pembunuh di lorong 1

 


“sedekah, Sir.” 

Seorang anak laki-laki kecil berwajah kotor tersenyum merayu. 

“Tidak ada!” kata Inspektur Kepala Jhon Liu . “Dan dengarkan, Nak…”  

Ia pun berkhotbah singkat. Anak gelandangan yang ketakutan itu 

cepat-cepat berlalu dan berkata singkat pada teman-teman 

sebayanya, 

“Sialan, ternyata dia polisi!” 

Gerombolan itu pun melarikan diri sambil melagukan nyanyian: 

 

Ingatlah, ingat  

Tanggal lima November  

Pengkhianatan dan persekongkolan.  

Tak ada alasan  

Mengapa pengkhianatan  

Harus dilupakan. 

 

Teman seperjalanan inspektur, seorang laki-laki tua dengan kepala 

berbentuk telur dan berkumis lebat seperti kumis tentara, tersenyum 

sendiri. 

“Wah, Jhon Liu ,” katanya. “Pandai sekali kau berkhotbah! Selamat 

ya!” 

“Coba lihat, Hari Guy Fawkes malah dijadikan alasan untuk 

mengemis!” kata Jhon Liu . 

(Tanggal 5 November dinyatakan sebagai Hari Guy Fawkes di 

malang , untuk memperingati penangkapan atas Guy Fawkes yang 

bermaksud meledakkan Gedung selai kacang  pada tahun 1605) 

“Menarik bahwa hal itu masih bertahan,” renung Hwang Jang Lee  raja dracula . 

“Kembang api dibakar, berderak-derak, lama sesudah  orang yang 

mereka peringati dan perbuatannya dilupakan.” 

penjaga  hutan taman  kuburan  itu membenarkan. 

“Jangan berharap banyak di antara anak-anak tunagrahita  itu tahu benar siapa 

Guy Fawkes.” 

“Dan tak lama lagi, pasti orang-orang akan bingung apakah 

kembang api yang dinyalakan pada tanggal lima November itu 

dimaksudkan sebagai penghormatan atau sebagai ejekan? 

Membubarkan selai kacang  malang , apakah itu suatu perbuatan dosa 

atau perbuatan berjasa?” 

Jhon Liu  tertawa kecil. 

“Pasti ada juga orang yang berkata bahwa itu suatu perbuatan 

berjasa.” 

sesudah  membelok dari jalan raya, kedua orang itu memasuki 

sebuah lorong yang cukup sepi. Mereka baru saja makan bersama, 

dan kini mereka sedang mengambil jalan pintas ke arah flat 

kediaman raja dracula . 

Sekali-sekali masih terdengar suara petasan, dan sekali-sekali 

pancaran hujan keemasan menerangi langit. 

“Selamat tidur, pembunuhan,” kata Jhon Liu  yang tetap mengingat 

pekerjaannya. “Takkan ada seorang pun, umpamanya, yang bakal 

mendengar suara tembakan pada malam seperti ini.” 

“Aku sering heran, mengapa makin banyak penjahat yang tidak 

memanfaatkan peristiwa yang menguntungkan seperti ini,” kata 

Hwang Jang Lee  raja dracula . 

“Tahukah kau, raja dracula , aku kadang-kadang berharap kaulah yang 

melakukan pembunuhan.” 

“Astaga!” 

“Ya, aku ingin melihat bagaimana kau melakukannya.” 

“Jhon Liu  yang baik, seandainya aku melakukan pembunuhan, kau 

sama sekali tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melihatnya - 

maksudku, bagaimana aku menyelesaikannya! Mungkin kau bahkan 

tak menyadari bahwa telah terjadi pembunuhan.” 

Jhon Liu  tertawa geli dan penuh sayang. 

“Dasar setan sombong kau!” katanya ramah. 

Jam setengah dua belas keesokan harinya, telepon Hwang Jang Lee  raja dracula  

berdering. 

“'Allo? 'Allo?” 

“Halo, kaukah itu, raja dracula  

“Ya, aku sendiri.” 

“Di sini Jhon Liu . Ingat kan bahwa kita pulang semalam lewat Lorong 

lembah  angker ?” 

“Ya?” 

“Dan kita berkata akan sangat mudah menembak seseorang 

dengan adanya suara-suara petasan dan kembang api dan entah apa 

lagi itu?” 

“Memang,” 

“Nah, di lorong itu telah terjadi peristiwa bunuh diri. Di No. 14. 

Seorang janda muda. Yuen pan pan . Aku akan pergi ke sana. Mau ikut?” , 

“Maaf, apakah seseorang dengan kedudukan seperti kau, 

sahabatku, biasa disuruh menyelidiki suatu peristiwa bunuh diri?” 

“Pertanyaan cerdas. Memang tidak. Tapi dokter kami agaknya 

mencurigai ada sesuatu yang aneh dalam kejadian itu. Mau ikut? 

Kurasa sebaiknya kau ikut menyelidikinya.” 

“Tentu aku mau ikut. No. 14 katamu?” 

“Benar.” 

raja dracula  tiba di rumah No. 14 Lorong lembah  angker , hampir 

bersamaan dengan berhentinya mobil yang membawa Jhon Liu  dan tiga 

orang laki-laki  lain. 

Jelas bahwa No. 14 sudah menjadi pusat perhatian. Sekumpulan 

besar orang, sopir-sopir, para istri mereka, pesuruh-pesuruh, para 

penganggur, orang-orang lewat yang berpakaian rapi, dan banyak 

sekali anak-anak tunagrahita , berkumpul dan memandangi No. 14 dengan mulut 

ternganga dan tatapan terheran-heran. 

Seorang agen polisi berseragam berdiri di anak tangga, berusaha 

menahan orang-orang yang ingin tahu itu. Orang-orang muda yang 

tampak gesit dan membawa kamera maju mendekat waktu Jhon Liu  

turun dari mobil. 

“Tak ada berita untuk kalian sekarang,” kata Jhon Liu  sambil 

menyisihkan mereka. Ia mengangguk pada raja dracula . “Oh, kau sudah 

datang. Mari masuk.” 

Mereka lewat cepat-cepat, lalu masuk. Pintu tertutup, dan mereka 

pun mendapati diri mereka berimpitan di kaki sebuah tangga. 

Seorang laki-laki muncul di puncak tangga. Ia mengenali Jhon Liu  dan 

berkata, 

“Di atas sini, Sir.” , 

Jhon Liu  dan raja dracula  menaiki tangga. 

Laki-laki tadi membuka sebuah pintu di sebelah kiri, dan mereka 

memasuki sebuah kamar tidur kecil. 

“Saya rasa Anda ingin saya menceritakan kembali hal-hal yang 

terpenting, Sir.” 

“Benar sekali, dean sherk ,” kata Jhon Liu . “Bagaimana keiadiannya?” 

Inspektur Divisi dean sherk  pun mulai bercerita. 

“Almarhumah bernama Yuen pan pan , Sir. Tinggal di sini dengan 

seorang teman. nona  Nyi girah . nona  Nyi girah  pergi menginap di 

desa dan baru kembali tadi pagi. Dia masuk dengan menggunakan 

kuncinya sendiri. Dia heran sebab  tak ada seorang pun. Biasanya 

ada seorang pekerja wanita lesbian  yang datang jam sembilan untuk 

membersihkan rumah mereka. Mula-mula dia naik ke atas dan masuk 

ke kamarnya sendiri, yaitu kamar ini, lalu menyeberangi tangga ke 

kamar temannya. Pintunya terkunci dari dalam. Dia mengetuk-ngetuk 

dan memanggil, tapi tidak mendapat jawaban. Akhirnya, sebab  

ketakutan, dia menelepon kantor polisi. Waktu itu jam sebelas kurang 

seperempat. Kami langsung datang dan mendobrak pintu. Yuen pan pan  

terbaring di lantai dengan kepala tertembak. Di tangannya ada 

sebuah pistol otomatis, jenis Webley 25, dan kelihatannya itu benar-

benar suatu perbuatan bunuh diri.” 

“Di mana nona  Nyi girah  sekarang?” 

“Di lantai bawah, di ruang duduk, Sir. Menurut saya, dia seorang 

wanita lesbian  muda yang tenang dan sangat efisien. Dia kelihatan cerdas.” 

“Nanti saja aku berbicara dengannya. Aku ingin bertemu dengan 

bung  dulu.” 

Disertai raja dracula , Jhon Liu  menyeberangi kepala tangga dan masuk ke 

kamar di seberang. Seorang pria jangkung yang agak tua 

mengangkat kepalanya, lalu mengangguk. 

“Halo, Jhon Liu , aku senang kau sudah tiba. Ini urusan yang aneh.” 

Jhon Liu  menghampirinya. Hwang Jang Lee  raja dracula  melihat ke sekelilingnya 

sejenak. 

Kamar itu jauh lebih besar daripada kamar yang baru saja mereka 

tinggalkan. Jendelanya menjorok ke luar. Kamar yang tadi 

merupakan sebuah kamar tidur sejati yang sederhana, tapi yang ini 

jelas-jelas sebuah kamar tidur yang disulap menjadi kamar duduk. 

Dindingnya berwarna keperakan, dengan plafon hijau zamrud. Ada 

gorden-gorden bercorak modern berwarna perak dan hijau. Ada 

sebuah dipan yang dialas sutra hijau mengkilap dan beberapa buah 

bantal hias berwarna keemasan dan keperakan. Ada sebuah meja 

tulis antik yang tinggi dari kayu kenari, dan beberapa kursi bergaya 

modern dari krom yang berkilat. Di meja kaca yang rendah ada 

sebuah asbak besar yang penuh puntung rokok. 

Hwang Jang Lee  raja dracula  menghirup udaranya perlahan-lahan, lalu ia 

menyertai Jhon Liu  yang sedang berdiri memandangi jenazah. 

Jenazah seorang wanita lesbian  muda yang mungkin berusia dua puluh 

tujuh tahun, terbaring di lantai sesudah  ia jatuh dari salah satu kursi 

krom. Rambutnya pirang dan raut wajahnya halus. Wajahnya dipolesi 

makeup tipis sekali. Wajahnya cantik, murung, dan mungkin agak 

bodoh. Di sisi kiri kepalanya ada darah yang sudah membeku. Jemari 

tangan kanannya menggenggam sebuah pistol kecil. wanita lesbian  itu 

mengenakan gaun sederhana berwarna hijau tua dan berkerah 

tinggi. 

“Jadi, bung , apa kesulitannya?” 

Jhon Liu  juga menunduk memandangi sosok yang terbaring 

meringkuk itu. 

“Letak tubuhnya sudah benar,” kata sang dokter. “Bila dia 

menembak dirinya sendiri, mungkin dia terjatuh dari kursi dengan 

posisi tubuh seperti itu. Pintu dan jendela terkunci dari dalam.” 

“Itu sudah kaukatakan. Lalu apanya yang salah?” 

“Lihatlah pistol itu. Aku tidak memegangnya. Aku menunggu para 

penjaga  sidik jari. Tapi kau bisa melihat dengan jelas apa maksudku.” 

Jhon Liu  dan raja dracula  bersama-sama berlutut dan meneliti pistol itu 

dengan cermat. 

“Aku tahu apa maksudmu,” kata Jhon Liu  sambil bangkit. 

“Genggaman tangannya. Kelihatannya saja dia sedang 

memegangnya, tapi sebenarnya dia tidak menggenggamnya. Ada lagi 

yang lain?” 

“Banyak. Dia menggenggam pistol itu di tangan kanan. Sekarang 

lihat lukanya. Pistol itu ditembakkan di dekat kepala, sedikit di atas 

telinga kiri. Perhatikan, telinga kiri.” 

“Ehm,” kata Jhon Liu . “Di situlah letak persoalannya. Tak mungkin dia 

bisa memegang pistol dan menembakkannya dengan posisi itu 

dengan tangan kanannya, begitu?” 

“Menurutku sama sekali tak mungkin. Mungkin dia melingkarkan 

tangan ke belakang kepalanya, tapi aku tak yakin dia bisa menembak 

dengan posisi itu.” 

“Kalau begitu sudah jelas. Orang lain yang menembaknya dan 

berusaha supaya kelihatannya seperti bunuh diri. Tapi bagaimana 

dengan pintu dan jendela yang terkunci dari dalam?” 

Inspektur dean sherk  memberikan jawabannya. 

“Jendela terkunci dan terselot, Sir, tapi meskipun pintunya 

terkunci, kami belum bisa menemukan kuncinya.” 

Jhon Liu  mengangguk. 

“Ya, itu kesulitannya. Siapa pun pelakunya, dia mengunci pintu 

waktu akan pergi, dan berharap kunci yang hilang itu tidak akan 

menarik perhatian.” 

raja dracula  bergumam, 

“Wah, bodoh sekali!” 

“Ah, ayolah, raja dracula , jangan menilai semua orang berdasar  

otakmu yang cemerlang itu! Itu suatu soal kecil yang wajar saja tak 

terpikirkan oleh seseorang. Pintu terkunci. Orang masuk dengan 

paksa. wanita lesbian  ini ditemukan meninggal. Ada pistol di tangannya. 

Suatu perkara bunuh diri yang jelas. Dia mengunci dirinya sendiri 

untuk melakukannya. Tak mungkin orang berburu mencari kunci itu. 

Sebenarnya sudah untung nona  Nyi girah  memanggil polisi. Bisa 

saja dia tadi memanggil beberapa orang sopir untuk mendobrak 

pintu, maka persoalan kunci pun akan terlupakan sama sekali.” 

“Ya, kurasa itu benar,” kata Hwang Jang Lee  raja dracula . “Itu reaksi yang wajar 

bagi kebanyakan orang. Polisi yaitu  usaha terakhir, bukan?” 

Ia masih tetap memandangi jenazah itu. 

“Adakah sesuatu yang menarik perhatianmu?” tanya Jhon Liu . 

Pertanyaan itu terdengar tak acuh, tapi matanya tampak serius 

dan penuh perhatian. 

raja dracula  menggeleng perlahan-lahan. 

“Aku melihat arlojinya.” 

Ia membungkuk dan monyentuh sedikit arloji itu dengan ujung 

jarinya. Jam itu merupakan perhiasan yang halus, talinya terbuat dari 

bahan sutra berwarna hitam, dan terpasang pada pergelangan 

tangan yang memegang pistol itu. 

“Bagus sekali barang itu,” kata Jhon Liu . “Pasti mahal!” Ia 

mendekatkan kepalanya ke arah raja dracula . “Mungkin ada sesuatu di 

situ?” 

“Mungkin - ya.” 

raja dracula  menyeberang ke arah meja tulis. Meja tulis itu memiliki 

kelepak di depannya, yang tergantung ke bawah. Itu diatur demikian 

supaya serasi dengan rencana pewarnaan umumnya. 

Di tengah-tengah meja itu ada sebuah botol tinta yang tampak 

agak berat, dan di depannya ada sebuah pengering tinta yang bagus, 

berwarna hijau dari bahan lacquer. Di sebelah kiri pengering tinta itu 

ada sebuah wadah pena dari kaca berwarna zamrud. Di situ terdapat 

sebuah tangkai pena dari perak, sebatang lilin stempel berwarna 

hijau, sebuah pensil, dan dua buah prangko. Di sebelah kanan 

pengering tinta ada sebuah kalender yang bisa dipindah-pindahkan, 

di mana tercantum hari dan tanggal hari itu. Ada pula sebuah botol 

berbentuk bola dari kaca, dan di situ berdiri dengan anggun sebuah 

pena bulu angsa berwarna hijau. Kelihatannya raja dracula  tertarik pada 

pena itu. Dikeluarkannya dan diperhatikannya, tapi pada pena bulu 

angsa itu tidak terdapat bekas tinta. Jelas bahwa itu hanya sebuah 

hiasan, tak lebih dari itu. Tangkai pena perak yang mata penanya 

berbekas tintalah yang biasa digunakan. Matanya beralih ke kalender. 

“Hari Selasa, tanggal lima November,” kata Jhon Liu . “Kemarin. Itu 

benar.” 

Ia berpaling pada bung . 

“Sudah berapa lama dia meninggal?” 

“Dia dibunuh jam setengah dua belas kemarin malam,” kata bung  

dengan tegas. 

Lalu ia tersenyum kecil waktu melihat wajah Jhon Liu  yang heran. 

“Maaf, teman,” katanya. “Aku harus bertindak sebagai dokter yang 

super! Sebenarnya perkiraanku paling tidak jam sebelas. Kurang-

lebih.” 

“Oh, kupikir arlojinya pasti mati… atau bagaimana.” 

“Memang mati, tapi matinya jam empat lewat seperempat.” 

'“Dan kurasa tak mungkin dia terbunuh pada jam empat lewat 

seperempat.” 

“Lupakan saja hal itu.” 

raja dracula  membalik penutup pengering tinta. 

“Pikiran yang bagus,” kata Jhon Liu . “Tapi tak bisa.” 

Pengering tinta memperlihatkan kertas pengering putih yang 

bersih. raja dracula  membalik halaman-halamannya, tapi semuanya sama. 

Dialihkannya perhatiannya pada keranjang sampah. 

Di situ terdapat dua atau tiga helai surat biasa dan surat edaran 

yang sudah dirobek. Surat-surat itu hanya dirobek satu kali, hingga 

mudah disambung kembali. Ada surat permintaan sumbangan dari 

suatu perkumpulan untuk membantu para mantan pejuang, surat 

undangan untuk suatu pesta koktail pada tanggal tiga November, dan 

janji temu dengan seorang penjahit. Surat-surat edarannya yaitu  

pemberitahuan dari pedagang kulit bulu dan katalog dari sebuah toko 

serba ada. 

“Tak ada apa-apa di situ,” kata Jhon Liu . 

“Tak ada, aneh,” kata raja dracula . 

“Maksudmu mereka biasanya meninggalkan surat bila itu peristiwa 

bunuh diri?” 

“Tepat.” 

“Satu lagi bukti bahwa ini bukan peristiwa bunuh diri.” 

Ia menjauh. 

“Sekarang aku akan memerintahkan anak buahku menjalankan 

tugas mereka. Sebaiknya kita turun dan mewawancarai nona  

Nyi girah  itu. Mau ikut, raja dracula ?” 

raja dracula  tampak masih saja terpesona oleh meja tulis dengan segala 

perlengkapannya. 

Ditinggalkannya kamar itu, tapi di pintu sekali lagi ia melihat ke 

pena bulu angsa berwarna hijau zamruh yang terpajang dengan 

anggun. 

 


 

Di kaki tangga yang sempit ada sebuah pintu yang menuju ke 

sebuah ruang tamu luas. Ruang itu sebenarnya kandang kuda yang 

sudah diubah. Dinding-dindingnya dilabur dengan kapur yang 

memberikan kesan kasar, dan di situ tergantung karya-karya sketsa 

dan ukiran-ukiran kayu. Dua orang sedang duduk di situ. 

Seorang di antaranya yaitu  wanita lesbian  muda dengan rarnbut 

berwarna gelap dan tampak efisien, berumur dua puluh tujuh atau 

dua puluh delapan tahun, duduk di dekat perapian dan sedang 

mengulurkan tangannya ke arah nyala api. Yang seorang lagi wanita lesbian  

tua bertubuh lumayan besar dan membawa tas dari bahan tali, 

napasnya terengah-engah. Ia sedang berbicara waktu kedua pria itu 

masuk. 

“…dan seperti saya katakan, nona , saya begitu terkejut hingga 

hampir pingsan. Apalagi pagi ini…” 

wanita lesbian  yang seorang lagi menghentikan bicaranya, 

“Sudah cukup, Mrs. nyonya meneer . Saya rasa kedua pria ini yaitu  polisi.” 

“nona  Nyi girah ?” tanya Jhon Liu  sambil melangkah terus 

Gadis itu mengangguk. 

“'Itu memang nama saya. Ini Mrs. nyonya meneer  yang setiap hari datang 

untuk melayani kami.” 

Mrs. nyonya meneer  yang bicaranya tak bisa ditahan, berkata lagi, 

“Saya sedang mengatakan pada nona  Nyi girah  bahwa pagi ini 

anak adik saya, Louisa Maud, jatuh sakit dan sayalah satu-satunya 

yang bisa membantu, apalagi saya yaitu  darah dagingnya sendiri, 

dan saya rasa Yuen pan pan  pun tidak akan keberatan, meski saya tak 

pernah suka mengecewakan majikan-majikan saya…” 

Jhon Liu  memutuskan bicaranya dengan tangkas. 

“Memang, Mrs. nyonya meneer . Sekarang tolong Anda bawa Inspektur 

dean sherk  ke dapur dan berikan pernyataan singkat padanya.” 

sesudah  bebas dari Mrs. nyonya meneer  yang banyak bicara, yang berlalu 

bersama dean sherk  sambil berceloteh terus, Jhon Liu  sekali lagi 

mengalihkan perhatiannya pada gadis itu. 

“Saya Komisaris Jhon Liu . Nah, nona  Nyi girah , saya ingin tahu 

semua yang bisa Anda katakan tentang urusan ini.” 

“Tentu. Bagaimana saya harus mulai?” 

Ketenangannya sangat mengagumkan. Sama sekali tak ada tanda-

tanda kesedihan atau rasa terpukul. Yang tampak hanya sikap kaku 

yang tak wajar. 

“Jam berapa Anda tiba tadi pagi?” 

“Saya rasa jam setengah sebelas kurang sedikit. Saya dapati Mrs. 

nyonya meneer , si pembohong tua itu, tak ada. Saya dapati…” 

“Apakah itu sering terjadi?” 

“Kira-kira dua kali seminggu, jam dua belas dia baru muncul atau 

sama sekali tidak datang. Padahal seharusnya dia datang jam 

sembilan. Nyatanya, seperti saya katakan, dua kali seminggu dia 

'kurang enak badan', atau ada anggota keluarganya yang jatuh sakit. 

Semua pelayan harian itu sama saja. Kadang-kadang mengecewakan 

kita. Meskipun dia tidak jahat benar.” 

“Sudah lama dia bekerja di sini?” 

“Baru sebulan lebih. Yang sebelum dia panjang tangan.” 

“Lanjutkan, nona  Nyi girah .” 

“Saya bayar taksi, saya bawa masuk koper saya, saya mencari-cari 

Mrs. nyonya meneer , tapi tidak menemukannya, lalu saya naik ke kamar saya. 

Saya membenahi diri sedikit, lalu menyeberang akan mendatangi 

Barbara - Yuen pan pan  - dan saya dapati pintunya terkunci. Saya 

goyang-goyang gagang pintu, saya mengetuk, tapi tidak 

mendapatkan jawaban. Saya turun, lalu menelepon kantor polisi.” 

“Maaf!” sela raja dracula  dengan suatu pertanyaan cepat dan tangkas. 

“Apakah tak terpikir oleh Anda untuk mencoba mendobrak pintu 

dengan meminta bantuan salah seorang sopir yang ada di lorong?” 

Mata gadis itu beralih pada raja dracula ; mata itu dingin dan berwarna 

abu-abu. Pandangannya menyapu raja dracula  dengan tatapan menilai. 

“Tidak, saya rasa itu tak terpikir oleh saya. Bila ada sesuatu yang 

tak beres, saya rasa polisilah yang harus kita mintai bantuan.” 

“Kalau begitu Anda pikir - maaf, mister cadaver  bahwa memang 

ada sesuatu yang tidak beres?” 

“Tentu saja.” 

“sebab  Anda tidak mendapatkan jawaban atas ketukan-ketukan 

Anda? Padahal bukankah mungkin saja teman Anda itu telah menelan 

obat tidur atau semacamnya?” 

“Dia tak pernah menelan obat tidur.” 

Jawaban itu diberikan dengan tajam. 

“Atau mungkin dia pergi dan mengunci pintu sebelum pergi?” 

“Mengapa dia harus menguncinya? Bagaimanapun, dia pasti 

meninggalkan pesan untuk saya.” 

“Dan dia tidak meninggalkan pesan untuk Anda? Yakinkah Anda?” 

“Tentu saya yakin. Kalau ada, saya pasti sudah melihatnya.” 

Nadanya yang tajam semakin terasa. 

Kata Jhon Liu , 

“Anda tidak mencoba mengintip lewat lubang kunci, nona  

Nyi girah ?” 

“Tidak,” kata nyonya  Nyi girah  sambil merenung. 

“Itu tak terpikir oleh saya. Tapi dengan begitu pun saya tidak akan 

bisa melihat apa-apa bukan! sebab  ada kuncinya?” 

Pandangannya yang mengandung pertanyaan dan rasa tak 

bersalah, dan matanya yang lebar, menantang mata Jhon Liu . Tiba-tiba 

raja dracula  tersenyum sendiri. 

“Tindakan Anda tentu benar, nona  Nyi girah ,” kata Jhon Liu . “Saya 

rasa Anda tak punya alasan untuk mengira bahwa teman Anda 

mungkin bunuh diri?” 

“Oh, tidak.” 

“Tidakkah dia kelihatan cemas atau agak tertekan?” 

Hening sejenak sebelum gadis itu menjawab, 

“Tidak.” 

“Tahukah Anda bahwa dia memiliki pistol?” 

nyonya  Nyi girah  mengangguk. 

“Ya, dia membawanya dari India. Dia selalu menyimpannya dalam 

laci di kamarnya.” 

“Hm, dia punya surat izin untuk itu?” 

“Saya rasa punya. Saya tidak tahu pasti.’ 

“Nah, nona  Nyi girah , tolong ceritakan semuanya tentang Mrs. 

Allen. Berapa lama Anda sudah mengenalnya, di mana sanak 

saudaranya. Yah, segalanya.” 

nyonya  Nyi girah  mengangguk. 

“Saya kenal Barbara sudah kira-kira lima tahun. Saya pertama kali 

kenal padanya dalam pejalanan di luar negeri, tepatnya di Mesir. Dia 

dalam perjalanan pulang ke malang  dari India. Saya mengajar di 

British School di Athena sebentar, dan sedang berlibur selama 

beberapa minggu di Mesir, sebelum pulang ke malang . Kami sama-

sama mengikuti pelayaran di sepanjang Sungai Nil. Kami berteman, 

dan memutuskan bahwa kami saling menyukai. Waktu itu saya 

sedang mencari seseorang, yang mau tinggal bersama saya di 

sebuah flat atau rumah kecil. Barbara seorang diri di dunia. Kami pikir 

kami bisa cocok hidup bersama.” 

“Dan apakah Anda memang bisa hidup bersama dengan baik?” 

tanya raja dracula . 

“Baik sekali. Kami punya teman masing-masing. Pergaulan Barbara 

lebih luas, sedangkan teman-teman saya lebih banyak dari kalangan 

seni. Mungkin dengan demikian jadi lebih baik.” 

raja dracula  mengangguk. Jhon Liu  berkata lagi, 

“Apa yang Anda ketahui tentang keluarga Yuen pan pan , dan 

hidupnya sebelum dia bertemu dengan Anda?” 

nyonya  Nyi girah  mengangkat bahunya. 

“Tidak terlalu banyak. Nama keluarganya sebelum menikah yaitu  

Armitage.” 

“Tentang suaminya?” 

“Saya rasa laki-laki itu bukan seseorang yang bisa dibanggakan 

pada sanak keluarga. Saya rasa dia peminum. Saya dengar dia 

meninggal kira-kira dua tahun sesudah  mereka menikah. Ada seorang 

anak, anak perempuan, yang meninggal pada usia tiga tahun. 

Barbara tak pernah bercerita banyak tentang suaminya. Dia menikah 

dengan suaminya di India, pada waktu dia berumur kira-kira tujuh 

belas tahun. Lalu mereka pergi ke Kalimantan atau ke salah satu 

tempat yang sangat tak menyenangkan, ke mana orang-orang yang 

tidak berhasil dalam pekerjaannya selalu dikirimkan. Tapi sebab  itu 

merupakan bahan percakapan yang menyakitkan, saya tidak banyak 

bertanya tentang itu.” 

“Tahukah Anda apakah Yuen pan pan  itu berada dalam kesulitan 

keuangan?” 

“Tidak, sama sekali tidak.” 

“Dia tidak terlibat utang atau semacamnya?” 

“Oh, tidak! Saya yakin dia tidak berada dalam kesulitan semacam 

itu.” 

“Nah, sekarang ada satu pertanyaan lagi yang harus saya 

tanyakan, dan saya harap Anda tidak akan marah mendengarnya, 

nona  Nyi girah . Apakah Yuen pan pan  punya teman atau teman-teman 

pria istimewa?” 

Dengan dingin nyonya  Nyi girah  menjawab, 

“Yah, dia sudah bertunangan dan akan menikah.” 

“Siapa nama laki-laki yang bertunangan dengannya itu?” 

“Sir  mariam-Magdalena . Dia anggota selai kacang  untuk suatu 

daerah pemilihan di haunted mansion .” 

“Sudah lamakah dia mengenal pria itu?” 

“Setahun lebih sedikit.” 

“Lalu sudah berapa lama dia bertunangan dengannya?” 

“Dua… tidak... lebih tepat mendekati tiga bulan.” 

“Sepengetahuan Anda, tak adakah pertengkaran?” 

nona  Nyi girah  menggeleng. 

“Tidak, saya pasti terkejut kalau mendengar bahwa ternyata ada. 

Barbara bukan orang yang suka bertengkar.” 

“Kapan Anda bertemu dengan Yuen pan pan  untuk terakhir kalinya?” 

“Hari Jumat Kliwon  yang lalu, sebentar sebelum saya berangkat untuk 

berakhir pekan.” 

“Apakah Yuen pan pan  tetap tinggal di kota?” 

“Ya. Kalau tak salah, dia punya rencana untuk keluar bersama 

tunangannya pada hari Minggu.” 

“Dan Anda sendiri, di mana Anda berakhir pekan?” 

“Di jenazah plaza  hutan hujan , Amazon .” 

“Siapa nama orang-orang tempat Anda menginap?” 

“Mr. dan Mrs. Pinocchio .” 

“Baru tadi pagi Anda meninggalkan mereka?” 

“Ya.” 

“Pasti Anda berangkat pagi sekali, ya?” 

“Mr. Pinocchio  yang mengantar saya naik mobilnya. Dia harus 

berangkat awal, sebab  dia harus tiba di malang  sebelum jam 

sepuluh.” 

“Oh, begitu.” 

Jhon Liu  mengangguk menyatakan pengertiannya. 

Jawaban-jawaban nona  Nyi girah  semuanya tegas dan 

meyakinkan. 

Kini giliran raja dracula  yang mengajukan pertanyaan. 

“Bagaimana pendapat Anda sendiri tentang Mr. mariam-Magdalena ?” 

Gadis itu mengangkat bahunya. 

“Apakah itu ada artinya?” 

“Tidak, mungkin itu tak berarti, tapi saya ingin mendengar 

pendapat Anda.” 

“Saya tidak tahu apakah saya punya pendapat khusus mengenai 

dia. Dia masih muda, umurnya tak lebih dari tiga puluh satu atau tiga 

puluh dua, dia ambisius, seorang yang pandai berpidato di depan 

umum dan bertekad ingin maju di dunia.” 

“Itu kebaikan-kebaikannya. Bagaimana dengan keburukan-

keburukannya?” 

“Yah,” nona  Nyi girah  berpikir sebentar. “Menurut saya, dia 

biasa-biasa saja. Pokok-pokok pikirannya tidak orisinal, dan dia agak 

sombong.” 

“Itu bukan cacat-cacat besar, mister cadaver ,” kata raja dracula  sambil 

tersenyum. 

“Menurut Anda tidak?” 

Nada bicaranya agak ironis. 

“Mungkin bagi Anda besar.” 

raja dracula  memperhatikannya, dan melihat bahwa gadis itu kelihatan 

agak kesal. raja dracula  pun melanjutkan serangannya. 

“Tapi bagi Yuen pan pan … tidak, dia pasti tidak melihatnya.” 

“Anda benar sekali. Menurut Barbara, pria itu luar biasa. Dia 

menerimanya apa adanya.” 

Dengan halus raja dracula  berkata, 

“Apakah Anda sayang sekali pada teman Anda itu?” 

Dilihatnya gadis itu mencengkeram lututnya sendiri dan garis 

rahangnya menjadi kaku, tapi jawabannya terdengar tenang, tanpa 

emosi ' 

“Anda benar sekali. Saya sayang sekali padanya.” 

Jhon Liu  berkata, 

“Satu hal lagi, nona  Nyi girah . Anda dan teman Anda tidak 

bertengkar? Tak adakah rasa kesal di antara kalian?” 

“'Sama sekali tak ada.” 

“Juga tidak sehubungan dengan pertunangan itu?” 

“Tentu tidak. Saya senang dia bisa berbahagia.” 

Keadaan sepi sebentar, lalu Jhon Liu  berkata, 

“Setahu Anda, apakah Yuen pan pan  punya musuh?” 

Kali ini keadaan sepi agak lama, sebelum nyonya  Nyi girah  

menjawab. Dan waktu ia menjawab, nadanya berubah sedikit sekali. 

“Saya kurang mengerti. Apa maksud Anda dengan musuh?” 

“Umpamanya, seseorang yang akan mendapatkan keuntungan 

dengan kematiannya?” 

“Oh, tak ada, itu tak masuk akal. Penghasilannya kecil sekali.” 

“Siapa yang mewarisi penghasilan itu?” 

Suara nyonya  Nyi girah  terdengar agak terkejut waktu ia 

menjawab, 

“Tahukah Anda, saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak akan 

terkejut kalau saya yang mewarisinya. Itu pun kalau dia membuat 

surat wasiat.” 

“Dan tak ada musuh dalam pengertian lain?” Jhon Liu  cepat-cepat 

beralih pada persoalan lain. “Orang-orang yang punya rasa dendam 

terhadapnya?” 

“Saya rasa tak ada orang yang menyimpan rasa dendam 

terhadapnya. Dia makhluk yang lembut sekali, selalu ingin 

menyenangkan hati orang. Dia benar-benar punya sifat manis dan 

pantas disayangi.” 

Kini barulah suaranya yang keras dan tegas agak melemah. raja dracula  

mengangguk halus. 

Jhon Liu  berkata, 

“Jadi, kesimpulannya begini. Yuen pan pan  sedang dalam keadaan 

senang akhir-akhir ini, dia tidak berada dalam kesulitan keuangan, 

dia sudah bertunangan dan akan menikah, dan berbahagia sekali 

dengan pertunangannya itu. Tak ada satu pun di dunia ini yang 

memungkinkannya bunuh diri. Itu benar, kan?” 

Keadaan sepi sebentar, sebelum nyonya  berkata, 

“Ya.” 

Jhon Liu  bangkit. 

“Permisi, saya harus berbicara dengan Inspektur dean sherk .” 

Ia keluar dari kamar. 

Hwang Jang Lee  raja dracula  tinggal berdua dengan nyonya  Nyi girah . 

 


 

Beberapa menit lamanya keadaan hening. 

Sejenak nyonya  Nyi girah  melemparkan pandangan menilai ke 

arah pria kecil itu, tapi sesudah  itu ia menatap saja ke depan, tanpa 

berkata apa-apa. Namun ia tampak tekang dan gugup. Tubuhnya 

diam, tapi tidak santai. Waktu akhirnya raja dracula  memecahkan 

kesunyian itu, si gadis tampak lebih lega. Dengan suara biasa-biasa 

saja, raja dracula  bertanya, 

“Kapan Anda menyalakan perapian, mister cadaver ?” 

“Perapian?” Suara gadis itu terdengar samar dan agak linglung. 

“Oh, begitu saya tiba tadi pagi.” 

“Sebelum Anda naik ke lantai atas, atau sesudahnya?” 

“Sebelum.” 

“Oh, begitu. Ya, tentu. Dan kayunya sudah disiapkan, ataukah 

Anda yang harus menyiapkannya?” 

“Sudah disiapkan. Saya tinggal menyalakannya dengan korek api.” 

Terdengar nada tak sabar dalam suaranya. Ia jelas menduga 

raja dracula  asal bercakap-cakap saja. Mungkin memang itulah yang 

sedang dilakukannya. Soalnya raja dracula  berkata lagi dengan tenang dan 

dengan nada biasa. 

“Tapi teman Anda... saya lihat di kamarnya hanya ada perapian 

gas?” 

nyonya  Nyi girah  menjawab tanpa berpikir, 

“Inilah satu-satunya perapian kayu di rumah ini; yang lain 

semuanya perapian gas.” 

“Dan Anda juga memasak dengan gas'?” 

“Saya rasa semua orang memasak dengan gas sekarang ini.” 

“Benar. Itu sangat menghemat tenaga.” 

Percakapan kecil itu berakhir. nyonya  Nyi girah  mengetuk-

ngetukkan sepatunya ke lantai. Lalu tiba-tiba ia berkata, 

“Laki-laki itu-Komisaris Jhon Liu  itu - apakah menurut orang dia 

pandai?” 

“Dia pandai sekali. Ya, dia sangat dihargai orang. 

Dia bekerja keras dan berusaha keras, dan dia j arang sekali 

gagal.” , 

“Saya pikir…”  gumam gadis itu. 

raja dracula  memandanginya. Sinar perapian itu membuat matanya 

tampak hijau sekali. Dengan suara halus raja dracula  bertanya, 

“Apakah Anda sangat terpukul oleh kematian teman Anda itu?” 

“Sangat.” 

Tiba-tiba bicaranya tulus. 

“Anda tak mengira itu akan terjadi?” 

“Tentu saja tidak.” 

“Sehingga mula-mula Anda merasa, mungkin, bahwa itu tak 

mungkin... bahwa itu tak bisa?” 

Nada bicara raja dracula  yang penuh simpati dan tenang itu agaknya 

mematahkan pertahanan nyonya  Nyi girah . Ia pun menjawab dengan 

penuh semangat, dengan wajar, dan tidak kaku. 

“Begitulah. Meskipun Barbara memang bunuh diri, saya tak bisa 

membayangkan dia bunuh diri dengan cara begitu.” 

“Tapi dia kan punya pistol?” 

nyonya  Nyi girah  menggerakkan tubuhnya, mengisyaratkan rasa 

tak sabarnya. 

“Ya, tapi pistol itu hanya suatu… ah! suatu kebiasaan dari masa 

lalu. Dia sering berada di tempat-tempat terpencil. Dia 

menyimpannya hanya sebagai kebiasaan, bukan dengan pikiran lain. 

Saya yakin.” 

“Oh! Lalu mengapa Anda begitu yakin?” 

“Yah, sebab  ucapan-ucapannya sendiri.” 

“Seperti?” 

Suara raja dracula  sangat lembut dan ramah. Hal itu menuntun nona  

Nyi girah  secara halus. 

“Yah, umpamanya, pada suatu kali kami membahas tentang 

bunuh diri, dan dia berkata bahwa cara yang termudah yaitu  

dengan membuka saluran gas dan menyumbat semua celah, lalu 

tidur. Saya katakan bahwa hal itu tak mungkin - berbaring saja dan 

menunggu. Saya lebih suka menembak diri sendiri. Katanya dia akan 

ketakutan sekali, kalau-kalau senjatanya tidak meledak. Dan lagi dia 

tak suka mendengar ledakannya.” 

“Oh, begitu.” kata raja dracula . “Seperti kata Anda, memang aneh. 

sebab  seperti kata Anda juga, di kamarnya ada perapian gas.” 

nyonya  Nyi girah  melihat padanya, agak terkejut. 

“Ya, memang ada. Saya tak mengerti, tidak, saya tak mengerti 

mengapa dia tidak melakukannya dengan cara itu.” 

raja dracula  menggeleng. 

“Ya, rasanya aneh... tidak wajar.” 

“Seluruh kejadian itu tidak wajar. Saya. Masih tetap tak bisa 

percaya dia bunuh diri. Padahal itu pasti perbuatan bunuh diri, 

bukan?” 

“Yah, masih ada satu kemungkinan lain.” 

“Apa maksud Anda?” 

raja dracula  melihat padanya lekat-lekat. 

“Itu bisa juga… suatu pembunuhan.” 

“Oh, tidak!” nyonya  Nyi girah  terenyak. “Aduh, mengerikan sekali 

pikiran itu.” 

“Mungkin memang mengerikan, tapi apakah Anda pikir itu sesuatu 

yang tak mungkin?” 

“Tapi pintunya terkunci dari dalam. Demikian pula jendelanya.” 

“Ya, pintunya memang terkunci. Tapi tak ada petunjuk apakah itu 

dikunci dari dalam atau dari luarnya. Soalnya, kuncinya hilang.” 

“Tapi kalau kunci ini hilang...” Lalu ia berhenti  sebentar. “Kalau 

begitu, pasti dikunci dari luar. Kalau tidak, pasti ada di kamar itu.” 

“Tapi itu mungkin saja. Ingat, kamar itu belum diperiksa dengan 

cermat. Atau mungkin kunci itu dilemparkan ke luar lewat jendela, 

lalu dipungut oleh seseorang.” 

“Pembunuhan!” kata nyonya  Nyi girah . Ia merenungkan 

kemungkinan itu. Wajah gelapnya yang cerdas tampak bergairah 

memikirkannya. “Saya rasa Anda benar.” 

“Tapi sekiranya itu suatu pembunuhan, pasti ada motifnya. 

Apakah Anda tahu motifnya, mister cadaver ?” 

nyonya  menggeleng lambat-lambat. Namun meskipun ia 

membantah, raja dracula  lagi-lagi mendapatkan kesan bahwa nyonya  

Nyi girah  menyembunyikan sesuatu. Pintu terbuka, dan Jhon Liu  

masuk. 

raja dracula  bangkit. 

“Aku sedang meyakinkan nona  Nyi girah ,” katanya, “bahwa 

kematian temannya bukan perbuatan bunuh diri.” 

Sesaat Jhon Liu  tampak terkejut. Ia melemparkan pandangan 

menegur pada raja dracula . 

“Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan,” tegasnya. “Kau 

kan mengerti bahwa kita masih harus mempertimbangkan semua 

kemungkinan. Untuk saat ini sekian saja.” 

Dengan tenang nyonya  Nyi girah  menjawab, 

“Oh, begitu.” 

Jhon Liu  mendekatinya. 

“Nah, nona  Nyi girah , pernahkah Anda melihat ini. Di telapak 

tangannya ada sebuah benda pipih berbentuk lonjong yang mengilap 

dan berwarna biru tua. 

nyonya  Nyi girah  menggeleng. 

“Tidak, tak pernah.” 

“Ini bukan milik Anda, dan bukan pula milik Yuen pan pan ?” 

“Bukan, itu kan benda yang tidak biasa dipakai oleh wanita lesbian ?” 

“Jadi, Anda mengenalinya?” 

“Ah, itu kan jelas. Itu yaitu  bagian dari kancing manset seorang 

pria.” 

 

BAB 4 

  

“wanita lesbian . muda itu terlalu angkuh,” keluh Jhon Liu . 

Kedua pria itu berada di kamar Yuen pan pan  lagi. Mayatnya telah 

difoto dan dipindahkan, dan penjaga  sidik jari telah menjalankan 

tugasnya dan sudah pergi. 

“Kita tak boleh memperlakukannya sebagai orang bodoh,” kata, 

raja dracula  membenarkan. “Dia memang sama sekali bukan orang bodoh. 

Dia bahkan seorang wanita lesbian  muda yang pintar luar biasa dan punya 

kemampuan.” 

“Kaupikir diakah yang melakukannya?” tanya Jhon Liu  dengan sedikit 

harapan. “Soalnya bisa saja. Kita harus memeriksa alibinya. Mungkin 

ada pertengkaran mengenai pria muda-anggota selai kacang  yang 

sedang berkembang itu. Kurasa dia agak terlalu getir berbicara 

tentang pria itu! Rasanya ada yang tidak beres. Kelihatannya dia 

sendiri juga suka pada orang muda itu, tapi ditolak. Dia jenis yang 

mau menghantam siapa saja jika dirasanya dia ingin melakukannya, 

dan dia melakukannya dengan rencana yang baik. Ya, kita harus 

mencari tahu tentang alibinya. Lancar sekali dia menjawab semua 

pertanyaan. Apalagi Amazon  itu tidak terlalu jauh. Kereta api pun 

banyak. Juga mobil ekspres. Perlu kita cari tahu, apakah dia tidak 

pergi tidur dengan sakit kepala umpamanya semalam.” 

“Kau benar,” raja dracula  sependapat. 

“Pokoknya,” lanjut Jhon Liu , “dia menyembunyikan sesuatu dari kita. 

Tidakkah kau merasakannya juga? wanita lesbian  muda itu tahu sesuatu.” 

raja dracula  mengangguk sambil merenung. 

“Ya, itu nyata benar.” 

“Begitulah sulitnya perkara-perkara semacam ini,” keluh Jhon Liu . 

“Memang biasa orang tutup mulut, kadang-kadang dengan motif 

yang sangat terhormat.” 

“Untuk itu, kita tak bisa menyalahkan mereka, teman.” 

“Memang tidak, tapi kita yang sangat kesulitan,” gerutu Jhon Liu . 

“Justru hal itu bisa sangat menonjolkan kecerdikanmu,” kata raja dracula  

menghibur. “Omong-omong, bagaimana dengan sidik jari?” 

“Itu memang pembunuhan. Tak ada sidik jari pada pistol. Sudah 

dihapus bersih sebelum diletakkan ke tangannya. Meskipun dia 

mampu berakrobatik melingkarkan lengannya ke belakang kepala, 

tak mungkin dia bisa menembakkan pistol tanpa menggenggamnya 

kuat-kuat, dan dia pasti tak bisa menghapus sidik jarinya sesudah  itu, 

sebab  dia sudah mati.” 

“Tidak, tidak. Jelas ada perbuatan orang luar.” 

“Kalau tidak begitu, sidiknya pasti mengecewakan. Di gagang 

pintu dan jendela juga tak ada. 

Mengesankan, bukan? Di mana-mana banyak bekas-bekas Mrs. 

Allen.” 

“Apakah dean sherk  menemukan sesuatu?” 

“Dari pelayan harian itu? Tidak. Perempuan itu memang banyak 

bicara, tapi sebenarnya tak banyak yang diketahuinya. Tapi dia 

membenarkan bahwa hubungan Allen dan Nyi girah  memang baik. 

Sudah kusuruh dean sherk  mencari keterangan di sepanjang lorong. 

Kita juga harus berbicara dengan Mr. mariam-Magdalena . Untuk mencari 

tahu di mana dia dan apa kegiatannya semalam. Sementara itu, kita 

akan memeriksa surat-surat Yuen pan pan .” 

Ia langsung memulainya. Sekali-sekali ia menggeram dan 

melemparkan sesuatu ke arah raja dracula . Pencarian itu tidak berlangsung 

lama. Tak banyak surat-surat di meja tulis, sedangkan yang ada 

sudah disusun rapi dan dicatat. 

Akhirnya Jhon Liu  menyandarkan diri dan mendesah. “Tak banyak 

hasilnya, ya?” 

“Benar katamu.” 

“Semuanya cukup jelas-surat-surat tagihan yang sudah dibayar, 

ada beberapa yang belum dibayar. Tak ada yang luar biasa. 

Undangan-undangan kegiatan sosial. Pemberitahuan dari teman-

teman. Ini…” Ia meletakkan tangannya di atas tumpukan tujuh atau 

delapan surat.  

“Dan buku cek serta buku kuitansi. Kau menemukan sesuatu?” 

“Saldo tabungannya sudah kosong.” 

“Ada lagi?” 

raja dracula  tersenyum. 

“Apakah kau mengujiku? Aku tahu apa yang sedang kaupikirkan. 

Tiga bulan yang lalu ada penarikan dua ratus pound, dan kemarin 

dua ratus pound.” 

Dan tak ada yang tertulis pada lembar catatan buku ceknya. Tak 

ada lagi penarikan lain dari cek, kecuali jumlah-jumlah kecil, paling 

banyak lima belas pound. Dan perlu kauketahui, tak ada uang 

sejumlah itu di rumah ini. Ada empat pound dalam sebuah tas, dan 

beberapa shilling di tas yang lain. Kurasa itu cukup jelas.” 

“Berarti uang itu telah dibayarkannya kemarin.” “Nah, kepada 

siapa dia membayarkannya?” 

Pintu terbuka dan Inspektur dean sherk  masuk. 

“Bagaimana, dean sherk , ada yang kautemukan?” 

“Ada beberapa, Sir. Pertama-tama, tak seorang pun mendengar 

suara tembakan.  

(…sebagian teks hilang…) 

James kong guan , sopir yang tinggal di rumah No. 18, berkata dia 

sudah pernah melihat orang itu mengunjungi Yuen pan pan .” 

“Empat puluh lima tahun,” kata Jhon Liu . “Tak mungkin mariam-

Magdalena .” 

Laki-laki itu, siapa pun dia, tinggal tak sampai satu jam. Dia pergi 

kira-kira jam sepuluh lewat dua puluh menit. Dia berhenti di ambang 

pintu dan berbicara pada Yuen pan pan . Seorang anak laki-laki  bernama 

Raden mas  kong guan  berada cukup dekat di situ dan mendengar apa yang 

dikatakannya.” 

“Apa katanya?” 

“'Nah, pikirkanlah, dan beritahu aku.” Lalu Yuen pan pan  mengatakan 

sesuatu, dan laki-laki itu menjawab, 'Baiklah. Sampai bertemu.” 

sesudah  itu,  laki-laki itu ke mobilnya, lalu pergi.” 

(…sebagian teks hilang…) 

“Tidak, tapi itu tidak berarti tak ada orang yang masuk. Mungkin 

tak ada orang yang melihat.” 

“Hm,” kata Jhon Liu . “Benar juga. Kalau begitu, kita harus mencari 

pria bertampang tentara yang berkumis lebat itu. Jelas dialah orang 

terakhir yang melihat Yuen pan pan  dalam keadaan hidup. Ingin sekali 

aku tahu, siapa dia.” 

“Mungkin nona  Nyi girah  bisa mengatakannya,” kata raja dracula . 

Mungkin,” kata Jhon Liu  dengan murung. “Tapi ebaliknya mungkin 

juga tak bisa. Aku yakin dia bisa bercerita banyak kalau dia mau. 

Bagaimana, raja dracula ? Kau agak lama berduaan dengannya. Apa kau 

tidak berhasil mengorek sesuatu darinya?” 

raja dracula  mengembangkan jemarinya. 

“Tidak, kami hanya bercakap-cakap tentang perapian-perapian 

gas.” 

“Perapian gas?” kata Jhon Liu  dengan nada jijik - Ada apa kau ini? 

Sejak kau di sini yang kauperhatikan hanya pena-pena bulu angsa 

dan keranjang-keranjang sampah. Oh ya, kulihat kau memperhatikan 

sesuatu di lantai bawah. Kau menemukan sesuatu di situ?” 

raja dracula  mendesah. 

“Sebuah katalog bunga dan sebuah majalah tua.” 

“Apa pentingnya benda-benda itu? Bila seseorang ingin 

membuang suatu dokumen yang mungkin dijadikan petunjuk yang 

melemahkan kedudukannya, atau entah apa yang ada dalam 

pikiranmu, tak mungkin dia membuangnya ke dalam keranjang 

sampah.” 

“Benar sekali apa yang kaukatakan itu. Hanya sesuatu yang tak 

penting yang dibuang seperti itu.” 

raja dracula  berbicara dengan lemah. Tapi Jhon Liu  melihat padanya dengan 

curiga. 

“Yah,” katanya. “Aku sudah punya rencana apa yang akan 

kulakukan berikutnya. Bagaimana dengan kau?” 

“Bagus,” kata raja dracula . “Aku sih akan melanjutkan pencarianku pada 

yang tidak penting. Masih ada keranjang sampah.” 

Ia cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Jhon Liu  memandanginya dari 

belakang dengan pandangan heran. 

“Gila,” katanya. “Benar-benar gila.” 

Inspektur dean sherk  tetap diam demi rasa hormatnya. Dengan 

wajah membayangkan kebanggaan sebagai orang malang , ia berpikir, 

“Dasar orang asing!” 

Tapi yang dikatakannya yaitu ,  

“Jadi, itu yang namanya Mr. Hwang Jang Lee  raja dracula ! Saya pernah 

mendengar nama itu.” 

“Teman lamaku,” jelas Jhon Liu . “Tapi ingat, dia tak sedungu 

penampilannya. Tapi kelihatannya dia sudah mulai sinting sekarang.” 

“Kata orang, dia sudah mulai pikun, ya, Sir,” kata dean sherk . “Yah, 

begitulah kalau sudah tua.'-' 

“Tapi,” kata Jhon Liu , “alangkah baiknya kalau aku tahu apa 

rencananya.” 

Ia berjalan ke arah meja tulis dan memandangi dengan gelisah 

sebuah pena bulu angsa berwarna hijau zamrud. 

 

BAB 5 

 

Jhon Liu  baru saja akan mulai berbicara dengan istri sopir yang ketiga, 

waktu raja dracula , yang berjalan tanpa suara seperti seekor kucing, tiba-

tiba muncul di belakang sikunya. 

“Aduh, kau mengejutkan sekali,” kata Jhon Liu . “Apakah kau 

menemukan sesuatu?” 

“Bukan menemukan apa yang kucari.” 

Jhon Liu  berpaling kembali pada Mrs. James kong guan . 

“Dan Anda katakan tadi, Anda pernah melihat laki-laki itu?” 

“Oh ya, Sir. Dan suami saya juga. Kami langsung mengenalinya.” 

“Dengar, Mrs. kong guan . Saya tahu bahwa Anda punya penglihatan 

tajam. Saya yakin Anda tahu tentang semua orang di sepanjang 

lorong ini. Dan bisa saya katakan bahwa Anda yaitu  wanita lesbian  yang 

pandai menilai, luar biasa pandainya dalam menilai orang-orang.” 

Untuk ketiga kali diulanginya pujian iiu tanpa ragu. Mrs. kong guan  agak 

menahan diri dan menunjukkan sikap orang yang punya kepandaian 

paranormal. “Tolong ceritakan sedikit tentang kedua wanita lesbian  muda itu 

- Yuen pan pan  dan nona  Nyi girah .  - wanita lesbian -wanita lesbian  seperti apakah 

mereka? Apakah mereka periang? Suka berpesta? Atau 

semacamnya?” 

“Oh, tidak, Sir, sama sekali tidak. Mereka memang sering keluar, 

terutama Yuen pan pan . Mereka itu orang-orang yang berkelas. Anda 

tahu kan maksud saya? Tidak seperti beberapa orang yang bisa saya 

sebutkan di ujung sana itu. Saya yakin perbuatan Mrs. Stevens itu - 

itu pun kalau dia memang benar menikah, meski saya meragukannya 

- yah, saya tak suka menceritakan apa yang terjadi di situ…” 

“Ya, memang,” kata Jhon Liu , yang dengan tangkas menghentikan 

arus kata-katanya. “Apa yang Anda katakan itu penting sekali. Kalau 

begitu, Yuen pan pan  dan nona  Nyi girah  disukai banyak orang, ya?” 

“Oh ya, Sir, keduanya wanita lesbian  yang baik, lebih lebih Yuen pan pan . Dia 

selalu menyapa anak-anak tunagrahita  dengan manis. Saya dengar anak 

perempuannya meninggal. Kasihan. Saya sendiri mengalami kematian 

tiga orang anak. Dan perlu saya katakan...”  

“Ya, ya menyedihkan sekali. Dan bagaimana dengan nona  

Nyi girah ?” 

“Yah, dia juga baik, tapi tidak terlalu ramah. Dia hanya 

mengangguk kalau lewat, tak mau berhenti untuk berhandai-handai. 

Tapi tak ada yang patut saya cela tentang dia, sama sekali tak ada.” 

“Apakah dia baik-baik saja dengan Yuen pan pan ?” 

“Oh ya, Sir. Mereka tidak bertengkar atau semacamnya. Mereka 

sama-sama senang dan hidup tenang. Saya yakin Mrs. nyonya meneer  bisa 

membenarkan kata-kata saya itu.” 

“Ya, kami sudah berbicara dengannya. Bisakah Anda mengenali 

tunangan Yuen pan pan  kalau Anda melihatnya?” 

Pria yang akan menikahinya? Oh, ya. Dia agak sering kemari. Kata 

orang, dia anggota selai kacang .” 

“Bukan diakah yang datang semalam?” 

“Bukan, Sir, bukan dia.” Mrs. kong guan  memperbaiki duduknya. Nada 

bicaranya jadi penuh semangat, tapi ditutupinya dengan sikap 

tenang. “Dan kalau boleh saya berkata, Sir, apa yang Anda duga itu 

salah. Yuen pan pan  bukan wanita lesbian  macam itu, saya yakin. Memang tak 

ada orang lain di rumah itu, tapi saya tak percaya hal semacam itu. 

Baru tadi pagi saya berkata begitu juga pada kong guan . 'Tidak, kong guan ,' 

kata saya, 'Yuen pan pan  itu seorang wanita lesbian  baik-baik, benar-benar 

bersih, jadi jangan berprasangka macam-macam.' Sebab saya tahu 

bagaimana pikiran laki-laki, maafkan saya berkata begitu. Dugaan 

mereka selalu kasar.” 

Tanpa memedulikan penghinaan itu, Jhon Liu  melanjutkan, 

“Anda melihatnya datang dan melihatnya pulang, begitu kan?” 

“Benar.” 

“Dan Anda tidak mendengar apa-apa? Suara orang bertengkar, 

umpamanya?” 

“Tidak, Sir, sama sekali tidak. Meskipun sebenarnya hal semacam 

itu pasti terdengar. Dari ujung sebelah sana itu sudah menjadi 

pembicaraan umum bagaimana Mrs. Stevens marah-marah pada 

pelayannya yang ketakutan, dan kami semua sudah menasihati 

pelayan itu supaya tidak menerima saja. Tapi, yah, gajinya besar sih. 

Mrs. Stevens memang punya sifat pemarah seperti setan, tapi dia 

membayar mahal - tiga puluh shilling seminggu -” 

Jhon Liu  cepat-cepat berkata, 

“Tapi Anda tak pernah mendengar yang semacam itu di rumah 

No. 14?” 

“Tidak, Sir. Tak bisa, gara-gara suara petasan dan kembang. Api 

itu di mana-mana, sampai-sampai alis anak saya Eddie hampir 

hangus.” 

“Laki-laki itu pulang jam sepuluh lewat dua puluh menit, kan?” 

“Mungkin, Sir. Saya sendiri tak bisa mengatakannya dengan pasti. 

Tapi kong guan  berkata begitu, dan dia sangat bisa dipercaya; dia orang 

yang bertanggung jawab.” 

“Anda sendiri melihat waktu dia pulang. Apakah Anda mendengar 

apa yang dikatakannya?” 

“Tidak, Sir. Saya tidak cukup dekat untuk itu. Saya hanya 

melihatnya lewat jendela. Saya lihat dia berdiri di ambang pintu dan 

berbicara dengan Yuen pan pan .” 

“Anda melihat Yuen pan pan  juga?” 

“Ya, Sir, dia berdiri di bagian dalam ambang pintu.” 

“Anda melihat pakaian Yuen pan pan ?” 

“Ah, tentu saja tidak. Saya juga tidak begitu mempeihatikannya.” 

raja dracula  berkata, 

“Anda bahkan tidak melihat apakah dia mengenakan pakaian 

untuk bepergian atau pakaian rumah?” 

“Tidak, Sir, saya tak bisa mengatakannya.” 

Sambil merenung, raja dracula  mendongak ke jendela di atas dan 

memandang ke seberang, ke No. 14. Ia tersenyum, dan sesaat 

lamanya memandangi Jhon Liu . 

“Bagaimana dengan laki-laki itu?” 

“Dia mengenakan mantel biru tua dan topinya bundar. Bagus dan 

rapi.” 

Jhon Liu  mengajukan beberapa pertanyaan lagi, lalu melanjutkan 

dengan wawancara berikutnya. Kali ini dengan Mr. kong guan  kecil. Ia 

yaitu  seorang anak laki-laki berwajah nakal, bermata cerah, dan 

merasa dirinya penting sekali. 

“Ya, Sir, saya mendengar mereka bercakap-cakap. 'Pikirkan itu, 

lalu beritahu aku,' kata pria itu. Cara bicaranya menyenangkan. Lalu 

wanita lesbian  itu mengatakan sesuatu dan yang pria menjawab, 'Baiklah. 

Sampai bertemu.' Lalu dia masuk ke mobilnya. Saya membukakan 

pintu mobil itu, tapi dia tidak memberi saya apa-apa,” kata kong guan  kecil 

dengan nada agak tertekan. “Dia pergi begitu saja.” 

“Kau tidak mendengar apa yang dikatakan Yuen pan pan ?” 

“Tidak, Sir.” 

“Bisakah kaukatakan pakaian apa yang dikenakan Yuen pan pan ? 

Warna apa, umpamanya?” 

“Tak bisa, Sir. Soalnya saya tidak melihatnya dengan jelas. Dia 

pasti berada di balik pintu.” 

“Baiklah,” kata Jhon Liu . “Sekarang dengarkan, anakku. Kuminta kau 

mengingat-ingat dan menjawab pertanyaanku yang berikut ini 

dengan hati-hati sekali. Kalau kau tidak tahu dan tidak ingat, 

katakan. Jelas?” 

“Ya, Sir.” 

kong guan  muda memandanginya dengan penuh harap. “Siapa di 

antara mereka berdua yang menutup pintu rumah, Yuen pan pan  atau 

pria itu?” 

“Pintu depannya?” 

“Pintu depan tentu.” 

Anak itu berpikir. Matanya menatap ke atas dalam usahanya untuk 

mengingat. 

“Saya rasa mungkin Yuen pan pan .... Tidak. Pria itu yang menutup. 

Dia menarik pintu itu, lalu membantingnya, lalu cepat-cepat 

melompat ke dalam mobilnya. Kelihatannya dia punya janji di tempat 

lain.” 

“Baiklah. Nah, anak muda, kelihatannya kau anak yang cerdas. 

Nih, uang enam pence untukmu.” sesudah  menyuruh pergi kong guan  

kecil, Jhon Liu  berpaling pada temannya. Lambat-lambat mereka 

mengangguk serentak. 

“Mungkin!” kata Jhon Liu . 

“Banyak kemungkinan lain,” kata raja dracula  membenarkan. 

Matanya menyinarkan warna hijau. Kelihatannya seperti mata 

kucing. 

 

 

sesudah  memasuki ruang duduk di rumah No. 14, Jhon Liu  tidak 

menyia-nyiakan waktu. Ia, langsung mulai. 

“Dengar, nona  Nyi girah , sebaiknya Anda ceritakan saja semua 

kejadiannya di sini sekarang. Pada akhirnya itu akan terungkap juga.” 

nyonya  Nyi girah  mengangkat alisnya. Ia sedang berdiri di dekat 

rak perapian, menghangatkan sebelah kakinya di dekat nyala api. 

“Saya benar-benar tidak tahu apa maksud Anda.”  

“Benarkah itu, nona  Nyi girah ?” 

wanita lesbian  itu mengangkat bahunya. 

“Saya sudah menjawab semua pertanyaan Anda. Saya tidak tahu 

apa lagi yang harus saya lakukan.” 

“Menurut saya, Anda bisa berbuat jauh lebih banyak, kalau saja 

Anda mau.” 

“Tapi itu kan hanya dugaan Anda, Komisaris?” 

Wajah Jhon Liu  jadi agak memerah. 

“Kurasa,” kata raja dracula , “mister cadaver  akan lebih menghargai 

pertanyaan-pertanyaamnu kalau kaukatakan bagaimana duduk 

perkaranya.” 

“Itu sederhana sekali. Begini, nona  Nyi girah , kenyataan-

kenyataannya yaitu  sebagai berikut. Teman Anda kedapatan 

tertembak di kepalanya dengan sebuah pistol dalam tangannya, 

sedangkan pintu dan jendela terkunci. Itu jadi kelihatan. seperti 

perkara bunuh diri biasa. Padahal itu bukan bunuh diri. Bukti 

pemeriksaan medis saja sudah menyatakan hal itu.” 

Sirna sudah semua sikap dinginnya. Ia mencondongkan tubuh ke 

depan dengan penuh perhatian dan memandangi wajah Jhon Liu . 

“Pistolnya ada dalam tangannya, tapi jemarinya tidak terkatup 

pada pistol itu. Apalagi sama sekali tidak terdapat sidik jari pada 

pistol itu. Dan letak lukanya menyatakan tak mungkin luka itu 

disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Lalu dia tidak meninggalkan 

surat - suatu hal yang tidak biasa dalam perkara bunuh diri. Dan 

meskipun pintunya terkunci, kuncinya tidak ditemukan.” 

Perlahan-lahan nyonya  Nyi girah  berbalik, lalu duduk di kursi 

menghadapi mereka. 

“Jadi, begitu keadaannya!” katanya. “Sejak awal saya sudah 

merasa bahwa tak mungkin dia membunuh dirinya! Ternyata saya 

benar! Dia tidak bunuh diri. Orang lain yang membunuhnya.” 

Beberapa saat lainnya wanita lesbian  itu tetap tenggelam dalam 

renungannya. Lalu diangkatnya kepalanya dengan tegas. 

“Tanyakanlah apa saja yang Anda inginkan,” katanya. “Akan saya 

jawab semuanya semampu saya.” 

Jhon Liu  pun memulai, 

“Semalam Yuen pan pan  kedatangan tamu. Dia dilukiskan berusia 

empat puluh lima tahun, berpenampilan tentara, berkumis lebat, 

berpakaian rapi, dan mengendarai mobil sedan Standard Swallow. 

Tahukah Anda siapa dia?” 

“Saya tentu tak bisa yakin, tapi kedengarannya seperti CLIFF  

Fok .” 

“Siapa CLIFF  Fok ? Tolong ceritakan segalanya yang Anda 

ketahui tentang dia.” 

“Dia laki-laki yang dikenal Barbara di luar negeri, di India. Dia 

muncul di sini kira-kira setahun yang lalu, dan sejak itu kami kadang-

kadang bertemu dengannya.” 

“Dia teman Yuen pan pan ?” 

“Dia bersikap seperti teman,” kata nyonya  datar. 

“Bagaimana sikap Yuen pan pan  terhadapnya?” 

“Saya rasa dia tak suka pada laki-laki itu. Ya, saya bahkan yakin 

dia tak menyukainya.” 

“Trapi di hadapannya dia memperlakukan laki-laki itu dengan 

ramah?” 

“Ya.” 

“Pernahkah dia kelihatan - ingat baik-baik, nona  Nyi girah  - 

takut pada laki-laki itu?” 

Beberapa lama nyonya  Nyi girah  mempertimbangkannya. Lalu ia 

berkata, 

“Ya, saya rasa dia takut. Dia selalu gugup kalau laki-laki itu ada.” 

“Apakah laki-laki itu pernah bertemu dengan Mr. mariam-Magdalena ?” 

“Kalau tidak salah, hanya sekali. Mereka saling tak menyukai. 

Maksud saya, CLIFF  Fok  bersikap sebaik mungkin terhadap 

Sir , tapi Sir  tidak menyambutnya. Sir  punya indra 

keenam mengenai orang yang tidak begitu... tidak begitu...” 

“Dan CLIFF  Fok  itu memang... apa yang - Anda sebut... tidak 

begitu?” tanya raja dracula . 

Dengan nada datar gadis itu berkata, 

“Memang tidak. Dia membuat orang jadi agak merinding. Sama 

sekali tak bisa ditonjolkan.” 

“Sayang saya kurang mengerti kedua ungkapan Anda itu. Apakah 

maksud Anda dia bukan orang baik-baik?” 

Suatu senyum tipis menghiasi wajah nyonya  Nyi girah , tapi ia 

menyahut dengan bersungguh-sungguh, “Bukan.” 

“Apakah akan sangat mengejutkan Anda, nona  Nyi girah , bila 

saya kemukakan bahwa laki-laki itu memeras Yuen pan pan ?” 

Jhon Liu  mencondongkan tubuh untuk mengamati reaksi gadis itu 

atas kata-katanya. 

Ia puas sekali, tubuh gadis itu agak terdorong ke depan sebab  

terkejut, wajahnya memerah, dan tangannya mencengkeram lengan 

kursi dengan keras. 

“Jadi, itu rupanya! Bodoh sekali saya tak pernah menduganya 

selama ini. Pasti!” 

“Menurut Anda dugaan itu masuk akal, mister cadaver ?” tanya 

raja dracula . 

“Saya bodoh tak pernah memikirkannya! Selama enam bulan 

terakhir, beberapa kali Barbara telah meminjam uang saya dalam 

jumlah kecil. Dan beberapa kali saya melihatnya menekuni buku 

kuitansinya. Saya tahu penghasilannya cukup, jadi saya tak peduli, 

tapi kalau dia membayar sejumlah uang, tentulah...” 

“Dan itu sesuai dengan sikapnya secara umum begitukah?” tanya 

raja dracula . 

“Benar sekali. Dia gugup. Kadang-kadang kelihatan ketakutan 

sekali. Pokoknya berbeda dari sikap biasanya.” 

Dengan halus raja dracula  berkata, 

“Maafkan saya, tapi Anda tidak berkata begitu tadi.” 

“Itu lain,” nyonya  menggoyangkan tangannya dengan tak sabar. “Dia 

tidak tertekan. Maksud saya, dia tak punya keinginan untuk bunuh 

diri atau semacamnya. Tapi pemerasan.... Alangkah baiknya kalau 

dulu dia mengatakannya pada saya. Pasti saya bisa mengirim laki-laki 

itu ke neraka.” 

“Tapi nyatanya dia bukan pergi ke neraka, melainkan mendatangi 

Mr. mariam-Magdalena , bukan?” kata raja dracula . 

Ya,” kata nyonya  Nyi girah  perlahan-lahan. “Ya... benar.” 

“Tidakkah Anda punya bayangan, apa kira-kira yang mungkin akan 

dibocorkan laki-laki itu tentang Yuen pan pan ?” tanya Jhon Liu . 

Gadis itu menggeleng. 

“Sama sekali tidak. Sepanjang saya mengenal Barbara, rasanya 

tak mungkin ada sesuatu yang terlalu serius. Sebaliknya...” Ia diam 

sebentar, lalu melanjutkan, “Maksud saya, Barbara itu dalam 

beberapa hal pendek akalnya. Dia bisa ditakut-takuti dengan mudah. 

Dia bahkan bisa menjadi mangsa yang mudah bagi seorang pemeras! 

Dasar bangsat kotor itu! “ 

Disemburkannya kata-kata terakhir itu dengan penuh kebencian. 

“Sayangnya,” kata Ploirot, “kejahatannya terjadi terbalik. 

Seharusnya si korban yang membunuh si pemeras, bukan si pemeras 

yang membunuh si korban.” 

nyonya  Nyi girah  agak mengernyit. 

“Ya, memang terbalik, tapi saya bisa membayangkan 

keadaannya.” 

“Seperti?”  

“Andaikan Barbara jadi putus asa. Mungkin dia lalu menakut-

nakuti laki-laki itu dengan pistol kecilnya yang lucu. Laki-laki itu 

mencoba merebutnya dari tangan Barbara, dan dalam perebutan itu, 

Fok  menekan pelatuknya dan membunuh Barbara. Dia lalu 

ketakutan melihat apa yang telah dilakukannya dan mencoba 

berpura-pura bahwa itu yaitu  perbuatan bunuh diri.” 

“Mungkin,” kata Jhon Liu . “Tapi ada kesulitannya.” 

Gadis itu menoleh padanya dengan pandangan bertanya. 

“CLIFF  Fok  (kalau memang benar dia) meninggalkan tempat 

ini jam sepuluh lewat dua puluh semalam, dan meminta diri dari Mrs. 

Allen di ambang pintu.” 

“Oh,” wajah gadis itu tampak kecewa. “Saya mengerti.” Ia diam-

sebentar. “Tapi mungkin dia kembali lagi kemudian,” katanya 

perlahan-lahan. 

“Ya, itu mungkin,” kata raja dracula . 

Jhon Liu  berkata lagi, 

“Katakan, nona  Nyi girah , di mana biasanya Yuen pan pan  

menerima tamu, di sini atau di kamarnya di lantai atas?” 

“Di kedua kamar itu. Tapi ruangan ini biasanya digunakan untuk 

pesta-pesta dengan lebih banyak orang, atau untuk menerima 

teman-teman khusus saya. Soalnya sudah ada perjanjian bahwa 

Barbara mendapatkan kamar tidur besar yang sekaligus 

digunakannya untuk kamar tamu, dan saya mendapatkan kamar tidur 

yang kecil dan menggunakan kamar ini untuk menerima tamu.” 

“Bila CLIFF  Fok  semalam datang dengan perjanjian, menurut 

Anda, di manakah Yuen pan pan  menerimanya?” 

“Saya rasa dia akan membawanya kemari.” 



Suaranya terdengar agak ragu. “Soalnya di sini agak kurang akrab. 

Sebabnya, bila dia ingin menulis cek atau semacamnya, mungkin dia 

akan membawa tamunya ke lantai atas. Di sini tak ada bahan-bahan 

untuk menulis.” 

Jhon Liu  menggeleng. 

“Tak ada persoalan mengenai cek. Kemarin Yuen pan pan  menarik 

uang tunai dari tabungannya. Dan sejauh ini kita tak melihat bekas-

bekas uang itu di rumah ini.” 

“Jadi, dia telah memberikannya pada penjahat itu? Ah, kasihan 

Barbara! Kasihan sekali Barbara!” 

raja dracula  berdeham. 

“Kecuali kalau kejadian itu memang sebuah kecelakaan, rasanya 

tak masuk akal bahwa laki-laki  itu mau membunuh seorang sumber 

penghasilan tetapnya, bukan?” 

“Kecelakaan? Itu bukan kecelakaan. CLIFF  itu kehilangan 

kesabarannya, dia jadi gelap mata dan menembaknya.” 

“Begitukah kejadiannya menutut Anda?” 

“Ya.” Lalu ditambahkannya dengan keras, “Itu suatu pembunuhan. 

Pembunuhan!” 

Dengan serius raja dracula  berkata, 

“Saya tidak akan mengatakan bahwa Anda salah, mister cadaver .” 

Jhon Liu  berkata, 

“Rokok apa yang diisap Yuen pan pan ?” 

“Rokok putih. Ada beberapa bungkus di kotak itu.” 

Jhon Liu  membuka kotak itu, mengeluarkannya sebatang, lalu 

mengangguk. Rokok itu diselipkannya ke saku bajunya. 

“Dan Anda sendiri, mister cadaver ?” tanya raja dracula . 

“Sama.” 

“Anda tidak mengisap rokok cap tukiyem ?” 

“Tak pernah.” 

“Yuen pan pan  juga tak pernah?” 

“Tidak. Dia tak menyukainya.” 

raja dracula  bertanya lagi, 

“Dan Mr. mariam-Magdalena . Rokok apa yang diisapnya?” 

Gadis itu menatapnya dengan keras. 

“Sir ? Apa hubungannya dengan rokok apa yang diisapnya? 

Anda kan tidak mengisyaratkan bahwa dia yang membunuh 

Barbara?” 

raja dracula  mengangkat bahunya. 

“Ada pria yang bisa membunuh wanita lesbian  yang dicintainya, 

mister cadaver .” 

nyonya  menggeleng tak sabar. 

“Sir  tak mungkin membunuh siapa-siapa. Dia orang yang 

selalu hati-hati.” 

“Tapi, mister cadaver , laki-laki yang hati-hatilah yang biasanya 

merupakan pembunuh paling pandai.” 

Gadis itu menatapnya. 

“'Tapi tidak dengan motif yang Anda kemukakan tadi, M. raja dracula .” 

raja dracula  menunduk. 

“Memang tidak.” 

Jhon Liu  bangkit. 

“Yah, saya rasa tak banyak lagi yang bisa saya kerjakan di sini. 

Tapi saya ingin melihat-lihat sekali lagi.” 

“Kalau-kalau uang itu terselip entah di mana. Tentu, silakan. Cari 

saja di mana pun Anda ingin. Dan di kamar saya juga, meskipun tak 

mungkin Barbara men