk menerangkan. "Biar bagaimanapun, penghalang itu cuma 

terbuat dari logam - begitu. Kalau diputar ke kanan, maka pintu akan 

terkunci. Kalau diputar ke kiri, pintu akan terbuka. Mungkin gadis 

Swedia itu cuma mencoba pintu itu saja, dan sebab terkunci dari sisi 

lain maka ia mengira bahwa itu terkunci dari pihak Nyonya." 

"Kalau begitu, gadis Swedia itulah yang agak bodoh, saya kira." 

"Madame, orang yang paling ramah dan paling baik, tidak selalu 

paling pandai." 

"Tentu saja." 

"Ngomong-ngomong, dalam perjalanan ini Nyonya sempat singgah 

di Smyrna?" 

"Tidak, saya langsung ke Istambul, dan salah seorang teman anak 

perempuan saya, Tuan Johnson (dia pria yang tampan, saya ingin 

Tuan bisa berkenalan dengannya), menyambut kedatangan saya dan 

mengantarkan saya berjalan-jalan mengelilingi Istambul. Tapi 

celakanya, kotanya mengecewakan sekali - semuanya bangunan 

runtuh melulu; dan demi semua mesjid-mesjid, tambahan lagi 

terompah yang harus kita pakai untuk melihatnya - eh, sampai di 

mana saya tadi.” 

"Nyonya mengatakan tadi bertemu dengan Tuan Johnson. 

"Begitulah, dia mengantar saya sewaktu menaiki kapal French 

Messageries ke Smyrna, dan menantu lelaki saya rupanya sudah 

menanti di dermaga. Apa yang dikatakannya nanti kalau dia 

mendengar semuanya ini! Anak perempuan saya bilang cara yang 

saya tempuh ini yaitu  cara yang paling gampang dan paling aman. 

'Mama tinggal duduk saja di gerbong,' ujarnya, 'dan tahu-tahu Mama 

sudah sampai, di Parrus, dan di sana the American Express sudah 

menanti Mama.' Dan, oh, apa yang dapat saya lakukan untuk 

membatalkan pelayaran saya itu? Saya harus memberitahu mereka. 

Tentu saja saya tak bisa melakukannya sekarang. Ini benar-benar 

menyebalkan -" 

Nyonya Hubbard kembali menangis. 

jayakatwang , yang sejak tadi merasa gelisah, cepat-cepat memanfaatkan 

kesempatan yang diperolehnya untuk berbicara. 

"Nyonya terkena shock. Pelayan restorasi bisa segera disuruh 

untuk membawakan Nyonya semangkuk teh dan biskuit." 

"Saya tak tahu apakah saya bisa tenteram dengan teh," ujar 

Nyonya Hubbard dengan air mata berlinang-linang. "Itu kebiasaan 

orang Inggeris." 

"Kopi, kalau begitu, Madame. Nyonya perlu tenaga. " 

"Cognac itu membuat saya pusing. Rasanya kopi lebih cocok buat 

saya." 

"Bagus. Nyonya harus mengembalikan tenaga." 

"Lucu betul anjuran itu, 

"Tapi ada satu hal, Madame, soal yang rutin. Nyonya tak 

keberatan kalau saya memeriksa koper penumpang?" 

"Buat apa?" 

"Kami sudah mau mulai pemeriksaan terhadap koper penumpang. 

Saya tak ingin mengingatkan Nyonya kembali pada pengalaman 

Nyonya yang tak enak itu - tas bunga karang Nyonya, masih ingat?" 

"Terima kasih! Baxangkali Tuan benar! Saya Justru tak sanggup 

lagi mengalami kejutan seperti itu.” 

Pemeriksaan itu berjalan lancar. Nyonya Hubbard bepergian 

dengan bawaan yang sangat minim - sebuah kotak topi, koper 

murahan, dan sebuah tas perjalanan yang terisi penuh. Isi ketiga 

barang bawaan itu sangat sederhana dan seperlunya saja. Barangkali 

pemeriksaan terhadap barang-barang itu tak akan memakan waktu 

begitu lama, seandainya Nyonya Hubbard tidak mendesak mereka 

untuk melihat-lihat foto anak perempuannya dan dua orang anak 

kecil yang jelek-jelek. 

"Ini cucu-cucu saya. Tidakkah mereka itu kelihatan pandai-

pandai?" 

 

15. KESAKSIAN BARANG-BARANG BAWAAN PENUMPANG 

 

Setelah berbasa-basi ala kadarnya dan setelah memberitahukan 

Nyonya Hubbard, bahwa ia akan menyuruh pelayan mengantarkan 

kopi kepadanya, jayakatwang  kemudian mehinggalkan kamar itu, diikuti 

oleh kedua kawannya. 

"Baik, kita sudah mulai, tapi usaha kita itu rupanya belum 

berbuah." 

"Aku rasa itu paling gampang, kita ikuti saja panjang kereta api 

ini, gerbong demi gerbong. Itu berarti kita mulai dengan no. 16 - 

kamar Tuan BAALPEOR yang ramah itu." 

Tuan BAALPEOR, yang saat itu sedang merokok cerutu, menyambut 

kedatangan mereka dengan sopan dan ramah. 

"Mari langsung masuk, Tuan-tuan. Kalau ruangannya cukup 

pantas buat manusia. Cuma kumpulan rayap yang cocok untuk 

berpesta-pora di sini." Tuan BOUROQ memberitahu maksud kedatangan  

mereka dan detektif tinggi besar itu mengangguk tanda mengerti. 

"O.K. Terus terang saja sebenarnya saya sendiri heran kenapa 

Tuan-tuan tak melakukannya lebih cepat. Ini kunci saya, Tuan-tuan, 

dan kalau kalian juga ingin memeriksa saku-saku baju dan celana 

saya, silakan. Perlu saya turunkan koper-koper itu?" 

"LETKOL akan membereskan itu. TENDEAN!" 

Isi kedua koper Tuan BAALPEOR langsung diperiksa dan selesai 

dalam waktu singkat. Rupanya terdapat juga minuman keras, yang 

semestinya tidak. Tuan BAALPEOR mengerdipkan mata. 

"Tidak banyak terjadi pemeriksaan di perbatasan - asal kita bisa 

menempel LETKOLnya. Tempo hari saya sudah menyelipkan 

beberapa gepok uang Turki ke tangannya dan sejauh ini tak ada 

kesulitan apa-apa. " 

"Dan di Paris?" 

Tuan BAALPEOR mengerdipkan matanya sekali lagi. "Begitu 

memasuki Paris," ujarnya, "sisa-sisa minuman keras yang tak 

seberapa ini biasanya langsung masuk sebuah botol kecil dan 

ditempeli merk obat pencuci rambut. 

"Kalau begitu kelihatannya Tuan tak percaya pada larangan 

minuman keras itu, Monsieur BAALPEOR." 

"Begitulah," jawab BAALPEOR, "saya tak bisa bilang larangan yang 

dilaksanakan di Amerika itu membuat saya khawatir." 

"Ah!" ujar Tuan BOUROQ. "Pasar gelap." Perkataannya itu 

diucapkannya dengan hati-hati, seolah ingin menekankan ejaannya 

satu per satu. "Istilah Amerika Tuan kedengarannya begitu aneh, 

begitu mengena.” 

"Kalau saya, saya ingin sekali ke Amerika," ujar jayakatwang . 

"Tuan akan mendapatkan cara-cara yang serba baru di sana," 

sahut BAALPEOR. "Eropa mesti dibangunkan. Benua itu setengah 

tidur." 

"Memang Amerika itu negeri yang maju," ujar jayakatwang  

membenarkan. "Banyak sekali yang saya kagumi pada diri orang 

Amerika. Cuma - barangkali saya agak kolot - tapi bagi saya, wanita 

Amerika itu kelihatannya kurang menarik dibandingkan dengan 

wanita negeri saya sendiri. Wanita Perancis atau Belgia, kelihatan 

lincah dan menarik - saya rasa mereka tak gampang disentuh." 

BAALPEOR menoleh ke arah jendela kamar, melihat salju. 

"Barangkali Tuan benar, Tuan jayakatwang ," ujarnya. "Tapi saya kira 

setiap bangsa di dunia ini paling menyukai gadis mereka." Ia 

mengejapkan mata seolah-olah kepingan salju yang sedang turun itu 

ada yang mengenai matanya. 

"Menyilaukan, ya tidak?" katanya menegaskan. "Coba Tuan-tuan, 

situasi di mana kita berada sekarang ini benar-benar merusak 

syarafku. Pembunuhan dan salju dan segalanya. Dan tak ada yang 

bisa dikerjakan. Cuma berserah dan menunggu. Saya senang 

menyibukkan diri dengan orang atau sesuatu." 

"Semangat berlomba orang Barat yang sesungguhnya."  

LETKOL meletakkan kembali koper-koper Tuan BAALPEOR yang 

telah selesai diperiksa dan mereka melanjutkan pemeriksaan ke 

kamar berikut. MPU  TANTULAR sedang duduk di sebuah sudut 

sambil mengisap pipa dan membaca sebuah majalah. 

jayakatwang  menjelaskan maksud kedatangan mereka. MPU  itu tak 

menunjukkan keberatan apa-apa. Ia memiliki dua buah koper kulit. 

"Tas bawaan saya yang selebihnya sudah dikirim melalui jalan 

laut," ia menerangkan. 

Seperti kebanyakan anggota militer yang lain, MPU  itu juga 

menyimpan barang-barangnya dengan rapi. Pemeriksaan kopernya 

cuma berlangsung dalam beberapa menit. jayakatwang  tertarik pada 

pembersih pipa rokok yang terdapat di situ. 

"Tuan selalu memakai jenis yang ini?" 

"Biasanya. Kalau ada." 

"Ah!" jayakatwang  mengangguk. Pembersih pipa jenis ini sama betul 

dengan yang diketemukannya di lantai kamar korban. 

Seperti biasa Dr. HAUNTED banyak memperingatkan begitu 

mereka berada di koridor kembali. 

"Tout de meme," gumam jayakatwang . "Aku hampir tak bisa 

mempercayai ini. Itu tidak terdapat dalam watak orang yang seperti 

itu, dan kalau Tuan sudah berkata begitu, itu berarti Tuan sudah 

mengatakan semuanya.” 

Pintu kamar berikutnya tertutup. Kamar itu ialah kamar yang 

dihuni oleh NYI  GIRAH . Mereka bergantian mengetuk, 

sesaat kemudian terdengar suara puteri Rusia yang dalam dan 

renyah itu, "Entrez!" 

Tuan BOUROQ menjadi juru bicara. Sikapnya sangat hormat dan 

sopan ketika ia menjelaskan maksud kedatangan mereka. 

Puteri itu mendengarkan perkataannya dengan tenang, wajahnya 

yang mirip kodok itu tak menunjukkan ekspresi apa pun. 

"Kalau memang perlu, Messieurs," ujarnya dengan tenang begitu 

Tuan BOUROQ selesai berbicara, "semuanya sudah tersedia. Pembantu 

saya yang memegang kuncinya. Dia akan melayani Tuan-tuan." 

"Apa pembantu Nyonya selalu membawa kunci-kunci Nyonya?" 

tanya jayakatwang . 

"Tentu saja, Monsieur. " 

"Dan bagaimana jadinya, kalau pada malam hari di perbatasan, 

petugas-petugas bea cukai itu harus memeriksa dan membuka koper 

Nyonya?" 

Nyonya tua itu mengangkat bahu. "Itu tidak biasanya. Tapi kalau 

dalam hal itu, biasanya LETKOL akan memanggilnya." 

"Kalau begitu Nyonya percaya padanya seratus persen?" 

"Bukankah tempo hari sudah saya katakan kepada Tuan," ujar 

puteri Rusia itu dengan tenang. "Saya tak mau mempekerjakan orang 

yang tidak saya percayai." 

"Ya," sahut jayakatwang  sambil berpikir-pikir. "Kepercayaan memang 

penting sekali dewasa ini. Mungkin lebih baik mempekerjakan wanita 

jelek yang bisa kita percaya daripada mempekerjakan gadis manis, 

misalnya gadis-gadis Paris." 

Detektif Belgia itu melihat mata hitam puteri Rusia itu terbuka 

lebar dan menatap langsung ke arahnya. "Apa sebenarnya yang ingin 

Tuan katakan, Monsieur jayakatwang ?" 

"Tak ada, Madame. Saya? Tak apa-apa." 

"Tapi ya. Tuan pikir, ya tidak, bahwa saya sebaiknya jangan 

mempekerjakan wanita Perancis yang pandai untuk melayani segala 

keperluan saya? 

"Barangkali itu lebih lazim, Madame. 

Puteri Rusia menggeleng. "Schmidt sangat berbakti kepada saya." 

Suaranya berhenti sebentar pada perkataan itu, "Pengabdian - c'est 

impayable. " 

Wanita Jerman itu tiba dengan serenceng anak kunci. Puteri Rusia 

itu berkata kepada pembantuhya dalam bahasanya sendiri, 

menyuruhnya membuka koper-koper itu dan membantu jayakatwang  dan 

kawan-kawannya dalam -pemeriksaan itu. Ia sendiri tinggal di koridor 

sambil memandangi salju yang jatuh, dan jayakatwang  juga ikut 

menemaninya, tugas untuk memeriksa koper-koper itu diserahkannya 

kepada Tuan BOUROQ. 

Puteri Rusia itu tertawa menyeringai. 

"Nah, Monsieur, apa Tuan tak ingin melihat isi koper-koper saya 

itu?" 

jayakatwang  menggeleng. "Madame, ini cuma formalitas, tak lebih dari 

itu." 

"Tuan yakin?" 

"Dalam persoalan Nyonya, ya." 

"Dan meskipun begitu saya memang kenal dan sayang sekali pada 

Sonia gairah . Apa pendapat Tuan? Bahwa saya tak akan 

mengorbankan tangan saya hanya untuk membunuh bangsat seperti 

si Cassetti itu, bukan? Baiklah, mungkin Tuan benar." 

Puteri Rusia itu terdiam sejenak. Lalu ia berkata, 

"Dengan orang yang seperti itu, tahukah Tuan apa yang ingin saya 

perbuat terhadapnya? Saya ingin memanggil pelayan saya dan 

berseru, 'Cambuk orang ini sampai mati lalu lemparkan ke timbunan 

sampah!' Itulah cara yang dipraktekkan sewaktu saya masih muda, 

Monsieur." 

Detektif Belgia itu masih saja belum membuka mulut, ia cuma 

mendengarkan saja dengan penuh perhatian. 

Tiba-tiba puteri Rusia itu memandangnya dengan pandangan tak 

sabar. "Tuan tidak mengatakan apa-apa. Saya heran, apa yang 

sedang Tuan pikirkan?" 

Detektif Belgia itu membalas pandangannya dengan menatap 

wajahnya secara langsung. "Saya kira, kekuatan Nyonya terletak 

pada kemauan, bukan pada lengan Nyonya." 

Puteri Rusia itu melirik ke lengannya yang kurus, ditutupi oleh baju 

hitam yang berakhir pada jari-jari tangan berwarna kuning dengan 

cincin-cincin yang menempel di seputarnya. 

"Benar," ujarnya lagi. "Saya tak punya kekuatan dari sini, dari 

tangan-tangan ini - memang tak ada. Saya tak tahu apakah sebab 

itu saya menyesal atau senang." 

Sekonyong-konyong ia berpaling ke arah kamarnya, di mana 

pembantunya sedang sibuk membereskan koper-koper yang sudah 

selesai diperiksa. 

Puteri Rusia itu buru-buru memotong permintaan maafnya Tuan 

BOUROQ. 

"Tak perlu minta maaf, Monsieur, " ujarnya. "Di kereta ini sudah 

terjadi pembunuhan. Mesti ada tindakan yang harus diambil 

sesudahnya. Semua kegiatan sekarang ini sedang menuju ke situ." 

"Vous etes bien aimable, Madame. " 

NYI  GIRAH  memiringkan kepalanya sedikit, memberi 

hormat begitu mereka pamit meninggalkan kamarnya. 

Pintu-pintu kedua gerbong berikutnya kelihatan tertutup semua. 

Tuan BOUROQ menghentikan langkahnya dan menggaruk-garuk kepala. 

"Diable!" ujarnya. "Mungkin ini aneh. Ini ada dua paspor 

diplomatik. Sebenarnya koper-koper bawaan mereka tak boleh 

diperiksa."' 

"Kalau dalam pemeriksaan bea cukai memang ya. Tapi kalau 

dalam perkara pembunuhan, lain ' " 

"Aku tahu. Semuanya sama - kita tak ingin mendapat rintangan." 

"Jangan menyusahkan diri sendiri, Kawan. Count dan Countess 

Andrenyi bisa mengerti. Lihat saja sendiri betapa ramahnya NYI  

GIRAH  tadi itu. " 

"Ia memang benar-benar grande dame. Tapi kedua bangsawan ini 

punya posisi yang sama, kesan saya Count Andrenyi wataknya agak 

galak. Ia kelihatannya tidak senang sewaktu kau mendesak untuk 

memeriksa isterinya. Dan kejadian ini malah akan terasa 

mengganggunya lebih parah lagi. Bagaimana umpamanya kita 

lewatkan saja dia? Biar bagaimanapun, tampaknya mereka tak punya 

hubungan apa-apa-dengan masalah ini, Untuk apa aku bikin repot 

diri sendiri?" 

"Aku tak sependapat dengan kau," ujar jayakatwang . "Aku yakin Count 

Andrenyi bisa memahami. Apa pun yang terjadi nanti, pokoknya tak 

ada salahnya kalau kita mencobanya dulu." 

Sebelum Tuan BOUROQ sempat menjawab, jayakatwang  sudah mengetuk 

pintu kamar no.13 dengan keras. 

Terdengar suara dari dalam meneriakkan, "Entrez! " 

Count Andrenyi sedang duduk di sudut dekat pintu sambil 

membaca koran. Sedang isterinya sedang meringkuk di sudut dekat 

jendela. Di belakang kepalanya ada bantal dan kelihatannya ia sudah 

tertidur. 

"Maaf, Monsieur le Comte, " ujar jayakatwang  memulai. "Mohon maaf 

atas gangguan ini. Soalnya kami sedang mengadakan pemeriksaan 

terhadap semua koper-koper penumpang di kereta ini. Sebenarnya 

ini cuma formalitas. Tapi ini mesti dilakukan. Tuan BOUROQ sudah 

mengusulkan, sebab Tuan punya paspor diplomatik, mungkin Tuan 

bisa dibebaskan dari pemeriksaan semacam ini." 

Count Andrenyi kelihatan berpikir-pikir sebentar 

“Terima kasih," ujarnya. "Tapi saya kira saya tak perlu 

dikecualikan dalam hal ini. Saya lebih suka kalau koper-koper kami 

juga diperiksa seperti koper-koper penumpang lainnya." 

Ia berpaling ke arah isterinya. "Kau tidak keberatan, bukan. 

Elena?" 

"Tidak sama sekali," sahut Countess itu tegas. 

Maka pemeriksaan yang cepat dan sambil lalu itu dimulai. jayakatwang  

kelihatannya ingin menutupi keheranannya sewaktu ia berkomentar 

sedikit terhadap isi koper-koper itu, seperti: "Ini ada merk yang 

sudah basah sama sekali dalam koper ini, Madame, " ujarnya, sambil 

menurunkan sebuah koper morocco biru dengan nama pengenal di 

depannya dan sebuah mahkota kecil tanda kebangsawanan. 

Countess itu sama sekali tak mempedulikan pemeriksaan yang 

sedang dijalankan di kamarnya itu. Kelihatannya memang ia sudah 

jemu dengan tugas rutin semacam itu. Ia masih tak bergerak dari 

tempat duduknya di sudut, matanya acuh tak acuh melongok ke luar 

jendela, sementara ketiga pria itu memeriksa koper-kopernya di 

kamar sebelah. 

jayakatwang  mengakhiri pemeriksaannya setelah memeriksa isi lemari 

kecil di atas tempat cuci tangan dan sempat melirik sebentar barang-

barang yang diletakkan di situ - karet busa, kosmetik untuk pencuci 

muka, bedak dan sebuah botol kecil bertuliskan trional. 

Lalu setelah meminta diri dengan hormat dan sopan kepada 

sepasang bangsawan itu, rombongan penyelidik itu pun berlalu. 

Kini tiba giliran, kamar Nyonya Hubbard, kamar si korban dan 

menyusul kamar jayakatwang  sendiri. Sekarang ketiganya tiba pada 

gerbong kelas dua. 

Yang pertama, kamar-kamar no.10 dan no.11, dihuni oleh MARIAM 

GRAVES, yang sedang asyik membaca buku, dan MADAM  MENEER, 

yang sedang nyenyak tidur tapi langsung bangun begitu mendengar 

ada orang memasuki kamarnya. 

jayakatwang  mengulangi lagi maksud kedatangannya untuk kesekian 

kali. Wanita Swedia itu kelihatan gelisah dan terganggu. MARIAM 

GRAVES kelihatan tak peduli. Detektif Belgia itu meminta ijin pada 

wanita Swedia yang dipanggil MADAM  MENEER. 

"Kalau Nona tak keberatan, kami ingin memeriksa koper Nona 

dulu, dan mungkin Nona mau bermurah hati sedikit untuk tolong 

menemani wanita Amerika itu. Kami baru saja memindahkan dia ke 

salah satu gerbong sebelah, tapi dia masih saja kebingungan akibat 

dari pengalamannya yang mengerikan itu. Saya sudah menyuruh 

pelayan restorasi untuk membawakannya kopi, tapi saya rasa yang 

lebih penting yaitu  mengirimkannya seorang teman untuk diajak 

berbicara. Itulah sebenarnya yang paling dibutuhkannya saat ini." 

Wanita Swedia yang baik itu ternyata memang orang yang 

simpatik. Ia langsung pergi dari situ, demi untuk memenuhi 

permintaan jayakatwang . Tentunya telah terjadi goncangan yang bisa 

membahayakan urat syarafnya, dan nyonya tua yang malang itu 

sedang dirongrong oleh perjalanan keparat ini. Hatinya tentu kesal 

mengingat anak perempuannya yang ditinggalkan. Ah, tentu saja, 

kalau begitu ia ingin langsung ke tempatnya - meski kopernya tidak 

terkunci - dan ia akan membawa obat air garam bersamanya. 

Gadis Swedia itu melangkah bergegas-gegas menuju kamar 

Nyonya Hubbard. Kemudian koper-koper miliknya langsung diperiksa. 

Jelaslah bahwa ia tak menyadari ada seutas kawat yang hilang dari 

kotak topinya. 

Nona GRAVES telah meletakkan bukunya. Ia sedang mengawasi 

jayakatwang . Sewaktu detektif itu meminta ijin untuk memeriksa kopernya, 

ia langsung menyodorkan  serenceng anak kunci. Kemudian setelah 

jayakatwang  menurunkan sebuah koper milik gadis Inggris itu dan 

membukanya sekalian, MARIAM GRAVES berkata, 

"Kenapa Tuan mengusrnya.” 

"Saya, Mademoiselle? Yaah, untuk menemani wanita Amerika itu." 

"Dalih yang bagus sekali - tapi semua dalih sama.” 

"Saya tak mengerti apa maksud Nona." 

"Saya rasa Tuan mengerti betul." Ia tersenyum. 

"Tuah ingin membiarkan saya sendirian, ya tidak?" 

"Nona sudah meletakkan kata-kata itu di lidah saya-" 

"Dan akal di kepala Tuan? Tidak, saya kira tidak begitu. Akal bulus 

Tuan sudah lebih dulu ada di sana. Betul tidak?" 

"Mademoiselle, kami punya sebuah peribahasa –“ 

"Qui s'excuse s'accuse - itukah yang ingin Tuan katakan? Tuan 

mesti memberikan saya jaminan untuk menggunakan pengamatan 

dan akal sehat saya. sebab satu atau beberapa alasan, Tuan 

mengira bahwa saya tahu sesuatu tentang masalah yang mesum ini - 

yaitu pembunuhan seseorang yang belum pernah saya lihat 

sebelumnya." 

"Nona berkhayal." 

"Tidak, saya sama sekali tidak berkhayal. Tapi kelihatannya waktu 

sudah terbuang banyak sebab tak berani mengatakan yang 

sebenarnya - sebab terlalu banyak membuang waktu dengan 

membabat semak-semak, dan tak berani langsung menghadapi 

keadaan di sekitarnya." 

"Dan-Nona tak senang memboroskan waktu yang terbuang 

percuma. Tidak, Nona senang untuk langsung mengupas inti 

persoalan. Nona senang menggunakan metode langsung. Akan saya 

beri Nona, metode langsung itu. Saya sudah lama ingin menanyakan 

pada Nona apa arti kata-kata tertentu yang kebetulan saya dengar 

sewaktu berangkat dari Siria. Saat itu saya turun dari kereta untuk 

melakukan apa yang disebut orang Inggris 'melemaskan kaki' di 

Stasiun Konya. Suara Nona dan suara MPU  TANTULAR terdengar 

jelas di tengah kesunyian malam. Nona berkata padanya, 'Jangan 

sekarang. Jangan sekarang. Nanti kalau semuanya sudah beres. 

Kalau semuanya sudah di belakang kita. Apa yang Nona maksudkan 

dengan kata-kata itu?" 

MARIAM GRAVES balas menanya dengan tenang, "Apa Tuan kira 

saya mengartikannya pembunuhan?" 

"Justru itu yang sekarang sedang saya tanyakan kepada Nona." 

Gadis itu menarik napas - terdiam sebentar, tampak ia berpikir. 

Lalu seolah-olah membangkitkan semangatnya sendiri ia berkata, 

"Memang kata-kata itu punya arti tersendiri, Monsieur! Tapi tak 

satu pun dapat saya katakan pada Tuan. Saya cuma bisa menjamin 

bahwa saya tak pernah melihat orang yang bernama CHUCKY itu 

seumur hidup saya sampai saya melihatnya di atas kereta ini." 

"Dan - Nona menolak untuk menerangkan arti kata-kata itu?" 

"Ya, kalau Tuan menghendaki begitu - saya menolak. Semua itu 

berhubungan dengan - dengan tugas yang harus saya laksanakan." 

"Tugas yang sekarang sudah selesai?" 

"Apa maksud Tuan?" 

"Sudah selesai, bukan?" 

"Kenapa Tuan bisa berpikir begitu?" 

"Dengar, Mademoiselle, saya ingin mengingatkan Nona kembali 

pada kejadian lain. Waktu itu kereta tertunda, waktu kita baru saja 

mau memasuki Istambul. Kelihatannya, Nona sangat gelisah. Nona 

yang biasanya begitu tenang, begitu bisa menguasai diri. Tapi kali itu 

Nona kehilangan ketenangan Nona." 

"Saya tak ingin ketinggalan untuk mencegat kereta yang berikut, 

kereta Orient Express." 

"Nona bilang begitu. Tapi, Mademoiselle, Orient Express berangkat 

dari Istambul setiap hari dalam seminggu. Bahkan seandainya Nona 

benar-benar ketinggalan, paling tidak cuma ketinggalan dua puluh 

empat jam saja.” 

Untuk pertama kali MARIAM GRAVES kehilangan kesabarannya.  

"Kelihatannya Tuan tak menyadari mungkin saja seseorang itu 

punya teman-teman yang sedang menantikan kedatangannya di 

London, dan biar satu hari saja tertunda itu akan menimbulkan 

gangguan dan kejengkelan bagi persiapan-persiapan yang telah 

mereka lakukan." 

"Ah, begitu rupanya? Sudah ada teman-teman yang menunggu 

kedatangan Nona? Dan Nona tak ingin menyusahkan mereka?" 

"Tentu saja." 

"Tapi itu toh masih menimbulkan rasa ingin tahu orang." 

"Apanya yang menimbulkan rasa ingin tahu orang?" 

"Di kereta ini - lagi-lagi perjalanan kita tertunda. Dan kali ini 

penundaannya lebih gawat lagi, sebab tak mungkin untuk 

mengirimkan telegram kepada teman-teman Nona atau paling tidak 

menghubungi mereka dari - dari -" 

"Dari jarak jauh? Telepon, maksud Tuan". 

"Ah, ya, yang di Inggris disebut 'corong bicara' itu." 

MARIAM GRAVES tersenyum sedikit mendengar sindiran jayakatwang  itu. 

"Pembicaraan jarak jauh atau interlokal," ujarnya membenarkan. 

"Ya, seperti kata Tuan tadi, memang sangat menjengkelkan kalau 

kita tak bisa berbicara sepatah kata pun, baik melalui telepon atau 

telegram." 

"Dan lagi, Mademoiselle, kali ini kebiasaan Nona berbeda sekali. 

Nona sudah tak lagi mengkhianati peri laku yang tak sabar itu. Nona 

sekarang lebih tenang dan lebih filosofis." 

MARIAM GRAVES tersipu-sipu dan menggigit bibirnya. Ia tak lagi 

ingin tersenyum. 

"Nona tak menjawab, Mademoiselle? 

"Maaf. Saya tak tahu ada sesuatu yang harus dijawab." 

"Perubahan sikap Nona itulah yang harus diterangkan. 

“Tidakkah Tuan merasa bahwa Tuan cuma meributkan hal-hal 

yang tak ada, Tuan jayakatwang ?" 

jayakatwang  menggerakkan tangannya, meminta maaf. "Barangkali di 

situlah letak kekeliruan kami, para detektif itu. Kami berharap tingkah 

laku mausia itu selalu tetap. Kami tak ingin melihat adaya perubahan-

perubahan perasaan atau suasana hati." 

MARIAM GRAVES tak menjawab. 

"Nona kenal betul dengan MPU  TANTULAR?" 

jayakatwang  mengira gadis Inggris itu akan merasa 

lega kalau ia 
membelokkan pokok pembicaraan. 
"Saya pertama kali bertemu dengan dia dalam perjalanan ini. 
"Apakah Nona punya alasan untuk mencurigai bahwa boleh jadi ia 
sudah tahu manusia yang bernama CHUCKY ini?" 
Ia menggelengkan kepala dengan pasti. "Saya yakin benar dia tak 
mengenalnya." 
“Kenapa Nona begitu yakin?" 
"Dari caranya ia berbicara." 
"Tapi meski begitu, kami sudah menemukan sepotong pembersih 
pipa rokok di lantai kamar korban. Dan MPU  TANTULAR yaitu  
penumpang pria satu-satunya di kereta yang mengisap pipa." 
jayakatwang  memandangnya lekat-lekat, tapi gadis Inggris itu tak 
memperlihatkan rasa terkejut atau emosi apa pun, ia cuma berkata, 
“Omong kosong. Tidak masuk akal. MPU  TANTULAR yaitu  pria 
terakhir yang bisa terlibat dalam suatu kejahatan - apalagi kejahatan 
yang sudah dipersiapkan lebih dahulu seperti sandiwara ini. 
Jawaban itu sedemikian meyakinkannya hingga jayakatwang  sendiri pun 
hampir-hampir sependapat dengan lawan bicaranya. Tapi detektif 
Belgia itu berhasil menguasai dirinya, lalu menjawab, 
"Saya harus mengingatkan Nona, bahwa Nona sebetulnya tidak 
mengenal MPU  TANTULAR dengan baik." 
Gadis itu mengangkat bahu. "Saya tahu betul tipe orang yang 
seperti itu." 
jayakatwang  menjawab lembut, 
"Nona m  asih menolak untuk menjelaskan pada saya apa arti 
kalimat 'Sesudah semuanya ada di belakang kita?" 
MARIAM GRAVES menjawab dingin, "Tak ada lagi yang harus saya 
katakan." 
"Tak jadi apa, " sahut jayakatwang . "Akan saya cari sendiri jawabannya." 
Ia membungkukkan badan memberi hormat, lalu meninggalkan 
kamar setelah menutup pintu. 
"Kaukira caramu itu bijaksana, Kawan?" tanya Tuan BOUROQ. "Kau 
telah membuatnya menjaga diri - dan melalui gadis Inggris itu kau 
juga telah membuat MPU  TANTULAR lebih waspada dan menjaga 
dirinya baik-baik." 
"Mon ami, kalau kau ingin menangkap kelinci kau harus 
memasukkan musang ke liangnya, dan kalau kelinci itu benar ada di 
dalam situ - ia pasti lari. Cuma itu yang kulakukan." 
Mereka tiba di muka kamar Hildegarde Schmidt. 
Wanita itu sudah berdiri bersiap-siap, wajahnya menunjukkan rasa 
hormat tapi tak membayangkan emosi apa-apa. 
jayakatwang  melirik sebentar isi koper kecil yang terletak di kursi. Lalu ia 
mengisyaratkan pelayan untuk menurunkan sebuah koper yang lebih 
besar dari rak. 
"Kuncinya?" tanya detektif Belgia itu. 
"Tidak dikunci, Monsieur. " 
jayakatwang  melepaskan kaitannya dan membuka tutupnya. 
"Aha! " serunya kegirangan, lalu berpaling ke Tuan BOUROQ. "Masih 
ingat apa yang kukatakan. Coba lihat ke sini sebentar!" 
Di atas koper itu nampak sehelai baju seragam pelayan gerbong 
tidur kereta berwarna coklat, yang kelihatannya baru saja digulung 
dengan agak tergesa. 
Sikap mantap wanita Jerman itu tiba-tiba saja berubah dalam 
sekeiap. 
"Ach! " teriaknya. "Itu bukan punya saya. Saya tak pernah 
meletakkannya di situ. Saya tak pernah melihat isi koper itu sedari 
kereta meninggalkan Istambul. Sungguh mati, saya tidak bohong!" Ia 
memandang ketiga pria itu satu per satu secara bergiliran dengan 
sinar mata yang memohon minta dikasihani. 
jayakatwang  memegang tangannya dengan lembut dan mencoba untuk 
menenangkan hatinya. 
"Tidak, tidak, segalanya beres. Kami percaya pada Nona. Jangan 
gelisah. Saya yakin betul Nona tidak menyembunyikan seragam itu di 
situ, sebagaimana saya juga yakin Nona yaitu  koki yang jempolan. 
Nona lihat. Nona koki yang pandai bukan?" 
Dengan sinar mata kebingungan, wanita Jerman itu tersenyum, 
meskipun ia sendiri tak tahu mengapa ia tersenyum. 
"Ya, memang, semua majikan saya berkata begitu. "Saya -" 
Bicaranya terhenti, bibirnya, ternganga sedikit, nampaknya ia 
mulai ketakutan lagi. 
"Tak apa-apa," ujar jayakatwang  berusaha menghibur. 
Percayalah segalanya akan beres. Akan saya terangkan bagaimana 
itu bisa terjadi. Pria ini, pria yang Nona lihat mengenakan seragam 
pelayan gerbong tidur kereta, saat itu rupanya baru saja keluar dari 
kamar si korban. Lalu ia bertubrukan dengan Nona secara tidak 
sengaja. Sial baginya, sebab ia sudah berharap tak bakal ada yang 
melihatnya. Jadi, apa kini yang mesti dilakukannya? Ia mesti cepat-
cepat melepaskan seragam yang sedang dipakainya. Sekarang 
seragam itu tidak lagi berfungsi sebagai alat penjaga diri, tapi sudah 
berbalik menjadi bumerang bagi dirinya sendiri." 
Kemudian secara bergantian jayakatwang  menatap Tuan BOUROQ dan Dr. 
HAUNTED yang sedang asyik mendengarkan uraiannya dengan 
seksama. 
"Di luar ada salju, kalian tahu sendiri. Salju yang mengacaukan 
semua rencananya. Di mana dia bisa menyembunyikan seragamnya 
itu? Semua kamar sudan terisi penuh. Tidak, ia masih beruntung. 
Kebetulan ia lewat di muka salah satu kamar yang pintunya terbuka, 
dan yang menandakan bahwa penghuninya sedang keluar. Kamar itu 
mestilah kamar wanita yang kebetulan bertubrukan dengannya tadi. 
Cepat-cepat ia menyelinap ke dalamnya, menanggalkan seragamnya 
dan memadatkannya lekas-lekas ke dalam salah satu koper di atas 
rak. Mungkin kejadian itu terjadi beberapa saat saja sebelum 
seragam itu diketemukan di sana." 
"Lalu?" tanya Tuan BOUROQ. 
"Itulah yang justru mesti kita bahas nanti," sahut jayakatwang  dengan 
sinar mata yang memperingatkan. 
Diangkatnya baju seragam itu tinggi-tinggi. Kancing ketiga, yang 
di sebelah bawah, ternyata tidak ada. jayakatwang  merogoh saku baju 
seragam itu dan mendapatkan serenceng anak kunci, yang biasa 
dipakai untuk membuka pintu kamar penumpang. 
"Ini salah satu penjelasan mengapa orang bisa masuk ke dalam 
kamar-kamar penumpang yang terkunci dari dalam," ujar Tuan BOUROQ 
memberitahukan kawannya. "Pertanyaan yang kauajukan kepada 
Nyonya Hubbard itu sebenarnya tak perlu. Dikunci atau tidak dikunci, 
orang itu dapat masuk melalui pintu penghubung dengan mudah 
sekali. Kalau ada orang yang bisa mengenakan seragam pelayan 
gerbong tidur kereta, mengapa ia tak bisa memiliki kunci-kuncinya 
sekalian?" 
"Ya, mengapa tidak?" ulang jayakatwang  membenarkan. 
"Kita semestinya sudah tahu itu. Kauingat waktu TENDEAN 
mengatakan bahwa pintu yang menuju ke koridor gerbong Nyonya 
Hubbard itu terkunci, sewaktu ia datang untuk menjawab belnya." 
"Ya, memang begitu, Monsieur, " sahut LETKOL kereta, yang 
mendengarkan perkataan majikannya sejak tadi. "sebab itulah saya 
pikir dia sedang mengigau." 
"Tapi sekarang masalahnya jadi terang," ujar Tuan BOUROQ 
menambahkan. "Tidak diragukan lagi, ia sebenarnya juga ingin 
membuka pintu penghubung, tapi barangkali saat itu ia mendengar 
ada sesuatu yang bergerak-gerak di ranjang, hingga ia jadi 
ketakutan." 
"Sekarang," ujar jayakatwang  memotong pembicaraan kawannya tiba-
tiba, "kita tinggal mencari kimono merah tua itu." 
"Benar. Dan kedua buah kamar yang terakhir ini penghuninya pria 
semua." 
"Kita akan memeriksa semuanya, tanpa kecuali."  
"Oh! tentu saja, pasti. Di samping itu, aku juga masih ingat apa 
yang kaukatakan barusan." 
RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA  menyambut baik ide pemeriksaan terhadap 
koper-koper penumpang itu. Sikapnya sangat kooperatif. 
"Justru bagi saya lebih baik kalian melakukannya cepat-cepat," 
ujarnya dengan senyum pahit. "Saya merasa saya ini orang yang 
paling dicurigai di kereta ini. Kalian hanya tinggal mencari surat 
wasiat di mana tertulis orang tua itu mewarisi semua uangnya untuk 
saya, dan justru itulah yang akan menentukan semuanya." 
Tuan BOUROQ memandangnya dengan sorot mata curiga. 
"Saya cuma berolok-olok saja," tambah WISNU WARDANA  cepat-cepat. 
"Ia belum pernah mewarisi saya satu sen pun, sungguh mati. Saya 
cuma berguna baginya - sebab saya bisa beberapa bahasa dan saya 
punya keahlian lain. Tuan tak begitu beruntung, kalau umpamanya 
Tuan hanya bisa menguasai bahasa Inggris-Amerika saja. Saya 
sendiri bukan ahli bahasa, tapi saya tahu apa yang dinamakan 
berbelanja dan hotel itu - juga sedikit-sedikit Perancis, Jerman dan 
Italia." 
Suaranya lebih keras dari biasa. Seolah-olah ia merasa tak enak 
menghadapi pemeriksaan itu, meski ia berusaha untuk kelihatan 
wajar dan bersikap seramah mungkin ketika koper-kopernya 
diperiksa. jayakatwang  keluar kamar. "Tak ada apa-apa," ujarnya. "Bahkan 
surat warisan itu sendiri juga tak ada! " 
WISNU WARDANA  menarik napas. "Ah, itu cuma ide saya saja," ujarnya 
mencoba bergurau. 
Mereka melangkah ke gerbong yang terakhir. Pemeriksaan 
terhadap koper-koper milik orang Italia bertubuh tinggi besar itu 
serta pelayan si korban tak membuahkan hasil apa-apa. 
Ketiga pria itu cuma dapat berdiri saja di ujung gerbong kereta 
yang terakhir sambil berpandangan satu sama lain. 
"Apa lagi berikutnya?" tanya Tuan BOUROQ. 
"Kita harus kembali ke gerbong restorasi," sahut jayakatwang . 
"Kita sudah tahu apa yang dapat kita ketahui. Kita sudah 
mendengarkan kesaksian semua penumpang, kesaksian koper-koper 
mereka dan kesaksian mata kita sendiri, kita tak lagi dapat 
mengharapkan bantuan. Kini tinggal bagian kita, yaitu menggunakan 
otak kita sebaik mungkin." 
jayakatwang  meraba-raba isi kantong celananya, mencari kotak sigaret. 
Tapi setelah dibuka, ternyata kosong. 
"Aku akan menggabungkan diri dengan kalian sebentar lagi," 
ujarnya seotah tergesa. "Aku akan mengambil sigaret dulu. Ini yaitu  
masalah yang sulit, yang membangkitkan rasa ingin tahu orang. 
Siapa yang mengenakan kimono merah tua itu? Di mana kimono itu 
sekarang? Aku harap aku tahu. Ada sesuatu dalam kasus ini - ada 
faktor – yang luput dari perhatianku! Kasus ini kelihatannya susah, 
sebab sudah dibuat susah. Tapi nanti akan kita bicarakan bersama. 
Maafkan saya, sebentar… 
Ia melangkah bergegas-gegas menyusuri koridor kereta, dan 
langsung memasuki kamarnya. Ranya ia masih mempunyai sigaret 
tambahan di dalam salah satu kopernya. 
Diturunkannya koper itu dan dibukanya, lalu ia tersandar pada 
tumitnya dan cuma bisa menatap apa yang ada di hadapannya 
dengan mata tak percaya. 
Di bagian paling atas terselip sehelai kimono tipis warna merah tua 
dan bersulaman naga, lipatannya sangat rapi. 
"Jadi," gumamnya. "Begitu. Sebuah tantangan. Baiklah, akan 
kuladeni." 
 
Bagian Ketiga 
Raden  jayakatwang  DUDUK TERPEKUR DAN BERPIKIR 
 
1. YANG MANA DARI MEREKA ITU? 
 
TUAN BOUROQ dan Dr. HAUNTED sedang asyik berbicara ketika 
jayakatwang  memasuki gerbong restorasi. Tuan BOUROQ kelihatannya sangat 
tertekan. 
"Le voila," ujarnya begitu melihat jayakatwang . Lalu ia menambahkan 
lagi, begitu kawannya duduk, "Kalau kau berhasil memecahkan kasus 
ini, mon cher, aku akan benar-benar percaya pada mukjizat!” 
"Jadi kasus ini mengkhawatirkanmu?" 
"Tentu saja, kasus itu membuatku khawatir. Aku tak tahu ujung 
pangkalnya." 
"Saya setuju," sela Dr. HAUNTED. Ditatapnya jayakatwang  dengan 
penuh minat. "Terus terang saja, ujarnya, "saya tak bisa mencium 
apa yang akan Tuan kerjakan berikutnya." 
"Tidak tahu?" sahut jayakatwang  sambil berpikir-pikir. 
Dikeluarkannya kotak sigaretnya dan dinyalakannya sebatang. 
Sorot matanya seakan sedang melamun. 
"Justru bagi saya, di situlah letak daya tarik kasus ini," sahutnya. 
"Kita sudah terlepas dari segala prosedur normal. Apakah orang-
orang yang kesaksiannya sudah kita dengar ini, telah berkata 
sebenarnya atau berbohong? Kita tak punya alat untuk 
menyelidikinya - kecuali alat yang kita bisa manfaatkan, yaitu kita 
sendiri. Jadi ini semua sebenarnya yaitu  latihan otak." 
"Semuanya itu sangat menyenangkan," ujar Tuan BOUROQ. "Tapi apa 
lagi yang akan kauperbuat sekarang?" 
"Sudah kukatakan tadi. Kita sudah punya kesaksian semua 
penumpang kereta ditambah dengan kesaksian mata kita sendiri." 
"Kesaksian yang menarik - yang dari penumpang itu! Tapi 
semuanya tak bisa membantu apa-apa buat kita." 
jayakatwang  menggelengkan kepala. 
"Aku tidak setuju, Kawan. Kesaksian penumpang justru memberi 
kita pokok-pokok yang menarik perhatian." 
"Memang," tambah Tuan BOUROQ tak percaya. Soalnya saya belum 
melihatnya." 
"Itu sebab kau tidak mendengarkan." 
"Baiklah, kalau begitu, katakan padaku, faktor apa yang luput dari 
perhatianku?" 
"Aku cuma ingin mengambil satu contoh saja - kesaksian pertama 
yang kita dengar, kesaksian si WISNU WARDANA  itu. Menurut 
pendengaranku, ia menyatakan hal yang sangat penting." 
"Tentang surat-surat itu?" 
"Bukan, bukan surat-surat itu. Seingatku, kata-katanya berbunyi 
begini: Kami banyak bepergian. Tuan CHUCKY ingin melihat dunia. 
Tapi keinginannya terhalang. Aku lebih banyak bertindak selaku 
penterjemah daripada selaku sekretaris'." 
Ia memandang wajah dokter itu dan kemudian ke Tuan BOUROQ. 
"Bagaimana? Kalian belum juga melihatnya? 
“Wah, itu sudah tak dapat diampuni lagi - untuk kesempatan yang 
kedua ini sewaktu dia mengatakan, Tuan kurang beruntung kalau 
Tuan tak bisa berbahasa lain kecuali bahasa Inggris-Amerika'. " 
"Maksudmu?" tanya Tuan BOUROQ dengan wajah yang masih 
kebingungan. 
"Ah! Rupanya kau ingin supaya dinyatakan dalam satu suku kata 
saja. Baiklah, ini dia! Tuan CHUCKY tidak bisa bahasa Perancis. Tapi 
meski demikian, sewaktu LETKOL itu datang menjawab belnya tadi 
malam, suara yang datang dari dalam kamarnya itu berbahasa 
Perancis yang mengatakan bahwa ia keliru dan ia tak jadi memanggil 
LETKOL itu. Terlebih lagi, kalimat yang diucapkan saat itu 
kedengarannya bukan kalimat Perancis yang serampangan, ada 
ungkapannya, dan itu bukanlah kalimat yang akan dipilih oleh orang 
yang tahu bahasa Perancis sedikit saja. Ve n'est rien. Je me suis 
trompe. 
"Ya, benar," seru Dr. HAUNTED penuh semangat. "Mestinya kita, 
tahu itu! Saya masih ingat Tuan meletakkan tekanan pada kata-kata 
itu sewaktu Tuan mengucapkannya untuk kita. Sekarang saya baru 
mengerti mengapa Tuan enggan untuk mempercayai kesaksian dari 
arloji yang peot itu. Kalau begitu sebenarnya pukul satu kurang dua 
puluh, CHUCKY sudah mati." 
"Dan yang berbicara itu pastilah pembunuhnya! " seru Tuan BOUROQ 
secara mengesankan. 
jayakatwang  mengangkat tangannya, seolah meminta kawannya untuk 
bersabar sebentar. 
"Jangan melangkah terlalu jauh. Dan sebaiknya kita jangan 
mengira apa yang kita belum tahu benar. Jadi kurasa, lebih terjamin 
untuk mengatakan bahwa waktu itu pukul satu kurang dua puluh tiga 
menit - ada orang lain di dalam kamar CHUCKY, dan orang itu yaitu  
orang yang kalau bukannya orang Perancis asli, pasti dia bisa 
berbahasa Perancis dengan baik." 
"Kau teliti sekali, mon vieux. 
"Orang harus maju selangkah saja, setiap kali. Kita tak punya 
kesaksian yang benar, bahwa CHUCKY mati pada pukul segitu." 
"Tapi ada jeritan yang sampai membuatmu bangun.” 
"Ya, itu benar." 
"Menurut pendapatku," ujar Tuan BOUROQ sambil berpikir-pikir, 
"penemuan ini tak banyak mempengaruhi. Kaudengar ada orang di 
kamar sebelah yang begitu sibuknya hingga apa yang diperbuatnya 
menarik perhatian penghuni kamar sebelahnya. Orang itu bukannya 
CHUCKY, tapi orang lain. Pasti ia sedang mencuci berkas-berkas 
darah dari tangannya, membersihkannya sehabis membunuh, lalu 
dibakarnya surat-surat yang berhubungan dengan kejahatan yang 
dilakukannya itu. Lalu ia menunggu sampai segalanya sepi, dan, 
begitu ia mengira situasinya sudah aman, dan keadaan sudah 
mengijinkan, ia mengunci dan merantai pintu kamar CHUCKY dari 
dalam, kemudian membuka pintu penghubung yang menuju ke 
kamar Nyonya Hubbard dan menyelinap ke luar dari situ. 
Sebenarnya, kejadian ini sesuai dengan apa yang telah kita duga, 
perbedaannya hanyalah bahwa CHUCKY dibunuh setengah jam lebih 
dahulu dan jamnya sengaja diputar pada pukul satu lewat 
seperempat untuk menciptakan alibi." 
"Tidak sepopuler itu alibinya," ujar jayakatwang . "Jarum arloji itu 
menunjukkan pukul 1.15 - saat yang pasti waktu si perusaknya 
selesai mengerjakan pembunuhan itu." 
"Benar," ujar Tuan BOUROQ lagi, sedikit bingung. "Kalau begitu apa 
yang dapat ditunjukkan arloji itu bagimu?" 
"Jika jarum arloji itu dirobah - aku bilang jika - maka waktu yang 
tertera di situ mestilah waktu yang sangat penting. Reaksi wajar yang 
ditimbulkannya yaitu  mencurigai seseorang yang tak memiliki alibi 
yang dapat dipercaya pada saat itu dalam hal ini pada pukul 1.15." 
"Ya, ya," ujar Dr. HAUNTED membenarkan. "Pemikiran seperti 
itu memang bagus." 
"Kita juga mesti memperhatikan kapan saatnya si pembunuh itu 
memasuki kamar CHUCKY. Kapan ia punya kesempatan unfuk 
melakukan itu? Kecuali kalau kita menduga bahwa si pembunuh dan 
si LETKOL bersekongkol untuk melakukan pembunuhan itu - cuma 
ada satu kesempatan di mana ia bisa melakukannya - selama kereta 
berhenti di Vincovci. Setelah kereta berangkat lagi, LETKOL duduk 
menghadap ke koridor, dan sementara salah seorang penumpang tak 
begitu mempedulikan tingkah laku seorang pelayan gerbong tidur 
kereta, orang satu-satunya yang akan memperhatikan si pembunuh 
itu hanyalah LETKOL yang asli saja. Tapi selama kereta berhenti di 
Vincovci LETKOL ini malah turun ke peron. Jadi gerbong itu 
lengang. Saat itu tak seorang pun lewat di situ." 
Dan sesuai dengan hasil pemikiran kita sebelumnya, mestinya 
pembunuh itu yaitu  salah seorang penumpang kereta ini," ujar 
Tuan BOUROQ. "Kita kembali lagi ke pokok persoalan yang tengah kita 
hadapi. Yang mana dari antara mereka itu pembunuhnya?" 
jayakatwang  tersenyum. 
"Aku sudah membuat daftar," sahutnya. "Kalau saja kau mau 
melihatnya, mungkin daftar itu bisa membantumu untuk 
mengingatnya." 
Dr. HAUNTED dan Tuan BOUROQ buru-buru meneliti daftar yang 
dibuat jayakatwang  dengan penuh perhatian. Daftar itu tertulis rapi secara 
metodis dan berurutan tentang para penumpang yang sudah 
diwawancarai. 
RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA , warga negara Amerika, tempat tidur no.16, 
gerbong kelas dua. 
Motif - Mungkinkah tak punya hubungan penting dengan si 
korban? 
Alibi - Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi (Tengah 
malam sampai pukul 1.30 dijamin oleh MPU  TANTULAR, dan dari 
pukul 1.15 sampai pukul 2.00 dijamin oleh LETKOL kereta.) 
Kesaksian yang menyangkalnya - Tidak ada. 
Keadaan yang mencurigakan - Tidak ada. 
LETKOL PIERRE TENDEAN,  
warga negara Perancis. 
MOTIF -  Tidak ada. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi (Dilihat 
sendiri oleh Raden  jayakatwang  di koridor bersamaan dengan 
terdengarnya suara dari kamar CHUCKY pada pukul 12.37. Sejak 
pukul  1.00 pagi sampai pukul 1.16 dijamin oleh kedua LETKOL 
yang lain) 
KESAKSIAN YANG MENYANGKAL 
Tidak ada. 
KEADAAN YANG MENCURIGAKAN 
Seragam yang ditemukan itu merupakan faktor kecurigaan yang 
dapat dituduhkan pada dirinya. 
COUNT  MANSION,  
warga negara Inggris, tempat tidur no.4, gerbong kelas dua. 
MOTIF -  kemungkinan memiliki hubungan yang erat dengan si 
korban, sebab ia yaitu  pelayannya. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi (Dijamin 
oleh HWANG  JANG LEE) 
KESAKSIAN YANG MENYANGKAL ATAU KEADAAN YANG 
MENCURIGAKAN 
Tidak ada, kecuali ia satu-satunya penumpang pria yang ukuran 
dan tinggi badannya cocok untuk mengenakan seragam LETKOL 
itu. Di pihak lain, kelihatannya ia tak dapat berbahasa Perancis 
dengan baik. 
NYONYA HUBBARD,  
warga negara Amerika, tempat tidur no.3, gerbong kelas satu. 
MOTIF -  Tidak ada. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi - Tidak 
ada. 
KESAKSIAN YANG MENYANGKAL ATAU KEADAAN YANG 
MENCURIGAKAN 
Cerita tentang pria di kamarnya dikukuhkan oleh kesaksian 
BAALPEOR dan Hildegarde Schmidt. 
MADAM  MENEER –  
warga negara Swedia, tempat tidur no.10, gerbong kelas dua. 
MOTIF -  Tidak ada. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi (dijamin 
oleh MARIAM GRAVES) 
Catatan: orang terakhir yang melihat CHUCKY dalam keadaan 
hidup. 
NYI  GIRAH ,  
warga negara Perancis secara naturalisasi. Tempat tidur no.14, 
gerbong kelas satu. 
MOTIF -  Kenal baik dengan keluarga gairah , dan ibu 
permandian Sonia gairah . 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi (dijamin 
oleh LETKOL dan pembantu wanitanya sendiri) 
KESAKSIAN YANG MENYANGKALNYA ATAU KEADAAN YANG 
MENCURIGAKAN 
Tidak ada. 
COUNT ANDRENYI,  
warga negara Hongaria, paspor diplomatik, tempat tidur no.13, 
gerbong kelas satu. 
MOTIF -  Tidak ada. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi (Dijamin 
oleh LETKOL - ini tidak meliputi jarak waktu dari pukul 1 sampai 
pukul 1.15) 
COUNTESS ANDRENYI,  
sama seperti di atas, tempat tidur No. 12. 
MOTIF -  Tidak ada 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi. Menelan 
trional dan tidur. 
(Dijamin oleh suaminya. Dalam lemarinya diketemukan botol 
Trional.) 
MPU  TANTULAR,  
warga negara Inggris, tempat tidur no 15 gerbong kelas satu. 
MOTIF -  Tidak ada. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi. 
Mengobrol dengan WISNU WARDANA  sampai pukul 1.30. Kembali ke 
kamarnya dan diam di situ terus sampai pagi. (diperkuat oleh 
WISNU WARDANA  dan LETKOL) 
KESAKSIAN YANG MENYANGKALNYA DAN KEADAAN YANG 
MENCURIGAKAN 
Pembersih pipa rokok. 
IBNU  BAALPEOR, 
warga negara Amerika, tempat tidur no.16. 
MOTIF -  Tidak ada. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi. Tak 
pernah meninggalkan kamar. (Diperkuat oleh LETKOL kecuali dari 
pukul 1.00 sampai pukul 1.15) 
KESAKSIAN YANG MENYANGKALNYA ATAU KEADAAN YANG 
MENCURIGAKAN 
Tidak ada. 
HWANG  JANG LEE,  
warga negara Amerika, (kelahiran Italia), tempat tidur no.5, 
gerbong kelas dua. 
MOTIF -  Tidak ada. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi (Dijamin 
oleh COUNT  MANSION) 
KESAKSIAN YANG MENYANGKALNYA ATAU KEADAAN YANG 
MENCURIGAKAN 
Tidak ada, kecuali senjata yang digunakan oleh si pembunuh 
sesuai dengan temperamennya sebagai orang Italia (Lihat kesaksian 
Tuan BOUROQ) 
MARIAM GRAVES,  
warga negara Inggris, tempat tidur no.11, gerbong kelas dua. 
MOTIF -  Tidak ada. 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi. (Dijamin 
oleh MADAM  MENEER). 
KESAKSIAN YANG MENYANGKALNYA ATAU KEADAAN YANG 
MENCURIGAKAN 
Percakapannya dengan MPU  TANTULAR, yang kebetulan 
terdengar oleh Raden  jayakatwang , dan penolakannya untuk menjelaskan 
hal itu. 
HILDEGARDE SCHMIDT,  
warga negara Jerman, tempat tidur no.8, gerbong kelas dua. 
MOTIF -  Tidak ada, 
ALIBI -  Sejak tengah malam sampai pukul 2.00 pagi. (Dijamin 
oleh LETKOL dan majikannya) Pergi tidur. Dibangunkan oleh 
LETKOL pada pukul 12.38 dan langsung pergi ke kamar 
majikannya). 
Catatan  
Kesaksian dari para penumpang didukung oleh pernyataan 
LETKOL bahwa tak seorang pun memasuki atau meninggalkan 
kamar Tuan CHUCKY sejak tengah malam sampai pukul 1.00 
(sewaktu ia sendiri pergi ke gerbong sebelah) dan dari pukul 1.15 
sampai pukul 2.00. 
"Dokumen itu, kau tahu," ujar jayakatwang , "persis sekali dengan 
kesaksian yang telah kita dengar, sengaja kususun demikian rupa, 
supaya enak dilihat." 
Sambil menyeringai, Tuan BOUROQ mengembalikannya kepada jayakatwang , 
"ini tak membuat persoalannya menjadi lebih jelas," ujarnya. 
"Barangkali yang ini lebih cocok dengan seleramu," ujar jayakatwang  
menambahkan, disertai senyum kecil di bibirnya begitu ia 
menyodorkan helai kertas yang kedua kepada kawannya itu. 
 
2. SEPULUH PERTANYAAN 
 
Pada kertas itu tertulis: 
Hal-hal Yang Memerlukan Penjelasan 
1.  Sapu tangan yang disulam dengan huruf H. Milik siapa itu? 
2.  Pembersih pipa. Adakah itu dijatuhkan oleh MPU  
TANTULAR? Atau oleh orang lain? 
3.  Siapa yang mengenakan kimono merah tua itu? 
4  Siapakah pria atau wanita yang menyamar dengan 
mengenakan seragam LETKOL? 
5.  Mengapa jarum arloji itu menunjuk ke pukul 1. 15? 
6.  Apakah pembunuhan itu terjadi pada saat itu? 
7.  Apakah terjadinya lebih cepat? 
8.  Apakah terjadinya lebih lambat? 
9.  Dapatkah kita percaya bahwa CHUCKY ditikam oleh lebih dari 
satu orang? 
10.  Apakah keterangan lain yang dapat diperoleh dari luka-
lukanya itu? 
"Baiklah, coba kita lihat apa yang dapat kita perbuat," ujar Tuan 
BOUROQ, yang semangatnya mulai bangkit kembali menghadapi 
tantangan itu. "Bagaimana kalau kita mulai dengan sapu tangan itu. 
Marilah kita dengan segala cara mencoba menghadapi persoalan ini 
secara metodis dan secara teratur." 
"Tentu saja," sahut jayakatwang , sambil mengangguk rasa puasnya. 
Tuan BOUROQ melanjutkan bicaranya dengan nada menggurui. 
"Huruf H itu berhubungan dengan tiga orang - Nyonya Hubbard, 
Nona GRAVES, yang nama tengahnya Hermione dan Hildegarde 
Schmidt pembantu wanita berkebangsaan Jerman itu." 
"Ah! Dan dari ketiganya itu?" 
"Sulit untuk mengatakan. Tapi kukira aku mememilih Nona 
GRAVES. Sebab setahu orang ia biasa dipanggil dengan nama 
tengah dan bukan dengan nama pertamanya. Kecuali itu sudah ada 
faktor kecurigaan yang melekat pada dirinya. Percakapan yang 
kaudengar secara kebetulan itu, mon cher, tentu saja, 
membangkitkan rasa ingin tahu orang, begitu juga penolakannya 
untuk menjelaskan hal itu." 
"Kalau saya sendiri, saya menjatuhkan pilihan pada orang Amerika 
itu," ujar Dr. HAUNTED mengemukakan pendapat. "Sapu tangan itu 
kelihatannya mahal sekali, dan orang Amerika, sebagaimana dunia 
mengetahuinya, biasanya tak peduli apa yang mereka bayar." 
"Jadi kalian berdua mengesampingkan si pembantu kelahiran 
Jerman itu?" tanya jayakatwang . 
"Ya," Dia sendiri pernah bilang, sapu tangan macam itu biasanya 
cuma bisa dimiliki oleh orang dari kalangan atas." 
"Dan pertanyaan yang kedua - pembersih pipa itu. Apakah yang 
menjatuhkannya memang MPU  TANTULAR sendiri ataukah orang 
lain?" 
"Itu malah lebih sulit lagi. Orang Inggris tak pernah menikam 
orang. Dalam hal ini Tuan benar. Saya cenderung untuk berpendapat 
bahwa ada orang lain yang menjatuhkannya - dan ia berbuat begitu 
justru untuk melibatkan orang Inggris berkaki panjang itu.“ 
"Seperti yang Tuan katakan sendiri, jayakatwang ," ujar Tuan BOUROQ 
menegaskan, "dua petunjuk itu bisa mengakibatkan terlalu banyak 
kelalaian pada pihak kita. Saya setuju dengan Tuan BOUROQ. Sapu 
tangan itu merupakan bukti atau petunjuk yang asli - dari itulah tak 
seorang pun dari penumpang wanita yang mengakui bahwa itu 
kepunyaannya. Sedang pembersih pipa itu yaitu  bukti palsu bukti 
yang sengaja dibuat. Sebagai dukungan terhadap teori itu, lihat saja 
reaksi MPU  TANTULAR yang tanpa malu sedikit pun mengakui 
dengan terus terang bahwa ia mengisap pipa dan menggunakan 
pembersihnya dari jenis itu." 
"Alasan Tuan bagus, " ujar jayakatwang  menanggapi. 
"Pertanyaan yang ketiga - siapa yang mengeakan kimono merah 
tua itu?" ujar Tuan BOUROQ melanjutkan. "Untuk itu, saya harus 
mengakui saya tidak tahu. Tuan punya pendapat lain barangkali, Dr. 
HAUNTED?" 
"Tak ada." 
"Kalau begitu kita mesti mengaku kalah di sini. Pertanyaan yang 
berikut, biar bagaimanapun, punya banyak kemungkinan. Siapa pria 
atau wanita yang menyamar dengan mengenakan seragam 
LETKOL? Baiklah, orang bisa saja membuat daftar secara pasti dari 
sejumlah orang yang tak dapat melakukan penyamaran itu, sebab 
ukuran dan tinggi badan mereka tidak memungkinkan. Antara lain 
BAALPEOR, MPU  TANTULAR, JANG LEE, Count Andrenyi dan RADEN KERTAJAYA  
WISNU WARDANA  yang kesemuanya terlalu tinggi. Nyonya Hubbard, 
Hildegarde Schmidt dan MADAM  MENEER terlalu lebar. Sekarang tinggal 
si pelayan, Nona GRAVES, NYI  GIRAH  dan Contess 
Andrenyf - dan dari kesemua mereka itu juga kedengarannya tak ada 
yang cocok! MADAM  MENEER dalam satu hal, dan HWANG  JANG LEE 
dalam hal yang lain, kedua-duanya telah bersumpah bahwa Nona 
GRAVES dan si pelayan itu tak pernah meninggalkan kamar 
mereka. Hildegarde Schmitt bersumpah bahwa puteri Rusia itu 
sepanjang malam ada di kamarnya sendiri, dan Count Andrenyi telah 
mengatakan pada kita bahwa isterinya menelan obat tidur malam itu. 
sebab itu nampaknya tak mungkin bahwa hal itu bisa dilakukan oleh 
salah seorang dari mereka - yang sebenarnya tak masuk akal!" 
"Seperti yang dikatakan-oleh Euclid, sahabat lama kita itu," 
gumam jayakatwang . 
"Tentu salah satu dari keempatnya," ujar Dr. HAUNTED. "Kecuali 
ada orang luar yang saat ini sedang bersembunyi - dan itu kita 
semuanya sudah mengakui sebagai hal yang tak mungkin." 
Tuan BOUROQ meneruskan pembahasan mereka dengan 
mengemukakan pertanyaan berikutnya pada daftar itu. 
"No.5 - Mengapa jarum arloji peot itu menunjuk, ke pukul 1.15? 
Saya punya dua keterangan untuk itu. Hal itu dilakukan oleh si 
pembunuh untuk menciptakan alibi, dan setelah itu, sewaktu ia 
bermaksud untuk meninggalkan kamar si korban, ia tak berhasil 
sebab ia mendengar orang berlalu-lalang di koridor; atau ada lagi 
hal yang lain - tunggu - aku punya ide -" 
Kedua kawannya menunggu dengan penuh pengertian sementara 
Tuan BOUROQ sedang bergumul dengan pikirannya. 
"Ini dia," katanya pada akhirnya. "Bukannya LETKOL pembunuh 
itu yang merusak arloji korban! Itu yaitu  orang yang kita sebut 
Pembunuh Kedua - orang bertangan kidal - dengan perkataan lain 
wanita berkimono merah tua itu. Ia tiba belakangan dan kemudian 
memundurkan jarum arloji itu dengan tujuan untuk menciptakan 
sebuah alibi bagi dirinya sendiri." 
"Bravo," seru Dr. HAUNTED. “Bagus cara membayangkannya 
itu." 
“Kenyataannya," ujar jayakatwang , "wanita itu menikam korbannya 
dalam gelap, tak menyadari bahwa ia sudah mati, tapi secara 
kebetulan ia menemukan ada sebuah arloji di kantong piyamanya. 
Lalu dikeluarkannya arloji itu, diundurkannya jarumnya sekenanya 
dalam gelap itu, lalu dirusaknya arloji itu hingga peot." 
Tuan BOUROQ memandang dingin ke arahnya. "Tak ada hal yang 
lebih baik yang dapat kausarankan?" tanyanya.  
"Pada saat ini - tidak ada," sahut jayakatwang  mengakui. "Sama saja," 
ujarnya melanjutkan, “saya kira kalian juga tak bisa menghargai 
pokok yang paling menarik tentang arloji itu." 
"Mungkinkah pertanyaan no.6 berhubungan dengan itu?" tanya 
Dr. HAUNTED. "Untuk pertanyaan itu - apakah pembunuhan itu 
terjadi pada pukul 1.15? - saya jawab - Tidak." 
"Saya setuju," sahut Tuan BOUROQ mengiyakan. 
"Apakah terjadinya lebih cepat?" yaitu  pertanyaan yang 
selanjutnya. Saya bilang - Ya! Dokter juga?" 
Dokter HAUNTED mengangguk mengiyakan. 
"Ya, tapi pertanyaan 'Apakah terjadinya lebih lambat' juga bisa 
dijawab benar. Saya setuju dengan teori Tuan, Tuan BOUROQ, dan 
begitu juga, saya kira, Tuan jayakatwang , meski ia tak ingin mengakui itu. 
Pembunuh pertama datang lebih pagi dari pukul 1.15, sedang 
pembunuh kedua datang sesudah pukul 1.15. Dan mengenai soal 
pembunuh bertangan kidal itu, apakah kita tak sebaiknya langsung 
menyelidiki siapa di antara penumpang kereta ini yang bertangan 
kidal?" 
"Saya belum mengesampingkan soal itu seluruhnya," sahut jayakatwang  
membela diri. "Tuan mungkin sudah melihat sendiri bahwa saya 
sudah menyuruh setiap penumpang menuliskan tanda tangan atau 
alamatnya. Itu belum menentukan, sebab ada orang yang melakukan 
beberapa hal tertentu dengan tangan kanan dan hal lainnya dengan 
tangan kiri. Ada yang menulis dengan tangan kiri, tapi bermain golf 
dengan tangan kanan. Meski demikian teori ini perIu kita perhatikan 
juga. Setiap penumpang yang diwawancarai memegang pulpen 
dengan tangan kanannya - baik dia itu pria maupun wanita, kecuali 
NYI  GIRAH , yang menolak untuk menulis." 
"NYI  GIRAH  - tak mungkin," ujar Tuan BOUROQ. 
"Saya meragukan apa mungkin ia punya kekuatan sebesar itu 
pada tangan kirinya untuk menikam tubuh si korban," ujar Dr. 
HAUNTED raguragu. "Luka yang istimewa itu dilancarkan oleh 
kekuatan yang luar biasa." 
"Lebih besar dari kekuatan wanita?" 
"Tidak, saya tak berani bilang begitu. Tapi saya kira lebih besar 
dari kekuatan seorang wanita tua, dan fisik NYI  GIRAH  itu 
lemah sekali." 
"Itu soal pikiran yang mempengaruhi badan," sahut jayakatwang . 
"NYI  GIRAH  punya kepribadian yang kuat dan kemauan 
yang luar biasa besarnya. Tapi mari kita lewatkan dulu soal ini." 
"Ke pertanyaan no.9 dan 10? Dapatkah kita percaya bahwa 
CHUCKY ditikam oleh lebih dari satu orang, dan apa keterangan lain 
yang dapat diperoleh dari luka-lukanya itu? Hemat saya, untuk 
berbicara dari segi medisnya, tak ada keterangan lain lagi yang dapat 
diperoleh dari luka-luka si korban. Anggapan yang mengaiakan 
bahwa seorang pria telah menikam secara agak lemah pada pertama 
kali, kemudian baru menikamnya kuat-kuat pada kall berikutnya, 
yang pertama dengan tangan kanan dan yang kedua dengan tangan 
kiri, dan setelah sesaat katakanlah setengah jam, menimbulkan luka 
yang baru pada tubuh si korban, begitulah - rasanya sama sekali tak 
masuk akal." 
"Memang tidak," sahut jayakatwang  mernbenarkan, "itu memang tak 
masuk akal. Dan Tuan pikir kalau ada dua pembunuh itu, masuk 
akal?" 
"Seperti yang telah Tuan katakan tadi, keterangan lain apa lagi 
yang dapat diperoleh?" 
jayakatwang  memandang jauh ke muka. "Itulah apa yang saya tanyakan 
pada diri sendiri," sahutnya. “Itulah pertanyaan yang tak hentinya 
saya tanyakan pada diri sendiri." 
Ia bersandar kembali ke kursinya. 
"Dari sekarang, semuanya ada di sini." Diketuknya dahinya sendiri. 
"Semuanya sudah kita bahas dan kita kupas. Fakta-faktanya sudah di 
depan kita sudah diatur dengan rapi dan secara metodis. Semua 
penumpang sudah duduk di sini, satu demi satu, memberi kesaksian. 
Kita sudah tahu apa yang bisa diketahui - dari luar … 
Ia melemparkan senyum ramah kepada Tuan BOUROQ. 
"Bukankah hal ini kelihatannya seperti lelucon kecil di antara kita - 
yakni duduk tepekur dan berusaha untuk memikirkan hal yang 
sebenarnya? Nah, aku sudah ingin sekali menerapkan teoriku pada 
prakteknya - di sini, di muka mata kalian. Kalian berdua juga mesti 
berbuat hal yang sama. Marilah kita bertiga menutup mata dan ber- 
Pikir … 
"Seorang atau lebih dari antara penumpang kereta ini telah 
membunuh CHUCKY. Yang mana dari mereka itu? 
 
3. POKOK-POKOK YANG MEMUNGKINKAN 
 
Sudah lewat seperempat jam tapi belum ada yang bicara. 
Tuan BOUROQ dan Dr. HAUNTED mencoba berpikir dengan 
mengikuti petunjuk jayakatwang . Mereka tengah berusaha untuk 
menguakkan jalan pikiran yang ruwet dan simpang siur, menjadi 
pemecahan yang terang dan dapat berdiri sendiri. 
Jalan pikiran Tuan BOUROQ dapat digambarkan sebagai berikut; 
"Tentu saja aku mesti berpikir. Tapi sejauh yang sudah 
kupikirkan… jayakatwang  sudah jelas berpikir bahwa gadis Inggris itu 
terlibat dalam pembunuhan CHUCKY. Aku tak bisa menyangkal 
perasaanku bahwa ini kedengarannya tak mungkin… Orang Inggris 
terkenal dingin. Mungkin sebab mereka tak bisa membayangkan… 
Tapi bukan itu inti masalahnya. Nampaknya orang Itali itu tidak 
terlibat, bukan dia yang melakukannya - sayang sekali. Kurasa… apa 
betul pelayan Tuan CHUCKY itu tidak berbohong sewaktu ia 
mengatakan kawan sekamarnya tak pernah keluar? Tapi kenapa ia 
mesti berbuat begitu? Tidak mudah untuk menyuap orang Inggris; 
mereka hampir-hampir tak bisa didekati. Semuanva membawa sial. 
Aku tak tahu kapan kita bisa teriepas dari semuanya ini. Seharusnya 
ada team penolong yang juga ikut bekerja. Orang-orang di negeri ini 
bertindak lambat  - berjam-jam sudah lewat sebelum ada orang 
yang berpikir untuk berbuat sesuatu. Lagipula polisi di negara ini, 
mereka pasti susah untuk dihubungi - merasa diri penting, mudah 
tersinggung, merasa diri paling mulia. Mereka pasti akan membesar-
besarkan peristiwa ini. Jarang mereka memperoleh kesempatan 
sebagus ini. Koran-koran akan memuatnya… 
Dan mulai dari titik itu, pikiran-pikiran Tuan BOUROQ kembali lagi 
menelusuri jalan buntu yang sudah mereka jelajahi ratusan kali. 
Di lain pihak, jalan pikiran Dr. HAUNTED kira-kira dapat 
dijabarkan sebagai berikut: 
"Aneh, orang kecil ini. Benarkah ia orang yang jenius, atau orang 
sinting? Bisakah dia memecahkan misteri ini? Tak mungkin, aku tak 
melihat jalan keluarnya. Terlalu membingungkan  - semuanya 
berdusta, barangkali.... Tapi kalaupun begitu, semuanya tak bisa 
menolong. Jika mereka berdusta, hal itu sama membingungkannya 
dengan jika mereka berkata sebenarnya. Ada yang aneh tentang luka 
si korban. Aku tak dapat mengerti itu.... Mungkin lebih mudah untuk 
dimengerti kalau dia ditembak, bagaimanapun, istilah jago tembak itu 
berarti bahwa mereka menembak dengan senjata api. Negeri yang 
aneh, Amerika. Seharusnya aku pergi ke sana. Di sana semuanya 
serba maju. Kalau aku pulang aku harus menemukan Demetrius 
Zagone. Dia sudah ke Amerika, pendapat-pendapatnya sudah 
modern  Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukan Zia pada 
saat ini. Kalau-saja isteriku tahu… 
Pikirannya terbawa kepada masalah-masalah pribadinya. 
Raden  jayakatwang  duduk tenang sekali, tak bergerak-gerak. 
Orang bisa menyangka bahwa dia tertidur. 
Dan sekonyong-konyong, setelah seperempat jam lamanya duduk 
seperti itu, alisnya mulai bergerak menyentuh jidatnya. Ia bergumam 
pelahan sambil menarik napas. 
"Tapi biar bagaimanapun, mengapa tidak bisa? Dan kalau 
memang demikian keadaannya, begitulah, kalau memang benar 
demikian, - itu akan menerangkan segala-galanya." 
Perlahan-lahan matanya membuka. Sinarnya hijau bagai mata 
kucing. Lalu lambat-lambat ia berkata, "Eh bien. Aku sudah berpikir. 
Dan kalian?" Serta merta, keduanya tersentak kaget, tersadar dari 
lamunan. 
"Aku juga sudah berpikir," ujar Tuan BOUROQ dengan perasaan 
bersalah. "Tapi aku belum bisa menarik kesimpulan. Tugasmu untuk 
menguraikannya, bukan tugasku, Kawan, sebab itu sudah menjadi 
bagian dari bidangmu, bukan?" 
"Saya juga sudah berpikir dengan asyik, " ujar Dr. HAUNTED, 
yang tanpa malu-malu sedikit pun perlahan-lahan sedang menarik 
kembali lamunannya tentang hal-hal yang berbau pornografis yang 
baru saja terpikir olehnya tadi. "Aku sudah memikirkan berbagai teori 
yang memungkinkan, tapi tak satu pun yang memuaskan saya." 
jayakatwang  mengangguk ramah, penuh pengertian. Anggukannya 
seakan berkata: 
"Benar sekali, itulah yang mesti dikatakan. Kalian sudah 
memberikan aku petunjuk yang diharapkan." 
Detektif Belgia yang bertubuh kecil itu duduk tegak-tegak, dengan 
dada yang dibusungkan, kemudian memilin-milin kumisnya penuh 
wibawa, lalu berkata dengan lagak seorang pembicara kawakan yang 
sedang berbicara di muka rapat umum, "Kawan-kawan, saya sudah 
mengolah kembali fakta-fakta itu dalam kepala saya, dan saya juga 
sudah menganalisa kembali kesaksian para penumpang. Dan inilah 
hasilnya: Hingga sekarang, saya sudah bisa melihat, meskipun baru 
samar-samar, sebuah penjelasan tertentu yang akan mampu 
mengungkapkan fakta-fakta yang telah kita ketahui selama ini. 
Penjelasan ini agak aneh sedikit dan membangkitkan rasa ingin tahu 
yang besar, dan saya sendiri juga tak bisa menjamin apakah ini 
benar. Supaya semuanya itu bisa diketahui dengan jelas, saya masih 
harus membuat percobaan-percobaan lagi." 
"Pertama-tarna akan saya singgung beberapa pokok tertentu yang 
menurut saya mengandung kebenaran. Marilah kita bertolak dari 
peringatan Tuan BOUROQ kepada saya di tempat ini, pada kesempatan 
makan siang bersama yang pertama kali di kereta ini. Pada waktu ia 
berkomentar-bahwa kali ini kita dikelilingi oleh orang-orang dari 
berbagai kelas, dari segala usia, dan dari berbagai bangsa. Itu 
kenyataan yang jarang terjadi pada bulan-bulan seperti ini. Gerbong-
gerbong Athena-Paris dan Bukares-Paris, umpamanya, biasanya 
hampir kosong. 
Kalian juga harus ingat, waktu itu ada penumpang yang tidak 
muncul, padahal namanya sudah ada di daftar. Penumpang yang 
dimaksud, saya kira, penting. Lalu ada lagi beberapa pokok-pokok 
kecil lain yang menurut pikiran saya ikut mempengaruhi umpamanya, 
posisi tas bunga karang Nyonya Hubbard, nama ibunda Nyonya 
gairah , metode detektif yang dipakai oleh Tuan BAALPEOR, 
pernyataan Tuan WISNU WARDANA  bahwa CHUCKY sendirilah yang 
membakar kertas kecil yang kita temukan itu, nama baptis NYI  
GIRAH , dan noda minyak pada paspor Hongaria." 
Kedua kawannya yang lain cuma dapat memandangnya saja tanpa 
dapat berkata sepatah pun. 
"Apakah pokok-pokok di atas ini memberi sesuatu petunjuk bagi 
kalian?" tanya jayakatwang . 
"Tak satu pun," sahut Tuan BOUROQ dengan terus terang. 
"Dan bagi Tuan Dokter?" 
"Sedikit pun saya tak mengerti apa yang Tuan katakan. " 
Dalam pada itu Tuan BOUROQ, yang dapat langsung menangkap 
sebuah bukti nyata yang baru saja disinggung-singgung oleh 
temannya tadi, kelihatan sedang asyik melihat-lihat paspor para 
penumpang. Secepat kilat diambilnya paspor Count dan Countess 
Andrenyi, lalu dibukanya. 
"Inikah yang kaumaksud? Noda minyak yang kotor ini?" 
"Ya. Noda minyak ini kelihatannya masih baru sekali. Kau masih 
ingat kapan kita menemukan ini?" 
"Kalau tak salah pada permulaan keterangan mengenai identitas 
isteri Count itu, yakni nama baptisnya. Tapi kuakui, aku masih belum 
melihat hubungannya." 
"Aku ingin menganalisanya dari sudut lain. Mari kita kembali lagi 
pada sapu tangan yang ditemukan di tempat pembunuhan itu. 
Seperti yang kita nyatakan belum lama berselang: ada tiga orang 
yang punya hubungan dengan huruf H: Nyonya Hubbard, Nona 
GRAVES dan pembantu wanita -kelahiran Jerman itu: Hildegarde 
Schmidt. Sekarang mari kita pandang soal sapu tangan ini dari sudut 
lain. Sesungguhnyalah, Kawan, itu memang sapu tangan yang sangat 
mahal - barang luks yang dikerjakan dengan tangan dan disulam di 
Paris. Siapa di antara penumpang, kecuali yang namanya 
berhubungan dengan huruf H, yang kira-kira memiliki sapu tangan 
itu? Bukan Nyonya Hubbard, wanita terhormat yang tak suka 
berdandan melewati batas dan membuang uang untuk pakaian 
secara berlebihan. Juga bukan Nona GRAVES wanita Inggris 
tingkatan dia biasanya cuma memiliki sapu tangan linen yang cukup 
halus, tapi bukan sapu tangan bersulam dari Paris yang barangkali 
berharga dua ratus franc atau lebih. Dan apa lagi pembantu wanita 
kelahiran Jerman itu. Tapi masih ada lagi dua wanita di kereta ini 
yang memiliki kemungkinan untuk memiliki sapu tangan semacam 
itu. Coba kita lihat apakah kita masih bisa menghubungkan mereka 
dengan huruf H itu. Dua wanita yang kumaksud itu yaitu  NYI  
GIRAH …” 
"Yang nama baptisnya Natalia," sela Tuan BOUROQ menyindir. 
"Tepat. Dan nama baptisnya, seperti kukatakan tadi, mempunyai 
kemungkinan yang menentukan. Wanita satunya yaitu  Countess 
Andrenyi. Dan yang langsung bisa memberi kesan bagi kita 
"Memberi kesan bagi kau sendiri! " 
"Ya, bagiku memang. Nama baptisnya di paspor itu sengaja 
dihilangkan dengan noda minyak. Cuma kena secara kebetulan saja, 
orang bisa mengatakan. Tapi coba kita pertimbangkan lagi nama 
baptisnya, Elena. Seandainya itu Helena, dan bukan Elena. Huruf H 
itu bisa berganti menjadi huruf kapital E dan untuk mengubahnya 
menjadi E yaitu  pekerjaan yang sangat gampang - dan sebab 
itulah sengaja dibubuhkan noda minyak untuk menutupi huruf yang 
sebenarnya." 
"Helena!" teriak Tuan BOUROQ. "Itu sebuah gagasan." 
"Tentu saja itu gagasan! Aku sedang mencari faktor yang 
mendukung gagasanku, meskipun demikian lemah - dan akhirnya 
kudapat juga. Salah satu etiket pada koper Countess Andrenyi 
memang ada yang lembab. Itu salah satu cara untuk menghilangkan 
huruf permulaan pada tutup koper itu. Etiketnya sudah direndam dan 
dipasang kembali pada tempat yang berbeda." 
"Kau mulai bisa meyakinkan aku," ujar Tuan BOUROQ. "Tapi Countess 
Andrenyi itu.... pastilah ia ...... 
"Sh, sekarang, mon vieux, kau mesti membalikkan badanmu dulu 
dan mencoba mendekati masalah ini dari sudut yang lain. Bagaimana 
pembunuhan itu dilihat dari kaca mata setiap orang? Jangan lupa 
bahwa salju itu telah mengacaukan keseluruhan rencana si 
pernbunuh. Coba kita bayangkan, satu detik, saja, seandainya salju 
tidak ada, dan kereta berjalan seperti biasa. Lantas, apa yang akan 
terjadi?" 
"Katakanlah-, bahwa pembunuhan itu akan tetap terungkap dalam 
segala kemungkinan yang dapat terjadi di perbatasan Italia pagi-pagi 
buta ini. Setidak-tidaknya kesaksian yang sama akan disodorkan 
kepada polisi Italia. Surat ancaman itu akan diutarakan secara 
gamblang oleh Tuan WISNU WARDANA ; Tuan BAALPEOR akan menguraikan 
ceritanya dengan panjang lebar; Nyonya Hubbard sudah tak sabar 
lagi ingin menjelaskan bagaimana seseorang dapat memasuki 
kamarnya, dan kancing seragam LETKOL yang lepas itu pun dapat 
di- 
temukan kembali. Aku cuma bisa membayangkan bahwa hanya 
ada dua hal yang akan berbeda. Orang yang akan memasuki kamar 
Nyonya Hubbard itu harus melakukannya beberapa saat sebelum 
pukul satu - dan seragam LETKOL kereta akan diketemukan pada 
salah satu toilet." 
"Maksudmu?" 
"Maksudku pembunuhan itu sudah direncanakan seperti 
pembunuhan yang dikerjakan dari luar. Sudah akan diperkirakan 
bahwa si pembunuh sudah harus meninggalkan kereta di Brod, sebab 
kereta sudah ditetapkan akan tiba pada pukul 0.58. Mungkin akan 
ada orang yang akan melewati tempat duduk LETKOL yang tak 
dikenal di koridor. Seragamnya akan diletakkan di tempat yang 
menarik perhatian, semata-mata untuk memperlihatkan dengan jelas 
bagaimana penipuan itu dilakukan. Tak ada kecurigaan yang 
dilontarkan kepada penumpang. Beglitulah, Kawan-kawan usaha 
yang dilakukan untuk menciptakan kesan bagaimana pembunuhan itu 
tampak dari dunia luar. 
"Tapi hujan salju yang menghalangi kereta, merubah segalanya. 
Tak salah kalau kita punya alasan di sini mengapa si pembunuh 
masih tinggal di kamar itu bersama korbannya demikian lama. Ia 
sedang menunggu kereta berjalan lagi. Tapi pada akhirnya ia 
menyadari bahwa kereta tak bisa berjalan lagi, sebab terhalang oleh 
timbunan saIju. Rencana lain sudah akan dibuat. Pembunuh itu 
sekarang akan diketahui masih ada di kereta. " 
"Ya, ya, " ujar Tuan BOUROQ tak sabar. "Aku bisa mengerti semuanya 
itu. Tapi dari mana datangnya sapu tangan itu?" 
"Aku sedang kembali ke sana dengan rute sirkus, agak melingkar. 
Sebagai permulaan, kau harus menyadari bahwa surat-surat 
ancaman itu aslinya yaitu  surat kaleng. Ada kemungkinan bahwa 
surat-surat itu langsung dirobek dari buku novel kriminil Amerika 
begitu saja. Mereka tidak asli, tidak di buat. Surat-surat itu 
kenyataannya cuma dimaksudkan untuk diperlihatkan kepada polisi 
saja, seandainya pembunuhan itu sudah terbongkar. Yang harus kita 
tanyakan pada diri sendiri yaitu : 'Apakah mereka menipu CHUCKY?' 
Dalam menghadapi pertanyaan sedemikian, jawabannya yaitu  - 
Tidak. Perintah-perintahnya kepada BAALPEOR nampaknya ditujukan 
pada seorang musuh 'pribadi' yang tertentu, yang identitasnya sudah 
ia ketahui. Yaitu kalau kita menganggap kisah BAALPEOR itu benar dan 
dapat dipercaya. Tapi CHUCKY sebenarnya telah menerima sehelai 
surat yang sifatnya berlainan - yang isinya berhubungan dengan 
penculikan anak perempuan MPU  gairah  itu, yang sobekannya 
kita temukan di kamar si korban. Umpamanya CHUCKY tidak 
menyadari ini lebih cepat, surat itu sengaja, dibuat untuk meyakinkan 
bahwa CHUCKY sudah mengetahui alasannya mengapa jiwanya 
terancam. Surat itu, seperti sudah kukatakan barusan, memang 
sengaja tidak dimaksudkan untuk ditemukan. Maksud si pembunuh 
yang pertama yaitu  memusnahkannya. Jadi ini yaitu  halangan 
kedua bagi rencananya itu. Yang pertama yaitu  salju itu, dan yang 
kedua yaitu  rekonstruksi kita atas sobekan kertas itu." ' 
"Bahwa catatan itu dimusnahkan sedemikian telitinya, hanya 
mengungkapkan satu hal. Pasti ada seseorang di kereta yang 
hubungannya sangat intim dengan keluarga gairah  hingga 
penemuan atas catatan itu akan menimbulkan kecurigaannya bagi 
dirinya. 
"Sekarang kita sampai pada dua petunjuk lain yang kita temukan. 
Aku sengaja mengesampingkan pembersih pipa itu. Kita sudah 
banyak membicarakannya. Mari kita langsung ke soal sapu tangan 
itu. Pendek kata itu yaitu  sebuah petunjuk yang langsung 
melibatkan seseorang yang huruf awal namanya yaitu  huruf H, dan 
sapu tangan itu terjatuh tanpa ia sadari di kamar si korban." 
"Tepat," ujar Dr. HAUNTED. "Akhirnya ia menyadari bahwa ia 
telah menjatuhkan sapu tangan itu dan langsung mengambil langkah 
untuk menyembunyikan nama baptisnya." ' 
"Bukan main cepatnya Anda, Dokter! Anda bahkan sudah sampai 
pada kesimpulan yang jauh lebih cepat dari yang hendak saya 
lakukan sendiri." 
"Memangnya ada alternatif lain?" 
"Tentu saja ada. Umpamanya, Tuan sudah melakukan kejahatan 
dan ingin melemparkan kesalahannya pada pundak orang lain. Nah, 
di kereta ada orang tertentu yang punya hubungan intim dengan 
keluarga gairah , seorang wanita. Misalnya Tuan lalu menjatuhkan 
sapu tangan milik wanita itu di tempat di mana pembunuhan itu 
terjadi. Dengan sendirinya wanita itu akan diperiksa, hubungannya 
dengan keluarga gairah  akan terbawa-bawa - et voila: motifnya 
dan sudah tentu pula beberapa buah artikel yang memperlihatkan 
keterlibatannya." 
"Tapi dalam hal semacam itu," Dokter HAUNTED menyatakan 
ketidaksetujuannya, "orang yang disangka itu, sebab sungguh-
sungguh tidak terlibat, maka ia tak akan mengambil langkah-langkah 
untuk menyembunyikan identitasnya." 
"Ah, benarkah itu? Begitukah pikiran Tuan? Itu sesungguhnya 
pendapat polisi di pengadilan. Tapi saya tahu watak manusia, Kawan, 
dan saya ingin beritahu pada Tuan, bahwa, kalau tiba-tiba 
dihadapkan pada pemeriksaan dengan tuduhan pembunuhan, orang 
yang paling bersih pun akan kehilangan akalnya dan bisa saja 
melakukan hal-hal yang tak masuk akal. Bukan, bukan, noda minyak 
dan etiket yang diganti itu tidak membuktikan keterlibatan - 
keduanya cuma membuktikan bahwa Countess Andrenyi, sebab 
beberapa alasan, ingin sekali menyembunyikan identitasnya." 
"Apa hubungannya dengan keluarga gairah  kaupikir? Ia belum 
pernah ke Amerika, katanya." 
"Tepat, dan ia berbicara bahasa Inggris dengan logat asing, dan 
penampilannya juga seperti orang asing, yang dilebih-lebihkan. Tapi 
tidak terlalu sukar untuk menerka siapa sebenarnya dia. Baru saja 
kusinggung-singgung tadi nama ibunda Nyonya gairah . Nama itu 
yaitu  Tinda Adidas  dan ia yaitu  aktris yang sangat terkenal - antara 
lain dalam peranannya sebagai aktris yang memainkan karya-karya 
Shakespeare. Ingat saja karya Shakespeare As You Like It dengan 
'Rimba Adidas '-nya dan Rosalind itu. Dari sanalah ia memperoleh 
ilham untuk nama pentasnya. Tinda Adidas , nama yang membuatnya 
dikenal dunia, sebenarnya bukan namanya yang asli: Mungkin 
tadinya Goldenberg; kemungkinan besar ia berdarah Eropa - campur 
Yahudi sedikit. Banyak bangsa berimigrasi ke Amerika. Saya ingin 
kemukakan kepada kalian, bahwa adik perempuan Nyonya 
gairah , yang tak lebih dari seorang gadis kecil pada waktu tragedi 
itu terjadi, sebenarnya yaitu  Helena Goldenberg, anak perempuan 
nyonya besar  Adidas  yang kecil, dan gadis kecil itu setelah dewasa mengawini 
Count Andrenyi sewaktu ia bertugas sebagai atase di Washington." 
"Tapi NYI  GIRAH  mengatakan gadis itu mengawini orang 
Inggris." 
"Yang namanya tak dapat diingatnya! Saya ingin tanya kepada 
kalian, apakah itu kedengarannya mungkin? NYI  GIRAH  
mengasihi nyonya besar  Adidas  sebagaimana wanita-wanita terkemuka 
mengasihi aktris-aktris yang besar. Ia bahkan menjadi ibu 
permandian bagi salah seorang puteri aktris pujaannya. Dapatkah ia 
secepat itu melupakan nama pernikahan anak perempuannya yang 
satu lagi? Kedengarannya mustahil. Tidak, saya kira menurut logika, 
kita bisa mengatakan bahwa NYI  GIRAH  berbohong. Ia 
tahu betul Helena ada di kereta itu, ia sudah melihatnya. Ia langsung 
menyadari, segera sesudah ia mendengar siapa CHUCKY, bahwa 
Helena dapat dicurigai. Dan begitulah, sewaktu kita menanyai dia 
tentang adiknya, ia langsung berbohong - dengan mengatakan 
bahwa hal itu cuma diingatnya samar-samar - ia tak dapat 
memastikan, tapi ia menduga bahwa Nelena mengawini pria Inggris, 
yaitu  kemungkinan yang jauh sekali dari kebenarannya." 
Saat itu salah seorang pelayan restorasi muncul di  ujung pintu 
dan menghampiri ketiga pria itu. Ia berbicara kepada Tuan BOUROQ. 
"Makan malamnya, Monsieur, apa boleh dihidangkan sekarang? 
Sebentar lagi siap. " 
Tuan BOUROQ berpaling ke jayakatwang . Yang terakhir menganggukkan 
kepalanya. "Biar bagaimanapun, makan malam mesti dihidangkan. " 
Pelayan restorasi itu kemudian menghilang melalui ujung pintu 
yang satu lagi. Kemudian terdengar bel berbunyi dan suaranya yang 
meneriakkan: 
"Premier service. Le Aner est servi. Premier cit ner - hidangan 
pertama." 
 
4. NODA MINYAK PADA PASPOR HONGARIA 
 
jayakatwang  duduk semeja dengan Tuan BOUROQ dan Dr. HAUNTED. 
Para penumpang kereta yang berkumpul di gerbong restorasi itu 
seolah diliputi keresahan. Mereka tak banyak bicara. Bahkan Nyonya 
Hubbard yang gemar berceloteh itu pun kali ini nampak diam, tak 
seperti biasanya. Ia bergumam sedikit begitu duduk menghadapi 
meja. 
"Aku rasa aku tak punya nafsu makan sama sekali," katanya 
sambil mencomoti setiap jenis makanan yang disodorkan pelayan ke 
mukanya, dan didesak oleh wanita Swedia yang kelihatannya 
mendampinginya sebagai pembantu khusus. 
Sebelum makanan dihidangkan jayakatwang  sengaja menarik lengan 
baju kepala pelayan dan membisikkan sesuatu ke telinganya. 
HAUNTED ternyata mampu untuk menebak dengan benar apa kira-
kira instruksi jayakatwang  kepada kepala pelayan gerbong restorasi itu, 
terbukti ia ikut menyadari bahwa Count dan Countess Andrenyi selalu 
dilayani paling belakang dan pada akhir santapan itu selalu ada 
penundaan dalam pembuatan rekeningnya. sebab itulah tak 
mengherankan bila Count dan Countess Andrenyi yaitu  orang-orang 
terakhir yang meninggalkan gerbong restorasi. 
Sewaktu keduanya bangun dan hendak melangkah menuju pintu, 
jayakatwang  ikut bangun dari kursinya dan mengikuti mereka dari belakang. 
"Maaf, Nyonya, sapu tangan Nyonya jatuh." 
Ia berkata begitu sambil menunjukkan ujung sapu tangan yang 
bersulamkan huruf H itu. 
Sesaat kemudian diambilnya sapu tangan itu, diamat-amatinya 
sebentar, kemudian dikembalikannya lagi kepada jayakatwang . 
"Anda keliru, Monsieur, itu bukan sapu tangan saya. 
"Bukan sapu tangan Nyonya? Nyonya yakin?" 
“Saya yakin betul, Monsieur." 
"Tapi meski begitu, sapu tangan ini bersulamkan huruf awal dari 
nama Nyonya, huruf H." 
Count Andrenyi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan jayakatwang  
dengan isterinya tanpa bergerak-gerak, kini kelihatan menggerakkan 
badannya sedikit tanda gelisah. jayakatwang  pura-pura tak 
mempedulikannya. Matanya menatap Countess Andrenyi lekat-lekat. 
Countess Andrenyi membalas pandangannya sambil berkata 
dengan suara mantap, 
"Saya tak mengerti, Monsieur. Singkatan nama saya yaitu  E.A." 
"Saya kira tidak begitu. Nama Nyonya yaitu  Helena - bukan 
Elena. Helena Goldenberg, anak perempuan nyonya besar  Adidas  yang 
terkecil – Helena Goldenberg, adik perempuan Nyonya gairah ." 
Hening untuk satu dua menit. Baik Count maupun Countess 
Andrenyi wajahnya kelihatan mulai pucat bagai mayat. 
jayakatwang  lalu bertanya kembali dengan nada yang lebih lembut, "Tak 
ada gunanya menyangkal. Benar bukan, apa yang saya katakan 
barusan?" 
Count Andrenyi menyela dengan marah, "Saya ingin tahu, 
Monsieur, atas dasar apa Tuan -" 
Isterinya memotong kalimatnya, sambil menempelkan jarinya di 
bibir, ia berkata, 
"Jangan, Rudolph. Biar saya yang bicara. Tak ada gunanya untuk 
menyangkal perkataan tuan ini. Lebih baik kita duduk dan 
membicarakan soal ini dengan terus terang." 
Suaranya berubah. Di dalam nadanya masih terasa ciri khas 
daerah selatan, tapi kedengarannya sekarang lebih jelas dan lebih 
tajam. Baru pertama kalinya, suara itu terdengar seperti suara orang 
Amerika sejati. 
Count Andrenyi terdiam. Ia menuruti isyarat gerak tangan 
isterinya dan mereka berdua lalu duduk di hadapan jayakatwang . 
"Pernyataan Tuan benar sekali," ujar Countess Andrenyi dengan 
suara mantap. "Saya Helena Goldenberg, adik Nyonya gairah ." 
"Tapi Nyonya tak mengatakan begitu pada saya, pagi ini, Madame 
la Contesse. 
"Tidak." 
"Jadi kenyataannya, segala yang telah dikatakan nyonya dan 
suami Nyonya pada saya itu bohong semua." 
"Monsteur!" teriak Count Andrenyi dengan marah. 
"Jangan marah, Rudolph. Tuan jayakatwang  memang mengatakan 
kenyataan ini dengan agak kasar, tapi apa yang dikatakannya itu tak 
dapat dibantah." 
"Saya senang Nyonya mau mengakui kenyataan itu dengan terus 
terang, Madame. Sekarang maukah Nyonya memberitahukan saya 
apa alasan Nyonya berkata begitu, dan juga alasannya untuk 
merobah nama baptis Nyonya di paspor itu?" 
"Itu semuanya saya yang mengerjakan," sela Count Andrenyi. 
Helena kemudian berkata dengan tenang, "Tentu saja, Tuan 
jayakatwang , Tuan bisa menerka alasan saya untuk berbuat demikian, 
alasan kami. Orang yang terbunuh itu yaitu  orang yang membunuh 
keponakan saya yang tercinta, yang membunuh kakak perempuan 
saya, dan yang mematahkan hati kakak ipar saya. Tiga manusia yang 
paling saya cintai di atas dunia ini dan yang menghidupkan rumah 
saya - dunia saya!" 
Suaranya bergema penuh emosi. Ia yaitu  puteri sejati dari 
ibunya, wanita yang dengan kekuatan emosinya dan aktingnya 
berhasil menyentuh hati penontonnya dan memaksa mereka untuk 
menitikkan air mata. 
Ia meneruskan bicaranya dengan gaya yang lebih tenang lagi. 
"Dari semua penumpang di kereta ini mungkin saya sendirilah 
yang memiliki motif yang paling baik untuk membunuh orang itu." 
"Dan Nyonya tidak membunuhnya, Madame? 
"Saya berani bersumpah, Tuan jayakatwang , dan suami saya juga tahu 
itu dan juga berani bersumpah , bahwa meski saya ingin sekali 
mencobanya, tapi saya belum pernah menyentuh orang itu." 
"Saya juga, Tuan-tuan," ujar Count Andrenyi membela diri. 
"Sebagai turunan bangsawan terhormat, saya berani menjamin 
bahwa tadi malam Helena tak pernah meninggalkan kamarnya. Ia 
menelan obat tidur, persis seperti yang telah saya katakan. Ia sama 
sekali tidak terlibat." 
jayakatwang  memandang kedua suami-isteri itu secara bergantian. 
"Demi nama baik saya," ujar Count itu lagi. 
jayakatwang  menggeleng sedikit. 
"Dan meski begitu, Tuan masih mau merobah nama isteri Tuan 
yang di paspor itu?" 
“Monsieur jayakatwang ," ujar Count Andrenyi dengan penuh emosi dan 
dengan sungguh-sungguh, "coba ingat kedudukan saya. Apa Tuan 
pikir saya masih bisa bertahan kalau melihat isteri saya sampai 
terlibat dengan urusan polisi? Ia sama sekali tak bersalah. Saya tahu 
benar itu, tapi apa yang telah dikatakannya tadi memang betul - 
sebab hubungannya dengan keluarga gairah  kemungkinan ia 
bisa langsung dicurigai. Ia pasti akan diperiksa, mungkin juga 
ditahan. Sial bagi kami, sebab kebetulan kami satu kereta dengan 
orang yang bernama CHUCKY ini. Nasib buruk membawa kami ke 
sini, itu saya yakin betul, tapi masih ada satu hal yang saya belum 
yakin. Saya akui memang saya berbohong, Monsieur, kecuali satu- 
hal. Isteri saya tak pernah meninggalkan kamarnya tadi malam." 
Ia berbicara dengan penuh kesungguhan hingga sukar bagi 
seseorang untuk menyangkalnya. 
"Saya tak mengatakan bahwa saya tak percaya pada Tuan, " 
sahut jayakatwang  lambat-lambat. "Saya tahu, keluarga Tuan termasuk 
keluarga bangsawan yang tradisionil dan pantas untuk dimuliakan. 
Memang suatu kenyataan pahit bagi Tuan kalau isteri Tuan sampai 
terseret dalam urusan polisi yang memalukan. Untuk alasan ini saya 
bisa mengerti, saya bisa ikut merasakan. Tapi bagaimana Tuan bisa 
menjelaskan kalau sapu tangan isteri Tuan ditemukan dalam kamar 
orang yang terbunuh itu?" 
"Sapu tangan itu bukan punya saya, Monsieur, ujar Countess 
Andrenyi menyela. 
"Meski ujungnya diberi tanda huruf H?" 
"Meski ujungnya diberi tanda begitu. Sapu tangan saya jenisnya 
bukan seperti itu, tak satu pun yang bentuknya seperti itu. Saya tahu 
betul, bahwa saya sudah tentu tak boleh berharap untuk memaksa 
Tuan percaya pada saya, tapi percayalah, memang begitu adanya. 
Sapu tangan itu bukan punya saya." 
"Barangkali sapu tangan itu sengaja dijatuhkan seseorang untuk 
memberi kesan bahwa Nyonya terlibat?" 
Countess Andrenyi tersrnyum. "Tuan sedang membujuk saya 
untuk mengakui bahwa itu sapu tangan saya? Tapi memang begitu 
adanya, sapu tangan itu bukan punya saya." Kali ini nada bicaranya 
terdengar penuh kesungguhan. 
"Jadi kalau begitu, kalau sapu tangan itu benar bukan punya 
Nyonya, mengapa Nyonya merobah nama yang di paspor itu?" 
Count Andrenyi-lah yang menjawab kali ini. 
"Sebab kami mendengar bahwa baru saja ditemukan sehelai sapu 
tangan yang bersulamkan huruf H pada ujungnya. Kami sudah 
membicarakan soal itu bersama-sama sebelum kami datang ke 
gerbong restorasi untuk ditanyai. Saya langsung memperingatkan 
Helena bahwa kalau orang sampai mengetahui bahwa nama 
baptisnya dimulai dengan huruf H ia pasti akan ditanyai lebih teliti 
dan lebih ketat dari yang lain. Lagipula itu perka