asilkah aku? Aku tak
tahu. Tapi aku tahu ini: ia tak senang aku memecahkan masalah
dengan cara seperti ini."
"Kau mencurigai dia," ujar Tuan BOUROQ lambat-lambat. "Tapi
kenapa? Kelihatannya gadis muda itu amat menarik - orang terakhir
di dunia ini yang kelihatannya bingung menghadapi peristiwa kriminil
semacam ini."
"Saya setuju," ujar HAUNTED menengahi. "Gadis itu dingin. Ia
tak punya emosi. Ia tak bakal menikam orang - ia lebih suka
menuntutnya di muka pengadilan."
jayakatwang menarik napas panjang.
"Kalian berdua harus bisa melepaskan diri dari godaan bahwa
tindakan kriminil itu dilakukan secara mendadak dan tidak
direncanakan masak-masak sebelumnya. Alasanku mengapa aku
sampai mencurigainya, sebenarnya ada dua. Pertama yaitu sebab
sesuatu yang pernah kudengar secara kebetulan, dan justru yang
kalian belum tahu."
Detektif Belgia itu menguraikan kembali tentang tanya-jawab yang
mencurigakan yang kebetulan didengarnya sewaktu dalam perjalanan
dari Aleppo.
“Kau memang mencurigakan dan membangkitkan rasa ingin tahu
orang," sahut Tuan BOUROQ begitu kawannya selesai bercerita. "Itu
memerlukan penjelasan. Kalau kecurigaanmu itu benar, itu berarti
keduanya terlibat dalam pembunuhan ini - gadis muda itu dan
MPU Inggris yang kaku dan disiplin itu."
jayakatwang mengangguk.
"Dan itulah yang justru tidak terungkap oleh kenyataan," ujar
jayakatwang lagi. "Coba lihat, kalau mereka berdua terlibat, apa yang dapat
kita harapkan dari keduanya? Tentu masing-masing sudah
menyiapkan alibi bagi kawannya. Bukan begitu? Tapi tidak - itu tidak
terjadi. Alibi Nona GRAVES disediakan oleh wanita Swedia yang
malah belum pernah dilihatnya, dan alibi MPU TANTULAR malah
berani ditanggung oleh WISNU WARDANA , sekretaris korban. Tidak,
pemecahan teka-teki ini tidak semudah itu."
"Tadi kaubilang ada alasan lain untuk mencurigai gadis Inggris
itu," ujar Tuan BOUROQ memperingatkan.
jayakatwang tersenyum.
"Ah! Itu cuma psikologisnya saja. Aku bertanya pada diriku sendiri,
apa mungkin bagi Nona GRAVES untuk merencanakan kriminil
semacam ini? Di belakang masalah ini semua, aku yakin, mesti ada
otak yang tajam dan kepala yang dingin. Nona GRAVES memenuhi
syarat-syarat itu."
Tuan BOUROQ menggeleng. "Aku kira kau keliru, Kawan. Aku tidak
bisa melihat gadis Inggris itu sebagai seorang penjahat."
"Ah! Baiklah," ujar jayakatwang lagi, sambil mengambil sebuah paspor.
"Selanjutnya nama terakhir darl daftar kita. Hildegarde Schmidt,
pembantu Puteri GIRAH ."
Setelah dipersilakan masuk oleh pelayan, Hildegarde Schmidt
melangkah masuk ke gerbong makan kereta dan berdiri menunggu di
situ dengan penuh hormat.
jayakatwang memberinya isyarat untuk duduk.
Ia langsung menurut, melipat tangannya dan menunggu dengan
tenang sampai detektif itu mengajukan pertanyaan kepadanya.
Nampaknya sifatnya memang tenang - sopan, hormat tapi tidak
terlalu cerdas.
Metode atau cara pemeriksaan yang dipakai jayakatwang dalam
menghadapinya benar-benar berlawanan dengan caranya dalam
memeriksa MARIAM GRAVES.
Kali ini ia bersikap sangat ramah, dan membiarkan wanita itu
mengerjakan semua suruhannya dengan santai. Kemudian setelah
selesai menuliskan nama dan alamatnya, jayakatwang langsung
mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan lembut.
Pemeriksaan itu berlangsung dalam bahasa Jerman.
"Kami ingin sekali mengetahui sebanyak mungkin apa yang
sesungguhnya terjadi tadi malam," ujarnya. "Kami tahu Nona
mungkin tak dapat memberikan banyak keterangan mengenai
pembunuhan itu sendiri, tapi boleh jadi Nona mungkin telah melihat
atau mendengar sesuatu yang mungkin bagi Nona sendiri tak ada
artinya, tapi bagi kami penting sekali, Nona mengerti?"
Tapi kelihatannya orang yang diwawancarai itu belum mengerti
betul apa yang dimaksudkan oleh detektif Belgia itu. Wajahnya yang
lebar dan ramah itu kelihatan masih saja tak menunjukkan ekspresi
apa-apa sewaktu ia menjawab lambat-lambat,
"Saya tak tahu apa-apa, Monsieur, "
"Baiklah, tapi mungkin Nona tahu bahwa majikan Nona memanggil
Nona semalam."
"Kalau itu, memang betul."
"Masih ingat pukul berapa waktu itu?"
"Tidak ingat lagi, Monsieur. Saya sedang tidur waktu pelayan
memanggil saya dan memberitahukannya."
"Ya, ya. Apakah Nona biasa dipanggil majikan Nona dengan cara
seperti itu?"
"Biasanya memang begitu, Monsieur. Wanita terhormat yang
ramah dan murah hati itu memang sering meminta apa-apa pada
malam hari. Ia tak bisa tidur nyenyak."
"Eh bien, lalu setelah menerima pemberitahuan itu, Nona langsung
bangun. Apa Nona langsung memakai baju tidur?"
"Tidak, Monsieur, saya mengenakan baju yang pantas. Saya tak
mau menghadap Nyonya dengan pakaian tidur saja."
"Meskipun baju tidur itu bagus - warnanya merah tua, ya tidak?"
Perempuan itu menatap jayakatwang sejenak. "Warnanya biru, dari
bahan flanel, Monsieur. "
"Ah, teruskan. Cuma hiburan sedikit buat saya, tak lebih dari itu.
Jadi Nona pergi ke kamar Madame la NYI e. Dan apa yang Nona
lakukan sesampainya di sana?"
"Saya memijitnya, Tuan, lalu saya membaca keras-keras
untuknya. Tapi Nyonya besar mengatakan itu sudah cukup - dan ia
sudah ingin tidur. Sewaktu ia merasa ngantuk, Monsieur, Nyonya
menyuruh saya pergi, jadi saya tutup buku itu, lalu kembali ke kamar
saya."
"Nona tahu pukul berapa waktu itu?"
"Tidak, Monsieur. "
"Berapa lama Nona diam di kamar Madame la NYI e?”
"Kira-kira setengah jam, Monsieur.”
"Baik, teruskan."
"Mulanya, saya ambilkan selimut tambahan buat Nyonya dari
kamar saya. Udara dingin sekali meski pemanasannya terasa
dipasang berlebihan. Lalu saya tebarkan selimut itu di badannya, dan
Nyonya mengucapkan selamat malam pada saya. Saya tuangkan
Nyonya segelas air putih. Kemudian saya matikan lampu lalu
meninggalkannya."
"Lalu?"
"Tak ada lagi, Tuan. Saya kembali ke kamar saya dan pergi tidur."
"Dan Nona tak bertemu siapa-siapa di koridor?"
"Tidak, Monsieur. "
"Nona tidak bertemu, misalnya, dengan seorang wanita yang
mengenakan kimono merah tua, bersulam naga?"
Matanya yang lembut itu menatap jayakatwang sebentar. "Tidak,
Monsieur. Tak ada siapa-siapa yang lewat, kecuali pelayan. Semua
orang sudah tidur."
"Tapi nona lihat LETKOL itu?"
"Ya, Monsieur.
"Sedang mengapa dia?"
"Ia keluar dari salah satu kamar, Monsieur."
"Apa?" tanya Tuan BOUROQ tiba-tiba, sambil memajukan tubuhnya ke
muka. "Kamar yang mana?"
Hildegarde Schmidt kembali ketakutan lagi, dan jayakatwang
melemparkan pandang yang menyalahkan kepada kawannya itu.
"Tentu saja," ujar Poiroi membenarkan. "LETKOL memang
sering harus menjawab bel pada malam hari. Nona masih ingat
kamar yang mana itu?”
"Kira-kira yang di tengah gerbong, Monsieur. Dua atau tiga kamar
dari kamar Madame la NYI e.
"Ah! Coba katakan kepada kami, kamar yang mana persisnya dan
apa yang terjadi?"
"LETKOL itu hampir saja menubruk saya Monsieur. Waktu itu
saya baru saja mau kembali ke kamar sehabis menyelimuti Madame
la NYI e dengan selimut tambahan itu."
"Dan dia baru keluar dari kamar itu dan hampir bertubrukan
dengan Nona. Ke arah mana perginya LETKOL itu?"
"Ke arah saya, Monsieur. Ia minta maaf, lalu berjalan sepanjang
koridor menuju gerbong makan. Ada lagi bel yang berbunyi, tapi saya
rasa dia tak mempedulikan." Wanita Jerman itu berhenti sebentar
berbicara lalu katanya lagi, "Saya tidak mengerti. Bagaimana itu -"
jayakatwang kemudian berusaha untuk meyakinkannya.
"Itu cuma soal waktu saja," ujarnya. "Cuma soal rutin. LETKOL
yang malang itu rupanya memang sibuk sekali semalam - mula-mula
membangunkan Nona kemudian menjawab bel."
"Bukan itu LETKOL yang membangunkan saya. Tuan. Itu
LETKOL yang lain."
"Ah! LETKOL yamg lain! Nona pernah melihatnya?"
"Belum pernah, Tuan."
"Ah! - Kira-kira. Nona bisa mengenalnya lagi kalau melihatnya?"
"Saya rasa tidak, Monsieur."
jayakatwang membisikkan sesuatu ke telinga Tuan BOUROQ. Yang terakhir
ini bangkit dan pergi ke pintu untuk memberi perintah.
jayakatwang kembali melanjutkan pemeriksaannya dengan sikap yang
santai dan ramah.
"Pernah ke Amerika, Fraulein Schmidt?"
"Belum, Monsieur. Tentunya itu negeri yang bagus.”
"Mungkin Nona pernah mendengar – bahwa orang yang dibunuh
itu justru orangnya yang bertanggung jawab atas pembunuhan
seorang anak kecil?”
"Ya, saya pernah dengar itu, Monsieur. Benar-benar menjijikkan,
busuk. Tuhan Yang Mahabaik tak akan merestui perbuatan terkutuk
itu. Kami tidak sejahat itu di Jerman."
Air mata wanita itu bercucuran. Jiwa keibuannya yang kuat
rupanya ikut tersentuh.
"Memang itu kejahatan yang menjijikkan," ujar jayakatwang sedih.
Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan yang halus sekali dari
sakunya dan menyodorkannya kepada wanita itu.
"Apa sapu tangan ini milik Nona, Fraulein Schmidt?
Sepi sebentar sewaktu wanita itu memeriksa benda yang diberikan
jayakatwang kepadanya barusan. Semenit kemudian diangkatnya
kepalanya. Wajahnya berubah warna sedikit.
"Ah! bukan, ini bukan milik saya, Monsieur.
"Tapi sapu tangan ini ada huruf H-nya, bukan? sebab itulah saya
kira itu milik Nona."
"Ah, Monsieur. Itu sapu tangan wanita terhormat. Sapu tangan
mahal. Disulam dengan tangan. Biasanya yang begitu buatan Paris,
saya rasa.”
"Jadi ini bukan milik Nona dan Nona juga tahu milik siapa ini?"
"Saya? Oh! Tidak, tidak tahu, Monsieur.
Dari antara ketiga orang yang sedang mendengarkan pemeriksaan
itu, cuma jayakatwang yang menangkap keragu-raguan dalam nada
suaranya.
Tuan BOUROQ membisikkan sesuatu ke telinga kawannya. jayakatwang
mengangguk lalu bertanya lagi kepada wanita itu,
"Ketiga orang pelayan gerbong tidur itu sedang ke mari. Maukah
Nona mengatakan pada kami, yang mana yang bertemu dengan
Nona tadi malam setelah Nona selesai menyelimuti Madame la
NYI e itu dengan selimut tambahan?"
Ketiga pelayan gerbong tidur memasuki ruangan. Pierre TENDEAN,
LETKOL bertubuh tinggi besar dan berambut pirang dari gerbong
Athena-Paris, dan LETKOL yang besar dan kuat dari gerbong
Bukares.
Hildegarde Schmidt memandangi mereka satu per satu dan
langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Monsieur, " ujarnya. "Tidak satu pun di antara mereka
yang saya lihat tadi malam."
"Tapi cuma merekalah LETKOL yang ada di kereta ini. Kalau
begitu Nona keliru."
"Saya vakin sekali, Monsieur. Mereka ini badannya besar-besar
dan tinggi-tinggi. LETKOL yang saya lihat semalam orangnya kecil
dan kulitnya hitam. Di atas bibirnya ada kumis sedikit. Sewaktu
mengatakan 'Pardon' suaranya kedengaran lembut dan kecil seperti
suara perempuan. Saya masih ingat betul padanya, Monsieur.
13. RINGKASAN KESAKSIAN PARA PENUMPANG
"Laki-laki kecil-berkulit hitam dan bersuara seperti perempuan,"
ujar Tuan BOUROQ.
Ketiga LETKOL dan Nona Hildegarde Schmidt sudah pergi.
Tuan BOUROQ kelihatan putus asa. "Tapi aku tak mengerti apa-apa -
sama sekali tak mengerti apa artinya ini semua! Musuh yang disebut-
sebut si CHUCKY itu, apa benar ia ada di kereta ini? Tapi di mana dia
sekarang? Bagaimana dia bisa hilang begitu saja di udara? Aduh,
pusingnya kepalaku. Kalau begitu, lebih baik kaukatakan sesuatu,
Kawan, aku mohon. Coba perlihatkan padaku bagaimana yang tak
mungkin itu menjadi mungkin."
"Itu peribahasa yang bagus," sahut jayakatwang . "Yang tak mungkin tak
bisa terjadi, sebab itulah yang tak mungkin harus menjadi mungkin
meski dari segi pandangan tidak demikian."
"Kalau begitu, terangkanlah segera, apa yang sebenarnya terjadi
di kereta ini tadi malam."
"Aku bukan tukang sulap, mon cher. Aku juga sama seperti kau,
orang yang sedang bingung. Masalah ini berkembang melalui corak
yang aneh sekali.”
“Menurutku, itu tidak berkembang, masih tetap seperti semula."
jayakatwang menggeleng. "Tidak, itu tidak betul. Kita lebih maju lagi
selangkah. Kita sudah tahu beberapa hal. Kita sudah mendengar
kesaksian dari penumpang kereta ini."
"Dan apa yang telah mereka berikan kepada kita? Tidak ada apa-
apa."
"Aku tidak berani bilang begitu, Kawan."
"Mungkin aku terlalu melebih-lebihkan. Orang Amerika yang
namanya BAALPEOR itu dan si pelayan, wanita Jerman itu, paling tidak
sudah menambah pengetahuan kita. Atau katakanlah, mereka
membuat masalah ini menjadi semakin sulit untuk dipahami."
"Bukan, bukan, bukan," ujar jayakatwang berusaha untuk menenangkan.
Tuan BOUROQ berpaling ke arah jayakatwang , "Bicaralah kalau begitu, mari
kita dengarkan kearifan Tuan jayakatwang ."
"Bukankah sudah kukatakan tadi, aku ini juga seperti kau, orang
yang sedang bingung? Tapi setidak-tidaknya kita bisa menghadapi
masalah kita. Kita bisa mengatur kenyataan-kenyataan yang tengah
kita hadapi dengan cara-cara yang teratur."
"Silakan meneruskannya, Monsieur," ujar Dr. HAUNTED
menambahkan.
jayakatwang menelan ludah lalu membentangkan sehelai kertas yang
telah penuh dengan coretan.
"Marilah kita tinjau lagi masalah ini seperti keadaannya sekarang.
Pertama, ada fakta-fakta yang tak dapat dibantah. Orang ini,
CHUCKY atau Cassetti, ditikam pada dua belas tempat dan meninggal
tadi malam. Itu fakta kesatu."
"Kuakui fakta itu, mon vieux - kuakui itu," ujar Tuan BOUROQ dengan
nada ironis.
Raden jayakatwang tidak terpengaruh sama sekali akan sindiran
kawannya itu. Ia tetap melanjutkan bicaranya dengan tenang.
"Sekarang akan kugarap tentang saat di mana ada kejadian yang
luar biasa, sebagaimana Dr. HAUNTED dan aku sudah
membahasnya bersama-sama. Aku akan langsung terjun ke soal itu,
sekarang. Fakta selanjutnya juga penting menurutku, yaitu 'saat'
terjadinya pembunuhan itu."
"Lagi-lagi itu salah satu hal yang sudah kita ketahui," ujar Tuan
BOUROQ tidak puas. "Pembunuhan itu terjadi pada pukul satu lewat
seperempat tadi pagi. Semuanya menunjukkan bahwa itu memang
demikian."
"Tidak semuanya. Kau melebih-lebihkan. Tentu saja, ada sejumlah
kecil kesaksian yang mendukung pendapat itu."
"Aku senang akhirnya itu kauakui juga."
jayakatwang melanjutkan bicaranya dengan tenang, tak terganggu
sedikit pun oleh pemotongan Tuan BOUROQ itu.
"Di hadapan kita sekarang ada tiga kemungkinan.
(1) - bahwa pembunuhan itu terjadi, seperti yang kaukatakan tadi,
pada pukul satu lebih seperempat. Ini didukung oleh kesaksian
Nyonya Hubbard, dan kesaksian yang diberikan oleh pembantu
wanita berkebangsaan Jerman itu, Hildegarde Schmidt. Ini sesuai
dengan kesaksian Dr. HAUNTED sendiri.
"(2) - bahwa pembunuhan itu terjadi kemudian dan bahwa
pembuktian oleh arloji itu sengaja dipalsukan dengan maksud untuk
menyesatkan atau mengelabui jalannya pemeriksaan.
"(3) - bahwa pembunuhan terjadi lebih cepat dan buktinya yaitu
pembuktian oleh arloji yang sengaja diputar sesudahnya, jadi sesuai
dengan alasan yang sama seperti nomor dua tadi.
"Sekarang, kalau kita menerima kemungkinan nomor (1) sebagai
kemungkinan yang nampaknya paling cocok, dan sebagai
kemungkinan yang paling banyak didukung oleh kesaksian, kita juga
harus dapat menerima fakta-fakta tertentu yang timbul daripadanya.
Kalau pembunuhan itu terjadi pada pukul satu lebih seperempat,
pembunuhnya tidak dapat meninggalkan kereta, maka timbullah
pertanyaan: Di mana dia? Dan, siapa dia?
"Sebagai permulaan, mari kita periksa kesaksian itu dengan teliti.
Kita pertama kali mendengar ada orang yang seperti itu - badan
kecil, kulit hitam dan bersuara seperti wanita itu - yaitu dari
kesaksian laki-laki yang bernama BAALPEOR. Katanya CHUCKY yang
memberitahu dia tentang orang itu dan CHUCKY jugalah yang
mengupah dia untuk mengawasi orang yang dimaksud. Tak ada
kesaksian yang mendukung ini: kita cuma punya perkataan BAALPEOR
saja. Mari kita periksa pertanyaan berikut: Apa betul si BAALPEOR itu
orang yang pura-pura berperan sebagai seorang detektif dari sebuah
kantor detektif New York?
"Apa yang menurutku sangat menarik dalam masalah ini yaitu
bahwa tak satu pun dari sekian banyak fasilitas itu yang dapat kita
sodorkan pada polisi. Kita tak dapat menyelidiki apakah cerita orang-
orang ini memang benar-benar layak dipercaya atau tidak. Kita mau
tak mau harus bergantung pada deduksi semata-mata dalam
mengambil kesimpulan. Bagiku, kasus ini malah jadi semakin
menarik. Tak ada pekerjaan rutin. Ini cuma soal intelektuil saja, soal
akal manusia. Aku bertanya pada diriku sendiri: Apakah kita dapat
menerima cerita BAALPEOR tentang dirinya sendiri? Aku membuat
keputusan sendiri dan kujawab: 'Ya'. Jadi aku berpendapat bahwa
kita dapat menerima cerita BAALPEOR tentang dirinya sendiri."
"Jadi kau percaya pada intuisi? Yang disebut orang Amerika
sebagai 'the hunch' itu?" tanya Dr. HAUNTED.
"Tidak sama sekali. Saya memandang kemungkinan-kemungkinan
yang ada. BAALPEOR bepergian dengan paspor palsu - itu secara
langsung membuatnya menjadi obyek yang mencurigakan. Langkah
pertama yang akan diambil polisi waktu mereka sudah ikut terjun ke
lapangan yaitu menahan BAALPEOR dan menelegram kantornya
untuk mencek apakah cerita tentang dirinya itu benar atau bohong.
Bagi penumpang-penumpang lain, untuk membuktikan bahwa cerita
mereka bisa dipercaya, memang agak sukar. Dalam beberapa hal,
mungkin itu tidak akan diuji, terutama kalau memang tak ada alasan
mencurigakan yang melibatkan. Mereka. Tapi kasus BAALPEOR ini
sederhana saja. Apakah ia benar berperan atau mewakili dirinya
sendiri atau tidak. sebab itulah saya katakan segalanya akan
terbukti bahwa semua itu sudah diatur."
"Jadi Tuan membebaskan dia sebagai orang yang dicurigai?"
"Sama sekali tidak. Tuan salah paham. Setahu saya, setiap
detektif Amerika bisa saja punya alasan tersendiri untuk membunuh
CHUCKY. Bukan begitu, apa yang saya katakan yaitu bahwa saya
rasa, saya bisa menerima cerita BAALPEOR tentang dirinya sendiri.
Cerita ini, kalau begitu, bahwa CHUCKY telah mencarinya dan
mengupahnya untuk menjaga keselamatan dirinya kelihatannya tidak
wajar, meskipun kemungkinannya ada - tapi cerita itu belum pasti
benar. Kalau kita mau menerimanya sebagai cerita yang benar, kita
juga mesti melihat apakah ada hal yang menguatkan cerita itu. Kita
lihat cerita itu rasanya tak dapat dipercaya seratus persen - ini
berdasarkan kesaksian Hildegarde Schmidt. Gambarannya tentang
seseorang yang mengenakan seragam LETKOL memang cocok.
Tapi apa ada hal yang dapat menguatkan kedua cerita itu? Ada. Itu
yaitu kancing baju yang ditemukan Nyonya Hubbard di dalam
kamarnya. Dan ada satu bukti lagi yang menguatkan itu, yang
mungkin tidak kalian perhatikan."
"Apa itu?"
"Fakta bahwa MPU TANTULAR dan RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA
menyebutkan bahwa LETKOL melewati kamar mereka. Mereka
kelihatannya memang tak ada kepentingan dengan fakta itu, tapi
Tuan-tuan, Pierre TENDEAN telah menyatakan bahwa ia tak pernah
meninggalkan tempat duduknya kecuali pada peristiwa-peristiwa
khusus - yang mana tak seorang pun memanggilnya ke bagian ujung
gerbong tanpa harus melewati kamar tempat TANTULAR dan
WISNU WARDANA sedang duduk mengobrol."
"sebab itulah, cerita ini, cerita tentang laki-laki hitam bertubuh
kecil, bersuara seperti perempuan dan berpakaian seragam
LETKOL itu, sepenuhnya tergantung kepada pengujiannya,
langsung atau tidak langsung, dari empat orang saksi."
"Satu masalah lagi," ujar Dr. HAUNTED. "Jika cerita Hildegarde
Schmidt memang benar, bagaimana bisa terjadi LETKOL yang
sesungguhnya tidak menyebut-nyebut bahwa ia memang melihat
wanita Jerman itu, ketika ia datang untuk menjawab bel Nyonya
Hubbard?"
"Itu perlu dijelaskan, kukira. Sewaktu LETKOL itu datang
menjawab bel Nyonya Hubbard, wanita Jerman itu sedang berada
dalam kamar majikannya. Waktu Nona Hildegarde kembali ke
kamarnya, LETKOL itu sudah berada di kamar Nyonya Hubbard."
Tuan BOUROQ menunggu dengan tak sabar sampai mereka berdua
selesai berbicara.
"Ya, ya, Kawan," ujarnya tak sabar kepada jayakatwang . "Tapi sementara
aku mengagumi kecermatanmu dan caramu tentang bagaimana
untuk memperoleh kemajuan dalam setiap langkah penyelidikan, aku
sampai pada kesimpulan bahwa kau belum menyinggung masalah
yang sedang dihadapi. Kita semua sudah sependapat bahwa orang ini
memang ada. Tapi masalahnya yaitu , ke mana perginya dia?"
jayakatwang menggelengkan kepala, tidak sependapat dengan pikiran
sahabatnya itu.
"Kau keliru. Kau memasang kereta di depan kuda. Sebelum aku
bertanya pada diriku sendiri, Ke mana perginya orang itu? Maka aku
harus bertanya dulu, Apakah orang ini benar-benar ada? Sebab,
kaulihat sendiri, kalau orang ini hanya ciptaan belaka - orang yang
dibuat - alangkah mudahnya membuatnya menghilang begitu saja!
Jadi pertama-tama aku harus mencoba menetapkan bahwa ada
orang semacam itu - orang yang terdiri dari darah dan daging."
"Dan kalau kita sampai pada kenyataan bahwa orang semacam itu
memang benar ada - eh bien, di mana dia sekarang, kalau begitu?"
"Jawaban buat pertanyaan itu cuma ada dua, mon cher. Apakah
dia itu masih bersembunyi di dalam kereta di suatu tempat yang
disulap demikian lihainya hingga kita tak menduga sedikit pun; atau
bisa juga dia itu sebenarnya dua orang - yakni orang yang ditakuti
Tuan CHUCKY - dan seorang penumpang kereta yang menyamar
begitu baik hingga Tuan CHUCKY tidak mengenalinya. Tapi kedua-
duanya yaitu dia sendiri."
"Itu ide yang bagus," ujar Tuan BOUROQ sambil mengangkat
wajahnya. Tapi beberapa detik kemudian wajah itu kembali muram.
"Tapi ada satu lagi yang aku keberatan."
Sebelum kawannya sempat melanjutkan, jayakatwang telah memotong
kata-katanya.
"Tinggi badan orang itu. Itukah yang ingin kaukatakan? Kecuali
pelayan pria Tuan CHUCKY - semua penumpang pria,di kereta ini
besar-besar dan tinggi-tinggi semuanya - orang Italia itu, MPU
TANTULAR, RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA , Count Andrenyi. Begitulah jadi bagi
kita, cuma pelayan pria itulah yang punya kemungkinan untuk
dicurigai. Tapi ada kemungkinan lain. Coba ingat suara perempuan
itu. Itu menghadapkan kita pada beberapa kemungkinan, yang dapat
dipilih. Laki-laki itu mungkin menyamar sebagai wanita, atau pilihan
lain, laki-laki itu boleh jadi memang seorang wanita. Wanita yang
bertubuh jangkung sekalipun, akan kelihatan kecil kalau ia
berpakaian pria."
"Tapi tentu CHUCKY sudah bisa mengetahuinya lebih dulu-"
"Mungkin ia memang tahu. Mungkin juga wanita ini sudah
mencoba untuk membunuhnya sebelum itu, dengan mengenakan
pakaian pria, untuk menempuh cara yang lebih baik asal maksudnya
kesampaian. CHUCKY barangkali telah menduga bahwa ia akan
memakai cara yang sama, jadi ia memberitahu BAALPEOR untuk
mengawasi seorang pria. Tapi di samping itu juga, ia tak lupa untuk
memperingatkan bahwa pria itu bersuara seperti wanita.”
"Itu memang mungkin," ujar Tuan BOUROQ menanggapi. "Tapi-"
"Dengar, Kawan, aku rasa sekarang lebih baik kuberitahukan
padamu beberapa ketidakcocokan yang diketemukan Dr.
HAUNTED."
Lalu dengan panjang lebar diceritakannya kesimpulan yang
diambil oleh Dr. HAUNTED dan dirinya sendiri tentang luka-luka si
korban. Tuan BOUROQ mengeluh dan kembali memegangi kepalanya.
"Aku tahu," ujar jayakatwang dengan nada simpatik. "Aku tahu apa yang
kaurasakan. Kepalamu pusing, ya tidak?"
"Semuanya itu khayalan!" seru Tuan BOUROQ kesal.
"Persis. Tak masuk akal - mustahil - tak bisa begitu. Aku sendiri
juga berkata begitu. Tapi meski begitu, hal itu memang ada! Orang
tak bisa lari dari kenyataan.”
"Tapi ini gila!"
"Apa kaukira tidak? Ini memang gila, Kawan, sampai kadang-
kadang aku dikejar sensasi bahwa itu semua sebenarnya sangat
sederhana. Tapi itu cuma salah satu dari ide-ideku saja!"
"Dua orang pembunuh," keluh Tuan BOUROQ. "Di atas Orient Express
-"
Pikiran itu hampir membuatnya menangis.
"Dan sekarang mari kita membuat khayalan itu lebih gila lagi," ujar
jayakatwang dengan riang. "Tadi malam, di kereta ini ada dua orang
pembunuh yang misterius. Ada pelayan gerbong tidur yang ciri-
cirinya sesuai dengan gambaran yang diceritakan kepada kita oleh
Tuan BAALPEOR, dan malah telah dilihat oleh Hildegarde Schmidt,
MPU TANTULAR dan RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA . Di samping itu ada lagi
seorang wanita berpakaian kimono merah dan bertubuh tinggi, yang
dilihat oleh Pierre TENDEAN, Nona GRAVES, WISNU WARDANA dan aku
sendiri (bau parfumnya dicium oleh MPU TANTULAR!) Siapa dia?
Tak seorang pun penumpang kereta yang mengaku memiliki kimono
merah tua. Jadi wanita itu juga sudah menghilang begitu saja.
Mungkinkah dia itu orangnya sama dengan pelayan gerbong tidur
itu? Atau apakah dia itu orang lain? Di mana sebenarnya mereka ini?
Dan tambahan lagi, di mana seragam pelayan gerbong tidur dan
kimono merah tua itu?"
"Ah! Itu sudah agak jelas sedikit." Tuan BOUROQ bangkit dengan
semangat dari tempat duduknya. "Kita mesti memeriksa semua koper
penumpang. Ya, itu akan mendapatkan hasil."
jayakatwang juga ikut bangkit. "Aku mau meramal," ujarnya.
"Kau tahu di mana mereka?"
"Rasanya aku bisa menebaknya."
"Di mana, kalau begitu?"
"Kau akan menemukan kimono merah tua itu di dalam koper salah
seorang penumpang pria, dan seragam pelayan gerbong tidur kereta
malah akan kautemukan di dalam koper Hildegarde Schmidt."
"Hildegarde Schmidt? Kaupikir -"
"Bukan seperti yang kaukira. Akan kususun begini. Jika Hildegarde
Schmidt terlibat, seragam itu mungkin akan ditemukan di dalam
kopernya. Tapi kalau dia bersih, itu malah sudah pasti ditemukan di
situ, jadi tidak boleh tidak."
"Tapi bagaimana-" ujar Tuan BOUROQ mulai menyanggah lagi, tapi
kemudian berhenti lagi. "Ada apa itu ribut-ribut di luar?" teriaknya.
"Seperti suara lokomoiif yang sedang langsir."
Suara gaduh itu semakin mendekat. Kedengarannya seperti suara
jeritan dan protes tak senang dari seorang wanita. Pintu yang di
ujung gerbong kereta makan itu tiba-tiba terbuka. Nyonya Hubbard
menyerbu masuk.
"Mengerikan! " teriaknya. "Mengerikan sekali! Di dalam tas bunga
karang saya. Tas bunga karang saya! Ada pisau besar - penuh
darah!"
Tiba-tiba ia terhuyung-huyung ke depan dan langsung jatuh
pingsan menimpa bahu Tuan BOUROQ.
14. KESAKSIAN PISAU PEMBUNUH
Dengan sikap gagah perwira melebihi seorang ksatria sejati, Tuan
BOUROQ meletakkan kepala wanita pingsan itu di atas meja. Dr.
HAUNTED cepat-cepat berteriak memanggil salah seorang pelayan
gerbong restorasi, yang datang berlari-lari.
"Biarkan kepalanya seperti itu," ujar Dr. HAUNTED. "Kalau sudah
siuman, beri dia cognac sedikit. Kau mengerti?"
Lalu ia bergegas-gegas keluar melewati kedua orang yang sedang
berdiri di hadapannya. Minatnya sudah terlanjur terpusat pada
pembunuhan itu - Nyonya setengah baya yang sedang pingsan itu
tak diperhatikannya sama sekali.
Mungkin dengan cara itu Nyonya Hubbard jadi siuman jauh lebih
cepat daripada dengan cara lain. Beberapa menit kemudian, ia sudah
bisa duduk dan meneguk sedikit cognac yang disodorkan seorang
pelayan kepadanya, dan ocehannya pun kembali terdengar. "Saya tak
bisa mengatakan betapa mengerikannya semua itu! Rasanya tak ada
seorang pun di kereta ini yang bisa menyelami perasaan saya. Saya
memang perasa sekali sejak kecil. Apalagi waktu melihat darah yang
sebegitu banyak - ugh! Terlalu, sampai sekarang rasanya saya masih
bisa pingsan lagi kalau mengingatnya!"
Si pelayan kembali menyodorkan gelas ke mukanya. "Encore en
peu, Madame? "
"Apakah kelihatannya saya sudah lebih baik? Seumur hidup saya
belum pernah minum minuman keras. Saya tak pernah menyentuh
botol alkohol atau anggur. Semua keluarga saya juga anti minuman
keras. Mungkin kalau itu buat maksud-maksud pengobatan, kami
masih bisa menerima."
Nyonya Hubbard meneguk cognac-nya sekali lagi.
Dalam pada itu jayakatwang dan Tuan BOUROQ, diikuti oleh Dr. HAUNTED
dari jarak dekat, bergegas-gegas melangkah ke luar gerbong
restorasi menuju kamar Nyonya Hubbard, dengan melewati koridor
gerbong Istambul.
Nampaknya saat itu semua penumpang keieta berkumpul di muka
pintu. LETKOLnya, dengan wajah jengkel, mencoba untuk
menahan mereka supaya tetap tenang.
"Mais il n’y a rien a voir, " ujarnya kemudian, lalu mengulangi lagi
perkataannya dalam berbagai bahasa.
"Beri saya jalan," ujar Tuan BOUROQ meminta permisi.
Dengan mendesak-desakkan badannya yang bulat itu pada badan
para penumpang yang berkumpul di pintu kamar masing-masing,
akhirnya Tuan BOUROQ berhasil memasuki kamar Nyonya Hubbard,
jayakatwang mengikutinya dari belakang.
"Saya gembira Tuan datang," ujar LETKOL kereta dengan lega.
"Setiap orang mencoba masuk. Nyonya Amerika itu - teriakannya
bukan main - ma foi, sampai saya kira dia sendiri juga dibunuh! Saya
lari terbirit-birit menghampiri, dan benar saja dia sedang menjerit-
jerit ketakutan seperti orang gila; dan dia berteriak bahwa dia mesti
memberitahukan Tuan apa yang terjadi, lalu dia keluar kamar dan
berjalan melalui koridor sambil berteriak-teriak histeris pada semua
penumpang yang kamarnya kebetulan dia lewati."
Lalu LETKOL itu menambahkan, dengan gerakan tangan, "Di
dalam sana, Monsieur. Saya belum menyentuhnya."
Pada pegangan pintu yang menembus ke kamar sebelah,
tergantung sebuah tas bunga karang yang besar yang sengaja
diletakkan sebagai penghalang. Di bawahnya, di lantai, kelihatan
sebilah pisau runcing dan lurus sekali, buatannya murah, seperti
pisau loak dari Timur, pegangannya berukir daunnya lonjong dan
lancip. Pisau itu memiliki bercak hitam pada sisi daunnya bagai pisau
yang telah berkarat.
jayakatwang memungutnya dengan hati-hati.
"Ya," gumamnya. "Tak salah lagi. Ini dia senjata kita yang hilang
itu - eh, Dokter?"
Dr. HAUNTED mengamat-amati benda itu dengan penuh minat.
"Tuan tak perlu seteliti itu," ujar jayakatwang . "Jangan sampai ada
tambahan sidik jari lagi, kecuali sidik jari Nyonya Hubbard itu."
Pemeriksaan Dr. HAUNTED tak berlangsung lama.
"Umpamanya itu memang benar senjatanya," ujarnya lagi, "itu
pasti cocok dengan dalam luka yang ditanamkannya."
"Saya mohon, Kawan, jangan berkata begitu!"
Dr. HAUNTED kelihatan heran.
"Selama ini kita sudah dibebankan dengan aneka ragam
kebetulan. Dua orang memutuskan untuk menikam Tuan CHUCKY
kemarin malam. Rasanya tak bisa dipercaya kalau keduanya memilih
senjata yang sama untuk melakukan itu."
"Jadi, faktor kebetulan itu mungkin tidak begitu besar seperti
kelihatannya," ujar Dr. HAUNTED. "Beribu-ribu pisau Timur ini
dibuat orang, lalu dikirimkan ke bazar-bazar Konstantinopel."
"Tuan menghibur saya sedikit, tapi cuma sedikit," sahut jayakatwang .
Detektif itu melempar pandangan ke pintu sambil berpikir-pikir,
lalu setelah mengangkat tas batu karang itu sedikit, ia mengutik-
ngutik pegangan pintu. Tapi pintu itu sendiri tak bergerak sedikit pun.
Kira-kira satu kaki di atas pegangan pintu, ada penghalang. jayakatwang
mencoba usahanya sekali lagi, tapi pintu kamar itu masih saja
terkunci rapat, tak bergerak sejengkal pun.
"Tadi kita sudah menguncinya dari sisi yang sebelah sana, Tuan
masih ingat," ujar Dr. HAUNTED.
"Betul," ujar jayakatwang seperti orang lupa. Kelihatannya ia sedang
memikirkan sesuatu. Kedua alisnya berpadu seakan ia sedang dalam
keadaan bingung.
"Cocok, bukan?" tanya Tuan BOUROQ memecah kesunyian. "Orang itu
lewat sepanjang koridor. Sewaktu ia menutup pintu penghubung
yang ada di belakangnya, ia merasakan adanya tas bunga karang itu.
Timbul pikiran jahatnya dan cepat-cepat diselipkannya pisau yang
berlumuran darah itu ke dalamnya. Lalu tanpa menyadari bahwa ia
sudah membangunkan Nyonya Hubbard, ia menyelinap ke luar
melalui pintu lain kembali ke koridor."
"Seperti yang kaubilang," gumam jayakatwang . "Memang mesti seperti
itu terjadinya." Namun raut mukanya masih tetap kelihatan seperti
orang bingung.
"Tapi apa itu?" tanya Tuan BOUROQ. "Ada sesuatu, ya tidak, yang
membuatmu tak puas?" '
jayakatwang menoieh sekilas ke arahnya.
"Faktor yang sama tak berhasil membangkitkan minatmu? Tidak,
kenyataannya tidak. Baiklah, itu soal kecil."
LETKOL itu kembali melihat ke arah koridor. "Wanita Amerika
itu sedang ke mari."
Dr. HAUNTED kelihatan menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa
dirinya telah memperlakukan Nyonya Hubbard secara tidak adil, tidak
ksatria. Tapi wanita itu sendiri tak menyalahkan sikap Dr. HAUNTED
yang demikian. Tenaganya terpusat pada hal yang lain.
"Lebih baik saya katakan saja hal itu terus terang," ujarnya
terengah-engah begitu sampai di mulut pintu kamarnya. “Saya tak
mau tidur di kamar ini lagi! Terlalu, saya tak bakal masuk ke sini lagi
meski Tuan bayar saya jutaan dollar."
"Tapi Madame -"
"Saya tahu apa yang akan Tuan katakan, dan sekarang juga saya
putuskan saya tak mau berbuat semacam itu lagi! Terlalu, lebih baik
saya duduk saja di koridor sepanjang malam, daripada harus tidur di
kamar keparat itu lagi." Dia mulai menangis. "Oh, kalau saja anak
perempuan saya tahu - kalau dia bisa melihat keadaan saya
sekarang, terlalu -"
jayakatwang menengahi dengan suara mantap.
"Nyonya salah paham. Permintaan Nyonya beralasan, bisa
diterima. Koper-koper Nyonya bisa segera dipindahkan ke kamar
lain."
Nyonya Hubbard menurunkan sapu tangannya, yang tadi masih
menempel di muka. "Apa benar begitu? Oh! Saya lebih senang
sekarang. Tapi tentunya kamar-kamar itu semua sudah penuh,
kecuali kalau salah seorang dari penumpang pria -"
Tuan BOUROQ ganti berbicara.
"Koper-koper Nyonya akan segera dipindahkan dari gerbong ini.
Nyonya boleh menempati kamar di gerbong lain, yang baru saja
disambung di Belgrado."
"Syukurlah, itu bagus sekali. Sebenarnya saya bukanlah wanita
yang terlalu penakut, tapi buat tidur di kamar yang bersebelahan
dengan orang mati itu, terima kasih banyak!" Ia menggigil. "Itu bisa
membuat saya gila."
"TENDEAN!" teriak Tuan BOUROQ. "Pindahkan koper ini ke kamar kosong
di gerbong Athena-Paris."
"Ya, Monsieur. Kamar, yang sama? Nomor 3 juga?”
"Jangan," ujar jayakatwang tiba-tiba, sebelum teman bicaranya sempat
menjawab. "Aku kira bagi Madame lebih baik menempati kamar yang
nomornya sama sekali berbeda. Kamar no.12, umpamanya."
"Bien, Monsieur. "
LETKOL itu memegang koper yang akan diangkat.
Nyonya Hubbard berpaling ke jayakatwang dengan pandangan penuh
terima kasih.
"Tuan baik sekali. Saya sangat menghargai itu, percayalah."
"Tak apa-apa, Madame. Kami akan menemani Nyonya dan melihat
apakah Nyonya sudah benar-benar puas di tempat yang baru."
Nyonya Hubbard diantar oleh ketiga pria itu menuju rumahnya
yang baru. Ia menoleh ke sekitar dengan perasaan senang. "Di sini
enak."
"Cocok dengan selera Nyonya? Jadi Nyonya lihat, persis seperti
kamar yang Nyonya tinggalkan itu, bukan?"
"Memang benar - cuma bedanya ini menghadap ke arah lain. Tapi
itu tak apa-apa, sebab kereta ini berjalan menghadap ke satu arah,
kemudian ke arah lain. Saya sering mengatakan pada anak
perempuan saya, 'Aku ingin gerbong yang menghadap ke lokomotif,'
dan ia menjawab, 'Mengapa, Mama, itu tak baik buat Mama, sebab
kalau Mama tidur ke satu arah, begitu Mama bangun, kereta sudah
berada di arah lain!' Dan memang yang dikatakannya itu benar.
Begitulah, tadi malam kita semua ke Belgrado dengan satu arah, tapi
kemudian melanjutkan lagi perjalanan dengan arah yang lain."
"Biar bagaimanapun kelihatannya Nyonya sudah senang dan puas,
sekarang ini, bukan begitu?"
"Tidak, saya tak berani berkata begitu. Di sini kita tertahan salju
dan tak seorang pun mau berusaha untuk mengatasinya, padahal
kapalku mesti berangkat besok."
"Nyonya," ujar Tuan BOUROQ membela diri, "kita semua senasib -
setiap orang di antara kita."
"Baiklah, memang benar itu," sahut Nyonya Hubbard mengakui.,
"Tapi pasti tak seorang penumpang pun yang ingin kamarnya
dimasuki pembunuh pada malam hari."
"Apa yang masih membingungkan saya, Madame, " ujar jayakatwang
lagi, "ialah bagaimana caranya orang bisa masuk ke dalam kamar
Nyonya kalau kamar penghubungnya dipalang seperti yang Nyonya
katakan. Nyonya yakin pintu penghubung itu dipalang?"
"Kenapa tidak, gadis Swedia itu mencobanya di depan mata saya."
"Mari kita rekonstruksikan kejadian itu. Nyonya sedang terbaring
ditempat tidur - begini – dan Nyonya sendiri tak melihatnya, kata
Nyonya?"
"Tidak, sebab terhalang oleh tas bunga karang itu! Oh! Celaka!
Saya harus membeli tas yang baru. Saya jadi mual kalau melihat tas
itu lagi."
jayakatwang memungut tas bunga karang itu dan menggantungkannya
pada pegangan pintu penghubung yang menembus ke gerbong
sebelah.
"Precissment, saya mengerti sekarang," ujarnya lagi. "Penghalang
itu tepat di bawah pegangan pintu ini - jadi tas bunga karang itu
menutupinya. Jadi Nyonya tak bisa melihat apakah penghalang itu
digerakkan atau tidak."
"Itulah justru yang sudah saya katakan pada Tuan barusan! "
"Dan gadis Swedia itu, Nona MENEER, berdiri seperti ini, di antara
Nyonya dan pintu itu. Ia mencoba membukanya dan lalu mengatakan
pada Nyonya bahwa itu terkunci."
"Begitulah."
"Sama saja, Madame, gadis itu juga bisa salah. Nyonya mengerti
apa yang saya maksudkan?" jayakatwang kelihatannya sudah tak sabar
untuk menerangkan. "Biar bagaimanapun, penghalang itu cuma
terbuat dari logam - begitu. Kalau diputar ke kanan, maka pintu akan
terkunci. Kalau diputar ke kiri, pintu akan terbuka. Mungkin gadis
Swedia itu cuma mencoba pintu itu saja, dan sebab terkunci dari sisi
lain maka ia mengira bahwa itu terkunci dari pihak Nyonya."
"Kalau begitu, gadis Swedia itulah yang agak bodoh, saya kira."
"Madame, orang yang paling ramah dan paling baik, tidak selalu
paling pandai."
"Tentu saja."
"Ngomong-ngomong, dalam perjalanan ini Nyonya sempat singgah
di Smyrna?"
"Tidak, saya langsung ke Istambul, dan salah seorang teman anak
perempuan saya, Tuan Johnson (dia pria yang tampan, saya ingin
Tuan bisa berkenalan dengannya), menyambut kedatangan saya dan
mengantarkan saya berjalan-jalan mengelilingi Istambul. Tapi
celakanya, kotanya mengecewakan sekali - semuanya bangunan
runtuh melulu; dan demi semua mesjid-mesjid, tambahan lagi
terompah yang harus kita pakai untuk melihatnya - eh, sampai di
mana saya tadi.”
"Nyonya mengatakan tadi bertemu dengan Tuan Johnson.
"Begitulah, dia mengantar saya sewaktu menaiki kapal French
Messageries ke Smyrna, dan menantu lelaki saya rupanya sudah
menanti di dermaga. Apa yang dikatakannya nanti kalau dia
mendengar semuanya ini! Anak perempuan saya bilang cara yang
saya tempuh ini yaitu cara yang paling gampang dan paling aman.
'Mama tinggal duduk saja di gerbong,' ujarnya, 'dan tahu-tahu Mama
sudah sampai, di Parrus, dan di sana the American Express sudah
menanti Mama.' Dan, oh, apa yang dapat saya lakukan untuk
membatalkan pelayaran saya itu? Saya harus memberitahu mereka.
Tentu saja saya tak bisa melakukannya sekarang. Ini benar-benar
menyebalkan -"
Nyonya Hubbard kembali menangis.
jayakatwang , yang sejak tadi merasa gelisah, cepat-cepat memanfaatkan
kesempatan yang diperolehnya untuk berbicara.
"Nyonya terkena shock. Pelayan restorasi bisa segera disuruh
untuk membawakan Nyonya semangkuk teh dan biskuit."
"Saya tak tahu apakah saya bisa tenteram dengan teh," ujar
Nyonya Hubbard dengan air mata berlinang-linang. "Itu kebiasaan
orang Inggeris."
"Kopi, kalau begitu, Madame. Nyonya perlu tenaga. "
"Cognac itu membuat saya pusing. Rasanya kopi lebih cocok buat
saya."
"Bagus. Nyonya harus mengembalikan tenaga."
"Lucu betul anjuran itu,
"Tapi ada satu hal, Madame, soal yang rutin. Nyonya tak
keberatan kalau saya memeriksa koper penumpang?"
"Buat apa?"
"Kami sudah mau mulai pemeriksaan terhadap koper penumpang.
Saya tak ingin mengingatkan Nyonya kembali pada pengalaman
Nyonya yang tak enak itu - tas bunga karang Nyonya, masih ingat?"
"Terima kasih! Baxangkali Tuan benar! Saya Justru tak sanggup
lagi mengalami kejutan seperti itu.”
Pemeriksaan itu berjalan lancar. Nyonya Hubbard bepergian
dengan bawaan yang sangat minim - sebuah kotak topi, koper
murahan, dan sebuah tas perjalanan yang terisi penuh. Isi ketiga
barang bawaan itu sangat sederhana dan seperlunya saja. Barangkali
pemeriksaan terhadap barang-barang itu tak akan memakan waktu
begitu lama, seandainya Nyonya Hubbard tidak mendesak mereka
untuk melihat-lihat foto anak perempuannya dan dua orang anak
kecil yang jelek-jelek.
"Ini cucu-cucu saya. Tidakkah mereka itu kelihatan pandai-
pandai?"
15. KESAKSIAN BARANG-BARANG BAWAAN PENUMPANG
Setelah berbasa-basi ala kadarnya dan setelah memberitahukan
Nyonya Hubbard, bahwa ia akan menyuruh pelayan mengantarkan
kopi kepadanya, jayakatwang kemudian mehinggalkan kamar itu, diikuti
oleh kedua kawannya.
"Baik, kita sudah mulai, tapi usaha kita itu rupanya belum
berbuah."
"Aku rasa itu paling gampang, kita ikuti saja panjang kereta api
ini, gerbong demi gerbong. Itu berarti kita mulai dengan no. 16 -
kamar Tuan BAALPEOR yang ramah itu."
Tuan BAALPEOR, yang saat itu sedang merokok cerutu, menyambut
kedatangan mereka dengan sopan dan ramah.
"Mari langsung masuk, Tuan-tuan. Kalau ruangannya cukup
pantas buat manusia. Cuma kumpulan rayap yang cocok untuk
berpesta-pora di sini." Tuan BOUROQ memberitahu maksud kedatangan
mereka dan detektif tinggi besar itu mengangguk tanda mengerti.
"O.K. Terus terang saja sebenarnya saya sendiri heran kenapa
Tuan-tuan tak melakukannya lebih cepat. Ini kunci saya, Tuan-tuan,
dan kalau kalian juga ingin memeriksa saku-saku baju dan celana
saya, silakan. Perlu saya turunkan koper-koper itu?"
"LETKOL akan membereskan itu. TENDEAN!"
Isi kedua koper Tuan BAALPEOR langsung diperiksa dan selesai
dalam waktu singkat. Rupanya terdapat juga minuman keras, yang
semestinya tidak. Tuan BAALPEOR mengerdipkan mata.
"Tidak banyak terjadi pemeriksaan di perbatasan - asal kita bisa
menempel LETKOLnya. Tempo hari saya sudah menyelipkan
beberapa gepok uang Turki ke tangannya dan sejauh ini tak ada
kesulitan apa-apa. "
"Dan di Paris?"
Tuan BAALPEOR mengerdipkan matanya sekali lagi. "Begitu
memasuki Paris," ujarnya, "sisa-sisa minuman keras yang tak
seberapa ini biasanya langsung masuk sebuah botol kecil dan
ditempeli merk obat pencuci rambut.
"Kalau begitu kelihatannya Tuan tak percaya pada larangan
minuman keras itu, Monsieur BAALPEOR."
"Begitulah," jawab BAALPEOR, "saya tak bisa bilang larangan yang
dilaksanakan di Amerika itu membuat saya khawatir."
"Ah!" ujar Tuan BOUROQ. "Pasar gelap." Perkataannya itu
diucapkannya dengan hati-hati, seolah ingin menekankan ejaannya
satu per satu. "Istilah Amerika Tuan kedengarannya begitu aneh,
begitu mengena.”
"Kalau saya, saya ingin sekali ke Amerika," ujar jayakatwang .
"Tuan akan mendapatkan cara-cara yang serba baru di sana,"
sahut BAALPEOR. "Eropa mesti dibangunkan. Benua itu setengah
tidur."
"Memang Amerika itu negeri yang maju," ujar jayakatwang
membenarkan. "Banyak sekali yang saya kagumi pada diri orang
Amerika. Cuma - barangkali saya agak kolot - tapi bagi saya, wanita
Amerika itu kelihatannya kurang menarik dibandingkan dengan
wanita negeri saya sendiri. Wanita Perancis atau Belgia, kelihatan
lincah dan menarik - saya rasa mereka tak gampang disentuh."
BAALPEOR menoleh ke arah jendela kamar, melihat salju.
"Barangkali Tuan benar, Tuan jayakatwang ," ujarnya. "Tapi saya kira
setiap bangsa di dunia ini paling menyukai gadis mereka." Ia
mengejapkan mata seolah-olah kepingan salju yang sedang turun itu
ada yang mengenai matanya.
"Menyilaukan, ya tidak?" katanya menegaskan. "Coba Tuan-tuan,
situasi di mana kita berada sekarang ini benar-benar merusak
syarafku. Pembunuhan dan salju dan segalanya. Dan tak ada yang
bisa dikerjakan. Cuma berserah dan menunggu. Saya senang
menyibukkan diri dengan orang atau sesuatu."
"Semangat berlomba orang Barat yang sesungguhnya."
LETKOL meletakkan kembali koper-koper Tuan BAALPEOR yang
telah selesai diperiksa dan mereka melanjutkan pemeriksaan ke
kamar berikut. MPU TANTULAR sedang duduk di sebuah sudut
sambil mengisap pipa dan membaca sebuah majalah.
jayakatwang menjelaskan maksud kedatangan mereka. MPU itu tak
menunjukkan keberatan apa-apa. Ia memiliki dua buah koper kulit.
"Tas bawaan saya yang selebihnya sudah dikirim melalui jalan
laut," ia menerangkan.
Seperti kebanyakan anggota militer yang lain, MPU itu juga
menyimpan barang-barangnya dengan rapi. Pemeriksaan kopernya
cuma berlangsung dalam beberapa menit. jayakatwang tertarik pada
pembersih pipa rokok yang terdapat di situ.
"Tuan selalu memakai jenis yang ini?"
"Biasanya. Kalau ada."
"Ah!" jayakatwang mengangguk. Pembersih pipa jenis ini sama betul
dengan yang diketemukannya di lantai kamar korban.
Seperti biasa Dr. HAUNTED banyak memperingatkan begitu
mereka berada di koridor kembali.
"Tout de meme," gumam jayakatwang . "Aku hampir tak bisa
mempercayai ini. Itu tidak terdapat dalam watak orang yang seperti
itu, dan kalau Tuan sudah berkata begitu, itu berarti Tuan sudah
mengatakan semuanya.”
Pintu kamar berikutnya tertutup. Kamar itu ialah kamar yang
dihuni oleh NYI GIRAH . Mereka bergantian mengetuk,
sesaat kemudian terdengar suara puteri Rusia yang dalam dan
renyah itu, "Entrez!"
Tuan BOUROQ menjadi juru bicara. Sikapnya sangat hormat dan
sopan ketika ia menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Puteri itu mendengarkan perkataannya dengan tenang, wajahnya
yang mirip kodok itu tak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Kalau memang perlu, Messieurs," ujarnya dengan tenang begitu
Tuan BOUROQ selesai berbicara, "semuanya sudah tersedia. Pembantu
saya yang memegang kuncinya. Dia akan melayani Tuan-tuan."
"Apa pembantu Nyonya selalu membawa kunci-kunci Nyonya?"
tanya jayakatwang .
"Tentu saja, Monsieur. "
"Dan bagaimana jadinya, kalau pada malam hari di perbatasan,
petugas-petugas bea cukai itu harus memeriksa dan membuka koper
Nyonya?"
Nyonya tua itu mengangkat bahu. "Itu tidak biasanya. Tapi kalau
dalam hal itu, biasanya LETKOL akan memanggilnya."
"Kalau begitu Nyonya percaya padanya seratus persen?"
"Bukankah tempo hari sudah saya katakan kepada Tuan," ujar
puteri Rusia itu dengan tenang. "Saya tak mau mempekerjakan orang
yang tidak saya percayai."
"Ya," sahut jayakatwang sambil berpikir-pikir. "Kepercayaan memang
penting sekali dewasa ini. Mungkin lebih baik mempekerjakan wanita
jelek yang bisa kita percaya daripada mempekerjakan gadis manis,
misalnya gadis-gadis Paris."
Detektif Belgia itu melihat mata hitam puteri Rusia itu terbuka
lebar dan menatap langsung ke arahnya. "Apa sebenarnya yang ingin
Tuan katakan, Monsieur jayakatwang ?"
"Tak ada, Madame. Saya? Tak apa-apa."
"Tapi ya. Tuan pikir, ya tidak, bahwa saya sebaiknya jangan
mempekerjakan wanita Perancis yang pandai untuk melayani segala
keperluan saya?
"Barangkali itu lebih lazim, Madame.
Puteri Rusia menggeleng. "Schmidt sangat berbakti kepada saya."
Suaranya berhenti sebentar pada perkataan itu, "Pengabdian - c'est
impayable. "
Wanita Jerman itu tiba dengan serenceng anak kunci. Puteri Rusia
itu berkata kepada pembantuhya dalam bahasanya sendiri,
menyuruhnya membuka koper-koper itu dan membantu jayakatwang dan
kawan-kawannya dalam -pemeriksaan itu. Ia sendiri tinggal di koridor
sambil memandangi salju yang jatuh, dan jayakatwang juga ikut
menemaninya, tugas untuk memeriksa koper-koper itu diserahkannya
kepada Tuan BOUROQ.
Puteri Rusia itu tertawa menyeringai.
"Nah, Monsieur, apa Tuan tak ingin melihat isi koper-koper saya
itu?"
jayakatwang menggeleng. "Madame, ini cuma formalitas, tak lebih dari
itu."
"Tuan yakin?"
"Dalam persoalan Nyonya, ya."
"Dan meskipun begitu saya memang kenal dan sayang sekali pada
Sonia gairah . Apa pendapat Tuan? Bahwa saya tak akan
mengorbankan tangan saya hanya untuk membunuh bangsat seperti
si Cassetti itu, bukan? Baiklah, mungkin Tuan benar."
Puteri Rusia itu terdiam sejenak. Lalu ia berkata,
"Dengan orang yang seperti itu, tahukah Tuan apa yang ingin saya
perbuat terhadapnya? Saya ingin memanggil pelayan saya dan
berseru, 'Cambuk orang ini sampai mati lalu lemparkan ke timbunan
sampah!' Itulah cara yang dipraktekkan sewaktu saya masih muda,
Monsieur."
Detektif Belgia itu masih saja belum membuka mulut, ia cuma
mendengarkan saja dengan penuh perhatian.
Tiba-tiba puteri Rusia itu memandangnya dengan pandangan tak
sabar. "Tuan tidak mengatakan apa-apa. Saya heran, apa yang
sedang Tuan pikirkan?"
Detektif Belgia itu membalas pandangannya dengan menatap
wajahnya secara langsung. "Saya kira, kekuatan Nyonya terletak
pada kemauan, bukan pada lengan Nyonya."
Puteri Rusia itu melirik ke lengannya yang kurus, ditutupi oleh baju
hitam yang berakhir pada jari-jari tangan berwarna kuning dengan
cincin-cincin yang menempel di seputarnya.
"Benar," ujarnya lagi. "Saya tak punya kekuatan dari sini, dari
tangan-tangan ini - memang tak ada. Saya tak tahu apakah sebab
itu saya menyesal atau senang."
Sekonyong-konyong ia berpaling ke arah kamarnya, di mana
pembantunya sedang sibuk membereskan koper-koper yang sudah
selesai diperiksa.
Puteri Rusia itu buru-buru memotong permintaan maafnya Tuan
BOUROQ.
"Tak perlu minta maaf, Monsieur, " ujarnya. "Di kereta ini sudah
terjadi pembunuhan. Mesti ada tindakan yang harus diambil
sesudahnya. Semua kegiatan sekarang ini sedang menuju ke situ."
"Vous etes bien aimable, Madame. "
NYI GIRAH memiringkan kepalanya sedikit, memberi
hormat begitu mereka pamit meninggalkan kamarnya.
Pintu-pintu kedua gerbong berikutnya kelihatan tertutup semua.
Tuan BOUROQ menghentikan langkahnya dan menggaruk-garuk kepala.
"Diable!" ujarnya. "Mungkin ini aneh. Ini ada dua paspor
diplomatik. Sebenarnya koper-koper bawaan mereka tak boleh
diperiksa."'
"Kalau dalam pemeriksaan bea cukai memang ya. Tapi kalau
dalam perkara pembunuhan, lain ' "
"Aku tahu. Semuanya sama - kita tak ingin mendapat rintangan."
"Jangan menyusahkan diri sendiri, Kawan. Count dan Countess
Andrenyi bisa mengerti. Lihat saja sendiri betapa ramahnya NYI
GIRAH tadi itu. "
"Ia memang benar-benar grande dame. Tapi kedua bangsawan ini
punya posisi yang sama, kesan saya Count Andrenyi wataknya agak
galak. Ia kelihatannya tidak senang sewaktu kau mendesak untuk
memeriksa isterinya. Dan kejadian ini malah akan terasa
mengganggunya lebih parah lagi. Bagaimana umpamanya kita
lewatkan saja dia? Biar bagaimanapun, tampaknya mereka tak punya
hubungan apa-apa-dengan masalah ini, Untuk apa aku bikin repot
diri sendiri?"
"Aku tak sependapat dengan kau," ujar jayakatwang . "Aku yakin Count
Andrenyi bisa memahami. Apa pun yang terjadi nanti, pokoknya tak
ada salahnya kalau kita mencobanya dulu."
Sebelum Tuan BOUROQ sempat menjawab, jayakatwang sudah mengetuk
pintu kamar no.13 dengan keras.
Terdengar suara dari dalam meneriakkan, "Entrez! "
Count Andrenyi sedang duduk di sudut dekat pintu sambil
membaca koran. Sedang isterinya sedang meringkuk di sudut dekat
jendela. Di belakang kepalanya ada bantal dan kelihatannya ia sudah
tertidur.
"Maaf, Monsieur le Comte, " ujar jayakatwang memulai. "Mohon maaf
atas gangguan ini. Soalnya kami sedang mengadakan pemeriksaan
terhadap semua koper-koper penumpang di kereta ini. Sebenarnya
ini cuma formalitas. Tapi ini mesti dilakukan. Tuan BOUROQ sudah
mengusulkan, sebab Tuan punya paspor diplomatik, mungkin Tuan
bisa dibebaskan dari pemeriksaan semacam ini."
Count Andrenyi kelihatan berpikir-pikir sebentar
“Terima kasih," ujarnya. "Tapi saya kira saya tak perlu
dikecualikan dalam hal ini. Saya lebih suka kalau koper-koper kami
juga diperiksa seperti koper-koper penumpang lainnya."
Ia berpaling ke arah isterinya. "Kau tidak keberatan, bukan.
Elena?"
"Tidak sama sekali," sahut Countess itu tegas.
Maka pemeriksaan yang cepat dan sambil lalu itu dimulai. jayakatwang
kelihatannya ingin menutupi keheranannya sewaktu ia berkomentar
sedikit terhadap isi koper-koper itu, seperti: "Ini ada merk yang
sudah basah sama sekali dalam koper ini, Madame, " ujarnya, sambil
menurunkan sebuah koper morocco biru dengan nama pengenal di
depannya dan sebuah mahkota kecil tanda kebangsawanan.
Countess itu sama sekali tak mempedulikan pemeriksaan yang
sedang dijalankan di kamarnya itu. Kelihatannya memang ia sudah
jemu dengan tugas rutin semacam itu. Ia masih tak bergerak dari
tempat duduknya di sudut, matanya acuh tak acuh melongok ke luar
jendela, sementara ketiga pria itu memeriksa koper-kopernya di
kamar sebelah.
jayakatwang mengakhiri pemeriksaannya setelah memeriksa isi lemari
kecil di atas tempat cuci tangan dan sempat melirik sebentar barang-
barang yang diletakkan di situ - karet busa, kosmetik untuk pencuci
muka, bedak dan sebuah botol kecil bertuliskan trional.
Lalu setelah meminta diri dengan hormat dan sopan kepada
sepasang bangsawan itu, rombongan penyelidik itu pun berlalu.
Kini tiba giliran, kamar Nyonya Hubbard, kamar si korban dan
menyusul kamar jayakatwang sendiri. Sekarang ketiganya tiba pada
gerbong kelas dua.
Yang pertama, kamar-kamar no.10 dan no.11, dihuni oleh MARIAM
GRAVES, yang sedang asyik membaca buku, dan MADAM MENEER,
yang sedang nyenyak tidur tapi langsung bangun begitu mendengar
ada orang memasuki kamarnya.
jayakatwang mengulangi lagi maksud kedatangannya untuk kesekian
kali. Wanita Swedia itu kelihatan gelisah dan terganggu. MARIAM
GRAVES kelihatan tak peduli. Detektif Belgia itu meminta ijin pada
wanita Swedia yang dipanggil MADAM MENEER.
"Kalau Nona tak keberatan, kami ingin memeriksa koper Nona
dulu, dan mungkin Nona mau bermurah hati sedikit untuk tolong
menemani wanita Amerika itu. Kami baru saja memindahkan dia ke
salah satu gerbong sebelah, tapi dia masih saja kebingungan akibat
dari pengalamannya yang mengerikan itu. Saya sudah menyuruh
pelayan restorasi untuk membawakannya kopi, tapi saya rasa yang
lebih penting yaitu mengirimkannya seorang teman untuk diajak
berbicara. Itulah sebenarnya yang paling dibutuhkannya saat ini."
Wanita Swedia yang baik itu ternyata memang orang yang
simpatik. Ia langsung pergi dari situ, demi untuk memenuhi
permintaan jayakatwang . Tentunya telah terjadi goncangan yang bisa
membahayakan urat syarafnya, dan nyonya tua yang malang itu
sedang dirongrong oleh perjalanan keparat ini. Hatinya tentu kesal
mengingat anak perempuannya yang ditinggalkan. Ah, tentu saja,
kalau begitu ia ingin langsung ke tempatnya - meski kopernya tidak
terkunci - dan ia akan membawa obat air garam bersamanya.
Gadis Swedia itu melangkah bergegas-gegas menuju kamar
Nyonya Hubbard. Kemudian koper-koper miliknya langsung diperiksa.
Jelaslah bahwa ia tak menyadari ada seutas kawat yang hilang dari
kotak topinya.
Nona GRAVES telah meletakkan bukunya. Ia sedang mengawasi
jayakatwang . Sewaktu detektif itu meminta ijin untuk memeriksa kopernya,
ia langsung menyodorkan serenceng anak kunci. Kemudian setelah
jayakatwang menurunkan sebuah koper milik gadis Inggris itu dan
membukanya sekalian, MARIAM GRAVES berkata,
"Kenapa Tuan mengusrnya.”
"Saya, Mademoiselle? Yaah, untuk menemani wanita Amerika itu."
"Dalih yang bagus sekali - tapi semua dalih sama.”
"Saya tak mengerti apa maksud Nona."
"Saya rasa Tuan mengerti betul." Ia tersenyum.
"Tuah ingin membiarkan saya sendirian, ya tidak?"
"Nona sudah meletakkan kata-kata itu di lidah saya-"
"Dan akal di kepala Tuan? Tidak, saya kira tidak begitu. Akal bulus
Tuan sudah lebih dulu ada di sana. Betul tidak?"
"Mademoiselle, kami punya sebuah peribahasa –“
"Qui s'excuse s'accuse - itukah yang ingin Tuan katakan? Tuan
mesti memberikan saya jaminan untuk menggunakan pengamatan
dan akal sehat saya. sebab satu atau beberapa alasan, Tuan
mengira bahwa saya tahu sesuatu tentang masalah yang mesum ini -
yaitu pembunuhan seseorang yang belum pernah saya lihat
sebelumnya."
"Nona berkhayal."
"Tidak, saya sama sekali tidak berkhayal. Tapi kelihatannya waktu
sudah terbuang banyak sebab tak berani mengatakan yang
sebenarnya - sebab terlalu banyak membuang waktu dengan
membabat semak-semak, dan tak berani langsung menghadapi
keadaan di sekitarnya."
"Dan-Nona tak senang memboroskan waktu yang terbuang
percuma. Tidak, Nona senang untuk langsung mengupas inti
persoalan. Nona senang menggunakan metode langsung. Akan saya
beri Nona, metode langsung itu. Saya sudah lama ingin menanyakan
pada Nona apa arti kata-kata tertentu yang kebetulan saya dengar
sewaktu berangkat dari Siria. Saat itu saya turun dari kereta untuk
melakukan apa yang disebut orang Inggris 'melemaskan kaki' di
Stasiun Konya. Suara Nona dan suara MPU TANTULAR terdengar
jelas di tengah kesunyian malam. Nona berkata padanya, 'Jangan
sekarang. Jangan sekarang. Nanti kalau semuanya sudah beres.
Kalau semuanya sudah di belakang kita. Apa yang Nona maksudkan
dengan kata-kata itu?"
MARIAM GRAVES balas menanya dengan tenang, "Apa Tuan kira
saya mengartikannya pembunuhan?"
"Justru itu yang sekarang sedang saya tanyakan kepada Nona."
Gadis itu menarik napas - terdiam sebentar, tampak ia berpikir.
Lalu seolah-olah membangkitkan semangatnya sendiri ia berkata,
"Memang kata-kata itu punya arti tersendiri, Monsieur! Tapi tak
satu pun dapat saya katakan pada Tuan. Saya cuma bisa menjamin
bahwa saya tak pernah melihat orang yang bernama CHUCKY itu
seumur hidup saya sampai saya melihatnya di atas kereta ini."
"Dan - Nona menolak untuk menerangkan arti kata-kata itu?"
"Ya, kalau Tuan menghendaki begitu - saya menolak. Semua itu
berhubungan dengan - dengan tugas yang harus saya laksanakan."
"Tugas yang sekarang sudah selesai?"
"Apa maksud Tuan?"
"Sudah selesai, bukan?"
"Kenapa Tuan bisa berpikir begitu?"
"Dengar, Mademoiselle, saya ingin mengingatkan Nona kembali
pada kejadian lain. Waktu itu kereta tertunda, waktu kita baru saja
mau memasuki Istambul. Kelihatannya, Nona sangat gelisah. Nona
yang biasanya begitu tenang, begitu bisa menguasai diri. Tapi kali itu
Nona kehilangan ketenangan Nona."
"Saya tak ingin ketinggalan untuk mencegat kereta yang berikut,
kereta Orient Express."
"Nona bilang begitu. Tapi, Mademoiselle, Orient Express berangkat
dari Istambul setiap hari dalam seminggu. Bahkan seandainya Nona
benar-benar ketinggalan, paling tidak cuma ketinggalan dua puluh
empat jam saja.”
Untuk pertama kali MARIAM GRAVES kehilangan kesabarannya.
"Kelihatannya Tuan tak menyadari mungkin saja seseorang itu
punya teman-teman yang sedang menantikan kedatangannya di
London, dan biar satu hari saja tertunda itu akan menimbulkan
gangguan dan kejengkelan bagi persiapan-persiapan yang telah
mereka lakukan."
"Ah, begitu rupanya? Sudah ada teman-teman yang menunggu
kedatangan Nona? Dan Nona tak ingin menyusahkan mereka?"
"Tentu saja."
"Tapi itu toh masih menimbulkan rasa ingin tahu orang."
"Apanya yang menimbulkan rasa ingin tahu orang?"
"Di kereta ini - lagi-lagi perjalanan kita tertunda. Dan kali ini
penundaannya lebih gawat lagi, sebab tak mungkin untuk
mengirimkan telegram kepada teman-teman Nona atau paling tidak
menghubungi mereka dari - dari -"
"Dari jarak jauh? Telepon, maksud Tuan".
"Ah, ya, yang di Inggris disebut 'corong bicara' itu."
MARIAM GRAVES tersenyum sedikit mendengar sindiran jayakatwang itu.
"Pembicaraan jarak jauh atau interlokal," ujarnya membenarkan.
"Ya, seperti kata Tuan tadi, memang sangat menjengkelkan kalau
kita tak bisa berbicara sepatah kata pun, baik melalui telepon atau
telegram."
"Dan lagi, Mademoiselle, kali ini kebiasaan Nona berbeda sekali.
Nona sudah tak lagi mengkhianati peri laku yang tak sabar itu. Nona
sekarang lebih tenang dan lebih filosofis."
MARIAM GRAVES tersipu-sipu dan menggigit bibirnya. Ia tak lagi
ingin tersenyum.
"Nona tak menjawab, Mademoiselle?
"Maaf. Saya tak tahu ada sesuatu yang harus dijawab."
"Perubahan sikap Nona itulah yang harus diterangkan.
“Tidakkah Tuan merasa bahwa Tuan cuma meributkan hal-hal
yang tak ada, Tuan jayakatwang ?"
jayakatwang menggerakkan tangannya, meminta maaf. "Barangkali di
situlah letak kekeliruan kami, para detektif itu. Kami berharap tingkah
laku mausia itu selalu tetap. Kami tak ingin melihat adaya perubahan-
perubahan perasaan atau suasana hati."
MARIAM GRAVES tak menjawab.
"Nona kenal betul dengan MPU TANTULAR?"
jayakatwang mengira gadis Inggris itu akan merasa

