iblis dan setan

  


Secara etimologis, kata Al-jin berasal dari kata janna artinya bersembunyi. 

Dinamai Al-jin sebab  tersembunyi dari pandangan manusia. Kata lain yang 

berasal dari kata janna yaitu  jinnah, artinya perisai, dinamai demikian sebab  

menyembunyikan kepala prajurit yang memakainya; Jannah artinya surga atau 

taman, dinamai demikian sebab  taman tersembunyi oleh pohon-pohon yang 

rindang; janin artinya jabang bayi, dinamai demikian sebab  tersembunyi 

didalam perut ibu1 

Jin yaitu  suatu macam makhluk yang termasuk golongan ruh yang berakal 

dan juga diberi perintah taklif (menjalankan syariat, sebagaimana halnya 

bangsa manusia, hanya saja mereka tidak memiliki  bahan-bahan kebendaan 

sebagaimana yang dipunyai oleh manusia dan oleh sebab itu lalu tertutup dari 

panca indera). Jadi mereka menurut keasliannya tidaklah dapat dilihat dari 

mata, tidak dapat diketahui bentuk hakikinya dan mereka memiliki  

kekuasaan untuk menjelmakan diri dalam bentuk lain yang kasar.  

Kata Iblis menurut sebagian ahli bahasa berasal dari kata ablasa artinya 

putus asa. Dinamai iblis sebab  dia putus asa dari rahmat atau kasih sayang 

Allah2. Iblis yaitu  makhluk pertama yang membangkang perintah Allah untuk 

bersujud di depan Nabi Adam, ia merupakan nenek moyang seluruh syaithan. 

Iblis yaitu  makhluk yang jenisnya yaitu  jin, bukan jenis manusia. Al-Qur’an 

secara tegas menyebutkan bahwa iblis yaitu  dari jenis jin. 

Syaithan (jamaknya berbunyi syayathin) yaitu  setiap yang keterlaluan, 

baik dari golongan manusia, jin atau binatang. Adapun yang lazim 

                                                             

dimaksudkan dalam agama ialah yang keterlaluan dari alam jin.3 . Dinamakan 

syaithan, dari kata; syutun (Arab: شطون) yang artinya jauh. sebab  syaithan 

dijauhkan dari rahmat Allah. (Al-Mu’jam Al-Wasith, kata: الشيطان). Jadi 

Syaithan dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut setiap makluk yang 

menentang dan membangkang,  makluk yang kerjanya mengajak kepada 

perbuatan keji dan jahat serta berbohong. 

B. Asal Mula Penciptaan Jin, Iblis, dan Syaithan 

1. Asal Mula Penciptaan Jin4 

Allah SWT menjelaskan tentang asal bahan yang dari padanya jin itu 

diciptakan olehNya, sebagaimana firmannya dalam QS. Al-Hijr [15] : 26-

27 

ْنَساَن ِمْن َصْلَصاٍل ِمْن َحَمٍإ َمْسنُونٍ  .(26)  َولَقَْد َخلَْقنَا اْْلِ

 َواْلَجانَّ َخَلْقنَاهُ ِمْن َقْبُل ِمْن نَاِر السَُّمومِ  .(27)

“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat 

kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami 

telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.“ 

Dua buah ayat diatas menunjukkan bahwa : 

a. Jin itu pada asal mulanya diciptakan dari pada api yang tiada berasap, 

sebab yang diartikan namun itu yaitu  nyala api yang murni sama 

sekali. 

b. Penciptaan jin lebih dulu daripada penciptaan manusia. 

Seperti halnya manusia, jin bertingkat-tingkat kepatuhannya kepada 

Tuhan. Ada yang saleh, selalu taat kepada perintah dan menjauhi larangan 

Allah, ada yang kurang saleh, ada yang lengah dari kewajiban, dan ada pula 

yang kafir. Golongan yang kafir inilah yang terbanyak. Allah SWT 

berfirman dalam mengemukakan cerita tentang jin yang mendengarkan 

bacaan Al-Qur’an, firman-Nya dalam QS. Al-Jin [72] : 11 

                                                         

ِلَكۖ ُكنَّا َطَرائَِق قَِدًدا .(11) اِلُحوَن َوِمنَّا ُدوَن ذََٰ  َوأَنَّا ِمنَّا الصَّ

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di 

antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. yaitu  kami 

menempuh jalan yang berbeda-beda.“ 

Maksudnya ialah bahwa diantara golongan jin itu ada yang 

sempurna kebaikannya, ada yang sedikit saja kebaikannya, ada yang tidak 

baik dan ada yang sangat tidak baik. Jadi banyak sekali macam-macam 

coraknya itu sebagaimana yang dapat disaksikan dari golongan manusia 

sendiri.  

Allah SWT berfirman pula dalam QS. Al-Jin [72] : 14-15) 

ْوا َرَشًدا .(14) ِئَك تََحرَّ  َوأَنَّا ِمنَّا اْلُمْسِلُموَن َوِمنَّا اْلقَاِسُطوَن ۖفََمْن أَْسلََم فَأُوَلَٰ

ا اْلقَاِسُطوَن  .(15)  َفَكاُنوا ِلَجَهنََّم َحَطبًاَوأَمَّ   

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang ta`at dan ada 

(pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang 

ta`at, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun 

orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu 

api neraka Jahannam.“ 

     Jelaslah bahwa diantara mereka itu ada muslim dan ada yang kafir. Yang 

muslim itulah yang nyata-nyatanya mencari petunjuk dengan amal 

perbuatannya, sedang yang kafir itu yaitu  yang nyata-nyatanya 

menganiaya dirinya sendiri, sebab suka menjadi bahan bakarnya neraka 

Jahannam. 

2. Asal Mula Penciptaan Iblis5 

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi [18] : 50  

                                                             

 

ِإَّلَّ إِْبِليَس َكاَن ِمَن اْلِجِنِّ فَفََسَق َعْن أَْمِر َوإِْذ قُْلنَا ِلْلَمََلئَِكِة اْسُجُدوا ِِلَدَم فََسَجُدوا  .(50)

ۚ بِْئَس ِللظَّاِلِميَن بََدًَّل  يَّتَُه أَْوِليَاَء ِمْن ُدونِي َوُهْم لَُكْم َعُدوٌّ  َربِِِّه ۗأََفتَتَِّخذُوَنهُ َوذُِرِّ

 

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah 

kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia yaitu  dari 

golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu 

mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain 

daripada-Ku, sedang mereka yaitu  musuhmu? Amat buruklah iblis itu 

sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.“ 

Jadi dari ayat ini  kita dapat mengetahui bahwa iblis yaitu  sebangsa 

jin yang membangkang perintah Allah. Iblis itu akan tetap hidup sampai hari 

kiamat. Ia sendiri dahulu memang pernah meminta kepada Allah SWT agar 

dinantikan yakni tidak dimatikan sampai hari kiamat dan permintaannya itu 

dikabulkan oleh Allah SWT, sebagaimana yang difirmankan dalam QS.  

Shaad [38] : 80-81  

َك ِمَن اْلُمْنَظِرينَ قَاَل فَِإنَّ  .(80)  إِلَىَٰ َيْوِم اْلَوْقِت اْلَمْعلُومِ  .(81)             

“Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi 

Tangguh. Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari 

kiamat).” 

3. Asal Mula Penciptaan Syaithan6 

Jin yang membangkang perintah Allah itulah yang dinamakan syaithan. 

Kata-kata syaithan sering dimaksudkan sebagai sifat yang menempel 

kepada jin dan manusia sebagaimana dinyatakan dalam QS An-Naas [114] 

: 1-6  

ِه النَّاِس  .(3) ِ النَّاِس  .(1) َمِلِك النَّاس .(2) إِلََٰ  قُْل أَُعوذُ بَِربِّ

                                                             

 

يَُوْسِوُس فِي ُصُدوِر النَّاِس الَِّذي  .(5)    ِمْن َشرِِّ اْلَوْسَواِس اْلَخنَّاِس  .(4) 

 ِمَن اْلِجنَِّة َوالنَّاِس  .(6)

“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan 

menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan 

(bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) 

ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.” 

Dalam ayat ini disebutkan kata syaithan, yang dimaksudkan ialah 

pemimpin yang mengajak tetap kufur kepada Allah. Mereka yaitu  manusia 

yang dijangkiti sifat syaithan. 

C. Persamaan Jin dan Manusia 

Dari pembahasan mengenai definisi asal mula peciptaannya, kita dapat 

menemukan persamaan antara jin dan manusia. Berikut persamaannya7 : 

1. Diciptakan untuk beribadah kepada Allah 

Sebagaimana firman dari Allah SWT dalam QS. Adz-Dzariyat [51] : 56 

ْنَس إَِّلَّ ِليَعْبُُدونِ  .(56)  َوَما َخلَْقُت اْلِجنَّ َواْْلِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka 

menyembah-Ku.“ 

Jadi manusia dan jin mereka diciptakan tak lain hanya untuk beribadah 

kepada Allah SWT. 

2. Ada yang shaleh dan tidak 

Firman Allah dalam QS.  Al-Jin [72] : 11 

ِلَك ۖكُنَّا َطَرائَِق قَِدًدا .(11) الُِحوَن َوِمنَّا ُدوَن ذََٰ  َوأَنَّا ِمنَّا الصَّ

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di 

antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. yaitu  kami 

menempuh jalan yang berbeda-beda.“ 

                                                             

 

Seperti halnya manusia, jin bertingkat-tingkat kepatuhannya kepada Allah 

SWT. Ada yang lengah dari kewajiban, ada yang shaleh, dan adapula yang 

kafir. 

3. Akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat 

 Firman Allah dalam QS. Al-An’am [6] : 130 

 

وَن عَلَْيكُْم آيَاتِي َويُنِْذُرونَكُْم ِلقَاَء    .(130)  يَا َمْعَشَر اْلِجِنِّ َواْلْنِس أَلَْم يَأْتِكُْم ُرسٌُل ِمْنكُْم يَقُصُّ

ْنيَا َوَشِهدُوا َعلَى أَْنفُِسِهْم أَنَُّهْم كَانُوا يَْوِمكُْم َهذَا قَالُوا  تُْهمُ اْلَحيَاةُ الدُّ َشِهْدنَا َعلَى أَْنفُِسنَا َوَغرَّ

 َكافِِرينَ 

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-

rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-

ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu 

dengan hari ini? Mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri kami 

sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi 

atas diri mereka sendiri, bahwa mereka yaitu  orang-orang yang kafir.“ 

Dalam ayat di atas, dinyatakan bahwa jin dibebani kewajiban beragama 

seperti manusia, dan akan diminta pertanggung jawaban kelak di akhirat 

sama halnya seperti manusia. 

4. Berjenis kelamin seperti manusia (laki-laki dan perempuan) 

 Firman Allah dalam QS. Al-Jin [72] : 6  

نإِس يَعُوذُوَن بِِرَجاٍل ِمَن الإِجِنِّ فََزاُدوهُمإ َرَهقًا                  .(6) ِ  َوأَنَّهُ َكاَن ِرَجاٌل ِمَن اْلإ

    “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia   

meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-

jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.“ 

Ayat ini menyebutkan jenis kelamin jin yaitu laki-laki, jika ada jin laki-laki 

maka ada pula jin perempuan. 

5. Memiliki keturunan 

 Firman Allah dalam QS. Al-Jin [72] : 50 

َوإِذْ قُْلنَا لِْلَمََلئَِكِة اْسُجُدوا ِِلَدَم فََسَجُدوا إَِّلَّ إِْبلِيَس َكاَن ِمَن اْلِجِنِّ فَفََسَق عَْن أَْمِر        .(50)

يَّتَهُ أَْوِليَاَء ِمْن دُونِي َوهُْم لَكُْم َعُدوٌّ ۚبِئَْس لِلظَّاِلِميَن بََدلً  اَربِِِّه ۗأَفَتَتَِّخذُونَهُ َوذُِرِّ  

 

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah 

kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia yaitu  dari 

golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu 

mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain 

daripada-Ku, sedang mereka yaitu  musuhmu? Amat buruklah iblis itu 

sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.“ 

Jika jin itu memiliki jenis kelamin, maka logis kalua ada ayat yang 

menjelaskan bahwa mereka itu berketurunan seperti manusia.  

 

D. Pendapat Tentang Indigo, Kelebihan atau Penyakit 

Seperti yang kita ketahui di Indonesia ada istilah yang dikenal dengan 

indigo. Indigo berdasarkan kemampuannya biasanya memiliki kemampuan 

untuk menembus dimensi lain (masa depan) atau melihat makhluk-makhluk 

halus di sekitarnya bahkan berinteraksi dengan mereka yang biasa disebut 

kemampuan interdimensional. Dalam keyakinan islam, yang memiliki 

kelebihan melihat jin dan masa depan hanyalah wali Allah saja, yaitu orang-

orang yang senantiasa dekat dan dicintai oleh Allah SWT, yaitu hanyalah 

Rasul, Nabi, dan para Waliullah.   

Menurut hasil wawancara kelompok yang dilaksanakan pada hari Jum’at, 

tanggal 25 Oktober 2019, pukul 15.30 WIB oleh narasumber Ustadz Qaem 

Aulassyahied, S.Th.I  di Perpustakaan Islamic Center Universitas Ahmad  

Dahlan beliau menjelaskan, ada 3 kemungkinan dari penglihatannya jin yang 

terjadi pada selain golongan diatas, yaitu : 

1. Ada jin yang bersemayam dalam dirinya, sehingga orang yang 

disemayami mampu melihat "teman" dari jin yang bersemayam 

ini . Tentu saja, orang ini  bisa melihat jin dan orang lain tidak 

bisa melihat sebab  orang lain tidak disemayami jin.  

2. Jin menyamar menjadi bentuk lain seperti hewan atau benda, hal ini 

menyebabkan semua manusia mampu melihat jin ini . Dan perlu 

diingat, Allah SWT telah menciptakan alam nyata untuk manusia dan 

alam ghoib untuk bangsa jin. Maka jika jin memperlihatkan diri di alam 

manusia, akan memerlukan energi yang besar dan belum termasuk 

hukuman dari Allah SWT sebab  telah melanggar hukum yang telah 

diciptakan Allah SWT.  

3. Kemungkinan yang terakhir yaitu  orang yang melihat jin ini  

melakukan dusta atas penglihatan jinnya.  

Lalu mengapa seseorang bisa disebut indigo ? Ustadz Qaem menjawab, 

ada salah satu dari leluhur anak indigo yang melakukan persekutuan 

dengan jin. Ini menyebabkan ada jin yang bersemayam dalam diri 

keturunannya. Mengenai prediksi tentang masa depan, itu sebenarnya 

pekerjaan dari jin yang bersemayam dalam dirinya dan tentunya jin 

musyrik yang banyak bertapa sehingga memiliki kekuatan yang besar dan 

mampu meramalkan masa depan dan mungkin bisa jadi itu semua skenario 

jin ini .  

Sebagai seorang muslim, kita wajib tidak percaya pada hal ini , 

kenapa? sebab  alam sesudah kematian di dunia yaitu  alam barzah. 

Adapun masalah melihat orang meninggal, itu sebenarnya bukanlah orang 

yang sudah meninggal, itu yaitu  kerjaan dari jin musyrik yang menyerupai 

orang yang sudah meninggal. Sebenarnya, ada cara yang digunakan untuk 

menghilangkan kemampuannya. Dengan metode ruqyah, yaitu 

membacakan ayat-ayat suci Allah disamping orang yang dijuluki indigo 

ini . Namun, perlu kita tahu, jika seorang itu merupakan indigo kuat 

dalam artian jin yang didalamnya kuat, maka akan lebih lagi tingkatan 

dalam ruqyahnya, namun tetap saja bisa dihilangkan selama ia mau untuk 

menghilangkannya. Selama ada niat dalam dirinya sendiri.  

Jadi sebetulnya anak indigo ini bukan merupakan kemampuan khusus 

namun berada dalam gangguan jin sehingga ia bisa menyaksikan hal-hal 

yang diluar kemampuan normal manusia. 

E. Cara Syaithan Menguasai Manusia  

Untuk dapat menguasai dan membuat manusia lupa dengan Allah SWT, 

syaithan menempuh dua cara : Pertama, tadhlil (menyesatkan) dan takhwif 

(menakut-nakuti). Berikut ini penjelasannya8 : 

a. Tadhlil 

Langkah-langkah yang ditempuh syaithan dalam menyesatkan manusia itu 

paling kurang ada delapan : 

1. Waswasah (Bisikan) 

Allah berfirman dalam QS. An-Naas [114] : 1-6  

ِه النَّاِس  (3) ِ النَّاِس  .(1) َمِلِك النَّاس (2) إِلََٰ  قُْل أَُعوذُ بَِربِّ

 ِمْن َشرِِّ اْلَوْسَواِس اْلَخنَّاِس  (4) الَِّذي ُيَوْسِوُس فِي ُصُدوِر النَّاِس  .(5)      

   ِمَن اْلِجنَِّة َوالنَّاِس  .(6)  

“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan 

menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari 

kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang 

membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin 

dan manusia.” 

Syaithan membisikkan keraguan, kebimbangan dan keinginan untuk 

melakukan kejahatan ke dalam hati manusia. Bisikan itu dilakukan 

dengan dengan cara yang sangat halus sehingga manusia tidak 

menyadarinya. Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan kita untuk 

meminta perlindungan kepada Rabb An-Naas dari bisikan syaithan 

ini . 

2. Nisyan (Lupa) 

Dalam hal ini Allah berfirman dalam QS. Al-An’am [6] : 68 

                                                             

 

َوإِذَا َرأَيإَت الَِّذيَن يَُخوُضوَن فِي آَياتِنَا فَأَعإِرضإ َعنإُهمإ َحتَّى َيُخوُضوا فِي      .(68)

ِسيَنََّك  ا يُنإ ِم الظَّاِلِمينَ َحِديٍث َغيإِرِه َوإِمَّ َد الِذِّكإَرى َمَع الإقَوإ عُدإ بَعإ َطاُن فاَل تَقإ   الشَّيإ

“Dan jika  kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-

ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka 

membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan 

kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama 

orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).“ 

Lupa memang sesuatu yang manusiawi. Tapi syaithan berusaha 

membuat manusia lupa dengan Aallah SWT, atau paling kurang 

membuat manusia menjadikan lupa sebagai alasan untuk menutupi 

kesalahan, atau menghindari tanggung jawab. 

3. Tamani (Angan-angan) 

Allah mengingatkan kita akan tekad syaithan untuk membangkitkan 

angan-angan kosong pada diri manusia dalam QS. An-Nisa [4] : 119 

 َوألِضلَّنَُّهمإ  ..……

“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan 

membangkitkan angan-angan kosong pada mereka………“  

Selanjutnya Allah menegaskan  dalam QS. An-Nisa [4] : 120 

َطاُن إاِل         .120 يإ ُغُروًرايَِعُدُهمإ َويَُمنِِّيِهمإ َوَما يَِعُدُهُم الشَّ  

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan 

angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan 

kepada mereka selain dari tipuan belaka.“ 

Syaithan berusaha memperdayakan pikiran manusia dengan khayalan 

yang mustahil terjadi dan dengan angan-angan kosong, 

4. Tazyin (Memandang baik perbuatan maksiat) 

Allah SWT mengingatkan tekad syaithan untuk melakukan tazyin 

ini  dalam QS. Al-Hijr [15] : 39-40 

تَنِي أَلَُزيَِِّننَّ لَُهمإ فِي  .(39) َويإ َمِعينَ قَاَل َرِبِّ بَِما أَغإ ِويَنَُّهمإ أَجإ ِض َوأَلُغإ َرإ األإ  

َلِصينَ  .(40) ُمخإ  إاِلَّ ِعبَاَدَك ِمنإُهُم الإ

 

 

“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan 

bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik 

(perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan 

mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di 

antara mereka." 

Syaithan berusaha dengan segala macam cara menutupi keadaan yang 

sebenarnya sehingga yang bathil kelihatan terpuji dan sebagainya. 

5. Wa’dun (Janji palsu) 

Firman Allah dalam QS. Ibrahim [14] : 22 

تُُكمإ           .(22) َحِقِّ َوَوَعدإ َد الإ َ َوَعَدُكمإ َوعإ ُر إِنَّ َّللاَّ َمإ ا قُِضَي األإ َطاُن لَمَّ َوقَاَل الشَّيإ

تُ  تََجبإ تُُكمإ فَاسإ ُكمإ ِمنإ ُسلإَطاٍن إاِلَّ أَنإ َدَعوإ تُُكمإ َۖوَما َكاَن ِلَي َعلَيإ لَفإ مإ ِلي ۖفاََل تَُلوُمونِي فَأَخإ

تُُموِن  َركإ ُت بَِما أَشإ ِرِخيَّ ۖإِِنِّي َكفَرإ تُمإ ِبُمصإ ِرِخُكمإ َوَما أَنإ َولُوُموا أَنإفَُسُكمإ َۖما أَنَا ِبُمصإ

 ِمنإ قَبإُل ۗإِنَّ الظَّاِلِميَن لَُهمإ َعذَاٌب أَِليمٌ 

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 

"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, 

dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. 

Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan 

(sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab 

itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. 

Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak 

dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan 

perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". 

Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang 

pedih.“ 

Syaithan berusaha membujuk umat manusia supaya mau mengikutinya 

dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan yaitu keuntungannya 

yang akan mereka peroleh jika mau menuruti ajakannya. Di akhirat 

nanti syaithan mengakui bahwa janji-janji yang diberikannya kepada 

umat manusia dulu di dunia yaitu  janji-janji palsu yang dia pasti tidak 

mampu menepatinya. 

 

 

6. Kaidun (Tipu daya) 

Allah menegaskan bahwa tipu daya dari syaithan itu lemah dalam 

firman-Nya QS. An-Nisa [4] : 76 

ِ َوالَِّذيَن َكَفُروا يُقَاِتلُوَن ِفي َسبِيِل           .(76) الَِّذيَن آَمُنوا يُقَاِتلُوَن ِفي َسبِيِل َّللاَّ

َطاِن َكاَن َضِعيفًا يإ َطاِن إِنَّ َكيإَد الشَّ يإ ِليَاَء الشَّ  الطَّاُغوِت فَقَاتِلُوا أَوإ

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-

orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah 

kawan-kawan setan itu, sebab  sesungguhnya tipu daya setan itu 

yaitu  lemah.“ 

Syaithan berusaha dengan segala macam tipu daya untuk menyesatkan 

umat manusia. Akan tetapi sebenarnya tipu daya syaithan itu tidak ada 

pengaruhnya bagi orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah 

SWT. 

7. Shaddun (Hambatan) 

Syaithan berusaha untuk menghalang-halangi umat manusia 

menjalankan perintah Allah SWT dengan menggunakan segala macam 

hambatan. Allah  SWT mengisahkan didalam surat An-Naml bahwa 

burung Hud-Hud melaporkan kepada Nabi Sulaiman tenatng Ratu Saba 

dan rakyatnya yang telah dihalangi oleh syaithan dari jalan Allah 

sehingga mereka tidak dapat petunjuk, dalam firman-Nya QS. An-

Naml [27] : 24 

َطاُن         .(24) يإ ِس ِمنإ ُدوِن الَِّه َوَزيََّن َلُهُم الشَّ ُجُدوَن ِللشَّمإ َمَها يَسإ تَُها َوَقوإ َوَجدإ

تَُدونَ  ُهمإ َعِن السَّبِيِل فَُهمإ اَل يَهإ َماَلُهمإ فََصدَّ  أَعإ

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; 

dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-

perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), 

sehingga mereka tidak dapat petunjuk.” 

Oleh sebab itu Allah mengingatkan kepada orang-orang yang 

beriman supaya sekali-kali jangan sampai dipalingkan oleh syaithan 

dengan segala hambatan dan halangan yang dibuatnya, sebab  

sesungguhnya syaithan yaitu  musuh yang nyata. 

8. ‘Adawah (Permusuhan) 

Firman Allah dalam QS. Al-Maidah [5] : 91 

يإ    .(91) َميإِسِر إِنََّما يُِريُد الشَّ ِر َوالإ َبغإَضاَء فِي الإَخمإ َعَداَوةَ َوالإ نَُكُم الإ َطاُن أَنإ ُيوقَِع بَيإ

تُمإ ُمنإتَُهونَ  ِ َوَعِن الصَّالِة فََهلإ أَنإ ِر َّللاَّ ُكمإ َعنإ ِذكإ   َويَُصدَّ

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan 

dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan 

berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan 

sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan 

itu).” 

Syaithan berusaha menimbulkan permusuhan dan rasa saling 

membenci di antara sesama manusia, sebab  dengan permusuhan itu 

manusia akan lupa diri dan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan 

oleh Allah SWT untuk membinasakan musuh-musuhnya. Salah satu 

sebab Allah SWT melarang minum khamar dan judi yaitu  sebab  

dengan dua perbuatan itu syaithan akan menimbulkan permusuhan dan 

rasa saling membenci. 

b. Takhwif 

Langkah ini dilakukan jika syaithan tidak berhasil menyesatkan 

umat manusia dengan langkah tadhlil diatas. Takut yang dimaksud disini 

yaitu  takut menyatakan kebenaran, takut menegakkan hukum Allah, takut 

melakukan amar ma’ruf nahi munkar sebab  khawatir dengan segala resiko 

dan konsekuensinya. Contohnya resiko jatuh miskin, kehilangan jabatan, 

masuk penjara, dan lain sebagainya. Allah SWT menyatakan bahwa 

syaithan akan selalu menakut-nakuti manusia pengikutnya dalam firman-

Nya QS. Ali-Imran [3] : 175 

لِيَاَءهُ فاَل تََخافُوهُمإ َوَخافُوِن إِنإ كُ      .(175) ُف أَوإ ِمنِينَ إِنََّما ذَِلكُُم الشَّيإطَاُن يَُخِوِّ نإتُمإ ُمؤإ  

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti 

(kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), sebab  


 

itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika 

kamu benar-benar orang yang beriman.” 

Bagi orang-orang yang imannya kuat justru semakin ditakut-takuti 

semakin bertambah semangatnya, makin bertambah imannya. Bagi mereka 

cukuplah Allah yang menjadi jaminan dan menjadi penolong. 

 

F. Setiap Orang Disertai Syaithan 

Dimana setiap manusia diikuti malaikat yang senantiasa 

menghidupkan hati nurani, firman Allah dalam QS.Al-An’am [6] : 112 

ا َشيَاِطيَن اْلْنِس َواْلِجِنِّ يُوِحي بَْعُضُهْم إِلَى بَْعٍض ُزْخُرَف        .(112) ٍِّ َعُدوًّ َوَكذَِلَك َجعَْلنَا ِلكُِلِّ نَبِي

  َشاَء َربَُّك َما فَعَلُوهُ فَذَْرهُْم َوَما يَْفتَُرونَ اْلقَْوِل غُُروًرا َولَْو 

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-

setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka 

membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-

indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka 

tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-

adakan.“ 

Hadist Nabi mengatakan bahwa setiap manusia disertai teman dari jin 

termasuk Nabi juga, hanya saja jin yang mengikuti beliau dapat dikalahkan 

dengan pertolongan Allah sehingga masuk islam dan selalu membisikkan hal 

yang baik saja kepada beliau :9 

“ Tidak seorang pun dari kamu melainkan ditemani oleh seorang teman dari 

jin. Para sahabat bertanya, ‘Apakah  juga engkau, ya Rasulullah?’ Beliau 

menjawab, ‘Ya juga aku, tetapi Allah telah memberi pertolongan kepadaku 

untuk mengalahkannya, hingga ia masuk islam, ia tidak pernah membisikkan 

sesuatu kepadaku kecuali hal yang baik. “ (HR Muslim dari Aabdullah ibn 

Mas’ud) 

Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah memperingatkan kepada kita umat 

manusia bahwa syaithan yaitu  musuh manusia yang senantiasa menarik-narik 

                                                            

untuk kafir kepada Allah. Manusia akan mudah tergoda oleh syaithan bila ia 

menjauhkan diri dari hidayah Allah, pada saat itulah manusia akan hidup 

mengikuti bisikan hawa nafsunya, dan akibatnya akan mengalami kehancuran 

dan binasa. Benteng terkuat untuk menahan godaan syaithan hanyalah iman 

yang murni yang sanggup membuahkan kepatuhan melaksanakan suruhan 

Allah, dan menjauhi larangan-Nya. 

Maka dari itu tidak satu kejahatan dan kerusakan pun di muka bumi ini yang 

tidak ada hubungannya dengan syaithan.  Syaithan itulah yang mengajak umat 

manusia yang dahulu untuk berbuat keburukan yang pada lahirnya 

ditampakkan sebagai suatu hiasan dan keindahan. Kekufuran dan kemaksiatan 

dipertontonkan sebagai kebaikan dan keutamaan. Demikianlah amal perbuatan 

syaithan itu selama-lamanya10  

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl [16] : 63 

 

ِ َلقَْد        .(63) ْيَطاُن أَْعَمالَُهْم فَُهَو َوِليُُّهُم اْليَْوَم تَاَّللَّ أَْرَسْلنَا إِلَىَٰ أَُمٍم ِمْن قَْبِلَك فََزيََّن َلُهُم الشَّ

  َولَُهْم َعذَاٌب أَِليمٌ 

“Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada 

umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu 

memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi 

pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.“ 

 

G. Cara Jin Masuk Ke Dalam Diri Manusia11 

Dalam kasus ini, merasuknya jin ke dalam diri manusia, bisa jadi 

disebabkan dorongan syahwat atau rasa rindu dan cinta, sebagaimana layak 

terjadi antarmanusia. Kadang kala manusia dan jin menjalin tali perkawinan 

kemudian dapat melahirkan anak. Selain itu, boleh jadi disebabkan sebab  

dorongan rasa benci, aniaya, dan keinginan balas dendam terhadap manusia. 

                                                             

 

Hal inilah yang sering terjadi. Misalnya, seseorang secara tidak sengaja 

menyakiti jin atau jin mengira manusia sengaja menyakitinya dengan cara 

buang air kecil pada mereka, menuangkan air panas, atau membunuhnya. 

Manusia sendiri pun tidak menyadari bahwa ia telah menganggu stabilitas 

kehidupan alam jin, tetapi oleh jin hal itu dianggap sebagai suatu kesalahan 

besar yang harus dibalas melebihi kesalahan manusia ini .  

Jin sendiri tidak berhak mendiami manusia tanpa restu dari mereka. Jin 

hanya layak menempati tempat-tempat yang tidak ditempati manusia, seperti 

rumah-rumah kosong, padang pasir, rimba, atau semak-semak. Selain itu juga 

bisa juga di tempat-tempat yang kotor dan najis, seperti kamar mandi, selokan, 

tong sampah, kuburan, dan lainnya. 

 

H. Usaha-Usaha Melawan Syaithan 

Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk melawan syaithan antara lain 

:12 

1. Masuk Islam secara kaffah (utuh) dan menjauhi semua langkah-langkah 

syaithan. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2] : 208 

َطاِن إِنَّهُ     .(208) يإ ِم َكافَّةً َوال تَتَّبِعُوا ُخُطَواِت الشَّ لإ ُخلُوا فِي الِسِّ يَا أَيَُّها الَِّذيَن آَمنُوا ادإ

 لَُكمإ َعُدوٌّ ُمبِينٌ 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara 

keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. 

Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” 

2. Selalu menyadari bahwa syaithan yaitu  musuh utama, dan 

memperlakukannya sebagai musuh. Aallah berfirman dalam QS. Fathir 

[35] : 6 

َحابِ السَِّعيرِ  .(6) َبهُ ِليَُكوُنوا ِمنإ أَصإ ُعو ِحزإ ا ۚإِنََّما يَدإ  إِنَّ الشَّيإَطاَن لَُكمإ َعُدوٌّ فَاتَِّخُذوهُ َعُدوًّ

“Sesungguhnya syaitan itu yaitu  musuh bagimu, maka anggaplah ia 

musuh (mu), sebab  sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak 

                                                             

 

golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-

nyala.” 

3. Secara praktis Rasulullah SAW mengajar beberapa hal berikut : 

a. Membaca al-isti’azah  

ِجيِم “  اِن الرَّ

َ

ْيط

َّ

 الش

َ

ِ ِمن

ه

 ِباَّلل

ُ

وذ

ُ

ع

َ

 أ

(H.Muttafaqun ‘allaihi) 

b. Membaca al-Ma’uzatain (Surat Al-Falaq dan An-Nas) (HR.Nasa’i) 

c. Membaca ayat Kursi (Al-Baqarah ayat 255) (HR.Muslim) 

d. Membaca surat Al-Baqarah lengkap (HR.Muslim) 

e. Membaca Zikir 100 kali sehari  

َدهُ الَ َشِريإَك لَهُ، لَهُ اإلُملإكُ  ٍء قَِديإرٌ  الَ إِلَهَ إاِلَّ هللاُ َوحإ يِي َويُِميإُت َوهَُو َعلَى كُِلِّ َشيإ ُد يُحإ َولَهُ اإلَحمإ  

(H.Muttafaqun ‘allaihi) 

f. Mengingat Allah SWT (HR.Tirmidzi) 

g. Berwudhu tatkala marah (HR.Abu Daud).