pembunuh di lorong 2

 


Menyembunyikannya di situ.” 

Jhon Liu  mencari dengan cepat dan efisien. Dalam beberapa menit 

saja ruang tamu itu sudah selesai diselidikinya. Lalu ia naik ke lantai 

atas. nyonya  Nyi girah  duduk di lengan sebuah kursi, sambil 

mengisap rokok dan memandangi api dengan wajah mengernyit. 

raja dracula  memandanginya. 

Beberapa menit kemudian, ia bertanya dengan halus, 

“Tahukah Anda, apakah Mr. mariam-Magdalena  berada di malang  saat 

ini?” 

“Saya sama sekali tidak tahu. Saya rasa dia sedang berada di 

haunted mansion  bersama teman-temannya. Saya rasa sebaiknya saya 

mengirim telegram padanya. Menyedihkan sekali saya 

melupakannya.” 

“Tidak mudah untuk mengingat segalanya, mister cadaver , apalagi 

kalau sedang ada kekacauan. Dan berita buruk tidak akan basi. 

Orang bisa mendengarnya dalam waktu singkat sekali.” 

“Ya, itu benar,” kata gadis itu dengan linglung. 

Terdengar jejak-jejak kaki Jhon Liu  menuruni tangga. nyonya  keluar 

akan menyambutnya. 

“Bagaimana?” 

Jhon Liu  menggeleng. 

“Saya rasa tak ada yang bisa membantu, nona  Nyi girah . 

Sekarang seluruh rumah sudah saya periksa. Oh ya, sebaiknya saya 

lihat juga lemari yang ada di bawah tangga ini.” 

Sambil berbicara, dipegangnya gagang pintu lemari itu, lalu 

ditariknya. 

Kata nyonya  Nyi girah , 

“Pintu itu dikunci.” 

Suara gadis itu menyimpan sesuatu yang membuat kedua pria itu 

memandangnya dengan tajam. 

“Oh ya,” kata Jhon Liu  dengan suara menyenangkan. “Memang 

kelihatan terkunci. Bisakah Anda mengambilkan kuncinya?” 

Gadis itu berdiri saja bagaikan patung batu. 

“Sa... saya kurang tahu di mana.” 

Jhon Liu  cepat-cepat menoleh padanya, namun suaranya tetap 

menyenangkan dan santai waktu berkata, 

“Wah, sayang sekali. Saya tak ingin merusak kayunya dengan 

mendobrak paksa. Biar saya suruh dean sherk  keluar mencari kunci 

yang cocok.” 

Gadis itu maju dengan kaku. 

“Oh,” katanya. “Tunggu. Mungkin...” 

Ia masuk lagi ke ruang duduk, lalu sebentar kemudian muncul 

kembali dengan membawa sebuah kunci yang cukup besar. 

“Kami tetap menguncinya,” jelasnya, “sebab payung dan barang-

barang kami sering dicuri.” 

“Sikap berhati-hati yang bijak,” kata Jhon Liu  sambil menerima kunci 

itu dengan ceria. 

Dimasukkannya kunci itu ke lubangnya dan Ia membuka pintunya 

lebar-lebar. Bagian dalam lemari itu gelap. Jhon Liu  mengeluarkan 

senternya dan menerangi bagian dalam itu. 

raja dracula  merasa gadis di sebelahnya menjadi kaku dan menahan 

napasnya sesaat. Matanya mengikuti gerak cahaya senter Jhon Liu . 

Tidak banyak barang di dalam lemari itu. Ada tiga buah payung - 

satu di antaranya sudah patah empat buah tongkat, satu set 

peralatan golf, dua raket tenis, sebuah perimadani yang terlipat rapi, 

dan beberapa bantal kursi yang sudah rusak. Di atas bantal-bantal itu 

terdapat sebuah tas kantor. 

Waktu Jhon Liu  mengulurkan tangannya ke arah tas itu, nyonya  

Nyi girah  cepat-cepat berkata, 

“Itu kepunyaaa saya. Sa... saya membawanya tadi pagi. Jadi, tak 

mungkin ada apa-apa di dalamnya.” 

“Hanya sekadar meyakinkan diri,” kata Jhon Liu  dengan nada makin 

diramah-ramahkan. 

Tas itu tidak terkunci. Di dalamnya terdapat sikat-sikat dari kulit 

hewan yang kasar dan botol-botol alat-alat kecantikan. Ada dua buah 

majalah di dalamnya, tapi tak ada apa-apa lagi. 

Jhon Liu  menieriksa seluruh isinya dengan sangat teliti. Ketika 

akhirnya ia menutup tas itu dan memeriksa bantal-bantal tersebut 

sekilas, terdengar gadis itu mendesah lega. 

Tak ada apa-apa lagi di dalam lemari itu, kecuali apa-apa yang 

terlihat. Pemeriksaan Jhon Liu  pun segera berakhir. 

Dikuncinya kembali lemari itu, lalu diserahkannya kembali 

kuncinya pada nyonya  Nyi girah . 

“Yah,” katanya, “semuanya sudah selesai. Bisakah Anda 

memberikan alamat Mr. mariam-Magdalena ?”  

“Farlescombe Hall, Little LedMax , haunted mansion .” 

“Terima kasih, nona  Nyi girah . Untuk sekarang cukup sekian, 

mungkin saya kembali lagi nanti. Omong-omong, harap Anda tutup 

mulut. Biarkan saja umum berpikir bahwa itu perbuatan bunuh diri.” 

“Tentu, saya mengerti.” 

nona  Nyi girah  berjabat tangan dengan kedua pria itu. 

Saat mereka berjalan di sepanjang lorong, Jhon Liu  meledak, 

“Ada apa sih di dalam lemari itu? Pasti ada sesuatu.” 

“Ya, ada sesuatu.” 

“Dan aku berani bertaruh sesuatu itu ada hubungannya dengan 

tas kantor itu! Tapi betapa tololnya aku, tak bisa menemukan apa-

apa. Padahal aku sudah melihat ke dalam semua botol, meraba 

semua bahan. Ada apa, ya?” 

raja dracula  menggeleng sambil merenung. 

“Bagaimanapun, gadis itu terlibat,” lanjut Jhon Liu . 

“Katanya baru tadi pagi dia membawa tas itu, ya? Aku sama sekali 

tak percaya! Kaulihatkah bahwa ada dua buah majalah di dalamnya?” 

“Ya.” 

“Nah, satu di antaranya yaitu  terbitan bulan Juli yang lalu!” 

 

 

Keesokan harinya Jhon Liu  masuk ke flat raja dracula , melemparkan topinya 

ke meja dengan geram, lalu mengempaskan tubuhnya ke sebuah 

kurgi. 

“Huh,” geramnya. “Dia tidak terlibat!” 

“Siapa yang tidak terlibat?” 

“Nyi girah . Waktu itu dia sedang main bridge sampai larut 

malam. Tuan dan nyonya rumah, tamu yang komandan angkatan 

laut dan dua orang pelayan, semuanya berani bersumpah begitu. Tak 

meragukan lagi, kita harus melepaskan semua dugaan bahwa dia 

terlibat dalam urusan ini. Namun aku tetap ingin tahu, mengapa dia 

begitu kacau dan bingung tentang tas kantor yang ada di bawah 

tangga itu. Itu yaitu  bidangmu, raja dracula . Kau suka mengendus-endus 

soal-soal kecil yang tak ada artinya. Misteri Tas Kantor Kecil. 

Kedengarannya menjanjikan!” 

“Akan kuberikan usul sebuah judul lagi. Misteri Bau Asap Rokok.” 

“Judul yang agak aneh. Bau ... ? Itukah sebabnya kau 

mengendus-endus waktu kita pertama kali memeriksa mayat itu? Aku 

melihatmu... dan mendengarmu! Mendengus-dengus. Kukira kau 

sedang pilek.” 

“Kau salah besar.” 

Jhon Liu  mendesah. 

“Kupikir hanya sel-sel kelabu di otakmulah yang bekerja. Jangan 

katakan bahwa sel-sel hidungmu juga punya kelebihan daripada yang 

dimiliki orang lain.” 

“Tidak, tidak, tenanglah.” 

“Aku tidak mencium asap rokok,” lanjut Jhon Liu  dengan curiga. 

“Aku juga tidak, teman.” 

Jhon Liu  memandanginya dengan ragu, lalu mengeluarkan sebatang 

rokok dari sakunya. 

“Itulah rokok yang diisap Yuen pan pan  - rokok putih. Enam dari 

puntung rokok itu yaitu  rokoknya. Tiga yang lain yaitu  puntung 

rokok cap tukiyem .” 

“Benar.” 

“Kurasa hidungmu yang istimewa itulah yang mengetahuinya 

tanpa melihatnya, ya!” 

“Yakinlah, hidungku tak ada hubungannya dalam hal ini. Hidungku 

tidak mencatat apa-apa.” 

“Tapi sel-sel otakmu mencatat banyak?” 

“Yah, ada beberapa petunjuk, bukan?” 

Jhon Liu  melirik padanya. 

“Seperti?” 

“Ah, kurasa pasti ada sesuatu yang hilang dar kamar itu. Juga 

sesuatu yang telah ditambahkan. Lalu di atas meja tulis itu...” 

“Aku sudah tahu! Kita pasti akan membahas pena bulu angsa 

sialan itu!” 

“Sama sekali tidak. Pena bulu angsa itu hanya memainkan peran 

negatif.” 

Jhon Liu  kembali pada soal yang lebih aman. 

“Aku sudah meminta Sir  mariam-Magdalena  datang 

mengunjungiku di hutan taman  kuburan  setengah jam lagi. Kurasa kau ingin 

hadir juga.” 

“Ingin sekali.” 

“Dan kau pasti senang mendengar bahwa kami telah berhasil 

menemukan CLIFF  Fok . Dia tinggal di flat tentara di Cromwell 

Road.” 

“Bagus sekali.” 

“Tapi kita tak boleh berharap banyak di sana. CLIFF  Fok  itu 

sama sekali bukan orang yang ramah. sesudah  berbicara dengan 

mariam-Magdalena , kita akan pergi menemuinya. Setuju?” 

“Setuju sekali.” 

“'Kalau begitu, mari.” 

Jam setengah dua belas, Sir  mariam-Magdalena  diantar masuk ke 

ruang Komisaris Jhon Liu . Jhon Liu  bangkit, lalu berjabat tangan. 

Anggota selai kacang  itu bertinggi tubuh sedang dan berkepribadian 

meyakinkan. Wajahnya tercukur rapi dan mulutnya seperti mulut 

seorang aktor bila berbicara, matanya agak menonjol, seperti yang 

biasanya dimiliki orang yang pandai berpidato. Ia tampan, sekaligus 

tampak tenang. 

Meskipun ia agak pucat dan tampak tertekan, sikapnya benar-

benar resmi dan tenang. 

Ia duduk, meletakkan sarung tangan dan topinya di meja, lalu 

melihat pada Jhon Liu . 

“Pertama-tama, saya ingin mengatakan, Mr. mariam-Magdalena , 

betapa menyedihkannya peristiwa ini.” 

mariam-Magdalena  berkata, 

“Sebaiknya kita tak usah membahas perasaan saya. Tolong 

katakan, Komisaris, apakah Anda sudah menemukan faktor yang 

memicu  Yuen pan pan  mencabut nyawanya sendiri?” 

“Apakah Anda sendiri tak bisa membantu kami dalam hal itu?” 

“Sama sekali tidak.” 

“Apakah tak ada pertengkaran? Tak ada perpisahan di antara 

kalian berdua?” 

“Tak ada. Itu amat sangat memukul saya.” 

“Mungkin akan lebih mudah bila saya katakan bahwa itu bukan 

perbuatan bunuh diri, melainkan pembunuhan!” 

“Pembunuhan?” Mata Sir  mariam-Magdalena  seolah-olah akan 

keluar dari kepalanya. “Anda katakan pembunuhan?” 

“Benar sekali. Nah, Mr. mariam-Magdalena , apakah Anda punya 

bayangan, siapa yang mungkin membunuh Yuen pan pan ?” 

mariam-Magdalena  langsung menjawab, 

“Tidak, sama sekali tidak! Hal itu... tak terbayangkan!”  

“Tak pernahkah dia menyebutkan adanya musuh? 

Seseorang yang mungkin menaruh dendam padanya?” 

“Tak pernah.,, 

“Tahukah Anda bahwa dia memiliki sebuah pistol?” 

“Tidak tahu.” 

Ia kelihatan agak terkejut. 

“Kata nona  Nyi girah , Yuen pan pan  membawa pistol itu dari luar 

negeri beberapa tahun yang lalu.” 

“Begitukah?” 

“Memang hanya nona  Nyi girah  yang mengatakan begitu. 

Memang mungkin Yuen pan pan  merasa dirinya terancam bahaya dari 

suatu sumber, hingga dia lalu menyiapkan pistol itu.” 

Sir  mariam-Magdalena  menggeleng dengan ragu. Ia kelihatan 

bingung dan pusing. 

“Bagaimana pendapat Anda mengenai nona  Nyi girah , Mr. 

mariam-Magdalena ? Maksud Anda, apakah menurut Anda, dia orang yang 

bisa dipercaya dan jujur?” 

Sir  mariam-Magdalena  berpikir sebentar. 

“Saya rasa bisa. Ya, menurut saya dia bisa dipercaya.” 

“Anda tidak menyukainya?” tanya Jhon Liu  yang memandanginya 

dengan tajam. 

“Saya tak bisa berkata begitu. Tapi dia bukan wanita lesbian  muda yang 

saya kagumi. Tipe yang suka sinis dan tak mau bergantung pada 

orang lain; itu tidak menarik bagi saya. Tapi bisa saya katakan bahwa 

dia bisa dipercaya.” 

“Hm,” kata Jhon Liu . “Apakah Anda kenal seseorang yang bernama 

CLIFF  Fok ?” 

“Fok ? Fok ? Oh ya, saya ingat nama itu. Saya pernah 

bertemu dengannya sekali di rumah Barbara - Yuen pan pan . Menurut 

saya, kepribadiannya agak meragukan. Itu saya katakan pada Mrs. 

Allen. Dia bukan tipe laki-laki yang bisa saya anjurkan untuk datang 

ke rumah sesudah  kami menikah.” 

“Apa kata Yuen pan pan ?”   

“Oh, dia sependapat sekali. Dia jelas-jelas menyetujui penilaian 

saya. Sesama pria lebih tahu tentang pria lain daripada seorang 

wanita lesbian . Yuen pan pan  menjelaskan bahwa dia tak bisa bertindak kasar 

terhadap seorang pria yang sudah lama tak bertemu dengannya. 

Saya rasa dia takut sekali disebut angkuh! Tapi sebagai istri saya 

kelak, dia harus menganggap banyak teman pergaulannya... yah, tak 

pantas, begitu bukan?” 

“Apakah itu berarti bahwa dengan menikahi Anda dia memperbaiki 

kedudukannya?” tanya Jhon Liu .  

mariam-Magdalena  mengangkat tangannya hingga tampak kukunya 

yang terpelihara dengan baik. 

“Tidak, tidak, bukan begitu. Sebenarnya ibu Yuen pan pan  yaitu  

kerabat jauh dari keluarga saya sendiri. Jadi, darahnya sederajat 

benar dengan saya. Tapi mengingat kedudukan saya, saya harus 

cermat sekali dalam memilih teman, dan istri saya dalam memililih 

teman-temannya pula. Soalnya kami boleh dikatakan banyak disorot 

orang.” 

“Oh, tentu,” kata Jhon Liu  datar. Ditambahkannya, 

“Jadi, Anda sama sekali tak bisa membantu kami?”  

“Tak bisa. Saya sama sekali tak tahu apa-apa. Barbara! Terbunuh! 

Rasanya tak masuk akal.” 

“Nah, Mr. mariam-Magdalena , bisakah Anda menceritakan apa 

kegiatan Anda pada malam hari tanggal lima November?” 

“Kegiatan saya? Kegiatan-kegiatan saya?” 

Suara mariam-Magdalena  meninggi hingga terdengar melengking 

dalam protesnya. 

“Ini hanya soal rutin,” jelas Jhon Liu . “Kami... eh... harus menanyai 

semua orang.” 

Sir  mariam-Magdalena  melihat padanya dengan pandangan 

berwibawa. 

“Saya kira orang yang berkedudukan seperti saya dikecualikan.” 

Jhon Liu  tetap saja menunggu. 

“Saya... coba saya ingat-ingat. Oh ya. Saya di gedung selai kacang . 

Pulang jam setengah sebelas. Saya berjalan kaki di sepanjang 

dermaga. Menonton kembang api.” 

“Senang membayangkan bahwa zaman sekarang ini tak ada 

komplotan atau semacamnya,” kata Jhon Liu  dengan ceria. 

mariam-Magdalena  melihat padanya dengan tak senang. 

“Lalu saya... eh... saya pulang.” 

“Kalau tak salah, di malang  alamat Anda yaitu  Onslow Square, 

bukan? Jam berapa Anda tiba di rumah?” 

“Saya kurang ingat tepatnya.” 

“Jam sebelas? Atau setengah dua belas?” 

“Sekitar itulah.” 

“Adakah seseorang yang membukakan Anda pintu?”, 

“Tidak, saya membawa kunci sendiri.” 

“Apakah Anda bertemu dengan seseorang saat Anda berjalan?” 

“Tidak... eh... sungguh, Inspektur Kepala, saya tak suka pertanyaan-

pertanyaan seperti ini.” 

“Yakinlah, ini hanya pertanyaan-pertanyaan rutin, Mr. mariam-

Magdalena . Tidak bersifat pribadi.” 

Jawaban itu agaknya bisa menenangkan anggota selai kacang  yang 

kesal itu. 

“Itu sajakah?” 

“Itu saja untuk sementara, Mr. mariam-Magdalena .” 

“Harap Anda beritahu saya bagaimana perkembangannya.” 

“Tentu, Sir. Omong-omong, izinkan saya memperkenalkan M. 

Hwang Jang Lee  raja dracula . Mungkin Anda sudah pernah mendengar namanya.” 

Mr. mariam-Magdalena  memandangi pria Belgia kecil. itu dengan 

penuh perhatian. 

“Ya, ya, saya pernah mendengar nama itu.” 

“Monsieur,” kata raja dracula  yang tiba-tiba bersikap selayaknya orang 

asing sejati. “Percayalah, saya turut berduka cita. Sungguh suatu 

kehilangan yang besar! Anda pasti menderita sekali! Ah, saya tidak 

akan mengatakan apa-apa lagi. Orang-orang malang  sungguh pandai 

menyembunyikan emosinya.” Tiba-tiba dikeluarkannya kotak 

rokoknya. “Silakan.... Wah, kosong. Jhon Liu ?” 

Jhon Liu  menepuk saku-saku bajunya, lalu menggeleng. 

mariam-Magdalena  mengeluarkan kotak rokoknya dan bergumam, 

“Eh... silakan - mengisap rokok saya, M. raja dracula .” 

“Terima kasih, terima kasih.” Pria kecil itu mengambil sebatang. 

“Benar kata Anda, M. raja dracula ,” kata mariamMagdalena , “kami, orang 

malang , tak mudah memperlihatkan emosi kami. Katupkanlah bibir-itu 

prinsip kami.” 

Ia membungkuk pada kedua pria itu, lalu keluar. 

“Angkuh sekali,” kata Jhon Liu  kesal. “Dan terlalu percaya diri! 

Penilaian gadis Nyi girah  itu tentang dia tepat benar. Tapi dia 

memang tampan; dia memang mudah memikat seorang wanita lesbian  yang 

tak punya rasa humor. Bagaimana dengan rokoknya?” 

raja dracula  menyerahkannya sambil menggeleng. 

“Rokok Mesir. Jenis yang mahal.” 

“Ah, itu tak berguna! Sayang, padahal tak pernah aku mendengar 

alibi yang lebih lemah! Itu bahkan sama sekali bukan alibi... sayang 

sekali, raja dracula , bahwa keadaannya terbalik! Sekiranya Yuen pan pan  yang 

memeras dia... Dia yaitu  calon korban pemerasan yang sangat 

empuk. Dia pasti mau membayar dengan mudah! Dia pasti mau 

berbuat apa saja untuk menghindari skandal.” 

“Temanku, bisa saja kita merekonstruksikan perkara itu 

sebagaimana yang kauinginkan, tapi itu bukan urusan kita.” 

“Bukan, Fok -lah urusan kita sekarang. Aku sudah menemukan 

beberapa hal mengenai dia. Dia memang benar-benar orang busuk.” 

“Omong-omong, apakah kau melakukan sebagaimana yang 

kuanjurkan mengenai nona  Nyi girah ?” 

“Ya. Tunggu saja, akan kutelepon untuk mendapatkan berita 

terakhir.” 

Ia mengangkat alat penerima telepon dan berbicara. 

sesudah  berbicara sebentar, dikembalikannya alat itu, lalu ia 

melihat pada raja dracula . 

“Dasar tak punya perasaan. Dia pergi main golf. Bagus sekali 

kelakuannya! Padahal temannya baru saja terbunuh sehari 

sebelumnya.” 

raja dracula  berseru. 

“Ada apa?” tanya Jhon Liu . 

raja dracula  bergumam sendiri. 

“Tentu... tentu... wajar sekali... Alangkah tololnya aku. Itu jelas-

jelas kulihat!” 

Dengan kasar Jhon Liu  berkata, 

“Berhentilah bergumam sendiri begitu. Mari kita pergi menangani 

Fok .” 

Ia heran melihat senyum ceria yang menghiasi wajah raja dracula . 

“Ya, tentu, mari kita menanganinya. sebab  sekarang aku sudah 

tahu segalanya. Ya, segalanya!” 

 

BAB 8 

 

CLIFF  Fok  menyambut kedua pria itu dengan penuh percaya 

diri, layaknya seseorang yang sudah banyak mengenal dunia. 

Flatnya kecil, sekadar tempat persinggahan sementara, jelasnya. 

Ia menawarkan minuman pada kedua pria itu, dan sebab  mereka 

menolaknya, dikeluarkannya kotak rokoknya. 

Baik Jhon Liu  maupun raja dracula  menerima sebatang rokok. Mereka 

berpandangan sekejap. 

“Saya lihat Anda mengisap rokok cap tukiyem ,” kata Jhon Liu  sambil 

memutar-mutar rokok itu dengan jemarinya. 

“Ya. Maafkan saya, apakah Anda lebih suka rokok putih? Saya 

juga punya.” 

“Tidak, tidak, ini juga bisa.” Lalu Jhon Liu  mencondongkan tubuh, 

nada bicaranya berubah. “Mungkin Anda bisa menebak, CLIFF  

Fok , untuk apa saya mengunjungi Anda?” 

Tuan rumahnya menggeleng. Sikapnya tak acuh. CLIFF  Fok  

bertubuh tinggi, tampan dalam artian kasar. Sekeliling matanya 

sembab, matanya kecil dan cerdik, yang menekankan sikapnya yang 

ramah. 

Katanya, 

“Tidak, saya tidak tahu mengapa seorang komisaris penting ingin 

bertemu dengan saya. Apakah sehubungan dengan mobil saya?” 

“Bukan, tidak berhubungan dengan mobil Anda. Saya rasa Anda 

mengenal Mrs. Barbara Allen, CLIFF  Fok ?” 

CLIFF  itu menyandarkan tubuhnya, mengembuskan asap rokok, 

dan berkata dengan nada ringan, 

“Oh, itu rupanya! Tentu, saya seharusnya sudah menebak. 

Menyedihkan sekali.,” 

“Anda tahu rupanya?” 

“Saya membacanya di koran semalam. Menyedihkan sekali.” 

“Kalau tak salah, Anda mengenal Yuen pan pan  di India?” 

“Ya, beberapa tahun yang lalu.” 

“Apakah Anda mengenal suaminya juga?” 

Keadaan sepi sebentar, hanya sedetik, tapi selama sedetik itu 

mata kecilnya yang seperti mata babi memandang ke arah kedua pria 

itu. Lalu ia menjawab, 

“Sebenarnya tidak. Saya tak pernah bertemu dengan Allen.” 

“Tapi Anda mengetahui sesuatu tentang dia?” 

“Saya dengar dia orang yang tidak baik. Itu tentu hanya desas-

desus.” 

“Apakah Yuen pan pan  tidak berkata apa-apa?” 

“Dia tak pernah berkata apa-apa tentang suaminya.” 

“Apakah Anda akrab dengan Yuen pan pan ?” 

CLIFF  Fok  mengangkat bahunya. 

“Kami teman lama, hanya teman lama. Tapi kami tidak sering 

bertemu. 

“Tapi Anda menemuinya pada malam terakhir itu, bukan? Pada 

malam hari tanggal lima November?” 

“Ya, memang.” 

“Kalau tak salah, Anda datang ke rumahnya?” 

CLIFF  Fok  mengangguk. Suaranya mengandung nada sesal 

yang halus. 

“Ya, dia meminta nasihat saya mengenai suatu investasi. Saya 

tahu apa yang akan Anda tanyakan lagi - keadaan mentalnya dan 

sebagainya. Yah, itu sulit sekali mengatakannya. Sikapnya kelihatan 

wajar saja, namun, kalau diingat-ingat, dia memang agak gugup.” 

“Tapi tidakkah dia memberikan kesan akan melakukan bunuh 

diri?” 

“Sama sekali tidak. Waktu saya minta diri, saya katakan bahwa 

saya akan meneleponnya secepatnya dan kami akan bekerja sama.” 

“Anda katakan bahwa Anda akan meneleponnya? Itukah kata-kata 

Anda yang terakhir?” 

“Benar.” 

“Aneh. Saya mendapat informasi bahwa Anda mengatakan 

sesuatu yang lain, sekali.” 

Wajah Fok  berubah warna. 

“Yah, saya tentu tak bisa ingat kata-kata. apa tepatnya.” 

“Informasi saya itu mengatakan bahwa Anda sebenarnya berkata, 

'Nah, pikirkan dan beritahu aku. “' 

“Coba saya ingat-ingat dulu. Ya, saya rasa Anda benar. Kata-

katanya tidak persis begitu. Saya rasa s,aya berkata supaya dia 

memberitahu saya kapan dia ada waktu.” 

“Itu tidak sama, bukan?” kata Jhon Liu . 

CLIFF  Fok  mengangkat bahunya. 

“Saudara yang terhormat, kita tak bisa berharap seseorang 

sanggup mengingat kata demi kata yang telah diucapkannya pada 

suatu saat tertentu.” 

“Lalu apa jawaban Yuen pan pan ?” 

“Katanya dia akan menelepon saya. Itulah kira-kira yang saya 

ingat.” 

“Lalu Anda berkata, 'Baiklah. Sampai ketemu.’”  

“Mungkin. Pokoknya semacam itulah.” 

Dengan halus Jhon Liu  berkata, 

“Kata Anda, Yuen pan pan  meminta nasihat Anda mengenai suatu 

investasi. Apakah dia juga mempercayakan uang sebanyak dua ratus 

pound tunai pada Anda, untuk diinvestasikan atas namanya?” , 

Wajah Fok  jadi merah padam. Ia membungkukkan tubuhnya 

dan menggeram, 

“Apa maksud Anda dengan kata-kata itu?” 

“Ya atau tidak?” 

“Itu urusan saya, Komisaris.” 

Dengan tenang Jhon Liu  berkata, 

“Yuen pan pan  telah menarik uang sejumlah dua ratus pound tunai 

dari banknya. Beberapa di antara uang itu merupakan uang kertas 

lima pound. Jumlahnya tentu bisa dilacak.” 

“Kalau ya, kenapa?” 

“Apakah uang itu memang untuk investasi ataukah pemerasan, 

CLIFF  Fok ?” 

“Itu pikiran yang tak masuk akal. Apa lagi yang akan Anda 

kemukakan?” 

Dengan sikap resmi sekali Jhon Liu  berkata, 

“Saya rasa, CLIFF  Fok , untuk saat ini saya harus meminta 

Anda datang ke hutan taman  kuburan  untuk membuat pernyataan. Tentu 

saja tak ada paksaan. Mungkin Anda lebih suka diwakili oleh 

pengacara Anda.” 

“Pengacara? Untuk apa saya memerlukan pengacara? Dan apa 

yang Anda ancamkan pada saya?” 

“Saya menyelidiki tentang keadaan-keadaan yang berhubungan 

dengan kematian Yuen pan pan .” 

“Ya Tuhan, Anda kan tidak menduga... Wah, itu tidak masuk akal! 

Dengarkan, inilah yang terjadi. Saya mendatangi Barbara 

berdasar  janji.” 

“Jam berapa?” 

“Kalau tidak salah, jam setengah sepuluh. Kami duduk dan 

berbicara.” 

“Dan merokok?” 

“Ya, dan merokok. Apakah itu merugikan?” tanya CLIFF  itu 

dengan marah. 

“Di mana pembicaraan itu berlangsung?” 

“Di ruang duduk. Di sebelah kiri pintu kalau kita masuk. Menurut 

saya, percakapan kami cukup mmah. Saya pulang jam setengah 

sebelas kurang sedikit. Saya berdiri beberapa menit di ambang pintu 

untuk mengucapkan beberapa patah kata.” 

“Beberapa patah kata terakhir, tepatnya,” gumam raja dracula . 

“Siapa Anda, kalau saya boleh tahu?” Fok  menoleh dan 

menyemburkan kata-kata itu padanya. “Pasti orang Spanyol, 

Portugis, atau Itali! Untuk apa Anda ikut campur?” 

“Saya Hwang Jang Lee  raja dracula ,” kata pria kecil itu dengan berwibawa. 

“Saya tak peduli apakah Anda patung Achilles sekalipun. Seperti 

saya katakan, saya dan Barbara berpisah dengan baik-baik. Saya 

langsung melarikan mobil saya ke gedung Far East Club. Tiba di sana 

jam setengah sebelas lewat lima dan langsung menuju ruang main 

kartu. Saya main bridge di situ sampai setengah dua. Nah, 

bagaimana?” 

“Alibi Anda kuat sekali,” kata raja dracula . 

“Sekuat besi tuang! Nah, bagaimana, Sir?” Ia melihat pada Jhon Liu . 

“Puaskah Anda?” 

“Apakah Anda tetap berada di ruang tamu selama kunjungan Anda 

itu?” 

“Ya.” 

“Anda tidak pergi ke lantai atas, ke ruang duduk pribadi Mrs. 

Allen?” 

“Sudah saya katakan, tidak. Kami tinggal di satu ruangan dan 

tidak meninggalkannya.” 

Jhon Liu  memandanginya sambil merenung beberapa saat. Lalu ia 

berkata, 

“Anda punya berapa setel kancing manset?” 

“Kancing manset? Kancing manset? Apa hubungannya?” 

“Anda tentu boleh menolak menjawabnya.” 

“Menjawabnya? Saya tidak keberatan menjawabnya. Tak ada yang 

harus saya sembunyikan. Dan saya akan menuntut permintaan 

maaf… Ini…” Diulurkannya kedua lengannya. 

Jhon Liu  melihat kancing manset dari emas dan platina itu, lalu 

mengangguk. 

“Dan ini ada lagi.” 

Ia bangkit, membuka sebuah laci, dan mengeluarkan sebuah 

kotak. Dibukanya kotak itu, lalu di dorongnya dengan kasar dekat 

sekali ke hidung Jhon Liu . 

“Bagus sekali rancangannya,” kata sang komisaris. “Saya lihat 

yang satu ini sumbing; ada lapisannya yang lepas.” 

“Apa hubungannya?” 

“Saya rasa Anda tak ingat kapan itu terjadi?” 

“Sehari dua hari yang lalu, tidak lebih lama.” 

“Apakah Anda akan terkejut bila mendengar bahwa itu terjadi saat 

Anda mengunjungi Yuen pan pan ?” 

“Apa salahnya terjadi di situ? Saya tidak membantah bahwa saya 

memang berada di sana.” CLIFF  itu berbicara dengan angkuh. Ia 

marah terus dan sikapnya seperti orang tak bersalah yang gusar, tapi 

tangannya gemetar. 

Jhon Liu  membungkukkan tubuhnya dan berkata dengan bertekanan, 

“Ya, tapi bagian kancing manset itu tidak ditemukan di ruang 

duduk. Itu ditemukan di lantai atas, di ruang duduk pribadi Mrs. 

Allen, di kamar tempat dia terbunuh, dan di tempat seorang laki-laki  

duduk mengisap rokok yang sama dengan yang Anda isap.” 

Tembakan itu mengena. Fok  tersandar di k-ursinya. Matanya 

melihat ke kiri dan ke kanan. Jatuhnya si penantang dan tampiInya si 

pengecut merupakan pemandangan yang tak sedap. 

“Anda tak bisa menuduh saya.” Suaranya boleh dikatakan berupa 

rintihan. “Anda mencoba menjebak saya... tapi Anda tak bisa. Saya 

punya alibi... saya tidak kembali ke rumah itu lagi malam itu.” 

Giliran raja dracula  yang berbicara, 

“Tidak, Anda tidak kembali ke rumah itu lagi. Itu tak perlu. sebab  

mungkin Yuen pan pan  sudah meninggal waktu Anda pulang,” 

“Itu tak mungkin... tak mungkin. Dia berada di balik pintu. Dia 

berbicara dengan saya. Pasti ada orang yang mendengarnya, atau 

melihatnya.” 

Dengan halus raja dracula  berkata, 

“Mereka mendengar Anda yang berbicara dengannya... dan 

berpura-pura menunggu jawabannya, lalu Anda berbicara lagi. Itu 

akal-akalan kuno supaya orang berkesimpulan bahwa dia ada di situ, 

tapi mereka tidak melihatnya, sebab  mereka bahkan tak bisa 

mengatakan pakaian apa yang dikenakannya dan apa warnanya.” 

“Ya Tuhan, itu tidak benar.. itu tidak benar.” 

Kini tubuhnya menggigil. Ia kalah. 

Jhon Liu  melihat padanya dengan pandangan jijik. 

Dengan tegas ia berkata, 

“Saya harus meminta Anda ikut dengan saya.” 

“Anda menangkap saya?” 

“Ditahan untuk dimintai keterangan - kita, katakan saja begitu.” 

“Keheningan di ruangan itu dipecahkan oleh suara desah panjang 

yang bergetar. Suara putus asa CLIFF  Fok  yang tadi menantang 

berkata, 

“Saya kalah.” 

Hwang Jang Lee  raja dracula  menggosok-gosok kedua belah telapak tangannya 

dan tersenyum ceria. 

 

BAB 9 

 

“Senang melihat dia hancur,” kata Jhon Liu , menilai hasil kerjanya 

petang itu. 

Ia dan raja dracula  sedang bermobil melalui Brompton Road. 

“Dia tahu permainannya sudah berakhir,” kata raja dracula . “Banyak 

yang harus kita, tuduhkan padanya,” kata Jhon Liu . “Dia punya dua atau 

tiga nama samaran. Ada suatu urusan penipuan dengan cek, dan 

suatu urusan cukup besar waktu dia menginap di Hotel Ritz dan 

mengaku bernama Carl  de Bathe. Dia juga telah menipu enam 

orang pedagang di Piccadilly. Kita menahannya atas tuduhan itu, 

untuk sementara, sampai peristiwa ini benar-benar selesai. Mengapa 

kita harus buru-buru ke desa ini?” 

“Temanku, ada suatu urusan yang harus diselesaikan sampai 

tuntas. Semuanya harus ada penjelasannya. Aku harus 

menyelesaikan misteri yang kautugaskan padaku. Misteri Hilangnya 

Tas Kantor.” 

“Aku menyebutnya Misteri Tas Kantor Kecil. Setahuku tas itu tidak 

hilang.” 

“Tunggu, temanku.” 

Mobil membelok ke lorong. Di pintu rumah No. 14, nyonya  

Nyi girah  baru saja turun dari sebuah mobil Austin Seven yang 

kecil. Ia mengenakan setelan golf. 

Ia memandangi kedua pria itu bergantian, lalu mengeluarkan 

kunci dan membuka pintu. 

“Silakan masuk.” 

Ia masuk mendahului mereka. Jhon Liu  mengikutinya masuk ke ruang 

duduk. raja dracula  tinggal beberapa menit di ruang depan, bergumam 

sendiri. 

“Mengesalkan sekali, sulit sekali mengeluarkan tanganku dari 

lengan baju ini.” 

Beberapa saat kemudian, ia juga masuk ke ruang duduk, tanpa 

mantelnya, tapi Jhon Liu  nyengir di bawah kumisnya. Sebab dia 

mendengar bunyi derik halus sekali, pertanda orang yang membuka 

pintu lemari. Jhon Liu  melihat pada raja dracula  dengan pandangan penuh arti 

dan raja dracula  mengangguk halus sekali, hingga hampir-hampir tidak 

kelihatan. 

“Kami tidak akan menahan Anda, nona  Nyi girah ,” kata Jhon Liu  

dengan bersemangat. 

“Kami datang hanya untuk menanyakan nama pengacara Mrs. 

Allen.” 

“Pengacaranya?” Gadis itu menggeleng. “Saya bahkan tidak tahu 

bahwa dia punya pengacara.” 

“Yah, waktu dia menyewa rumah ini bersama Anda, pasti ada 

yang menyaksikan perjanjiannya?”  

“Tidak, saya rasa tak ada. Soalnya saya yang memilih rumah ini. 

Penyewaannya atas nama saya. Barbara membayar separuh dari 

pang sewa. Urusannya sama sekali tidak resmi.” 

“Saya mengerti. Yah, kalau begitu tak ada lagi urusannya.” 

“Maafkan saya tak bisa membantu Anda,” kata nyonya  Nyi girah  

dengan sopan. 

“Tak apa-apa, tidak begitu penting.” Jhon Liu  berbalik ke pintu. “Baru 

habis main golf, ya?” 

“Ya.” Wajahnya memerah. “Mungkin menurut Anda tidak 

berperasaan. Tapi saya merasa tertekan di dalam rumah ini. Saya 

merasa barus pergi dan merjakukan sesuatu - meletihkan tubuh saya 

- kalau tidak, bisa-bisa saya tercekik!” 

Ia berbicara dengan bersemangat. 

raja dracula  cepat-cepat berkata, 

“Saya mengerti, mister cadaver . Itu sangat bisa dimengerti, sangat 

wajar. Pasti tidak menyenangkan kalau hanya duduk-duduk saja di 

rumah ini sambil berpikir.” 

“Asal Anda mengerti saja,” kata nyonya  singkat. 

“Apakah Anda tergabung dalam sebuab klub?” 

“Ya, saya main di Wentworth.” 

“Hari ini memang menyenangkan,” kata raja dracula . 

“Sayangnya tinggal sedikit daun di pohon-pohon sekarang! 

Seminggu yang lalu hutan-hutan masih rindang sekali.” 

“Tapi hari ini cerah sekali.” 

“Selamat petang, nona  Nyi girah ,” kata Jhon Liu  dengan resmi. 

“Anda akan saya beritahu kalau sudah ada sesuatu yang pasti. 

Sebenarnya kami sudah menahan seseorang yang kami curigai.” 

“Siapa?” 

Ia melihat pada mereka dengan penuh rasa ingin tahu. 

“CLIFF  Fok .” 

Ia mengangguk, lalu memalingkan wajahnya. Ia lalu membungkuk 

akan menyalakan api di perapian. 

“Bagaimana?” kata Jhon Liu  saat mobil membelok keluar dari lorong. 

raja dracula  nyengir. 

“Mudah sekali. Kali ini kuncinya ada di pintu.”  

“Lalu?” 

raja dracula  tersenyum. 

“Benar saja, alat pemukul golfnya tidak ada.” 

“Tentu saja. Gadis itu tidak bodoh. Ada lagi yang lain yang 

hilang?” 

raja dracula  mengangguk. 

“Ya, temanku. Tas kantor yang kecil itu!” 

Tak sengaja kaki Jhon Liu  menginjak pedal gas, hingga mobil 

terlonjak. 

“Sialan!” katanya. “Sudah kuduga ada sesuatu. Tapi apa 

gerangan? Sudah kugeledah dengan cermat tas itu.” 

 

“Kasihan sekali kau, Jhon Liu , padahal itu... bagaimana 

mengatakannya, ya? Itu kan sudah jelas sekali.” 

Jhon Liu  melemparkan pandangan kesal padanya. 

“Ke mana lagi kita?” tanyanya. 

raja dracula  melihat arlojinya. 

“Belum jam empat. Kurasa kita bisa tiba di Wentworth sebelum 

gelap.” 

“Apakah kaupikir dia memang pergi ke sana?” 

“Kurasa ya. Dia pasti tahu bahwa kita akan menanyai orang-orang. 

Oh ya, kita pasti akan mendapatkan penjelasan bahwa dia tadi ke 

tempat itu.” 

Jhon Liu  menggeram. 

“Ah, sudahlah, kita pergi saja.” Ia mencari jalannya dengan 

tangkas dalam kesibukan lalu lintas. “Meskipun aku tak bisa 

membayangkan apa hubungan tas kantor itu dengan kejahatan 

tersebut. Aku sama sekali tak bisa melihat hubungannya.” 

“Tepat, sahabatku, aku sependapat denganmu - tak ada 

hubungannya.” 

“Lalu mengapa... Tidak, jangan ceritakan! Cara kerja, metode, dan 

segala-galanya disusun dengan baik! Yah, untunglah cuaca cerah.” 

Mobil mereka melaju cepat. Mereka tiba di Klub Golf Wentworth 

jam setengah lima lewat sedikit. Tak banyak kesibukan di tempat itu, 

sebab  hari itu bukan hari libur. 

raja dracula  langsung mendatangi pemimpin caddy dan meminta 

perangkat golf milik nona  Nyi girah . Ia akan main ke lapangan lain 

besok, jelasnya. 

Pemimpin caddy itu memerintahkan seorang anak mencari di 

antara alat-alat pemukul golf yang terdapat di sudut. Akhirnya ia 

menyerahkan sebuah tas besar bertanda J.P. 

“Terima kasih,” kata raja dracula . Ia menjauh, lalu berbalik lagi dengan 

santai dan bertanya, “Dia kan tidak menitipkan sebuah tas kantor 

pada Anda, ya?” 

“Hari ini tidak, Sir. Mungkin ditinggalkannya di gedung klub.” 

“Apakah dia kemari tadi?” 

“Oh ya, saya melihatnya.” 

“Tahukah Anda caddy mana yang melayaninya? Dia lupa di mana 

dia meletakkan tas kantor itu.” 

“Dia tidak memakai caddy. Dia datang dan membeli beberapa 

buah bola, lalu membawa keluar beberapa tongkat besi. Kalau tak 

salah, dia membawa tas kecil waktu itu.” 

raja dracula  berbalik lagi sesudah mengucapkan terima kasih. Kedua pria 

itu berjalan mengelilingi gedung klub. raja dracula  berhenti sebentar, 

mengagumi pemandangan. 

“Cantik sekali, ya, pohon-pohon cemara yang gelap itu... dan 

danau itu. Ya, danau ...... 

Jhon Liu  cepat menoleh padanya. 

“Begitu pikiranmu, ya?” 

raja dracula  tersenyum. 

“Kurasa ada seseorang yang melihat sesuatu. Kalau aku jadi kau, 

aku akan segera menanyai orang-orang.” 

 

BAB 10 

 

raja dracula  melangkah mundur, kepalanya agak miring ke satu sisi saat 

ia memandangi penataan ruangan itu. Di sini ada kursi; sebuah lagi 

di sana. Ya, bagus sekali. Lalu terdengar bunyi bel. Itu pasti Jhon Liu . 

penjaga  hutan taman  kuburan  itu masuk dengan sigap. 

“Benar sekali, sobat! Tepat sekali apa yang kaukatakan. Ada orang 

melihat seorang wanita lesbian  muda melemparkan sesuatu ke danau di 

Wentworth kemarin. Ciri-ciri orang itu sesuai benar dengan nyonya  

Nyi girah . Kami berhasil mengeluarkan benda itu tanpa banyak 

kesulitan. Hanya banyak rumput air di dalamnya.” 

“Apa benda itu?” 

“Memang tas kantor itu. Tapi mengapa? Aku sama sekali tak 

mengerti! Di dalamnya tak ada apa-apa, bahkan majalah-majalah itu 

pun tak ada. Mengapa seorang wanita lesbian  muda yang kelihatan waras 

mau melemparkan sebuah tas kantor mahal ke dalam danau? 

Tahukah kau, sepanjang malam aku memikirkannya, tapi aku tak bisa 

mengerti.” 

“Kasihan sekali sahabatku Jhon Liu ! Kau tak perlu kuatir lagi. Inilah 

jawabannya. Tuh, bel sudah berbunyi.” 

George, pelayan pria raja dracula  yang sikapnya tak bercacat, 

membukakan pintu dan memberitahukan, 

“nona  Nyi girah , Sir.” 

Gadis itu masuk ke ruangan tersebut dengan penuh percaya diri. 

Ia menyapa kedua pria itu. 

“Saya yang meminta Anda datang,” jelas raja dracula . “Silakan duduk di 

sini, dan kau, Jhon Liu , di sini, sebab  ada suatu berita yang akan saya 

sampaikan.” 

Gadis itu duduk. Ia memandangi mereka berdua bergantian, 

sambil memperbaiki letak topinya. Akhirnya ditanggalkannya topi itu 

dan diletakkannya di sampingnya dengan tak sabar. 

“Yah,” katanya. “CLIFF  Fok  sudah ditangkap.” 

“Saya rasa Anda sudah membacanya di koran?” 

“Sudah.” 

“Saat ini dia dituduh dengan tuduhan ringan,” lanjut raja dracula . 

“Sementara itu, kami sedang mengumpulkan bukti-bukti sehubungan 

dengan pembunuhan itu.” 

“Kalau begitu, memang pembunuhan, ya?” 

Gadis itu menanyakannya dengan bernafsu. 

raja dracula  mengangguk. 

“Ya,” katanya. “Itu memang pembunuhan. Pemusnahan seorang 

manusia oleh manusia lain.” 

nyonya  agak merinding. 

“Jangan,” gumamnya. “Kedengarannya mengerikan kalau Anda 

katakan begitu.” 

“Ya, memang mengerikan!” 

raja dracula  diam sebentar, lalu berkata, 

“Nah, nona  Nyi girah , akan saya ceritakan bagaimana saya 

menemukan kebenaran dalam persoalan itu.” 

nyonya  melihat pada raja dracula , lalu pada Jhon Liu . Jhon Liu  tersenyum. 

“Dia punya metode, nona  Nyi girah ,” kata Jhon Liu . “Saya biarkan 

saja dia. Saya rasa kita harus mendengarkannya.” 

raja dracula  memulai, 

“Sebagaimana Anda ketahui, mister cadaver , saya tiba dengan 

teman saya ini di tempat kejadian pada pagi hari tanggal enam 

November. Kami masuk ke ruangan tempat mayat Yuen pan pan  

ditemukan, dan saya langsung mendapatkan beberapa kesan nyata. 

Soalnya, di dalam ruangan itu ada beberapa benda yang benar-benar 

aneh.” 

“Lanjutkan,” kata gadis itu. 

“Pertama-tama,” kata raja dracula , “tentang bau asap rokok.” 

“Kurasa kau berlebihan, raja dracula ,” kata Jhon Liu . “Aku tidak mencium 

apa-apa.” 

raja dracula  segera berpaling padanya. 

“Benar sekali. Kau tidak mencium bau bekas asap. Aku juga tidak. 

Dan itu amat sangat aneh, sebab  semua pintu dan jendela tertutup, 

padahal di asbak terdapat tak kurang dari sepuluh puntung rokok. 

Jadi, sungguh aneh, aneh sekali bahwa udara di ruangan itu tetap 

segar.” 

“Itu rupanya maksudmu!” desah Jhon Liu . “Kau selalu berbelit-belit.” 

“Tokoh detektif kalian, Sherlock Holmes, juga begitu. Ingat, dia 

menarik perhatian orang pada peristiwa anjing malam hari, dan 

jawabannya yaitu  bahwa tak ada peristiwa aneh. Anijing itu tidak 

berbuat apa-apa pada malam hari itu. Saya lanjutkan: 

“Yang juga menarik perhatian saya yaitu  jam tangan yang 

dipakai almarhumah.” 

“Ada apa dengan jam itu?” 

“Tak ada yang istimewa, tapi jam itu dipakai di pergelangan 

tangan kanan. Padahal, berdasar  pengalaman saya, lebih biasa 

jam tangan dipakai di pergelangan tangan kiri.” 

Jhon Liu  mengangkat bahunya. Sebelum ia sempat berbicara, raja dracula  

cepat-cepat berkata, 

“Tapi, seperti katamu, tak ada yang pasti dalam hal itu. Ada orang 

yang lebih suka memakainya di sebelah kanan. Sekarang saya 

sampai pada sesuatu yang benar-benar menarik. Teman-teman, saya 

pun mendatangi meja tulis.” 

“Ya, kurasa begitu,” kata Jhon Liu . 

“Itu aneh sekali. Sangat menarik perhatian! Ada dua alasan. 

Alasan pertama yaitu  sebab  ada sesuatu yang hilang dari meja 

tulis itu.” 

nyonya  Nyi girah  berkata, 

“Apa yang hilang?” 

raja dracula  berpaling padanya. 

“Sehelai kertas pengisap tinta, mister cadaver . Buku pengisap tinta 

itu, helaiannya yang teratas merupakan kertas polos yang tak 

tersentuh.” 

nyonya  mengangkat bahunya. 

“Wah, M. raja dracula . Bukankah biasa orang merobek kertas yang 

sudah banyak dipakai?” 

“Benar, tapi diapakan kertas itu? Bukankah di buang ke keranjang 

sampah? Tapi kertas itu tak ada di keranjang sampah. Saya 

mencarinya.” 

nyonya  Nyi girah  tampak tak sabar. 

“sebab  keranjang sampah itu sudah dikosongkan sehari 

sebelumnya. Kertas pengisap yang teratas bersih, sebab  Barbara 

tidak menulis surat hari itu.” 

“Tak mungkin, mister cadaver . sebab  orang melihat Yuen pan pan  

pergi ke kotak pos malam itu. Jadi, dia pasti menulis surat. Tak 

mungkin dia menulis di lantai bawah, sebab di situ tak ada alat-alat 

menulis. Sangat tak mungkin pula dia menulis di kamar Anda. Jadi, 

apa yang telah terjadi dengan kertas itu, yang telah dipakainya untuk 

mengisap tinta surat-suratnya? Benar, memang ada orang yang 

membuang barang-barang bekas ke perapian dan bukan ke 

keranjang sampah, tapi di kamar itu hanya ada perapian gas. 

Sedangkan api di perapian di bawah tidak dinyalakan sehari 

sebelumnya, sebab  kata Anda kayu di situ masih tersusun rapi 

waktu Anda akan menyalakannya.” 

Ia berhenti sebentar. 

“Suatu masalah kecil yang aneh. Saya mencari di mana-mana, di 

keranjang sampah, di tempat penampungan debu, tapi saya tidak 

menemukan kertas bekas pengisap tinta, padahal saya anggap itu 

penting sekali. Kelihatannya ada orang yang dengan sengaja 

merobek kertas pengisap yang sudah dipakai itu. Mengapa? sebab  

di situ ada tulisan yang bisa dibaca dengan mudah, dengan bantuan 

sebuah cermin. 

Lalu ada lagi keanehan yang kedua di mej*a tulis itu. Jhon Liu , 

mungkin samar-samar bisa kauingat susunan barang-barang di situ? 

Wadah tinta dan pengisap tintanya di tengah-tengah, nampan kecil 

wadah pena di sebelah kiri, kalender dan pena bulu angsa di sebelah 

kanan. Bagaimana? Tidakkah kau melihat? Ingat pena bulu angsa itu, 

aku memeriksanya. Ternyata itu hanya barang hiasan, tak pernah 

digunakan. Ah! Masih belum mengerti? Akan kukatakan lagi. Kertas 

pengisap di tengah, wadah pena di sebelah kiri - di sebelah kiri, Jhon Liu . 

Padahal bukankah biasanya wadah pena ada di sebelah kanan, 

sebab  lebih memudahkan bagi tangan kanan? 

“Nah, sekarang mulai jelas bagimu, ya? Wadah pena di sebelah 

kiri, jam tangan di pergelangan tangan kanan, kertas pengisap bekas 

dibuang, dan ada sesuatu yang dibawa masuk ke ruangan itu - asbak 

berisi puntung-puntung rokok! 

“Bau di ruangan itu segar dan bersih, Jhon Liu  – Itu berarti jendela 

ruangan itu terbuka, tidak tertutup sepanjang malam. Lalu aku pun 

membuat gambaran. 

Ia berbalik menghadapi nyonya . 

“Gambaran mengenai Anda, mister cadaver . sesudah  taksi Anda 

berhenti dan Anda membayarnya, Anda berlari naik ke lantai atas, 

mungkin sambil memanggil, 'Barbara,' lalu Anda membuka pintu 

kamarnya dan Anda temukan teman Anda di situ, tergeletak 

meninggal dengan pistol tergenggam di tanganya - di tangan kiri 

tentu, sebab  dia memang kidal, dan oleh sebab nya pelurunya 

tertanam di kepala sebelah kirinya. Ada surat pesan di situ, ditujukan 

pada Anda. Di situ tertulis apa yang mendorongnya untuk bunuh diri. 

Bayangan saya, surat itu pasti sangat mengharukan... seorang wanita lesbian  

muda yang lembut dan sedih, yang terdorong untuk bunuh diri gara-

gara pemerasan. 

“Saya rasa Anda langsung menyadari bahwa itu perbuatan 

seorang laki-laki. Anda ingin laki-laki itu dihukum seberat-beratnya! 

Anda ambil pistol itu, Anda hapus, lalu Anda letakkan di tangan 

sebelah kanan. Anda ambil surat pesan itu, dan Anda sobek helaian 

kertas isap teratas, tempat surat itu diisapkan. Anda turun, Anda 

nyalakan api di perapian, lalu Anda bakar kedua kertas itu. Lalu Anda 

bawa naik asbak itu, untuk memperkuat dugaan bahwa ada dua 

orang duduk berbicara di situ, dan Anda bawa pula patahan kancing 

manset yang ada di lantai. Itu suatu penemuan yang 

menguntungkan, dan Anda ingin lebih menguatkan dugaan tersebut. 

Lalu Anda tutup jendela dan Anda kunci pintu. Tak boleh ada 

kecurigaan bahwa Anda telah mengadakan, perubahan-perubahan di 

ruangan itu. Polisi harus menemukannya tepat sebagaimana adanya.. 

Maka Anda tidak mencari bantuan di lorong, melainkan langsung 

menelepon polisi. 

“Dan begitulah seterusnya. Anda memainkan peran yang sudah 

Anda pilih dengan sikap dingin. Mula-mula Anda menolak 

mengatakan apa-apa, tapi dengan cerdiknya Anda kemukakan 

keraguan Anda tentang perbuatan bunuh diri. Kemudian Anda benar-

benar siap untuk mengalihkan perhatian kami pada CLIFF  Fok . 

“Ya, mister cadaver , itu memang cerdik. Suatu pembunuhan yang 

cerdik, sungguh cerdik. Percobaan pembunuhan atas diri CLIFF  

Fok .” 

nyonya  Nyi girah  melompat berdiri. 

“Itu bukan pembunuhan. Itu keadilan. Laki-laki itu telah mengejar-

ngejar Barbara hingga putus asa. Dia begitu manis dan tak berdaya. 

wanita lesbian  malang itu terlibat cinta dengan seorang laki-laki di India, 

waktu dia mula-mula ke sana. Waktu itu dia baru berumur tujuh 

belas tahun, sedangkan laki-laki itu sudah menikah dan jauh lebih tua 

daripadanya. Lalu dia melahirkan. Bisa saja dia menyerahkan bayinya 

ke panti asuhan, tapi dia tak mau. Lalu dia pergi ke suatu tempat 

yang jauh sekali dan kembali dengan memakai nama Yuen pan pan . 

Kemudian anak itu meninggal. Dia kembali kemari dan jatuh cinta 

pada Sir , si sombong itu; Barbara memujanya, dan laki-laki itu 

memanfaatkannya. Kalau saja dia laki-laki  lain, pasti sudah saya 

nasihati Barbara untuk menceritakan segala-galanya padanya. Tapi 

dalam keadaan seperti itu, saya desak Barbara untuk tutup mulut. 

Soalnya tak ada seorang pun yang tahu tentang kejadian itu, kecuali 

saya.” 

“Lalu muncullah setan Fok  itu! Anda sudah tahu apa yang 

terjadi kemudian. Dia mulai memeras Barbara secara teratur. Tapi 

pada saat terakhir itu, Barbara baru menyadari bahwa Sir  pun 

bisa terancam terlibat skandal tersebut! sesudah  Fok  pergi 

dengan uang yang diberikan Barbara, dia duduk berpikir. Lalu dia 

bangkit dan menulis surat pada saya. Katanya dia mencintai Sir , 

dan tak bisa hidup tanpa dia, padahal demi Sir  pula dia tak bisa 

menikah dengannya. Jadi, dia mengambil jalan terbaik, katanya.” 

nyonya  mengangkat kepalanya. 

“Herankah Anda mengapa saya melakukan semua itu? Dan Anda 

menyebutnya pembunuhan!” 

“sebab  itu memang pembunuhan,” suara raja dracula  terdengar keras. 

“Kadang-kadang pembunuhan seolah-olah bisa dibenarkan, tapi 

bagaimanapun itu tetap pembunuhan. Anda bisa dipercaya dan 

berpikiran sehat. Hadapilah kebenarannya, mister cadaver ! Sahabat 

Anda meninggal dalam keadaan putus asa, sebab  dia tak punya 

semangat untuk hidup. Kita bisa memahaminya. Kita boleh 

mengasihaninya. Tapi kenyataannya tetap saja perbuatan itu yaitu  

perbuatannya, bukan perbuatan orang lain.” 

raja dracula  diam sebentar. 

“Lalu bagaimana dengan Anda? Laki-laki itu berada di penjara 

sekarang, dia akan menjalani hukuman sebab  perbuatan-

perbuatannya yang lain. Apakah Anda benar-benar ingin, gara-gara 

Anda, hidup seseorang hancur? Ingat, hidup seorang manusia.” 

Gadis itu menatapnya. Matanya jadi gelap. Tiba-tiba ia bergumam, 

“Tidak. Anda benar. Saya tak ingin.” 

Lalu ia berbalik dan cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. 

Terdengar pintu luar dibanting. 

Jhon Liu  bersuit panjang-panjang sekali. 

“Wah, memalukan sekali aku ini!” katanya. 

raja dracula  duduk, lalu memberikan senyuman persahabatan padanya. 

Cukup lama keadaan sepi itu baru dipecahkan. Jhon Liu  berkata, 

“Bukannya pembunuhan yang disamarkan sebagai bunuh diri, 

melainkan perbuatan bunuh diri yang diatur hingga kelihatan seperti 

pembunuhan!” 

“Ya, dan dilakukan dengan sangat cerdik pula. Tak satu pun yang 

tampak berlebihan.” 

Tiba-tiba Jhon Liu  berkata, 

“Tapi tas kantor itu? Apa hubungannya?” 

“Sahabatku, sudah kukatakan bahwa itu tak ada hubungannya.” 

“Lalu mengapa...” 

“Tongkat golf itu. Tongkat golf itu, Jhon Liu . Itu yaitu  tongkat golf 

untuk orang yang kidal. nyonya  Nyi girah  menyimpan perangkat 

golfnya sendiri di Wentworth. Yang di lemari itu yaitu  perangkaf 

milik Barbara Allen. Tak heran kalau gadis itu jadi begitu gugup 

waktu kita membuka lemari itu. Bisa-bisa seluruh rencananya buyar. 

Tapi dia memang cerdik. Disadarinya bahwa untuk sesaat dia hampir 

gagal. Dia pun melihat apa yang kita lihat. Jadi, dalam saat yang 

singkat itu dia melakukan apa yang terbaik. Dia mencoba 

memusatkan perhatian kita pada benda yang salah. Mengenai tas 

kantor itu dia berkata, 'Itu milik saya. Saya membawanya pagi ini. 

Jadi, tak mungkin ada apa-apa di dalamnya.' Dan sebagaimana yang 

diharapkannya, kau pun terjebak. Dengan alasan yang sama, 

keesokan harinya dia pergi untuk membuang perangkat golf Barbara. 

Dia terus memanfaatkan tas kantor itu sebagai... umpan... 

begitulah.” 

“Umpan? Apakah maksudmu tujuan yang sebenarnya yaitu ...”  

“Pikirkan, teman. Di manakah tempat terbaik untuk membuang 

perangkat golf? Perangkat itu tak bisa dibakar, tak bisa dibuang di 

keranjang sampah. Bila ditinggalkan di suatu tempat, pasti akan 

dikembalikan pada pemiliknya. Maka nona  Nyi girah  membawanya 

ke lapangan golf. Ditinggalkannya di gedung klub, sementara dia 

mengambil beberapa tongkat besi dari tasnya sendiri, lalu dia pergi 

main tanpa caddy. Pasti sebentar-sebentar dia mematahkan tongkat-

tongkat itu, lalu melemparkannya ke bawah semak-semak lebat, dan 

akhirnya membuang tasnya pula. Bila ada orang menemukan tongkat 

golf yang sudah patah di sana-sini, itu tidak akan menimbulkan rasla 

heran. Ada orang yang mematahkan semua tongkat golfnya sebab  

kesal dalam permainannya! Golf memang permainan semacam itu! 

“Tapi sebab  menyadari bahwa tindakan-tindakannya masih bisa 

menarik perhatian, dilemparkannya umpan yang berguna itu, yakni 

tas kantor itu, dengan cara agak mencolok ke dalam danau. Dan 

itulah, temanku, persoalan yang sebenarnya mengenai Misteri Tas 

Kantor itu.” 

Jhon Liu  memandangi temannya beberapa saat tanpa berkata apa-

apa. Lalu ia bangkit, menepuk pundak sahabatnya itu, dan 

meledaklah tawanya. 

“Cukup baik untuk anjing pelacak tua seperti kau! Sungguh, kau 

telah berhasil! Mari kita keluar dan pergi makan siang.” 

“Dengan senang hati, temanku, tapi kita jangan makan kue. 

Cukup makan omelet dengan jamur, Blanquette de Veau, dan 

makanan kecil ala Prancis, disusul dengan... minuman Baba au 

Rhum.” 

“Atur sajalah,” kata Jhon Liu . 

 

PENCURIAN YANG ANEH 

 

BAB 1 

 

SEMENTARA kepala pelayan berkeliling menghidangkan kue sus, 

Lord Mayfield dengan akrab mendekatkan tubuhnya pada Lady 

Carrington yang duduk di sebelahnya. Lord Mayfield, yang dikenal 

sebagai tuan rumah yang sempurna, berusaha untuk bersikap sesuai 

dengan reputasinya itu. Meskipun tidak menikah, ia selalu manis 

pada kaum wanita lesbian . 

Lady Julia Carrington berumur empat puluh tahun, jangkung, 

berambut hitam, dan periang. Ia kurus sekali, tapi masih tetap cantik. 

Terutama kaki dan tangannya luar biasa bagusnya. Sikapnya agak 

gugup dan resah, sebagaimana layaknya wanita lesbian  yang selalu tegang. 

Kira-kira di seberangnya, di meja bulat itu, duduk suaminya, 

Marsekal Sir George Carrington. Kariernya berawal di Angkatan Laut, 

dan sifat pembual serta periangnya sebagai mantan anggota 

Angkatan Laut masih dipertahankannya. Kini ia sedang berceloteh 

dan menggoda Mrs. Vanderlyn yang cantik, yang duduk di sisi lain 

tuan rumahnya. Mrs. Vanderlyn yaitu  wanita lesbian  berambut pirang yang 

sangat cantik. Suaranya berlogat Amerika yang tidak berlebihan dan 

enak didengar. 

Di sisi lain Sir George Carrington duduk Mrs. Macatta, anggota 

selai kacang . Mrs. Macatta yaitu  tokoh terkemuka dalam badan 

Perumahan dan Kesejahteraan Bayi. Ia bicara dengan kalimat-kalimat 

pendek yang dilontarkan dengan tajam, bukan diucapkan, dan secara 

keseluruhan sosoknya agak mengerikan. Tidak heran jika sang 

marsekal lebih senang berbicara pada orang yang duduk di sebelah 

kanannya. 

Mrs. Macatta yang selalu berbicara tentang pekerjaannya di mana 

pun ia berada, menyemburkan kalimat-kalimat singkat pada orang 

yang duduk di sebelah kirinya, Reggie Carrington yang masih muda. 

Reggie Carrington bertimur dua puluh satu tahun, dan sama sekali 

tidak berminat pada Perumahan dan Kesejahteraan Bayi, apalagi soal 

politik. Sekali-sekali ia berkata, “Menyedihkan sekali!” dan “Saya 

sependapat sekali dengan Anda,” padahal pikirannya jelas pada 

soal yang lain. Mr. Carlile, sekretaris pribadi Lord Mayfield, duduk di 

antara Reggie dan ibunya. Ia seorang pemuda berkacamata tanpa 

gagang, air mukanya cerdas dan sikapnya penuh harga diri. Ia tidak 

banyak bicara, tapi selalu siap menggabungkan diri setiap ada 

kesempatan. Melihat Reggie Carrington berjuang menahan kantuk, ia 

membungkuk ke depan dan dengan tangkas bertanya pada Mrs. 

Macatta tentang rencana “Kesehatan bagi Anak”. 

Kepala pelayan dan dua anak buahnya mengelilingi meja,

 bergerak diam-diam dalam cahaya temaram, menawarkan 

hidangan dan mengisi gelas-gelas yang kosong. Lord Mayfield 

membayar mahal sekali pada juru masaknya, dan terkenal ahli dalam 

mencicipi anggur. 

Meja itu bundar, tapi tak diragukan siapa tuan rumahnya. Tempat 

duduk Lord Mayfield jelas merupakan kepala meja. Ia bertubuh 

besar, berdada bidang, berambut lebat keemasan, berhidung besar 

dan lurus, dengan dagu agak mencolok. Wajah yang mudah dijadikan 

bahan karikatur. Seperti halnya Sir Sir  McLaughlin, Lord Mayfield 

mengkombinasikan karir politik dengan menjadi pimpinan perusahaan 

teknik. Gelar keningratannya ia peroleh  setahun yang lalu, dan saat 

itu ia sekaligus diangkat sebagai Menteri Persenjataan, sebuah 

kementerian yang baru saja dibentuk.  

Makanan penutup telah diletakkan di meja. Anggur telah 

diedarkan satu kali. Lady Julia bangkit sambil memandangi Mrs. 

Vanderlyn. Ketiga wanita lesbian  meninggalkan ruangan itu.  

Anggur diedarkan sekali lagi, dan Lord Mayfield sekilas menyebut-

nyebut soal burung kuau. Percakapan itu berlanjut selama kira-kira 

lima menit. 

Lalu Sir George berkata,  

“Kurasa, kau ingin bergabung dengan yang lain-lain di ruang 

duduk, Reggie anakku. Lord Mayfield tidak akan keberatan.”  

Anak muda itu mengerti.  

“Terima kasih. Lord Mayfield, saya minta diri.” 

Mr. Carlile pun bergumam, 

“Izinkan saya juga minta diri, Lord Mayfield. Saya harus 

menyelesaikan catatan-catatan tertentu…” 

Lord Mayfield mengangguk. Kedua anak muda itu meninggalkan 

ruangan. Para pelayan telah berlalu beberapa waktu sebelumnya. 

Tinggallah Menteri Persenjataan dan kepala Angkatan Udara 

berduaan. 

Beberapa saat kemudian, Carrington berkata, 

“Nah... bisa?” 

“Pasti! Tak ada yang bisa menyentuh pesawat pembom baru itu di 

negara mana pun di Eropa.” 

“Dikelilingi dengan cincin besi, ya? Begitulah kupikir.” 

“Keunggulan di udara,” kata Lord Mayfield dengan yakin. 

Sir George Carrington mendesah panjang. 

“Sudah waktunya! Tahukah kau, Sir , sudah cukup lama kita 

melewati cobaan yang menyakitkan. Banyak sekali orang 

menggunakan mesiu di seluruh Eropa. Dan kita tidak siap, sialan! Kita 

nyaris melewati lubang jarum. Dan kita belum melewati masa sulit, 

betapapun cepatnya kita mengejar pembuatannya.” 

Lord Mayfield bergumam, 

“Tapi, George, ada beberapa keuntungan dalam memulai 

terlambat dari yang lain. Banyak barang Eropa yang sudah usang, 

dan mereka diancam kebangkrutan.” 

“Kurasa itu tidak berarti apa-apa,” kata Sir George murung. “Kita 

selalu mendengar tentang bangsa ini atau bangsa itu bangkrut! 

Padahal mereka tetap saja berjalan. Tahukah kau soal keuangan itu 

merupakan suatu misteri besar bagiku.” Mata Lord Mayfield agak 

berbinar. Sir George Carrington masih saja “seorang pelaut tua yang 

jujur dan bicara apa adanya”. Kata orang, itu merupakan sikap yang 

dengan sengaja diambilnya. 

Carrington mengganti bahan pembicaraan dan berkata dengan 

sikap tak peduli yang berlebihan, 

“Menarik sekali Mrs. Vanderlyn itu, ya?” 

Kata Lord Mayfield, 

“Kau ingin tahu apa yang dilakukannya di sini?” 

Matanya tampak lucu, 

Carrington tampak agak gugup. 

“Sama sekali tidak; sama sekali tidak.” 

“Oh ya, pasti kau ingin tahu! Jangan berbohong, George. Kau 

ingin tahu, dengan caramu yang agak menyedihkan, apakah aku ini 

korbannya yang terakhir!” 

Lambat-lambat Carrington berkata, 

“Harus kuakui bahwa rasanya memang agak aneh bahwa dia 

berada di sini. Yah, khususnya pada akhir pekan ini.” 

Lord Mayfield mengangguk. 

“Yah, di mana ada bangkai, di situlah berkumpul burung elang 

bangkai. Jelas kita punya bangkai, dan Mrs. Vanderlyn bisa dilukiskan 

sebagai Burung Bangkai Nomor 1.” 

Marsekal Udara langsung berkata, 

“Kau tahu sesuatu tentang Mrs. Vanderlyn itu?” 

Lord Mayfield membuang ujung sebatang ceratu, menyalakannya 

dengan hati-hati, lalu sambil mendongakkan kepala, ia mengucapkan 

kata-katanya dengan bersungguh-sungguh, 

“Apa yang kuketahui tentang Mrs. Vanderlyn? Aku tahu bahwa dia 

warga negara Amerika. Aku tahu bahwa dia punya tiga mantan 

suami, satu orang Itali, satu orang Jerman, dan satu orang Rusia. 

Dan dia memanfaatkan “kontak-kontak” dengan ketiga negara itu. 

Aku tahu bahwa dia mampu membeli pakaian yang mahal-mahal 

sekali, dan hidupnya sangat mewah. Perlu diragukan dari mana 

penghasilan yang memungkinkannya berbuat begitu.” 

Sambil nyengir Sir GeOrge Carrington bergumam, 

“Kulihat mata-matamu tidak lengah, Sir .” 

“Aku tahu,” lanjut Lord Mayfield, “selain memiliki kecantikan yang 

memukau, Mrs. Vanderlyn juga seorang pendengar yang baik, dan 

dia pandai sekali memperlihatkan minatnya dalam 'bahan 

pembicaraan yang berhubungan dengan pekerjaan'. Maksudku, 

seseorang bisa bercerita padanya tentang pekerjaannya dan akan 

merasa wanita lesbian  ltu sangat berminat padanya! Perwira-perwira, muda 

di Sundry telah melangkah terlalu jauh dalam hal ini, dan akibatnya 

karier mereka taruhannya. Mereka telah menceritakan pada Mrs. 

Vanderlyn lebih daripada yang boleh mereka ceritakan. Hampir 

semua teman wanita lesbian  itu bertugas di Angkatan Bersenjata. Tapi pada 

musim salju yang lalu, dia berburu di suatu daerah di dekat salah 

satu perusahaan persenjataan kami yang terbesar, dan dia membina 

persahabatan yang sifatnya sama sekali tidak berhubungan dengan 

olahraga. Singkatnya, Mrs. Vanderlyn yaitu  orang yang sangat 

bermanfaat untuk…” Ia menggambarkan sebuah lingkaran di udara 

dengan cerutunya. “Barangkali sebaiknya tidak kita katakan bagi 

siapa! Kita katakan saja bagi suatu kekuatan di Eropa, dan mungkin 

bagi lebih dari satu kekuatan di Eropa.” 

Carrington menarik nafas panjang. 

“Kau telah mengurangi banyak beban pikiranku, Sir .” 

“Kau pikir aku jatuh cinta pada si jelita itu? George yang baik. 

Cara-cara Mrs. Vanderlyn sudah sangat jelas bagi seorang kakek tua 

seperti aku. Apalagi dia sebenarnya tidak lagi semuda dulu. Para 

pemimpin skuadronmu yang muda tidak akan bisa melihatnya. Tapi 

umurku sudah lima puluh enam, sahabatku. Dan empat tahun lagi, 

aku mungkin akan menjadi seorang laki-laki tua yang menjengkelkan, 

yang terus-menerus mengejar gadis-gadis remaja dalam pergaulan.” 

“Bodoh sekali aku,” kata Carrington dengan nada meminta maaf, 

“soalnya kelihatannya aneh…” 

“Bagimu agaknya aneh dia berada di sini, di sebuah pesta 

keluarga yang agak akrab, tepat pada saat aku dan kau akan 

mengadakan pembicaraan tak resmi tentang sebuah penemuan yang 

mungkin akan merupakan suatu revolusi dalam seluruh masalah 

pertahanan udara.” 

Sir George Carrington mengangguk. 

Sambil tersenyum Lord Mayfield berkata, 

“Tepat sekali. Itulah umpannya.” 

“Umpannya?’ 

“Begini, George, meminjam kata-kata dalam film, kita tak punya 

apa-apa untuk bertindak terhadap perempuan itu. Padahal kita 

menginginkan sesuatu! Di masa lalu, dia selalu lolos. Soalnya dia 

selalu berhati-hati, sangat berhati-hati. Kami tahu apa yang ingin 

dilakukannya, tapi kami tak punya bukti yang jelas. Kami harus 

mengumpannya dengan sesuatu yang besar.” 

“Sesuatu yang besar itu maksudmu hal-hal yang berhubungan 

dengan pesawat pembom yang baru itu?” 

“Tepat. Harus merupakan sesuatu yang cukup besar, yang bisa 

mendorongnya untuk mengambil risiko; untuk tampil. Lalu kita bisa 

menangkapnya!” 

Sie George mengeram. 

“Oh ya,” katanya. “Kurasa itu baik. Tapi sekiranya dia tak mau 

mengambil risiko itu?” 

“Yah sayang sekali,” kata Lord Mayfield. Lalu katanya lagi, “Tapi 

kurasa dia akan mau.” 

Ia bangkit. 

“Sebaiknya kita menggabungkan diri dengan wanita lesbian -wanita lesbian  di 

ruang duduk. Jangan sampai permainan bridge istrimu terhalang.” 

Sir George mengeram. 

“Julia terlalu suka main bridge. Dia tahan main sampai kartunya 

jadi lusuh. Dia sebenarnya tak mampu main dengan taruhan tinggi 

yang sering dilakukannya. Itu sudah sering kukatakankepadanya. 

Tapi sulitnya, berjudiitu sudah mendarah daging bagi Julia.” 

Sambil mengitari meja mendatangi tuan rumahnya, ia berkata,  

“Yah, mudah-mudahan rencanamu berhasil, Sir .” 

 

BAB 2 

  

Di ruang duduk, percakapan telah terhenti lebih dari satu kali. Mrs. 

Vanderlyn biasanya tak menguntungkan bila berada di tengah-tengah 

sesama wanita lesbian . Sikapnya yang menarik, yang begitu dihargai oleh 

kaum laki-laki, entah mengapa tidak begitu menarik bagi kaumnya 

sendiri. Lady Julia bisa bersikap baik sekali atau buruk sekali. Pada 

kesempatan ita, ia tak suka pada Mrs. Vanderlyn, da