“sedekah, Sir.”
Seorang anak laki-laki kecil berwajah kotor tersenyum merayu.
“Tidak ada!” kata Inspektur Kepala Jhon Liu . “Dan dengarkan, Nak…”
Ia pun berkhotbah singkat. Anak gelandangan yang ketakutan itu
cepat-cepat berlalu dan berkata singkat pada teman-teman
sebayanya,
“Sialan, ternyata dia polisi!”
Gerombolan itu pun melarikan diri sambil melagukan nyanyian:
Ingatlah, ingat
Tanggal lima November
Pengkhianatan dan persekongkolan.
Tak ada alasan
Mengapa pengkhianatan
Harus dilupakan.
Teman seperjalanan inspektur, seorang laki-laki tua dengan kepala
berbentuk telur dan berkumis lebat seperti kumis tentara, tersenyum
sendiri.
“Wah, Jhon Liu ,” katanya. “Pandai sekali kau berkhotbah! Selamat
ya!”
“Coba lihat, Hari Guy Fawkes malah dijadikan alasan untuk
mengemis!” kata Jhon Liu .
(Tanggal 5 November dinyatakan sebagai Hari Guy Fawkes di
malang , untuk memperingati penangkapan atas Guy Fawkes yang
bermaksud meledakkan Gedung selai kacang pada tahun 1605)
“Menarik bahwa hal itu masih bertahan,” renung Hwang Jang Lee raja dracula .
“Kembang api dibakar, berderak-derak, lama sesudah orang yang
mereka peringati dan perbuatannya dilupakan.”
penjaga hutan taman kuburan itu membenarkan.
“Jangan berharap banyak di antara anak-anak tunagrahita itu tahu benar siapa
Guy Fawkes.”
“Dan tak lama lagi, pasti orang-orang akan bingung apakah
kembang api yang dinyalakan pada tanggal lima November itu
dimaksudkan sebagai penghormatan atau sebagai ejekan?
Membubarkan selai kacang malang , apakah itu suatu perbuatan dosa
atau perbuatan berjasa?”
Jhon Liu tertawa kecil.
“Pasti ada juga orang yang berkata bahwa itu suatu perbuatan
berjasa.”
sesudah membelok dari jalan raya, kedua orang itu memasuki
sebuah lorong yang cukup sepi. Mereka baru saja makan bersama,
dan kini mereka sedang mengambil jalan pintas ke arah flat
kediaman raja dracula .
Sekali-sekali masih terdengar suara petasan, dan sekali-sekali
pancaran hujan keemasan menerangi langit.
“Selamat tidur, pembunuhan,” kata Jhon Liu yang tetap mengingat
pekerjaannya. “Takkan ada seorang pun, umpamanya, yang bakal
mendengar suara tembakan pada malam seperti ini.”
“Aku sering heran, mengapa makin banyak penjahat yang tidak
memanfaatkan peristiwa yang menguntungkan seperti ini,” kata
Hwang Jang Lee raja dracula .
“Tahukah kau, raja dracula , aku kadang-kadang berharap kaulah yang
melakukan pembunuhan.”
“Astaga!”
“Ya, aku ingin melihat bagaimana kau melakukannya.”
“Jhon Liu yang baik, seandainya aku melakukan pembunuhan, kau
sama sekali tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melihatnya -
maksudku, bagaimana aku menyelesaikannya! Mungkin kau bahkan
tak menyadari bahwa telah terjadi pembunuhan.”
Jhon Liu tertawa geli dan penuh sayang.
“Dasar setan sombong kau!” katanya ramah.
Jam setengah dua belas keesokan harinya, telepon Hwang Jang Lee raja dracula
berdering.
“'Allo? 'Allo?”
“Halo, kaukah itu, raja dracula
“Ya, aku sendiri.”
“Di sini Jhon Liu . Ingat kan bahwa kita pulang semalam lewat Lorong
lembah angker ?”
“Ya?”
“Dan kita berkata akan sangat mudah menembak seseorang
dengan adanya suara-suara petasan dan kembang api dan entah apa
lagi itu?”
“Memang,”
“Nah, di lorong itu telah terjadi peristiwa bunuh diri. Di No. 14.
Seorang janda muda. Yuen pan pan . Aku akan pergi ke sana. Mau ikut?” ,
“Maaf, apakah seseorang dengan kedudukan seperti kau,
sahabatku, biasa disuruh menyelidiki suatu peristiwa bunuh diri?”
“Pertanyaan cerdas. Memang tidak. Tapi dokter kami agaknya
mencurigai ada sesuatu yang aneh dalam kejadian itu. Mau ikut?
Kurasa sebaiknya kau ikut menyelidikinya.”
“Tentu aku mau ikut. No. 14 katamu?”
“Benar.”
raja dracula tiba di rumah No. 14 Lorong lembah angker , hampir
bersamaan dengan berhentinya mobil yang membawa Jhon Liu dan tiga
orang laki-laki lain.
Jelas bahwa No. 14 sudah menjadi pusat perhatian. Sekumpulan
besar orang, sopir-sopir, para istri mereka, pesuruh-pesuruh, para
penganggur, orang-orang lewat yang berpakaian rapi, dan banyak
sekali anak-anak tunagrahita , berkumpul dan memandangi No. 14 dengan mulut
ternganga dan tatapan terheran-heran.
Seorang agen polisi berseragam berdiri di anak tangga, berusaha
menahan orang-orang yang ingin tahu itu. Orang-orang muda yang
tampak gesit dan membawa kamera maju mendekat waktu Jhon Liu
turun dari mobil.
“Tak ada berita untuk kalian sekarang,” kata Jhon Liu sambil
menyisihkan mereka. Ia mengangguk pada raja dracula . “Oh, kau sudah
datang. Mari masuk.”
Mereka lewat cepat-cepat, lalu masuk. Pintu tertutup, dan mereka
pun mendapati diri mereka berimpitan di kaki sebuah tangga.
Seorang laki-laki muncul di puncak tangga. Ia mengenali Jhon Liu dan
berkata,
“Di atas sini, Sir.” ,
Jhon Liu dan raja dracula menaiki tangga.
Laki-laki tadi membuka sebuah pintu di sebelah kiri, dan mereka
memasuki sebuah kamar tidur kecil.
“Saya rasa Anda ingin saya menceritakan kembali hal-hal yang
terpenting, Sir.”
“Benar sekali, dean sherk ,” kata Jhon Liu . “Bagaimana keiadiannya?”
Inspektur Divisi dean sherk pun mulai bercerita.
“Almarhumah bernama Yuen pan pan , Sir. Tinggal di sini dengan
seorang teman. nona Nyi girah . nona Nyi girah pergi menginap di
desa dan baru kembali tadi pagi. Dia masuk dengan menggunakan
kuncinya sendiri. Dia heran sebab tak ada seorang pun. Biasanya
ada seorang pekerja wanita lesbian yang datang jam sembilan untuk
membersihkan rumah mereka. Mula-mula dia naik ke atas dan masuk
ke kamarnya sendiri, yaitu kamar ini, lalu menyeberangi tangga ke
kamar temannya. Pintunya terkunci dari dalam. Dia mengetuk-ngetuk
dan memanggil, tapi tidak mendapat jawaban. Akhirnya, sebab
ketakutan, dia menelepon kantor polisi. Waktu itu jam sebelas kurang
seperempat. Kami langsung datang dan mendobrak pintu. Yuen pan pan
terbaring di lantai dengan kepala tertembak. Di tangannya ada
sebuah pistol otomatis, jenis Webley 25, dan kelihatannya itu benar-
benar suatu perbuatan bunuh diri.”
“Di mana nona Nyi girah sekarang?”
“Di lantai bawah, di ruang duduk, Sir. Menurut saya, dia seorang
wanita lesbian muda yang tenang dan sangat efisien. Dia kelihatan cerdas.”
“Nanti saja aku berbicara dengannya. Aku ingin bertemu dengan
bung dulu.”
Disertai raja dracula , Jhon Liu menyeberangi kepala tangga dan masuk ke
kamar di seberang. Seorang pria jangkung yang agak tua
mengangkat kepalanya, lalu mengangguk.
“Halo, Jhon Liu , aku senang kau sudah tiba. Ini urusan yang aneh.”
Jhon Liu menghampirinya. Hwang Jang Lee raja dracula melihat ke sekelilingnya
sejenak.
Kamar itu jauh lebih besar daripada kamar yang baru saja mereka
tinggalkan. Jendelanya menjorok ke luar. Kamar yang tadi
merupakan sebuah kamar tidur sejati yang sederhana, tapi yang ini
jelas-jelas sebuah kamar tidur yang disulap menjadi kamar duduk.
Dindingnya berwarna keperakan, dengan plafon hijau zamrud. Ada
gorden-gorden bercorak modern berwarna perak dan hijau. Ada
sebuah dipan yang dialas sutra hijau mengkilap dan beberapa buah
bantal hias berwarna keemasan dan keperakan. Ada sebuah meja
tulis antik yang tinggi dari kayu kenari, dan beberapa kursi bergaya
modern dari krom yang berkilat. Di meja kaca yang rendah ada
sebuah asbak besar yang penuh puntung rokok.
Hwang Jang Lee raja dracula menghirup udaranya perlahan-lahan, lalu ia
menyertai Jhon Liu yang sedang berdiri memandangi jenazah.
Jenazah seorang wanita lesbian muda yang mungkin berusia dua puluh
tujuh tahun, terbaring di lantai sesudah ia jatuh dari salah satu kursi
krom. Rambutnya pirang dan raut wajahnya halus. Wajahnya dipolesi
makeup tipis sekali. Wajahnya cantik, murung, dan mungkin agak
bodoh. Di sisi kiri kepalanya ada darah yang sudah membeku. Jemari
tangan kanannya menggenggam sebuah pistol kecil. wanita lesbian itu
mengenakan gaun sederhana berwarna hijau tua dan berkerah
tinggi.
“Jadi, bung , apa kesulitannya?”
Jhon Liu juga menunduk memandangi sosok yang terbaring
meringkuk itu.
“Letak tubuhnya sudah benar,” kata sang dokter. “Bila dia
menembak dirinya sendiri, mungkin dia terjatuh dari kursi dengan
posisi tubuh seperti itu. Pintu dan jendela terkunci dari dalam.”
“Itu sudah kaukatakan. Lalu apanya yang salah?”
“Lihatlah pistol itu. Aku tidak memegangnya. Aku menunggu para
penjaga sidik jari. Tapi kau bisa melihat dengan jelas apa maksudku.”
Jhon Liu dan raja dracula bersama-sama berlutut dan meneliti pistol itu
dengan cermat.
“Aku tahu apa maksudmu,” kata Jhon Liu sambil bangkit.
“Genggaman tangannya. Kelihatannya saja dia sedang
memegangnya, tapi sebenarnya dia tidak menggenggamnya. Ada lagi
yang lain?”
“Banyak. Dia menggenggam pistol itu di tangan kanan. Sekarang
lihat lukanya. Pistol itu ditembakkan di dekat kepala, sedikit di atas
telinga kiri. Perhatikan, telinga kiri.”
“Ehm,” kata Jhon Liu . “Di situlah letak persoalannya. Tak mungkin dia
bisa memegang pistol dan menembakkannya dengan posisi itu
dengan tangan kanannya, begitu?”
“Menurutku sama sekali tak mungkin. Mungkin dia melingkarkan
tangan ke belakang kepalanya, tapi aku tak yakin dia bisa menembak
dengan posisi itu.”
“Kalau begitu sudah jelas. Orang lain yang menembaknya dan
berusaha supaya kelihatannya seperti bunuh diri. Tapi bagaimana
dengan pintu dan jendela yang terkunci dari dalam?”
Inspektur dean sherk memberikan jawabannya.
“Jendela terkunci dan terselot, Sir, tapi meskipun pintunya
terkunci, kami belum bisa menemukan kuncinya.”
Jhon Liu mengangguk.
“Ya, itu kesulitannya. Siapa pun pelakunya, dia mengunci pintu
waktu akan pergi, dan berharap kunci yang hilang itu tidak akan
menarik perhatian.”
raja dracula bergumam,
“Wah, bodoh sekali!”
“Ah, ayolah, raja dracula , jangan menilai semua orang berdasar
otakmu yang cemerlang itu! Itu suatu soal kecil yang wajar saja tak
terpikirkan oleh seseorang. Pintu terkunci. Orang masuk dengan
paksa. wanita lesbian ini ditemukan meninggal. Ada pistol di tangannya.
Suatu perkara bunuh diri yang jelas. Dia mengunci dirinya sendiri
untuk melakukannya. Tak mungkin orang berburu mencari kunci itu.
Sebenarnya sudah untung nona Nyi girah memanggil polisi. Bisa
saja dia tadi memanggil beberapa orang sopir untuk mendobrak
pintu, maka persoalan kunci pun akan terlupakan sama sekali.”
“Ya, kurasa itu benar,” kata Hwang Jang Lee raja dracula . “Itu reaksi yang wajar
bagi kebanyakan orang. Polisi yaitu usaha terakhir, bukan?”
Ia masih tetap memandangi jenazah itu.
“Adakah sesuatu yang menarik perhatianmu?” tanya Jhon Liu .
Pertanyaan itu terdengar tak acuh, tapi matanya tampak serius
dan penuh perhatian.
raja dracula menggeleng perlahan-lahan.
“Aku melihat arlojinya.”
Ia membungkuk dan monyentuh sedikit arloji itu dengan ujung
jarinya. Jam itu merupakan perhiasan yang halus, talinya terbuat dari
bahan sutra berwarna hitam, dan terpasang pada pergelangan
tangan yang memegang pistol itu.
“Bagus sekali barang itu,” kata Jhon Liu . “Pasti mahal!” Ia
mendekatkan kepalanya ke arah raja dracula . “Mungkin ada sesuatu di
situ?”
“Mungkin - ya.”
raja dracula menyeberang ke arah meja tulis. Meja tulis itu memiliki
kelepak di depannya, yang tergantung ke bawah. Itu diatur demikian
supaya serasi dengan rencana pewarnaan umumnya.
Di tengah-tengah meja itu ada sebuah botol tinta yang tampak
agak berat, dan di depannya ada sebuah pengering tinta yang bagus,
berwarna hijau dari bahan lacquer. Di sebelah kiri pengering tinta itu
ada sebuah wadah pena dari kaca berwarna zamrud. Di situ terdapat
sebuah tangkai pena dari perak, sebatang lilin stempel berwarna
hijau, sebuah pensil, dan dua buah prangko. Di sebelah kanan
pengering tinta ada sebuah kalender yang bisa dipindah-pindahkan,
di mana tercantum hari dan tanggal hari itu. Ada pula sebuah botol
berbentuk bola dari kaca, dan di situ berdiri dengan anggun sebuah
pena bulu angsa berwarna hijau. Kelihatannya raja dracula tertarik pada
pena itu. Dikeluarkannya dan diperhatikannya, tapi pada pena bulu
angsa itu tidak terdapat bekas tinta. Jelas bahwa itu hanya sebuah
hiasan, tak lebih dari itu. Tangkai pena perak yang mata penanya
berbekas tintalah yang biasa digunakan. Matanya beralih ke kalender.
“Hari Selasa, tanggal lima November,” kata Jhon Liu . “Kemarin. Itu
benar.”
Ia berpaling pada bung .
“Sudah berapa lama dia meninggal?”
“Dia dibunuh jam setengah dua belas kemarin malam,” kata bung
dengan tegas.
Lalu ia tersenyum kecil waktu melihat wajah Jhon Liu yang heran.
“Maaf, teman,” katanya. “Aku harus bertindak sebagai dokter yang
super! Sebenarnya perkiraanku paling tidak jam sebelas. Kurang-
lebih.”
“Oh, kupikir arlojinya pasti mati… atau bagaimana.”
“Memang mati, tapi matinya jam empat lewat seperempat.”
'“Dan kurasa tak mungkin dia terbunuh pada jam empat lewat
seperempat.”
“Lupakan saja hal itu.”
raja dracula membalik penutup pengering tinta.
“Pikiran yang bagus,” kata Jhon Liu . “Tapi tak bisa.”
Pengering tinta memperlihatkan kertas pengering putih yang
bersih. raja dracula membalik halaman-halamannya, tapi semuanya sama.
Dialihkannya perhatiannya pada keranjang sampah.
Di situ terdapat dua atau tiga helai surat biasa dan surat edaran
yang sudah dirobek. Surat-surat itu hanya dirobek satu kali, hingga
mudah disambung kembali. Ada surat permintaan sumbangan dari
suatu perkumpulan untuk membantu para mantan pejuang, surat
undangan untuk suatu pesta koktail pada tanggal tiga November, dan
janji temu dengan seorang penjahit. Surat-surat edarannya yaitu
pemberitahuan dari pedagang kulit bulu dan katalog dari sebuah toko
serba ada.
“Tak ada apa-apa di situ,” kata Jhon Liu .
“Tak ada, aneh,” kata raja dracula .
“Maksudmu mereka biasanya meninggalkan surat bila itu peristiwa
bunuh diri?”
“Tepat.”
“Satu lagi bukti bahwa ini bukan peristiwa bunuh diri.”
Ia menjauh.
“Sekarang aku akan memerintahkan anak buahku menjalankan
tugas mereka. Sebaiknya kita turun dan mewawancarai nona
Nyi girah itu. Mau ikut, raja dracula ?”
raja dracula tampak masih saja terpesona oleh meja tulis dengan segala
perlengkapannya.
Ditinggalkannya kamar itu, tapi di pintu sekali lagi ia melihat ke
pena bulu angsa berwarna hijau zamruh yang terpajang dengan
anggun.
Di kaki tangga yang sempit ada sebuah pintu yang menuju ke
sebuah ruang tamu luas. Ruang itu sebenarnya kandang kuda yang
sudah diubah. Dinding-dindingnya dilabur dengan kapur yang
memberikan kesan kasar, dan di situ tergantung karya-karya sketsa
dan ukiran-ukiran kayu. Dua orang sedang duduk di situ.
Seorang di antaranya yaitu wanita lesbian muda dengan rarnbut
berwarna gelap dan tampak efisien, berumur dua puluh tujuh atau
dua puluh delapan tahun, duduk di dekat perapian dan sedang
mengulurkan tangannya ke arah nyala api. Yang seorang lagi wanita lesbian
tua bertubuh lumayan besar dan membawa tas dari bahan tali,
napasnya terengah-engah. Ia sedang berbicara waktu kedua pria itu
masuk.
“…dan seperti saya katakan, nona , saya begitu terkejut hingga
hampir pingsan. Apalagi pagi ini…”
wanita lesbian yang seorang lagi menghentikan bicaranya,
“Sudah cukup, Mrs. nyonya meneer . Saya rasa kedua pria ini yaitu polisi.”
“nona Nyi girah ?” tanya Jhon Liu sambil melangkah terus
Gadis itu mengangguk.
“'Itu memang nama saya. Ini Mrs. nyonya meneer yang setiap hari datang
untuk melayani kami.”
Mrs. nyonya meneer yang bicaranya tak bisa ditahan, berkata lagi,
“Saya sedang mengatakan pada nona Nyi girah bahwa pagi ini
anak adik saya, Louisa Maud, jatuh sakit dan sayalah satu-satunya
yang bisa membantu, apalagi saya yaitu darah dagingnya sendiri,
dan saya rasa Yuen pan pan pun tidak akan keberatan, meski saya tak
pernah suka mengecewakan majikan-majikan saya…”
Jhon Liu memutuskan bicaranya dengan tangkas.
“Memang, Mrs. nyonya meneer . Sekarang tolong Anda bawa Inspektur
dean sherk ke dapur dan berikan pernyataan singkat padanya.”
sesudah bebas dari Mrs. nyonya meneer yang banyak bicara, yang berlalu
bersama dean sherk sambil berceloteh terus, Jhon Liu sekali lagi
mengalihkan perhatiannya pada gadis itu.
“Saya Komisaris Jhon Liu . Nah, nona Nyi girah , saya ingin tahu
semua yang bisa Anda katakan tentang urusan ini.”
“Tentu. Bagaimana saya harus mulai?”
Ketenangannya sangat mengagumkan. Sama sekali tak ada tanda-
tanda kesedihan atau rasa terpukul. Yang tampak hanya sikap kaku
yang tak wajar.
“Jam berapa Anda tiba tadi pagi?”
“Saya rasa jam setengah sebelas kurang sedikit. Saya dapati Mrs.
nyonya meneer , si pembohong tua itu, tak ada. Saya dapati…”
“Apakah itu sering terjadi?”
“Kira-kira dua kali seminggu, jam dua belas dia baru muncul atau
sama sekali tidak datang. Padahal seharusnya dia datang jam
sembilan. Nyatanya, seperti saya katakan, dua kali seminggu dia
'kurang enak badan', atau ada anggota keluarganya yang jatuh sakit.
Semua pelayan harian itu sama saja. Kadang-kadang mengecewakan
kita. Meskipun dia tidak jahat benar.”
“Sudah lama dia bekerja di sini?”
“Baru sebulan lebih. Yang sebelum dia panjang tangan.”
“Lanjutkan, nona Nyi girah .”
“Saya bayar taksi, saya bawa masuk koper saya, saya mencari-cari
Mrs. nyonya meneer , tapi tidak menemukannya, lalu saya naik ke kamar saya.
Saya membenahi diri sedikit, lalu menyeberang akan mendatangi
Barbara - Yuen pan pan - dan saya dapati pintunya terkunci. Saya
goyang-goyang gagang pintu, saya mengetuk, tapi tidak
mendapatkan jawaban. Saya turun, lalu menelepon kantor polisi.”
“Maaf!” sela raja dracula dengan suatu pertanyaan cepat dan tangkas.
“Apakah tak terpikir oleh Anda untuk mencoba mendobrak pintu
dengan meminta bantuan salah seorang sopir yang ada di lorong?”
Mata gadis itu beralih pada raja dracula ; mata itu dingin dan berwarna
abu-abu. Pandangannya menyapu raja dracula dengan tatapan menilai.
“Tidak, saya rasa itu tak terpikir oleh saya. Bila ada sesuatu yang
tak beres, saya rasa polisilah yang harus kita mintai bantuan.”
“Kalau begitu Anda pikir - maaf, mister cadaver bahwa memang
ada sesuatu yang tidak beres?”
“Tentu saja.”
“sebab Anda tidak mendapatkan jawaban atas ketukan-ketukan
Anda? Padahal bukankah mungkin saja teman Anda itu telah menelan
obat tidur atau semacamnya?”
“Dia tak pernah menelan obat tidur.”
Jawaban itu diberikan dengan tajam.
“Atau mungkin dia pergi dan mengunci pintu sebelum pergi?”
“Mengapa dia harus menguncinya? Bagaimanapun, dia pasti
meninggalkan pesan untuk saya.”
“Dan dia tidak meninggalkan pesan untuk Anda? Yakinkah Anda?”
“Tentu saya yakin. Kalau ada, saya pasti sudah melihatnya.”
Nadanya yang tajam semakin terasa.
Kata Jhon Liu ,
“Anda tidak mencoba mengintip lewat lubang kunci, nona
Nyi girah ?”
“Tidak,” kata nyonya Nyi girah sambil merenung.
“Itu tak terpikir oleh saya. Tapi dengan begitu pun saya tidak akan
bisa melihat apa-apa bukan! sebab ada kuncinya?”
Pandangannya yang mengandung pertanyaan dan rasa tak
bersalah, dan matanya yang lebar, menantang mata Jhon Liu . Tiba-tiba
raja dracula tersenyum sendiri.
“Tindakan Anda tentu benar, nona Nyi girah ,” kata Jhon Liu . “Saya
rasa Anda tak punya alasan untuk mengira bahwa teman Anda
mungkin bunuh diri?”
“Oh, tidak.”
“Tidakkah dia kelihatan cemas atau agak tertekan?”
Hening sejenak sebelum gadis itu menjawab,
“Tidak.”
“Tahukah Anda bahwa dia memiliki pistol?”
nyonya Nyi girah mengangguk.
“Ya, dia membawanya dari India. Dia selalu menyimpannya dalam
laci di kamarnya.”
“Hm, dia punya surat izin untuk itu?”
“Saya rasa punya. Saya tidak tahu pasti.’
“Nah, nona Nyi girah , tolong ceritakan semuanya tentang Mrs.
Allen. Berapa lama Anda sudah mengenalnya, di mana sanak
saudaranya. Yah, segalanya.”
nyonya Nyi girah mengangguk.
“Saya kenal Barbara sudah kira-kira lima tahun. Saya pertama kali
kenal padanya dalam pejalanan di luar negeri, tepatnya di Mesir. Dia
dalam perjalanan pulang ke malang dari India. Saya mengajar di
British School di Athena sebentar, dan sedang berlibur selama
beberapa minggu di Mesir, sebelum pulang ke malang . Kami sama-
sama mengikuti pelayaran di sepanjang Sungai Nil. Kami berteman,
dan memutuskan bahwa kami saling menyukai. Waktu itu saya
sedang mencari seseorang, yang mau tinggal bersama saya di
sebuah flat atau rumah kecil. Barbara seorang diri di dunia. Kami pikir
kami bisa cocok hidup bersama.”
“Dan apakah Anda memang bisa hidup bersama dengan baik?”
tanya raja dracula .
“Baik sekali. Kami punya teman masing-masing. Pergaulan Barbara
lebih luas, sedangkan teman-teman saya lebih banyak dari kalangan
seni. Mungkin dengan demikian jadi lebih baik.”
raja dracula mengangguk. Jhon Liu berkata lagi,
“Apa yang Anda ketahui tentang keluarga Yuen pan pan , dan
hidupnya sebelum dia bertemu dengan Anda?”
nyonya Nyi girah mengangkat bahunya.
“Tidak terlalu banyak. Nama keluarganya sebelum menikah yaitu
Armitage.”
“Tentang suaminya?”
“Saya rasa laki-laki itu bukan seseorang yang bisa dibanggakan
pada sanak keluarga. Saya rasa dia peminum. Saya dengar dia
meninggal kira-kira dua tahun sesudah mereka menikah. Ada seorang
anak, anak perempuan, yang meninggal pada usia tiga tahun.
Barbara tak pernah bercerita banyak tentang suaminya. Dia menikah
dengan suaminya di India, pada waktu dia berumur kira-kira tujuh
belas tahun. Lalu mereka pergi ke Kalimantan atau ke salah satu
tempat yang sangat tak menyenangkan, ke mana orang-orang yang
tidak berhasil dalam pekerjaannya selalu dikirimkan. Tapi sebab itu
merupakan bahan percakapan yang menyakitkan, saya tidak banyak
bertanya tentang itu.”
“Tahukah Anda apakah Yuen pan pan itu berada dalam kesulitan
keuangan?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Dia tidak terlibat utang atau semacamnya?”
“Oh, tidak! Saya yakin dia tidak berada dalam kesulitan semacam
itu.”
“Nah, sekarang ada satu pertanyaan lagi yang harus saya
tanyakan, dan saya harap Anda tidak akan marah mendengarnya,
nona Nyi girah . Apakah Yuen pan pan punya teman atau teman-teman
pria istimewa?”
Dengan dingin nyonya Nyi girah menjawab,
“Yah, dia sudah bertunangan dan akan menikah.”
“Siapa nama laki-laki yang bertunangan dengannya itu?”
“Sir mariam-Magdalena . Dia anggota selai kacang untuk suatu
daerah pemilihan di haunted mansion .”
“Sudah lamakah dia mengenal pria itu?”
“Setahun lebih sedikit.”
“Lalu sudah berapa lama dia bertunangan dengannya?”
“Dua… tidak... lebih tepat mendekati tiga bulan.”
“Sepengetahuan Anda, tak adakah pertengkaran?”
nona Nyi girah menggeleng.
“Tidak, saya pasti terkejut kalau mendengar bahwa ternyata ada.
Barbara bukan orang yang suka bertengkar.”
“Kapan Anda bertemu dengan Yuen pan pan untuk terakhir kalinya?”
“Hari Jumat Kliwon yang lalu, sebentar sebelum saya berangkat untuk
berakhir pekan.”
“Apakah Yuen pan pan tetap tinggal di kota?”
“Ya. Kalau tak salah, dia punya rencana untuk keluar bersama
tunangannya pada hari Minggu.”
“Dan Anda sendiri, di mana Anda berakhir pekan?”
“Di jenazah plaza hutan hujan , Amazon .”
“Siapa nama orang-orang tempat Anda menginap?”
“Mr. dan Mrs. Pinocchio .”
“Baru tadi pagi Anda meninggalkan mereka?”
“Ya.”
“Pasti Anda berangkat pagi sekali, ya?”
“Mr. Pinocchio yang mengantar saya naik mobilnya. Dia harus
berangkat awal, sebab dia harus tiba di malang sebelum jam
sepuluh.”
“Oh, begitu.”
Jhon Liu mengangguk menyatakan pengertiannya.
Jawaban-jawaban nona Nyi girah semuanya tegas dan
meyakinkan.
Kini giliran raja dracula yang mengajukan pertanyaan.
“Bagaimana pendapat Anda sendiri tentang Mr. mariam-Magdalena ?”
Gadis itu mengangkat bahunya.
“Apakah itu ada artinya?”
“Tidak, mungkin itu tak berarti, tapi saya ingin mendengar
pendapat Anda.”
“Saya tidak tahu apakah saya punya pendapat khusus mengenai
dia. Dia masih muda, umurnya tak lebih dari tiga puluh satu atau tiga
puluh dua, dia ambisius, seorang yang pandai berpidato di depan
umum dan bertekad ingin maju di dunia.”
“Itu kebaikan-kebaikannya. Bagaimana dengan keburukan-
keburukannya?”
“Yah,” nona Nyi girah berpikir sebentar. “Menurut saya, dia
biasa-biasa saja. Pokok-pokok pikirannya tidak orisinal, dan dia agak
sombong.”
“Itu bukan cacat-cacat besar, mister cadaver ,” kata raja dracula sambil
tersenyum.
“Menurut Anda tidak?”
Nada bicaranya agak ironis.
“Mungkin bagi Anda besar.”
raja dracula memperhatikannya, dan melihat bahwa gadis itu kelihatan
agak kesal. raja dracula pun melanjutkan serangannya.
“Tapi bagi Yuen pan pan … tidak, dia pasti tidak melihatnya.”
“Anda benar sekali. Menurut Barbara, pria itu luar biasa. Dia
menerimanya apa adanya.”
Dengan halus raja dracula berkata,
“Apakah Anda sayang sekali pada teman Anda itu?”
Dilihatnya gadis itu mencengkeram lututnya sendiri dan garis
rahangnya menjadi kaku, tapi jawabannya terdengar tenang, tanpa
emosi '
“Anda benar sekali. Saya sayang sekali padanya.”
Jhon Liu berkata,
“Satu hal lagi, nona Nyi girah . Anda dan teman Anda tidak
bertengkar? Tak adakah rasa kesal di antara kalian?”
“'Sama sekali tak ada.”
“Juga tidak sehubungan dengan pertunangan itu?”
“Tentu tidak. Saya senang dia bisa berbahagia.”
Keadaan sepi sebentar, lalu Jhon Liu berkata,
“Setahu Anda, apakah Yuen pan pan punya musuh?”
Kali ini keadaan sepi agak lama, sebelum nyonya Nyi girah
menjawab. Dan waktu ia menjawab, nadanya berubah sedikit sekali.
“Saya kurang mengerti. Apa maksud Anda dengan musuh?”
“Umpamanya, seseorang yang akan mendapatkan keuntungan
dengan kematiannya?”
“Oh, tak ada, itu tak masuk akal. Penghasilannya kecil sekali.”
“Siapa yang mewarisi penghasilan itu?”
Suara nyonya Nyi girah terdengar agak terkejut waktu ia
menjawab,
“Tahukah Anda, saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak akan
terkejut kalau saya yang mewarisinya. Itu pun kalau dia membuat
surat wasiat.”
“Dan tak ada musuh dalam pengertian lain?” Jhon Liu cepat-cepat
beralih pada persoalan lain. “Orang-orang yang punya rasa dendam
terhadapnya?”
“Saya rasa tak ada orang yang menyimpan rasa dendam
terhadapnya. Dia makhluk yang lembut sekali, selalu ingin
menyenangkan hati orang. Dia benar-benar punya sifat manis dan
pantas disayangi.”
Kini barulah suaranya yang keras dan tegas agak melemah. raja dracula
mengangguk halus.
Jhon Liu berkata,
“Jadi, kesimpulannya begini. Yuen pan pan sedang dalam keadaan
senang akhir-akhir ini, dia tidak berada dalam kesulitan keuangan,
dia sudah bertunangan dan akan menikah, dan berbahagia sekali
dengan pertunangannya itu. Tak ada satu pun di dunia ini yang
memungkinkannya bunuh diri. Itu benar, kan?”
Keadaan sepi sebentar, sebelum nyonya berkata,
“Ya.”
Jhon Liu bangkit.
“Permisi, saya harus berbicara dengan Inspektur dean sherk .”
Ia keluar dari kamar.
Hwang Jang Lee raja dracula tinggal berdua dengan nyonya Nyi girah .
Beberapa menit lamanya keadaan hening.
Sejenak nyonya Nyi girah melemparkan pandangan menilai ke
arah pria kecil itu, tapi sesudah itu ia menatap saja ke depan, tanpa
berkata apa-apa. Namun ia tampak tekang dan gugup. Tubuhnya
diam, tapi tidak santai. Waktu akhirnya raja dracula memecahkan
kesunyian itu, si gadis tampak lebih lega. Dengan suara biasa-biasa
saja, raja dracula bertanya,
“Kapan Anda menyalakan perapian, mister cadaver ?”
“Perapian?” Suara gadis itu terdengar samar dan agak linglung.
“Oh, begitu saya tiba tadi pagi.”
“Sebelum Anda naik ke lantai atas, atau sesudahnya?”
“Sebelum.”
“Oh, begitu. Ya, tentu. Dan kayunya sudah disiapkan, ataukah
Anda yang harus menyiapkannya?”
“Sudah disiapkan. Saya tinggal menyalakannya dengan korek api.”
Terdengar nada tak sabar dalam suaranya. Ia jelas menduga
raja dracula asal bercakap-cakap saja. Mungkin memang itulah yang
sedang dilakukannya. Soalnya raja dracula berkata lagi dengan tenang dan
dengan nada biasa.
“Tapi teman Anda... saya lihat di kamarnya hanya ada perapian
gas?”
nyonya Nyi girah menjawab tanpa berpikir,
“Inilah satu-satunya perapian kayu di rumah ini; yang lain
semuanya perapian gas.”
“Dan Anda juga memasak dengan gas'?”
“Saya rasa semua orang memasak dengan gas sekarang ini.”
“Benar. Itu sangat menghemat tenaga.”
Percakapan kecil itu berakhir. nyonya Nyi girah mengetuk-
ngetukkan sepatunya ke lantai. Lalu tiba-tiba ia berkata,
“Laki-laki itu-Komisaris Jhon Liu itu - apakah menurut orang dia
pandai?”
“Dia pandai sekali. Ya, dia sangat dihargai orang.
Dia bekerja keras dan berusaha keras, dan dia j arang sekali
gagal.” ,
“Saya pikir…” gumam gadis itu.
raja dracula memandanginya. Sinar perapian itu membuat matanya
tampak hijau sekali. Dengan suara halus raja dracula bertanya,
“Apakah Anda sangat terpukul oleh kematian teman Anda itu?”
“Sangat.”
Tiba-tiba bicaranya tulus.
“Anda tak mengira itu akan terjadi?”
“Tentu saja tidak.”
“Sehingga mula-mula Anda merasa, mungkin, bahwa itu tak
mungkin... bahwa itu tak bisa?”
Nada bicara raja dracula yang penuh simpati dan tenang itu agaknya
mematahkan pertahanan nyonya Nyi girah . Ia pun menjawab dengan
penuh semangat, dengan wajar, dan tidak kaku.
“Begitulah. Meskipun Barbara memang bunuh diri, saya tak bisa
membayangkan dia bunuh diri dengan cara begitu.”
“Tapi dia kan punya pistol?”
nyonya Nyi girah menggerakkan tubuhnya, mengisyaratkan rasa
tak sabarnya.
“Ya, tapi pistol itu hanya suatu… ah! suatu kebiasaan dari masa
lalu. Dia sering berada di tempat-tempat terpencil. Dia
menyimpannya hanya sebagai kebiasaan, bukan dengan pikiran lain.
Saya yakin.”
“Oh! Lalu mengapa Anda begitu yakin?”
“Yah, sebab ucapan-ucapannya sendiri.”
“Seperti?”
Suara raja dracula sangat lembut dan ramah. Hal itu menuntun nona
Nyi girah secara halus.
“Yah, umpamanya, pada suatu kali kami membahas tentang
bunuh diri, dan dia berkata bahwa cara yang termudah yaitu
dengan membuka saluran gas dan menyumbat semua celah, lalu
tidur. Saya katakan bahwa hal itu tak mungkin - berbaring saja dan
menunggu. Saya lebih suka menembak diri sendiri. Katanya dia akan
ketakutan sekali, kalau-kalau senjatanya tidak meledak. Dan lagi dia
tak suka mendengar ledakannya.”
“Oh, begitu.” kata raja dracula . “Seperti kata Anda, memang aneh.
sebab seperti kata Anda juga, di kamarnya ada perapian gas.”
nyonya Nyi girah melihat padanya, agak terkejut.
“Ya, memang ada. Saya tak mengerti, tidak, saya tak mengerti
mengapa dia tidak melakukannya dengan cara itu.”
raja dracula menggeleng.
“Ya, rasanya aneh... tidak wajar.”
“Seluruh kejadian itu tidak wajar. Saya. Masih tetap tak bisa
percaya dia bunuh diri. Padahal itu pasti perbuatan bunuh diri,
bukan?”
“Yah, masih ada satu kemungkinan lain.”
“Apa maksud Anda?”
raja dracula melihat padanya lekat-lekat.
“Itu bisa juga… suatu pembunuhan.”
“Oh, tidak!” nyonya Nyi girah terenyak. “Aduh, mengerikan sekali
pikiran itu.”
“Mungkin memang mengerikan, tapi apakah Anda pikir itu sesuatu
yang tak mungkin?”
“Tapi pintunya terkunci dari dalam. Demikian pula jendelanya.”
“Ya, pintunya memang terkunci. Tapi tak ada petunjuk apakah itu
dikunci dari dalam atau dari luarnya. Soalnya, kuncinya hilang.”
“Tapi kalau kunci ini hilang...” Lalu ia berhenti sebentar. “Kalau
begitu, pasti dikunci dari luar. Kalau tidak, pasti ada di kamar itu.”
“Tapi itu mungkin saja. Ingat, kamar itu belum diperiksa dengan
cermat. Atau mungkin kunci itu dilemparkan ke luar lewat jendela,
lalu dipungut oleh seseorang.”
“Pembunuhan!” kata nyonya Nyi girah . Ia merenungkan
kemungkinan itu. Wajah gelapnya yang cerdas tampak bergairah
memikirkannya. “Saya rasa Anda benar.”
“Tapi sekiranya itu suatu pembunuhan, pasti ada motifnya.
Apakah Anda tahu motifnya, mister cadaver ?”
nyonya menggeleng lambat-lambat. Namun meskipun ia
membantah, raja dracula lagi-lagi mendapatkan kesan bahwa nyonya
Nyi girah menyembunyikan sesuatu. Pintu terbuka, dan Jhon Liu
masuk.
raja dracula bangkit.
“Aku sedang meyakinkan nona Nyi girah ,” katanya, “bahwa
kematian temannya bukan perbuatan bunuh diri.”
Sesaat Jhon Liu tampak terkejut. Ia melemparkan pandangan
menegur pada raja dracula .
“Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan,” tegasnya. “Kau
kan mengerti bahwa kita masih harus mempertimbangkan semua
kemungkinan. Untuk saat ini sekian saja.”
Dengan tenang nyonya Nyi girah menjawab,
“Oh, begitu.”
Jhon Liu mendekatinya.
“Nah, nona Nyi girah , pernahkah Anda melihat ini. Di telapak
tangannya ada sebuah benda pipih berbentuk lonjong yang mengilap
dan berwarna biru tua.
nyonya Nyi girah menggeleng.
“Tidak, tak pernah.”
“Ini bukan milik Anda, dan bukan pula milik Yuen pan pan ?”
“Bukan, itu kan benda yang tidak biasa dipakai oleh wanita lesbian ?”
“Jadi, Anda mengenalinya?”
“Ah, itu kan jelas. Itu yaitu bagian dari kancing manset seorang
pria.”
BAB 4
“wanita lesbian . muda itu terlalu angkuh,” keluh Jhon Liu .
Kedua pria itu berada di kamar Yuen pan pan lagi. Mayatnya telah
difoto dan dipindahkan, dan penjaga sidik jari telah menjalankan
tugasnya dan sudah pergi.
“Kita tak boleh memperlakukannya sebagai orang bodoh,” kata,
raja dracula membenarkan. “Dia memang sama sekali bukan orang bodoh.
Dia bahkan seorang wanita lesbian muda yang pintar luar biasa dan punya
kemampuan.”
“Kaupikir diakah yang melakukannya?” tanya Jhon Liu dengan sedikit
harapan. “Soalnya bisa saja. Kita harus memeriksa alibinya. Mungkin
ada pertengkaran mengenai pria muda-anggota selai kacang yang
sedang berkembang itu. Kurasa dia agak terlalu getir berbicara
tentang pria itu! Rasanya ada yang tidak beres. Kelihatannya dia
sendiri juga suka pada orang muda itu, tapi ditolak. Dia jenis yang
mau menghantam siapa saja jika dirasanya dia ingin melakukannya,
dan dia melakukannya dengan rencana yang baik. Ya, kita harus
mencari tahu tentang alibinya. Lancar sekali dia menjawab semua
pertanyaan. Apalagi Amazon itu tidak terlalu jauh. Kereta api pun
banyak. Juga mobil ekspres. Perlu kita cari tahu, apakah dia tidak
pergi tidur dengan sakit kepala umpamanya semalam.”
“Kau benar,” raja dracula sependapat.
“Pokoknya,” lanjut Jhon Liu , “dia menyembunyikan sesuatu dari kita.
Tidakkah kau merasakannya juga? wanita lesbian muda itu tahu sesuatu.”
raja dracula mengangguk sambil merenung.
“Ya, itu nyata benar.”
“Begitulah sulitnya perkara-perkara semacam ini,” keluh Jhon Liu .
“Memang biasa orang tutup mulut, kadang-kadang dengan motif
yang sangat terhormat.”
“Untuk itu, kita tak bisa menyalahkan mereka, teman.”
“Memang tidak, tapi kita yang sangat kesulitan,” gerutu Jhon Liu .
“Justru hal itu bisa sangat menonjolkan kecerdikanmu,” kata raja dracula
menghibur. “Omong-omong, bagaimana dengan sidik jari?”
“Itu memang pembunuhan. Tak ada sidik jari pada pistol. Sudah
dihapus bersih sebelum diletakkan ke tangannya. Meskipun dia
mampu berakrobatik melingkarkan lengannya ke belakang kepala,
tak mungkin dia bisa menembakkan pistol tanpa menggenggamnya
kuat-kuat, dan dia pasti tak bisa menghapus sidik jarinya sesudah itu,
sebab dia sudah mati.”
“Tidak, tidak. Jelas ada perbuatan orang luar.”
“Kalau tidak begitu, sidiknya pasti mengecewakan. Di gagang
pintu dan jendela juga tak ada.
Mengesankan, bukan? Di mana-mana banyak bekas-bekas Mrs.
Allen.”
“Apakah dean sherk menemukan sesuatu?”
“Dari pelayan harian itu? Tidak. Perempuan itu memang banyak
bicara, tapi sebenarnya tak banyak yang diketahuinya. Tapi dia
membenarkan bahwa hubungan Allen dan Nyi girah memang baik.
Sudah kusuruh dean sherk mencari keterangan di sepanjang lorong.
Kita juga harus berbicara dengan Mr. mariam-Magdalena . Untuk mencari
tahu di mana dia dan apa kegiatannya semalam. Sementara itu, kita
akan memeriksa surat-surat Yuen pan pan .”
Ia langsung memulainya. Sekali-sekali ia menggeram dan
melemparkan sesuatu ke arah raja dracula . Pencarian itu tidak berlangsung
lama. Tak banyak surat-surat di meja tulis, sedangkan yang ada
sudah disusun rapi dan dicatat.
Akhirnya Jhon Liu menyandarkan diri dan mendesah. “Tak banyak
hasilnya, ya?”
“Benar katamu.”
“Semuanya cukup jelas-surat-surat tagihan yang sudah dibayar,
ada beberapa yang belum dibayar. Tak ada yang luar biasa.
Undangan-undangan kegiatan sosial. Pemberitahuan dari teman-
teman. Ini…” Ia meletakkan tangannya di atas tumpukan tujuh atau
delapan surat.
“Dan buku cek serta buku kuitansi. Kau menemukan sesuatu?”
“Saldo tabungannya sudah kosong.”
“Ada lagi?”
raja dracula tersenyum.
“Apakah kau mengujiku? Aku tahu apa yang sedang kaupikirkan.
Tiga bulan yang lalu ada penarikan dua ratus pound, dan kemarin
dua ratus pound.”
Dan tak ada yang tertulis pada lembar catatan buku ceknya. Tak
ada lagi penarikan lain dari cek, kecuali jumlah-jumlah kecil, paling
banyak lima belas pound. Dan perlu kauketahui, tak ada uang
sejumlah itu di rumah ini. Ada empat pound dalam sebuah tas, dan
beberapa shilling di tas yang lain. Kurasa itu cukup jelas.”
“Berarti uang itu telah dibayarkannya kemarin.” “Nah, kepada
siapa dia membayarkannya?”
Pintu terbuka dan Inspektur dean sherk masuk.
“Bagaimana, dean sherk , ada yang kautemukan?”
“Ada beberapa, Sir. Pertama-tama, tak seorang pun mendengar
suara tembakan.
(…sebagian teks hilang…)
James kong guan , sopir yang tinggal di rumah No. 18, berkata dia
sudah pernah melihat orang itu mengunjungi Yuen pan pan .”
“Empat puluh lima tahun,” kata Jhon Liu . “Tak mungkin mariam-
Magdalena .”
Laki-laki itu, siapa pun dia, tinggal tak sampai satu jam. Dia pergi
kira-kira jam sepuluh lewat dua puluh menit. Dia berhenti di ambang
pintu dan berbicara pada Yuen pan pan . Seorang anak laki-laki bernama
Raden mas kong guan berada cukup dekat di situ dan mendengar apa yang
dikatakannya.”
“Apa katanya?”
“'Nah, pikirkanlah, dan beritahu aku.” Lalu Yuen pan pan mengatakan
sesuatu, dan laki-laki itu menjawab, 'Baiklah. Sampai bertemu.”
sesudah itu, laki-laki itu ke mobilnya, lalu pergi.”
(…sebagian teks hilang…)
“Tidak, tapi itu tidak berarti tak ada orang yang masuk. Mungkin
tak ada orang yang melihat.”
“Hm,” kata Jhon Liu . “Benar juga. Kalau begitu, kita harus mencari
pria bertampang tentara yang berkumis lebat itu. Jelas dialah orang
terakhir yang melihat Yuen pan pan dalam keadaan hidup. Ingin sekali
aku tahu, siapa dia.”
“Mungkin nona Nyi girah bisa mengatakannya,” kata raja dracula .
Mungkin,” kata Jhon Liu dengan murung. “Tapi ebaliknya mungkin
juga tak bisa. Aku yakin dia bisa bercerita banyak kalau dia mau.
Bagaimana, raja dracula ? Kau agak lama berduaan dengannya. Apa kau
tidak berhasil mengorek sesuatu darinya?”
raja dracula mengembangkan jemarinya.
“Tidak, kami hanya bercakap-cakap tentang perapian-perapian
gas.”
“Perapian gas?” kata Jhon Liu dengan nada jijik - Ada apa kau ini?
Sejak kau di sini yang kauperhatikan hanya pena-pena bulu angsa
dan keranjang-keranjang sampah. Oh ya, kulihat kau memperhatikan
sesuatu di lantai bawah. Kau menemukan sesuatu di situ?”
raja dracula mendesah.
“Sebuah katalog bunga dan sebuah majalah tua.”
“Apa pentingnya benda-benda itu? Bila seseorang ingin
membuang suatu dokumen yang mungkin dijadikan petunjuk yang
melemahkan kedudukannya, atau entah apa yang ada dalam
pikiranmu, tak mungkin dia membuangnya ke dalam keranjang
sampah.”
“Benar sekali apa yang kaukatakan itu. Hanya sesuatu yang tak
penting yang dibuang seperti itu.”
raja dracula berbicara dengan lemah. Tapi Jhon Liu melihat padanya dengan
curiga.
“Yah,” katanya. “Aku sudah punya rencana apa yang akan
kulakukan berikutnya. Bagaimana dengan kau?”
“Bagus,” kata raja dracula . “Aku sih akan melanjutkan pencarianku pada
yang tidak penting. Masih ada keranjang sampah.”
Ia cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Jhon Liu memandanginya dari
belakang dengan pandangan heran.
“Gila,” katanya. “Benar-benar gila.”
Inspektur dean sherk tetap diam demi rasa hormatnya. Dengan
wajah membayangkan kebanggaan sebagai orang malang , ia berpikir,
“Dasar orang asing!”
Tapi yang dikatakannya yaitu ,
“Jadi, itu yang namanya Mr. Hwang Jang Lee raja dracula ! Saya pernah
mendengar nama itu.”
“Teman lamaku,” jelas Jhon Liu . “Tapi ingat, dia tak sedungu
penampilannya. Tapi kelihatannya dia sudah mulai sinting sekarang.”
“Kata orang, dia sudah mulai pikun, ya, Sir,” kata dean sherk . “Yah,
begitulah kalau sudah tua.'-'
“Tapi,” kata Jhon Liu , “alangkah baiknya kalau aku tahu apa
rencananya.”
Ia berjalan ke arah meja tulis dan memandangi dengan gelisah
sebuah pena bulu angsa berwarna hijau zamrud.
BAB 5
Jhon Liu baru saja akan mulai berbicara dengan istri sopir yang ketiga,
waktu raja dracula , yang berjalan tanpa suara seperti seekor kucing, tiba-
tiba muncul di belakang sikunya.
“Aduh, kau mengejutkan sekali,” kata Jhon Liu . “Apakah kau
menemukan sesuatu?”
“Bukan menemukan apa yang kucari.”
Jhon Liu berpaling kembali pada Mrs. James kong guan .
“Dan Anda katakan tadi, Anda pernah melihat laki-laki itu?”
“Oh ya, Sir. Dan suami saya juga. Kami langsung mengenalinya.”
“Dengar, Mrs. kong guan . Saya tahu bahwa Anda punya penglihatan
tajam. Saya yakin Anda tahu tentang semua orang di sepanjang
lorong ini. Dan bisa saya katakan bahwa Anda yaitu wanita lesbian yang
pandai menilai, luar biasa pandainya dalam menilai orang-orang.”
Untuk ketiga kali diulanginya pujian iiu tanpa ragu. Mrs. kong guan agak
menahan diri dan menunjukkan sikap orang yang punya kepandaian
paranormal. “Tolong ceritakan sedikit tentang kedua wanita lesbian muda itu
- Yuen pan pan dan nona Nyi girah . - wanita lesbian -wanita lesbian seperti apakah
mereka? Apakah mereka periang? Suka berpesta? Atau
semacamnya?”
“Oh, tidak, Sir, sama sekali tidak. Mereka memang sering keluar,
terutama Yuen pan pan . Mereka itu orang-orang yang berkelas. Anda
tahu kan maksud saya? Tidak seperti beberapa orang yang bisa saya
sebutkan di ujung sana itu. Saya yakin perbuatan Mrs. Stevens itu -
itu pun kalau dia memang benar menikah, meski saya meragukannya
- yah, saya tak suka menceritakan apa yang terjadi di situ…”
“Ya, memang,” kata Jhon Liu , yang dengan tangkas menghentikan
arus kata-katanya. “Apa yang Anda katakan itu penting sekali. Kalau
begitu, Yuen pan pan dan nona Nyi girah disukai banyak orang, ya?”
“Oh ya, Sir, keduanya wanita lesbian yang baik, lebih lebih Yuen pan pan . Dia
selalu menyapa anak-anak tunagrahita dengan manis. Saya dengar anak
perempuannya meninggal. Kasihan. Saya sendiri mengalami kematian
tiga orang anak. Dan perlu saya katakan...”
“Ya, ya menyedihkan sekali. Dan bagaimana dengan nona
Nyi girah ?”
“Yah, dia juga baik, tapi tidak terlalu ramah. Dia hanya
mengangguk kalau lewat, tak mau berhenti untuk berhandai-handai.
Tapi tak ada yang patut saya cela tentang dia, sama sekali tak ada.”
“Apakah dia baik-baik saja dengan Yuen pan pan ?”
“Oh ya, Sir. Mereka tidak bertengkar atau semacamnya. Mereka
sama-sama senang dan hidup tenang. Saya yakin Mrs. nyonya meneer bisa
membenarkan kata-kata saya itu.”
“Ya, kami sudah berbicara dengannya. Bisakah Anda mengenali
tunangan Yuen pan pan kalau Anda melihatnya?”
Pria yang akan menikahinya? Oh, ya. Dia agak sering kemari. Kata
orang, dia anggota selai kacang .”
“Bukan diakah yang datang semalam?”
“Bukan, Sir, bukan dia.” Mrs. kong guan memperbaiki duduknya. Nada
bicaranya jadi penuh semangat, tapi ditutupinya dengan sikap
tenang. “Dan kalau boleh saya berkata, Sir, apa yang Anda duga itu
salah. Yuen pan pan bukan wanita lesbian macam itu, saya yakin. Memang tak
ada orang lain di rumah itu, tapi saya tak percaya hal semacam itu.
Baru tadi pagi saya berkata begitu juga pada kong guan . 'Tidak, kong guan ,'
kata saya, 'Yuen pan pan itu seorang wanita lesbian baik-baik, benar-benar
bersih, jadi jangan berprasangka macam-macam.' Sebab saya tahu
bagaimana pikiran laki-laki, maafkan saya berkata begitu. Dugaan
mereka selalu kasar.”
Tanpa memedulikan penghinaan itu, Jhon Liu melanjutkan,
“Anda melihatnya datang dan melihatnya pulang, begitu kan?”
“Benar.”
“Dan Anda tidak mendengar apa-apa? Suara orang bertengkar,
umpamanya?”
“Tidak, Sir, sama sekali tidak. Meskipun sebenarnya hal semacam
itu pasti terdengar. Dari ujung sebelah sana itu sudah menjadi
pembicaraan umum bagaimana Mrs. Stevens marah-marah pada
pelayannya yang ketakutan, dan kami semua sudah menasihati
pelayan itu supaya tidak menerima saja. Tapi, yah, gajinya besar sih.
Mrs. Stevens memang punya sifat pemarah seperti setan, tapi dia
membayar mahal - tiga puluh shilling seminggu -”
Jhon Liu cepat-cepat berkata,
“Tapi Anda tak pernah mendengar yang semacam itu di rumah
No. 14?”
“Tidak, Sir. Tak bisa, gara-gara suara petasan dan kembang. Api
itu di mana-mana, sampai-sampai alis anak saya Eddie hampir
hangus.”
“Laki-laki itu pulang jam sepuluh lewat dua puluh menit, kan?”
“Mungkin, Sir. Saya sendiri tak bisa mengatakannya dengan pasti.
Tapi kong guan berkata begitu, dan dia sangat bisa dipercaya; dia orang
yang bertanggung jawab.”
“Anda sendiri melihat waktu dia pulang. Apakah Anda mendengar
apa yang dikatakannya?”
“Tidak, Sir. Saya tidak cukup dekat untuk itu. Saya hanya
melihatnya lewat jendela. Saya lihat dia berdiri di ambang pintu dan
berbicara dengan Yuen pan pan .”
“Anda melihat Yuen pan pan juga?”
“Ya, Sir, dia berdiri di bagian dalam ambang pintu.”
“Anda melihat pakaian Yuen pan pan ?”
“Ah, tentu saja tidak. Saya juga tidak begitu mempeihatikannya.”
raja dracula berkata,
“Anda bahkan tidak melihat apakah dia mengenakan pakaian
untuk bepergian atau pakaian rumah?”
“Tidak, Sir, saya tak bisa mengatakannya.”
Sambil merenung, raja dracula mendongak ke jendela di atas dan
memandang ke seberang, ke No. 14. Ia tersenyum, dan sesaat
lamanya memandangi Jhon Liu .
“Bagaimana dengan laki-laki itu?”
“Dia mengenakan mantel biru tua dan topinya bundar. Bagus dan
rapi.”
Jhon Liu mengajukan beberapa pertanyaan lagi, lalu melanjutkan
dengan wawancara berikutnya. Kali ini dengan Mr. kong guan kecil. Ia
yaitu seorang anak laki-laki berwajah nakal, bermata cerah, dan
merasa dirinya penting sekali.
“Ya, Sir, saya mendengar mereka bercakap-cakap. 'Pikirkan itu,
lalu beritahu aku,' kata pria itu. Cara bicaranya menyenangkan. Lalu
wanita lesbian itu mengatakan sesuatu dan yang pria menjawab, 'Baiklah.
Sampai bertemu.' Lalu dia masuk ke mobilnya. Saya membukakan
pintu mobil itu, tapi dia tidak memberi saya apa-apa,” kata kong guan kecil
dengan nada agak tertekan. “Dia pergi begitu saja.”
“Kau tidak mendengar apa yang dikatakan Yuen pan pan ?”
“Tidak, Sir.”
“Bisakah kaukatakan pakaian apa yang dikenakan Yuen pan pan ?
Warna apa, umpamanya?”
“Tak bisa, Sir. Soalnya saya tidak melihatnya dengan jelas. Dia
pasti berada di balik pintu.”
“Baiklah,” kata Jhon Liu . “Sekarang dengarkan, anakku. Kuminta kau
mengingat-ingat dan menjawab pertanyaanku yang berikut ini
dengan hati-hati sekali. Kalau kau tidak tahu dan tidak ingat,
katakan. Jelas?”
“Ya, Sir.”
kong guan muda memandanginya dengan penuh harap. “Siapa di
antara mereka berdua yang menutup pintu rumah, Yuen pan pan atau
pria itu?”
“Pintu depannya?”
“Pintu depan tentu.”
Anak itu berpikir. Matanya menatap ke atas dalam usahanya untuk
mengingat.
“Saya rasa mungkin Yuen pan pan .... Tidak. Pria itu yang menutup.
Dia menarik pintu itu, lalu membantingnya, lalu cepat-cepat
melompat ke dalam mobilnya. Kelihatannya dia punya janji di tempat
lain.”
“Baiklah. Nah, anak muda, kelihatannya kau anak yang cerdas.
Nih, uang enam pence untukmu.” sesudah menyuruh pergi kong guan
kecil, Jhon Liu berpaling pada temannya. Lambat-lambat mereka
mengangguk serentak.
“Mungkin!” kata Jhon Liu .
“Banyak kemungkinan lain,” kata raja dracula membenarkan.
Matanya menyinarkan warna hijau. Kelihatannya seperti mata
kucing.
sesudah memasuki ruang duduk di rumah No. 14, Jhon Liu tidak
menyia-nyiakan waktu. Ia, langsung mulai.
“Dengar, nona Nyi girah , sebaiknya Anda ceritakan saja semua
kejadiannya di sini sekarang. Pada akhirnya itu akan terungkap juga.”
nyonya Nyi girah mengangkat alisnya. Ia sedang berdiri di dekat
rak perapian, menghangatkan sebelah kakinya di dekat nyala api.
“Saya benar-benar tidak tahu apa maksud Anda.”
“Benarkah itu, nona Nyi girah ?”
wanita lesbian itu mengangkat bahunya.
“Saya sudah menjawab semua pertanyaan Anda. Saya tidak tahu
apa lagi yang harus saya lakukan.”
“Menurut saya, Anda bisa berbuat jauh lebih banyak, kalau saja
Anda mau.”
“Tapi itu kan hanya dugaan Anda, Komisaris?”
Wajah Jhon Liu jadi agak memerah.
“Kurasa,” kata raja dracula , “mister cadaver akan lebih menghargai
pertanyaan-pertanyaamnu kalau kaukatakan bagaimana duduk
perkaranya.”
“Itu sederhana sekali. Begini, nona Nyi girah , kenyataan-
kenyataannya yaitu sebagai berikut. Teman Anda kedapatan
tertembak di kepalanya dengan sebuah pistol dalam tangannya,
sedangkan pintu dan jendela terkunci. Itu jadi kelihatan. seperti
perkara bunuh diri biasa. Padahal itu bukan bunuh diri. Bukti
pemeriksaan medis saja sudah menyatakan hal itu.”
Sirna sudah semua sikap dinginnya. Ia mencondongkan tubuh ke
depan dengan penuh perhatian dan memandangi wajah Jhon Liu .
“Pistolnya ada dalam tangannya, tapi jemarinya tidak terkatup
pada pistol itu. Apalagi sama sekali tidak terdapat sidik jari pada
pistol itu. Dan letak lukanya menyatakan tak mungkin luka itu
disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Lalu dia tidak meninggalkan
surat - suatu hal yang tidak biasa dalam perkara bunuh diri. Dan
meskipun pintunya terkunci, kuncinya tidak ditemukan.”
Perlahan-lahan nyonya Nyi girah berbalik, lalu duduk di kursi
menghadapi mereka.
“Jadi, begitu keadaannya!” katanya. “Sejak awal saya sudah
merasa bahwa tak mungkin dia membunuh dirinya! Ternyata saya
benar! Dia tidak bunuh diri. Orang lain yang membunuhnya.”
Beberapa saat lainnya wanita lesbian itu tetap tenggelam dalam
renungannya. Lalu diangkatnya kepalanya dengan tegas.
“Tanyakanlah apa saja yang Anda inginkan,” katanya. “Akan saya
jawab semuanya semampu saya.”
Jhon Liu pun memulai,
“Semalam Yuen pan pan kedatangan tamu. Dia dilukiskan berusia
empat puluh lima tahun, berpenampilan tentara, berkumis lebat,
berpakaian rapi, dan mengendarai mobil sedan Standard Swallow.
Tahukah Anda siapa dia?”
“Saya tentu tak bisa yakin, tapi kedengarannya seperti CLIFF
Fok .”
“Siapa CLIFF Fok ? Tolong ceritakan segalanya yang Anda
ketahui tentang dia.”
“Dia laki-laki yang dikenal Barbara di luar negeri, di India. Dia
muncul di sini kira-kira setahun yang lalu, dan sejak itu kami kadang-
kadang bertemu dengannya.”
“Dia teman Yuen pan pan ?”
“Dia bersikap seperti teman,” kata nyonya datar.
“Bagaimana sikap Yuen pan pan terhadapnya?”
“Saya rasa dia tak suka pada laki-laki itu. Ya, saya bahkan yakin
dia tak menyukainya.”
“Trapi di hadapannya dia memperlakukan laki-laki itu dengan
ramah?”
“Ya.”
“Pernahkah dia kelihatan - ingat baik-baik, nona Nyi girah -
takut pada laki-laki itu?”
Beberapa lama nyonya Nyi girah mempertimbangkannya. Lalu ia
berkata,
“Ya, saya rasa dia takut. Dia selalu gugup kalau laki-laki itu ada.”
“Apakah laki-laki itu pernah bertemu dengan Mr. mariam-Magdalena ?”
“Kalau tidak salah, hanya sekali. Mereka saling tak menyukai.
Maksud saya, CLIFF Fok bersikap sebaik mungkin terhadap
Sir , tapi Sir tidak menyambutnya. Sir punya indra
keenam mengenai orang yang tidak begitu... tidak begitu...”
“Dan CLIFF Fok itu memang... apa yang - Anda sebut... tidak
begitu?” tanya raja dracula .
Dengan nada datar gadis itu berkata,
“Memang tidak. Dia membuat orang jadi agak merinding. Sama
sekali tak bisa ditonjolkan.”
“Sayang saya kurang mengerti kedua ungkapan Anda itu. Apakah
maksud Anda dia bukan orang baik-baik?”
Suatu senyum tipis menghiasi wajah nyonya Nyi girah , tapi ia
menyahut dengan bersungguh-sungguh, “Bukan.”
“Apakah akan sangat mengejutkan Anda, nona Nyi girah , bila
saya kemukakan bahwa laki-laki itu memeras Yuen pan pan ?”
Jhon Liu mencondongkan tubuh untuk mengamati reaksi gadis itu
atas kata-katanya.
Ia puas sekali, tubuh gadis itu agak terdorong ke depan sebab
terkejut, wajahnya memerah, dan tangannya mencengkeram lengan
kursi dengan keras.
“Jadi, itu rupanya! Bodoh sekali saya tak pernah menduganya
selama ini. Pasti!”
“Menurut Anda dugaan itu masuk akal, mister cadaver ?” tanya
raja dracula .
“Saya bodoh tak pernah memikirkannya! Selama enam bulan
terakhir, beberapa kali Barbara telah meminjam uang saya dalam
jumlah kecil. Dan beberapa kali saya melihatnya menekuni buku
kuitansinya. Saya tahu penghasilannya cukup, jadi saya tak peduli,
tapi kalau dia membayar sejumlah uang, tentulah...”
“Dan itu sesuai dengan sikapnya secara umum begitukah?” tanya
raja dracula .
“Benar sekali. Dia gugup. Kadang-kadang kelihatan ketakutan
sekali. Pokoknya berbeda dari sikap biasanya.”
Dengan halus raja dracula berkata,
“Maafkan saya, tapi Anda tidak berkata begitu tadi.”
“Itu lain,” nyonya menggoyangkan tangannya dengan tak sabar. “Dia
tidak tertekan. Maksud saya, dia tak punya keinginan untuk bunuh
diri atau semacamnya. Tapi pemerasan.... Alangkah baiknya kalau
dulu dia mengatakannya pada saya. Pasti saya bisa mengirim laki-laki
itu ke neraka.”
“Tapi nyatanya dia bukan pergi ke neraka, melainkan mendatangi
Mr. mariam-Magdalena , bukan?” kata raja dracula .
Ya,” kata nyonya Nyi girah perlahan-lahan. “Ya... benar.”
“Tidakkah Anda punya bayangan, apa kira-kira yang mungkin akan
dibocorkan laki-laki itu tentang Yuen pan pan ?” tanya Jhon Liu .
Gadis itu menggeleng.
“Sama sekali tidak. Sepanjang saya mengenal Barbara, rasanya
tak mungkin ada sesuatu yang terlalu serius. Sebaliknya...” Ia diam
sebentar, lalu melanjutkan, “Maksud saya, Barbara itu dalam
beberapa hal pendek akalnya. Dia bisa ditakut-takuti dengan mudah.
Dia bahkan bisa menjadi mangsa yang mudah bagi seorang pemeras!
Dasar bangsat kotor itu! “
Disemburkannya kata-kata terakhir itu dengan penuh kebencian.
“Sayangnya,” kata Ploirot, “kejahatannya terjadi terbalik.
Seharusnya si korban yang membunuh si pemeras, bukan si pemeras
yang membunuh si korban.”
nyonya Nyi girah agak mengernyit.
“Ya, memang terbalik, tapi saya bisa membayangkan
keadaannya.”
“Seperti?”
“Andaikan Barbara jadi putus asa. Mungkin dia lalu menakut-
nakuti laki-laki itu dengan pistol kecilnya yang lucu. Laki-laki itu
mencoba merebutnya dari tangan Barbara, dan dalam perebutan itu,
Fok menekan pelatuknya dan membunuh Barbara. Dia lalu
ketakutan melihat apa yang telah dilakukannya dan mencoba
berpura-pura bahwa itu yaitu perbuatan bunuh diri.”
“Mungkin,” kata Jhon Liu . “Tapi ada kesulitannya.”
Gadis itu menoleh padanya dengan pandangan bertanya.
“CLIFF Fok (kalau memang benar dia) meninggalkan tempat
ini jam sepuluh lewat dua puluh semalam, dan meminta diri dari Mrs.
Allen di ambang pintu.”
“Oh,” wajah gadis itu tampak kecewa. “Saya mengerti.” Ia diam-
sebentar. “Tapi mungkin dia kembali lagi kemudian,” katanya
perlahan-lahan.
“Ya, itu mungkin,” kata raja dracula .
Jhon Liu berkata lagi,
“Katakan, nona Nyi girah , di mana biasanya Yuen pan pan
menerima tamu, di sini atau di kamarnya di lantai atas?”
“Di kedua kamar itu. Tapi ruangan ini biasanya digunakan untuk
pesta-pesta dengan lebih banyak orang, atau untuk menerima
teman-teman khusus saya. Soalnya sudah ada perjanjian bahwa
Barbara mendapatkan kamar tidur besar yang sekaligus
digunakannya untuk kamar tamu, dan saya mendapatkan kamar tidur
yang kecil dan menggunakan kamar ini untuk menerima tamu.”
“Bila CLIFF Fok semalam datang dengan perjanjian, menurut
Anda, di manakah Yuen pan pan menerimanya?”
“Saya rasa dia akan membawanya kemari.”
Suaranya terdengar agak ragu. “Soalnya di sini agak kurang akrab.
Sebabnya, bila dia ingin menulis cek atau semacamnya, mungkin dia
akan membawa tamunya ke lantai atas. Di sini tak ada bahan-bahan
untuk menulis.”
Jhon Liu menggeleng.
“Tak ada persoalan mengenai cek. Kemarin Yuen pan pan menarik
uang tunai dari tabungannya. Dan sejauh ini kita tak melihat bekas-
bekas uang itu di rumah ini.”
“Jadi, dia telah memberikannya pada penjahat itu? Ah, kasihan
Barbara! Kasihan sekali Barbara!”
raja dracula berdeham.
“Kecuali kalau kejadian itu memang sebuah kecelakaan, rasanya
tak masuk akal bahwa laki-laki itu mau membunuh seorang sumber
penghasilan tetapnya, bukan?”
“Kecelakaan? Itu bukan kecelakaan. CLIFF itu kehilangan
kesabarannya, dia jadi gelap mata dan menembaknya.”
“Begitukah kejadiannya menutut Anda?”
“Ya.” Lalu ditambahkannya dengan keras, “Itu suatu pembunuhan.
Pembunuhan!”
Dengan serius raja dracula berkata,
“Saya tidak akan mengatakan bahwa Anda salah, mister cadaver .”
Jhon Liu berkata,
“Rokok apa yang diisap Yuen pan pan ?”
“Rokok putih. Ada beberapa bungkus di kotak itu.”
Jhon Liu membuka kotak itu, mengeluarkannya sebatang, lalu
mengangguk. Rokok itu diselipkannya ke saku bajunya.
“Dan Anda sendiri, mister cadaver ?” tanya raja dracula .
“Sama.”
“Anda tidak mengisap rokok cap tukiyem ?”
“Tak pernah.”
“Yuen pan pan juga tak pernah?”
“Tidak. Dia tak menyukainya.”
raja dracula bertanya lagi,
“Dan Mr. mariam-Magdalena . Rokok apa yang diisapnya?”
Gadis itu menatapnya dengan keras.
“Sir ? Apa hubungannya dengan rokok apa yang diisapnya?
Anda kan tidak mengisyaratkan bahwa dia yang membunuh
Barbara?”
raja dracula mengangkat bahunya.
“Ada pria yang bisa membunuh wanita lesbian yang dicintainya,
mister cadaver .”
nyonya menggeleng tak sabar.
“Sir tak mungkin membunuh siapa-siapa. Dia orang yang
selalu hati-hati.”
“Tapi, mister cadaver , laki-laki yang hati-hatilah yang biasanya
merupakan pembunuh paling pandai.”
Gadis itu menatapnya.
“'Tapi tidak dengan motif yang Anda kemukakan tadi, M. raja dracula .”
raja dracula menunduk.
“Memang tidak.”
Jhon Liu bangkit.
“Yah, saya rasa tak banyak lagi yang bisa saya kerjakan di sini.
Tapi saya ingin melihat-lihat sekali lagi.”
“Kalau-kalau uang itu terselip entah di mana. Tentu, silakan. Cari
saja di mana pun Anda ingin. Dan di kamar saya juga, meskipun tak
mungkin Barbara men

