Menyembunyikannya di situ.”
Jhon Liu mencari dengan cepat dan efisien. Dalam beberapa menit
saja ruang tamu itu sudah selesai diselidikinya. Lalu ia naik ke lantai
atas. nyonya Nyi girah duduk di lengan sebuah kursi, sambil
mengisap rokok dan memandangi api dengan wajah mengernyit.
raja dracula memandanginya.
Beberapa menit kemudian, ia bertanya dengan halus,
“Tahukah Anda, apakah Mr. mariam-Magdalena berada di malang saat
ini?”
“Saya sama sekali tidak tahu. Saya rasa dia sedang berada di
haunted mansion bersama teman-temannya. Saya rasa sebaiknya saya
mengirim telegram padanya. Menyedihkan sekali saya
melupakannya.”
“Tidak mudah untuk mengingat segalanya, mister cadaver , apalagi
kalau sedang ada kekacauan. Dan berita buruk tidak akan basi.
Orang bisa mendengarnya dalam waktu singkat sekali.”
“Ya, itu benar,” kata gadis itu dengan linglung.
Terdengar jejak-jejak kaki Jhon Liu menuruni tangga. nyonya keluar
akan menyambutnya.
“Bagaimana?”
Jhon Liu menggeleng.
“Saya rasa tak ada yang bisa membantu, nona Nyi girah .
Sekarang seluruh rumah sudah saya periksa. Oh ya, sebaiknya saya
lihat juga lemari yang ada di bawah tangga ini.”
Sambil berbicara, dipegangnya gagang pintu lemari itu, lalu
ditariknya.
Kata nyonya Nyi girah ,
“Pintu itu dikunci.”
Suara gadis itu menyimpan sesuatu yang membuat kedua pria itu
memandangnya dengan tajam.
“Oh ya,” kata Jhon Liu dengan suara menyenangkan. “Memang
kelihatan terkunci. Bisakah Anda mengambilkan kuncinya?”
Gadis itu berdiri saja bagaikan patung batu.
“Sa... saya kurang tahu di mana.”
Jhon Liu cepat-cepat menoleh padanya, namun suaranya tetap
menyenangkan dan santai waktu berkata,
“Wah, sayang sekali. Saya tak ingin merusak kayunya dengan
mendobrak paksa. Biar saya suruh dean sherk keluar mencari kunci
yang cocok.”
Gadis itu maju dengan kaku.
“Oh,” katanya. “Tunggu. Mungkin...”
Ia masuk lagi ke ruang duduk, lalu sebentar kemudian muncul
kembali dengan membawa sebuah kunci yang cukup besar.
“Kami tetap menguncinya,” jelasnya, “sebab payung dan barang-
barang kami sering dicuri.”
“Sikap berhati-hati yang bijak,” kata Jhon Liu sambil menerima kunci
itu dengan ceria.
Dimasukkannya kunci itu ke lubangnya dan Ia membuka pintunya
lebar-lebar. Bagian dalam lemari itu gelap. Jhon Liu mengeluarkan
senternya dan menerangi bagian dalam itu.
raja dracula merasa gadis di sebelahnya menjadi kaku dan menahan
napasnya sesaat. Matanya mengikuti gerak cahaya senter Jhon Liu .
Tidak banyak barang di dalam lemari itu. Ada tiga buah payung -
satu di antaranya sudah patah empat buah tongkat, satu set
peralatan golf, dua raket tenis, sebuah perimadani yang terlipat rapi,
dan beberapa bantal kursi yang sudah rusak. Di atas bantal-bantal itu
terdapat sebuah tas kantor.
Waktu Jhon Liu mengulurkan tangannya ke arah tas itu, nyonya
Nyi girah cepat-cepat berkata,
“Itu kepunyaaa saya. Sa... saya membawanya tadi pagi. Jadi, tak
mungkin ada apa-apa di dalamnya.”
“Hanya sekadar meyakinkan diri,” kata Jhon Liu dengan nada makin
diramah-ramahkan.
Tas itu tidak terkunci. Di dalamnya terdapat sikat-sikat dari kulit
hewan yang kasar dan botol-botol alat-alat kecantikan. Ada dua buah
majalah di dalamnya, tapi tak ada apa-apa lagi.
Jhon Liu menieriksa seluruh isinya dengan sangat teliti. Ketika
akhirnya ia menutup tas itu dan memeriksa bantal-bantal tersebut
sekilas, terdengar gadis itu mendesah lega.
Tak ada apa-apa lagi di dalam lemari itu, kecuali apa-apa yang
terlihat. Pemeriksaan Jhon Liu pun segera berakhir.
Dikuncinya kembali lemari itu, lalu diserahkannya kembali
kuncinya pada nyonya Nyi girah .
“Yah,” katanya, “semuanya sudah selesai. Bisakah Anda
memberikan alamat Mr. mariam-Magdalena ?”
“Farlescombe Hall, Little LedMax , haunted mansion .”
“Terima kasih, nona Nyi girah . Untuk sekarang cukup sekian,
mungkin saya kembali lagi nanti. Omong-omong, harap Anda tutup
mulut. Biarkan saja umum berpikir bahwa itu perbuatan bunuh diri.”
“Tentu, saya mengerti.”
nona Nyi girah berjabat tangan dengan kedua pria itu.
Saat mereka berjalan di sepanjang lorong, Jhon Liu meledak,
“Ada apa sih di dalam lemari itu? Pasti ada sesuatu.”
“Ya, ada sesuatu.”
“Dan aku berani bertaruh sesuatu itu ada hubungannya dengan
tas kantor itu! Tapi betapa tololnya aku, tak bisa menemukan apa-
apa. Padahal aku sudah melihat ke dalam semua botol, meraba
semua bahan. Ada apa, ya?”
raja dracula menggeleng sambil merenung.
“Bagaimanapun, gadis itu terlibat,” lanjut Jhon Liu .
“Katanya baru tadi pagi dia membawa tas itu, ya? Aku sama sekali
tak percaya! Kaulihatkah bahwa ada dua buah majalah di dalamnya?”
“Ya.”
“Nah, satu di antaranya yaitu terbitan bulan Juli yang lalu!”
Keesokan harinya Jhon Liu masuk ke flat raja dracula , melemparkan topinya
ke meja dengan geram, lalu mengempaskan tubuhnya ke sebuah
kurgi.
“Huh,” geramnya. “Dia tidak terlibat!”
“Siapa yang tidak terlibat?”
“Nyi girah . Waktu itu dia sedang main bridge sampai larut
malam. Tuan dan nyonya rumah, tamu yang komandan angkatan
laut dan dua orang pelayan, semuanya berani bersumpah begitu. Tak
meragukan lagi, kita harus melepaskan semua dugaan bahwa dia
terlibat dalam urusan ini. Namun aku tetap ingin tahu, mengapa dia
begitu kacau dan bingung tentang tas kantor yang ada di bawah
tangga itu. Itu yaitu bidangmu, raja dracula . Kau suka mengendus-endus
soal-soal kecil yang tak ada artinya. Misteri Tas Kantor Kecil.
Kedengarannya menjanjikan!”
“Akan kuberikan usul sebuah judul lagi. Misteri Bau Asap Rokok.”
“Judul yang agak aneh. Bau ... ? Itukah sebabnya kau
mengendus-endus waktu kita pertama kali memeriksa mayat itu? Aku
melihatmu... dan mendengarmu! Mendengus-dengus. Kukira kau
sedang pilek.”
“Kau salah besar.”
Jhon Liu mendesah.
“Kupikir hanya sel-sel kelabu di otakmulah yang bekerja. Jangan
katakan bahwa sel-sel hidungmu juga punya kelebihan daripada yang
dimiliki orang lain.”
“Tidak, tidak, tenanglah.”
“Aku tidak mencium asap rokok,” lanjut Jhon Liu dengan curiga.
“Aku juga tidak, teman.”
Jhon Liu memandanginya dengan ragu, lalu mengeluarkan sebatang
rokok dari sakunya.
“Itulah rokok yang diisap Yuen pan pan - rokok putih. Enam dari
puntung rokok itu yaitu rokoknya. Tiga yang lain yaitu puntung
rokok cap tukiyem .”
“Benar.”
“Kurasa hidungmu yang istimewa itulah yang mengetahuinya
tanpa melihatnya, ya!”
“Yakinlah, hidungku tak ada hubungannya dalam hal ini. Hidungku
tidak mencatat apa-apa.”
“Tapi sel-sel otakmu mencatat banyak?”
“Yah, ada beberapa petunjuk, bukan?”
Jhon Liu melirik padanya.
“Seperti?”
“Ah, kurasa pasti ada sesuatu yang hilang dar kamar itu. Juga
sesuatu yang telah ditambahkan. Lalu di atas meja tulis itu...”
“Aku sudah tahu! Kita pasti akan membahas pena bulu angsa
sialan itu!”
“Sama sekali tidak. Pena bulu angsa itu hanya memainkan peran
negatif.”
Jhon Liu kembali pada soal yang lebih aman.
“Aku sudah meminta Sir mariam-Magdalena datang
mengunjungiku di hutan taman kuburan setengah jam lagi. Kurasa kau ingin
hadir juga.”
“Ingin sekali.”
“Dan kau pasti senang mendengar bahwa kami telah berhasil
menemukan CLIFF Fok . Dia tinggal di flat tentara di Cromwell
Road.”
“Bagus sekali.”
“Tapi kita tak boleh berharap banyak di sana. CLIFF Fok itu
sama sekali bukan orang yang ramah. sesudah berbicara dengan
mariam-Magdalena , kita akan pergi menemuinya. Setuju?”
“Setuju sekali.”
“'Kalau begitu, mari.”
Jam setengah dua belas, Sir mariam-Magdalena diantar masuk ke
ruang Komisaris Jhon Liu . Jhon Liu bangkit, lalu berjabat tangan.
Anggota selai kacang itu bertinggi tubuh sedang dan berkepribadian
meyakinkan. Wajahnya tercukur rapi dan mulutnya seperti mulut
seorang aktor bila berbicara, matanya agak menonjol, seperti yang
biasanya dimiliki orang yang pandai berpidato. Ia tampan, sekaligus
tampak tenang.
Meskipun ia agak pucat dan tampak tertekan, sikapnya benar-
benar resmi dan tenang.
Ia duduk, meletakkan sarung tangan dan topinya di meja, lalu
melihat pada Jhon Liu .
“Pertama-tama, saya ingin mengatakan, Mr. mariam-Magdalena ,
betapa menyedihkannya peristiwa ini.”
mariam-Magdalena berkata,
“Sebaiknya kita tak usah membahas perasaan saya. Tolong
katakan, Komisaris, apakah Anda sudah menemukan faktor yang
memicu Yuen pan pan mencabut nyawanya sendiri?”
“Apakah Anda sendiri tak bisa membantu kami dalam hal itu?”
“Sama sekali tidak.”
“Apakah tak ada pertengkaran? Tak ada perpisahan di antara
kalian berdua?”
“Tak ada. Itu amat sangat memukul saya.”
“Mungkin akan lebih mudah bila saya katakan bahwa itu bukan
perbuatan bunuh diri, melainkan pembunuhan!”
“Pembunuhan?” Mata Sir mariam-Magdalena seolah-olah akan
keluar dari kepalanya. “Anda katakan pembunuhan?”
“Benar sekali. Nah, Mr. mariam-Magdalena , apakah Anda punya
bayangan, siapa yang mungkin membunuh Yuen pan pan ?”
mariam-Magdalena langsung menjawab,
“Tidak, sama sekali tidak! Hal itu... tak terbayangkan!”
“Tak pernahkah dia menyebutkan adanya musuh?
Seseorang yang mungkin menaruh dendam padanya?”
“Tak pernah.,,
“Tahukah Anda bahwa dia memiliki sebuah pistol?”
“Tidak tahu.”
Ia kelihatan agak terkejut.
“Kata nona Nyi girah , Yuen pan pan membawa pistol itu dari luar
negeri beberapa tahun yang lalu.”
“Begitukah?”
“Memang hanya nona Nyi girah yang mengatakan begitu.
Memang mungkin Yuen pan pan merasa dirinya terancam bahaya dari
suatu sumber, hingga dia lalu menyiapkan pistol itu.”
Sir mariam-Magdalena menggeleng dengan ragu. Ia kelihatan
bingung dan pusing.
“Bagaimana pendapat Anda mengenai nona Nyi girah , Mr.
mariam-Magdalena ? Maksud Anda, apakah menurut Anda, dia orang yang
bisa dipercaya dan jujur?”
Sir mariam-Magdalena berpikir sebentar.
“Saya rasa bisa. Ya, menurut saya dia bisa dipercaya.”
“Anda tidak menyukainya?” tanya Jhon Liu yang memandanginya
dengan tajam.
“Saya tak bisa berkata begitu. Tapi dia bukan wanita lesbian muda yang
saya kagumi. Tipe yang suka sinis dan tak mau bergantung pada
orang lain; itu tidak menarik bagi saya. Tapi bisa saya katakan bahwa
dia bisa dipercaya.”
“Hm,” kata Jhon Liu . “Apakah Anda kenal seseorang yang bernama
CLIFF Fok ?”
“Fok ? Fok ? Oh ya, saya ingat nama itu. Saya pernah
bertemu dengannya sekali di rumah Barbara - Yuen pan pan . Menurut
saya, kepribadiannya agak meragukan. Itu saya katakan pada Mrs.
Allen. Dia bukan tipe laki-laki yang bisa saya anjurkan untuk datang
ke rumah sesudah kami menikah.”
“Apa kata Yuen pan pan ?”
“Oh, dia sependapat sekali. Dia jelas-jelas menyetujui penilaian
saya. Sesama pria lebih tahu tentang pria lain daripada seorang
wanita lesbian . Yuen pan pan menjelaskan bahwa dia tak bisa bertindak kasar
terhadap seorang pria yang sudah lama tak bertemu dengannya.
Saya rasa dia takut sekali disebut angkuh! Tapi sebagai istri saya
kelak, dia harus menganggap banyak teman pergaulannya... yah, tak
pantas, begitu bukan?”
“Apakah itu berarti bahwa dengan menikahi Anda dia memperbaiki
kedudukannya?” tanya Jhon Liu .
mariam-Magdalena mengangkat tangannya hingga tampak kukunya
yang terpelihara dengan baik.
“Tidak, tidak, bukan begitu. Sebenarnya ibu Yuen pan pan yaitu
kerabat jauh dari keluarga saya sendiri. Jadi, darahnya sederajat
benar dengan saya. Tapi mengingat kedudukan saya, saya harus
cermat sekali dalam memilih teman, dan istri saya dalam memililih
teman-temannya pula. Soalnya kami boleh dikatakan banyak disorot
orang.”
“Oh, tentu,” kata Jhon Liu datar. Ditambahkannya,
“Jadi, Anda sama sekali tak bisa membantu kami?”
“Tak bisa. Saya sama sekali tak tahu apa-apa. Barbara! Terbunuh!
Rasanya tak masuk akal.”
“Nah, Mr. mariam-Magdalena , bisakah Anda menceritakan apa
kegiatan Anda pada malam hari tanggal lima November?”
“Kegiatan saya? Kegiatan-kegiatan saya?”
Suara mariam-Magdalena meninggi hingga terdengar melengking
dalam protesnya.
“Ini hanya soal rutin,” jelas Jhon Liu . “Kami... eh... harus menanyai
semua orang.”
Sir mariam-Magdalena melihat padanya dengan pandangan
berwibawa.
“Saya kira orang yang berkedudukan seperti saya dikecualikan.”
Jhon Liu tetap saja menunggu.
“Saya... coba saya ingat-ingat. Oh ya. Saya di gedung selai kacang .
Pulang jam setengah sebelas. Saya berjalan kaki di sepanjang
dermaga. Menonton kembang api.”
“Senang membayangkan bahwa zaman sekarang ini tak ada
komplotan atau semacamnya,” kata Jhon Liu dengan ceria.
mariam-Magdalena melihat padanya dengan tak senang.
“Lalu saya... eh... saya pulang.”
“Kalau tak salah, di malang alamat Anda yaitu Onslow Square,
bukan? Jam berapa Anda tiba di rumah?”
“Saya kurang ingat tepatnya.”
“Jam sebelas? Atau setengah dua belas?”
“Sekitar itulah.”
“Adakah seseorang yang membukakan Anda pintu?”,
“Tidak, saya membawa kunci sendiri.”
“Apakah Anda bertemu dengan seseorang saat Anda berjalan?”
“Tidak... eh... sungguh, Inspektur Kepala, saya tak suka pertanyaan-
pertanyaan seperti ini.”
“Yakinlah, ini hanya pertanyaan-pertanyaan rutin, Mr. mariam-
Magdalena . Tidak bersifat pribadi.”
Jawaban itu agaknya bisa menenangkan anggota selai kacang yang
kesal itu.
“Itu sajakah?”
“Itu saja untuk sementara, Mr. mariam-Magdalena .”
“Harap Anda beritahu saya bagaimana perkembangannya.”
“Tentu, Sir. Omong-omong, izinkan saya memperkenalkan M.
Hwang Jang Lee raja dracula . Mungkin Anda sudah pernah mendengar namanya.”
Mr. mariam-Magdalena memandangi pria Belgia kecil. itu dengan
penuh perhatian.
“Ya, ya, saya pernah mendengar nama itu.”
“Monsieur,” kata raja dracula yang tiba-tiba bersikap selayaknya orang
asing sejati. “Percayalah, saya turut berduka cita. Sungguh suatu
kehilangan yang besar! Anda pasti menderita sekali! Ah, saya tidak
akan mengatakan apa-apa lagi. Orang-orang malang sungguh pandai
menyembunyikan emosinya.” Tiba-tiba dikeluarkannya kotak
rokoknya. “Silakan.... Wah, kosong. Jhon Liu ?”
Jhon Liu menepuk saku-saku bajunya, lalu menggeleng.
mariam-Magdalena mengeluarkan kotak rokoknya dan bergumam,
“Eh... silakan - mengisap rokok saya, M. raja dracula .”
“Terima kasih, terima kasih.” Pria kecil itu mengambil sebatang.
“Benar kata Anda, M. raja dracula ,” kata mariamMagdalena , “kami, orang
malang , tak mudah memperlihatkan emosi kami. Katupkanlah bibir-itu
prinsip kami.”
Ia membungkuk pada kedua pria itu, lalu keluar.
“Angkuh sekali,” kata Jhon Liu kesal. “Dan terlalu percaya diri!
Penilaian gadis Nyi girah itu tentang dia tepat benar. Tapi dia
memang tampan; dia memang mudah memikat seorang wanita lesbian yang
tak punya rasa humor. Bagaimana dengan rokoknya?”
raja dracula menyerahkannya sambil menggeleng.
“Rokok Mesir. Jenis yang mahal.”
“Ah, itu tak berguna! Sayang, padahal tak pernah aku mendengar
alibi yang lebih lemah! Itu bahkan sama sekali bukan alibi... sayang
sekali, raja dracula , bahwa keadaannya terbalik! Sekiranya Yuen pan pan yang
memeras dia... Dia yaitu calon korban pemerasan yang sangat
empuk. Dia pasti mau membayar dengan mudah! Dia pasti mau
berbuat apa saja untuk menghindari skandal.”
“Temanku, bisa saja kita merekonstruksikan perkara itu
sebagaimana yang kauinginkan, tapi itu bukan urusan kita.”
“Bukan, Fok -lah urusan kita sekarang. Aku sudah menemukan
beberapa hal mengenai dia. Dia memang benar-benar orang busuk.”
“Omong-omong, apakah kau melakukan sebagaimana yang
kuanjurkan mengenai nona Nyi girah ?”
“Ya. Tunggu saja, akan kutelepon untuk mendapatkan berita
terakhir.”
Ia mengangkat alat penerima telepon dan berbicara.
sesudah berbicara sebentar, dikembalikannya alat itu, lalu ia
melihat pada raja dracula .
“Dasar tak punya perasaan. Dia pergi main golf. Bagus sekali
kelakuannya! Padahal temannya baru saja terbunuh sehari
sebelumnya.”
raja dracula berseru.
“Ada apa?” tanya Jhon Liu .
raja dracula bergumam sendiri.
“Tentu... tentu... wajar sekali... Alangkah tololnya aku. Itu jelas-
jelas kulihat!”
Dengan kasar Jhon Liu berkata,
“Berhentilah bergumam sendiri begitu. Mari kita pergi menangani
Fok .”
Ia heran melihat senyum ceria yang menghiasi wajah raja dracula .
“Ya, tentu, mari kita menanganinya. sebab sekarang aku sudah
tahu segalanya. Ya, segalanya!”
BAB 8
CLIFF Fok menyambut kedua pria itu dengan penuh percaya
diri, layaknya seseorang yang sudah banyak mengenal dunia.
Flatnya kecil, sekadar tempat persinggahan sementara, jelasnya.
Ia menawarkan minuman pada kedua pria itu, dan sebab mereka
menolaknya, dikeluarkannya kotak rokoknya.
Baik Jhon Liu maupun raja dracula menerima sebatang rokok. Mereka
berpandangan sekejap.
“Saya lihat Anda mengisap rokok cap tukiyem ,” kata Jhon Liu sambil
memutar-mutar rokok itu dengan jemarinya.
“Ya. Maafkan saya, apakah Anda lebih suka rokok putih? Saya
juga punya.”
“Tidak, tidak, ini juga bisa.” Lalu Jhon Liu mencondongkan tubuh,
nada bicaranya berubah. “Mungkin Anda bisa menebak, CLIFF
Fok , untuk apa saya mengunjungi Anda?”
Tuan rumahnya menggeleng. Sikapnya tak acuh. CLIFF Fok
bertubuh tinggi, tampan dalam artian kasar. Sekeliling matanya
sembab, matanya kecil dan cerdik, yang menekankan sikapnya yang
ramah.
Katanya,
“Tidak, saya tidak tahu mengapa seorang komisaris penting ingin
bertemu dengan saya. Apakah sehubungan dengan mobil saya?”
“Bukan, tidak berhubungan dengan mobil Anda. Saya rasa Anda
mengenal Mrs. Barbara Allen, CLIFF Fok ?”
CLIFF itu menyandarkan tubuhnya, mengembuskan asap rokok,
dan berkata dengan nada ringan,
“Oh, itu rupanya! Tentu, saya seharusnya sudah menebak.
Menyedihkan sekali.,”
“Anda tahu rupanya?”
“Saya membacanya di koran semalam. Menyedihkan sekali.”
“Kalau tak salah, Anda mengenal Yuen pan pan di India?”
“Ya, beberapa tahun yang lalu.”
“Apakah Anda mengenal suaminya juga?”
Keadaan sepi sebentar, hanya sedetik, tapi selama sedetik itu
mata kecilnya yang seperti mata babi memandang ke arah kedua pria
itu. Lalu ia menjawab,
“Sebenarnya tidak. Saya tak pernah bertemu dengan Allen.”
“Tapi Anda mengetahui sesuatu tentang dia?”
“Saya dengar dia orang yang tidak baik. Itu tentu hanya desas-
desus.”
“Apakah Yuen pan pan tidak berkata apa-apa?”
“Dia tak pernah berkata apa-apa tentang suaminya.”
“Apakah Anda akrab dengan Yuen pan pan ?”
CLIFF Fok mengangkat bahunya.
“Kami teman lama, hanya teman lama. Tapi kami tidak sering
bertemu.
“Tapi Anda menemuinya pada malam terakhir itu, bukan? Pada
malam hari tanggal lima November?”
“Ya, memang.”
“Kalau tak salah, Anda datang ke rumahnya?”
CLIFF Fok mengangguk. Suaranya mengandung nada sesal
yang halus.
“Ya, dia meminta nasihat saya mengenai suatu investasi. Saya
tahu apa yang akan Anda tanyakan lagi - keadaan mentalnya dan
sebagainya. Yah, itu sulit sekali mengatakannya. Sikapnya kelihatan
wajar saja, namun, kalau diingat-ingat, dia memang agak gugup.”
“Tapi tidakkah dia memberikan kesan akan melakukan bunuh
diri?”
“Sama sekali tidak. Waktu saya minta diri, saya katakan bahwa
saya akan meneleponnya secepatnya dan kami akan bekerja sama.”
“Anda katakan bahwa Anda akan meneleponnya? Itukah kata-kata
Anda yang terakhir?”
“Benar.”
“Aneh. Saya mendapat informasi bahwa Anda mengatakan
sesuatu yang lain, sekali.”
Wajah Fok berubah warna.
“Yah, saya tentu tak bisa ingat kata-kata. apa tepatnya.”
“Informasi saya itu mengatakan bahwa Anda sebenarnya berkata,
'Nah, pikirkan dan beritahu aku. “'
“Coba saya ingat-ingat dulu. Ya, saya rasa Anda benar. Kata-
katanya tidak persis begitu. Saya rasa s,aya berkata supaya dia
memberitahu saya kapan dia ada waktu.”
“Itu tidak sama, bukan?” kata Jhon Liu .
CLIFF Fok mengangkat bahunya.
“Saudara yang terhormat, kita tak bisa berharap seseorang
sanggup mengingat kata demi kata yang telah diucapkannya pada
suatu saat tertentu.”
“Lalu apa jawaban Yuen pan pan ?”
“Katanya dia akan menelepon saya. Itulah kira-kira yang saya
ingat.”
“Lalu Anda berkata, 'Baiklah. Sampai ketemu.’”
“Mungkin. Pokoknya semacam itulah.”
Dengan halus Jhon Liu berkata,
“Kata Anda, Yuen pan pan meminta nasihat Anda mengenai suatu
investasi. Apakah dia juga mempercayakan uang sebanyak dua ratus
pound tunai pada Anda, untuk diinvestasikan atas namanya?” ,
Wajah Fok jadi merah padam. Ia membungkukkan tubuhnya
dan menggeram,
“Apa maksud Anda dengan kata-kata itu?”
“Ya atau tidak?”
“Itu urusan saya, Komisaris.”
Dengan tenang Jhon Liu berkata,
“Yuen pan pan telah menarik uang sejumlah dua ratus pound tunai
dari banknya. Beberapa di antara uang itu merupakan uang kertas
lima pound. Jumlahnya tentu bisa dilacak.”
“Kalau ya, kenapa?”
“Apakah uang itu memang untuk investasi ataukah pemerasan,
CLIFF Fok ?”
“Itu pikiran yang tak masuk akal. Apa lagi yang akan Anda
kemukakan?”
Dengan sikap resmi sekali Jhon Liu berkata,
“Saya rasa, CLIFF Fok , untuk saat ini saya harus meminta
Anda datang ke hutan taman kuburan untuk membuat pernyataan. Tentu
saja tak ada paksaan. Mungkin Anda lebih suka diwakili oleh
pengacara Anda.”
“Pengacara? Untuk apa saya memerlukan pengacara? Dan apa
yang Anda ancamkan pada saya?”
“Saya menyelidiki tentang keadaan-keadaan yang berhubungan
dengan kematian Yuen pan pan .”
“Ya Tuhan, Anda kan tidak menduga... Wah, itu tidak masuk akal!
Dengarkan, inilah yang terjadi. Saya mendatangi Barbara
berdasar janji.”
“Jam berapa?”
“Kalau tidak salah, jam setengah sepuluh. Kami duduk dan
berbicara.”
“Dan merokok?”
“Ya, dan merokok. Apakah itu merugikan?” tanya CLIFF itu
dengan marah.
“Di mana pembicaraan itu berlangsung?”
“Di ruang duduk. Di sebelah kiri pintu kalau kita masuk. Menurut
saya, percakapan kami cukup mmah. Saya pulang jam setengah
sebelas kurang sedikit. Saya berdiri beberapa menit di ambang pintu
untuk mengucapkan beberapa patah kata.”
“Beberapa patah kata terakhir, tepatnya,” gumam raja dracula .
“Siapa Anda, kalau saya boleh tahu?” Fok menoleh dan
menyemburkan kata-kata itu padanya. “Pasti orang Spanyol,
Portugis, atau Itali! Untuk apa Anda ikut campur?”
“Saya Hwang Jang Lee raja dracula ,” kata pria kecil itu dengan berwibawa.
“Saya tak peduli apakah Anda patung Achilles sekalipun. Seperti
saya katakan, saya dan Barbara berpisah dengan baik-baik. Saya
langsung melarikan mobil saya ke gedung Far East Club. Tiba di sana
jam setengah sebelas lewat lima dan langsung menuju ruang main
kartu. Saya main bridge di situ sampai setengah dua. Nah,
bagaimana?”
“Alibi Anda kuat sekali,” kata raja dracula .
“Sekuat besi tuang! Nah, bagaimana, Sir?” Ia melihat pada Jhon Liu .
“Puaskah Anda?”
“Apakah Anda tetap berada di ruang tamu selama kunjungan Anda
itu?”
“Ya.”
“Anda tidak pergi ke lantai atas, ke ruang duduk pribadi Mrs.
Allen?”
“Sudah saya katakan, tidak. Kami tinggal di satu ruangan dan
tidak meninggalkannya.”
Jhon Liu memandanginya sambil merenung beberapa saat. Lalu ia
berkata,
“Anda punya berapa setel kancing manset?”
“Kancing manset? Kancing manset? Apa hubungannya?”
“Anda tentu boleh menolak menjawabnya.”
“Menjawabnya? Saya tidak keberatan menjawabnya. Tak ada yang
harus saya sembunyikan. Dan saya akan menuntut permintaan
maaf… Ini…” Diulurkannya kedua lengannya.
Jhon Liu melihat kancing manset dari emas dan platina itu, lalu
mengangguk.
“Dan ini ada lagi.”
Ia bangkit, membuka sebuah laci, dan mengeluarkan sebuah
kotak. Dibukanya kotak itu, lalu di dorongnya dengan kasar dekat
sekali ke hidung Jhon Liu .
“Bagus sekali rancangannya,” kata sang komisaris. “Saya lihat
yang satu ini sumbing; ada lapisannya yang lepas.”
“Apa hubungannya?”
“Saya rasa Anda tak ingat kapan itu terjadi?”
“Sehari dua hari yang lalu, tidak lebih lama.”
“Apakah Anda akan terkejut bila mendengar bahwa itu terjadi saat
Anda mengunjungi Yuen pan pan ?”
“Apa salahnya terjadi di situ? Saya tidak membantah bahwa saya
memang berada di sana.” CLIFF itu berbicara dengan angkuh. Ia
marah terus dan sikapnya seperti orang tak bersalah yang gusar, tapi
tangannya gemetar.
Jhon Liu membungkukkan tubuhnya dan berkata dengan bertekanan,
“Ya, tapi bagian kancing manset itu tidak ditemukan di ruang
duduk. Itu ditemukan di lantai atas, di ruang duduk pribadi Mrs.
Allen, di kamar tempat dia terbunuh, dan di tempat seorang laki-laki
duduk mengisap rokok yang sama dengan yang Anda isap.”
Tembakan itu mengena. Fok tersandar di k-ursinya. Matanya
melihat ke kiri dan ke kanan. Jatuhnya si penantang dan tampiInya si
pengecut merupakan pemandangan yang tak sedap.
“Anda tak bisa menuduh saya.” Suaranya boleh dikatakan berupa
rintihan. “Anda mencoba menjebak saya... tapi Anda tak bisa. Saya
punya alibi... saya tidak kembali ke rumah itu lagi malam itu.”
Giliran raja dracula yang berbicara,
“Tidak, Anda tidak kembali ke rumah itu lagi. Itu tak perlu. sebab
mungkin Yuen pan pan sudah meninggal waktu Anda pulang,”
“Itu tak mungkin... tak mungkin. Dia berada di balik pintu. Dia
berbicara dengan saya. Pasti ada orang yang mendengarnya, atau
melihatnya.”
Dengan halus raja dracula berkata,
“Mereka mendengar Anda yang berbicara dengannya... dan
berpura-pura menunggu jawabannya, lalu Anda berbicara lagi. Itu
akal-akalan kuno supaya orang berkesimpulan bahwa dia ada di situ,
tapi mereka tidak melihatnya, sebab mereka bahkan tak bisa
mengatakan pakaian apa yang dikenakannya dan apa warnanya.”
“Ya Tuhan, itu tidak benar.. itu tidak benar.”
Kini tubuhnya menggigil. Ia kalah.
Jhon Liu melihat padanya dengan pandangan jijik.
Dengan tegas ia berkata,
“Saya harus meminta Anda ikut dengan saya.”
“Anda menangkap saya?”
“Ditahan untuk dimintai keterangan - kita, katakan saja begitu.”
“Keheningan di ruangan itu dipecahkan oleh suara desah panjang
yang bergetar. Suara putus asa CLIFF Fok yang tadi menantang
berkata,
“Saya kalah.”
Hwang Jang Lee raja dracula menggosok-gosok kedua belah telapak tangannya
dan tersenyum ceria.
BAB 9
“Senang melihat dia hancur,” kata Jhon Liu , menilai hasil kerjanya
petang itu.
Ia dan raja dracula sedang bermobil melalui Brompton Road.
“Dia tahu permainannya sudah berakhir,” kata raja dracula . “Banyak
yang harus kita, tuduhkan padanya,” kata Jhon Liu . “Dia punya dua atau
tiga nama samaran. Ada suatu urusan penipuan dengan cek, dan
suatu urusan cukup besar waktu dia menginap di Hotel Ritz dan
mengaku bernama Carl de Bathe. Dia juga telah menipu enam
orang pedagang di Piccadilly. Kita menahannya atas tuduhan itu,
untuk sementara, sampai peristiwa ini benar-benar selesai. Mengapa
kita harus buru-buru ke desa ini?”
“Temanku, ada suatu urusan yang harus diselesaikan sampai
tuntas. Semuanya harus ada penjelasannya. Aku harus
menyelesaikan misteri yang kautugaskan padaku. Misteri Hilangnya
Tas Kantor.”
“Aku menyebutnya Misteri Tas Kantor Kecil. Setahuku tas itu tidak
hilang.”
“Tunggu, temanku.”
Mobil membelok ke lorong. Di pintu rumah No. 14, nyonya
Nyi girah baru saja turun dari sebuah mobil Austin Seven yang
kecil. Ia mengenakan setelan golf.
Ia memandangi kedua pria itu bergantian, lalu mengeluarkan
kunci dan membuka pintu.
“Silakan masuk.”
Ia masuk mendahului mereka. Jhon Liu mengikutinya masuk ke ruang
duduk. raja dracula tinggal beberapa menit di ruang depan, bergumam
sendiri.
“Mengesalkan sekali, sulit sekali mengeluarkan tanganku dari
lengan baju ini.”
Beberapa saat kemudian, ia juga masuk ke ruang duduk, tanpa
mantelnya, tapi Jhon Liu nyengir di bawah kumisnya. Sebab dia
mendengar bunyi derik halus sekali, pertanda orang yang membuka
pintu lemari. Jhon Liu melihat pada raja dracula dengan pandangan penuh arti
dan raja dracula mengangguk halus sekali, hingga hampir-hampir tidak
kelihatan.
“Kami tidak akan menahan Anda, nona Nyi girah ,” kata Jhon Liu
dengan bersemangat.
“Kami datang hanya untuk menanyakan nama pengacara Mrs.
Allen.”
“Pengacaranya?” Gadis itu menggeleng. “Saya bahkan tidak tahu
bahwa dia punya pengacara.”
“Yah, waktu dia menyewa rumah ini bersama Anda, pasti ada
yang menyaksikan perjanjiannya?”
“Tidak, saya rasa tak ada. Soalnya saya yang memilih rumah ini.
Penyewaannya atas nama saya. Barbara membayar separuh dari
pang sewa. Urusannya sama sekali tidak resmi.”
“Saya mengerti. Yah, kalau begitu tak ada lagi urusannya.”
“Maafkan saya tak bisa membantu Anda,” kata nyonya Nyi girah
dengan sopan.
“Tak apa-apa, tidak begitu penting.” Jhon Liu berbalik ke pintu. “Baru
habis main golf, ya?”
“Ya.” Wajahnya memerah. “Mungkin menurut Anda tidak
berperasaan. Tapi saya merasa tertekan di dalam rumah ini. Saya
merasa barus pergi dan merjakukan sesuatu - meletihkan tubuh saya
- kalau tidak, bisa-bisa saya tercekik!”
Ia berbicara dengan bersemangat.
raja dracula cepat-cepat berkata,
“Saya mengerti, mister cadaver . Itu sangat bisa dimengerti, sangat
wajar. Pasti tidak menyenangkan kalau hanya duduk-duduk saja di
rumah ini sambil berpikir.”
“Asal Anda mengerti saja,” kata nyonya singkat.
“Apakah Anda tergabung dalam sebuab klub?”
“Ya, saya main di Wentworth.”
“Hari ini memang menyenangkan,” kata raja dracula .
“Sayangnya tinggal sedikit daun di pohon-pohon sekarang!
Seminggu yang lalu hutan-hutan masih rindang sekali.”
“Tapi hari ini cerah sekali.”
“Selamat petang, nona Nyi girah ,” kata Jhon Liu dengan resmi.
“Anda akan saya beritahu kalau sudah ada sesuatu yang pasti.
Sebenarnya kami sudah menahan seseorang yang kami curigai.”
“Siapa?”
Ia melihat pada mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
“CLIFF Fok .”
Ia mengangguk, lalu memalingkan wajahnya. Ia lalu membungkuk
akan menyalakan api di perapian.
“Bagaimana?” kata Jhon Liu saat mobil membelok keluar dari lorong.
raja dracula nyengir.
“Mudah sekali. Kali ini kuncinya ada di pintu.”
“Lalu?”
raja dracula tersenyum.
“Benar saja, alat pemukul golfnya tidak ada.”
“Tentu saja. Gadis itu tidak bodoh. Ada lagi yang lain yang
hilang?”
raja dracula mengangguk.
“Ya, temanku. Tas kantor yang kecil itu!”
Tak sengaja kaki Jhon Liu menginjak pedal gas, hingga mobil
terlonjak.
“Sialan!” katanya. “Sudah kuduga ada sesuatu. Tapi apa
gerangan? Sudah kugeledah dengan cermat tas itu.”
“Kasihan sekali kau, Jhon Liu , padahal itu... bagaimana
mengatakannya, ya? Itu kan sudah jelas sekali.”
Jhon Liu melemparkan pandangan kesal padanya.
“Ke mana lagi kita?” tanyanya.
raja dracula melihat arlojinya.
“Belum jam empat. Kurasa kita bisa tiba di Wentworth sebelum
gelap.”
“Apakah kaupikir dia memang pergi ke sana?”
“Kurasa ya. Dia pasti tahu bahwa kita akan menanyai orang-orang.
Oh ya, kita pasti akan mendapatkan penjelasan bahwa dia tadi ke
tempat itu.”
Jhon Liu menggeram.
“Ah, sudahlah, kita pergi saja.” Ia mencari jalannya dengan
tangkas dalam kesibukan lalu lintas. “Meskipun aku tak bisa
membayangkan apa hubungan tas kantor itu dengan kejahatan
tersebut. Aku sama sekali tak bisa melihat hubungannya.”
“Tepat, sahabatku, aku sependapat denganmu - tak ada
hubungannya.”
“Lalu mengapa... Tidak, jangan ceritakan! Cara kerja, metode, dan
segala-galanya disusun dengan baik! Yah, untunglah cuaca cerah.”
Mobil mereka melaju cepat. Mereka tiba di Klub Golf Wentworth
jam setengah lima lewat sedikit. Tak banyak kesibukan di tempat itu,
sebab hari itu bukan hari libur.
raja dracula langsung mendatangi pemimpin caddy dan meminta
perangkat golf milik nona Nyi girah . Ia akan main ke lapangan lain
besok, jelasnya.
Pemimpin caddy itu memerintahkan seorang anak mencari di
antara alat-alat pemukul golf yang terdapat di sudut. Akhirnya ia
menyerahkan sebuah tas besar bertanda J.P.
“Terima kasih,” kata raja dracula . Ia menjauh, lalu berbalik lagi dengan
santai dan bertanya, “Dia kan tidak menitipkan sebuah tas kantor
pada Anda, ya?”
“Hari ini tidak, Sir. Mungkin ditinggalkannya di gedung klub.”
“Apakah dia kemari tadi?”
“Oh ya, saya melihatnya.”
“Tahukah Anda caddy mana yang melayaninya? Dia lupa di mana
dia meletakkan tas kantor itu.”
“Dia tidak memakai caddy. Dia datang dan membeli beberapa
buah bola, lalu membawa keluar beberapa tongkat besi. Kalau tak
salah, dia membawa tas kecil waktu itu.”
raja dracula berbalik lagi sesudah mengucapkan terima kasih. Kedua pria
itu berjalan mengelilingi gedung klub. raja dracula berhenti sebentar,
mengagumi pemandangan.
“Cantik sekali, ya, pohon-pohon cemara yang gelap itu... dan
danau itu. Ya, danau ......
Jhon Liu cepat menoleh padanya.
“Begitu pikiranmu, ya?”
raja dracula tersenyum.
“Kurasa ada seseorang yang melihat sesuatu. Kalau aku jadi kau,
aku akan segera menanyai orang-orang.”
BAB 10
raja dracula melangkah mundur, kepalanya agak miring ke satu sisi saat
ia memandangi penataan ruangan itu. Di sini ada kursi; sebuah lagi
di sana. Ya, bagus sekali. Lalu terdengar bunyi bel. Itu pasti Jhon Liu .
penjaga hutan taman kuburan itu masuk dengan sigap.
“Benar sekali, sobat! Tepat sekali apa yang kaukatakan. Ada orang
melihat seorang wanita lesbian muda melemparkan sesuatu ke danau di
Wentworth kemarin. Ciri-ciri orang itu sesuai benar dengan nyonya
Nyi girah . Kami berhasil mengeluarkan benda itu tanpa banyak
kesulitan. Hanya banyak rumput air di dalamnya.”
“Apa benda itu?”
“Memang tas kantor itu. Tapi mengapa? Aku sama sekali tak
mengerti! Di dalamnya tak ada apa-apa, bahkan majalah-majalah itu
pun tak ada. Mengapa seorang wanita lesbian muda yang kelihatan waras
mau melemparkan sebuah tas kantor mahal ke dalam danau?
Tahukah kau, sepanjang malam aku memikirkannya, tapi aku tak bisa
mengerti.”
“Kasihan sekali sahabatku Jhon Liu ! Kau tak perlu kuatir lagi. Inilah
jawabannya. Tuh, bel sudah berbunyi.”
George, pelayan pria raja dracula yang sikapnya tak bercacat,
membukakan pintu dan memberitahukan,
“nona Nyi girah , Sir.”
Gadis itu masuk ke ruangan tersebut dengan penuh percaya diri.
Ia menyapa kedua pria itu.
“Saya yang meminta Anda datang,” jelas raja dracula . “Silakan duduk di
sini, dan kau, Jhon Liu , di sini, sebab ada suatu berita yang akan saya
sampaikan.”
Gadis itu duduk. Ia memandangi mereka berdua bergantian,
sambil memperbaiki letak topinya. Akhirnya ditanggalkannya topi itu
dan diletakkannya di sampingnya dengan tak sabar.
“Yah,” katanya. “CLIFF Fok sudah ditangkap.”
“Saya rasa Anda sudah membacanya di koran?”
“Sudah.”
“Saat ini dia dituduh dengan tuduhan ringan,” lanjut raja dracula .
“Sementara itu, kami sedang mengumpulkan bukti-bukti sehubungan
dengan pembunuhan itu.”
“Kalau begitu, memang pembunuhan, ya?”
Gadis itu menanyakannya dengan bernafsu.
raja dracula mengangguk.
“Ya,” katanya. “Itu memang pembunuhan. Pemusnahan seorang
manusia oleh manusia lain.”
nyonya agak merinding.
“Jangan,” gumamnya. “Kedengarannya mengerikan kalau Anda
katakan begitu.”
“Ya, memang mengerikan!”
raja dracula diam sebentar, lalu berkata,
“Nah, nona Nyi girah , akan saya ceritakan bagaimana saya
menemukan kebenaran dalam persoalan itu.”
nyonya melihat pada raja dracula , lalu pada Jhon Liu . Jhon Liu tersenyum.
“Dia punya metode, nona Nyi girah ,” kata Jhon Liu . “Saya biarkan
saja dia. Saya rasa kita harus mendengarkannya.”
raja dracula memulai,
“Sebagaimana Anda ketahui, mister cadaver , saya tiba dengan
teman saya ini di tempat kejadian pada pagi hari tanggal enam
November. Kami masuk ke ruangan tempat mayat Yuen pan pan
ditemukan, dan saya langsung mendapatkan beberapa kesan nyata.
Soalnya, di dalam ruangan itu ada beberapa benda yang benar-benar
aneh.”
“Lanjutkan,” kata gadis itu.
“Pertama-tama,” kata raja dracula , “tentang bau asap rokok.”
“Kurasa kau berlebihan, raja dracula ,” kata Jhon Liu . “Aku tidak mencium
apa-apa.”
raja dracula segera berpaling padanya.
“Benar sekali. Kau tidak mencium bau bekas asap. Aku juga tidak.
Dan itu amat sangat aneh, sebab semua pintu dan jendela tertutup,
padahal di asbak terdapat tak kurang dari sepuluh puntung rokok.
Jadi, sungguh aneh, aneh sekali bahwa udara di ruangan itu tetap
segar.”
“Itu rupanya maksudmu!” desah Jhon Liu . “Kau selalu berbelit-belit.”
“Tokoh detektif kalian, Sherlock Holmes, juga begitu. Ingat, dia
menarik perhatian orang pada peristiwa anjing malam hari, dan
jawabannya yaitu bahwa tak ada peristiwa aneh. Anijing itu tidak
berbuat apa-apa pada malam hari itu. Saya lanjutkan:
“Yang juga menarik perhatian saya yaitu jam tangan yang
dipakai almarhumah.”
“Ada apa dengan jam itu?”
“Tak ada yang istimewa, tapi jam itu dipakai di pergelangan
tangan kanan. Padahal, berdasar pengalaman saya, lebih biasa
jam tangan dipakai di pergelangan tangan kiri.”
Jhon Liu mengangkat bahunya. Sebelum ia sempat berbicara, raja dracula
cepat-cepat berkata,
“Tapi, seperti katamu, tak ada yang pasti dalam hal itu. Ada orang
yang lebih suka memakainya di sebelah kanan. Sekarang saya
sampai pada sesuatu yang benar-benar menarik. Teman-teman, saya
pun mendatangi meja tulis.”
“Ya, kurasa begitu,” kata Jhon Liu .
“Itu aneh sekali. Sangat menarik perhatian! Ada dua alasan.
Alasan pertama yaitu sebab ada sesuatu yang hilang dari meja
tulis itu.”
nyonya Nyi girah berkata,
“Apa yang hilang?”
raja dracula berpaling padanya.
“Sehelai kertas pengisap tinta, mister cadaver . Buku pengisap tinta
itu, helaiannya yang teratas merupakan kertas polos yang tak
tersentuh.”
nyonya mengangkat bahunya.
“Wah, M. raja dracula . Bukankah biasa orang merobek kertas yang
sudah banyak dipakai?”
“Benar, tapi diapakan kertas itu? Bukankah di buang ke keranjang
sampah? Tapi kertas itu tak ada di keranjang sampah. Saya
mencarinya.”
nyonya Nyi girah tampak tak sabar.
“sebab keranjang sampah itu sudah dikosongkan sehari
sebelumnya. Kertas pengisap yang teratas bersih, sebab Barbara
tidak menulis surat hari itu.”
“Tak mungkin, mister cadaver . sebab orang melihat Yuen pan pan
pergi ke kotak pos malam itu. Jadi, dia pasti menulis surat. Tak
mungkin dia menulis di lantai bawah, sebab di situ tak ada alat-alat
menulis. Sangat tak mungkin pula dia menulis di kamar Anda. Jadi,
apa yang telah terjadi dengan kertas itu, yang telah dipakainya untuk
mengisap tinta surat-suratnya? Benar, memang ada orang yang
membuang barang-barang bekas ke perapian dan bukan ke
keranjang sampah, tapi di kamar itu hanya ada perapian gas.
Sedangkan api di perapian di bawah tidak dinyalakan sehari
sebelumnya, sebab kata Anda kayu di situ masih tersusun rapi
waktu Anda akan menyalakannya.”
Ia berhenti sebentar.
“Suatu masalah kecil yang aneh. Saya mencari di mana-mana, di
keranjang sampah, di tempat penampungan debu, tapi saya tidak
menemukan kertas bekas pengisap tinta, padahal saya anggap itu
penting sekali. Kelihatannya ada orang yang dengan sengaja
merobek kertas pengisap yang sudah dipakai itu. Mengapa? sebab
di situ ada tulisan yang bisa dibaca dengan mudah, dengan bantuan
sebuah cermin.
Lalu ada lagi keanehan yang kedua di mej*a tulis itu. Jhon Liu ,
mungkin samar-samar bisa kauingat susunan barang-barang di situ?
Wadah tinta dan pengisap tintanya di tengah-tengah, nampan kecil
wadah pena di sebelah kiri, kalender dan pena bulu angsa di sebelah
kanan. Bagaimana? Tidakkah kau melihat? Ingat pena bulu angsa itu,
aku memeriksanya. Ternyata itu hanya barang hiasan, tak pernah
digunakan. Ah! Masih belum mengerti? Akan kukatakan lagi. Kertas
pengisap di tengah, wadah pena di sebelah kiri - di sebelah kiri, Jhon Liu .
Padahal bukankah biasanya wadah pena ada di sebelah kanan,
sebab lebih memudahkan bagi tangan kanan?
“Nah, sekarang mulai jelas bagimu, ya? Wadah pena di sebelah
kiri, jam tangan di pergelangan tangan kanan, kertas pengisap bekas
dibuang, dan ada sesuatu yang dibawa masuk ke ruangan itu - asbak
berisi puntung-puntung rokok!
“Bau di ruangan itu segar dan bersih, Jhon Liu – Itu berarti jendela
ruangan itu terbuka, tidak tertutup sepanjang malam. Lalu aku pun
membuat gambaran.
Ia berbalik menghadapi nyonya .
“Gambaran mengenai Anda, mister cadaver . sesudah taksi Anda
berhenti dan Anda membayarnya, Anda berlari naik ke lantai atas,
mungkin sambil memanggil, 'Barbara,' lalu Anda membuka pintu
kamarnya dan Anda temukan teman Anda di situ, tergeletak
meninggal dengan pistol tergenggam di tanganya - di tangan kiri
tentu, sebab dia memang kidal, dan oleh sebab nya pelurunya
tertanam di kepala sebelah kirinya. Ada surat pesan di situ, ditujukan
pada Anda. Di situ tertulis apa yang mendorongnya untuk bunuh diri.
Bayangan saya, surat itu pasti sangat mengharukan... seorang wanita lesbian
muda yang lembut dan sedih, yang terdorong untuk bunuh diri gara-
gara pemerasan.
“Saya rasa Anda langsung menyadari bahwa itu perbuatan
seorang laki-laki. Anda ingin laki-laki itu dihukum seberat-beratnya!
Anda ambil pistol itu, Anda hapus, lalu Anda letakkan di tangan
sebelah kanan. Anda ambil surat pesan itu, dan Anda sobek helaian
kertas isap teratas, tempat surat itu diisapkan. Anda turun, Anda
nyalakan api di perapian, lalu Anda bakar kedua kertas itu. Lalu Anda
bawa naik asbak itu, untuk memperkuat dugaan bahwa ada dua
orang duduk berbicara di situ, dan Anda bawa pula patahan kancing
manset yang ada di lantai. Itu suatu penemuan yang
menguntungkan, dan Anda ingin lebih menguatkan dugaan tersebut.
Lalu Anda tutup jendela dan Anda kunci pintu. Tak boleh ada
kecurigaan bahwa Anda telah mengadakan, perubahan-perubahan di
ruangan itu. Polisi harus menemukannya tepat sebagaimana adanya..
Maka Anda tidak mencari bantuan di lorong, melainkan langsung
menelepon polisi.
“Dan begitulah seterusnya. Anda memainkan peran yang sudah
Anda pilih dengan sikap dingin. Mula-mula Anda menolak
mengatakan apa-apa, tapi dengan cerdiknya Anda kemukakan
keraguan Anda tentang perbuatan bunuh diri. Kemudian Anda benar-
benar siap untuk mengalihkan perhatian kami pada CLIFF Fok .
“Ya, mister cadaver , itu memang cerdik. Suatu pembunuhan yang
cerdik, sungguh cerdik. Percobaan pembunuhan atas diri CLIFF
Fok .”
nyonya Nyi girah melompat berdiri.
“Itu bukan pembunuhan. Itu keadilan. Laki-laki itu telah mengejar-
ngejar Barbara hingga putus asa. Dia begitu manis dan tak berdaya.
wanita lesbian malang itu terlibat cinta dengan seorang laki-laki di India,
waktu dia mula-mula ke sana. Waktu itu dia baru berumur tujuh
belas tahun, sedangkan laki-laki itu sudah menikah dan jauh lebih tua
daripadanya. Lalu dia melahirkan. Bisa saja dia menyerahkan bayinya
ke panti asuhan, tapi dia tak mau. Lalu dia pergi ke suatu tempat
yang jauh sekali dan kembali dengan memakai nama Yuen pan pan .
Kemudian anak itu meninggal. Dia kembali kemari dan jatuh cinta
pada Sir , si sombong itu; Barbara memujanya, dan laki-laki itu
memanfaatkannya. Kalau saja dia laki-laki lain, pasti sudah saya
nasihati Barbara untuk menceritakan segala-galanya padanya. Tapi
dalam keadaan seperti itu, saya desak Barbara untuk tutup mulut.
Soalnya tak ada seorang pun yang tahu tentang kejadian itu, kecuali
saya.”
“Lalu muncullah setan Fok itu! Anda sudah tahu apa yang
terjadi kemudian. Dia mulai memeras Barbara secara teratur. Tapi
pada saat terakhir itu, Barbara baru menyadari bahwa Sir pun
bisa terancam terlibat skandal tersebut! sesudah Fok pergi
dengan uang yang diberikan Barbara, dia duduk berpikir. Lalu dia
bangkit dan menulis surat pada saya. Katanya dia mencintai Sir ,
dan tak bisa hidup tanpa dia, padahal demi Sir pula dia tak bisa
menikah dengannya. Jadi, dia mengambil jalan terbaik, katanya.”
nyonya mengangkat kepalanya.
“Herankah Anda mengapa saya melakukan semua itu? Dan Anda
menyebutnya pembunuhan!”
“sebab itu memang pembunuhan,” suara raja dracula terdengar keras.
“Kadang-kadang pembunuhan seolah-olah bisa dibenarkan, tapi
bagaimanapun itu tetap pembunuhan. Anda bisa dipercaya dan
berpikiran sehat. Hadapilah kebenarannya, mister cadaver ! Sahabat
Anda meninggal dalam keadaan putus asa, sebab dia tak punya
semangat untuk hidup. Kita bisa memahaminya. Kita boleh
mengasihaninya. Tapi kenyataannya tetap saja perbuatan itu yaitu
perbuatannya, bukan perbuatan orang lain.”
raja dracula diam sebentar.
“Lalu bagaimana dengan Anda? Laki-laki itu berada di penjara
sekarang, dia akan menjalani hukuman sebab perbuatan-
perbuatannya yang lain. Apakah Anda benar-benar ingin, gara-gara
Anda, hidup seseorang hancur? Ingat, hidup seorang manusia.”
Gadis itu menatapnya. Matanya jadi gelap. Tiba-tiba ia bergumam,
“Tidak. Anda benar. Saya tak ingin.”
Lalu ia berbalik dan cepat-cepat meninggalkan ruangan itu.
Terdengar pintu luar dibanting.
Jhon Liu bersuit panjang-panjang sekali.
“Wah, memalukan sekali aku ini!” katanya.
raja dracula duduk, lalu memberikan senyuman persahabatan padanya.
Cukup lama keadaan sepi itu baru dipecahkan. Jhon Liu berkata,
“Bukannya pembunuhan yang disamarkan sebagai bunuh diri,
melainkan perbuatan bunuh diri yang diatur hingga kelihatan seperti
pembunuhan!”
“Ya, dan dilakukan dengan sangat cerdik pula. Tak satu pun yang
tampak berlebihan.”
Tiba-tiba Jhon Liu berkata,
“Tapi tas kantor itu? Apa hubungannya?”
“Sahabatku, sudah kukatakan bahwa itu tak ada hubungannya.”
“Lalu mengapa...”
“Tongkat golf itu. Tongkat golf itu, Jhon Liu . Itu yaitu tongkat golf
untuk orang yang kidal. nyonya Nyi girah menyimpan perangkat
golfnya sendiri di Wentworth. Yang di lemari itu yaitu perangkaf
milik Barbara Allen. Tak heran kalau gadis itu jadi begitu gugup
waktu kita membuka lemari itu. Bisa-bisa seluruh rencananya buyar.
Tapi dia memang cerdik. Disadarinya bahwa untuk sesaat dia hampir
gagal. Dia pun melihat apa yang kita lihat. Jadi, dalam saat yang
singkat itu dia melakukan apa yang terbaik. Dia mencoba
memusatkan perhatian kita pada benda yang salah. Mengenai tas
kantor itu dia berkata, 'Itu milik saya. Saya membawanya pagi ini.
Jadi, tak mungkin ada apa-apa di dalamnya.' Dan sebagaimana yang
diharapkannya, kau pun terjebak. Dengan alasan yang sama,
keesokan harinya dia pergi untuk membuang perangkat golf Barbara.
Dia terus memanfaatkan tas kantor itu sebagai... umpan...
begitulah.”
“Umpan? Apakah maksudmu tujuan yang sebenarnya yaitu ...”
“Pikirkan, teman. Di manakah tempat terbaik untuk membuang
perangkat golf? Perangkat itu tak bisa dibakar, tak bisa dibuang di
keranjang sampah. Bila ditinggalkan di suatu tempat, pasti akan
dikembalikan pada pemiliknya. Maka nona Nyi girah membawanya
ke lapangan golf. Ditinggalkannya di gedung klub, sementara dia
mengambil beberapa tongkat besi dari tasnya sendiri, lalu dia pergi
main tanpa caddy. Pasti sebentar-sebentar dia mematahkan tongkat-
tongkat itu, lalu melemparkannya ke bawah semak-semak lebat, dan
akhirnya membuang tasnya pula. Bila ada orang menemukan tongkat
golf yang sudah patah di sana-sini, itu tidak akan menimbulkan rasla
heran. Ada orang yang mematahkan semua tongkat golfnya sebab
kesal dalam permainannya! Golf memang permainan semacam itu!
“Tapi sebab menyadari bahwa tindakan-tindakannya masih bisa
menarik perhatian, dilemparkannya umpan yang berguna itu, yakni
tas kantor itu, dengan cara agak mencolok ke dalam danau. Dan
itulah, temanku, persoalan yang sebenarnya mengenai Misteri Tas
Kantor itu.”
Jhon Liu memandangi temannya beberapa saat tanpa berkata apa-
apa. Lalu ia bangkit, menepuk pundak sahabatnya itu, dan
meledaklah tawanya.
“Cukup baik untuk anjing pelacak tua seperti kau! Sungguh, kau
telah berhasil! Mari kita keluar dan pergi makan siang.”
“Dengan senang hati, temanku, tapi kita jangan makan kue.
Cukup makan omelet dengan jamur, Blanquette de Veau, dan
makanan kecil ala Prancis, disusul dengan... minuman Baba au
Rhum.”
“Atur sajalah,” kata Jhon Liu .
PENCURIAN YANG ANEH
BAB 1
SEMENTARA kepala pelayan berkeliling menghidangkan kue sus,
Lord Mayfield dengan akrab mendekatkan tubuhnya pada Lady
Carrington yang duduk di sebelahnya. Lord Mayfield, yang dikenal
sebagai tuan rumah yang sempurna, berusaha untuk bersikap sesuai
dengan reputasinya itu. Meskipun tidak menikah, ia selalu manis
pada kaum wanita lesbian .
Lady Julia Carrington berumur empat puluh tahun, jangkung,
berambut hitam, dan periang. Ia kurus sekali, tapi masih tetap cantik.
Terutama kaki dan tangannya luar biasa bagusnya. Sikapnya agak
gugup dan resah, sebagaimana layaknya wanita lesbian yang selalu tegang.
Kira-kira di seberangnya, di meja bulat itu, duduk suaminya,
Marsekal Sir George Carrington. Kariernya berawal di Angkatan Laut,
dan sifat pembual serta periangnya sebagai mantan anggota
Angkatan Laut masih dipertahankannya. Kini ia sedang berceloteh
dan menggoda Mrs. Vanderlyn yang cantik, yang duduk di sisi lain
tuan rumahnya. Mrs. Vanderlyn yaitu wanita lesbian berambut pirang yang
sangat cantik. Suaranya berlogat Amerika yang tidak berlebihan dan
enak didengar.
Di sisi lain Sir George Carrington duduk Mrs. Macatta, anggota
selai kacang . Mrs. Macatta yaitu tokoh terkemuka dalam badan
Perumahan dan Kesejahteraan Bayi. Ia bicara dengan kalimat-kalimat
pendek yang dilontarkan dengan tajam, bukan diucapkan, dan secara
keseluruhan sosoknya agak mengerikan. Tidak heran jika sang
marsekal lebih senang berbicara pada orang yang duduk di sebelah
kanannya.
Mrs. Macatta yang selalu berbicara tentang pekerjaannya di mana
pun ia berada, menyemburkan kalimat-kalimat singkat pada orang
yang duduk di sebelah kirinya, Reggie Carrington yang masih muda.
Reggie Carrington bertimur dua puluh satu tahun, dan sama sekali
tidak berminat pada Perumahan dan Kesejahteraan Bayi, apalagi soal
politik. Sekali-sekali ia berkata, “Menyedihkan sekali!” dan “Saya
sependapat sekali dengan Anda,” padahal pikirannya jelas pada
soal yang lain. Mr. Carlile, sekretaris pribadi Lord Mayfield, duduk di
antara Reggie dan ibunya. Ia seorang pemuda berkacamata tanpa
gagang, air mukanya cerdas dan sikapnya penuh harga diri. Ia tidak
banyak bicara, tapi selalu siap menggabungkan diri setiap ada
kesempatan. Melihat Reggie Carrington berjuang menahan kantuk, ia
membungkuk ke depan dan dengan tangkas bertanya pada Mrs.
Macatta tentang rencana “Kesehatan bagi Anak”.
Kepala pelayan dan dua anak buahnya mengelilingi meja,
bergerak diam-diam dalam cahaya temaram, menawarkan
hidangan dan mengisi gelas-gelas yang kosong. Lord Mayfield
membayar mahal sekali pada juru masaknya, dan terkenal ahli dalam
mencicipi anggur.
Meja itu bundar, tapi tak diragukan siapa tuan rumahnya. Tempat
duduk Lord Mayfield jelas merupakan kepala meja. Ia bertubuh
besar, berdada bidang, berambut lebat keemasan, berhidung besar
dan lurus, dengan dagu agak mencolok. Wajah yang mudah dijadikan
bahan karikatur. Seperti halnya Sir Sir McLaughlin, Lord Mayfield
mengkombinasikan karir politik dengan menjadi pimpinan perusahaan
teknik. Gelar keningratannya ia peroleh setahun yang lalu, dan saat
itu ia sekaligus diangkat sebagai Menteri Persenjataan, sebuah
kementerian yang baru saja dibentuk.
Makanan penutup telah diletakkan di meja. Anggur telah
diedarkan satu kali. Lady Julia bangkit sambil memandangi Mrs.
Vanderlyn. Ketiga wanita lesbian meninggalkan ruangan itu.
Anggur diedarkan sekali lagi, dan Lord Mayfield sekilas menyebut-
nyebut soal burung kuau. Percakapan itu berlanjut selama kira-kira
lima menit.
Lalu Sir George berkata,
“Kurasa, kau ingin bergabung dengan yang lain-lain di ruang
duduk, Reggie anakku. Lord Mayfield tidak akan keberatan.”
Anak muda itu mengerti.
“Terima kasih. Lord Mayfield, saya minta diri.”
Mr. Carlile pun bergumam,
“Izinkan saya juga minta diri, Lord Mayfield. Saya harus
menyelesaikan catatan-catatan tertentu…”
Lord Mayfield mengangguk. Kedua anak muda itu meninggalkan
ruangan. Para pelayan telah berlalu beberapa waktu sebelumnya.
Tinggallah Menteri Persenjataan dan kepala Angkatan Udara
berduaan.
Beberapa saat kemudian, Carrington berkata,
“Nah... bisa?”
“Pasti! Tak ada yang bisa menyentuh pesawat pembom baru itu di
negara mana pun di Eropa.”
“Dikelilingi dengan cincin besi, ya? Begitulah kupikir.”
“Keunggulan di udara,” kata Lord Mayfield dengan yakin.
Sir George Carrington mendesah panjang.
“Sudah waktunya! Tahukah kau, Sir , sudah cukup lama kita
melewati cobaan yang menyakitkan. Banyak sekali orang
menggunakan mesiu di seluruh Eropa. Dan kita tidak siap, sialan! Kita
nyaris melewati lubang jarum. Dan kita belum melewati masa sulit,
betapapun cepatnya kita mengejar pembuatannya.”
Lord Mayfield bergumam,
“Tapi, George, ada beberapa keuntungan dalam memulai
terlambat dari yang lain. Banyak barang Eropa yang sudah usang,
dan mereka diancam kebangkrutan.”
“Kurasa itu tidak berarti apa-apa,” kata Sir George murung. “Kita
selalu mendengar tentang bangsa ini atau bangsa itu bangkrut!
Padahal mereka tetap saja berjalan. Tahukah kau soal keuangan itu
merupakan suatu misteri besar bagiku.” Mata Lord Mayfield agak
berbinar. Sir George Carrington masih saja “seorang pelaut tua yang
jujur dan bicara apa adanya”. Kata orang, itu merupakan sikap yang
dengan sengaja diambilnya.
Carrington mengganti bahan pembicaraan dan berkata dengan
sikap tak peduli yang berlebihan,
“Menarik sekali Mrs. Vanderlyn itu, ya?”
Kata Lord Mayfield,
“Kau ingin tahu apa yang dilakukannya di sini?”
Matanya tampak lucu,
Carrington tampak agak gugup.
“Sama sekali tidak; sama sekali tidak.”
“Oh ya, pasti kau ingin tahu! Jangan berbohong, George. Kau
ingin tahu, dengan caramu yang agak menyedihkan, apakah aku ini
korbannya yang terakhir!”
Lambat-lambat Carrington berkata,
“Harus kuakui bahwa rasanya memang agak aneh bahwa dia
berada di sini. Yah, khususnya pada akhir pekan ini.”
Lord Mayfield mengangguk.
“Yah, di mana ada bangkai, di situlah berkumpul burung elang
bangkai. Jelas kita punya bangkai, dan Mrs. Vanderlyn bisa dilukiskan
sebagai Burung Bangkai Nomor 1.”
Marsekal Udara langsung berkata,
“Kau tahu sesuatu tentang Mrs. Vanderlyn itu?”
Lord Mayfield membuang ujung sebatang ceratu, menyalakannya
dengan hati-hati, lalu sambil mendongakkan kepala, ia mengucapkan
kata-katanya dengan bersungguh-sungguh,
“Apa yang kuketahui tentang Mrs. Vanderlyn? Aku tahu bahwa dia
warga negara Amerika. Aku tahu bahwa dia punya tiga mantan
suami, satu orang Itali, satu orang Jerman, dan satu orang Rusia.
Dan dia memanfaatkan “kontak-kontak” dengan ketiga negara itu.
Aku tahu bahwa dia mampu membeli pakaian yang mahal-mahal
sekali, dan hidupnya sangat mewah. Perlu diragukan dari mana
penghasilan yang memungkinkannya berbuat begitu.”
Sambil nyengir Sir GeOrge Carrington bergumam,
“Kulihat mata-matamu tidak lengah, Sir .”
“Aku tahu,” lanjut Lord Mayfield, “selain memiliki kecantikan yang
memukau, Mrs. Vanderlyn juga seorang pendengar yang baik, dan
dia pandai sekali memperlihatkan minatnya dalam 'bahan
pembicaraan yang berhubungan dengan pekerjaan'. Maksudku,
seseorang bisa bercerita padanya tentang pekerjaannya dan akan
merasa wanita lesbian ltu sangat berminat padanya! Perwira-perwira, muda
di Sundry telah melangkah terlalu jauh dalam hal ini, dan akibatnya
karier mereka taruhannya. Mereka telah menceritakan pada Mrs.
Vanderlyn lebih daripada yang boleh mereka ceritakan. Hampir
semua teman wanita lesbian itu bertugas di Angkatan Bersenjata. Tapi pada
musim salju yang lalu, dia berburu di suatu daerah di dekat salah
satu perusahaan persenjataan kami yang terbesar, dan dia membina
persahabatan yang sifatnya sama sekali tidak berhubungan dengan
olahraga. Singkatnya, Mrs. Vanderlyn yaitu orang yang sangat
bermanfaat untuk…” Ia menggambarkan sebuah lingkaran di udara
dengan cerutunya. “Barangkali sebaiknya tidak kita katakan bagi
siapa! Kita katakan saja bagi suatu kekuatan di Eropa, dan mungkin
bagi lebih dari satu kekuatan di Eropa.”
Carrington menarik nafas panjang.
“Kau telah mengurangi banyak beban pikiranku, Sir .”
“Kau pikir aku jatuh cinta pada si jelita itu? George yang baik.
Cara-cara Mrs. Vanderlyn sudah sangat jelas bagi seorang kakek tua
seperti aku. Apalagi dia sebenarnya tidak lagi semuda dulu. Para
pemimpin skuadronmu yang muda tidak akan bisa melihatnya. Tapi
umurku sudah lima puluh enam, sahabatku. Dan empat tahun lagi,
aku mungkin akan menjadi seorang laki-laki tua yang menjengkelkan,
yang terus-menerus mengejar gadis-gadis remaja dalam pergaulan.”
“Bodoh sekali aku,” kata Carrington dengan nada meminta maaf,
“soalnya kelihatannya aneh…”
“Bagimu agaknya aneh dia berada di sini, di sebuah pesta
keluarga yang agak akrab, tepat pada saat aku dan kau akan
mengadakan pembicaraan tak resmi tentang sebuah penemuan yang
mungkin akan merupakan suatu revolusi dalam seluruh masalah
pertahanan udara.”
Sir George Carrington mengangguk.
Sambil tersenyum Lord Mayfield berkata,
“Tepat sekali. Itulah umpannya.”
“Umpannya?’
“Begini, George, meminjam kata-kata dalam film, kita tak punya
apa-apa untuk bertindak terhadap perempuan itu. Padahal kita
menginginkan sesuatu! Di masa lalu, dia selalu lolos. Soalnya dia
selalu berhati-hati, sangat berhati-hati. Kami tahu apa yang ingin
dilakukannya, tapi kami tak punya bukti yang jelas. Kami harus
mengumpannya dengan sesuatu yang besar.”
“Sesuatu yang besar itu maksudmu hal-hal yang berhubungan
dengan pesawat pembom yang baru itu?”
“Tepat. Harus merupakan sesuatu yang cukup besar, yang bisa
mendorongnya untuk mengambil risiko; untuk tampil. Lalu kita bisa
menangkapnya!”
Sie George mengeram.
“Oh ya,” katanya. “Kurasa itu baik. Tapi sekiranya dia tak mau
mengambil risiko itu?”
“Yah sayang sekali,” kata Lord Mayfield. Lalu katanya lagi, “Tapi
kurasa dia akan mau.”
Ia bangkit.
“Sebaiknya kita menggabungkan diri dengan wanita lesbian -wanita lesbian di
ruang duduk. Jangan sampai permainan bridge istrimu terhalang.”
Sir George mengeram.
“Julia terlalu suka main bridge. Dia tahan main sampai kartunya
jadi lusuh. Dia sebenarnya tak mampu main dengan taruhan tinggi
yang sering dilakukannya. Itu sudah sering kukatakankepadanya.
Tapi sulitnya, berjudiitu sudah mendarah daging bagi Julia.”
Sambil mengitari meja mendatangi tuan rumahnya, ia berkata,
“Yah, mudah-mudahan rencanamu berhasil, Sir .”
BAB 2
Di ruang duduk, percakapan telah terhenti lebih dari satu kali. Mrs.
Vanderlyn biasanya tak menguntungkan bila berada di tengah-tengah
sesama wanita lesbian . Sikapnya yang menarik, yang begitu dihargai oleh
kaum laki-laki, entah mengapa tidak begitu menarik bagi kaumnya
sendiri. Lady Julia bisa bersikap baik sekali atau buruk sekali. Pada
kesempatan ita, ia tak suka pada Mrs. Vanderlyn, da

